Anda di halaman 1dari 12

I.

PENDAHULUAN
1.1 Tinjauan Pustaka
Separasi adalah pemisahan komponen-komponen dari suatu campuran
sehingga menjadi fraksi-fraksi individual. Prinsip pada proses separasi ini adalah
berdasarkan perbedaan densitas ataupun adanya gaya gravitasi. Separasi atau
pemisahan dapat dibagi menjadi dua yaitu separasi mekanis dan separasi kontak
kesetimbangan. Separasi secara mekanis atau pemisahan mekanis (mechanical
separation), digunakan untuk memisahkan partikel antar dua komponen atau
lebih yang dilakukan dengan cara mekanis. Separasi mekanis ini hanya dapat
dipakai untuk campuran heterogen, sedangkan untuk larutan homogen teknik
separasi mekanis ini tidak dapat dilakukan. Teknik-teknik separasi ini didasarkan
atas perbedaan fisik antara partikel-partikel itu, seperti ukuran, bentuk, atau
densitas.
Pemisahan mekanis ini meliputi sedimentasi (pengendapan), sentrifugasi
(pemusingan), filtrasi (penyaringan) dan pengempaan. Filtrasi adalah suatu
operasi pemisahan campuran antara padatan dan cairan dengan melewatkan
umpan (padatan + cairan) melalui medium penyaring. Proses filtarsi banyak
dilakukan di industri, misalnya pada pemurnian air minum, pemisahan kristal-
kristal garam dari cairan induknya, pabrik kertas dan lain-lain. Untuk semua
proses filtrasi, umpan mengalir disebabkan adanya tenaga dorong berupa beda
tekanan, sebagai contoh adalah akibat gravitasi atau tenaga putar. Secara umum
filtrasi dilakukan bila jumlah padatan dalam suspensi relatif lebih kecil
dibandingkan zat cairnya (Oxtoby, 2001).
Filtrasi merupakan proses penyaringan yang dilakukan untuk memisahkan
zat padat dari suatu suspensi. Filtrasi didasarkan pada ukuran partikel. Metode ini
menggunakan suatu penyaring yaitu suatu bahan berpori yang dapat dilewati
partikel-partikel kecil, tetapi menahan partikel yang lebih besar. Penyaringan biasa
dilakukan laboratorium menggunakan kertas saring yang dilipat berbentuk kerucut
dan ditaruh dalam corong lalu cairan yang berisi zat padat dituang pelan-pelan
kedalam kertas saring. Zat padat tertahan oleh kertas saring dan larutan (filtrate)
masuk ke dalam bejana (Michael, 1994).
Melalui penyaringan sederhana, suatu campuran bahan padatan dan bahan
cairan atau bahan padat dan gas diproses yang bertumpukan pada suatu sisi plat
berpori yang disebut medium filter yang hanya melawatkan cairan atau gas serta
meninggalkan bahan padat dalam bentuk gumpalan pada permukaan filter
medium. Cairan berupa suspensi partikel-partikel padat. Hasil dari pemisahan ini
nantinya akan diperoleh cairan bening yaitu filtrate dan bahan padat tertinggal
pada filter medium yang disebut gumpalan filter (Cook, 1986).
Jika suatu cairan didiamkan dalam bejana tertutup cairaan itu akan
menguap dan penguapan itu akan terhenti pada tekanan tertentu yang hanya
tergantung pada suhu. Tekanan ini ditetapkan sebagai uap jenuh. Tujuan
penyulingan adalah untuk memisahkan cairan yang mudah menguap atau biasanya
merupakan pemisahan dua atau lebih cairan yang berbeda titik didihnya, yang ini
disebut penyulingan bertingkat (Kanisius, 1988).
Proses penyaringan atau filtrasi adalah operasi dimana campuran yang
heterogen antara fluida dan partikel-partikel padatan dipisahkan oleh media filter
yang meloloskan fluida tetapi menahan partikel-partikel padatan. Hal yang paling
utama dalam filtrasi adalah mengalirkan fluida melalui media berpori. Filtrasi
dapat terjadi karena adanya gaya dorong, misalnya ; gravitasi, tekanan dan gaya
sentrifugal. Beberapa proses media filter membentuk balok berpori (cake) untuk
menahan partikel-partikel padatan di dalam suspensi sehingga terbentuk lapisan
berturut-turut pada balok sebagai filtrat yang melewati balok dan media tersebut.
Semakin banyak campuran yang melewati filter medium, semakin banyak partikel
zat padat yang tertahan pada permukaannya, sehingga terbentuk lapisan yang
makin tebal. Hal tersebut akan mempengaruhi kecepatan penyaringan. Makin
tebal lapisan cake terbentuk, makin besar tahanan terhadap aliran cairan untuk
dapat melewati filter medium.
Prinsip dasar ekstraksi ialah pemisahan suatu zat berdasarkan
perbandingan distribusi zat yang terlarut dalam dua pelarut yang tidak saling
melarutkan. Ekstraksi merupakan proses pemisahan, penarikan atau pengeluaran
