Anda di halaman 1dari 27

NAMA : M. Irvan Fajar S.

NIM : 03021281419083
KELAS :A
MATA KULIAH : PENGOLAHAN LINGKUNGAN TAMBANG
DOSEN PENGAMPUH : HJ. RR. HARMINUKE EKO HANDAYANI, ST, MT.

PERBANDINGAN ISI PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 07
TAHUN 2014 DENGAN PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR: 18 TAHUN 2008 TENTANG
REKLAMASI DAN PENUTUPAN TAMBANG DENGAN UU NOMOR 4 TAHUN 2009 MINERBA DAN DENGAN UU NOMOR 11
TAHUN 1967 TENTANG PERTAMBANGAN

Kegiatan reklamasi merupakan salah satu kewajiban pemegang izin berdasarkan peraturan dan perundangan, diantaranya : UU No. 11
Tahun 1967 Mengenai Pokok-Pokok Pertambangan, lalu diatur kembali dengan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik
Indonesia No. 18 tahun 2008 lalu UU No.4 Tahun 2009 Mengenai Minerba dan yang terakhir adalah Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral Republik Indonesia No. 07 Tahun 2014 peraturan yang dikeluarkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia
yang mana isi dari kedua Peraturan tersebut adalah berkaitan dengan kegiatan rencana reklamasi dan pasca tambang pada kegiatan usaha
pertambangan. Adapun reklamasi yang dimaksudkan disini merupakan suatu tahapan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan
untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya.
Contoh Jika melihat sepanjang jalan antara Kota Samarinda menuju Tenggarong akan ditemukan sangat banyak lubang-lubang bekas
galian tambang yang telah ditinggalkan dan menjadi kolam-kolam air yang sangat luas, hal ini sangat memprihatinkan mengingat kegiatan
reklamasi lahan pasca tambang merupakan salah satu kewajiban bagi pemegang IUP yang ditandai dengan pembayaran jaminan reklamasi pada
saat pengajuan IUP kepada Pemerintah. Oleh karena itu reklamasi menjadi kunci penting dalam pembangunan berkelanjutan setelah kegiatan
pertambangan telah selesai. Permen No. 07 Tahun 2014 merupakan hasil revisi dari Permen No. 18 Tahun 2008. Pada Permen ini terlihat banyak
penambahan Bab. Lebih terinci mengenai kerangka penyusunan rencana reklamasinya, mulai dari tabulasi biaya, pemetaan, waktu reklamasi
sampai deskripsi kegiatan. Dimana Permen No 07 Tahun 2014 lebih berfokus terhadap rencana reklamasi dan penyusunan rencana untuk tahapan
pasca tambang pada kegiatan usaha pertambangan Mineral dan Batubara. Pada Permen ini ditekankan terhadap setiap pemegang IUP dan IUPK
wajib melakukan penyusunan rencana reklamasi dan pasca tambang. Pemegang IUP Eksplorasi dan IUPK Eksplorasi wajib menyampaikan
rencana Reklamasi tahap Operasi Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 bersamaan dengan pengajuan permohonan IUP Operasi
Produksi atau IUPK Operasi Produksi kepada Menteri melalui Direktur Jenderal, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya. Rencana Reklamasi tahap Operasi Produksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun sesuai dengan Pedoman
Penyusunan Rencana Reklamasi Tahap Operasi Produksi sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Permen No. 18 Tahun 2008 merupakan Permen yang berfokus terhadap kegiatan rencana reklamasi dan penutupan tambang. Pada
Permen ini reklamasi diartikan sebagai kegiatan yang bertujuan rnemperbaiki atau menata kegunaan lahan yang terganggu sebagai akibat
kegiatan usaha pertambangan agar dapat berfungsi dan berdaya guna sesuai peruntukannya. Dapat dililhat perbedaan yang jelas dengan Permen
No. 07 Tahun 2014 yang menyatakan bahwa kegiatan reklamasi harus dilakukan pada setiap tahapan operasi pertambangan. Sedangkan pada
Permen No. 18 Tahun 2008 terfokus terhadap tujuan akhirnya, yaitu memperbaiki lahan yang terganggu dan segera melakukan penutupan
tambang.
Pada Permen No. 07 setiap pemegang IUP dan IUPK wajib melakukan rencana reklamasi dan pasca tambang. Sedangkan pada Permen
No. 18 Tahun 2008 bentuk Jaminan Reklamasi oleh Perusahaan berbentuk Jaminan Penutupan Tambang berupa Deposito Berjangka ditempatkan
pada bank Pemerintah atas nama Menteri, gubernur atau bupati/walikota. Perusahaan yang bersangkutan dengan jangka waktu penjaminan
sesuai dengan Rencana Penutupan Tambang yang telah disetujui. Terlihat bahwa pada Permen No. 18 Tahun 2008 IUP (Izin Usaha
Pertambangan) belum menjadi fokus untuk syarat administratif sebagai jaminan setiap badan usaha, koperasi, atau perseorangan dalam rangka
membuka usaha pertambangan.
Selain itu, pada Permen No. 18 Tahun 2008 kegiatan reklamasi yang dilakukan sangat terikat dengan AMDAL, UKL dan UPL,
pemegang Surat Izin Pertambangan Daerah (SIPD), Kuasa Pertambangan (KP), Kontrak Karya (KK), dan Perjanjian Karya Pengusahaan
Pertambangan Batubara (PKP2B). Beberapa perusahaan tambang yang berkomitmen dan berhasil dalam melaksanakan kegiatan reklamasi
lahan pasca tambang yaitu PT. Bukit Asam, Tbk di Tanjung Enim, PT. Adaro Indonesia di Kalimantan Selatan, dan PT. Kaltim Prima Coal di
Kalimantan Timur.
Pembukaan lahan dan proses reklamasi areal tambang perusahaan tersebut telah dilaksanakan sesuai dengan butir-butir ketentuan pada
Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 dan Peraturan Menteri No 18 tahun 2008 mengenai Reklamasi dan Penutupan Tambang. Jadi kegiatan
reklamasi dan pasca tambang sangat penting sehingga kegiatan reklamasi selalu ditekankan kepada setiap pemegang IUP sebagai hal yang wajib
dilakukan dengan cara mengeluarkan peraturan perundang-undangan yang terbaru yang isinya dapat mencakup semua mengenai kegiatan proses
reklamasi dan pasca tambang.

