Anda di halaman 1dari 36

GANGGUAN KESEIMBAGAN ELEKTROLIT DAN CAIRAN

GANGGUAN KESEIMBANGAN ELEKTROLIT DAN CAIRAN Gangguan Keseimbangan Cairan

  • 1. Dehidrasi

  • 2. Syok hipovolemik

Gangguan Keseimbangan Elektrolit

  • 1. Hiponatremia

Definisi : kadar Na+ serum di bawah normal (< 135 mEq/L) Causa : CHF, gangguan ginjal dan sindroma nefrotik, hipotiroid, penyakit Addison Tanda dan Gejala :

Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam beberapa jam, pasien mungkin mual, muntah, sakit kepala dan keram otot. •

Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam satu jam, bisa terjadi sakit kepala hebat, letargi, kejang, disorientasi dan koma.

Mungkin pasien memiliki tanda-tanda penyakit dasar (seperti gagal jantung, penyakit Addison).

Jika hiponatremia terjadi sekunder akibat kehilangan cairan, mungkin ada tanda-tanda syok seperti hipotensi dan takikardi

  • 2. Hipernatremia

Definisi : Na+ serum di atas normal (>145 mEq/L) Causa : Kehilangan Na+ melalui ginjal misalnya pada terapi diuretik, diuresis osmotik, diabetes insipidus, sekrosis tubulus akut, uropati pasca obstruksi, nefropati hiperkalsemik; atau karena hiperalimentasi dan pemberian cairan hipertonik lain. Tanda dan Gejala : iritabilitas otot, bingung, ataksia, tremor, kejang dan koma yang sekunder terhadap hipernatremia.

  • 3. Hipokalemia

Definisi : kadar K+ serum di bawah normal (< 3,5 mEq/L)

Etiologi § Kehilangan K+ melalui saluran cerna (misalnya pada muntah-muntah, sedot nasogastrik, diare, sindrom malabsorpsi, penyalahgunaan pencahar) •

§ Diuretik § Asupan K+ yang tidak cukup dari diet

§ Ekskresi berlebihan melalui ginjal

§ Maldistribusi K+

§ Hiperaldosteron

Tanda dan Gejala : Lemah (terutama otot-otot proksimal), mungkin arefleksia, hipotensi ortostatik, penurunan motilitas saluran cerna yang menyebabkan ileus. Hiperpolarisasi myokard terjadi pada hipokalemia dan dapat menyebabkan denyut ektopik ventrikel, reentry phenomena, dan kelainan konduksi. EKG sering memperlihatkan gelombang T datar, gelombang U, dan

depresi segmen ST. 4. Hiperkalemia Definisi : kadar K+ serum di atas normal (> 5,5 mEq/L) Etiologi :

Ekskresi renal tidak adekuat; misalnya pada gagal ginjal akut atau kronik, diuretik hemat kalium, penghambat ACE.

Beban kalium dari nekrosis sel yang masif yang disebabkan trauma (crush injuries),

pembedahan mayor, luka bakar, emboli arteri akut, hemolisis, perdarahan saluran cerna atau

rhabdomyolisis. Sumber eksogen meliputi suplementasi kalium dan pengganti garam, transfusi darah dan penisilin dosis tinggi juga harus dipikirkan. •

Perpindahan dari intra ke ekstraseluler; misalnya pada asidosis, digitalisasi, defisiensi insulin atau peningkatan cepat dari osmolalitas darah.

Insufisiensi adrenal • Pseudohiperkalemia. Sekunder terhadap hemolisis sampel darah atau pemasangan torniket terlalu lama • Hipoaldosteron

Tanda dan Gejala : Efek terpenting adalah perubahan eksitabilitas jantung. EKG memperlihatkan perubahan-perubahan sekuensial seiring dengan peninggian kalium serum. Pada permulaan, terlihat gelombang T runcing (K+ > 6,5 mEq/L). Ini disusul dengan interval PR memanjang, amplitudo gelombang P mengecil, kompleks QRS melebar (K+ = 7 sampai 8 mEq/L). Akhirnya interval QT memanjang dan menjurus ke pola sine-wave. Fibrilasi ventrikel dan asistole cenderung terjadi pada K+ > 10 mEq/L. Temuan-temuan lain meliputi parestesi, kelemahan, arefleksia dan paralisis ascenden.

Tanda2kalor

Dolor Dolor adalah rasa nyeri, nyeri akan terasa pada jaringan yang mengalami infeksi. Ini terjadi karena sel yang mengalami infeksi bereaksi mengeluarkan zat tertentu sehingga menimbulkan nyeri menangis. Rasa nyeri mengisyaratkan bahwa terjadi gangguan atau sesuatu yang tidak normal [patofisiologis] jadi jangan abaikan rasa nyeri karena mungkin saja itu sesuatu yang berbahaya. Kalor Kalor adalah rasa panas, pada daerah yang mengalami infeksi akan terasa panas. Ini terjadi karena tubuh mengkompensasi aliran darah lebih banyak ke area yang mengalami infeksi untuk mengirim lebih banyak antibody dalam memerangi antigen atau penyebab infeksi. Tumor Tumor dalam kontek gejala infeksi bukanlah sel kanker seperti yang umum dibicarakan nggak boleh tapi pembengkakan. Pada area yang mengalami infeksi akan mengalami pembengkakan karena peningkatan permeabilitas sel dan peningkatan aliran darah. Rubor Rubor adalah kemerahan, ini terjadi pada area yang mengalami infeksi karena peningkatan aliran darah ke area tersebut sehingga menimbulkan warna kemerahan. Fungsio laesa adalah perubahan fungsi dari jaringan yang mengalami infeksi. Contohnya jika luka di kaki mengalami infeksi maka kaki tidak akan berfungsi dengan baik seperti sulit berjalan atau bahkan tidak bisa berjalan. Jika infeksi sudah cukup lama maka akan timbuh nanah [pes]. Nanah terbentuk karena "perang" anatara antibody dengan antigen bertarung sehingga timbullah nanah, jika ditenggorokan disebut dahak [batuk berdahak]. Dengan pemeriksaan nanah/dahak ini

kita bisa mengetahui jenis antigen yang menyebabkan infeksi. Bagaimana jelaskan apa saja tanda-tanda infeksi. Setelah sebelumnya beritamandiri pernah posting tentang Penyebab Keringat Berlebih di Kaki , Sekarang pada postingan terbaru kali ini ttg Penyebab, Tanda-tanda dan Gejala Infeksi. Semoga informasi berita terbaru Indonesia dalam artikel kesehatan ini bermanfaat buat anda yang membacanya.

KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT Kebutuhan cairan dan elektrolit adalah suatu proses dinamik karena metabolisme tubuh membutuhkan perubahan yang tetap untuk melakukan respons terhadap keadaan fisiologis dan lingkungan. Keseimbangan cairan adalah essensial bagi kesehatan. Dengan kemampuannya yang sangat besar untuk menyesuaikan diri, tubuh mempertahankan keseimbangan, biasanya dengan proses-proses faal (fisiologis) yang terintegrasi yang mengakibatkan adanya lingkungan sel yang relatif konstan tapi dinamis. Kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan cairan ini dinamakan “homeostasis”. A. Komposisi Cairan Tubuh Cairan tubuh terdiri dari air (pelarut) dan substansi terlarut (zat terlarut)

1. Air Air adalah senyawa utama dari tubuh manusia. Jumlah air sekitar 73% dari bagian tubuh seseorang tanpa jaringan lemak (lean body mass). 2. Solut (substansi terlarut) Selain air, cairan tubuh mengandung dua jenis substansi terlarut (zat terlarut) yaitu berupa elektrolit dan non-elektrolit. •

Elektrolit : Substansi yang berdisosiasi (terpisah) di dalam larutan dan akan menghantarkan arus listrik. Elektrolit berdisosiasi menjadi ion positif dan negatif dan diukur dengan kapasitasnya untuk saling berikatan satu sama lain (mEq/L) atau dengan berat molekul dalam garam (mmol/L). Jumlah kation dan anion, yang diukur dalam miliekuivalen, dalam larutan

selalu sama. Bila garam larut dalam air, misalnya garam Nacl, akan terjadi disosiasi sehingga terbentuk ion-ion bermuatan positif dan negatif. Ion positif dinamakan kation, sedangkan ion negatif dinamakan •

Anion: Ion mengandung muatan listrik dinamakan elektrolit. Cairan tubuh yang mengandung air dan garam dalam keadaan disosiasi dinamakan larutan elektrolit. Dalam semua larutan

elektrolit, ada keseimbangan antara konsentrasi anion dan kation. Kation : ion-ion yang mambentuk muatan positif dalam larutan. Kation ekstraselular utama

o

adalah natrium (Na+), sedangkan kation intraselular utama adalah kalium (K+). Sistem pompa

terdapat di dinding sel tubuh yang memompa natrium ke luar dan kalium ke dalam.

Anion : ion-ion yang membentuk muatan negatif dalam larutan. Anion ekstraselular utama adalah klorida (Clˉ), sedangkan anion intraselular utama adalah ion fosfat (PO43-).

o

Tubuh menggunakan elektrolit untuk mengatur keseimbangan cairan tubuh. Sel-sel tubuh memilih elektrolit untuk ditempatkan diluar (terutama natrium dan klorida) dan didalam sel (terutama kalium, magnesium, fosfat, dan sulfat). Molekul air, karena bersifat polar, menarik elektrolit. Walaupun molekul air bermuatan nol, sisi oksigennya sedikit bermuatan negatif, sedangkan hidrogennya sedikit bermuatan positif. Oleh sebab itu, dalam suatu larutan elektrolit,

baik ion positif maupun ion negatif menarik molekul air disekitarnya. • Non-elektrolit : Substansi seperti glokusa dan urea yang tidak berdisosiasi dalam larutan dan diukur berdasarkan berat (miligram per 100 ml-mg/dl). Non-elektrolit lainnya yang secara klinis penting mencakup kreatinin dan bilirubin.

B. Kompartemen Cairan Seluruh cairan tubuh didistribusikan diantara dua kompartemen utama, yaitu : cairan intraselular (CIS) dan cairan ekstra selular (CES). Pada orang normal dengan berat 70 kg, Total cairan tubuh (TBF) rata-ratanya sekitar 60% berat badan atau sekitar 42 L. persentase ini dapat berubah, bergantung pada umur, jenis kelamin dan derajat obesitas (Guyton & Hall, 1997) •

Cairan Intraselular (CIS) = 40% dari BB total Adalah cairan yang terkandung di dalam sel. Pada orang dewasa kira-kira 2/3 dari cairan tubuh adalah intraselular, sama kira-kira 25 L pada rata-rata pria dewasa (70 kg). Sebaliknya, hanya ½ dari cairan tubuh bayi adalah cairan intraselular. •

Cairan Ekstraselular (CES) = 20% dari BB total

Adalah cairan diluar sel. Ukuran relatif dari (CES)menurun dengan peningkatan usia. Pada bayi baru lahir, kira-kira ½ cairan tubuh terkandung didalam CES. Setelah 1 tahun, volume relatif dari CES menurun sampai kira-kira 1/3 dari volume total. Ini hampir sebanding dengan 15 L dalam rata-rata pria dewasa (70 kg). Cairan Ekstraseluler terdiri dari :

Cairan interstisial (CIT) : Cairan disekitar sel, sama dengan kira-kira 8 L pada orang dewasa. Cairan limfe termasuk dalam volume interstisial. Relatif terhadap ukuran tubuh, volume CIT kira-kira sebesar 2 kali lebih besar pada bayi baru lahir dibanding orang dewasa. •

