Anda di halaman 1dari 17

UJI PROTEIN(UJI BIURET)

POSTED ON 3 AGUSTUS 2015 BY VINAOKTAPIANI POSTED IN TAK BERKATEGORI

Protein merupakan biopolimer yang terdiri atas banyak asam


amino yang berhubungan satu dengan lainnya lewat ikatan amida
(peptida). Protein merupakan senyawa yang sangat penting di
dalam organisme. Protein merupakan suatu koloid elektrolit yang
bersifat amfoter. Dengan sifat ini protein dapat bersifat asam atau
basa. Struktur protein tersusun oleh gabungan asam amino pada
gugus karbonil dan asam amino dengan ikatan peptida. Biuret
adalah senyawa dengan dua ikatan peptida yang terbentuk pada
pemanasan dua molekul urea. Uji biuret digunakan untuk
mengetahui adanya ikatan peptida pada sampel protein.
Faktor yang mempengaruhi kebutuhan protein diantaranya :

1. Perkembang jaringan
Periode dimana perkembangan terjadi dengan cepat seperti pada
masa janin dan kehamilan membutuhkan lebih banyak protein.

2. Kualitas protein
Kebutuhan protein dipengaruhi oleh kualitas protein makanan
pola asam aminonya. Tidak ada rekomendasi khusus untuk orang-
orang yang mengonsumsi protein hewani bersama protein nabati.
Bagi mereka yang tidak mengosumsi protein hewani dianjurkan
untuk memperbanyak konsumsi pangan nabatinya untuk
kebutuhan asam amino.

3. Digestibilitas protein
Ketersediaan asam amino dipengaruhi oleh persiapan makanan.
Panas menyebabkan ikatan kimia antara gula dan asam amino
yang membentuk ikatan yang tidak dapat dicerna. Digestibitas
dan absorpsi dipengaruhi oleh jarak antara waktu makan, dengan
interval yang lebih panjang akan menurunkan persaingan dari
enzim yang tersedia dan tempat absorpsi.

4. Kandungan energi dari makanan


Jumlah yang mencukupi dari karbohidart harus tersedia untuk
mencukupi kebutuhan energi sehingga protein dapat digunakan
hanya untuk pembagunan jaringan. Karbohidarat juga
mendukung sintesis protein dengan merangsang pelepasan
insulin.

5. Status kesehatan
Dapat meningkatkan kebutuhan energi karena meningkatnya
katabolisme. Setelah trauma atau operasi as.amino dibutuhkan
untuk pembentukan jaringan, penyembuhan luka dan produksi
faktor imunitas untuk melawan infeksi.
Untuk mengetahui dan membuktikan adanya ikatan peptida pada
sempel yang diujikan maka kami melakukan uji biuret.
Reaksi Biuret
Uji biuret ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan adanya
senyawa senyawa yang mengandung gugus amida asam.
Reaksi biuret merupakan uji yang dilakukan untuk mengetahui
ikatan peptida. Reaksi ini positif (berwarna ungu) untuk zat yang
mengandung 2 atau lebih ikatan peptida.

Reaksi biuret merupakan reaksi warna yang umum untuk gugus


peptida (-CO-NH-) dan protein. Reaksi positif ditandai dengan
terbentuknya warna ungu karena terbentuk senyawa kompleks
antara Cu2+ dan N dari molekul ikatan peptida. Banyaknya asam
amino yang terikat pada ikatan peptida mempengaruhi warna
reaksi ini. Senyawa dengan dipeptida memberikan warna biru,
tripeptida ungu dan tetrapeptida serta peptida kompleks
memberikan warna merah. Biuret dihasilkan dengan memanaskan
urea kira-kira pada suhu 180 oC dalam larutan basa. Biuret
memberikan warna violet dengan CuSO4. Reaksi ini disebut
dengan reaksi biuret, kemungkinan terbentuknya Cu2+dengan
gugus CO dan NH dari rantai peptida dalam suasana basa.
Dipeptida dan asam-asam amino (kecuali histidina, serina dan
treonina) tidak memberikan uji ini. Beberapa protein yang
mempunyai gugus CS-NH-, -CH-NH- dalam molekulnya juga
memberikan tes warna positif dengan biuret.
Uji kualitatif protein yang dilakukan pada tiga sampel yakni,
albumen telur ayam ras, albumen telur bebek, dan gelatin.
Didasarkan pada metode pengujian biuret, pengujian ini dilakukan
untuk mengetahui keberadaan protein dalam suatu bahan.

