Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

SUBDURAL HEMATOMA

I. KONSEP PENYAKIT
1.1 Definisi Subdural Hematoma
Hematoma subdural adalah pengumpulan darah diantara dura dan dasar otak.
Suatu ruang ini pada keadaan normal diisi oleh cairan. Paling sering disebabakan
oleh trauma.tetapi dapat juga terjadi kecenderungan perdarahan yang serius dan
aneurisma.hematoma subdural lebih sering terjadi pada vena dan merupakan
akibat putusnya pembuluh darah kecil yang meniembatani ruang subdural
(Sjamsuhidayat & Jong, 2004).

Perdarahan subdural adalah perdarahan karena trauma yang terjadi antara


membran luar dan menengah (meninges) yang meliputi otak. Hematoma subdural
disebabkan karena robekan permukaan vena atau pengeluaran kumpulan darah
vena.hematoma subdural dalam bentuk kronik. Hanya darah yang efusi ke ruang
subdural akibat pecahnya vena-vena penghubung.umumnya disebabkan oleh
cedera kepala tertutup. Efusi itu merupakan proses bertahap yang menyebabkan
beberapa minggu setelah cedera.sakit kepala dan tanda-tanda fokal progresif yang
menunjukkan lokasi gumpalan darah (Umar, 2000).

Jadi subdural hematoma adalah perdarahan diantara lapisan durameter dan


lapisan arakhnoid yang diakibatkan oleh trauma dimana terjadi robekan
pemukaan vena atau pengeluaran kumpulan darah vena.

1.2 Etiologi Subdural Hematoma


Keadaan ini timbul setelah cedera / trauma kepala berat, seperti perdarrahan
konstusional yang mengakibatkan rupture vena yang terjadai dalam ruangan
subdural (Sjamsuhidayat & Jong, 2004). Perdarahan subdural dapat terjadi pada:
a. Traunma kapitis
b. Trauma di tempat lain pada badan yang berakibat terjadiny ageseran atau
putaran otak terhadap duramater, misalnya pada orang jatuh terduduk.
c. Trauma pada leher karena guncangan pada badan. Kali lebih mudah terjadi
bila rungan subdural lebar akibat dari atrofi otak, misalnya pada orang tua dan
juga pada anak-anak.
d. Pecahnya aneurisma atau malformasi pembuug darah di dalam ruangan
subdural.
e. Ganggua pembekuan darah biasanya berhubungan dengan perdarahan subdural
yang spontan dan keganasan ataupun perdarahan dari tumor intrakrasnial.
f. Pada orang tua, alkoholik, gangguan hati

1.3 Tanda dan gejala Subdural Hematoma


13.1 Hematoma Subdural Akut
Hematoma subdural akut menimbulkan gejala neurologik dalam 24 sampai
48 jam setelah cedera. Dan berkaitan erat dengan trauma otak berat.
Gangguan neurologik progresif disebabkan oleh tekanan pada jaringan otak
dan herniasi batang otak dalam foramen magnum, yang selanjutnya
menimbulkan tekanan pada batang otak. Keadaan ini dengan cepat

1
menimbulkan berhentinya pernafasan dan hilangnya kontrol atas denyut
nadi tekanan darah (Smeltzer & Bare, 2001).

13.2 Hematoma Subdural Subakut


Hematoma ini menyebabkan defisit neurologik dalam waktu lebih dari 48
jam tetapi kurang dari 2 minggu setelah cidera. Seperti pada hematoma
subdural akut. Hematoma ini juga disebabkan oleh pendarahan vena dalam
ruangan subdural.

Anamnesis klinis dari penderita hematoma ini adalah adanya trauma kepala
yang menyebabkan ketidaksadaran. Namun jangka waktu tertentu penderita
memperlihatkan tanda-tanda status neurologik yang memburuk. Tingkat
kesadran mulai menurun perlahan-lahan dalam beberapa jam. Dengan
meningkatnya tekanan intrakranial sering pembesaran hematoma, penderita
mengalami kesulitan untuk tetap sadar dan tidak memberikan respon
terhadap rangsangan bicara maupun nyeri. Pergeseran isi intracranial dan
peningkatan intracranial yang disebakan oleh akumulasi darah akan
menimbulkan herniasi unkus atau sentral dan melengkapi tanda-tanda
neurologik dari kompresi batang otak (Smeltzer & Bare, 2001).