suatu komponen cairan/campuran dari campurannya. Biasanya menggunakan
pelarut yang sesuai dengan komponen yang diinginkan. Cairan dipisahkan dan
kemudian diuapkan sampai pada kepekatan tertentu. Ekstraksi memanfaatkan
pembagian suatu zat terlarut antar dua pelarut yang tidak saling tercampur untuk
mengambil zat terlarut tersebut dari satu pelarut ke pelarut lain. Ekstraksi
memegang peranan penting baik di laboratorium maupun industri. Di
laboratorium, ekstraksi seringkali dilakukan untuk menghilangkan atau
memisahkan zat terlarut dalam larutan dengan pelarut air yang diekstraksi dengan
pelarut lain seperti eter, kloroform, karbondisulfida atau benzene (Sudjadi, 1986).
Ekstraksi bertahap merupakan cara yang paling sederhana. Caranya cukup
dengan menambahkan pelarut pengekstraksi yang tidak bercampur dengan pelarut
semula kemudian dilakukan pengocokan sehingga terjadi keseimbangan
konsentrasi zat yang akan diekstraksi pada kedua lapisan, setelah ini tercapai
lapisan didiamkan dan dipisahkan. Ekstraksi kontinyu digunakan bila
perbandingan distribusi relatif kecil sehingga untuk pemisahan yang kuantitatif
diperlukan beberapa tahap ekstraksi. Efesiensi yang tinggi pada ekstraksi
tergantung pada viskositas fase dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi
kecepatan tercapainya suatu kesetimbangan, salah satu diantaranya adalah dengan
menggunakan luas kontak yang besar. Ekstraksi kontinyu counter current, fase
cair pengekstraksi dialirkan dengan arah yang berlawanan dengan larutan yang
mengandung zat yang akan diekstraksi. Biasanya digunakan untuk pemisahan zat,
isolasi atau pemurnian. Sangat penting untuk fraksionasi senyawa organik tetapi
kurang bermanfaat untuk senyawa-senyawa anorganik (Day, 1992). Faktor utama
yang mempengaruhi tingkat ekstraksi meliputi:
1. Daerah antarmuka padat cair
Tingkat perpindahan massa dari permukaan partikel untuk sebagian besar
dari solusi meningkat dengan peningkatan di daerah ini. Mengurangi ukuran
partikel padat meningkatkan daerah ini sehingga meningkatkan laju perpindahan
massa . Selain itu, semakin kecil partikel semakin pendek jarak zat terlarut telah
melakukan perjalanan untuk mencapai permukaan . Hal ini mungkin untuk
mempercepat laju ekstraksi . Namun, partikel-partikel yang sangat kecil dapat
menghambat aliran pelarut melalui solid dalam ekstraktor dan beberapa partikel
mungkin
2. Konsentrasi gradien
Untuk memastikan ekstraksi, gradien harus dipertahankan antara
konsentrasi zat terlarut pada permukaan partikel padat dan bahwa sebagian besar
dari padatan. Dalam extractor satu tahap, sebagai fase mendekati keseimbangan,
gradien ini. Ketika ini terjadi, mungkin masih mengandung sejumlah besar
padatan zat terlarut dan solutnya mungkin relatif encer, tergantung pada kondisi
kesetimbangan. Hal ini dapat diulang sampai zat terlarut dari padatan mencapai
tingkat sesuai rendah. Namun, hal ini akan mengakibatkan produksi volume
larutan yang relatif encer.
3. Koefisien perpindahan massa
Peningkatan suhu meningkatkan laju larutan zat terlarut dalam pelarut dan
juga laju difusi zat terlarut melalui solusi. Dengan demikian, pelarut biasanya
dipanaskan sebelum atau selama ekstraksi. Batas atas suhu tergantung pada sifat
dari padatan (Brennan, 2006).
Sedimentasi merupakan salah satu cara pemisahan antara komponen atau
partikel berdasarkan perbedaan densitasnya melalui medium alir. Oleh karena itu,
biasanya pemisahan tersebut berlangsung lama, terutama jika perbedaan densitas
antar komponen tersebut tidak berbeda jauh. Secara visual, sedimentasi
merupakan pemisahan suspensi menjadi dua fraksi yaitu fraksi supernatan (fraksi
yang jernih) dan fraksi padat pada konsentrasi yang lebih tinggi. Dalam praktek,
sedimentasi dapat dilakukan secara batch (terputus-putus untuk setiap satuan
volume atau berat bahan yang akan dipisahkan per satuan waktu) atau secara
kontinyu (terus menerus).
Dalam sedimentasi kecepatan partikel jatuh atau naik melalui medium alir
dapat diperkirakan dengan menggunakan pendekatan matematis, tergantung
kondisi partikel tersebut, apakah dalam keadaan jatuh bebas (free settling) atau
dalam keadaan hindered settling (Anonim, 2005).
Menurut Earle (1982), dalam pengolahan bahan pangan dilakukan
berbagai macam sistem operasi, yang masing-masing sistem memiliki peranan
