Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA

MUTASI PADA BAKTERI

Oleh :

HENDRIK NURFITRIANTO

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2007

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada tahun 1953, seorang ahli yang bernama James Watson dan Francis Crick
mengajukan pendapat tentang 2 hal yaitu berhubungan dengan DNA dan implikasi genetik
dari struktur DNA pada proses terjadinya variasi genetik (mutasi).
Istilah mutasi pertama kali digunkan oleh Hugo de Vries, untuk mengemukakan
adanya perubahan fenotip yang mendafak pada bunga Oenotera lamarckiana dan bersifat
menurun. Ternyata perubahan tersebut terjadi karena adanya penyimpanagn dari
kromosomnya.
Seorang ahli yang bernama Seth Wright melaporkan peristiwa mutasi pada domba
jenis Ancon yang berkaki pendek dan bersifat menurun. Penelitian ilmiah tentang mutasi
dilakukan oleh Morgan (1910) dengan menggunakan Drosophila melanogaster.
Akhirnya murid Morgan yang bernama Herman Yoshep Muller berhasil dalam
percobaannya terhadap lalat buah yaitu menemukan mutasi buatan dengan menggunakan
sinar X.
Mutasi perubahan DNA yang bersifat permanent. Perubahan itu dapat dilihat pada
fenotip suatu organisme. Perubahan pada DNA dapat meliputi perubahan satu atau lebih
nukleotida. Mutasi juga terjadi dalam genotip suatu individu yang terjadi secara tiba-tiba
dan secara random yang menyangkut perubahan yang terjadi pada bahan genetik, akan
tetapi biasanya juga terjadi pada perubahan karena aberasi kromosom yang diikut sertakan.
Mutasi dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu mutasi spontan dan mutasi
buatan. Mutasi spontan merupakan mutasi yang disebabkan oleh suatu faktor yang tidak
diketahui dengan pasti penyebabnya. Sedangkan mutasi buatan merupakan mutasi yang
sengaja dibuat sehingga dapat diketahui dengan jelas da pasti yang diperoleh. Maka dalam
praktikum kami adalah termasuk praktikum buatan, karena kami merencanakan akan
melakukan percobaan pada bakteri yang di mutasi dengan sinar UV.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1.Bagaimana hasil dari jumlah bakteri yang diberi sinar UV dengan bakteri yang
tidak diberi sinar UV ?
2.Apakah dampak dari mutadi buatan (induksi) yang telah dilakukan bagi hasil
jumlah koloni bakteri Acetobacter xylinum yang dikembangbiakkan ?
C. Tujuan
Dari rumusan masalah di atas maka tujuan dari praktikum kami adalah untuk :
1.Dapat mengetahui mutasi buatan dan mutasi alami pada Acetobacter xylinum
dan menghitung kecepatan mutasi yang terjdi
2.Dapat mengetahui hasil dari mutasi buatan dan mutasi alami pada Actobacter
xylinum.
3.Dapat mengetahui dampak dari mutasi buatan pada bakteri Acetobacter
xylinum.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Mutasi merupakan perubahan pada DNA yang bersifat permanen. Perubahan itu
daoat dilihat pada fenotip suatu organonisme. Perubahan pada DNA dapat meliputi
perubahan satu atau lebih nukleotida. Mutasi juga terjadi dalam genotip suatu individu
yang terjadi secara tiba-tiba dan secara random yang menyangkut perubahan yang terjadi
pada bahan genetic, akan tetapi biasanya jga terjadi pada perubahan karena aberasi
kromosom yang diiuktsertakan.
Mutasi dpat terjadi pada tingkat DNA, gen, kromosom, dan mutasi terjadi secara
alami atau spontan dab buatan atau induksi.
1.Mutasi Gen
Pasangan basa nitrogen pada DNA, antar timin dan adenine atau antar guanine
dan sitosin dihubungkan dengan akatan hidrogen yang lemah. Atom-atom hidrogen
dapat berpindah dari satu posisi ke posisi lain pada purin atau pirimidin. Perubahan
kima tersebut disebut perubahan tautomer. Misalnya, secara tidak normal, adenin
berpasangan dengan sitosin dan timin berpasangan dengan guanin. Peristiwa perubahan
genetik seperti ini disebut mutasi gen. Mutasi gen disebut juga mutasi titik (point