Pada prosesnya protein dibuat alkalis dengan NaOH kemudian


ditambahkan larutan CuSO4 encer. Uji ini dilakukan untuk
menunjukan adanya senyawa-senyawa yang mengandung gugus
amida asam
Dengan demikian uji biuret tidak hanya untuk protein tetapi zat
lain seperti biuret atau melonamida juga memberikan reaksi
positif yaitu ditandai dengan timbulnya warna merah-violet atau
biru-violet.

Dalam pengujian kali ini terbatas pada mengujian keberadaan


protein pada bahan yang ditandai dengan perubahan warna.

Hasil pengujian sebagai berikut, untuk gelatin yang menyatakan


hasil positif yaitu 10 kelompok akan keberadaan protein. Untuk
albumen telur ayam ras yang menyatakan hasil positif yaitu 13
kelompok akan keberadaan protein dan untuk albumen telur
bebek memberikan hasil 14 kelompok yang menyatakan positif
pada sempel

Larutan CuSo4 yang bersifat basa bereaksi dengan polipeptida,


sedangkan polipeptida merupakan penyusun protein. Yang
menandakan adanya protein yaitu terdapat ikatan peptida yang
lebih banyak, hal itu terbukti saat penambahan larutan CuSo4 dan
dikocok larutan tetap berwarna ungu yang menandakan bahwa
ikatan peptidanya kuat, karena apabila ikatan peptidanya lemah
saat larutan protein ditambahkan larutan CuSo4, warna ungunya
akan memudar saat dikocok.
Pada beberapa pengujian didapati hasil negatif pada gelatin dan
telur ayam ras, hal ini dapat dijelaskan karena terjadinya
kesalahan pada proses pengujian, yakni pada waktu penambahan
NaOH dan CuSO4 yang terlalu lama, sehingga protein pada sampel
telah terdenaturasi terlebih dahulu sebelum diketahui perubahan
warna. Denaturasi ini dapat diketahui karena pada waktu setelah
penambahan NaOH yang telalu lama dibiarkan dan akhirnya
sampel mengalami penggumpalan.
Penggumpalan ini adalah salah satu pertanda bahwa protein telah
terdenaturasi dan karena telah memadat maka pada saat
ditambahkan CuCO4, tidak terjadi perubahan warna karena tidak
terjadi reaksi antara CuSO4 cair dan sampel yang memadat.
DAFTAR PUSTAKA
Buckle, K.A., R.A Edwards., G.H Fleet., dan M. Wootton. 1987.

Ilmu Pangan. Penerjemah Hari Purnomo dan Adiono. Penerbit


Universitas Indonesia, Jakarta.
Hart Harold et al. 2003. Kimia Organik. Suminar Setiati Achmadi,
penerjemah; Jakarta (ID): Erlangga. Terjemahan dari: Organic
Chemistry.
Sudarmadji, Slamet., Bambang Haryono, Suhardi. 1996. Analisa
Bahan Makanan dan Pertanian. LIBERTY YOGYAKARTA. Yogyakarta.
Winarno, F. G. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Penerbit PT. Gramedia
Pustaka, Utama

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hampir setiap fungsi dinamik dalam makhluk hidup bergantung pada protein.
Faktanya nilai penting protein digaris bawahi oleh namanya, yang berasal dari kata Yunani
proteios, yang berarti tempat pertama. Protein menyusun lebih dari 50% massa kering
sebagian besar sel, dan protein teramat penting bagi hampir semua hal yang dilakukan
organisme. Beberapa protein mempercepat reaksi kimia, sedangkan yang lain berperan dalam
penyokongan struktural, penyimpanan, transpor, komunikasi selular, pergerakan, serta
pertahanan melawan zat asing.

