Anda di halaman 1dari 15

PERKEMBANGAN PENDUDUK DUNIA TRANSISI VITAL DAN TRANSISI MOBILITAS

PENDUDUK

1.PERTUMBUHAN PENDUDUK DUNIA

Perkembangan jumlah penduduk dunia sangat erat kaitannya dengan


perkembangan peradaban manusia dalam berinteraksi dengan alam sekitarnya. Ada
tiga tahap perkembangan peradaban manusia hingga kini. Pertama, jaman ketika
manusia mulai mempergunakan alat-alat untuk menanggulangi kehidupan. Kedua,
jaman ketika manusia mulai mengembangkan usaha pertanian menetap. Ketiga, jaman
era dimulainya industrialisasi, yaitu sekitar pertengahan abad ke-17 sesudah masehi.

Dalam kerangka kerja perkembangan kebudayaan manusia itulah, beberapa


tahapan atau periode sejarah pertumbuhan penduduk dunia dirumuskan oleh para ahli.
Angka pertama yang dikemukakan mengenai jumlah penduduk dunia adalah 125.000
orang, yang hidup kira-kira satu juta tahun yang lalu (Devey dalam Bland dan Dwight
E.Lee, 1976). Angka ini baru berkembang kira-kira satu juta orang setelah mengalami
proses pertumbuhan selama 700.000 tahun kemudian. Tingkat pertumbuhan penduduk
setiap tahun dalam era ini nyaris tidak berarti sama sekali, yakni 0,000041 persen.

Lambatnya pertumbuhan penduduk pada era ini disebabkan karena tingginya


tingkat kematian. Pertumbuhan penduduk terlihat meningkat pada kira-kira 6000-
9000 tahun yang lampau,ketika teknik bertani sudah dikenal dan mulai menyebar
dibeberapa bagian dunia.

Pertumbuhan penduduk merupakan salah satu faktor yang


menjadi masalah sosial ekonomi pada umumnya karena dengan
bertambahnya penduduk maka otomatis harus bertambah pula
persediaan sandang pangan, kesempatan kerja, serta fasilitas
umum, selain itu pertambahan penduduk akan menimbulkan
berbagai masalah seerti bertmbahnya tingkat
penganguran,kemiskinan, anak putus sekolah yang dapat pula
menimbulkan berbagai kejahatan (kriminalitas).

Sejalan dengan proyeksi populasi, angka ini terus bertambah dengan


kecepatan yang belum ada dalam sejarah. Diperkirakan seperlima dari seluruh
manusia yang pernah hidup pada enam ribu tahun terakhir, hidup pada saat ini.

Pada tanggal 19 Oktober 2012 pukul 03.36 WIB, jumlah penduduk dunia akan
mencapai 7 miliar jiwa. Badan Kependudukan PBB menetapkan tanggal 12 Oktober
1999 sebagai tanggal dimana penduduk dunia mencapai 6 miliar jiwa, sekitar 12
tahun setelah penduduk dunia mencapai 5 miliar jiwa.

Berikut adalah peringkat negara-negara di dunia berdasarkan jumlah penduduk


(2005):

1. Republik Rakyat Tiongkok (1.306.313.812 jiwa)

2. India (1.103.600.000 jiwa)


3. Amerika Serikat (298.186.698 jiwa)

4. Indonesia (241.973.879 jiwa)

5. Brasil (186.112.794 jiwa)

6. Pakistan (162.419.946 jiwa)

7. Bangladesh (144.319.628 jiwa)

8. Rusia (143.420.309 jiwa)

9. Nigeria (128.771.988 jiwa)

10. Jepang (127.417.244 jiwa)

Dengan pertambahan jumlah penduduk yang besar inilah kesadaran akan


penurunan tingkat kelahiran sebagai usaha-usaha menekan laju pertimbuhan
penduduk, menjadi program internasional yang mencakup hampir semua negara di
dunia.

2.TRANSISI VITAL

Transisi vital adalah perubahan-perubahan tingkat kelahiran dan tingkat


kematian yang berpengaruh pada pertumbuhan dan mobilitas penduduk.

