Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Sejak Metchnikoff dan Erhlic mengemukakan teori imunologi, telah banyak
kemajuan yang dicapai dalam bidang imunologi. Sebagaimana telah diketahui
bahwa antibodi dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan antigen di dalam
tubuh. Walaupun imunologi khususnya imunokimia telah cukup maju, antibodi
yang digunakan untuk mengenali suatu antigen masih dibuat dengan cara yang
konvensional, yaitu mengimunisasi hewan percobaan, mengambil darahnya dan
mengisolasi antibodi dalam serum sehingga menghasilkan antibodi poliklonal.
Apabila dibutuhkan antibodi dalam jumlah besar maka binatang percobaan yang
dibutuhkan juga sangat besar jumlahnya. Namun jumlah antibodi yang dapat
diproduksi melalui binatang untuk memenuhi kebutuhan antibodi yang spesifik
untuk tujuan diagnostik masih dirasakan sangat kurang. Idealnya antibodi spesifik
dapat dibuat secara in vitro, sehingga dapat diproduksi antibodi dalam jumlah
besar tanpa terkontaminasi dengan antibodi lain yang tidak dikehendaki. Dalam
antibodi poliklonal jumlah antibodi yang spesifik sanagt sedikit, sangat heterogen
karena dapat mengikat macam-macam epitop dan sangat sulit menghilangkan
antibodi lain yang tidak diinginkan.
Pada tahun 1975, Kohler dan Milstein memperkenalkan cara baru untuk
membuat antibodi dengan mengimuniasasi percobaan, kemudian sel limfositnya
difusikan dengan sel mieloma, sehingga sel hibrid dapat dibiakkan terus menerus
(immortal) dan membuat antibodi yang homogen yang diproduksi oleh satu klon
sel hibrid. Antibodi yang homogen ini disebut dengan antibodi monoklonal yang
mempunyai sifat lebih spesifik dibandingkan dengan antibodi poliklonal karena
hanya dapat mengikat 1 epitop antigen dan dapat dibuat dalam jumlah tak
terbatas. Terobosan Georges Kohler, Cesar Milstein dan Niels Jerne, yang
mendapat hadiah Nobel pada tahun 1985 berkat hasil penemuannya tentang
antibodi monoklonal, telah membawa perubahan besar dalam produksi antibodi
secara in vitro.

1
Antibodi monoklonal dibuat dengan cara penggabungan atau fusi dua jenis
sel, yaitu sel limfosit b yang memproduksi antibodi dengan sel kanker (sel
mieloma) yang dapat hidup dan membelah terus menerus. Hasil fusi antara sel
limfosit B dengan sel kanker secara in vitro ini disebut dengan hibridoma.
Apabila sel hibridoma dibiakkan dalam kultur sel, sel yang secara genetik
mempunyai sifat yang identik akan memproduksi antibodi sesuai dengan antibodi
yang diproduksi oleh sel aslinya, yaitu sel limfosit B. Hal penting yang harus
diperhatikan adalah proses pemilihan sel klon yang identik yang dapat mensekresi
antibodi yang spesifik. Karena antibodi yang diproduksi berasal dari sel
hibridoma tunggal (mono-klon), maka antibodi yang diproduksi disebut dengan
antibodi monoklonal.
Sel hibridoma mempunyai kemampuan untuk tumbuh secara tidak terbatas
dalam kultur sel, sehingga mampu memproduksi antibodi homogen yang spesifik
(monoklonal) dalam jumlah yang hampir terbatas.
Antibodi monoklonal merupakan senyawa yang homogen, sangat spesifik dan
dapat diproduksi dalam jumlah yang sangat besar sehingga sangat
menguntungkan jika digunakan sebagai alat diagnostik. Beberapa jenis kit
antibodi monoklonal telah tersedia di pasaran untuk medeteksi bakteri patogen
dan virus, serta untuk uji kehamilan.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa yang dimaksud dengan antibodi monoklonal?
1.2.2 Bagaimana cara pembuatan antibodi monoklonal?
1.2.3 Apa kegunaan antibodi monoklonal dalam pengobatan penyakit?

