Anda di halaman 1dari 33

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Umum


2.1.1 Arsitektur dan Perilaku
Arsitektur
Arsitektur adalah seni yang dilakukan oleh setiap individual untuk
berimajinasikan diri mereka dan ilmu dalam merancang bangunan. Dalam artian
yang lebih luas, arsitektur mencakup merancang dan membangun keseluruhan
lingkungan binaan, mulai dari level makro yaitu perencanaan kota, perancangan
perkotaan, arsitektur lansekap, hingga ke level mikro yaitu desain bangunan, desain
perabot dan desain produk. Arsitektur juga merujuk kepada hasil-hasil proses
perancangan tersebut.
Dalam proses perancangan, seorang Arsitek harus memperhatikan hal-hal
yang berhubungan dengan pengguna ruangnya. Setiap orang (pengguna ruang)
memiliki aktivitas dan perilaku yang berbeda, sehingga untuk memaksimalkan fungsi
ruang yang akan dirancang perlu diperhatikan perilaku orang yang akan
menggunakan ruang tersebut.

Pengertian Perilaku (behavior)


Menurut John Locke(1632-1704), salah satu tokoh empiris, pada waktu lahir
manusia tidak mempunyai warna mental. Warna ini didapat dari pengalaman.
Pengalaman adalah satu-satunya jalan kepemilikan pengetahuan. Ide dan
pengetahuan adalah produk dari pengalaman. Secara psikologis, seluruh perilaku
manusia, kepribadian, dan tempramen ditentukan oleh pengalaman inderawi (sensory
experience). Pikiran danperasaan disebabkan oleh perilaku masa lalu. Kesulitan
empirisme dalam menjelaskan gejala psikologi timbul ketika orang membicarakan
apa yang mendorong manusia berperilaku tertentu.
Hedonisme, memandang manusia sebagai makhluk yang bergerak untuk
memenuhi kepentingan dirinya, mencari kesenangan, dan menghindari penderitaan.
Dalam utilitarianisme perilaku manusia tunduk pada prinsip ganjaran dan hukuman.
Bila empirisme digabung dengan hedonisme dan utilitarianisme, maka itulah yang
disebut dengan behaviorisme. Asumsi bahwa pengalaman adalah paling berpengaruh

9
10

dalam pembentukan perilaku, menyiratkan betapa plastisnya manusia. Ia mudah


dibentuk menjadi apa pun dengan menciptakan lingkungan yang relevan. Aliran
behavioristik yang lebih bersifat elementaristik memandang manusia sebagai
organisme yang pasif, yang dikuasai oleh stimulus-stimulus yang ada di
lingkungannya. Pada dasarnya, manusia dapat dimanipulasi, tingkah lakunya dapat
dikontrol dengan jalan mengontrol stimulus-stimulus yang ada dalam lingkungannya.
Masalah belajar dalam pandangan behaviorisme, secara umum, memiliki beberapa
teori, antara lain: teori Connectionism, Classical Conditioning,Contiguous
Conditioning, serta Descriptive Behaviorism atau yang lebih dikenal dengan
namaOperant Conditioning.
Manusia tinggal atau hidup dalam suatu lingkungan sehingga manusia dan
lingkungan saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Lingkungan sungguh
dapat mempengaruhi manusia secara psikologi, adapun hubungan antara lingkungan
dan perilaku adalah sebagai berikut :
1. Lingkungan dapat mempengaruhi perilaku dan lingkungan fisik dapat membatasi
apa yang dilakukan manusia.
2. Lingkungan mengundang atau mendatangkan perilaku dan lingkungan fisik dapat
menentukan bagaimana kita harus bertindak.
3. Lingkungan membentuk kepribadian.
4. Lingkungan akan mempengaruhi citra diri.

Perilaku Dalam Arsitektur


Manusia sebagai makhluk sosial tidak pernah terlepas dari lingkungan yang
membentuk diri mereka. Di antara sosial dan arsitektur dimana bangunan yang
didesain oleh manusia, secara sadar atau tidak sadar, mempengaruhi pola perilaku
manusia yang hidup di dalam arsitektur dan lingkungannya tersebut. Sebuah
arsitektur dibangun untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dan sebaliknya, dari
arsitektur itu lah muncul kebutuhan manusia yang baru kembali.
1. Arsitektur membentuk perilaku manusia
Manusia membangun bangunan demi pemenuhan kebutuhan pengguna, yang
kemudian bangunan itu membentuk perilaku pengguna yang hidup dalam
bangunan tersebut. Bangunan yang didesain oleh manusia yang pada awalnya
dibangun untuk pemenuhan kebutuhan manusia tersebut mempengaruhi cara kita
dalam menjalani kehidupan sosial dan nilai-nilai yang ada dalam hidup. Hal ini
11

menyangkut kestabilan antara arsitektur dan sosial dimana keduanya hidup


berdampingan dalam keselarasan lingkungan. Untuk membentuk perilaku
manusia dapat dipengaruhi oleh beberapa perancangan fisik ruang, seperti ukuran
dengan bentuk ruang, perabot dan penataannya, warna, suara, temperatur, dan
pencahayaan.
2. Perilaku manusia membentuk Arsitektur
Manusia membangun bangunan, yang kemudian membentuk perilaku manusia
itu sendiri. Setelah perilaku manusia terbentuk akibat arsitektur yang telah dibuat,
manusia kembali membentuk arsitektur yang telah dibangun sebelumnya atas
dasar perilaku yang telah terbentuk, dan seterusnya.Setiap arsitektur yang dibuat
atas dasar kebutuhan manusia menghasilkan efek perilaku yang berbeda terhadap
arsitektur itu sendiri. Mengenai pembangunan kembali arsitektur yang diadaptasi
dari kebutuhan dan perilaku manusia yang berdampak terhadap psikologi
seseorang.
Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi
perilaku baru (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang
berurutan, yakni:
1. Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui
stimulus (obyek) terlebih dahulu
2. Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus
3. Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus bagi dirinya). Hal
ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi
4. Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru
5. Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran,
dan sikapnya terhadap stimulus
Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti
ini didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif maka perilaku
tersebut akan menjadi kebiasaan atau bersifat langgeng (long lasting).

2.2 Tinjauan Khusus


2.2.1 Anak dan Perilaku Anak
Pengertian Anak
Beberapa pengertian anak, antara lain:
a. Pengertian anak dibatasi secara biologis, usia dan psikisnya menurutAnderson:
12

Anak adalah organisasi yang tumbuh terus menerus.


Anak adalah unit terpisah dan mempunyai kekuasaan.
Anak berada dalam suatu konteks, baik yang sederhana maupun kompleks.
b. Anak adalah kelompok orang yang berusia 0-12 tahun yang terdiri darianak kecil
atau usia pra sekolah.

Pengelompokan Anak
Anak dapat dikelompokkan berdasarkan usia sekolah, sebagai berikut :
1. Anak Usia Dini
Anak usia dini merupakan anak usia 0 hingga 6 tahun. Anak usia dini dapat
dibedakan menjadi 3 (tiga) tahap usia.
1) Usia 0-1 tahun (infancy)
2) Usia 1-3 tahun (toddlerhood)
3) Usia 3-6 tahun (Preschool)
Ketiga kategori usia anak ini sangat penting karena pada masa-masa ini dapat
terlihat perubahan dan perkembangan signifikan anak.
2. Anak Usia Lanjut
Anak usia lanjut sekolah merupakan anak usia 6-12 tahun.

Psikologi Anak
Psikologi anak dapat diartikan sebagai perubahan yang progresif dan continue
(berkesinambungan) dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati. Pengertian lain
psikologi perkembangan adalah perubahan-perubahan yang dialami individu atau
organisme menuju tingkat kedewasaan atau kematangan anak yang berlangsung
secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan baik menyangkut fisik
(jasmaniah) maupun psikis (rohaniah). Perkembangan jasmani dan psikologis yang
terdapat dalam anak - anak adalah dengan memakai panca indera dengan pergerakan
anggota tubuh. Anak melihat dan berpikir tentang fungsi dan kegunaan benda yang
dilihatnya.
Menurut Elizabeth B. Hurlock, perkembangan jasmani dan psikologis anak
dapat mempengaruhi kehidupan anak sehari-hari dengan 2 cara, yaitu :
1. Pengaruh Langsung
Perkembangan dalam pengaruh langsung yang terjadi pada anak menentukan
keterampilan anak dalam gerak. Keterampilannya dalam gerak ditunjukkan saat
13

seseorang melakukan beberapa hal, si anak dapat mengikuti dan menirunya. Hal
tersebut dapat mempengaruhi anak untuk berpikir bahwa hal yang dilihatnya
adalah sesuatu yang benar dan dapat ditirukan.
2. Pengaruh Tidak Langsung
Perkembangan tidak langsung mempengaruhi bagaimana anak tersebut
memandang dirinya sendiri dan memandang orang lain. Saat seorang anak
merasa tidak nyaman terhadap dirinya sendiri, anak akan cenderung diam dan
merasa berkekurangan. Perkembangan fisik pada seorang anak dapat dilihat dari
perkembangan motoriknya, yaitu :
1) Proses tumbuh kembang ditandai dengan berkembang atau berubahnya fisik
seorang anak seiring bertambahnya umur si anak
2) Kemampuan gerak seorang anak saat bayi, mata dan gerak yang dilakukan
sangat lambat, bahkan mata bayi tidak dapat berkedip dengan reflek. Namun
dengan tumbuh berkembang, bayi dapat berkedip dan memberi isyarat jika
bayi haus atau lapar.

