Anda di halaman 1dari 21

TOKOH PENDIDIKAN YANG BERPENGARUH DARI LUAR NEGERI

1. Tokoh Pestalozzi (1746-1827)

a. Pestalozzi adalah tokoh pertama yang dipengaruhi oleh Rousseau yang


mencoba, ia katakana sendiri, mempsikologikan pendidikan (to psychologize
education)

b. Perjalan hidupnya

Ia dilahirkan di Zurich. Ayahnya seorang dokter, dan meninggal pada


waktu ia masih berusia lima tahun. Kasih saying ibunya sangat berkesan dan
mempengaruhi pemikirannya tentang pendidikan. Ia mendapatkan pendidikan
disekolah dasar, sekolah latin, serta Colegium Humanitatis dan collegiums
Carolinum.

c. Percobaan di Neuhop (1774-1780)

Ia mendirikan pertanian di Neuhop, dalam rangka mewujudkan anjuran


Rousseau untuk hidup mendekati alam. Anak anak yang terlantar di bawah
asuhannya dalam percobaan pertanian di Neuhop mendapat pelajaran
membaca, menulis dan berhitung, serta berada dalam susasana religious dan
kasih sayang.

d. Masa menulis buku (1780-1798)

Karena kegagalannya dalam percobaan Neuhop, ia meyerahkan


kegiatannya dalam menulis buku-bukutenal.tang pendidikan dan reformasi
social. Ia menulis Leonard und Gestrude, sebuah tulisan berbentuk roman
seperti Emile, yang berisi gagasan tentang pembaharuan pendididkan dan
social; dan Die Abenstrundeeines Eiensiedlers (saat saat malam hari dari
seseorang pertapa), yang berisi cita-cita membangun masnyarakat.

e. Percobaan di Sekolah Dasar

Percobaan dan metode dilaksanakan di Stanz,Burgdorf, dan Yverdun. Ia


mencobakn sekolah dasar yang menekankan pada pekerjaan tangan yang
ditambah dengan pengajaran formal. Namun percobaan itu gagal karna ada
serangan dari tentara prancis

2. MARIA MENTESSORI (1870-1952)

Metode Montessori adalah suatu metode pendidikan untuk anak-anak,


berdasar pada teori perkembangan anak dari Dr. Maria Montessori, seorang
pendidik dari Italia di akhir abad 19 dan awal abad 20. Metode ini diterapkan
terutama di pra-sekolah dan sekolah dasar, walaupun ada juga penerapannya
sampai jenjang pendidikan menengah.

Ciri dari metode ini adalah penekanan pada aktivitas pengarahan diri pada
anak dan pengamatan klinis dari guru (sering disebut "direktur" atau
"pembimbing"). Metode ini menekankan pentingnya penyesuaian dari
lingkungan belajar anak dengan tingkat perkembangannya, dan peran aktivitas
fisik dalam menyerap konsep akademis dan keterampilan praktik. Ciri lainnya
adalah adanya penggunaan peralatan otodidak (koreksi diri) untuk
memperkenalkan berbagai konsep.

Walaupun banyak sekolah-sekolah yang menggunakan nama "Montessori,"


kata itu sendiri bukan merupakan merk dagang, juga tidak dihubungkan dengan
organisasi tertentu saja.

TOKOH PENDIDIKAN YANG BERPENGARUH DI INDONESIA

A. Ki Hajar Dewantara

pemikirannya tentang tujuan pendidikan yaitu memajukan bangsa secara


keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat,
kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan sebagainya, serta harus didasarkan
kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi.

Hari lahirnya, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya


yang terkenal ialah tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing
madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing
ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan).

B. Mohammad Syafei

Pemikiran Syafei diatas menyarankan kesempurnaan lahir dan batin yang


harus selalu diperbaharui.Hal ini terungkap dalam pemikiran G. Revesz seperti
yang dikutip oleh Syafei :bahwa lapangan pendidikan mesti berubah menurut
zamannya,seandainya orang masih beranggapan,bahwa susunan pendidikan dan
pengajaran yang berlaku adalah sebaik-baiknya dan tidak akan berubah
lagi,maka orang atau lembaga yang berpendirian dan berpikir demikian telah
jauh menyimpang dari kebenaran. Demikianlah,tujuan pendidikan berupa
kesempurnaan lahir dan batin,harus selalu terus disempurnakan sesuai dengan
tuntutan perubahan zaman.Dan kesempurnaan yang cocok untuk bangsa
Indonesia ? Syafei mengajukan pemikiran yang masih relevan untuk zaman kita
ini.

Manusia yang sempurna lahir dan batin atau aktif kreatif itu,apa saja
unsur-unsur atau aspek-aspeknya? Ia menyatakan bahwa yaitu jiwa dan hati
yang terlatih dan otak yang berisi pengetahuan (Thalib
Ibarahim,1978;20 ).Orang yang jiwa dan hatinya terlatih itu
tekun,teliti,rajin,giat,berperhatian,dan apik dalam segala bidang perbuatan.
Pelatihan jiwa dan hati ini diperoleh melalui pelatihan bebuat atau bekerja
mengerjakan pekerjaan sehari-hari atau bahkan pekerjaan tangan.Bahkan untuk
pengisian otakpun,pelajaran pekerjan tangan dapat turut dimanfaatkan.

C. Kiyai H. Ahmad Dahlan


Ahmad Dahlan adalah seorang yang memiliki pengetahuan yang luas.
Meskipun usianya baru dua puluh tahun, ia mulai merintis jalan pembaruan di
kalangan umat Islam. Misalnya, membetulkan arah kiblat shalat pada masjid
yang dipandang tidak tepat arahnya yang sesuai dengan perhitungan menurut
ilmu falakiyah yang dikuasainya. Usaha ini sempat menimbulkan insiden yang
membuat diri dan istrinya hampir saja meninggalkan Kauman Yogyakarta
selamanya. Kemudian memberikan pelajaran agama di sekolah negeri yang saat
itu tidak pernah dilakukan oleh kyai lainnya.