Cairan intravaskular (CIV) : Cairan yang terkandung di dalam pembuluh darah. Volume

relatif dari CIV sama pada orang dewasa dan anak-anak. Rata-rata volume darah orang dewasa kira-kira 5-6 L (8% dari BB), 3 L (60%) dari jumlah tersebut adalah PLASMA. Sisanya 2-3 L (40%) terdiri dari sel darah merah (SDM, atau eritrosit) yang mentransfor oksigen dan bekerja sebagai bufer tubuh yang penting; sel darah putih (leukosit); dan trombosit. Tapi nilai tersebut diatas dapat bervariasi pada orang yang berbeda-beda, bergantung pada jenis kelamin, berat badan dan faktor-faktor lain. Adapun fungsi dari darah adalah mencakup :

-

Pengiriman nutrien (misal ; glokusa dan oksigen) ke jaringan

-

Transpor produk sisa ke ginjal dan paru-paru

-

Pengiriman antibodi dan SDP ke tempat infeksi

-

Transpor hormon ke tempat aksinya

-

Sirkulasi panas tubuh

Cairan Transelular (CTS)

Adalah cairan yang terkandung di dalam rongga khusus dari tubuh. Contoh CTS meliputi cairan serebrospinal, perikardial, pleural, sinovial, dan cairan intraokular serta sekresi lambung. Pada waktu tertentu CTS mendekati jumlah 1 L. Namun, sejumlah besar cairan dapat saja bergerak kedalam dan keluar ruang transelular setiap harinya. Sebagai contoh, saluran gastro-intestinal (GI) secara normal mensekresi dan mereabsorbsi sampai 6-8 L per-hari. Secara Skematis Jenis dan Jumlah Cairan Tubuh dapat digambarkan sebagai berikut :

C. Fungsi dan Kebutuhan Cairan Tubuh Air merupakan sebagian besar zat pembentuk tubuh manusia. Jumlah air sekitar 73% dari bagian tubuh seseorang tanpa jaringan lemak (lean body mass). Tergantung jumlah lemak yang terdapat dalam tubuh, proporsi air ini berbeda antar orang. Prosentase Total Cairan Tubuh Dibandingkan Berat Badan

Distribusi Cairan Tubuh

Nilai Rata-Rata Cairan Ekstraseluler (Ces) Dan Cairan Intraseluler (Cis) Pada Dewasa Normal Terhadap Berat Badan Maxwell, Morton H. Clinical Disorders of Fluid and Electrolyte Metabolism, 4th ed. McGraw Hill, 1987, p.9. Bagi manusia, air berfungsi sebagai bahan pembangunan disetiap sel tubuh. Cairan manusia memiliki fungsi yang sangat vital, yaitu untuk mengontrol suhu tubuh dan menyediakan lingkungan yang baik bagi metabolisme. Cairan tubuh bersifat elektrolit (mengandung atom bermuatan listrik) dan alkalin (basa). Dengan demikian air digunakan dalam tubuh sebagai pelarut, bagian dari pelumas, pereaksi kimia, mengatur suhu tubuh, sebagai sumber mineral, serta membantu memelihara bentuk dan susunan tubuh. Air yang dibutuhkan manusia berasal dari makanan dan minuman serta pertukaran zat dalam tubuh. Air mempunyai berbagai fungsi dalam proses vital tubuh, yaitu :

Pelarut dan alat angkut. Air dalam tubuh berfungsi sebagai pelarut zat-zat gizi berupa monosakarida, asam amino, lemak, vitamin dan mineral serta bahan-bahan lain yang diperlukan tubuh seperti oksigen, dan hormon-hormon. •

Katalisator. Air berperan sebagai katalisator dalam berbagai reaksi biologik dalam sel, termasuk didalam saluran cerna. Air diperlukan pula untuk memecah atau menghidrolisis zat gizi kompleks menjadi bentuk-bentuk lebih sederhana. •

Pelumas. Air berperan sebagai pelumas dalam cairan sendi-sendi tubuh. Fasilitator pertumbuhan. Air sebagai bagian jaringan tubuh diperlukan untuk pertumbuhan.

Dalam hal ini air berperan sebagai zat pembangun. Pengatur suhu. Karena kemampuan air untuk menyalurkan panas, air memegang peranan

dalam mendistribusikan panas didalam tubuh. Peredam benturan. Air dalam mata, jaringan syaraf tulang belakang, dan dalam kantung

ketuban melindungi organ-organ tubuh dari benturan-benturan. Kebutuhan air sehari dikatakan sebagai proporsi terhadap jumlah energi yang dikeluarkan tubuh dalam keadaan lingkungan rata-rata. Untuk orang dewasa dibutuhkan sebanyak 1.0-1.5 ml/kkal, sedangkan untuk bayi 1.5 ml/kkal. D. Distribusi dan Keseimbangan Cairan Tubuh Cairan tubuh merupakan media semua reaksi kimia di dalam sel. Tiap sel mengandung cairan intraseluler (cairan di dalam sel) yang komposisinya paling cocok untuk sel tersebut dan berada di dalam cairan ekstraseluler (cairan di luar sel) yang cocok pula. Cairan ekstraseluler terdiri atas cairan interstisial atau intraseluler (sebagian besar) yang terdapat disel-sel dan cairan intravaskular berupa plasma darah. Semua cairan tubuh setiap waktu kehilangan dan mengalami penggantian bagian-bagiannya, namun komposisi cairan dalam tiap kompartemen dipertahankan

agar selalu berada dalam keadaan homeostatik / tetap. Keseimbangan cairan di tiap komportemen menentukan volume dan tekanan darah. Tubuh harus mampu memelihara konsentrasi semua elektrolit yang sesuai didalam cairan tubuh, sehingga tercapai keseimbangan cairan dan elektrolit. Pengaturan ini penting bagi kehidupan sel, karena sel harus secara terus menerus berada didalam cairan dengan komposisi yang benar, baik cairan didalam maupun diluar sel. Mineral makro terdapat dalam bentuk ikatan garam yang larut dalam cairan tubuh. Sel-sel tubuh mengatur kemana garam harus bergerak dengan demikian menetapkan kemana cairan tubuh harus mengalir, karena cairan mengikuti garam. Kecenderungan air mengikuti garam dinamakan osmosis. Keseimbangan cairan tubuh adalah keseimbangan antara jumlah cairan yang masuk dan keluar. Melalui mekanisme keseimbangan, tubuh berusaha agar cairan didalam tubuh setiap waktu berada dalam jumlah yang tetap/konstan. Ketidakseimbangan terjadi pada dehidrasi (kehilangan air secara berlebihan) dan intoksikasi air (kelebihan air). Konsumsi air terdiri atas air yang diminum dan yang diperoleh dari makanan, serta air yang diperoleh sebagai hasil metabolisme.

Air yang keluar dari tubuh termasuk yang dikeluarkan sebagai urin, air didalam feses, dan air yang dikeluarkan melalui kulit dan paru-paru. Keseimbangan air rata-rata berupa masukan dan ekskresi dapat dilihat pada tabel berikut :

Masukan Air Jumlah (ml)

Ekskresi /Keluaran Air

Jumlah (ml)

Cairan 550-1500 Ginjal 500-1400 Makanan 700-1000 Kulit 450-900

Air metabolik 200-300 Paru-paru 350

Feses

150

Jumlah 1450-2800 1450-2800 Air dibuang dari tubuh melalui air seni, keringat, dan penguapan air melalui alat pernapasan yaitu sebagai sarana transportasi zat gizi dan oksigen ke seluruh tubuh. Aktivitas tubuh akan selalu mengeluarkan cairan dalam bentuk keringat, urin, feses dan nafas. Tubuh akan kehilangan cairan sekitar 2.5 liter setiap hari. Untuk menjaga agar kondisi dan fungsi cairan tubuh tidak terganggu, kehilangan tersebut harus diganti. Jika tubuh tidak cukup mendapatkan air atau kehilangan air maka akan menimbulkan dehidrasi.

Dehidrasi adalah suatu keadaan kehilangan cairan sehingga mengganggu fungsi normal organ- organ tubuh. Tubuh kita dapat mengalami dehidrasi disebabkan oleh masukan air kurang atau keluaran air berlebihan. Dehidrasi karena keluaran air berlebihan disebabkan oleh diare atau peningkatan aktivitas fisik. Pada aktivitas fisik biasa, tubuh kehilangan air sebanyak 2,5 liter per hari, sebagian besar (60%) dikeluarkan melalui air seni. Pada peningkatan aktivitas fisik, misalnya berolahraga, kehilangan air mencapai 1-2 liter per jam, sebagian besar (95%) dikeluarkan melalui keringat. Banyaknya air yang hilang tergantung pada intensitas aktivitas fisik, dan suhu dan kelembaban. Makin besar intensitas latihan, suhu dan kelembaban, akan semakin besar kehilangan air. Rasa haus merupakan gejala awal terjadinya dehidrasi. Kehilangan air sebanyak 2% dari berat badan dapat menyebabkan peningkatan laju jatung dan suhu tubuh. Kematian dapat terjadi bila kehilangan air mencapai 9-12% berat badan. Pada dehidrasi, tubuh tidak hanya kehilangan air tetapi juga kehilangan elektrolit dan glukosa. Disamping air, dehidrasi menyebabkan kehilangan elektrolit. Kehilangan natrium dan klorida dapat mencapai 40-60 mEq/liter, sedangkan kalium dan magnesium 1,5-6 mEq/liter. Kehilangan elektrolit akan mempercepat timbulnya gejala dan gangguan fungsi organ-organ.

Dehidrasi akan mengakibatkan menurunnya volume plasma sehingga menimbulkan gangguan termoregulasi dan kerja jantung. Selanjutnya akan mempengaruhi kinerja tubuh secara keseluruhan. Dehidrasi juga menurunkan kemampuan sistem kardiovaskuler dan pengaturan suhu tubuh. Dehidrasi berat menyebabkan kerja otak terganggu sehingga cenderung mengalami halusinasi. Rehidrasi dengan memberikan air minum biasa justru akan sangat berbahaya pada kehilangan elektrolit. Air minum biasa menyebabkan CES menjadi hipoosmolar sehingga air masuk ke CIS. Minum air biasa terus menerus semakin meningkatkan hipoosmolaritas CES dan menambah volume air yang masuk ke CIS sehingga mengakibatkan pembengkakan sel yang dapat mengakibatkan kematian. Oleh sebab itu komposisi cairan rehidrasi harus mengandung elektrolit dan glukosa dalam jumlah yang cukup untuk mengganti yang hilang. E. Pengaturan keseimbangan cairan tubuh dan elektrolit Jumlah berbagi jenis garam di dalam tubuh hendaknya dijaga dalam keadaan konstan. Bila terjadi kehilangan garam dari tubuh, maka harus diganti dari sumber diluar tubuh, yaitu dari makanan dan minuman. Tubuh mempunyai suatu mekanisme yang mengatur agar konsentrasi semua mineral berada dalam batas-batas normal. Pengaturan air dari tubuh diatur oleh ginjal dan otak. Hipotalamus mengatur konsentrasi garam di dalam darah, merangsang kelenjar pituitari mengeluarkan hormon antidiuretika (ADH), Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut.

