Anda di halaman 1dari 16

KELAINAN HEMOSTASIS

Kelainan pada setiap faktor yang terlibat dalam proses hemostasis


baik kelainan kuantitatif maupun kualitatif dapat mengakibatkan gangguan
hemostasis. Derajat gangguan hemostasis sesuai dengan derajat kelainan
faktor hemostasis sendiri. Pada beberapa kasus, tidak disadari adanya
kelainan bahkan baru diketahui setelah secara kebetulan dilakukan
pengujian hemostasis untuk keperluan lain, misalnya sebagai pemeriksaan
prabedah, tindakan obstetrik, dan lain-lain. Gejala yang membawa seorang
penderita memeriksakan diri biasanya perdarahan tidak wajar atau adanya
perdarahan bawah kulit yang timbul berulang kali secara spontan. Saat
mulainya gejala perdarahan sering memberikan petunjuk kearah diagnosis.
Perdarahan yang berulang-ulang sejak kecil menunjukkan kemungkinan
kelainan kongenital, sedangkan bila terjadi mendadak atau pada orang
dewasa biasanya kelainan sekunder atau didapat. Kelainan hemostasis
biasanya digolongkan sesuai patogenesis, yaitu:
1. Kelainan vaskuler
2. Kelainan trombosit
3. Kelainan koagulasi

A. KELAINAN VASKULER
Kelainan vaskuler adalah sekelompok keadaan heterogen, yang
ditandai oleh mudah memar dan perdarahan spontan dari poembuluh darah
kecil. Kelainan yang mendasari terletak pada pembuluh darah itu sendiri
atau dalam jaringan ikat perivaskular. Pada keadaan seperti ini,uji
penyaring standart memberi hasil normal. Masa perdarahan normal, uji
hemostasis lain juga normal. Kelainan vaskular ini terdapat dua jenis
yakni herediter yang berupa Telangiektasia hemoragik herediter, serta
kelainan jaringan ikat.
Perdarahan abnormal dapat terjadi akibat berbagai kelainan sistem
vaskuler baik herediter maupun didapat. Kelainan ini merupakan

1
penyebab perdarahan yang paling sering dijumpai di klinik. Biasanya
merupakan perdarahan kulit ringan dan berlangsung kurang lebih 48 jam.
Penyebab kelainan ini bisa karena:
1. Struktur pembuluh darah yang abnormal
2. Adanya proses radang atau reaksi imun
3. Jaringan perivaskuler yang abnormal
Pemeriksaan laboratorium:
1. Masa perdarahan mungkin memanjang atau normal
2. Percobaan pembendungan bisa positif atau negatif
3. Pemeriksaan lainnya normal
Kelainan vaskuler ada yang bersifat herediter dan ada yang didapat.
Berikut akan dijelaskan masing-masing kelaianan tersebut :
1) Kelainan vaskuler yang bersifat herediter:
a. Hereditary Hemorrhagic Telangiectasia
Penyakit ini diturunkan secara autosom dominan. Pada penyakit ini
dinding kapiler dan arteriol hanya terdiri dari lapisan endotel yang
tipis, sehingga terjadi pelebaran dan mudah berdarah. Karena tidak
dapat berkontraksi dengan baik maka perdarahan sering berlangsung
lama. Kelainan ini sering terlihat pada kulit dan mukosa mulut serta
hidung. Gejala yang sering dijumpai adalah epistaksis. Pada penyakit
ini, percobaan pembendungan dan masa perdarahan biasanya normal.
b. Ehlers-Danlos Syndrome dan Osteogenesis Imperfecta
Merupakan akibat kelainan jaringan kolagen sedang. Pseudoxantoma
elasticum adalah kelainan jaringan elastin. Pada penyakit-penyakit
ini, fragilitas vaskuler meningkat sehingga sering terjadi perdarahan
yang merupakan penyulit dalam klinik. Perdarahan di bawah kulit
dapat terjadi dari pembuluh darah yang pecah yang membentuk titik-
titik merah kecil menentukan (disebut petechiae). Darah juga dapat
mengumpulkan di bawah jaringan di daerah datar yang lebih besar
(disebut purpura) atau di daerah memar yang sangat besar (disebut
ecchymosis).
2) Kelainan vaskuler yang didapat:

2
a. Henoch Schonlein Syndrome
Kelainan ini dasarnya adalah reaksi hipersensitivitas yang
menimbulkan peradangan akut yang meluas pada kapiler dan arteri
kecil. Hal ini mengakibatkan permiabilitas vaskuler meningkat
sehingga terjadi perdarahan ke jaringan. Secara klinik tampak sebagai
keadaan akut yang ditandai dengan macular rash, purpura, sakit sendi,
sakit perut dan hematuria. Purpura terutama dijumpai pada daerah
punggung, pantat, siku, tungkai dan kaki. Penyakit ini bersifat self
limited dan biasanya terjadi pada anak walaupun dapat dijumpai pada
orang dewasa. Sering kali menyertai infeksi saluran nafas bagian atas
oleh streptokok beta hemolitikus grup A atau setelah minum obat-obat
tertentu.
b. Purpura senilis
Kelainan ini dijumpai pada orang berusia lanjut. Purpura biasanya
dijumpai pada bagian ekstensor lengan dan tangan. Kulit pada tempat
yang terkena bersifat tidak elastik, halus dan licin karena degenerasi
dan kehilangan jaringan kolagen, elastin dan lemak.
c. Purpura kortikosteroid
Purpura sering dijumpai pada penyakit Cushing dan penderita yang
mendapat kortikosteroid dosis tinggi dalam waktu lama. Dasarnya
adalah karena kehilangan jaringan subkutan yang merupakan jaringan
penunjang pembuluh darah.
d. Purpura simpleks
Kelainan ini sering dijumpai pada wanita dalam masa menstruasi dan
tampak sebagai lebam kebiruan pada kulit. Penyebabnya tidak jelas,
mungkin karena peningkatan fragilitas pembuluh darah di kulit. Tidak
dijumpai kelainan baik pada masa perdarahan maupun percobaan
pembendungan.
e. Scurvy

3
Penyebabnya adalah kekurangan vitamin C yang mengakibatkan
gangguan pembentukan kolagen. Akibatnya fragilitas vaskuler
meningkat dan gambaran kliniknya adalah petekhiae dan ekhimosis.
Biasanya petekhiae bersifat perifolikuler, yaitu sekitar folikel rambut.
Masa perdarahan biasanya memanjang dan percobaan pembendungan
positif.

Eccymosis Petechiae

B. KELAINAN TRHOMBOCYTE
1. Purpura trombositopenik imun (PTI)
PTI adalah suatu penyakit perdarahan yang didapat sebagai akibat
dari penghancuran trombosit yang berlebihan, yang ditandai dengan
trombositopenia (trombosit <100.00mm3), purpura, gambaran darah tepi
yang umumnya normal dan tidak ditemukan penyebab trombositopenia
yang lainnya.
Pada pengamatan diketahui bahwa seorang ibu yang menderita PTI
baik aktif maupun sedang dalam masa remisi sering melahirkan anak
yang kemudian menderita PTI. Keadaan ini kemudian menimbulkan
dugaan bahwa adanya suatu factor humoral dari ibu yang masuk kedarah
bayi. Diketahui pula pada beberapa pasien anemia hemolitik autoimun
yang sering mendapat episode dari PTI (sindrom evan) menunjukan
adanya factor autoimun sebagai penyebab.

4
Gejala klinis PTI dapat timbul mendadak, terutama pada anak,
tetapi dapat pula hanya berupa kebiruan atau epitaksis selama jangka
waktu yang berbeda-beda. Tidak jarang terjadi gejala timbul setelah
suatu peradangan infeksi saluran napas bagian atas akut. Kelainan yang
paling sering ditemukan ialah petekie dan kemudian ekimosis yang
dapat tersebar diseluruh tubuh. Keadaan ini kadang-kadang dapat
dijumpai pada selaput lender terutama hidung dan mulut sehingga dapat
terjadi epitaksis dan perdarahan gusi dan bahkan timbul tanpa kelainan
kulit. Pada ITP akut dan berat dapat timbul pula selaput lendir yang
berisi darah (bula hemoragik).
Gejala lainnya ialah perdarahan traktus genitourinarius
(menoragia, hematuria), traktus digestivus (hematemesis, melena), pada
mata (konjungtiva, retina) dan terberat namun jarang terjadi ialah
perdarahan pada sistem saraf pusat (perdarahan subdural dan lain-lain).
Pada fisis umumnya tidak banyak dijumpai kelainan kecuali adanya
petekia dan ekimosis. Pada kira-kira seperlima kasus dapat dijumpai
splenomegali ringan (teutama pada hiperplenisme). Mungkin pula
ditemukan demam ringan bila ditemukan perdarahan berat atau
perdarahan traktus gastrointestinal. Renjatan (shock) dapat terjadi bila
kehilangan darah banyak. Pada ITP menahun, umumnya hanya
ditemukan kebiruan atau perdarahan abnormal lain dengan remisi
spontan dan eksaserbasi. Remisi yang terjadi umumnya tidaklah
sempurna. Harus waspada terhadap kemungkinan ITP menahun sebagai
gejala stadium preleukimia.
2. Penyakit von willebrend (PVW)
PVW adalah kelainan perdarahan herediter disebabkan oleh
defisiensi factor von willebrand. Pvw ini membantu trombosit melekat
pada dinding pembuluh darah dan antara sesamanya, yang diperlukan
untuk pembekuan darah yang normal.