mutation). Mutasi gen dapat terjadi karena subtitusi basa N. Macam-macam mutasi gen
antara lain :
a. Mutasi tak bermakna
Terjadi perubahan kodon dari kode basa N asam amino tetapi tidak
mengakibatkan kesalahan pembentukan protein. Misalnya, UUU diganti UUS yang
sama-sama kode fenilalaanin.
b. Mutasi ganda tiga
Mutasi karena ada penambahan atau pengurangan tiga basa secara bersam-sama.
c. Mutasi bingkai
Terjadi karena adanya penambahan sekaligus pengurangan satu atau beberapa
pasangan basa secara bersama-sama.
2.Mutasi Kromosom
Mutasi kromosom atau mutasi besar pada prinsipnya digolongkan menjadi dua,
yaitu sebagai berikut :
a. Mutasi kromosom yangg terjadi karena
perubahan kromosom
Mutasi kromosom yang terjadi karena jumlah kromosom (ploid) melibatkan
kehilangan atau penambahan perangkat kromosom (genom) disebut euploid, sedangkan
yang hanya terjadi pada salah satu kromosom dari genom disebut aneuploid.
1.Euploid
Organisme yang kehilangan stu set kromosom disebbut monoploid, organosme
monoploid memiliki satu genom atau satu perangkat kromosom dalam sel
somatisnya. Sedangkan untuk organisme yang memiliki lebih dari dua genom
disebut poliploid. Poliploid ada dua yaitu, otoploid yang terjadi pada kromosom
non homlog.
2.Aneuploid
Mutasi kromosom ini tidak melibatkan seluruh genom yang berubah, melainkan
hanya terjadi pada salah satu kromosom dari genom. Disebut juga dengan istilah
aneusomik.
b. Mutasi kromosom yang terjadi karena perubahan
struktur kromosom
Mutasi karena perubahan struktur kromosom atau kerusakan bentuk kromosom
disebut juga dengan istilah aberasi. Aberasi ada dua macam yaitu :
1.Delesi
Adalah mutasi karena kekurangan segmen kromosom. Delesi ada beberapa
macam antara lain : delesi terminal, delesi interstitial, delesi cincin, dan delesi
loop.
2.Duplikasi
Adalah mutasi karena kelebihan segmen kromosom.
3.Translokasi
Adalah mutasi yang mengalami pertukaran segmen kromosom ke kromosom
homolognya. Macam-mcam translokasi antara lain :
a. Translokasi homozigot
Adalah translokasi yang mengalami pertukaran segmen kedua kromosom
homolognya dengan segmen kedua kromosom non homolognya.
b. Translokasi heterozigot
Adalah translokasi yang hanya mengalami pertukaran satu segmen kromosom ke
satu segmen kromosom non homolog.
c. Translokasi Robertson
Adalah translokasi yang terjadi karen apenggabungan dua kromosom akosentrik
menjadi satu kromosom metasentrik, maka disebut juga fusion (penggabungan).
4.Inversi
Adalah mutasi yang mengalami perubahan letak gen-gen, karena selama meosis
kromosom terpilin dan terjadi kiasma. Inversi ada beberapa macam antara lain : inversi
parassentrik terjadi karena klromosom tidak bersentromer dan inversi perisentrik yang
terjadi pada kromosom yang bersentromer.
5.Isokromosom
Adalah mutasi kromosom yang terjadi pada waktu menduplikasikan diri,
pembelahan sentromernya mengalami perubahan arah pembelahan sehingga terbentulkah
dua kromosom yang masing-masing berlengan identik (sama).
6.Katenasi
Adalah mutasi kromosom yang terjadi pada dua kromosom non homolog yang
pada waktu membelah menjadi empat kromosom, saling bertemu ujng-ujunnya sehingga
membentuk lingkaran.
Mutasi dapat juga terjadi secara alami atau spontan dan mutasi buatan atau
induksi.
I. Menurut tipe sel atau macam sel yang mengalami mutasi.
1.Mutasi somatis
Yaitu mutasi yang terjdi pada sel-sel tubuh atau sel soma.
2.mutasi germina
yaitu mutasi yang terjadi pada sel kelamin atau gamet sehingga dapat
diturunkan.
II. Menurut sifat genetiknya, mutasi dapat dibagi menjadi dua macam
yaitu :
1.mutasi dominan dan
2.mutasi resesif
III. Menurut arah mutasinya
1.mutasi maju
yaitu mutasi yang berasal dari fenotip normal menjadi abnormal.
2.mutasi balik
yaitu mutasi yang dapat mengembalikan dari fenotip tidak normal menadi
fenotip normal.