dan fungsi tersendiri bagi pengendalian mutu produk. Salah satu sistem operasi
yang penting yaitu sedimentasi, yaitu teknik pemisahan suspensi berdasarkan
perbedaan densitasnya melalui suatu medium alir. Sedimentasi (pengendapan)
mempergunakan gaya gravitasi atau gaya sentrifugal untuk memisahkan partikel
dari aliran bahan cair. Partikel biasanya bahan padat, dimana bahan padat akan
mengendap didalam bahan cair yang kerapatannya lebih kecil daripada kerapatan
bahan padat tersebut.
Proses sedimentasi dapat dipercepat dengan mengunakan gaya sentrifugal.
Dengan metode ini terutama campuran cair/padat dan cair/cair dapat dipisahkan,
dibandingkan dengan metode yang menggunakan gaya berat, kecepatan
pengendapan dengan gaya sentrifugal jauh lebih baik. Untuk meningkatkan laju
pengendapan, gaya gravitasi yang bekerja pada partikel itu dapat digantikan
dengan gaya sentrifugal. Dalam operasi produksi, separator sentrifugal sudah
banyak menggantikan separator gravitasi karena separator sentrifugal itu jauh
lebih efektif dengan partikel dan tetesan halus, disamping volumenya yang jauh
lebih kecil untuk kapasitas tertentu (Bernasconi, 1995). Bahan padat akan
mengendap didalam bahan cair yang kerapatannya lebih kecil daripada jerapatan
bahan padat tersebut. Pada konsentrasi yang rendah, hukum Stokes akan berlaku
akan tetapi dalam kebanyakan hal praktek, sentrasin pada umumnya selalu sangat
tinggi. Didalam konsentrasi yang tinggi ini dan bila selang ukuran partikel tidak
terlalu lebih besar dari 10 : 1, seluruh partikel cenderung mengendap pada
kecepatan yang sama. Kecepatan ini terletak antara selang yang diharapklan
darihukum Stokes untuk partikel terbesar dan partikel terkecil sebagai
pengaruh, partikel terbesar dan partikel terkecil sebagail pengaruh, partikel
terbesar berkecepatan menurun dan dalam perlambatan ini partikel-partikel
tersebut cenderung untuk mengumpulkan partikel kecil-kecil dan mempercepat
partikel kecil tersebut. Makin tinggi konsentrasi, menghasilkan laju jatuh yang
makin rendah (Maryanto, 1988).
Sentrifugasi ialah proses pemisahan partikel berdasarkan berat
partikeltersebut terhadap densitas layangnya (bouyant density). Dengan
adanyagaya sentrifugal maka akan terjadi perubahan berat partikel dari keadaan
normal pada 1 xg (sekitar 9,8 m/s2) menjadi meningkat seiring dengankecepatan
serta sudut kemiringan perputaran partikel tersebut terhadapsumbunya.
Pada pemisahan, partikel yang densitasnya lebih tinggi daripadapelarut
turun (sedimentasi), dan partikel yang lebih ringan mengapung keatas. Perbedaan
densitas yang tinggi, membuat partikel bergerak lebihcepat. Jika tidak terdapat
perbedaan densitas (kondisi isoponik), partikeltetap setimbang.
Pemisahan sentrifugal menggunakan prinsip dimana objek diputarsecara
horizontal pada jarak tertentu. Apabila objek berotasi di dalamtabung atau silinder
yang berisi campuran cairan dan partikel, makacampuran tersebut dapat bergerak
menuju pusat rotasi, namun hal tersebuttidak terjadi karena adanya gaya yang
berlawanan yang menuju kearahdinding luar silinder atau tabung, gaya tersebut
adalah gaya sentrifugasi.2Gaya inilah yang menyebabkan partikel partikel
menuju dinding tabungdan terakumulasi membentuk endapan.
Sentrifugasi dapat digunakan untuk pemisahan padat cairmenyediakan
padatan berat dari cairan. Centrifuge juga dapat digunakanuntuk memisahkan fase
berat, dan dua fasa cair ringan, dengan salahsatu fase ringan yang lebih ringan dari
lainnya. Padatan dapat lebihringan dari cairan dan pemisahan adalah dengan
flotasi dari fase padatterdispersi.
Sentrifuge digunakan untuk mengklasifikasikan padatan denganukuran
yang berbeda. Salah satu aplikasi adalah untuk mengklasifikasikan kristal
berbagai ukuran yang berbeda, dengan kehalusan ukuran submikron dengan fase
ringan dan hanyamempertahankan ukuran yang lebih besar pada fase berat
yangdipisahkan. Salah satu dari padatan dipisahkan menjadi produk. Sebagai
contoh, kristal yang lebih besar dapat menjadi kristal produk sedangkan kristal
halus yang kembali ke kristalisator untuk tumbuh kristal yang lebihbesar. Aplikasi
lain yang serupa adalah untuk mengklasifikasikan ukuranpuing puing sel yang
lebih kecil dalam fase cair dari berat produk setelah homogenisasi sel.