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Antibodi Monoklonal


Antibodi monoklonal adalah antibodi sejenis yang diproduksi oleh plasma
klon sel-sel positif sejenis. Antibodi ini dibuat oleh sel-sel hibridoma (hasil fusi 2
sel berbeda; penghasil sel positif limpa dan sel mieloma) yang dikultur. Bertindak
sebagai antigen yang akan menghasilkan antibodi adalah limpa. Fungsi antara lain
diagnosis penyakit dan kehamilan. Antibodi monoklonal adalah zat yang
diproduksi oleh sel gabungan tipe tunggal yang memiliki kekhusuan tambahan.
Ini adalah komponen penting dari sistem kekebalan tubuh. Mereka dapat
mengenali dan mengikat ke antigen yang spesifik. (Anonim, 2010)
Pada teknologi antibodi monoklonal, sel tumor yang dapat mereplikasi tanpa
henti digabungkan dengan sel mamalia yang memproduksi antibodi. Hasil
penggabungan sel ini adalah hibridoma, yang akan terus memproduksi antibodi.
Antibodi monoklonal mengenali setiap determinan yang antigen (bagian dari
makromolekul yang dikenali oleh sistem kekebalan tubuh/epitope). Mereka
menyerang molekul targetnya dan mereka bisa memilih antara epitope yang sama.
Selain sangat spesifik, mereka memberikan landasan untuk perlindungan melawan
patogen.
Antibodi monoklonal sekarang telah digunakan untuk banyak masalah
diagnostik seperti mengidentifikasi agen infeksi, mengidentifikasi tumor, antigen
dan antibodi auto, mengukur protein dan level drug pada serum, mengenali darah
dan jaringan, mengidentifikasi sel spesifik yang terlibat dalam respon kekebalan
dan mengidentifikasi serta mengkuantifikasi hormon. Kemajuan sekarang telah
memungkinkan untuk memproduksi antibodi monoklonal manusia melalui
rekayasa genetik dalam jumlah yang besar untuk digunakan dalam terapi berbagai
penyakit.

B. Pembuatan Antibodi Monoklonal

3
Menurut Radji (2010) bahwa cara pembuatan antibodi monoklonal untuk
mendapatkan antibodi yang homogen dapat dilihat pada Gambar 1 yang pada
dasarnya terdiri dari beberapa tahap, yakni;
a. Imunisasi Mencit
1) Antigen berupa protein atau polisakarida yang berasal dari bakteri atau
virus, disuntikkan secarasubkutan pada beberapa tempat atau secara intra
peritoneal.
2) Setelah 23 minggu disusul suntikan antigen secara intravena, mencit
yang tanggap kebal terbaik dipilih.
3) Pada hari ke-12 hari suntikan terakhir antibodi yang terbentuk pada
mencit diperiksa dan diukurtiter antibodinya.
4) Mencit dimatikan dan limfanya diambil secara aseptis.- Kemudian dibuat
suspensi sel limfa untuk memisahkan sel B yang mengandung antibodi.
Cara imunisasi lain yang sering digunakan adalah imunisasi sekali suntik
intralimfa (Single-Shot Intrasplenic Immunization) Imunisasi cara ini
dianggap lebih baik, karena eliminasi antigen oleh tubuh dapat dicegah.

Gambar 1. Bagan pembuatan antibodi monoklonal


(Sumber; Sarmoko, 2010)

b. Fusi sel kebal dan sel mieloma


1) Pada kondisi biakan jaringan biasa, sel limfa yang membuat antibodi
akan cepat mati, sedangkansel mieloma dapat dibiakkan terus-menerus.

4
Fusi sel dapat menciptakan sel hibrid yang terdiri darigabungan sel limfa
yang dapat membuat antibodi dan sel mieloma yang dapat dibiakkan
secaraterus menerus dalam jumlah yang tidak terbatas secara in vitro.
2) Fusi sel diawali dengan fusi membran plasma sehingga menghasilkan sel
besar dengan dua atau lebih inti sel, yang berasal dari kedua induk sel
yang berbeda jenis yang disebut heterokarion.
3) Pada waktu tumbuh dan membelah diri terbentuk satu inti yang
mengandung kromosom kedua induk yang disebut sel hibrid.
Frekuensi fusi dipengaruhi bebrapa faktor antara lain jenis medium,
perbandingan jumlah sel limpa dengan sel mieloma, jenis sel mieloma yang
digunakan, dan bahan yang mendorong timbulnya fusi (fusagon).
Penambahan polietilen glikol (PEG) dan dimetilsulfoksida (DMSO) dapat
menaikan efisiensi fusi sel.

