Anda di halaman 1dari 12

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang

Rumusan Masalah

BAB II PEMBAHASAN

Pengertian
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Suatu perusahaan tertentu pada dasarnya selalu berusaha untuk mencapai tujuan
didirikannya perusahaan tersebut. Untuk menunjang agar tercapainya tujuan itu, setiap
perusahaan mempunyai aktiva (harta/asset) tertentu guna memperlancar kegiatan yang
dilaksanakan perusahaan.
Aktiva tetap merupakan komponen yang sangat penting bagi perusahaan untuk kegiatan
operasionalnya. Aktiva tetap tersebut merupakan salah satu komponen dalam neraca, sehingga
ketelitian dalam pengolahan aktiva tetap sangat berpengaruh terhadap kewajaran penilaiannya
dalam laporan keuangan.
Kewajaran penilaian aktiva tetap suatu perusahaan dapat disesuaikan dengan Pernyataan
Standar Akuntansi (PSAK) No. 16 (2009). Dalam PSAK ini dinyatakan bahwa aset tetap adalah
aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa,
untuk direntalkan kepada pihak lain, atau tujuan administratif dan diharapkan untuk digunakan
selama lebih dari satu periode.
Aset tetap biasanya memiliki masa pemakaian lebih dari satu tahun, sehingga diharapkan
dapat memberikan manfaat bagi perusahaan dalam jangka waktu yang relatif lama. Namun,
manfaat yang diberikan aktiva tetap umumnya semakin lama semakin menurun manfaatnya
secara terus menurus, dan menyebabkan terjadi penyusutan.
Seiring dengan berlalunya waktu, aktiva tetap akan mengalami penyusutan (kecuali
tanah). Faktor yang mempengaruhi menurun kemampuan suatu aktiva tetap untuk memberikan
jasa/manfaat yaitu : Secara fisik disebabkan oleh pemakaian dan keausan karena pengguna yang
berlebihan dan secara fungsional, disebabkan oleh ketidakcukupan kapasitas yang tersedia
dengan yang diminta (misal kemajuan teknologi). Sehingga penurunan kemampuan aktiva tetap
tersebut dapat dialokasikan sebagai biaya.
Masalah pengalokasian biaya penyusutan merupakan masalah penting, karena
mempengaruhi laba yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. Apabila menggunakan metode
penyusutan yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang berlaku atau kondisi perusahaan
tersebut, maka akan mempengaruhi pendapatan yang dilaporkan setiap periode akuntansi. Selain
itu juga mempengaruhi nilai dari aktiva tetap tersebut.
Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan penyusutan?
2. Bagaimana penyusutan berdasarkan peraturan perpajakan?
3. Bagaimana penyusutan berdasarkan standar akuntansi keuangan?
4. Bagaimana perencanaan pajak untuk penyusutan?
BAB II
PEMBAHASAN

1. PENYUSUTAN
A. Pengertian Penyusutan
Penyusutan adalah alokasi jumlah suatu aset yang dapat disusutkan sepanjang masa
manfaat yang diestimasi (PSAK 17). Penyusutan perlu dilakukan karena manfaat yang
diberikan dan nilai dari aset tersebut semakin berkurang. Pengurangan nilai aset
dibebankan secara bertahap.
Kebijakan pajak untuk penyusutan harus mempertimbangkan tiga hal yaitu :
a) Keadilan pajak
Untuk keadilan pajak perlu diperhatikan jenis kegiatan dari wajib pajak, apakah
termasuk perusahaan manufaktur atau perusahaan jasa. Dan juga harus
memperhatikan struktur modalnya, apakah termasuk padat modal (capital intensive)
atau padat karya (labour intensive). Dengan adanya penyusutan, maka perusahaan
manufaktur dan jenis usaha yang padat modal (capital intensive) akan lebih
diuntungkan dibandingkan perusahaan jasa ataupun jenis usaha padat karya (labor
intensive).
b) Kebijakan ekonomi
Dengan adanya penyusutan membawa akibat pada peningkatan investasi (capital
growth). Jika penyusutan besar maka laba setelah pajak juga besar, pengembalian atas
investasi (return on investment-ROI) besar, sehingga pada akhirnya menyebabkam
arus kas menjadi tinggi. Menurut ketentuan perpajakan, perhitungan penyusutan
dimulia pada tahun perolehan. Secara ekonomis dapat diatur dengan peraturan
tertentu secara selektif, untuk mendorong atau menghambat suatu peningkatan modal.
Penyusutan secara selektif dapat dibedakan menjadi:
Penyusutan untuk barang baru atau barang bekas
Penyusutan berdasarkan jenis industry tertentu
Penyusutan berdasarkan jenis asset
Penyusutan berdasarkan lokasi (terpencil)