Protein terdiri dari asam-asam amino yang dihubugkan melalui ikatan peptida pada
ujung-ujungnya. Selain ikatan peptida terdapat ikatan kimia lain dalam protein yaitu ikatan
hidrogen, ikatan hidrofob, ikatan ion/ikatan elektrostatik, dan ikatan van der Waals. Protein
dapat tidak stabil terhadap beberapa faktor yaitu pH, radiasi, suhu, medium pelarut organik,
dan detergen.
Protein tersusun dari atom C, H, O, dan N, serta kadang-kadang P dan S. Dari
keseluruhan asam amino yang terdapat di alam hanya 20 asam amino yang yang biasa
dijumpai pada protein. Pada berbagai uji kualitatif yang dilakukan terhadap beberapa macam
protein, semuanya mengacu pada reaksi yang terjadi antara pereaksi dan komponen protein,
yaitu asam amino tentunya. Beberapa asam amino mempunyai reaksi yang spesifik pada
gugus R-nya, sehingga dari reaksi tersebut dapat diketahui komponen asam amino suatu
protein. Uji protein dengan metode identifikasi protein secara kualitatif dapat menggunakan
prinsip diantaranya uji biuret, pengendapan dengan logam, pengendapan dengan garam,
pengendapan dengan alkohol, uji koagulasi dan denaturasi protein.
A. Rumusan Masalah
Menguji bahan untuk mengetahui kandungan yang terdapat didalamnya
B. Tujuan
Menguji kualitaif protein pada putih telur dengan uji buret

BAB II
TEORI DASAR

Protein adalah sekelompok senyawa organik yang nyaris keseluruhannya terdiri atas
karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen. Protein biasanya suatu polimer yang tersusun atas
banyak subunit (monomer) yang dikenal sebagai asam amino. Asam amino yang biasanya
ditemukan dalam protein menunjukkan struktur sebagai berikut (Fried dan Hademenos,
2006).
Dalam ilmu Kimia, pencampuran atau penambahan suatu senyawa dengan senyawa
yang lain dikatakan bereaksi bila menunjukkan adanya tanda terjadinya reaksi, yaitu: adanya
perubahan warna, timbul gas, bau, perubahan suhu, dan adanya endapan. Pencampuran yang
tidak disertai dengan tanda demikian, dikatakan tidak terjadi reaksi kimia. Ada beberapa
reaksi khas dari protein yang menunjukkan efek/tanda terjadinya reaksi kimia, yang berbeda-
beda antara pereaksi yang satu dengan pereaksi yang lainnya. Semisal reaksi uji protein
(albumin) dengan Biuret test yang menunjukkan perubahan warna, belum tentu sama dengan
pereaksi uji lainnya (Ariwulan, 2011).
Protein merupakan salah satu dari biomolekul raksasa selain polisakarida, lipid dan
polinukleotida yang merupakan penyusun utama makhluk hidup. Protein adalah senyawa
organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer
asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein itu
sendiri mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitroge dan kadang kala sulfur serta fosfor.
Protein dirumuskan oleh Jons Jakob Berzelius pada tahun 1938.
Struktur protein ada 4 tingkatan yaitu :
1. Struktur primer menunjukkan jumlah, jenis dan urutan asam amino dalam molekul protein
(rentetan asam amino dalam suatu molekul protein)
2. Struktur sekunder menunjukkan banyak sifat suatu protein, ditentukan oleh orientasi
molekul sebagai suatu keseluruhan, bentuk suatu molekul protein (misalnya spiral) dan
penataan ruang kerangkanya (ikatan hidrogen antara gugus N-H, salah satu residu asam
amino dengan gugus karbonil C=O residu asam yang lain)
3. Struktur tersier menunjukkan keadaan kecenderungan polipeptida membentuk lipatan tali
gabungan (interaksi lebih lanjut seperti terlipatnya kerangka untuk membentuk suatu bulatan)
4. Struktur kuartener menunjukkan derajat persekutuan unit-unit protein.
Ditinjau dari strukturnya, protein dapat dibagi dalam 2 golongan yaitu:
1. Protein sederhana yang merupakan protein yang hanya terdiri atas molekul-molekul asam
amino
2. Protein gabungan yang merupakan protein yang terdiri atas protein dan gugus bukan
protein. Gugus ini disebut gugus prostetik dan terdiri atas karbohidrat, lipid atau asam
nukleat.
Protein sederhana menurut bentuk molekulnya dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu:
1. Protein fiber. Molekul protein ini terdiri atas beberapa rantai polipeptida yang memanjang
dan dihubungkan satu sama lain oleh beberapa ikatan silang hingga merupakan bentuk serat
atau serabut yang stabil. Protein fiber tidak larut dalam pelarut-pelarut encer, baik larutan
garam, asam, basa ataupun alkohol. Berat molekulnya yang besar belum dapat ditentukan
dengan pati dan sukar dimurnikan. Kegunaan protein ini hanya untuk membentuk struktur
jaringan dan bahan, contohnya adalah keratin pada rambut.
2. Protein globular. rotein globular pada umumnya berbentuk bulat atau elips dan terdiri atas
rantai polipeptida yang terlibat. Protein globular/speroprotein berbentuk bola, protein ini larut
dalam larutan garam dan asam encer, juga lebih mudah berubah di bawah pengaruh suhu,
konsentrasi asam dan asam encer. Protein ini mudah terdenaturasi. Banyak terdapat pada
susu, telur dan daging.
Reaksi-reaksi kahas pada protein (uji kualitatif):
1. Reaksi Ninhidrin. Ninhidrin beraksi dengan asam amino bebas da protein menghasilkan
warna biru. Reaksi ini termasuk yang paling umum dilakukan untuk analisis kualitatif protein
dan produk hasil hidrolisisnya. Reaksi ninhidrin dapat pula dilakukan terhadap urin untuk
mengetahui adanya asam amino atau untuk mengetahui adanya pelepasan protein oleh cairan
tubuh.
2. Reaksi Biuret. Bila larutan protein dalam suasana basa kuat direaksikan dengan larutan
CuSO4 pekat, akan dihasilkan warna ungu. Warna yang dihasilkan dari reaksi tersebut
disebabkan oleh ikatan koordinasi antara ion Cu2+ dengan pasangan elektron bebas dari N
yang berasal dari protein dan pasangan elektron bebas dari O molekul air. Reaksi ini tidak
berlaku untuk peptida.
3. Reaksi Uji Millon untuk Tirosin. Reagen Millon adalah larutan asam nitrat yang
mangandung raksa (I) nitrat dan raksa (II) nitrat. Bila reagn millon dicampurkan dengan
larutan yang mengandung protein akan terbentuk endapan putih yang akan berubah merah
bila dipanaskan.
4. Uji Penetralan Titik Isoelektrik. Titik isoelektrik adalah daereah pH tertentu diman
protein mempunyai selisih muatan, sehingga tidak bergerak dalam muatan listrik.