c. Eliminasi sel induk yang tidak berfusi


Frekuensi terjadinya hibrid sel limfa-sel mieloma biasanya rendah, karena
itu penting untuk mematikan sel yang tidak fusi yang jumlahnyaa lebih banyak
agar sel hibrid mempunyai kesempatan untuk tumbuh dengan cara
membiakkan sel hibrid dalam media selektif yang mengandung hyloxanthine,
aminopterin, dan thymidine (HAT).

d. Isolasi dan pemilihan klon hibridoma


1) Sel hibrid dikembangbiakkan sedemikian rupa, sehingga tiap sel hibrid
aka membentuk kolonihomogen yang disebut hibridoma.
2) Tiap koloni kemudian dibiakkan terpisah satu sama lain.
3) Hibridoma yang tumbuh diharapkan mensekresi antibodi ke dalam
medium, sehingga antibodiyang terbentuk bisa diisolasi. Pemilihan klon
hibridoma dilakukan dua kali, pertama adalah dilakukan untuk
memperolehhibridoma yang dapat menghasilkan antibodi, dan yang
kedua adalah memilih sel hibridomapenghasil antibodi monoklonal yang
potensial menghasilkan antibodi monoklonal yang tinggi dan stabil.
Umumnya untuk menetukan antibodi yang diinginkan dilakukan dengan
cara Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) atau radioimmunoassay

5
(RIA). Pemilihan klon hibridoma dilakukan dua kali, pertama adalah dilakukan
untuk memperoleh hibridoma yang dapat menghasilkan antibodi; dan yang kedua
adalah memilih sel hibridoma penghasil antibodi monoklonal yang potensial
menghasilkan antibodi monoklonal yang tinggi dan stabil.

6
C. Penggunaan Dalam Pengobatan Penyakit
Beberapa antibodi monoklonal yang digunakan untuk pengobatan berasal dari
sel mencit / tikus sehingga sering menimbulkan reaksi alergi pada pasien yang
menerima terapi antibody monoclonal tersebut.
Untuk mengatasi masalah tersebut maka para peneliti melakukan
pengembangan antibody monoclonal yang memiliki sedikit efek penolakan dari
system imun pasien. Pengembangan tersebut menciptakan antibodi monoklonal
generasi baru, antara lain:
1. Chimeric Monoclonal Antibodies

Antibodi chimeric mengambil nama mereka dari chimera, sebuah binatang


mistis dengan kepala singa, tubuh seekor kambing dan ekor naga. Rituxan
atau rituximab adalah jenis tertentu obat yang dikenal sebagai antibodi
monoklonal chimeric. Rituxan merupakan hibrida dari antibodi dari dua

7
sumber, yaitu manusia dan tikus. Antigen CD20 disuntikkan ke tikus,
mendorong produksi antibodi. Antibodi sel kemudian diisolasi dari limpa
hewan kemudian digabungkan dengan sel myeloma. Hal ini menghasilkan
baris sel yang akan terus memproduksi antibodi tanpa batas. Rekayasa
genetika lebih lanjut menghilangkan unsur-unsur sel tikus yang biasanya akan
menghasilkan reaksi (alergi) kekebalan jika disuntikkan ke manusia. Terapi
antibodi monoklonal basis awal untuk kanker terganggu dengan sejumlah
masalah.
Pada eksperimen awal, terdapat reaksi alergi dari bagian asing antibodi
eksperimental dari tikus, yang disebut HAMA (human anti mouse antibody)
yang membatasi kegunaan dan mencegah digunakan lebih dari sekali. Para
pengembang Rituxan mengatasi masalah ini dengan menghapus bagian
antigen dari bagian tikus tersebut dengan antibodichimeric.

2. Humanized Monoclonal Antibodies

Humanized antibodies adalah antibodi dari spesies non-manusia yang


sekuens proteinnya telah dimodifikasi untuk meningkatkan kesamaan mereka
pada varian antibodi yang dihasilkan secara alami pada manusia. Proses
"humanisasi" biasanya diterapkan untuk antibodi monoklonal yang
dikembangkan untuk manusia (misalnya, antibodi yang dikembangkan
sebagai obat anti-kanker).
Humanisasi ini diperlukan pada saat proses pengembangan antibodi
spesifik yang melibatkan makhluk hidup lain dalam sistem kekebalan tubuh
manusia, seperti pada tikus. Urutan protein antibodi yang diproduksi dengan
cara ini adalah sedikit berbeda dari homolog antibodi yang terjadi secara
alami pada manusia, oleh karenanya berpotensi imunogenik jika diberikan
kepada pasien manusia. Tidak semua antibodi monoklonal dirancang untuk
administrasi manusia perlu dilakukan proses humanized karena banyak yang
merupakan terapi intervensi jangka pendek.