c) Administrasi
Secara administrasi penyusutan dapat dibedakan menjadi dua yaitu sederhana dan
kompleks. Pemilihan jenis penyusutan, baik yang sederhana ataupun yang komplek,
tergantung pada beberapa hal, seperti besarnya biaya administrasi, sumberdaya
manusia, dan kepatuhan dari Wajib Pajak.
B. Karakteristik Dari Aset Yang Dapat Disusutkan
1. Digunakan dalam kegiatan usaha
Aset yang boleh disusutkan adalah aset yang dipakai dalam usaha atau menjalankan
usaha. Asset ini dapat dibedakan menjadi asset bisnis, asset campuran, dan asset pribadi.
Untuk asset bisnis dapat disustkan semuanya, sedangkan untuk aset campuran boleh
disusutkan sebagian sesuai dengan yang digunakan dalam kegiatan usaha.
2. Nilainya menurun secara bertahap
Nilai asset yang dapat disusutkan harus diturunkan secara bertahap, baik karena semakin
buruk fisiknya atau karena faktor kualitas. Kalau nilainya tidak menurun secara bertahap
maka tidak dapat disusutkan tetapi langsung dibiayakan. Adapun asset yang tidak dapat
disusutkan adalah tanah, asset pendanaan, barang dagangan, dan persediaan.
3. Aset berwujud dan tidak berwujud
Asset berwujud maupun asset tidak berwujud yang mempunyai manfaat lebih dari satu
periode dapat disusutkan. Untuk asset tidak berwujud penyusutannya disebut amortisasi.
4. Pihak yang berhak melakukan penyusutan
Pihak yang berhak melakukan penyusutan adalah :

Pihak yang menggunakan aset tersebut dalam kegiatan usaha


Pemilik, dapat dibagi menjadi legal owner dan beneficial owner

5. Saat dilakukan penyusutan


Secara umum saat dilakukan penyusutan adalah saat digunakan, tetapi adakalanya pada
tahun perolehan.
6. Dasar melakukan penyusutan
Pada umumnya dapat dibedakan menjadi tiga sebagai berikut:
a) Harga perolehan (historical cost)
Termasuk didalamnya adalah harga, ongkos, dan pajak. Pajak yang dapat dikreditkan,
seperti Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang dapat dikreditkan dengan pajak keluaran
tidak termasuk dalam harga perolehan.
b) Harga penggantian (replacement cost)
Pada prinsipnya harga penggantian tidak diperkenankan, karena untuk kepentingan
pencatatan menggunakan harga perolehan.
c) Revaluasi
Suatu asset yang telah direvaluasikan biasanya disusutkan berdasarkan nilai
revaluasinya.
C. Penyusutan Yang Dipercepat
Penyusutan dapat dipercepat untuk meningkatkan arus kas, karena jika penyusutannya
besar, maka pajak yang dibayar lebih kecil dan pengembalian atas investasi menjadi
tinggi.
Metode yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:
I. Dipercepat (accelerated), misalnya dengan metode penyusutan saldo
menurun/menurun ganda (declining/double declining balance).
II. Memperpendek umur (shorted life).
Dengan umur yang menjadi pendek maka unsur pembagi yang digunakan untuk
menentukan nilai aktiva menjadi lebih kecil, sehingga penyusutan menjadi lebih
besar.
III. Bebas (Arbitrary deduction).