1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum kali ini adalah :
Mengetahui prinsip cara pemisahan mekanis dengan sedimentasi,
sentrifugasi, filtrasi dan pengempaan.
Mengetahui perbedaan masing-masing pemisahan sedimentasi,
sentrifugasi, filtrasi dan pengempaan.
Mengetahui prinsip kerja dari alat densitometer, rotational viscometer,
piknometer dan cream separator.
II. ALAT DAN BAHAN
2.1. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum pemisahan secara mekanis yaitu
sebagai berikut :
- Gelas Kimia
- Gelas Ukur
- Kain Saring
- Lactoscan Milk Analyzer
- Penggaris
- Plastik Cling Wrap
- Sentrifugator
- Vacum Filter

2.2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum pemisahan secara mekanis yaitu
sebagai berikut :

- Air
- Larutan Kopi 10%
- Minyak
- Peluru Mainan
- Silica Gel
- Susu Segar

III. PROSEDUR
3.1 Sedimentasi
1 Ukur diameter (D) dan densitas (p) partikel berupa peluru dan silika gel
2 Ukur densitas (f) dan viskositas ()medium alir berupa minyak dan air
3 Isi medium alir ke dalam gelas ukur
4 Ukur tinggi medium alir (h)
5 Jatuhkan partikel dari bagian atas medium alir
6 Catat waktu jatuh partikel sampai dasar gelas (t)
7 Hitung kecepatan (v) sedimentasi
D 2 x g( p f )
Vhitung = 18 V prak

v
= t

3.2 Filtrasi
1 Masukan larutan kopi 10% ke dalam gelas ukur dengan volume (V (m 3))
200 ml, 300 ml, 400 ml, 500 ml, 600 ml, 700 ml.
2 Masukan ke dalam beaker gelas
3 Hidupkan alat .....
4 Letakan kain saring ke dasar wadah filtrasi, dan tuangkan larutan kopi
tersebut.
5 Tutup bagian atas wadah filtrasi dengan plastik cling wrap, sebelum
proses vacum dimulai.
6 Larutan kopi 10% akan vacum dan tersaring (filtrasi)
7 Hitung waktu (t) mulai dari larutan kopi dimasukan, sampai tidak menetes
lagi
8 Hitung diameter terpanjang cake kopi yang tersaring untuk hitung nilai A
(m2)
9 Buat grafik dari data yang telah diperoleh
y = ax + b
t .r .w v .r .L
= x +
v /a 2. P A P

