Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah

Nilai perusahaan (Value Of The Firm) merupakan kondisi tertentu yang telah dicapai oleh
suatu perusahaan sebagai gambaran dari kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan setelah
melalui suatu proses kegiatan selama beberapa tahun, yaitu sejak perusahaan tersebut didirikan
sampai dengan saat ini. Meningkatnya nilai perusahaan adalah sebuah prestasi, yang sesuai
dengan keinginan para pemiliknya, karena dengan meningkatnya nilai perusahaan, maka
kesejahteraan para pemilik juga akan meningkat.

Nilai Perusahaan sangat penting karena dengan nilai perusahaan yang tinggi akan diikuti oleh
tingginya kemakmuran pemegang saham (Bringham Gapensi, 1996). Semakin tinggi harga
saham semakin tinggi nilai perusahaan. Nilai perusahaan yang tinggi menjadi keinginan para
pemilik perusahaan, sebab dengan nilai yang tinggi menunjukan kemakmuran pemegang saham
juga tinggi. Kekayaan pemegang saham dan perusahaan dipresentasikan oleh harga pasar dari
saham yang merupakan cerminan dari keputusan investasi, pendanaan (financing), dan
manajemen asset.

Menurut Fama (1978) dalam Untung wahyudi et.al , nilai perusahaan akan tercermin dari harga
sahamnya. Harga pasar dari saham perusahaan yang terbentuk antara pembeli dan penjual disaat
terjadi transaksi disebut nilai pasar perusahaan, karena harga pasar saham dianggap cerminan
dari nilai asset perusahaan sesungguhnya. Nilai perusahaan yang dibentuk melalui indikator nilai
pasar saham sangat dipengaruhi oleh peluang-peluang investasi. Adanya peluang investasi dapat
memberikan sinyal positif tentang pertumbuhan perusahaan dimasa yang akan datang, sehingga
akan meningkatkan harga saham, dengan meningkatnya harga saham maka nilai perusahaan pun
akan meningkat.

Free cash flow menyatakan bahwa tekanan pasar akan mendorong manajer untuk
mendistribusikan free cash flow kepada pemegang saham atau resiko akan kehilangan kendali
terhadap perusahaan. Menurut Jensen ( 1986 : 137 ) free cash flow adalah kelebihan kas yang
dipelukan untuk mendanai semua proyek yang memiliki net present value positif setelah
membagi dividen.

Dari latar belakang di atas maka dapat di simpulkan bahwa pentingnya Laporan Arus Kas Bebas
pada PT.ASTRA GRAPHIA Tbk (Persero) maka kami membahas masalah laporan Arus Kas
Bebas (Free cash Flow).

I.2 Tujuan

Adapun tujuan dari pembuatan Makalah ini yaitu:


1. Untuk mengetahui pengertian nilai perusahaan ?

2. Mengetahui indikator yang mempengaruhi nilai perusahaan ?

3. Mengetahui pengertian teori perusahaan?

4. Untuk mengetahui nilai pasar ?

5. Untuk mengetahui Bagaimana arus kas bebas pada PT.Astra Graphia Tbk.

1.3 RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaiman arus kas Bebas pada PT.Astra Graphia
Tbk (ASGR) ?

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Pengertian Teori Perusahaan (Theory of the firm)

Teori Perusahaan (Thoery of the firm) adalah suatu organisasi yang menggabungkan dan
mengorganisasikan berbagai sumber daya dengan tujuan untuk memproduksi barang / jasa untuk
dijual.

Pada dasarnya kita semua mengetahui apa itu pengertian teori perusahaan / Theory of the firm
tapi berikut ini kita akan mengetahui beberapa pengertian teori perusahaan / Theory of the firm
yaitu:

FIRM : Organisasi yang menggabungkan dan mengatur semua sumberdaya yang


tersedia untuk menghasilkan barang dan jasa yang siap dijual.Perusahaan itu ada ditengahtengah
masyarakat karena kemaslahatannya dalam proses pendistribusian akan barang dan jasa yang
sulit untuk dilakukan oleh individuindividu secara terpisah.

