Anda di halaman 1dari 4

Nama : Arrum Larasati Rohmania

NIM : 150342605291

Offering : i

SISTEM RESPIRASI

Respirasi yaitu suatu proses pembebasan energi yang tersimpan dalam zat zumber energi
melalui proses kimia dengan menggunakan oksigen. Dari respirasi akan dihasilkan energi
kimia ATP untuk kegiatan kehidupan, seperti sintesis (anabolisme), gerak, pertumbuhan. dari
daur krebs akan keluar elektron dan ion H+ yang dibawa sebagai NADH2 dan FADH2,
sehingga didalam mitokondria akan terbentuk air, sebagai hasil sampingan atau proses
pernafasan selain dari CO2. Produk sampingan respirasi tersebut pada akhirnya dibuang ke
luar tubuh melalui stomata dan melalui paru-paru peristiwa pernafasan pada hewan tingkat
tinggi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi difusi:

1. ketebalan membrana
2. luas permukaan membrana
3. koefisien difusi gas dalam substansi membrana
4. perbedaan tekanan antara kedua sisi membrana.

Anatomi Sistem Pernapasan Secara anatomi fungsi pernapasan dimulai dari hidung sampai ke
parenkim paru. Secara fungsional saluran pernapasan dibagi atas bagian yang berfungsi
sebagai konduksi (pengantar gas) dan bagian yang berfungsi sebagai respirasi (pertukaran
gas). Pada bagian konduksi, udara seakan-akan bolak-balik diantara atmosfer dan jalan
napas. Oleh karena itu, bagian ini seakan-akan tidak berfungsi dan disebut dead space.
Akan tetapi fungsi tambahan dari konduksi, seperti proteksi dan pengaturan kelembaban
udara, justru dilakukan pada bagian ini. Adapun yang termasuk ke dalam konduksi ini adalah
rongga hidung, faring, laring, trakea, sinus bronkus dan bronkiolus non respiratorius. Pada
bagian respirasi akan terjadi pertukaran udara (difus) yang sering disebut unit paru (lung unit)
yang terdiri dari bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris dan sakus alveolaris (Evelyn C,
2009).Saluran pernapasan dari hidung sampai bronkiolus dilapisi oleh membran mukosa yang
bersilia. Ketika udara masuk ke dalam rongga hidung, udara tersebut disaring, dihangatkan
dan dilembabkan. Ketiga proses ini merupakan fungsi utama dari mukosa respirasi yang
terdiri dari epitel toraks bertingkat, bersilia, dan bersel goblet. Permukaan epitel diliputi oleh
lapisan mukus yang disekresi oleh sel goblet dan kelenjar serosa. Partikel-partikel debu yang
kasar dapat disaring oleh rambut-rambut yang terdapat dalam lubang hidung, sedangkan
partikel yang halus akan terjaring dalam lapisan mukus. Gerakan silia akan mendorong
lapisan mukus ke posterior di dalam rongga hidung, dan ke superior di dalam sistem
pernapasan bagian bawah menuju ke faring. Dari sini lapisan mukus akan tertelan atau
dibatukkan keluar (Snell, 2011)
Udara mengalir dari faring menuju laring atau kotak suara. Laring merupakan rangkaian
cincin tulang rawan yang dihubungkan oleh otot-otot yang mengandung pita suara. Diantara
pita suara terdapat ruang berbentuk segitiga yang bermuara di dalam trakea dinamakan glotis.
Glotis merupakan pemisah antara saluran pernapasan bagian atas dan bawah. Jika benda
asing mampu melampaui glotis, maka laring yang mempunyai fungsi batuk akan membantu
mengeluarkan benda dan sekret keluar dari saluran pernapasan bagian bawah. Trakea
disokong oleh cincin tulang rawan yang berbentuk seperti sepatu kuda yang panjangnya
kurang lebih 5 inci. Tempat dimana trakea bercabang menjadi bronkus utama kiri dan kanan
dikenal sebagai karina. Karina memiliki banyak saraf dan dapat menyebabkan bronkospasme
dan batuk yang kuat jika dirangsang. Paru-paru adalah dua organ yang berbentuk seperti
bunga karang besar yang terletak di dalam rongga toraks. Paru-paru sebelah kiri mempunyai
2 lobus sedangkan paru-paru kanan mempunyai 3 lobus. Setiap lobus dibagi menjadi segmen-
segmen yang disebut bronco-pulmoner. Bronkus utama kiri dan kanan tidak simetris.
Bronkus kanan lebih pendek dan lebih lebar. Cabang utama bronkus bercabang lagi menjadi
bronkus lobaris dan kemudian bronkus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus menjadi
bronkus yang ukurannya semakin kecil sampai akhirnya menjadi bronkiolus terminalis, yaitu
saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli (kantung udara). Bronkus terminalis
bercabang secara berulang untuk membentuk saluran yang disebut duktus alveolar. Disinilah
kantong alveolar dan alveoli terbuka. Alveoli dikelilingi jalinan kapiler. Darah yang
mengalami deoksigenasi memasuki jaringan kapiler arteri untuk memasuki vena pulmoner.
Di jaringan pipa kapiler ini berlangsung pertukaran gas antara udara di dalam alveoli dan
darah di dalam pembuluh darah (Evelyn C, 2009).