2. PENYUSUTAN BERDASARKAN PERATURAN PERPAJAKAN


Sebagaimana telah diatur dalam pasal 9 ayat (2) UU PPh bahwa pengeluaran
untuk mendapatkan manfaat, menagih, dan memelihara penghasilanyang mempunyai
masa manfaat lebih dari satu tahun tidak boleh dibebankan sekaligus, melainkan melalui
penyusutan. Hal ini sesuai dengan kelaziman dunia usaha dan selaras dengan prinsip
penandingan antara pengeluaran dan penerimaan ( matching cost againsts revenue ).
Dalam ketentuan ini pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan
mempertahankan penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun, tidak
dapat diperkurangkan sebagai biaya sekaligus pada tahun pengeluarannya. Namun
demikian, dalam perhitungan dan penerapan tariff penyusutan untuk keperluan pajak,
perlu diperhatikan dasar hukum penyusutan fiscal, karena dapat berbeda dengan
penyusutan untuk akuntansi.
Mulai tahun 1995 ketentuan fiskal mengharuskan penyusutan harta tetap
dilakukan secara individual per aset, tidak lagi secara gabungan ( berdasarkan golongan )
seperti yang berlaku sebelumnya kecuali untuk alat-alat kecil yang sama atau sejenis
masih boleh menggunakan penyusutan secara golongan.

Saat Mulainya Penyusutan Fiskal

Undang-undang pajak penghasilan secara khusus dan eksplisit menetapkan saat


dimulainya penyusutan fiskal adalah pada bulan perolehan. Penyusutan fiskal harus
dilakukan sebulan penuh. Pengecualian dari ketentuan ini hanya dapat terjadi karena
hal-hal berikut ini:
1. Harta/Aset dalam Pengerjaan
Untuk harta/aset tetap dalam proses pengerjaan, penyusutannya dimulai pada
tahun selesainya pekerjaan tersebut.
2. Harta/Aset dalam Usaha Sewa Guna Usaha (leasing)
Penyusutan terhadap harta dalam usaha sewa guna usaha khususnya sewa guna
usaha tanpa hak opsi dimulai pada bulan harta tersebut disewagunausahakan.
3. Persetujuan Dirjen Pajak
Wajib pajak dapat mengajukan permohonan kepada Dirjen Pajak, apabila tidak
mengikuti prinsip umum penyusutan. Misalnya penyusutan baru dilakukan pada
tahun harta/aset tersebut menghasilkan.

Pengelompokan Harta Berwujud

Dalam sistem penyusutan menurut UU PPh, semua aset tetap berwujud yang
memenuhi syarat penyusutan fiskal harus dikelompokkan terlebih dahulu menjadi dua
golongan :
1. Harta berwujud kelompok bukan bangunan
Harta berwujud bukan bangunan dikelompokan menurut masa manfaatnya
sebagai berikut :

Kelompok bukan bangunan Masa manfaat

Kelompok 1 4 tahun

Kelompok 2 8 tahun

Kelompok 3 16 tahun

Kelompok 4 20 tahun

2. Harta berwujud kelompok bangunan


Harta berwujud bangunan dikelompokan menurut masa manfaatnya
sebagai berikut :

Kelompok barang bangunan Masa manfaat

Bangunan permanen 20 tahun

Bangunan tidak permanen 10 tahun

3. Metode dan Tarif Penyusutan Fiskal


Mulai tahun 1995 Wajib Pajak diperkenankan untuk memilih metode penyusutan
fiskal untuk aset tetap berwujud bukan bangunan, yaitu metode saldo menurun
ganda atau metode garis lurus. Metode mana yang akan dipakai bergantung pada
Wajib Pajak, sepanjang dilaksanakan dengan taat asas. Satu yang perlu dicatat
adalah bahwa metode yang dipilih harus diterapkan terhadap seluruh kelompo
harta. Maksudnya, Wajib Pajak tidak dapat menggunakan metode saldo menurun
terhadap kelompok yang satu dan menerapkan metode garis lurus terhadap
kelompok lainnya. Dalam hal Wajib Pajak memilih metode saldo menurun maka,
pada tahun terakhir masa manfaat nilai sisa buku harta yang bersangkutan
disusutka seluruhnya. Aset tetap bangunan hanya menggunakan satu metode yaitu
metode garis lurus. Sebagai akibat dari adanya dua metode penyusutan ini, timbul
perbedaan presentase penyusutan fiskal.
Tarif Penyusutan untuk Aset Tetap Bukan Bangunan