BAB III
METODE KERJA
A. Alat dan bahan
Alat Bahan
1. Aqua
2. Susu
3. Putih telur
1. Tabung reaksi 4. Reagen Biuret :
2. pipet tetes a. NaOH
3. rak tabung b. CuSO4

B. cara kerja
1. Ambil 3 tabung reaksi masing-masing :
- Tabung I berisi larutan aqua
- Tabung II berisi larutan susu
- Tabung III berisi larutan putih telur
2. 3 tabung reaksi diberi 2 ml NaOH dan 2 ml CuSO4
3. Amati perubahan warna

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
+ larutan 40%
Sampel NaOH + larutan 0,1% CuSO4

Kurang lebih 15 tetes


Tidak mengalami mengalami perubahn warna,
Putih telur perubahan warna putih bening menjadi ungu
(putih bening) (putih bening) (dibagian atas)

B. Pembahasan
Uji biuret merupakan jenis pengujian untuk identifikasi protein secara umum. Berarti uji
Biuret akan selalu memberikan hasil positif untuk semua jenis protein. Prinsipnya adalah
pengukuran serapan cahaya oleh ikatan kompleks berwarna ungu yang terjadi bila protein
bereaksi dengan ion Cu2+ dalam suasana basa. Reagen biuret terdiri dari CuSO4 dalam
aquadest, KI dalam aquadest, Na-sitrat, Na2CO3 dan NaOH. CuSO4 sebagai penyedia ion
Cu2+ yang nantinya akan membentuk kompleks dengan protein. KI berfungsi untuk
mencegah terjadinya reduksi pada Cu2+ sehingga tidak mengendap. Na-sitrat dan
Na2CO3 berfungsi sebagai buffer dan NaOH berfungsi sebagai penyedia suasana basa.
Suasana basa akan membantu membentuk Cu(OH)2 yang nantinya akan menjadi Cu2+ dan
2OH-. Hal ini membantu untuk membentuk kompleks dengan nitrogen dari karbon dari
ikatan peptida dalam larutan basa. Perubahan pada warna sampel uji akan memberikan hasil
yang positif atau negatif. Terjadinya warna ungu terbentuk dari ikatan antara Cu dan N, unsur
N terdapat pada peptida menghasilkan CuN yang terjadi dalam suasana basa. Makin panjang
suatu ikatan peptida, maka warna ungu yang terbentuk makin jelas dan makin pekat.
Protein terdapat pada semua sel dan merupakan komponen terpenting dalam semua reaksi
kimia, rata - rata 2/3 dari berat kering suatu sel terdiri dari protein. Setiap protein merupakan
polimer asam amino. Asam - asam amino dalam protein disambung dengan ikatan peptida
yang merupakan ikatan kovalen amida yang terbentuk oleh gugus -karboksil dan -amino.
Pada praktikum uji protein ini akan diamati adanya protein pada larutan putih telur
melalui uji biuret
Pada uji biuret, awalnya larutan putih telur berwarna putih bening, kemudian ketika
ditambahkan dengan 2 ml NaOH, larutan tidak berubah warna putih bening, setelah itu ketika
ditambahkan dengan 2 ml CuSO4, larutan berubah menjadi berwarna ungu pada bagian
atasnya. Dalam hal ini terbentuknya warna ungu menunjukkan bahwa pada larutan putih
telur tersebut mengandung protein.
Pada uji biuret dihasilkan warna violet/ungu. Hal ini
disebabkan penambahan CuSO4sehingga terbentuk kompleks
antar Cu2+dengan gugus amino dari protein. makin kuat
intensitas warna ungu yang dihasilkan ini menunjukan makin
panjang ikatan peptidanya. Dengan perubahan warna ungu yang
diperoleh ini menunjukan bahwa uji ini positif terhadap biuret.

