Anda di halaman 1dari 28

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA Ny S DENGAN SALAH SATU

ANGGOTA KELUARGA MENDERITA HIPERTENSI


DI DUSUN JERNENG RT 02 DESA BAGIK POLAK BARAT
KECAMATAN LABUAPI

Oleh

KELOMPOK 28

L. ANGGI ARIF PRATAMA S.Kep

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI PROFESI NERS (P3N)
MATARAM
2014
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN YANG BERJUDUL ASUHAN KEPERAWATAN Ny S
DENGAN SALAH SATU ANGGOTA KELUARGA MENDERITA
HIPERTENSI DI DUSUN JERNENG RT 02 DESA BAGIK POLAK BARAT
KECAMATAN LABUAPI TELAH DISAHKAN PADA :

Hari :
Tanggal :

Mengetahui

Kepala Dusun Keluarga Binaan

Misbah Saknah

Pembimbing Akademik

(Ns. Heni Marlina, S.Kep)

BAB I
PENDAHULUAN

2
A. Latar Belakang

Salah satu aspek yang penting dalam keperawatan adalah keluarga.


Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat merupakan klien
keperawatan atau si penerima asuhan keperawatan. Keluarga berperan
dalam menentukan cara asuhan yang diperlukan anggota keluarga yang
sakit. Keberhasilan keperawatan di rumah sakit dapat menjadi sia-sia jika
tidak dilanjutkan keluarga di rumah. Secara empiris dapat dikatakan
bahwa kesehatan anggota keluarga dan kualitas kesehatan keluarga sangat
berhubungan atau sangat signifikan.

Keluarga menempati posisi di antara individu dan masyrakat,


sehingga dengan memberika pelayanan kesehatan kepada keluarga,
perawat mendapat dua keuntungan sekaligus. Keuntungan pertama adalah
memenuhi kebutuhan individu, dan keuntungan kedua adalah memenuhi
kebutuhan masyarakat. Dalam pemberian kesehatan, perawat harus
memperhatikan nilai-nilai dan budaya keluarga, sehingga keluarga dapat
menerima.

Pelayanan keperawatan di rumah merupakan pelayanan


keperawatan yang diberikan di tempal tinggal klien dan keluarga sehingga
klien tetap memiliki otonomi untuk memutuskan hal-hal yang terkait
dengan masalah kesehatannya. Perawat yang melakukan keperawatan di
rumah bertanggung jawab untuk meningkatkan kemampuan keluarga
untuk mencegah penyakit dan pemeliharaan kesehatan. Namun, di
Indonesia beluam ada lembaga ataupun organisasi perawat yang mengatur
pelayanan keperawatan di rumah secara administratif. Perawatan yang
diberikan di rumah-rumah khususnya oleh perawat komunitas masih
bersifat sukarela, belum ada pengaturan terhadap imbalan atas jasa yang
diberikan.

Pengalaman belajar klinik memberikan kemampuan kepada


mahasiswa untuk memperoleh pengalaman nyata asuhan keperawatan
keluarga pada keluarga yang mengalami masalah kesehatan dengan
penerapan berbagai konsep dan teori keperawatan keluarga serta proses
keperawatan sebagai pendekatan.

B. Tujuan Penulisan

3
1. Tujuan umum

Penulis dapat memperoleh pengalaman secara nyata dalam merawat


pasien hipertensi dan mendapat gambaran yang jelas terhadap Asuhan
Keperawatan yang diberikan kepada pasien.

2. Tujuan khusus

a. Penulis mampu mengkaji data pasien

b. Penulis dapat merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien

c. Penulis mampu menyusun rencana tindakan keperawatan pada


pasein

d. Penulis mampu mengimplementasikan tindakan keperawatan yang


telah disusun

e. Penulis dapat melakukan evaluasi terhadap tindakan keperawatan


pasein

C. Metode penulisan

Metode penulisan digunakan dalam pembuatan askep (asuhan


keperawatan) ini adalah:

1. Wawancara

Tujuannya adalah untuk memperoleh data secara langsung dari sumber


data.

Alasan digunakan teknik wawancara:

a. Dapat menggali lebih dalam masalah yang ingin diketahui

b. Wawancara merupakan keterangan langsung dari objek yang


diteliti

2. Observasi

4
Tekhnik observasi dalam penulisan ini adalah observasi secara
langsung. Tujuannya agar data yang diperoleh mendekati data
sebenarnya. Alasan digunakan observasi:

a. Observasi merupakan teknik langsung yang dapat dipakai untuk


meneliti berbagai gejala atau keluhan pasien

b. Dari segi pencatatan hasil observasi merupakan media yang lebih


praktis

3. Studi kepustakaan

Dapat dilakukan dengan membaca buku-buku dan catatan-catatan yang


ada hubungannya dengan masalah yang ada atau diteliti

4. Dokumentasi

Dokumentasi adalah suatu teknik pengumpulan data dengan cara


mengambil data dari status atau test pasien.