8
Menurut The International Nonproprietary nama akhir antibodi yang telah
dimanusiawikan berakhiran -mab, seperti di omalizumab. Proses ini
mempunyai keuntungan yang dapat dibuktikan dari fakta bahwa produksi
antibodi monoklonal dapat dicapai dengan menggunakan DNA rekombinan
untuk membuat konstruksi yang mampu berekspresi pada kultur sel mamalia.
Artinya, segmen gen yang mampu memproduksi antibodi diisolasi dan
dikloning ke dalam sel yang dapat tumbuh dalam sebuah tangki sehingga
protein antibodi yang dihasilkan dari DNA dari gen kloning dapat dipanen
secara massal.
Tidak semua metode untuk menurunkan antibodi dimaksudkan untuk
terapi manusia memerlukan langkah humanisasi (misalnya tampilan fag )
tetapi pada dasarnya semua tergantung pada teknik yang sama
memungkinkan "sisipan" bagian dari molekul antibodi.

3. Fully Human Monoclonal Antibodies

Antibodi ini merupakan antibodi yang paling ideal untuk menghindari


terjadinya respon imun karena protein antibodi yang disuntikkan ke dalam
tubuh seluruhnya merupakan protein yang berasal dari manusia. Salah satu
pendekatan yang dilakukan untuk merancang pembentukan antibodi
monoklonal yang seluruhnya mengandung protein manusia tersebut adalah
dengan teknik rekayasa genetika untuk menciptakan mencit trans genik yang
membawa gen yang berasal dari manusia, sehingga mampu memproduksi
antibodi yang diinginkan. Pendekatan lainnya adalah merekayasa suatu
binatang transgenik yang dapat mensekresikan antibodi manusia dalam air
susu yang dikeluarkan oleh binatang tersebut.
Salah satu contoh fully human monoclonal antibodies adalah
Panitumumab. Panitumumab ini sebelumnya memiliki nama ABX-EGF,
merupakan fully humanmonoclonal antibodies pertama yang spesifik untuk
reseptor faktor pertumbuhan epidermal(juga dikenal sebagai reseptor EGF,
EGFR, ErbB-1 dan HER1 pada manusia). Panitumumab ini disetujui oleh

9
lembaga obat dan makanan di Amerika pada September 2006 untuk terapi
untuk metastasis kanker usus besar yang diekspresikan oleh EGFR. EGFR ini
merupakan protein trans membran. Panitumumab bekerja dengan cara
mengikat pada bagian ekstraseluler membran EGFR untuk mencegah
aktivasinya. Sehingga sinyal intraseluler yang terkait dengan reseptor ini akan
terputus atau terhambat. Panitumumab ini dikembangkan dengan cara
imunisasi mencit transgenik yang disebut dengan Xeno Mouse yang mampu
menghasilkan immunoglobulin manusia rantai berat dan ringan.
Setelah dilakukan imunisasi, klon spesifik sel B yang memproduksi
antibodi untuk melawan EGFR dipilih dan diawetkan pada sel CHO (Chinese
hamster ovary). Sel ini kemudian digunakan pada produksi skala besar.
Panitumumab ini diproduksi oleh Amgen dan diperjual belikan dengan nama
dagang Vectibix.
D. Mekanisme Kerja Antibodi Monoklonal
Antibodi monoklonal menggunakan mekanisme kombinasi untuk
meningkatkan efek sitotoksik sel tumor. Mekanisme komponen sistem imun
adalah antibody dependent cellular cytotoxicity (ADCC), complement
dependent cytotoxicity (CDC), mengubah signal transduksi sel tumor atau
menghilangkan sel permukaan antigen. Antibodi dapat digunakan sebagai
target muatan (radioisotop, obat atau toksin) untuk membunuh sel tumor atau
mengaktivasi prodrug di tumor, antibody directed enzyme prodrug
therapy (ADEPT). Antibodi monoklonal digunakan secara sinergis
melengkapi mekanisme kerja kemoterapi untuk melawan tumor (Hanafi dan
Syahrudin, 2012).
e. Antibody dependent cellular cytotoxicity (ADCC)
Antibody dependent cellular cytotoxicity (ADCC) terjadi jika
antibodi mengikat antigen sel tumor dan Fc antibodi melekat dengan
reseptor Fc pada permukaan sel imun efektor. Interaksi Fc reseptor ini
berdasarkan kemanjuran antitumor dan sangat penting pada pemilihan
suatu antibodi monoklonal. Sel efektor yang berperan masih belum jelas
tapi diasumsikan sel fagosit mononuklear dan atau natural killer (NK).

