Anda di halaman 1dari 28

1.

xzzzzzzzzPENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan negara agraris, dimana sektor pertaniannya mempunyai
peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Namun,
sektor ini merupakan sektor yang kurang mendapatkan perhatian secara serius dari
pemerintah dala pembangunan bangsa. Mulai dari proteksi, kelembagaan
permodalan, hingga kebijakan lain yang belum sepenuhnya mendukung sektor ini.
Program-program pembangunan pertanian yang belum terarah serta tidak
berjalannya program membuat sektor pertanian semakin merosot. Meski demikian
bangsa Indonesia sangat bergantung pada sektor ini.
Pertanian merupakan sumber mata pencaharian masayarakat Indonesia. Sektor
usaha pertanian meliputi pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan
merupaka kegiatan yang banyak berperan dalam peningkatan pendapatan
domestic bruto (PDB) nasional. Salah satu hasil pertanian yang strategis adalah
padi. Produk turunan padi berupa beras merupakan bahan pangan yang paling
banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dibandingkan dengan bahan
pangan lainnya. Jumlah penduduk yang semakin meningkat menyebabkan
konsumsi beras perkapita pertahun meningkat menyebabkan konsumsi beras
perkapita pertahun meningkat. Berdasarkan data Kementerian Pertanian (2015)
konsumsi beras di Indonesia meningkat dari 135 kg/orang/tahun pada tahun 2005
menjadi 139 kg/orang/tahun pada tahun 2010. Perlu dilakukakn suatu usaha tani
guna menjaga suatu keberlanjutan pertanian.
Usahatani merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana seorang petani
mengalokasikan sumber daya yang secara efektif dan efisien untuk memperoleh
keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu. Kegiatan usahatani merupakan
kegiatan yang mengupayakan pengelolaan unsur-unsur produksi, baik Sumber
Daya Alam (SDA), Sumber Daya Manusia (SDM), maupun modal dengan tujuan
berproduksi untuk menghasilkan sesuatu di bidang pertanian. Usahatani dilakukan
oleh petani guna untuk melanjutkan kelangsungan hidupnya seperti memenuhi
kebutuhan sehari-hari. Inti dari pertanian adalah usaha tani (farming) karena usaha
tani menyangkut sekumpulan kegiatan yang dilakukan dalam budidaya. Dalam
usahatani, terdapat perhitungan untuk memperoleh suatu keuntungan yang akan

1
diterima. Perhitungan tersebut seperti analisis biaya, pendapatan, BEP (Break
Event Point), dan R/C ratio. Perhitungan-perhitungan itu digunakan agar orang
yang melakukan usahatani mengetahui biaya-biaya apa saja yang dikeluarkan
untuk usahatani, apakah biaya-biaya tersebut melebihi atau memenuhi target
keuntungan yang diinginkan. Peningkatan produksi harus seimbang dengan laju
pertumbuhan penduduk dapat dicapai melalui peningkatan pengelolaan usaha tani
secara intensif.

1.2 Tujuan
Agar mahasiswa mengerti apa itu usaha tani dan analisis usaha tani dalam
suatu proses budidaya tanaman beserta resiko yang ada didalamnya.

1.3 Manfaat
1) Untuk mengetahui apa itu usaha tani
2) Untuk mengetahui analisis usaha tani dalam suatu proses budidaya tanaman
3) Untuk mengetahui resiko resiko dalam suatu usaha tani

2
2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Usahatani


Sejarah pertanian adalah bagian dari sejarah kebudayaan manusia. Pertanian
muncul ketika suatu masyarakat mampu untuk menjaga ketersediaan pangan bagi
dirinya sendiri. Kebudayaan masyarakat yang tegantung pada aspek pertanian
diistilahkan sebagai kebudayaan agraris. Sebagai bagian dari kebudayaan
manusia, pertanian telah membawa resolusi yang besar dalam kehidupan manusia
sebelum revolusi industry. Bahkan dapat dikatakan, revolusi pertanian adalah
revolusi kebudayaan pertama yang dialami manusia.
Menurut Hernanto (1994) usaha tani (farming) adalah bagian inti dari
pertanian karena menyangkut sekumpulan kegiatan yang dilakukan dalam
budidaya. Petani adalah sebutan bagi mereka yang menyelenggarakan usaha tani,
sebagai contoh "petani tembakau" atau "petani ikan". Pelaku budidaya hewan
ternak (livestock) secara khusus disebut sebagai peternak. Berdasarkan data pusat
statistik (2013), saat ini sekitar 75% penduduk Indonesia tinggal diwilayah
pedesaan. Lebih dari 54% diantaranya menggantungkan hidup dari sektor
pertanian dengan tinggat pendapatan yang relative rendah jika dibandingkan
dengan penduduk yang tinggal di perkotaan.
Hernanto (1994) menyebutkan bahwa usaha tani di Indonesia diawali dengan
sistem ladang berpindah (shifting cultivation). Sistem ladang berpindah adalah
sebuah cara perladangan yang nomaden dan hanya ditanami beberapa kali dalam
jangka waktu satu tahun dan setelah itu petani akan meninggalkan area ini. Hal ini
dikarenakan lahan tersebut sudah tidak mampu mendukung produktivitas tanaman
yang diusahakan. Ladang dibuat dengan membuka hutan dengan cara dibabat
kemudian dibakar. Hal ini terus dilakukan selama beberapa tahun sampai pada
tahun ke 10 20 petani akan kembali lagi pada ladang yang pertama.
Beberapa tahun kemudian petani mulai mengenal sistem pertanian bersawah.
Dalam periode ini, orang mulai bermukim di tempat yang tetap. Selain itu,
tanaman padi yang berasal dari daerah padang rumput kemudian diusahakan di
daerah-daerah hutan dengan cara berladang yang berpindah di atas tanah
kering. Dengan timbulnya persawahan, orang mulai tinggal tetap disuatu lokasi
yang dikenal dengan nama kampong walaupun usaha tani persawahan sudah