D. Sistematika penulisan

Bab I Pendahuluan

Berisikan latar belakang yang memuat alas an penulis mengangkat


kasus hipertensi yang mendukung sehingga menarik untuk dikaji,
tujuan penulisan disesuaikan dengan proses keperawatan, metode
penulisan, dan sistematika penulisan.

Bab II Tinjauan Teori

Berisikan konsep dasar (masalah utama) pada klien, konsep dasar


asuhan keperawatan yang terdiri dari proses keperawatan
(pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi).

Bab III Tinjauan Kasus

Berisikan data-data klien yang menderita hipertensi mulai dari hasil


pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

Bab IV Pembahasan

5
Berisi tentang perbandingan antara tinjauan teori dengan tinjauan
kasus dengan melihat dari segi proses keperawata

6
BAB II
KONSEP DASAR KELUARGA

1. Keperawatan Kesehatan Keluarga.


a. Definisi keluarga.
1) Menurut Depkes R.I. 1988.
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas
kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal
disuatu tempat dibawah satu atap dalam keadaan saling
ketergantungan.
Menurut S.G. Bailon dan Arecelis Maglaya 1989.
Keluara adalah dua atau lebih dari individu yang tergabung
karena hubungan darah, hubungan perkawinan, atau pengangkatan dan
mereka hidup bersama dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu
sama lain dan didalam perannya masing-masing menciptakan serta
mempertahankan kebudayaan ( Nasrul Effendi, 1998 : 33 ).
Dari kedua definisi diatas dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah :
1.1. Unit terkecil dari masyarakat.
1.2. Terdiri atas dua orang atau lebih.
1.3. Adanya ikatan perkawinan dan pertalian darah.
1.4. Hidup dalam satu rumah tangga.
1.5. Dibawah asuhan seorang kepala keluarga.
1.6. Berinteraksi diantara sesama anggota keluarga.
1.7. Setiap anggota keluarga mempunyai perannya masing masing.
1.8. Menciptakan dan mempertahankan kebudayaan.
2) Keperawatan kesehatan keluarga.
Menurut S.G. Bailon dan Aracelis Maglaya 1978.
Perawatan kesehatan keluarga adalah tingkat keperawatan
kesehatan masyarakat yang ditunjuk atau dipusatkan pada keluarga
sebagai unit atau kesatuan yang dirawat dengan sehat sebagai tujuan
melalui perawatan sebagai sarana penyalur ( Nasrul Effendi, 1998 :
39).
b. Tipe Keluarga.

7
Terdiri dari :
1) Keluarga inti (nuclear family) adalah keluarga yang terdiri dari ayah,
ibu, anak anak.
2) Keluarga besar (extended family) adalah keluarga inti ditambah
dengan sanak saudara, misalnya nenek, kakek, keponakan dan
sebagainya.
3) Keluarga berantai (serial family) ialah keluarga yang terdiri dari
wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu
keluarga inti.
4) Keluarga duda atau janda (single family) adalah keluarga yang terjadi
karena perceraian atau kematian.
5) Keluarga berkomposisi (composite) adalah keluarga yang
perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama sama.
6) Keluarga kabitas (cahabitasia) adalah dua orang menjadi satu tanpa
pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.
c. Keluarga sebagai unit keperawatan.
Alasan keluarga sebagai unit pelayanan (R.B. Freedman, 1981) adalah
sebagai berikut :
1) Keluarga sebagai unit utama masyarakat dan merupakan lembaga
yang menyangkut kehidupan masyarakat.
2) Keluarga sebagau suautu dapat menimbulkan, mencegah,
mengabaikan atau memperbaiki masalah masalah dalam
kelompoknya.
3) Masalah masalah kesehatan dalam keluarga saling berkaitan dan
apabila salah satu anggota keluarganya mempunyai masalah kesehatan
akan berpengaruh terhadap anggota keluarga yang lain.
4) Dalam memelihara kesehatan anggota keluarga sebagai individu
(pasien) keluarga tetap berperan sebagai pengambil keputusan dalam
memelihara kesehatan anggota keluarganya yang menderita hipertensi.
5) Keluarga merupakan prantara yang efektif dan mudah dalam upaya
kesehatan bagi anggota keluarga yang menderita sakit hipertensi.
d. Faktor yang mempengaruhi sehat - sakit..

