Anda di halaman 1dari 19

1

TUGAS MAKALAH SELF DIRECTED LEARNING (SDL)

MATA KULIAH AGAMA ISLAM 2

KECERDASAN SPIRITUAL SEBAGAI KUNCI SUKSES MEMBERIKAN


LAYANAN KEPERAWATAN

OLEH:

TOTO SUJARWO

131511123067

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

SURABAYA

2016
2

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT atas segala rahmat dan hidayat-Nya, shalawat serta
salam semoga tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para
sahabatnya. Syukur Alhamdullilah, telah selesai tugas makalah SDL yang berjudul
Kecerdasan Spiritual (SQ) sebagai kunci sukses pemberian layanan keperawatan.
Dalam penyelesaian makalah ini kami ingin mengucapkan terima kasih yang tak
terhingga kepada dosen kami yakni Ibu Hj. Dr. Hanik E. N., S.Kep., M.Kep. yang
telah berbagi ilmu diwaktu waktu perkuliahan. Teman-teman seperjuangan angkatan
B18 yang selalu memberi inspirasi dan semangat untuk menempuh proses perkuliahan
dengan penuh suka cita.

Kami sangat menyadari, bahwa didalam makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itu kepada para pembaca yang budiman diharapkan memaklumi
adanya keberadaan penyusunlah yang masih banyak kekurangannya. Dalam kesempatan
ini pula kami mengharapkan kesediaan pembaca untuk memberikan saran yang bersifat
perbaikan, yang dapat menyempurnakan isi makalah ini dan dapat bermanfaat dimasa
yang akan datang. Akhir kata, semoga makalah ini dapat menambah wawasan, khususya
bagi kami dan umumnya bagi para pembaca yang budiman.

Surabaya, 10 Oktober 2016

Penulis
3

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR...............................................................................................2
DAFTAR ISI............................................................................................................3
BAB 1 PENDAHULUAN.......................................................................................4
1.1 Latar Belakang...............................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................5
1.2 Tujuan Penulisan............................................................................................6
1.2.1 Tujuan umum.....................................................................................2
1.2.2 Tujuan khusus....................................................................................2
BAB 2 TINJUAN PUSTAKA.................................................................................3
2.1 Konsep Kecerdasan Spiritual.........................................................................7
2.2 Konsep Implementasi Keperawatan.............................................................14
BAB 3 KESIMPULAN DAN SARAN.................................................................19
DAFTAR PUSTAKA
4

BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang

Kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan untuk menghadapi dan


memecahkan persoalan makna kehidupan, nilai-nilai, dan keutuhan diri yaitu
kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang
lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup
seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. Seseorang dapat menemukan
makna hidup dari bekerja, belajar dan bertanya, bahkan saat menghadapi masalah atau
penderitaan. Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan jiwa yang membantu
menyembuhkan dan membangun diri manusia secara utuh. Kecerdasan spiritual adalah
landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan, SQ
merupakan kecerdasan tertinggi (Zohar & Marshall, 2001).

Penerapan kecerdasan spiritual dalam konteks keperawatan , bertujuan


memberikan pelayanan keperawatan melebihi harapan klien dengan menggunakan
kaidah spiritual (Islam) berdasar Al-Quran dan Hadis dalam menerapkan ahlak pribadi
muslim, landasan kerja dan perilaku muslim serta penampilan dan ciri khas seorang
perawat muslim (Martono,2007). Hasil penelitian Maulana Pandu, (2010) Mayoritas
perawat Rumah Sakit Islam Surakarta mengalami kepuasan dalam bekerja. Namun
demikian kepuasan kerja yang terjadi pada perawat yang menerapkan keperawatan
islami belum dapat dijelaskan. Hal ini bisa berakibat pelayanan keperawatan banyak
berdasar pada aliran pemikiran positivism dan pragmatism yang disadari semakin
menjauhkan manusia dari nilai etika universal sehingga tugas keperawatan tidak
melahirkan suatu rasa cinta dan kasih sayang terhadap sesama makhluk Allah karena
hanya lahir dari motivasi untuk tujuan jangka pendek seperti sekedar melaksanakan
kewajiban, motif mencari upah (Ridwan, 2010). Kondisi tersebut mengakibatkan
kepuasan kerja perawat masih kurang, sedangkan kepuasan kerja yang dirasakan
perawat, diharapkan berdampak terhadap kualitas kinerja pelayanan keperawatan.
5

Ketidakpuasan kerja perawat tersebut berkaitan dengan faktor kebijakan dan imbalan
(Dewi Basmala,2004).