BAB V
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Uji Biuret yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa putih telur mengandung
protein. Ini ditunjukkan saat ditambahkan larutan NaOH tetap bening.
Kemudian ditambahkan larutan CuSO4 sehingga terjadinya perubahan warna menjadi ungu.

DAFTAR PUSTAKA
Ngili, Yohanis. 2009. Biokimia Struktur dan Fungsi Biomolekul. Graham Ilmu.
Yogyakarta.
Purba, Michael. 2007. Kimia Jilid 3. Erlangga. Jakarta.
Hawab, HM. 2004.Pengantar Biokimia.Jakarta : Bayu Media Publishing.

PROTEIN
UJI BIURET
Oleh :
Kelompok II (dua)
Kelas I (satu)
REVA RISKI (130510105006)
HELMI SUPARD I (1305101050016)
NISRINA ARIFAH (1305101050060)
SAIFULLAH (1305101050086)
AGUNG AULIA SAPUTRA (1305101050133)

LABORATORIUM ILMU DAN TEKNOLOGI BENIH


PRODI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM BANDA ACEH
2014
I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Protein merupakan komponen utama semua sel mahluk hidup. Protein berfungsi sebagai
pembentuk struktur sel yang menghasilkan hormon, enzim, dan lain-lain. Ditinjau dari segi
kimia, protein merupakan suatu senyawa polimer dari asam amino dengan berat molekul
tinggi (104 sampai 106).
Asam amino merupakan senyawa yang memiliki gugus fungsi amino (- NH 2) dan asam
karboksilat (- COOH) pada molekul yang sama. Asam amino merupakan monomer yang
menyusun polimer-polimer pada prtein.Asam amino dapat mengalami proses hidrilisis yang
menghasilkan hidrolisat protein.Hidrolisat protein didefinisikan sebagai protein yang
mengalami degradasi hidrolitikdengan asam atau basa kuat dengan hasil akhir berupa
campuran beberapa hasil. Fungsihidrolisat protein dapat sebagai penyedap atau sebagai
intermedia tes untuk isolasi danmemperoleh asam amino secara individu atau dapat pula
untuk pengobatan yaitu sebagaidiet untuk penderita pencernaan. Dengan menggunakan
teknik kromatografi, berbagai macam asam amino dalamhidrolisat protein dapat
diidentifikasi. Kromatografi digunakan untuk memisahkansubstansi campuran menjadi
komponen-komponennya.Selain teknik ini, ada berbagaicara dalam pengujian terhadap
protein yaitu dengan reaksi uji asam amino dan reaksi ujiprotein. Reaksi uji asam amino
sendiri terdiri dari 6 macam uji yaitu: uji millon, ujihopkins cole, uji belerang, uji
xantroproteat, dan uji biuret. Sedangkan untuk uji protein,berdasarkan pada pengendapan
oleh garam, pengendapan oleh logam dan alkohol. Sertauji koagulasi dan denaturasi protein.
Pada uji asam amino terdapat uji bersifat umum danuji berdasakan jenis asam aminonya.
Seperti halnya uji millon bersifat spesifik terhadaptirosin, uji Hopkins cole terhadap triptofan,
uji belerang terhadap sistein, uji biuret