A. PERSAMAAN

No UU No.11 Tahun 1967 UU No.4 Tahun 2009 Permen No. 18 Tahun 2008 Permen No. 07 Tahun
. 2014
1. BAB X Pengawasan Pertambangan BAB I Pasal 1 Ayat 26 berisi tentang BAB I Pasal 1 Ayat 2 yang BAB I Pasal 1 Ayat 1
Pasal 30 yang mencantumkan pengertian reklamasai Reklamasi adalah berisi tentang pengertian yang berisi tentang
kewajiban pemegang izin tambang kegiatan yang dilakukan sepanjang reklamasi dimana tujuan dari pengertian reklamasi
untuk melakukan kegiatan reklamasi tahapan usaha pertambangan untuk reklamasi adalah untuk menata dimana tujuan dari
lahan pasca pertambangan. Dalam menata, memulihkan, dan memperbaiki dan memperbaiki lingkungan reklamasi adalah untuk
aturan tersebut dinyatakan bahwa kualitas lingkungan dan ekosistem agar agar dapat berfungsi sesuai menata dan
reklamasi areal bekas tambang harus dapat berfungsi kembali sesuai dengan peruntukannya. memperbaiki
dilakukan secepatnya sesuai dengan peruntukannya. lingkungan agar dapat
rencana dan persyaratan yang telah berfungsi sesuai
ditetapkan, reklamasi dinyatakan dengan peruntukannya.
selesai setelah disetujui oleh Dirjen,
dan pemegang izin wajib menanami
kembali daerah bekas tambang,
2. termasuk daerah sekitar project area BAB I Pasal 1 Ayat 4 yang BAB I Pasal 1 Ayat 16
sesuai studi AMDAL yang berisi tentang jaminan yang berisi tentang
bersangkutan reklamasi, dimana jaminan jaminan reklamasi,
reklamasi merupakan dana dimana jaminan
yang disiapkan oleh perusahaan reklamasi merupakan
tambang sebagai jaminan untuk dana yang disiapkan
melakukan reklamasi. oleh pemegang izin
usaha tambang atau
izin usaha
pertambangan khusus
sebagai jaminan untuk
melakukan kegiatan
reklamasi.
3. BAB I Pasal 1 Ayat 5 yang BAB I Pasal 1 Ayat 17
berisi tentang jaminan yang berisi tentang
penutupan tambang, dimana jaminan
jaminan penutupan tambang pascatambang, dimana
merupakan dana yang jaminan pascatambang
disediakan oleh perusahaan merupakan dana yang
tambang untuk melaksanakan disediakan oleh oleh
penutupan tambang. pemegang izin usaha
tambang atau izin
usaha pertambangan
khusus sebagai
jaminan untuk
melakukan kegiatan
pascatambang.
4. BAB II Pasal 2 menjelaskan BAB II Pasal 2 Ayat 1a
tentang kegiatan reklamasi dan b dan Ayat
yang harus menjalakan prinsip 2a,b,danc menjelaskan
prinsip lingkungan hidup, tentang kegiatan
keselamatan dan kesehatan reklamasi yang harus
kerja, serta konservasi bahan menjalakan prinsip
galian. prinsip lingkungan
hidup, keselamatan
dan kesehatan kerja,
serta konservasi bahan
galian.