Pengaturan keseimbangan air oleh ginjal dan otak disajikan pada diagram berikut :

Ginjal

Otak

ADH dikeluarkan bilamana konsentrasi garam tubuh terlalu tinggi, atau bila volume darah atau tekanan darah terlalu rendah. ADH merangsang ginjal untuk menahan atau menyerap air kembali dan mengedarkannya kembali kedalam tubuh. Jadi, semakin banyak air dibutuhkan tubuh, semakin sedikit yang dikeluarkan. Bila terlalu banyak air keluar dari tubuh, volume darah dan tekanan darah akan turun. Sel-sel ginjal akan mengeluarkan enzim renin. Renin mengaktifkan protein di dalam darah yang dinamakan angiotensin kedalam bentuk aktifnya angiotensin. Angiotensin akan mengecilkan diameter pembuluh darah sehingga tekanan darah akan naik. Disamping itu angiotensin mengatur pengeluaran hormon aldosteron dari kelenjar adrenalin. Aldosteron akan mempengaruhi ginjal untuk menahan natrium dan air. Akibatnya bila dibutuhkan lebih banyak air, akan lebih sedikit air dikeluarkan tubuh. F. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Cairan Dan Elektrolit Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kebutuhan cairan dan elektrolit diantaranya adalah :

1. Usia Variasi usia berkaitan dengan luas permukaan tubuh, metabolisme yang diperlukan dan berat badan. selain itu sesuai aturan, air tubuh menurun dengan peningkatan usia. Berikut akan disajikan dalam tabel perubahan pada air tubuh total sesuai usia.

2. Jenis kelamin Wanita mempunyai air tubuh yang kurang secara proporsional, karena lebih banyak mengandung

lemak tubuh

  • 3. Sel-sel lemak

Mengandung sedikit air, sehingga air tubuh menurun dengan peningkatan lemak tubuh

  • 4. Stres

Stres dapat menimbulkan peningkatan metabolisme sel, konsentrasi darah dan glikolisis otot,

mekanisme ini dapat menimbulkan retensi sodium dan air. Proses ini dapat meningkatkan produksi ADH dan menurunkan produksi urine

  • 5. Sakit

Keadaan pembedahan, trauma jaringan, kelainan ginjal dan jantung, gangguan hormon akan

mengganggu keseimbangan cairan

  • 6. Temperatur lingkungan

Panas yang berlebihan menyebabkan berkeringat. Seseorang dapat kehilangan NaCl melalui

keringat sebanyak 15-30 g/hari

  • 7. Diet

Pada saat tubuh kekurangan nutrisi, tubuh akan memecah cadangan energi, proses ini akan menimbulkan pergerakan cairan dari interstisial ke intraselular.

Bagian Pertama

ARTI DAN SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU MANTIQ (LOGIKA)

  • A. Arti Logika

Logika adalah bahasa latin berasal dari kata “Logos” yang berarti perkataan atau sabda. Istilah lain yang digunakan sebagai gantinya adalah Mantiq, kata arab yang di ambil dari kata Nataqa yang berarti berkata atau berucap. Dalam buku Logiq and Lenguage of Education, mantiq disebut sebagi “penyelidikan tentang dasar-dasar dan metode-metode berfikir benar. Sedangkan dalam ilmu munjid disebut sebagai “hokum yang memelihara hati dari kesalahan dalam berfikir”. “Logika adalah ilmu yang mempelajari metode dan hokum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang salah.”

  • B. Sejarah Perkembangan Logika

Ilmu mantiq atau logika berasal dari Yunani, yang guru utamanya adalah Aristoteles. Penduduk Yunani memiliki kecerdasan otak yang tinggi. Dengan kecerdasan mereka lahirlah kelompok sofsathah (semacam debat kusir yang inginya menang sendiri dan mengalahkan lawan) tetapi berpengaruh secara negatif. Kelompok ini dengan ketangkasan debat yang mereka

miliki menghujat dan malah merusak system social, agama dan moral dengan cara, mengungkap pernyataan-pernyataan yang kelihatanya benar, tetapi membuat penyesatan-penyesatan pemikiran dan moral. Di antara pernyataan-pernyataan mereka adalah:

Kebaikan adalah apa yang anda pandang baik. Keburukan adalah apa yang anda pandang buruk. Apa yang di yakini benar oleh seseorang, itulah yang benar buat dia. Apa yang diyakini salah oleh seseorang, itulah yang salah buat dia.

Mereka membuang semua standar nilai dan norma moral, baik untuk kebaikan kebenaran maupun untuk keburukan dan kesalahan. Oleh karena itu, setiap orang berhak menentukan standar nilai kebaikan dan kebenaran atau standar nilai keburukan dan kesalahan untuk dirinya sendiri, meskipun bertentangan dengan orang lain. Aristoteles (384-322 SM) berusaha mengalahkan mereka secara ilmiyah dengan pernyataan-pernyataan logis yang briliyan. Keberhasilanya menyusun teknik berfikir sistematis dan benar sekaligus hokum-hukumnya, telah mengangkatnya menjadi Guru Pertama logika di dunia sampai ke masa ini. Julukan itu memang tepat karena tidak ada orang yang mendahuluinya dalam upaya menyusun teknik berfikir benar dengan kesimpulan yang benar seperti yang di hasilkanya itu. Dengan kata lain, keberhasilanya itu murni dari upaya pikiranya sendiri. Karya Aristoteles itu sangat di kagumi pada masanya dan masa sesudahnya sehingga logika dipelajari disetiap perguruan. Plato (427-347 SM), murid Aristoteles, hanya menambahnya sedikit. Immanuel Kant (1724-1804 SM) pemikir terbesar bangsa Jerman, menyatakan bahwa logika yang diciptakan Aristoteles itu tidak bisa ditambah lagi walau sedikit karena sudah cukup sempurna. Pada awal abad ke-7 berkembanglah agama Islam di Jazirah Arab dan pada abad ke-8, agama ini telah dipeluk secara meluas, ke barat sampai perbatasan Pyrences dank e timur sampai ke Thian Shan. Pusat-pusat ilmu pada waktu itu adalah yang paling maju. Baghdad dibelahan Timur dan Cordova dibelahan barat. Di zaman kekuasaan khalifah dynasty Abbasiyah, demikian

banyaknya karya-karya ilmiyah Yunani dan lain-lainya diterjemaahkan ke dalam bahasa Arab, sehingga ada satu masa dalam sejarah Islam yang dijuluki dengan Abad Terjemahan. Logika, karya Aristoteles, juga diterjemahkan dan diberi nama ‘Ilm al-Mantiq’. Kemudian menyusullah zaman kemunduran di bidang mantiq karena dianggap terlalu memuja akal. Di antara ulama-ulama besar Islam,Muhyiddin al-Nawawi, Ibn Shalah, Taqiyuddin Ibn Taimiyah, mengharamkan mempelajari ilmu mantiq dengan tuduhan akan menjadi zindiq, ilhad dan kufur. Pengaruh mereka ini telah menyebabkan banyak ulama tidak memperkenankan Ilmu Mantiq di ajarkan di lembaga-lembaga pendidikan yang mereka asuh. Namun demikian, beberapa orang ulama besar masih tetap mempertahankan Ilmu Mantiq suatu ilmu yang harus di pelajari, tetapi terbatas pada maksud menggunakanya sebagai penunjang bagi Ilmu Tauhid (theology) saja. Selain di Arab dan Yunani, ternyata Eropa juga menggali Ilmu Logika setelah abad ke 13 dan 14. Berbagai ilmu yana disalin dan di terjemahkan ilmuan-ilmuan muslim ke dalam bahasa Arab diterjemahkan mereka kembali ke dalam bahasa Latin, kemudian ke dalam bahasa-bahasa Eropa. Di bidang Logika mereka menggelari al-Farabi sebagai Guru kedua dan Ibn Sina sebagai Guru ketiga. Di Indonesia, Ilmu Mantiq pada mulanya di pelajari secara terbatas di perburuan- perguruan agam dan pesantren. Ilmu ini, kemudian, semakin mendapat perhatian berkat semangat positif gerakn pembaharuan. Tetapi, meskipun pakar mantiq mungkin banyak di Indonesia, ternyata buku-buku mantiq atau logika yang mereka susun dalam bahasa Indonesia masih amat sedikit. Sementara itu, mereka mengakui signifikasi dan peranan Ilmu Mantiq atau logika itu bagi pengembangan ilmu pada umumnya dan peningkatan daya fikir untuk memperoleh kesimpulan yang benar pada khususnya.

Bagian Kedua

ASAS-ASAS PEMIKIRAN, CARA MENDAPATKAN KEBENARAN, DAN PEMBAGIAN LOGIKA

  • A. ASAS-ASAS PEMIKIRAN Asas adalah pangkal atau asal dari mana sesuatu itu muncul dan dimengerti. Maka “Asas Pemikiran” adalah pengetahuan di mana pengetahuan lain muncul dan dimengerti. Asas bagi kelurusan berpikir mutlak, ia adalah dasar daripada pengetahuan dan ilmu. Asas pemikiran ini dapat dibedakan menjadi :

1.

Asas identitas (principiumidentitatis = qanun zatiyah). Ia adalah dasar dari semua pikiran dan bahkan asas pemikiran yang lain. Prinsip ini mengatakan sesuatu itu adalah dia sendiri bukan lainnya. Bila diberi perumusan akan berbunyi :

“Bila proposisi itu benar maka benarlah ia”.

  • 2. Asas kontradiksi (principiumcontradiktoris = qanun tanaqud). Prinsip ini mengatakan bahwa pengingkaran sesuatu tidak mungkin sama dengan pengakuannya. Sebab realitas ini hanya satu sebagaimana disebut dalam asas identitas. Dengan kata lain : dua kenyataan yang kontradiktiris tidak mungkin bersama-sama secara simultan. Jika dirumuskan akan menjadi “Tidak ada proposisi yang sekaligus benar dan salah”.

  • 3. Asas penolakan kemungkinan ketiga (principium exlusi tertii = qanun imtina’) Asas ini menyatakan bahwa antara pengakuan dan pengingkaran kebenaranya terletak pada salah satunya. Pengakuan dan pengingkaran merupakan pertentangan mutlak, karena itu di samping tidak mungkin benar keduanya juga tidak mungkin salah keduanya. Jika di rumuskan berbunyi “suatu proposisi selalu dalam keadaan benar atau salah “.

    • B. CARA MENDAPATKAN KEBENARAN Ada dua cara untuk mendapatkan kebenaran yaitu : melalui metode induksi dan metode deduksi .

      • 1. Induksi adalah cara berpikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus yang bersifat individual. Penalaran ini dimulai dari kenyataan-kenyataan yang bersifat khusus dan terbatas diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum. Seperti :

Besi dipanaskan memuai Seng dipanaskan memuai mas dipanaskan memuai Jadi : semua logam jika dipanaskan memuai Cara penalaran ini mempunyai dua keuntungan. Pertama, kita dapat berpikir secara ekonomis. Kita bisa mendapatkan pengetahuan yang lebih umum tidak sekedar kasus yang menjadi dasar pemikiran kita. Kedua, pernyataan yang dihasilkan melalui pemikiran induksi tadi memungkinkan proses penalaran selanjutnya, baik secara induktif maupun secara deduktif.

  • 2. Deduksi adalah kegiatan berpikir merupakan kebalikan dari penalaran induksi. Deduksi adalah cara berpikir dari pernyataan yang bersifat umum menuju kesimpulan yang bersifat khusus. Seperti :

Semua logam bila dipanaskan, memuai Tembaga adalah logam Jadi, tembaga bila dipanaskan, memuai. Dengan penalaran deduktif kita mendapat pengetahuan yang terpercaya, meskipun pengetahuan ini kita dapatkan tidak melalui penelitian lebih dahulu.

  • C. PEMBAGIAN LOGIKA Dilihat dari segi kualitasnya logika natiralis (mantiq Al-fikri) yaitu kecakapan berlogika berdasarkan kemampuan akal bawaan manusia. Kemampuan berlogika naturalis pada tiap-tiap orang berbeda-beda tergantung dari tingkatan pengatahuannya. Logika artifialis atau logika ilmiah (matiq Al- suri) yang bertugas membantu mantiq Al-fitri. Mantiq ini memperhalus ,

mempertajam serta menunjukkan jalan pemikiran agar akal dapat bekerja lebih teliti, efisien, mudah dan aman. Dilihat dari metodenya logika tradisional (mantiq Al- Qodim) dan logika modern (mantiq Al- Hadits).

