Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH

SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM


Peristiwa Perang Uhud

DISUSUN OLEH
NURUL HIDAYAH
KELAS :
X IPA 1

MADRASAH ALIYAH NEGERI SELAT


KUALA KAPUAS
TAHUN PELAJARAN 2016/2017
Peristiwa Perang Uhud

Perang Uhud adalah perang kedua setelah perang Badar yang dimenangkan oleh kaum Muslim.
Dengan banyaknya tokoh Quraisy yang meninggal dalam perang Badar mengakibatkan
tersulutnya dendam dari kaum Quraisy terhadap kaum muslim. Perang Uhud terjadi pada tahun
ke-3 H. Pertempuran ini terjadi di Madinah. Selain adanya dendam dari kaum Quraisy terhadap
kaum Muslim, ada banyak hal yang menyebabkan terpecahnya peperangan ini. Diantaranya
adalah hasrat kaum Quraisy untuk menghancurkan islam dan membunuh Rasulullah SAW.
Kedua, adanya provokasi dari Kaab ibn Asyraf, seorang Yahudi yang menghasut para pemimpin
Quraisy untuk menyerang umat islam di Madinah. Dan yang terakhir adalah agar terbuka
kembali jalur perdagangan bagi kaum Quraisy menuju Syam yang harus melalui kota Madinah.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya Perang Uhud terjadi di Madinah, lebih tepatnya perang
Uhud terjadi di dekat gunung Uhud. bukit ini terletak di sebelah utara Madinah dengan jarak 5,5
km dari Masjid Nabawi. Dari sinilah sejarah kemudian mencatat peperangan itu terjadi didekat
bukit Uhud itu dinamakan sebagai Perang Uhud.

Dalam peperangan ini kaum Quraisy tercatat beranggotakan 3000 tentara, 700 invantri, dan 200
ekor kuda. Selain itu juga diikutsertakan beberapa kaum wanita dalam angkatan perang ini kira
kira berjumlah 15 orang. Sedangkan pasukan kaum muslim hanya terdiri atas 1000 tentara pada
awalnya yang kemudian karena suatu hal menjadi sejumlah 700 tentara. Peperangan ini dipimpin
oleh Abu Sofyan dalam kubu kaum Quraisy sedangkan kaum Muslim sendiri dipimpin oleh
Rasulullah.

Setelah merasa memiliki kekuatan yang cukup dan tentara dengan jumlah besar, kau Quraisy
mulai berangkat menuju Madinah. Namun hal itu diketahui oleh Nabi secara mendadak, yang
kemudian dikumpulkannyalah beberapa perwira perwira, para sahabat, dan orang orang
berpengalaman lainnya untuk bermusyawarah menyusun strategi untuk menghadapi lawan. Turut
hadir pula Abdullah bin Ubai, salah soeorang munafik dari Madinah. Yang menyarankan untuk
melakukan strategi bertahan.

Pada awalnya kaum muslim sudah akan memenangkan pertempuran tersebut, namun
dikarenakan ada diantara mereka tergoda oleh Ghonimah dan wanita kaum Quraisy maka
pertahanan mereka pun menjadi lemah. Itulah salah satu penyebab kalahnya kaum Muslim
terhadap kaum Quraisy.

A. Pecahnya Perang Uhud

1. Persiapan Perang Uhud


Pemimpin kaum Quraisy segera mempersiapkan banyak pasukannya untuk melawan Nabi
Muhammad SAW dan pasukan kaum muslim kembali setelah kalah dalam perang Badar. Dalam
perang kali ini pasukan Quraisy menyiapkan sejumlah 3000 tentara, diantaranya terdapat 200
pasukan berkuda dengan persenjataan lengkap dan pasukan berkendaraan unta serta memakai
baju besi. Pasukan perang kaum Quraisy dipimpin oleh Abu Sufyan. Budak budak Quraisy
disuruh oleh majikannya masing masing untuk ikut serta menjadi anggota pasukan perang yang
dipimpin oleh Abu Amir ar-Rahib. Kaum wanita juga diikutsertakan untuk menyulut api
peperangan, diantaranya adalah Hindun (istri Abu Sofyan). Ummu Hakim (Istri Ikhrimah),
Barzah binti Munabbih (Istri Amr bin Asb), dengan Himdun sebagai pemimpinnya. Dalam hal
ini Hindun memiliki seorang budak bernama Wahsyi. Disini Washyi diperintahkan untuk
membunuh Hamzah (paman Nabi Muhammad SAW). Dengan imbalan apabila dia berhasil akan
diberi hak kemerdekaan. Mengapa Hindun menyuruh Washyi membunuh Hamzah, dikarenakan
sebuah dendam karena Hamzah telah membunuh Utbah (ayah Hindun) pada saat perang Badar
(Moenawar Chalil, 2011: 101).