Tabel 1 Aspek Fisik dan Psikologi Anak

Development Infancy Early Chilhood


Task
Phisical Learning to walk
Learning to take solid foods
Learning to talk
Learning to control
Cognitive Learning to talk
Learning concept
Preparing to reading
Learning to distinguish night from wrong
Learning sex differences
Social Learning to distinguish night from wrong
Learning sex differences
Personal emotion Learning to distinguish night from wrong
Learning sex differences
Sumber : Fowler, William: 1980; Infant and Child Care, A Guide to Education in Group Setting;
Allyn and Bacon Inc,Massachusetts, USA, h; 20
14

Perkembangan Anak
Beberapa ahli di dunia mengemukakan pendapat tentang teori perkembangan
anak sebagai berikut :
Tabel 2 Teori Perkembangan Anak

TEORI PENGERTIAN
PERKEMBANGAN TAHAP PERKEMBANGAN ANAK
AUTHOR ANAK
Teori Erik Erikson juga 1. Trust vs Mistrust ( 0-12bulan ) : bahwa
mengusulkan teori tahap mereka dapat mempercayai lingkungannya.
perkembangan, namun Timbulnya trust (percaya) dibantu oleh adanya
teori meliputi pengalaman yang terus-menerus,
berkesinambungan, adanya pengalaman yang
pertumbuhan manusia di
ada kesamaannya dengan trust dalam
seluruh umur. Erikson pemenuhan kebutuhan dasar bayi oleh orang
percaya bahwa setiap tuanya. Apabila anak terpenuhi kebutuhan
tahap perkembangan dasarnya dan apabila orang tuanya memberikan
difokuskan pada kasih sayang dengan tulus, anak akan
mengatasi konflik. berpendapat bahwa dunianya (lingkungannya)
Misalnya, konflik utama dapat dipercaya atau diandalkan. Sebaliknya
selama periode remaja apabila pengasuhan yang diberikan orang tua
melibatkan pembangunan kepada anaknya tidak memberikan/memenuhi
rasa identitas pribadi. kebutuhan dasar yang diperlukan, tidak
konsisten atau sifatnya negatif, anak akan
Keberhasilan atau
cemas dan mencurigai lingkungannya.
kegagalan dalam 2. Autonomy vs Shame & Doubt ( 2-3 tahun ) :
menangani konflik pada Anak akan mencapai suatu derajat kemandirian
setiap tahap dapat tertentu. Apabila toddler (1,6-3 tahun)
mempengaruhi fungsi mendapat kesempatan dan memperoleh
Erik Erikson ( keseluruhan. Selama tahap dorongan untuk melakukan yang diinginkan
1902-1993 ) remaja, misalnya, anak dan sesuai dengan tempo dan caranya
kegagalan untuk sendiri, tetapi dengan supervisi orang tua dan
mengembangkan hasil guru yang bijaksana, maka anak akan
identitas dalam peran yang mengembangkan kesadaran autonomy. Tetapi
apabila orang tua dan guru tidak sabar dan
membingunkan.
terlalu banyak melarang anak yang berusia 2-3
tahun, maka akan menimbulkan sikap ragu-ragu
terhadap lingkungannya.
3. Inisiative vs Guilt ( 4-5 tahun ) : Apabila
anak usia 4-5 tahun diberi kebebasan untuk
menjelajahi dan bereksperimen dalam
lingkungannya, dan apabila orang tua dan guru
memberikan waktu untuk menjawab pertanyaan
anak, maka anak cenderung akan lebih banyak
mempunyai inisiatif dalam menghadapi
masalah yang ada di sekitarnya. Sebaliknya
apabila anak selalu dihalangi keinginannya, dan
menganggap pertanyaan atau apa saja yang
dilakukan tidak memiliki arti, maka anak akan
selalu merasa bersalah.

4. Industry vs Inferiority ( 6-12 tahun )


15

TEORI PENGERTIAN
PERKEMBANGAN TAHAP PERKEMBANGAN ANAK
AUTHOR ANAK
Teori Jean Piaget 1. Sonsori-motor( 0-1 tahun ) : pada tahap
menyarankan bahwa anak- ini, bayi dan balita memperoleh
anak berpikir secara pengetahuan melalui pengalaman sensorik
berbeda daripada orang dan memanipulasi obyek. Bayi dan Balita
dewasa dan mengusulkan mulai mengaktifkan ke 5 indera nya seperti
teori tahap perkembangan : merasakan, menyentuh, mencium,
kognitif. Dia adalah yang melihat, dan mendengar. Anak-anak akan
pertama untuk dicatat dapat mulai melampirkan nama dan kata-
Jean Piaget ( bahwa anak-anak berperan kata untuk benda-benda disektarnya.
1896-1981 ) aktif dalam memperoleh 2. Pre-operational( 1-6 tahun ) : pada
pengetahuan tentang tahap ini anak-anak belajar melalui
dunia. Menurut teorinya, permainan, tapi masih berusaha dengan
anak-anak dapat dianggap logika dan mengambil sudut pandang orang
sebagai "ilmuwan kecil" lain. Anak-anak lebih menggunakan fantasi
yang aktif membangun dibandingkan realitas, dan cenderung
pengetahuan dan egosentrik.
pemahaman tentang dunia 3. Concrete Operations ( 6-12 tahun )
mereka. 4. Formal Operations (12 tahun-dewasa)
Teori ini menyatakan 1. Early pre-moral Stage: individu fokus pada
bahwa penalaran moral, konsekensi langsung dari tindakan mereka pada
dasar untuk perilaku etis diri sendiri. Hal ini menimbulkan kesimpulan
memiliki 6 tahap bahwa anak mendahulukan egosentriknya, yang
kurang mengakui titik pandang orang lain yang
perkembangan yang telah
berbeda dengan dirinya sendiri.
diidentifikasi, masing- 2. Pre-moral stage: Penalaran tahap ini kurang
masing memadai dalam menunjukkan perhatian pada kebutuhan orang
menanggapi dilema moral. lain, tetapi hanya ke titik di mana mungkin
Kohlberg menentukan memajukan kepentingan individu itu sendiri.
bahwa proses Akibatnya, kepedulian terhadap orang lain tidak
perkembangan moral pada didasarkan pada loyalitas atau hormat intrinsik.
prinsipnya berhubungan 3. Early conventional morality: Individu mau
dengan keadilan, dan itu menerima persetujuan dan ketidaksetujuan dari
terus sepanjang hidup orang lain karena hal tersebut merefleksikan
pandangan masyarakat. Mereka mencoba untuk
Lawrence individu, sebuah gagasan
menjadi 'anak baik' untuk memenuhi harapan
Kohlberg ( yang melahirkan dialog dan menyenangkan orang lain (orang tua, guru,
1927-1987) tentang implikasi filosofis dsb).
dari penelitian tersebut. 4. Conventional Morality: penting untuk
mematuhi hukum, keputusan, dan konvensi
sosial karena berguna dalam memelihara fungsi
dari masyarakat.
5. Post-conventional morality: dunia dipandang
memiliki pendapat-pendapat yang berbeda, hak
dan nilai-nilai.

6. Individual Conscience: penalaran moral


didasarkan pada penalaran abstrak
menggunakan prinsip-prinsip etis universal.
Hukum hanya berlaku sejauh mereka
didasarkan pada keadilan, dan komitmen
terhadap keadilan juga menyertakan keharusan
untuk tidak mematuhi hukum yang tidak adil.
Sumber :Child Development Theories, www.psychology.about.com
16

Dari ketiga teori diatas, penulis menerapkan teori yang dikemukakan oleh
Jean Piaget karena dianggap paling mewakili tahap perkembangan anak pada
umumnya. Selanjutnya akan dijabarkan lagi tentang teori tahap kedua sebagai
batasan kajian.