Kelompok bukan Tarif Penyusutan


bangunan
Metode Garis Lurus Metode Saldo Menurun

Kelompok 1 25,00% 50,00%

Kelompok 2 12,50% 25,00%

Kelompok 3 6,25% 12,50%

Kelompok 4 5,00% 10,00%

Tarif Penyusutan untuk Aset Tetap Berupa Bangunan

Kelompok Bangunan Tarif Penyusutan (Metode Garis Lurus)

Bangunan permanen 5%

Bangunan tidak permanen 10%

3. PENYUSUTAN BERDASARKAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN


Aset tetap dan akuntansi penyusutan diatur dalam Standar Akuntansi Keuangan
(SAK) didalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 16 tentang Aset
Tetap dan Aset Lain-lain , PSAK Nomor 17 tentang Akuntansi Penyusutan.
Aset tetap adalah aset berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakaiatau
dibangun lebih dulu, yang digunakakn dalam proses perusahaan, tidak dimaksudkan
untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat
lebih dari satu tahun.
Tanah biasanya memiliki masa manfaat yang tidak terbatas dan biasanya tidak
dianggap suatu asetyang dapat disusutkan. Namun, tanah yang memiliki masa manfaat
terbatas bagi perusahaan diperlakukan sebagai aset tetap yang dapat disusutkan.
Penyusutan adalah alokasi jumlah suatu aset yang dapat disusutkan sepanjang
masa manfaat yang diestimasi. Jumlah yang dapat disusutkan adalah jumlah perolehan
suatu aset atau jumlah lain yang disubtitusikan untuk biaya perolehan dalam laporan
keuangan dikurangi nilai sisanya.
Jumlah yang dapat disusutkan ( depreciable amount ) adalah jumlah perolehan
suatu aset atau jumlah lain yang distribusikan untuk biaya perolehan dalam laporan
keuangan dikurangi nilai sisanya.
Nilai sisa atau nilai residu adalah jumlah neto yang diharapkan dapat diperoleh
pada akhir masa manfaat suatu aset setelah dikurangu taksiran biaya pelepasan.
Nilai wajar adalah suatu jumlah, untuk itu mungkin aset dapat ditukar atau suatu
kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkinginan untuk melakukan
transaksi yang wajar (arms lengh transaction).
Jumlah tercatat adalah nilai buku, yaitu biaya perolehan suatu aset setelah
dikurangi dengan akumulasi penyusutan.
Biaya Perolehan

Biaya perolehan adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar
imbalan lain yang diberikan untuk memperoleh suatu aset pada saat perolehan atau
konstruksi sampai dengan aset tersebut dalam kondisi dan tempat yang siap untuk
digunakan.
Biaya perolehan aset tetap terdiri atas harga belinya, termasuk biaya impor dan
PPN masukan tidak boleh direstitusikan dan setiap biaya yang dapat diatribusikan secara
langsung dalam dalam membawa aset tersebut ke kondisi aset yang membuat aset
tersebut dapat bekerja untuk pengunaan yang dimaksudkan, setiap potongan dagang dan
rabat dikurangkan dari pembelian . Contoh dari biaya yang dapat diatribusikan secara
langsung adalah sebagai berikut:
a) Biaya persiapan tempat.
b) Biaya pengiriman awal (initial delivery), biaya simpan dan biaya bongkar muat
(handling costs).
c) Biaya pemasangan (installation costs).
d) Biaya professional seperti arsitek dan insinyur.
Apabila suatu aset diperoleh secara gabungan maka harga perolehan ditentukan
dengan mengolakasikan harga gabungan tersebut berdasarkann perbandingan nilai wajar
masing-masing aset yang bersangkutan.
Aset tetap yang diperoleh dengan pertukaran atau pertukaran sebagian untuk aset
tetap yang tidak serupa atau aset lainnya, biaya peolehannya diukur berdasarkan nilai
wajar aset yang dilepaskan atau yang diperoleh, yang mana yang lebih andal sesuai
ekuivalen dengan nilai wajar aset yang dilepaskan setelah disesuaikan dengan jumlah
setiap kas atau setara kas yang ditransfer.
Pada umumnya, SAK menganut penilaian berdasarkan harga perolehan atau harga
pertukaran, jadi tidak mengijinkan penilaian kembali aset tetap.
Kriteria Aset yang Dapat Disusutkan

Kriteria Aset yang Dapat Disusutkan adalah sebagai berikut:

Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode akuntansi.


