Anda di halaman 1dari 13

KEUANGAN NEGARA DAN DAERAH

EXPENDITURE ASSIGNMENT

DISUSUN OLEH

Kelompok 10:

Norfadilla 1410531036

Yulia Efrina 1410531041

Olivia Solina 1410531044

FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI

UNIVERSITAS ANDALAPADANG

2016
EXPENDITURE ASSIGNMENT

A. Pembagian Wewenang/Fungsi Antar Tingkatan Pemerintah

Daerah adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam pembangunan di Indonesia. Tapi
seringkali, selalu ada masalah antara pusat dan daerah, salah satunya dalam hal pembagian
urusan pemerintahan antara pusat dan daerah. Ketika kita membahas urusan pemerintahan
pusat dan daerah, peraturan yang bisa menjadi pegangan bagi kita adalah Undang-Undang
No. 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Undang-undang yang baru disahkan
setahun lalu di akhir masa Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono

Urusan pemerintahan menurut undang-undang ini terbagi menjadi 3 bagian, pertama


Urusan pemerintahan absolut, kedua, urusan pemerintahan konkuren dan yang ketiga adalah
urusan pemerintahan umum. Ketiga urusan diatas dibagi menjadi urusan yang menjadi
domain pusat dan domain daerah. Asas yang digunakan pembagian urusan pemerintahan
terdiri dari asas desentraslisasi, dekonsentrasi dan asas tugas pembantuan.

Asas desentralisasi adalah penyerahan kewenangan dari pusat ke daerah, dan domain
dari desentralisasi sangat berkaitan dengan penyerahan kekuasaan dari sebelumnya milik
pusat menjadi milik daerah.

Asas dekonsentrasi adalah pelimpahan sebagian urusan Pemerintahan yang menjadi


kewenangan Pemerintah Pusat kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat, kepada
instansi vertikal di wilayah tertentu, atau kepada gubernur dan bupati/wali kota sebagai
penanggung jawab urusan pemerintahan umum.

Sedang asas tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah Pusat kepada
daerah otonom untuk melaksanakan sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi
kewenangan Pemerintah Pusat atau dari Pemerintah Daerah provinsi kepada Daerah
kabupaten/kota untuk melaksanakan sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi
kewenangan Daerah provinsi.
Berdasarkan UU Nomor 23 tahun 2014 klasifikasi urusan pemerintahan terdiri dari 3
urusan yakni urusan pemerintahan absolut, urusan pemerintahan konkuren, dan urusan
pemerintahan umum.

A. Urusan pemerintahan absolut

Urusan pemerintahan absolut adalah Urusan Pemerintahan yang sepenuhnya menjadi


kewenangan Pemerintah Pusat. Definisi Pusat jika kita masuk bidang eksekutif adalah
Pemerintah Pusat, definisinya sendiri adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang
kekuasaan pemerintahan Negara Republik Indonesia yang dibantu oleh Wakil Presiden dan
menteri. Cakupan urusan pemerintahan absolut terdiri dari masalah bidang politik luar negeri,
pertanahan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal serta agama.

Meski sepenuhnya berada ditangan pusat, urusan pemerintahan absolut bisa


dilimpahkan kepada instansi vertical yang ada di daerah berdasarkan asas dekonsentrasi .
Instansi vertical sendiri adalah perangkat kementerian dan/atau lembaga pemerintah
nonkementerian yang mengurus Urusan Pemerintahan yang tidak diserahkan kepada daerah
otonom dalam wilayah tertentu dalam rangka Dekonsentrasi, contoh instansi vertical di
daerah adalah satuan kerja perangkat daerah atau SKPD, seperti dinas dan badan daerah.

B.Urusan pemerintahan konkuren

Urusan pemerintahan konkuren adalah Urusan Pemerintahan yang dibagi antara


Pemerintah Pusat dan Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota. Pembagian itu
mencangkup berbagai bidang, mulai dari pertanian, perdagangan, pertambangan, perikanan
dll. Tapi prinsip utama dalam pembagian urusan pemerintahan konkuren adalah harus
didasarkan pada akuntabilitas, efisiensi, eksternalitas serta harus berkepentingan nasional.