IV. Menurut kejadiannya


a. Mutasi alami atau mutasi spontan
Yaitu mutasi yang terjadi penyebabnya tidak diketahui. Mutasi ini terjadi
di alam secara spontan (alami), secara kebetulan dan jarang terjadi. Misalnya
mutagen alam adalah sinar kosmis, radio aktif alam, dan sinar ultraviolet.
b. Mutasi buatan atau mutasi induksi
Yaitu mutasi yang terjadi dengan adanya campur tangan manusia. Proses
perubahan gen atau kromosom secara sengaja diusahakan oleh manusia dengan zat
kimia, sinar X, radiasi, dan sebagainya, maka sering disebut juga mutasi induksi.
Mutasi buatan dengan sinar X dipelopori oleh Herman Yoshep Muller
(murid Morgan) yang berkebangsaan Amerika serikat (1890 – (1945). Muller
berpendapat bahw mutasi pada sel soma tidak membawa perubahan, sedangkan
mutasi sel-sl generatif atau gam,et kebanyakan letal dan membawa kematian
sebelum atau sesudah kelahiran. Selanjutnya pada tahun 1927 dapat diketahui
bahwa sinar X dapat menyebabkan gen mengalami ionisasi sehingga sifat menjadi
labil. Dan akhirnya mutasi buatan dilaksanakan pula dengan pemotongan daun
atau penyisipan DNA pada organisme-organisme yang kita inginkan.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian pengamatan, karena dalam penelitian ini tidak
menggunakan variabel-variabel yang biasa digunakan.
B. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada laboratorium Mikrobiologi C9 Jurusan Biologi
FMIPA UNESA Surabaya.
C. Alat dan Bahan
 Kultur
 Medium kultur "nutrient broth"
 MgSO4 0,1 M steril
 Lampu ultra violet (UV) 40 watt
 Erlenmeyer steril
 6 buah tabung reaksi yang besar yang berisi 9,9 ml medium "nutrient broth" steril
dan diberi label Dil-1, Dil-2, Dil-3, Dil-5, Dil-6, dan Dil-7.
 2 buah tabung reaksi yang besar yang berisi 9,0 ml medium "nutrient broth" steril
dan diberi label Dil-4 dan Dil-8.
 4 cawan petri yang berisi medium padat "nutrient agar" dan diberi label NA-1, NA-
2, NA-3, dan NA-4.
 6 cawan petri yang berisi medium padat "nutrient agar" yang mengandung
antibiotikpenisilin 30 mg/I (dapat juga antibiotik yang lain) dan diberi label NAA-
1, NAA-2, NAA-3, NAA-4, NAA-5, dan NAA-6.
 Beberapa tabung reaksi steril
 Pengadukm gelas berbentuk L
 Pipet steril berukuran 1 ml dan 0,1 ml
 Alkohol 70%
 Pensil lilin
 Aluminium foil