Tahapan transisi vital (Bogue, 1969):

1. tahapan pratransisi (pre transitional), dari A hingga B dengan cirri-ciri


tingkat kelahiran dan kematian sama.
2. Transisi (transitional), dari B ke E, dicirikan dengan penurunan tingkat
kelahiran dan tinkat kematian
3. Pasca transisi (post transitional), dari E ke F, dicirikan oleh tingkat
kematian rendah dan tingkat kelahiran sedang.

Model transisi vital

3.TRANSISI MOBILITAS PENDUDUK

A. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Mobilitas Penduduk

Mobilitas penduduk mempunyai pengertian pergerakan penduduk dari satu


daerah ke daerah lain. Baik untuk sementara maupun untuk jangka waktu yang lama
atau menetap seperti mobilitas ulang-alik (komunitas) dan migrasi. Mobilitas
penduduk adalah perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat yang lain atau
dari suatu daerah ke daerah lain.
Penduduk yang melakukan mobilisasi tidaklah semata mata untuk berpindah
tempat saja, tetapi hal itu dilakukan oleh karena dorongan dari tiga faktor yaitu:

1. Penarik.

2. Pendorong.

3. Kendala.

Pada tahun 1885 E.G. Ravenstin ( Bogue, 1969: 755, dalam Suhardi, 2007)
mempublikasikan yang dia sebut sebagai 7 hukum-hukum perpindahan penduduk
(migrasi), yang terdiri dari:

1. Migrasi dan jarak, kebanyakan migran melakukan perpindahan dalam jarak dekat.
Bila jaraknya bertambah maka jumlah migrant yang berpindah menurun.

2. Migrasi bertahap, penduduk semula pindah dari daerah pedesaan ke tepi kota besar
sebelum masuk ke dalam kota besar tersebut.

3. Arus dan arus balik, tiap adanya arus migrasi akan terjadi juga migrasi arus balik.

4. Daerah urban (perkotaan) dan rural (pedesaan), penduduk perkotaan kurang


melakukan migrasi dibandingkan dengan penduduk daerah pedesaan.

5. Dominasi wanita pindah jarak dekat, dalam jarak dekat wanita pindah lebih banyak
daripada laki-laki.

6. Teknologi dan migrasi, perkembangan teknologi cenderung meningkatkan migrasi.

7. Dominasi motif ekonomi, walaupun berbagai jenis faktor dapat mendorong


terjadinya perpindahan akan tetapi keinginan untuk meningkatkan keadaan
ekonomi merupakan kekuatan yang paling potensial.

Faktor pendorong (push) yang bersifat sentrifugal dan penarik (pull) yang
bersifat sentripetal. Ardy (2008) mngungkapkan perpindahan dari daerah asal (area of
origin) dimungkinkan oleh karena adanya beberap faktor pendorong yaitu:

1. Turunnya sumber daya alam.


2. Hilangnya mata pencaharian.

3. Diskriminasi yang bersifat penekanan atau penyisihan

4. Memudarnya rasa ketertarikan oleh karena kesamaan kepercayaan, kebiasaan atau


kebersamaan perilaku baik antar anggota keluarga maupun masyarakat sekitar.

5. Menjauhkan diri dari masyarakat oleh karena tidak lagi kesempatan untuk
pengembangan diri, pekerjaan atau perkawinan.

6. Menjauhkan diri dari masyarakat oleh karena bencana alam seperti banjir,
kebakaran, kekeringan, gempa bumi, atau epidemic penyakit.

Perpindahan ke daerah tujuan (area of destination) dimungkinkan oleh karena


adanya beberapa faktor penarik yaitu:

1. Kesempatan yang melebihi untuk bekerja sesuai dengan latar belakang profesinya
dibandingkan di daerah asal.

2. Kesempatan memperoleh pendapatan yang lebih tinggi.

3. Kesempatan yang lebih tinggi memperoleh pendidikan atau pelatihan sesuai


dengan spesialisasi yang dikehendaki.

4. Keadaan lingkungan yang menyenangkan, seperti cuaca perumahan, sekolah, da


fasilitas umum lainnya.

5. Ketergantungan, seperti dari seorang isteri terhadap suaminya yang tinggal di


tempat yang dituju.

6. Penyediaan untuk melakukan berbagai kegiatan yang berbeda atau yang baru
dilihat dari berbagai sisi lingkungan, penduduk atau budaya masyarakat sekitar.