8
Faktor yang mempengaruhi status kesehatan individu dan keluarga
menurut H.L. Bloom yaitu :
1) Faktor lingkungan.
Faktor lingkungan yang dapat mencegah terjadinya penyakit
hipertensi adalah dengan cara menghindari adanya stres
2) Faktor sosial budaya.
a) Faktor sosial budaya yang dapat mempengaruhi penyakit
hipertensi adalah :
(1). Kebiasaan merokok.
(2). Kebiasaan mengkonsumsi makanan yang banyak
mengandung garam.
(3). Pola diet tidak teratur.
(4). Bila sakit tidak segera berobat.
b) Status sosial budaya yang dapat meningkatkan status kesehatan
pada kasus hipertensi adalah :
(1). Menghindari kebiasaan merokok.
(2). Mengurangi konsumsi makanan yang banyak mengandung
garam.
(3). Menjaga berat badan dan olah raga yang teratur.
(4). Melakukan konsul yang teratur.
3) Pelayanan kesehatan.
Pelayanan kesehatan sangat diperlukan untuk menurunkan angka
kesakitan dan kematian akibat hipertensi.
4) Faktor keturunan.
Penyakit hipertensi merupakan penyakit yang bersifat genetic.
e. Tugas keluarga dalam pemeliharaan kesehatan.
Menurut Freedman (1981) keluarga mempunyai lima (5)
tugasmemelihara kesehatan keluarga khususnya keluarga yang anggotanya
menderita penyakit hipertensin yaitu :
1). Mengenal gangguan dan perkembangan kesehatan setiap
anggota keluarga tentang gejala hipertensi.

9
2). Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat
terhadap anggota keluarga yang menderita penyakit hipertensi.
3). Memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang
menderita hipertensi.
4). Mempertahankan suasana dirumah yang menguntungkan
kesehatan dan perkembangan kepada anggita keluarganya.
5). Mempertahankan hubungan timbale balik dengan fasilitas
kesehatan yang dapat mengatasi penyakit hipertensi.
f. Peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada keluarga
yang menderita penyakit hipertensi.
Dalam proses membantu keluarga yang menderita penyakit hipertensi
maka peran perawat diperlukan sebagai berikut :
1). Pengenalan tentang gejala hipertensi.
Perawat membantu keluarga untuk mengenal tentang gejala penyakit
hipertensi.
2). Pemberian perawatan pada anggota keluarga yang menderita penyakit
hipertensi. Dalam memberikan perawatan pada anggota keluarga yang
menderita penyakit hipertensi, perawat memberikan kesempatan
kepada keluarga untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam
melaksanakn perawatan dan memberikan demonstrasi kepada keluarga
bagaiman merawat anggota keluarga yang menderita hipertensi.
3). Koordinator pelayanan kesehatan kepada keluarga yang penyakit
hipertensi.
Perawat melakukan hubungan yang terus menerus dengan keluarga
yang menderita penyakit hipertensi, sehingga dapat menilai,
mengetahui masalah dan kebutuhan keluarga serta mencari cara
penyelesaian masalah penyakit yang sedang hadapi.
4). Fasilitator.
Menjadi pelayanan kesehatan dengan mudah untuk mengenal masalah
pada keluarga yang menderita penyakit hipertensi dan mencari
alternativ pemecahannya.

10
5). Pendidik kesehatan.
Perawat dapat berperan sebagai pendidik untuk merubah perilaku
keluarga dari perilaku tidak sehat menjadi sehat dalam mencegah
penyakit hipertensi.
6). Penyuluh dan konsultasi.
Perawat berperan sebagai petunjuk dalam asuhan keperawatan dasar
terhadap keluarga yang anggotanya menderita penyakit hipertensi.

2. Hipertensi
a. Pengertian.
Hipertensi adalah meningkatnya tekanan darah baik tekanan
sistolik dan diastolik serta merupakan suatu faktor terjadinya komplikasi
penyakit kardiovaskuler (Soekarsohardi, 1999 :151).
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolic
diatas standar dihubungkan dengan usia (Gede yasmin,1993:191).
Dari defenisi-defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa:
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah baik sistolik maupun
diastolic diatas normal sesuai umur dan merupakan salah satu faktor
resiko terjadinya komplikasi penyakit kordiovaskuler.
b. Etiologi
Hipertensi dapat dikelompokan dalam dua kategori :
1). Hipertensi primer artinya belum diketahui penyebabnya yang jelas :
Berbagai faktor yang turuf berperan sebagai penyebab hipertensi
seperti bertambahnya Usia, faktor psikologis, dan keturunan .
Sekitar 90 % hipertensi tidak diketahui penyebabnya.
2). Hipertensi sekunder telah diketahui penyebabnya seperti stenosis
arteri renolis, penyakit Parekim ginjal, koartasio, aorta.
Hiperaldosteron, pheochroromositoma dan pemakaian Oral
kontrasepsi.
Adapun factor pencetus hipertensi seperti, keturunan, jenis
kelamin,umur, kegemukan, Ligkugon, pekerjaan, merokok, alkohol
dan sosial ekonomi (Susi purwati, 2000 : 25)