5. BAB II Pasal 3a. Menjelaskan BAB II Pasal 2 Ayat


tentang prinsip perlindungan 3a. Menjelaskan
lingkungan hidup meiputi tentang prinsip
kualitas air permukaan, air perlindungan
tanah, air laut, tanah, serta lingkungan hidup
udara sesuai dengan baku mutu meiputi kualitas air
lingkungan. permukaan, air tanah,
air laut, tanah, serta
udara sesuai dengan
baku mutu lingkungan.
6. BAB II Pasal 3b. Menjelaskan BAB II Pasal 2 Ayat
tentang stabilitas dan keamanan 3b. Menjelaskan
timbunan batuan penutup, tentang stabilitas dan
kolam tailing, lahan bekas keamanan timbunan
tambang dan struktur buatan batuan samping
(man made structure) lainnya; dan/atau tanah/batuan
penutup, kolam tailing,
lahan bekas tambang
dan struktur buatan
lainnya;
7. BAB XIII Hak dan Kewajiban Bagian BAB II Pasal 3d. Menjelaskan BAB II Pasal 2 Ayat
Kedua Kewajiban Pasal 99 Ayat 2 tentang 3d. Menjelaskan
menjelaskan tentang Pemanfaatan lahan bekas tentang
Pelaksanaan reklamasi dan kegiatan tambang sesuai dengan Pemanfaatan lahan
pascatambang dilakukan sesuai dengan peruntukannya. bekas tambang sesuai
peruntukan lahan pascatambang dengan peruntukannya.
8. BAB XIII Hak dan Kewajiban Bagian BAB III Pasal 8 Ayat 1 BAB III Pasal 16 Ayat
Kedua Pasal 99 Ayat 1 menjelaskan menjelaskan tentang rencana 2 menjelaskan tentang
Setiap pemegang IUP dan IUPK wajib penutupan meliputi : rencana penutupan
menyerahkan rencana reklamasi dan a. profil wilayah; meliputi :
rencana pascatambang pada saat b. deskripsi kegiatan a. profil wilayah;
mengajukan permohonan IUP Operasi pertambangan; b. deskripsi kegiatan
Produksi atau IUPK Operasi Produksi c. gambaran rona akhir pertambangan;
tambang; c. gambaran rona akhir
d. hasil konsultasi dengan tambang;
pemangku kepentingan e. program penutupan
(stakeholders); tambang;
e. program penutupan tambang; f. pemantauan;
f. pemantauan; g. organisasi;
g. organisasi; dan h. rencana biaya
h. rencana biaya penutupan penutupan
9. BAB III Pasal 8 Ayat 2 BAB III Pasal 18 Ayat
Menjelaskan tentang rencana 2 Menjelaskan tentang
penutupan tambang sesuai rencana penutupan
dengan pedoman penyusunan tambang sesuai dengan
seperti yang terlampir. pedoman penyusunan
seperti yang terlampir.
10. BAB III Pasal 8 Ayat 3 BAB III Pasal 18 Ayat
menjelaskan tentang 1 menjelaskan tentang
perusahaan wajib melaporkan pemegang izin usaha
rencana penutupan tambang tambang atau izin
kepada menteri, gubernur, usaha tambang khusus
bupati/walikota sesuai dengan wajib melaporkan
kewenangan masing masing rencana pascatambang
sebelum dimulainya kegiatan kepada menteri,
operasi produsksi/eksploitasi. gubernur,
bupati/walikota sesuai
dengan kewenangan
masing masing
sebelum
dimulainya kegiatan
operasi produsksi.
11. BAB IV bagian kesatu Pasal 9 BAB IV bagian kesatu
Ayat 1 menjelaskan tentang Paragraf 1Pasal 19
menteri, gubernur, Ayat 1 menjelaskan
bupati/walikota sesuai tentang menteri,
kewenangan masing masing gubernur,
memberikan penilaian dan bupati/walikota sesuai
persetujuan atas rencana kewenangan masing
reklamasi selama 30 (tiga masing memberikan
puluh) hari kerja terhitung dari penilaian dan
sejak diterimanya rencana persetujuan atas
reklamasi,dan tidak termasuk rencana reklamasi
jumlah hari yang diperlukan selama 30 (tiga puluh)
untuk penyempurnaan rencana hari kerja terhitung
reklamasi. dari sejak diterimanya
rencana reklamasi,dan
tidak termasuk jumlah
hari yang diperlukan
untuk penyempurnaan
rencana reklamasi.