Preoperational Stage - toddlerhood and Preschool (usia 1-6 tahun)


Pada tahap perkembangan ini, toddlers mulai mengkonfirmasi jenis
kelaminnya. Anak laki-laki mulai bermain dengan mobil-mobilan dan anak
perempuan mulai bermain dengan boneka dan toy tea set. Sebagai desainer, kita
harus dapat mengakomodasi mereka namun tetap harus berkonsultasi dengan orang
tua mereka perihal dekorasi ruangannya karena ada kemungkinan para orang tua
menginginkan lingkungan yang tidak mendominasi ke salah satu jenis kelamin,
misalnya penggunaan penutup dinding menggunakan warna netral, window
treatment, dan sebagainya atau menggunakan tema tertentu untuk suasana ruang
anaknya.
Cermin merupakan salah satu elemen penting dalam tahap ini. Dari tahap
bayi hingga balita, anak akan mulai menyadari dirinya sebagai individu. Cermin
dapat membantu memfasilitasi kemampuan analitis karena balita melihat refleksi
mereka namun tidak dapat menyentuh refleksinya sendiri.
Sekitar usia 2 (dua) tahun, balita memasuki masa keegoisannya dimana
mereka berpikir untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka menganggap orang lain
dapat melihat dan memperhatikan apa yang mereka lakukan. Sebagai contoh, karena
mereka tidak merasakan sakit ketika mencubit temannya, mereka berasumsi bahwa
temannya tersebut juga tidak merasakan sakit. Namun ketika mereka merasakan sakit
dan berlari keorang tuanya, mereka berasumsi orang tuanya tahu apa yang terjadi
karena hal tersebut juga terjadi kepada mereka.

Berdasarkan teori dari Jean Piaget diatas, maka selanjutnya teori tersebut
dapat dihubungkan dengan teori dari John Hopkins Medicine tentang karakteristik
pertumbuhan dan perkembangan anak. Hal ini dapat terjadi karena kedua teori ini
memiliki kesesuaian yang saling melengkapi sehingga keduanya dapat menjadi
acuan dalam perancangan.
17

Karakteristik Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Tabel 3 Karakteristik Pertumbuhan dan Perkembangan Anak


Tahap Tahap Interaksi
Sarana untuk Mengoptimalkan
USIA Pemahaman dengan Orang
Pengembangan Emosional Anak
Anak lain
A. menghitung a) menghitung obyek untuk mengajarkan
hingga 3 benda anak berhitung ketika beraktifitas
b) bermain dengan gelembung

B. mengerti posesi a) bacakan buku cerita bergambar a. tidak mengerti


b) berikan boneka atau boneka beruang berbagi
c) bacakan buku bersajak b. sering berkata
"tidak"
c. sering
menggunakan
amarah
d. terus bermain di
sekitar orang
lain tanpa
interaksi
e. bertindak seolah
anak lain adalah
obyek atau
mainan
C. mulai a) menggunakan obyek yang berbentuk dasar, a. menunjukkan
memecahkan seperti lingkaran, persegi, atau segitiga kemandirian
masalah b) biarkan anak bermain dengan balok, bola, b. mulai dapat
crayon, dan tanah liat. Tetap mengawasi berpakaian
2
anak agar tidak menempatkan obyek ke sendiri
tahun
dalam mulut, telinga,
c) biarkan anak menempelkan stiker di kertas
untuk membuat desain
d) biarkan anak mencoba menanggalkan
pakaian sendiri dan memakai pakaiannya
e) membuat mainan dari kotak kardus
f) biarkan anak membantu melakukan
pekerjaan rumah
g) Biarkan anak berinteraksi di telepon
mainan, atau mengatakan beberapa kata
saat berbicara di telepon nyata
h) berikan mainan untuk dinaiki
i) menyediakan waktu untuk pengalaman
diluar rumah
j) menyanyikan lagu-lagu, bermain musik
dan menari dengan anak
k) membantu anak belajar mencuci tangan
D. mengetahui jenis
kelaminnya a) melihat foto keluarga dengan anak dan
bercerita
E. dapat
b) ajarkan bagian-bagian tubuh sambil
mengucapkan
berpakaian dan mandi
nama dan
usianya
18

Tahap Tahap Interaksi


Sarana untuk Mengoptimalkan
USIA Pemahaman dengan Orang
Pengembangan Emosional Anak
Anak lain
A. mengerti posisi a) biasakan anak bermain dengan anak lain a. mulai berbagi
B. menggunakan b) berpura-pura menjadi karakter lain dan dan bermain
kata ganti bermain dengan anak dengan anak lain
dengan benar c) mendengarkan musik anak-anak bersama b. dapat mengambil
(aku, kamu,dia) anak dan menari bersama bagian
c. mulai
memperlihatkan
perasaannya
pada lingkungan

C. mengerti a) biarkan anak membuat tumpukan dengan a. mulai


perbedaan balok atau kardus mengurangi
ukuran (besar b) mainkan bola dengan anak, mainkan amarahnya
dan kecil) berbagai permainan dengan bola
c) selesaikan puzzle bersama
D. bertanya a) bawa anak ke tempat aman untuk bermain
"mengapa" terus sepeda roda 3
menerus b) mendengarkan anak dan tnjukkan
E. mulai memiliki ketertarikan ketika anak berbicara
kekhawatiran
hal-hal tertentu
F. dapat a) baca cerita dengan anak dan tanyakan
3 menunjukkan nama gambar dalam cerita atau bagian-
tahun gambaran yang bagian kecil dari cerita
benar ketika b) ajarkan anak tentang warna
ditanya
G. mengerti hal-hal a) perlihatkan kebanggan terhadap apapun
yang sudah yang telah dikerjakannya
terjadi (kemarin) b) bernyanyi dan ajarkan anak mengikutinya
H. mengingat
peristiwa tertentu
I. menghitung a) latihan berhitung
hingga 4 obyek
pada usia 4 tahun
J. berupaya a) berikan kesempatan anak bemain dengan anak
memecahkan lain di lingkungan belajar
masalah b) biarkan anak bermain dengan boneka, mobil-
mobilan atau mainan masak-masakan
c) biarkan anak bermain dengan clay
menggunakan imajinasinya
d) bantu anak bermain dengan crayon dan kertas
atau kapur dan papan tulis dengan
menunjukkan bagaimana menggambar obyek
atau hal tertentu
e) ajarkan anak bagaimana suatu benda bekerja
f) ajarkan anak untuk membantu melakukan hal
kecil, seperti merapikan mainannya
K. mengerti kalimat a) biasakan anak bercerita
panjang b) sempatkan waktu untuk berkomunikasi
19

Tahap Tahap Interaksi


Sarana untuk Mengoptimalkan
USIA Pemahaman dengan Orang
Pengembangan Emosional Anak
Anak lain
A. mulai menyadari a) aturkan waktu untuk anak bermain a. akan sering bermain
bersama anak-anak lain dalam kelompok
orang b. suka menjelajahi
disekitarnya tubuh dan bermain
dokter dan perawat
c. mungkin memiliki
teman bermain
khayalan
d. bisa bergaul dengan
baik
B. mulai mematuhi a) gunakan time-out untuk perilaku yang tidak
aturan orang tua, dapat diterima
namun masih b) mengeluarkan pujian untuk perilaku baik dan
belum mengerti prestasi anak
benar dan salah c) batasi menonton televisi untuk 1-2 jam sehari.
Gunakan waktu luang untuk hal lain yang
lebih produktif.
4 d) dorong anak untuk mengekspresikan
tahun kemarahannya dengan cara yang tepat
C. percaya pada a) berikan anak kesempatan untuk membuat a. sangat mandiri,
pilihan, jika diperlukan ingin melakukan
pikirannya hal-hal sendiri
sendiri b. menjadi agresif
c. berkelahi dengan
saudara
d. egois, tidak suka
berbagi
e. perubahan suasana
hati
f. umumnya lebih
kooperatif dari usia
4 tahun
g. berpakaian sendiri
tanpa bantuan
D. mulai mengerti a) menghabiskan waktu berkualitas dengan a. suka memasak
waktu anak dan menunjukkan kepadanya dan berolahraga
A. lebih memahami pengalaman barunya
tentang waktu b) bacakan cerita, menyanyi, dan
berkomunikasi dengannya
B. dapat a) batasi menonton televisi untuk 1-2 jam a. sebagai anak
sehari. Gunakan waktu luang untuk hal memasuki sekolah,
membandingkan anak menjadi lebih
aturan orang tua lain yang lebih produktif. dekat pada orang tua
dengan teman- b. bersemangat untuk
teman menyenangkan
5 orang lain dan
membuat mereka
tahun bahagia
c. memiliki sikap yang
baik
C. khawatir a) dorong anak untuk bertanya dan a. mulai merasa
terhadap fakta- mengeksplorasi takut
fakta b) mendorong aktivitas fisik dengan
pengawasan
c) dorong anak untuk berbicara dan terbuka
dengan perasaannya
Sumber : Johns Hopkins Medicine, www.hopkindmedicine.org
20

Dengan melihat teori di atas, maka selanjutnya dapat dihubungkan dengan


tingkat pencapaian perkembangan anak berdasarkan standarisasi dari Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Tingkat pencapaian ini kemudian
akan menjadi standar sasaran pencapaian bagi Desainer dalam penyediaan fasilitas
dalam sebuah lingkup Pendidikan Anak Usia Dini.

Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak


Tingkat pencapaian perkembangan menggambarkan pertumbuhan dan
perkembangan yang diharapkan dicapai anak pada rentang usia tertentu.
Perkembangan anak berlangsung secara berkesinambungan yang berarti bahwa
tingkat perkembangan yang dicapai pada suatu tahap diharapkan meningkat baik
secara kuantitatif maupun kualitatif pada tahap selanjutnya. Agar anak mencapai
tingkat perkembangan yang optimal, dibutuhkan keterlibatan orang tua dan orang
dewasa untuk memberikan rangsangan yang bersifat menyeluruh dan terpadu yang
meliputi pendidikan, pengasuhan, kesehatan, gizi, dan perlindungan yang diberikan
secara konsisten melalui pembiasaan. Selain itu, diperlukan pula sebuah sarana dan
fasilitas yang dapat membantu memberikan pembelajaran bagi anak sehingga
karakter seorang anak dapat berkembang dengan baik.
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
Nomor 58 Tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini, dapat
dijabarkan tingkat pencapaian perkembangan anak usia 2-6 tahun sebagai berikut:

Tabel 4 Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak


Lingkup Tingkat Pencapaian Perkembangan
Perkembang
Usia 2-3 tahun Usia 3-4 tahun Usia 4-5 tahun Usia 5-6 tahun
-an
Motorik 1. Berjalan sambal 1. Berlari sambal 1. Bisa 1. Melakukan
Kasar berjinjit membawa bergantungan gerakan senam
2. Melompat dengan barang 2. Melompat, dan terkoordinasi
2 kaki 2. Naik-turun berlari secara 2. Melakukan
3. Melempar dan permainan fisik
tangga dengan terkoordinasi
menangkap bola dengan aturan
4. Menari mengikuti kaki bergantian 3. Melempar, 3. Terampil dengan
irama 3. Melompat dari menendang dan tangan kanan dan
5. Naik-turun tangga ketinggian 20 cm menangkap kiri
dengan 4. Meniru gerakan dengan terarah 4. Membersihkan
berpegangan senam sederhana 4. Melakukan diri sendiri
gerakan
antisipasi
21

Lingkup Tingkat Pencapaian Perkembangan


Perkembang
Usia 2-3 tahun Usia 3-4 tahun Usia 4-5 tahun Usia 5-6 tahun
-an
Motorik 1. Meremas 1. Menuang 1. Membuat garis 1. Meniru bentuk
Halus dengan 5 jari air,pasir, atau lurus dan 2. Bereksplorasi
2. Melipat kertas biji-bijian ke lengkung 3. Menggunakan
3. Menggunting dalam tempat 2. Menjiplak bentuk alat tulis dengan
kertas tanpa penampung 3. Mengkoordinasi benar
pola 2. Menggunting mata dan tangan 4. Menggunting
4. Koordinasi dengan pola garis 4. Melakukan sesuai pola
jari cukup lurus gerakan 5. Menempel
baik manipulatif gambar dengan
5. Berkarya seni tepat
Kognitif 1. Menyebut 1. Menemukan 1. Mengenal fungsi 1. Klasifikasi
bagian bagian yang benda benda
gambar hilang dari sautu 2. Mengenal sebab- berdasarkan
2. Mengenal gambar akibat fungsi
bagian tubuh 2. Menyebutkan 3. Mengenal konsep 2. Eksploratif
3. Memahami nama makanan sederhada 3. Menyusun
ukuran 3. Memahami (misal:gerimis, perencanaan
4. Mengenal perbedaan antar hujan, gelap,dsb) kegiatan
bentuk benda 4. Berkreasi sendiri 4. Mengenal sebab-
5. Mengenal 4. Menempatkan 5. Mengklasifikasi akibat tentang
pola benda dalam benda berdasarkan lingkungannya
urutan ukuran bentuk, warna atau 5. Inisiatif
5. Mulai mengikuti ukuran 6. Bisa
pola tepuk 6. Mengenal pola memecahkan
tangan AB-AB atau ABC- masalah
ABC 7. Mengetahui
bentuk,warna,
ukuran
8. Mengenal pola
ABCD-ABCD
Sosial- 1. Bisa 1. Bisa BAK 1. Menunjukkan 1. Bersikap
Emosional mengungkapk sendiri sikap mandiri kooperatif
an jika ingin 2. Bersabar 2. Mau berbagi, 2. Menunjukkan
BAK dan menunggu menolong, dan sikap toleran
BAB giliran membantu 3. Mengekspresi-
2. Memahami 3. Menunjukkan 3. Menunjukkan kan emosi yang
hak orang sikap toleran antusiasme sesuai dengan
lain 4. Menghargai 4. Mengendalikan kondisi
3. Bisa berbagi, orang lain perasaan 4. Mengenal tata
membantu, 5. Bereaksi 5. Menaati aturan krama dan sopan
bekerja terhadap hal-hal dalam permainan santun
bersama tidak benar 6. Percaya diri 5. Memahami
4. Menyatakan 6. Menunjukkan 7. Menjaga diri peraturan
perasaan ekspresi sendiri 6. Menunjukkan
5. Berbagi peran menyesal ketika 8. Menghargai orang sikap empati
dalam melakukan lain 7. Memiliki sikap
permainan kesalahan gigih
Sumber: Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
Nomor 58 Tahun 2009 Tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini
22

2.2.2 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)


Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum
jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan
bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui
pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan
perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki
pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan
informal.
Pendidikan Anak Usia Dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan
pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan 5
perkembangan, yaitu : perkembangan moral dan agama, perkembangan
fisik , kecerdasan/kognitif (daya pikir dan daya cipta), sosio emosional (sikap dan
emosi) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap
perkembangan sesuai kelompok usia yang dilalui oleh anak usia dini seperti yang
tercantum dalam Permendiknas no 58 tahun 2009.
Ada dua tujuan diselenggarakannya Pendidikan Anak Usia Dini yaitu:
Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak
yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga
memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta
mengarungi kehidupan pada masa dewasa.
Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar
(akademik) di sekolah, sehingga dapat mengurangi usia putus sekolah dan mampu
bersaing secara sehat di jenjang pendidikan berikutnya.

Satuan PenyelenggaraPendidikan Anak Usia Dini


1. Taman Kanak-Kanak (TK) merupakan jalur pendidikan formal yang
menyelenggarakan program pendidikan bagi anak berusia 4 (empat) tahun hingga
6 (enam) tahun dengan prioritas usia 5 (lima) tahun dan 6 (enam) tahun.
2. Taman Kanak-Kanak Luar Biasa (TKLB) merupakan jalur pendidikan formal
yang menyelenggarakan program pendidikan khusus bagi anak berusia 4(empat)
tahun hingga 6 (enam) tahun dengan prioritas usia 5 (lima) tahun dan 6 (enam)
tahun.
23

3. Kelompok Bermain (KB) merupakan jalur pendidikan non-formal yang


menyelenggarakan program pendidikan bagi anak usia 2 (dua) sampai 6 (enam)
tahun dengan prioritas usia 3 (tiga) dan 4 (empat) tahun.
4. Taman Penitipan Anak (TPA) merupakan jalur pendidikan non-formal yang
menyelenggarakan program pendidikan bagi anak sejak lahir sampai dengan 6
(enam) tahun dengan prioritas sejak lahir hingga usia 4 (empat) tahun.
5. Satuan Pendidikan Anak Usia Dini Sejenis (SPS) merupakan jalur pendidikan
non-formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak sejak lahir
sampai dengan 6 (enam) tahun secara mandiri atau terintegrasi dengan berbagai
layanan kesehatan, gizi, keagamaan, dan kesejahteraan sosial.

2.2.3 Kelompok Bermain / Preschool


Definisi
Depdikbud (2002 : 2) menegaskan bahwa: Kelompok Bermain adalah salah
satu bentuk layanan pendidikan bagi anak usia 3-6 tahun yang berfungsi untuk
membantu meletakkan dasar-dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan dan
keterampilan yang diperlukan bagi anak usia dini dalam menyesuaikan diri dalam
lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya, termasuk
siap memasuki pendidikan dasar.
Senada dengan pendapat di atas, maka Sudono (2003:1) mendefnisikan
Kelompok Bermain yaitu: Kelompok anak yang melakukan suatu kegiatan dengan
menggunakan alat atau tanpa alat sehingga menghasilkan suatu informasi,
memberikan kesenangan, maupun mengembangkan imajinasi anak. Dari kedua
pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Kelompok Bermain adalah salah satu
wadah berkumpulnya sekelompok anak yang berumur tertentu dengan tujuan untuk
memperoleh informasi dan memberikan kesenangan kepada mereka sehingga dapat
bertumbuh dan berkembang sesuai potensinya dan siap memasuki tingkat pendidikan
selanjutnya.
Menurut Depdikbud (2002: 6) program kegiatan belajar Kelompok Bermain
bertujuan untuk:
1. Meningkatkan keyakinan dalam beragama;
2. Mengembangkan budi pekerti dalam kehidupan anak;
3. Mengembangkan sosialisasi dan kepekaan emosional;
24

4. Meningkatkan disiplin melalui kebiasaan hidup teratur;


5. Mengembangkan komunikasi dalam kemampuan berbahasa;
6. Meningkatkan pengetahuan atau pengalaman melalui kemampuan daya pikir;
7. Mengembangkan koordinasi motorik halus dan kreatifitas dalam keterampilan
dan seni;
8. Meningkatkan kemampuan motorik kasar dalam rangka kesehatan jasmani.