11
c. Patofisiologi.
Jantung adalah sistim pompa yang berfungsi untuk memompakan
darah keseluruh tubuh, tekanan tersebut bergantung pada faktor cardiac
output dan tekanan peririfer. Pada keadaan normal untuk memenuhi
kebutuhan metabolisme jaringan tubuh yang meningkat diperlukan
peningkatan cardiac output dan tekanan perifer menurun.
Konsumsi sodium (garam) yang berlebihan akan mengakibatkan
meningkatnya volumen cairan dan pre loatd sehingga meningkatkan
cardiac aouput.Dalam sistim Renin-Angiotensien-Aldosteron pada
patogenesis hipertensi, glandula supra renal juga menjadi factor penyebab
oleh karena faktor hormone.
Sistim Reni mengubah angiotensi menjadi angiotensi I kemudian
angiotensi I menjadi angiotensin II oleh angiotensin Convertion Ensym
(ACE)
Angiotensin II mempengaruhi control Nervus Sistim dan nervus
pereifer yang mengaktifkan system simpatik dan menyebabkan retensi
vaskuler perifer meningkat. Disamping itu agiotensin II mempunyai efek
langsun terhadap vaskuler smoot untuk vasokonstruksi renolis. Haltersebut
merangsang adrenal untuk mengeluarkan aidosteron yang akan
meningkatkan extra fluit volume melalui retensi air dan natrium. Hal ini
semua akan meningkatkan tekanan darah melalui peningkatan cardiac
output. (Jurnlistik international cardiovaskuler, 1999).
d. Komplikasi yang mungkin terjadi akibat hipertensi seperti, penyakit
jantung koroner, gagal jantung, gagal ginjal, kerusakan mata, dan
kerusakan pembulu darah otak (Sri rahahu, 2000:22,23 dan patologi
penyakit jantung RSUD. dr Saotomo, 1997).
e. Perawatan pada penderita hipertensi adalah sebagai berikut :
1). Pengaturan diit.
2). Berolah raga.
3). Obat obatan penurun tekanan darah antara lain : ga secara teratur

12
4). Menghilangkan rasa takut
a). Diuretik : Hidrochlortiasid, Furosemid dll.
b). Alfabloker : proparnolol, dll.
c). Alfabloker : Pajosin dll.
d). Penghambat ACE : Kaptppril dll.
e). Antagonis Kalsium : Diltiasem dll. (farmakologi FKUI, 1995)
f. Nutrisi
Dalam merencanakan menu makanan untuk penderita hipertensi ada
beberapa factor yang perlu diperhatikan yaitu keadaan berat badan, derajat
hipertensi, aktifitas dan ada tidaknya komplikasi. Sebelum pemberian
nutrisi pada penderita hipertensi,diperlukan pengetahuan tentang jumlah
kandungan natrium dalam bahan makanan. Makan biasa (untuk orang
sehat rata-rata mengandung 2800-6000 mg per hari). Sebagian besar
natrium berasal dari gambar dapur
Untuk mengatasi tekanan darah tinggi harus selalu memonitor kadaan
tekanan darah serta cara pengaturan makanan sehari-hari. Secara garis
besar ada 4 (empat) macam diit untuk menanggulangi atau minimal
mempertahankan tekanan darah yaitu :
1). Diet rendah garam
Diet rendah garam pada hakekatnya merupakan diet dengan
mengkonsumsi makanan tampah garam. Garam dapur mempunyai
kandungan 40% Natrium.sumber sodium lainnya antara lin makanan
yang mengandung soda kue, baking powder, MSG (Mono Sodium
Glutamat), Pengawet makanan atau natrium bensoat biasanya terdapat
dalam saos, kecap, slai, jelli makanan yang terbuat dari mentega.
Penderita tekanan darah tinggi yang sedang menjalankan diet pantang
garam memperhatikan hal sebagai berikut:
a). Jangan menggunakan garam dapur.
b). Hindari makanan awetan seperti kecap, margarie, mentega, keju,
trasi, petis, biscuit, ikan asin, sardensis, sosis dan lain-lain.
c). Hindari bahan makanan yang diolah dengan menggunakan bahan
makanan tambahan atau penyedap rasa seperti saos.

13
d). Hindari penggunaan baking soda atau obat-obatan yang
mengandung sodium.
e). Batasi minuman yang bersoda seperti cocacola, fanta, sprite.
2). Diet rendah kolestrol atau lemak.
Didalam tubuh terdapat tiga bagian lemak yaitu kolestrol, trigliserida,
dan pospolipid. Sekitar 25-50 % kolestrol berasal dari makanan dapat
diarsorbsi oleh tubuh sisanya akan dibuang lewat faeces. Bebrrapa
makanan yang mengandung kolestro tinggi yaitu daging, jereon, keju
keras, susu, kuning telur, ginjal, kepiting, hati dan kaviar. Tujuan diet
rendah kolesterol adalah menurunkan kadar kolestro serta menurunkan
berat badan bila gemuk. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam
mengatur nutrisi pada hypertensi adalah:
a). Hindari penggunaan minyak kelapa, lemak, margarine dan
mentega.
b). Batasi konsumsi daging, hati, limpa dan jenis jeroan.
c). Gunakan susu full cream.
d). Batasi konsumsi kuning telur, paling banyak tiga butir perminggu.
e). Lebih sering mengkonsumsi tahu, tempe, dan jenis kacang-kacang
lainnya..
f). Batasi penggunaan gula dan makanan yang manis-manis