Faktor pendorong dan penarik perpindahan penduduk ada yang negatif dan
ada yang positif (Abidin, 2010). Faktor pendorong yang positif yaitu para migran
ingin mencari atau menambah pengalaman di daerah lain. Sedangkan faktor
pendorong yang negatif yaitu fasilitas untuk memenuhi kebutuhan hidup terbatas dan
lapangan pekerjaan terbatas pada pertanian. Faktor penarik yang positif yaitu daerah
tujuan mempunyai sarana pendidikan yang memadai dan lebih lengkap. Faktor
penarik yang negatif adalah adanya lapangan pekerjaan yang lebih bervariasi,
kehidupan yang lebih mewah, sehingga apa saja yang diperlukan akan mudah didapat
dikota.

Pada masing-masing daerah terdapat faktor-faktor yang menahan seseorang


untuk tidak meninggalkan daerahnya atau menarik orang untuk pindah ke daerah
tersebut (faktor +), dan ada pula faktor-faktor yang memaksa mereka untuk
meninggalkan daerah tersebut (faktor -). Selain itu ada pula faktor-faktor yang tidak
mempengaruhi penduduk untuk melakukan migrasi (faktor o). Diantara keempat
faktor tersebut, faktor individu merupakan faktor yang sangat menentukan dalam
pengambilan keputusan untuk migrasi. Penilaian positif atau negatif terhadap suatu
daerah tergantung kepada individu itu sendiri.

Besarnya jumlah pendatang untuk menetap pada suatu daerah dipengaruhi


besarnya faktor penarik (pull factor) daerah tersebut bagi pendatang. Semakin maju
kondisi sosial ekonomi suatu daerah akan menciptakan berbagai faktor penarik,
seperti perkembangan industri, perdagangan, pendidikan, perumahan, dan
transportasi. Kondisi ini diminati oleh penduduk daerah lain yang berharap dapat
memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Pada sisi lain, setiap daerah mempunyai
faktor pendorong (push factor) yang menyebabkan sejumlah penduduk migrasi ke luar
daerahnya. Faktor pendorong itu antara lain kesempatan kerja yang terbatas jumlah
dan jenisnya, sarana dan prasarana pendidikan yang kurang memadai,fasilitas
perumahan dan kondisi lingkungan yang kurang baik.

Everet S. Lee (1996, dalam Chotib, ___) menambahkan bahwa selain kedua
faktor pendorong dan penarik tersebut terdapat juga faktor kendala antar daerah asal
dengan daerah tujuan, yang kemudian dikenal dengan faktor-faktor penarik kebutuhan
(demand pull) pendorong penyediaan (supply push) dan jejaring (network).

B. Perubahan Mobilitas Penduduk Selama Transisi Demografi

Pada masa pretransisi, menurut Sutomo (2010:7) merupakan fase yang


memiliki ciri-ciri adanya tingkat kelahiran yang tinggi, tetai diikuti pula dengan
tingkat kematian yang tinggi. Dengan demikian, tidak terjadi perrtumbuhan
penduduk. Pada fase ini sumber daya manusia masih sangat rendah. pendidikan yang
diteriama oleh setiap orang sangat terbatas. Hal ini menyebabkan pengetahuan yang
dimiliki oleh orang-orang pada saat itu sangat rendah. Pengetahuan yang rendah ini
sangat berdampak pada cara hidup mereka. Dalam memenuhi kebutuhannya orang-
orang pada masa itu sangat bergantung pada alam. Terutama masalah kebutuhan
pokok yaitu pangan, orang-orang pada masa itu melakukan kegiatan hunting and
gathering yaitu berburu dan mengumpulkan makanan. Demikian pula dengan
kebutuhan-kebutuhan yang lainnya, mereka memenuhinya dengan cara yang paling
sederhana. Karena ketersediaan sumber daya alam di suatu daerah terbatas jika di
pakai terus-menerus suatu saat pasti akan habis juga. Jika hal ini terjadi maka
terjadilah perpidahan penduduk. Mereka mencari tempat baru yang menurut mereka
memiliki sumber daya alam yang melimpah yang bisa dipakai dalam beberapa waktu
yang lama. Perpidahan ini relatif sering dilakukan oleh masyarakat pada saat itu
sehingga mobilitasnya sangat tinggi.