Dalam jangka panjang keberadaan mereka tidak saja menguntungkan bagi pemilik / pemegang
saham, namun juga akan membawa manfaat bagi masyarakat luas dan pemerintah melalui suatu
proses yang disebut arus kegiatan ekonomi ( The Circular Flow of Economic Actifity ).

Teori perusahaan adalah konsep dasar yang digunakan dalam kebanyakan studi ekonomi
manajerial.

2.1.1 Butir-butir Penting Teori Perusahaan

Berikut adalah butir-butir penting teori perusahaan :


1. Perusahaan bisnis adalah kombinasi antara antara: orang, asset fisik dan keuangan, serta
system dan informasi informasi.

2. Orang yang terlibat langsung langsung: shareholders, management, employee,


supplier, customers mereka dipengaruhi secara langsung oleh operasional perusahaan
perusahaan.

3. Society (stakeholders) kegiatan firm yaitu:

(1) Bisnis stakeholders dipengaruhi oleh karena gunakan sumberdaya yang langka langka;

(2) Bisnis membayar pajak pajak;

(3) Bisnis menyediakan pekerjaan pekerjaan; dan

(4) Bisnis memproduksi barang dan jasa untuk masyarakat masyarakat. Oleh karena itu,
perusahaan harus beroperasi secara optimal optimal. Teori Perusahaan mengakui maksimisasi
laba sebagai sasaran utama perusahaan perusahaan. Pertama Pertama-tama maksimisasi laba
jangka pendek pendek. Untuk jangka panjang, maksimisasi nilai yang diharapkan (expected
value value).

2.2. Nilai Perusahaan (Value Of The Firm)

Nilai perusahaan (Value Of The Firm) merupakan kondisi tertentu yang telah dicapai oleh
suatu perusahaan sebagai gambaran dari kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan setelah
melalui suatu proses kegiatan selama beberapa tahun, yaitu sejak perusahaan tersebut didirikan
sampai dengan saat ini. Meningkatnya nilai perusahaan adalah sebuah prestasi, yang sesuai
dengan keinginan para pemiliknya, karena dengan meningkatnya nilai perusahaan, maka
kesejahteraan para pemilik juga akan meningkat.

Nilai Perusahaan sangat penting karena dengan nilai perusahaan yang tinggi akan diikuti oleh
tingginya kemakmuran pemegang saham (Bringham Gapensi, 1996). Semakin tinggi harga
saham semakin tinggi nilai perusahaan. Nilai perusahaan yang tinggi menjadi keinginan para
pemilik perusahaan, sebab dengan nilai yang tinggi menunjukan kemakmuran pemegang saham
juga tinggi. Kekayaan pemegang saham dan perusahaan dipresentasikan oleh harga pasar dari
saham yang merupakan cerminan dari keputusan investasi, pendanaan (financing), dan
manajemen asset.

Menurut Fama (1978) dalam Untung wahyudi et.al , nilai perusahaan akan tercermin dari harga
sahamnya. Harga pasar dari saham perusahaan yang terbentuk antara pembeli dan penjual disaat
terjadi transaksi disebut nilai pasar perusahaan, karena harga pasar saham dianggap cerminan
dari nilai asset perusahaan sesungguhnya. Nilai perusahaan yang dibentuk melalui indikator nilai
pasar saham sangat dipengaruhi oleh peluang-peluang investasi. Adanya peluang investasi dapat
memberikan sinyal positif tentang pertumbuhan perusahaan dimasa yang akan datang, sehingga
akan meningkatkan harga saham, dengan meningkatnya harga saham maka nilai perusahaan pun
akan meningkat.