12. BAB IV bagian kesatu Pasal 9 BAB IV bagian kesatu


Ayat 2 menjelaskan tentang Paragraf 2 Pasal 22
apabila tidak diberi persetujuan Ayat 4 menjelaskan
dan tanpa saran oleh menteri, tentang apabila tidak
gubernur, bupati/walikota diberi persetujuan dan
dalam jangka 30 (tiga puluh) tanpa saran oleh
hari kerja, maka rencana menteri, gubernur,
reklamasi yang diajukan bupati/walikota dalam
dianggap setuju. jangka 30 (tiga puluh)
hari kerja, maka
rencana reklamasi
yang diajukan
dianggap setuju.
13. BAB IV bagian kesatu Pasal 10 BAB IV bagian kesatu
Ayat 2 tentang pengajuan Paragraf 2 Pasal 23
perubahan rencana reklamasi Ayat 2 tentang
diserahkan paling lambat 180 pengajuan perubahan
(seratus delapan puluh) hari rencana reklamasi
sebelum pelaksanaan reklamasi diserahkan paling
periode tahun berikutnya. lambat 180 (seratus
delapan puluh) hari
sebelum pelaksanaan
reklamasi tahap
operasi produksi
periode tahun
berikutnya.

14. BAB IV bagian kedua Pasal 12 BAB IV bagian kedua


Ayat 2 menjelaskan tentang Pasal 26 Ayat 2
perubahan rencana penutupan menjelaskan tentang
tambang paling lambat perubahan rencana
diajukan 2(dua)tahun sebelum pascatambang paling
kegiatan penutupan tambang. lambat diajukan
2(dua)tahun sebelum
kegiatan penutupan
tambang.

15. BAB IV bagian kedua Pasal 12 BAB IV bagian kedua


Ayat 3 menjelaskan tentang Pasal 26 Ayat 3
kewenangan penilaian dan menjelaskan tentang
persetujuan oleh menteri, kewenangan penilaian
gubernur, bupati/walikota dan persetujuan oleh
terhadap perubahan rencana menteri, gubernur,
penutupan tambang dalam bupati/walikota
jangka waktu paling lambat 90 terhadap perubahan
(sembilan puluh) hari kerja rencana
sejak menerima pengajuan pascatambang.dalam
perubahan penutupan tambang, jangka waktu paling
tidak termasuk jumlah hari lambat 90 (sembilan
yang diperlukan untuk puluh) hari kerja sejak
penyempurnaan perubahan menerima pengajuan
rencana penutupan tambang. perubahan
pascatambang., tidak
termasuk jumlah hari
yang diperlukan untuk
penyempurnaan
perubahan rencana
pascatambang.

16. BAB XIII Bagian Kedua Pasal 100 Ayat BAB VI bagian kesatu Pasal 19 BAB V bagian kesatu
1 & 2 menjelaskan Pemegang IUP dan Ayat 1 menjelaskan perusahaan Paragraf kesatu Pasal
IUPK wajib menyediakan dana jaminan wajib memberikan jaminan 28 Ayat 1 menjelaskan
reklamasi dan dana jaminan reklamasi sesuai dengan pemegang IUP dan
pascatambang. Menteri, gubernur, atau perhitungan perencanaan biaya IUPK wajib
bupati/walikota sesuai dengan reklamasi menurut persetujuan memberikan jaminan
kewenangannya dapat menetapkan menteri, gubernur, reklamasi sesuai
pihak ketiga untuk melakukan bupati/walikota dengan dengan perhitungan
reklamasi dan pascatambang dengan kewenangannya. perencanaan biaya
dana jaminan sebagaimana dimaksud reklamasi menurut
pada ayat (1). persetujuan menteri,
gubernur,
bupati/walikota
dengan
kewenangannya.

17. BAB VI bagian kedua Pasal 26 BAB V bagian kesatu


Ayat 2 menjelaskan tentang Paragraf kedua Pasal
Menteri, gubernur atau 36 Ayat 2 menjelaskan
bupati/walikota sesuai tentang Menteri,
kewenangan masingmasing gubernur, atau
memberikan persetujuan bupati/walikota sesuai
perubahan bentuk Jaminan dengan
Reklamasi berdasarkan kewenangannya
pertimbangan sebagai berikut: memberikan
a. kinerja Perusahaan; dan/atau persetujuan perubahan
b. kemampuan keuangan bentuk Jaminan
Perusahaan. Reklamasi
berdasarkan
pertimbangan sebagai
berikut:
a. kinerja pemegang
IUP Operasi Produksi
dan IUPK
Operasi Produksi;
dan/ atau
b. kemampuan
keuangan pemegang
IUP Operasi
Produksi dan IUPK
Operasi Produksi.
18. BAB VIII Pasal 45 Ayat 2 BAB X Pasal 68 Ayat
menjelaskan tentang sanksi 1 menjelaskan tentang
administratif yang diterima sanksi administratif
oleh perusahaan berupa : yang diterima oleh
a. peringatan tertulis; perusahaan berupa :
b. penghentian sementara a. peringatan tertulis;
sebagian atau seluruh kegiatan b. penghentian
penambangan; dan/atau sementara sebagian
c. pencabutan izin. atau seluruh kegiatan
penambangan;
dan/atau
c. pencabutan izin.
19. BAB VIII Pasal 46 Ayat 2 BAB VIII Pasal 69
menjelaskan tentang Peringatan menjelaskan tentang
tertulis diberikan paling banyak Peringatan tertulis
3 (tiga) kali dalam jangka diberikan paling
waktu peringatan masing- banyak 3 (tiga) kali
masing dalam jangka waktu
1 (satu) bulan. peringatan masing-
masing
1 (satu) bulan.
20. BAB X Pasal 54 menjelaskan BAB XII Pasal 75
tentang Peraturan Menteri ini menjelaskan tentang
mulai berlaku pada tanggal Peraturan Menteri ini
ditetapkan. mulai berlaku pada
tanggal diundangkan.

B. PERBEDAAN

No UU No. 11 Tahun 1967 UU No.4 Tahun 2009 Permen No. 18 Tahun 2008 Permen No. 07 Tahun 2014
.
1. Pada UU No. 11 Tahun 1967 Pada UU No. 4 Tahun 2009 Pada PERMEN ESDM No.18 Pada PERMEN ESDM No.07
Terdapat XII BAB dan 37 Terdapat XXVI BAB dan 175 Tahun 2008 terdapat X BAB dan Tahun 2014 terdapat XII BAB
Pasal Pasal 45 Pasal dan 75 Pasal
2. Kegiatan reklamasi hanya Kegiatan Reklamasi hanya Pada PERMEN ESDM No.18 Pada PERMEN ESDM No.07
dibahas pada BAB X dibahas pada BAB XIII Tahun 2008 membahas tentang Tahun 2014 membahas tentang
Pengawasan Pertambangan Bagian Kedua mengenai reklamasi dan penutupan tambang. pelaksanaan reklamasi dan pasca
Pasal 30 (belum terdapatnya kewajiban pemegang (belum terdapatnya pembagian tambang pada kegiatan usaha
pembagian masalah mineral IUP/IUPK mengenai masalah mineral dan batubara, pertambangan mineral dan
dan batubara, sehingga objek reklamasi. sehingga objek pertambangan batubara.
pertambangan masih disebut masih disebut dengan bahan
dengan bahan galian.) galian.)
3. Tidak terdapat pengertian BAB I Ayat 1 Pertambangan BAB I Pada PERMEN ESDM BAB I Pasal 1 Ayat 3
pertambangan. adalah sebagian atau seluruh No.18 Tahun 2008 menjelaskan tentang
tahapan kegiatan dalam Tidak terdapat pengertian Pertambangan adalah sebagian
rangka penelitian, pengelolaan pertambangan. Yang ada yaitu : atau seluruh tahapan kegiatan
dan pengusahaan mineral atau pengertian usaha tambang. dalam rangka penelitian,
batubara yang meliputi Pada BAB I Pasal 1 menjelaskan pengelolaan, dan pengusahaan
penyelidikan umum, tentang Usaha Pertambangan mineral atau batubara yang
eksplorasi, studi kelayakan, adalah kegiatan usaha meliputi
konstruksi, penambangan, pertambangan bahan penyelidikan umum, eksplorasi,
pengolahan dan pemurnian, galian. studi kelayakan,
pengangkutan dan penjualan, konstruksi, penambangan,
serta kegiatan pascatambang pengolahan dan pemurnian,
pengangkutan dan penjualan,
serta kegiatan
Pascatambang.
4. Tidak menjelaskan pengertian BAB 1 Pasal 1 Ayat 2 Mineral Tidak menjelaskan pengertian BAB I Pasal 1 Ayat 4
mineral, karena semua adalah senyawa anorganik mineral, karena semua tergabung menjelaskan tentang Mineral
tergabung menjadi bahan yang terbentuk di alam, yang menjadi bahan galian. adalah senyawa anorganik yang
galian.(Bahan galian = unsur- memiliki sifat fisik dan kimia terbentuk di alam, yang memiliki
unsur kimia mineral-mineral, tertentu serta susunan kristal sifat fisik dan kimia tertentu serta
bijih-bijih dan segala macam teratur atau gabungannya yang susunan kristal teratur atau
batuan termasuk batu-batu membentuk batuan, baik gabungannya yang membentuk
mulia yang merupakan dalam bentuk lepas atau padu. batuan, baik dalam bentuk lepas
endapan-endapan alam.) atau padu.
5. Tidak menjelaskan pengertian BAB I Pasal 1 Ayat 3 Tidak menjelaskan pengertian BAB I Pasal 1 Ayat 5
batubara, karena semua Batubara adalah endapan batubara, karena semua tergabung menjelaskan tentang Batubara
tergabung menjadi bahan senyawa organik karbonan menjadi bahan galian. adalah endapan senyawa organik
galian. yang terbentuk secara alamiah karbonan yang terbentuk secara
dari sisa tumbuh tumbuhan. alamiah dari sisa tumbuh-
tumbuhan.
6. Belum ada IUP, karena masih Tidak menjelaskan pengertian IUP BAB I Pasal 1 Ayat 6
ditetapkan system Kuasa Eksplorasi, karena semua menjelaskan tentang
Pertambangan (KP) tergabung menjadi izin usaha. IUP Eksplorasi adalah izin usaha
yang diberikan untuk
melakukan tahapan kegiatan
penyelidikan umum, eksplorasi,
dan studi kelayakan.