Fase transisi dibagi menjadi 3 yaitu awal transisi, pertengahan transisi, dan
akhir transisi (Sutomo, 2010:7). Awal transisi memiliki ciri-ciri tingkat kematian
mulai menurun, tetapi tidak diikuti oleh penurunan tingkat kematian. Pertengahan
transisi ditandai menurunnya tingkat kelahihan, sementara tingkat kematian juga terus
menurun. Sedangkan akhir transisi dicirikan menurunnya tingkat kematian dengan
cepat, sementara laju penurunan tingkat kematian sudah melambat.

Sedangkan pada masa transisi, pendidikan sudah mulai berkembang.


Masyarakat pada masa ini sudah memiliki cukup pengetahuan untuk memenuhi
kebutuhannya dan tidak terlalu bergantung dengan alam. Penemuan-penemuan mulai
bermunculan, baik dalam bidang kesehatan maupun yang lainnya. Hal ini berdampak
besar bagi kualitas kehidupan manusia pada saat itu. Suatu perubahan yang paling
besar adalah masyarakat pada saat itu sudah dapat menernakkan dan
membudidayakan tanaman(domestikasi). Dengan berubahnya sistem hidup mereka
dari hunting and gathering menjadi system yang lebih efisien yaitu domestikasi maka
masyarakat pada saat itu mulai tingal menetap di suatu daerah. kebutuhan-kebutuhan
mereka mulai dapat dipenuhi sendiri, ketergantungan pada alam pun mulai berkurang.
Maka mobilitas masyarakat pun berkurang.
Fase terakhir yaitu fase posttransisi, menurut Sutomo (2010:7) mempunyai
ciri-ciri baik tingkat kelahiran maupun tingkat kematian keduanya berada pada
tingkat yang rendah. Dengan demikian, laju pertumbuhan penduduk menjadi sangat
kecil, bahkan dapat terjadi tidak ada lagi pertumbuhan penduduk.

Pada fase terakhir yaitu fase posttransisi, dimana pendidikan yang didapatkan
oleh setiap masyarakat sudah sangat tinggi, pengetahuan yang dimiliki pun bertambah
dengan pesat. Banyak penemuan penemuan baru di segala bidang. Kualitas
kesehatan dan bidang-bidang lainnya sangat meningkat. Peningkatan teknologi
menyebabkan semua kebutuhan yang diperlukan tersedia dalam suau tempat. Orang-
orang idak perlu lagi bepergian ke tempat-tempat yang jauh untuk memenuhi
kebutuhannya. Hal ini menyebabkan mobilitas penduduk pada masa itu sangat rendah.

TRANSISI VITAL DAN TRANSISI MOBILITAS PENDUDUK

TRANSISI VITAL TRANSISI MOBILITAS PENDUDUK


MASYARAKAT MAJU
FASE D FASE IV
FERTILITAS MENURUN MIGRASI DESA-KOTA=MENINGKAT
MORTALITAS=STABIL terjadi arus tenaga kerja tidak terlatih dari
pertumbuhan penduduk mendekati nol (0) desa
mobilitas sirkuler tenaga kerja terampil dan
professional meningkat dalam berbagai
variasi
MASYARAKAT SANGAT MAJU
FASE E FASE V
perilaku fertilitas tidak dapat di prediksi= Mobilitas turun= sarana komunikasi
karena kelahiran dapat dikontrol oleh sempurna
individu maupun lembaga sosial mobilitas sirkuler meningkat=akibat
kemampuan telekomunikasi dan informasi
bentuk-bentuk mobilitas sirkuler variatif
PERMASALAHAN PENDUDUK DAN
DAMPAKNYA TERHADAP
PEMBANGUNAN

Permasalahan Penduduk (Kuantitas dan Kualitas) : Pembangunan suatu bangsa berkaitan


erat dengan permasalahan kependudukannya. Suatu pembangunan dapat berhasil jika
didukung oleh subjek pembangunan, yakni penduduk yang memiliki kualitas dan kuantitas
yang memadai.