3
dimulai, namun usaha tani secara berladang yang berpindah-pindah belum
ditinggalkan (Hernanto, 1994).
Pada zaman Hindia-Belanda sekitar tahun 1620, sejak VOC menguasai di
Batavia kebijakan pertanian bukan untuk tujuan memajukan pertanian di
Indonesia, melainkan hanya untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-
besarnya bagi VOC. Sedangkan, pada tahun 1830, Van Den Bosch sebagai
gubernur Jendral Hindia Belanda mendapatkan tugas rahasia untuk meningkatkan
ekspor dan muncullah yang disebut tanam paksa. Sebenarnya Undang-undang
Pokok Agraria mengenai pembagian tanah telah muncul sejak 1870, namun
kenyataanya tanam paksa baru berakhir tahun 1921. Dalam system tanam paksa
(Cultuurstelsel) ini, Van den Bosch mewajibkan setiap desa harus menyisihkan
sebagian sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi ekspor khusunya
kopi, tebu, nila dan tembakau (Hernanto, 1994).
Setelah Indonesia merdeka, maka kebijakan pemerintah terhadap pertanian
tidak banyak mengalami perubahan. Pemerintah tetap mencurahkan perhatian
khusus pada produksi padi dengan berbagai peraturan seperti wajib jual padi
kepada pemerintah. Namun masih banyak tanah yang dikuasai oleh penguasa dan
pemilik modal besar, sehingga petani penggarap atau petani bagi hasil tidak
dengan mudah menentukan tanaman yang akan ditanam dan budidaya terhadap
tanamannya pun tak berkembang (Hernanto, 1994).
Pada permulaan tahun 1970-an pemerintah Indonesia meluncurkan suatu
program pembangunan pertanian yang dikenal secara luas dengan program
Revolusi Hijau yang dimasyarakat petani dikenal dengan program
BIMAS (Bimbingan Massal). Tujuan utama dari program tersebut adalah
meningkatkan produktivitas sektor pertanian (Hernanto, 1994).
Pada tahun 1979 pemerintah meluncurkan program INSUS (Intensifikasi
Khusus), yang meningkatkan efektifitas penerapan teknologi Pasca Usaha Tani
melalui kelompok-kelompok tani dengan luas areal per kelompok rata-rata 50
hektar, setiap kelompok diberi bantuan kredit modal dalam menjalankan usaha
pertaniannya (Lokollo, 2002). Kemudian pada tahun 1980-an pemerintah
meluncurkan program SUPRAINSUS (SI). Program ini merupakan

4
pengembangan dari Panca Usaha Tani untuk mewujudkan peningkatan
produktivitas tanaman padi (Hernanto, 1994).
Pada tahun 1998 usaha tani di Indonesia mengalami keterpurukan karena
adanya krisis multi-dimensi. Pada waktu itu telah terjadi perubahan yang
mendadak bahkan kacau balau dalam pertanian kita. Kredit pertanian dicabut,
suku bunga kredit membumbung tinggi sehingga tidak ada kredit yang tersedia ke
pertanian. Keterpurukan pertanian Indonesia akibat krisis moneter membuat
pemerintah dalam hal ini departemen pertanian sebagaistake holder pembangunan
pertanian mengambil suatu keputusan untuk melindungi sektor agribisnis yaitu
pembangunan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan,
berkelanjutan dan terdesentralisasi (Hernanto, 1994).
Mubyarto (1989) menyebutkan bahwa sistem pertanian dan usahatani yang
ada sekarang ini masih belum efektif dan efisien dari mulai proses awal sampai
pada saat panen dan pasca panen sehingga masih perlu diintensifkan sehingga
dapat memberikan hasil yang optimum. Untuk itu, pemerintah berusaha untuk
mendongkrak kontribusi sektor pertanian Indonesia terhadap perekonomian
dengan mensosialisasikan sistem agrobisnis, diferensiasi pertanian, diversifikasi
pertanian dengan membuka lahan peranian baru, sistem pertanian organik,
berbagai kebijakan harga dan subsidi pertanian, kebijakan tentang ekspor-impor
komoditas pertanian dan lain-lain. Sistem pertanian organik khususnya, telah
dicanangkan pemerintah sejak akhir tahun 1990-an dan mengusung Indonesia go
organik pada tahun 2010, sistem ini pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan
kualitas dan kuantitas produk pertanian mengingat rusaknya kesuburan tanah
akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dan dalam waktu lama serta
pencemaran lingkungan oleh penggunaan pestisida kimia. Semua upaya
pemerintah tersebut bertujuan untuk meningkatkan distribusi pendapatan petani
sehingga dengan ini diharapkan dapat meningkatkan kontribusi sektor pertanian
dalam perekonomian.

2.2 Transek Desa


Transek desa adalah salah satu teknik PRA (Participatory Rural Appraisal)
yang digunakan untuk melakukan pengamatan langsung terhadap lingkungan dan

5
sumberdaya masyarakat (Sanusi, 2015). Menurut Purnamasari (2008) Teknik PRA
terdiri dari (1) teknik penelusuran alur sejarah desa (2) teknik pembuatan bagan
kecendenrungan dan perubahan mata pencaharian (3) teknik penyusunan kalender
musim (4) teknik pembuatan peta atau sketsa peta (5) teknik kajian kelembagaan
desa (Diagram Venn) (6) teknik bagan kegiatan harian (7) tekik penelusuran desa
(transek). Kegiatan ini dilakukan dengan cara berjalan menelusuri wilayah desa
dan mengikuti suatu lintasan tertentu yang telah disepakati bersama masyarakat.
Hasil penelusuran tersebut kemudian dituangkan dalam sebuah bagan atau bagan.
Jenis-jenis transek adalah (1) transek sumberdaya desa (2) transek sumber daya
alam (3) transek dengan topik khusus. Jenis-jenis transek berdasarkan lintasannya
adalah (1) transek lintasan garis lurus (2) transek lintasan zig-zag, pulang pergi,
berputar, menyapu ke semua arah (3) transek lintasan saluran air. Tujuan dari
transek adalah (1) memfasilitasi masyarakat untuk mengungkapkan keadaan desa
dan lingkungannnya sendiri (lokasi sumber daya, batas wilayah, jenis sumberdaya
yang ada, potensi, dan masalah) (2) memfasilitasi masyarakat untuk mengkaji
perubahan sumber daya, sebab, dan akibat perubahan tersebut.