2.2.1 Indikator- indikator yang mempengaruhi nilai perusahaan

2.2.1.1 PER (Price Earning Ratio)

PER yaitu rasio yang mengukur seberapa besar perbandingan antara harga saham perusahaan
dengan keuntungan yang diperoleh para pemegang saham. ( Sutrisno, 2000 dalam Mohammad
Usman,2001 dalam Malla Bahagia,2008).
Rumus yang digunakan adalah :
Harga Pasar Saham

PER= -

Laba per Lembar Saham

Faktor-faktor yang mempengaruhi PER adalah :

Tingkat pertumbuhan laba

Dividend Payout Ratio

Tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh pemodal.

Menurut Basuku Yusuf, 2005 dalam Malla Bahagia, 2008, hubungan faktor-faktor tersebut
terhadap PER dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Semakin tinggi Pertumbuhan laba semakin tinggi PER nya, dengan kata lain hubungan
antara pertumbuhan laba dengan PER nya bersifat positif. Hal ini dikarenakan bahwa
prospek perusahaan dimasa yang akan datang dilihat dari pertumbuhan laba, dengan laba
perusahaan yang tinggi menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengelola biaya
yang dikeluarkan secara efisien. Laba bersih yang tinggi menunjukkan earning per share
yang tinggi, yang berarti perusahaan mempunyai tingkat profitabilitas yang baik, dengan
tingkat profitabilitas yang tinggi dapat meningkatkan kepercayaan pemodal untuk
berinvestasi pada perusahaan tersebut sehingga saham-saham dari perusahaan yang
memiliki tingkat profitabilitas dan pertumbuhan laba yang tinggi akan memiliki PER
yang tinggi pula, karena saham-saham akan lebih diminati di bursa sehingga
kecenderungan harganya meningkat lebih besar.

2. Semakin tinggi Dividend Payout Ratio (DPR), semakin tinggi PER nya. DPR memiliki
hubungan positif dengan PER, dimana DPR menentukan besarnya dividen yang diterima
oleh pemilik saham dan besarnya dividen ini secara positif dapat mempengaruhi harga
saham terutama pada pasar modal didominasi yang mempunyai strategi mangejar dividen
sebagai target utama, maka semakin tinggi dividen semakin tinggi PER.

3. Semakin tinggi required rate of return (r) semakin rendah PER, r merupakan tingkat
keuntungan yang dianggap layak bagi investasi saham, atau disebut juga sebagai tingkat
keuntungan yang disyaratkan. Jika keuntungan yang diperoleh dari investasi tersebut
ternyata lebih kecil dari tingkat keuntungan yang disyaratkan, berarti hal ini
menunjukkan investasi tersebut kurang menarik, sehingga dapat menyebabkan turunnya
harga saham tersebut dan sebaliknya. Dengan begitu r memiliki hubungan yang negatif
dengan PER, semakin tinggi tingkat keuntungan yang diisyaratkan semakin rendah nilai
PER nya.

PER adalah fungsi dari perubahan kemampuan laba yang diharapkan di masa yang akan datang.
Semakin besar PER, maka semakin besar pula kemungkinan perusahaan untuk tumbuh sehingga
dapat meningkatkan nilai perusahaan.

2.2.1.2 PBV (Price Book Value)

Rasio ini mengukur nilai yang diberikan pasar keuangan kepada manajemen dan organisasi
perusahaan sebagai sebuah perusahaan yang terus tumbuh (Brigham, 1999: 92).

Rumus yang digunakan adalah :

Harga Pasar per Lembar Saham

PBV =

Nilai Buku per Lembar Saham hasil akhir dari akuntansi yang merupakan suatu ringkasan
transaksi keuangan.

2.3 Pengertian Arus Kas Bebas

Arti sederhana dan singkat Arus Kas Bebas adalah sisa perhitungan arus kas yang dihasilkan oleh
suatu perusahaan di akhir suatu periode keuangan (kuartalan atau tahunan)setelah membayar
gaji, biaya produksi, tagihan, cicilan hutang berikut bunganya, pajak, dan juga belanja modal
(capital expenditure) untuk pengembangan usaha. Sisa uang inilah yang disebut Arus Kas Bebas.
Meski dinamankan bebas tapi manajemen tidak bisa sebebasnya menggunakan uang ini karena
uang sisa inilah yang bisa digunakan untuk mengembangkan usaha, kalau tidak mengambil dana
dari hutang dan sumber dana lainnya.