Persyaratan Khusus Pendirian Kelompok Bermain


Persyaratan khusus pendirian Kelompok Bermain (KB) harus memiliki:
1. Kepala KB yang memenuhi kualifikasi akademik dan kompetensi sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
2. Prospek peserta didik usia 2 (dua) sampai dengan 4 (empat) tahun paling sedikit
15 (lima belas) peserta didik.

Persyaratan Sarana dan Prasarana


Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia tentang Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria Petunjuk Teknis
Penyelenggaraan Kelompok Bermain, maka persyaratan sarana dan prasarana yang
dibutuhkan dapat dijabarkan sebagai berikut :
a. Luas lahan/tanah minimal yang diperlukan 300 m
b. Lokasi pendirian hendaknya memperhatikan persyaratan lingkungan, yaitu
Keamanan Lokasi pendirian Kelompok Bermain
Hendaknya tidak terlalu dekat dengan jalan raya utama, di tebing, pemakaman,
sungai atau tempat-tempat yang dapat membahayakan bagi anak peserta didik
Kebersihan Dalam mendirikan Kelompok Bermain
Hendaknya tidak berdekatan dengan tempat pembuangan/penumpukan sampah,
pabrik yang mengeluarkan polusi udara, limbah yang berakibat buruk bagi
kesehatan.
Ketenangan/Kenyamanan
Kelompok Bermain yang didirikan lokasi tidak berdekatan dengan pabrik, bengkel,
pasar dan pusat keramaian yang aktifitasnya dapat mengeluarkan suara yang dapat
mengganggu kegiatan Kelompok Bermain.
25

Lokasi pendirian Kelompok Bermain dipilih dekat dengan pemukiman


penduduk yang relatif banyak anak usia Kelompok Bermain.
Transportasi mudah dijangkau, baik darat atau air sesuai dengan kondisi
daerah.
c. Memiliki ruang kelas, ruang kantor/kepala Kelompok Bermain, ruang dapur,
gudang, kamar mandi/WC guru dan kamar mandi/WC anak.
d. Bangunan Gedung, minimal memiliki:

Tabel 5 Kebutuhan Ruang Minimal Untuk Kelompok Bermain


Jumlah Minimal
No Jenis Ruang Kapasitas
Ruang Luas
1 Ruang kelas 1 64 m 20 anak
Ruang kantor/kepala
2 1 12 m 1 orang
Kelompok Bermain
3 Ruang dapur 1 9 m 2 orang
4 Gudang 1 9 m
Kamar mandi/WC
5 1 4 m 1 orang
guru
Kamar mandi/WC
6 1 4 m 1 orang
anak
7 Ruang guru 1 16 m 3 orang
UKS (Usaha
8 1 9 m
Kesehatan Sekolah)
Sumber :Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Kelompok
Bermain

e. Kelompok Bermain tersebut sedapat mungkin mempunyai halaman/tempat


bermain dan mempunyai ruang bermain terbuka.
f. Memiliki perabot, alat peraga dan alat permainan di luar dan di dalam ruangan.

Komponen Penyelenggaraan Kelompok Bermain


a. Tenaga Pendidik dan Kependidikan
Pendidik anak usia dini adalah profesional yang bertugas merencanakan,
melaksanakan proses pembelajaran, melaporkan perkembangan anak,
melaporkan dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran Pendidik pada Kelompok
Bermain terdiri atas guru dan guru pendamping. Tenaga kependidikan bertugas
melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan
pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada lembaga Kelompok
Bermain. Tenaga kependidikan terdiri atas Pemilik, Kepala Sekolah,
Penyelenggara Pengelola, Petugas Administrasi, dan Petugas Kebersihan.
26

b. Sarana dan Prasarana


Sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan merupakan satu kesatuan
yang tidak dapat dipisahkan dalam mendukung pelayanan Kelompok Bermain.
Standar sarana dan prasarana meliputi jenis, kelengkapan, dan kualitas fasilitas
yang digunakan dalam menyelenggarakan proses penyelenggaraan Kelompok
Bermain. Standar pengelolaan merupakan kegiatan manajemen satuan lembaga
Kelompok Bermain yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan,
pengawasan dan evaluasi penyelenggaraan Kelompok Bermain.
a. Standar Sarana dan Prasarana
Pengadaan sarana dan prasarana perlu disesuaikan dengan jumlah anak, kondisi
sosial, budaya, dan jenis layanan Kelompok Bermain.
1. Prinsip
Aman, nyaman, terang, dan memenuhi kriteria kesehatan bagi anak.
Sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Memanfaatkan potensi dan
sumber daya yang ada di lingkungan sekitar, termasuk barang
limbah/bekas layak pakai.
2. Persyaratan
a. Kebutuhan jumlah ruang dan luas lahan disesuaikan dengan jenis
layanan, jumlah anak, dan kelompok usia yang dilayani, dengan luas
minimal 3 m per peserta didik.
b. Minimal memiliki ruangan/tempat kegiatan yang dapat digunakan
untuk melakukan aktivitas anak yang terdiri dari ruang dalam dan
ruang luar, dan kamar mandi yang dapat digunakan untuk kebersihan
diri dan BAK/BAB (toileting) dengan air bersih yang cukup.
c. Memiliki sarana yang disesuaikan dengan jenis layanan, jumlah anak,
dan kelompok usia yang dilayani.
d. Memiliki fasilitas permainan baik di dalam dan di luar ruangan yang
dapat mengembangkan berbagai konsep.

b. Sarana Pendukung Pembelajaran


Sarana untuk pembelajaran Kelompok Bermain dapat dibedakan menjadi sarana
di dalam ruangan (indoor) dan sarana di luar ruangan (outdoor).
1. Sarana di dalam ruangan
27

a. Buku-buku cerita atau dongeng dari berbagai versi dan cerita rakyat
setempat;
b. Alat-alat peraga atau bahan main sebagai bahan belajar;
c. Lemari atau rak untuk tempat alat main;
d. Tape recorder dan/atau VCD Player, beserta kaset dan/atau VCD
cerita/lagu;
e. Papan tulis (white atau black board) serta alat tulisnya;
f. Papan flanel dan perlengkapannya;
g. Panggung boneka dan perangkatnya;
h. Papan geometris, puzzle, dan balok;
i. Alat untuk bermain peran makro dan mikro;
j. Alat permainan edukatif sederhana;
k. Alat permainan untuk mendukung mengenal budaya lokal;
l. Alat-alat untuk memasak, dan lainnya.
2. Sarana di luar ruangan
Alat permainan di luar ruangan seperti bak air, bak pasir, papan luncur, papan titian,
ayunan, panjatan, kuda-kudaan, dll. Adapun persyaratan alat permainan tersebut
sebagai berikut:
a. Alat permainan edukatif, buatan guru, anak, dan pabrik
b. Gampang dibongkar pasang
c. Jika terdiri dari bagian-bagian kecil
d. Ukurannya aman dan diperbolehkan untuk mainan anak
e. Alat-alat mainan diletakkan di tempat yang mudah dijangkau oleh anak
f. Secara rutin dirawat, dibersihkan dan diganti bila sudah rusak
g. Aman, sisi-sisinya tidak ada yang tajam sehingga membahayakan kulit,
atau tangan anak
h. Peralatan pendukung keaksaraan
i. Kuat, kokoh, tidak mudah patah dan pecah.
j. Alat permainan harus disesuaikan dengan usia anak dan dapat
mendukung kegiatan belajar anak yang berbeda-beda dan tahap
perkembangan anak yang meliputi perkembangan fisik, intelektual,
emosi
k. Aspek sosial dan keagamaan
28

2.2.4 Taman Kanak-Kanak / Kindergarten


Definisi
Taman Kanak Kanak adalah tahap perkenalan pertama anak kepada sekolah
atau transisi dari program Kelompok Bermain. Taman Kanak Kanak umumnya
didefinisikan sebagai bentuk dari pendidikan prasekolah yang mengajar melalui
permainan kreatif, kontak sosial, dan ekspresi natural. Konsep ini berawal di Jerman
pada tahun 1837 oleh 23 Fredrich Froebel; Taman Kanak Kanak, taman anak
merupakan ide awal yang menjelaskan pentingnya anak anak untuk bermain.
Froebel mengerjakan berbagai permainan, lagu, dan cerita untuk membahas
kebutuhan anak (pada masa itu umumnya usia 3 7 tahun).