Pembagian urusan konkuren itu kemudian diperinci dalam tatananan territorial atau
wilayah, seperti contohnya dalam lokasi, pusat berwenang pada lokasi lintasi Negara ataupun
lintas daerah provinsi, sedang provinsi berada pada lintas kota/ kabupaten, sedang untuk
tingkat kota/ kabupaten berada pada area dalam kota/ kabupaten.

Dalam undang-undang ini juga, seperti dalam lampiran matriks pembagian urusan
pemerintahan konkuren, jika kita masuk kedalam bidang dan sub bidang, maka pusat, daerah
provinsi dan kota/ kabupaten mempunyai porsi kewenangannya masing-masing. Misal dalam
bidang pendidikan,lalu jika dipilih sub bidang, manajemen pendidikan contohnya ,
kewenangan pusat pada penetapan standar pendidikan, untuk provinsi berwenang mengelola
pedidikan menengah dan untuk kota/ kabupaten mengelola pendidikan dasar.

Jika kita lihat dalam bidang lain, misal kesehatan, perumahan dll, polanya sama, ada
porsi pusat dan ada porsi daerah baik itu tingkat pemerintahan provinsi atupun kota/
kabupaten. Meski ada beberapa bagian, misal dalam pengawasan kehutanan, pusat
berwenang penuh dalam urusan itu, tidak melibatkan daerah.

Pemerintahan pusat dalam urusan pemerintahan konkuren, menetapkan norma,


standar, prosedur, dan kriteria atau biasa disingkat NSPK, kewenangan diatas dalam rangka
penyelenggaraan Urusan Pemerintahan. NSPK ini kemudian menjadi pedoman bagi bagi
daerah dalam rangka menyelenggarakan kebijakan daerah yang akan disusunnya.

NSPK ini berbentuk peraturan perundang-undangan, dan ini 2 tahun setelah peraturan
pemerintah tentang mengenai pelaksanaan urusan pemerintahan konkuren diundangkan.
Kebijakan daerah sebagai bagian dari kewenangan daerah yang diserahkan oleh pusat, tetap
harus berpedoman pada NSPK yang dibuat oleh Pusat.

Kebijakan daerah yang tidak berpedoman pada NSPK, maka pemerintah pusat
membatalkan kebijakan daerah itu. Tapi disini ada pengecualian, jika 2 tahun NSPK belum
dibuat berdasarkan peraturan pemerintah pelaksanaan konkuren, maka daerah bisa
mengelurkan kebijakan daerah tanpa harus ada NSPK.

C.Urusan pemerintahan umum

Urusan pemerintahan umum adalah Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan


Presiden sebagai kepala pemerintahan. Urusan ini meliputi pembinaan ketahanan nasional,
kerukunan antar umatberagama, persatuan dan kesatuan bangsa, penanganan konflik social,
pembinaan kerukunan antar suku ataupun intrasuku, koordinasi pelaksanaan tugas
antarinstansi pemerintahan yang ada diwilayah daerah provinsi dan kota/ kabupaten,
pengembangan kehidupan demokrasi dan, pelaksananan semua urusan pemerintahan yang
bukan kewenangan daerah.

Pelaksaan urusan pemerintahan umum adalah gubernur dan walikota serta bupati di
daerahnya masing-masing, dibantu oleh instansi vertical. Pertanggungjawabannya sendiri,
gubernur bertanggung jawab kepada Presiden melalui menteri dan bupati/ walikota kepada
menteri melalui gubernur. Hal ini karena gubernur diposisikan sebagai wakil pemerintah
pusat. Pendanaan urusan pemerintahan umum sendiri berasal dari APBN.

Berikut menggambarkan pembagian urusan pemerintahan.

Untuk urusan konkuren atau urusan pemerintahan yang dibagi antara Pemerintah
Pusat dan Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota dibagi menjadi urusan pemerintahan
wajib dan urusan pemerintahan pilihan.