1. Permasalahan kuantitas penduduk di Indonesia :

Jumlah penduduk Indonesia : Besarnya sumber daya manusia Indonesia dapat di lihat dari
jumlah penduduk yang ada. Jumlah penduduk di Indonesia berada pada urutan keempat
terbesar setelah Cina, India, dan Amerika Serikat.

Pertumbuhan Penduduk Indonesia : Peningkatan penduduk dinamakan pertumbuhan


penduduk. Angka pertumbuhan penduduk Indonesia Lebih kecil dibandingkan Laos, Brunei,
dan Filipina.

Kepadatan penduduk Indonesia : Kepadatan penduduk merupakan perbandingan jumlah


penduduk terhadap luas wilayah yang dihuni. Ukuran yang digunakan biasanya adalah jumlsh
penduduk setiap satu km2 atau setiap 1mil2. permasalahan dalam kepadatan penduduk adalah
persebarannya yang tidak merata. Kondisi demikian menimbulkan banyak permasalahan,
misalnya pengangguran, kemiskinan, kriminalitas, pemukiman kumuh dsb.

Susunan penduduk Indonesia : sejak sensesus penduduk tahun 1961, piramida penduduk
Indonesia berbentuk limas atau ekspansif. Artinya pada periode tersebut, jumlah penduduk
usia muda lebih banyak daripada penduduk usia tua. Susunan penduduk yang seperti itu
memberikan konsekuensi terhadap hal-hal berikut.

Penyediaan fasilitas kesehatan.

Penyediaan fasilitas pendidikan bagi anak usia sekolah

Penyediaan lapangan pekerjaan bagi penduduk kerja

Penyediaan fasilitas social lainnya yang mendukung perkembangan penduduk usia muda.
Upaya-upaya Pemecahan Permasalahan Kuantitas Penduduk Indonesia : Upaya
pemerintah mengatasi permasalahan kuantitas penduduk antara lain, dengan pengendalian
jumlah dan pertumbuhan penduduk serta pemerataan persebaran penduduk.

a. Pengendalian jumlah danpertumbuhan penduduk : Dilakukan dengan cara menekan angka


kelahiran melalui pembatasan jumlah kelahiran, menunda usia perkawinan muda, dan
meningkatkan pendidikan.

b. Pemerataan Persebaran Penduduk : Dilakukan dengan cara transmigrasi dan pembangunan


industri di wilayah yang jarang penduduknya. Untuk mencegah migrasi penduduk dari desa
kekota, pemerintah mengupayakan berbagai program berupa pemerataan pembangunan
hingga ke pelosok, perbaikan sarana dan prasarana pedesaan, dan pemberdayaan ekonomi di
pedesaan.

2. Permasalahan Kualitas Penduduk di Indonesia

Tingkat Kesehatan : Kondisi kesehatan di Indonesia masih belum ada kemajuan.


Dibandingkan dengan Negara yang lain Indonesia masih tertinggal jauh. Kondisi demikian
terjadi karena masih rendahnya pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan yang ada masih
belum memenuhi kebutuhan seluruh penduduk.

Tingkat pendidikan : Merupakan modal pembangunan yang penting disamping kesehatan.


Kemajuan pendidikan di Indonesia dapat dilihat dari lama sekolah dan tingkat melek huruf
penduduk.

Lama Sekolah: lama sekolah seseorang dapat menunjukan tingkat pendidikannya. Lama
sekolah penduduk Indonesia masih tergolong rendah. Artinya, tingkat pendidikan masyarakat
Indonesia rata-rata masih berada pada taraf pendidikan dasar.

Tingkat melek huruf : seseorang dikatakan melek huruf jika orang tersebut dapat membaca
atau tidak buta huruf. Kemajuan tingkat melek huruf di Indonesia tergolong pesat.

Tingkat Pendapatan per Kapita (Percapita Income=PcI): adalah rata-rata pendapatan


penduduk suatu Negara dalam satu tahun. Pendapatan perkapita secara umum
menggambarkan kemakmuran suatu Negara.

o Dampak PermasalahanPenduduk Terhadap Pembangunan : Permasalahan kependudukan


membawa dampak bagi pembangunan di Indonesia. Dampak-dampak tersebut dapat dilihat
dibawah ini :
[ Ketidakmerataan penduduk menyebabkan tidak meratanya pembangunan ekonomi di seluruh
wilayah Indonesia. Hal ini menyebabkan masih terdapatnya daerah tertinggal, terutama
daerah-daerah pedalaman yang jauh dari pusat kota.