  • 1. Logika Tradisional adalah logika Aristoteles dan logika daripada logokus yang lebih, tetapi masih mengikuti system loigika aristoteles.

  • 2. Logika Modern tumbuh dan dimulai dari abad XIII, mulai abad ini ditemukan sistem baru, metode baru yang berlainan dengan system logika Aristoteles. Saatnya dimulai sejak Raymundus lulus manemukan metode baru logika yang disebut Ars magna. Jika dilihat dari obyeknya logika formal (mantiq As-suwari) dan logika material (mantiq Al- Maddi). Cara berpikir Induktif dipergunakan dalam logika material, yang mempelajari dasar-dasar persesuaian pikiran dengan kenyataan. Ia menilai hasil pekerjaan logika formal dan menguji benar tidaknya dengan kenyataan empiris.

Bagian Ketiga

K A T A

  • A. Pengertian kata Kata-kata mempunyai beberapa pengertian yaitu:

  • 1. Positif, Negatif, dan Pripatif Sesutu kata mempunyai pengertian positif apabila mengandung penegasan adanya sesuatu, seperti: gemuk (adanya daging), kaya (adanya harta benda), pandai (adanya ilmu), terang (adanya sinar).

Suatu kata mempunyai pengertian privatif apabila mengandung makna tidak adanya sesuatu, seperti: kurus (tidak adanya daging), bodoh (tidak adanya ilmu), miskin (tidak adanya harta). Penggunaan serupa adalah tidak benar, karena tidak gemuk berarti dikecualikan dari sifat gemuk tapi bisa juga belum sampai ketingkat kurus. Tidak pandai berarti seseorang itu tidak termasuk didalam kelompok orang-orang pandai tapi bisa juga bukan orang yang bodoh.

  • 2. Universal, Partikular, Singular dan kolektif Suatu kata mempunyai pengertian universal apabila ia mengikat keseluruhan bawahannya tanpa terkecuali, seperti: rumah, hewan, tumbuhan, kursi, manusia dan sebagainya. Suatu kata mempunyai pengertian partikular apabila ia mengikat bawahan yang banyak, tapi tidak mencangkup keseluruhan anggota yang diikatnya. Yang mempunyai pengertian partikular seperti: sebagian manusia, beberapa manusia, ada manusia, tidak semua manusia, sebagian besar manusia. [1]

Kata yang mempunyai pengertian singular dapat dibedakan menjadi:

  • a. Nama unik, yaitu nama yang memberikan identitas berikut keterangan atau penjelasan objek, Misalnya: presiden Indonesia yang kedua, sungai terpanjang didunia.

  • b. Nama diri yaitu nama yang diberikan kepada orang atau barang untuk tujuan identifikasi, seperti:

Hasan, Fatimah, Kusen, Himalaya, Sahid Hotel, Taman Mini Indonesia Indah

Kata yang mempunyai pengertian kolektif adalah keseluruhan yang terikat, bukan individunya. Bila kita mengatakan “bangsa jerman rajin” ini berarti tidak semua orang jerman itu rajin. Dalam pernyataan “bangsa jerman” mempunyai pengertian kolektif, sedangkan pernyataan kedua mempunyai pengertian universal.

  • 3. Konkrit dan Abstrak Suatu kata mempunyai pengertian konkret apabila ia menunjuk kepada suatu benda, orang atau apa saja yang mempunyai eksistensi tertentu seperti: buku, kursi, rumah, kuda, hasan. Suatu kata mempunyai pengertian apabila ia menunjuk kepada sifat, keadaan, kegiatan yang dilepas dari objek tertentu seperti: kesehatan, kebodohan, kekayaan, kepandaian.

Dibawah ini kata-kata itu yang bermakna abstrak:

Kekayaan dapat membuat orang lupa terhadap tuhan Kenakalan adalah sifat yang perlu mendapatkan perhatian Kesempurnaan adalah tanda kesungguhan

Sedangkan pada pernyataan-pernyataan berikut, kata-kata itu menjadi konkrit:

Kebaikan tuan kemarin tidak mungkin terlupakan Kenakalan adikku membingungkan ibu Kesempurnaan lukisan ini mengagumkan banyak pengunjung[2]

Suatu kata mempunyai pengertian mutlak apabila ia dapat dipahami dengan sendirinya tanpa membutuhkan hubungan dengan benda lain seperti: buku, rumah, kuda. Ia mempunyai pengertian relatif apabila tidak dapat dipahami dengan sendirinya, tetapi harus selalu ada hubungannya dengan benda lain, seperti: ayah pemimpin, suami, kakak, kakek.

  • 5. Univok, Equivok dan Analog Analok adalah kata yang mempunyai satu makna yang jelas tidak membingungkan, seperti:

pulpen,pensil,botol dan sebagainya. Equivok adalah kata yang mengandung makna lebih dari satu, seperti: bunga, bulan, buku. Bunga bisa bermakna tanaman bisa juga bermakna tambahan nilai dari sejumlah uang. Analog adalah kata yang dalam pemakaiannya mempunyai makna yang berbeda dengan makna aslinya tetapi masih mempunyai persamaan juga.

  • 6. Bermakna dan Tak Bermakna Setiap kata yang mempunyai konotasi dan denotasi disebut kata yang mempunyai makna. Sebagian lain adalah kata yang tidak mempunyai denotasi yaitu tidak mempunyai cakupan, seperti: Kuda semberani, Nyai Roro Kidul, Gunung emas dan semu nama dalam mitologi dan dongeng. Kata yang tidak mempunyai denotasi disebut kata tak-bermakna. Kita harus berhati-hati bahwa tidak semua nama yang tidak dapat diobservasi secara indrawi adalah kata yang tak bermakna. Kata seperti: Malaikat, iblis, surga, neraka, jin adalah dapat dimengerti dan ada dalam kenyataan, meskipun berbeda dengan kenyataan bagaimana kambing dan kerbau hidup. [3]

    • B. Kata Sebagai Predikat

Kata atau susunan kata berfungsi sebagai subjek atau prediket tersebut, sebagai prediket dapat dibedakan menjadi:

  • 1. Genus (jenis, jins)

  • 2. Differentia (sifat pembeda, fasl)

  • 3. Spesia (kelas, nau’)

  • 4. Propria (sifat khusus, al-khassah)

  • 5. Accidentia (sifat umum, al’arad)

    • C. Konotasi dan Denotasi

    • a. konotasi Makna konotasi adalah makna kiasan, yaitu makna yang timbul sebagai akibat dari sikap sosial, sikap pribadi, dan kreteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual. Jadi, makna makna konotasi adalah makna kiasan atau makna dibalik sebenarnya.

    • b. Denotasi denotasi adalah makna yang sebenarnya (makna secara eksplisit). Makna wajar (sebenarnya) ini adalah makna yang sesuai kondisi yang apa adanya. Denotatif adalah suatu pengertian yang dikandung sebuah kata secara objektif.[4]

A. Definisi dan Unsur-Unsurnya

Bagian Keempat

DEFINISI

Definisi berasal dari kata latin yaitu definire yang berarti menandai batas-batas pada sesuatu , menentukan batas, memberi ketentuan atau batasan arti. Jadi, definisi dapat diartikan penjelasan apa yang dimaksudkan dengan sesuatu term, atau dengan kata lain definisi adalah sebuah pernyataan yang memuat penjelasan arti suatu term. Mendefinisikan adalah sekelompok karakteristik suatu kata sehingga kita dapat mengetahui pengertiannya serta dapat membedakan kata lain yang menunjuk objek yang lain pula.

Unsur definisi ada dua, yang pertama yaitu bagian pangkal yang disebut definiendum yang berisi istilah yang harus diberi penjelasan, dan yang kedua yaitu bagian pembatas yang disebut definiens yang berisi uraian yang mengenai arti dari bagian pangkal. Syarat-syarat definisi secara umum dan sederhana ada lima, yaitu:

  • a. Sebuah definisi harus menyatakan ciri-ciri hakiki dari apa yang akan didefinisikan, yakni menunjukkan pengertian umum (genus) yang meliputinya beserta ciri pembedanya yang penting. Contoh : Manusia adalah makhluk berakal. Makhluk adalah genusnya, dan berakal ciri pembeda dengan makhluk lannya.

  • b. Sebuah harus merupakan suatu kesetaraan arti dengan hal yang didefinikan, maksudnya tidak terlalu luas dan terlalu sempit.

  • c. Sebuah definisi arus menghindarkan pernyataan yang memuat term yang didefinisikan, artinya definisi tidak boleh berputar-putar memuat secara langsung atau tidak langsung langsung subjek yang didefinisikan.

  • d. Sebuah definisi sedapat mungkin harus dinyatakan dalam bentuk rumusan yang positif, yakni tidak boleh dinyatakn secara negatif jika dapat dinyatakan dengan kata-kata yang positif.

  • e. Sebuah definisi harus dinyatakan secara singkat dan jelas terlepas dari rumusan yang kabur atau bahasa kiasan, karena yang dimaksud membuat definisi adalah memberi penjelasan serta menghilangkan makna ganda.

    • B. Patokan Membuat Definisi

Agar

berikut :

pembuatan

definisi

terhindar

dari

kekeliruan

perlu

kita

perhatikan

patokan

  • a. Definisi tidak boleh lebih luas atau lebih sempit dari konotasi kata yang didefinisikan. Definisi yang terlalu luas, misalnya :

  • - merpati adalah burung yang dapat terbang cepat. (banyak burung yang dapat terbang selain merpati).

Definisi yang terlalu sempit, misalnya :

  • - kursi adalah tempat duduk yang dibuat dari kayu bersandaran, dan berkaki. (banyak juga kursi yang tidak terbuat dari kayu).

    • b. Definisi tidak boleh menggunakan kata yang didefinisikan. Definisi yang melanggar patokan ini disebut definisi sirkuler, berputat atau tautologi, atau tahsilul hasil seperti :

    • - Wajib adalah perbuatan yang harus dikerjakan setiap orang. Perlu kita ketahui bahwa tidak semua pengulangan melanggar patokan ini. Pengulangan dibawah ini diperbolehkan.

    • - Amalan wajib adalah perbuatan yang diberi pahala bila dikerjakan dan diberi siksa bila ditinggalkan.

      • c. Definisi tidak boleh memakai penjelasan yang justru membingungkan.

Defnisi

yang

melanggar

patokan

ini

disebut

definisi

obscurum per

obscirius

artinya

menjelaskan sesuatu dengan krterangan yang justru lebih tidak jelas. Definisi yang menggunakan bahasa plastik seperti :

- Sejarah adalah samudra pengalaman yang selalu bergolombang tiada putus-putusnya.

Definisi yang hanya dimengerti oleh para ahli misalnya definisi Herbert Spencer tentang revolusi yang bibatasinya dengan:

- Perubahan terus-menerus dari homogenitas yang tidak menentu dan serasi dalam susunan dan kegiatan melalui difirensiasi dan integrasi sambung menyambung.

  • d. Definisi tidak boleh menggunakan bentuk negatif misalnya:

-Benar adalah sesuatu yang tidak salah. -Indah adalah sesuatu yang tidak jelek. Hanya keadaan yang tidak mungkin dihindari bentuk negatif diperbolehkan, seperti:

- Orang buta adalah orang yang indera penglihatannya tidak berfungsi.