2.3 Profil Usahatani


2.3.1 Karakteristik Usahatani dan Petani di Indonesia
Berdasarkan data Sensus Pertanian (dalam Badan Pusat Statistik, 2013) jenis
Kelamin Petani Petani di Indonesia didominasi oleh laki-laki, dimana lebih dari
75 persen petani di Indonesia berjenis kelamin laki-laki seperti yang ditunjukkan
pada Tabel 1 Dominasi petani laki-laki di Sektor Pertanian terjadi di semua
subsektor Pertanian, dengan persentase terbesar pada Subsektor Perikanan
kegiatan penangkapan ikan yang mencapai 93,72 persen. Sedangkan persentase
petani laki-laki terkecil pada Subsektor Peternakan dengan persentase sebesar 75,
18 persen.
Tabel 1. Presentase Jumlah Tenaga Kerja Laki-laki dan Perempuam di Bidang
Pertanian
Laki-laki Perempuan Jumlah
Subsektor Absolut Absolut Absolut
% % %
(000) (000) (000)
Sektor Pertanian 24.362,16 76,84 7.343,18 23,16 31.705,34 100,00
Susektor

6
1. Tanaman Pangan 16.096,46 78,91 4.302,68 21,09 20.339,14 100,00
2. Hortikultura 9.342,56 78,17 2.608,43 21,83 11.905,99 100,00
3. Perkebunan 11.729,89 83,09 2.386,58 16,91 14.116,47 100,00
4. Peternakan 11.080,28 75,18 3.658,01 24,82 14.738,29 100,00
5. Perikanan
Budidaya ikan 1.141,13 88,54 147,74 11,46 1.288,87 100,00
Penangkapan
869,02 93,72 58,23 6,28 927,25 100,00
ikan
6. Kehutanan 6.221,03 85,82 1.028,00 14,18 7.249,03 100,00
Umur Petani Lebih dari 50 persen rumah tangga pertanian di Indonesia
dengan petani utama berada pada kelompok usia 35-54 tahun, namun demikian
masih ada lebih dari 30 persen yang berusia tua yaitu diatas 54 tahun. Sedangkan
persentase rumah tangga dengan petani utama berumur kurang dari 35 tahun
hanya 12,87 persen saja. Jika dibedakan menurut jenis kelamin, komposisi petani
perempuan berusia tua (diatas 54 tahun) hampir 25 50 persen, sedangkan pada
petani utama laki-laki komposisinya hampir sama dengan total petani utama yaitu
30 persen (Sensus Pertanian dalam Badan Pusat Statistik, 2013)
Tabel 2. Kelompok Umur Petani Laki-laki dan Perempuan
Kelompok Laki-laki Perempuan Jumlah
Umur
Prsentase Prsentase Prsentase
Petani (000) (000) (000)
% % %
Utama
<15 2,84 0,01 0,46 0,02 3,30 0,01
15-24 208,91 0,90 21,03 0,70 229,94 0,88
25-34 2.939,89 12,71 189,75 6,33 3.129,64 11,98
35-44 6.378,80 27,57 506,30 16,88 6.885,10 26,34
45-54 6.524,57 28,20 800,97 26,70 7.325,54 28,03
55-56 4.440,90 19,19 789,00 26,30 5.229,90 20,01
65 2.640,05 11,41 691,99 23,70 3.332,04 12,75
Jumlah 23.135,97 0,01 2.999,50 0,02 26.135,45
Presentase 88,52 11,48 100,00

2.3.2 Tinjauan tentang Komoditas Pertanian


Petani adalah setiap orang yang melakukan usaha untuk memenuhi sebagian
atau seluruh kebutuhan hidupnya di bidang pertanian dalam arti luas yang
meliputi usaha tani pertanian, peternakan, perikanan, dan pemungutan hasil laut
(Fadholi,1981). Pada praktikum ini kami meninjau sawah di Desa
Tunggulwulung, Malang, Jawa Timur dengan menanam komoditas Padi Wangi di
atas lahan seluas 1.250 m2..

7
Klasifikasi tanaman padi adalah sebagai berikut kingdom Plantae, division
Spermatophyta, subdivisio Angiospermae, class Monocotyledoneae, family
Gramineae, genus Oryza, spesies Oryza sativa L (Perdana, 2007).
Budidaya tanaman padi (Oryza sativa L) dipilih oleh banyak petani karena
beras merupakan makanan pokok bagi masyarakat di Indonesia, iklim di
indonesia ialah tropis, kebutuhannya selalu meningkat seiring bertambahnya
jumlah penduduk di indonesia, tidak perlu perwatan setiap-hari, dan teknik
budidayanya mudah dilakukan.

2.4 Analisis Biaya, Penerimaan dan Keuntungan (Pendapatan) Usahatani


a) Analisis Biaya
Biaya ialah setiap pengorbanan atau suatu hal yang perlu dikeluarkan untuk
membuat suatu barang atau untuk memperoleh suatu barang, yang bersifat
ekonomis (Alma dalam Tiku, 2008). Selain melakukan pemilihan teknik budidaya
yang tepat, analisis biaya juga merupakan suatu hal yang perlu dilakukan untuk
keberlangsungan usahatani. Tiku (2008) menyebutkan bahwa analisis biaya ialah
analisis yang digunakan untuk mengetahui biaya-biaya yang dikeluarkan dalam
usahatani. Salah satu biaya yang perlu dianalisis di dalam kegiatan usahatani ialah
biaya produksi.
Menurut Rosyidi (Tiku, 2008) biaya produksi merupakan biaya yang harus
dikeluarkan oleh pengusaha untuk dapat menghasilkan ouput atau semua faktor
prduksi yang digunakan untuk menghasilkan output atau semua faktor yang di
gunakan untuk menghasilkan output. Faktor-faktor tersebut dapat berupa benda
maupun jasa.
Didalam biaya produksi terdapat 3 (tiga) istilah biaya yang perlu diketahui,
yaitu biaya tetap, biaya variable dan biaya total.
1) Biaya tetap (fixed cost) adalah biaya yang besarnya tetap, walaupun hasil
produksinya berubah sampai batas tertentu. Beberapa contoh biaya tetap dalam
kegiatan usahatani ialah sewa lahan, pembuatan kandang dan pembelian
peralatan.

TFC =

8
Keterangan:
TFC = total biaya tetap (Rp)
Xi = jumlah fisik dari input yang membentuk biaya tetap
Pxi = harga input (Rp)
n = jumlah atau banyaknya input
2) Biaya variable (variable cost) ialah biaya yang jumlahnya berubah jika hasil
prduksinya berubah, contohnya ialah biaya pembelian bibit, biaya obat-obatan
dan tenaga kerja (Tuki, 2008).