Asuhan Keperawatan menggunakan kecerdasan SQ yang diberikan secara


profesional oleh perawat dengan kaidah Islam memberi kesempatan Umat Islam di
negeri ini mendapatkan pelayanan atau asuhan keperawatan berkualitas sesuai dengan
keimanannya sebagai seorang muslim. Bagi perawat muslim pemahaman dan
pengamalan terhadap rukun iman dan Islam belumlah cukup dikategorikan dalam insan
yang sempurna dalam pengamalan agamanya, jika belum diikuti oleh perbuatan yang
ikhsan. Secara garis besar ikhsan ditetapan dalam hubungan dengan Tuhan, yang dapat
diartikan suatu pengakuan atau manifestasi tentang kesyukuran manusia atas nikmat
yang telah dilimpahkan Tuhan, berbuat baik menurut islam mempunyai lingkup yang
luas, tidak terbatas pada satu lingkungan, keturunan, ikatan keluarga, agama, suku,
bangsa, sehingga sifat ihsan itu humanistis dan universal, hanya satu ukuran sebagai
umat manusia (Harif Fadilah, 2006). Hal ini yang mendasari implementasi asuhan
keperawatan Islami selain berlandaskan pada keilmuan, karena Islam mementingkan
professionalisme, pengetahuan dan keterampilan. Perawat dalam memberikan
pelayanan keperawatan sebagai sebuah sistem, profesi perawat dengan segala
penguasaan ilmu pengetehuan, nilai iman dan islam yang dimiliki perawat merupakan
input. Pelaksanaan proses yang diiringi dengan rasa syukur atas nikmat karunia Allah
dan dimanifestasikan dalam sifat Ikhsan, yaitu rasa ikhlas dalam bekerja sebagai ibadah
dalam bentuk perilaku caring, profesional, ahlakul karimah dan kerjasama yang baik,
berdampak pada pelayanan keperawatan yang diberikan mampu menyentuh esensi
fitrah manusia. Kondisi demikian ini akan melahirkan rasa empati, pandai bersyukur
sehingga menghasilkan output kepuasan kerja perawat.

1.1 Rumusan Masalah


Bagaimanakah penerapan kecerdasan spiritual sebagai kunci sukses dalam
memberikan layanan keperawatan?

1.2 Tujuan Penulisan


1.3.1 Tujuan umum
6

Mahasiswa dapat mengetahui penerapan kecerdasan spiritual sebagai kunci


sukses dalam memberikan layanan keperawatan.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mampu menjelaskan kecerdasan.
2. Mahasiswa mampu menjelaskan kecerdasan spiritual.
3. Mahasiswa mampu menjelaskan implementasi keperawatan.
4. Mahasiswa mampu menjelaskan penerapan kecerdasan spiritual dalam
layanan keperawatan.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Kecerdasan Spiritual


7

2.1.1 Konsep Kecerdasan


Walters & Gardner (dalam Safaria, 2005) mendefinisikan bahwa kecerdasan
adalah sebagai suatu kemampuan atau serangkaian kemampuan-kemampuan yang
memungkinkan individu memecahkan masalah atau produk sebagai konsekuensi
eksistensi suatu budaya tertentu. Pernyataan yang senada juga disampaikan Wechsler
(1985 dalam Safaria, 2005) yang memandang kecerdasan sebagai suatu kumpulan atau
totalitas kemampuan individu untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berpikir secara
rasional, serta menghadapi lingkungannya dengan efektif. Alfred Binet (dalam Safaria,
2005) menyatakan bahwa kecerdasan merupakan kemampuan mengarahkan pikiran
maupun tindakan, kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila dituntut demikian,
dan kemampuan untuk mengkritik diri sendiri.

Sedangkan menurut Maramis (2006) kecerdasan adalah gambaran abstrak yang


disaring dari observasi perilaku dalam bermacam-macam keadaan atau suatu konstruksi
hipotesis dan hanya dapat diduga dari tanda-tanda perilaku. Sehingga bagaimanapun
juga, kecerdasan ada sangkut pautnya dengan kemampuan untuk menangkap hubungan
yang abstrak dan rumit, serta kemampuan memecahkan masalah dan belajar dari
pengalaman. Kemudian berkembanglah pemahaman tentang jenis-jenis kecerdasan yang
lain selain kecerdasan intelektual seperti kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual,
dan lain sebagainya. Pada umumnya kecerdasan dapat dilihat dari kesanggupan
seseorang dalam bersikap dan berbuat cepat dengan situasi yang sedang berubah,
dengan keadaan di luar dirinya yang biasa maupun yang baru. Jadi dengan kata lain
perbuatan cerdas dapat dicirikan dengan adanya kesanggupan bereaksi terhadap
berbagai situasi. Kecerdasan bekerja dalam suatu situasi yang berlainan tingkat
kesukarannya. Kecerdasan tidak bersifat statis tetapi kecerdasan manusia selalu
mengalami perkembangan. Berkembangnya kecerdasan sedikit banyak sejalan dengan
kematangan seseorang (Ahmadi, 2009). Gardner (dalam Saifullah, 2005) juga
berpendapat bahwa setiap manusia memiliki kemampuan mengembangkan
kecerdasannya sampai pada tingkat tinggi yang memadai apabila memperoleh cukup
dukungan, pengayaan, dan pembelajaran.
8