  • C. Macam-macam definisi

Secara garis besar definisi dubedakan menjadi tiga macam, yaitu :

  • a. Definisi Nominalis Definisi ini menjelaskan sebuah kata dengan kata lain umum dimengerti. Definisi ini terbagi atas enam macam, yaitu :

    • 1. Definisi sinonim

    • 2. Definisi simbolis

    • 3. Definisi etimologis

    • 4. Definisi semantis

    • 5. Definisi stimulatif

    • 6. Definisi denotatif

      • b. Definisi realis Definisi realis adalah penjelasan tentang hal yang ditandai oleh sesuatu term. Definisi ini terbagi dua macam, yaitu :

        • 1. Definisi esensial

        • 2. Definisi deskriftif

          • c. Definisi praktis Definisi praktis adalah penjelasan tentang sesuatu ditinjau dari segi penggunaan dan tujuannya yang sederhana. Definisi ini terbagi atas dua macam, yaitu :

            • 1. Definisi operasional

            • 2. Definisi persuasif

            • 3. Definisi fungsional

Bagian Kelima

KLASIFIKASI

A.

Pengertian Klasifikasi adalah pengelompokan barang yang sama dan memisahkan dari yang berbeda spesiesnya. para ilmuan membuat klasifikasi ilmu menjadi tiga golongan besar, ilmu-ilmu sosial, ilmu-ilmu kealaman dan ilmu-ilmu humaniora. manusia primitif mengelompokkan binatang menjadi binatang berbisa dan tidak berbisa, membedakan antara tumbuh-tumbuhan menjadi tumbuhan yang bisa dimakan dan tidak bisa dimakan. Ada dua macam cara membuat klasifikasi, pertama dengan pembagian dan kedua dengan penggolongan.

1. Pembagian Pembagian (Logical Division) adalah membagi suatu jenis kepada spesia yang dicakupnya. jika definisi merupakan analisis konotasi maka pembagian merupakan analisis denotasi. jadi pembagian merupakan penjelasan yang lengkap mengenai sauatu genera kepada spesiesnya. Pembagian logika atas jenis dan spesia suatu benda adalah tidak mutlak,. manusia adalah spesia bila dilihat dari jurusan binatang ; tetapi bila dilihat dari ras bangsa-bangsa, maka ia menjadi jenis. ras adalah spesia, tetapi bila dilihat dari bangsa-bangsa yang tercakup didalamnya, maka ia menjadi jenis. demikian juga bangsa, ia adalah spesia, tetapi bila dilihat dari suku-suku bangsa yang dicakupnya maka ia menjadi jenis. agar didapat spesia yang benar, maka dalam pembagian perlu diperhatikan patokan berikut :

a. Pembagian harus di dasarkan pada atas sifat persamaan yang ada pada genera secara menyeluruh. spesiesnya merupakan perubahan tertentu dari sifat persamaan itu. misalnya kita hendak membagi bidang datar, maka kita harus membagi berdasarkan perubahan tertentu dari sifat generanya, yakni sisi yang membentuknya. kita akan mendapatkan pembagian berikut: segi tiga, segi empat, segi lima, segi enam, segi lebih dari enam, (tiga sisi), (empat sisi), (lima sisi), (enam sisi).

Pembagian yang berdasarkan sifat yang ada pada genera secara menyeluruh adalah pembagian yang dalam bahasa latin disebut fundamentum divisionis. syarat ini menjamin agar pembagian itu dapat menghasilkan spesia yang langsung dibawah generanya jika tidak demikian kita akan mendapatkan spesia yang tidak langsung, jadi ada spesia diatasnya yang diloncati.

  • b. Setiap pembagian harus berlandaskan satu dasar saja. pembagian yang berlandaskan lebih dari satu dasar akan menghasilakan spesia yang simpang siur (overlap, cross division, terselip tidak karuan). dari pembagian yang overlap adalah membagi manusia menjadi ; manusia berkulit putih, manusia aria, manusia asia,manusia penyabar. disini terdapat empat macam dasar pembagian yaitu : warna kulit, ras, regional, dan sifat dari manusia. pembagian yang benar atas manusia, misalnya dengan dasar warna kulit, manusia berkulit hitam, manusia berkulit kuning, manusia berkulit merah.

  • c. Pembagian harus lengkap, yakni harus menyebut keseluruhan spesia yang dicakup oleh suatu genera. ini memang sulit karean tidak selamanya mengetahui keseluruhan spesia suatu genera. hal ni sangat tergantung akan keluasan pengetahuan kita atas kelompok barang-barang. Membagi manusia atas dasar warna kulit menjadi manusi berkulit putih dan berkulit hitam saja tidak benar karena ada spesia yang masih tertinggal, demikian pula membagi agama wahyu menjadi islam dan yahudi saja.pembagian dikotomi. suatu ketika, kita tidak bisa membagi dengan model diatas, karena terbatasnya pengetahuan kita akan kelompok barang-barang dan juga sering dapati pembagian stersebut tidak bisa kita laksanakan, maka kita menggunakan model pembagian logika jenis lain, yaitu pembagian dikotomi. Pembagian dikotomi adalah pembagian dari suatu genera kepada spesia yang dicakupnya dengan cara mengelompokkan menjadi dua golongan yang dibedakan atas, ada, dan tidak adanya kualitas tertentu, seperti. Dikotomi diambil dari bahasa latin dichotomia artinya pembagian secara dua-dua, berpasangan, dalam bahasa arab disebut naiyyah. metode ini masih dianggap berguana sebagai suatu cara membuat klasifikasi. suatu ketika kita membuat kelompok buku atas subyek pembahasannya ; manakala pembagian lebih lanjut tidak mungkin lagi maka kita kelompokkan dalam kelompok aneka ragam sebagai kelompok yang tidak diketahui. 2. Penggolongan Jika dalam pembagian kita menguraikan denotasi suatu Negara maka dalam penggolongan kita mencoba mengatur barang-barang dalam kelomppok spesia. jadi antara pembagian dan penggolongan mempunyai arah bertentangan. pembagian bergerak dari atas kebawah, yakni dari genera kepada spesia, sedangkan penggolongan bergerak dari bawah keatas, dari individu- individu menuju spesianya. pengelompokan barang-barang atas golongan tertentu, didasarkan atas persaamaan atribut dan perbedanya. barang-barang yang mempunyai persamaan tertentu dikelompokkan kedalam golongan yang sama dan barang-barang yang mempunyai ciri berbeda dengan kelompok pertama digolongkan ke dalam golongan yang lain pula. ada dua macam penggolongan, penggolongan alam dan penggolongan buatan. penggolongan alam adalah penggolongan yang disusun atas kecerdasan kita, seperti penggolongan melati,mawar, kenanga dan pacar sore kedalam golongan bunga. penggolongan buatan adalah penggolongan yang didasarkan atas satu sifat. dikatakan buatan karena penggolongan itu dimaksudkan untuk mengabdi tujuan tertentu. contah dari penggolongan ini misalnya penyusunan kata dalam kamus, penyusunan buku dalam perpustakaan, pengelompokan barang-barang dari took. penggolongan ini bertujuan untuk

mendapatkan kemudahan sejauh mungkin. penggolongan, baik penggolongan alam maupun penggolongan buatan dinamakan juga klasifikasi dalam arti sempit.

  • A. PENYERTIAN PROBABILITAS

Bagian Keenam

PROBABILITAS

Hidup, tempat kita menentukan kebijaksanaan di dasarkan atas kemungkinan- kemungkinan. Sedikit sekali hal-hal yang pasti dalam hidup ini. Sesuatu yang kita yakini sebagai ‘benat’bila kita analisis secara tepat dengan fakta yang ada akan hanya menunjukkan, tingkatan dari kemungkinan, yaitu: biasanya, kemungkinan besar, mungkin sekalio maupun hampir pasti.

Generalisasi, tiori, hubungan khausal yang telah kita pelajari meskipun di dukung oleh fakta-fakta yang cukup dan terpercaya, konklusinya di pakai sebagai dasar deduktif, tok tidak memberikan pengetahuan yang pasti.itulah sebabnya David Hume bergata bahwa apabila kita

mengunakan argument yang di susun atas dasar pengalaman kita di masa lampau sebagai dasar pertimbangan untuk membuat ramalan di masa mendatang maka argument ini merupakan kemungkinan (probabilitas).

Jadi probalitas merupakan pernyataan yang berisi ramalan tentang tingkatan keyakinan tentang terjadinya Sesutu di masa yang akan datang. Tingkatan keyakinan bisa di nyatakan dengan nilai (skore) angka, bisa juga tidak dengan angka. Untuk mengetahui berapa tingkat kemungkinan mata uang yang di lemparkan ke atas jatuh dengan sisi mukanya (heands) dan sisi bealkanhg (tails), maka keungkinan jatuh dengan sisi muka dengan belakang adalah 1:2 = ½. Sebaliknya untuk mengukur tingkat kebenaran dari evaluasi enda-benda hidup ini, apakah dengan tiori Darwin atau dengan kitab perjanjian lama, maka hanya dapat di ukur dengan lebih dan kurang, sehinga dapat di katakana bahwa tiori Darwin lebih mungkin dari pada ramalan dalam kitab perjanjian lama atau sebaliknya.[5]

  • B. MACAN-MACAM PROBABILITAS

Ada dua macam probabilitas, yaitu:

  • 1. Probabilitas a tiori, yaitu probabilitas yang di susun berdasarkan perhitungan akal, bukan atas dasar pengalaman. Untuk menentukan berapa mata dadu yang balkal keluar, maka membunyai kemungkinan 1/6, karena sebuah mata dadu membunyai enam muka. Bila dua mata uang di lemparkan,maka bemungkinan jatuh dengan dua kali sisi depannya adalah 1/2 x1/2 = 1/4

  • 2. Probabilitas relatif frekuensi, probabilitas yang di susun berdasarkn statistik atas fakta-fakta empiris, seperti probabilitas tentang gagalnya tembakan pistol adalah 5, masksudnya bahwa setiap 100x pistol di tambakkan maka paling tidak 5 kali di antaranya macet. Probabilitas ramalan hujan adalah 90, maksudnya setiap seratus kali ramalan itu di buat maka 90 dari ramalan itu benar. Bila kita membaca bahwa wanita berumur 26 tahun membunyai probabilitas 971 yang dapat mencapai 27 tahun, ini berarti bahwa setiap 100 wanita berumur 26 tahun meninggal sebanyak 29 orang.

    • C. ILMU DAN PROBABILITAS

Berdasarkan kenyataan bahwa tiori, generalisasi dan khausalitas bersifat probabilistik, maka ilnu-ilmu tidak pernah memberi keterangan- yang pasti tentang peristiwa-peristiwa. Tiori dan keterangan yang di berikan bersifat kemungkinan. Ini perlu kita sadarimbahwa ilmu itu tidak pernah berpretensi untuk mendapatkan penyetahuan yang bersifat mutlak. Ia berbeda dengan ilmu pendukung yang berani menyatakan minsalnya : minumlah ini, anda pasti sembuh. Ilmu paling-paling akan menyatakan : minumlah obat ini, kemungkinan anda akan sembuh. Meskipun penjelasan yang di berikan oleh ilmu adalah penjelasa probanilitas, namun prabalistik yang dapat di pertanggungjawabkan, karena di susun berdasarkan pengalaman. Tiori ilmu memberikan kepada kita pengetahuan sebagai dasar kita mengambil keputusan. Keputusan yang kita ambil berdasarkan keterangan keilmuan itu, dengan memandang resiko yang akan kia hadapi. Meskipun ramalan cuaca memberikan kemungkinan 0,8 tidak akan hujan (tidak memberikan 1,00 pasti tidak hujan), toh dari keterangan ini kita bisa mengambil keputusan. Ramalan 0,8 tidak akan turun hujan berarti ada peluang 0,2 untuk turun hujan. Bila kita hendak piknik meskipun kita tau ada peluang 0,2 turun hujan, toh kita tidak akan mengurungkan niat kita, karena sudah

cukup bagi kita jaminan 0,8 tidak akan turun hujan. Jika kita punya penyakit yang apabila kena air hujan akan kambuh sedemikian hebatnya, payung dan alat penutup lainnya yang lebih rapat jadi tindakan yang dapat kita ambil berdasarkan resiko yang mungkin timbul dari pilihan kita berkaitan dengan probabilitas yang ada. Demikian nilai probabilitas ilmu bagi kehidupan kita.