Ahmad Dahlan juga sangat memperhatikan kaum dhuafa, anak yatim, dan
fakir miskin agar selalu diperhatikan dan diayomi. Hal ini selalu ia ingatkan
kepada murid-muridnya agar selalu memperhatikan dan menolong kaum dhuafa
tersebut. Pernah suatu ketika beliau memberikan pelajaran kepada murid-
muridnya tentang surat Al-Maun. Namun, surat Al-Maun ini selalu beliau ulang-
ulang dalam setiap pertemuan pengajian sehingga menimbulkan protes dari
murid-muridnya. Setelah dijelaskan lalu setelah pengajian selesai dan murid-
muridnya masing-masing membawa anak yatim dan disantuni secukupnya

D. Rahmah El Yunusiah

Bentuk realisasi dari pemikiran pendidikan Rahmah el-Yunusiyah adalah


berupa pendirian sekolahsekolah bagi perempuan. Hal ini merupakan
tanggapan dari situasi pada masa itu dan sejalan pula dengan teorinya Arnold J.
Toynbee yaitu : Challenge and Respons. Sedangkan tujuan pendidikannya
untuk mencerdaskan kaum perempuan agar pendidikan pada masa itu tidak
berpusat pada lakilaki, dengan demikian hal ini sejalan dengan teori Feminisme,
yaitu teori poststrukturalis dan postmodernisme.

Beberapa hambatan pada kaum perempuan Indonesia. Pendidikan yang


belum berpihak pada kaum perempuan dapat pula ditemui dalam bidang lain.
Misalnya dalam bidang kesehatan dan pekerjaan. Perusahaan masih banyak
yang belum memberi lapangan kerja pada perempuan. Angka perempuan
menganggur lebih tinggi dapat ditemui dimana-mana dibanding laki-laki.
Kalaupun perempuan banyak ditemui bekerja disektor informal (pabrik) itu bukan
berarti hilangnya diskriminasi. Angka kaum perempuan upahnya tidak dibayar
oleh perusahaan mencapai 41,3% lebih tinggi dibanding laki-laki yang hanya
10% menjadi bukti beban yang diterima perempuan diluar rumah.

TOKOH PENDIDIKAN YANG BERPENGARUH DALAM PENDIDIKAN

1. Johan Heinrich Pestalozzi

A. Biografi J.H Pestalozzi

Johan Heinrich Pestalozzi lahir di Zurich, Swiss pada tanggal 12 Januari


1746, dan meninggal di Brugg pada tanggal 17 Februari 1827. Ayahnya seorang
dokter ahli bedah terkemuka berbangsa Italia yang beragama Protestan , namun
beliau meninggal ketika Johan berusia lima tahun. Dengan demikian Johan
tumbuh dan besar di bawah asuhan ibunya. Pengajaran pertama dia dapat dari
kakeknya yang seorang pendeta.

Pada masa kecilnya, Pestalozzi merupakan anak yang tidak begitu tertarik
dengan tugas-tugas belajar yang menggunakan metode menghafal di sekolah,
tetapi dia lebih berminat dengan tugas-tugas yang menggunakan daya imajinasi.
Kelainan sifatnya itu dipengaruhi:

- Selama masa kanak-kanak, keadaan tubuh Pestalozzi lemah


sehingga menyebabkan dia sering sakit-sakitan. Hal ini kemudian menyebabkan
dia tidak dapat bergaul dan bermain seperti anak laki-laki pada umumnya dan
lebih merasa aman dalam hubungan dengan ibunya.

- Di samping itu, fakta bahwa tidak adanya tokoh laki-laki yang


mengambil peran dalam keluarga Pestalozzi, membuat dirinya hidup dalam
dunia khayalan. Alhasil, Pestalozzi tampak memiliki kelainan sifat yang berbeda
dengan teman-teman sebayanya, sehingga akhirnya dia dijuluki Heinrich Bodoh
dari Kota Aneh.

Di desa dia melihat masyarakat yang miskin dan menderita. Inilah yang
mengilhami Pestalozzi labih mengedepankan tujuan dari pada pendidikan. Cinta
kasih dan perhatiannya kepada rakyat miskin dan anak-anak itulah yang
membuat Pestalozzi kemudian dinamakan bapak sekolah rakyat atau pendidik
rakyat. Tujuan pendidikan Pestalozzi adalah mengangkat derajat status sosial
umat manusia denagn mengembangkan semua aspek individualnya, yaitu: otak,
tangan dan hati. Pendidikannya bersifat kontinyu, wajar dan spontan.

B. Pendidikan dan Karir

Pendidikan yang ditempuh johann Heinrich Pestalozzi dimulai dengan


memasuki Sekolah Dasar , sekolah Menengah, kemudian memasuki Collegium
Carollinum yaitu sebuah sekolah lanjutan yang didirikan ada abad 8 kemudian
dibangkitkan kembali pada abad 17. Sebagai sekolah Humanist oleh seorang
tokoh pembaharu agama yang liberal dan Sarjana Klasik yaitu Ulrich Zwingli.

Di Akademi Pestalozzi belajar Bahasa dan Sastra Yunani, Yahudi,


Sejarah, Retorika serta Filsafat dibawah bimbingan professor yang berpikiran
progresif beliau terus mendorong dan mendukung idealism dan minat Pestalozzi
terhadap reformasi social.

Untuk menopang hidupnya Pestalozzi menjadikan menulis sebagai


karir.Tahun 1780 ia menulis artikel pada sebuah jurnal The Evening Hours Of
A Hermit yang isinya memerinci prinsip-prinsip pandangan pedegogik dalam
bentuk aporisma.
C. Tujuan Program Pestalozzi

Program-program Pestalozzi bertujuan membantu meletakkan dasar


pendidikan pra-sekolah kearah perkembangan sikap dan perilaku, pengetahuan,
keterampilan ,kreativitas dan daya cipta tinggi yang diperlukan oleh anak usia
dini dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan dan untuk pertumbuhan serta
perkembangan selanjutnya. Program-program tsb mengantisipasi masa emas
anak (1-6 tahun) yang memerlukan stimulasi dan rangsangan yang disesuaikan
dengan kelompok usia dan temanya dibuat menurut tuntutan jaman.

D. Fungsi Program Pestalozzi

Berdasarkan tujuan di atas dan mengingat pentingnya pendidikan anak


sedini mungkin maka program Pestalozzi berfungsi untuk :

- Memperkenalkan anak dengan dunia dan alam sekitarnya;

- Memperkenalkan peraturan dan menanamkan disiplin diri pada


anak;

- Menanamkan rasa percaya diri dan fleksibilitas anak (pembentukan


karakter);

- Mengembangkan kemampuan yang dimiliki oleh anak sesuai dengan


tahap perkembangannya.;

- Mengembangkan kemampuan anak bersosialisasi /bermasyarakat;.