10
Struktur Fc domain dimanipulasi untuk menyesuaikan jarak antibodi
dan interaksi dengan Fc reseptor. Antibody dependent cellular
cytotoxicity (ADCC) dapat meningkatkan respons klinis secara langsung
menginduksi destruksi tumor melalui presentasi antigen dan menginduksi
respons sel T tumor.
Antibodi monoklonal berikatan dengan antigen permukaan sel tumor
melalui Fc reseptor permukaan sel NK. Hal ini memicu
penglepasan perforin dan granzymes untuk menghancurkan sel tumor
(gambar 5a). Sel - sel yang hancur ditangkapantigen presenting
cell (APC) lalu dipresentasikan pada sel B sehingga memicu penglepasan
antibodi kemudian antibodi ini akan berikatan dengan target antigen
(gambar 5b-d). Sel cytotoxic T lymphocytes (CTLs) dapat mengenali dan
membunuh sel target antigen (Gambar 3).

Gambar 3. Antibody dependent cellular cytotoxicity (ADCC)


f. Complement dependent cytotoxicity (CDC)
Pengikatan antibodi monoklonal dengan antigen permukaan sel akan
mengawali kaskade komplement. Complement dependent
cytotoxicity (CDC) merupakan suatu metode pembunuh sel tumor yang
lain dari antibodi. Imunoglobulin G1 dan G3 sangat efektif pada CDC
melalui jalur klasik aktivasi komplemen (Gambar 4a). Formasi kompleks
antigen antibodi merupakan komplemen C1q berikatan dengan IgG
sehingga memicu komplemen protein lain untuk mengawali penglepasan
proteolitik sel efektor kemotaktik / agen aktivasi C3a dan C5a
(Gambar 4b). Kaskade komplemen ini diakhiri dengan

11
formasi membrane attack complex (MAC) (Gambar 4c) sehingga
terbentuk suatu lubang pada sel membran. Membrane attack
complex (MAC) memfasilitasi keluar masuknya air dan Na++ yang akan
menyababkan sel target lisis (Gambar 4d)

Gambar 4. Complement Dependent Cytotoxicity (CDC)


g. Antibodi Directed Enzyme Prodrug Therapy (ADEPT)
Antibodi directed enzyme prodrug therapy (ADEPT) menggunakan
antibodi monoklonal sebagai penghantar untuk sampai ke sel tumor
kemudian enzim mengaktifkan prodrug pada tumor, hal ini dapat
meningkatkan dosis active drug di dalam tumor. Konjugasi antibodi
monoklonal dan enzim mengikat antigen permukaan sel tumor
(Gambar 5a) kemudian zat sitotoksik dalam bentuk inaktif prodrug akan
mengikat konjugasi antibodi monoklonal dan enzim permukaan sel tumor
(Gambar 5b-c) akhirnya inaktivasi prodrug terpecah dan melepaskan
active drug di dalam tumor (Gambar 5d).

Gambar 5. Antibodi Directed Enzyme Prodrug Therapy (ADEPT)

12
E. Rintangan Keberhasilan Terapi Antibodi Monoklonal
Distribusi antigen sel ganas sangat heterogen sehingga beberapa sel dapat
mengenali antigen tumor dan sel lainnya tidak. Densiti antigen bervariasi bila
rendah antibodi monoklonal tidak efektif. Aliran darah tumor tidak selalu
optimal bila antibodi monoklonal dihantarkan melalui darah maka sulit untuk
mengandalkan terapi ini. Tekanan interstisial yang tinggi dalam tumor dapat
mencegah ikatan dengan antibodi monoklonal. Antigen tumor selalu
dilepaskan sehingga antibodi mengikat antigen bebas dan bukan sel
tumor. Antibodi monoklonal diperoleh dari sel tikus kemungkinan masih ada
respons imun antibodinya yang disebut respons human anti mouse
antibodies (HAMA). Respons ini tidak hanya menurunkan kemanjuran terapi
antibodi monoklonal tapi juga menyisihkan kemungkinan terapi ulangan.
Reaksi silang antibodi monoklonal dengan antigen jaringan normal jarang
sehingga aplikasi antibodi monoklonal memberikan hasil yang baik pada
keganasan hematologi dan tumor soliter walaupun terdapat beberapa
rintangan.