  • A. Pengertian Proposisi.

Bagian Ketujuh

PROPOSISI

Proposisi adalah pernyataan dalam bentuk kalimat yang dapat dinilai benar dan salahnya. Proposisi merupakan unit terkecil dari pemikiran yang mengandung maksud sempurna. jika kita ingin menganalisis suatu pemikiran taruhlah suatu buku, kita akan mendapat kesatuan pemikiran dalam buku itu, kemudian lebih khususnlagi dalam bab-babnya, kemudian pada paragrafnya dan akhirnya pada unit yang tidak bisa dibagi lagi yakni yang disebut proposisi. Proposisi itu sendiri masih bisa dianalisis lagi menjadi kata-kata, tetapi kata-kata hanya menghadirkan pengertian sesuatu, bukan maksud atau pemikiran sesuatu.

Dalam logika dikenal adanya dua macam proposisi, menurut sumbernya, yaitu proposisi analitik dan proposisi sintetik. Proposisi analitik adalah proposisi yang predikatnya mempunyai pengertian yangnsudah terkandung pada subyeknya, seperti:

Mangga adalah buah-buahan. Kuda adalah hewan. Ayah adalah orang laki-laki. Kata ‘hewan’ pada contoh kuda adalah hewan pengertiannya sudah terkandung pada subyek kuda. Jadi predikat pada proposisi analitik tidak mendatangkan pengatahuan baru. Untuk menilai benar tidaknya proposisi serupa kita lihat ada tidaknya pertentangan dalam diri pernyataan itu, proposisi analitik disebut juga proposisi a priori. Proposisi sintetik adalah proposisi yang predikatnya mempunyai pengertian yang bukan menjadi keharusan bagi subyeknya, seperti:

Pepaya itu manis. Gadis itu gendut. Onassis adalah kaya raya. Kata manis pada proposisi ‘Gadis ini manis’ pengertiannya belum terkandung pada subyeknya, yaitu ‘gadis’. Jadi kata ‘manis’ merupakan pengetahuan baru yang didapat melalui pengelaman. Proposisi sintetik adalah lukisan dari kenyataan empirik maka untuk menguji benar salahnya diukur berdasarkan sesuai tidaknya dengan kenyataan empiriknya. Proposisi ini disebut juga proposisi ini disebut juga proposisi a posteriort.

  • B. Cabang-cabang Proposisi.

1.Proposisi Kategorik. Proposisi kategorik adalah proposisi yang mengandung pernyataan tanpa adanya syarat, seperti:

Hasan sedang sakit Anak-anak yang tinggal di asmara adalah mahasiswa

Proposisi kategorik yang paling sederhana terdiri dari satu term subyek, satu term predikat, satu kopula satu quantifier. Kopula adalah kata yang menyatakan hubungan antara term subyek dan term predikat. Quantifier adalah kata yang menunjukkan banyaknya satuan yang diikat oleh term subyek. Dalam contoh berikut unsur sebuah proposisi kategorik dapat kita ketahui dengan jelas:

Sebagian

manusia

adalah

pemabuk

 

1

2

3

4

1= quantifier:

2= term subyek;

3=kopula;

4=term predikat;

Quantifier ada kalanya menunjukan kepada permasalah universal, seperti kata: seluruh, semua, segenap, setiap, tidak satupun; ada kalanya menunjukan kepada permasalahan partikural, seperti; sebagian, kebanyakan, beberapaa, tidak semua, sebagian besar, hampir seluruh, rata-rata,

[salah]

seorang

diantara

...

;

[salah]

sebuah

di

antara

...

;

adakalanya

menunjukkan

kepada

permasalahan singular, tetapi untuk permasalahan singular biasanya quantifier tidak dinyatakan. Apabila quantifier suatu proposisi menunjukan kepada permasalahan universal maka proposisi itu disebut proposisi universal; apabila menunjuk kepada permasalah partikuraldisebut

proposisi partikural dan apabila menunjukan masalah singular disebut proposisi singular.

  • 2. Proposisi Hipotetik.

Kalau proposisi kategorik menyatakan suatu kebenaran tanpa syarat, maka pada proposisi hipotetik kebenaran yang dinyatakan justru digantungkan pada syarat tertentu. Antara keduanya mempunyai perbedaan mendasar. Pada proposisi kategorik kopulanya selalu ‘adalah’ atau ‘bukan’ atau ‘tidak’, sedangkan pada proposisi hipotetik kopulanya adalah ‘jika, apabila, atau manakala’ yang kemudian dilanjutkan dengan ‘maka’, meskipun yang terakhir ini sering tid ak dinyatakan. Pada proposisi kategorik kopula menghubungkan dua buah term sedang pada proposisi hipotetik kopula menghubungkan dua buah pernyataan.

  • 3. Proposisi Disyungtif.

Proposisi disyungtif pada hakikatnya juga terdiri dari dua buah proposisi kategorik. Dalam proposisi hipotetik kopula menghubungkan sebab dan akibat sedang dalam proposisi disyungtif kopula menghubungkan dua buah alternatif. Ada dua buah proposisi disyungtif, proposisi disyungtif sempurna dan proposisi disyungtif tidak sempurna. Rumusnya proposisi disyungtif sempurna: A mungkin B mungkin non B Contoh; Hasan berbaju putih atau berbaju non-putih. Fatimah berbahasa Arab atau barbahasa non-Arab. Rumus disyungtif tidak sempurna: A mungkin B mungkin C Contoh; Hasan berbaju hitam atau berbaju putih. Budi di toko atau dirumah. PSSI menang atau kalah.

  • A. SILOGISME KATEGORIK

Bagian Kedelapan

SILOGISME

1.

Pengertian

Permasalahan eduksi oleh sebagian ahli logika disebut penyimpulan langsung (immediate inference), maka silogisme merupakan bentuk penyimpulan tidak langsung ( mediate inference ). Aristoteles membatasi silogisme sebagai : Argumen yang konklusinya diambil secara pasti dari premis-premis yang menyatakan permasalahan yang berlainan. Silogisme kategorik adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan proposisi kategorik. Demi lahirnya konklusi maka pangkalan umum tempat kita berpijak harus merupakan proposisi universal. Sedangkan pangkalan khusus tidak berarti bahwa proposisinya harus pertikular atau singular, tetapi bisa juga proposisi universal tetapi ia diletakkan di bawah aturan pangkalan umumnya.

  • 2. Hukum-hukum silogismekategorik

  • 1. Apabila dalam satu premis partikular, kesimpulan harus partikular juga, seperti :

semua yang halal dimakan menyehatkan Sebagian makanan tidakmenyehatkan, jadi :

Sebagian makanan tidak halal dimakan

  • 2. Apabila salah satu premis negative, kesimpulan harus negative juga, seperti :

Semua korupsi tidak disenangi. Sebagian pejabat adalah korupsi, jadi :

Sebagian pejabat tidak disenangi

  • 3. Dari dua premis yang sama-sama partikular tidak sah diambil kesimpulan (kesimpulan nya tidak pasti), seperti :

Beberapa politikus tidak jujur Banyak cendekiawan adalah politikus,jadi :

Banyak cendekiawan tidak jujur.

  • 4. Dari kedua premis yang sama-sama negative, tidak menghasilkan kesimpulan apapun, karena tidak ada mata rantai yang menghubungkan kedua proposisi premisnya.kesimpulan dapat diambil bila sedikitnya salah satu premisnya positif. Seperti :

kerbau bukan bunga mawar kucing bukan bukan bunga mawar (tidk adakesimpulan)

  • 5. Paling tidak salah satu dari term penengah harus tertebar ( mencakup). Dari dua premis yangterm penengahnya tidk tertebar akan menghasilkan kesimpulan yang salah, seperti :

Semua tanaman membutuhkan air. Manusia membutuhkan air, jadi:

Manusia adalah tanaman

  • 6. Term-prediket dalam kesimpulan harus konsisten dengan term predikat yang ada pada premisnya. Bila tidak, kesimpulan menjadi salah, seperti :

Hasan adalah manusia Budi bukan hasan, jadi :

Budi bukan manusia.

  • 7. Term penengah bermakna sama, baik dalam prenis mayor maupun premis minor. Bila term penengah bermakna ganda kesimpulan menjadi lain, seperti ; Orang yang berpenyakit menular harus diasingkan

Orang yang berpanu adalah berpenyakit menular, jadi :

Orang yang berpanu harus diasingkan.

  • 8. Silogisme harus terdiri dari tiga term, yaitu term subyek, term predikat, dan term middle.

    • 4. Absah dan Benar

Dalam membicarakan silogisme, kita harus mengenal dua istilah, yaitu abash dan benar. Absah (valid) berkaitan dengan prosedur penyimpulannya, apakah pengambilan konklusi sesuai dengan patokan diatas dan dikatakan tidak valid bila sebaliknya.

Benar berkaitan dengan proposisi dalam silogisme itu, apakah ia didukung atau sesuai dengan fakta atau tidak. Bila sesuai dengan fakta, proposisi itu benar. Keabsahan dan kebenaran dalam silogisme merupakan suatu satuan yang tidak bisa dipisahkan, untuk mendapatkan konklusi yang sah dan benar.

  • B. SILOGISME HIPOTETIK

1.

Pengertian

Silogisme hipotetik adalah argument yang yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik, sedangkan premis miornya adalah proposisi kategorik yang menetapkan atau mengingkari term antecedent atau term konsekuen premis mayornya. Pada silogisme hipotetik term konklusi adalah term yang kesemuanya dikandung oleh premis mayornya, mungkin bagian antseden dan mungkin pula bagian konsekuennya tergantung oleh bagian yang diakui atau dipungkiri oleh premis minornya. Ada 4 (empat) macam tipe silogisme hipotetik :

  • 1. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian antecedent, seperti :

jika hujan, saya naik becak sekarang hujan jadi saya naik becak

  • 2. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian konsekuennya, seperti :

bila hujan, bumi akan basah sekarang bumi telah basah jadi hujan telah turun

  • 3. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari antecedent, seperti :

jika politik pemerintah tidak dilaksanakan dengan paksa, maka kegelisahan akan timbul. Politik pemerintaj tidak dilaksanakan dengan paksa, jadi kegelisahan tidak akan timbul.

  • 4. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekuennya, seperti :

Bila mahasiswa turum ke jalanan, pihak penguasa akan gelisah Pihak penguasa tidak gelisah. Jadi mahasiswa tidak turun ke jalanan.

  • 2. Hukum-hukum silogisme hipotetik

Mengambil konklusi dari silogisme hipotetik jauh lebih mudah dibanding dengan silogisme kategorik. Tetapi yang penting, di sini adalah menentukan ‘kebenaran konklusinya’ bila premis-premisnya merupakan pernyataan yang benar.

Bila antecedent kita lambangkan dengan A dan konsekuen dengan B, jadwal hokum silogisme hipotetik adalah:

  • 1. Bila A terlaksana maka B juga terlaksana

  • 2. Bila A tidak terlaksana maka B tidak terlaksana

  • 3. Bila B terlaksana maka A terlaksana

  • 4. Bila B tidak terlaksana maka A tidak terlaksana Kebenaran hokum di atas menjadi jelas dengan penyelidikan berikut :

Bila terjadi peperangan, harga bahan makanan membumbung tinggi. Nah, peperangan terjadi. Jadi harga bahan makanan membumbung tinggi.