Udara bergerak masuk dan keluar paru-paru karena ada selisih tekanan yang terdapat antara
atmosfer dan alveolus akibat kerja mekanik otot-otot. Seperti yang telah diketahui, rangka
toraks berfungsi sebagai pompa. Selama inspirasi, volume toraks bertambah besar karena
diafragma turun dan iga terangkat akibat kontraksi beberapa otot. Otot yang paling penting
yang mengangkat rangka iga adalah otot interkostalis eksterna tetapi otot-otot lain yang
membantunya adalah sternokleidomastoideus mengangkat sternum ke atas, serratus anterior
mengangkat sebagian besar iga dan skalenus mengangkat dua iga pertama (Guyton, 2011).
Toraks membesar ke tiga arah : anteroposterior, lateral dan vertikal. Peningkatan volume ini
menyebabkan tekanan intrapleura, dari sekitar -4 mmHg menjadi sekitar -8 mmHg bila paru
mengembang pada waktu inspirasi. Pada saat yang sama tekanan intrapulmonal atau tekanan
jalan napas menurun sampai sekitar -2 mmHg (relative terhadap tekanan atmosfer) dari 0
mmHg pada waktu mulai inspirasi. Selisih tekanan antara jalan napas dan atmosfer
menyebabkan udara mengalir ke dalam paru sampai tekanan jalan napas pada akhir inspirasi
sama dengan tekanan atmosfer (Price & Wilson, 2005).Situasi faal paru seseorang dikatakan
normal jika hasil kerja proses ventilasi, distribusi, perfusi, difusi, serta hubungan antara
ventilasi dengan perfusi pada orang tersebut dalam keadaan santai menghasilkan tekanan
parsial gas darah arteri (PaO2 dan PaCO2) yang normal. Yang dimaksud keadaan santai
adalah ketika jantung dan paru tanpa beban kerja yang berat (Djojodibroto R. D,
2009).Tekanan parsial gas arteri yang normal adalah PaO2 sekitar 96 mmHg dan Pa CO2
sekitar 40 mmHg. Tekanan parsial ini diupayakan dipertahankan tanpa memandang
kebutuhan oksigen yang berbeda-beda, yaitu saat tidur kebutuhan oksigen 100mL/menit
dibandingkan dengan saat ada beban kerja (exercise), 2000-3000 mL/menit (Djojodibroto R.
D, 2009).Respirasi adalah suatu proses pertukaran gas antara organisme dengan lingkungan,
yaitu pengambilan oksigen dan eliminasi karbondioksida. Respirasi eksternal adalah proses
pertukaran gas (O2 dan CO2) antara darah dan atmosfer sedangkan respirasi internal adalah
proses pertukaran gas (O2 dan CO2) antara darah sirkulasi dan sel jaringan (Djojodibroto R.
D, 2009).Pertukaran gas memerlukan 4 proses yang mempunyai ketergantungan satu sama
lain :
Proses yang berkaitan dengan volume udara napas dan distribusi
ventilasi
Proses yang berkaitan dengan volume darah di paru dan distribusi
aliran darah
Proses yang berkaitan dengan difusi O2 dan CO2
Proses yang berkaitan dengan regulasi pernapasan

Pengaruh suhu,pH, dan kadar CO2 pada kemapuan Hb untuk mengikat O2 Dan CO2

Oxygen akan ditransport oleh hemoglobin (98.5%) dan larut dalam plasma
(1.5%)Kurva disosiasi Oxygen-hemoglobin menunjukkan bahwa hemoglobin akan
tersaturasi penuh jika P02 adalah 80 mm Hg atau lebih. Pada tekanan parsial yang
lebih rendah, hemoglobin akan melepaskan oxygen.Pergeseran kurva ke kiri, terjadi
karena peningkatan pH, penurunan carbon dioxide, atau penurunan temperatur
sebagai hasil dari peningkatan kemampuan hemoglobin untuk mengikat oksigen.
Pergersaran kurva ke kanan terjadi karena penurunan pH, peningkatan carbon dioxide,
atau peningkatan temperatur karena menurunnya kemampuan hemoglobin untuk
mengikat oxygen Zat 2.3-bisphosphoglycerate meningkatkan kemampuan
hemoglobin melepaskan oxygen. Hemoglobin Fetal memiliki afinitas lebih tinggi
dibandingkan dengan maternal

Carbon dioxide ditranspor dalam bentuk ion bikarbonat (70%), kombinasi dengan Hb
darah (23%) dan terlarut pada plasma (7%) .Hemoglobin yang telah melepaskan
oksigen akan lebih mudah mengikat karbondioksida dibandingkan dengan
hemoglobin yanh masih terikat dengan oksigen (efek Haldane). Pada kapiler jaringan,
karbondioksida berikatan dengan air membentuk asam karbonat, didalam eritrosit,
asam karbonat akan berdisosiasi membentuk ion bikarbonat dan ion hydrogen. Pada
kapiler paru, ion bikarbonat dan hidrogen keluar dari eritrosit dan ion cl keluar. Ion
bikarbonat berikatan dengan ion H untuk membentuk asam karbonat dan air. Asam
karbonat diubah kembali menjadi CO2 dan air kemudian berdifusi keluar dari
eritrosit. Peningkatan karbondioksida plasma akan menurukan pH. Sistem respirasi
akan mengatur keasaman darah dengan mengatur kadar CO2 plasma.

Pengendalian Pernfasan

Mekanisme pernafasan diatur dan dikendalikan oleh 2 fakt or utama yaitu kimiawi dan
pengendalian oleh saraf.

Pertanyaan :
1. Apa akibat jika kekurangan oksigen pada tubuh sehingga mempengaruhi pernfasan?
Tubuh akan mengalami beberapa masalah contohnya adalah akan timbul rasa lelah,
kesulitan dalam bernafas, dan nyeri otot

2. Bagaimana akibat dari merokok ?


Merokok mengurangi efisiensi respirasi
a. Deposit tar & kimia lainnya
b. Pembengkakan dinding mukosa dan peningkatan produksi mukus
i. Menghambat aliran udara
c. Menghancurkan silia dan menghambat gerakannya
i. Mengurangi pengelluaran mukus dan debris yang berlebihan