14
DAFTAR PUSTAKA

Doengoes. M. E, Et. All. Nursing Care Plans Guidelines for Planning and
Documenting Patient Care, Edisi 3. Alih Bahasa: I Made Kariasa, Et. All.
2000. Jakarta: EGC

Smeltzer, Suzanne, and Bare. (2001), Buku Saku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah, Edisi 8. Jakarta: EGC

Suprajitno. (2004). Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakata: EGC.

Carpenito, L. J. Handbook of Nursing Diagnosis. Edisi 8, Alih Bahasa Monica


Ester. (2001). Jakarta: EGC

Carpenito, L. J. (1999) Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 7, Alih Bahasa


Monica Ester. Jakarta: EGC

Friedman, M. M. (1998). Keperawatan Keluarga Teori dan Praktek, Edisi 3. alih


Bahasa: Debora R. L & Asy. Y, Jakarta: EGC

Effendy. N (1998). Dasar- dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat, Edisi 2.


Jakarta; EGC

Long. Barbara. C. Essential of Medical Surgical Nursing, Penerjemah. Karnaen R,


Et. All, Edisi ke 3. 1996. Bandung: Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan
Keperawatan Padjajaran.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2006). Mengenal Hipertensi,


(Online), (http:// depkes.co.id/stroke.html)

Tim POKJA RS Jantung Harapan Kita. (2003). Standar Asuhan Keperawatan


Kardiovaskuler. Direktorat Medik dan Pelayanan RS Jantung dan
pembuluh darah Harapan kita. Jakarta

FKUI. (1990). Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Balai Penerbit FKUI. Jakarta

DIKLIT RS Jantung Harapan Kita. (1993). Dasar-dasar Keperawatan


Kardiovaskuler. RS Jantung Harapan Kita. Jakarta

(Tanpa nama). (2007).hipertensi.(online).http://www.sehat-bugar.com, diakses


tanggal 31 oktober 2007, diakses tanggal 31 Oktober 2007)

Puskesmas palaran. (2006). Hipertensi. (Online),


(http://puskesmaspalaran.wordpress.com/2006/11/05/hipertensi.html,
diakses tanggal 31 Oktober 2007

15
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny S DENGAN MASALAH
KESEHATAN PADA DIAGNOSA MEDIS HIPERTENSI DI RT. 02 DUSUN
JERNENG DESA BAGIK POLAK BARAT KEC LABUAPI TANGGAL
S/D/ 2014

A. PENGKAJIAN (Tanggal 14 juli 2014)


I. Data Umum.
1. Kepala Keluarga (KK). : Ny. S (61 Tahun).
2. Pendidikan : TS
3. Pekerjaan : IRT
4. Alamat : Dusun jerneng RT 02
5. Komposisi Keluarga :
Status Imunisasi Ket
No Nama Jenis Umur Pendidikan BCG Polio DPT Hepatitis Campak
Hub .Kel.
1 Tn B L KK SD - - - - - Meninggal
2 Ny. S P Istri 61 Th TS - - - - - HT
3 An S P Anak 40 Th SD Lengkap Lengkap Lengkap Lengkap Lengkap Sehat
4 AnS L Anak 37 Th SD Lengkap Lengkap Lengkap Lengkap Lengkap Sehat
P
5 An S Anak 35 Th Lengkap Lengkap Lengkap Lengkap Lengkap Sehat
6 An S P Anak 34 Th SD Lengkap Lengkap Lengkap Lengkap Lengkap Sehat

7 An M P Anak 32 Th SD Lengkap Lengkap Lengkap Lengkap Lengkap Sehat


8 An. S L Anak 30 Th SD Lengkap Lengkap Lengkap Lengkap Lengkap Sehat

Genogram :

16
Keterangan : = Laki laki.
= Perempuan
= Garis Perkawinan.
= Klien
= Garis keturunan
= Tinggal Dalam satu Rumah.
= Meninggal
6. Tipe Keluarga :
7. Suku Bangsa : sasak /Indonesia
8. Agama : Islam
9. Status Sosial Ekonomi Keluarga :
Pendapatan dalam keluarga tidak menetap tergantung ada atau
tidaknya proyek yang sedang dikerjakan oleh anaknya dan apabila ada
hasil pendapatan anaknya sebagian besar digunakan untuk memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari, seperti makan,keperluan rumah tangga.
Keluarga tidak memiliki kebiasaan untuk menabung, pendapatan
keluarga digunakan sesuai proporsi kebutuhan hidup sehari-hari.
10. Aktifitas rekreasi keluarga
Aktifitas rekreasi didalam rumah selama ini dilakukan dengan
berkumpul bersama anaknya yang paling kecil sambil mengobrol,
serta bila mengalami kepenatan Ny S melakukan aktifitas
membersihkan rumah, seperti menyapu , memasak dan lain-lain.

II. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga.


1. Tahap Perkembangan Keluarga saat ini :

17
Keluarga dengan anak dewasa dengan pekerjaan sebagai tukang
bangunan.
2. Tugas Perkembangan Keluarga yang belum terpenuhi :
Tidak ada tahap perkembangan keluarga yang sampai saat ini belum
terpenuhi. Namun tugas keluarga yang belum tercapai sampai saat ini :
Keluarga perlu memberikan figure yang baik bagi anak terutama pada
tahap perkembangan anak dengan Dewasa.
3. Riwayat kesehatan inti :
Ny S tidak mempunyai riwayat penyakit yang serius, selama ini
penyakit yang diderita adalah riwayat hipertensi kronis yang dirasakan
sejak 1 tahun lalu dan sekarang juga penglihatanya sudah mengalami
penurunan seperti penglihatan kabur dan sering berair.
4. Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya:
Klien mengatakan ada anggota keluarganya yang mengalami penyakit
yang sama dengan dirinya.
III. Data Lingkungan
1. Karakteristik rumah
Luas rumah yang ditempati 1 Are terdiri dari 1 (satu) kamar tidur,
ruang tamu dan dapur menyatu. Keadaan lantai terbuat dari
semen,sinar matahari yang masuk sedikit melalui pintu dan celah
jendela rumah dibuka. Sumber air minum yang digunakan dari air
sumur Untuk keperluan sehari-hari mengunakan air sumur tersebut,
tersedia jamban dan kamar mandi . Kebiasaan memasak menggunakan
kompor
Denah rumah :
Ruang Tamu & Kamar
Dapur Tidur

18
2. Karakteristik tetangga dan komunitasnya
Tetangga sebelah kanan rumah adalah anak sendiri sehingga mereka
terkadang berkumpul dalam waktu luang maupun membicarakan
keperluan masalah keluarga yang ringan-ringan. Keluarga Tn
B(meninggal) dikenal baik oleh masyarakat dan sudah lama
menetap di wilayah tersebut.
3. Mobilitas geografis keluarga
Keluarga ini tidak pernah pindah tempat tinggal sejak menikah,
TnB(meninggal) bekerja dari pagi sampai sore hari sedangkan
istrinya Ny S hanya sebagai ibu rumah tangga.
4. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Keluarga berkumpul dengan tetangganya sekedar untuk berbincang-
bincang.
5. Sistem pendudung keluarga
Keluarga Ny S mempunyai jumlah anggota keluarga 7 orang. kalau
ada anngota keluarga yang sakit semua anggota keluarga ikut
membantu dalam penyembuhan penyakitnya. Keluarga Ny S adalah
orang yang taat beribadah dia selalu meminta kesembuhan pada allah.
jika sakit biasa Ny S hanya membeli obat di warung akan tetapi
apbila rasa sakitnya cukup berat langsung memeriksakan diri
kepuskesmas.

IV. Struktur keluarga


1. Struktur Peran
Ny S berperan sebagai ibu rumah tangga yang mengurusi anak laki-
lakinya yang bkerja sebagai tukang bangunan dan dikatakan
berprilaku yang wajar sesuai dengan usianya.
2. Nilai dan Norma Keluarga
Nilai dan norma yang berlaku di keluarga menyesuaikan dengan nilai
agama yang dianut dan norma yang berlaku dilingkungannya. Ny S
mempercayakan perawatan kesehatannya kepada tenaga kesehatan.

19
keluarga masih tetap percaya bahwa yang diderita merupakan penyakit
yang bisa diobati.
3. Pola komunikasi keluarga
Keluarga mengatakan komunikasi dilakukan secara musyawarah
untuk menyelesaikan masalahnya. Namun sekarang Ny S
bergantung pada anaknya yang paling kecil yang tinggal bersamanya
saat ini.
V. Fungsi keluarga
1. Fungsi ekonomi
Keluarga tergadang kekurangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-
hari dari pendapatan yang diterima anaknya dan keluarga cukup
mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada seperti puskesmas,
posyandu, dan lain-lain.
2. Fungsi sosial
Keluarga selalu mengajarkan dan menekankan bagaimana berperilaku
sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-
hari dirumah dan lingkungan tempat tinggal.
3. Fungsi pemenuhan (perawatan dan pemeliharaan ) kesehatan
1. Mengenal masalah kesehatan
Secara umum keluarga belum mengenal mengenai penyakit
hipertensi pada Ny S
2. Mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan
Dalam mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan cukup
peka terhadap anggota keluarganya yang sakit.
3. Kemampuan merawat anggota keluarga yang sakit
Pengetahuan Keluarga mangenai hal-hal yang dapat menyebabkan
kekambuhan dan yang perlu untuk mencegah kekambuhan masih
kurang
4. Kemampuan keluarga memelihara atau memodifikasi lingkungan
rumah yang kuat