Urusan Pemerintahan Wajib adalah Urusan Pemerintahan yang wajib


diselenggarakan oleh semua Daerah.
Urusan Pemerintahan Pilihan adalah Urusan Pemerintahan yang wajib
diselenggarakan oleh Daerah sesuai dengan potensi yang dimiliki Daerah.

a.Urusan Pemerintahan Wajib


Urusan pemerintah wajib yang diselenggaraan oleh pemerintah daerah terbagi
menjadi Urusan Pemerintahan yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar dan Urusan
Pemerintahan yang tidak berkaitan dengan Pelayanan Dasar. Berikut pembagian urusan
wajib.
Pelayanan Dasar

Arti dari urusan urusan pemerintahan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar
adalah Urusan Pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh semua Daerah dan urusan
pemerintahan wajib yang berkaitan dengan pelayananan dasar ini :

1.Pendidikan
2.Kesehatan
3.Pekerjaan umum dan penataaan ruang
4.Perumahan rakyat dan kawasan permukiman
5.Ketentraman, ketertiban umum,dan perlindungan masyarakat
6.Sosial
Daerah diwajibkan memprioritaskan urusan pemerintahan wajib yang berkaitan
dengan pelayanan dasar, dan urusan diatas berpedoman pada standar pelayananan minimal
yang ditetapkan pemerintah pusat dalam bentuk peraturan pemerintah .Standar pelayanan
minimal sendiri adalah ketentuan mengenai jenis dan mutu Pelayanan yang berhak diperoleh
setiap warga negara secara minimal.

Non Pelayanan Dasar

1. Tenaga kerja
2.Pemberdaryaan perempuan dan perlindungan anak
3.Pangan
4.Pertanahan
5.Lingkungan hidup
6.Administratsi kependudukan dan pencatatan sipil
7.Pemberdayaan masyarakat dan desa
8.Pengendalian penduduk dan keluarga berencana
9.Perhubungan
10.Komunikasi dan informatika
11.Koperasi,usaha kecil dan menengah
12.Penanaman modal
13.Kepemudaan dan olahraga
14.Statistik
15.Persandian
16.Kebudayaan
17. perpustakaan

Pembagian urusan pemerintahan konkuren antara Pemerintah Pusat dan Daerah


provinsi serta Daerah kabupaten/kota sebagaimana disebutkan diatas didasarkan pada prinsip
akuntabilitas, efisiensi, dan eksternalitas, serta kepentingan strategis nasional. Berikut
kriteria-kriteria urusan pemerintahan pusat, daerah provinsi dan daerah kabupaten/kota.

Kriteria Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat adalah:

1. Urusan Pemerintahan yang lokasinya lintas Daerah provinsi atau lintas negara;
2.Urusan Pemerintahan yang penggunanya lintas Daerah provinsi atau lintas negara;
3.Urusan Pemerintahan yang manfaat atau dampak negatifnya lintas Daerah provinsi atau
lintas negara;
4.Urusan Pemerintahan yang penggunaan sumber dayanya lebih efisien apabila dilakukan
oleh Pemerintah Pusat; dan/atau
5.Urusan Pemerintahan yang peranannya strategis bagi kepentingan nasional.

Kriteria Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah Provinsi


adalah:

1. Urusan Pemerintahan yang lokasinya lintas Daerah kabupaten/kota;


2.Urusan Pemerintahan yang penggunanya lintas Daerah kabupaten/kota;
3.Urusan Pemerintahan yang manfaat atau dampak negatifnya lintas Daerah kabupaten/kota;
4.Urusan Pemerintahan yang penggunaan sumber dayanya lebih efisien apabila dilakukan
oleh Daerah Provinsi.
Kriteria Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota adalah:

1. Urusan Pemerintahan yang lokasinya dalam Daerah kabupaten/kota;


1. Urusan Pemerintahan yang penggunanya dalam Daerah kabupaten/kota;
2. Urusan Pemerintahan yang manfaat atau dampak negatifnya hanya dalam Daerah
kabupaten/kota; dan/atau
3. Urusan Pemerintahan yang penggunaan sumber dayanya lebih efisien apabila dilakukan
oleh Daerah kabupaten/kota.

b.Urusan Pemerintahan Pilihan

Ketentuan mengenai pembagian urusan pemerintahan daerah dan pemerintah pusat


dalam urusan pilihan adalah sebagai berikut.