7. Belum ada IUP, karena masih IUP Eksplorasi adalah izin Tidak menjelaskan pengertian BAB I Pasal 1 Ayat 7
ditetapkan system Kuasa usaha yang diberikan untuk IUPK Eksplorasi, karena semua menjelaskan tentang
Pertambangan (KP) melakukan tahapan kegiatan tergabung menjadi izin usaha. IUPK Eksplorasi adalah izin
penyelidikan umum, usaha yang diberikan untuk
eksplorasi, dan studi melakukan tahapan kegiatan
kelayakan. penyelidikan umum, eksplorasi,
dan studi kelayakan di wilayah
izin usaha pertambangan khusus.
8. Belum ada IUP, karena masih IUP Eksplorasi Produksi Tidak menjelaskan pengertian IUP BAB I Pasal 1 Ayat 8
ditetapkan system Kuasa adalah izin usaha yang Eksplorasi Produksi, karena semua menjelaskan tentang
Pertambangan (KP) diberikan setelah selesai tergabung menjadi izin usaha. IUP Eksplorasi Produksi adalah
pelaksanaan IUP Eksplorasi izin usaha yang diberikan setelah
untuk melakukan tahapan selesai pelaksanaan IUP
kegiatan operasi produksi. Ekplorasi untuk melakukan
tahapan kegiatan operasi
produksi.
9. Belum ada IUP, karena masih IUPK Operasi Produksi Tidak menjelaskan pengertian BAB I Pasal 1 Ayat 9
ditetapkan system Kuasa adalah izin usaha yang IUPK Operasi Produksi, karena menjelaskan tentang
Pertambangan (KP) diberikan setelah selesai semua tergabung menjadi izin IUPK Operasi Produksi adalah
pelaksanaan IUPK Ekplorasi usaha. izin usaha yang diberikan setelah
untuk melakukan tahapan selesai pelaksanaan IUPK
kegiatan operasi produksi di Ekplorasi untuk melakukan
wilayah izin usaha tahapan kegiatan operasi
pertambangan khusus. produksi di wilayah izin usaha
pertambangan khusus.
10. Eksplorasi adalah segala Eksplorasi adalah tahapan Tidak Menjelaskan Pengertian BAB I Pasal 1 Ayat 10
penyelidikan geologi kegiatan usaha pertambangan Eksplorasi menjelaskan tentang
pertambangan untuk untuk memperoleh informasi Eksplorasi adalah tahapan
menetapkan lebih teliti secara terperinci dan teliti kegiatan usaha pertambangan
/seksama adanya dan sifat tentang lokasi, bentuk, untuk memperoleh informasi
letakan bahan galian; dimensi, sebaran, kualitas, dan secara terperinci dan teliti
sumber daya terukur dari tentang lokasi, bentuk, dimensi,
bahan galian, serta informasi sebaran, kualitas, dan sumber
mengenai lingkungan sosial daya terukur dari bahan galian,
dan lingkungan hidup. serta informasi mengenai
lingkungan sosial dan lingkungan
hidup.
11. Tidak Menjelaskan Pengertian Studi Kelayakan adalah Tidak Menjelaskan Pengertian BAB I Pasal 1 Ayat 11
Studi Kelayakan tahapan kegiatan usaha Studi Kelayakan menjelaskan tentang
pertambangan untuk Studi Kelayakan adalah tahapan
memperoleh informasi secara kegiatan usaha
rinci seluruh aspek yang pertambangan untuk memperoleh
berkaitan untuk menentukan informasi secara rinci seluruh
kelayakan ekonomis dan aspek yang berkaitan untuk
teknis usaha pertambangan, menentukan kelayakan ekonomis
termasuk analisis mengenai dan teknis usaha pertambangan,
dampak lingkungan serta termasuk analisis mengenai
perencanaan Pascatambang. dampak lingkungan serta