- Memperkenalkan anak kepada 9 jenis intelegensia menurut Gardner


(Multiple Intelligences)yaitu kecerdasan linguistik, logis-matematika,kinestetik,
visual-spasial (ruangan), bermusik, interpersonal, intrapersonal, naturalis dan
kecerdasan moral;

- Memberi anak kesempatan yang luas untuk tetap menikmati masa


bermainnya.

E. Dasar Pendidikan Teologis

Dalam pandangan teologisnya, Pestalozzi memberikan penjelasan bahwa


untuk menentukan sebuah metode pendidikan yang baik, perlu didasarkan
kepada beberapa point, antara lain:

Kepercayaan kepada Allah (dalam memahami ini, Pestalozzi


memberikan penggambaran bahwa manusia perlu bersandar kepada Allah
sebagai pencipta dan awal dari segala pengetahuan).

Alam sebagai pedoman (pemaparan tentang point ini lebih kepada


penalaran kita dalam menyesuaikan proses belajar kita kepada irama alami).
Yesus dalam pelayanan kepada sesama dilihat sebagai contoh ideal.

Manusia memiliki jati diri dan tugas selama hidup di dunia, yang
dibagi kedalam lima point:

- Sebagai makhluk yang memiliki kepercayaan di mana di dalamnya


memilikipengalaman beriman secara pribadi

- Yang memiliki sifat-sifat alamiah

- Merupakan makhluk sosial

- Bermoral

- Memiliki sifat ilahi.

F. Peran Pengajar

Pestalozzi memberikan beberapa point yang dianggap penting dari hasil


pengamatannya tentang tugas dari seorang pengajar, antara lain:

- Pengajar bertugas memberikan pengetahuan baru jika naradidik


sudah memahami pengetahuan yang telah diberikan sebelumnya

- Pengajar bertugas memberikan tugas belajar dalam ruang lingkup


yang terbatas dan terarah agar naradidik dapat focus

- Memanfaatkan pancaindera yang dimiliki naradidik dalam proses


belajar-mengejar

- Mengelompokkan dan menggunakan tiga point penting dalam


mengajar, yaitu: jumlah, bentuk, dan bahasa

- Mengembangkan nalar berpikir naradidik dalam menerima sebuah


pengetahuan

- Melalui pengembangkan nalar berpikir naradidik dituntut untuk


memupuk perasaan dan penghargaan terhadap alam sekitarnya

- Menempatkan pengalaman jasmani dan akal dalam pengalaman


moral dan rohani.

G. Peranan Orang Tua

Pestalozzi juga menekankan satu point yang penting dalam pendidikan,


yaitu peran orangtua sebagai pengajar pertama yang didapatkan naradidik. Bagi
Pestalozzi, orangtua haruslah berperan dalam menanamkan iman dalam diri
naradidik melalui kasih sayang yang diberikan dirumah. Melalui pengalaman ini,
orangtua dapat memberikan sebuah contoh yang nyata dalam perlakuan mereka
kepada naradidik yang dapat memberikan gambaran bahwa beginilah kasih Allah
kepada manusia. Sehingga harapan dari Pestalozzi bahwa naradidik juga dapat
membawa pengalaman imannya kedalam ruang pembelajaran dikelas. Di mana
proses pembelajaran yang ditawarkan oleh Pestalozzi bukanlah proses
pembelajaran yang sudah ada dan telah baku, akan tetapi Pestalozzi
memulainya dengan pengalaman-pengalaman dan kemudian berefleksi atas
semua pengalaman-pengalaman itu.

H. Metode

Dengan memakai metode pengalaman, maka Pestalozzi dalam


merumuskan dasar-dasar kurikulumnya menggunakan akal, tubuh dan hati,
sebagai tiga point yang penting dalam proses pembelajaran yang dianjurkan
oleh Pestalozzi dengan memanfaatkan pancaindera dari naradidik. Oleh sebab
itulah, Pestalozzi berharap agar pendidikan ini dapat dirasakan oleh setiap anak
tanpa memandang status sosialnya. Kesetaraan dalam menerima pendidikan
itulah yang sebenarnya menjadi point penting yang diinginkan oleh Pestalozzi
bagi anak-anak, karena semua ini merupakan sebuah dobrakan yang diberikan
agar pendidikan dapat dirasakan oleh semua golongan masyarakat.

Dasar metodenya adalah:

- Impression atau pengamatan

- Ekspresi dalam bentuk bahasa, benda-benda, bilangan atau


hitungan dan moral

Asas didaktik yang pokok adalah asas keberupaan. Yang mana apaa-apa
yang akan diajarkan kepada anak harus terlebih dahulu diperagakan atau
diperlihatkan kepada anak. Jadi sifat dari pendidikan Pestalozzi adalah
pengajaran klasikal dan peragaan

Ide Pestalozzi lainnya yang juga penting adalah Learning by Doing, belajar
sambil melakukan. Untuk ini guru harus dipersiapkan untuk tidak selalu
menyuapi anak didik terus menerus. Sedangkan belajar aktif menurut
Pestalozzi mengharuskan anak mencoba, mengeksplorasi, mengobservasi,
melakukan sendiri kegiatan sehari-hari. Dengan melalui learning by doing
barulah anak belajar yang sebenarnya.

Dalam pendidikan terdapat beberapa beberapa hal diantaranya:

1. Dasar Pendidikan : Dasar sosial, dasar psikologis.

2. Tujuan Pendidikan : Mempertinggi derajat rakyat dengan


mengembangkan potensi jiwa anak secara wajar.
3. Isi Pendidikan : Anasir-anasir dalam pengajaran berupa: bunyi,
bentuk dan bilangan.

4. Lembaga Pendidikan: Rumah kerja, rumah yatim piatu, lembaga


pendidikan.

5. Metode Pendidikan : Azas peragaan dan azas perkembangan.

Konsep tentang Pendidikan

Hakekat Pendidikan

Sense impression meliputi pikiran bersih terlepas dari observasi

Metode Pendidikan

Metode yang diangkat oleh Pestalozzi disebut Pestalozianisme yaitu


metode yang coba mengangkat perbedaan individual dan menstimulasi aktivitas
diri si anak. Metode ini dapat dicapai lewat kegiatan menggambar, menyanyi,
latihan fisik dan berkelompok.

Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan menurut Pestalozzi adalah modern civilization.


Khususnya pembebasan diri dari kekusutan persepsi diri, hal-hal yang tidak
berguna, pengetahuan, ambisi untuk memperoleh kebahagiaann.