13.3 Hematoma Subdural Kronik


Terjadi gejala pada umumnya tertunda beberapa minggu, bulan dan bahkan
beberapa tahun setelah cedera pertama. Trauma pertama merobek salah satu
vena yang melewati ruangan subdural. Trejadi perdarahan secara lambat
dalam ruangan subdural, dalam 7 hari sampai 10 hari setelah perdarahan
terjadi, darah dikelilingi oleh membrane fibrosa, dengan adanya selisih
tekanan osmotik yang mampu menarik cairan ke dalam hematoma, terjadi
kerusakan sel-sel darah dalam hematoma. Penambahan ukuran hematoma
ini yang menyebabkan perdarahan lebih lanjut dengan merobek membran
atau pembuluh darah di sekelilingnya.

Hematoma subdural yang kecil pada dewasa seringkali diserap secara


spontan. Hematoma subdural yang besar, yang menyebabkan gejala
gejalan neurologis biasanya dikeluarkan melalui pembedahan (Smeltzer &
Bare, 2001). Petunjuk dilakukan pengaliran perdarahan ini adalah :
a. Sakit kepala yang menetap
b. Rasa mengantuk yang hilang-timbul
c. Linglung
d. Perubahan ingatan
e. Kelumpuhan ringan pada sistim tubuh yang berlawanan

1.4 Patofisiologi Subdural Hematoma


Perdarahan terjadi antara duramater dan arakhnoidea. Perdarahan dapat terjadi
akibat robeknya vena jembatan (bridging veins) yang menghubungkan vena di
permukaan otak dan sinus venosus di dalam duramater atau karena robeknya
araknoidea. Karena otak yang bermandikan cairan cerebrospinal dapat bergerak.
Sedangkan sinus venosus dalam keadaan terfiksir. Berpindahnya posisi otak yang
terjadi pada trauma,dapat merobek beberapa vena halus pada tempat di mana
mereka menembus duramater perdarahan yang besar akan menimbulkan gejala-
gejala akut menyerupai hematoma epidural.

2
Perdarahan yang tidak terlalu besar akan membeku dan di sekitarnya akan
tumbuh iaringan ikat yang membentuk kapsula. Gumpalan darah lambat laun
mencair dan menarik cairan dari sekitarnya dan mengembung memberikan gejala
seperti tumor serebri karena tekanan intracranial yang berangsur meningkat.

Perdarahan sub dural kronik umumnya berasosiasi dengan atrofi serebral. Vena
iembatan dianggap dalam tekanan yang lebih besar,bila volume otak mengecil
sehingga walaupun hanya trauma yang kecil saia dapat menyebabkan robekan
pada vena tersebut. Perdarahan terjadi secara perlahan karena tekanan sistem
vena yang rendah. Sering menyebabkan terbentuknya hematoma yang besar
sebelum gejala klinis muncul. Pada perdarahan subdural yang kecil sering terjadi
perdarahan yang spontan.pada hematoma yang besar biasanya menyebabkan
terjadinya membran vaskular yang membungkus hematoma subdural tersebut.
Perdarahan berulang dari pembuluh darah di dalam membran ini memegang
peranan penting,karena pembuluh darah pada membran ini jauh lebih rapuh
sehingga dapat berperan dalam penambahan volume dari perdarahan subdural
kronik.

Akibat dari perdarahan subdural, dapat meningkatkan tekanan intrakranial dan


perubahan dari bentuk otak. Naiknya teknanan intra kranial dikompensasi oleh
efluks dari cairan likuor ke axis soinal dan dikompresi oleh sistim vena. Pada
vase ini peningkatan tekanan intra kranial terjadi relatif perlahan karena
komplains tekanan intra kranial yang cukup tinggi.

Meskipun demikian pembesaran hematoma sampai pada suatu titik tertentu akan
melampaui mekanisme kompensasi tersebut. Komplains intrakranial mulai
berkurang yang menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan intra kranial yang
cukup besar. Akibat perfusi serebral berkurang dan trejadinya iskemi serebral.
Lebih lanjut dapat terjadi herniasi transtentorialatau subfalksin. Herniasi tonsilar
melalui foramen magnum dapat terjadi jika seluruh batang otak terdorong ke
bawah melalui incisura tentorial oleh meningkatnya tekanan supra tentorial. Juka
pada hematoma subdural kronik. Didapatkan bahwa aliran darah ke thalamus dan
ganglia basalis lebih terganggu dibandingkan dengan otak yang lainya.