2.3.1 Pendekatan Free Cash Flow


Berbeda dengan pendekatan arus deviden yang menghitung nilai perlembar saham (atau secara
agregat) nilai seluruh modal sendiri, metode free cash flow ini bisa berkembang dari sekedar
penilaian saham biasa sampai kepada penilaian perusahaan secara keseluruhan.

Apabila dalam pendekatan arus deviden kita memfokuskan pada besarnya giliran deviden
pertahunnya, dalam pendekatan ini kita memfokuskan pada besarnya hasil kegiatan operasi
perusahaan yang diukur dengan net operating income-nya (NOI), atau kita sebut saja X.

Untuk lebih memahami pendekatan ini, maka pertama-tama kita mengasumsikan suatu
perusahaan yang seluruhnya dibelanjai dengan modal sendiri. Berikut ini akan ditujukan
berbagai rumus perhitungan nilai dengan metode free cash flow berdasarkan pola pertumbuhan
yang berbeda-beda.

1. Nilai Perusahaan Tanpa Pertumbuhan

Perusahaan yang Xnya tidak mengalami pertumbuhan, metode penilaiannya sama dengan
perpetuity yang arus pertahunnya seragam.

Rumus penilaian untuk perusahaan yang tidak mengalami pertumbuhan adalah :

Vu = x ( l T ) = S

ku

Dimana : Vu = nilai perusahaan tanpa hutang

X = NOI perusahaan

ku = biaya modal perusahaan tanpa hutang

S = nilai modal pemegang saham

T = tingkat pajak yang berlaku

Karena perusahaan tidak mempunyai hutang, maka nilai perusahaan tersebut adalah juga nilai
dari modal pemegang sahamnya (Vu = S). Dan yang menjadi biaya modal perusahaan tersebut
tidak lain adalah biaya modal sahamnya (ku = ks).

Dalam modal penilaian obligasi tidak diperhitungkan, sedangkan dalam persamaan diatas pajak
dimasukan kedalam perhitungan. Alasan perbedaan ini adalah bahwa dalam model penilaian
obligasi, penghasilan kena pajak perusahaan sudah dikurangkan dari beban bunga untuk
pembayaran obligasi tersebut. Tetapi dalam menghitung nilai perusahaan, kita berangkat dari net
operating income X dari perusahaan tersebut. Kita harus memperhitungkan berapa bagian dari
penghasilan ini yang menjadi bagian para pemilik perusahaan, karena itu pajak harus
diperhitungkan.
1. Nilai Perusahaan Dengan Tingkat Pertumbuhan Konstan

Apabila net operating income X perusahaan mengalami pertumbuhan yang konstan, maka
rumus penilaian perusahaan adalah sebagai berikut :

V = Xo ( l T ) ( l b ) ( l + g )

ku g

dimana : b = retention rate

g = tingkat pertumbuhan

1. Nilai Perusahaan Dengan Pertumbuhan Supernormal Sementara

Apabila dalam suatu perekonomian terdapat suatu perusahaan yang menghasilkan keuntungan
yang luar biasa atau diatas rata-rata maka akan banyak perusahaan-perusahaan lain yang
mencoba memasuki industri yang menghasilkan keuntungan luar biasa tadi. Sebagai akibatnya
maka persaingan dalam industri tersebut menjadi semakin ketat, dan keuntungan yang
dihasilkanpun akan menjadi normal atau biasa-biasa saja. Perusahaan yang pertama tadi bisa
dikatakan mengalami pola pertumbuhan supernormal sementara.

Untuk memudahkan analisis, kita asumsikan ada terdapat dua keadaan setelah berakhirnya masa
pertumbuhan supernormal, yaitu perusahaan sama sekali tidak mengalami pertumbuhan, dan
perusahaan mengalami pola pertumbuhan konstan. Persamaan dibawah ini untuk menghitung
nilai perusahaan yang mengalami pertumbuhan supernormal sementara kemudian diikuti tanpa
pertumbuhan.