Penyelenggaraan urusan pemerintahan bidang kehutanan, kelautan, serta energi dan


sumber daya mineral dibagi antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Urusan Pemerintahan bidang kehutanan yang berkaitan dengan pengelolaan taman


hutan raya kabupaten/kota menjadi kewenangan daerah kabupaten/kota.

Urusan pemerintahan bidang energi dan sumber daya mineral yang berkaitan dengan
pengelolaan minyak dan gas bumi menjadi kewenangan Pemerintah Pusat.

Urusan Pemerintahan bidang energi dan sumber daya mineral yang berkaitan dengan
pemanfaatan langsung panas bumi dalam daerah kabupaten/kota menjadi kewenangan
daerah kabupaten/kota.
B. Peran DPRD Dan TAPD Dalam Expenditure Assingment

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) merupakan lembaga perwakilan rakyat


daerah dan berkedudukan sebagai unsur penyelenggaraan pemerintah daerah.DPRD memiliki
fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan. DPRD mempunyai tugas dan wewenang.DPRD
mempunyai hak :
1. Interpelasi
2. Angket
3. Menyatakan pendapat
Pemerintah melakukan perubahan yang besar pula dalam Hubungan Keuangan Pusat -
Daerah yang diatur oleh UU 25/1999. Pemerintah berdasarkan undang-undang tersebut
memberikan bantuan dan sumbangan pada Daerah dalam bentuk Dana Alokasi Umum
(DAU). Penggunaan dana ini sepenuhnya ditentukan oleh Daerah (Pemerintah Daerah
bersama DPRD). Sehingga dengan demikian keberhasilan penggunaan dana tersebut
ditentukan oleh Pemerintahan Daerah.
Lembaga legislasi daerah ( DPRD ) adalah lembaga penyampai kepentingan dan
aspirasi masyarakat yang diubah ke dalam kebijakan. Fungsi utama lembaga ini adalah
mewakili kebutuhan, aspirasi, perhatian dan prioritas masyarakat dengan mengartikulasikan
masukan serta aspirasi masyarakat, lalu mengubahnya menjadi kebijakan. Fungsi kedua,
menyusun peraturan perundang- undangan, peraturan yang mengatur jurisdiksi, termasuk
anggaran pemerintah, dijalankan anggota lembaga legislasi daerah dengan selalu
memperhatikan kebutuhan masyarakat. Sementara fungsi ketiga sebuah lembaga legislasi
daerah adalah pengawasan, untuk memastikan akuntabilitas politik dan keuangan eksekutif.
Target pencapaian kinerja yang terukur dari program-program yang akan
dilaksanakan oleh pemerintah daerah untuk setiap urusan pemerintahan daerah yang disertai
dengan proyeksi pendapatan daerah, alokasi belanja daerah, sumber dan penggunaan
pembiayaan yang disertai dengan asumsi yang mendasarinya yang di muat di rancangan
KUA. Program-program diselaraskan dengan prioritas pembangunan yang ditetapkan oleh
pemerintah pusat. Sedangkan asumsi yang mendasari adalah pertimbangan atas
perkembangan ekonomi makro dan perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal yang ditetapkan
oleh pemerintah pusat. Dalam menyusun rancangan KUA, kepala daerah dibantu oleh Tim
Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) yang dipimpin oleh sekretaris daerah.

TAPD atau Tim Anggaran Pemerintah Derah adalah Tim yang dibentuk dengan
keputusan kepala daerah dan dipimpin oleh sekretaris daerah yang mempunyai tugas
menyiapkan serta melaksanakan kebijakan kepala daerah dalam rangka penyusunan APBD
yang anggotanya terdiri dari pejabat perencana daerah, PPKD dan pejabat lainnya sesuai
dengan kebutuhan ( Permendagri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian
Hibah dan Bantuan Sosial yang bersumber dari APBD )

Rancangan Kebijakan Umum APBD (KUA) yang telah disusun, disampaikan oleh
sekretaris daerah selaku koordinator pengelola keuangan daerah kepada kepala daerah, paling
lambat pada awal bulan Juni.Pembahasan dilakukan oleh TAPD bersama panitia anggaran
DPRD. Rancangan KUA yang telah dibahas selanjutnya disepakati menjadi KUA paling
lambat minggu pertama bulan Juli tahun anggaran berjalan.

Di dalam pengelolaan keuangan daerah, sekretaris daerah memegang dua jabatan


fungsional, sebagai KPKD (Koordinator Pengelolaan Keuangan Daerah) dan memimpin
TAPD (Tim Anggaran Pemerintah Daerah). Tugas sekretaris daerah selaku KPKD berkaitan
dengan peran dan fungsinya dalam membantu kepala daerah menyusun kebijakan dan
mengkoordinasikan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah termasuk pengelolaan
keuangan daerah. Adapun tugas sekretaris daerah selaku KPKD, Permendagri Nomor 13
Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana diubah terakhir
dengan Permendagri Nomor 21 Tahun 2011, Koordinator Pengelolaan Keuangan Daerah
(Sekretaris Daerah) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (4) mempunyai tugas
koordinasi di bidang:

1. Penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan APBD

2. Penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan barang daerah

3. penyusunan rancangan APBD dan rancangan perubahan APBD

4. penyusunan Raperda APBD, perubahan APBD, dan pertanggungjawaban pelaksanaan


APBD

5. tugas-tugas pejabat perencana daerah, PPKD, dan pejabat pengawas keuangan daerah

6. penyusunan laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan


APBD.

Sekretaris daerah selain melaksanakan tugas-tugas KPKD, sekretaris daerah


melaksanakan pula tugas-tugas TAPD yaitu :

a. memimpin tim anggaran pemerintah daerah;

b. menyiapkan pedoman pelaksanaan APBD;

c. menyiapkan pedoman pengelolaan barang daerah;


d. memberikan persetujuan pengesahan DPA-SKPD; dan

e. melaksanakan tugas-tugas koordinasi pengelolaan keuangan daerah lainnya


berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah.

TAPD (Tim Anggaran Pemerintah Daerah) adalah sebagai berikut:

1. Tim anggaran pemerintah daerah mempunyai tugas menyiapkan dan melaksanakan


kebijakan kepala daerah dalam rangka penyusunan APBD yang anggotanya terdiri
dari pejabat perencana daerah, PPKD dan pejabat lainnya sesuai dengan kebutuhan
(vide penjelasan pasal 6 ayat (2) huruf a Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005
Pengelolaan Keuangan Daerah);

2. Tim Anggaran Pemerintah Daerah yang selanjutnya disingkat TAPD adalah tim yang
dibentuk dengan keputusan kepala daerah dan dipimpin oleh sekretaris daerah yang
mempunyai tugas menyiapkan serta melaksanakan kebijakan kepala daerah dalam
rangka penyusunan APBD yang anggotanya terdiri dari pejabat perencana daerah,
PPKD dan pejabat Iainnya sesuai dengan kebutuhan.
Kesimpulan

Pembagian urusan pemerintahan menurut Undang-Undang No. 23 tahun 2014 tentang


Pemerintahan Daerah, terbagi menjadi 3 bagaian. Pertama urusan pemerintahan absolut, ini
adalah urusan yang sepenuhnya berada ditangan pemerintah pusat, tapi pemerintah pusat bisa
melimpahkan pelaksanaannya kepada daerah sesuai dengan asas dekonsentrasi.

Kedua, adalah urusan pemerintahan konkuren, pengertiannya adalah urusan


pemerintahan yang dibagi antara Pemerintah Pusat dan Daerah provinsi dan Daerah
kabupaten/kota, urusan yang diserahkan kepada daerah menjadi dasar pelaksana otonomi
daerah.

Ketiga adalah urusan pemerintahan umum, ini adalah urusan pemerintahan yang
menjadi kewenangan Presiden sebagai kepala Pemerintahan. Pelaksanaanya bisa diserahkan
kepada gubernur atau bupati di daerahnya masing-masing.
Daftar pustaka

http://www.hukumpedia.com/twtoha/pembagian-urusan-pemerintahan-
menurut-undang-undang-no-23-tahun-2014-tentang-pemerintahan-daerah

http://pemerintah.net/pembagian-urusan-pemerintahan-daerah-uu-no-232014/

https://www.scribd.com/document/339097379/Expenditure-Assignment