Terdapat dua teori yang menjelaskan terjadinya perdarahan subdural kronik, yaitu
teori Gardner yang mengatakan bahwa sebagian dari bekuan darah akan mencair
sehingga akan meningkatkan kandungan protein yang terdapat didalam kapsul
dari subdural hematoma dan akan menyebabkan peningkatan onkotik didalam
kapsul subdural hematoma. Karena tekanan onkotik yang meningkatkan inilah
yang mengakibatkan pembesaran dari perdarahan tersebut. Tetapi ternyata ada
kontroversial dari teori Gardner ini, yaitu ternyata dari penelitian didapatkan
tekanan onkotik didalam subdural kronik adalah hasilnya normal yang mengikuti
hancurnya sel darah merah. Teori yang kedua mengatakan bahwa,
perdarahanberulang yang dapat mengakibatkan terjadinya perdarahan subdural
kronik, faktor angiogenesis juga ditemukan dapat meningkatkan terjadinya
perdarahan subdural kronik. Karena turut membantu dalam pembentukan
peningkatan vaskularisasi diluar membran atau kapsul dari subdural hematoma.
Level dari koagulasi, level abnormalitas enzim fibrinolitik dan peningkatan
aktivitas dari fibrinolik dapat menyebkan terjadinya perdarahan subdural kronik
(Price & Wilson, 2005).

3
1.5 Pemeriksaan penunjang Subdural Hematoma
1.5.1 CT-Scan (dengan atau tanpa kontras): Mengidentifikasi luasnya lesi,
perdarahan, detreminan ventrikular dan perubahan jaringan otak.
1.5.2 MRI : Digunakan sama seperti CT-Scan dengan atau tanpda kontras
radioaktif
1.5.3 Cerebral Angiography : Menunjukan anomali sirkulasi cerebral.
1.5.4 BAER : mengoreksi batas fungsi corteks dan otak kecil.
1.5.5 PET : Mendeteksi perubahan aktivitas metabolisme otak
1.5.6 Kadara Elektrolit : Untuk mengoreksi kesimbangan elektrolit sebagai akibat
peningkatan tekanan intrakranial

1.6 Komplikasi Subdural Hematoma


Komplikasi yang terjadi pada pasien subdural hematoma adalah sebagai berikut
(Mansjoer. et all, 2000) :
1.6.1 Subdural hematom dapat meberikan komplikasi berupa :
a. Hemiparese/hemiplegia
b. Disfasi
c. Epilepsi
d. Hidrosepalus
e. Subdural empiema
f. Stroke
g. Encephalitis
h. Abses otak
i. Adverse drugs reactions
j. Tumor otak
k. Perdarahan subarachnoid
1.6.2 Sedangkan autcome untuk subdural hematom adalah :
a. Mortalitas pada subdural hematoma akut sekitar 75 % 85 %
b. Pada subdural hematom kronis
- Sembuh tanpa gangguan neurologis sekitar 50%-80%
- Sembuh dengan gangguan neurologis sekitar 20%-50%

1.7 Pentalaksanaan Subdural Hematoma


1.7.1 Konservatif
a. Bedrest total
b. Pemberian obat-obatan
c. Observasi tanda-tanda vital (GCS dan tingkat kesdaran)
1.7.2 Prioritas Perawatan
a. Maksimalkan perfusi / fungsi otak
b. Mencegah komplikasi
c. Pengaturan fungsi secara optimal / mengembalikan ke fungsi normal
d. Mendukung proses pemulihan koping klien / keuarga
e. Pemberian informasi tentang proses penyakit, prognosis, rencana
pengobatan dan rehabilitasi

1.8 Pathway Subdural Hematoma

Trauma kepala, fraktur depresi tulang tengkorak, hipertensi,


aneurisma, distrasi darah, obat, merokok

Pecahnya pembuluh darah


otak (perdarahan intracranial)