Substansi Pendidikan

Pestalozzi percaya bahwa masyarakat dapat diperbaharui melalui


pendidikan. Setiap orang harus merasa bahwa Allah dan alam memberi
kepadanya potensialitas kebajikan untuk berkembang dan secara individual
setiap anak adalah suci.

2. Montesorri

Montessori dilahirkan di Ancona, Italia 1870, Ayahnya seorang pejabat sipil


yang berpengaruh namun masih memiliki pandangan konservatif tentang peran
wanita di masyarakat. Sebaliknya ibunya berpandangan wanita harus maju dan
mencapai cita-citanya sejauh mungkin yang dapat dicapai dalam hidup.

Pada usia 26 tahun Montessori menjadi dokter wanita pertama di Italia. Ia


ditugaskan menjabat sebagai bagian perawatan medis untuk menangani pasien
dari rumah sakit jiwa dan di sanalah ia menemui anak-anak keterbelakangan
mental yang mempunyai cara mereka sendiri untuk belajar. Hal ini merupakan
sebab utama yang membakar kecintaannya pada pendidikan dan dunia anak-
anak. Dimulai dengan fasilitas tempat penitipan anak di salah satu lingkungan
termiskin di Roma, Montessori meletakkan berbagai teorinya dalam praktek.
Kedua metode itu dipengaruhi oleh pelatihan sebelumnya di bidang kedokteran,
pendidikan, dan antropologi.
Teori Perkembangan Montessori

Anak memiliki kemampuan sendiri untuk belajar sesuai dengan tingkat


kematangannya dan anak belajar dengan cara yang berbeda dengan orang
dewasa. Ada saat dimana anak akan sangat peka terhadap lingkungannya, saat
tersebut dinamakan Montessori sebagai Sensitive periods. Sensitive periods
adalah suatu masa dimana anak-anak akan sangat mudah menguasai tugas-
tugas tertentu. Apabila anak dicegah untuk menikmati pengalaman-pengalaman
yang dipandu secara alamiah itu, maka kemampuan-kemampuan yang harusnya
dicapai pada masa peka itu tidak akan dimiliki dan hal ini akan mempengaruhi
perkembangan anak selanjutnya. Menurut montessori ada 5 masa sensitif, yaitu:

Sensitive periods for order (0 3 tahun)

Masa peka untuk keteraturan terjadi pada tiga tahun pertama


kehidupan. Anak memiliki kebutuhan yang kuat terhadap keteraturan. Setelah
anak dapat bergerak/berpindah, mereka suka meletakkan benda-benda sesuai
dengan tempatnya. Apabila ada buku atau pensil yang tidak terletak di
tempatnya, anak akan mengembalikan buku atau pensil tersebut ke tempatnya.
Dan bahkan sebelum memasuki periode ini mereka sering menjadi marah jika
melihat sesuatu yang tidak pada tempatnya.

Sensitive periods for details (1 2 tahun)

Anak-anak akan memusatkan perhatiannya pada hal-hal yang


kecil. Sebagai contoh, mereka dapat mendeteksi adanya serangga yang kecil
yang tidak terperhatikan oleh orang dewasa. apabila mereka melihat suatu
gambar, mereka akan mengabaikan obyek utama gambar dan akan beralih
memperhatikan hal-hal kecil yang ada dilatar belakang obyek utama gambar.
Kepedulian akan detail ini menandakan perubahan di dalam perkembangan
psikis anak.

Sensitive periods for using hands (18 bulan 3 tahun)

Anak-anak secara konsisten menggenggam benda-benda yang


disentuhnya. Anak-anak menyukai aktivitas membuka dan menutup benda-
benda (dengan seluruh telapak tangannya), memasukan benda-benda ke dalam
suatu wadah, menuangkannya keluar dan memasukkannya kembali (dengan
seluruh telapak tangannya). Selama dua tahun berikutnya atau lebih mereka
memperbaiki gerakan dan indera sentuhan mereka.
Sensitive periods for movements

Periode kepekaan yang paling mudah dibaca adalah berjalan.


Belajar berjalan adalah sejenis kelahiran kedua, anak berubah dari makhluk yang
tidak berdaya menjadi makhluk yang aktif. Anak-anak didorong oleh implus yang
tidak bisa dilawan dalam upaya mereka untuk berjalan, dan mereka berjalan
dengan bangga seolah-olah mereka telah menemukan caranya.

Sensitive periods for learning language

a. Secara tidak sadar (3 bln - 3 thn)

Anak-anak menyerap bunyi-bunyi, kata-kata, dan tata bahasa dari


lingkungannya. Anak-anak mempelajari bahasa tanpa banyak memikirkannya,
anak-anak tidak pernah memikirkan imbuhan dapat mengubah suatu arti, atau
anak-anak penutur bahasa inggris yang tidak pernah memikirkan tenses, atau
anak-anak penutur bahasa spanyol yang tidak pernah memikirkan tentang kata
benda yang berubah mengikuti subjeknya, anak-anak tidak pernah berpikir
sekeras itu untuk mempelajari bahasa ibunya.

b. Secara sadar (3 - 6 tahun)

Jika pada usia 3 bulan sampai dengan 3 tahun anak-anak


mempelajari bahasa secara tidak sadar, anak-anak pada usia 3 sampai dengan 6
tahun mempelajari bahasa dengan sadar. Dengan tidak kehilangan masa peka-
nya, anak mempelajari bentuk- bentuk tata bahasa baru dengan penuh
kesadaran.

Pendidikan Dengan Metode Montessori

Pendidikan di Rumah

Pada masa peka anak-anak mendapatkan impuls dari dalam


dirinya untuk secara mandiri menguasai pengalaman-pengalaman tertentu.
Tugas orang tua menurut Montessori bukanlah mengajar secara langsung tetapi
menghargai usaha anak untuk secara mandiri menguasai pengalaman-
pengalaman itu. Orang tua dapat memantau minat-minat anak dan kemudian
memberi kesempatan anak untuk memenuhi minat-minat anak tersebut.

Pendidikan di Sekolah (yang Menganut Pola Pendidikan Montessori).


Pada tahun 1907 Dr. Montessori membuka sekolah pertamanya di Roma.
Walaupun begitu nama Montessori bukanlah merek dagang, sehingga nama
Sekolah Montessori bukan hanya melekat pada sekolah yang didirikannya saja,
tetapi juga pada sekolah-sekolah yang mengimplementasikan ide-ide Montessori.