2.1.2 Konsep Spiritual

Spiritual berasal dari kata spirit. Spirit mengandung arti semangat atau sikap
yang mendasari tindakan manusia. Spirit sering juga diartikan sebagai ruh atau jiwa
yang merupakan sesuatu bentuk energi yang hidup dan nyata. Meskipun tidak kelihatan
oleh mata biasa dan tidak mempunyai badan fisik seperti manusia, spirit itu ada dan
hidup. Spirit bisa diajak berkomunikasi sama seperti kita bicara dengan manusia yang
lain. Interaksi dengan spirit yang hidup itulah sesungguhnya yang disebut spiritual. Oleh
karena itu spiritual berhubungan dengan ruh atau spirit. Spiritual mencakup nilai-nilai
yang melandasi kehidupan manusia seutuhnya, karena dalam spiritual ada kreativitas,
kemajuan, dan pertumbuhan (Widi, 2008).

Nilai-nilai spiritual yang umum mencakup antara lain kebenaran, kejujuran,


kesederhanaan, kepedulian, kerjasama, kebebasan, kedamaian, cinta, pengertian, amal
baik, tanggung jawab, tenggang rasa, integritas, rasa percaya, kebersihan hati,
kerendahan hati, kesetiaan, kecermatan, kemuliaan, keberanian, kesatuan, rasa syukur,
humor, ketekunan, kesabaran, keadilan, persamaan, keseimbangan, ikhlas, hikmah, dan
keteguhan (Suyanto, 2006).

Taylor (1997) menjelaskan spiritual adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan
hubungan seseorang dengan kehidupan nonmaterial atau kekuatan yang lebih tinggi.
Kemudian OBrien (1999 dalam Blais, 2007) mengatakan bahwa spiritual mencakup
cinta, welas asih , hubungan dengan Tuhan, dan keterkaitan antara tubuh, pikiran, dan
jiwa. Spiritual juga disebut sebagai keyakinan atau hubungan dengan kekuatan yang
lebih tinggi, kekuatan pencipta, Ilahiah, atau sumber energi yang tidak terbatas .

Menurut Notoatmodjo (2003) bahwa spiritual yang sehat tercermin dari cara
seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, atau penyembahan terhadap
Tuhan Yang Maha Kuasa serta perbuatan baik yang sesuai dengan norma-norma
masyarakat. Selanjutnya Burkhardt (1993 dalam Blais, 2007) menguraikan karakteristik
spiritual yang meliputi hubungan dengan diri sendiri, hubungan dengan alam, hubungan
dengan sesama, dan hubungan dengan Tuhan.

2.1.3. Kecerdasan Spiritual


9

Selama ini, yang namanya kecerdasan sering dikonotasikan dengan kecerdasan


intelektual atau yang lazim kita kenal dengan IQ (Intelligence Quotient). Namun pada
saat ini, anggapan bahwa kecerdasan manusia hanya tertumpu pada dimensi intelektual
saja sudah tidak relevan lagi. Selain kecerdasan intelektual, manusia juga masih
memiliki dimensi kecerdasan lainnya diantaranya adalah kecerdasan emosional (EQ)
dan kecerdasan spiritual (SQ) (Yosef, 2005). Potensi kecerdasan yang kini ramai
dibicarakan orang yakni kecerdasan spiritual (Saifullah, 2005).

Kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan untuk menghadapi dan


memecahkan persoalan makna kehidupan, nilai-nilai, dan keutuhan diri yaitu
kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang
lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup
seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. Seseorang dapat menemukan
makna hidup dari bekerja, belajar dan bertanya, bahkan saat menghadapi masalah atau
penderitaan. Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan jiwa yang membantu
menyembuhkan dan membangun diri manusia secara utuh. Kecerdasan spiritual adalah
landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan, SQ
merupakan kecerdasan tertinggi (Zohar & Marshall, 2001). Vaughan (1992 dalam
Safaria, 2007) menyatakan bahwa kecerdasan spiritual memungkinkan seseorang untuk
mengenali nilai sifat-sifat pada orang lain serta dalam dirinya sendiri. Sementara Sinetar
dan Khavari (dalam Suyanto, 2006) menjelaskan bahwa kecerdasan spiritual merupakan
pikiran yang mendapat inspirasi, dorongan, dan efektivitas yang terinspirasi dari
penghayatan ketuhanan dimana kita menjadi bagian di dalamnya. Kecerdasan spiritual
yang sejati merupakan kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan
makna dan nilai, tidak saja terhadap manusia, tetapi juga dihadapan Tuhan.