Darah masuk ke dalam jaringan otak

4
Darah membentuk massa atau hematoma

Kerusakan Sel Otak

Gangguan Autoregulasi Rangsangan Simpatis Stress

Aliran Darah Keotak Tahanan Vaskuler Katekolamin


Sistemik & TD Sekresi Asam Lambung

O2 Ggan Metabolisme Tek. Pemb.Darah


Mual, Muntah
Pulmonal

Asam Laktat Tek. Hidrostatik ketidakseimbangan nutrisi


Kurang dari kebutuhan tubuh
Oedem Otak Kebocoran Cairan Kapiler

Risiko ketidakefektifan Oedema Paru Cardiac Out Put


Perfusi jaringan otak
Cerebral
Difusi O2 Terhambat Ketidakefektifan perfusi
jaringan perifer
Ketidakefektifan pola napas Hipoksemia, Hiperkapnea

(Prince & Wilson, 2005)


II. RENCANA ASUHAN KLIEN DENGAN GANGGUAN SUBDURAL
HEMATOMA
2.1 Pengkajian
2.1.1 Riwayat keperawatan
Waktu kejadian, penyebab trauma, posisi saat kejadian, status kesadaran
saat kejadian, pertolongan segera setelah keajadian
2.1.2 Pemeriksaan fisik
a. Sistem respirasi : suara nafas, pola nafas
b. Kardiovaskular : pengaruh perdarahan organ atau pengaruh PTIK
c. Sistem syaraf
1) Kesadaran (GCS)
2) Fungsi saraf kranial
3) Fungsi sensori-motor

2.2 Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul


Diagnosa 1 : Gangguan perfusi jaringan kardiopulmonal (NANDA, 2012)
2.2.1 Definisi
Penurunan oksigen yang mengakibatkan kegagalan pengiriman nutrisi ke
jaringan pada tingkat kapiler
2.2.2 Batasan karakteristik
Subjektif

5
- Nyeri dada
- Dispneu
- Rasa seprti akan mati
Objektif
- Gas darah arteri tidak normal
- Perubahan frekuensi pernafasan diluar parameter yang dapat diterima
- Aritmia
- Bronkospasme
- Pengisian kembali kapiler lebih dari tiga detik
- Retraksi dada
- Nafas cuping hidung
- Penggunaan otot bantu pernafasan

2.2.3 Faktor yang berhubungan


- Perubahan afnitas hemoglobin terhadap oksigen
- Penurunan konsentrasi hemoglobin dalam darah
- Keracunan enzim
- Gangguan pertukaran
- Hipervolemia
- Hipoventilasi
- Gangguan transpor oksigen melalui alveoli dan membran kapiler
- Gangguan aliran arteri atau vena
- Ketidakseimbangan antara ventilasi dan aliran darah
Diagnosa 2 : Gangguan perfusi jaringan serebral (NANDA, 2012)
2.2.1 Definisi
Penurunan oksigen yang mengakibatkan kegagalan pengiriman nutrisi ke
jaringan pada tingkat kapiler
2.2.2 Batasan karakteristik
- Objektif
- Perubahan status mental
- Perubahan perilaku
- Perubahan respon motorik
- Perubahan reaksi pupil
- Kesulitan menelan
- Kelemahan atau paralisis ekstremitas
- Paralisis
- Ketidaknormalan dalam berbicara
2.2.3 Faktor yang berhubungan
- Perubahan afnitas hemoglobin terhadap oksigen
- Penurunan konsentrasi hemoglobin dalam darah
- Keracunan enzim
- Gangguan pertukaran
- Hipervolemia
- Hipoventilasi
- Gangguan transpor oksigen melalui alveoli dan membran kapiler
- Gangguan aliran arteri atau vena
- Ketidakseimbangan antara ventilasi dan aliran darah

Diagnosa 3 : Gangguan pola nafas (NANDA 2012).


2.2.1 Definisi
Inspirasi atau ekspirasi yang tidak meberi ventilasi yang adekuat
2.2.2 Batasan karakteristik
Subjektif
- Dispneu
- Nafas pendek
Objektif
- Perubahan ekskrusi dada

6
- Bradipneu
- Penurunan tekanan inspirasi-ekspirasi
- Penurunan kapasitas vital
- Peningkatan diameter anterior-posterior
- Nafas cuping hidung
- Fase ekspirasi memanjang
- Pernafasan bibir mencucu
- Kecepatan respirasi
Usia dewasa 14 tahun atau lebih : < 11 atau > 24 x/m
Usia 5-14: < 15 atau >25
Usia 1-4: <20 atau >30
Bayi: <25 atau >60
- Takipneu
- Rasio waktu
- Penggunaan otot bantu asesorius untuk bernafas
2.2.3 Faktor yang berhubungan
- Ansietas
- Posisi tubuh
- Deformitas tulang
- Deformitas dinding dada
- Penurunan energi dan kelelahan
- Hiperventilasi
- Kerusakan neuromuskuloskeletal
- Obesitas
- Nyeri
- Kerusakan kognitif atau persepsi
- Kelelahan otot-otot pernafasan
- Cedera medua spinalis