Persyaratan Sarana dan Prasarana


Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia tentang Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria Petunjuk Teknis
Penyelenggaraan Taman Kanak-Kanak dan jurnal yang berjudul Kajian
Pengembangan Standar Bangunan Taman Kanak-Kanak Sebagai Upaya Peningkatan
Mutu Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia, maka persyaratan sarana dan
prasarana yang dibutuhkan dapat dijabarkan sebagai berikut :
a. Luas lahan sekurang-kurangnya 300 m
b. Memiliki ruang bermain/ruang belajar dengan rasio sekurang-kurangnya 3 m per
anak, baik di dalam ataupun di luar ruangan
c. Memiliki ruang kepala sekolah, guru, layanan kesehatan/UKS, toilet dengan air
bersih, dan ruang lainnya yang relevan dengan kebutuhan kegiatan anak
d. Memiliki perabot, alat peraga dan alat permainan dii luar dan di dalam ruangan
e. Memiliki tempat untuk memajang hasil karya anak yang ditata sejajar dengan
pandangan anak, leluasa, tidak terlalu penuh dengan alat permainan (masih ada
ruang kosong untuk gerak anak)
f. Penataan ruangan sesuai fungsinya, berikut perabot yang bersih dan terawat
g. Bangunan gedung, sekurang-kurangnya memiliki:

Tabel 6 Kebutuhan Ruang Minimum Untuk Taman Kanak-Kanak


Jumlah Minimal
No Jenis Ruang Kapasitas
Ruang Luas
1 Ruang kelas 1 64 m 25 anak
2 Ruang kantor/kepala 20 m
1 1 orang
Kelompok Bermain
29

Jumlah Minimal
No Jenis Ruang Kapasitas
Ruang Luas
3 Ruang dapur 1 16 m 2 orang
4 Ruang Tata Usaha 1 20 m 2 orang
5 Gudang 1 16 m
Kamar mandi/WC
6 1 4 m 1 orang
guru
Kamar mandi/WC
7 1 4 m 1 orang
anak
8 Kamar Penjaga 1 16 m 1 orang
9 Ruang guru 1 16 m 5 orang
UKS (Usaha
10 1 16 m
Kesehatan Sekolah)
11 Ruang Terbuka 1 120 m
Ruang Tunggu
12 1 16 m
terbuka
Sumber :Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Taman Kanak-
Kanak

Data tentang ruang-ruang utama TK diperlukan untuk menentukan massa utama


bangunan TK, luasan, fungsi, dan ketentuan teknis lainnya. Beberapa ruang utama
yang ditemukan pada beberapa bangunan TK adalah sebagai berikut.
Ruang Kelas
Fungsi ruang kelas TK adalah tempat belajar seraya bermain dengan suasana yang
aman, nyaman, dan menyenangkan. Ruang kelas harus mempunyai akses langsung
terhadap ruang-ruang pendukung belajar lainnya dengan kriteria penempatan ruang
kelas yang tenang dan terhindar dari semua bentuk aktivitas aktif yang dapat
menimbulkan gangguan suara. Kriteria perencanaannya adalah sebagai berikut:
a. Ruang kelas untuk daya tampung maksimum 25 anak.
b. Ketinggian langit-langit ruangan maksimum 3,50 m.
c. Jendela minimum 20% luas lantai ruangan untuk mendapatkan pencahayaan
alami yang baik.
d. Luas ventilasi udara minimum 7% dari luas lantai ruang.
e. Pintu, jendela, dan kusen dibuat dari bahan berkualitas baik.
f. Pintu terdiri dari 2 daun membuka keluar dengan lebar minimum 150 cm dan
tersedia pintu penghubung antar ruang (connecting door) dengan lebar minimum
90 cm.
g. Dilengkapi tata letak (layout) perabot yang terdiri dari: meja dan kursi anak
didik, meja dan kursi guru, papan tulis, papan penempelan hasil karya anak didik,
lemari, book shelves/ office cabinet, dan loker.
30

h. Di depan ruang kelas terdapat tempat cuci tangan dan kaki.


i. Dihindari penggunaan jenis bahan lantai yang licin.
j. Dilengkapi dengan lampu penerangan yang cukup dan minimal terdapat 2 stop
kontak.
Ruang Kepala TK
Ruang kepala TK dipergunakan sebagai ruang kerja. Kriteria perancangannya adalah
sebagai berikut:
a. Tata letak ruang dekat dengan ruang tata usaha, ruang guru, dan area pintu masuk
utama.
b. Mudah dicapai dari pintu masuk utama sekolah.
c. Ruang dilengkapi dengan penerangan lampu dan stop kontak yang cukup.
d. Terdapat jaringan telepon.
Ruang Guru
Ruang guru berfungsi sebagai ruang kerja guru untuk mempersiapkan bahan
mengajar. Kriteria perancangannya adalah sebagai berikut:
a. Tata letak ruang dekat dengan ruang kepala TK dan ruang tata usaha.
b. Mudah dicapai dari area pintu masuk utama sekolah.
c. Ruangan dilengkapi dengan penerangan lampu dan stop kontak yang cukup.
d. Terdapat jaringan telepon.
Ruang Tata Usaha
Ruang tata usaha berfungsi sebagai ruang kerja tenaga tata usaha untuk
melaksanakan tugas administratif yang berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan dan
anak didik. Kriteria perancangannya adalah sebagai berikut:
a. Tata letak ruang dekat dengan ruang kepala TK dan ruang guru.
b. Terdapat kursi dan meja kerja, filling cabinet, komputer dan/atau mesin ketik.
c. Ruangan dilengkapi dengan penerangan lampu dan stop kontak yang cukup.
Ruang Kesehatan Sekolah
Ruang kesehatan sekolah berfungsi sebagai ruang pelayanan kesehatan bagi anak
didik, baik yang dilakukan sekolah maupun instansi kesehatan lainnya. Kriteria
perancangannya adalah sebagai berikut:
a. Tata letak ruang mudah dijangkau dari pintu masuk utama dan dari ruang
lainnya.
b. Terdapat kursi dan meja tenaga medis, dua tempat tidur, washtafel, filling
cabinet, dan lemari obat yang dapat dikunci.
31

Dapur
Kriteria perancangannya adalah sebagai berikut:
a. Ketinggian langit-langit minimal 4,00 m dengan pencahayaan alami dan sirkulasi
udara yang baik.
b. Luas jendela 20% luas lantai untuk mendapatkan pencahayaan alami yang baik.
c. Luas ventilasi udara antara 6%10% luas lantai ruang.
d. Kelengkapan pengendalian kualitas udara di dalam ruang dengan menggunakan
exhaust fan dan kipas angin.
e. Terdapat pintu masuk yang terdiri dari dua daun pintu dengan lebar minimal 150
cm dengan arah membuka keluar.
f. Dilengkapi lampu penerangan ruang dan stop kontak yang disesuaikan dengan
kebutuhan.
g. Dilengkapi dengan tempat cuci peralatan makan (sink) dengan jumlah
disesuaikan dengan kebutuhan.
Gudang
Gudang TK berfungsi sebagai ruang penyimpanan barang sekolah. Jumlah gudang
untuk TK sebanyak 1 ruang dengan ukuran 4 4 m = 16 m .
Kamar Penjaga
Kamar penjaga berfungsi sebagai tempat istirahat bagi penjaga, baik siang maupun
malam, untuk menjaga keamanan TK. Kriteria perancangannya adalah:
a. Tata letak ruang dekat dengan gudang atau terletak di belakang/samping gedung
TK.
b. Ruangan dilengkapi dengan penerangan lampu dan stop kontak yang cukup.
KM/WC Guru
KM/WC sebanyak 1 ruang untuk kepala TK, 1 ruang untuk guru dan staf. Setiap
KM/WC dilengkapi dengan kloset, bak air, 1 washtafel, dan cermin.
KM/WC Anak
Kriteria perancangannya adalah sebagai berikut:
a. Jumlah KM/WC 6 buah yang masing-masing dilengkapi dengan closet dan bak
air.
b. Ukuran ketinggian dari kelengkapan KM/WC disesuaikan dengan ukuran fisik
anak.
c. Tata letak mudah dijangkau dari ruang kelas dengan tujuan untuk memudahkan
dalam pengawasan dan pemeliharaan.
32

d. Ruang dilengkapi dengan lampu penerangan yang cukup.


e. Jenis keramik lantai tidak licin.
f. Luas ventilasi yang cukup untuk sirkulasi udara.
g. Pintu kamar mandi dari bahan kedap air.
Ruang Terbuka/Speelood
Speelood merupakan ruang semi terbuka yang berfungsi untuk kegiatan olah raga
ringan, senam atau permainan, pertemuan ceramah umum, pameran, dan
pertunjukan. Speelood merupakan bangunan tersendiri yang terpisah dari bangunan
lainnya dalam gedung TK. Kriteria perancangannya adalah sebagai berikut:
a. Bentuk ruang sebaiknya mendekati bujur sangkar, segi enam, atau bulat.
b. Tinggi langit-langit minimal 4,00 m.
c. Bahan penutup lantai dipilih yang tidak licin.
d. Terdapat dinding pembatas ruang setinggi +120 cm.
e. Terdapat lampu penerangan yang cukup dan terdapat stop kontak.
Ruang Tunggu Terbuka
Ruang tunggu terbuka berfungsi sebagai tempat orang tua menjemput anak. Tata
ruang pada area pintu masuk gedung dan tidak terlihat langsung oleh anak dari ruang
kelas. Kriteria perancangannya adalah:
a. Tinggi langit-langit minimal 4,00 m.
b. Bahan penutup lantai dipilih yang tidak licin.
c. Terdapat dinding pembatas ruang setinggi 120 cm.