Menurut Khavari (dalam Saifullah, 2005) bahwa kecerdasan spiritual juga


merupakan fakultas dari dimensi nonmaterial manusia atau ruh manusia. Demikian pula
seperti yang dikemukakan oleh Muhammad Zuhri (dalam Yosef, 2005) bahwa
kecerdasan spiritual adalah kecerdasan manusia yang digunakan untuk berhubungan
dengan Tuhan. Asumsinya adalah jika seseorang hubungan dengan Tuhannya baik maka
bisa dipastikan hubungan dengan sesama manusia pun akan baik pula.
10

Pandangan lain yang senada juga dikemukakan Michael Levin (2000 dalam
Safaria, 2007) bahwa kecerdasan spiritual adalah sebuah perspektif yang artinya
mengarahkan cara berpikir kita menuju kepada hakekat terdalam kehidupan manusia,
yaitu penghambaan diri pada Sang Maha Suci dan Maha Meliputi. Kecerdasan spiritual
tertinggi hanya bisa dilihat jika individu telah mampu mewujudkannya dan terefleksi
dalam kehidupan sehari-harinya. Artinya sikap-sikap hidup individu mencerminkan
penghayatannya akan kebajikan dan kebijaksanaan yang mendalam, sesuai dengan jalan
suci menuju pada Sang Pencipta (Safaria, 2007). Kecerdasan spiritual adalah
kemampuan untuk memberi makna spiritual terhadap pemikiran, perilaku dan kegiatan,
serta mampu menyinergikan IQ, EQ, dan SQ secara komprehensif (Agustian, 2007).
Yang paling sempurna kecerdasan spiritual harus bersumber dari ajaran agama yang
dihayati sehingga seseorang yang beragama sekaligus akan menjadi orang yang
memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi (Ahmad, 2006).

Kecerdasan spiritual dapat ditingkatkan dengan berbagai cara yaitu dengan


merenungi keterkaitan antara segala sesuatu atau makna dibalik peristiwa yang dialami,
lebih bertanggung jawab terhadap segala tindakan, lebih menyadari akan diri sendiri,
lebih jujur pada diri sendiri, dan lebih berani (Zohar & Marshall, 2001). Sementara
Safaria (2007) mengatakan bahwa kecerdasan spiritual dapat dikembangkan dengan
terus senantiasa menanamkan kecenderungan Ilahiah atau Rabbaniyah (kecenderungan
yang positif) dan menekan kecenderungan Syaithaniyah (kecenderungan yang negatif),
karena jiwa manusia seperti dua sisi mata uang dimana yang satu cenderung kepada
kebajikan dan sisi yang lainnya cenderung kearah yang berlawanan.

Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan spiritual


adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap segala perilaku dan kegiatan
melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia yang
seutuhnya dan memiliki pola pemikiran yang integralistik serta didasari karena Tuhan.
Menurut Gunawan (2004) manusia dapat merasa memiliki makna dari berbagai hal,
agama (religi) mengarahkan manusia untuk mencari makna dengan pandangan yang
lebih jauh. Bermakna di hadapan Tuhan. Inilah makna sejati yang diarahkan oleh
agama, karena sumber makna selain Tuhan tidaklah kekal.
11

Sinetar (2001 dalam Safaria, 2007) menjelaskan beberapa karakteristik


seseorang yang memiliki potensi kecerdasan spiritual yang tinggi. Adapun karakteristik
tersebut antara lain adalah :

a. Memiliki kesadaran diri yang mendalam dan intuisi yang tajam. Ciri utama
munculnya kesadaran diri yang kuat pada seseorang adalah ia memiliki
kemampuan untuk memahami dirinya sendiri serta memahami emosi-emosinya
yang muncul, sehingga mampu berempati dengan apa yang terjadi pada orang
lain. Selain itu seseorang juga memiliki intuisi yang tajam sehingga ia memiliki
kemampuan untuk mengendalikan perilakunya sendiri. Disamping itu seseorang
juga memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan kemauan yang keras untuk
mencapai tujuannya serta memiliki keyakinan dan prinsip-prinsip hidup.

b. Memiliki pandangan yang luas terhadap dunia dan alam. Seseorang melihat
dirinya dan orang lain saling terkait, menyadari bahwa bagaimanapun kosmos
ini hidup dan bersinar sehingga seseorang dapat melihat bahwa alam adalah
sahabat manusia, muaranya ia memiliki perhatian yang mendalam terhadap alam
sekitarnya, dan mampu melihat bahwa alam raya ini diciptakan oleh zat yang
Maha Tinggi, yaitu Tuhan.