Diagnosa 4: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (NANDA


2012).
2.2.1 Definisi
Keadaan dimana intake nutrisi kurang dari kebutuhan metabolisme tubuh
(NANDA, 2012).
2.2.2 Batasan Karakteristik
Penggunaan diagnosis ini hanya jka terdapat satu diantara tanda NANDA
berikut:
- Berat badan kurang dari 20% atau lebih dibawah berat badan ideal
untuk tinggi badan dan rangka tubuh
- Asupan makanan kurang dari kebutuhan metabolik, baik kalori total
maupun zat gizi tertentu
- Kehilangan berat badan dengan asupan makanan yang adekuat
- Melaporkan asupan makanan yang tidak adekuat kurang dari
recommended daily allowance (RDA).
Subjektif
- kram abdomen
- nyeri abdomen
- menolak makan
- indigesti
- persepsi ketidakmampuan untuk mencerna makanan
- melaporkan perubahan sensasi rasa
- melaporkan kurangnya makanan
- merasa cepat kenyang setelah mengkonsumsi makanan

7
Objektif

- pembuluh kapiler rapuh


- diare
- adanya bukti kekurangan makanan
- kehilangan rambut yang berlebihan
- bising usus hiperaktif
- kurang informasi, informasi yang salah
- kurangnya minat terhadap makanan
- membrane mukosa pucat
- tonus otot buruk
- menolak untuk makan
- rongga mulut terluka (inflamasi)
- kelemahan otot yang berfungsi untuk menelan atau mengunyah
2.2.3 Faktor yang berhubungan
- ketergantungan zat kimia
- penyakit kronis
- kesulitan mengunyah atau menelan
- faktor ekonomi
- intoleransi makanan
- kebutuhan metabolik tinggi
- refleks mengisap pada bayi tidak adekuat
- kurang pengetahuan dasar tentang nutrisi
- akses terhadap makanan terbatas
- hilang nafsu makan
- mual dan muntah
- pengabaian oleh orang tua
- gangguan psikologi
Diagnosa 5 : Resiko peningkatan Tekanan Intra Kranial
1.2.1 Definisi
Tekanan pada rongga kranial dan biasanya diukur sebagai tekanan dalam
ventrikel lateral otak
1.2.2 Faktor resiko
- Cedera kepala (mis. Kerusakan cerebrovaskular, penyakit neurologis,
trauma, tumor)
- Penurunan perfusi serebral
- Penyumbatan pembuluh darah otak

2.3 Intervensi
Diagnosa 1 : Gangguan perfusi jaringan kardiopulmunol (NANDA 2012).
2.3.1 Tujuan dan kriteria hasil (outcomes criteria) : berdasarkan NOC
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 1 jam
ketidakefektifan perfusi jaringan kardiopulmonal teratasi dengan kriteria
hasil :
- Tekanan systol dan diastole dalam rentang yang diharapkan
- CVP dalam batas normal
- Nadi perifer kuat dan simetris
- Tidak ada oedem perifer dan asites
- Denyut jantung, AGD dalam batas normal
- Bunyi jantung abnormal tidak ada
- Nyeri dada tidak ada
- Kelelahan yang ekstrim tidak ada
2.3.2 Intervensi keperawatan : berdasarkan NIC
- Monitor nyeri dada (durasi, intensitas, dan faktor-faktor presipitasi)
- Observasi perubahan ECG

8
- Auskultasi suara jantung dan paru
- Monitor irama dan jumlah denyut jantung
- Monitor elektrolit (potasium dan magnesium)
- Monitor status cairan
- Evaluasi oedem perifer dan denyut nadi
- Tingkatkan istirahat (batasi pengunjung, kontrol stimulasi
lingkungan)

Diagnosa 2: Gangguan perfusi jaringan serebral (NANDA 2012).