D. Prosedur Kerja
1.Biakan Acetobacter xylinium yang diperlukan adalah Acetobacter
xylinium yang telah ditumbuhkan di dalam 400 ml "nutrient broth"
selama 24 jam pada suhu 370 C. Konsentrasi bakteri di dalam
medium ini diperkirakan 102 sampai 108 bakteri per milimeter.
Mengumpulkan bakteri ini dengan jalan disentrifugasi pada kecepatan
2000 rpm selama 5 menit. Membuang supernatannya, lalu
diresuspensikan kembali dengan 70 ml larutan MgSO4 0,1 ml (hal ini
dilakukan untuk keperluan seluruh kelas).
2.Untuk setiap kelompok mengambil 2 ml suspensi bakteri tadi.
3.Dari 2 ml suspensi bakteri tadi mengambil masing-masing 0,5 ml
dengan pipet steril untuk biakan di dalam cawan petri yang berlabel
NAA-1 dan NAA-2. Meratakan tetesan tersebut dengan pengaduk
gelas berbentuk L yang steril ke seluruh permukaan medium agar.
4.Dari 2 ml suspensi bakteri (sisanya) mengambil 0,1 ml dan
memasukkannya dalam tabung reaksi yang berlabel Dil-1 dan
mengaduknya dengan vorteks.
5.Mengambil 0,1 ml dari Dil-1 ke Dil-2 dan campur. Lalu transfer 0,1
ml dari Dil-2 ke Dil-3 dan mencampurnya hingga homogen.
6.Mengambil sebanyak 0,5 dengan pipet steril dari Dil-3 dan
meneteskannya ke medium agar NA-1 menyebarkannya sampai rata
dengan menggunakan pengaduk kaca berbentuk L yang steril.
7.Mengambil 1 ml dari Dil-3 dan memasukkannya ke Dil-4 lalu
mencampurnya hingga homogen. Lalu mengambil 0,5 ml dari Dil-4
dan meneteskannya pada mendium padat NA-2 dan meratakan tetesan
tersebut dengan pengaduk kaca berbentuk L yang steril. Yang perlu
di ingat adalah bahwa NAA-1 dan NAA-2 ditanami sejumlah bakteri
yang tidak diencerkan, sedangkan NA-1 ditanami dengan suspensi
bakteri yang diencerkan 10-6, NA-2 ditanami suspensi bakteri yang
diencerkan sampai 10-7.
8.Sesudah semua pekerjaan pada no. 1s/d no. 7 dikerjakan maka cawan
Petri yang telah ditanam dengan bakteri di inkubasikan pada suhu 370
C selama 24 jam. Pada saat diinkubasi cawan petri dibalik sehingga
bagian medium agar berada di atas. Hal ini untuk menjaga agar
koloni-koloni yang tumbuh tidak kelihatan kabur karena adanya
pengembunan.
9.Langkah berikutnya adalah mengambil 40 ml suspensi bakteri di
dalam larutan MgSO4 0,1 M dan meletakannya di dalam cawan petri
yang steril, memasukkan ke dalam suspensi tersebut pengaduk
magnetik yang streril. Lalu menempatkan cawan petri tersebut di atas
alat pengaduk magntik, menutup cawan petri tersebut dan
menyinarinya dengan UV (40 watt) dengan jarak 30 cm - 40 cm
selama 60 detik. Setelah diradiasi dengan UV menambahkan ke
dalamya 30 ml "nutrient broth", mencampurnya hingga homogen dan
selanjutnya membagikan suspensi bakteri tersebut ke dalam 2
erlenmeyer yang steril. Satu erlenmeyer ditutup dengan aluminium
foil dan diberi label D. Sedangkan erlenmeyer yang satunya diberi
label L dan dibiarkan terkena sinar lampu menginkubasikan kedua
erlenmeyer tersebut selama 30 menit, setelah 30 menit mengambil 2
ml suspensi bakteri baik dari L maupun D lalu memasukkan masing-
masing suspensi tersebut ke dalam 2 tabung reaksi yang steril.
10.Mengambil 0,5 ml suspensi bakteri dan tabung reaksi yang diisi oleh
suspensi bakteri yang terdapat pada erlenmeyer yang berlabel L untuk
ditanam pada NAA-3 dan 0,5 ml lagi ditanam pada NAA-4.
Meratakan dengan pengaduk kaca yang berbentuk L dan sudah steril.
11.Membuat pengenceran bertingkat dengan jalan mengambil 0,1 ml
kultur L unutkl dimasukkan ke dalam Dil-5 dan mencampur hinggga
homogen. Lalu mengambil 0,1 ml dari Dil-6 dan memindahkannya ke
Dil-7 lalu mencampurnya . Pengenceran ini adalah 10-6.
12.Mengambil 0,5 ml dari Dil-7 dan meneteskan pada medium agar NA-
3 dan menyebarkan dengan kaca pengaduk L yang steril.
13.Mengambil 1 ml dari Dil-7 dan memasukkan ke Dil-8 lalu
mencampurnya. Ini adalah pengenceran 10-7.
14.Mengambil 0,5 ml di Dil-8 dan menanam pada medium agar NA-4
dan menyebarkannya.
15.Mengambil 0,5 ml dari kultur D dan menanam pada NAA-5 dan
mengambil lagi 0,5 ml untuk ditanam pada NAA-6 lalu
menyebarkannya dengan pengaduk kaca L.
16.Menginkubasikan bakteri yang telah ditanam dalam cawan petri tadi
selama 24 jam pada suhu 370 C dengan posisi terbalik (lapisan agar di
atas).
17.Ssudah 24 jam, menghitung jumlah koloni bakteri pada semua cawan
petri dan mencatat pada tabel.
18.Menghitung frekuensi mutasi spontan dan frekuensi penginduksian
mutasi dengan rumus di bawah ini :
a. Frekuensi mutasi spontan
∑ koloni pada NAA-1 dan NAA-2 =
∑ koloni pada NA-1 dan NA-2
Yang harus diperhatikan adalah perhitungkan juga faktor pengencerannya.
b. Frekuensi pengiduksian mutasi (dengan perlakuan terang)
∑ koloni pada NAA-3 dan NAA-4 =
∑ koloni pada NA-3 dan NA-4
Perhatikan juga faktor pengencerannya.
c. Frekuensi penginduksian mutasi (dengan perlakuan gelap).
∑ koloni pada NAA-5 dan NAA-6 =
∑ koloni pada NA-5 dan NA-6
d. Kecepatan mutasi olwh induksi UV inkubasi di tempat gelap
Frekuensi mutasi spontan =
Frekuensi mutasi gen

