Anda di halaman 1dari 13

PRAKTIKUM PERCOBAAN FITOKIMIA II

PERCOBAAN 1
ISOLASI GLIKOSIDA DARI DAUN KETELA POHON
(Manihot utillisima Pohl.)

OLEH :

NAMA : NUR AFNI RIDWAN


NIM : O1A114032
KELAS :A
KELOMPOK : I (SATU)
ASISTEN : SUMAIL SIDIK ODE I

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2017
PERCOBAAN I
ISOLASI GLIKOSIDA FLAVONOID DARI DAUN KETELA POHON(Manihot
utilissiima Pohl)

A. TUJUAN

Tujuan dari praktikum ini yaitu :

1. Dapat memahami dan dapat melakukan isolasi flavonoid dari daun ketela
pohon.

2. Dapat memahami dan dapat melaksanakan analisis kualitatif golongan


senyawa tersebut dengan metode kromatografi lapis tipis.

B. TEORI UMUM
Tanaman singkong merupakan salah satu jenis tanaman pertanian utama di
IndonesiaTanaman ini termasuk famili Euphorbiacea yang mudah tumbuh
sekalipun pada tanah kering clan miskin serta tahan terhadap serangan penyakit
maupun tumbuhan pengganggu (gulma). Tanaman singkong mudah
(membudidayakannya) karena perbanyakan tanaman ini umumnya dengan stek
batang . Singkong banyak ditanam di kebun; halaman rumah clan dapat juga
dijadikan pagar pembatas rumah atau kebun [1]
Senyawa flavanoid merupakan senyawa polifenol yang mmpunyai kerangka
dasar karbon yang terdiri dari 15 atom karbon membentuk Suatu Susunan C6-
C3-C6 Susunan Ini Dapat menghasilkan 3 jenis struktur, yaitu 1,3- diarilpropana
atau flavonoid, 1,2 diarilpropan atau isoflavonoid dan 1,1 diarilpropan atau
neoflavonoid. Istilah "flavonoid" yang diberikan untuk senyawa fenol ini berasal
dari kata flavan, yaitu nama dari salah satu jenis flavonoid yang terbesar
jumlahnya dan juga lazim ditemukan. Senyawa kimia flavan mempunyai
kerangka 2-fenilkroman, dimana posisi orto dari cincin A dan atom karbon yang
terikat pada cincin B dari 1,3-diarilpropan dihubungkan oleh jembatan oksigen,
[2]
sehingga membentuk suatu cincin heterosiklik yang baru (cincin C)
Flavonoid merupakan salah satu senyawa polifenol yang memiliki bermacam-macam
efek antara lain efek antioksidan, anti tumor, anti radang, antibakteri dan anti virus
(Apriani, 2013). Pada penelitian ini menunjukkan bahwa senyawa flavonoid yang
terkandung dalam ekstrak tidak mampu menghambat pertumbuhan S. Aureus maupun
E.coli. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh struktur dari flavonoidnya sendiri yang
tidak mendukung terhadap aktivitas atau adanya senyawa lain didalam ekstrak yang
bersifat antagonis dengan flavonoid yang terkandung dalam ekstrak kulit buah D.longan
terhadap aktifitas antibakterinya [3]
Flavonoid yang diisolasi dari daun singkong sebesar 100-200 g/ml dapat
mengurangi degranulasi sel mast yang diinduksi senyawa 48,80 albumin pada
sebuah penelitian in vitro. Flavonoid diyakini dapat menghambat
prostaglandin.12 Ekstrak daun singkong juga diketahui berpotensi dalam
menurunkan jumlah neutrofil pada proses penyembuhan luka tikus Wistar
jantan.13 Tetapi mekanisme kerja ekstrak daun singkong itu sendiri terhadap
ekspresi enzim COX-2, yaitu enzim yang berperan dalam merubah asam
arakidonat menjadi prostaglandin pada inflamasi sampai saat ini belum diketahui.
[4]

C. URAIAN TANAMAN

1. Klasifikasi Ketela Pohon (Thamrin,2013)


Regnum : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Manihot
Spesies : Manihot utilissima Pohl.

2. Deskripsi
Batang tanaman ubi kayu berkayu, beruas-ruas, dan panjang, yang
ketinggiannya dapat mencapai 3 meter lebih. Warna batang bervariasi,
tergantung kulit luar, tetapi batang yang masih muda umunya berwarna hijau
dan setelah tua menjadi keputih-putihan, kelabu, hijau kelabu, atau coklat
kelabu. Empulur batang berwarna putih, lunak, dan strukturnya empuk seperti
gabus. Daun ubi kayu mempunyai susunan berurat menjari dengan canggap 5-9
helai. Daun ubi kayu biasanya mengandung racun asam sianida atau asam biru,
terutama daun yang masih muda (pucuk). Tanaman ubi kayu dapat beradaptasi
luas di daerah beriklim panas (tropis) (Thamrin,2013).

D. ALAT DAN BAHAN


1. Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah :
a. Batang pengaduk
b. Corong
c. Erlenyemer 250 mL
d. Gelas kimia 100 ml ; 250 mL ; 1000 mL
e. Hot plate
f. Melting point apparatus
g. Oven
h. Pipet kapiler
i. Spatula
j. Tabung reaksi
k. Timbangan analitik
l. Vial
m. Vorteks
2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah :
a. Akuades
b. Aluminium foil
c. Etanol 96 %
d. Kapas
e. Kertas saring
f. Metanol
g. Serbuk daun ketela pohon 100 gram
h. Tissue

E. Skema Kerja
Skema kerja dari percobaan ini adalah :
1. Isolasi Senyawa dari Serbuk Simplisia daun singkong.

Daun Singkong

- Dicuci bersih
- Dikeringkan dan dipotong-potong kecil
- Dijemur
- Digiling daun hingga halus
- Disimpan dalam wadah yang sesuai dan diberi
etiket
- Ditimbang bobot keringnya sampai 100 g
Serbuk Simplisia Daun
Singkong
- Ditimbang sebanyak 100 gram
- Dimasukkan ke dalam gelas kimia 1000 mL
- Ditambahkan akuades 800 mL
- Dipanaskan selama 45 menit dengan menggunakan
hot plate
- Disaring menggunakan kain
- Disaring kembali dengan kertas saring
- Dimasukkan filtrat ke dalam lemari pendingin hingga
terbentuk kristal rutin yang kekuningan

- Disaring kristal menggunakan kertas saring kemudian


Filtrat
dikeringkan dalam oven selama 3 jam (400 C)
- Diambil endapan menggunakan spatula
- Dilarutkan endapan dalam 2 mL campuran
metanol:air = 1:1

Dihomogenkan campuran larutan dengan menggunakan vorteks


Disaring campuran larutan yang telah dihomogenkan dengan kertas saring kemudian diambil endapa
Dimasukkan endapan dalam oven pada suhu 400 C hingga kering
Diambil endapan dengan spatula kecil

Kristal Rutin
2. Pengujian Titik Leleh
Kristal Rutin

Dimasukkan dalam pipa melting point


Diuji titik lelehnya menggunakan alat melting point apparatus

Hasil Pengamatan = ... ?

F. HASIL PENGAMATAN
Hasil pengamatan yang didapatkan dari percobaan ini adalah :

Perlakuan Gambar

Penyiapan bahan baku


Penimbangan

Didapatkan berat sampel sebesar 100 gram

Dididihkan sampel dengan hot plate


selama 45 menit

Penyaringan dengan kain

Sampel berwarna hijau pekat

Penyaringan dengan kertas saring

Sampel berwarna hijau sedikit pekat

Hasil endapan rutin yang sebelumnya


didinginkan

Didapatkan kristal
Kristal kekuningan yang diperoleh
dari hasil penyaringan dicuci dengan
etanol

Kristal hasil penyaringan yang telah


dikeringkan

Diuji titik leleh menggunakan melting


point apparatus

Didapatkan titik leleh sebesar


233,9O C
G. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini adalah untuk mengisolasi rutin (flavonoid-3-
glikosida) sebagai salah satu jenis glikosida flavonoid (glikosida flavonol)
yang terkandung dalam daun singkong/ketela pohon. Glikosida flavonoid
termasuk rutin merupakan salah satu metabolit sekunder yang bersifat polar,
termasuk kedalam kelompok glikosida O (molekul gula berikatan dengan O-
aglikon). Rutin daun singkong (satu zat aktif) sebagai bahan obat-obatan dan
kosmetik, serta jadi zat pengatur tumbuh tanaman.

Karena sifatnya yang polar maka pengisolasian rutin dilakukan dengan


penggunaan pelarut polar yaitu air, dengan penggunaan air yang kemudian
dipanaskan membuat semua senyawa polar tertarik bersama filtrate. Hal ini
merupakan salah satu kerugian penggunaan air sebagai pelarut karena, banyak
sekali komponen-komponen polar yang dapat larut bersama air.
Filtrate yang diperoleh diuapkan hingga didapat filtrate kental dan disimpan
dalam lemari pendingin untuk mempercepat pembentukan kristal rutin dan
mencegah terjadinya penjamuran. Karena dengan media air memungkinkan
timbulnya jamur atau bakteri jika disimpan di suhu ruang.
Endapan yang diperoleh disaring dan dicuci dengan menggunakan
etanol dingin dengan maksud agar kemurnian filtrate bertambah dan terbebas
dari pengotor-pengotor yang tidak ingin diisolasi, tetapi dengan pencucian ini
tidak menyebabkan kristal larut.
Sebagian dari endapan ditambahkan HCl untuk proses hidrolisis
dimaksudkan agar glikosida flavonoid rutin terhidrolisis sehingga aglikon
flavonoid (kuersetein) terpisah dengan molekul gulanya. Kuersetin ini
termasuk aglikon flavonoid (zat bukan gula) yang berdasarkan strukturnya
dapat digolongkan menjadi flavonol, kuersetin mempunyai khasiat sebagai
antiinflamasi, antikanker dan antioksidant.
Setelah dihidrolisis, larutan dipartisi dengan pelarut eter dengan
menggunakan corong pisah, eter digunakan karena memiliki kepolaran yang
sama dengan aglikon flavonoid (kuersetin). Maka seluruh senyawa kuersetin
akan tertarik kedalam pelarut eter, ekstraksi dilakukan sebanyak 3 kali untuk
memaksimalkan pengisolasian. Seluruh fase eter yang dicampur disaring
dengan tambahan Na sulfat anhidrat agar molekul air yang ada dalam eter
dapat tertarik, sehingga larutan benar-benar murni eter dan aglikon
flavonoid. Fase eter ini diuapkan dan selanjutnya residu yang ada
ditambahkan methanol sebagai pelarut (sari II) untuk dilakukan KLT.
Rutin Kuersetin Glukosa Sisa endapan yang tidak dihidrolisis juga dilarutkan
dengan methanol untuk selanjutnya di KLT bersama dengan sari II, dan Rf
yang dihasilkan dapat dibandingkan dan dapat terlihat proses hidrolisis
berjalan dengan sempurna atau tidak.
Sari I dan sari II dilakukan pengujian dengan KLT menggunakan eluen
etanol 96%. Dengan digunakannya eluen yang bersifat polar maka senyawa
polar akan terelusi lebih dulu dan memiliki Rf yang lebih tinggi, dibandingkan
dengan senyawa non-polar ataupun semipolar. Pada KLT ini yang diuji adalah
senyawa polar yaitu glikosida flavonoid (rutin) dan senyawa non-polar yaitu
aglikon glikosida (kuersetin).
Hasil KLT ini, kedua senyawa terelusi dan pada titik B ada senyawa
yang tidak terelusi dan tetap berada pada dasar lempeng KLT, hasil ini
menunjukan adanya kuersetin yang sudah terpisah dari rutin, tetapi karena
kedua spot terelusi maka hidrolisis yang dilakukan tidak berjalan dengan
sempurna, ataupun ada pengotor lainnya yang terelusi dengan pelarut polar.
Pada praktikum kali ini digunakan daun singkong yang sudah agak tua
sehingga kadar yang didapat tidak maksimal. Dan untuk terbentuknya kristal
rutin dibutuhkan waktu yang sangat lama sekali kurang lebih 5 hari Dan
kristal rutin yang terbentuk sangat sedikit sekali, dan tercampur dengan
endapan lainnya.
H. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat ditarik dari praktikum ini yaitu :

1. Rutin merupakan salah satu jenis glikosida flavonoid yang bersifat polar,
sehingga dapat diekstraksi dengan pelarut polar, seperti air, methanol atau
etanol. Filtrate yang didapat dari hasil penyarian didinginkan untuk
mempercepat pembentukan kristal. Pemisahan aglikon dan glikosidanya dapat
dilakukan dengan hidrolisis asam, seperti menggunakan HCl. Akan didapat
hasil berupa kuersetin dan glukosa dari hidrolisis rutin.

2. Analisa dari aglikon dan glikosida ini dapat dilakukan dengan menggunakan
kromatografi lapis tipis, dan menggunakan eluen tertentu sesuai dengan
kepolaran senyawa yang dianalisa.
DAFTAR PUSTAKA

[1] Askar S. 1996. Daun Singkong Dan Pemanfaatannya Terutama Sebagai Pakan
Tambahan. WARTAZOA Vol. 5 No. 1 Th . 1996

[2] Ginting B Dkk., 2016. Aktivitas Sitotoksik Fraksi Total Flavonoid Daun
Pala Myristica Fragrans Houtt) Dengan Metode Brine Shrimp Lethality
(BSLT) Antibacterial, Antifungal And Antidiabetic Activities Of Dimocarpus
Longan Fruit Skin Extract. Prosiding SEMIRATA. ISBN: 978-602 71798-1-3.
Hal 1863.

[3] Hilma R, Siti Mukhlisa dan Haiyul Fadli. 2016. Antibacterial, Antifungal And
Antidiabetic Activities Of Dimocarpus Longan Fruit Skin Extract. Prosiding
SEMIRATA. ISBN: 978-602 71798-1-3. Hal 1949.

[4] Zahara M. 2013. Efek ekstrak daun singkong (Manihot utilissima) terhadap
ekspresi COX-2 pada monosit yang dipapar LPS E.coli. Dental Journal
Majalah Kedokteran Gigi.Vol. 46, No. 4.