F. Imunoterapi
Imunoterapi (IT) atau densitisasi atau hiposensitasi adalah pemberian
ekstrak alergen kepada penderita alergi yang jumlahnya secara perlahan
ditingkatkan dengan tujuan menghilangkan gejala yang ditimbulkan pejanan
dengan alergen yang merupakan penyebab penyakit. Pemberian antigen
spesifik berulang kepada penderita dengan penyakit alergi diharapkan akan
memberikan proteksi terhadap gejala dan terjadinya inflamasi (Anonim,
2012).
Imunoterapi yang merupakan teknik pengobatan baru untuk kanker, yang
mengerahkan dan lebih mendayagunakan sistem kekebalan tubuh untuk
memerangi kanker. Karena hampir selalu menggunakan bahan-bahan alami
dari makhluk hidup, terutama manusia, maka imunoterapi sering juga disebut
bioterapi atau terapi biologis.

13
Imunoterapi kanker berupaya membuat sistem kekebalan tubuh mampu
mengalahkan keganasan sel-sel kanker, dengan cara
meningkatkan/mengarahkan reaksi kekebalan tubuh terhadap sel kanker, atau
mengembalikan kemampuan tubuh dalam menaklukkan kanker (body
response modifiers BRM). Imunoterapi dapat dilakukan secara aktif atau
pasif untuk menstimulasi respon imun spesifik dan nonspesifik pada
penderita kanker.
a. Imunoterapi Pasif
Imunoterapi secara pasif dilakukan dengan cara mentransfer antibodi
dan sel-selimun ke dalam tubuh penderita. Beberapa antibodi spesifik
atau antibodi monoklonal yang mampu bereaksi dengan antigen spesifik
berbagai jenis sel kanker dapat digunakan untuk terapi kanker. Antibodi
monoklonal tersebut akan berikatan dengan antigen yang terdapatpada
permukaan sel tumor atau sel kanker dan mengaktifkan sistem
komplemen,sehingga menyebabkan sitolisis. Disamping itu reseptor yang
terikat pada bagian Fc dari antibodi dapat merangsang sel-sel
efektorseperti sel NK, makrofag dan granulosit untuk menangkap
kompleks antigen antibodi pada permukaan sel tumor,sehingga dapat
membunuh sel tumor melalui antibody-dependent cell-
mediated cytotoxicity (Radji, 2010).
Berbagai jenis antibodi monoklonal telah dikembangkan beberapa
diantaranya telah disetujui penggunaannya oleh FDA untuk mengobati
beberapa jenis kanker. Walaupun demikian, terdapat beberapa masalah
dengan penggunaan imunoterapi antara lain adalah;
1) Antibodi yang digunakan kurang efisien karena sel tumor terasosiasi
dengan MHC kelas 1.
2) Sel tumor dapat menutup antigen sehingga terjadi kompleks antigen
antibodi. Dengan demikian sel-sel kekebalan tidak dapat
menghancurkan sel tumor.
3) Antibodi kemungkinan terikat secara tidak spesifik pada sel-sel
kekebalan, tidak dapat berikatand engan sel tumor, sehingga tidak
dapat merangsang sistem komplemen untuk mengahancurkan sel
tumor.

14
Penggunaan antibodi monoklonal untuk terapi kanker dibagi dalam 2
tipe, yaitu;
1) Naked Monoclonal Antibodies (Antibodi monoklonal murni)
Antibodi monoklonal yang penggunaannya tanpa dikombinasikan
dengan senyawa lain. Antibodi monoklonal murni mengikatkan diri
pada antigen spesifik yang dimiliki oleh sel-sel kanker sehinggad
apat dikenali dan dirusak oleh sistem imun tubuh. Selain itu antibodi
monoklonal dapat mengikatkan diri pada suatu reseptor, dimana
molekul-molekul pertumbuhan untuk tidak dapat berinteraksi dengan
sel kanker, maka antibodi monoklonal dapat mencegah pertumbuhan
sel kanker. Biasanya diberikan secara intravena dan efek sampingnya
lebih ringan dari kemoterapi.
Beberapa antibodi monoklonal yang bekerja dengan cara tersebut
diantaranya adalah;
a) Trastuzumab (Herceptin), digunakan untuk terapi kanker payudara
stadium lanjut. Trastuzumab menyerang protein HER2 (merupakan
protein yangterdapat dalam jumlah besar pada sel-sel
kankerpayudara).
b) Rituximab, digunakan untuk terapi sel B pada limfoma non-
Hodgkin, bereaksi dengan sasaran antigen CD20 yang
ditemukanpada sel B.
c) Alemtuzumab, diigunakan untuk terapi B cell lymphocytic leukimia
(B-CLL) kronik yang sudah mendapat kemoterapi, Senyawa ini
menyerang antigen CD52, yang terdapat pada sel B maupun sel T.
d) Cetuximab, digunakan untuk kanker kolorektal stadium lanjut
(bersamaan dengan obat kemoterapi irinotechan) dan kanker leher
dan kepala yang tidakbisa dilakukan tindakan pembedahan. Senyawa
ini ditujukan untuk protein epidermal growth factor receptors
(EGFR),dimana EFGR terdapat dalam jumlah besar pada beberapa
sel kanker.
e) Bevacizumab, bekerja melawan protein Vascular Endhotelial
Growth Factor (VEGF) yang normalnya membantu tumor untuk
membangun jaringan pembuluh darah baru (angiogenesis). Senyawa

15
ini digunakan bersama-sama dengan kemoterapi untuk terapi kanker
kolorektal metastatik.
2) Conjugated Monoclonal Antibodies (Antibodi monoklonal yang
dikombinasi dengan beberapa senyawa)
Senyawa yang dikombinasikan antara lain kemoterapi, toksin,dan
senyawa radioaktif. Antibodi monoklonal jenis ini akan beredar ke
seluruh bagian tubuh sampai ia berhasil menemukan sel kanker yang
mempunyai antigen spesifik yang dikenali oleh antibodi monoklonal.
Obat ini hanya berperan sebagai wahana yang akan mengantarkan
substansi-substansi obat, racun dan materi radioaktif, menuju
langsung ke sasaran yakni sel-sel kanker, namun hebatnya, ia bisa
meminimalkan dosis pada sel normal untuk menghindari kerusakan
di seluruh bagian tubuh. Conjugated MAbs kadang dikenal juga
sebagai "tagged," "labeled," atau "loaded" antibodies.
a) Chemolabeled
Chemolabeled adalah antibodi monoklonal yang dikombinasikan
dengan obat kemoterapi. Satu-satunya chemolabeled yang telah
disetujui FDA untuk terapi kanker adalah Brentuximab
vedotin(Adcetris, dulu dikenal dengan nama SGN-35). Obat ini
terdiri dari antibodi yang mempunyai target antigen CD30 yang
terikat kepada obat kemoterapi yang bernama monomethyl auristatin
E. Digunakan untuk terapi Hodgkin lymphoma dan anaplasticlarge
cell lymphoma yang tidak merespon terapi lain.
b) Radioimmunotherapy
Radioimmunotherapy adalah antibodi monoklonal dikombinasikan
dengan senyawa radioaktif. FDA menyetujui radioimmunotherapy
pertama yang boleh digunakan adalah Ibritumomabtiuxetan
digunakan untuk terapi kanker B cell non-Hodgkin lymphoma yang
tidak berhasil dengan terapi standar. Radioimmunotherapy yang
kedua adalah Tositumomab (Bexxar) digunakan untuk tipe
limfomanon-Hodgkin tertentu yang jugatidak menunjukkan respon
terhadap Rituximab (Rituxan)atau kemoterapi.
c) Immunotoksin

16
Immunotoksin adalah antibodi monoklonal dikonjugasikan dengan
racun. Imunotoksin dibuat dengan menempelkan racun yang berasal
dari tanaman maupun bakteri pada antibodi monoklonal. Berbagai
racun dibuat untuk ditempelkan pada antibodi monoklonal seperti
toksin difteri, eksotoksin pseudomonas (PE40), atau yang dibuat dari
tanaman, yakni risin A dariRicinus communis atau saporin
dari Saponaria officinalis.
Salah satu imunotoksin yang mendapat persetujuan FDA untuk
terapi kanker adalah Gemtuzumab ozogamicin (Mylotarg). Obat ini
mengandung racun calicheamicin. Racun ini melekat pada
antibodiyang langsung menuju sasaranantigen CD33, yang terdapat
padasebagian besar sel leukimia. Saat ini Gemtuzumab ozogamicin
digunakan untuk terapi acute myelogenous leukimia (AML)yang
sudah menjalani kemoterapiatau tidak memenuhi syarat untuk
kemoterapi.
b. Imunoterapi Aktif
Imunoterapi Secara Aktif dilakukan dengan cara memberikan
senyawa imunopotensiasi (biological response modifiers) untuk
meningkatkan respon imun terhadap sel tumor antara lain dengan cara
meningkatkan aktifitas makrofag dan sel NKserta meningkatkan fungsi
sel T. Aktivitas spesifik dilakukan dengan pemberian vaksin hepatitis B,
vaksin Human papiloma virus. Atau dengan cara non spesifik dengan
imunisasi BCG dan Corynebacterium parvum untuk merangsang
aktivitas makrofag agar mampu membunuh sel-sel tumor (tumorsid).
Beberapa jenis biological response modifiers yang digunakan dapat
dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Jenis biological response modifiers yang digunakan sebagai imunoterapi
Jenis imunopotensiasi Produk Efek utama
Produk bakteri BCG, P. Acnes, muramil Mengaktifkan makrofag dan
dipeptida, trehalosa dimikolat sel NK (melalui sitokin)
Molekul sintetik Piran, pirimidin Menginduksi produksi
interferon
Sitokin Interferon alfa, beta dan gama Mengaktifkan makrofag dan

17
IL-2 dan TNF sel NK

Beberapa senyawa sitokin digunakan untuk meningkatkan fungsi imun


penderita karena pada kenyataannya beberapa senyawa sitokin mempunyai
fungsi yang spesifik terhadap komponen tertentu dari sistem imun. Jenis
sitokin yang digunakan adalah;
(i) Interleukin-2
- Mengaktifkan sel T dan sel NK
- Digunakan untuk mengobati karsinoma renal dan melanoma
(ii) Interferon alfa dan beta
- Menginduksi ekspresi MHCpada sel tumor
- Digunakan untukmengobati leukimia
(iii) Interferon gama
- Meningkatkan ekspresi MHCkelas II
- Digunakan untuk kanker rahim
(iv) Tumor necrocis factor-alpha(TNF-alfa)
- Meningkatkan aktifitas makrofag dan sel-sel limfosit
Digunakan untuk membunuh sel-sel tumor.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan

Antibodi monoklonal adalah zat yang diproduksi oleh sel gabungan tipe
tunggal yang memiliki kekhususan tambahan, merupakan senyawa yang
homogen, sangat spesifik, dan dapat diproduksi dalam jumlah yang besar
sehingga sangat menguntungkan jika digunakan sebagai alat diagnostik. Adapun
cara pembuatannya terdiri dari beberapa tahap, antara lain :imunisasi mencit, fusi
sel limpa kebal dan sel mieloma, eliminasi sel induk yang tidak berfusi, dan
isolasi dan pemilihan klon hibridoma. Antibodi monoklonal telah
banyak dimanfaatkan dalam bidang kesehatan, baik diagnostik maupun
pengobatan. Para peneliti telah mengembangkan pembuatan antibodi monoklonal

18
generasi baru, yaitu suatu monoklonal antibodi yang sebagian atau seluruhnya
terdiri dari protein yang berasal dari manusia. Beberapa jenis antibodi monoklonal
generasi baru adalah chimaric monoclonal antibodies, humanized monoclonal
antibodies, dan fully human monoklonal antibodies.

B. Saran

Dengan dibuatnya makalah ini, penulis berharap dapat bermanfaat bagi


mahasiswa untuk terus mempelajari antibodi monoklonal.

DAFTAR PUSTAKA

Baratawidjaja, Karnen Garna. 2006. Imunologi Dasar. Jakarta; Balai Penerbit


FKUI.

Hanafi, Arif Riswahyudi dan Elisna Syahruddin. Antibodi Monoklonal dan


Aplikasinya Pada Terapi Target (Targeted Therapy) Kanker Paru. Jakarta:
Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI-RS
Persahabatan.

19