a. Kecepatan mutasi di tempat terang


Frekuensi mutasi spontan =

Frekuensi pwenginduksi perlakuan terang


Untuk mempermudah kerja maka memperhatikan gambar dibawah ini :
Label (∑) Jumlah Faktor Komposisi Jumlah Rata-rata
cawan koloni bakteri koreksi medium koloni
petri sesudah
pengenceran
faktor
koreksi
NAA-1 102 10-2 NAA 50 50 x 107
NAA-2 104 10-4 NAA 38 38 x 106
NA-1 106 10-6 NA-1 157 157 x 106
NA-2 107 10-7 NA-2 61 61 x 107
NAA-3 102 10-2 NAA-UV 10 10 x 102
NAA-4 104 10-4 NAA-UV 23 23 x 104
NA-3 106 10-6 NA-3 +UV 9 9 x 104
NA-4 107 10-7 NA-4 + UV 12 12 x 102
NAA-5 102 10-2 NAA-5 + 9 9 x 102
UV+ditutup
karbon
NAA-6 102 10-2 NAA-6 + 15 15 x 102
UV+ditutup
karbon
NA-5 106 10-6 NA-5 + UV + 19 19 x 106
ditutup
karbon
NA-6 107 10-7 NA-6 + Uv + 17 17 x 107
ditutup
karbon