[ Ledakan penduduk akibat angka kelahiran yang tinggi menyebabkan semakin tingginya
kebutuhan penduduk akan perumahan, bahan pangan, dan kebutuhan tersier lainnya.

[ Ledakan penduduk juga mengakibakan angka beban ketergantungan menjadi lebih tinggi. Hal
ini disebabkan angka usia non produktif lebih besar daripada usia produktif.

[ Arus urbanisasi yang tidak diimbangi dengan pendidikan dan ketrampilan yang cukup
menimbulkan masalah pengangguran, kriminalitas, prostitusi, munculnya daerah kumuh, dan
kemiskinan di daerah perkotaan. Hal tersebut dapat menghambat pembangunan, baik di
daerah pedesaan (daerah asal) maupun daerah perkotaan (tujuan)

[ Timbulnya berbagai masalah kerusakan lingkungan akibat pertambahan penduduk manusia.

[ Masalah kemacetan lalu lintas dapat mengurangi arus mobilitas penduduk, barang, dan jasa
yang akan berakibat pada terhambatnya perkembangan ekonomi penduduk.

Permasalahan Kuantitas Penduduk dan Dampaknya dalam Pembangunan

Jumlah penduduk yang besar berdampak langsung terhadap pembangunan berupa tersedianya
tenaga kerja yang sangat diperlukan dalam pelaksanaan pembangunan. Akan tetapi kuantitas
penduduk tersebut juga memicu munculnya permasalahan yang berdampak terhadap
pembangunan. Permasalahan-permasalahan tersebut di antaranya:

1. Pesatnya pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan kemampuan produksi


menyebabkan tingginya beban pembangunan berkaitan dengan penyediaan pangan,
sandang, dan papan.

2. Kepadatan penduduk yang tidak merata menyebabkan pembangunan hanya terpusat


pada daerah-daerah tertentu yang padat penduduknya saja. Hal ini menyebabkan hasil
pembangunan tidak bisa dinikmati secara merata, sehingga menimbulkan kesenjangan
sosial antara daerah yang padat dan daerah yang jarang penduduknya.
3. Tingginya angka urbanisasi menyebabkan munculnya kawasan kumuh di kota-kota
besar, sehingga menimbulkan kesenjangan sosial antara kelompok kaya dan
kelompok miskin kota.

4. Pesatnya pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan volume pekerjaan


menyebabkan terjadinya pengangguran yang berdampak pada kerawanan sosial.

Permasalahan Kualitas Penduduk dan Dampaknya terhadap Pembangunan


Berbagai permasalahan yang berkaitan dengan kualitas penduduk dan dampaknya terhadap
pembangunan adalah sebagai berikut:
# Masalah tingkat pendidikan
Keadaan penduduk di negara-negara yang sedang berkembang tingkat pendidikannya relatif
lebih rendah dibandingkan penduduk di negara-negara maju, demikian juga dengan tingkat
pendidikan penduduk Indonesia.Rendahnya tingkat pendidikan penduduk Indonesia
disebabkan oleh:

1. Tingkat kesadaran masyarakat untuk bersekolah rendah.

2. Besarnya anak usia sekolah yang tidak seimbang dengan penyediaan sarana
pendidikan.

3. Pendapatan perkapita penduduk di Indonesia rendah.

Dampak yang ditimbulkan dari rendahnya tingkat pendidikan terhadap pembangunan adalah:

1. Rendahnya penguasaan teknologi maju, sehingga harus mendatangkan tenaga ahli


dari negara maju. Keadaan ini sungguh ironis, di mana keadaan jumlah penduduk
Indonesia besar, tetapi tidak mampu mencukupi kebutuhan tenaga ahli yang sangat
diperlukan dalam pembangunan.

2. Rendahnya tingkat pendidikan mengakibatkan sulitnya masyarakat menerima hal-hal


yang baru. Hal ini nampak dengan ketidakmampuan masyarakat merawat hasil
pembangunan secara benar, sehingga banyak fasilitas umum yang rusak karena
ketidakmampuan masyarakat memperlakukan secara tepat. Kenyataan seperti ini
apabila terus dibiarkan akan menghambat jalannya pembangunan. Oleh karena itu,
pemerintah mengambil beberapa kebijakan yang dapat meningkatkan mutu
pendidikan masyarakat.