c. Memiliki moral yang tinggi dan kecenderungan merasa gembira. Seseorang


memiliki moral yang tinggi, mampu memahami nilai-nilai kasih sayang, cinta,
penghargaan kepada orang lain, senang berinteraksi, cenderung selalu merasa
gembira dan membuat orang lain gembira.

d. Memiliki pemahaman tentang tujuan hidupnya. Seseorang dapat merasakan


arah nasibnya, melihat berbagai kemungkinan, seperti cita-cita yang suci
diantara hal-hal yang biasa.

e. Memiliki keinginan untuk selalu menolong orang lain, menunjukkan rasa


kasih sayang terhadap orang lain, dan pada umumnya memiliki kecenderungan
untuk mementingkan kepentingan orang lain.
12

f. Memiliki pandangan pragmatis dan efesien tentang realitas. Seseorang


memiliki kemampuan untuk bertindak realistis, mampu melihat situasi sekitar,
dan mau perduli dengan kesulitan orang lain.

Menurut Robert A. Emmons (dalam Saifullah, 2005) menjelaskan lima karakteristik


orang yang cerdas secara spiritual yaitu :

a. Kemampuan untuk mentransendensikan yang fisik dan material. Seseorang


menyadari bahwa kehadiran dirinya di dunia merupakan anugerah dan kehendak
Tuhan dan menyadari bahwa Tuhan selalu hadir dalam kehidupannya.

b. Kemampuan untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak. Seseorang


menyadari bahwa ada dunia lain di luar dunia kesadaran yang ditemuinya sehari-
hari sehingga ia meyakini bahwa Tuhan pasti akan membantunya dalam
menyelesaikan setiap tantangan yang sedang dihadapinya. Dengan demikian, ia
terhubung dengan kesadaran kosmis di luar dirinya.

c. Kemampuan mensakralkan pengalaman sehari-hari. Ciri ketiga ini, terjadi


ketika kita meletakkan pekerjaan biasa dalam tujuan yang agung dan mulia.

d. Kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual buat


menyelesaikan masalah dan kemampuan untuk berbuat baik. Orang yang cerdas
secara spiritual, dalam memecahkan persoalan hidupnya selalu
menghubungkannya dengan kesadaran nilai yang lebih mulia daripada sekadar
menggenggam kalkulasi untung rugi yang bersifat materi.

e. Memiliki rasa kasih yang tinggi pada sesama makhluk Tuhan. Seseorang tidak
akan kehilangan pijakan kakinya di bumi realitas, hal ini ditunjukkan dengan
menebar kasih sayang pada sesama. Sedangkan menurut Zohar dan Marshal
(2001), karakteristik seseorang yang kecerdasan spiritualnya telah berkembang
dengan baik adalah seseorang yang memiliki kemampuan bersikap fleksibel
(adaptif secara spontan dan aktif), memiliki tingkat kesadaran yang tinggi (self
awareness), memiliki kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan
penderitaan; memiliki kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit,
13

memiliki kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai, selalu berusaha
untuk tidak menyebabkan kerugian bagi diri sendiri, orang lain dan alam sekitar;
berpandangan holistik dalam menghadapi suatu permasalahan hidup,
kecenderungan untuk bertanya mengapa dan bagaimana jika untuk mencari
jawaban yang mendasar, serta memiliki kemudahan untuk bekerja melawan
konvensi.

Masih menurut Zohar & Marshal (2001), ada tiga sebab yang membuat
seseorang dapat terhambat secara spiritual, yaitu tidak mengembangkan beberapa
bagian dari dirinya sendiri sama sekali, telah mengembangkan beberapa bagian namun
tidak proporsional, dan bertentangannya atau buruknya hubungan antara bagian-bagian.

2.1.4. Pengukuran Kecerdasan Spiritual

Pengukuran kecerdasan spiritual mengungkap berbagai aspek yang mengacu


pada teori Emmons (dalam Saifullah, 2005) yang menjelaskan bahwa karakteristik
orang yang cerdas secara spiritual adalah yang memiliki kemampuan untuk
mentransendensikan yang fisik dan material, kemampuan untuk mengalami tingkatan
kesadaran yang memuncak, kemampuan untuk mensakralkan pengalaman sehari-hari,
kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual buat menyelesaikan masalah
dan kemampuan berbuat baik, serta memiliki rasa kasih yang tinggi pada sesama
makhluk Tuhan.