Vo = Xo ( l T ) ( l b ) ( 1 + gs )t + Xo ( l T ) ( 1 + gs )n
t=1
( 1 + ku ) ku ( 1 + ku )n

Dimana : gs = tingkat pertumbuhan supernormal

n = jumlah tahun pertumbuhan

Sedangkan apabila suatu perusahaan mengalami pertumbuhan supernormal sementara kemudian


diikuti oleh pertumbuhan yang konstan maka nilai perusahaan tersebut dihitung dengan
persamaan :

Vo = Xo ( l T ) ( l b ) ( 1 + gs )t + Xo (l T ) (1 + b) (1 + g)n + (1 + gs)n
t=1
( 1 + ku )t ku g (1 + ku)n

Seluruh persamaan diatas adalah untuk diterapkan pada perusahaan-perusahaan yang tidak
mempunyai hutang. Sedangkan untuk menghitung nilai perusahaan yang mempunyai hutang
maka hanya tinggal mengganti ku atau biaya modal perusahaan tanpa hutang dengan ks,
yaitu biaya modal rata-rata tertimbang.

2.4 Market Value

Perlu diingat bahwa istilah nilai tidaklah berdiri sendiri, karena ia harus diikuti dengan
kata lain sehingga menjadi sebuah frasa misalnya nilai pasar, Nilai Jual Objek Pajak (NJOP),
nilai likuidasi dan lain-lain. Penyusun berpesan, jangan sampai menyebut istilah nilai saja, tetapi
harus diikuti dengan istilah yang lain.

MAPPI (2007) mendefinisikan Nilai Pasar sebagai

Estimasi jumlah uang pada tanggal penilaian yang dapat diperoleh dari transaksi jual beli atau
hasil penukaran suatu aset antara pembeli yang berminat membeli dan penjual yang berminat
menjual dalam suatu transaksi bebas ikatan, yang pemasarannya dilakukan secara layak, dimana
kedua pihak masing-masing mengetahui, bertindak hati-hati dan tanpa paksaan.

Berikut ini adalah contoh-contoh situasi yang tidak memenuhi persyaratan nilai pasar yaitu (1)
Penjual dan pembeli yang memiliki hubungan persaudaraan, sehingga harga transaksi lebih
rendah dari nilai pasar; (2) Penjual dan pembeli adalah tetangga yang posisi rumah bersebelahan
(berhimpitan), akibatnya, pihak pembeli berani membayar lebih tinggi dari nilai yang sewajarnya
dengan pertimbangan bahwa tambahan perluasan arah horisontal lebih disukai daripada arah
vertikal; (3) Hubungan antara penjual dan pembeli adalah antara anak dengan induk perusahaan,
sehingga harga yang terjadi lebih rendah dari nilai pasar; (4) Pada penjualan properti untuk
pelunasan hutang biasanya harga yang terjadi lebih rendah dari nilai pasar. Hali ini disebabkan
oleh keterbatasan waktu dalam pemasaran (menemukan calon pembeli); (5) Transaksi pada
pembebasan tanah untuk kepentingan umum, biasanya harga yang terjadi lebih rendah dari nilai
pasar.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Free Cash Flow (Arus Kas Bebas)


Free cash flow merupakan kas perusahaan yang dapat didistribusikan kepada kreditur atau
pemegang saham yang tidak diperlukan untuk modal kerja atau investasi pada aset. Kas tersebut
biasanya menimbulkan konflik kepentingan antara manajer dan pemegang saham. Manajemen
biasanya lebih suka untuk menginvestasikan lagi dana tersebut pada proyek proyek yang dapat
menghasilkan keuntungan, karena alternatif ini akan meningkatkan insentif yang diterimanya.
Disisi lain, pemegang saham mengharapkan sisa dana tersebut dibagikan sehingga akan
meningkatkan kemakmuran para pemegang saham.

