Anda di halaman 1dari 16

I.

Pertemuan : 5
II. Judul : Reaksi uji terhadap protein (uji koagulasi)
III. Tujuan : Untuk menguji kandungan yang
terdapat didalam protein
IV. Dasar teori

Istilah protein diperkenalkan pada tahun 1830-an oleh pakar kimia Belanda
bernama Mulder, yang merupakan salah satu dari orang-orang pertama yang
mempelajari kimia dalam protein secara sistematik. Ia secara tepat menyimpulkan
peranan inti dari protein dalam sistem hidup dengan menurunkan nama dari
bahasa Yunani proteios, yang berarti bertingkat pertama. Protein merupakan
makromolekul yang menyusun lebih dari separuh bagian dari sel. Protein
menentukan ukuran dan struktur sel, komponen utama dari sistem komunikasi
antar sel serta sebagai katalis berbagai reaksi biokimia di dalam sel. Karena itulah
sebagian besar aktivitas penelitian biokimia tertuju pada protein khususnya
hormon, antibodi dan enzim.
Semua jenis protein terdiri dari rangkaian dan kombinasi dari 20 asam
amino. Setiap jenis protein mempunyai jumlah dan urutan asam amino yang khas.
Di dalam sel, protein terdapat baik pada membran plasma maupun membran
internal yang menyusun organel sel seperti mitokondria, retikulum endoplasma,
nukleus dan badan golgi dengan fungsi yang berbeda-beda tergantung pada
tempatnya. Protein-protein yang terlibat dalam reaksi biokimia sebagian besar
berupa enzim banyak terdapat di dalam sitoplasma dan sebagian terdapat pada
kompartemen dari organel sel. Protein merupakan kelompok biomakromolekul
yang sangat heterogen. Ketika berada di luar makhluk hidup atau sel, protein
sangat tidak stabil.
Fungsi dan Peranan Protein
Protein memegang peranan penting dalam berbagai proses biologi. Peran-peran
tersebut antara lain:
1. Katalisis enzimatik Hampir semua reaksi kimia dalam sistem biologi
dikatalisis oleh enzim dan hampir semua enzim adalah protein.
2. Transportasi dan penyimpanan Berbagai molekul kecil dan ion-ion
ditansport oleh protein spesifik. Misalnya transportasi oksigen di dalam
eritrosit oleh hemoglobin dan transportasi oksigen di dalam otot oleh
mioglobin.
3. Koordinasi gerak Kontraksi otot dapat terjadi karena pergeseran dua
filamen protein. Contoh lainnya adalah pergerakan kromosom saat proses
mitosis dan pergerakan sperma oleh flagela.
4. Penunjang mekanis Ketegangan kulit dan tulang disebabkan oleh kolagen
yang merupakan protein fibrosa.
5. Proteksi imun Antibodi merupakan protein yang sangat spesifik dan dapat
mengenal serta berkombinasi dengan benda asing seperti virus, bakteri dan
sel dari organisma lain.
6. Membangkitkan dan menghantarkan impuls saraf Respon sel saraf
terhadap rangsang spesifik diperantarai oleh oleh protein reseptor.
Misalnya rodopsin adalah protein yang sensitif terhadap cahaya ditemukan
pada sel batang retina. Contoh lainnya adalah protein reseptor pada
sinapsis.
7. Pengaturan pertumbuhan dan diferensiasi Pada organisme tingkat tinggi,
pertumbuhan dan diferensiasi diatur oleh protein faktor pertumbuhan.
Misalnya faktor pertumbuhan saraf mengendalikan pertumbuhan jaringan
saraf. Selain itu, banyak hormon merupakan protein (Santoso, H. 2008)

Jenis-jenis Protein
1. Kolagen, protein struktur yang diperlukan untuk membentuk kulit, tulang
dan ikatan tisu.
2. Antibodi, protein sistem pertahanan yang melindungi badan daripada
serangan penyakit.
3. Dismutase superoxide, protein yang membersihkan darah kita.
4. Ovulbumin, protein simpanan yang memelihara badan.
5. Hemoglobin, protein yang berfungsi sebagai pembawa oksigen.
6. Toksin, protein racun yang digunakan untuk membunuh kuman.
7. Insulin, protein hormon yang mengawal aras glukosa dalam darah.
8. Tripsin, protein yang mencernakan makanan protein