20
Dalam memelihara lingkungan rumah yang adekuat, anggota
keluarga belum mampu karena belum ada kesadaran keluarga
dalam memelihara lingkungan yang sehat.
5. Kemampuan menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan Keluarga
biasa menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan yaitu puskesmas
yang cukup jauh dari rumah.
6. Fungsi religius.
Dalam keluarga Ny S semua menganut agama islam dan selalu
melakukan kegiatan rutin keagamaan di rumah.
7. Fungsi rekreasi.
Keluarga terkadang pergi kesanak saudara yang jauh bila ada waktu
luang.
8. Fungsi afeksi.
Ny S selalu mengajarkan agar anaknya agar selalu
memperhatikan keluarganya. Sikap saling menghormati antar
anggota keluarga masih tetap diajarkan oleh keluarga.

VI. Stress dan komping keluarga.


1. Stresor jangka pendek dan panjang.
a)Stres jangka pendek:
b) stress jangka panjang :kekambuhan Ny S sejak 1 tahun lalu
2. Untuk stress jangka panjang keluarga terutama Ny S berusaha
mencegah agar tidak terjadinya kekambuhan penyakitnya
3. Strategi koping yang digunakan.
Keluarga menerima keadaan ini apa adanya dan selalu melibatkan
anaknya untuk mengambil keputusan yang terbaik bagi keluarganya.
4. Strategi adaptasi disfungsional.
Keluarga tidak pernah menggunakan kekerasan, perlakuan kejam
terhadap anak, mengkambing hitamkan anak dan memberikan
ancaman dalam menyelesaikan masalah

21
VII. Pemeriksaan kesehatan tiap individu anggota keluarga.
Pemeriksaan Tn.B Ny S An S An S An S An.S An M
fisik
K/u Baik Baik Baik Baik Baik Baik
Kesadaran Cm Cm Cm Cm Cm Cm
TTV 36,50 C
Suhu 36,50 C 370 C 36,50 C 36,50 C 80 x/mt
Nadi 82x/menit 80x/mnt 80 x/mt 80 x/mt 120/80
Td 160/100m 180/80 120/80Mmhg 110/80Mmhg 20x/mt
RR mhg 20x/menit 20x/menit 20x/menit
20x/menit
Kepala Simetris, Semetris, Simetris, lesiSimetris,lesi(- Simetris
lesi (-),lesi (-),(-), massa (-)) lesi (-)
massa (-)massa (-)tampak bersih massa (-)massa(-)
tempak tampk tampak bersih tampak
bersih bersih, bersih
Mata Simetris, Simetris, Simetris, Simetris, Simetris,
konjungtiv konjungtiv konjungtiva konjungtiva Konjung
a normal,a sedikitnormal, tidaknormal, tidaktiva
tidak pucat, tidakterlihat udim terlihat udim normal,
terlihat terlihat tidak
udema udema terlihat
udim
Hidung Tampak Tampak Tampak Tampak Tampak
bersih, bersih, bersih, bersih Bersih

VII. DIAGNOSA KEPERAWATAN KELUARGA

22
1. Analisa da sintesis data
No Data Problem Etiologi
1 DS : Resiko tinggi Ketidakmampuan
- Ny S terjadinya keluarga merawat
komplikasi akibat anggota keluarganya
mengatakan
hipertensi yang yang sakit
sekitar 1 tahun
dideritanya
yang lalu pernah
mengalami
penyakit yang
sama dengan
penyakit yang
dirasakan
sekarang
(hipertensi)

dipuskesmas

- Ny S
mengatakan
penglihatanya
sudah mulai
kabur dan
matanya sering
berair

DO :
- TD :
180/100mmhg

- N : 82x/m

- S : 37oC

- RR : 20x/mnt

2 DS : Kurangnya Ketidakmampuan

23
- Keluarga pengetahuan keluarga mengenal
mengatakan keluarga tentangmasalah penyakit
tidak hipertensi hipertensi
mengetahui cara
perawatan
keluarganya
yang mengalami
penyakit
hipertensi

- Keluarga
menanyakkan
penyebab
hipertensi

Do :
- Pendidikan :
Tidak Sekolah

2. Perumusan diagnosa keperawatan


Diagnosa keperawatan keluarga dengan hipertensi adalah sebagai berikut :
a. Resiko tinggi terjadinya penyakit komplikasi akibat hipertensi pada Ny
S berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota
keluarganya yang sakit.

b. Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah penyakit hipertensi pada Ny


S berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang
penyakit hipertensi.