TVC =

Keterangan:
TVC = total biaya variable (Rp)
VC = biaya variable (Rp)
3) Biaya total ialah keseluruhan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan atau
dengan kata lain biaya total ini ialah jumlah dari biaya tetap dan biaya variable
(Swastha dan Sukartjo dalam Tuki, 2008).
TC = TFC - TVC
Keterangan:
TC = biaya total (Rp)
TFC = total biaya tetap(Rp)
TVC = total biaya variable (Rp)
b) Penerimaan dan Keuntungan
Penerimaan merupakan nilai produk total usahatani dalam jangka waktu
tertentu, baik yang dijual maupun yang tiak dijual (Siregar dalam Tuki, 2008).
Selain itu, Soekarwati (dalam Tuki, 2008) juga berpendapat bahwa penerimaan
ialah hasil dari perkalian jumlah produksi dengan harga jual.
TR = P x Q
Keterangan:
TR = Penerimaan (Total Revenue)
P = Harga (Price)
Q = Jumlah produk (Quantity)

9
Berikut ini ialah pergerakan kurva biaya produksi, jumlah produksi dan
keuntungan yang didapat.

Gambar 1. Kurva Hubungan TR dan TC


Keterangan:
TR : Total Revenue
TC : Total Cost

2.5 Analisis Kelayakan Usahatani


2.5.1 R/C Ratio
Menurut Darsono (dalam Sari (2011) R/C rasio merupakan metode analisis
untuk mengukur kelayakan usaha dengan menggunakan rasio penerimaan
(revenue) dan biaya (cost). Analisis kelayakan usaha digunakan untuk mengukur
tingkat pengembalian usaha dalam menerapkan suatu teknologi. Dengan kriteria
hasil:
R/C > 1 berarti usaha sudah dijalankan secara efisien.
R/C = 1 berarti usaha yang dijalankan dalam kondisi titik impas/Break Event
Point (BEP).
R/C ratio < 1 usaha tidak menguntungkan dan tidak layak
Menurut Sari (2011), R/C Ratio (Return Cost Ratio) merupakan perbandingan
antara penerimaan dan biaya, yang secara matematik dapat dinyatakan sebagai
berikut:
R /C = PQ .Q /(TFC+TVC)

10
Keterangan:
R = Penerimaan
C = Biaya
PQ = Harga output
Q = Output
TFC = Biaya tetap (fixed cost)
TVC = Biaya variabel (variable cost)
2.5.2 BEP (Break Even Point)
Menurut Aulia (2008), analisis BEP atau nilai impas adalah suatu teknis
analisis untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variable,
keuntungan, volume penjualan BEP dalam penelitian merupakan pengukuran
dimana kapasitas riil pengolahan bahan baku menjadi output menghasilkan total
penerimaan yang sama dengan pengeluaran BEP dalam unit dan dalam Rupiah
yang dirumuskan sebagai berikut:
1) BEP dalam unit produksi
Yaitu jumlah produksi yang dihasilkan dimana produsen pada posisi tidak rugi
dan tidak untung. Dengan kata lain BEP satuan menjelaskan jumlah produksi
minimal yang harus dihasilkan oleh produsen. Menurut Aulia (2008), rumus BEP
ialah sebagai berikut:

Keterangan:
BEP = Break Even Point (Titik Impas)
Q = Quantities (Produksi)
FC = Fixed Cost (Biaya Tetap)
VC = Variable Cost (Biaya Variabel)
P = Harga Produk
2) BEP dalam rupiah
Aulia (2008) menyebutkan bahwa BEP alam rupiah ialah tingkat atau
besarnya harga per unit suatu produk yang dihasilkan produsen pada posisi tidak
untung dan tidak rugi. Dengan kata lain BEP harga menjelaskan besarnya harga
minimal perunit barang yang ditetapkan produsen (BEP = HPP). Rumus:

11
Keterangan:
BEP = Break Even Point (Titik Impas)
TR = Total Revenue (Penerimaan)
FC = Fixed Cost (Biaya Tetap)
VC = Variable Cost (Biaya Variabel)
Kurva BEP merupakan keterkaitan antara jumlah unit yang dihasilkan dan
volume yang terjual (pada sumbu X), dan antara pendapatan dari penjualan atau
penerimaan dan biaya (pada sumbu Y). BEP terjadi jika pendapatan dari
penjualan (TR) berada pada titik keseimbangan dengan total biaya (TC).
Sedangkan biaya tetap (FC) adalah variabel yang tidak berubah meskipun jumlah
volume yang dihasilkan berubah. Kurva BEP dapat dilihat pada gambar 5 agar
dapat lebih jelas mengenai perpotongan antara garis penerimaan dan biaya total
(Noviana, 2011).

(Rp)
Penerimaan TR TC
&
Biaya
VC

BEP

FC

Q (Produksi)
0
Volume Produksi

Gambar 2. Kurva Break Even Point (BEP)


Keterangan:
TR = Total Revenue (Penerimaan)
Q = Quantities (Produksi)
FC = Fixed Cost (Biaya Tetap)

12
VC = Variable Cost (Biaya Variabel)
TC = Total Cost (Total Biaya)
BEP = Break Even Point (Titik Impas)
Disimpulkan bahwa Analisa break even point memberikan penerapan yang
luas untuk menguji tindakan-tindakan yang diusulkan dalam mempertimbangkan
alternatif-alternatif atau tujuan pengambilan keputusan yang lain. Analisa break
even point tidak hanya semata-mata untuk mengetahui keadaan perusahaan yang
break even saja, akan tetapi analisa break even point mampu memeberikan
informasi kepada pimpinan perusahaan mengenai berbagai tingkat volume
penjualan, serta hubungan dengan kemungkinan memperoleh laba menurut
tingkat penjualan yang bersangkutan (Noviana, 2011).

13
3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Sejarah Usahatani


Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan oleh Bapak Abdul
Rahman di Desa Tunggulwulung dapat diketahui bahwa lahan yang saat ini
digunakan oleh Bapak Abdul Rahman merupakan lahan yang memang sudah
menjadi lahan pertanian sejak lama. Lahan tersebut tidak pernah beralih fungsi
menjadi lahan non-pertanian meskipun letaknya yang sangat strategis untuk
dijadikan lahan non-pertanian karena teletak di pinggir jalan utama Desa tersebut.
Bapak Abdul Rahman mendapatkan lahan tersebut dari warisan dari orang tuanya.
Selain itu, lahan yang terletak di tepi jalan raya tersebut selalu ditanami komoditas
Padi oleh Pak Abdul Rahman. Pak Abdul Rahman belum pernah menanam
tanaman Padi di lahan tersebut.
3.2 Transek Desa
Berdasarkan wawancara dan pengamatan yang telah dilakukan, dapat
diketahui bahwa Desa Tunggulwulung, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang
berada didaerah pemukiman. Berdasarkan data kecamatan (Admin, 2014)
kecamatan lowokwaru terletak di posisi barat daya kota Malang yang merupakan
lokasi dataran tinggi, dimana ketinggiannya berada pad 460 m dpl. Wilayah Desa
Tunggulwulung ini dikelilingi oleh pemukiman yang sangat padat, selai itu Desa
ini juga terletak tidak terlalu jauh dari kampus-kampus. Selain dikelilingi oleh
pemukiman, Desa Tunggulwulung juga terdapat lahan-lahan pertanian seperti
sawah dan tegalan. Sawah di Desa tersebut mayoritas ditanami oleh komoditas
padi, jagung dan tanaman hortikultura seperti cabai.