PA
R
V=
r ( Lc L)
R=
wv
A
LC =

10 Hitung tahanan spesifik (r), tebal filter medium (L), tebal filter cake (Lc),
tahanan total (R), dan kecepatan filtrasi (V (m/s))

3.3 Sentrifugasi
1 Panaskan susu segar hingga 55oC dengan kompor.
2 Masukkan susu ke dalam wadah disc bowl centrifuge yang telah
dipasang. Letakkan wadah di bawah masing-masing corong.
3 Nyalakan alat. Tunggu hinga putaran stabil, lalu buka katup untuk
mengalirkan susu ke sentrifuge.
4 Tunggu hingga krim dan skim terpisah seluruhnya, lalu ukur kadar
lemak keduanya.
5 Hitung jumlah masing-masing susu yang dibutuhkan untuk membuat
susu dengan kadar lemak 1,5% dan 3% menggunakan neraca massa
lemak metode Pearson.

IV. HASIL PENGAMATAN


4.1 Sedimentasi
Tabel 1. Hasil Pengamatan Sedimentasi
Partike D t p(kg/m3 f(kg/m3 Vh Vpra Reh Repra
l (m) (s) ) ) (Pa.s k k
)
Silika 4,2 1,2 1626,3 997 3,3 x 0,191 0,177 24,768 23,057
gel (air) 9x 2 10-2 1 9 5 6
10-3
4,1 1,6 0,176 0,129 21,944 16,169
2x 7 3 9 8 2
10-3
5,0 1,0 0,261 0,202 39,675 30,757
2x 7 6 8 5 6
10-3
4,2 1,1 0,191 0,185 24,768 24,042
9x 7 1 5 5 7
10-3
Peluru 5,5 7,0 1008,7 905 0,06 0,026 0,030 2,0270 2,3484
(minyak 7x 9 6 5 7
) 10-2
5,8 7,3 0,029 0,029 2,3968 2,3987
9x 4 7 7
10-2
5,8 7,0 0,029 0,031 2,3604 2,4917
6x 3 4 0
10-2
5,7 7,9 0,028 0,027 2,2768 2,1716
9x 7 7 4
10-2
Peluru 5,8 3,5 1008,7 997 0,03 6,493 6,12 x 1,1379 10,724
(Air) x 6 3 6x 10-2 1
10-3 10-3
5,8 3,4 6,493 6,28 x 1,1379 11,004
x 7 6x 10-2 5
10-3 10-3
5,8 3,9 6,493 5,53 x 1,1379 9,6902
x 4 6x 10-2
10-3 10-3
5,7 3,7 6,271 5,77 x 1,0800 9,9365
x 8 6x 10-2
10-3 10-3

Silika gel 4,5 x 4 1626,3 905 0,066 1,205 x 5,625 x 7,435 x 0,347
(minyak) 10-4 10-3 10-2 10-3
4,3 x 4,8 1,100 x 4,6875 x 6,486 x 0,276
10-4 10-3 10-2 10-3
4,0 x 5,1 9,521 x 4,4118 x 5,222 x 0,242
10-4 10-4 10-2 10-3
2,8 x 5,95 4,665 x 3,7815 x 1,791 x 0,145
10-4 10-4 10-2 10-3

4.2 Sentrifugasi
Tabel 2. Hasil Pengamatan Sentrifugasi
Kadar Lemak (%) Massa Susu Massa Susu Total (gram)
Segar (gram) Skim (gram)
1,5 137,62 362,38 500
3 275,23 224,77 500

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2005. Petunjuk Praktikum Satuan Operasi. Jember : THP-FTP UNEJ.

Brennan, James. 2006. Food Processing Handbook. Jerman: WILEY-VCH Verlag


GmbH & Co.KGaA Weinheim.

Cook, 1986. Industri Kimia Operasi. Gramedia. Jakarta.

Day, R.1992. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta : Erlangga.

Earle, R.L. 1982. Satuan Operasi Dalam Pengolahan Pangan. Bogor : PT Sastra
Hudaya.
Kanisius, 1988. Kimia. Aneka Ilmu. Jakarta.

Maryanto. 1988. Diktat Teknologi Pengolahan. Jember : FTP-THP UNEJ.

Michael. 1994. Tekhnik Pengeringan. Erlangga. Jakarta.

Oxtoby, D.W. 2001. Prinsip-prinsip Kimia Modern Jilid 1 Edisi 4. Erlangga.


Jakarta.

Sudjadi. 1986. Metode Pemisahan. Yogyakarta : UGM Press.