Ciri khas sekolah Montessori dibanding sekolah konvensional,


diantaranya:

1. Kemandirian dan Konsentrasi

Montessori percaya bahwa anak-anak dapat belajar dengan sendirinya jika


mereka menemukan hal yang menarik bagi mereka. Guru-guru di sekolah
Montessori hanya sebagai fasilitator dengan menyediakan material-material.

2. Pilihan Bebas

Pilihan bebas biasanya membawa anak-anak kepada pengerjaan tugas-


tugas yang paling berkesan bagi anak. Guru percaya kalau anak-anak akan
memilih dengan bebas tugas-tugas yang sesuai dengan kebutuhan batiniah
mereka pada saat itu. Selain itu tugas guru juga memperkenalkan tugas baru
yang disesuaikan dengan kesiapan anak-anak.

3. Hukuman dan Penghargaan

Montessori berpendapat bahwa otoritas dari luar justru akan


mengganggu proses belajar mandiri anak, anak-anak akan belajar dengan
dorongan sempurna sesuai dengan kapasitasnya jika mereka menemukan
material-material yang sesuai.

4. Mempersiapkan untuk mempelajari keterampilan

Keterampilan yang lebih sulit membutuhkan beberapa keahlian untuk


dikuasai, Montessori mengembangkan material-material yang memungkinkan
anak mempelajari suatu keterampilan secara bertahap.

5. Membaca dan Menulis

Anak-anak akan diajari membaca dan menulis secara bertahap,


anak akan diajari menulis pada saat berada di masa peka terhadap bahasa.
anak-anak tidak akan diberikan buku sebelum bisa membaca, hal ini untuk
menghindari rasa frustasi membaca buku.
6. Menekan prilaku yang tidak diharapkan

Walaupun hukuman dan penghargaan diharapkan tidak ada, tetapi


Penghargaan terhadap material pelajaran dan penghargaan terhadap anak lain
berusaha dikembangkan secara alamiah, jika seorang anak menggangu anak
lain, maka anak itu akan ditinggalkan/tak diacuhkan agar secara tak sadar anak
itu belajar menghargai keinginan anak lain untuk tidak diganggu, terkadang guru
turut campur dengan mengisolasi anak itu.

Beberapa prinsip yang mendasari metode Montessori adalah


seabagiberikut :

Prinsip Kemerdekaan Anak bebas untuk menentukan apa yang ingin


dipelajarinya. Pendidikan hanya akan dapat memberikan kondisi
yangmenguntungkan.

Prinsip Disiplin Mainan yang boleh dipilih adalah yang belum dipakai
orang laindan memakai permainan tersebut haruslah benar.

Prinsip Ketidakbergantungan Anak harus belajar melalui permainan


yang dipilihnya sebisabisanya dengan bantuan yang minimal dari pihak guru.

Prinsip penghargaan kepada penguasa dan mengikuti perintah sesuai


intelegen.

Prinsip tentang sedikit pujian dan hukuman Karena segala sesuatu


berjalan secara wajar dan alamiah, makasedikit diperlukan pujian dan hukuman.
Anak dididik untuk memperoleh kepuasan alamiah bukan kepuasan yang
bersumber pada orang lain Prinsip dari sederhana ke kompleks Penyajian materi
dan aktifitas dalam lingkungan Montessori mengikuti urutan dari sederhana
hingga ke yang rumit atau kompleks,memperkenalkan topik baru secara umum
lebih dahulu.

Prinsip Montessori menekankan pada pengalaman kerja. Metode


Montessori menekankan pada kegiatan luar ruangan dan hubungan manusia
dengan alam sekitar. Anak dimotivasi agar menemukan keajaiban alam. Baik
melalui kontak langsung dengan tumbuh-tumbuhanatau binatang. Pengalaman
nyata memberikan landasan belajar abstrakketika anak mulai belajar.

Prinsip perkembangan secara alamiah adalah mendidik anak menurut


perkembangannya secara alamiah. Pendidik harus bekerja mengenali periode
sensitif dan mengkondisikan lingkungan sekolah yang mendukung anak
berkembang secara optimal, khususnya dalam menyelesaikan tugas-tugas dari
guru.

Di sini metode Montessori juga mempunyai strategi tersendiri bagi anak


seperti:

Memberikan kebebasan dan menumbuhkan tanggung jawab.

Maksud dari strategi ini bebas bergerak dan bermain. Bebas berinteraksi,
bebas bekerja sesuai kesensitifan anak. Namun anak tidak bebasmenyia-nyiakan
waktu luang, merusak sesuatu, atau mengganggu anak lain.Aturan utamanya
adalah melarang perilaku negatif. Jadi anak belajarsepanjang mereka produktif
dan tanggung jawab

Memupuk perilaku positif.

Pendidik menumbuh kembangkan sikap positif di antara anak dengan


memberikan umpan balik yang membangun terhadap upaya anak dalambelajar
dan memberikan contoh perilaku yang positif. Memupuk perilaku positif
berdasarkan pada lingkungan sosial, termasuk hubungan manusiadengan alam
dan benda mati. Menumbuhkan sikap menghargai diri sendiridan orang lain,
dengan mencontohkan perilakunya sendiri. Dengan memahami bahwa perilaku
negatif bersifat menyakitkan, anak-anak akanbelajar bekerja sama dengan
menurut anjuran guru, dan mau menghormatidiri sendiri dan orang lain.

Menumbuhkan sikap mandiri.

Kita dapat memberikan anak kemandirian, mereka harus memilikisikap


mandiri sendiri dari dalam. Dengan bersikap baik dan konsistenterhadap makna
kemandirian dan memberikan bimbingan dengan sabar dantelaten, kita dengan
sendirinya memupuk anak memiliki kemauan dankemampuan.

Memupuk disiplin diri.

Disiplin diri atau dorongan dari dalam anak mengatur dan melatih diri
sendiri dan meniadakan keharusan disiplin dari luar, dengan membuat anak
bertanggung jawab dan memiliki tantangan, pendidik membantu anak
belajarsesuatu dan mempersiapkan konsentrasi anak.

Mempersiapkan lingkungan mengacu pada realita.