2.2.5 Kurikulum
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi
dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (UU No 20
tentang SPN).
Kurikulum kelompok bermain dan taman kanak-kanak dikembangkan oleh
pendidik di lembaga itu sendiri dengan mengacu pada Permendiknas No 58 Tahun
2009 atau kurikulum berstandar internasional dan mengembangkan sesuai dengan
potensi dan kebutuhan yang dimiliki lembaga. Setiap kurikulum ini memiliki
kelebihan dan kelemahan. Namun untuk menyamaratakan standar pembelajaran di
dunia, penulis mempertimbangkan untuk menerapkan standar kurikulum bertaraf
33

international. Standar kurikulum yang digunakan berdasar pada International


Preschool Curriculum.
Program pembelajaran adalah salah satu komponen untuk mengaplikasikan
kurikulum dalam program pembelajaran diperlukan perangkat perencanaan yang
akan dilakukan oleh lembaga. International Preschool Curriculum (IPC)
menerapkan proses pembelajaran dengan 6 (enam) inti proses pembelajaran.

Gambar 1 Konten Pembelajaran Pada International Preschool Curriculum


Sumber : https://ipc.education/corecontentareas/, Diakses Pada Tanggal 02 Juli 2015 Pukul 20.20

Keenam proses pembelajaran tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut :


1. Languange Art
Dua pembenaran utama untuk masuknya seni bahasa sebagai kawasan inti
eksplorasi dan studi pada anak usia dini adalah kemampuan untuk
mengembangkan dan mendukung pemikiran kognitif, penalaran, dan
kemampuan memecahkan masalah pada anak-anak. Setiap keterampilan kognitif
tersebut sangat penting jauh melampaui kurikulum prasekolah dan memiliki
relevansi yang berlaku selama kehidupan.
IPC menawarkan pendekatan yang jelas dan kerangka kerja untuk instruksi
pelajaran bahasa yang terkandung dalam kurikulum. Kerangka untuk presentasi
guru pelajaran bahasa menunjukkan bahwa pelajaran ini harus ditawarkan secara
teratur dengan cara sesuai dengan tahapan perkembangan dan lingkungan yang
mendukung anak-anak di semua tingkat pemahaman. Peran guru disorot dan
34

diperkuat di seluruh kurikulum dan oleh karena itulah guru yang menyertainya
diberi pelatihan tentang pelaksanaan kurikulum IPC.
Sebagai bagian dari proses aplikasi IPC sebagai meneliti berikut untuk
meningkatkan seni bahasa melalui Kurikulum Unit Tematik:
 Pengetahuan tentang Alphabet
 Kesadaran fonologis
 Pengetahuan tentang Print dan penggunaan nya
 Pemahaman Buku Teks dan lainnya
 Keterampilan menulis
 Mendengarkan dan memahami Bahasa yang kompleks
 Menggunakan Bahasa untuk mengekspresikan pikiran dan kebutuhan
 Menggunakan keterampilan komunikasi percakapan
IPC telah melakukan penelitian kurikulum untuk masing-masing daerah belajar
yang menerapkan kurikulum IPC dengan lebih dari 16 tema pembelajaran
seperti perkembangan kognitif dan mekanik. Penelitian ini dilakukan untuk
mengembangkan pendidikan prasekolah yang baik.
Daerah belajar inti diperkuat dengan kegiatan yang menyenangkan dan hasilnya
berdasarkan pada struktur pembelajaran. Siswa harus mampu mengidentifikasi
setiap huruf dari alphabet dan siap untuk membaca tiga kata surat pada akhir
unit tematik. Siswa harus dapat mengenali dan mengetahui anggota keluarga,
rekan-rekan sekolah dan guru dengan nama mereka dan memahami suara yang
terkait dengan huruf abjad. Siswa harus mampu memperluas kosakatanya dalam
Bahasa Inggris setiap hari dan harus dibaca setiap hari untuk memastikan hal ini
dapat dicapai. Siswa akan memahami dan mampu menyampaikan makna dari
kata-katanya dalam kosakata.
Kurikulum IPC akan memungkinkan siswa untuk mengekspresikan dirinya
sendiri secara lisan dan mengembangkan keterampilan berkomunikasi dengan
kata-kata.
2. Socio-Emotional
Siswa dapat memahami pentingnya self-respect, kepercayaan diri dan
keterampilan interpersonal. Siswa menghormati orang lain dan mengakui figur
otoritas seperti orang dewasa, guru dan orang tua. Akan ada pemahaman
keanekaragaman budaya dan agama dan bukti bahwa siswa mampu menjadi
anggota tim atau perilaku mandiri dalam tugas individu ketika diminta. Siswa
35

akan menyadari tanggung jawab di sekolah, rumah, masyarakat setempat dan


dunia. Pemahaman tentang dasar perdagangan, uang dan pekerjaan akan dicapai.
Siswa akan membantu di sekolah dan rumah dalam membersihkan mainan, buku
dan barang serupa setelah digunakan. Akan ada pemahaman liburan, tradisi dan
adat budaya asli siswa dan budaya lainnya. Dua pembenaran utama untuk
masuknya emosi sosial sebagai inti dari eksplorasi dan studi pada anak usia dini
adalah kemampuan untuk mengembangkan dan mendukung pemikiran kognitif,
penalaran, dan kemampuan memecahkan masalah pada anak-anak. Setiap
keterampilan tersebut penting dalam bermain jauh melampaui kurikulum
prasekolah dan memiliki relevansi yang berlaku selama kehidupan.

IPC menawarkan pendekatan yang jelas dan kerangka kerja untuk instruksi
pelajaran emosi sosial yang terkandung dalam kurikulum. Kerangka untuk guru
pelajaran emosi sosial menunjukkan bahwa pelajaran ini harus ditawarkan secara
teratur dengan cara yang sesuai dengan tahapan perkembangan dan lingkungan
yang mendukung anak-anak di semua tingkat pemahaman. Kurikulum harus
mencapai hasil yang menjamin keselamatan siswa dan kesejahteraan sosial.
Agar siswa dapat mengembangkan sosialnya, ia harus bisa merasa nyaman jika
terpisah dari orang tuanya atau wali utama selama beberapa jam setiap hari. Hal
ini bertujuan agar siswa dapat berkomunikasi dengan orang lain dan memahami
pentingnya membahas isu-isu yang secara langsung mempengaruhi dia dengan
guru atau orang dewasa di sekolah.

3. Numericy
IPC menawarkan pendekatan yang jelas dan kerangka kerja untuk instruksi
pelajaran berhitung yang terkandung dalam kurikulum. Kerangka untuk guru
pelajaran berhitung menunjukkan bahwa pelajaran ini harus ditawarkan secara
teratur dengan cara sesuai dengan tahapan perkembangan dan lingkungan yang
mendukung anak-anak di semua tingkat pemahaman. IPC menghargai bahwa
orang tua memiliki berbagai pilihan dalam pra-sekolah, namun IPC dibedakan
sebagai kurikulum yang menyediakan kerangka kerja yang jelas untuk semua
bidang pembelajaran sebagai bagian dari kurikulum:
Kurikulum sepenuhnya diteliti dan dikaji meliputi pendekatan pengajaran
tradisional sementara merangkul metode pendidikan terbaru.
36

Pendekatan bilingual belajar dengan memastikan bahwa sekolah


menawarkan setidaknya satu bahasa kedua untuk mempromosikan
pembelajaran bilingual dan mengintegrasikan bahasa kedua di sekolah;
IPC adalah kurikulum pertama yang mendorong tradisi budaya lokal dan
mempromosikan internasionalisme sebagai tema seluruh ajarannya.
Kurikulum juga mencakup tema saat ini urusan seperti ekologi dan
konservasi;
IPC melibatkan guru dalam program pengembangan profesional, workshop
dan forum diskusi. Guru IPC dilatih untuk tingkat tertinggi dalam mengajar
dan profesionalisme;
Siswa akan dapat menghitung sampai 20 dengan mudah; mahasiswa tingkat
lanjut akan diajarkan bagaimana untuk menghitung sampai 100. Akan ada
pemahaman puluhan dan unit dan bagaimana cara menghitung puluhan. Konsep
kurang lebih akan dibahas secara rinci dan siswa akan dapat membedakan mana
dua digit nomor kurang lebih atau sama. Siswa akan dapat membuat estimasi
dasar. Akan ada pemahaman tentang denominasi uang. Siswa akan mampu
memecahkan sejumlah dasar penambahan dan pengurangan. Pola dan urutan
akan mudah diidentifikasi.
4. Creative Arts
Seni untuk pelajar awal memberikan perkembangan otot, koordinasi mata-
tangan, dan gerakan ketangkasan. Dengan kesempatan untuk praktek
kepercayaan mereka meningkat, dan aktivitas menyebabkan efek positif pada
keterampilan menulis di kelas. IPC menawarkan pendekatan yang jelas dan
kerangka kerja untuk instruksi kreatif pelajaran seni yang terkandung dalam
kurikulum. Kerangka untuk guru pelajaran seni kreatif menunjukkan bahwa
pelajaran ini harus ditawarkan secara teratur dengan cara sesuai dengan tahapan
perkembangan dan lingkungan yang mendukung anak-anak di semua tingkat
pemahaman.