Gambar : Skema kerja mutasigenesis pada bakteri


Tabel : Data untuk eksperimen mutasigenesis pada bakteri
Keterangan :
Jika jmulah NA-1 dan NA-3 sulit dihitung (∑) jumlah koloninya maka menggunakan (∑)
jumlah koloni pada NA-2 dan NA-4 (dikalikan dengan faktor koreksi) untuk menghitung
frekuensi mutasi.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Label (∑) Faktor Komposisi Jumlah Rata-rata
cawan Jumlah koreksi medium koloni
petri koloni sesudah
bakteri pengencera
n faktor
koreksi
NAA-1 102 10-2 NAA 50 50 x 107
NAA-2 104 10-4 NAA 38 38 x 106
NA-1 106 10-6 NA-1 157 157 x 106
NA-2 107 10-7 NA-2 61 61 x 107
NAA-3 102 10-2 NAA-UV 10 10 x 102
NAA-4 104 10-4 NAA-UV 23 23 x 104
NA-3 106 10-6 NA-3 +UV 9 9 x 104
NA-4 107 10-7 NA-4 + UV 12 12 x 102
NAA-5 102 10-2 NAA-5 + 9 9 x 102
UV+ditutup
karbon
NAA-6 102 10-2 NAA-6 + 15 15 x 102
UV+ditutup
karbon
NA-5 106 10-6 NA-5 + UV + 19 19 x 106
ditutup karbon
NA-6 107 10-7 NA-6 + Uv + 17 17 x 107
ditutup karbon

A. Hasil
Tabel hasil percobaan mutasi pada bakteri Acetobacter xylinum

Tabel : Data untuk eksperimen mutasigenesis pada bakteri

Keterangan : Tidak di UV = inkubasi ± 24 jam


di UV = inkubasi ± 24 jam + 30 menit

b. Frekuensi mutasi spontan


∑ koloni pada NAA-1 dan NAA-2 = 50 x 102 + 38 x 104
2 2
= 50.102 + 3800.102
2
= 1925 . 102
= 19,12.104

∑ koloni pada NA-1 dan NA-2 = 157.106 + 61.107


2 2
= 157.10 + 610.106
6

2
= 767.10 6

= 76,7.107

frekuensi mutasi spontan = ∑ koloni pada NAA-1 dan NAA-2


∑ koloni pada NA-1 dan NA-2
= 19,25.104 = 0,25.10-3
76,7.107

c. Frekuensi pengiduksian mutasi (dengan perlakuan


terang)
∑ koloni pada NAA-3 dan NAA-4 = 10.102+23.104
2 2
= 10.10 +2300.102
2

2
= 2310.102
2
= 1155.102
= 11,55.104

∑ koloni pada NA-3 dan NA-4 = 9.106 + 12.107


2 2
= 0,9.10 + 12.107
7

2
= 12,9.107
2
= 6,45.107
Frekuensi penginduksian mutasi (dengan perlakuan terang)

. ∑ koloni pada NAA-3 dan NAA-4 = 11,55.1044


∑ koloni pada NA-3 dan NA-4 6,45.107
= 1,79.10-3

d. Frekuensi penginduksian mutasi (dengan perlakuan


gelap).
∑ koloni pada NAA-5 dan NAA-6 = 9.102 + 15.102
2 2
= 24.102
2
= 12.102
∑ koloni pada NA-5 dan NA-6 = 19.106 + 17.107
2 2
= 1,9.107 + 17.107
2
= 18,9.107
2
= 9,45.107
e. Kecepatan mutasi olwh induksi UV inkubasi di tempat
gelap
Frekuensi mutasi spontan = 9,45.107 = 37,8.1010
Frekuensi mutasi gen 0,25.10-3

f. Kecepatan mutasi di tempat terang


Frekuensi mutasi spontan
Frekuensi pwenginduksi perlakuan terang
9,45.107 = 5,2793296.1010
1,79.10-3
= 527,93.108

B. Analisi Data
Setelah semua prosedur kerja dilakukan kami memperoleh hasil untuk koloni bateri
Acetobacter xylinum yang tidak di UV untuk NAA-1 didapatkan sebanyak 50 koloni,
NAA-2 dengan sebanyak 38, dan untuk NA-1 didapatkan sebanyak 157 dan NA-2
sebanyak 61 koloni. Sedangkan pada bateri Acetobacter xylinum yang di UV NAA-3
dengan jumlah 10, NAA-4 dengan jumlah 23, dan untuk NA-3 didapatkan junlah 9 dan
NA-4 dengan jumlah 12, NAA-5 berjumlah 9, NAA-6 berjumlah 15, dan untuk NA-5
berjumlah 19 dan yang terakhir pada NA-6 yaitu berjumlah 17.
Untuk jumlah koloni bakteri dan faktor koreksi dapat diamati pada tabel hasil
pengamatan di atas.
C. Pembahasan
Dari hasil dan analisis data yang kami peroleh di atas bahwa jumlah koloni bakteri
Acetobacter xylinum pada tempat yang diberi UV merupakan mutasi buatan yang
disengaja, hasilnya jumlah koloni yang dihasilkan lebih sedikit dibandingkan dengan
koloni bakteri Acetobacter xylinum yang tidak di beri UV. Hal ini di karenakan
Acetobacter xylinum yang diberi perlakuan beda untuk mengetahui mutasi yang terjadi
antara mutasi alami atau spontan dengan mutasi buatan atau induksi. Sehingga dapat
diketahui bahwa mutasi buatan atau induksi dengan menggunakan sinar UV sebagai
penghambat pertumbuhan sehingga mengurangi jumlah koloni bakteri Acetobacter
xylinum yang tumbuh dibandingkan dengan mutasi alami atau spontan dengan tanpa
menggunakan sinar UV.
BAB V
PENUTUP

A. Simpulan
Dari hasil pembahasan di atas dapat di simpulkan bahwa jumlah bakteri yang di
mutasi secara buatan dengan sinar UV dengan bakteri yang di mutasi secara alami dengan
tanpa pemberian sinar UV hasil jumlah koloninya lebih banyak pada bakteri yang di
mutasi secara alami dengan tanpa pemberian sinar UV. Sedangkan pada bakteri yang di
mutasi secara buatan dengan pemberian sinar UV hasil lebih sedikit. Hal ini membuktikan
bahwa sinar UV dapat menyebabkan mutasi pada bakteri Acetoacter xylinum dengan cara
menghambat pertumbuhan dan perkembangbiakan jumlah koloni bakteri tersebut.
B. Saran
1.Dalam penggunaan sinar UV diharapkan untuk berhati-hati, jangan sampai
terjadi keteledoran sehingga lupa untuk keluar dari ruangan yang di sinari UV,
karena hal ini dapat menyebabkan mutasi pada diri kita.
2.Dalam penginokulasian sebaiknya untuk semua perhiasan yang ada di tangan
dilepas terlebih dahulu, karena hal ini dapat menyebabkan terjadinya
kontaminasi.
DAFTAR PUSTAKA
Seregeg, Wayan. Endang Susantini dan Isnawati. 1997. Penuntun Praktikum Genetika
Jilid 2. Surabaya : IKIP Surabaya.
Tim Biologi. 1994. Aktif Belajar Biologi 3. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya Bandung.
Pratiwi, D. A, dkk. 2003. Buku Penuntun Biologi SMU Jilid 3 Kelas 3. Jakarta ; Erlangga.
Prawoto, dan Koesnadi Wiryosoemarto. 1993. Materi Pokok Genetika dan Evolusi Modul
1-9. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar dan Menengah Proyek Peningkatan Mutu Guru SLTP setara D-III.
Suryo, Ir. 2001. Genetika Manusia. UGMPres. 539: 6-274.
John W. Kimball. 1992. Biologi. Bandung : Penerbit Erlangga IPB.