Montessori percaya anak di bawah usia lima tahun perlu bimbingan


membedakan antara kenyataan (realitas) dengan fantasi. Dengan memahami
kesukaan anak terhadap perbuatan dan obyek dalam kehidupan sehari-hari,anda
akan mengetahui bahwa fantasi di usia sebelumnya, yang diperoleh darikomik
atau dongeng, dapat membingungkan anak dalam mempelajari
realitalingkungan alam sekitar.Pendekatan Montessori tentu saja tidak mengacu
pada fantasi anak. Inibertentangan dengan belajar merangsang keingintahuan
anak. Prioritasnya adalah memberikan anak tentang realita dengan menghibur
melalui latihan yang bersifat fiksi. Metode Montessori mengelilingi anak dengan
alam danobyek nyata, ini membuahkan pengalaman yang disimpan dalam
memahami sehingga mampu membedakan antara fantasi yang dilihat dalam
media masa dengan realita yang dialami sendiri melalui panca indera.

6) Dalam menanggapi masalah keberadaan dan perkembangan fantasi


ada dua psikolog yang berpendapat tentang fantasi.

Dr. Montessori, berpendapat fantasi anak dalam perkembangannya harus


dibatasi tidak boleh dibebaskan seleluasa mungkin. Sebab jika fantasi tidak
dibatasi, dapat menghambat kemadirian anak-anak, jadi tidak realistis, karena
fantasinya seseorang anak dapat terlena dengan dunia khayalnya. Maksudnya
bisa dijelaskan dengan contoh, pada masakini anak-anak senang terhadap
cerita-cerita anak nakal, sinenek sihir, kuku panjang atau cerita-cerita yang
menakutiseorang anak, pada saat kita menceritakan cerita yang seperti itu
kepada anak maka ada 2 yang harus dipikirkan apakahanak akan takut terhadap
tokoh cerita tersebut, dan apakahanak akan menirukan gaya-gaya yang ada
dalam tokoh ceritaitu. Masa-masa ini anak tidak menghiraukan tentang
kondisilingkungan, ia senang mementingkan dirinya sendiri.

Masa-masa sensitif yang diungkapkan Montessori yaitu :

Lahir - 3 tahun :Pikiran dapat menyerap pengalaman - pengalaman


sensoris

1,5 3 tahun :Perkembangan bahasa

1,5 4 tahun : Koordinasi dan perkembangan otot, minat pada


benda-benda kecil

2 4 tahun :Peneguhan gerakan minat pada kebenaran dan


realitas menyadari urutan dalam waktu dan ruang

2,5 6 tahun : Peneguhan sensoris

3 6 tahun :Rawan pengaruh orang dewasa

3,5 4,5 tahun :Menulis

4 4,5 tahun :Kepekaan indera

4,5 5,5 tahun :Membaca


3. Ki Hajar Dewantara

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat, sejak


1972 menjadi Ki Hadjar Dewantara, EYD: Ki Hajar Dewantara, beberapa
menuliskan bunyi bahasa Jawanya dengan Ki Hajar Dewantoro; lahir di
Yogyakarta, 2 Mei 1889 meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69
tahun[1]; selanjutnya disingkat sebagai "Soewardi" atau "KHD") adalah aktivis
pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan
bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri
Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan
kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan
seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari


Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani,
menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Namanya
diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar
Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah
tahun emisi 1998.[2]

Ia dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden RI,


Soekarno, pada 28 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik
Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959)[3].

Masa muda dan awal karier

Soewardi berasal dari lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta. Ia


menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda). Kemudian
sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai
tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai penulis dan wartawan di
beberapa surat kabar, antara lain, Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan
Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong
penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat
antikolonial.

Aktivitas pergerakan

Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi
sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif di
seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran
masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya
persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama BO
di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya.

Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu


organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan
pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker
(DD). Ketika kemudian DD mendirikan Indische Partij, Soewardi diajaknya pula.

Dalam pengasingan
Dalam pengasingan di Belanda, Soewardi aktif dalam organisasi para
pelajar asal Indonesia, Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Di sinilah ia
kemudian merintis cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu
pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akte, suatu ijazah pendidikan yang
bergengsi yang kelak menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan
yang didirikannya. Dalam studinya ini Soewardi terpikat pada ide-ide sejumlah
tokoh pendidikan Barat, seperti Froebel dan Montessori, serta pergerakan
pendidikan India, Santiniketan, oleh keluarga Tagore. Pengaruh-pengaruh inilah
yang mendasarinya dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri.

Taman Siswa

Soewardi kembali ke Indonesia pada bulan September 1919. Segera


kemudian ia bergabung dalam sekolah binaan saudaranya. Pengalaman
mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar
bagi sekolah yang ia dirikan pada tanggal 3 Juli 1922: Nationaal Onderwijs
Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Saat ia genap
berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, ia mengganti namanya
menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan
di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan
rakyat, baik secara fisik maupun jiwa.

Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di


kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa
berbunyi ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.
("di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi
dorongan"). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat
Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa.

Pengabdian pada masa Indonesia merdeka

Dalam kabinet pertama Republik Indonesia, KHD diangkat menjadi Menteri


Pengajaran Indonesia (posnya disebut sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran
dan Kebudayaan) yang pertama. Pada tahun 1957 ia mendapat gelar doktor
kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari universitas tertua Indonesia,
Universitas Gadjah Mada. Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, ia
dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya
dijadikan Hari Pendidikan Nasional (Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun
1959, tanggal 28 November 1959).

Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 26 April 1959 dan dimakamkan


di Taman Wijaya Brata.

4. Mohammad Syafei

Dilahirkan di Matan Kalimantan Barat pada tahun 1893, ibunya bernama


Syafiah sedangkan ayahnya sudah meninggal sejak ia masih kecil. Ia dibesarkan
oleh ayah angkatnya bernama Marah Sutan sedagkan ibu angkatnya Chalidijah.
Setelah tamat sekolah guru di bukittinggi, ia bekerja sebagai guru di sekolah
kartini di Jakarta selama 8tahun. Pada tanggal 31 mei 1922 ia pergi ke negeri
Belanda untuk melanjutkan sekolahnya sebgai guru dan sebagai penggemar
seni. Selama 4 tahun di negeri belanda ia memperoleh ijazah guru eropa,
menggambar, pekerjaan tangan, musik. Pada tanggal 31 oktober 1926 ia
diserahi tugas memimpin sekolah di kayu tanam dan akhirnya sekolah tersebut
diserahkan sepenuhnya kepadanya. Ia berpedoman pada prinsip berdiri sendiri,
tidak mengharapkan bantuan dari luar yang mengikat. Segala perkakas sekolah
adalah hasil karya murid muridnya.