Sementara itu kaum muslim di Madinah tidak sedikitpun mengetahui persiapan yang dilakukan
oleh kaum Quraisy. Nabi Muhamad baru menerima berita tersebut tiga hari sebelum pasukan
Quraisy Mekkah tiba di Uhud. Nabi mendengar berita tersebut dari pamannya yang memeluk
islam namun masih tinggal di Mekkah pada saat itu. Setelah menerima berita tersebut, Nabi
segera mengirim beberapa utusan mata mata yaitu Anas, Munis, dan Hubab untuk mencari
informasi tentang pasukan Quraisy Mekkah. Akhirnya diperoleh informasi bahwa pasukan
Quraisy sudah berada didekat Uhud. Pada hari Jumat 13 Syawal 3 H, Nabi Muhammad SAW,
Nabi mengadakan musyawarah untuk membahas situasi tersebut dengan para sahabat. Sejumlah
sahabat sebaiknya tetap tinggal di Madinah. Nabi Muhammad SAW setuju untuk bertahan di
Madinah karena Madinah dikelilingi oleh gunung gunung dan bukit yang dapat dijadikan
sebagai benteng pertahanan sehingga kaum Quraisy akan mengalami kesulitan dalam melakukan
penyerangan terhadap kota Madinah. Akan tetapi sejumlah pemuda tidak setuju dengan pendapat
tersebut, mereka berpendapat untuk pergi keluar kota Madinah dan mengadakan perang terbuka
dengan Quraisy. Adanya desakan dari kelompok pemuda tersebut membuat Nabi Muhammad
SAW berubah pendirian dan mengikuti pendapat para pemuda untuk mengikuti perang terbuka
dengan Quraisy. Setelah memperoleh keputusan Nabi Muhammad SAW segera mengenakan baju
perang dengan senjata lengka. Setelah selesai solat Jumat, NAbi Muhammad SAW bergerak
menuju bukit Uhud dengan memimpin 1000 pasukan untuk menghadapi 3000 pasukan tentara
Quraisy yang bersenjata lengkap dan yang telah merusak tanaman dan padang rumput kaum
muslimin. Pasukan Nabi Muhammad SAW bermalam tidak jauh dari kota Madinah, agar
esoknya dapat melanjutkan kembali perjalanan menuju bukit Uhud. Di tengah perjalanan menuju
Uhud, pasukan munafik yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay melakukan desersi (membelot)
dengan membawa 300 pasukan, sehingga pasukan Nabi yangsemula berjumlah 1000 pasukan
menjadi 700 pasukan saja. Hal itu membuat geram kaum muslimin yang menyaksikan pada
waktu itu. Menyikapi sikap orang orang munafik tersebut kaum muslim terpecah menjadi dua
kelompok. Kelompok yang pertama berpendapat bahwa orang orang munafik tersebut harus
diperangi dan dibunuh karena merekamemang pantas untuk dibunuh. Sedangkan kelompok
kedua yang mayoritas dipimpin oleh Nabi Muhammad memilih untuk tidak memerangi dan
membunuh kaum munafik itu. Sikap Nabi tersebut merupakan sikap yang bijaksana, cerdas, dan
visioner karena sangatlah tidak mungkin untuk memerangi kaum munafik tersebut ditengah
kondisi yang kritis, selain itu hal itu juga tidak memberi keuntungan kaum muslim sendiri.
2. Jalannya Perang Uhud