2.2 Konsep Implementasi Kecerdasan SQ dalam Keperawatan

Penerapan kecerdasan spiritual dalam konteks keperawatan, bertujuan


memberikan pelayanan keperawatan melebihi harapan klien dengan menggunakan
kaidah spiritual (Islam) berdasar Al-Quran dan Hadis dalam menerapkan ahlak pribadi
muslim, landasan kerja dan perilaku muslim serta penampilan dan ciri khas seorang
perawat muslim (Martono,2007). Hasil penelitian Maulana Pandu, (2010) Mayoritas
perawat Rumah Sakit Islam Surakarta mengalami kepuasan dalam bekerja. Namun
demikian kepuasan kerja yang terjadi pada perawat yang menerapkan keperawatan
islami belum dapat dijelaskan. Hal ini bisa berakibat pelayanan keperawatan banyak
berdasar pada aliran pemikiran positivism dan pragmatism yang disadari semakin
14

menjauhkan manusia dari nilai etika universal sehingga tugas keperawatan tidak
melahirkan suatu rasa cinta dan kasih sayang terhadap sesama makhluk Allah karena
hanya lahir dari motivasi untuk tujuan jangka pendek seperti sekedar melaksanakan
kewajiban, motif mencari upah (Ridwan, 2010). Kondisi tersebut mengakibatkan
kepuasan kerja perawat masih kurang, sedangkan kepuasan kerja yang dirasakan
perawat, diharapkan berdampak terhadap kualitas kinerja pelayanan keperawatan.
Ketidakpuasan kerja perawat tersebut berkaitan dengan faktor kebijakan dan imbalan
(Dewi Basmala,2004).

Perusahaan jasa seperti rumah sakit peran sumber daya manusia sangat
diperlukan karena ia berhubungan langsung dengan kepuasan yang akan dirasakan
pasien rumah sakit tersebut (Novadilastri, 2004) dan (Fatati, 2005). Kepuasan kerja
perawat sangat menentukan kepuasan pasien karena perawat yang mengalami kepuasan
dalam pekerjaan akan menunjukkan perilaku dan aktivitas yang citizenship seperti
menolong sesama pekerja, menolong pasien dan lebih kooperatif (Moorman (1993)
dalam Luthans (1995). Pendapat ini didukung oleh Syptak, Masrland dan Ulmer (1999)
yang menyatakan terdapat korelasi langsung antara kepuasan perawat dengan kepuasan
pasien. Menurut Robbins (2003) sikap karyawan yang positif dapat ditunjukkan karena
karyawan memiliki tingkat kepuasan kerja, sedangkan karyawan yang tidak puas
dengan pekerjaan akan menunjukkan sikap yang negatif terhadap pekerjaan. Tingkat
kepuasan kerja yang rendah bisa berakibat pada tingkat absensi, keterlambatan masuk
kerja, pulang sebelum waktunya, tidak bekerja dengan baik sehingga terdapat keluhan
dari pengguna jasa yang dilakukan melalui kotak saran, media masa, ataupun protes
pasien secara langsung yang ditujukan kepada tenaga keperawatan. Perawat salah satu
Rumah Sakitdi Bojonegoro sejumlah 117, tercatat 15 orang atau 14% mengundurkan
diri, yang sebagian besar pindah kerja ke rumah sakit pemerintah sebagai CPNS dalam
tiga tahun terakhir. Hal ini terjadi karena perawat masih menggunakan pemikiran
pragmatism, bahwa bekerja hanya untuk mencari upah.Visi Rumah Sakit untuk menjadi
Rumah Sakit yang Profesional, Islami dan menjadi pilihan masyarakat bisa tidak
terwujud, bila kepuasan kerja perawat masih kurang.

2.2 Konsep Penerapan SQ dalam Pelayanan Keperawatan Islami


15

Penerapan kecerdasan SQ tidak lepas dari penerapan Keperawatan Islami yang


berlandaskan pada Iman, Islam dan Ikhsan. Jika rukun Iman kita ibaratkan sebagai
pondasi dan rukun Islam sebagai bangunannya, maka ikhsanul amal merupakan
atapnya. Konsekuensi Ikhsan adalah bahwa perbuatan baik yang berkualitas akan
melahirkan dampak berupa keuntungan kepada siapa saja yang melakukan termasuk
bagi perawat dalam melakukan asuhan keperawatan dan bukan keuntungan yang
bersifat segera tetapi ada landasan spiritual (Harif Fadilah, 2006). Dampak Perbuatan
Ikhsan dalam asuhan keperawatan akan melahirkan : Niat yang Ikhlas, bahwa segala
sesuatu diniatkan hanyalah kepada Allah semata, sehingga dengan keikhlasan yang
bersih hanya kepada Allah akan memberikan barier (benteng) bagi pekerjaan kita agar
tetap konsisten dalam garis yang ditetapkan agama dan profesi. Pekerjaan yang rapi,
senantiasa berorientasi kepada kualitas yang tinggi karena merasakan segala sesuatu
berada dalam pengawasan Allah SWT. Penyelesaian hasil yang baik, artinya setelah
berbuat maksimal atas segala aktivitas, maka secara sunatullah melahirkan pekerjaan
yang baik atau memiliki kualitas yang tinggi. Ikhsan dalam melaksanakan asuhan
keperawatan bisa menimbulkan komunikasi terapeutik antara perawat dan pasien yang
bisa meningkatkan kualitas mutu pelayanan keperawatan yang berdampak pada
kepuasan pasien dan kepuasan perawat.