Memiliki suatu masa manfaat yang terbatas. Masa manfaat dapat berupa periode
suatu asset diharapkan digunakan oleh perusahaan atau jumlah produksi atau unit
berupa yang diharapkan diperoleh dari asset oleh perusahaan. Masa manfaat asset
harus ditelaah ulang secara periodik dan bila harapan berbeda secara signifikan
dengan estimasi sebelumnya, maka beban penyusutan untuk periode sekarang dan
masa yang akan datang harus disesuaikan.
Ditahan oleh suatu perusahaan untuk digunakan dalam produksi atau memasok
barang dan jasa, untuk disewakan, atau untuk tujuan administrasi.

Masa Manfaat

Pengertian masa manfaat sebagai berikut :

Periode suatu aset diharapkan digunakan oleh perusahaan.


Jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan diperoleh dari aset oleh perusahaan

Metode Penyusutan

Penyusutan dapat dilakukan dengan berbagai metode yang dapat dikelompokkan menurut
kriteria berikut ini:
1. Berdasarkan waktu
a. Metode garis lurus (straight line method)
b. Metode pembebanan yang menurun
1) Metode jumlah angka tahun (sum of the years digit method)
2) Metode saldo menurun/saldo menurun ganda (declining/double declining
balance method)
2. Berdasarkan penggunaan
a. Metode jam jasa (service hour method)
b. Metode jumlah unit produksi (productive output method)
3. Berdasarkan kriteria lainnya
a. Metode berdasarkan jenis dan kelompok (group and composite method)
b. Metode anuitas (anuity method)
c. Sistem persediaan (inventory systems)
Metode penyusutan ini biasanya digunakan untuk menilai aktiva berwujud yang nilainya kecil.
Persediaan peralatan, sebagai contoh, mungkin ada pada awal dan akhir periode. Kemudian
jumlah beban penyusutan dapat dihitung dengan menggunakan nilai awal dari persediaan
ditambah dengan beban yang dikeluarkan untuk memperoleh peralatan tersebut dikurangi dengan
nilai akhir persediaan. Keberatan utama terhadap metode ini dikarenakan metode ini tidak
sistematik dan rasional, karena tidak ada seperangkat formula yang digunakan.
Pemilihan metode alokasi dan estimasi masa manfaat aktiva tetap yang dapat disusutkan
adalah merupakan masalah pertimbangan. Pengungkapan metode penyusutan yang digunakan
dan estimasi masa manfaat akan berguna bagi para pemakai laporan keuangan, dalam menelaah
kebijakan yang dipilih manajemen dan dapat membuat perbandingan dengan perusahaan lain.
Untuk alasan serupa, perlu untuk mengungkapkan jumlah yang dapat disusutkan yang
dialokasikan dalam suatu periode dan akumulasi penyusutan pada akhir periode tersebut.
Metode penyusutan yang digunakan ditelaah ulang secara periodik dan jika terdapat
perubahan yang signifikan dalam pola pemanfaatan ekonomi atas aktiva tersebut, metode
penyusutan harus diubah untuk mencerminkan hal itu. Perubahan metode penyusutan harus
dilaporkan sesuai dengan PSAK Nomor 25 tentang Laba atau Rugi Bersih untuk Periode
Berjalan, kesalahan mendasar dan perubahan kebijakan dan beban penyusutan untuk periode
sekarang dan masa datang harus disesuaikan.
Penyusutan Kelompok dan Gabunagan

Untuk memudahkan kegiatan administrasi, ada kalanya perusahaan memilih cara


penyusutan dengan mengolompokkan asset ke dalam beberapa kelompok. Dalam
ketentuan fiskal disebut dengan golongan harta.
Saat Dimulainya Penyusutan

Pada umumnya penyusutan dimulai pada tahun pengeluaran. Untuk asset tetap yang
masih dalam proses pengerjaan, penyusutan dimulai pada tahun selesainya pengerjaan
tersebut. Berbeda dengan penyusutan fiskal yang harus setahun penuh, penyusutan
komersial boleh dilakukan untuk jangka yang lebih pendek.
Dasar Penyusutan