Setelah menghadapi persoalan penarikan diri AbdulllahbinUbay dan kaum munafik. Nabi
Muhammad beserta pasukan muslimin melanjutkan perjalanan menuju Uhud. Nabi Muhammad
SAW meminta ditunjukan suatu jalan yang tidak dilalui oleh kaum Quraisy. Khaistamah
menunjukan jalan yang dekat dan yang dikehendaki oleh Nabi Muhammad SAW. Setelah
perjalanan dilanjutkan tibalah rombongan Nabi disebuah jalan kecil milik Marba bin Qaizhi
yang buta matanya. Ketika Nabi Muhammad SAW berjalan didepan rumah Marba bin Qaizhi,
tiba tiba Marba bin Qaizhi menaburkan debu kearah muka Nabi sambil berkata, Kalau
engkau itu pesuruh Allah, aku tidak akan menghalalkan kau jalan di jalanku ini. Dengan cepat
Saad bin Zaid memukul Marba hingga terluka parah.sahabat sahabat Nabi Muhammad SAW
hendak membunuh Marba bin Qaizhi, tetapi Nabi Muhammad SAW mencegahnya (Moenawar
Chalil, 2001: 110).

Perjalanan kemudian dilanjutkan hingga sampailah kaum muslimin di suatu tempat di bawah
kaki Gunung Uhud. di sinilah Nabi Muhammad beserta pasukannya berhenti karena melihat
tentara musuh sudah beramai ramai menduduki tempat tempat dekat Gunung Uhud. Pasukan
kaum Quraisy memiliki pasukan empat kali lipat dari pasukan muslim. Selain itu pasukan musuh
juga memiliki persenjataan yang lebih lengkap, selain itu juga sebagian kaum Quraisy telah
meiliki keahlian dalam berperang. Nabi Muhammad SAW segera mengumpulkan para tentaranya
lalu memilih dan menduduki tempat yang cukup strategis letaknya. Akan tetapi, karena sebaian
tempat tersebut udah dikuasai oleh kaum Quraisy, jadi tempat yang diduduki oleh Nabi
Muhammad SAW adalah tempat yang dibelakangnya terdapat suatu jalan yang terbuka yang
dapat dipergunakan oleh musuh untuk menyerang pasukan Muslimin dari arah belakang.
Walaupun demikian, sebagai seorang pemimpin yang bijaksana. Nabi Muhammad tetap
menempatkan pasukan yang memiliki keahlian memanah dalam tempat tersebut sejumlah 50
orang pemanah yang dipimpin oleh Abdullah bin Jubair. Sedangkan kaum Quraisy menempatkan
pasukannya pada sayap kanan ditempatkan berupa pasukan berkuda yang dipimpin oleh Khalid
bin Walid, sayap kiri barisan berkuda yang dipimpin oleh Ikhrimah bin Abu Jahal, dan barisan
tengah dipimpin oleh Shafwan bin Umayyah beserta pahlawan Quraisy lainnya. Semuanya telah
bersiap- siap di tempat tempat yang tidak mudah ditempuh oleh tentara kaum Muslim. Bendera
perang kaum Quraisy dipegang oleh Abu Thalhah (Menawar Chalil, 2001: 111).
Nabi Muhammad juga mulai mengatur barisan pasukan muslim. Nabi Muhammad SAW
menempatkan Abu Bakar ash-Shidiq, Umar bin Khatab, Ali bin Abu Thalib, Zubair bin Awwam,
Abu Dujanah Sammak bin Kharsyah, Thalhah bin Ubaidillah, Saad bin Ubadah, Usaid bin
Hudhair, dan Habbab bin al-Mundzir dibarisan pertama. Kemudian Nabi Muhammad SAW
menginstruksikan kepada pasukan Muslimin yang telah berada pada posisi mereka masing
masing agar tidak melakukan peperangan sebelum Nabi Muhammad SAW mengijinkan mereka
untuk berperang dan memerintahkan pasukan pemanah agar tidak meninggalkan posisi mereka
dalam kondisi apapun (Abu FAris, 1998: 229). Berkaitan dengan penempatan posisi pasukan
Muslimin dan perintah Nabi kepada pasukan pemanah,telah dijelaskan di dalam Tafsir Al
Azhar Q.S Ali Imran ayat 121 (Hamka, 1983: 95).

Setelah kedua pasukan saling berhadapan dan siap bertempur, dimulailah dengan perang tanding.
Abu Thalhah al-Abdari keluar dengan membawa panji kaum Quraisy lalu menantang perang
tanding beberapa kali tetapi tidak seorang pun pasukan dari kaum Muslimin yang berani maju
untuk melawannya. Kemudian Abu Talhah berkata kepada pasukan Muslimin:
Wahai para sahabat Muhammad, kalian mengaku bahwa Allah akan menyegerakan kami
dengan pedang kalian ke neraka dan menyegerakan kalian dengan pedang kami kesurga, tetapi
adakah diantara kalian seorang yang mampu menyegerakan aku dengan pedangnya ke neraka
atau aku aka menyegerakannya dengan pedangku kesurga. Kalian dusta demi Lata dan Uzza,
seandainya kalian mengetahui hal itu benar niscaya ada orang yang keluar menyambutku (Abu
Faris, 1988: 233).

Setelah mendengar perkataan tersebut, akhirnya Ali Bin Abi Thalib maju ke medan pertempuran
kemudian berhasil memukul Abu Thalhah hingga patah kakinya dan tergeletak di tanah.
Kemudian Ali bin Abu Thalib mundur kembali kebarisan Nabi Muhammad. Setelah Abu Thalah
tewas tewas, pemegang panji perang dipegang oleh saudaranya, Utsman bin Abu Thalhah yang
akan berhadapan dengan Hamzah, dan berhasil dibunuhnya. Setelah Utsman bi Abu Thalhah
tewas, panji kemudian diambil oleh saudaranya Abu Said bin Abu Thalhah yang berjadapan
dengan Saad bin Abi Waqash, dan berhasil dibunuhnya juga dengan panahan. Selanjutnya panji
perang diambil oleh Musafi bin Thalhah bin Abu Thalhah dan berhasil dibunuh oleh Ashim bin
Tsabit bin Abu Alfah. Setelah Musafi tewas, panji kemudian diambil alih oleh Abdu Dar yang
behasil dibunuh oleh Ali bin Abi Thalib. Hingga akhirnya panji tergeletak kotor di tanah hingga
diambil alih oleh Amrah binti Alqamah al-Haritsiyah lalu mengangkatnya kepada pasukan
Quraisy dan mereka mengerumuninya. Demikianlah para pahlawan kaum Muslimin berhasil
menumbangkan para tokoh dan pembawa panji Quraisy dan tidak ada lagi yang sanggup
membawa panji tersebut hingga dipungut oleh seorang wanita. Setelah para pembawa panji
tersebut terbunuh kemudian kaum Quraisy terpecah belah, semangat mereka merosot dan
kekuatan mereka pun hancur. Hal tesebut menunjukan kepiawaian Nabi Muhammad SAW dalam
bidang militer karena mampu melemahkan kemampuan perang pasukan Quraisy sehingga
mendesak pasukan Quraisy mundur dan lai meninggalkan harta dan wanita-wanita Quraisy (Abu
Faris, 1998: 233-234).
Para pemanah yang menyaksikan hal tersebut dari atas bukit mereka mengira bahwa
pertempuran sudah usai. Mereka bergegas mengumpulkan harta yang ditinggalkan oleh kaum
Quraisy. Menyaksikan hal tersebut Abdullah bij Jubair mengingatkan akan perintah Nabi agar
tidak meninggalkan bukit dalam kondisi apapun. Sebagaian kecil pasukan mentaati perintah
Nabi, namun sebagian pasukan yang berjumlah kira kira 40 orang mengabaikan perintah Nabi
Muhammad SAW.
Tentara berkuda dari sayap kanan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid menyaksikan jelas
bahwa sebagian besar pasukan pemanah Musliminyang berjaga dibukit Uhud sudah meniggalkan
posisi. Oleh karena itu secara diam diam Khalid binWalid mengarahkan pasukannya untuk
menyerang kaum Muslimin yang sedang sibuk mengumpulkan harta rampasan. Pasukan muslim
yan dikejutkan oleh serangkaian serangan pedang dananak panah dari arah belakang membuat
terbunuhnya sebagian dari mereka. Serangan secara mendadak itu membuat kaum muslimin
terguncang dan ketakutan, sehungga membuat mereka terpencar dan tercerai berai.
Setelah Nabi Muhammad SAW melihat keadaan yang semakin kacau, Nabi menyadari bahwa
tentaranya sedang terancam oleh bahaya yang besar dari pihak musuh. Oleh karena itu, Nabi
Muhammad SAW segera memilih salah satu dari dua alternative yaitu melindungi diri sendiri
ditempat yang tersembunyi atau maju berperang ditengah medan pertempuran yang sedang
berkobar untuk membela barisan tentara yang sedang berantakan yang terkepung oleh pihak
musuh. Seketika itu juga Nabi mengambil keputusan yaitu untuk sementara Nabi
menyembunyikan diri sambil berseru memanggik sebagian tentaranya agar segera lari
mengelilingi tempat Nabi bersembunyi.
Mushab bin Umair yang saat itu memegang bendera tentara islam, selalu melindungi Nabi
Muhammad SAW dari ancaman tentara kaum Quraisy yang menginginkan Nabi untuk dibunuh.
Samapi suatu hal, karena ingin sekali melindungi Nabi Muhammad SAW Mushab terbunuh oleh
Ibnu Qamah karena disangkanya adalah Nabi Muhammad. Dikarenakan Mushab bin Umair
memeilikiwajah yang mirip dengan Nabi Muhammad. Ibnu Qamah berteriak metainkan bahwa
Nabi Muhammad telah terbunuh. Hal itu membuat pasukan Muslimin terpecah menjadi tiga
golongan, yaitu sebagian melarikan dirimenuju tempat dekat Madinah, tetapi tidak berani pulang
ke Madinah dikarenakan malu. Diantara pasukan muslim yang melarikan diri adalah Utsman bin
Affan, Waid bin Uqbah, Kharijah bin Zaid, dan Rifaah bin Mala (Moenawar Chali, 2001: 122)
Sedangkan golongan kedua tetap bertempur dengan pantang menyerah karena mereka telah
mendengarucapan Nabi Muhammad SAW telah terbunuh. Salah seorang tentara Muslimin,
Tsabit bin Dahdah, memperingatkan kawan-kawannya,Hai para kawanku Anshar! Jika benar
Nabi Muhammad SAW telah mati terbunuh biarlah ia mati, karena hanya Allah yang tidak mati
selama lamanya! Karena itu, berpeganglah kamu kepada agamamu dengan kokoh dan kuat!
Allah sendirilah yang akan menolong dan memberikan kemenangan kepadamu!. Dari situlah
kemudian pasukan muslimin mneyerahkan diri hanya pada Allah dan terus berjuang tanpa rasa
takut. Dan yang terakhiradalah golongan ketiga sebanyak 14 orang mengelilingi Nabi
Muhammad SAW dan mereka berusaha melindungi Nabi Muhammad SAW dari serangan kaum
Quraisy. Mereka terdiri dari 7 sahabat Anshar dan 7 sahabat Muhajirin.
Sampai pada suatu waktu Kaab bin Malik berteriak bahwa Nabi Muhammad masih hidup.
Pasukan kaumQuraisy semakin mendesak untuk menerobos pertahanan para sahabat NAbi
Muhammad SAW. Terlebih ketika mengetahui yang bertahan hanya sekitar 30 orang saja.
Tentara Quraisy semakin mendesak pertahanan sahabat Nabi sambil melepaskan anak panah
kepada 30 orang yang sedang melindungi Nadi tetap bertahan dan menangkis serangan dari
pasukan Quraisy. Pasukan Quraisy berusaha mencari celah untuk menerjang dan menerobos
pertahanan mereka. Akan tetapi pasukan kaum Quraisy tidak berhasil menerobos karena ketatnya
pertahanan yang dibuat oleh para sahabat Nabi. Ketika serangan kaum Quraisy semakin
hebat,Nabi Muhammad SAW terkena lemparan batu dari pihak musuh yang membuat Nabi
terluka. Pada saat itu juga Hamzah bi Abdul Muthalib juga terbunuth di tengah tengan
pertempuran oleh seorang tentara musuh, yaitu Wahsyi salah sorang budak dari Hindun dengan
menggunakan tombak. Hamzah gugur setelah berhasil membunuh 31 orang dari pihak musuh.
Mendengar berita tersebut Nabi Muhammad SAW merasa sangat sedi, karena Hamzah adalah
paman Nabi yang memiliki jasa yang sangat besar kepada Nabi Muhammad SAW. Pasukan
kaum Quraisy merasa tidak puas apabila belum membunuh Nabi Muhammad pada saat perang
Uhud. Pasukan kaum Quraisy beranggapan dengan membunuh Nabi Muhammad maka kaum
Mulsim akan hancur (Moenawar Chalil, 2001: 124).
Selain terkena lemparan batu, Nabi Muhammad juga terkena lemparan potongan bisi dan
lemparan batu. Hal itu membuat Nabi Muhammad terluka pada dahi, dan gigi. Selain itu Nabi
juga terkena lempaan berupa potongan besi lagi dari Abu Qamah yang menembus kebagian
dalam pipi Nabi Muhammad SAW. Melihat keadan demikian Malik bin Sinan membersihkan
darah yang mengalir di muka Nabi Muhammad SAW. Dalam keadaan seperti itu serangan kaum
Quraisy masih terus dilancarkan dengan gencar terhadap Nabi Muhammad SAW. Kemudian
datang Ubay bin Khalaf dari kaum Quraisy dengan menunggangi kuda yang bernama Ud menuju
pertahanan Nabi Muhammad SAW dengan berniat membunuh Nabi Muhammad SAW. Namun
pada akhirnya Ubay bin Khalaf dapat dibunuh juga oleh Nabi Muhammad SAW dengan
menggunakan sebilah tombak.
Saat ingin berjalan menuju tempat Nabi berada Nabi Muhammad SAW terperosok jatuh
kesebuah lubang yang digali oleh pihak musuh, yaitu Amir ar Rahib. Akibatnya kedua lutut
Nabi Muhammad terluka. Kondisi tersebut membuat Nabi Muhammad SAW semakin tidak
bertenaga dan akhirnya pingsan, yang kemudian ditoleong oleh Ali bin ABi Thalib dan Thalhah
bin Ubaidillah.

3. Akhir Perang Uhud

Semangat para kaum Muslim masih tetap menggelora dalam menumpas kaum Quraisy.
Meskipun kaum Muslim banyak mengalami penderitaan yang sangat berat. Ketika Nabi
Muhammad SAW dan para sahabatnya tengah beristirahat di atas bukit sambil mengobati luka
luka, tiba tiba Khalid bin Walid dan pasukannya datang untuk kembali menyerang kaum
Muslimin. Umar Ibnu Khathab menghadang pasukan tersebut, dan akhirnya membuat Khalid bin
Walid mengurungkan niatnya untuk menyerang kaum Muslimin. Dengan pertimbangan itu,
Khalid bin Walid mulai mengatur pasukannya untuk mudur. Mundurnya pasukannya Khalid bin
Walid menandai bahwa perang Uhud telah berakhir.
Meskipun perang Uhud telah berakhir, tetapi Nabi Muhammad SAW masih merasa curiga
dengan mundurnya kaum Quraisy. Oleh karena itu Nabi Muhammad SAW menyuruh Ali bin Abi
Thalib untuk menyelidiki dan mengawasi gerak gerik kaum Quraisy. Ali segera menghadap
Nabi Muhammad SAW dan melaporkan hasil penyelidikan bahwa pasukan Quraisy sedang
menuju arah selatan. Nabi Muhammad yakin bahwa mereka akan kembali ke Mekkah. Sebelum
kaum Quraisy kembali ke Mekah, mereka terlebih dahulu menguburkan teman-temannya yang
tewas dalam perang Uhud. Oleh karena itu, pasukan Quraisy belum bisa dikatakan menang
dalam perang Uhud.