perencanaan Pascatambang.
12. Tidak Menjelaskan Pengertian Operasi Produksi adalah Tidak Menjelaskan Pengertian BAB I Pasal 1 Ayat 12
Operasi Produksi tahapan kegiatan usaha Operasi Produksi menjelaskan tentang
pertambangan yang meliputi Operasi Produksi adalah tahapan
konstruksi, penambangan, kegiatan usaha
pengolahan, pemumian, pertambangan yang meliputi
termasuk pengangkutan dan konstruksi, penambangan,
penjualan, serta sarana pengolahan, pemumian, termasuk
pengendalian dampak pengangkutan dan penjualan,
lingkungan sesuai dengan serta sarana pengendalian
hasil studi kelayakan. dampak lingkungan sesuai
dengan hasil studi kelayakan.
13. Tidak Menjelaskan Pengertian Penambangan adalah bagian Tidak Menjelaskan Pengertian BAB I Pasal 1 Ayat 13
Penambangan kegiatan usaha Penambangan menjelaskan tentang
pertambangan untuk Penambangan adalah bagian
memproduksi mineral kegiatan usaha
dan/atau batubara dan mineral pertambangan untuk
ikutannya. memproduksi mineral dan/atau
batubara dan mineral ikutannya.
14. Belum ada IUP, karena masih Wilayah Izin Usaha Tidak Menjelaskan Pengertian BAB I Pasal 1 Ayat 14
ditetapkan system Kuasa Pertambangan, yang Wilayah Izin Usaha Pertambangan menjelaskan tentang
Pertambangan (KP) selanjutnya disebut WIUP, Wilayah Izin Usaha
adalah wilayah yang diberikan Pertambangan, yang selanjutnya
kepada pemegang Izin Usaha disebut WIUP, adalah wilayah
Pertambangan. yang diberikan kepada
pemegang Izin Usaha
Pertambangan.
15. Belum ada IUP, karena masih Wilayah Izin Usaha Tidak Menjelaskan Pengertian BAB I Pasal 1 Ayat 15
ditetapkan system Kuasa Pertambangan Khusus,yang Wilayah Izin Usaha Pertambangan menjelaskan tentang
Pertambangan (KP) selanjutnya disebut WIUPK, Khusus Wilayah Izin Usaha
adalah wilayah yang diberikan Pertambangan Khusus,yang
kepada pemegang Izin Usaha selanjutnya disebut WIUPK,
Pertambangan adalah wilayah yang diberikan
Khusus. kepada pemegang Izin Usaha
Pertambangan
Khusus.
16. BAB I Pasal 1 Ayat 6 menjelaskan Tidak Menjelaskan Pengertian
tentang Perusahaan adalah Perusahaan
pemegang Surat Izin Pertambangan
Daerah,
Kuasa Pertambangan (Izin Usaha
Pertambangan), Kontrak Karya,
dan Perjanjian Karya Pengusahaan
Pertambangan Batubara.
17. BAB I Pasal 1 Ayat 7 menjelaskan BAB I Pasal 1 Ayat 18
tentang Analisis Mengenai menjelaskan tentang
Dampak Lingkungan Hidup, Dokumen Lingkungan Hidup
selanjutnya disebut adalah Analisis Mengenai
AMDAL adalah kajian mengenai Dampak Lingkungan Hidup atau
dampak besar dan penting suatu Upaya Pengelolaan Lingkungan-
usaha dan/atau kegiatan yang Upaya Pemantauan Lingkungan,
direncanakan pada lingkungan atau Surat Pernyataan
hidup yang diperlukan bagi proses Pengelolaan Lingkungan.
pengambilan keputusan tentang
penyelenggaraan usaha dan/atau
kegiatan.
18. BAB I Pasal 1 Ayat 8 menjelaskan Tidak Menjelaskan tentang
tentang Upaya Pengelolaan Upaya pengelolaan lingkungan
Lingkungan selanjutnya disebut dan upaya pemantauan
UKL dan Upaya Pemantauan lingkungan.
Lingkungan selanjutnya disebut