Seni adalah bentuk penting dari ekspresi anak-anak muda untuk


mengembangkan, dan penelitian menunjukkan bahwa seni adalah konsumsi otak
yang melibatkan kognitif, sosial emosional, harga diri, dan aktivitas multi-
indera. IPC telah mengevaluasi apa diharapkan dilakukan untuk belajar di pra-
TK dan merancang kurva belajar yang sejalan beberapa keahlian untuk standar
37

yang diharapkan pada tahun pra-sekolah. Oleh karena itu, IPC memiliki
pandangan yang realistis pada pendekatan yang tepat untuk mengajar, dan
mempromosikan seni awal dan musik yang akan mempersiapkan anak-anak dan
mendorong bakat mereka untuk digunakan di seluruh sekolah mereka dan
kehidupan dewasa.

5. Science
IPC menawarkan pendekatan yang jelas dan kerangka kerja untuk instruksi
pelajaran teknologi yang terdapat dalam kurikulum. Kerangka untuk guru
pelajaran teknologi menunjukkan bahwa pelajaran ini harus ditawarkan secara
teratur dengan cara sesuai dengan tahapan perkembangan dan lingkungan yang
mendukung anak-anak di semua tingkat pemahaman.
Ketika digunakan secara tepat, teknologi dapat mendukung dan memperluas
belajar dengan cara yang berharga untuk meningkatkan kesempatan pendidikan
bagi anak-anak. Hal ini penting, namun untuk menemukan keseimbangan,
mengetahui bagaimana menyelaraskan elemen masa kanak-kanak yang sehat
dengan kemampuan unik yang ditawarkan oleh teknologi. Dengan
mengintegrasikan komputer ke dalam kurikulum IPC menemukan cara yang
efisien di mana untuk melaksanakan tujuan dan membantu guru di dalam kelas.

6. Motor Skills
Keterampilan motorik dibagi menjadi dua kategori, yaitu halus dan kasar,
sebagai daerah inti dari eksplorasi dan studi pada Pendidikan Anak Usia Dini
didasarkan pada kemampuan untuk mendorong dan mendukung pengembangan
gerak dan kontrol tubuh keterampilan pada anak-anak. Setiap keterampilan
kognitif penting yang disebut dalam bermain jauh melampaui kurikulum
prasekolah dan memiliki relevansi yang berlaku selama kehidupan. IPC
menawarkan pendekatan yang jelas dan kerangka kerja untuk instruksi
keterampilan motorik pelajaran yang terkandung dalam kurikulum. Kerangka
untuk guru pelajaran keterampilan motorik menunjukkan bahwa pelajaran ini
harus ditawarkan secara teratur dengan cara sesuai dengan tahapan
perkembangan dan lingkungan yang mendukung anak-anak di semua tingkat
pemahaman.
Keenam poin tersebut melibatkan peran orang tua untuk mengawasi dan
membantu menerapkannya ke dalam kehidupan sehari-hari.
38

2.3 State of The Art


Pedoman awal dalam meneliti menggunakan beberapa jurnal yang telah
diterbitkan yang berhubungan langsung dengan permasalahan yang dihadapi.

Tabel 7 Referensi Jurnal


Penulis Judul Jurnal Isi jurnal
Anthonius N. Tandal, I Arsitektur Berwawasan Jurnal ini berisi tentang bagaimana
Pingkan P.Egam Perilaku Perilaku dan Arsitektur saling
(2011), (Behaviorisme). berhubungan satu sama lain. Hal ini
terlihat dari aspek-aspek pembentuk
perilaku manusia akibat lingkungan
atau bentuk arsitektur dan
sebaliknya.
Dian Ariestadi (2010), Kajian dan Jurnal ini berisikan tentang
Pengembangan Standar bagaimana menerapkan standar
Bangunan Taman bangunan Taman Kanak-Kanak
Kanak-Kanak Sebagai untuk memaksimalkan peranan Pusat
Upaya Peningkatan Pendidikan Anak Usia Dini di
Mutu Pendidikan Anak Indonesia. Penulis memberikan
Usia Dini di Indonesia. penjabaran tentang standarisasi yang
digunakan dalam proses
perancangan.

Kate Bishop Designing learning Jurnal ini berisikan tentang pengaruh


environments for all dua karakteristik utama merancang
children: Variety andruang untuk anak-anak, baik ruang
richness bermain anak hingga ruang belajar
anak. Dalam jurnal ini, akan
dijelaskan pembentukan atmosfir,
penyediaan informasi, tempat
hiburan, edukasi, dan penghargaan
pada tingkatan kenyamanan yg baik
terhadap anak-anak.
Virginia Understanding Child Jurnal ini berisikan tentang tahap-
Growth and tahap perkembangan anak serta
Development karakteristik anak dalam proses
perkembangan dan pertumbuhannya.
Virginia menyampaikan bahwa ada
banyak hal yang dapat
mempengaruhi proses pertumbuhan
dan perkembangan anak, secara
positif dan negatif.
Nalina Moses Environmental Jurnal ini berisikan tentang psikologi
Psychology: Building lingkungan yang tidak terlepas dari
with Feeling displin ilmu desain, termasuk
perencanaan ruang, ergonomic,
pencahayaan, akustik, branding, dan
desain interior.
39

2.4 Kerangka Berpikir


Berdasarkan pembahasan pada bagian sebelumnya, maka dapat
disimpulkan dalam sebuah kerangka berpikir sebagai berikut :

JUDUL
PENERAPAN ARSITEKTUR BERWAWASAN PERILAKU PADA PUSAT PENDIDIKAN ANAK USIA
DINI DI JAKARTA
The Application of Architecture and Human Behavior Concept for Early Childhood Education Center in Jakarta

LATAR BELAKANG
Sarana Pendidikan Anak Usia Dini masih sangat dibutuhkan di Jakarta Barat karena jumlah PAUD dia Jakarta
Barat masih belum dapat memenuhi seluruh penduduk usia 0-6 tahun. Selain itu, untuk mengoptimalkan PAUD
perlu diperhatikan perilaku penggunanya.

RUMUSAN MASALAH DAN TUJUAN PENELITIAN


1. Bagaimana perancangan interior ruang yang sesuai dengan perilaku anak dalam masa perkembangannya?

2. Bagaimana merancang sebuah lingkup lingkungan pendidikan yang sesuai dengan standarisasi untuk Pusat
Pendidikan Anak Usia Dini?
TUJUAN PENELITIAN :
1. Mengetahui cara untuk merancang interior ruang PAUD dengan memperhatikan perilaku anak.
2. Membuat suatu lingkup lingkungan pendidikan untuk memenuhi kebutuhan dalam proses

RUANG LINGKUP
RUANG LINGKUP KAJIAN : menggunakan pendekatan aspek fungsional dengan memperhatikan beberapa pendekatan
lain, seperti pendekatan fisiologis, psikologis, pengguna ruang, organisasi pengguna dan kebutuhan ruang, dan
pendekatan kapasitas dan besaran ruang.
RUANG LINGKUP PENELITIAN : dibatasi pada jumlah penggunanya, aktivitas dan fasilitas yang dibutuhkan, foto
lapangan, pembagian ruang dan kebutuhan ruang, serta flow activity yang terjadi pada PAUD.

TEORI dan STUDI LITERATUR


Teori berupa teori tentang Arsitektur dan Perilaku Manusia, Pengertian dan Jenis PAUD, serta penjelasan
tentang standarisasi Pusat Pendidikan Anak Usia Dini.
Studi Literarur berupa referensi dari beberapa PAUD yang telah ada di beberapa lokasi yang dapat dijadikan
acuan dalam mendesain (lokasi tidak dapat dijangkau langsung)

STUDI KASUS OBSERVASI


Observasi dilakukan dengan metode pengambilan sampel yang
bertujuan untuk menguji dan membuktikan teori yang sudah ada.
Ladybird Preschool&Kindergarten Observasi dilakukan dengan memperhatikan perilaku anak dalam
proses kegiatannya.

ANALISA DATA
metode verifikasi dengan pengambilan sampel untuk menguji dan membuktikan teori yang telah diperoleh.

Setelah di verifikasi penulis melakukan reduksi data, yaitu menyeleksi data dengan memilih data yang penting sehingga
rangkuman inti dari penelitian tersebut tetap berada didalamnya dan hasil penelitian yang diteliti akan lebih fokus.

Menganalisa data yang sudah diperoleh yaitu dengan pertimbangan apakah sudah sesuai dengan tujuan penelitian yang

SKEMATIK DESAIN
1. Analisa Manusia PROSES
2. Analisa Bangunan PERANCANGAN
3. Analisa Lingkungan

KESIMPULAN
Berisikan kesimpulan dari proses analisa dan perancangan

Gambar 239
Kerangka Berpikir
40
41