Free cash flow menyatakan bahwa tekanan pasar akan mendorong manajer untuk
mendistribusikan free cash flow kepada pemegang saham atau resiko akan kehilangan kendali
terhadap perusahaan. Menurut Jensen ( 1986 : 137 ) free cash flow adalah kelebihan kas yang
dipelukan untuk mendanai semua proyek yang memiliki net present value positif setelah
membagi dividen.

Free cash flow merupakan kelebihan yang diperlukan untuk mendanai semua proyek yang
memiliki nilai net present value positif. Free cash flow dihitung dengan menggunakan rumus
Ross etal ( 1999 : 57 ), yaitu :

FCF = AKO PM NWC

FCF = Free cash Flow.

AKO = Aliran kas operasi perusahaan.

PM = Pengeluaran modal perusahaan.

NWC = Modal kerja bersih perusahaan ( net working capital )

Aliran kas operasi adalah kas yang berasal dari aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan
dan aktivitas lain yang bukan merupakan aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan.
Pengeluaran modal adalah pengeluaran bersih pada aset tetap yaitu aset tetap bersih akhir
periode dikurangi aset tetap bersih pada awal periode. Sedangkan modal kerja bersih adalah
selisih antara jumlah aset lancer dengan hutang lancar pada tahun yang sama.

Pertumbuhan perusahaan merupakan harapan yang diinginkan oleh pihak internal perusahaan
yaitu manajemen maupun pihak eksternal perusahaan yaitu investor dan kreditor. Vogt ( 1997 :
20 ) menunjukkan bahwa perusahaan yang bertumbuh akan direspon positif oleh pasar. Hasil
temuan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan yang memiliki pertumbuhan rendah harus
mencari alternatif pendanaan lainnya, misalnya melalui kebijakan hutang. Pengaruh free cash
flow terhadap hutang berbeda antara perusahaan besar dengan perusahaan kecil. Permasalahan
free cash flow akan lebih nyata untuk perusahaan besar, karena akan memerlukan mekanisme
tersendiri untuk memantau manajer dalam membuat keputusan yang terbaik bagi para pemegang
saham.

3.2 Telaah Penghitungan Arus Kas Bebas


Rumus singkat (dan yang paling mudah) untuk menghitung Arus Kas Bebas adalah berikut:

Arus Kas Bebas = Arus Kas dari Operasi Belanja Modal

Untuk membuat hitungan Arus Kas Bebas, silakan buka Laporan Keuangan perusahaan di bagian
Laporan Arus Kas. Untuk telaah nyata, kita gunakan Laporan Keuangan 2011 teraudit dari PT.
Astra Graphia Tbk (ASGR), materi bisa diunduh di situs BEI. (1,4 MB). Sebagai pembanding
kita bisa gunakan data Arus Kas ASGR di situs FT. (Tips: Anda bisa saja gunakan data FT, tapi
kita harus gunakan data nyata untuk telaah kasus ini).

Buka Laporan Keuangan ASGR, carilah laporan Arus Kas khususnya Arus kas dari aktivitas
operasi (lihat di halaman Lampiran 4/1), lihat bagian Arus kas bersih yang diperoleh dari
aktivitas operasi. Untuk Belanja Modal, kita harus mencari data arus kas untuk investasi yang
digunakan pada periode tersebut (lihat di halaman yang sama), pos belanja modal biasanya
tercatat sebagai pembelian aset tetap/mesin, perawatan, upgrade, dll. Pengeluaran/pemasukan
investasi untuk aset tetap (termasuk mesin, properti, dll) yang tidak berpengaruh terhadap
penambahan aset tetap tidak dianggap sebagai belanja modal. Angka penjualan dan hal lain tidak
dipakai karena itu bukan hal pokok untuk membuat usaha berjalan lebih baik melainkan
hasil/efek penjualan aset. Dari sana kita dapatkan angka-angka berikut (semua dalam jutaan):