C. KELAINAN KOAGULASI
1. Hemophilia A dan B

5
Hemophilia adalah penyakit perdarahan akibat kekurangan faktor
pembekuan darah yang diturunkan (herediter) secara sex-linked
recessive pada kromosom X. Sampai saat ini dikenal 2 macam
hemofilia yang diturunkan secara sexlinked recessive yaitu :
a.Hemofilia A (hemofilia klasik), akibat defisiensi besi disfungis faktor
pembekuan VIII (F VIIIc)
b. Hemofilia B (Christmas disease) akibat defisiensi atau
disfungsi FIX (faktor Christmas).
Sedangkan hemophilia C merupakan penyakit perdarahan akibat
kekurangan factor XI yang diturunkan secara autosomal recesive pada
kromosom 4q32q35. Meskipun hemofilia merupakan penyakit herediter
tetapi sekitar 20-30% pasien tidak memiliki riwayat keluarga dengan
gangguan pembekuan darah, sehingga diduga terjadi mutasi spontan
akibat lingkungan endogen maupun eksogen.
Hemofilia A dan hemophilia B disebabkan oleh kerusakan pada
pasangan kromosom. Defek genetic ini berpengaruh pada produksi dan
fungsi dari fakrot pembekuan. Semakin sedikit factor pembekuan
tersebut maka semakin berat derajan hemophilia yang di derita.
Hemophilia A disebabkan oleh kelainan produksi dari factor VIII,
sedangkan hemophilia B disebabkan oleh kelainan produksi dari factor
IX.
Manifestasi klinis hemofilia A serupa dengan hemofilia B yaitu
perdarahan yang sukar berhenti. Secara klinis hemofilia dapat dibagi
menjadi hemofilia ringan, sedang, berat. Pada penderita hemofilia
ringan perdarahan spontan jarang terjadi dan perdarahan terjadi setelah
trauma berat atau operasi. Pada hemofilia sedang, perdarahan spontan
dapat terjadi atau dengan trauma ringan. Sedangkan pada hemofilia
berat perdarahan spontan sering terjadi dengan perdarahan ke dalam
sendi, otot dan organ dalam. Umumnya penderita hemofilia berat,
perdarahan sudah mulai terjadi pada usia di bawah 1 tahun. Perdarahan

6
dapat terjadi di mukosa mulut, gusi, hidung, saluran kemih, sendi lutut,
pergelangan kaki dan siku tangan, mudah timbul lebam sejak usia dini.

2. Disseminate intravascular coagulation (DIC)


DIC merupakan Merupakan suatu keadaan dimana sistem
koagulasi dan/ atau fibrinolitik teraktivitasi secara sistemik,
menyebabkan koagulasi intravaskular luas dan melebihi mekanisme
antikoagulan alamiah. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan
terjadinya DIC adalah infeksi mikroorganisme, keganasan, gigitan ular
dan luka bakar. Berikut frekuensi penyakit DIC :
a) DIC bisa muncul sekitar 30%-50% pasien dengan sepsis yang parah
b) Kematian total sekitar 50%- 70%. Angka bergantung pada penyakit
penyebab, tetapi DIC menambah buruk prognosa semua penyakit
c) Dalam hal trauma luas, DIC meningkatkan kematian sekitar 2 kali
lipat
d) Bisa muncul pada semua usia
e) Perbandingan sama antara pria dan wanita
f) Perbandingan sama di semua ras
g) Tidak diketahui apakah ada pengaruh genetik, sosioekonomi dan
geografis