  • C. SILOGISME DISYUNGTIF

1.

Pengertian

Silogisme disyungtif adalah silogisme yang premis mayornya keputusan disyungtif sedangkan premis minornya keputusan karegorika yang mengakui atau mengingkari salah satu alternatif yang disebut premis mayor. Silogisme ini ada dua macam, silogisme disyungtif dalam arati sempit dan silogisme disyungtif dalam arti luas. Silogisme disyungtif dalam arti sempit mayornya mempunyai alternatif kontradiktif,seperti :

Ia lulus atau tidak lulus.

Ternyata ia lulus, jadi Ia bukan tidak lulus Silogisma disyungtif dalam arti luas, premis mayornya mempunyai alternatif bukan kontradiktif, seperti :

Hasan di rumah atau di pasar Ternyata tidk di rumah Jadi hasan di pasar Silogisme disyungtif dalam arti sempit maupun dalam arti luas mempunyai dua tipe,

yaitu :

  • 1. Premis minornya mengingkari salah satu alternatif, konklusinya adalah mengakui alternatif yang lain, seperti :

ia berada di luar atau di dalam ternyata tidak di luar jadi ia berda di dalam

  • 2. Premis minor mengakui salah satu alternatif, kesimpulannya adalah mengingkari alternatif yang lain, seperti :

budi di mesjid atau di sekolah ia berada di mesjid jadi ia tidak berada di sekolah

  • 2. Hukum-hukum silogisme disyungtif

  • 1. Silogisme disyungtif dalam arti sempit, konklusi yang dihasilkan selalu benar, apabila prosedur

penyimpulannya valid, seperti :

Hasan berbaju putih atau tidak putih Ternyata berbaju putih Jadi ia bukan tidak berbaju putih

  • 2. Silogisme disyungtif dalam arti luas, kebenaran konklusinya adalah sebagai berikut :

    • a. Apabila premis minor mengakui salah satu alternatif, maka konklusinya sah (benar), seperti :

budi menjadi guru atau pelaut ia adalah guru jadi bukan pelaut

  • b. Bila premis minor mengingkari salah satu alternatif, konklusinya tidak sah (salah),seperti :

penjahat itu lari ke solo atau ke yogya ternyata tidak lari ke yogya jadi ia lari ke solo (bisa jadi lari ke kots lain)

  • A. PENGERTIAN ANALOGI

Bagian Sembilan

ANALOGI

Dalam penyimpulan generalisasi kita bertolak dari sejumlah peristiwa pada penyimpulan analogi kita bertolak dari satu atau sejumlah peristiwa menuju kepada satu peristiwa lain yang sejenis. Analogi kadang-kadang disebut juga analogi induktif yaitu proses penalaran dari satu fenomena meuju fenomena lain yang sejenis kemudian disimpulkan bahwa apa yang terjadi pada fenomena yang pertama aka terjadi juga pada fenomena yang lain;demikian pengertian analogi jika kita hendak memformulasikan dalam satu batasan. Dengan demikian dalam setiap tindakan penyimpulan analogik terdapat tiga unsur yaitu:peristiwa pokok yang menjadi dasar analogi, persamaan prinsipal yang menjadi pengikat dan ketiga fenimena yang hendak kita analogikan.

Sebagian besar pengetahuan kita disamping didapat dengan generalisasi didapat dengan penalaran analogi.jika kita membeli sepasang sepatu (peristiwa) dan kita berkeyakinan bahwa sepatu itu akan enak dan awet dipakai (fenomena yang di analogikan), karena sepatu dulu dibeli di took yang sama (persamaan prinsip) awet dan enak dipakai maka penyimpulan serupa adalah penalaran analogi.

B.MACAM-MACAM ANALOGI

Analogi induktif,analogi induktif yaitu analogi yang disusun berdasarkan persamaan principal yang ada pada dua fenomena, kemudian di tarik kesimpulan bahwa apa yang ada pada

fenomena pertama terjadi juga pada fenimena kedua. Bentuk argumen ini sebagaimana generalisasi tidak pernah menghasilkan kebenaran mutlak. Analogi disamping utamanya sebagai cara berargumentasi, sering benar dipakai dalam bentuk non argumen,yaitu sebagai penjelas.Analogi ini disebit analogi deklaratif atau analogi penjelas. Analogi deklaratif merupakan metode untuk menjelaskan atau menegaskan sesuatu yang belum dikenal atau masih samar, dengan sesuatu yang sudah dikenal. Sejak zaman dahulu analogi deklaratif merupakan cara yang amat bermanfaat untuk menjelaskan masalah yang hendak diterangkan. Para penulis dapat dengan tepat mengemukakan isi hatinya dalam menekankan pengertian sesuatu contoh analogi deklaratif adalah:

Ilmu pengetahuan ilmu dibangun oleh fakta-fakta sebagaimana rumah itu dibangun oleh batu- batu. Tetapi tidak semua kumpulan pengetahuan itu ilmu, Sebagaimana tidak semua tumpukan batu adalah rumah. Otak itu menciptakan pikiran sebagaimana buah ginjal mengeluarkan air seni. Disini orang hendak menjelaskan struktur ilmu yang masih asing bagi pendengar dengan struktur rumah yang sudah begitu dikenal.Begitu pula penjelasan tentang hubungan antara pikiran dan otak yang masih sama dengan hubungan antara buah ginjal dan air seni.

Para pejuang wanita memutus kan untuk menguji apakah undang undang perkawinan itu menguntungkan kedudukan wanita tenyata semakin jelas bahwa undang undang perkawinan itu tidak ubah nya undang undang perbudakan yang dikatakan sebagai perlindungan hak hak orang orang hitam; padahal kata perlindugan hak tidak ubah nya adalah penindasan terselubung. Di sini penulis hendak menegaskan bahwa undang-undang perkawinan merupakan penindasan terselubung, sebagaimana undang-undang perbudakan. Orang masih samar bahwa undang-undang perkawinan itu sebenarnya merupakan penindasan. Untuk para pejuang wanita ( di Negara barat ) menegaskan bahwa undang-undang perkawinan itu sama liciknya dengan undang-undang perbudakan yang telah diketahui secara luas bahwa hal itu merupakan penindasan terselubung.

  • C. CARA MENILAI ANALOGI

Sebagaimana generalisasi, kepercayaannya tergantung kepada terpenuhi tidaknya alat-alat ukur yang telah kita ketahui, maka demikian pula analogi. Untuk mengukur derajat keterpercayaan sebuah analogi dapat diketahui dengan alat berikut:

tukang penatu dan ternyata hasilkan tidak memuaskan, maka atas dasar analogi, saya bisa menyarankan kepada kawan saya untuk mengirimkan pakaian kepada tukang penatu tadi. Analogi saya menjadi lebih kuat setelah B kawan saya mendapat hasil yang menjengkelkan atas bajunya yang dikirimkan ke tukang penatu yang sama. Analogi menjadi lebih kuat lagi setelah ternyata C, D, E, F dan G juga mengalami hal yang serupa.

  • 2. sedikit banyaknya aspek-aspek yang menjadi dasar analogi. Ambilah contoh yang telah kita sebut, yaitu tentang sepatu yang telah kita beli pada sebuah toko. Bahwa sepatu yang baru saja kita beli tentu akan awet dan enak dipakai karena sepatu yang dulu dibeli di toko ini juga awet dan enak di pakai. Analogi ini menjadi kuat lagi misalnya diperhitungkan juga persamaan harganya, mereknya, dan bahannya.

  • 3. sifat dari analogi yang kta buat. Apabila kita mampunyai mobil dan satu liter bahan bakarnya dapat menempuh 10 km, kemudian kita menyimpulkan bahwa mobil yang sama dengan mobil B yang sama dengan mobil kita akan bisa menempuh jarak 10 km tiap satu liternya, maka analogi demikian cukup kuat.Analogi ini akan lebih kuat jika kita mengatakan bahwa mobil B akan menempuh 8 km setiap liter bahan bakarnya, dan menjad lemah jika kita mengatakan bahwa mobil B akan dapat menempuh 15 km setiap liter bahan bakarnya. Jadi semakin rendah taksiran yangt kita analogikan semakin kuat analogi itu.

  • 4. mempertimbangkan ada tidaknya unsure-unsur yang berbeda pada peristiwa yang dianalogikan. Semakin banyak pertimbangan atas unsure-unsurnya yag berbeda semakin kuat keterpercayaan analoginya. Konklisi yang kita ambil bahwa Zaini pendatang baru di universitas X akan menjadi sarjana yang ulung beberapa tamatan dari universitas tersebut juga merupakan sarjana ulung. Analogi ini menjadi lenih kuat jika kita mempertimbangkan juga perbedaan yang ada pada para lulusan sebelumnya. A, B, C, D dan E yag mempunyai latar belakang yang berbeda dalam ekonomi,pendidikan SLTA, daerah, agama, pekerjaan orang tua toh kesemuanya adalah sarjana yang ulung.

  • 5. Relevan dan tidaknya masalah yang dianalogikan.Bila tidak relevan sudah barang tentu

analoginya tidak kuat dan bahkan bisa gagal. Bila kita menyimpulkan bahwa mobil yang baru kita bel setiap liter bahan bakarnya akan menempuh 15 km berdasarkan analogi mobil B yang sama modelnya serta jumlah jendela dan tahun produksinya sama dengan mobil yang kita beli ternyata dapat menempuhn 15 km setiap liter bahan bakarnya, maka analogi serupa adalah analogi yang tidak relevan. Seharusnya untuk menyimpulkan demikian harus didasarkan atas unsur-unsur yang relevan yaitu banyaknya silinder, kekuatan daya tariknya serta berat dari bodinya. Analogi yang relevan biasanya terdapat pada peristiwa yang mempunyai hubungan kausal.Meskipun hanya mendasarkan pada satu atau dua persamaan,analogi ini cukup repercaya kebenarannya .Kita mengetahui bahwa sambungan rel kareta api dibuat tidak rapat untuk menjaga kemungkinan mengembangnya bila kena panas,rel tetap pada posisinya,maka kita akan mendapat kemantapan yang kuat bahwa rangka rumah yang kita buat dari besi juga akan terlepas dari bahaya melengkung bila panas.karena kita telah menyuruh tukang untuk memberi jarak pada tiap sambungan nya.Disini kita hanya mendasarkan pada satu hubungan kausal bahwa karena

besi memuai bila kena panas,maka jarak yang dibuat antara dua sambungan besi akan menghindarkan bangunan dari bahaya melengkung.Namun begitu analogi yang bersifat kausal memberikan keterpercayaan. yang kokoh

  • A. KEKELIRUAN FORMAL

Bagian Kesepuluh

KEKELIRUAN BERPIKIR

  • 1. Fallacy of Four Terms (Kekeliruan Karena Menggunakan Empat Term Kekeliruan berpikir karena menggunakan empat term dalam silogisme ini terjadi karena term penengah diartikan ganda, sedangkan dalam patokan diharuskan hanya terdiri dari tiga term, seperti :

Semua perbuatan mengganggu orang lain diancam dengan hukuman. Menjual barang dibawah harga tetangganya adalah menggangu kepentingan orang lain. Jadi, menjual harga dibawah tetangganya diancamamn dengan hukuman.

2.

Fallacy of Undistributed Middle (Kelzeliruan Karena Kedua Term Penengah Tidak Mencakup) Kekeliruan berpikir karena tidak satu pun dan kedua term penengah

mencakup,

seperti:

Orang yang terlalu banyak belajar kurus. Dia kurus sekaIi, karena itu tentulah

ia banyak belajar.