Usaha-usaha tersebut di antaranya:

Pencanangan wajib belajar 9 tahun.

Mengadakan proyek belajar jarak jauh seperti SMP Terbuka dan Universitas Terbuka.

Meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan (gedung sekolah, perpustakaan,


laboratorium, dan lain-lain).

Meningkatkan mutu guru melalui penataran-penataran.

Menyempurnakan kurikulum sesuai perkembangan zaman.

Mencanangkan gerakan orang tua asuh.

Memberikan beasiswa bagi siswa yang berprestasi.

# Masalah kesehatan
Tingkat kesehatan suatu negara umumnya dilihat dari besar kecilnya angka kematian, karena
kematian erat kaitannya dengan kualitas kesehatan.
Kualitas kesehatan yang rendah umumnya disebabkan:

1. Kurangnya sarana dan pelayanan kesehatan.

2. Kurangnya air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

3. Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan.

4. Gizi yang rendah.

5. Penyakit menular.

6. Lingkungan yang tidak sehat (lingkungan kumuh).


Dampak rendahnya tingkat kesehatan terhadap pembangunan adalah terhambatnya
pembangunan fisik karena perhatian tercurah pada perbaikan kesehatan yang lebih utama
karena menyangkut jiwa manusia. Selain itu, jika tingkat kesehatan manusia sebagai objek
dan subjek pembangunan rendah, maka dalam melakukan apa pun khususnya pada saat
bekerja, hasilnya pun akan tidak optimal.
Untuk menanggulangi masalah kesehatan ini, pemerintah mengambil beberapa tindakan
untuk meningkatkan mutu kesehatan masyarakat, sehingga dapat mendukung lancarnya
pelaksanaan pembangunan. Upaya-upaya tersebut di antarnya:

1. Mengadakan perbaikan gizi masyarakat.

2. Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular.

3. Penyediaan air bersih dan sanitasi lingkungan.

4. Membangun sarana-sarana kesehatan, seperti puskesmas, rumah sakit, dan lain-lain.

5. Mengadakan program pengadaan dan pengawasan obat dan makanan.

6. Mengadakan penyuluhan tentang kesehatan gizi dan kebersihan lingkungan.

# Masalah tingkat penghasilan/pendapatan


Tingkat penghasilan/pendapatan suatu negara biasanya diukur dari pendapatan per kapita,
yaitu jumlah pendapatan rata-rata penduduk dalam suatu negara.
Negara-negara berkembang umumnya mempunyai pendapatan per kapita rendah, hal ini
disebabkan oleh:

1. Pendidikan masyarakat rendah, tidak banyak tenaga ahli, dan lain-lain.

2. Jumlah penduduk banyak.

3. Besarnya angka ketergantungan.

Berdasarkan pendapatan per kapitanya, negara digolongkan menjadi 3, yaitu:

1. Negara kaya, pendapatan per kapitanya > US$ 1.000.

2. Negara sedang, pendapatan per kapitanya = US$ 300 1.00.


3. Negara miskin, pendapatan per kapitanya < US$ 300.

Adapun dampak rendahnya tingkat pendapatan penduduk terhadap pembangunan adalah:

1. Rendahnya daya beli masyarakat menyebabkan pembangunan bidang ekonomi kurang


berkembang baik.

2. Tingkat kesejahteraan masyarakat rendah menyebabkan hasil pembangunan hanya


banyak dinikmati kelompok masyarakat kelas sosial menengah ke atas.

Untuk meningkatkan pendapatan masyarakat (kesejahteraan masyarakat), sehingga dapat


mendukung lancarnya pelaksanaan pembangunan pemerintah melakukan upaya dalam
bentuk:

1. Menekan laju pertumbuhan penduduk.

2. Merangsang kemauan berwiraswasta.

3. Menggiatkan usaha kerajinan rumah tangga/industrialisasi.

4. Memperluas kesempatan kerja.

5. Meningkatkan GNP dengan cara meningkatkan barang dan jasa.