Dasar penyusutan yang digunakan adalah biaya perolehan awal, baik melalui pembelian
maupun pendirian, penambahan, dan perbaikan. Apabila perusahaan melakukan penilaian
kembali (revaluasi) maka dasar penyusutannya adalah nilai setelah revaluasi.
Pengungkapan

Pemilihan suatu metode alokasi dan estimasi masa manfaat suatu asset merupakan
masalah pertimbangan. Pengungkapan metode yang digunakan dan estimasi masa
manfaat atau tingkat penyusutan yang digunakan menyediakan bagi para pengguna
laporan informasi yang membuat mereka menelaah kebijaan yang dipilih manajemen dan
dapat membuat perbandingan dengan perusahaan lain.
Persamaan Akuntansi Komersial dan Akuntansi Fiskal

Persamaan yang terdapat dalam akuntansi komersial dan akuntansi fiskal adalah sebagai
berikut:
1. Aktiva/harta tetap yang memberikan manfaat lebih dari satu periode tidak boleh
langsung dibebankan pada tahun pengeluarannya tetapi harus dikapitalisir dan
disusutkan sesuai dengan masa manfaatnya.
2. Aktiva/harta yang dapat disusutkan adalah aktiva tetap baik bangunan maupun bukan
bangunan.
3. Tanah pada prinsipnya tidak disusutkan, kecuali tanah tersebut memiliki masa
manfaat terbatas.

Perbedaan Akuntansi Komersial dan Akuntansi Fiskal

Akuntansi Komersial Akuntansi Finansial

Masa manfaat : Masa manfaat :


a. Masa manfaat ditentukan aset berdasarkan taksiran a. Ditetapkan berdasarkan keputusan Men
umur ekonomis maupun umur teknis Keuangan
b. Ditelaah ulang secara periodik
c. Nilai residu bisa diperhitungkan b. Nilai residu tidak diperhitungkan
Harga perolehan : Harga perolehan :
a. Untuk pembelian menggunakan harga sesungguhnya a. Untuk transaksi yang tidak mempunyai hubung
istimewa berdasarkan harga sesungguhnya
b. Untuk pertukaan aset tidak sejenis menggunakan b. Untuk transaksi yang mempunyai hubung
harga wajar istimewa berdasarkan harga pasar
c. Untuk pertukaran sejenis berdasarkan nilai buku aset c. Untuk transaksi tukar-menukar ada
yang dilepas berdasarkan harga pasar
d. Aset sumbangan berdasarkan harga pasar d. Dalam rangka likuidasi, peleburan, pemekar
pemecahan, atau penggabungan adalah ha
pasar kecuali ditentukan lain oleh Men
Keuangan
e. Jika direvaluasi adalah sebesar nilai sete
revaluasi

Metode penyusutan : Metode penyusutan :

a. Garis lurus a. Untuk aset tetap bangunan adalah garis lurus


b. Jumlah angka tahun b. Untuk aset tetap bukan bangunan Wajib Pa
c. Saldo menurun/menurun ganda dapat memilih garis lurus atau saldo menu
d. Metode jam jasa ganda asal diterapkan secara taat asas
e. Unit produksi
f. Anuitas
g. Sistem persediaan
Perusahaan dapat memilih salah satu metode yang
dianggap sesuai, namun harus diterapkan secara
konsisten dan harus ditelaah secara periodik.
Sistem penyusutan :
Sistem penyusutan :
a. Penyusutan secara individual kecuali un
a. Penyusutan individual
peralatan kecil, boleh secara golongan
b. Penyusutan gabungan/kelompok
Saat dimulainya penyusutan :
Saat dimulainya penyusutan :
a. Saat perolehan
a. Saat perolehan
b. Dengan izin Menteri Keuangan dapat dilakuk
b. Saat penyelesaian
pada tahun penyelesaian atau tahun mu
menghasilkan.

4. PERENCANAAN PAJAK UNTUK PENYUSUTAN


Penentuan metode penyusutan secara tepat penting untuk dilakukan dalam
perencanaan pajak, terutama untuk perusahaan-perusahaan yang padat modal.
Berdasarkan pasal 11 Undang-Undang Pajak Penghasilan metode penyusutan dapat
digunakan untuk melakukan penyusutan terhadap aset tetap bukan bangunan adalah
metode garis lurus atau saldo menurun.