UPL adalah upaya yang dilakukan
dalam pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup oleh
penanggungjawab usaha dan/atau
kegiatan yang tidak wajib
melakukan AMDAL.
19. Tidak terdapat direktur jendral. BAB I Pasal 1 Ayat 20
menjelaskan tentang
Direktur Jenderal adalah Direktur
Jenderal yang
melaksanakan tugas dan
bertanggung jawab atas
perumusan serta pelaksanaan
kebijakan dan
standardisasi teknis di bidang
Mineral dan Batubara.
20. BAB I pada PERMEN ESDME BAB I pada PERMEN ESDME
No.18 Tahun 2008 terdapat 9 Pasal No.07 Tahun 2014 terdapat 20
Pasal
21. BAB II Pasal 5 menjelaskan BAB II Pasal 2 Ayat 5
tentang menjelaskan tentang
Prinsip-prinsip konservasi bahan Prinsip konservasi Mineral dan
galian sebagairnana dimaksud Batubara sebagaimana
dalam dimaksud pada ayat (2) huruf c
Pasal 2 meliputi pengumpulan data meliputi:
yang akurat mengenai bahan galian a. Penambangan yang optimum;
yang tidak dieksploitasi dan/atau b. penggunaan metode dan
diolah serta sisa pengolahan bahan teknologi pengolahan
galian. dan/ atau pemurnian yang efektif
dan efisien;
c. pengelolaan dan/ a tau
pemanfaatan cadangan
marjinal, Mineral kadar rendah,
dan Mineral ikutan
serta Batubara kualitas rendah;
dan
d. pendataan sumber daya serta
cadangan Mineral dan
Batubara yang tidak tertambang
serta sisa pengolahan
dan/ atau pemurnian.
22. Terdapat perbedaan pada BAB III Terdapat perbedaan pada BAB III
dimana,untuk KEPMEN ESDM dimana,untuk KEPMEN ESDM
No.18 Tahun 2008, BAB III No.07 Tahun 2014, BAB III
membahas mengenai Tata Laksana, membahas tentang penyusunan
dimana didalamnya terdapat 3 rencana reklamasi dan rencana
bagian, bagian kesatu (umum) dan pasca tambang, yang mana
bagian kedua(reklamasi), serta didalamnya terdapat 3 bagian,
bagian ketiga(rencana penutupan bagian kesatu (umum), bagian
tambang). kedua(penyusunan rencana
reklamasi), dan bagian
ketiga(penyusunan rencana
pascatambang).
23. Pada BAB III, untuk bagian Pada BAB III, untuk bagian
kedua(reklamasi) tidak dibahas kedua(penyusunan rencana
secara rinci apakah terkait masalah reklamasi) terbagi menjadi 2,
reklamasi eksplorasi ataupun yaitu : rencana reklamasi tahap
reklamasi tahap operasi produksi. eksplorasi, dan rencana reklamasi
tahap operasi produksi.
24. BAB IV PENILAIAN DAN BAB IV PENILAIAN DAN
PERSETUJUAN Bagian Kesatu PERSETUJUAN Bagian
:Penilaian dan Persetujuan Kesatu :Penilaian dan
Rencana Reklamasi; Bagian Kedua Persetujuan Rencana Reklamasi
Penilaian dan Persetujuan Rencana Paragraf 1
Penutupan Tambang Penilaian dan Persetujuan
Rencana Reklamasi Tahap
Eksplorasi; Paragraf2
Penilaian dan Persetujuan
Rencana Reklamasi Tahap
Operasi Produksi; Bagian Kedua
Penilaian dan Persetujuan
Rencana Pascatambang.
25. BAB V PELAKSANAAN DAN Tidak menjelaskan tentang
PELAPORAN Bagian Kesatu seorang petugas untuk memimpin
Umum Pasal 13 menjelaskan langsung masing maisng
tentang Perusahaan wajib pelaksanaan reklamasi dan
mengangkat seorang petugas untuk penutupan.
memimpin
langsung masing-masing
pelaksanaan Reklamasi dan
Penutupan