Asuhan Keperawatan menggunakan kecerdasan SQ yang diberikan secara


profesional oleh perawat dengan kaidah Islam memberi kesempatan Umat Islam di
negeri ini mendapatkan pelayanan atau asuhan keperawatan berkualitas sesuai dengan
keimanannya sebagai seorang muslim. Bagi perawat muslim pemahaman dan
pengamalan terhadap rukun iman dan Islam belumlah cukup dikategorikan dalam insan
yang sempurna dalam pengamalan agamanya, jika belum diikuti oleh perbuatan yang
ikhsan. Secara garis besar ikhsan ditetapan dalam hubungan dengan Tuhan, yang dapat
diartikan suatu pengakuan atau manifestasi tentang kesyukuran manusia atas nikmat
yang telah dilimpahkan Tuhan, berbuat baik menurut islam mempunyai lingkup yang
luas, tidak terbatas pada satu lingkungan, keturunan, ikatan keluarga, agama, suku,
bangsa, sehingga sifat ihsan itu humanistis dan universal, hanya satu ukuran sebagai
umat manusia (Harif Fadilah, 2006). Hal ini yang mendasari implementasi asuhan
16

keperawatan Islami selain berlandaskan pada keilmuan, karena Islam mementingkan


professionalisme, pengetahuan dan keterampilan. Perawat dalam memberikan
pelayanan keperawatan sebagai sebuah sistem, profesi perawat dengan segala
penguasaan ilmu pengetehuan, nilai iman dan islam yang dimiliki perawat merupakan
input. Pelaksanaan proses yang diiringi dengan rasa syukur atas nikmat karunia Allah
dan dimanifestasikan dalam sifat Ikhsan, yaitu rasa ikhlas dalam bekerja sebagai ibadah
dalam bentuk perilaku caring, profesional, ahlakul karimah dan kerjasama yang baik,
berdampak pada pelayanan keperawatan yang diberikan mampu menyentuh esensi
fitrah manusia. Kondisi demikian ini akan melahirkan rasa empati, pandai bersyukur
sehingga menghasilkan output kepuasan kerja perawat.

Pengertian sederhana tentang pelayanan kesehatan yang Islami adalah segala


bentuk kegiatan dan asuhan keperawatan yang dibingkai dengan kaidah-kaidah Islam.
Islam telah mengajarkan praktek hubungan sosial dan kepedulian terhadap sesama
dalam suatu ajaran khusus, yakni akhlaq, yang diamalkan/dipraktekkan harus
mengandung unsur aqidah dan syariah. Praktek pelayanan kesehatan di rumah sakit
merupakan bagian kecil dari pelajaran dan pengalaman akhlaq. Karena dan asuhan
keperawatan merupakan bagian dari akhlaq, maka seorang muslim yang menjalankan
fungsi khalifah harus mampu berjalan seiring dengan fungsi manusia sebagai hamba
Allah sehingga dengan demikian melaksanakan pelayanan kesehatan adalah bagian dari
ibadah. Dengan demikian paradigma pelayanan kesehatan Islam memiliki komponen
utama, yaitu; manusia-kemanusiaan, lingkungan, sehat-kesehatan, medis dan
keperawatan.

Islam telah mengajarkan tentang pelayanan kesehatan yang memberikan


pelayanan komprehensif baik bio-psiko-sosio-kultural maupun spritual yang ditujukan
kepada individu maupun masyarakat.