3. Defisiensi vitamin K
Defisiensi vitamin k merupakan berkurangnya vitamin K dalam
tubuh dimana vitamin ini larut dalam lemak yang secara alamiah
banyak terdapat dalam sayur dan buah-buahan dan dapat disintesis oleh
flora bakteri dalam usus dimana vitamin ini penting untuk sintesis
prokoagulan factor II, VII, IX dan X serta antikoagulan protein C dan
S. Keadaan yang berhubungan dengan defisiensi factor pembekuan
yang bergantung pada vitamin K adalah :
a) Prematuris
b) Asupan makanan yang tidak adekuat
c) Adanya obstruksi biliaris
d) Sindrom malabsorbsi serta gangguan saluran cerna kronis
e) Kekurangan vitamin K pada ibu

7
8
KELAINAN FIBRINOLISIS

Mekanisme fibrinolisis dan pembekuan darah dijalankan oleh


trombosit, sel darah merah dan 13 faktor pembekuan darah. Dari mekanisme
ini terjadi beberapa tahapan diantaranya adalah adhesi, pelepasan, agregasi
dan fusi. Dalam proses fibrinosis tersebut dapat terjadi beberapa kelainan,
diantaranya :

A. DIC (Disseminated Intravasculer Coagulation /Koagulasi


intravaskuler yang menyebar)

1. Definisi
DIC (Disseminated Intravascular Coagulation) adalah suatu
kelainan yang ditandai oleh adanya pembentukan fibrin secara
menyeluruh didalam pembuluh darah. Pembentukan fibrin ini akan
diikuti dengan proses penghancuran fibrin oleh plasmin yang disebut
fibrinolysis sekunder. Nama lain penyakit ini adalah consumptive
coagulopathy atau defibrination syndrome.
DIC ialah suatu syndrome klinik yang disebabkan oleh deposisi
fibrin sistemik dan pada saat yang sama terjadi kecenderungan
perdarahan. Keadaan ini mengakibatkan kondisi berikut:
a. Konsumsi berlebihan faktor pembekuan darah dan trombosit,
sehingga menimbulkan defisiensi faktor pembekuan dan
trombositopenia.

9
b. Fibrinolisis sekunder yang menghasilkan FDP (fibrin/fibrinogen
degradation product) yang bekerja sebagai anti koagulant.
Adanya deposisi fibrinogen dan kedua hal diatas menyebabkan
terjadinya perdarahan dan thrombosis pada saat bersamaan. Bick
memberikan definisi minimal sebagai berikut: DIC adalah suatu
kelainan trombohemoragik sistemik yang dijumpai bersamaan dengan
kelainan klinis tertentu dan adanya bukti laboratorik dari :
a. Aktivasi prokoagulant
b. Aktivasi fibrinolitik
c. Konsumsi inhibitor
d. Bukti biokimia kerusakan atau gagal organ

2. Jenis-Jenis DIC
Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium DIC dibagi dalam 3
jenis, yaitu :
a. Decompensated
Ditandai dengan keadaan deplesi yaitu turunnya kadar fibrinogen,
jumlah trombosit, factor V, factor VIII, dan meningginya FDP
disertai ethanol gelation atau protamine test yang positif. Ethanol
gelation atau protamine test sering negative, karena test ini kurang
peka bila terdapat hipofibrinogenemia yang berat. Pemeriksaan D
Dimer akhir-akhir ini dianggap paling baik untuk DIC.
b. Compensated
Semua kriteria di atas terpenuhi, tetapi satu atau dua factor
pembekuan yang seharusnya kadarnya turun didapati normal. Yang
paling sering didapati kadarnya normal adalah fibrinogen, factor
VIII atau trombosit.

c. Over Compensated

10
Didapati paling sedikit satu factor tersebut diatas pada ad. 1
kadarnya meninggi. Kembali lagi yang tersering adalah fibrinogen,
factor V, factor VIII atau trombosit.
Menurut lamanya sindroma ini berlangsung, Merskey membagi
DIC dalam 3 bentuk :
a. Akut, berlangsung dalam beberapa jam sampai beberapa hari.
b. Sub akut, berlangsung dalam beberapa hari sampai beberapa
minggu, atau sampai satu dua bulan.
c. Kronik, berlangsung beberapa bulan dan mungkin sampai satu
tahun.