  • 3. Fallacy of Illicit Process (Kekeliruan Karena Proses Tidak Benar) Kekeliruan berpikir karena term premis tidak mencakup (undistributed) tetapi dalam konklusi mencakup, seperti:

Kura-kura adalah binatang melata. Ular bukan kura-kura, karena itu ta bukan binatang melata.

  • 4. Fallacy of Two Negative Premises (Kekeliruan Karena Menyimpulkan dan Dua Premis yang Negat Kekeliruan berpikir karena mengambil kesimpulan dan dua premis negatif. Apabila terjadi demikian sebenamya tidak bisa ditank konklusi.

  • 5. Fallacy of Affirming the Consequent (Kekeliruan Karena Mengakui Akibat)

Kekeliruan berpikir dalam silogisme hipotetika karena membenarkan akibat kemudian membenarkan pula sebabnya, seperti :

Bi1a pecah perang harga barang-barang naik. Sekarang harga barang naik, jadi perang telah pecah.

  • 6. Fallacy of Denying Antecedent (Kekeliruan Karena Menolak Sebab)

Kekeliruan berpikir dalam silogisme hipotetika karena mengingkari sebab kemudian disimpulkan bahwa akibat juga tidak terlaksana, seperti :

Bila permintaan bertambah harga naik. Nah, sekarang permintaan tidak bertambah, jadi harga tidak naik.

  • 7. Fallacy of Disjunction (Kekeliruan dalam Bentuk Disyungtif)

Kekeliruan berpikir terjadi dalam silogisme disyungtif karena rnengingkari altematif pertama, kemudian membenarkan alternatif lain. Padahal menurut patokan, pengingkaran alternatif pertama, bisa juga tidak terlaksananya altematif yang lain, seperti :

dia menulis cerita atau pergi ke Surabaya. Dia tidak pergi ke Surabaya, jadi ia tentu menulis cerita.

  • 8. Fallacy of Inconsistency (Kekeliruan Karena tidak Konsisten)

Kekeliruan berpikir karena tidak runtutnya pernyataan yang saw dengan pemyataan yang diakui sebe1umya, seperti :

Anggaran Dasar organisasi kita sudah sempurna; kita penlu melengkapi beberapa fasal agar komplit.

  • B. KEKELIRUAN INFORMAL

1.

Fallacy of Hasty Generalization (Keheliruan Karena Membuat Generalisasi yang terburu – buru)

Kekeliruan berpikir karena tergesa-gesa membuat generalisasi, yaitu mengambil kesimpulan umum dan kasus individual yang terlampau sedikit, sehingga kesimpulan yang ditarik

melampaui batas lingkungannya, seperti:

Dia orang Islam mengapa membunuh. Kalau begitu orang Islam memang jahat.

  • 2. Fallacy of Forced Hypothesis (Kekeliruan Karena Memalzsakan Praduga)

Kekeliruan berpikir karena menetapkan kebenaran suatu dugaan, seperti :

Seorang pegawai datang ke kantor dengan luka goresn di pipinya. Seseorang menyatakan bahwa isterinyalah yang nelukainya dalam suatu percekcokan karena diketahuinya selama ini orang itu kurang harmonis hubungann dengan isterinya, padahal sebenamya karena goresan besi pagar.

  • 3. Fallacy of Begging the Question (Kekeliruan Karena Mengundang Pennasalahan)

Kekeliruan berpikir karena mengambil konklusi dad premis yang sebenarnya harus dibuktikan

dahulu kebenarannya, seperti :

Allah itu mesti ada karena ada bumi

  • 4. Fallacy of Circular Argument (Kekeliruan Karena Menggunakan Argumen yang Berputar)

Kekeliruan berpikir karena menarik konklusi dan satu premis kemudikbnklusi tersebut dijadikan sebagai premis sedangkan pmis semula Dijadikan konklusi pada argument benkutnya seperti :

Sarjana – sarjana lulusan perguruan tinggi Omega kurang bermutu karena organisasinya kurang baik. Mengapa organisasi perguruan tinggi itu kurang baik? Dijawab karena lulusan perguruan tinggi itu kurang bermutu.

  • 5. Fallacy of Argumentative Leap (Kekeliruan Karena Berganti Dasar)

Kekeliruan berpikir karena mengambil kesimpulan yang tidak diturunkan dan premisnya. Jadi

mengambil kesimpulan melompat dan dasar semula, seperti :

Ia kelak menjadi mahaguru yang cerdas, sebab orang tuanya kaya Pantas ia cantik karena pendidikannya tinggi. Bentuk tulisannya bagus, jadi ia adalah anak yang pandai.

  • 6. Fallacy of Appealing to Authority (Kekeliruan Karena Mendasarkan pada Otoritas)

Kekeliruan berpikir karena mendasarkan din pada kewibawaan atau kehormatan seseorang telapi

dipergunakan untuk permasalahan di luar otoritas ahli tersebut, seperti :

Pisau cukur ini sangat baik, sebab Rudi Hartono selalu menggunakannya. (Rudi Hartono adalah seorang olah ragawan, ia tidak mempunyai otoritas untuk menilai bagusnya logam yang dipakai untuk membuat pisau cukur). Bangunan ini sungguh kokoh, sebab dokter Hans mengatakan demikian. (Dokter Hans adalah ahli kesehatan, bukan insinyur bangunan).

7.

Fallacy of Appealing to Force (Kekeliruan Karena Mendasarkan Diri pada Kekuasaan)

Kekeliruan berpikir karena berargumen dengan kekuasaan yang dimiliki, seperti menolak pendapat argumen seseorang dengan menyatakan :

Kau masih juga membantah .pendapatku. Kau barn satu tahun duduk di bangku perguruan tinggi, aku sudah lima tahun.

  • 8. Fallacy of Abusing (Kekeliruan Karena Menyerang Pribadi) Kekeliruan berpikir karena menolak argumen yang dikemukakan seseorang dengan menyerang pribadinya, seperti : Dia salah seorang yang brutal, jangan dengarkan pendapatnya.

  • 9. Fallacy of ignorance (Kekeliruan Karena Kurang Tahu)

Kekeliruan berpikir karena menganggap bila lawan bicara tidak bisa membuktikan kesalahan argumentasinya, dengan sendininya argumentasi yang dikemukakannya benar, seperti :

Sudah beberapa kali kau kernukakan alasanmu tetapi tidak terbukti gagasanku salah. lnilah buktinya bahwa pendapatku benar.

  • 10. Fallacy of Complex Question (Kekeliruan Karena Pertanyaan yang Ruwet) Kekeliruan berpikir karena mengajukan pertanyaan yang bersifat menjebak, seperti :

Jam berapa kau pulang semalam?; (Yang ditanya sebenarnya tidk pergi. Penanya hendak memaksakan pengakuan bahwà yang ditanya semalam pergi).

  • 11. Fallacy of Oversimplification (Kekeliruan Karena Alasan Terlalu Sederhana)

Kekeliruan berpikir karena berargumentasi dengan alasan yang tidak kuat atau tidak cukup bukti, seperti :

Kendaraan buatan Honda adalah terbaik, karena paling banyak peminatnya.

  • 12. Fallacy of Accident (Kekeliruan Karena Menetapkan Sifat)

Kekeliruan berpikir karena menetapkan sifat bukan keharusan yang ada pada

suatu benda bahwa sifat itu tetap ada selamanyã, seperti :

Daging yang kita makan hari ini adalah dibeli kemarin. Daging yang dibeli kemarin adalah daging mentah, jadi hari ini kita makan daging mentah.

  • 13. Fallacy of Irrelevant Argument (Kekeliruan Karena Argumen yang Tidah Relevan)

Kekeliruan berpikir karena mengajukan argurnen yang tidak ada hubungannya dengan masalah yang menjadi pokok pembicaraan, seperti:

Pisau suet itu berbahaya danipada peluru, karena tangan kita seringkali teninis oleh pisau suet dan tidak pemah ökh peluru.

14. Fallacy of False Analogy (Kekeliruan Karena Salah Meng ambi Analogi) Kekeliruan berpir karna menganalogikan dua permasalahan yang kelihatannya mirip, tetapisebenarnya berbeda secara mendasar, seperti :

Seniman patung memerlukan bahan untuk menciptakan karya-karya seni, maka Tuhan pun memerlukan bahan dalam mencipta alam semesta.

15. Fallacy of Appealing to Pity (Kekeliruan Karena Mengundang Belas Kasihar) Kekeliruan berpikir karena menggunakan uraian yang sengaja menarik belas kasihan untuk mendapatkan konklusi yang diharap: kan. Uraian itu sendiri tidak salah tetapi menggunakan uraian-uraian yang menanik belas kasihan agar kesimpulan menjadi lain, padahal masalahnya berhubungan dengan fakta, bukan dengan perasaan inilah letak kekeliruannya.

  • C. KEKELIRUAN KARENA PENGGUNAAN BAHASA

    • 1. Fallacy of Composition (Kekeliruan Karena Komposisi)

Kekeliruan berpikir karena menetapkan sifat yang ada pada bagian untuk menyifati keseluruhahnya, seperti :

Setiap kapal perang telah siap tempur, maka keseluruhan angkatan laut negara itu sudah siap tempur.

  • 2. Fallacy of Division (Kekeliruan dalam Pembagian)

Kekeliruan berpikir karena menetapkan sifat yang ada pada keselunuhannya, maka demikian juga setiap bagiannya, seperti :

Kompleks ini dibangun di atas tanah yang luas,tentulah kamar-kamar tidurnya juga luas

  • 3. Fallacy of Accent (Kekeliruan Karena Tekanan)

Kekeliruan berpikir karena kekeliruan membenikan tekanan dalam pengucapan, seperti:

Kita tidak boleh membicarakan kejelekan kawan. (Yang dimaksud, kita dilarang membicarakan kejelekan kawan kita. Tetapi dengan memberi tekanan pada kejelekan, maknanya menjadi lain

  • 4. Fallacy of Amphiboly (Kekelintan Karena Amfiboli)

Kekeliruan berpikir karena menggunakan susunan kalimat yang dapat ditasirkan berbeda – beda.

  • 5. Fallacy of Equifovocation (Kekeliruan Karena Menggunakan Kata Dalam Beberapa Arti) Kekeliruan berpikir karena menggunakan kata yang sama dengan arti lebih dari satu, seperti :

Gajah adalah binatang, jadi gajah kecil adalah binatang yang kecil (kecil dalam gajah kecil berbeda pengertiannya dengan kecil dalam binatang kecil).

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Atikah Anindyarini, Bahasa Indonesia, Jakarta: Industrial, 2008. Burhanudin Salam, Logika Formal, Jakarta: Bumi Aksara, 1988 Hartono Kasmadi, dkk., Filsafat Ilmu, Semarang : IKIP Semarang Press, 1990 Hasbullah Bakry, Sistimatika Filsafat, Jakarta: Wijaya, 1981. Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, , 1988 Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia, 1996 Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, Terjemahan Soejono Soemargono, Yogyakarta:

Tiara Wacana, 1986, cet.7 Mundiri, logika, Jakarta: PT. Raja Grapindo persada, 2008. S.Wojowasito – W.J.S. Poerwadarminto, Kamus Lengkap Inggris Indonesia – Indonesia Inggris, Bandung: Hasta, 1980 Sunoto, Mengenal Filsafat Pancasila I, Edisi II, Yogyakarta: Fakultas Ekonomi UII, 1982 Surajiyo, dkk., Dasar-Dasar Logika, Jakarta: Bumi Aksara, 2007 Yaya S. Kusumah, Logika Matematika Elementer, Bandung, 1986