5. Kiyai Haji Ahmad Dahlan

Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis (lahir di Yogyakarta, 1


Agustus 1868 meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun)
adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah putera keempat dari
tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang
ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa
itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga
menjabat penghulu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa itu.

Pengalaman organisasi

Atas jasa-jasa KH. Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran


bangsa Indonesia melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah
Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat
Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Dasar-dasar penetapan itu ialah sebagai
berikut:

1. KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk


menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan
berbuat;

2. Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak


memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut
kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan umat, dengan dasar
iman dan Islam;

3. Dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha


sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan
bangsa, dengan jiwa ajaran Islam; dan

4. Dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah


mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan dan
berfungsi sosial,

6. Rahmah El Yunusiah

Negeri Minangkabau terkenal telah melahirkan begitu banyak tokoh


utama di negeri ini, baik alim ulama maupun para cendekia. Tidak hanya hanya
kaum pria yang menonjol, tapi juga kaum wanitanya. Salah satu tokoh
perempuan hebat dari negeri ini adalah Rahmah El-Yunusiyah. Tidak diragukan
lagi Rahmah el-Yunusiyah adalah salah satu tokoh wanita hebat yang dimiliki
negeri ini. Meskipun tidak diangkat sebagai salah satu pahlawan nasional, tetapi
beliau menorehkan sejarah hidupnya denga tinta emas. Perguruan Diniyah Putri
Padang Panjang yang tetap eksis hingga hari ini merupakan salah satu bukti
perjuangannya. Bahkan beliau adalah perempuan pertama yang mendapat gelar
Syaikhah dari Universitas Al-Azhar Mesir. Penganugerahan gelar syaikhah yang
diberikan pada tahun 1957 ini dimaksudkan untuk menghormati jasa-jasa beliau
dalam bidang pendidikan kaum perempuan.

Rahmah El-Yunusiyah dilahirkan pada hari Jumat 20 Desember 1900 di


Bukit Surungan, Padang Panjang, Sumatera Barat. Anak bungsu dari lima
bersaudara ini merupakan putri dari pasangan Muhammad Yunus dan Rafiah.
Rahmah berasal dari keluarga yang taat beragama. Ayahnya adalah seorang
ulama besar yang menjabat sebagai kadi di negeri Pandai Sikat, Padang
Panjang. Dia juga seorang haji yang pernah mengenyam pendidikan agama
selama empat tahun di Mekkah. Kakak sulungnya, Zainuddin Labay merupakan
seorang tokoh pembaharu sistem pendidikan Islam Diniyah School yang
didirikan tahun 1915. Zainudin Labay mengusai beberapa bahasa asing yaitu
Inggris, Arab, Belanda. Dengan kemahirannya berbahasa asing menyebabkan
wawasan Zainuddin sangat luas. Dialah yang menjadi guru, pemberi inspirasi,
dan pendorong cita-cita Rahmah el-Yunusiyah.

Meski hanya mengenyam pendidikan dasar selama tiga tahun di Diniyah


School, tapi Rahmah El-Yunusiyah memiliki wawasan yang luas. Dia lebih banyak
belajar otodidak dan juga belajar langsung kepada kedua kakak laki-lakinya,
Zainuddin Labay dan Mohammad Rasyid. Seperti kebanyakan orang Melayu
lainnya yang menyeimbangkan antara pendidikan umum dan agama, Rahmah
pun intens belajar agama. Pagi hari sekolah di Diniyah School, sore hari mengaji
kepada para ulama. Beliau mengaji kepada Haji Abdul Karim Amrullah alias Haji
Rasul, ayahanda dari ulama terkenal Buya Hamka. Selain mengaji kepada Haji
Rasul, Rahmah juga mengaji kepada Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim, Syekh
Abdul Latif Rasyidi, Syekh Mohammad Jamil Jambek dan syekh Daud Rasyidi.
Lingkungan relijius dan cendekia seperti inilah yang telah menumbuhkan
kepribadian Rahmah.

Rahmah dikenal sebagai sosok yang cerdas, lincah, menyukai hal-hal


baru, dan memiliki tekad baja. Jika sudah menginginkan sesuatu, maka tiada
seorang pun yang mampu menghalanginya. Karena kecerdasannya, setelah lulus
sekolah dia diminta menjadi guru bagi almamaternya. Disela-sela kesibukannya
mengajar, dia mengikuti kursus kebidanan di RSU Kayu Taman (1931-1935). Ia
juga belajar ilmu kesehatan dan pertolongan pertama pada kecelakaan.

Pada saat itu masih sangat sedikit perempuan yang bersekolah.


Paradigma masyarakat Melayu memandang perempuan hanyalah makhluk kelas
dua yang tidak perlu bersekolah tingi. Percuma bersekolah jika akhirnya hanya
masuk ke dapur. Perempuan masa itu sangat pasif dan belum mampu
memberikan kontribusi riil bagi kemajuan agama dan bangsanya. Rahmah
sangat prihatin dengan kondisi ini. Ia berpendapat pendidikan sangat penting
bagi kaum perempuan. Dengan pendidikan maka kaum perempuan mampu
mengangkat harkat dan martabatnya, mampu melahirkan generasi penerus
yang berkualitas.

Berangkat dari keprihatinan inilah Rahmah El-Yunusiyah bertekad untuk


mendirikan sekolah khusus bagi kaum perempuan. Dibantu oleh kakak
sulungnya Zainuddin Labay, akhirnya Rahmah El-Yunisiyah berhasil mewujudkan
mimpinya. Pada tanggal 1 November 1923 berdirilah Madrasah Diniyah Li al-
Banat.

Bahu membahu dengan Zainuddin Labay, Rahmah mengelola sekolah ini.


Awalnya murid sekolah ini hanya 71 orang yang terdiri dari kaum ibu-ibu muda.
Bertempat di serambi masjid Pasar Usang, mereka belajar ilmu-ilmu agama dan
Bahasa Arab. Seiring berjalannya waktu, murid Rahmah pun bertambah. Akan
tetapi baru sepuluh bulan sekolah ini berjalan, Zainuddin Labay dipanggil oleh
Alloh SWT, meninggal dalam usia muda. Rahmah sangat terpukul dengan
musibah ini. Dia kehilangan seseorang yang selalu membimbing, mengarahkan
dan memberi semangat untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Tapi Rahmah pun
segera bangkit, tidak larut dalam kedukaan. Dia tetap melanjutkan keberadaan
Madrasah Diniyah Li al-Banat bahkan membuat keputusan untuk memberikan
pengajaran klasikal lengkap dengan sarananya seperti gedung, meja, bangku,
papan tulis, kapur dan sebagainya.