Kualitas protein didasarkan pada kemampuannya untuk menyediakan nitrogen


dan asam amino bagi pertumbuhan, pertahanan dan memperbaiki jaringan tubuh.
Secara umum kualitas protein tergantung pada dua karakteristik berikut:
1. Digestibilitas protein (untuk dapat digunakan oleh tubuh, asam amino harus
dilepaskan dari komponen lain makanan dan dibuat agar dapat diabsorpsi.
Jika komponen yang tidak dapat dicerna mencegah proses ini asam amino
yang penting hilang bersama feses).
2. Komposisi asam amino seluruh asam amino yang digunakan dalam sintesis
protein tubuh harus tersedia pada saat yang sama agar jaringan yang baru
dapat terbentuk.dengan demikian makanan harus menyediakan setiap asam
amino dalam jumlah yang mencukupi untuk membentuk as.amino lain yang
dibutuhkan.
Uji protein dengan metode identifikasi protein secara kualitatif dapat
menggunakan prinsif :
Uji Biuret : pembentukan senyawa kompleks koordinat yang berwarna yang
dibentuk oleh Cu+ dengan gugus CO dan NH pada ikatan peptida dalam
larutan suasana basa.
Pengendapan dengan logam : pembentukan senyawa tak larut antara protein
dan logam berat.
Pengendapan dengan garam : pembentukan senyawa tak larut antara protein
dan ammonium sulfat.
Pengendapan dengan alkohol : pembentukan senyawa tak larut antara protein
dan alkohol.
Uji koagulasi : perubahan bentuk yang ireversibel dari protein akibat dari
pengaruh pemanasan.
Denaturasi protein : perubahan pada suatu protein akibat dari kondisi
lingkungan yang sangat ekstrim.

V. Alat dan Bahan


Alat
o Tabung reaksi
o Rak tabung reaksi
o Penjepit tabung reaksi
o Pipet tetes
o Gelas ukur

Bahan
o Asam asetat M
o Larutan albumin 1-5%
o Larutan susu 1-5%
o H2O
o Reagen Millon

VI. Prosedur

Tambahkan 2 tetet HOAc 1 M kedalam 5 ml larutanprotein. Letakkan tabung


dalam air mendidih selama 5 menit. Ambil endapan dengan batang pengaduk. Uji
kelarutan endapan di dalam air. Uji endapan dengan reagen millon.

VII. Hasil pengamatan

Larutan Susu

o Larutan Susu 1%

Cara Kerja Hasil Pengamatan


5 ml larutan susu 1% + 2 tetes larutan larutan susu 1% (putih) + larutan C

H 3 COOH H 3 COOH
C , panaskan Endapan (putih)

+ filtrate (tidak berwarna)


Endapan dibagi dua direaksikan Endapan susu 1% (putih) + 3 ml
dengan air dan reagen millon aquadest (tidak berwarna)
Endapan putih yang tidak larut
Endapan susu 1% (putih) + 2 tetes
reagen millon (tidak berwarna)
Endapan merah bata

o Larutan Susu 2%

Cara Kerja Hasil Pengamatan


5 ml larutan susu 2% + 2 tetes larutan larutan susu 2% (putih) + larutan C

H 3 COOH H 3 COOH
C , panaskan Endapan (putih)

+ filtrate (tidak berwarna)


Endapan dibagi dua direaksikan Endapan susu 2% (putih) + 3 ml
dengan air dan reagen millon aquadest (tidak berwarna)
Endapan putih yang tidak larut
Endapan susu 2% (putih) + 2 tetes
reagen millon (tidak berwarna)
Endapan merah bata

o Larutan Susu 3%

Cara Kerja Hasil Pengamatan


5 ml larutan susu 3% + 2 tetes larutan susu 3% (putih) + larutan C

H 3 COOH H 3 COOH
larutan C , panaskan Endapan (putih)

+ filtrate (tidak berwarna)


Endapan dibagi dua direaksikan Endapan susu 3% (putih) + 3 ml
dengan air dan reagen millon aquadest (tidak berwarna)
Endapan putih yang tidak larut
Endapan susu 3% (putih) + 2 tetes
reagen millon (tidak berwarna)
Endapan merah bata
o Larutan Susu 4%

Cara Kerja Hasil Pengamatan


5 ml larutan susu 4% + 2 tetes larutan susu 4% (putih) + larutan C

H 3 COOH H 3 COOH
larutan C ,panaskan Endapan (putih)

+ filtrate (tidak berwarna)