Kegiatan keperawatan dalam Islam merupakan manifestasi dari fungsi manusia


sebagai khalifah dan hamba Allah dalam melaksanakan kemanusiaannya, menolong
manusia lain yang mempunyai masalah kesehatan dan memenuhi kebutuhan dasarnya
baik aktual maupun potensial. Permasalahan klien (pasien) dengan segala keunikannya
17

tersebut harus dihadapi dengan pendekatan silaturrahmi (interpersonal) dengan sebaik-


baiknya didasari dengan iman, ilmu dan amal. Untuk dapat memberikan dan asuhan
keperawatan kepada pasien, perawat dituntut memiliki ketrampilan intelektual,
interpersonal, tehnikal serta memiliki kemampuan berdakwah amar maruf nahi
mungkar.
Melaksanakan pelayanan kesehatan profesional yang Islami terhadap individu,
keluarga, kelompok maupun masyarakat dengan berpedoman kepada kaidah-kaidah
Islam, medik dan keperawatan yang mencakup: (1) menerapkan konsep, teori dan
prinsip dalam keilmuan yang terkait dengan dan asuhan keperawatan dengan
mengutamakan pedoman pada Al-Quran dan Hadits, (2) melaksanakan dan asuhan
keperawatan dengan menggunakan pendekatan Islami melalui kegiatan kegiatan
pengkajian yang berdasarkan bukti (evidence-based healthcare), (3)
mempertanggungjawabkan atas segala tindakan dan perbuatan yang berdasarkan bukti
(evidence-based healthcare), (4) berlaku jujur, ikhlas dalam memberikan pertolongan
kepada pasien baik secara individu, keluarga, kelompok maupun masyarakat dan
semata-mata mengharapkan ridho Allah, (5) bekerjasama dengan tenaga kesehatan
lainnya untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan menyelesaikan masalah
pelayanan kesehatan yang berorientasi pada dan asuhan keperawatan yang berdasarkan
bukti (evidence-based healthcare).
Praktek pelaksanaan evidence-based healthcare adalah integrasi kemampuan
klinis individual dengan bukti klinis eksternal yang terbaik dan yang tersedia dari
penelitian klinis yang sistematis (akurasi dan presisi tes diagnostik, kekuatan tanda-
tanda prognosis, kemangkusan serta keamanan terapi, rehabilitasi dan tindakan
prevensi).

2.3 Konsep SQ dalam Membangun Lingkungan Keperawatan Islami


Lingkungan keperawatan yang Islami di rumahsakit Islam tentu akan terlihat
adanya suasana keagamaan (ada mesjid, shalat jama'ah, hiasan-hiasan dinding yang ada
kaitannya kesehatan dan Islam), kenyamanan, kebersihan, ketenangan, kesejukan,
ketertiban, disiplin, mudah mendapatkan informasi, cepat mendapatkan pelayanan dan
keramah-tamahan seluruh karyawan yang bekerja di rumahsakit.
18

Kalau kita pelajari dan hayati satu persatu segala aspek pelayanan kesehatan,
syarat-syarat dan sifat-sifat yang dipunyai oleh individu yang terlibat dalam pelayanan
kesehatan, lingkungan yang Islami dan manajemen rumahsakit Islam, dapat dipastikan
pelayanan prima akan dapat diwujudkan di rumahsakit-rumahsakit Islam, sehingga
pasien-pasien, kelompok-kelompok dan masyarakat yang berobat di rumahsakit Islam
akan mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan baik selama dirawat di rumahsakit
maupun setelah pulang dari rumahsakit.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan untuk menghadapi dan
memecahkan persoalan makna kehidupan, nilai-nilai, dan keutuhan diri yaitu
kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang
lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup
seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.
Penerapan kecerdasan spiritual dalam konteks keperawatan, bertujuan
memberikan pelayanan keperawatan melebihi harapan klien dengan menggunakan
19

kaidah spiritual (Islam) berdasar Al-Quran dan Hadis dalam menerapkan ahlak pribadi
muslim, landasan kerja dan perilaku muslim serta penampilan dan ciri khas seorang
perawat muslim
3.2 Saran
Perawata hendaknya mengoptimalkan SQ sebagai kunci sukses peberian layanan
keperawatan, karena permasalahan klien (pasien) dengan segala keunikannya tersebut
harus dihadapi dengan pendekatan silaturrahmi (interpersonal) dengan sebaik-baiknya
didasari dengan iman, ilmu dan amal. Untuk dapat memberikan dan asuhan
keperawatan kepada pasien, perawat dituntut memiliki ketrampilan intelektual,
interpersonal, tehnikal serta memiliki kemampuan berdakwah amar maruf nahi
mungkar.

DAFTAR PUSTAKA

Al Quranul-Karim
Asmadi. 2008. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: EGC.
Ginanjar, Ary.2002. The ESQ Ways 165;Emosional Spiritual Quotients Jilid 1. Jakarta:
ESQ Leadership Center
Fanani, S. 2010. Lembar Kerja Mahasiswa: Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan
Tinggi I. Surabaya: Al Maktabah.
Imam An-Nawawi._____. Hadits Arbain An-nawawiyyah
Tsabit, M. W. 2009. I tibar Kesejukan Hati Kemuliaan Pribadi Terhadap Qadha Ilahi.
Jakarta: Dar-Al Muqaththan.
Wahyudin, 2009. Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Grasindo.

Anda mungkin juga menyukai