2.3.1 Tujuan dan kriteria hasil (outcomes criteria) : berdasarkan NOC
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam ketidakefektifan
perfusi jaringan cerebral teratasi dengan kriteria hasil :
- Tekanan systol dan diastole dalam rentang yang diharapkan
- Komunikasi jelas
- Menunjukan konsentrasi dan orientasi
- Pupil seimbang dan reaktif
- Bebas dari aktivitas kejang
- Tidak mengalami nyeri kepala
2.3.2 Intervensi keperawatan : berdasarkan NIC
- Monitor TTV
- Monitor AGD, ukuran pupil, ketajaman, kesimetrisan dan reaksi
- Monitor adanya diplopia, pandangan kabur dan nyeri kepala
- Monitor tonus otot pergerakan
- Catat perubahan pasien dalam merespon stimulus
- Monitor status cairan
- Tinggikan kepala 0 45o tergantung pada kondisi pasien dan order medis
Diagnosa 3 : Gangguan pola nafas (NANDA 2012).
2.3.1 Tujuan dan kriteria hasil (outcomes criteria) : berdasarkan NOC
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam klien menunjukan
keefektifan pola nafas, ditandai dengan kriteria hasil
- Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas bersih, tidak ada sianosis dan
dsypneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah)
- Menunjukan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas,
frekuensi pernafas dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormasl)
- Tanda-tanda vital dalam batas normal (tekanan darah, nadi, respirasi)
2.3.2 Intervensi keperawatan : berdasarkan NIC
- Buka jalan nafas, gunakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu
- Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
- Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
- Lakukan fisioterapi dada jika perlu
- Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
- Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
- Berikan bronkodilator bila perlu
- Atur intake untuk caran mengoptimalkan keseimbangan
- Monitor respirasi dan status O2
Terapi oksigen
- Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea
- Pertahankan jalan nafas yang paten
- Atur peralatan oksigenasi
- Monitor aliran oksigen

9
Diagnosa 4: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (NANDA
2012).
2.3.1 Tujuan dan kriteria hasil (outcomes criteria) : berdasarkan NOC
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 4 jam nutrisi kurang
teratasi dengan indikator:
- Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan
- Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan
- Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
- Tidak ada tanda-tanda malnutrisi

2.3.2 Intervensi keperawatan : beradsarkan NIC


- Kaji adanya alergi makanan
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan pasien
- Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
- Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
- Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan

Monitor Nutrisi
- BB dalam batas normal
- Monitor adanya penurunan berat badan
- Monitor lingkungan selama makan
- Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
- Monitor turgor kuli
- Monitor mual dan muntah
- Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan
Diagnosa 5 : Resiko Tekanan Intra Kranial
2.3.1 Tujuan dan kriteria hasil (outcomes criteria) : berdasarkan NOC
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam tidak ada
peningkatan tekanan intra kranial dengan kriteria hasil tidak terdapatnya tanda
peningkatan tekanan intra kranial seperti :
- Peningkatan tekanan darah
- Nadi melebar
- Pernafasan cheyne stokes
- Muntah projectile
- Sakit kepala hebat
2.3.2 Intervensi keperawatan : berdasarkan NIC
- Pantau tanda dan gejala peningkatan TIK ( tekanan darah, nadi, GCS, respirasi,
keluhan sakit kepala hebat, muntah projektile, pupil unilateral)
- Tinggikan kepala tempat tidur 15-300 kecuali ada kontra indikasi
- Pertahankan lingkungan tenang, sunyi dan pencahayaan redup

III. DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, A. et all (2000). Kapita selekta Kedokteran. Edisi 3 jilid 2. Jakarta: Media
Aesculapius
Mardjono, M & Sidharta, P (2004). Nerologis Klinis Dasar. Cetakan 10. Jakarta: Dian
Rakyat
Price, SA & Wilson, LM. (2005). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Edisi 6. Vol 2. Jakarta: EGC

10
Sjamsuhidayat, R & Jong, WD. (2004). Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: EGC
Smeltzer,SC & Bare, BG. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth. Edisi 8. Vol 3. Jakarta: EGC
Umar Kasan (2000), Penanganan Cidera Kepala Simposium IKABI Tretes
Wilkinson, JM & Nancy, RA. (2012). Buku Saku Diagnosa Keperawatan: Diagnosa
NANDA, Intrevensi NIC, Kriteria Hasil NOC. Jakarta: EGC

Banjarmasin, 10 April 2017

Preseptor akademik, Preseptor klinik,

(.................................................................) (......................................................)

11