Endapan dibagi dua direaksikan Endapan susu 4% (putih) + 3 ml
dengan air dan reagen millon aquadest (tidak berwarna)
Endapan putih yang tidak larut
Endapan susu 4% (putih) + 2 tetes
reagen millon (tidak berwarna)
Endapan merah bata

o Larutan Susu 5%

Cara Kerja Hasil Pengamatan


5 ml larutan susu 5% + 2 tetes larutan susu 5% (putih) + larutan C

H 3 COOH H 3 COOH
larutan C ,panaskan Endapan (putih) +

filtrate (tidak berwarna)


Endapan dibagi dua direaksikan Endapan susu 5% (putih) + 3 ml
dengan air dan reagen millon aquadest (tidak berwarna)
Endapan putih yang tidak larut
Endapan susu 5% (putih) + 2 tetes
reagen millon (tidak berwarna)
Endapan merah bata
Larutan Albumin

o Larutan Albumin 1%

Cara Kerja Hasil Pengamatan


5 ml larutan Albumin 1% + 2 tetes larutan albumin 1% (kuning) + larutan

H 3 COOH H 3 COOH
larutan C ,panaskan C Endapan (putih) +

filtrate (tidak berwarna)


Endapan dibagi dua direaksikan Endapan albumin 1% (kuning) + 3 ml
dengan air dan reagen millon aquadest (tidak berwarna)
Endapan putih yang tidak berwarna
Endapan albumin 1% (kuning) + 2 tetes
reagen millon (tidak berwarna)
Endapan merah bata

o Larutan Albumin 2%

Cara Kerja Hasil Pengamatan


5 ml larutan Albumin 2% + 2 tetes larutan albumin 2% (kuning) + larutan

H 3 COOH H 3 COOH
larutan C ,panaskan C Endapan (putih) +

filtrate (tidak berwarna)


Endapan dibagi dua direaksikan Endapan albumin 2% (kuning) + 3 ml
dengan air dan reagen millon aquadest (tidak berwarna)
Endapan putih yang tidak larut
Endapan albumin 2% (kuning) + 2 tetes
reagen millon (tidak berwarna)
Endapan merah bata

o Larutan Albumin 3%

Cara Kerja Hasil Pengamatan


5 ml larutan Albumin 3% + 2 tetes larutan albumin 3% (kuning) + larutan

H 3 COOH H 3 COOH
larutan C ,panaskan C Endapan (putih) +

filtrate (tidak berwarna)


Endapan dibagi dua direaksikan Endapan albumin 3% (kuning) + 3 ml
dengan air dan reagen millon aquadest (tidak berwarna)
Endapan putih yang tidak larut
Endapan albumin 3% (kuning) + 2 tetes
reagen millon (tidak berwarna)
Endapan merah bata

o Larutan Albumin 4%

Cara Kerja Hasil Pengamatan


5 ml larutan Albumin 4% + 2 tetes larutan albumin 4% (kuning) + larutan

H 3 COOH H 3 COOH
larutan C ,panaskan C Endapan (putih) +

filtrate (tidak berwarna)


Endapan dibagi dua direaksikan Endapan albumin 4% (kuning) + 3 ml
dengan air dan reagen millon aquadest (tidak berwarna)
Endapan putih yang tidak larut
Endapan albumin 4% (kuning) + 2 tetes
reagen millon (tidak berwarna)
Endapan merah bata

o Larutan Albumin 5%

Cara Kerja Hasil Pengamatan


5 ml larutan Albumin 1 % + 2 larutan albumin 5% (kuning) +

H 3 COOH H 3 COOH
tetes larutan C larutan C Endapan

,panaskan (putih) + filtrate (tidak berwarna)

Endapan dibagi dua direaksikan Endapan albumin 5% (kuning) + 3 ml


dengan air dan reagen millon aquadest (tidak berwarna)
Endapan putih yang tidak larut
Endapan albumin 5% (kuning) + 2
tetes reagen millon (tidak berwarna)
Endapan coklat bercampur merah bata
VIII. Persamaan Reaksi

IX. Analisis data


Rumus pembuatan larutan protein (sampel yang diuji) dari larutan
induknya

V zat terlarut
larutan= x 100
V larutan
A. Pembuatan larutan albumin dengan konsentrasi 1% - 5%

Rumus pembuatan larutan (sampel yang diuji)

Xi
x 100 =Y
V

Dimana X = volume albumin hasil saringan yang dibutuhkan (X1 sd X5)

V = volume labu ukur yang digunakan

Y = persentase larutan yang dibuat

i = 1% sd 5% albumin

Pembuatan larutan albumin 1%


x(ml)
1% larutan albumin = 250 ml x 100

1/100 (250) = X (100/100)


2,5/1 = X
2,5 ml = X
Pembuatan larutan albumin 2%
x(ml)
2% larutan albumin = 250 ml x 100

2/100 (250) = X (100/100)


5/1 = X
5 ml = X
Pembuatan larutan albumin 3%
x(ml)
3% larutan albumin = 250 ml x 100
3/100 (250) = X (100/100)
7,5/1 = X
7,5 ml = X
Pembuatan larutan albumin 4%
x(ml)
4% larutan albumin = 250 ml x 100

4/100 (250) = X (100/100)


10/1 = X
10 ml = X
Pembuatan larutan albumin 5%
x(ml)
5% larutan albumin = 250 ml x 100

5/100 (250) = X (100/100)


12,5/1 = X
12,5 ml = X

Didapatkan, larutan albumin yang dibutuhkan

Larutan 1 (1% larutan albumin) = 2,5 ml (dimasukkan kedalam labu


ukur 250 ml + aquadest)
Larutan 2 (2% larutan albumin) = 5 ml (dimasukkan kedalam labu
ukur 250 ml + aquadest)
Larutan 3 (3% larutan albumin) = 7,5 ml (dimasukkan kedalam labu
ukur 250 ml + aquadest)
Larutan 4 (4% larutan albumin) = 10 ml (dimasukkan kedalam labu
ukur 250 ml + aquadest)
Larutan 5 (5% larutan albumin) = 12,5 ml (dimasukkan kedalam labu
ukur 250 ml + aquadest)

B. Pembuatan larutan susu 1-5%


Larutan Induk
Massa Susu Bubuk = 10 gram dalam 50 ml aquadest

Terbentuklah larutan susu 50 ml.

Rumus pembuatan larutan (sampel yang diuji)

Xi
x 100 =Y
V
Dimana X = volume susu hasil saringan yang dibutuhkan (X1 sd X5)

V = volume labu ukur yang digunakan

Y = persentase larutan yang dibuat

i = 1% sd 5% susu

Pembuatan larutan susu 1%


x(ml)
1% larutan susu = 250 ml x 100

1/100 (250) = X (100/100)


2,5/1 = X
2,5 ml = X
Pembuatan larutan susu 2%
x(ml)
2% larutan susu = 250 ml x 100

2/100 (250) = X (100/100)


5/1 = X
5 ml = X
Pembuatan larutan susu 3%
x(ml)
3% larutan susu = 250 ml x 100

3/100 (250) = X (100/100)


7,5/1 = X
7,5 ml = X
Pembuatan larutan susu 4%
x(ml)
4% larutan susu = 250 ml x 100

4/100 (250) = X (100/100)


10/1 = X
10 ml = X
Pembuatan larutan susu 5%
x(ml)
5% larutan susu = 250 ml x 100

5/100 (250) = X (100/100)


12,5/1 = X
12,5 ml = X

Didapatkan, larutan susu yang dibutuhkan


Larutan 1 (1% larutan susu) = 2,5 ml (dimasukkan kedalam labu ukur
250 ml + aquadest)
Larutan 2 (2% larutan susu) = 5 ml (dimasukkan kedalam labu ukur 250
ml + aquadest)
Larutan 3 (3% larutan susu) = 7,5 ml (dimasukkan kedalam labu ukur
250 ml + aquadest)
Larutan 4 (4% larutan susu) = 10 ml (dimasukkan kedalam labu ukur 250
ml + aquadest)
Larutan 5 (5% larutan susu) = 12,5 ml (dimasukkan kedalam labu ukur
250 ml + aquadest)

C. Pembuatan larutan CH3COOH 1 M sebanyak 250 ml


Larutan induk = CH3COOH 17 M
1= M 2 x V 2
M1x V

1= 1 M x 250 ml
17 M x V
1 M x 250 ml
1=
17 M
V
1= 14,7 ml
V

X. Pembahasan

Pada praktikum kali ini kami melakukan percobaan mengenai reaksi uji
protein dengan metode pengendapan garam. Didalam percobaan ini kami
menggunakan larutan susu 1-5%. Susu yang diambil adalah 10 ml yang kemudian
dijenuhkan dengan garam amonium sulfat. Untuk memperoleh larutan jenuh,
pertama ditambahkan garam amonium sulfat dalam jumlah sedikit, kemudian
aduk hingga melarut. Lalu tambahkan lagi garam amonium sulfat sedikit demi
sedikit dan aduk hingga tidak melarut lagi. Kemudian larutan dimasukkan
kedalam tabung sentrifuga dan dipusingkan didalam sentrifuga untuk memperoleh
endapan. Setelah larutan terbentuk endapan, pisahkan endapan dan filtratnya.
Endapan yang dihasilkan dibagi dua tabung untuk masing-masing tabung akan
diuji dengan direaksikan dengan air dan reagen millon. Sedangkan filtratnya
sendiri digunakan untuk uji biuret.

Hasil percobaan yang dihasilkan dari percobaan ini yaitu ketika susu
dijenuhkan dengan garam amonium sulfat, kelarutannya akan berkurang dengan
bertambahnya jumlah garam amonium sulfat. Garam amonium sulfat merupakan
garam anorganik, yang apabila dilarutkan kedalam larutan protein maka
kelarutannya akan berkurang dan akibatnya protein akan terpisah sebagai
endapan. Dimana peristiwa pemisahan protein ini disebut dengan salting out.
Pada saat larutan dipusingkam didalam sentrifuga, pengendapan terus terjadi
karena kemampuan ion garam untuk menghidrasi sehingga terjadi kompetisi
antara garam anorganik dengan mokelul protein untuk mengikat air. Karena garam
anorganik lebih menarik air maka jumlah air yang tersedia untuk molekul potein
akan berkurang sehingga terbentuklah endapan. Endapan yang dihasilkan setelah
dipusingkan, kemudian dibagi kedalam dua tabung yang selanjutnya diuji dengan
air dan reagen millon. Ketika endapan diuji dengan air, endapan larut membentuk
butiran. Hal ini karena susu mengandung kasein yang mana penyusun dari kasein
merupakan asam amino tirosin yang bersifat polar. Itu artinya ketika dilarutkan
didalam air (bersifat polar) maka akan melarut. Ketika endapan diuji dengan
reagen millon, endapan bereaksi positif dengan terbentuknya endapan merah bata
karena susu mengandung asam amino tirosin yang mengandung gugus hidroksi
fenil. Dimana endapan yang dihasilkan semakin banyak seiring bertambahnya
konsentrasi. Sedangkan filtrat dari larutan jenuh ini diuji dengan reagen biuret
yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya ikatan peptida pada filtrat yang
dihasilkan. Ketika diuji dengan reagen biuret, filtrat bereaksi positif dengan
menghasilkan warna biru. Hal ini menunjukkan adanya pembentukan senyawa
kompleks Cu2+ pada filtrat.

XI. Kesimpulan
1. Kelarutan protein berkurang dengan bertambahnya jumlah garam
amonium sulfat (garam aorganik) yang ditambahkan, akibatnya protein
terpisah dan terbentuk endapan.
2. Endapan susu mengandung asam amino tirosin yang bersifat polar
sehingga larut didalam air yang juga bersifat polar.
3. Endapan susu bereaksi positif dengan uji millon yang ditandai dengan
terbentuknya endapan merah bata. Karena susu mengandung asam amino
tirosin yang mempunyai gugus hidroksi fenil.
4. Filtrat susu bereaksi positif dengan uji biuret yang ditandai dengan
terbentuknya larutan berwarna biru. Karena susu mengandung ikatan
peptida

DAFTAR PUSTAKA

.
Ariwulan, 2011. Uji Reaksi Protein. (online). http://pustakabiolog.wordpress.com.
(diakses tanggal 15 oktober 2016).

Deman,M. 1997. Kimia Makanan. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

Fried dan Hademenos. 2006. Schaums Outlines Biologi Edisi Kedua. Jakarta:
Erlangga.

Katili, A. 2009. Struktur dan Fungsi Protein Kolagen.(online).


http://ejurnal.ung.ac.id. Gorontalo: Universitas Negeri Gorontalo.

Kuchel dan Ralston. 2006, Biokimia Schaums Easy Outlines. Jakarta: Erlangga.
Patong, A. 2012. Biokimia Dasar. Makassar: Lembah Harapan Press.

LAMPIRAN I

1. Terangkan hasilnya?
Jawab: Pada percobaan ini hasil yang didapatkan adalah endapan berwarna
putih dan filtrat (tidak berwarna) yang dimana endapannya diuji dengan air
hasilnya larutannya putih dan endapan larut, ketika diuji dengan reagen
millon lalu dipanaskan menghasilka endapan merah bata, sedangkan filtratnya
diuji dengan reagen biuret menghasilkan larutan berwarna biru.
LAMPIRAN II

1. Larutan kuning telur 1-5% 2. Larutan putih telur 1-5%