Total Arus kas dari Operasi = Rp54.935

Total Belanja Modal = Rp17.208

Sehingga kita bisa hitung Arus Kas Bebasnya adalah:

Arus Kas Bebas = 54.935 17.208 = Rp37.727

Dengan mengetahui Arus Kas Bebas inilah kita akan bisa melihat proyeksi
pertumbuhan/kesehatan suatu perusahaan. Katakanlah dalam lima tahun terakhir, kita bisa
menyajikan Arus Kas Bebas ASGR sebagai berikut:

2011 2010 2009 2008 2007

ARUS KAS OPERASI 54.935 183.429 177.643 167.217 121.785

BELANJA MODAL (17.208) (18.289) (30.260) (123.569) (75.009)

ARUS KAS BEBAS 37.727 165.140 147.383 43.648 46.776


Dari tabel di atas kita bisa lihat dari tahun ke tahun posisi Arus Kas Bebas ASGR selalu positif.
Ini tandanya penghasilan (penjualan jasa/produk) dari perusahaan mampu menunjang usaha.
Tanda lain yang kemudian bisa kita cari adalah apa yang dilakukan perusahaan untuk
memanfaatkan Arus Kas Bebasnya. Apakah membayar dividen? Membeli saham baru? Yang
jelas dan pasti bukan untuk kegiatan belanja modal karena hal ini akan tercatat di laporan
keuangan periode berikutnya, sehingga pada akhirnya mengurangi posisi Arus Kas Bebas
berikutnya. Kemudian bila memberi dividen, apakah perusahaan memberikan dividen lebih besar
dari Arus Kas Bebasnya?

Lalu bagaimana bila ada arus kas bebas yang negatif? Arus Kas Bebas yang negatif harus
menjadi perhatian kita, ini tandanya pendapatan perusahaan tidak mampu menunjang ekspansi
atau pengembangan usaha. Karena negatif atau kekurangan dana, maka perusahaan perlu dana
lain untuk menggantikannya. Dana lain ini mau tak mau adalah dari hutang, bisa dari bank atau
obligasi (bila perusahaan mampu menerbitkannya). Segala bentuk hutang akan tercatat di laporan
arus kas bagian pendanaan (financing) dalam bentuk aliran masuk (positif, bila negatif artinya
pembayaran hutang). Bila setahun atau dua tahun ada posisi negatif, mungkin perusahaan sedang
ekspansi besar pada saat itu. Kita harus memerika laporan keuangan untuk memastikan kejelasan
pengeluaran tersebut.

Itulah sekilas tentang Arus Kas Bebas dan gunanya untuk mengecek kesehatan dan pertumbuhan
perusahaan. Dalam tulisan berikutnya kita akan memanfaatkan Arus Kas Bebas untuk banyak hal
lainnya, termasuk menghitung valuasi harga wajar perusahaan.

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Informasi arus kas berguna sebagai indicator jumlah arus kas di masa yang akan datang
serta berguna untuk menilai kecermatan atas taksiran arus kas yang telah di buat
sebelumnya.

Laporan arus kas juga menjadi alat pertanggung jawaban arus kas masuk dan arus kas
keluar selama periode pelaporan.

Apilabila dikaitkan dengan laporan keuangan lainnya,laporan arus kas memberikan


informasi yang bermanfaat bagi pengguna laporan dalam mengevaluasi perubahan
kekayaan bersih/ekuitas suatu entitas pelaporan dan struktur keuangan pemerintah
(termasuk likuiditas dan solvabilitas)

4.2. Saran
Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari bahwa masih jauh dari kesempurnaanya dan
adapun kelemahan-kelemahan dari penulis dalam penulisan makalah ini, baik itu kurangnya
fasilitas yang mendukung seperti buku-buku referensi yang begitu terbatas dalam menjamin
penyelesaian penulisan makalah ini sehingga kritik dan saran yang bersifat konstruktif baik itu
dari dosen maupun dari rekan-rekan mahasiswa/i sangatlah diharapkan untuk membantu prosses
penulisan lebih lanjut.