3. Penilaian (scoring) diagnosis keperawatan

24
No diagnosa Kriteria Skor Pembenaran
1 a. Sifat masalah 3/3 x 1= 1 Masalah adalah keadaan
kurang / Tidak sehat dan
memerlukan tindakan
segera
b. Kemungkinan masalah 2/2 x 2= 2 Sumber-sumber yang ada
dapat diubah dan tindakan untuk
memecahkan masalah
dapat dijangkau keluarga
Masalah dapat dicegah
c. Potensi untuk mencegah 3/3 x 1= 1 untuk tidak memperburuk
masalah keadaana dapat
Keluarga menyadari
merupakan masalah berat
d. Menonjolnya masalah 2/2x1=1 sehingga harus segera
ditangani
TOTAL SKOR 5
2 a. Sifat masalah 3/3x1= 1 Masalah dianggap
mengancam kesehatn
sehingga perlu ditangai
b. Kemungkinan masalah Sumber-sumber yang ada
2/2 x 2=2
dapat diubah dan tindakan untuk
memecahkan mudah
dijangkau keluarga
c. Potensi untuk mencegah
masalah
3/3 x 1 = 1
Masalah dapat dicegah
untuk tidak memperbukur
d. Menonjolnya masalah keadaan Ny D dan
keluarga mampu merawat
Tn D

1/2 x 1= 1/2

25
Keluarga menyadari
merupakan masalah berat
sehingga harus segera
ditangani
1
TOTAL SKOR 4 /2

4. Prioritas diagnosis keperawatan


a. Resiko tinggi terjadinya komplikasi akibat hipertensi pada Ny S
berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota
keluarganya yang sakit.

b. Ketidakmampuan keluarga mengenai masalah penyakit hipertensi pada Ny


S berhubungan dengan pengetahuan keluarga tentang penyakit
hipertensi.

VIII. INTERVENSI KEPERAWATAN.


No/Tanggal & Waktu Diagnosa Implementasi
Keperawatan
14 Juli 2014 1 Memberikan penjelasan tentang pengertian
hipertensi
14 Juli 2014 2 a. Memberikan penjelasan kepada klien dan
keluarga tentang manfaat pengaturan diet
bagi klien hipertensi.
b. Memberikan penjelasan kepada klien dan
keluarga jenis makanan yang dikonsumsi
oleh klien.
16 Juli 2014 3 a. Memberi penjelasan kepada klien dan
keluarga tentang cara pengolahan makanan
untuk klien hipertensi.
b. Memberi penjelasan kepada klien dan
keluarga jenis makanan yang dikonsumsi
oleh klien.
c. Memberi contoh sederhana kepada klien
dan keluarga, cara membuat makanan

26
dalam jumlah yang tepat bagi klien.
16 Juli 2014 a. Memberikan penyuluhan kepada anggota
keluarga yaitu apa itu hipertensi, penyebab,
tanda gejala, makanan yang tidak boleh
dimakan, cara pencegahan.
b. Menganjurkan pasien untuk control ke
pusat pelayanan kesehatan.

IX. EVALUASI KEPERAWATAN.


Diagnosa Evaluasi
No. Tanggal & Waktu
Keperawatan
14 Desember 2012 1 S : Klien dan keluarga mengatakan klien telah
mengkonsumsi makanan rendah garam .
O : Pengolahan makanan sudah terpisah dengan
klien dan anggota keluarga lain. Tekanan
darah mmHg.
A : masalah sebagian teratasi.
P : Intervensi dilanjutkan \
Mengontrol tekanan darah.
14 Desember 2012 2 S : Klien dan keluarga mengatakan telah
mengkonsumsi makanan yang dianjurkan
oleh tenaga kesehatan. Klien dan keluarga
telah memahami manfaat pengaturan diet
untuk klien hipertensi dan berusaha untuk
mengikuti anjuran yang telah dianjurkan oleh
petugas kesehatan.
O : Tensi 180/110mmHg, klien juga mengatakan
ingin berobat secara teratur serta control
yang terus menerus dan perawatan
selanjutnya dirujuk ke puskesmas Mataram.
A : teratasi sebagian.
P : intervensi lanjut.

15 Desember 2012 3 S : Klien mengerti cara mengelola makanan yang

27
harus dimakan.
O : tensi 180/110 mmHg.
A : masalah teratasi sebagian.
P : intervensi lanjut.
15 Desember 2012 S : Keluarga dank lien mengatakan telah mengerti
penjelasan yang diberikan.
O : tensi 160/100 mmHg, keluarga tampak
Mengerti.
A : masalah teratasi.
P : intervensi dihentikan.

28