3.3 Profil Petani dan Usahatani


Jumlah petani kecil di Indonesia semakian membengkak dari tahun ke tahun.
Menurut data Badan Pusat Statistik (2014) luas lahan pertanian di Jawa hanya 6,9
persen dari luas Indonesia bermukim kurang lebih 67,7 persen penduduk
Indonesia, sehingga bertambahnya petani kecil semakin nyata. Petani kecil
merupakan golongan terbesar dalam kelompok petani di dunia. Menurut
Mubyarto (1989) di Indonesia usahatani dikategorikan sebagai usahatani kecil
karena mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

14
1. Berusahatani dalam lingkungan tekanan penduduk lokal yang meningkat
2. Mempunyai sumberdaya terbatas sehingga menciptakan tingkat hidup yang
rendah
3. Bergantung seluruhnya atau sebagian kepada produksi yang subsistem
4. Kurang memperoleh pelayanan kesehatan, pendidikan, dan pelayanan lainnya
Di Indonesia, batasan petani kecil telah disepakati pada seminar petani kecil
di Jakarta pada tahun 1979. Pada pertemuan tersebut ditetapkan bahwa petani
kecil adalah:
1. Petani yang pendapatannya rendah, yaitu kurang dari setara 240 kg beras per
kapita per tahun
2. Petani yang memiliki lahan sempit, yaitu lebih kecil dari 0,25 hektar lahan
sawah di Jawa atau 0,5 hektar di luar Jawa. Bila petani tersebut juga
mempunyai lahan tegal maka luasnya 0,5 hektar di Jawa dan 1,0 hektar di
luar Jawa.
3. Petani yang kekurangan modal dan memiliki tabungan yang terbatas
4. Petani yang memililki pengetahuan terbatas dan kurang dinamik
Dua ciri yang menonjol pada petani kecil ialah kecilnya pemilikan dan
penguasaan sumberdaya serta rendahnya pendapatan yang diterima. Pada
umumnya mereka hanya menguasai sebidang lahan kecil, disertai dengan
ketidakpastian dalam pengelolaannya. Lahannya sering tidak subur dan terpencar-
pencar dalam beberapa petak. Mereka mempunyai tingkat pendidikan,
pegetahuan, dan kesehatan yang sangat rendah. Mereka sering terjerat hutang dan
tidak terjangkau oleh lembaga kredit dan sarana produksi.
Bersama dengan itu, mereka menghadapi pasar dan harga yang tidak stabil.
Kekurangan modal pada petani kecil di Indonesia untuk megelola tanah dan untuk
membeli sarana produksi dicoba diatasi oleh pemerintah dengan memberikan
bantuan kredit. Hal ini trjadi khususnya pada petani penghasil padi yang
memperoleh kredit melalui program intensifikasi. Program intensifikasi telah
cukup menunjukkan indikasi bahwa perubahan teknologi dalam penanaman padi
dapat memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan apabila
penanaman itu dilakukan dengan cara tradisional.

15
Berdasarkan data wawancara bahwa narasumber petani bernama Bapak
Abdul Rahman yang ber usia 71 tahun, pendidikan terakhir bapak Abdul Rahman
ialah SMA. Bapak Abdul Rahman sendiri memiliki pekerjaan utama yaitu sebagai
petani di desa Tunggulwulung, Malang. Bapak Abdul Rahman memiliki keluarga
yang terdiri dari 1 istri bernama Fatihatul Sholiha dan juga satu orang anak.
Bapak Abdul Rahman tergolong sebagai petani kecil hal ini dikarenakan
berdasarkan kriteria diatas dan didapatkan dari hasil wawancara yaitu bapak
Abdul Rahman hanya memiliki lahan seluas 1250m2, selain itu Bapak Abdul
Rahman memiliki masalah mengenai modal yang sangat terbatas serta
pengetahuan bapak Abdul Rahman yang terbatas dan kurang dinamis.

3.4 Analisis Biaya, Penerimaan dan Keuntungan (Pendapatan) Usahatani


Pendapatan usahatani menurut Gustiyana (2004), dapat dibagi menjadi dua
pengertian, yaitu (1) pendapatan kotor, yaitu seluruh pendapatan yang diperoleh
petani dalam usahatani selama satu tahun yang dapat diperhitungkan dari hasil
penjualan atau pertukaran hasil produksi yang dinilai dalam rupiah berdasarkan
harga per satuan berat pada saat pemungutan hasil, (2) pendapatan bersih, yaitu
seluruh pendapatan yang diperoleh petani dalam satu tahun dikurangi dengan
biaya produksi selama proses produksi. Biaya produksi meliputi biaya riil tenaga
kerja dan biaya riil sarana produksi.
Dalam pendapatan usahatani ada dua unsur yang digunakan yaitu unsur
penerimaan dan pengeluaran dari usahatani tersebut. Penerimaan adalah hasil
perkalian jumlah produk total dengan satuan harga jual, sedangkan pengeluaran
atau biaya yang dimaksudkan sebagai nilai penggunaan sarana produksi dan lain-
lain yang dikeluarkan pada proses produksi tersebut (Ahmadi, 2001). Produksi
berkaitan dengan penerimaan dan biaya produksi, penerimaan tersebut diterima
petani karena masih harus dikurangi dengan biaya produksi yaitu keseluruhan
biaya yang dipakai dalam proses produksi tersebut (Mubyarto, 1989).
Menurut Hernanto (1994), ada beberapa faktor yang mempengaruhi
pendapatan usahatani:
1. Luas usaha, meliputi areal pertanaman, luas tanaman, luas tanaman rata-rata,
2. Tingkat produksi, yang diukur lewat produktivitas/ha dan indeks pertanaman,

16
3. Pilihan dan kombinasi,
4. Intensitas perusahaan pertanaman,
5. Efisiensi tenaga kerja.
Menurut Soekartawi (1995), biaya usahatani adalah semua pengeluaran yang
dipergunakan dalam usahatani. Biaya usahatani dibedakan menjadi dua yaitu
biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap adalah biaya yang besarnya tidak
tergantung pada besar kecilnya produksi yang akan dihasilkan, sedangkan biaya
tidak tetap adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh volume produksi.
Dibawah ini merupakan analisis usaha tani seperti biaya tetap (TFC), biaya
variabel (TVC), penerimaan, keuntungan usaha tani berdasarkan hasil wawancara
yang diperoleh dengan narasumber bapak Abdul Rahman didesa Tunggulwulung,
Malang.
Tabel 3. Biaya Tetap (TFC)
Harga (Rp)
No Uraian Jumlah(Unit) Biaya (Rp)
(perhitungan)
1 Sewa Lahan 1250 m2 5000.000/ha/tahun 625.000
Sewa alat:
2 1 unut 250.000 250.000
Traktor
Penyusutan alat:
1. Cangkul 1 unit (30rb),5th 18.000 2400
3
2. Sabit 1 unit(29rb), 3th 16.000 4300
3. Sprayer 1unit (390rb),7th 105.000 40.714
Total 922.414
Tabel 4. Biaya Variabel (TVC)
No Uraian Jumlah (Unit) Harga (Rp) Biaya (Rp)
1 Benih/bibit 2 kg 0 0
2 Pupuk:
1. Urea 15 kg 3750 56.250
2. TSP 20 kg 3650 73.000
3. Ponska 50 kg 3900 195.000
3 Obat-obatan:
Pestisida (Furadan) 1 unit 18.550 18.550
4 Tenaga kerja
Kegiatan:
1. Olah tanah 2 laki laki 40. 000 80.000
2. Penanaman 2 perempuan 30.000 60.000
3. Panen 2 laki laki 40.000 80.000
Total 562.800

17
Tabel 5. Total Biaya (TC)
No Biaya Total Biaya (Rp)
1 Total biaya tetap (TFC) 922.414
2 Total biaya variabel (TVC) 562.800
Total biaya (TC) 1.485.214
Tabel 6. Penerimaan Usaha Tani
No Uraian Nilai Jumlah (Rp)
1 Produksi (Unit) 1000 kg
2 Harga (persatuan unit) Rp 4800/kg 4.800.000
PenerimaanUsaha tani (TC) 4.800.000
Tabel 7. Keuntungan Usaha Tani
No Uraian Jumlah (Rp)
1 Total Biaya (TC) 1.485.214
2 Penerimaan (TR) 4.800.000
Keuntungan 3.314.786
Berdasarkan perhitungan tabel diatas didapatkan nilai TC sebesar Rp
1.485.214 dan untuk nilai dari TR adalah Rp 4.800.000, sehingga dari kedua nilai
tersebut dapat diperoleh nilai , nilai diperoleh dari perhitungan TR TC
sehingga 4.800.000 1.485.214 dan didapatkan nilai sebesar Rp 3.314.786. Jadi
usaha tani yang dilakukan oleh bapak Abdul Rahman memperoleh keuntungan
sebesar Rp 3.314.786.

3.5 Analisis Kelayakan Usahatani


3.5.1 R/C Ratio
R/C = R / (TFC/TVC)
= Rp 4.800.000/ Rp 1.485.214
= 3,231
Dari hasil perhitungan R/C ratio didapat nilai 3.231. nilai tersebut dapat
menyimpulkan bahwa kegiatan usaha tani yang dilakukan oleh petani layak
untuk dilakukan. Dikatakan layak karena nilai R/C ratio lebih dari 1 dan jka
kurang dari 1 maka usaha tani tersebut tidak layak untuk dilakukan karena
dapat merugiakan petani itu sendiri.
3.5.2 BEP (Break Even Point)
BEP Unit = TFC/ P-(TVC/Q)
= Rp 922.414/ Rp 4.800-(Rp 562.800/1000)
= 217,69

18
Berdasarkan perhitungan BEP unit didapat hasil 217,69 dimana hasil tersebut
merupakan produksi minimal yang harus dihasilkan oleh petani dalam
usahanya agar tidak mengalami kerugian

BEP Penerimaan = TFC/ 1-(TVC/TR)


= Rp 922.414 / 1-(Rp 562.800/ Rp 4.800.000)
= Rp 922.414 / 1 0,11
= 922.414 / 0,89
= Rp 1.036.420.22
Berdasarkan perhitungan BEP penerimaan didapat nilai sebesar Rp
1.036.420,22. Nilai tersebut merupakan total penerimaan yang didapat petani
ketika memproduksi produk sebanyak BEP unit (217,69)

3.6 Pemasaran Hasil Pertanian


Dalam usaha tani pemasaran hasil panen ialah sangat penting bagi petani
karena banyak sekali manfaatnya seperti mencukupi kebutuhan hidup, untuk
keberlanjutan usaha taninya, membantu menyediakan bahan pangan untuk orang
banyak. Maka dari itu bapak petani yaitu bapak Abdul Rahman selaku pengelola
lahan sawah dengan menanam komoditas padi varietas wangi ini menjual hasil
taninya ke SLEP. Slep disini yang di maksud oleh bapak Abdul Rahman ialah
tengkulak yang membeli hasil panennya, tengkulak disini langsung datang ke
lahan bahan Abdul Rahman saat waktu panen sehingga bapak Abdul Rahman
tidak perlu susah-susah menjual hasil panen padinya. Namun dampak negatifnya
ialah harga belinya tidak stabil. Bapak Abdul Rahman ini tidak menjual padi
dalam betuk beras namun menjualnya dalam bentuk gabah. Harga jual gabah ini
sendiri tentukan pada kualitas gabah (ukuran, kondisi, bobot) dan musim
panennya, jika kualitas gabah bagus akan di hargai Rp 4.800, 00/kg sedangankan
gabah yang kualiatasnya kurang baik akan di hargai Rp 4.600,00/kg. Dalam satu
tahun bapak Abdul Rahman hanya menanam padi karena dirasa palig mudah
untuk budidayanya dan mudah untuk menjualnya.

19
3.7 Kelembagaan Petani
Lembaga di pedesaan lahir untuk memeuh kebutuhan sosial masyarakat yang
ada di dalamnya. Menurut Koentjaraningrat (1964), lembaga kemasyarakatan atau
lembaga sosial atau pranata sosial ialah suatu sistim norma khusus yang menata
suatu rangkaian tindakan berpola mantap guna memenuhi suatu kebutuhan khusus
dari manusia dalam kehidupan masyarakat. Di dalam hal ini berlaku sistem norma
yang mengatur tindakan berpola, tindakan berpola itu untuk memenuhi kehidupan
manusia dalam kehidupan masyarakat. Atau dengan kata lain kelembagaan
pedesaan ialah norma atau kebiasaan yang terstruktur dan terpola serta
dipraktekkan terus menerus untuk memenuhi kebutuhan anggota masyarakat yang
terkait erat dengan penghidupan dari bidang pertanian di pedesaan. salah satu
kelembagaan untuk para petani ialah Gabungan Kelompok Tani dimana
melakukan diskusi tentang permasalahnya di lahan, kondisi yang terjadi,
perencanaan kedepannya guna meningkatkan hasil dan pendapatan petani untuk
memenuhi kebutuhannya.
Pada survei lapang yang kami lakukan di Desa Tunggulwulung, Jalan
Kenanga Indah RW 06 RT 05 dengan koresponden atau petani yang kamu jumpai
ialah Bapak Abdul Rahman dengan menanam komoditas Padi varietas padi wangi
dengan luasan lahan olah seluar 1250m2. Di sekitar tempat Bapak Abdul Rahman
ini bercocok tanam tidak ada gabungan kelompok tani dan menurut Bapak Abdul
Rahman ada atau tidaknya gabungan kelompok tani tidak akan mempengaruhi
kondisi lahan dan penghasilanya sehingga Bapak Abdul Rahman merasa
gabungan kelompok tani tidak penting baginya. Namun setelah kami wawancarai
lebih lanjut, beliau tidak mengetahui sebenarnya apa itu gabungan kelompok tani
dan fungsinya sehingga beliau membuat pernyataan seperti di atas.

3.8 Permasalahan dalam Usahatani


Ilmu usahatani merupakan ilmu terapan yang membahas atau mempelajari
bagaimana membbuat atau menggunakan sumberdaya secara efisien pada suatu
usaha pertanian, perikanan atau peternakan. Menurut Soekartawi (2002),
usahatani pada hakekatnya adalah perusahaan, maka seorang petani atau produsen
sebelum mengelola usahataninya akan mempertimbangkan antara biaya dan

20
pendapatan, dengan cara mengalokasikan sumberdaya yang ada secara efektif dan
efisien, guna memperoleh keuntangan yang tinggi pada waktu tertentu. Namun di
dalam usahatani pasti ada kendala dimana dapat di sebabkan oleh alam (iklim)
kondisi tanah, kondisi udara dan air, lalu saat proses budidaya, serangan
organisme pengganggu tanaman, dan masalah saat pemasaran.
Dari contoh di atas kami telah menemui beberapa permasalah yang ada di
lokasi kami survei yaitu Desa Tunggulwulung, RW 06 RT 05 dengan koresponden
atau petani yang kamu jumpai ialah Bapak Abdul Rahman dengan menanam
komoditas Padi varietas padi wangi dengan luasan lahan olah seluar 1250m2,
permasalahannya ialah (1) hasil panen di jual kepada tengkulak, hal ini ada
dampak positifnya dimana Bapak Abdul Rahman tidak susah untuk memasarkan
hasil panennya karena saat panen tengkulak akan datang ke lahannya, namun
dampak negativnya ialah dari hasil wawancara dengan Bapak Abdul Rahman di
katatakan bahwa hasil panen dari beberapa petani akan di gabungkan guna harga
jual di pasar tinggi, hal ini mengidikasi adanya kecurangan di tingkat tengkulak ke
pasar, selain itu juga harga gabah yang dibeli cukup rendah dibandingkan harga
beras yang ada di pasaran sekang berkisar Rp 10.000,00 Rp 15.000,00 dan harga
gabah yang dibeli di Bapak Abdul Rahman ialah Rp 4.600,00 Rp 4.800,00.
Selain itu, (2) Bapak Abdul Rahman merupakan petani konvensional dimana
beliau tidak mau menerima masukan baik untuk mengelola lahannya, misalkan
beliau tidak mau di anjurkan menggunakan pupuk dengan dosis pupuk yang tepat
guna meminimalisir tingkat serangan hama terhadap tanaman padinya. (3) Bapak
Abdul Rahman hanya menggunakan input anorganik ke lahannya, misalkan
pestisida kimia, hal ini dapat menyebabkan resurgensi dan resistensi terhadap
organisme pengganggu tanaman, sedangkan jika menggunakan pupuk kimia
secara intensif dalam jangka waktu lama dapat mengakibatkan perubahan
metabolisme dari mikroorganisme endemik dan antropoda yang hidup di
lingkungan tanah tersebut, Ph tanah menurun.

21
4. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
4.2 Saran

22
5. LAMPIRAN

5.1 Transek Desa dan Peta Desa


5.2 Lampiran Foto Hasil Pengamatan Lapang
5.3 Kalender Musim Tanam
Dari hasil wawancara yang kami lakukan di lapang dengan Bapak Abdul Rahman
selaku pengelola lahan sawah ini menanam padi selama satu tahun full dengan waktu
istirahat lahan BROW satu bulan pasca panen, dari hasil wawancara ini kami
mendapatkan kalender musim tanam seperti di bawah ini :
Waktu Penanaman
Komoditas
I II III
27 Desember 27 April 27 27 Agustus 27
Padi Wangi
27 Maret Juli November

5.4 Quisioner Survey Lapang


Nama Petani : Abdul Rahman
Desa : Tunggulwulung
Dusun :
RT/RW : RT 6/RW 5
Kota/Kabupaten : Malang
Propinsi : Jawa Timur
Komoditas : Padi varietas Wangi
Nama Kelompk Tani : -
Tanggal Wawancara :
I. Sejarah Usahatani
1. Sejarah Pertanian di Desa
2. Sejarah Usahatani Petani
II. Transek Desa
1. Komoditas Pilihan Kelompok
2. Gambar Transek Desa
III. Profil Petani Respnden
1. Nama : Abdul Rahman
2. Umur : 21 Tahun
3. Pendidikan :

23
a. SD
b. SMP
c. SMA
d. PT
4. Pekerjaan Utama
a. Petani
b. Pedagang
c. Tukang kayu/batu
d. PNS
e. Lainnya, sebutkan .
5. Pekerjaan Sampingan
a. Petani
b. Pedagang
c. Tukang kayu/batu
d. PNS
e. Tukang bangunan/buruh
6. Jumlah Anggota Keluarga : 3 jiwa
7. Keterangan Anggota Keluarga
Tabel Data Anggota Keluarga
Pekerjaan Keterangan
No. Nama Hub. Dg. KK Umur Penddk.
Utama Sampingan
Fatihatul Penjaga
1 Istri SD
Solihah warung
Penjaga
2 Anak 20 SMA
toko

8. Penguasaan Lahan Garapan Pertanian


Tabel Data Luas Penguasaan Lahan Pertanian
Jenis Lahan (Ha)
No. Keterangan Jumlah
Sawah Tegal/Kebun Pekarangan
1 Milik Sendiri
- Digarap sendiri
- Disewakan
- Dibagi-hasilkan
Jumlah (a)
2 Milik orang lain
- Disewa

24
- Dibagi-hasilkan
Jumlah (b)
Jumlah (a+b)

9. Kepemilikan Ternak
No. Jenis Ternak Jumlah
1 Sapi -
2 Kambing -
3 Ayam -
4 Lainnya .. -

IV. Usahatani (Kegiatan Bercocok Tanam)


1. Komoditas
2. Pola Tanam
3. Kegiatan Bercocok Tanam
Tabel Kegiatan Bercocok Tanam
No. Waktu Tanam Jenis Kegiatan Uraian

Jika menggunakan pupuk organik apakah:


a. Milik sendiri/membuat sendiri
b. Beli
V. Biaya, Penerimaan dan Keuntungan Usahatani
1. Biaya Usahatani (satu kali musim tanam)
a. Biaya Tetap/TFC (Total Cost Fixed)
Jumlah
No. Uraian Harga (Rp) (Perhitungan) Biaya
(Unit)
1 Sewa lahan Rp.
2 Sewa alat Rp.
Total Biaya Tetap (Total Fixed Cost) Rp.

b. Biaya Variabel/TVC (Total Variabel Cost)


Jumlah
No. Uraian Harga (Rp) (Perhitungan) Biaya
(Unit)
Rp.
Rp.
Total Biaya Variabel (Total Variable Cost) Rp.

25
c. Total Biaya/TC (Total Cost)
No. Biaya Total
1 Total Biaya Tetap (Total Fixed Cost) Rp.
2 Total Biaya Variabel (Total Variable Cost) Rp.
Total Biaya (Total Cost) Rp.

2. Penerimaan Usahatani
No. Uraian Nilai Jumlah (Rp)
1 Produksi (unit)
2 Harga (per satuan unit)
Penerimaan Usahatani (Total Revenue)

3. Keuntungan Usahatani
No. Uraian Nilai Jumlah (Rp)
1 Total Biaya (Total cost)
2 Penerimaan (Total revenue)
Keuntungan

VI. Pemasaran Hasil Pertanian


Jumlah Pemasaran
No. Uraian Unit % Lembaga Alasan
Tempat/Lokasi
Pemasaran
1 Dikonsumsi
sendiri
2 Dijual
VII. Kelembagaan
No. Jenis Kelembagaan Lokasi Manfaat

VIII. Kendala-kendala Petani dalam Berusahatani


No. Kendala Solusi Harapan

26
DAFTAR PUSTAKA

Admin. 2014. Gambaran Kecamatan Lowkwaru Kota Malang. (Online).


(http://keclowokwaru.malangkota.go.id, diakses pada 20 November 2016).
Ahmadi, et al. 2001. Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Aulia, Avenia Nur. 2008. Analisis Pendapatan Usahatani Padi dan Kelayakan
Usahatani anili Pada Ketinggian Lahan 350-800 M DPL Di kabupaten
Tasikmalaya. Skripsi S1. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Badan Pusat Statistik (BPS). 2013. Laporan Hasil Sensus Pertanian 2013.
Yogyakarta: Badan Pusat Statistik Provinsi DIY.
Badan Pusat Statistik (BPS). 2014. Luas Lahan Sawah Menurut Provinsi (ha)
2003-2013. (Online). (http://www.bps.go.id/, diakses pada 04 Desember
2016).
Fadholi, Hermanto. 1981. Bahan Bacaan Pengantar Ekonomi Pertanian. Bogor:
Pendidikan Guru Kejuruan Pertanian Fakultas Pertanian Politeknik Bogor.
Gustiyana, H. 2004. Analisis Pendapatan Usahatani untuk Produk Pertanian.
Jakarta: Salemba empat.
Hernanto, Fadholi. 1994. Ilmu Usahatani. Jakarta: Penebar Swadaya.
Koentjaraningrat. 1964. Pengantar Antropologi. Jakarta: Penerbit Universitas
Indonesia.
Kementerian Pertanian. 2015. Rencana Strategis Kementerian Pertanian Tahun
2015-2019. (Online). (http://www.pertanian.go.id/, diakses pada 04
Desember 2016).
Mubyarto, 1989. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: LP3ES.
Novania, Nurul Diena. 2011. Analisis Kelayakan Ekonomi Suatu Investasi.
(Online). (http://www.docstoc.com, diakses pada 16 November 2016).
Perdana, A. S., 2007. Budidaya Padi Gogo. Mahasiswa Swadaya Penyuluhan dan
Komunikasi Pertanian UGM. Yogyakarta.
Purnamasari, Irma. 2008. Studi Masyarakat Dalam Perencanaan Pembangunan Di
Kecamatan Cibadak Kbupaten Sukabumi. Semarang: Universitas
Diponegoro.
Sari, Reny Puspita. 2011. Analisis Nilai Tambah dan Kelayakan Usaha
Agroindustri Chip Ubi Kayu Sebagai Bahan Baku Pembuatan MOCAF
(Modified Cassava Flour) di Kabupaten Trenggalek. Malang.
Sanusi, Herman. Hidayah, A.K. 2015. Pengkajian Potensi Desa Dengan
Pendekatan Partisipatif Di Desa Mawai Indah Kecamatan Batu Ampar
Kabupaten Kutai Timur. Samarinda: Universitas 17 Agustus 1945.
Soekartawi. 2002. Analisis Usahatani. Jakarta: Universitas Indonesia.
Tiku, Dilda Vanessa. 2008. Analisis Pendapatan Usahatani Padi Sawah Mnurut
Sistem Padi Mina Padi Dan Sistem Non Mina Padi. Skripsi S1. Program
Studi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Bogor.

27
28