1.2 Tujuan
Menguji kualitaif protein dengan uji buret

II. TINJAUAN PUSTAKA

Kata protein sebenarnya berasal dari kata Yunani yang berarti protein pertama yang
paling penting. Asal dari kata protos. Protein terdiri dari bermacam-macam golongan
makromolekul heterogen. Walaupun demikian semuanya merupakan turunan dari polipeptida
dengan berat molekul yang tinggi.secara kimia dapat dibedakan antara protein sederhana
yang terdiri dari polipeptida dengan berat molekul yang tinggi.
Secara kimia dapat dibedakan antara protein sederhana yang terdiri daripolipeptida
dan protein kompleks yang mengandung zat-zat makanan tambahan seperti hern.
Karbohidrat, lipid atau asam nukleat.untuk protein kompleks, bagian polipeptida dinamakan
aproprotein dan keseluruhannya dinamakan haloprotein. Secara fungsional protein juga
menunjukkan banyak perbedaan. Dalam sel mereka berfungsi sebagi enzim, bahan bangunan,
pelumas dan molekul pengemban. Tapi sebenarnya protein merupakan polimer alam yang
tersusun dari berbagai asam amino melalui ikatan peptide(Hart, 1987)
Protein adalah suatu senyawa organic yang mempunyai berat molekul besar antara
ribuan hingga jutaan satuan (g/mol). Protein tersusun dari atom-atom C, H, O dan N
ditambah beberapa unsur lainnya seperti P dan S. Atom-atom itu membentuk unit-unit asam
amino. Urutan asam amino dalam protein maupun hubungan antara asam amino satu dengan
yang lain, menentukan sifat biologis suatu protein(Girinda, 1990).
Protein adalam sumber asam amino yang mengandung unsur C, H, O dan N yang
tidak dimiliki oleh lemak dan karbohidrat. Molekul protein mengandung gula terpor belerang,
dan ada jenis protein yang mengandung unsur logam seperti besi dan tembaga( Winarno,
1997).

III. METODE PRAKTIKUM


3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum biokimia ini berlangsung pada hari Senin tanggal 24 Maret 2014. Bertempat di
Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala.
3.2. Alat dan Bahan
Alat Bahan
Tabung reaksi Albumin 20%
Rak tabung reaksi Casein 20%
Pipet volume Putih Telur
Pipet tetes aquades
NaOH 0,1 N
CuSO4 0,1
N
3.3. Cara Kerja
a. disiapkan 4 tabung reaksi
b. diisi dengan albumin, casein, putih telur dan aquades sebanyak 1 ml
pada tiap-tiap tabung.
c. ditambahkan NaOH1 ml dan CuSO4 0,1 N sebanyak 2 tetes pada
keempat tabung
d. duilangi percobaan sekali lagi
e. diamati perubahan yang terjadi
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan kelompok 1

No. Larutan yang Warna yang dihasilkan Adanya


dicampurkan protein
1. Casein+NaOH+CuSO4 Ungu muda dan ada endapan (+)
2. Putih telur+NaOH+CuSO4 Ungu, dan ada endapan (+)
3. Albumin +NaOH+CuSO4 Biru kehitam-hitaman (+)
4. Aquades +NaOH+CuSO4 Biru cerah dan ada endapan (-)
berwarna biru

Hasil pengamatan kelompok 2

No Larutan yang Warna yang dihasilkan Adanya


. dicampurkan protein
1. Casein+NaOH+CuSO4 Ungu muda dan ada endapan (+)
2. Putih telur+NaOH+CuSO4 Ungu, dan ada endapan (+)
3. Albumin +NaOH+CuSO4 Abu-abu dan tidak ada endapan (+)
4. Aquades +NaOH+CuSO4 Bening dan ada endapan (-)
berwarna biru

Hasil pengamatan kelompok 3

No Larutan yang Warna yang dihasilkan Adanya


. dicampurkan protein
1. Casein+NaOH+CuSO4 Ungu muda dan ada endapan (+)
2. Putih telur+NaOH+CuSO4 Ungu, dan ada endapan (+)
3. Albumin +NaOH+CuSO4 Abu-abu dan tidak ada (+)
endapan
4. Aquades +NaOH+CuSO4 Biru cerah (-)
Hasil pengamatan kelompok 4