Rahmah berjuang keras untuk mendirikan gedung bagi sekolahnya. Berkat


kegigihannya, gedung sekolah itu pun dapat berdiri diatas tanah wakaf dari
ibundanya sendiri, Ummu Rafiah. Diatas bangunan sederhana dari bambu
berukuran 12 X 7 m inilah kegiatan belajar-mengajar berlangsung setiap hari.

Rahmah El-Yunusiyah selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi


lembaga pendidikannya. Dia ingin mendirikan gedung yang layak bagi para
muridnya, bukan dari bambu. Akhirnya Rahmah memutuskan untuk mengadakan
tour penggalangan dana .

Berkat kegigihannya, lembaga pendidikannya mengalami perkembangan


yang sangat pesat. Di tahun 1926 ia membuka kelas Menjesal School. Kelas ini
ditujukan bagi para wanita yang belum bisa baca tulis. Kemudian tahun 1934
Rahmah berhasil mendirikan sekolah Taman Kanak Kanak (Freubel School) dan
Junior School (setingkat HIS). Ia juga mendirikan Diniyah School Putri tujuh tahun
yang terdiri dari tingkat Ibditaiyah selama empat tahun dan tingkat Tsanawiyah
selama tiga tahun.

Dalam kenyataannya, Rahmah el Yunusiyyah menghadapi problem tenaga


pendidik untuk lembaga pendidikan yang dibukanya. Guna memenuhi tuntutan
tersebut, ia membuka Kulliyat al Mualimat al Islamiyah pada tahun 1937.
Kulliyatul Mualimat al Islamiyyah ini bertujuan untuk mencetak tenaga guru
muslimah profesional. Jangka waktu pendidikannya ditempuh selama tiga tahun.
Setahun sebelumnya, yaitu tahun 1936 Rahmah berhasil mendirikan sekolah
tenun.
Diniyah School Putri Padang Panjang mendapat tempat di hati masyarakat.
Lulusannya sangat diminati. Tidak hanya di Sumatra dan Jawa bahkan hingga
masyarakat Malaysia dan Singapura. Rahmah kemudian membuka cabang
Diniyah School di beberapa tempat. Ketika ia mengikuti Kongres Perempuan
Indonesia mewakili Sumatera Barat di tahun 1935, Rahmah sekaligus membuka
cabang di Kwitang dan Tanah Abang. Kemudian di tahun 1950, ia membuka
cabang di Jatinegara dan Rawasari.

Rahmah juga berusaha menyempurnakan institusinya dengan cara


memiliki lembaga pendidikan setingkat perguruan tinggi. Cita-cita ini terlaksana
pada tahun 1967 dengan berdirinya Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Dakwah. Pada
tahun 1969. Kedua fakultas ini berubah namanya menjadi Fakultas Dirasah
Islamiyyah. Ijazah Sarjananya diakui setara dengan Ijazah Fakultas Ushuluddin
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN).

Dalam mengelola lembaga pendidikannya, Rahmah memilih sikap


independen tidak berafiliasi kepada pihak manapun, baik pemerintah maupun
partai.Sikap ini terlihat jelas ketika Rahmah menolak subsidi dana pendidikan
dari pemerintah kolonial Belanda. Rahmah juga menolak penggabungan sekolah-
sekolah Islam di Minangkabau. Dia berpendapat, independensi menyebabkan
sekolah bebas untuk berjalan sesuai dengan visi dan misi sendiri, sehingga
mampu menghasilkan para pelajar yang cerdas, shalihah dan militan.

Disamping berjuang di bidang pendidikan, Rahmah juga turut berperan


aktif dalam organisasi kemasyarakatan. Dia pernah aktif di beberapa organisasi,
diantaranya yaitu Serikat Kaum Ibu Sumatera (SKIS), Taman Bacaan, Anggota
Daerah Ibu.

Pada masa pendudukan Jepang Rahmah aktif di organisasi Gyu Gun Ko En


Kai, Haha no Kai. Sewaktu pecah perang pasifik, Rahmah menjadikan Diniyah
School sebagai Rumah Sakit darurat. Kemudian ketika berita proklamasi
kemerdekaan belum sampai kepada khalayak ramai, Rahmah adalah orang yang
pertama kali mengibarkan bendera merah putih di Sumatera Barat. Sungguh luar
biasa keberaniannya. Di era kemerdekaan, Rahmah mengayomi Laskar Sabilillah
dan Laskar Hizbulwatan. Ia juga turut mempelopori terbentuknya Tentara
Keamanan Rakyat.

Keberhasilannya dalam mengelola Perguruan Diniyyah Putri Padang


Panjang mendapat apresiasi tidak hanya dari dalam negeri tapi juga dari luar
negeri. Rektor Universitas Al Azhar Mesir, Dr.Syaikh Abdurrahman Taj
mengadakan kunjungan ke Perguruan pada tahun 1955. Kemudian beliau
mengadopsi sistem pendidikan Perguruan Diniyyah Putri Padang Panjang
tersebut ke Universitas Al Azhar yang pada waktu itu belum memiliki pendidikan
khusus bagi perempuan.

Rahmah El-Yunusiyyah berhasil mewarnai kurikulum Al-Azhar. Atas jasanya


tersebut, Rahmah mendapat gelar Syaikhah dari Universitas Al Azhar pada tahun
1957. Beliaulah wanita pertama yang mendapat gelar syaikhah. Prestasi yang
sangat membanggakan bagi Rahmah khususnya dan bagi bangsa Indonesia
umumnya.

Rahmah El-Yunusiyyah telah berhasil membuktikan kepada dunia bahwa


muslimah Indonesia bukanlah perempuan yang terbelakang. Bahwa muslimah
taat bisa berkontribusi bagi agama dan bangsanya. Beliau berhasil mewujudkan
cita-citanya karena keyakinannya yang teguh kepada Alloh serta tekadnya yang
membaja. Rahmah tutup usia pada tanggal 26 Februari 1969. Meskipun beliau
telah tiada tapi semangatnya tetap mengalir hingga hari ini. Kisah hidupnya
tetap memberi inspirasi bagi seluruh muslimah Indonesia.