3. Gejala Klinik
a. Perdarahan : kulit (petechie dan echymosis), perdarahan mukosa
(epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis, dan lain lain), easy
bruising dan perdarahan organ.
b. Hemorrhagic tissue necrosis dan oklusi multiple pembuluh darah
kecil sehingga menimbulkan multiple organ failure, antara lain :
1) Ginjal : menimbulkan gagal ginjal
2) Adrenal dan kulit
3) Pembuluh darah tepi : menimbulkan gangrene
4) Hati : menimbulkan ikterus
5) Otak : menimbulkan kesadaran menurun

B. Von Willebrand Disease


1. Definisi
Penyakit Von Willebrand adalah kondisi medis yang ditandai
dengan memanjangnya waktu pembekuan darah atau perdarahan
berlebihan akibat kekurangan faktor von Willebrand. Faktor von
Willebrand berperan untuk membentuk sel keping darah (fragmen-
fragmen sel kecil yang terlibat dalam pembekuan darah) melekat
sehingga mereka dapat menggumpal bersatu dan melekat pada dinding
pembuluh darah untuk mengaktifasi tahap pertama dari proses
pembekuan darah. Ketika kekurangan faktor ini, darah tidak dapat

11
membeku dengan baik, menyebabkan hambatan pembekuan atau
perdarahan yang berlebihan. Penyakit von Willebrand merupakan salah
satu jenis kelainan darah yang diturunkan, memiliki gejala penyakit
yang bervariasi dan bisa dialami baik pada pria maupun wanita. Karena
kadar faktor VIII pada penyakit ini rendah, penyakit ini disebut juga
pseudohemofilia. Penyakit ini sering membingungkan mereka yang
belum berpengalaman menangani hemofilia. Teori molekuler yang
berhubungan dengan penyakit ini juga masih belum jelas. Disamping
kadar faktor VIII yang menurun, masa perdarahan pada penderita ini
juga memanjang sehingga penyakit ini disebut hemofilia vaskuler.
Penanganan penyakit von Willebrand secara umum terfokus pada
pencegahan atau pengentian perdarahan dengan menggunakan obat-
obatan. Dengan penanganan yang tepat, kebanyakan penderita dapat
melangsungkan aktifitas hidupnya secara normal. Akan tetapi, mereka
harus menghindari konsumsi obat-obatan, seperti obat-obatan anti
inflamasi non steroid atau aspirin karena obat-obatan tersebut dapat
memperburuk kondisi ini.

2. Tipe-Tipe Von Willebrand Disease (vWD)


Penyakit von Willebrand merupakan salah satu jenis kelainan darah
yang diturunkan. Terdapat tiga tipe utama kondisi ini.
a. Tipe 1
Penyakit von Willebrand Tipe 1 ditandai dengan hilangnya
beberapa faktor von Willebrand gan menyebabkan episode
perdarahan ringan sampai sedang. Akan tetapi pada beberapa orang
dapat tidak menyadari bahwa mereka menderita penyakit ini dan
tidak diperlukan penanganan.
b. Tipe 2
Penderita penyakit von Willebrand Tipe 2 memiliki cukup faktor
von Willebrand dalam jumlah yang cukup tetapi tidak berfungsi.

12
c. Tipe 3
Penyakit von Willebrand Tipe 3 merupakan tipe yang paling
berbahaya dan ditandai dengan kekurangan secara lengkap faktor
von Willebrand atau jumlahnya sangat sedikit yang menyebabkan
terjadinya episode perdarahan berat. Pada penderita tipe ini
biasanya terjadi anemia defisiensi besi.
Secara genetika penyakit Von Willebrand dibedakan 2
jenis :
a. Autosomal Dominan tipe klasik
Penyakit ini familial dengan penetrasi dan ekspresi
yang sangat berbeda-beda.
b. Autosomal Resesif
Dalam keluarga biasanya tidak ada yang menderita
penyakit ini. Sering ada perkawinan consanguin. Pada
kasus homozigot gejala-gejala klinik lebih berat.
Orang tua penderita biasanya tidak ada gejala-gejala
perdarahan.

3. Gejala Klinik
Gejala penyakit von Willebrand berbeda-beda pada tiap orang.
Ada yang mengalami gejala cukup parah, tapi ada pula yang tidak
mengalami gejala apapun. Ketika gejala terjadi, intensitasnya dapat
bervariasi. Pada bentuk yang lebih ringan, von Willebrand seringkali
tidak terdiagnosis. Pendarahan yang tidak normal adalah tanda
umum dari von Willebrand, meskipun dapat terlihat pada tingkat
keparahan yang sedang. Gejala utamanya adalah pendarahan,
seperti:
a. Mimisan cukup sering dan lama
b. Pendarahan pada gusi

13
c. Menstruasi yang berkepanjangan
d. Pendarahan berlebihan saat terluka atau setelah melakukan
e. prosedur tertentu di dokter gigi
f. Darah pada urin
g. Berdarah ketika bercukur
Selain itu, penderitanya juga akan mudah mengalami memar
dan terdapat benjolan pada memar. Penderita perempuan akan
mengalami beberapa kelainan saat menstruasi, seperti:
a. Gumpalan darah yang cukup besar (diameternya lebih besar dari
2,5 cm) pada darah menstruasi
b. Harus mengganti pembalut hampir setiap jam. Harus
menggunakan pembalut secara rangkap (double)
c. Menstruasi berkepanjangan, lebih dari seminggu
d. Mengalami gejala anemia, termasuk kelelahan atau napas pendek
e. Pendarahan menstrual yang berat sering merupakan tanda dari
von Willebrand pada wanita. Bagaimanapun, banyak wanita
dengan von Willebrand tidak mengetahui kondisinya karena
mereka tidak mempermasalahkan menstruasi yang berat dan
sering. Padahal pendarahan menstruasi berat dapat merupakan
indikator dari von Willebrand.

14
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013. Von Willebrand. diakses dari http://situskesehatans


pendasi.blogspot.co.id/2013/05/von-willebrand-disease-vwd.html
tanggal 15 Maret 2016 : 19.25 WIB.
Musyaffa, ripani. 2010. Von Willebrand. diakses dari http://
ripanimusyaffalab.blogspot.co.id/2010/02/penyakit-von-
willebrand .html tanggal 15 Maret 2016 : 20.15 WIB.
Polka, rocka. 2012. Kelainan Fibrinolisis. diakses dari
http://rockapolka.blogspot.co.id/2012/01/kelainan-fibrinolisis.html
tanggal 15 Maret 2016 : 20.17 WIB.
Laksono, nugroho jati dwi nur. 2012. Penyakit Gangguan Fibrinolisis.
diakses dari http://drnjdnl.blogspot.co.id/2010/01/penyakit-
gangguan-fibrinolisis-dan.html tanggal 16 Maret 2016 : 15.06 WIB.
Probosiwi, herminatri. -----. Kelainan Hemostasis. diakses dari
http://documents.tips/document/kelianan-hemostasis.html tanggal
15 maret 2016 : 14.35 WIB
Rofinda, ZD. ----. Kelainan Hemostasis Pada Leukimia. diakses dari
jurnal.fk.unand.ac.id/index.php/jka/article/download/40/35.pdf
tanggal 15 maret 2016 : 14.43 WIB

15
SOAL EVALUASI

1. Sebutkan 3 jenis kelainan hemostasis yang digolongkan berdasarkan


patogenesisnya !
2. Pada mekanisme hemostasis dapat terjadi kemungkinan kelainan
koagulasi. Penyakit apa sajakah yang dapat disebabkan oleh kelainan
koagulasi ini ?
3. Penyakit apa sajakah yang dapat ditimbulkan akibat kelainan
fibrinolisis ?
4. Penyakit Von Willebrand adalah penyakit yang disebabkan oleh
difisiensi dari faktor von willebrand. Gejala-gejala utama seperti apa
saja yang dapat ditimbulkan oleh penyakit ini ?
5. Salah satu jenis penyakit kelainan hemostasis adalah penyakit Scurvy.
Tejadinya penyakit ini disebabkan oleh kurangnya suatu komponen
yang diperlukan tubuh dalam pembentukan kolagen. Akibatnya
fragilitas vaskuler meningkat dengan gambaran kliniknya adalah
petekhiae dan ekhimosis. Defisiensi komponen apakah yang dimaksud
pada pernyataan diatas?

16