No. Larutan yang Warna yang dihasilkan Adanya


dicampurkan protein
1. Casein+NaOH+CuSO4 Ungu muda dan ada endapan (+)
2. Putih telur+NaOH+CuSO4 Ungu, dan ada endapan (+)
3. Albumin +NaOH+CuSO4 Biru kehitam-hitaman dan ada (+)
endapan
4. Aquades +NaOH+CuSO4 Kuning, ada endapan (-)
berwarna biru

Hasil pengamatan kelompok 5

No Larutan yang Warna yang dihasilkan Adanya


. dicampurkan protein
1. Casein+NaOH+CuSO4 Ungu muda dan ada endapan (+)
2. Putih telur+NaOH+CuSO4 Ungu, dan tidak ada endapan (+)
3. Albumin +NaOH+CuSO4 Biru kehitam-hitaman dan tidak (+)
ada endapan
4. Aquades +NaOH+CuSO4 Kuning, ada endapan berwarna (-)
biru

4.2 Pembahasan
Pada praktikum uji kualitatif protein ini akan diamati adanya protein pada larutan
putih telur. Casein, albumin dan aquades melalui uji biuret
Pada uji biuret, awalnya larutan putih telur berwarna putih bening, kemudian ketika
ditambahkan dengan NaOH 1 ml, larutan tidak berubah warna putih bening, setelah itu ketika
ditambahkan dengan 2 tetes CuSO4, larutan berubah menjadi berwarna ungu pada bagian
atasnya. Dalam hal ini terbentuknya warna ungu menunjukkan bahwa pada larutan putih
telur tersebut mengandung protein.
Sama halnya pada pengujian casein yang menghasilkan warna ungu dan ini
menunjukkan bahwa casein mengandung protein. Namun sebenarnya pada albumin warna
yang dihasilkan ialah warna ungu namun dalam percobaan ini terjadi kesalahan. Jadi albumin
juga mengandung protein.
Dalam uji biuret, bila suatu peptida dan protein dimasukkan kedalam larutan encer
kuprisulfat dalam basa kuat, maka warna biru pucat pada larutan akan berubah menjadi
violet. Warna yang terbentuk sama dengan warna yang dibentuk oleh biuret, bila
diperlakukan sama seperti pada praktikum kali ini, sehingga uji ini dinamakan uji biuret.
Pembahasan Larutan :
1 N NaOH = jumlah molekul equivalen terlarut berat molekul :
1 larutan : 1000 ml Na : 23
= 40 gr O : 16
1000 ml H :1
0,1 N NaOH = 40/10
1000 ml
= 4 gr atau 1 gr
1000 ml 250 ml
= 0,004 gr/ml atau 250 ml
1 gr

1 N CuSO4 = jumlah molekul equivalen terlarut berat molekul :


1 larutan : 1000 ml Cu : 63
= 159 gr S : 32
1000 ml O4 : 16 x 4 = 64
0,1 N CuSO4 = 159/10
1000 ml
= 15,9 gr atau 3,975 gr
1000 ml 250 ml
= 0,0159 gr/ml atau 250 ml
1 gr

Casein 20% = 1000 ml


Albumin 20% = 800 ml air
Putih telur = 200 gr casein

V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Protein adalah suatu senyawa organic yang mempunyai berat molekul besar antara ribuan
hingga jutaan satuan (g/mol).
b. Protein adalam sumber asam amino yang mengandung unsur C, H, O dan N yang tidak
dimiliki oleh lemak dan karbohidrat.
c. Dalam hal ini terbentuknya warna ungu menunjukkan bahwa pada larutan yang diujikan
tersebut mengandung protein.
5.2 Saran
Sebaiknya praktikum harus dilakukan benar-benar mengikuti prosedur kerja yang ada. Agar
tidak terjadinya kesalahan. Sehingga apa yang dipraktikan sesuai dengan teori yang telah
dipelajari.

COO-
H3N+ C H
CH2
CH2
S
CH3

DAFTAR PUSTAKA
Girindra, A. 1986. BIOKIMIA I. Gramedia. Jakarta

Hart, H. 1987.KIMIA ORGANIK. alih bahasa:Sumarni Ahmadi, Erlangga.Jakarta

Winarno, F.G. 1997. KIMIA PANGANdan GIZI, Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Diposkan oleh Andy Fahreza di Minggu, Maret 08, 2015


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest