Anda di halaman 1dari 166

Instrumen

Instrumen Standar
Alat-alat minimal yang harus disediakan adalah:
1. Gunting diseksi sebanyak 1 buah
2. Gunting diseksi metzenbaum sebanyak 1 buah
3. Gunting Aff Hecting sebanyak 1 buah Gunting Diseksi Mayo
4. Gunting kasa/linen sebanyak 1 buah
5. Klem/forceps mosquito sebanyak 3 buah
6. Klem/forceps pean lurus sebanyak 2 buah
7. Pinset anatomis sebanyak 1 buah
8. Pinset sirurgis sebanyak 1 buah
Gunting diseksi Metzenbaum
9. Needle holder (nald voeder) sebanyak 1 buah
10. Jarum jahit (nald heacting) sebanyak 1 buah jika tidak
menggunakan benang yang bersatu dengan jarumnya.
11. Bisturi (bistuori/mess/blade) dan pegangannya 1 buah
12. Klem koher sebanyak 1 buah
13. Kuret kecil sebanyak 1 buah
14. Alat lain sesuai teknik insisi/hemostasis sebanyak 1 buah Gunting aff hecting/Stitch scissors
15. Koorntang (korentang) dan wadahnya sebanyak 1 buah
16. Kom kecil sebanyak 2 buah (untuk tempat larutan antiseptik)
17. Tempat instrumen
18. Neerbeken/bengkok
19. Hak (retractor)
20. Ring forceps sebanyak 1 buah
21. Trokar sebanyak 1 set Gunting kassa/Bandage scissors
Klem arteri/mosquito/pean bengkok Mathieu needle holder

Ring forceps/sponge forceps

Klem vena/pean lurus

Pinset anatomis/ dressing forceps

Pinset sirurgis/ tissue forceps


Needle holder (naald voeder)

Adson dressing forceps


Towl forceps

Adson tissue forceps

Neerbeken/bengkok

Macam-macam pisau

Wound retractor /hak

Scalpel handle

Senn retractor
Gillies retractor

Trokar

DesMarres Lip retractor

Koorntang (korentang) dan wadahnya


Instrumen Penunjang
Instrumen penunjang antara lain :
Kuret 1. Tromol untuk menyimpan kasa dan duk steril
2. Autoklaf untuk sterilisasi alat
Instrumen Handling
Ditulis Oleh: kapten
Memegang instrumen dengan baik dan benar akan memudahkan
nanuver-manuver yang dilakukan dan menghindari kerusakan
jaringan dan material jahitan.

Pinset
Pinset sebaiknya dipegang tangan kiri. Prinsipnya seperti
Memegang pinset jika tidak digunakan
memegang sumpit, pinset dianggap sebagai perpanjangan jari
Pisau
telunjuk dan ibu jari.
Jenis pisau :
Selama melakukan pembedahan sebaiknya pinset tidak dilepas
Pisau yang gagang dan matanya disposable
dan kemudian diambil kembali tetapi biasakanlahmenyimpan
Pisau yang matanya disposable dengan gagang reusable
pinset di tangan kiri dengan menjepitnya dengan menggunakan
Pisau yang gagang dan matanya merupakan suatu
jari manis dan kelingking, sehingga ibu jari telunjuk dan jari
kesatuan dan reusable
tengah bebas bekerja (lihat gambar).

Skalpel
Memegang pinset untuk digunakan
Dipegang seperti memegang pisau dapur
Tekanan jari telunjuk merupakan penentu kedalaman insisi
Dua jari (telunjuk dan ibu jari) tangan lainnya dapat
dipakai untuk fiksasi kulit atau counter traction
Pisau lebih mengarah ke horizontal, karena bagian yang
menyayat adalah perut pisau.
Bistauri
Dipegang seperti memegang pena
Pisau mengarah ke vertikal karena yang menyayat adalah
ujung mata pisau
Kelingking tangan yang sama merupakan alat fiksasi Cara memegang pisau untuk insisi besar/panjang
Klem/Hemostat
Dikenal 2 macam yaitu:
Bergigi (Kocher)
Tidak bergigi (Pean)
Keduanya dapat berbentuk lurus atau bengkok.
Diajarkan cara membuka klem dengan tangan kanan dan
tangan kiri
Cara memasang pisau pada handlenya Membuka Klem
Apabila mempergunakan hemostat yang bengkok maka ujungnya
harus menuju ke permukaan
Kanan
Jari tidak boleh masuk lebih dari satu phalanx
Gerakan pembuka merupakan gerakan yang berlawanan
dari ibu jari dan jari tengah
Kiri
Jari tidak dimasukkan ke dalam lubang pegangan

Cara memegang pisau untuk insisi yang kecil


Gerakan pembuka merupakan gerakan yang berlawanan Gerakan menggunting
dari ibu jari dan jari manis Gerakan membuka
Gerakan mendorong sambil mengunting

Perhatikan, jari tidak sampai masuk lebih dari phalanx distal

Perhatikan jari telunjuk sebagai penahan

Memegang klem dengan tangan kiri

Gunting
Memegang gunting jari juga tidak boleh masuk lebih dari satu
Jari telunjuk sebagai landasan
phalanx.
Needle Holder
Pada saat memotong benang dengan memakai gunting kasar,
Jarum tidak boleh dipegang dengan tangan. Benang tidak boleh
gunting harus dimiringkan sedemikian rupa sehingga dapat
dijepit dengan instrument, kecuali bagian ujung atau bagian yang
terlihat panjang benang sisa.
aka dibuang
Apabila menggunakan gunting yang bengkok, maka posisi harus
Jarum dipegang pada sepertiga pangkal, kurang lebih 1-2 mm
sedemikian rupa sehingga ujungnya harus tetap terlihat.
dari ujung needle holder.
Gerakan Gunting untuk Diseksi
Posisi needle holder :
PRONASI : pada waktu menusuk dan
mengambil jarum
MID POSITION : pada waktu pengambilan jarum
siap pakai
SUPINASI : tidak dianjurkan dipakai untuk
pengambilan jarum
Pronasi
Perhatikan Alur Mekanik Needle Holder, agar saat mengikat
benang tidak tersangkut

Mid posisi

Supinasi
Tombol kuning untuk memotong dan tombul biru, untuk koagulasi

Perhatikan posisi needle holder memegang jarum pada tiap


tahapan jahitan
Needle holder digambarkan sebagai 2 titik pada jarum.
Cauter
Teknik memegangnya sama dengan memegang pensil dengan
ibu jari memegang salah satu tombol. Tombol biru untuk
koagulasi dan tombol kuning untuk memotong
Bahan Habis Pakai
Ditulis Oleh: kapten
Berikut adalah bahan yang digunakan untuk teknik dorsusisi dan
guelotin

Benang Benang absorbable


Benang yang dipakai dalam ligasi ataupun hekting adalah Benang yang bersatu langsung dengan jarumnya relatif kurang
absorbable atau yang dapat diserap. Yang sering dipakai adalah traumatik jika dibandingkan dengan jarum yang terpisah dengan
benang cat gut (plain cat gut). Dahulu benang ini dibuat dari benangnya. Ini disebabkan pada jarum yang terpisah mempunyai
usus kucing (cat = kucing, gut = usus). Sekarang dibuat dari sub ujung, tempat
mukosa/usus domba atau sapi. Cat gut dapat bertahan sampai memasukkan benang yang biasanya lebih lebar daripada badan
terjadi absorpsi sekitar 10 hari. Penjahitan dengan cat gut ini jarumnya sendiri. Selain itu, jarum ini umumnya digunakan
secara mikroskopis banyak sekali menimbulkan reaksi radang di berkali-kali sehingga ketajamannya berkurang.
sekitar tempat jahitan.
Terdapat juga cat gut yang telah diolah dengan asam kromat,
yang disebut Chromic Cat gut. Reaksi radang yang ditimbulkan
jauh lebih rendah. Absorbsi hasil olahan ini lebih lama jika
dibandingkan plain cat gut, yaitu sekitar 21 hari.
Ukuran yang digunakan adalah 5.0, 4.0, 3.0 tergantung besar
dan kecilnya penis. Benang ini dikemas berupa gulungan dalam
kotak sepanjang 100 m dan dipotong seperlunya. Ada juga
benang yang langsung dengan jarumnya, dengan panjang sekitar
30 cm.
Cara mengambil benang
Duk Bolong
Duk ini berukuran sekitar 40 x 40 cm dengan lubang di
tengahnya berdiameter 6 sampai 10 cm. Duk ini berguna untuk
memperluas zona steril. Duk dapat dibuat dari bahan katun atau
kertas serap kemudan disterilkan.
Tulle
Tulle merupakan benang-benang yang tersusun seperti jala
dengan ukuran 10 x 10 cm yang dilumuri salep antibiotik
framycetin sulfat BP 1% [soframisin]. Tulle dipakai sebagai
Kasa Steril balutan tepat pada daerah insisi. Selain berfungsi sebagai
Kasa yang digunakan adalah kasa steril yang bisa dibeli di apotek antibiotik, tulle juga berguna merangsang proses granulasi dan
karena banyak dijual dalam kemasan kotak. Kita dapat pula untuk memudahkan saat melepas balutan.
membeli kasa gulungan. Kasa gulungan ini kemudian dipotong
dan dilipat dengan ukuran seperlunya kemudian disterilkan
dengan autoklaf atau menggunakan tablet atau serbuk formalin
yang disimpan secara campur dengan kasa dalam wadah
tertutup sekurang-kurangnya 24 jam.

Tulle dalam kemasan dan yang sudah dibuka

Plester
Plester digunakan untuk fiksasi balutan.

Tromol untuk kasa


Balutan film transparan kedap air
Obat Anestesi
Obat anestesi yang banyak digunakan adalah lidokain HCl 2%.
Sediaan terdapat dalam ampul 2 mL atau vial 50 mL. Untuk
anestesi infiltrasi dapat diencerkan sampai 0,5% dengan
aquabides. Dapat pula lidokain dicampur dengan markain
dengan perbandingan 1:1.

Plester dengan berbagai macam bentuk dan ukuran

Balutan Kedap Air


Berupa lapisan film tipis, transparan elastis sehingga mudah
menyesuaikan dengan bentuk luka. Keuntungannya adalah luka
terhindar dari kontaminasi post op, jika ada perdarahan dengan
mudah terlihat. Kerugiannya adalah evaporasi terganggu
Lidokain dalam ampul dan vial
sehingga mempertinggi kelembaban daerah luka.

Sediaan obat anestesi dalam vial dan flakon


Larutaan Antiseptik terhadap Staplylococcus aureus sehingga penggunaan triklosan
Dipilih salah satu dari antiseptik berikut : 2% sebagai larutan untuk memandikan penderita kelainan kulit
Povidon Iodin 10% methicilin resistant Staphylococcus aureus (MRSA) sangat
Povidon Iodin merupakan kompleks iodium dengan dianjurkan. Sebaliknya triklosan memiliki aktivitas antimikroba
polyvinylpirolidone yang relatif tidak merangsang dibandingkan yang relatif rendah terhadap bakteri gram negatif, fungi, dan
dengan iodin, larut dalam air dan mempunyai daya kerja lebih micobacterium. Triklosan (trichloro-hydroxy-diphenyl ether)
lama dari iodium, berguna sebagai antiseptik kulit maupun adalah agen antimikrobial yang banyak digunakan pada
mukosa. Sebelum dilakukan tindakan operasi, perlu ditunggu detergen, sabun, shampo , deodoran seta kosmetik dengan
sekitar 2 menit untuk menjadi iodium bebas. Hati-hati karena konsentrasi penggunaan di bawah 0,5%.
pada beberapa orang dapat menimbulkan reaksi alergi dan iritasi
terutama di kulit skrotum.Sesudah khitan selesai segera Sarung tangan
bersihkkan dengan NaCl 0.9 % atau akuades. Sarung tangan steril digunakan agar lapangan operasi tetap
Alkohol 70% steril. Selain itu, penggunaan sarung tangan steril juga ditujukan
Alkohol merupakan bakterisid yang kuat dan cepat, baik untuk untuk melindungi operator dari penyakit yang ditularkan melalui
gram negatif ataupun gram positif tetapi bersifat non-sporosidal. darah yang mungkin diderita oleh pasien yang dikhitan.
Alkohol bekerja melalui koagulasi protein dinding sel bakteri. Ukurannya tergantung kepada operator dan asisten, biasanya
Konsentrasi optimum sebagai antiseptik adalah 70%. berkisar antara ukuran 6 dan 7 . Sarung tangan yang
Chlorhexidine gluconate dibutuhkan minimal 2 pasang.
Savlon digunakan untuk keperluan antiseptik pembersih dan
hanya digunakan untuk pemakaian luar. Savlon antiseptik
sebaiknya tidak digunakan secara langsung pada mata, otak,
meningen, telinga tengah, serta tidak digunakan untuk rongga
tubuh. Untuk penggunaan secara umum larutkan 60-90 mL
dalam 1 sampai dengan 1,5 L air.
Triklosan
Triklosan memiliki aktivitas antimikroba yang cukup baik Sarung tangan steril
Spuit (disposable syringe)
Ukuran yang dipakai sebaiknya 2,5 cc, 3 cc,atau 1 cc dengan
ukuran jarum 23 G 11/4 atau yang lebih kecil lagi,yaitu ukuran 27
G .

Spuit

Kelengkapan Ruangan
Kelengkapan ruangan yang diperlukan untuk tindakan sirkumsisi
antara lain :
1. Tempat tidur atau bed yang cukup nyaman
2. Lampu penerangan yang cukup
Tempat sampah diletakkan di pinggir bawah meja operasi
Suture Material Benang diserap dalam waktu yang terbatas di dalam
tubuh. Lamanya berada didalam tubuh dapat disesuaikan
dengan organ yang dijahit dengan memilih jenis benang yang
Ditulis Oleh: kapten
sesuai. Sedapat mungkin benang jangan hancur dahulu

Definisi sebelum organ yang bersangkutan betul-betul rapat dan cukup

Suture materials adalah semua bahan yang dipakai untuk kuat. Sebagai contoh, fasia harus dijahit dengan benang yang

meligasi atau mengaproksimasi jaringan dan menahannya lama waktu penyerapannya, karena untuk penyembuhannya

sampai jaringan mengalami penyembuhan. fascia butuh waktu yang cukup lama (hingga beberapa bulan).

Sejak tahun 2000 SM, penggunaan benang dari bulu binatang Dengan alasan tertentu, kadang-kadang malah digunakan

telah dilakukan untuk menjahit luka. Seiring dengan benang tak diserap untuk menjahit fasia. Benang tak diserap

perkembangan zaman, bahan-bahan untuk penjahitan bedah akan berada seumur hidup. Benang-benang ini digunakan

berkembang dan bervariasi mulai dari sutra, linen, katun, tendon misalnya pada penyambungan pembuluh darah dengan dacron

ataupun usus hewan, bahkan kini pun telah digunakan bahan graft, dimana pembuluh darah yang merupakan organ hidup tak

dari benang logam tahan karat. akan pernah mengalami penyambungan dengan graft yang
merupakan benda mati. Disini jahitan dengan benang tak
Klasifikasi diserap berfungsi mempertahankan penyatuan tadi. Harus
Benang untuk penjahitan luka dapat dibagi atas beberapa diingat bahwa benang jahitan disini merupakan benda asing
kriteria , yaitu : yang sedikit banyak akan mengakibatkan terjadinya reaksi dari
jaringan tubuh. Karena itu, untuk tujuan meminimalkan reaksi ,
Penyerapan (absorbable or non-absorbable) digunakan bahan yang inert dan memberikan reaksi yang
Asal Bahan (nature or synthetic) minimal.
Asal Serat (monofilament or polyfilament) PlainCatgut maupun chromic dan kolagen merupakan contoh
Pelapisan (coated or uncoated) benang diserap, sedang polyamida (nylon) dan sutera (silk, zyde)
1. Penyerapan merupakan contoh benang tidak diserap.Keuntungan benang
tidak diserap adalah dapat memberikan permanent support tidak
akan pernah habis namun meninggalkan benda asing dalam yang sukar sembuh karena sulit dicapai makrofag. Sering terjadi
tubuh. pembentukan sinus atau luka yang sukar sembuh pada
penggunaan benang serat banyak. Bekas jahitan dengan benang
2. Asal Bahan ini lebih kasar dan nyata.
Benang-benang alami berasal dari bahan alam, contohnya
rambut, bulu binatang, katun, linen dan catgut. Benang-benang Benang serat banyak dapat dibagi dua, yaitu braided yang
ini telah digunakan sejak dahulu kala, mudah didapat dan relatif berupa benang anyaman seperti rambut dikepang (contohnya
murah harganya. polyester, polyglycolic acid, polyamide (polyfilament dan sutera),
dan twisted dimana jalinan benang terdiri dari serat-serat yang
Benang sintetis harganya lebih mahal, namun mempunyai dililit/dipilin (contohnya katun dan linen). Polyamide (nylon)
berbagai keunggulan dalam hal absorpsi yang terprediksi dan dapat dijumpai dalam 2 bentuk yaitu berserat tunggal dan
umumnya telah disesuaikan dengan organ yang akan dijahit. berserat banyak.
Contoh benang sintetis, polyglycolic acid, polypropylene,
polyamide, polyester, polyglactin, polydioxanone, polyglyconate, 4. Pelapisan
polynylidene, polybutylester dan stainless steel. Umumnya Pelapisan benang (coated) mempunyai berbagai tujuan, bisa
benang-benang ini dijual dalam kemasan dan bentuk sediaan untuk mendapatkan benang yang lebih kesat sehingga kekuatan
khusus. simpulnya lebih baik, untuk mengamankan jalinan benang
sehingga tampil lebih rapi dan kokoh, untuk menutup celah-celah
3. Serat Benang (pore) pada anyaman sehingga tidak terdapat tempat kuman
Benang serat tunggal umumnya lebih lentur namun kekuatan untuk bersarang, serta untuk meminimalisasi reaksi jaringan.
simpulnya (knotting security) biasanya lebih kecil, sehingga
simpul jahitan mudah terbuka. Keunggulannya adalah bekas Polyglycolic acid dan polydioxanone merupakan benang berserat
jahitannya (stitching mark) halus. Sedangkan benang serat banyak dan berlapis. Sutera diberi lapisan lilin agar benang lebih
banyak lebih baik kekuatan simpulnya, karena jalinan seratnya kaku dan lebih menggigit, serta untuk menutup celah-celah pada
membuat benang lebih kesat dan menggigit. Perlu diperhatikan benang.
bahwa celah-celah yang terdapat pada benang merupakan
tempat berkumpulnya nidus yang dapat menjadi fokal infeksi
Kriteria untuk penggunaan benang yang memenuhi syarat untuk
penjahitan bedah antara lain Absorba Natu Multifila Catgut-
ble ral mant plain
Memiliki kekuatan regangan (tensile strength) yang baik
sesuai dengan ukurannya.
Mudah digunakan dan memiliki tahanan yang rendah
Catgut-
ketika diaplikasikan dalam jaringan
chromic
Mempunyai keamanan simpul yang baik, bebang tidak
mudah longgar dan lepas.
Memiliki kemasan steril yang baik dan mudah dibuka
Monofila None
sehingga aman digunakan oleh personil bedah
ment
Reaksi minimal pada jaringan dan tidak cenderung
meningkatkan pertumbuhan bakteri

Non-alergenik dan non-karsinogenik

Tabel Klasifikasi Suture Materials Synt Multifila Glycolic


hetic ment Acid
Primer

Generic Trade Name


Breakdo Origi Strand Name
- Dexon (D+G)
wn n
Polyglyc
olic acid
- Vicryl 25 (Ethicon)
Polyglact (Ethicon)
in 910
Nonabs Natu Multifila Silk
orbable ral ment
Polysorb
(USSC) Linen

Cotton

Monofila Polydiox PDS (Ethicon) Stainless


ment anone Steel

Trimethyl Maxon
ene/ (D+G)
Glycolic
acid
Monofila Stainless
ment Steel

Poligleca Monocryl
prone
Synt Multifila Polyester Ethibond/Mer
hetic ment silene Polybute Novafil
Ti-cron/ ster
Dacron
Dyflex/Teflex/
Polyflex Polyethe Dyloc
r

Polyamid Surgilon
e (Nylon) Nurolon

Ukuran Benang (size)


Benang dengan ukuran besar dipakai untuk menjahit struktur
Monofila Polyami Ethilon yang alot/liat. Untuk menjahit struktur halus, misalnya pada
ment de Dermalon operasi mata, digunakan benang-benang mulai dari ukuran
(Nylon) Nylene 00000 (5/0) hingga 7/0. Makin banyak angka nol-nya , makin
halus ukurannya. Untuk bedah mikro, dipakai benang ukuran 8/0
hingga 10/0. Harus diingat, makin besar ukuran benang, makin
Polyprop Prolene besar pula benda asing yang kita masukkan kedalam tubuh
ylene Surgilene penderita, yang berarti semakin besar pula reaksi jaringan.

Kekuatan regangan (tensile strength)

Polyvinyl Vilene Uji tensile strength dilakukan dilaboratorium, tensile strength

idene didefinisikan sebagai beban yang diberikan per unit area dan
dinyatakan dalam psi atau kg/cm2 atau bisa juga didefinisikan
sebagai kekuatan yang dibutuhkan untuk memutuskan jahitan
yang dinyatakan dengan lb atau kg.
Makin kuat tensile strength suatu benang, makin besar pula Reaksi berupa penyerapan atau penyingkiran material
dayanya dalam merapatkan luka. Benang jenis ini terutama benang. Makin cepat penyerapan, makin besar reaksi seluler
dipakai untuk menahan luka didaerah yang bebannya tinggi, jaringannya.
misalnya abdomen dan ekstremitas. Umumnya tensile strength
paling baik pada benang stainless steel, sedang pada benang Bahan alami cenderung untuk merangsang reaksi lekosit
sintetis dan paling lemah pada benang alami. polimorfonuklear (PMN) dan makrofag, sedangkan bahan sintetis
merangsang reaksi makrofag dan sel raksasa (giant cell).
Besarnya reaksi jaringan akan memperlambat penyembuhan
Lebih kuat Stainless steel luka. Demikian juga dengan hasil akhir penyembuhan luka
dipengaruhi oleh reaksi jaringan. Umumnya makin hebat reaksi
jaringan, tampilan akhir luka akan semakin kurang bagus.
Tensile strength Sedang Polyamide, polypropylene

Penyerapan (Absorbtion)
Ada 2 mekanisme penyerapan benang penjahit luka. Pertama,
Lebih lemah Alami (sutera, catgut)
penyerapan melalui mekanisme enzimatik, misalnya terjadi pada
catgut dan kolagen. Disini enzim proteolitik yang tersimpan
dalam lisosom PMN akan menghancurkan benang.
Reaksi jaringan (tissue reaction)
Kedua, adalah mekanisme hidrolisa yang berefek pada air yang
Reaksi jaringan terhadap benang penjahit luka mempunyai ciri-
terkandung dalam benang. Gangguan pada air dalam benang
ciri sebagai berikut :
akan menyebabkan benang lebih rapuh lalu hancur. Hidrolisa
akan meningkat dengan perubahan pH.
Mulai antara hari 1-3, karena benang merupakan benda
asing dalam tubuh.
Keamanan simpul (knotting security)
Reaksi yang terjadi tergantung dari bentuk fisik benang
Makin kasar serat suatu benang, makin tinggi pula koefisien
(monofilament, braided) atau dari struktur kimianya.
gesekannya (coefficient of friction). Dengan demikian, makin
tinggi pula keamanan simpulnya. Benang berserat banyak
umumnya mempunyai keamanan simpul yang lebih tinggi
daripada benang berserat tunggal. Pelapisan benang juga ikut barang
berperan, lilin yang dipakai melapisi sutera akan menyebabkan p (A) tahan simpul dalam
atau terhadap (knot jaringan
benang lebih kesat, sehingga simpulnya tak mudah longgar.
tidak regangan security) (tensile
Tetapi harap diingat, kelenturan (pliability) benang berserat (NA) (breaking strength in
banyak lebih kecil dari benang berserat tunggal, sehingga lebih strength) tissues)
susah dimanipulasi sewaktu penjahitan. Lagi pula pencabutan
benang dari luka lebih mudah bila benang berserat tunggal dan
licin. Harus diperhitungkan juga bahwa benang berserat banyak A Bervariasi jelek Hilang
setelah
akan meninggalkan bekas (stiching marks) yang lebih jelek dari
Plain catgut hari ke 3
benang berserat tunggal. Selain koefisien gesekan, jenis dan
jumlah ikatan simpul juga memegang peranan dalam
menentukan keamanan suatu simpul. Chromic A Baik sedang Hilang
Untuk kulit pada daerah yang ketegangannya tinggi (misalnya catgut setelah
daerah abdomen dan ekstremitas), digunakan benang dengan hari ke 10
keamanan simpul yang baik. Biasanya kepentingan estetis
menjadi nomor dua pada daerah ini.
Untuk mendapatkan keamanan simpul yang cukup, biasanya Collagen A Baik sedang Hilang
setelah
dilakukan manipulasi sesuai dengan jenis benang. Benang yang hari ke 10
licin sebaiknya disimpul lebih banyak daripada benang yang
kesat. Ini sesuai dengan hukum approximation, no
strangulation ( merapatkan, bukan menjerat) pada penjahitan Polyglycolic A Baik baik Tinggal
luka. acid 40% pd
DEXON IITM hari ke 14
Tabel Karakteristik benang penjahit luka

Polyglactin A Baik baik Tinggal


Jenis Disera Daya Keamanan Tegangan VICRYIL TM 40%pd
hari ke 14 Monofilament NA Baik sedang Bertahan
polypropylene
PROLENET
M
Sutera NA Sedang baik Tahan
hingga 6
bulan
Steel wire NA Sangat baik Bertahan
baik

Katun NA Sedang baik Tahan


hingga 6
bulan

Penyesuaian ukuran benang dengan regio


Braided NA Baik baik Bervariasi Berdasarkan pertimbangan untung-rugi, maka dapat diambil
hilangnya patokan penyesuaian ukuran benang dengan daerah yang akan
pada bln
dijahit sebagai berikut :
ke 6

Tabel Penyesuaian ukuran benang dengan regio

Monofilament NA Baik jelek Berkurang


polyamide sedikit
NYLONTM Daerah Ukuran Jenis benang yang
yang akan benang dianjurkan
dijahit
Braided NA Sangat baik bertahan
polyester baik

Wajah dan Subkutis 5/0 Plain catgut, Chromic


leher cat gut, PGA
Jarum Bedah
Kulit 4/0 Nylon monofilament Jarum (needle) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam
6/0 sebuah teknik suture, sehingga mengetahui konsep dasar
tentang needle tersebut dapat membantu dalam menguasai
teknik suturing. Sebagaian besar needle tersebut terbuat dari

Krpala Subkutis 3/0 Plain catgut, Chromic stainless steel yang tahan korosif dan melekat pada ujung

cat gut, PGA benang melalui swage, yaitu lubang yang terdapat pada pangkal
Kulit 2/0 Nylon monofilament, needle, dimana benang dapat melekat di dalamnya. Needle
3/0 Silk harus cukup rigid sehingga memungkinkan untuk dapat
menembus jaringan tanpa menjadi bengkok, Diameter yang
cukup tanpa menyebabkan kerusakan jaringan sekitar, setipis
mungkin sehingga tidak meneyebabkan kebocoran. Ujung
Badan depan Subkutis 5/0 Plain catgut
needle harus tajam untuk dapat menembus jaringan dengan baik
Permukaan
Kulit 3/0 Nylon monofilament, dan ukuran yang cukup besar sehingga dapat membawa benang
cembung
4/0 silk tanpa ikut membawa jaringan sekitarnya. Needle juga harus
ekstremitas
mempunyai ketajaman tiga dimensi yang memungkinkan kita
dapat memegang dengan baik dengan menggunakan needle
holder tanpa menyebabkan kerusakan jaringan lain yang tidak
Badan Subkutis 4/0 Polyglycolic acid,
perlu.
belakang polydioxanone
Pemilihannya disesuaikan dengan jaringan dan regio
Permukaan
pembedahan. Kriteria umum yang harus dimiliki oleh jarum
cekung Nylon monofilament,
Kulit 3/0 bedah antara lain :
ekstremitas Silk
4/0
Mengandung bahan antikarat (stainless steel)
Kuat untuk menembus jaringan
Ramping hingga tidak menimbulkan trauma pada jaringan
Tajam
Stabil bila digunakan bersama instrumen (needle holder) itu sendiri. Needle Diameter adalah ketebalan needle pada setiap
bagian.
Anatomi Jarum Bedah (surgical needle)
Karakteristik Surgical Needle
Karakteristik yang paling penting dari surgical needle adalah :

Ketajaman dan kelengkungan


Needle length dan diameter needle (ukuran)
Mata needle dan bentuk melintang needle
Jenis perlekatan dengan benang jahit terhadap needle
Ketajaman dan kelengkungan

Ketajaman dan kelengkungan needle berkaitan erat dengan


fungsinya. Seringkali needle yang khusus hanya untuk satu jenis
operasi saja, misalkan J-shaped, yang digunakan hanya untuk
operasi hernia femoralis saja.

Pada surgical needle yang standar terdapat beberapa bagian


2. Panjang dan diameter needle
yaitu : Needle Point, yaitu ujung needle yang relatif lebih tajam
Potensial length dari needle, ditentukan oleh ketebalan bahan
dan memiliki diameter terkecil dibandingkan semua bagian
yang digunakan dan rigiditas, ductility dan kekuatan sebuah
Needle. Swage adalah pangkal needle yang memiliki pegangan
needle menentukan ukuran needle. Kenyataannya needle dengan
berupa lubang atau celah untuk benang. Cord Length adalah
diameter 66 mm dengan ultra-thin wire gauge akan lebih mudah
jarak antara needle point dan swage apabila ditarik garis lurus ,
bengkok atau patah jika dibandingkan dengan needle yang
sedangkan needle length adalah jarak antara swage dan needle
pendek dengan diameter yang tebal. Needle yang panjang lebih
point dengan mengikuti lengkung lingkar luar needle. Radius
baik digunakan untuk menjahit fasia dan kulit dengan bahan
adalah jarak antara pusat kelengkungan needle dengan needle
needle dan bahan yang lebih kuat. Needle yang pendek
disukai karena tipe ini menimbulkan trauma yang minimal pada
seringkali digunakan untuk menjahit viseral dan pembuluh
jaringan, selain itu penggunaan jarum pun tidak dapat diulang
darah . sehingga mengurangi risiko penularan penyakit bagi pasien.

3. Mata dan penampang melintang needle


Titik lubang yang dibentuk oleh needle ditentukan oleh bagian
terujung dari mata needle sampai diameter

melintang yang terbesar dari needle. Terdapat empat jenis


lubang yang dibentuk oleh needle: yaitu : Conventional Cutting,
Reverse Cutting, Taper Point dan Blunt. Conventional Cutting dan
Reverse Cutting: digunakan dalam penjahitan kulit, periosteum,
tendon. Taper digunakan untuk jaringan yang gampang ditembus
dan untuk mendapat luka yang minimal
Blunt, untuk menjahit hepar dan lien.

4. Jenis perlekatan benang jahit terhadap needle


Needle umumnya sudah melekat dengan benang yang akan kita
gunakan. Teknologi tersebut mulai dikenal beberapa dekade
terakhir. Secara tradisional semua needle memiliki 2 mata pada
pangkalnya dan benang jahit harus dimasukkan pada mata
needle tersebut sebelum dipergunakan.
Terdapat dua macam perlekatan pada jarum-benang, yang
pertama adalah tipe eye, yang dewasa ini sudah mulai jarang
digunakan karena kurang praktis dalam pemakaianya dan
menimbulkan trauma pada jaringan yang dijahit.

Tipe yang kedua adalah swedged, dimana benang sudah


digabungkan dengan jarum di dalam kemasan. Hal ini lebih
Ikatan dan Jahitan Dua tangan
Instrumen
Ditulis Oleh: kapten
A. SIMPUL Surgeons knot
Simpul merupakan bagian penting dalam tindakan bedah. Proses Simpul pertama dilakukan 2 kali lilitan selanjut nya simpul 1 kali
hemostasis, penyambungan jaringan, jahitan akan bertahan jika lilitan dengan arah/gerakan yang berbeda dengan sebelumnya.
dilakukan penyimpulan dengan teknik yang benar. Tiap jaringan Dipakai jika regangan tinggi
yang dijahit mempunyai karakter yang berbeda, untuk itulah
diperlukan teknik penyimpulan yang berbeda pula.
Prinsip Prinsip Dalam Membuat Simpul
Kuat dan tidak mudah lepas,
Deep Tying
Sederhana
Dilakukan pada area yang dalam (misalnya simpul di intra
Ikatan sekecil mungkin, ujung dipotong secukupnya.
abdomen) dilakukan beberapa simpul yang sama (sleep knot
Tidak boleh ada gesekan antara untaian benang yang
dan diakhiri dengan reef knot. Sebaiknya menggunakan
akan melemahkan jahitan
tangan(bukan instrument)
Tidak boleh ada kerusakan materi jahitan (tidak boleh
Slip Knot
menjepit benang dengan instrumen)
Dua simpul yang sama kemudian didorong dengan jari, kemudian
Tidak boleh terdapat tarikan yang berlebihan
simpul ketiga berlawanan dengan simpul 1 dan 2.
Pertahankan tarikan pada satu ujung benang setelah
Prinsip gerakan dalam simpul
ikatan pertama supaya lilitan tidak longgar pada jahitan
Terdiri dari 2 macam gerakan:
kontinu
Gerakan simpul ke 1 harus sama dengan 3, 5, 7 dst.
Macam Simpul
Gerakan simpul ke 2 harus sama dengan 4, 6, 8 dst.
Reef knot
Dilakukan tiga kali simpul dengan gerakan 1 dan 3 sama.
Semua simpul memakai reef knot.
Dapat dikerjakan dengan :
Satu tangan
Hasilnya:

Kamudian dilanjutkan sekali lagi dengan arah yang berlawanan


dari simpul terakhir, hasilnya
Deep Tying
Perbedaan dengan reef knot:
Pada pengencangan simpul benang tidak boleh ditarik ke atas
melainkan harus didorong ke bawah menggunakan jari telunjuk.

Perhatikan urutan penyimpulannya


Slip knot
Terdiri atas :
1. Dua kali gerakan yang sama (dengan telunjuk atau jari
tengah) atau
Gerakan reef knot yang ditarik ke arah yang sama (tanpa
penyilangan)
1. Harus diakhiri dengan reef knot. Jadi terdapat 4 gerakan

Reef knot dengan menggunakan instrumen


Ulangi dengan arah ikatan kedua beda dengan yang pertama
Dan ikatan ketiga sama dengan ikatan pertama

B. JAHITAN
Jahitan telah dilakukan berabad-abad yang lalu, mulai dengan
menggunakan bulu binatang, serat tumbuhan sampai sintetik.
Tujuan penjahitan adalah
Menutup defek
Mendekatkan tepi luka yang mempunyai tegangan
Mendekatkan tepi kulit
Meminimalkan perdarahan dan infeksi
Teknik penjahitan tergantung kepada:
Tipe luka
Lokasi anatomi luka.
Ketebalan kulit
Derajat ketegangan
Hasil kosmetik yang diharapkan
Untuk mengoptimalkan hasil secara fungsi dan kosmetik, perlu
diperhatikan:
Meminimalkan dead space Teknik ini menjahit tepi luka dengan satu jahitan, disimpulkan
Mengembalikan kepada kontur anatomis bagian yang kemudian dipotong. Teknik ini memerlukan lebih banyak benang
dijahit karena setiap jahitan harus dibuat simpul dan dipotong. Relatif
Meminimalkan bekas jahitan dengan cara memilih benang lebih aman karena bila satu jahitan putus jahitan lainnya tidak
yang tepat dan tension yang minimal. terganggu. Baik digunakan untuk luka yang terinfeksi, karena
Menurut waktu penjahitannya, jahitan dibagi menjadi: mudah membuka jahitan jika ada satu tempat yang mengalami
Jahitan Primer infeksi sehingga tidak mengganggu jahitan lainnya.
Adalah jahitan yang dilakukan segera setalah luka terbentuk Interrupted suture bisa berbentuk jahitan simple, atau
Jahitan Sekunder subkutikuler, matras vertikal ataupun matras horizontal
Dilakukan setalah jahitan pertama (primer) terlepas atau longgar. Penjahitan dianjurkan dimulai di tengah dan dilanjutkan setiap
Atau dilakukan mengoreksi dead space. pertengahan dari insisi yang tersisa.
Tujuan jahitan sekunder adalah untuk: Arah jarum yang tegak lurus dengan permukaan kulit dan juga
Memperkuat jahitan primer tegak lurus sayatan kulit
Menghilangkan dead space Jarak masuk dan keluarnya jarum dari tepi sayatan sama dengan
Mencegah akumulasi cairan pada luka abdominal selama dalamnya jaringan yang diambil (x) dan jarak antar jahitan sama
proses penyembuhan. dengan dua kali jarak tersebut (2)
Untuk penutupan luka sekunder karena kerusakan jahitan Keuntungan:
pada masa penyembuhan. Mudah
Umumnya digunakan benang tidak diserap. Kekuatan jahitan besar
Menurut kontinuitasnya, jahitan dibagi menjadi: Kecil kemungkinan menjerat sistem sirkulasi sehingga
Jahitan interrupted, yaitu jahitan satu tidak ada hubungan mengurangi edema
dengan jahitan yang lainnya,.Kedua adalah jahitan Mudah untuk mengatur tepi-tepi luka
kontinyu/continous running suture, antara jahitan sebelum dan Kerugian:
sesudah, terdapat hubungan berupa benang yang tidak dipotong. Lama
Interrupted Suture Bekas jahitan lebih terlihat
Eversi (benar) Inversi (salah)
Perhatikan pola umum jahitan simple interrupted
Continuous Suture / Running Stitches
Adalah suatu serial jahitan yang dibuat dengan menggunakan
benang tanpa putus antara jahitan sebelum dan sesudahnya.
Untaian benang dapat diikat pada setiap ujung jahitan. Cara ini
dapat dilakukan dengan cepat, kekuatan tegangan seluruh
jahitan sepanjang luka hamper sama. Tarikan yang terlalu kuat
Terlalu longgar Terlalu kuat hingga kulit harus dihindari untuk mencegah putusnya jahitan yang akan
robek merusak semua jahitan. Biasanya digunakan diperitoneum atau
fascia dinding abdomen. Untuk luka infeksi tidak dianjurkan
menggunakan teknik ini. Kerugiannya, jika satu jahitan longgar
maka akan berpengaruh terhadap jahitan sebelum atau
sesudahnya.
Syarat :
Terlalu dangkal, Terlalu dalam Harus dengan asisten yang tugasnya hanya melepas &
memegang benang, BUKAN mengencangkan jahitan.
Selama penjahitan benang tidak boleh kendor.
Jarum diambil siap pakai (Midposisi)
Keuntungan
Cepat
Sedikit simpul
Kerugian
Jahitan menjadi mudah longgar jika satu jahitan saja tidak
kuat
Sulit mengoreksi jika terjadi infeksi
Pengangkatan harus sekaligus, tidak bisa per
area(misalnya jika di area tertentu ada pus)
Teknik Jahitan
Jahitan continuous/continuous running suture Gambar Jahitan continuous interlocking/Running locked sutures
1. Interrupted Suture/simple interrupted suture

Gambar Jahitan continuous

Jahitan continuous interlocking/Running locked Gambar jahitan simple interrupted


sutures

Gambar jahitan simple interrupted


1. Interrupted Vertical Mattress Suture Teknik ini bertujuan untuk membuat pinggir luka menjadi eversi
Indikasi utama penggunaan vertical matress suture adalah (menjorok keluar) dan membagi rata tekanan pada seluruh
untuk mengangkat permukaan pinggir luka, yaitu bila tepi luka pinggir permukaan luka,
tidak sama tinggi sehingga jika dengan jahitan simple
interrupted tepi luka (epitel dengan epitel) tidak bertemu
(inversi). Vertical mattress suture sering digunakan pada bagian
tubuh yang memiliki kecenderungan untukinverted,
seperti posterior neck atau luka yang terdapat pada permukaan
yang concave.

Gambar matras horizontal


Gambar vertical mattress suture
Teknik ini dipergunakan biasanya pada luka yang memiliki jarak
Beberapa peneliti percaya bahwa penggunaan vertical mattress
kedua permukaan pinggir luka yang cukup jauh, sehingga
suture yang menyebabakan pinggir luka mengalami eversi lebih
regangan cukup kuat. Jahitan ini dipergunakan sebagai initial
baik dibandingkan teknik penjahitan luka yang lain. Vertical
suture untuk mendekatkan dua permukaan pinggir luka.
matres berfungsi untuk menyamakan permukaan sayatan
Teknik suture ini juga cukup efektif dalam memegang
permukaan kulit luka yang rapuh seperti kulit di telapak tangan
1. Horizontal Mattress Suture
dan kaki. Teknik ini juga efektif untuk hemostasis akibat
perdarahan bawah kulit di tepi luka (misalnya di kulit kepala).
Horizontal mattress suture juga berguna untuk aproksimasi tanpa
mengganggu sesuatu struktur yang berjalan sejajar dengan luka
sayatan, seperti pembuluh darah, nervus dll
1. Smead-Jones/Far-and-Near
Jahitan ini digunakan pada jaringan dengan regangan yang kuat,
misalnya penjahitan fascia.

Gambar jahitan sudut

1. Jahitan pure-string
Merupakan jahitan tidak terputus pada sekeliling lumen atau area
tertentu yang dikencangkan seperti tali celana. Contohnya
seperti pada apendektomi.

Gambar jahitan Smead-Jones


1. Corner Stitch
Variasi dari teknik horizontal mattress suture dan half-buried
horizontal mattress suture, atau disebut juga corner
stitch. Teknik suture corner stitch dipergunakan untuk
mendekatkan pinggir luka yang membentuk sudut tanpa
menghilangkan atau mengurangi suplai darah ke permukaan kulit
tersebut. Gambar jahitan pure-string

1. Jahitan yang dikubur (burried)


Seluruh jahitan berada dibawah lapisan epidermal. Bisa dilakukan
dengan menggunakan jahitan continuous atauinterrupted dan
tidak diangkat setelah operasi. Jalurnya searah atau paralel 4. Diselesaikan tanpa simpul (dengan penjahitan bentuk Z
dengan luka. Jahitan dilakukan pendek-pendek, dibagian lateral dimana jarum dimasukkan kembali pada lubang yang sama)
sepanjang luka. Setelah jahitan selesai dilakukan, kedua ujung
tali diikat. Stapler
Keuntungannya adalah baik secara kosmetik karena penyatuan Selain jahitan dengan benang, aproksimasi tepi luka dapat juga
kulit dilakukan dari bawah, hingga kulit tidak terlukai oleh bekas dengan menggunakan stapler. Aplikasinya dengan menggunakan
jahitan. alat seperti halnya stapler kertas. Keuntungannya adalah lebih
cepat, namun kerugiannya kadang-kadang tepi luka tidak sama
tinggi dan inversi.

Gambar jahitan subcuticular

Gambar penggunaan stapler


Dilakukan untuk tujuan kosmetik, sehingga harus dilaksanakan
Skin Tapes
dengan benar :
Plester kulit (steril) dapat digunakan bila jaringan yang
1. Simpul pertama di subkutis (absorbable).
dipertemukan memiliki regangan yang rendah. Biasanya
2. Pengambilan subkutis harus sama dalam dari permukaan
digunakan setelah jahitan subkutikuler yang
kulit.
baik sehingga terjadi aproksimasi antara epitel kedua tepi luka.
3. Keluar masuknya jarum harus sejajar dari sisi luka
Penggunaan plester ini lebih cepat, namun rawan terjadi
berseberangan.
pergeseran.
Trunk 10 to 14

Extensor surface 14
hands

Lower extremity 14 to 28

Teknik Pengangkatan jahitan:


1. Pastikan jaringan telah rapat
Gambar penutupan akhir luka dengan plester 2. Bersihkan dengan kasa lembab steril
3. Tindakan aseptik
1. PENGANGKATAN JAHITAN 4. Identifikasi jenis jahitan (simple interupted, matras,
Pengangkatan jahitan antara lain disesuaikan dengan lokasi continous subcuticular dll)
anatomis luka, kondisi luka, usia luka, jenis benang yang 5. Angkat simpul dengan pinset anatomis
digunakan, jenis tehnik jahitan. Jahitan mungkin ditinggalkan 6. Gunting benang yang paling dekat dengan kulit
terutama bila digunakan benang yang diserap. Pengangkatan 7. Cabut benang perlahan lahan. Jika ada tahanan, tarik
dilakukan pada jahitan kulit. Benang mungkin diangkat sekaligus kearah awal jahitan dan kembali tarik kearah berlawanan.
atau berselang-seling dengan selang waktu1 3 hari. 8. Periksa apakah ada seroma, pus atau krusta, jika ada cuci
TABEL Suggested Removal Times for Interrupted Skin Sutures dan bersihkan.
Removal 9. Jika luka operasi rentan kontaminasi, bisa dibalut kembali
Area time (days) dengan steril dressing

Face 3 to 5

Neck 5 to 8

Scalp 7 to 9

Upper extremity 8 to 14
Simpul ditarik dengan pinset
Gunting benang yang menempel ke kulit di tepi jahitan

Tarik simpul kearah berlawanan


Wound Healing Secara skematis dapat dilhat dai gambar dibawah ini

Ditulis Oleh: kapten


Wound healing atau penyembuhan luka adalah suatu proses
alami, baik secara selular maupun biokimia, yang dilakukan oleh
tubuh untuk regenerasi jaringan dermis atau epidermis sebagai
respon atas suatu jejas atau injuri.

Sumber Grabs and Smith


Ditinjau dari lamanya waktu
Proses ini secara garis besar terdiri dari 3 fase yang merupakan
suatu urut-urutan tertentu dan dalam perjalanannya dapat saling
tumpang tindih. Jika fase-fase ini tidak berjalan sebagaimana
harusnya, maka luka tidak akan sembuh. Luka mungkin menjadi
luka kronis seperti venous ulcer atau skar patologis seperti
keloid. Fase-fase tersebut adalah:
1. Fase Inflamasi
2. Fase Proliferasi
3. Fase Maturasi dan Remodeling
Sumber Grabbs and Smiths glikoprotein pada membran sel sehingga platelet tersebut dapat
Ringksan fase-fase wound healing menempel satu sama lain, beragregasi, dan membentuk massa.
Platelet adalah sel yang paling banyak terdapat segera setelah
suatu luka terjadi. Platelet kemudian akan melepaskan faktor-
faktor lainnya seperti protein ECM, sitokin, growth factor yang
mempercepat pembelahan sel, dan faktor proinflamasi
(serotonin, bradikinin, prostaglandin, prostasiklin, tromboksan,
dan histamine) yang meningkatkan proliferasi dan migrasi sel ke
daerah luka serta menyebabkan peningkatan permeabilitas.
Segera setelah pembuluh darah berdilatasi, membran sel yang
ruptur akan melepaskan tromboksan dan prostaglandin yang
menyebabkan pembuluh darah berkontraksi untuk mencegah
kehilangan darah sekaligus mengumpulkan faktor-faktor dan sel
inflamasi lainnya. Vasokonstriksi ini berlangsung selama 510
menit, kemudian diikuti dengan vasodilatasi yang terjadi karena

Fase pada normal acute wound healing pelepasan histamin. Dengan terjadinya vasodilatasi maka akan

Gambar diambil dari: Granick Surgical wound healing and terjadi ekstravasasi protein. Hal ini menyebabkan tekanan

management osmolar ekstravaskular meningkat dan air tertarik ke


1. FASE INFLAMASI ekstravaskular sehingga jaringan menjadi edematous.
Fase inflamasi ditandai dengan terjadinya pembekuan Vasodilatasi ini juga memfasilitasi leukosit dari pembuluh darah
darah (clotting) untuk mempertahankan hemostasis, pelepasan untuk mencapai lokasi luka.
bermacam-macam faktor untuk menarik sel-sel yang akan Setelah 1 jam luka terjadi, polymorphonuclear (PMNs) sampai
memfagosit debris, bakteri, dan jaringan yang rusak, serta pada lokasi luka dan menjadi sel predominan hingga 3 hari
pelepasan faktor yang akan memulai proliferasi jaringan. selanjutnya. PMNs tertarik ke lokasi luka karena adanya
Ketika jaringan terluka, maka darah akan kontak dengan kolagen. fibronektin, growth factors, neuropeptida, dan kinin. Netrofil akan
Hal ini memacu platelet untuk mensekresi faktor-faktor inflamasi. memfagositosis debris dan bakteri, membunuh bakteri dengan
Platelet atau dikenal juga dengan trombosit, juga mengekspresi
cara melepaskan radikal bebas, membersihkan luka dari jaringan
mati dengan mensekresi protease. Setelah netrofil
menyelesaikan tugasnya, ia akan mengalami apoptosis dan
didegradasi oleh makrofag. Leukosit lainnya yang memasuki
lokasi luka adalah sel T-helper yang mensekresi sitokin. Sitokin
menyebabkan sel T-helper membelah lebih banyak lagi sehingga
terjadi proses inflamasi, vasodilatasi, dan peningkatan
permeabilitas kapiler lebih hebat. Sel T-helper juga akan
meningkatkan aktivitas makrofag. Sumber Grabbs and Smiths
Makrofag akan menggantikan peran PMNs sebagai sel Fase inflamasi sangat penting dalam proses penyembuhan luka
predominan. Platelet dan faktor-faktor lainnya menarik monosit karena berperan melawan infeksi pada awal terjadinya luka serta
dari pembuluh darah. Ketika monosit mencapai lokasi luka, maka memulai fase proliferasi. Walaupun begitu, inflamasi dapat terus
ia akan dimatangkan menjadi makrofag. Peran makrofag adalah: berlangsung hingga terjadi kerusakan jaringan yang kronis.
1. Memfagositosis bakteri dan jaringan yang rusak dengan 2. FASE PROLIFERASI
melepaskan protease. Fase proliferasi dari penyembuhan luka dimulai kira-kira 23 hari
2. Melepaskan growth factors dan sitokin yang kemudian setelah terjadinya luka, dan ditandai dengan adanya fibroblas di
menarik sel-sel yang berperan dalam fase proliferasi ke lokasi sekitar luka.
luka. Pada fase ini terjadi angiogenesis. Angiogenesis disebut juga
3. Memproduksi faktor yang menginduksi dan mempercepat sebagai neovaskularisasi, yaitu proses pembentukan pembuluh
angiogenesis darah baru. Karena aktivitas fibroblas dan epitelial membutuhkan
4. Memstimulasi sel-sel yang berperan dalam proses re- oksigen, angiogenesis adalah hal yang penting sekali dalam
epitelisasi luka, membuat jaringan granulasi, dan menyusun langkah-langkah penyembuhan luka. Jaringan dimana
matriks ekstraselular. pembentukan pembuluh darah baru terjadi, biasanya terlihat
berwarna merah (eritem) karena terbentuknya kapiler-kapiler di
daerah itu.
Seiring dengan terjadinya proliferasi fibroblas, populasi sel
keratinosit dan endothelial serta produksi faktor-faktor sampai hari ke-3 setelah terjadinya luka, dan mencapai kadar
pertumbuhan akan bertambah. Hal ini menstimulasi sel-sel puncak pada minggu ke-1 hingga minggu ke-3. Produksi kolagen
proliferasi dan migrasi sel-sel endotelial ke daerah luka sehingga terus berlanjut secara cepat hingga 2 sampai 4 minggu.
terjadi angiogenesis. Pembuluh darah yang baru terbentuk ini Deposisi kolagen sangatlah penting mengingat kolagen berperan
mengawali peningkatan jumlah fibroblas ke daerah luka untuk dalam peningkatan kekuatan luka, sebelum jumlahnya menurun,
memenuhi kebutuhan nutrisi dan untuk memproduksi satu-satunya yang membuat luka dapat berdekatan satu sama
plasminogen activator dan collagenase. lain adalah fibrin fibronectin clot, yang tidak terlalu kuat untuk
Setelah pembentukan jaringan cukup adekuat, migrasi dan menahan suatu luka karena trauma.
proliferasi sel-sel endotelial menurun, dan sel yang berlebih akan Formasi dari jaringan granulasi pada suatu luka terbuka
mati dalam dengan proses apoptosis. menyebabkan terjadinya fase reepitelisasi, seperti halnya sel
Seiring dengan angiogenesis, fibroblas mulai terkumpul di dalam epitel bermigrasi melintasi jaringan yang baru untuk membentuk
luka. Fibroblas mulai memasuki daerah luka 2 5 hari setelah suatu barier diantara luka dan lingkunagn sekitar. Basal
fase inflamasi luka berakhir, dan jumlahnya mencapai puncak keratinosit dari tepi luka dan lapisan dermal, seperti folikel
pada 1 2 minggu setelah terjadinya luka. Pada akhir minggu rambut, kelenjar keringat, dan glandula sebacea adalah sel yang
pertama, fibroblas adalah sel utama dalam luka. Fibroplasia paling bertanggung jawab untuk terjadinya fase epitelisasi pada
berakhir 2 sampai 4 minggu setelah luka terjadi. penyembuhan luka. Mereka tumbuh dalam bentuk lembaran,
Pada 2 3 hari setelah terjadinya luka, fibroblas berproliferasi melintasi luka dan berproliferasi pada tepi luka, dan berhenti
dan bermigrasi, sehingga nantinya menjadi sel utama yang bergerak ketika bertemu di tengah luka.
menjadi matrix kolagen di dalam area luka. Fibroblas dari
jaringan normal bermigrasi ke dalam area luka. Awalnya fibroblas
menggunakan benang fibrin pada fase inflamasi untuk
bermigrasi, melekat ke fibronectin. Lalu fibroblas mengendapkan
substansi dasar ke dalam area luka yang selanjutnya akan
ditempati oleh kolagen.
Salah satu peranan penting dari fibroblas adalah menghasilkan
kolagen. Fibroblas mulai menghasilkan kolagen pada hari ke-2
berdiferensiasi menjadi myofibroblas dan luka mulai menyusut.
Pada luka yang dalam puncak penyusutan terjadi dalam 5 15
hari setelah terjadinya luka. penyusutan dapat berakhir dalam
beberapa minggu, dan berlanjut bahkan setelah luka mengalami
re-epitelisasi. Jika pengerutan berlanjut terlalu lama, hal ini akan
menuju pada kerusakan dan malfungsi.
Pengerutan terjadi untuk mengurangi bentuk yang berlebihan
dari penyembuhan luka. Luka yang besar akan menjadi 40 80 %
Sumber Grabbs and Smiths lebih kecil setelah terjadinya pengerutan. Kecepatan pengerutan
Dengan demikian onset dari migrasi ini bervariasi dan mungkin dalam penyembuhan luka terjadi 0.75 mm per hari, tergantung
terjadi sehari setelah luka terjadi. Sel pada tepi luka berproliferasi pada seberapa besar jaringan luka yang hilang. Penyusutan
pada hari ke dua dan ke tiga setelah luka untuk kelangsungan biasaya tidak terjadi secara simetris, namun kebanyakan
proses migrasi sel. penyembuhan luka memiliki aksis pengerutan yang dapat
Jika membran basalis tidak rusak, sel epitel digantikan dalam 3 dimasuki lembaran - lembaran sel kolagen.
hari oleh bagian-bagian dari membran basalis dan sel yang Pada awalnya, pengerutan terjadi tanpa keterlibatan
bermigrasi dari stratum basalis, dengan cara yang sama pada myofibroblas. Fibroblas baru distimulasi oleh growth factor yang
kulit yang tidak mengalami luka. akan berdiferensiasi menjadi myofibroblas. Myofibroblas yang
Namun bagaimanapun, jika membran basalis di sekitar luka mirip sel otot polos bertanggung jawab pada kontraksi.
mengalami kerusakan, reepitelisasi pasti terjadi di sekitar tepi Myofibroblas mengandung aktin yang serupa ditemukan di dalam
luka dan dari lapisan kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat sel otot polos.
dan kelenjar sebacea yang melintasi dermis yang berhubungan 3.. FASE MATURASI DAN REMODELLING
dengan keratinosit yang hidup. Jika luka yang terjadi sangat Saat kadar produksi dan degradasi kolagen mencapai
dalam, kemungkinan besar lapisan kulit juga akan mengalami keseimbangan, maka mulailah fase maturasi dari penyembuhan
kerusakan, sehingga migrasi sel hanya akan terjadi pada tepi jaringan luka. Fase ini dapat berlangsung hingga 1 tahun
luka. lamanya atau lebih, tergantung dari ukuran luka dan metode
Sekitar 1 minggu setelah terjadinya penyembuhan luka, firoblas penutupan luka yang dipakai. Selama proses maturasi, kolagen
tipe III yang banyak berperan saat fase proliferasi akan menurun penatalaksanaannya. Faktor sistemik meliputi keadaan umum
kadarnya secara bertahap, digantikan dengan kolagen tipe I yang penderita beserta kelainan kronik sebelumya yang telah diderita,
lebih kuat. Serat-serat kolagen ini akan disusun, dirangkai, dan keadaan gizi, penyakit sistem imun dan lain sebagainya. Tabel
dirapikan sepanjang garis luka. dibawah ini menerangkan faktor-faktor yang berperan dalam
penyembuhan luka.

Sumber Grabbs and Smiths


Kekuatan susunan kolagen akan bertambah seiring dengan
perjalanan waktu. Setelah 3 bulan, rata-rata kekuatan jaringan ini
mencapai 50% dari kekuatan jaringan normal, dan akan terus
bertambah hingga maksimal 80% dari kekuatan jaringan normal.
Lama kelamaan aktivitas pada lokasi luka berkurang, sehingga
luka pun menjadi tidak eritematous karena pembuluh darah yang
tidak lagi dibutuhkan untuk kelangsungan proses penyembuhan Sumber Grabbs and Smiths

luka akan dihilangkan secara apoptosis.


Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Penyembuhan
Faktor-faktor ini secara garis besar dibagi menjadi 2 kelompok
yaitu faktor lokal dan faktor sistemik. Faktor lokal meliputi
besarnya luka, jenis jaringan yang mengalami luka, lokasi, bersih
dan kotornya luka (kontaminasi) serta kecepatan
Penatalaksanaan Luka Larutan yang digunakan adalah NS
Dilanjutkan dengan klorheksidin atau betadin
Ditulis Oleh: kapten
Kembali irigasi dan dilusi sampai benar-banar
Luka adalah terputusnya kontinuitas suatu jaringan hidup
bersih
sebagai akibat adanya jejas. Penanganan luka tetap mengacu
2. Debridemen
kepada penatalaksanaan sesuai pedoman ATLS, mulai
Pembersihan luka dan debridemen diawali pada lapisan
dari primary survey sampai secondary survey. Jika keadaan
superfisial jaringan sampai ke lapisan terdalam.
umum baik, maka baru dilakukan perawatan lokal pada luka.
Perhatikan tanda-tanda jaringan avital/mati, yaitu warna lebih
Jenis Luka:
pucat, lebih rapuh dan tidak berdarah
Luka Memar (contusion)
Buang jaringan avital dengan pisau atau gunting, perhatikan
Luka Lecet (vulnus excoreatum)
anatomi daerah tersebut, jangan mencederai vascular atau
Luka Robek (vulnus laceratum)
nervus
Luka Sayat (vulnus Schissum)
Lakukan debridement sampai jaringan yang normal terlihat,
Luka Gigitan (vulnus morsum)
biasanya terlihat adanya perdarahan dari jaringan yang
Luka tusuk (vulnus ictum)
dipotong.
Luka Tembak (vulnus sclopectorum)
3. Penutupan Luka
Luka Bakar (combustio)
Jika luka bersih dan jaringan kulit dapat menutup, maka lakukan
Penanganan luka meliputi:
jahitan primer. Jika luka bersih namun diperkirakan produktif,
1. Wound Cleansing
misalnya kemungkinan seroma atau infeksi, maka pansanglah
Langkah membersihkan luka secara umum adalah:
drain. Jika luka kotor, maka lakukan perawatan luka terbuka
Lakukan tindakan a dan antiseptic
untuk selanjutnya dilakukan hekting sekunder.
Anestesi local (kecuali pada luka bakar kemungkinan
4. Medikamentosa
memrlukan general anestesi)
Antibiotik
Mechanical Scrubbing, menggosok luka dengan kassa
Tujuan pemberian atibiotik adalah untuk profilaksis
steril, memakai larutan antiseptik
Topikal /larutan/Salep
Dilusi dan irrigasi 500-2000 cc atau 50-100 cc/panjang
luka, tergantung dari luas dan kotornya luka.
Mengurangi pembaentukan krusta yang dapat
menghambat epitaelisasi
Mencegah kassa melekat pada luka
Mengurangi tingkat infeksi
Sistemik berupa sediaan oral ataupun parenteral.
5. Pemberian Anti Tetanus
Pemberian tetanus toksoid dilakukan jika belum atau lama tidak
mendapatkan booster TT. Jika telah mendapat booster
sebelumnya, cukup diberikan anti tetanus serum yang terlebih
dahulu dilakukan skin test.
Tindakan Aseptik Antiseptik harus dibedakan dengan obat seperti antibiotik yang
dapat membunuh mikroorganisme di dalam tubuh atau
Ditulis Oleh: kapten
dengan desinfektan yang digunakan untuk membunuh
Bakteri pada kulit sebagian besar besifat komensal. Luka yang
mikroorganisme yang terdapat pada benda mati.
terbentuk akibat insisi bisa menjadi port the entry bakteri
Perlu diperhatikan adanya reaksi atau riwayat alergi terhadap
kedalam jaringan dan sirkulasi darah.
iodium. Jenis antiseptik yang sering digunakan adalah alkhol 70
Bakteri dapat juga berkembang biak pada luka. Untuk
%, povidon iodin, chlorhexidine gluconate dan triklosan.
mengurangi polulasi bakteri dilakukan tindakan aseptik
Tindakan Aseptik
Jenis Antiseptik
Aseptik adalah keadaan bebas dari mikroorganisme penyebab
Jenis antiseptik yang akan dibahas di bawah ini hanya sebagian
penyakit. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya melalui teknik
dari antiseptik, antara lain povidone iodine, savlon
aseptik. Teknik aseptik/asepsis adalah segala upaya yang
(chlorhexidine), triklosan, dan alkohol 70%. Berikut keterangan
dilakukan untuk mencegah masuknya mikroorganisme ke dalam
mengenai jenis antiseptik tersebut :
tubuh yang kemungkinan besar akan mengakibatkan infeksi.
1. Povidone Iodine
Tindakan asepsis ini bertujuan untuk mengurangi atau
1. Struktur Kimia
menghilangkan mikroorganisme yang terdapat pada permukaan
Povidone Iodine adalah senyawa larut air yang merupakan
benda hidup atau benda mati. Tindakan ini meliputi antisepis,
komplek senyawa iodine dengan polyvinylpyrrolidone,
desinfeksi, dan sterilisasi. Untuk itu, diperlukan perlakuan khusus
dengan kosentrasi iodine mulai dari 9 % sampai dengan 12
pada alat dan bahan operasi, lapangan operasi, operator,dan
%, dihitung berdasarkan berat kering. Povidone iodine
asisten sebagai pelaksana.
mempunyai rumus bangun (C6H9NO)n.xI. (2)
Antisepsis adalah upaya pencegahan infeksi dengan membunuh
atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada kulit dan
jaringan tubuh lainnya. Bahan yang digunakan disebut antiseptik.
Antiseptik adalah bahan yang dapat membunuh atau
menghambat pertumbuhan kuman, ada yang bersifat sporosidal Rumus bangun povidone iodine
(membunuh spora) dan non sporosidal, digunakan pada jaringan 2. Mekanisme kerja
hidup khusus,yaitu kulit dan selaput lendir.
Povidone iodine bekerja dengan menghancurkan dinding 2. Chlorhexidine gluconate
sel patogen. 1. Struktur Kimia
3. Keuntungan dan Kerugian Chlorhexidine gluconate sering digunakan untuk mencuci
Povidone iodine memiliki aktivitas antimikroba yang paling tangan di kamar operasi. Bahannya lembut dan jarang
luas karena dapat membunuh semua patogen yang menimbulan iritasi. Chlorhexidine gluconate (nama dagang
penting, bahkan dapat membunuh spora di mana spora savlon) , merupakan derivat dari biguanidin. Chlorhexidine
merupakan salah satu bentuk dari mikroorganisme yang gluconate merupakan cairan antiseptik yang mempunyai
paling sulit dibunuh (to be inactivated) oleh desinfektan komponen aktif cetrimide 0,5 % dan chlorhexidine
dan antiseptik gluconate 0,1%. Selain Chlorhexidine gluconate, savlon
Povidone iodine merupakan antiseptik golongan iodine mengandung n-propyl alkohol dan benzyl benzoat.
yang menyebabkan sedikit iritasi kulit dan jarang
menimbulkan reaksi alergi jika dibandingkan dengan
antiseptik iodine lainnya, namun lebih sering menyebabkan
dermatitis kontak iritan jika digunakan untuk higienitas
tangan (larutan pencuci tangan). Cetrimide
4. Cara Pemakaian
Povidone Iodine diformulasikan dalam bentuk antiseptik
topikal, antara lain larutan (dengan surfaktan dan atau
alkohol), aerosol atau salep pada konsentrasi mulai dari
7,5% sampai dengan 10 %. Zat tersedia di dijual bebas dan
Chlorhexidine gluconate
digunakan untuk membersihkan dan desinfektan pada
2. Mekanisme kerja
kulit, menyiapkan kulit sebelum operasi dan mengobati
Chlorhexidine bekerja dengan cara melekat dan kemudian
infeksi yang peka terhadap iodine. Povidone iodine harus
merusak membran sitoplasma sehingga kandungan/isi
digunakan secara hati-hati pada penderita yang alergi
intraselular menjadi keluar dari dalam sel.
terhadap iodine. Jika terjadi iritasi, kemerahan dan
3. Keuntungan dan Kerugian
bengkak; penggunaan zat harus dihentikan.
Aktivitas antimikroba chlorhexidine lebih lambat dari pada
alkohol. Chlorhexidine memiliki aktivitas antimikroba yang 4. Cara Pemakaian
baik terhadap bakteri gram positif, dan sebaliknya kurang Savlon digunakan untuk keperluan antiseptik pembersih
baik terhadap bakteri gram negatif dan fungi, serta dan hanya digunakan untuk pemakaian luar. Savlon
aktivitas antimikroba yang minimal terhadap bakteri antiseptik sebaiknya tidak digunakan secara langsung pada
tuberkulosa. Chlorhexidine tidak dapat membunuh spora. mata, otak, meningen, telinga tengah, serta tidak
Chlorhexidine memiliki aktivitas secara in vitro untuk digunakan untuk rongga tubuh. Untuk penggunaan secara
membunuh enveloped virus seperti herpes simplex virus, umum larutkan 60-90 mL dalam 1 sampai dengan 1,5 L air.
HIV, cytomegalovirus, namun memiliki aktivitas yang 3. Triklosan
kurang terhadap non-enveloped virus sperti rotavirus, 1. Struktur Kimia
adenovirus, dan enterovirus. Triklosan merupakan senyawa aromatik yang diklorinasi
Reaksi alergi terhadap penggunaan chlorhexidine sangat dan memiliki dua gugus fungsional yaitu eter dan fenol.
jarang ditemukan. Penggunaan chlorhexidine yang
menyebabkan iritasi pada kulit sangat tergantung pada
konsentrasi larutan chlorhexidine, dimana chlorhexidine 4%
yang sering digunakan sebagai larutan antiseptik pencuci
tangan dapat menyebabkan iritasi. Jika larutan
chlorhexidine mengenai mata dapat mengakibatkan
konjungtivitis. Rumus bangun triklosan
Reaksi idiosinkrasi pada kulit dapat terjadi. Savlon bila 2. Mekanisme kerja
terminum secara tidak sengaja dapat menimbulkan mual Yaitu dengan cara denaturasi protein dan merusak
muntah, dyspnea dan sianosis akibat paralisis dari otot membran sel. Triklosan memiliki sifat biosidal dengan
pernafasan. Selain itu depresi sistem saraf pusat dapat merusak membran sel dan sitoplasma. Sedangkan pada
menyebabkan kejang, hipertensi serta koma. konsentrasi rendah, triklosan bekerja sebagai bakteriostatik
Pengobatan dengan cara pengosongan lambung dan dengan menghambat sintesis asam lemak.
terapi simptomatik. 3. Keuntungan dan Kerugian
Triklosan memiliki aktivitas antimikroba yang cukup baik
terhadap Staplylococcus aureus sehingga penggunaan
triklosan 2% sebagai larutan untuk memandikan penderita
kelainan kulit methicilin resistant Staphylococcus aureus Rumus bangun alcohol

(MRSA) sangat dianjurkan. Sebaliknya triklosan memiliki 2. Mekanisme kerja

aktivitas antimikroba yang relatif rendah terhadap bakteri Alkohol bekerja dengan cara denaturasi protein dan

gram negatif, fungi, dan micobacterium. melarutkan lemak.

Triklosan sebaiknya tidak digunakan sebagai larutan mandi 3. Keuntungan dan Kerugian

pada pasien luka bakar atau pasien dengan kelainan kulit Alkohol memiliki aktivitas germisidal secara in vitro

yang luas dan juga pasien dengan kulit yang sensitif karena terhadap bakteri vegetatif gram positif dan gram negatif

dapat menimbulkan efek neurotoksik. (termasuk diantaranya MRSA dan VRE), Mycobacterium

4. Cara Pemakaian tuberculosis, dan sebagian jenis fungi. Namun demikian

Triklosan (trichloro-hydroxy-diphenyl ether) adalah agen alkohol memiliki

antimikrobial yang banyak digunakan pada detergen, aktivitas antimikroba yang sangat minimal terhadap spora

sabun, shampo , deodoran seta kosmetik dengan bakteri. Herpes simplex virus, HIV, influenza virus,

konsentrasi penggunaan di bawah 0,5%. respiratory syncytial virus dan vaccinia virus diketahui

4. Alkohol sangat peka terhadap alkohol. Jenis virus lain yang kurang

1. Struktur Kimia peka terhadap alhokol, namun dapat dibunuh dengan

Alkohol yang paling sering digunakan antara lain ethanol alkohol 50-70%, seperti Hepatitis B virus, enterovirus,

(60-90%), 1-propanol (60-70%) dan 2-propanol/isopropanol rotavirus dan adenovirus. Ethanol memiliki aktivitas

(70-80%) atau campuran dari jenis-jenis alkohol ini. Zat ini antimikroba yang lebih baik dari pada propanol.

membunuh secara cepat dan aktif bakteri vegetatif seperti Alkohol bekerja sebagai germisidal dengan cepat ketika

Mikobakterium tuberkulosis serta beberapa jamur dan virus digunakan pada permukaan kulit, namun tidak berlangsung

lipofilik yang inaktif. lama. Dengan demikian akan terjadi pertumbuhan bakteri
kembali secara perlahan pada permukaan kulit. Hal ini
diduga karena beberapa bakteri pada kulit memiliki efek
sublethal terhadap alkohol.
Penggunaan larutan alkohol yang cukup sering dapat 3. Posisikan daerah operasi seergonomis mungkin
menyebabkan kulit menjadi kering. Namun kelainan dan sekspos mungkin sehinggga operator dan asisten
dermatitis kontak alergi atau urtikaria akibat kontak dengan leluasa dapat melakukan tindakan
terhadap alkohol sangat jarang ditemukan. Penggunaan 4. Fiksasi daerah operasi atau daerah lainnya
larutan alkohol pada lesi kulit dapat menimbulkan rasa sehingga daerah operasi tidak bergerak-gerak
nyeri yang hebat seketika. 5. Siapkan larutan antiseptic dalam kom steril
4. Cara Pemakaian 6. Siapkan seluruh intrumen operasi dalam meja yang
Alkohol bersifat mudah terbakar serta harus disimpan di mudah dijangkau
tempat yang dingin dan cukup ventilasi udaranya. Sebelum 7. Celupkan kassa steril yang dipegang oleh klem
kauterisasi, bedah elektrik serta bedah laser, alkohol harus Kelly atau ring klem.
ditunggu menguap terlebih dahulu. 8. Usapkan mulai dari arah tengah (jika bukan ulkus)
5. Teknik Tindakan Aseptik secara melingkar makin lama makin ketepi dengan tidak
Tindakan yang dilakukan adalah dengan mengusapkan cairan mengusap daerah yang telah diusap sebelumnya.
antiseptik pada lapangan operasi dan sekitarnya. Untuk 9. Laklukan 2 3 kali.
memperluas permukaan steril maka dilakukan drepping, yaitu 10. Pola usapan (painting) dapat juga dari atas
pemakaian duk bolong steril. kebawah secara vertical mulai deri lapangan operasi paling
Prinsipnya adalah mengusap kulit dari mulai daerah yang tengah sampai ketepi dengan arah yang sama.
lebih bersih ke daerah yang paling kotor dengan tidak 11. Tutup permukaan tadi dengan duk bolong steril.
mengusap daerah yang telah diusap sebelumnya.
Teknik tindakan aseptik
1. Sebaiknya cuci daerah oparasi dengan air bersih
dan sabun, jika luka atau daerah operasi kotor.
2. Jika daerah operasi berulkus maka cuci dahulu
daerah sekitar ulkus (diluar ulkus) kemudian baru daerah
ulkusnya( daerah ulkus merupakan daerah terkotor
sehingga tindakan aseptic dilakukan paling akhir.
Klorheksidin dan kassa dalam kom steril, dipegang dengan Pola tindakan aseptic pada khitanan
tangan yang telah menggunakan sarung tangan steril

Pola pengusapan secara melingkar


Anastesi Lokal Penguasaan anatomis persarafan sangat penting diketahui.

Ditulis Oleh: kapten


Keuntungan
Keberhasilan tindakan anestesi sangat besar peranannya atas
1. Keberhasilan cukup tinggi
keberhasilan operasi. Pada anestesi lokal, dengan anestesi yang
2. Area yang teranestesi relatif bisa lebih luas
baik dapat dicapai hasil memuaskan baik secara prosedural
dibandingkan dengan anestesi infiltrasi
medis ataupun kosmetik. Kegagalan pada tindakan ini akan
3. Obat yang dipakai lebih sedikit sehingga
memberikan kesulitan dan komplikasi
menurunkan toksisitas
Anestesi dapat dilakukan dalam lokal ataupun general (narkose
Kerugian
umum ). Hal ini tergantung dari berbagai kondisi setiap individu.
4. Teknik lebih rumit
Tindakan bedah minor umumnya dilakukan dalam anestesi lokal.
5. Penyuntikan tergantung daerah operasi
Pertimbangan pemilihan anestesi lokal antara lain :
6. Tidak semua daerah operasi dapat dilakukan
Risiko anestesi lebih rendah
tindakan anestesi ini
Biaya lebih murah
7. Cedera saraf permanen
Tidak diperlukan recovery
Teknik
Lebih efisien untuk operasi yang singkat
8. Identifikasi lokasi operasi
Teknik Anetesi
9. Identifikasi jalan persarafan
Ada dua teknik anestesi lokal yang memberikan hasil yang baik,
10. Suntikan beberapa cc obat anestesi disekitarnya
yaitu blok dan infiltrasi. Kedua cara ini masing-masing
11. Cek hasilnya
mempunyai keuntungan dan kerugian.
Jika pasien masih kesakitan cobalah masase lagi dan lakukan
1. Blok
pengujian. Jika keadaan anestesi belum juga terjadi,
Dilakukan dengan menyuntikkan obat anestesi di area
evaluasilah beberapa hal berikut.
tertentu dimana saraf yang mempersarafinya diblok agar
12. Apakah lokasi penyuntikan sudah sesuai dengan
rangsang nyeri tidak dilanjutkan.
anatomi persarafan ?
Jadi dengan teknik blok, anestesi dilakukan di proksimal
13. Apakah ada riwayat alkoholik ?
daerah operasi. Pada daerah operasinya dapat juga
ditambahkan anestesi infiltrasi.
14. Apakah benar yang disuntikkan adalah obat
anestesi atau obat anestesi yang sudah kadaluarsa ?
Hati-hati, sediaan vial sering tertukar dengan aquabides atau
obat anestesi dalam vial yang sudah pernah dipakai atau tidak
dipakai dalam waktu lama akan mengurangi daya
anestesinya.
Anastesi pada jari tangan dan kaki
Perhatikan anatomis persarafan

Suntikan di arah maedial


2. Infiltrasi

Dilakukan penyuntikan di sekitar area operasi. Suntikan


dilakukan di daerah subkutis. Teknik yang berkembang saat ini
adalah field blok, yaitu menginfiltrasi suatu area dengan
terget operasi ditengahnya. Setelah seluruh pinggir area
diinfiltrasi, area tepat diatas insisi diinfiltrasi lagi. Jarak antara

Jalannya saraf dari lateral dan medial tiap jari pinggir daerah yang diinfiltrasi dengan target operasi tidak

Perhatikan pola penyuntikan: melebihi 2 cm. Jika lebih maka kemungkinan masih ada impuls
saraf yang tidak terblok. Jika memang masa yang akan
operasi cukup besar, kemungkinan diperlukan infiltrasi
beberapa lingkaran, agar area yang diinfiltrasi menjadi luas.
Kedalaman infiltrasi tergantung dari jenis operasi. Jika masa
yang diambil cukup dalam, maka perlu juga dilakukan infiltrasi
lebih dalam, bahkan sampai otot atau periosteum.

Suntikan di arah lateral dan medial


Teknik infiltrasi 5. Arahkan ke area kanan, aspirasi, jarum dicabut (tetapi
1. Masukan jarum di salah satu sudut area operasi. tidak sampai lepas dari kulit) sambil obat dikeluarkan
6. Jarum dibelokan ke arah kiri, aspirasi, jarumdicabut sambil
obat dikeluarkan.
7. Lanjutkan penyuntikan ketiga tepat diatas garis yang
akan diinsisi
8. Masase
9. Cek dengan menjepitkan pinset
Komplikasi Tindakan Anestesi
1. Hematom

2. Arahkan ke area kanan, aspirasi, jarum dicabut (tetapi Terjadi karena pecahnya pembuluh darah ketika anestesi yang
tidak sampai lepas dari kulit) sambil obat dikeluarkan. kemudian darah berkumpul di submukosa sehingga
3. Jarum dibelokan ke arah kiri, aspirasi, jarum dicabut menimbulkan benjolan. Hematom ini dapat terus membesar
sambil obat dikeluarkan. atau berhenti tergantung dari besarnya pembuluh darah yang
terkena. Pada pembuluh darah kecil biasanya hematom tidak
membesar karena platelet plug sudah cukup untuk
menghentikan kebocoran tadi. Jika terjadi hematom, kita
evaluasi beberapa saat apakah hematom itu terus membesar
atau tetap. Jika terus membesar, kita harus berusaha mencari
pembuluh darah yang pecah dan mengikatnya kemudian
membuang bekuan darah yang terkumpul. Tetapi jika
hematom tidak membesar hanya diperlukan membuang
masa hematomnya saja.
4. Masukan jarum di sudut yang bersebrangan dengan sudut
tadi 2. Udem
3. Suntikan segera adrenalin 1:1000 sebanyak 0,3-0,4
Disebabkan terlalu banyaknya obat anestesi yang diberikan ml im , sebaiknyna otot deltoid, atausubcutan (sc)
sehingga obat tersebut berkumpul dalam jaringan ikat longgar dan segera dimasase, ulangi pemberian 0,3-0,4 ml
mukosa dan sub mukosa. Hal ini akan mempersulit ketika adrenalin tiap 5-10 menit sampai tekanan sistolik
melakukan penjahitan. Udem akibat anestesi ini diabsorpsi mencapai 90-100 mmHg dan denyut jantung/nadi
dalam 24 jam. tidak melebihi 120x/menit.
4. Suntikan:
3. Syok Anafilaktik Antihistamin difenhidramin 10-20 mg
Kortikosteroid-hidrokortison 100-250
Syok anafilaksis disebabkan oleh reaksi mg iv
hipersensitifitas type I. Terjadi vasodilatasi perifer Bila ada spasme bronchial, Aminofilin
sehingga terjadi pengumpulan darah di perifer. 200-500 mg i.v perlahan lahan.(1 ml mengandung
Akibatnya terjadi penurunan venous return sehingga 24 mg aminofilin)
cardiac output pun menurun. 5. Bila terjadi henti nafas, berikan nafas buatan, bila
disertai henti jantung lakukan pijatan (penekanan)
Tanda dan gejalanya terhadap jantung (pertengahan sternum)/ RJP.
Nadi cepat dan kecil 6. Bersamaan dengan pemberian adrenalin, lakukan
Penurunan tekanan darah pernafasan buatan dan kompresi jantung,
Keringat dingin pemasangan infus dengan kristalolid (NaCl, ringer
Lemas laktat) dengan tetesan secepat mungkin (diguyur)
Badan terasa melayang sampai nadi teraba.
Mual 7. Observasi dengan seksama sampai tanda-tanda vital
Penatalaksanaan: stabil.
1. Letakkan pasien dalam posisi trendelenburg.
2. Berikan oksigen lembab 3 - 5 l/menit.
Insisi Pastikan masa yang akan diambil tidak berhubungan dengan
kulit.
Ditulis Oleh: kapten
2. Insisi elips atau bulat
Insisi dilakukan sebagai akses awal menuju daerah tujuan
Digunakan sebagai akses jika target operasi masa yang akan
operasi. Insisi dilakukan setelah mengkaji kembali diagnosa dan
diambil berhubungan atau berada di kulit. Misalnya skin tag,
tujuan terapi bedah. Perencanaan insisi harus disertai dengan
granuloma, atau keloid. Dilakukan juga untuk massa dilokasi
perencanaan penutupan defek yang ditimbulkannya.
lebih dalam dari kulit tetapi berhubungan dengan kulit
Pengambilam masa di subkutis yang tidak membuang kulit
misalnya kista aterom, atau masa di subkutis lainnya yang
mungkin tidak akan menimbulkan masalah saat penutupan
terinfeksi sampai kulit sehingga kulit diatasnya harus dibuang.
defek, tetapi jika kulit ikut diambil maka ada kemungkinan timbul
Pada pembuatannya tentukan lebih dulu lebar dan incisi
masalah saat penutupan luka apalagi jika jariongsan kulit yang
sesuai dengan lesi, kemudian panjang insisi harus 3x lebar
diambil luas. Menurut bentuknya insisi dikelompokan menjadi
1. Insisi Linier
Insisi dalam satu lintasan atau garis lurus, atau melengkung.
Insisi ini digunakan jika daerah operasi atau masa yang
diambil tidak melekat/ berhubungan dengan kulit. Misalnya
mengambil masa lipoma yang letaknya di subkutis maka insisi
linier digunakan sebagai akses masuk dan diseksi sebagai
lanjutan untuk evakuasi masa.

Perhatikan ujung lancip tiapsisi


Jahitan tidak boleh sekaligus tetapi harus dua kali karena arah
jarum harus tegak lurus dengan tepi insisi
Untuk menghindari regangan dapat dikerjakan teknik sampai inti yang masuk ditemukan yang dilanjutkan dengan
undermining insisi ellips.
3. Insisi S atau Z 5. Insisi Poligonal
Insisi dalam satu lintasan berbentuk huruf S atau Z (tidak Digunakan sebagai akses sekaligus diseksi tajam jika target
berbetuk lurus). Insisi ini digunakan jika daerah operasi atau operasi masa yang akan diambil berhubungan atau berada di
masa yang diambil biasanya tidak berhubungan dengan kulit kulit. Dibuat banyak sisi tajam atau poligonal bertujuan untuk
tetapi letaknya di persendian. Misalnya mengambil menghabiskan akar-akanr dari masa yang dibuang. Misalnya
masa Becker cyst di fosa poplitea. Insisi ini digunakan sebagai tumor ganas kulit. Poligonal juga berfungsi untuk mengecek
akses masuk dan diseksi sebagai lanjutan jika masa sudah tiap sisi apakah bebas dari masa tumor atau tidak.
ditemukan. Tujuan dari bentuk yang tidak lurus adalah untuk Penutupan Defek
mencegah terjadinya kontraktur seteleh luka sembuh. Pengambilan masa bersamaan dengan kulit diatasnya
menimbulkan deffek yang dapat ditutup dengan mendekatkan
tepi luka. Mungkin juga jika defek terlalu lebar maka kedua
tepi luka tidak dapat didekatkan. Untuk itulah diperlukan
teknik khusus untuk menutup defek.
Perhatikan jahitan ditiap sudut.
Sekali lagi, petutupan defek ini harus difikirkan saat
merencanakan insisi, bagaimana kemungkinan defek yang
terjadi dan cara untuk menutupnya. Dengan demikian, pada
saat insisi telah tergambar rencana teknik penutupan
defeknya.
Insisi dilakukan jika lokasi didaerah persendian dan masa Adapun teknik yang dapat dipakai adalah, advancement,
tidak berhubungan dengan kulit. flaps, STSG (split thickness skin graff ), FTSG (full thickness)
4. Insisi tangensial/transversal dan lain-lain
Insisi secara mendatar, sejajar dengan masa. Dilakukan pada Menutup defek dengan cara mendekatkan 2 sisi insisi.
masa solid yang letaknya di kulit.Untuk bedah minor, insisi ini Dilakukan jika masing-masing tepi longgar. Jika tidak maka
dilakukan pada insisi klavus dimana klavus ditipiskan dahulu dilakukan pembebasan jaringan subkutis dari masing-masing
tepi agar menjadi longgar sehingga masing-masi tepi bisa
bertemu sehingga jahitan tidak terlalu tegang /tension.

Gambar advancement flaps dengan single pedicle

Gambar penutupan defek dengan flap

Gambar advancment flaps dengan 2 buah flaps

Koreksi Dog Ear


Adakalanya diujung luka kulit lebih menonjol dan seakan
seperti masa kulit. Kelebihan kulit ini menyerupai telinga
anjing sehingga sering disebut dog ear. Antisipasi
terbentuknya dog ear ini dilakukan saat insisi, yaitu ujung
insisi pada insisi elips diusahakan lebih lancip, tidak lengkung.
Dog ear pada ujung luka

Badingkan kedua ujung insisi yang lancip dengan


lengkung. Dog ear terbetntuk dari insisi yang lebih lengkung.
Untuk memperbaikinya, luka operasi terlebih dahulu dijahit
seperti biasa untuk menilai sebesar apa ear dog yang
terbentuk. Kemudiaan baru dikoreksi dengan membuat insisi
berikutnya seperti pada gambar dibawah ini

Gambar diatas mengoreksi dog ear dengan membuat insisi


elips pada tepi sayatan sebelumnya, sedangkan gambar
bawah membuat insisi dua segitiga.
Hemostasis harus dipelajari sebagai antisipasi adanya penyulit yang mungkin
terjadi.
Ditulis Oleh: kapten
Hemostasis adalah bagian penting dari tindakan operasi apapun.
Kecepatan dan ketepatan dalam tindakan ini akan mengurangi
komplikasi akibat perdarahan. Penggunaan alat bantu yang
canggih telah banyak menghemat waktu dan darah pasien.
Secara skematis, respon terhadap injuri vaskular dapat dilihat
pada bagan dibawah ini

Teknik Hemostasis
Penekanan/Depper
Sistem koagulasi yang terjadi dapat melalui jalur intrinsik Teknik ini digunakan untuk membantu sistem hemostatis dengan
ataupun ekstrinsik,tetapi pada akhirnya akan bergabung lewat melakukan penekanan pada daerah perdarahan beberapa saat.
jalur bersama. Berbagai faktor yang mempengaruhi pembekuan Dengan penekanan, diharapkan kapiler dapat tertutup dan
selanjutnya platelet plug yang terbentuk akan lebih mudah
menutup kapiler yang terpotong. Teknik ini hanya bisa dilakukan
pada perdarahan yang diakibatkan jejas pada pembuluh darah perdarahan, terutama perdarahan yang besar. Biasanya setelah
kecil seperti kapiler, sedangkan untuk pembuluh darah yang diklem hampir selalu diligasi. Caranya sama seperti cara dep dan
lebih besar digunakan penjepitan dengan klem atau bahkan klem. Namun, setelah diklem, dilakukan ligasi pada pembuluh
ligasi. darah yang terpotong, baru kemudian klem dibuka. Ligasi dapat
Segera setelah insisi selesai, lakukan penekanan/dep dengan dilakukan dengan menggunakan chromic cat gut atau plain cat
melingkarkan kasa ke sekeliling daerah insisi sambil ditekan, gut dengan ukuran 3.0.atau 4.0. Perlu diingat bahwa setiap ligasi
diputar dan dibiarkan beberapa saat, kemudian lepaskan dan dengan cat gut harus disimpulkan sekurang-kurangnya 3 kali
lihat sumber-sumber perdarahan. Setelah terlihat baru di klem. karena lama-kelamaan cat gut akan mengembang dan ikatan
Pengkleman menjadi longgar serta dapat lepas jika hanya satu atau dua kali
Dilakukan pada pembuluh darah yang agak besar. Sebelum menyimpulkan. Simpulkan secara reef knot. Untuk lebih jelas
dijepit dengan klem, harus dipastikan terlebih dahulu sumber perhatikan gambar berikut.
perdarahan atau pembuluh darah yang terpotong. Caranya
adalah dengan mendep daerah perdarahan tersebut dengan kasa
beberapa saat sampai diperkirakan darah di daerah sekitarnya
terserap oleh kasa, kemudian kasa diangkat secara tiba-tiba dan
sambil diperhatikan di daerah mana darah muncul. Setelah
ditemukan sumber perdarahan, jepit dengan klem , usahakan
posisi klem tegak lurus supaya bagian yang terjepit seminimal
mungkin. Hal ini berguna jika dilakukan ligasi maka ikatan tidak
menjadi longgar setelah klem dibuka. Setelah diklem, didep
kembali untuk melihat apakah masih terdapat perdarahan atau Teknik Ligasi
tidak. Jika perdarahan masih ada, perlu dipikirkan apakah Dep dengan kasa daerah yang diperkirakan sumber perdarahan.
pengkleman sudah tepat pada sumber perdarahan atau ada Jepit sumber perdarahan, yakinkan bahwa perdarahan berhenti.
sumber perdarahan lain.
Ligasi
Ligasi dilakukan jika penjepitan dengan klem masih terjadi
pada ujung klem yang menjepit pembuluh darah akan
mengakibatkan sel-sel akan mengalami combustio yang
bergabung menjadi struktur seperti hialin dan pembuluh
dalam masa kuagulasi. Arus keluar dihantarkan
melalui ground plate yang dipasang pada bagian lain tubuh
pasien. Agar arus keluar ini tidak mengakibatkan kerusakan
pada kulit, ground plate harus memiliki permukaan yang lebar.
Teknik

Teknik Ligasi 1. Pasang ground plate


Perhatikan tahapan ligasi di atas. Ikatan di atas diulang 2. Identifikasi sumber perdarahan dengan cara
sebanyak tiga kali agar tidak mudah lepas. mendep dengan kasa
Gunting , sisakan benang sekitar 2 mm. 3. Klem/pegang dengan pinset sumber perdarahan
4. Nilai ulang apakah masih ada perdarahan ditempat
yang sama
Kauterasi 5. Tempelkan pencil probe kauter pada klem/pinset
Metode ini ditemukan oleh Bovie yang menyatakan bahwa arus 6. Tekan tombol biru beberapa saat sampai sumber
listrik bolak balik (alternating current) dengan frekuensi tinggi, perdarahan terkoagulasi
yaitu sebesar 250.000 2.000.000 Hertz dapat digunakan untuk 7. Lepaskan kelm/pinset
menginsisi atau mengkoagulasi jaringan. 8. Nilai ulang apakah amasih ada perdarahan di
Ada dua teknik dasar yang dapat digunakan, yaitu : tempat yang sama.
9. Identifikasi lagi perdarahan di tempat lain
1. Probe Monopolar 10. Dengan cara yang sama lakukan koagulasi sampai
semua sumber perdarahan terhenti.
Cara kerjanya adalah arus listrik AC berfrekuensi tinggi (+ 1,5 Pembuluh darah yang terbuka dibakar untuk menimbulkan
MHz) mengalir lewat probe dan mengakibatkan efek destruksi obstruksi. Cara ini sangat menguntungkan dibandingkan
jaringan dan dehidrasi hingga koagulasi. Probe ditempelkan
dengan semua cara di atas. Dengan teknik ini perdarahan 12. Identifikasi sumber perdarahan dengan cara
dapat lebih cepat diatasi karena hanya dengan mendep dengan kasa
menyentuhkan probe pada sumber perdarahan. Cara ini juga 13. Jepitkan probe pinset sumber perdarahan
relatif lebih mudah dibandingkan teknik lainnya. Sayangnya 14. Inajak tombol on beberapa saat sampai sumber
harga alat ini relatif mahal. perdarahan terkoagulasi
15. Lepaskan probe pinset
16. Nilai ulang apakah amasih ada perdarahan di
tempat yang sama. Identifikasi lagi perdarahan di tempat
lain

Kontrol Perdarahan Dengan menggunakan electrocauter.

b. Probe bipolar
Jaringan yang dikoagulasi berada antara arus masuk dan
keluar dengan jarak hanya beberapa millimeter saja. Probe Electro Cauter dengan Probe Bipolar

yang digunakan mirip pinset, dimana satu sisi pinset diisolasi


dari sisi pinset lainnya yang bihubungkan dengan satu untuk Spons Gelatin

aliran listrik masuk dan sisi lainnya untuk arus keluar. Berupa potong-potongan spons kecil seperti gabus, bersifat

Electrocauter ini dapat digunakan untuk koagulasi dan insisi. lembut, tidak toksis, tidak bersifat antigen, dan dapat diserap

Teknik tubuh sekitar 4 minggu. Digunakan dengan cara

11. Pasang ground plate menempelkan pada daerah perdarahan dan perdarahan mulai
berhenti beberapa saat. Di pasaran lebih dikenal dengan
nama spongostan.

Collastypt (surgycell)
Laser
Penggunaan laser bisa berbarengan dengan insisi. Seperti
hanya dengan menggunakan electrocauter monopolar,
penggunaan laser hampir sama. Dengan menembakan sinar
dari probe ke arah perdarahan (pengaturan jarak disesuaikan
Gambar 8.6 Spons Gelatin dengan daya) maka terjadi proses pembakarn. Sayangnya
penggunaaan laser CO2 tidaklah sepraktis electrocauter
Collastypt (surgycell) karena alur sinar yang dipancarkan dan harus dibelokkan
Suatu kolagen berupa lembaran-lembaran melalui cermin dan prisma untuk sampai ke ujung probe
putih. Collastypt yang bergabung dengan darah akan sehingga lebih rigid dibandingkan dengan penggunaan probe
membentuk masa gelatin yang dapat menghentikan pada electrocauter. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah
perdarahan. Penggunaannya terutama pada perdarahan pengaturan daya agar jangan sampai menimbulkan daya
parenkim. Hemostatis akan segera tercapai setelah tembus yang terlalu besar yang akan mengakibatkan
pemakaian. Tidak ada efek samping maupun kontraindikasi efek combustio yang dalam.
dalam pemakaiannya dan dapat diserap dalam waktu sekitar Teknik
3 minggu. 17. Identifikasi sumber perdarahan dengan cara
mendep dengan kasa
18. Arahkan optik ke sumber perdarahan
19. Atur jarak optik ke sumber perdarahan
20. Tekan tombol sinar beberapa saat sampai jaringan sirkulasi ekstrakorporeal karena tidak memerlukan suatu
terkoagulasi sistem hemostatik yang efektif.
21. Perhatikan agar jaringan yang disinar dalamposisi Lem fibrin juga telah dievaluasi pada graft vaskular yang
kering. terbuat dari Dakron yang dianyam atau dirajut. Kelemahan
22. Evaluasi ulang sumber perdarahan yang utama dari penggunaannya adalah risiko penularan
23. Untuk di jam 6, angkat jaringan yang akan disinar penyakit serologis dari darah yang disatukan dan darah yang
dengan pinset menjauhi urethra baru disinar. berasal dari donor tunggal. Preparat yang paling aman adalah
24. Identifikasi lagi perdarahan di tempat lain menggunakan darah pasien sendiri untuk mempersiapkan lem
25. Dengan cara yang sama lakukan koagulasi sampai fibrin. Secara keseluruhan, lem fibrin merupakan suatu
semua sumber perdarahan terhenti. metode tambahan yang berguna untuk mengontrol
Fibrin Glue perdarahan pada pasien operasi.
Fibrin glue (lem fibrin) adalah campuran antara 2 zat yaitu Teknik
fibrinogen dan thrombin. Ketika kedua zat ini bercampur, 26. Masukan masing-masing vial dalam spuit double
agen ini mirip dengan tahap akhir dari urutan pembekuan barel
darah untuk membentuk suatu gumpalan fibrin. Fibrinogen 27. Pasang kedua spuit pada tempatnya
dapat diperoleh dari pengumpulan, donor tunggal, dan 28. Identifikasi sumber perdarahan
donor darah autolog dan biasanya diisolasi melalui proses 29. Letakan ujung spuit double barel pada sember
kriopresipitasi. Komponen thrombin biasanya diperoleh dari perdarahan (usahakan secepat mungkin agar masih kering
sapi komersil. Beberapa penyelidik telah menambahkan setelah di dep)
kalsium klorida dan/atau antifibrinolitik (yaitu asam 30. Tekan kedua ujung spuit sampai kedua isi spuit
aminokaproat, aprotinin) pada preparat mereka. Lem keluar bersamaan
fibrin dapat digunakan dengan memakai suatu double- 31. Lekatkan sedikit saja.
barrel syringe atau aplikasi semprot. Walaupun telah 32. Jika seluruh perdarahan teratasi maka kulit
digunakan untuk berbagai prosedur operasi, lem fibrin diaproksimasi dan di lem(menggantikan penjahitan.
terutama bermanfaat untuk pasien yang diheparinisasi yang 33. Biarkan beberapa detik sampai kering.
menjalani prosedur kardiovaskular yang membutuhkan Ligasi Hekting
Jika dilakukan hemostasis dengan ligasi hekting, ada beberapa
cara yang dapat dilakukan jahitan matras atau figure of eigh
Pembalutan hidrogel
hidrokoloid
Ditulis Oleh: kapten
alginates
Dressing atau pembalutan luka paskaoperasi bertujuan untuk
Balutan luka sintetik
melindungi daerah operasi dari kotoran.
silicone meshes
Banyak macam dan jenis baluta, mulai yang paling konvensional
tissue adhesives
seperti kasa (gauze), sampai balutan yang menyerap eksudat
barrier films
seperti bahan dari rumput laut bahkan sampai bio ceramic.
Balutan mengandung perak atau kolagen
Komposisi balutanpun ditambah dengan berbagai macam zat
Balutan luka ideal
yang berfungsi mengoptimalkan suasana agar penyembuhan
TIdak ada balutan tunggal yang dapat dipergunakan untuk
luka dapat berlangsung tanpa komplikasi. Pemakaian antibiotik,
semua tipe luka. Seringkali, sejumlah tipe balutan yang berbeda
antiseptik, anti perdaraha sampai yang mengandung zat untuk
digunakan selama proses penyembuhan suatu luka. Balutan
peningkatan oksigen kedalam jaringan. Secara kosmetik juga
seharusnya memenuhi fungsi berikut :
berkembang balutan yang mengandung zat untuk meminimalkan Mempertahankan lingkungan yang lembab pada
skar post operasi.
permukaan luka/balutan
Balutan luka sintetik
Menyerap eksudat yang berlebihan tanpa adanya
Balutan luka sintetik semula terdiri dari 2 tipe; pembalutan gauze
kebocoran pada permukaan balutan
dan balutan pasta seperti balutan pasta zinc. Pada pertengahan
Terlindung dari termal dan mempertahankan secara
tahun 1980-an, pembalutan luka modern pertama diperkenalkan
mekanis
dimana diperkenalkan karakteristik terpenting dari pembalutan
Memberikan proteksi terhadap bakteri
luka yang ideal : mempertahankan kelembaban dan bersifat
Adanya pertukaran gas dan cairan
menyerap (seperti busa poliuretan, hidrokoloid) dan
Menyerap bau luka
mempertahankan kelembaban dan antibakteri (seperti gel yang
Tidak melekat pada luka dan mudah dibuka tanpa trauma
mengandung yodium).
Memberikan aksi debridement (mengangkat jaringan mati
Selama pertengahan tahun 1990-an, pembalutan luka sintetik
dan/atau partikel asing)
meluas menjadi beberapa kelompok produk berikut:
Non-toxic, non-allergenik dan non-sensitif (baik bagi
vapour-permeable adhesive films
pasien dan tenaga medis)
Steril balutan
Klasifikasi balutan luka
Balutan luka sintetik secara luas dikategorikan dalam tipe Gauze Balutan dapat
berikut: melekat

Tipe Karakteristik pada permukaan


luka dan merusak
Produk Balutan tradisional yang
dasar luka ketika
pasif menutupi seluruh luka, misalnya
diangkat. Hanya
balutan gauze dan tulle
digunakan pada

Produk Film polimerik dan bentuk yang luka minor atau

interaktif lebih transparan, permeable sebagai balutan

terhadap air dan oksigen, non- sekunder

permeabel terhadap bakteri,


Tulle Balutan tidak
misalnya asam hialuronat,
melekat pada
hidrogel, balutan busa
permukaan luka.

Produk Balutan yang mengandung Cocok untuk luka

bioaktif substansi aktif yang berperan datar dan

dalam perbaikan luka, misalnya dangkal. Berguna

hidrokoloid, alginate, kolagen, pada pasien

chitosan dengan luka


sensitive.
Tipe luka dan balutan Contohnya
Tabel berikut menggambarkan beberapa tipe perbedaan balutan Jelonet,
luka dan karakteristik utamanya. Paranet

Tipe Karakteristik Gambar


Film Lapisan steril dari debridement dan
semiperm poliuretan yang penyembuhan.
eabel dilapisi oleh pita Tergantung pada
akrilik. Karena balutan
transparan, hidrokoloid yang
mudah mengecek dipilih, dapat
luka. Cocok untuk digunakan pada
luka dangkal luka dengan
dengan sedikit sedikit sampai
eksudat. banyak eksudat,
Contohnya luka lembab atau
OpSite, bergranulasi.
Tegaderm Tersedia dalam
beberapa bentuk
Hidrokoloi Terdiri dari
(adhesive atau
d karboksimetilselul
nonadhesif pad,
osa gelatin,
pasta, bubuk)
pektin, elastomer
tetapi lebih sering
dan pelekat yang
sebagai
berubah menjadi
self-adhesive
gel ketika eksudat
pads. Contohnya
diabsorbsi.Hal ini
DuoDERM,
membentuk
Tegasorb
suasana panas
dan lembab yang
akan merangsang
Hidrogel Trutama terdiri Alginat Terdiri atas
atas air dalam kalsium alginate
jaringan kompleks (komponen
atau fiber yang rumput laut).
mempertahankan Ketika kontak
keutuhan gel dengan luka,
polimer. Air kalsium dalam
dilepaskan untuk balutan diubah
menjaga agar menjadi natrium
luka tetap dari cairan luka
lembab. dan hal ini akan
Digunakan untuk mengubah
luka nekrotik atau balutan menjadi
lembab untuk bentuk gel yang
rehidrasi dan mempertahankan
mengangkat suasana lembab
jaringan mati. luka. Baik untuk
Tidak digunakan luka dengan
untuk luka eksudat dan
eksudat moderat membantu dalam
sampai berat. hal debridement
Contoh Tegagel, luka lembab.
Intrasite Tidak digunakan
pada luka dengan
sedikit eksudat
karena dapat
menyebabkan suasana kering
suasana kering dan krusta.
dan krusta. Contohnya
Balutan sebaiknya Allevyn,
diganti setiap Lyofoam
hari. Contohnya
Hidrofiber Balutan lembut
Kaltostat,
non-woven pad
Sorbsan
atau plester yang
Busa Didesain untuk terbuat dari fiber
poliuretan mengabsorbsi natrium
atau sejumlah besar karboksimetilselul
silikon eksudat. ose. Berinteraksi
Mempertahankan dengan drainase
luka dalam luka untuk
suasana lembab membentuk suatu
tetapi tidak gel lunak.
berguna seperti Mengabsorpsi
alginate atau eksudat dan
hidrokoloid untuk memberikan
debridement. suasana lembab
Tidak digunakan di bagian dalam
pada luka dengan luka.
sedikit eksudat
Kolagen Balutan berasal
karena dapat
dari pad, gel atau
menyebabkan
partikel.
Merangsang Bersih, Absorb
deposit baru kering, sedikit ent
kolagen pada eksudat perforated
dasar luka. (epithelialisin plastic film-
Mengabsorpsi g) faced
eksudat dan dressing
menciptakan Vapour-
suasana lembab. permeable
adhesive

Perbedaan tipe luka dan perbedaan tingkat penyembuhan luka film

memerlukan pembalutan yang berbeda atau kombinasi dressing

pembalutan. Bersih, Hidroko


Tabel berikut ini memperlihatkan balutan yang sesuai untuk tipe exudasi loid
luka tertentu. (granulating) Busa
Alginat
Tipe luka Tipe balutan Contoh
Slough- Hirokol
Bersih, Paraffin
covered oid
medium gauze
Hidrog
sampai Knitted
el
banyak viscose
eksudat primary
Kering, Hidroko
(epithelialisin dressing
nekrotik loid
g)
Hidrog
el
alginat atau
Pembalutan mungkin memerlukan balutan sekunder seperti hidrokoloid bila
absorben pad dan plester. banyak eksudat

Efek samping balutan Graze, Film, tulle, lapisan 2 hari


Balutan luka dapat menyebabkan masalah, termasuk: abrasions terfiksasi atau
Maserasi (kelembaban) kulit di sekitarnya (sering ganti clean lapisan kering
balutan dan gunakan lebih banyak balutan absorben)
Graze, Kering atau tulle 2 hari
Dermatitis kontak iritan (melindungi kulit dengan emolien
abrasions
atau film barier)
soiled
Dermatitis kontak alergik (jarang : ganti tipe balutan,
oleskan steroid topical) Luka tusuk Terbuka atau kering 2 hari
atau gigitan

Tipe luka Pilihan balutan Review


Laceration - Terbuka atau kering, 3-7 hari
times
suturedLacer pertimbangkan

Luka nekrotik Moisture retention 3-4 hari ations paper tape support
kering misalnya hidrokoloid, setelah

semi permeabel pengangkatan


jahitan
Slough Moisture retention 3-4 hari
covered dan absorpsi cairan Luka bakar Film, medicated 4-5 hari
wounds misalnya hidrokoloid, minor tulle, fixation sheet visual

alginat review
leave
Luka Hindari balutan 1-2 hari
dressing
terinfeksi semiterbuka.
on if
Pertimbangkan
healing
Tipe Cont Keuntung Kerugian Indikasi Kontrai
see balutan oh an ndikasi

Luka bakar Plastic Pemeriks Film OpSi Evaporasi Eksudat Luka Luka
poliuretan te, kelembaba tergenang, superfisial dengan
mayor atau wrap terutama untuk aan transparan Tega n, dapat Sebagai banyak
memerlukan pemeriksaan rawat semi- derm Menguran traumatik. balutan eksudat
permeabel gi nyeri. sekunder
rawat inap surgical, medicated inap tipis, Barrier
misalnya area tulle melekat, terhadap
kontamina
luka bakar si
kronis special eksternal.
Mudah
Luka kronis Hidrokoloid, alginat, 5 hari terlihat.

misalnya busa Non Jelon Melekat Tidak Luka Alergi


adherent et, pada luka. mengabsor bakar.Pen
ulkus, PEG
Moist (Tulle Unit Suasana psi yembuhan
sites dll Gras ulle lembab eksudat.M luka
Dressing) Bacti membantu emerlukan dengan
Pemilihan balutan Gauze gras, penyembu balutan tujuan
ditambah Sofr han sekunder. sekunder
Pemilihan balutan didasarkan kepada paraffin a- Dapat
Jenis luka atau zat Tulle merangsan
serupa. g alergi
Ukuran luka Dapat atau
Lokasi luka ditambahka memperla
n dengan mbat
Kebersihan luka
antiseptic penyembu
Produktifitas luka atau han ketika
antibiotic terisi
Komplikasi penyerta
paraffin
Ketersediaan bahan atau zat
Finansial serupa

Secara umum, pemiliha balutan dapat dilihat pada table dibawah Film plastic Melo Perlekatan Tidak Luka Luka
berlubang lin, luka cocok pada dengan kering
ini
tipis kering, Melo ringan. luka eksudat (dapat Natural Kalt Membentu Memerluk Luka Luka
non lite, Dapat dengan moderat menyeb Kalsium ostat k gel pada an balutan eksudativa kering
adherent Trico mengabsor eksudat abkan Alginat luka dan sekunder. moderat atau
melekat se psi sedikit banyak. dehidras polisakarida melembab Tidak atau tinggi jaringan
pada pad eksudat Dapat i dari rumput kan. direkomen eksudat.Pe parut
absorben mongering jaringan laut Menguran dasikan rlu untuk keras
dan ) gi nyeri. pada hemostasis
menempel Dapat infeksi
pada luka. membung anaerob
Memerluk kus Gel dapat
an balutan ruang.Abs dikelirukan
sekunder. orbenpada dg slough
luka atau pus
Fixation Fixo Dapat Balutan Luka Luka eksudatif. dalam
SheetPorous mull, digunakan perlu dengan terinfeks Merangsan luka.
polyester Hyp secara dibasuh eksudat i alergi g
fabric afix, langsung sabun dan ringan, terhadap hemosasis
dengan Mefi di tempat water pat- tidak perlu plester Allergenik
adhesive x luka. dried 2 kali sering rendah.
backing Mengikuti sehari.Me control
kontur merlukan Foam Poly Lembab, Ukuran Luka Luka
tubuh, olesan DressingsPo Mem absorben busa dengan kering.L
menguran minyak lyurethane tinggi dan terbatas eksudat uka
gi nyeri sebelum foam protektif terhadap ringan yang
dan diangkat, dressing ukuran sampai perlu
mengontro idealnya dengan luka. moderat. control
l edema, direndam layer yang
Permeabel dalam incorporate sering.
hingga minyak d
eksudat dan
mudah dibungkus
keluar dan film
luka melekat
mongering semalaman
. Ganti .
balutan
setelah 5-7
hari.
Perawatan Luka Pengangkatan jahitan dilakukan jika benang yang digunakan
jenis non absorbable. Pengangkatan tergatung pada
Ditulis Oleh: kapten
1. Jenis operasi
Pengetahuan operator tentang komplikasi yang akan terjadi
2. Lokasi
akan membekali pasien/ orangtua/ wali dalam pemeliharaan dan
3. Jenis benang
pengawasan luka paska operasi. Seringkali operator lupa
Pada penjahitan di muka dengan menggunakan benang di atas 5-
menjelaskan berbagai hal yang harus atau tidak boleh dilakukan
0 umumnya dibuka hari ke 3 5.
setelah operasi
Seperti pada perawatan paskaoperatif lain, perawatan setelah Area Removal time (days)
bedah minor pun tidak berbeda. Yang membedakan adalah
Face 3 to 5
ukuran lukanya relatif kecil. Luka operasi sebaiknya tetap kering,
Neck 5 to 8
minimal selama tiga hari untuk menghindari kontaminasi kuman.
Penggantian Balutan Scalp 7 to 9

Pelepasan balutan ini dapat dilakukan pada hari ketiga karena Upper extremity 8 to 14
pada saat tersebut luka umumnya sudah kering. Jika terjadi Trunk 10 to 14
kesulitan melepaskan kasa, luka dapat dibasahi dahulu dengan
Extensor surface hands 14
iodin povidon 10% atau cairan steril lainnya beberapa saat
Lower extremity 14 to 28
sampai kasa basah dan mudah dilepas.
Setelah luka kering, tidak perlu lagi dibungkus dengan kasa, jika Teknik pengangkatan jahitan dapat dilihat di bab ikatan dan

masih sedikit basah bisa ditetesi iodin povidon 10% sampai luka jahitan

kering, Monitoring Tanda-Tanda Komplikasi

Jika luka produktif apakah mengeluarkan nanah atau seroma, Komplikasi yang sering terjadi adalah perdarahan dan infeksi.

maka segera harus dievakuasi. Evakuasi bisa dilakukan dengan Komplikasi lainnya jarang ditemukan, kenali gejala dan

menekan luka atau embuka sebagian jahitan. Selanjutnya dapat tandanya .

dilakukan penggantian balutan yang menyerap cairan/pus. 1. Perdarahan

Selengkapnya dapat dilihat di komplikasi paska operasi Perhatikan jika ada perdarahan aktif. Lakukan dep dengan

Pengangkatan jahitan kasa dalam beberapa menit. Jika tidak dapat diatasi maka
lakukan eksplorasi dengan membuka jahitan di arah tempat takikardi
sumber perdarahan. nyeri
2. Hematom Jika dijumpai tanda-tanda tadi, maka cucilah luka sampai
Terdapat bekuan darah sebagai akibat terputusnya pembuluh bersih dengan NaCl 0,9 % Jaringan nekrotik dan eksudat harus
darah dan darah berkumpul di jaringan ikat longgar. Hematom dibersihkan sampai maksimal. Jika ada krusta maka harus
dapat aktif ataupun pasif. Aktif artinya hematom terus diangkat karena dibawahnya hampir dipastikan terjadi koloni
membesar karena bekuan yang terbentuk tidak mampu kuman.
menutup pembuluh darah yang pecah. Jika ini terjadi maka Berikanlah tambahan antibiotik dengan dosis yang sudah
harus dilakukan eksplorasi ulang dan dilakukan hemostasis. dihitung untuk 3 hari kedepan. Jika 3 hari tidak memberikan
Jika hematom tetap tidak membesar, maka kalau ukurannya respon maka lakukanlah tes kultur dan resistensi. Sambil
relatif kecil tidak masalah sepanjang tidak mengganggu menunggu hasil tes kultur dan resistensi, gantilah antibiotik
penjahitan atau kosmetik dengan golongan lain.
3. Seroma Perlu diperhatikan tanda dan gejala berbagai komplikasi yang
Cairan yang keluar dari luka atau bekas manipulasi tindakan mungkin terjadi. Uraian rinci dapat dibaca di bab berikutnya.
yang bersumber dari ekstravasasi pembuluh darah dan lymp. 5. Wound Dehiscence
Jika aktif maka salah satu jahitan dibuka untuk memberi Terbukanya luka operasi karena proses inflamasi dan atau
jalannya cairan keluar. Dapat juga menggunakan balutan yang infeksi yang mengganggu healing. Jika luka kotor, maka
bersifat absorben, misalnya yang mengandung agar-agar laut dilakukan perawatan luka terbuka dengan mencuci dengan
atau bio-ceramic. NaCl 0,9 % dan atau dengan larutan antiseptik. Setelah
4. Infeksi terbentuk granulasi atau luka bersih maka dilakukan
Terjadi mulai hari kedua dan sering muncul di hari ke 3. Tanda penjahitan kembali (secondary suture).
dan gejalanya:
edema
kemerahan
keluar eksudat yang bertambah banyak
demam
Kista Aterom
Ditulis Oleh: kapten
Definisi
Tumor jinak di kulit yang terbentuk sebagai akibat tersumbatnya
muara kelenjar sebasea.
Patofisiologi
Terbentuk akibat sumbatan pada muara kelenjar sebasea, oleh
karena itu ditemukan puncta berbentuk titik kehitaman sebagai
muara kelenjar di kulit yang tersumbat.
Perhatikan adanya puncta diatas masa
Sekret kelenjar sebacea yaitu sebum dan sel-sel mati tertimbun
Terapi
dan berkumpul dalam kantung kelenjar. Lama kelamaan
Terapi Antibiotik diberikan jika terdapat tanda adanya infeksi
membesar dan terlihat sebagai masa tumor yang berbetuk
yaitu kemerahan dan inflamasi, seringnya adalah infeksi
lonjong sampai bulat, berbatas tegas, berdinding tipis, tidak
bakteri staphylococci.
terfiksir ke dasar, tetapi melekat pada dermis di atasnya. Isi kista
Eksisi menyertakan kulit dan puncta untuk mengangkat seluruh
adalah bubur eksudat berwarna putih abu-abu yang berbau
bagian kista hingga ke dindingnya secara utuh.
asam.
Bila terjadi infeksi sekunder dan terbentuk abses, dilakukan insisi,
Diagnosa
evakuasi dan drainase. Setelah tenang (3-6 bulan) dapat
Tampak bulat atau oval, superficial-subkutan, batas tegas,
dilakukan operasi definitif
ada puncta berupa titik kehitaman yang letaknya biasanya
Teknik operasi
dipermukaan kulit tepat ditengah masa. Batas tegas, konsistensi
1. Lakukan tindakan aseptik.
lunak sampai kenyal, umumnya tidak nyeri, Predileksi di bagian
2. Tutup dengan duk bolong
tubuh yang berambut (kepala, wajah, belakang telinga, leher,
3. Lakukan anestesi lokal (blok/infiltrate) dengan lidocaine
punggung, dan daerah genital).
2%
Epidemiologi
4. Tandai batas insisi yang akan dilakukan, berbentuk elips,
Sering terjadi pada usia 20 sampai 30 -an,
dengan panjang sejajar dengan garis Langers
predileksi pada pria dua kali lebih banyak dibanding pada wanita.
3. Masa dibelah dan dilihat isinya kemudian dikirim ke
patologi anatomi

1. Insisi kulit sampai subkutis.


2. Pegang ujung insisi dengan klem dan angkat

Kista di region gluteal, perhatikan besar masa, letak puncta dan


pola insisi

1. Lakukan diseksi tajam dengan gunting menelusuri masa


kesekelilingnya
2. Usahakan kista tidak pecah
3. Jika masa sudah terangkat, potonglah jaringan bagian
bawah Insisi elips, angkat kulit dengan klem, mulai diseksi tajam

1. Perdarahan dirawat
2. Jahit luka operasi lapis demi lapis. Lanjutkan diseksi ke segala arah dan mepet ke kapsul
Setelah kista terangkat , lakukan pencucian kemudian jahitan
subkutis dan kutis
Lipoma Tumor ini sering meluas ke dalam otot maka kurang
memberikan hasil yang baik dengan reseksi lokal Tumor ini
Ditulis Oleh: kapten
terdiri dari jaringan lemak yang immatur
Lipoma adalah tumor jinak jaringan lemak yang berada di bawah
kulit yang tumbuh lambat, berbentuk lobul masa lunak yang
3. Lipomatosis simetris ( Madelung)
dilapisi oleh pseudokapsul tipis berupa jaringan fibrosa.
Etiologi
Sering dijumpai pada daerah kepala, leher, bahu dan proximal
Penyebab lipoma belum diketahui dengan pasti, akan tetapi ada
extremitas atas. Pada anamnesa sering terdapat riwayat
kecenderungan lipoma dapat diturunkan. Beberapa jenis lipoma
mengkomsumsi alkohol atau penyakit diabetes mellitus
dapat terjadi akibat trauma tumpul. Orang yang gemuk tidak
meningkatkan kemungkinan terjadinya lipoma. 4. Familial lipomatosis multiple
Pada pemeriksaan secara mikroskopis akan ditemukan suatu
tumor yang berbentuk lobulus yang mengandung sel lemak yang Ditandai dengan beberapa benjolan kecil dengan batas tegas
normal. Pada pemeriksaan secara sitogenetik, lipoma sering dan "berkapsul" Biasanya terdapat pada daerah extremitas
sekali berhubungan dengan alterasi dari kromosom 12q, 6p, dan dan timbul setelah pubertas Pada anamnesa didapatkan
13q. riwayat penyakit yang sama pada keluarga
Jenis Lipoma
1. Lipoma soliter (paling sering) 5. Penyakit Dercum ( adiposis dolorosa)

Kebanyakan lipoma soliter adalah superfisial dan berukuran Lipoma yang menimbulkan rasa nyeri Biasanya dijumpai pada

kecil Lipoma soliter bisa tumbuh dengan kenaikan berat badan wanita postmenopausa yang obese ,alcoholism,

dan tidak menghilang apabila berat badan diturunkan ketidakstabilan emosi dan depresi berasosiasi dengan
penyakit ini
2. Diffuse Kongenital Lipoma
6. Angiolipoma

Lipoma diffuse dengan batas tidak tegas biasanya berlokasi


pada daerah belakang badan. Angiolipoma adalah nodul subkutan yang kenyal dan nyeri.
Tumor ini lebih keras daripada lipoma biasa dan multilobulasi
7. Hibernomas Diagnosis lipoma bisa ditegakkan dari anamnesa dan gambaran
klinis atau dari fine needle biopsy
Tumor ini tumbuh soliter, nodul yang berbatas tegas dan Penatalaksanaan
biasanya asimptomatik Pada dasarnya lipoma tidak perlu dilakukan tindakan apapun,
Biasanya dijumpai pada regio interskapula, axilla, colli dan kecuali bila berkembang menjadi nyeri dan mengganggu
mediastinum Secara histologik, hibernomas terdiri dari pergerakan. Biasanya seseorang menjalani operasi bedah untuk
lipoblast coklat yang dikenali sebagai mulberry cells alasan kosmetik.
1. Konservatif
Gejala Klinis Mesoterapi
Lipoma bersifat lunak pada perabaan, dapat digerakkan, dan Mesoterapi adalah terapi dengan injeksi NSAIDS, enzim dan
tidak nyeri. Pertumbuhannya sangat lambat dan jarang sekali hormon.
menjadi ganas. Lipoma kebanyakan berukuran kecil, namun Namun sekarang yang sering digunakan adalah lecithin
dapat tumbuh hingga mencapai lebih dari diameter 6 cm. (phosphatidylcholine isoproterenol) yang mempunyai efek
Biasanya suatu lipoma dikulit hanya dirasakan mengganggu lipolitik.
kosmetik oleh penderitanya.Sangat jarang suatu lipoma dikulit 2. Operatif
akan menekan struktur lain yang akan menyebabkan gangguan. Simple surgical excision
Suatu lipoma sangat jarang berubah menjadi suatu keganasan, Insisi dilakukan pada kulit hingga ke pseudokapsul lipoma,
misalnya suatu liposarkoma. Liposarkoma praktis tidak pernah kemudian masa direseksi. Setelah pendarahan dihentikan,
timbul dari suatu lipoma. dijahit dengan absorbable suture setelah itu luka ditutup
Pemeriksaan Fisik (pressure dressing) selama 24 jam untuk mencegah terjadinya
1. Nodul subkutan ukuran rata-rata 2 10 cm hematoma atau seroma
2. Sering berlobus Squeeze teknik ( lipoma superficial yang kecil)
3. Mobile Insisi selebar diameter lipoma dilakukan dan bagian tepi
4. Konsistensi kenyal lipoma ditekan supaya massa tersebut keluar. Kemudian
5. Kulit diatas lesi normal dilakukan diseksi dan kuret
Liposuction
Teknik yang bagus untuk angiolipoma, adiposis dolorosa dan
sindroma Madelung. Kebaikan teknik ini adalah berkurangnya
masa operasi dan insisi lebih kecil,
Teknik Operasi
1. Bersihkan daerah operasi dengan tindakan aseptik.
2. Lakukan anestesi lokal field blok infiltrations dengan
lidocaine 2% Lakukan anestesi secara infiltrasi di kedua sudut, menyebar ke
3. Tandai batas insisi yang akan dilakukan, linier, dengan tepi
panjang sejajar dengan garis Langers
4. Insisi kulit sampai subkutis. Sampai jaringan adipose
5. Pegang tepi insisi dengan klem dan angkat
6. Lakukan diseksi tumpul dengan klem menelusuri masa
kesekelilingnya
7. Jepit bagian masa dengan klem, angkat dan teruskan
diseksi tumpul Insis linier sampai subkutis Diseksi mulai tepi insisi kebawah
8. Jika masa sudah terangkat, potonglah jaringan bagian
bawah
9. Perdarahan dirawat
10. Jahit luka operasi lapis demi lapis.
11. Kirim masa untuk pemeriksaan patologi anatomi.

Diseksi kedalam tiap sisi Diseksi tumpul dengan


jari
Tarik tepi atas dengan klem sambil diseksi terus menelusuri tiap Setelah perdarahan diatasi, jahit subkutis sampai tepi insisi
sisi menyatu

Angkat, dan identifikasi dasar masa, masa dapat diluksir keluar Jahit kutis setelah jahitan subkutis benar-benar rapat dan
kuat

Potong dasar masa dengan kauter, setelah itu masa dilepaskan


Kista Epidermoid pembentukan kista. Kondisi ini disebut sebagai Favre-
Roucouchout syndrome

Ditulis Oleh: kapten


Patofisiologi
Kista epidermoid merupakan kista kutaneus yang paling sering
dijumpai. Dapat terjadi dimana saja di seluruh tubuh, paling Kista epidermoid berasal dari proliferasi sel epidermal dalam

sering pada wajah, scalp, leher dan tubuh. dermis. Analisis pola lemaknya memperlihatkan kesamaan
dengan epidermis. Kista epidermoid juga mengeluarkan
Penyebab sitokeratin 1 dan 10 dari lapisan suprabasiler epidermis. Inflamasi
diperantarai sebagian oleh material dari isi kista epidermoid.

Kista epidermoid terbentuk oleh beberapa mekanisme. Kista ini


dapat berasal dari sekuestrasi sisa epidermal selama kehidupan
Klinis
embrional, oklusi unit pilosebaseus atau implantasi traumatic
atau surgical dari elemen epitel. Infeksi HPV , paparan ultraviolet Kista epidermoid muncul sebagai nodul padat, bulat dengan

, dan oklusi kelenjar eccrine dapat menjadi faktor tambahan ukuran bervariasi. Punctum sentral dapat terlihat sebagai titik

dalam perkembangan kista epidermoid palmoplantar. HPV juga kehitaman. Kista ini biasanya terletak di garis tengah dari badan.

telah ditemukan pada kista epidermoid nonpalmoplantar.


Kista epidermoid kongenital berasal dari sekuestrasi atau
terjebaknya sisa epidermal sepanjang embryonic fusion planes
selama perkembangan.
Pada pasien yang lebih tua, kerusakan akibat sinar matahari
yang terakumulasia dapat merusak unit pilosebaseus,
menyebabkan abnormalitas seperti sumbatan komedonal dan
hiperkornifikasi, yang keduanya dapat menyebabkan
6. Lakukan diseksi tajam dengan pisau atau gunting,
mengitari masa, hati-hati kapsul pecah.
7. Rawat perdarahan
8. Cuci dengan NaCl 0,9 %
9. Jika kulit berlebih, buang dengan menggunting.
10. Lakukan jahitan subkutis dengan chromic cat gut 4-0 atau
PDS 4-0
11. Jahitan kutis dengan nilon 4-0 atau 5-0
12. Balut.

Kista epidermoid besar dengan punctum prominen pada pundak

Terapi

Kista epidermoid dapat diangkat dengan eksisi atau insisi simple


dengan pengangkatan kista dan dinding kista
Insisi dan drainase dapat dilakukan pada kista terinfeksi. Hal ini
dapat membersihkan infeksi tetapi tidak menghilangkan kista.

Identifikasi masa, gambar pola insisi,


Teknik Operasi
Bagian kulit yang ada punctanya harus terabil dalam
insisi elips.
1. Lakukan tindakan a dan antiseptic
2. Tutup daerah operasi dengan duk bolong
3. Gambar insisi secara elips, supaya bag
4. Lakukan anestesi infiltrasi
5. Lakukan insisi elips
Diseksi tajam seperti halnya pada kista atherom.
Bila perlu insisi dapat diperpanjang.
Keloid dan Hipertropik Skar
Klavus
Ditulis Oleh: kapten
Definisi
Klavus adalah penebalan dari kulit karena tekanan yang
berulang-ulang dan gesekan yang kuat. Semua ini
mengakibatkan hiperkeratosis secara klinis dan histologis.
Klavus di bagian medial
Penebalan kulit yang luas ini menyebabkan nyeri yang kronis,
terutama jika terdapat pada telapak kaki. Patofisiologi
Klinis
Lesi-lesi pada klavus berwarna kuning hingga kecoklatan dengan Bentuk dari tangan dan kaki penting dalam formasi klavus.
suatu inti sentral. Klavus yang keras biasanya tampak agak Secara rinci, penonjolan-penonjolan dari prominen sendi
mengkilap karena permukaannya yang halus. Klavus yang lunak metacarpophalangeal dan metatarsophalangeal sering kali
biasanya maserasi dan basah. menyebabkan suatu penekanan yang lebih besar terutama saat
Klavus terdiri dari dua jenis, yaitu: menggunakan alas kaki yang keras. Seperti formasi klavus,
1. Klavus yang keras gesekan terhadap alas kaki memungkinkan untuk terjadinya
Biasanya terdapat pada telapak kaki atau pada tumit. suatu hiperkeratosis. Kelainan bentuk jari kaki, termasuk
kontraktur dan kaki berbentuk cakar, bentuk jari palu, dapat
2. Klavus yang lunak
berperan untuk patogenesis.
Biasanya maserasi oleh karena keringat.
Epidemiologi
Secara klinis, lesi-lesi ini terlihat seperti hiperkeratosis atau Klavus sering terjadi pada pemakaian alas kaki yang keras dan
penebalan dari kulit. Maserasi dan infeksi sekunder dari jamur aktivitas yang berulang, misalnya seperti berlari.
atau bakteri dapat terjadi sehingga menimbulkan penyulit pada
terapi. Letak yang paling sering dari klavus adalah di kaki, Pengerasan yang berlebih akan mengakibatkan nyeri kronis. Pada
terutama pada daerah dorsolateral dan plantar kaki, yaitu daerah keadaan tertentu dapat timbul ulkus. Klavus bisa menjadi suatu
yang paling sering mendapat tekanan yang kronis.
tanda dasar neuropati yang disebabkan oleh karena DM atau
neuroborreliosis, atau karena kelainan radang sendi rheumatoid.
Di dalam kasus penyakit saraf, suatu klavus dengan ulkus yang
tersembunyi dapat menandakan adanya vaskularisasi yang 3. Lakukan anestesi lokal (blok/infiltrasi) dengan lidocaine
abnormal pada kaki. Pada radang sendi rheumatoid, klavus dapat HCl 2% .
meningkatkan rasa nyeri pada persendian yang mengalami 4. Lakukan insisi tangensial sampai terlihat inti sentral dari
deformitas. klavus.
Diagnosis Banding 5. Tandai batas insisi yang akan dilakukan, berbentuk elips
Acanthosis Nigricans hanya seluas inti sentral. Bukan seluas seluruh klavus.
Acrokeratoelastoidosis 6. Eksisi secara tajam bagian dasar klavus sampai subkutis
Arsenical keratosis (lemak subkutis bisa diidentifikasi).
Atypical fibroxanthoma 7. Pegang ujung insisi dengan klem lalu diangkat.
Atypical mole (Dysplastic nevus) 8. Lakukan diseksi tajam dengan gunting menelusuri masa
Warts ke sekelilingnya.
Histopatolologi 9. Jika masa sudah terangkat, potonglah jaringan di bagian
Secara histologis akan ditemukan adanya penebalan dari stratum bawahnya.
korneum. 10. Perdarahan dirawat.
Penatalaksanaan 11. Jahit luka operasi dengan nylon 2-0 sampai 3-0
Karena disebabkan gesekan atau tekanan, maka apabila
penyebabnya dihilangkan, biasanya gejala akan menghilang
dengan sendirinya. Gunakan alas kaki yang lunak dan kurangi
aktivitas yang berulang yang mengakibatkan penekanan pada
satu tempat. Koreksi kelainan lain yang mengakibatkan
penekanan kronis.
Terapi klavus dapat juga menggunakan larutan asam salisilat
atau melakukan eksisi dengan skalpel.
Teknik operasi
1. Lakukan tindakan aseptik.
2. Dreping dengan duk bolong.
Ingrowing Toenael
Ditulis Oleh: kapten
Oleh: dr.Asep Hermana,SpB, FINACS

Definisi
Pertumbuhan kuku yang mengarah ke samping lateral atau
medial sehingga kuku tertanam di lipatan kuku atau nail
fold. Keadaan ini bisa mengakibatkan inflamasi bahkan infeksi
(paronikia).
Pada diabetisi dan orang dengan masalah vaskular perlu lebih Potongan melintang phalanx distal

agresif menangani dan mencegah terjadinya masalah minor pada


kaki seperti pertumbuhan kuku yang mengarah ke samping ini Patofisiologi dan Etiologi

karena hal ini dapat berkembang menjadi masalah kesehatan Pertumbuhan kuku yang menyamping sering disebabkan karena

yang serius seperti kehilangan anggota gerak. memotong kuku terlalu pendek atau memutari batas pinggir

Nama lain onychocryptosis, unguis incarnatus kuku. Atau karena mamakai sepatu yang terlalu ketat sehingga

Anatomi Kuku menekan kuku kebawah . Hal ini juga dapat terjadi setelah
adanya trauma seperti tertusuknya ibu jari kaki.
Apabila kondisi yang menyebabkan pertumbuhan abnormal ini
berlanjut, pertumbuhan jaringan secara berlebih di atas kuku
dapat mengarah kepada perubahan permanen pada jaringan
yang dapat menyebabkan infeksi, nyeri dan bengkak yang
semakin bertambah.
Penyebab yang lainnya antara lain :
Hereditas Beberapa orang secara genetik memiliki
predisposisi kuku yang memiliki lengkungan yang mengarah
Potongan memanjang
Klasifikasi
ke atas dengan distorsi pada salah satu atau kedua batas
Perkembangan kuku yang tumbuh menyamping dan masuk ke
kuku. dalam lipatan kuku terbagi menjadi 3 tahap :
Keadaan tulang yang patologis yang sudah ada
menyebabkan deformitas kuku 1. Eritema, oedem dan nyeri tekan local.
Obesitas menyebabkan alur kuku bertambah dalam 2. Pembentukan krusta dan purulensi di lipatan kulit
Trauma sebelumnya menyebabkan bentuk kuku yang dan nail plate junction .
tidak beraturan 3. Infeksi kronis dengan pembentukan jaringan granulasi di
Paronychia adalah infeksi pada kuku dan jaringan sekitarnya. Hal atas lempeng kuku.
ini secara umum adalah akibat dari kuku yang tumbuh Epidemiologi
menyamping melukai jaringan yang mengitarinya sehingga. Dari semua masalah kuku, penyakit ini merupakan yang paling
Keadaan ini menjadi tempat masuknya bakteri dan menimbulkan sering terjadi. Kuku ibu jari terkena lebih banyak dibandingkan
infeksi. Penyebab yang lebih jarang dapat berasal dari trauma kuku jari lainnya. Batas lateral ibu jari adalah yang paling sering
kuku seperti jatuhnya suatu benda di atas ibu jari yang biasa terkena.
disebut micro trauma. Dapat juga disebabkan oleh tekanan Di Inggris dilaporkan 10.000 kasus setiap tahunnya. Secara
berulang terhadap kuku seperti yang terjadi pada seorang yang umum, mortalitas tidak berhubungan dengan ingrown nails.
bermain sepak bola atau tenis, dimana ibu jari secara terus Morbiditas terutama merupakan akibat dari infeksi jaringan.
menerus terbentur ke ujung sepatu. Apabila dibiarkan, pembentukan abses (paronikia) dapat terjadi
atau penyebaran ke tulang/osteomielitis, infeksi sistemik, sepsis
atau amputasi.
Gejala Klinis
Anamnesa
Pasien datang untuk mengatasi ingrown nails karena
ketidaknyamanan, nyeri atau bengkak. Ingrown nails dapat
menyebabkan nyeri yang signifikan.
Perasaan tidak nyaman menjadi bertambah dengan penambahan
berat badan dan ambulasi.
Paronichia
Pemeriksaan fisik Insisi kuku sekitar 1/3 bagian lateral atau medial .
Pada pemeriksaan dapat ditemukan tanda-tanda berikut : Buang jaringan nekrotik
Oedema atau inflamasi pada jaringan yang mengelilingi Lakukan kuretase jaringan di sekitar eksisi
bantalan kuku. Cuci dengan NaCl 0.9 %, povidon iodine 10 %, dan H2O2
Hiperemis Penjahitan
Jaringan granulasi yang rapuh atau mengalami maserasi Teknik penjahitan
Eksudasi Prinsipnya adalah lipatan kuku (nail fold) harus ada dibawah
Hipertrofi epidermis yang mengelilingi kuku, sehingga tepi kuku yang di eksisi tidak lagi tertanam (tepi
Penatalaksanaan kuku diatas kulit)
Memilih peggunaan sepatu/alas kaki yang nyaman
dengan ujung yang lebar atau terbuka.
Memberikan arahan kepada pasien untuk selalu
memotong kuku secara lurus dan menghindari terpotongnya
margin lateral. Ujung tepi kuku harus melewati jaringan.
Tindakan bedah minor.
Teknik Operasi
Tindakan a dan antiseptik
Ikat bagian pangkal jari untuk membantu hemostasis
Perhatikan pola jahitan, tepi kulit akan barada dibawah kuku
Anestesi blok di bagian lateral dan medial phalank
Tekninya adalah:
(lidocain HCl 2 % tanpa adrenalin),
1. Tusukan jarum ke kuku
Anestesi infiltrasi di bawah kuku yang akan di incisi
2. Masuk lipatan kuku dari dalam keluar
sampai bawah nail root
3. Tusukan kembali ke nail fold agak keatas atau ke pinggir.
Uji anestesi yang telah dilakukan dengan menjepit dengan
4. Tusukan jarum mengarah ke kuku dari dalam luka
pinset.
5. Simpulkan.
Insisi bagian nail fold lateral berbetuk elips sampai
ke nail fold proksimal
Regional blok di sisi lateral dan medial jari. Kuku digunting dan dicabut. Bersihkan jaringan dengan
kuret

Tambahkan infiltrasi di bawah kuku. Pola insisi digambar

Perhatikan pola jahitan Jarum masuk dari


kuku

Lakukan insisi sampai jaringan granulasi terbuang habis

Masuk kembali dari luar kulit kedalam


Jarum keluar dari dalam luka insisi, masuk kembali ke bawah
kuku

Tarik dan simpulkan hingga tepi kulit berada dibawak kuku. Jahit
lagi.
Ganglion containing mucoid flesh atas dasar ini, beberapa hipotesa pun
muncul diantaranya :
Ditulis Oleh: kapten
Synovial Herniation atau ruptur yang melewati lapisan tendon.
Oleh: dr.Asep Hermana,SpB, FINACS
Yang terbaru, teori degenerasi mukoid yang dipublikasikan oleh
Ledderhose pada tahun 1893, yang paling banyak diterima.
Definisi
Dalam Green edisi terbaru Operative Hand Surgery teori ini
Ganglion merupakan kista yang berisi cairan bening kental
digantikan dengan teori yang berdasarkan mikro trauma dan
dengan dinding tipis yang berasal dari tonjolan selaput sarung
produksi asam hialuronik. Trauma atau iritasi jaringan lokal akan
tendon (tendon sheath). Pada banyak kasus, ganglion
menyebabkan produksi asam hialuronik pada permukaan
asimptomatik dan jarang menimbulkan gangguan fungsional.
synovial-capsular. Asam hialuronik menciptakan cekungan musin
Walaupun pada beberapa kasus, ganglion dapat mempengaruhi
kecil yang bergabung ke dalam kista subkutan. Kista yang
struktur di dekatnya seperti arteri, vena, tendon dan syaraf.
terbentuk mengandung cairan yang sama seperti cairan sendi.
Frekuensi timbulnya ganglion secara umum adalah 50-70 % dari
Kista ganglion bukan merupakan kantung sinovial (sendi) yang
semua soft-tissue tumors yang terdapat pada lengan dan tangan.
keluar dari kapsul sendi.
Prevalensinya pada wanita adalah 3 kali lebih sering. Paling
sering muncul pada pergelangan tangan (80%) dan sendi jari.
Biasanya muncul pada usia 20-60 tahun.
Etiologi
Etiologi dari ganglion tidak diketahui. Teori-teori menyebutkan
degenerasi mukoid dan trauma. Beberapa pasien (kurang dari 10
%) mengalami trauma minor ataupun mayor pada daerah yang
menjadi tempat ganglion timbul. Tidak diketahui faktor resiko
yang menyebabkannya. Dipercaya disebabkan oleh penggunaan
sendi secara berlebihan seperti atlet angkat berat, pramusaji,
Klinis
dan pemain musik (terutama pemain bass).
Ganglion adalah tumor yang terdapat berbatasan dengan sendi
Patofisiologi
dan tendon. Tempat paling sering dari ganglion adalah sisi
Hipocrates mendeskripsikan ganglion sebagai Knots of tissue
punggung dari pergelangan tangan dekat Scapholunate (SL)
joint (60-70%), Volar Wrist dekat sendiradioscaphoid atau
sendi pisotriquetral (18-20%), dan Volar Retinaculum (10-12%).
Kista mucoid terjadi di atas punggung jari pada level sendi DIP.
Sisi lainnya termasuk sendi carpometacarpal (CMC), tendon
ekstensor (sering diasosiasikan dengan first dorsal
compartment), carpal tunnel, dan Guyon kanal. Ganglion
mungkin muncul juga dari tulang; yang ini sering disebut kista
Lokasi-lokasi tersering timbulnya ganglion di tangan
ganglion intraosseous.
Ganglion biasanya simptomatik minimal. Bergantung dari lokasi
Pemeriksaan Penunjang
kista, gejala yang muncul bervariasi, seperti nyeri tumpul,
Untuk lesi pada pergelangan tangan, digunakan rontgen standar
perubahan ukuran, drainase spontan, disfungsi saraf sensoris.
posteroanterior (PA), lateral dan oblik.
MRI atau USG dapat digunakan ketika diagnosa masih belum
jelas.
1. Kista mukus dievaluasi dengan standar PA, lateral dan
radiograf oblik tegak pada jari-jari yang terkena.
2. Pada radiologi, ganglion interosseous mungkin di lokasi
sentral atau sisi tulang yang terkena. Radiologi juga dapat
menggambarkan ganglion juxtaosseous yang menembus
tulang. Lesinya adalah radiolusen dengan border sklerotik.
Perhatikan posisi anatomis ganglion Ganglion ini sering terjadi dekat permukaan sendi.
3. MRI digunakan untuk melihat ganglion yang tidak terlihat
dengan radiologi konvensional.
4. Axial, Coronal, atau Sagital CT-Scan digunakan untuk
melihat kista ganglion yang samara-samar.
5. Bone Scan dipakai untuk menentukan apakah suatu masa 3. Tandai batas insisi yang akan dilakukan, linier, dengan
intraosseous merupakan metabolik aktif dan menyebabkan panjang sejajar dengan garis Langers
nyeri. 4. Insisi kulit sampai subkutis.
5. Pegang ujung insisi dengan klem dan angkat
6. Lakukan diseksi tumpul dengan klem menelusuri masa
dan sekelilingnya
7. Usahakan agar kista tidak pecah
8. Jika tiap bagian pinggir sudah dapat dibebaskan, klem
bagian dasar masa dengan dua buah klem sejajar
9. Potonglah antara 2 klem
Histologi 10. Jangan sampai tendon rusak
Cairan yang diambil dari kista ganglion terdiri dari mucin yang 11. Perdarahan dirawat
mengandung glucosamin, albumin, globulin, dan asam hialuronik. 12. Jahit luka operasi lapis demi lapis.
Terapi 13. Masa dilihat isinya kemudian dikirim ke patologi anatomi.
1. Konservatif
1. Splint Immobilization (ganglion pergelangan tangan)
2. NSAIDs
2. Operatif
1. Pengambilan massa dengan teknik operasi terbuka.
2. Reseksi arthroskopik
3. Mengeluarkan cairan ganglion dengan menggunakan Insisi S memanjang, dilanjutkan diseksi tumpul dengan klem
needle dan syringe (aspirasi).
Teknik operasi
1. Bersihkan daerah operasi (daerah kulit diatas kista)
dengan tindakan aseptik.
2. Lakukan anestesi lokal (blok/infiltrate) dengan lidocaine
2%
Diseksi tajam dengan gunting, hati-hati mengenai masa kista

Setelah dasar kista teridentifikasi, klem, jangan sampai tendon


terpotong

Ikat bagian dasar dengan PGA, jahit subkutis. Tutup kutis dengan
nylon 4-0
Veruca Vulgaris Sinonim

Ditulis Oleh: kapten Veruca Vulgaris, Common Warts


Veruca simplex, Veruca vulgaris.

Oleh: dr.Asep Hermana,SpB,


Papiloma keratolitik epidermis yang terjadi paling sering pada
FINACS usia muda sebagai hasil dari infeksi terlokalisir oleh human
papillomavirus, biasanya tipe 2 dan 4; lesi menetap bervariasi,
bahkan dapat mengalami regresi spontan dan bersifat eksofitik
dan endofitik dengan hyperkeratosis, parakeratosis,
Definisi hypergranulosis, koilocytosis, dan papillomatosis wart.

Hiperplasia epitelial jinak yang disebabkan oleh infeksi virus Patofisiologi


papilloma. Pada tahap awal, veruca biasanya bulat, terpisah,
warna serupa kulit dan ukuran pinpoint. Seiring waktu, veruca
Virus Papiloma adalah virus DNA berantai ganda ukuran kecil (55
tumbuh lebih besar, berwarna kekuningan, abu-abu kehitaman
nm). Virus papiloma tersebar luas di dunia hewan dan lebih dari
atau lesi coklat dengan permukaan papillomatosa yang kasar.
200 genotipe HPV yang menginfeksi kulit dan permukaan mukosa
Veruca menyebar secara kontak langsung maupun tidak
telah diidentifikasi. Virus papiloma tidak pernah berkembang
langsung. Karena trauma lokal menyebabkan inokulasi dari virus,
secara in vitro tetapi telah ditemukan oleh metode molekuler
kebanyakan wart terdapat pada jari-jari tangan, tangan dan siku,
Genom virus papiloma kurang lebih 8000 pasang dibagi dalam 3
sepanjang lipatan perionikial atau pada permukaan plantar pedis.
regio fungsional utama. Kode regio awal/Early (E) untuk 6 gen
Veruca dijumpai pada pasien segala usia tetapi biasanya terjadi
nonstructural, beberapa di antaranya berhubungan dengan
selama masa kanak-kanak dan remaja.
transformasi seluler. Kode region akhir/Late (L) untuk 2 protein
structural, L1 dan L2 yang membentuk kapsid. Regio kontrol
panjang adalah region noncodingyang mengatur replikasi dan
fungsi gen.
Virus ini terbagi berdasarkan kesamaan molekuler dari material pada kulit berkeratin, pada tempat inokulasi. Lesi ini berbatas
genetiknya dan ditandai dengan nomor genotype. tegas, kasar, papulanodul hyperkeratosis atau plak dengan
Virus menginfeksi keratinosit basal dari epidermis, melalui permukaan ireguler. Muncul paling sering di tangan, jari, kaki dan
disrupsi permukaan kulit dan mukosa. Di tempat ini, virus akan lutut. Biasanya asimptomatik, tetapi dapat terasa nyeri dengan
menetap di dalam sel sebagai episom sirkuler dalam jumlah yang adanya tekanan.
tidak banyak. Ketika sel epidermal berdiferensiasi dan bermigrasi
ke permukaan, virua akan memperbanyak diri. Proses replikasi Kutil palmoplantar muncul di permukaan akral kaki dan tangan.
virus akan mengubah karakter epidermis menghasilkan keluaran Biasanya lebih tebal yang mempersulit terapi. Kutil datar atau
yang dikenal sebagai wart (kutil). Human Papilloma virus dibagi veruca plana, biasanya muncul sebagai papula kecil multipel.
ke dalam tipe kutaneus dan mukosa, berdasarkan lokasi klinis Sering tidak terlihat tetapi dapat menyebabkan gangguan
dari lesi. pigmentasi.
Kebanyakan virus papiloma memiliki predileksi anatomik yang
tidak biasa, infeksi hanya terjadi pada epidermal seperti mukosa
kulit dan mukosa genital. Virus sering memiliki potensi untuk Lesion Location HPV

berintegrasi dengan DNA hospes dengan hilangnya fungsi Genotype

regulasi. Sejumlah genotype virus memiliki potensi untuk


mengubah sel dan berhubungan dengan keganasan epidermal.
Hal ini melibatkan interaksi dari protein E6 dan E7 dengan fungsi Common wart Mostly hands 2, 4
sel hospes. Mekanisme transformasi tidak diketahui, tetapi DNA
viral berintegrasi dengan gen sel hospes.
Plantar wart Bottom of feet 1
Predileksi

Presentasi infeksi virus papiloma bervariasi berdasarkan area


Mosaic wart Hands and feet 2
anatomik yang terlibat. Predileksi dari gen virus untuk
menginfeksi epidermal tertentu akan menentukan area yang
terlibat. Kutil kutaneus atau veruca vulgaris, biasanya muncul
Flat wart Arms, face, 3, 10, 28, 41
knees

Butcher wart Hand 7

Extragenital Upper and 2, 3, 5, 16, 18,


Bowen disease lower 20, 31, 33, 34,
http://www.dermis.net/dermisroot/en/14024/image.htm
extremities, 54, 56, 58, 61,
head 62, 73

Macular Light-exposed 5, 8, 9, 12, 14,


plaques of areas 15, 17, 19, 20,
epidermodyspl 21, 22, 23, 24,
asia 25, 36, 47, 50
verruciformis
Wart multiple pada tangan.
Courtesy of Beth G Goldstein, MD, and Adam O Goldstein, MD.
http://www.dermis.net/dermisroot/en/14065/image.htm

Terapi

1. Tanpa terapi, beberapa warts tidak berbahaya tapi


mungkin akan mengganggu penampilan
2. Beberapa warts menghilang tanpa terapi. 6. Jika masa kecil akan dilakukan eksisi dengan pisau, eksisi
3. Kauter kimiawi cukup di jaringan kutis saja, tidak sampai ke subkutis sehingga
4. Cryosurgery tidak perlu dilakukan penjahitan.
5. Bedah laser 7. Jika masa besar lakukan insisi elips di dasarnya
6. Elektrocauter 8. Lakukan penjahitan langsung kulit jika diperlukan dengan
7. Pembedahan nylon 5-0 atau 6-0.

Cryosurgery ,penggunaan freezing cold untuk membakar


jaringan.

Setelah tindakan a dan antiseptik, Gambar Insisi


Teknik Operasi yang akan
dreping, lakukan anestesi dilakukan (elips)
1. Lakukan tindakan aseptik.
2. Tutup dengan duk bolong
3. Lakukan anestesi lokal dengan lidocaine 2%
4. Pegang ujung masa dengan pinset.
5. Jika masa kecil (sekitar 1-2 mm), dapat langsung
dilakukan kauterisasi.
Skin tag
Ditulis Oleh: kapten

Oleh: dr.Asep Hermana,SpB, FINACS

Insisi sesuai dengan gambar Diseksi tajam dengan


Definisi
gunting
Skin tag merupakan pertumbuhan kulit jinak yang terjadi akibat
sampai subkutis
friksi atau gesekan yang berlangsung lama. Skin tag umumnya
terjadi pada usia pertengahan. Tags menempel erat pada kulit
luar, dan terdapat tangkai kecil yang menghubungkan kulit dan
benjolan.
Nama lain adalah acrochordons, fibroepitel polip

Klinis
Skin tags sering salah didiagnosis sebagai kutil (warts) karena
keduanya mempunyai warna yang sama dan terletak lebih tinggi
Setelah insisi selesai Setelah dilakukan jahitan
dari permukaan kulit
kulit
Skin tags disebabkan oleh friksi/gesekan dengan periode waktu
jahit subkutis dengan nilon 4-0 yang lama sedangkan kutil karena infeksi human papiloma virus
(HPV).
Oleh karena itu skin tags ditemukan pada area friksi, sedangkan
kutil ditemukan pada area yang sering terjadi kontak dengan
orang lain, sehingga virus dapat masuk melalui kulit tersebut.
Kutil sering ditemukan di jari-jari tangan,kaki, sekitar mulut dan
genital.Dengan memahami perbedaan antara skin tags dan kutil pencukuran atau kebiasaan rutin lainnya yang mengiritasi kulit.
kita dapat melakukan terapi yang benar. Terbentuknya skin tags berkolerasi dengan usia dan obesitas.
Faktor berikut mungkin berperan:

Chaffing dan iritasi dari gesekan kulit


Tingginya kadar faktor pertumbuhan, terutama selama
kehamilan atau pada akromegali (Gigantisme)
Resistensi insulin (sindroma X)

Skin tags tidak dapat menular karena bukan disebabkan oleh


infeksi. Ini berarti setelah diterapi skin tags akan hilang.
Perhatikan kulit yang bertangkal Terapi

1. Kauterisasi
2. Cryosurgery (pembekuan)
3. Ligasi : menghentikan suplai darah
4. Eksisi

Teknik Operasi

Terdapat dalam jumlah yang banyak. 1. Lakukan tindakan a dan antiseptik.


2. Tutup dengan duk bolong
Etiologi 3. Lakukan anestesi lokal dengan lidocaine 2%
4. Pegang ujung masa dengan pinset.
Penyebab pasti skin tag belum diketahui, namun diyakini 5. Jika masa kecil (sekitar 1-2 mm), dapat langsung
gesekan kronis menjadi pemicunya. Skin tags biasanya tidak dilakukan kauterisasi.
berbahaya, sering timbul karena teriritasi baju/perhiasan dan
6. Jika masa kecil akan dilakukan eksisi dengan pisau, eksisi
cukup di jaringan kutis saja, tidak sampai ke subkutis sehingga
tidak perlu dilakukan penjahitan.
7. Jika masa besar lakukan insisi elips di dasarnya
8. Lakukan penjahitan langsung kulit jika diperlukan dengan
nylon 5-0 atau 6-0.
Granuloma
Mortalitas / Morbiditas
Ditulis Oleh: kapten
Granuloma annulare adalah penyakit kosmetik self limited tanpa
Oleh: dr.Asep Hermana,SpB, FINACS
komplikasi sistemik. Pada kasus yang jarang, Granuloma
annulare mungkin terdapat pada fasia dan tendon dan dapat
Definisi
menyebabkan sclerosis, lymphedema, dan deformitas seperti
Granuloma merupakan salah satu dari sejumlah bentuk nodul
ankylosis pada sendi. Granuloma annulare secara epidemiologi
peradangan lokal yang ditemukan pada jaringan.
berhubungan dengan diabetes melitus, necrobiosis lipoidica
Granuloma dapat disebabkan oleh berbagai iritasi biologis, kimia
diabeticorum, dan rheumatoid nodul.
dan fisik pada jaringan.
Granuloma piogenik merupakan tumor vaskular jinak,
Granuloma dibedakan menjadi granuloma anulare dan
kebanyakan terjadi di masa kanak-kanak. Lesi mungkin berdarah
granuloma pyogenik.
dan membentuk ulkus.
Granuloma annulare mungkin terlokalisir, generalisata,
Sex
perforantes, atau subkutan. Granuloma subkutan annulare
Granuloma annulare memiliki sedikit kecenderungan ke arah
biasanya muncul pada anak-anak tersebar pada kaki, tungkai
perempuan.
bawah, jari-jari, tangan, lengan bawah, kulit kepala, dan dahi.
Pada Granuloma annulare, perempuan sedikit lebih banyak
Granuloma pyogenik adalah kelainan angiogenesis dengan
terkena daripada laki-laki.
etiologi yang mendasarinya tidak diketahui. Tempat predileksinya
Pada Granuloma piogenik, pria-wanita rasio 3:2.
ada di kepala dan leher, meskipun lesinya dapat muncul pada
setiap bagian dari tubuh yang lain.
Usia
Epidemiologi
Lebih dari dua pertiga pasien dengan penyakit Granuloma
annulare mengalami onset penyakit mulai usia dibawah 30
Amerika Serikat
tahun. Pada pasien anak dengan Granuloma pediatrik annulare,
Granuloma annulare paling sering terjadi pada anak-anak dan
onset usia berkisar 1-14 tahun, dengan rata-rata 4 tahun.
dewasa muda.
Solitary piogenik Granuloma umumnya dan merepresentasikan
0,5% dari seluruh nodul kulit pada anak-anak.
Klinis Etiologi granuloma annulare pada anak anak tidak
diketahui.
Granuloma Annulare Tak ada bukti baik yang mendukung bahwa trauma,
Anak dengan granuloma annulare biasanya sehat dan tuberculosis, infeksi streptococcus, herpes zoster/varicella,
memiliki lesi dalam beberapa bulan tanpa ada keluhan kelainana kolagen vaskuler, atau diabetes melitus
lainnya. berhubungan dengan granuloma annulare. Juga tidak ada
Satu atau lebih nodul jaringan lunak yang tidak nyeri hubungan dengan vaksinasi BCG; obat-obatan seperti
tekan pada ekstremitas, scalp, atau dahi. allopurinol, dan zalcitabine; infeksi virus seperti EBV, HIV,
Papula dengan diameter 1-5 mm, berwarna kemerahan hepatitis C, Parvovirus B19; autoimun thyroiditis, dan kondisi
atau merah muda terang, dan mulus tidak bersisik. malignant.
Paling sering ditemukan sepanjang aspek ekstensor Terdapat bukti yang menunjukkan bahwa granuloma
ekstremitas, dan dengan dengan sendi. annulare adalah penyakit imunologis dengan tipe delayed
Granuloma Pyogenic hypersensitivity reaction.
Pada pasien dengan dicurigai granuloma piogenik, Granuloma pyogenic
anamnesis harus berfokus pada onset dan timbulnya gejala Penyebab granuloma piogenik tidak diketahui.
ruam. Faktor resiko yang potensial termasuk kehamilan, pil
Tanyakan pada pasien atau orangtuanya mengenai kontrasepsi, infeksi bakteri dan virus, arterivena anastomosis
riwayat trauma, infeksi virus dan bakteri, kehamilan atau mikroskopis, dan angiogenik growth faktor, tapi tak ada bukti
infeksi HIV. yang mendukung sebagai faktor penyebab primer. Pada
Pasien dan keluarganya harus ditanyakan tentang ruam populasi anak anak yang besar, hanya 7% memiliki riwayat
awal, port wine stain, dan pengobatan awal. trauma yang mendahului perkembangan suatu lesi.
Ada tidaknya tanda perdarahan atau ulserasi harus Granuloma pyogenik telah dilaporkan meningkat
dicatat. dalam port wine stains. Pada kejadian yang jarang, lesi
Penyebab dihubungkan dengan malignansi.
Lesi intraoral dapat tampak sangat mirip dengan tampilan
Granuloma annulare pada sarcoma kaposi intraoral. Lesi ini mungkin berdarah
hebat bila dibiopsi; pemeriksaan HIV mungkin menjadi indikasi 4. Lakukan anestesi infiltrasi
jika pasien dengan lesi intraoral dengan tampilan pyogenik 5. Lakukan insisi elips sampai subkutis
granuloma. 6. Rawat perdarahan
7. Jahitan subkutis
8. Jahitan kutis dengan nilon 4-0 atau 5-0
9. Kirim masa untuk pemeriksaan patologi anatomis.

Granuloma Anulare pada dorsum manus


Granuloma pyogenik Tindakan a dan
antiseptic

Granuloma pyogenik
Teknik Operasi
1. Lakukan tindakan a dan antiseptic
2. Tutup daerah operasi dengan duk bolong Dreping dengan duk disposable Insisi
3. Tandai batas insisi
sepanjang tepi masa

Setelah insisi, lanjutkan penjahitan


Tofus juga terbentuk di telinga dan jaringan yang relatif dingin lainnya.
Sebaliknya, tofus jarang terjadi pada tulang belakang, tulang
Ditulis Oleh: kapten
panggul ataupun bahu.
Oleh: dr.Asep Hermana,SpB, FINACS
Penyebab
Dalam keadaan normal, beberapa asam urat ditemukan dalam
Definisi
darah. Kadar asam urat menjadi sangat tinggi jika ginjal tidak
Tofus (Latin: "batu", jamak tofi) adalah deposit urat monosodium
dapat membuangnya melalui air kemih.
terkristal pada seseorang dengan hiperuricemia kronis. Pada
Tubuh juga bisa menghasilkan sejumlah besar asam urat karena
stadium ini, telah berkembang gejala yang berhubungan dengan
diet tinggi purin atau kelainan metabolisme asam urat.
atropati kristal yang disebut gout.
Beberapa jenis penyakit ginjal dan obat-obatan tertentu
Penyakit ini paling sering mengenai sendi di pangkal ibu jari kaki
mempengaruhi kemampuan ginjal untuk membuang asam urat.
dan menyebabkan suatu keadaan yang disebutpodagra; tetapi
Terapi
penyakit ini juga sering menyerang pergelangan kaki, lutut,
Allopurinol merupakan obat yang menghambat pembentukan
pergelangan tangan dan siku.
asam urat di dalam tubuh. Obat ini terutama diberikan kepada
penderita yang memiliki kadar asam urat yang tinggi dan batu
ginjal atau mengalami kerusakan ginjal. Allopurinol bisa
menyebabkan gangguan pencernaan, timbulnya ruam di kulit,
berkurangnya jumlah sel darah putih dan kerusakan hati.
Sebagian besar tofi di telinga, tangan atau kaki akan mengecil
secara perlahan jika kadar asam urat dalam darah berkurang;
tetapi tofi yang sangat besar mungkin harus diangkat melalui
pembedahan.
Orang yang memiliki kadar asam urat yang tinggi tetapi tidak

Kristal dapat terbentuk di sendi-sendi perifer tersebut karena menunjukkan gejala-gejala pirai, kadang mendapatkan obat

persendian tersebut lebih dingin daripada persendian di pusat untuk menurunkan kadar asam uratnya.

tubuh dan urat cenderung membeku pada suhu dingin. Kristal Indikasi Operatif
1. Mengganggu fungsi dan diperlukan evakuasi dengan
cepat
2. Kosmetik
Teknik Operasi
1. Lakukan tindakan aseptik.
2. Lakukan anestesi lokal dengan lidocaine 2%
3. Pegang ujung masa dengan pinset. Evakuasi dengan pinset
4. Lakukan insisi tepat diatas tofus
5. Evakuasi masa dengan pinset.
6. Cuci dengan NaCl 0.9 %
7. Jika luka kecil tidak perlu dijahit, cukup rapatkan dengan
plester steril.
8. Tutup dengan kasa
Cuci sampai bersih

Tutup dengan kasa


Insisi tepat diatas masa
Insisi Drainase Abses termasuk abses payudara, abses perianal dan abses paraanal
mengingat penanganannya yang spesialistik.
Ditulis Oleh: kapten
Abses juga bisa terjadi setelah suatu luka ringan, cedera atau
Oleh: dr.Asep Hermana,SpB, FINACS
sebagai komplikasi dari folikulitis. Abses bisa timbul di setiap
bagian tubuh dan menyerang berbagai usia.
Definisi
Abses harus dibedakan dengan empyema. Empyema mengacu
Abses adalah pengumpulan eksudat purulen yang terjebak di
pada akumulasi nanah di dalam kavitas yang telah ada
dalam jaringan yang kemudian membentuk rongga yang secara
sebelumnya secara normal, sedangkan abses mengacu pada
anatomis sebelumnya tidak ada dengan jaringan fibrotik
akumulasi nanah di dalam kavitas yang baru terbentuk melalui
disekitarnya sebagai respon tubuh terhadap adanya infeksi.
proses terjadinya abses tersebut.
Patofisiologi
Etiologi
Kejadian abses bermula dari trauma mayor ataupun minor yang
Penyebab utama terjadinya abses yaitu adanya benda asing
diikuti masuknya bakteri . Eksudat kemudian terakumulasi, jika
yang diikuti bakteri pyogenic. (Stapilococcus Spp, Esceriscia coli,
tidak segera diekskresikan atau di absorbsi tubuh, maka akan
Streptokokkus beta haemoliticus Spp, Pseudomonas,
memicu terbentuknya kapsul fibrous sebagai respon tubuh untuk
Mycobakteria, Pasteurella multocida, Corino bacteria,
melokalisir untuk membatasi penyebaran lebih lanjut.
Achinomicetes) dan juga bakteri yang bersifat obligat
anaerob (Bakteriodes sp, cClostridium,
peptostreptokokkus,fasobakterium).

Infeksi bisa menyebar, baik secara lokal maupun sistemik.


Penyebaran infeksi melalui aliran darah bisa menyebabkan
sepsis. Maka dari itu penanganan abses perlu sesegera mungkin
(cito). Jika abses akan pecah, maka daerah pusat benjolan akan
lebih putih karena kulit diatasnya menipis.
Sumber: www.drwheatgrass.info/blog/treat_abscess Kemungkinan terbentuknya abses meningkat pada:
Abses bisa terjadi dimanapun di bagian tubuh. Untuk tindakan
bedah minor akan dibahas abses di kulit dan subkutis tetapi tidak
Adanya kotoran atau benda asing di daerah tempat
terjadinya infeksi
Daerah yang terinfeksi mendapatkan aliran darah yang
kurang
Individu dengan gangguan sistem kekebalan.
Individu dengan gangguan vaskular
Klinis
Terbentuk indurasi disertai reaksi inflamasi disekitarnya yang
lama-kelamaan terbentuk masa kistik dengan temperatur yang Sumber
lebih hangat dibandingkan jaringan sehat. Pada palpasi akan gambar www.lib.uiowa.edu/Hardin/md/cdc/staph/mrsa3.hml
didapatkan adanya fluktuasi sebagai akibat banyaknya Pada pemeriksaan laboratorium bisa menunjukan penigkatan
eksudat yang terbetuk. leukosit.
Gejala sistemik yang terjadi bisa timbul demam yang berulang. Terapi
Gejalanya bisa timbul: Terapi utama adalah drainase sebagai kontrol sumber infeksi
adanya masa
(source control). Drainase dilakukan dengan menginsisi bagian
nyeri
yang paling fluktuatif dan dinding yang paling tipis. Adakalanya
teraba hangat
terbetuk septa-septa dalam satu abses sehingga diperlukan
pembengkakan
multiple insisi. Pemberian antibiotik idealnya adalah sesuai
kemerahan
dengan tes kultur dan resistensi, namun mengingat hasil kultur
Jika masih ragu, lakukan aspirasi dengan spuit berjarum besar di setidaknya membutuhkan waktu 3 hari, maka diberikan antibiotik
daerah yang paling fluktuatif. broad spectrum sesuai pola kuman penyebab terbanyak dan pola
resistensi yang berbeda di setiap daerah.
Teknik Operasi
1. Tindakan a dan antiseptik, jika abses setelah pecah, maka
mulai painting dari arah luar kedalam (bagian yang kotor
diusap terakhir).
2. Drepping 11. Jika kemungkinan eksudat masih ada atau diperkirakan
3. Anestesi dengan chlor ethyl topical(disemprot) masih produktif sebaiknya dipasang drain (dengan penroos
4. Siapkan kasa dan neerbeken untuk menampung eksudat drain atau potongan karet hand scoon steril)
5. Insisi dengan pisau no 11, kemudian lebarkan dengan 12. Rawat sebagai luka terbuka (tidak dijahit)
klem

6. Tekan sampai pus/eksudat minimal

7. Lakukan debridement jaringan nekrotik dengan kuret atau


kasa.
8. Irigasi dengan NaCl 0,9 % sampai jernih
9. Bilas dengan H2O2
10. Cuci dengan antisetik povidon iodine (betadin),
chlorhexidin (savlon) dll
Debridemen Sangat selektif, tanpa menyebabkan kerusakan
kulit di sekitarnya.
Ditulis Oleh: kapten
Prosesnya aman, menggunakan mekanisme
Oleh: dr.Asep Hermana,SpB, FINACS
pertahanan tubuh sendiri untuk membersihkan luka debris
nekrotik .
Debridement adalah proses pengangkatan jaringan avital atau
Efektif dan mudah
jaringan mati dari suatu luka. Jaringan avital dapat berwarna
Sedikit atau tanpa nyeri.
lebih pucat, coklat muda atau hitam dan dapat kering atau
Kerugian:
basah.
Tidak secepat debridement surgikal.
Terdapat 4 metode debridement, yaitu autolitik, mekanikal,
Luka harus dimonitor ketat untuk melihat tanda-
enzimatik dan surgikal. Metode debridement yang dipilih
tanda infeksi.
tergantung pada jumlah jaringan nekrotik, luasnya luka, riwayat
Dapat menyebabkan pertumbuhan anaerob bila
medis pasien, lokasi luka dan penyakit sistemik.
hidrokoloid oklusif digunakan.
1. Debridement Otolitik
Otolisis menggunakan enzim tubuh dan pelembab untuk
2. Debridement Enzymatik:
rehidrasi, melembutkan dan akhirnya melisiskan jaringan
Debridement enzimatik meliputi penggunaan salep topikal
nekrotik. Debridement otolitik bersifat selektif, hanya jaringan
untuk merangsang debridement, seperti kolagenase. Seperti
nekrotik yang dihilangkan. Proses ini juga tidak nyeri bagi
otolisis, debridement enzimatik dilakukan setelah
pasien. Debridemen otolitik dapat dilakukan dengan
debridement surgical atau debridement otolitik dan
menggunakan balutan oklusif atau semioklusif yang
mekanikal. Debridement enzimatik direkomendasikan untuk
mempertahankan cairan luka kontak dengan jaringan
luka kronis.
nekrotik. Debridement otolitik dapat dilakukan dengan
Indikasi
hidrokoloid, hidrogel atau transparent films.
Untuk luka kronis
Indikasi
Pada luka apapun dengan banyak debris nekrotik.
Pada luka stadium III atau IV dengan eksudat
Pembentukan jaringan parut
sedikit sampai sedang.
Keuntungan
Keuntungan:
Kerjanya cepat
Minimal atau tanpa kerusakan jaringan sehat
dengan penggunaan yang tepat.
Kerugian:
Mahal
Penggunaan harus hati-hati hanya pada jaringan
nekrotik.
Memerlukan balutan sekunder
Setelah beberapa hari pemakaian, balutan dibuka
Dapat terjadi inflamasi dan rasa tidak nyaman.
3. Debridement Mekanik
Dilakukan dengan menggunakan balutan seperti anyaman
yang melekat pada luka. Lapisan luar dari luka mengering dan
melekat pada balutan anyaman. Selama proses
pengangkatan, jaringan yang melekat pada anyaman akan
diangkat. Beberapa dari jaringan tersebut non-viable,
sementara beberapa yang lain viable. Debridement ini
nonselektif karena tidak membedakan antara jaringan sehat
dan tidak sehat. Debridement mekanikal memerlukan ganti
balutan yang sering.
Aplikasi balutan dengan debridement enzymatic Proses ini bermanfaat sebagai bentuk awal debridement atau
sebagai persiapan untuk pembedahan. Hidroterapi juga
merupakan suatu tipe debridement mekanik.Keuntungan dan
risikonya masih diperdebatkan.
Indikasi
Luka dengan debris nekrotik moderat.
Keuntungan:
Materialnya murah (misalnya tule)
Kerugian: yang sehat dan perdarahan lebih banyak pada jaringan yang
Non-selective dan dapat menyebabkan trauma dipotong.
jaringan sehat atau jaringan penyembuhan Luas dan radikalitas debridemet dapat dilihat pada gambar
Lambat dibawah ini.
Nyeri
Hidroterapi dapat menyebabkan maserasi jaringan.
Juga penyebaran melalui air dapat menyebabkan
kontaminasi atau infeksi. Disinfeksi tambahan dapat
menjadi sitotoksik.

4. Debridement Surgikal
Debridement surgikal adalah pengangkatan jaringan avital
dengan menggunakan skalpel, gunting atau instrument tajam
lain Debridement surgikal merupakan standar perawatan
untuk mengangkat jaringan nekrotik. Keuntungan
debridement surgikal adalah karena bersifat selektif; hanya
bagian avital yang dibuang. Debridement surgikal dengan
cepat mengangkat jaringan mati dan dapat mengurangi
waktu. Debridement surgikal dapat dilakukan di tempat tidur
pasien atau di dalam ruang operasi setelah pemberian Indikasi
Luka dengan jaringan nekrotik yang luas
anestesi.
Jaringan terinfeksi.
Ciri jaringan avital adalah warnanya lebih kusam atau lebih
pucat(tahap awal), bisa juga lebih kehitaman (tahap lanjut), Keuntungan:
Cepat dan selektif
konsistensi lebih lunak dan jika di insisi tidak/sedikit
Efektif
mengeluarkan darah. Debridement dilakukan sampai jaringan
tadi habis, cirinya adalah kita sudah menemulan jaringan Kerugian :
Nyeri
Mahal, terutama bila perlu dilakukan di kamar
operasi
Teknik Operasi
1. Tindakan a dan antiseptik
2. Anestesi infiltrasi sekitar luka
3. Luka dicuci sampai bersih
4. Identifikasi jaringan nekrotik dan struktur neuro vaskular.
5. Jepit jaringan nekrotik dengan pinset, gunting
6. Ulangi langkah 5 sampai semua/sebagian besar jaringan
terbuang. Sampai jaringan sehat terlihat (sudah ada
perdarahan normal)
7. Jika luka tertutup darah, cuci kembali dengan NaCl 0.9 %,
lalu kembali identifikasi jaringan nekrotik.
8. Selanjutnya tergantung tipe luka dapat dijahit primer atau
dilakukan perawatan luka terbuka atau tindakan definitif
lainnya.
Luka Gigitan tidak pada gambar dibawah ini:

Ditulis Oleh: kapten


Oleh: dr.Asep Hermana,SpB, FINACS

Luka gigita yang paling sering dijumpai diantaranya


1. Ular (vulnus morsum serpentis)
2. Anjing (vulnus morsum canis)
3. Kucing (vulnus morsum felis )
4. Monyet (vulnus morsum macacus)
5. Manusia (vulnus morsum sapiens)
6. Kalajengking (vulnus morsum)
Penanganan luka gigitan ular
Perhatikan perbedaan morfologi kemungkinan ular berbisa atau

Tingkatan berat ringannya gigitan ular dibagi menjadi 5 tingkatan


sesuai dengan keadaan klinis yaitu:

Grade Tanda dan gejala

0: Tanpaenveno Satu atau lebih luka gigitan,


mation nyeri minimal, edema di
sekitarnya < 1 inci dan
eritema pada 12 jam, tidak
ada keterlibatan sistemik

I: Envenomasi mi Tanda luka gigitan, nyeri


nimal moderate sampai berat,
edema di sekitar 1 - 5 inci kematian, edema local
dan eritema dalamn 12 jam dapat meluas melebihi
pertama setelah gigitan, ekstremitas yang terlibat
tidak ada keterlibatan pada sisi tubuh ipsilateral.
sistemik. Pemasangan torniket dan insisi dan pengisapan tepat

II: Envenomasi Tanda luka gigitan, nyeri dikerjakanan dalam 1 jam pertama gigitan ular. Ular

moderate berat, ang marks; severe memasukkan venom ke dalam jaringan subkutan yang akan

pain; edema di sekitar 6 diabsorbsi oleh kapiler dan limfatik. Torniket dipasang longgar

12 inci dan eritema dalam hanya untuk menghambat aliran vena dan limfatik. Torniket

12 jam setelah gigitan, jangan dilepas selama 30 menit sampai pengisapan bisa ular

kemungkinan keterlibatan dapat dilakukan. Torniket dilepas setelah terapi definitive

sistemik termasuk nausea, dilakukan dan pasien tidak dalam keadaan syok.

vomitus, pusing, syok atau Tindakan yang dilakukan adalah:

gejal neurotoksik 1. Primary survey (ABCD)


2. Pasang torniquet
III: Envenomasi Tanda luka gigitan, nyeri 3. Insisi silang ditempat gigitan
berat berat, edema di sekitarnya 4. Isap (jangan dihisap dengan mulut, usahakan dengan
lebih dari 12 inci dan vacuum, atau suction atau spuit)
eritema biasanya ada dan 5. Cuci luka dengan diguyur NaCl 0,9 % sebanyak-
termasuk petekie banyaknya, dilanjutkan dengan H2O2 kemudian povidon
generalisata dan ekimosis. iodine dan terakhir dengan NaCl 0.9 %

IV: Envenomasi Keterlibatan sistemik selalu 6. Pemberian serum anti bisa ular.

sangat berat ada dan gejal dapat 7. Antibiotik profilaksis

termasuk gagal ginjal, 8. Anti tetanus (penggunaan tetanus toksoid dan atau anti

sedikit hematuri, koma dan tetanus serum tergantung status imunisasinya)


9. Analgetik.
10. Pemeriksaan darah lengkap dan urin. scorpion dari spesies lain. Venom bersifat neurotoksik dan
Insisi dan pengisapan bisa ular selama 30 menit dapat menyebabkan pelepasan neurotransmitter dari system saraf
bermanfaat bila dilakukan 30 menit setelah digigit ular. Insisi otonom dan kelenjar adrenal. Venom ini juga menyebabkan
dilakukan longitudinal dan tidak cruciate. Ketika dua tanda depolarisasi sistem neuromuskuler.
gigitan ular terlihat, kedalaman injeksi venom kira-kira 2/3 jarak Sengatan menyebabkan rasa nyeri dengan bebebapa gejala local
antara tanda gigitan ular. Gigitan yang berat dapat menyebabkan lain. Hiperestesia menetap pada tempat sengatan sehingga
masuknya venin ke fascia dan explorasi surgical perlu dilakukan. menghasilkan nyeri. Tap test memperkuat diagnosis.Gejala lain
Insisi yang dibuat proksimal terhadap gigitan merupakan yang menunjukkan sifat neurotoksik venom dan termasuk
kontraindikasi. ansietas, penglihatan kabur atau kebutaan temporer, pergerakan
Rata-rata gigitan ular tidak memerlukan eksisi surgical. Prosedur mata patologis, dispnea, wheezing, disfagia, miksi dan defekasi
ini dilakukan pada envenomasi berat. Terlihat bahwa eksisi luas involunter dan opstotonus. Kontraksi muskuler somatic mirip
dari seluruh area di sekitar gigitan ular dalam 1 jam pertama kejang, hipertensi, supraventricular tachyarrhythmias dan
sejak waktu injeksi dapat menghilangkan seluruh venom. Eksisi demam dapat terlihat.
luka gigitan termasuk kulit dan jaringan subkutis, perlu Pada dewasa, sengatan dapat diterapi baik dengan kompres
dipertimbangkan pada luka gigitan berat dan pada pasien yang dingin.Sebaliknya, bayi dan anak kecil dapat meninggal karena
diketahui alergi terhadap serum kuda yang dapat dilihat dalam 1 venom kalajengking. Anak kecil dengan tanda envenomasi harus
jam setelah gigitan. Kebanyakan fatalitas gigitan ular terjada dirawat di rumah skit dan dimonitor. Tidak ada tes diagnosis
selama 6 -48 jam setelah gigitan ular. spesifik yang dapat dilakukan. Terapi meliputi penanganan jalan
Terapi paling penting untuk gigitan ular adalah antivenin. nafas dari sekresi yang berlebihan, sedasi dan terapi aritmia dan
Sengatan kalajengking hipertensi bila diperlukan. 100 Calcium gluconate dapat
Dari beberapa spesies kalajengking di AS, hanya digunakan untuk terapi spasme otot. Narkotik tidak perlu
satu, Centruroides exilicauda atau bark scorpion, yang digunakan karena dapat memperberat efek neurotoksik dari
bermakna secara medis. Hewan ini ditemukan terutama di gurun venom. Antivenin yang berasal dari kambing tersedia tetapi
pasir barat daya. Memiliki panjang 1 0- 7 cm, berwarna coklat hanya di wilayah Arizona.
kekuning-kuningan dan memiliki pita vertical pada punggungnya. Gigitan Anjing, Kucing, Tikus dan Kera
Tonjolan pada dasar organ penyengat membedakan bark Gigitan hewan dappat menjadikan saranan penularan virus
rabies. Tidak hanya anjing, kera, tikus dan kelincipun dapat 3. Jika belum pernah mendapatkan imunisasi, maka suntikan
menjadi penular virus ini. Penyakit yang ditimbulkan adalah vaksin rabies diberikan pada saat digigit hewan rabies dan
rabies. pada hari ke 3, 7, 14, dan 28.
Jika penderita pernah mendapatkan vaksinasi, maka resiko
Penyakit ini disebabkan oleh virus rabies yang terdapat pada air
menderita rabies akan berkurang, tetapi luka gigitan harus tetap
liur hewan yang terinfeksi. Hewan ini menularkan infeksi kepada dibersihkan dan diberikan 2 dosis vaksin (pada hari 0 dan 2).
hewan lainnya atau manusia melalui gigitan dan kadang melalui
jilatan. Virus akan masuk melalui saraf-saraf menuju ke medulla
spinalis dan otak, yang merupakan tempat mereka
berkembangbiak. Selanjutnya virus akan berpindah lagi melalui
saraf ke kelenjar liur dan masuk ke dalam air liur.
Banyak hewan yang bisa menularkan rabies kepada manusia.
Yang paling sering menjadi sumber dari rabies adalah anjing;
hewan lainnya yang juga bisa menjadi sumber penularan rabies
adalah kucing, kelelawar, rakun, sigung, dan rubah. Rabies pada
anjing masih sering ditemukan di Amerika Latin, Afrika, dan Asia,
karena tidak semua hewan peliharaan mendapatkan vaksinasi
untuk penyakit ini. Hewan yang terinfeksi bisa mengalami rabies
buas atau rabies jinak. Pada rabies buas, hewan yang terkena
tampak gelisah dan ganas, kemudian menjadi lumpuh dan mati.
Pada rabies jinak, sejak awal telah terjadi kelumpuhan lokal atau
kelumpuhan total.
1. Tindakan terpenting adalah pembersihan luka
2. Jika penderita yang belum pernah
mendapatkan imunisasi dengan vaksin rabies diberikan
suntikan immunoglobulin rabies, dimana separuh dari
dosisnya disuntikkan di tempat gigitan.
Vena Seksi
Ditulis Oleh: kapten
Oleh: dr.Asep Hermana,SpB, FINACS

Definisi
Tindakan yang bertujuan untuk mendapatkan akses vena
dengan cara pembedahan yang dilakukan jika akses vena perifer
sulit karena kollaps pembuluh darah perifer (misalnya karena
syok, dehidrasi) atau karena thrombosis vena perifer setelah
penusukan berulang atau diperlukan akses yang lebih besar
daripada vena perifer Dikutip dari Moore Clinically Oriented Anatomy, 5th edition
Vena seksi juga dilakukan bila vena punksi sulit dilakukan 2006
misalnya pada orang gemuk, bayi, atau bila semua tempat telah 2. Tempat kedua adalah vena basilica, berlokasi 2.5 cm
habis terpakai vena punksi. lateral dari epicondylus medialis humeri atau 2-3 cm diatas
Kegunaan dan medial dari epicondylus lateralis di lipatan fleksi siku.
Sebagai akses intra vena, misalnya
1. Tranfusi
2. Infus
3. Nutrisi parenteral
4. Terapi parenteral
5. Diagnostik
Anatomis untuk vena seksi
1. Tempat utama untuk vena seksi perifer adalah vena
saphena magna di pergelangan kaki, yang berlokasi 2 cm di
depan dan diatas malleolus medialis.
3. Identifikasi lokasi vena saphen magna pada mata kaki.
Vena berlokasi pada titik 2cm anterior dan superior dari
malleolus medialis.
4. Lidocaine 1% diinfiltrasikan pada kulit pada area seluas 1
inchi sekitar vena yang diincar.
5. Incisi kulit transverse 1,5-2cm sampai subkutis.
6. Dilakukan diseksi tumpul dengan menggunakan klem
pean bengkok.
7. Identifikasi vena saphena magna
8. Vena dibebaskan dengan jaringan sekitarnya dengan klem
sampai sekitar 3 cm (vena telanjang).
9. Luksir vena dari dasarnya dengan klem, kembali bebaskan
Dikutip dari Moore Clinically Oriented Anatomy, 5th edition dasar sepanjang 3 cm.
2006 10. Masukan klem kebawah vena dan pasang benang silk 3-0
Alat-alat
Alat dan bahan yang perlu disediakan sama dengan tindakan di distal dan proksimal.
bedah minor lainnya, tambahannya adalah venocath (selang 11. Daerah vena yang distal diikat dengan silk 3-0, sisakan
kateter vena) atau abbocath (needle vein catheter) yang
benang sampai panjang.
ukurannya disesuaikan dengan ukuran vena.
12. Vena sedikit ditarik, lalu dibuat incisi pada aspek anterior
dengan bisturi no 11.
Teknik Operasi
13. Masukan venocath dengan bantuan pinset 3-5 cm.
14. Aspirasi dari ujung venocath untuk meyakinkan tidak ada
Jika menggunakan selang venocath
tahanan dan sekaligus menarik agar tidak ada udara dalam
1. Pasien dalam posisi terlentang, kalo anak2 harus
venocath.
dipegang
15. Masukan cairan infus melalui canul di ujung venocath.
2. A dan antiseptik
16. Jika lancar, ikatkan benang dibagian proksimal untuk Harap diperhatikan bahwa jika abbocath melekuk apalagi terlipat
memfiksasi venocath, hati-hati jangan terlalu kuat hingga maka lumennya akan menyempit bahkan tertutup. Hati-hati
lumen venocath tertutup. selama melakukan manuver-manuver agar abbocat tidak
17. Luka dijahit dengan silk 3-0. melekuk/bengkok.
18. Fiksasi venocath dengan plester dibeberapa tempat.
19. Tutup luka dengan hypafix atau dermafilm.
Jika menggunakan
Abbocath (needle venocath)
1. Setelah tindakan ke 11, angkat tepi insisi inferior dengan
pinset.
2. Tusukan abbocath ke kulit 0.5 1 cm inferior tepi insisi Cutis, subcutis dibuka, diseksi secara tumpul, vena diidentifikasi
(jangan sampai vena tertusuk) sampai ujungnya keluar dan
terlihat diatas vena.
3. Angkat benang bagian atas, identifikasi kembali vena dan
tusukan abbocath sampai masuk lumen.
4. Tarik ujung jarum agar tidak melukai dinding vena, sambil
venocath didorong.
5. Perhatikan aliran vena pada abbocath Kontrol proksimal dan distal dengan silk 2-0
6. Pasang selang infuse, yakinkan cairan dapat mengalir
dengan lancar.
7. Ikat benang di bag proksimal, hati-hati jangan terlalu
kencang agar lumen abbocath tidak tertutup.
8. Jahit luka insisi.
9. Fiksasi abbocat dengan jahitan ke kulit di ujung canulnya.
10. Balut luka dengan dermafilm atau kassa dan hypafix. Insersi vecocath setelah vena diinsisi, bag proksimal dan distal
diikat
Insersi Abbocath setelah menusuk kulit dahulu

Komplikasi
1. Tromboflebitis dapat mulai dalam 24 jam
2. Robekan syaraf dan atau arteri
3. Hematom
4. Selulitis
Pasca Bedah
1. Dilakukan desinfeksi kulit sekali lagi dengan teliti, bila
perlu diberi salep antibiotik pada luka insisi.
2. Difiksasi dengan bidai/spalk.
3. Dilakukan ganti verban setiap hari dengan tindakan
asepsis .
Kateterisasi Urethra Jenis Kateter Urethra
Kateter dapat dibedakan berdasarkan bentuk (Straight; lurus
Ditulis Oleh: kapten
tanpa ada cabang contoh Robinson kateter Nelaton kateter
Oleh: dr.Asep Hermana,SpB, FINACS
Coude Catheter; kateter dengan ujung lengkung dan ramping
Definisi
contoh : Kateter Tiemann), ukuran, bahan(stainless, lateks/karet,
Suatu tindakan untuk mengalirkan urin melalui selang kateter
silicon), sifat pemakaian(self retaining kateter; dipakai menetap
yang dimasukkan melalui uretra.
misalnya Kateter Molecot dan Kateter Foleey) , jumlah
Indikasi
percabangan( 2 cabang, tiga cabang).
Diagnostik
Ukuran kateter menggunakan skala Cherieres (Franch) yang
1. Mengambil sample urin untuk kultur urin
besarnya 1 ch atau Fr = 0,33 mm atau 1 mm sama dengan 3 Fr.
2. Mengukur residu urin
Sebagai contoh, jika ukuran kateter 18 Fr berarti diameter luar
3. Memasukan bahan kontras untuk pemeriksaan radiologi
dari kateter adalah 6mm.
4. Urodinamik
5. Monitor produksi urin (untuk menilai hidrasi, fungsi ginjal,
respon terapi, balance cairan dll).
6. Mengukur tekanan intra abdomen secara tidak langsung
(indirect)
Terapi
1. Semua penderita yang datang dengan keluhan berupa
tidak bisa kencing (retensi urine )
2. Diversi urine
Alat dan Bahan
3. Sebagai splin
Alat-alat yang dibutuhkan
4. Sebagai bagian dari persiapan pra operasi dan
1. Xilocain jelly
penatalaksanaan post operasi
2. Kasa steril
Kontra indikasi
3. Sarung tangan steril
Ruptur urethra, biasanya ditandai dengan adanya meatal
4. Larutan antiseptik
bleeding dan floating prostat pada pemeriksaan colok dubur.
5. Kateter sesuai ukuran
6. Urine bag
7. Spuit 10 ml
8. Aquabides untuk balon kateter
9. Duk bolong steril
10. Bengkok / nierbecken
11. Pinset anatomis steril
6. Masukan jelly xylocaine 2-4% dengan spuit 20cc ke MUE
12. Plester
Tehnik Operasi
1. Posisi pasien telentang
2. Operator sebelah kiri pasien
3. Desinfeksi lapangan tindakan dengan larutan antiseptik.
4. Pasang duk bolong

7. Kateter yang diolesi jelly steril dimasukkan ke dalam


urethra. Pada penderita pria, kateter dimasukkan dengan
gentel sampai urin mengalir

5. Pegang dan tarik penis dengan kasa steril pakai tangan


kiri

8. Catat jumlah dan warna urin


9. Balon dikembangkan dengan aquabides sebanyak 5-10
ml.
10. Bila diputuskan untuk menetap, kateter dihubungkan Perawatan Pasca Kateterisasi
dengan urine bag dan dipertahankan sebagai sistem tertutup. Minum banyak untuk menjamin diuresis(jika tidak puasa)
Membersihkan ujung urethra dari sekret dan darah yang
mengering agar pengaliran sekrit urethra tetap terjamin
Mengusahakan kantong penampung urin tidak melampaui
ketinggian buli-buli agar urin tidak mengalir kembali
kedalamnya.
Follow-up
Mengganti kateter nelaton tiap 1- 2 minggu atau kateter silikon
11. Kateter difiksasi dengan plester pada kulit paha proksimal tiap 6-8 minggu bila memang masih diperlukan, untuk mencegah
infeksi
atau di daerah inguinal dan diusahakan agar penis mengarah
ke lateral, hal ini untuk mencegah nekrosis akibat tekanan
pada bagian ventral urethra di daerah penoskrotal

Teknik memasang kateter pada perempuan hampir sama, yang


perlu diperhatikan adalah identifikasi MUE

dengan cara melebarkan labia mayora. MUE terletak dibawah


klitoris dan diatas vagina.
Komplikasi operasi
Komplikasi pasca bedah ialah urethritis, ruptur urehtra,
perdarahan dan striktur urethra.
Luka Bakar mikroorganisme berkurang, regulasi suhu tubuh terganggu dan
dapat terjadi eksudasi cairan.
Ditulis Oleh: kapten
Fase Luka Bakar
Oleh: dr.Asep Hermana,SpB, FINACS
1. Fase awal/akut/syok
Definisi
Kerusakan/kehilangan jaringan akibat kontak dengan sumber
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, akibat cedera
panas, dapat berupa api, air panas, bahan kimia, listrik/petir,
termis sistemik dan gangguan perfusi oksigen
radiasi
Kriteria diagnosis
2. Fase subakut
Adanya riwayat trauma termal, pada bagian tubuh tertentu,
dapat disertai trauma inhalasi ataupun trauma penyerta lainnya,
Masalah kehilangan jaringan yang menyebabkan reaksi
maka perlu diperiksa kemungkinan cedera pada organ atau
inflamasi, meningkatnya kerentanan terhadap infeksi,
bagian tubuh yang lain.
hipermetabolisme dan masalah penutupan luka.
Perubahan Fisiologi
Perubahan mikrosirkulasi yang terjadi diantaranya vasodilatasi 3. Fase lanjut
arteriol. Timbul mediator endogen meningkatkan permeabilitas
kapiler yang menyebabkan edema dan hipoproteinemia. Masalah jaringan parut hipertrofik dan kontraktur sebagai
Hipoproteinemia menyebabkan berpindahnya cairan dari penyulit .
intravaskuler ke interstisial. Permasalahan awal yang serius dan
harus cepat didiagnosis adalah adanya cedera inhalasi. Cedera Zona kerusakan jaringan
ini merupakan gangguan mukosa saluran nafas akibat paparan 1. Zona Koagulasi/Nekrosis
atau kontak dengan sumber termis, umumnya disebabkan oleh Adalah daerah yang langsung mengalami kerusakan
api, terperangkap di ruang tertutup,atau terpapar zat kimia. Ciri (koagulasi protein) karena luka bakar, disebut juga zona
yang harus dilihat adalah adanya bulu hidung yang terbakar atau nekrosis.
adanya jelaga di hidung. 2. Zona Statis
Kulit yang terbakar mengakibatkan barrier terhadap Adalah daerah yang langsung berada di luar zona koagulasi.
Di daerah ini terjadi kerusakan endotel pembuluh darah,
trombosit dan leukosit sehingga terjadi gangguan perfusi (no 1. Scald Burns
flow phenomena) diikuti perubahan permeabilitas kapiler dan Luka karena uap panas, biasanya terjadi karena air panas,
respon inflamasi lokal. Proses ini berlangsung 12-24 jam merupakan kebanyakan penyebab luka bakar pada
pasca cedera. masyarakat. Air pada suhu 60C menyebabkan luka bakar
Zona Hiperemi parsial atau dalam dengan waktu hanya dalam 3 detik. Pada
Daerah diluar zona stasis yang ikut mengalami reaksi 69C, luka bakar yang sama terjadi dalam 1 detik.
vasodilatasi tanpa banyak melibatkan reaksi seluler. Dapat 2. Flame Burns
mengalami penyembuhan spontan atau berubah menjadi Luka terbakar adalah mekanisme kedua tersering dari injuri
zona statis bila terapi tidak adekuat. termal. Meskipun kejadian injuri disebabkan oleh kebakaran
rumah telah menurun seiring penggunaan detektor asap,
kebakaran yang berhubungan dengan merokok,
penyalahgunaan penggunaan cairan yang mudah terbakar,
tabrakan kendaraan bermotor dan kain terbakar oleh kompor
atau pemanas ruangan juga bertanggung jawab terhadap luka
terbakar.
3. Flash Burns
Flash burns adalah berikutnya yang paling sering. Ledakan
gas alam, propan, butane, minyak destilasi, alkohol dan cairan
mudah terbakar lain seperti aliran listrik menyebabkan panas
untuk periode waktu. Flash burns memiliki distribusi di semua
kulit yang terekspos dengan area paling dalam pada sisi yang
terkena.
4. Contact Burns
Luka bakar kontak berasal dari kontak dengan logam panas,
plastik, gelas atau bara panas. Kejadian ini terbatas. Balita
yang menyentuh atau jatuh dengan tangan menyentuh
Penyebab Luka Bakar
setrika, oven dan bara kayu menyebabkan luka bakar yang Adalah luka akibat suhu yang terlalu dingin. Pembuluh darah
dalam pada telapak tangan. perifer mengalami vasokonstriksi hebat, terutama di ujung-
5. Chemical Burn ujung jari, hidung dan telinga. Fase selanjutnya akan terjadi
Luka bakar yang diakibatkan oleh iritasi zat kimia, apakah nekrosis dan kerusakan yang permanen. Untuk tindakan
bersifat asam kuat atau basa kuat. Kejadian ini sering pada pertama adalah sesegera mungkin menghangatkan bagian
karyawan industri yang memakai bahan kimia sebagai bagian tubuh tersebut dengan pemanas dan gerakan-gerakan untuk
dari proses pengolahan atau produksinya. Penanganan yang memperlancar sirkulasi.
salah dapat memperluas luka bakar yang terjadi. Irigasi Luas Luka Bakar
dengan NS (NaCl 0.9%) atau akuabides atau cairan netral Banyak metoda perhitungan luka bakar, dari yang sederhana
lainnya adalah pertolongan terbaik, tidak dengan cara seperti rule of thumb, yaitu luas dihitung 1% setiap ukuran
menetralisirnya. sebesar telapak tangan penderita.
6. Electrical Burn Luas luka bakar dinyatakan dalam % terhadap luas seluruh
Sel yang teraliri listrik akan mengalami kematian yang bisa tubuh. Pada dewasa digunakan rumus 9. yaitu, luas kepala dan
menjalar dari sejak arus masuk sampai bagian tubuh tempat leher, dada, punggung, perut, pinggang dan bokong, ekstremitas
arus keluar. Luka masuk adalah tempat aliran listrik memasuki atas kanan, ekstremitas atas kiri, paha kanan, paha kiri, tungkai
tubuh, luka keluar adalah tempat keluarnya arus dari tubuh dan kaki kanan, serta tungkai dan kaki kiri masing-masing 9 %.
menuju bumi/ground. Sulit secara fisik menentukan berat Sisanya 1 persen ada daerah genital. Pada bayi digunakan rumus
ringannnya kerusakan yang terjadi 10 , sedangkan pada anak digunakan rumus 10-15-20.
mengingat perlu banyak pemeriksaan klinis dan penunjang Untuk anak: kepala dan leher 15%, badan depan dan belakang
lainnya untuk mengevaluasi keadaan penderita. Gangguan masing-masing 20%, ekstremitas atas kanan dan kiri masing-
jantung, ginjal, kerusakan otot sangat mungkin terjadi. masing 10%, ekstremitas bawah kanan dan kiri masing-masing
Besarnya luka masuk atau luka keluar tidak berhubungan 15%.
dengan kerusakan jaringan sepanjang aliran luka masuk Prognosis dan penanganan ditentukan oleh dalam dan luas
sampai keluar. Maka dari itu setiap luka bakar listrik permukaan yang terkena, juga oleh letak luka yang terbakar,
dikelompokan pada derajat III usia, dan keadaan kesehatan penderita. Daerah perineum,
7. Frost Bite ketiak, leher dan tangan sulit perawatannya antara lain karena
mudah mengalami kontraktur. Karena bayi dan orang lanjut usia 2. Partial thickness superficial (grd IIa)
daya kompensasinya lebih rendah, maka prognosisnya lebih 3. Partial thickness deep (grd II b)
buruk. 4. Full thickness (grd III)
Klasifikasi dan temuan klinis

I II III
Derajat

Bagian Kulit Epidermi Epidermis Epidermis,


yang Rusak s dan dermis, dan
sebagian lapisan di
dermis bawahnya

Bula - + -

Dasar Hiperemi Merah/puc Putih/pucat


s at

Eskar - - +

Nyeri +, + -
karena
ujung
saraf
tidak
Derajat Luka Bakar tergangg
Dikelompokan beradasarkan kedalaman kerusakan yang terjadi. u
Klasifikasi tradisional mengenal luka bakar derajat I, II, dan III,
sedangkan sekarang digolongkan menjadi
1. Superficial thickness (grd I)
1. Derajat II-III > 20% pada pasien berusia < 10
tahun atau diatas 50 thn.
2. Derajat II- III > 25 % pada kelompok usia selain
yang disebutkan pada butir pertama
3. Luka bakar pada muka, telinga tangan, kaki dan
perineum
4. Adanya cedera pada jalan napas tanpa
memperhitungkan luas luka bakar.
5. Luka bakar listrik tegangan tinggi
6. Disertai trauma lainnya
7. Pasien-pasien dengan resiko tinggi

2. Luka bakar sedang/moderate


1. Luka bakar dengan luas 15-25 % pada dewasa,
dengan luka bakar derajat III kurang dari 10 %.
2. Luka bakar dengan luas 10-20% pada anak usia
kurang 10 thn atau dewasa lebih dari 40 thn, dengan luka
bakar derajat III kurang dari 10 %.
3. Luka bakar dengan derajat III kurang dari 10 %
pada anak maupun dewasa yang tidak mengenai muka,
tangan, kaki dan perineum.
3. Luka bakar ringan
1. Luka bakar dengan luas kurang dari 15 % pada
Berdasarkan berat ringannya luka bakar, diperoleh beberapa orang dewasa.
kategori luka bakar menurut American Burn Association: 2. Luka bakar dengan luas kurang dari 10 % pada
1. Luka bakar berat/ kritis (major burn) anak-anak
3. Luka bakar dengan luas kurang dari 2 % pada 9. Early cooling, siram air
segala usia yang tidak mengenai muka, tangan, kaki, 10. Jangan es/ice-pack !
perineum. 11. Luka bakar kimia : irigasi sebanyak-banyaknya, jangan
Pemeriksaan penunjang netralisir.
Pemeriksaan laboratorium darah yaitu darah rutin, ureum 12. Luka bakar listrik : padamkan sumber, gunakan non-
kreatinin, elektrolit, GDS dan analisa gas darah merupakan data conducting.
dasar untuk menilai dan diagnosis awal keadaan penderita. Penanganan di Emergensi
Pada pemeriksaan radiologi foto thoraks, apabila dicurigai Tindakan penyelamatan jiwa sesuai dengan prosedur ATLS
adanya trauma inhalasi, dan pasca pemasangan CVP (Advanced Trauma Life Support). Penanganan:
Pemeriksaan kultur dan resistensi tes 1. Bebaskan jalan nafas, perhatikan kemungkinan udem
Penatalaksanaan laring.
2. Oksigen lembab 5 liter/mnt
Pre-hospital 3. Resusitasi cairan sesuai formula Baxter-Parkland,
1. Sedapat mungkin penanganan ABC (sesuai ATLS) 4. Monitoring tanda-tanda vital, diuresis dari waktu ke waktu
2. Jauhkan dari sumber luka bakar 5. Pemasangan CVP bila luas luka bakar 40 %, dengan
3. Ingatkan pada orang yang terbakar jangan lari atau nilai normal pada fase akut adalah 0 2 cmH20
berdiri karena api akan lebih besar 6. NGT apabila diperlukan,
4. Padamkan api dengan disiram air, tutup kain basah atau 7. Kateter untuk monitoring diuresis
berguling 8. Antitetanus profilaksis
5. Bilas dengan air jika luka bakar kimiawi, jangan dengan 9. Antibiotik spektrum luas
anti karena akan timbul reaksi panas 10. Analgetik, bila perlu golongan narkotik dengan
6. Trauma listrik putuskan aliran pengawasan ketat
7. Pada keracunan CO biasanya karena terjebak dalam 11. Debridement dalam narkose bila keadaan umum pasien
ruangan tertutup, timbul gejala seperti pusing, sakit kepala sudah stabil. Tindakan debridemen dapat diulangi sesuai
dan muntah-muntah, terapi dengan oksigen murni kondisi pasien
8. Lepaskan pakaian dan perhiasan 12. Penutupan defek dengan skin grafting
13. Perawatan luka dengan antibiotik topikal 1 (1,5) ml/kgBB/%LB saline(elektrolit)
(silversulfadiazine, MEBO,dll) 2000 ml glukosa
Indikasi rawat : Monitoring : diuresis (>50 (30-50) ml/jam)
1. Derajat 2 > 15% pada dewasa, > 10% pada anak CVP (>+2)
2. Derajat 2 pada muka, tangan, kaki, perineum, atau Hb Ht
persendian
3. Derajat 3 > 2% dewasa, setiap derajat 3 pada anak 2. Formula Baxter (Parkland)
berapapun luasnya
4. Disertai trauma jalan nafas, luka listrik dan komplikasi lain 4 ml/kgBB/%LB ringer lactate/asetat
Perawatan RS Monitoring :
Apabila termasuk kriteria luka bakar sedang dan berat (sesuai diuresis 50 100 ml/jam,
American Burn Association) maka pasien dirawat : CVP (>+2 ),
1. Di burn unit bila tersedia Hb-Ht
2. Rawat inap biasa/isolasi bila burn unit tidak tersedia 50 % diberikan pada 8 jam pertama
3. Dirawat di ICU sampai kondisinya stabil. Kemudian dapat 50 % sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya
dipindahkan ke burn unit bila tersedia. Waktu dihitung sejak kejadian, bukan saat mulai pemberian
4. Tindakan definitif berupa cairan.
Debridement
5. Debridement ulang, escarotomi/escarectomy
6. Penutupan defek dengan STSG/FTSG Indikasi
7. Fisioterapi Debridement luka bakar diindikasikan pada luka bakar yang
dalam misalnya luka bakar deep-dermal dan subdermal. Luka
Resusitasi Cairan bakar yang dalam ini ditandai dengan permukaan yang
Formula resusitasi cairan bukan suatu patokan mutlak monitoring keputihan, merah, kecoklatan, kuning atau bahkan kehitaman
dan tidak adanya capillary refill ataupun sensibilitas kulit.
klinis dari waktu ke waktu lebih penting.
1. Formula Evans-Brooke
Kontraindikasi Operasi
Kondisi fisik yang tidak memungkinkan
1(0,5) ml/kgBB/%LB darah (koloid)
Gangguan pada proses pembekuan darah
Tidak tersedia donor yang cukup untuk menutup
permukaan terbuka (raw surface) yang timbul.1
Tehnik Operasi
1. Informed consent
2. Posisi terlentang dalam narkosa umum
3. Cuci luka dengan Normal Saline (NaCl 0.9 %) sambil
dilakukan nekrotomi & bullektomi hingga bersih
(debridement)
4. Keringkan dengan kasa steril
5. Oleskan Silver Sulfadiazin (SSD)/ Dermazin/ Burnazin
6. Bebat dengan kassa lembab diseluruh area luka bakar
7. Dapat juga dilakukan perawatan luka terbukan dengan
MEBO (moist exposure burn ointment - berupa salep)
Perawatan pasca debridement
Balutan awal harus dipertahankan selama 3-7 hari, kecuali timbul
rasa sakit, berbau, basah dan komplikasi lain yang dapat
muncul. Ketika melepaskan balutan, perlengketan diatasi
dengan normal saline untuk mengurangi perlengketan. Apabila
terdapat hematoma atau seroma pada saat ganti balutan, atasi
dengan membuat insisi kecil pada daerah yang paling menonjol
dan keluarkan isinya.1
Medikamentosa 3. Bupivacaine marcaine (1-buthyl-2,6-
hexahydropicolixylidide)
4. Etidokain/duranest(2-N-Ethylpropylamino-
Ditulis Oleh: kapten
26butyroxylidide)

Oleh: dr.Asep Hermana,SpB, FINACS


Kecuali kokain, semua anestesi lokal bersifat vasodilator

Obat-obat anestesi lokal sehingga zat anestesi cepat diserap yang akan meninggikan

Obat-obatan anestesi lokal yang digunakan secara garis besar toksisitas dan memperpendek masa kerja obatnya (duration of

dibagi menjadi 2 golongan, yaitu golongan aminoester dan amino action). Untuk memperpanjang kerja obat dan menurunkan

amida. toksisitasnya biasanya ditambahkan vasokonstriktor, misalnya


dengan menambahkan adrenalin dengan konsentrasi 1:100.000
Golongan amino ester adalah: atau 1:500.000. Tetapi pada khitanan atau pada organ end arteri
lainnya, penggunaan vasokonstriktor tidak dibenarkan.
1. Benzokain ( ethyl 4-aminobenzoate) Obat anestesi yang sering digunakan pada bedah minor adalah
2. Prokain/novokain (2-diethylamino ethyl 4-aminobenzoat) lidocain karena mempunyai masa kerja yang lama (DOA 60-90
3. Tetrakain (-dimethyl amino ethyl 4 buthyl aminobenzoate) menit) dan awitan yang cepat (3-5 menit). Daya anestesinya pun
4. Kloroprokain/nesakain (2-diethylamino ethyl 4-amino 2- lebih kuat jika dibandingkan dengan prokain dan jarang
chlorobenzoat) menimbulkan reaksi alergi.
5. Kokain Konsentrasi yang sering digunakan adalah lidokain HCl 2%.
Menurut hasil penelitian beberapa ahli bahwa pada pemakaian
Golongan amino amida adalah: anestesi lokal secara infiltrasi tidak didapatkan perbedaan yang
bermakna antara pemakaian lidocain HCl 0,5% dan 2% terhadap
1. Lidokain/xylocain/lignokain (2-diethyl aminoacetat-
derajat anestesi yang ditimbulkannya. Bahkan dengan
2,6xylidine)
menggunakan lidocain HCl 0,5% secara bermakna akan
2. Prilokaine/citanest (propylamino-2propionotoluidine)
mengurangi risiko timbulnya intoksikasi obat. Sediaan yang ada
di pasaran lidocain HCl dengan konsentrasi 2% dikemas dalam
flacon dan ampul. Untuk mendapatkan konsentrasi yang lebih coli, Proteus mirabilis, Salmonella). Amoksisilin juga dapat
rendah kita harus mencampurnya dengan aqua bidestilata. digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Untuk mendapatkan hasil optimal antara onset yang cepat dan positif (seperti; Streptococcus pneumoniae, enterococci,
durasi yang lama, dapat digunakan campuran obat anestesi nonpenicilinase-producing staphylococci, Listeria) tetapi
antara lidocain (onset cepat) dan bupivacaine (durasi lama) walaupun demikian, aminophenisilin, amoksisilin secara umum
dengan perbandingan 1 :1. tidak dapat digunakan secara sendirian untuk pengobatan yang
Reaksi toksis dapat terjadi karena kesalahan penyuntikan disebabkan oleh infeksi streprococcus dan staphilococcal.
sehingga obat masuk ke pembuluh darah atau dosis yang terlalu
tinggi. Gejala yang timbul akibat toksisitas adalah: Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
Dosis Oral :
1. Terhadap SSP : gelisah, nyeri kepala, pusing, dan Umum: Anak < 3 bulan: 20-30 mg/kgBB/hari terpisah setiap 12
penglihatan kabur jam. Anak >3 bulan dan <40kg; dosis antara 20-50 mg/kg/hari
2. Terhadap Respirasi : nafas cepat dan dangkan kemudian dosis terpisah setiap 8-12 jam. Khusus: Infeksi
tak teratur sampai apneu hidung,tenggorokan,telinga,saluran kemih dan kulit: ringan
3. Terhadap sistem kardiovaskular : hipotensi dan bradikardi sampai sedang: 25 mg/kg/hari terbagi setiap 12 jam atau 20
mg/kg/hari setiap 8 jam.Gawat: 45 mg/kg/hari setiap 12 jam atau
40 mg/kg/hari setiap 8 jam.

Amoksisilin DOSIS DEWASA:


Nama Dagang Umum: Rentang dosis antara 250 500 mg setiap 8 jam atau 500
Abdimox,Aclam, Amobiotic, Amocomb, Amosine, Amoxan, Amoxil,
875 mg dua kali sehari.
Amoxillin, Ancla, Arcamox, Athimox, Auspilin dll.
Antibiotik amoksisilin termasuk antibiotik time dependent
sehingga untuk menjaga konsentrasi obat dalam plasma tetap
berada pada kadar puncak, maka obat diberikan sesuai dengan

Indikasi jadwal waktu yang telah dibuat. Obat dapat diberikan bersamaan

Amoksisilin digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan dengan makanan.

oleh bakteri gram negatif (Haemophilus Influenza, Escherichia


Kontraindikasi Kontraindikasi
Kontraindikasi untuk pasien yang hipersensitif terhadap Hipersensitivitas terhadap metronidazol, turunan nitroimidazol,
amoksisilin, penisilin, atau komponen lain dalam obat. atau komponen yang ada dalam sediaan, kehamilan (trimester
pertama didapatkan efek karsinogenik pada tikus)
Metronidazol
Nama Dagang Efek Samping
Corsagyl, Elyzol, Fladex, Flagyl, Fortagyl, Gravazol, Mebazid, Mual, muntah, gangguan pengecapan, lidah kasar dan gangguan
Metrofusin dll. saluran pencernaan; rash; mengantuk (jarang terjadi), sakit
Indikasi kepala, pusing , ataksia, urin berwarna gelap, erytema
Infeksi anaerobik (termasuk gigi) , lihat pada bagian dosis, infeksi multiform, pruritus, urtikaria, angioedema dan anafilaksis; juga
protozoa, eradikasi Helicobacter pylori; infeksi kulit. dilaporkan abnormalitas tes fungsi hati, hepatitis, jaundice,
trombositopenia, anemia aplastic, myalgia, athralgia; pada
Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian pengobatan intensif dan jangka panjang dapat terjadi peripheral
Infeksi anaerobik (pengobatan biasanya selama 7 hari dan 10 neuropathy, transient epilepsi-form seizure dan leukopenia.
hari untuk penggunaan antibiotika pada pengobatan kolitis),
peroral dengan dosis awal 800 mg kemudian 400 mg setiap 8 Pengaruh
jam atau 500 mg setiap 8 jam; anak-anak 7,5 mg/kg setiap 8
jam; kemudian pemberian dilanjutkan tiap 12 jam, anak-anak Terhadap Kehamilan : Produsen menyarankan untuk

setiap 8 jam selama 3 hari, kemudian pemberian dilanjutkan tiap menghindari penggunaan obat pada dosis tinggi. Faktor risiko : B
12 jam, umur hingga 1 tahun 125 mg, 1 5 tahun 250 mg, 5 10 (dikontraindikasikan pada trimester pertama) Obat dapat
tahun 500 mg, lebih dari 10 tahun dosis dewasa; selama 3 hari, menembus plasenta ( efek karsinogenik pada tikus);
pemberian secara infus intravena lebih dari 20 menit, 500 mg dikontraindikasikan terhadap pengobatan trichomoniasis pada
setiap 8 jam; anak-anak 7,5 mg/kg setiap 8 jam. trimester pertama, kecuali jika pengobatan alternatif tidak
adekuat. Untuk keamanan dan efikasi pada indikasi yang lain,
gunakan obat pada ibu hamil hanya jika keuntungan pada ibu
hamil lebih banyak daripada potensial risiko terhadap janinnya.
Terhadap Ibu Menyusui : Ditemukan dalam air susu, E.coli; pengobatan entritis yang disebabkan oleh Shigella flexneri
produsen menyarankan untuk menghindari penggunaan obat atau Shigella sonnei.
dengan dosis tunggal yang besar. Masuk kedalam air susu
ibu/tidak direkomendasikan (AAP rates of concern) Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
Terhadap Anak-anak : Keamanan dan efikasi Dosis: dihitung berdasarkan perbandingan dasar obat, dengan
penggunaan obat pada anak-anak belum diketahui dengan jelas, komposis sulfametoxazole 800 mg dan trimethoprim 160 mg.
kecuali untuk pengobatan amoebiasis. Bayi baru lahir Anak >2 tahun , dengan panduan :
menunjukkan keterbatasan dalam eliminasi metronidazole. Pada Infeksi ringan berat:
bayi berumur 28 hingga 40 minggu, waktu paro eliminasi 10,9 oral; 8-12 mg TMP/kg/hari dalam dosis terbagi setiap 12 jam.
22,5 jam. Infeksi serius:
Oral: 20mg TMP/kg/hari dalam dosis terbagi setiap 6 jam.
Kotrimoksazol IV: 8-12 mg TMP/kg/hari dalam dosis terbagi setiap 6 jam.
Golongan/Kelas Terapi Anti Infeksi
Nama Dagang Kontraindikasi
Bactricid, Bactrim, Bactrizol, Cotrim, Cotrimol, Dumotrim, Hipersensitif pada obat golongan sulfa, trimethoprim atau
Erphatrim, Fsiprim, Ottoprim, Primadex, Primsulfon, Septrin, komponen lain dalam obat; profiria; anemia megaloblastik karena
Sulprim, Sultrimmix, Trimezol, Trimoxsul, Zoltrim, Zultrop, kekurangan asam folat; bayi dengan usia <2 bulan; adanya
Bactoprim Combi tanda kerusakan pada hepar pasien; gagal ginjal parah;
Indikasi kehamilan
Untuk pengobatan infeksi saluran urin yang disebabkan
E.coli, Klebsella dan Enterobacter sp, M.morganii, P.mirabilis dan
P.vulgaris; otitis media akut pada anak; eksaserbasi akut pada
Efek Samping
bronchitis kronis pasien dewasa yang disebabkan oleh bakteri
Reaksi efek samping yang paling banyak adalah gangguan
yang sensistif seperti H.influenzae,atau S.pneumoniae;
pencernaan (mual, muntah, anorexia), reaksi dermatologi (rash
pencegahan dan pengobatan Pneumocitis carinii pneumoniae
atau urticaria); efek samping yang jarang dan dapat hilang
(PCP); traveler diarrhea yang disebabkan oleh enterotoksigenik
dengan sendirinya terkait dengan penggunaan co-trimoxazole
meliputi : reaksi dermatologi gawat dan hepatotoxic. Endokrin atau 750 mg setiap 24 jam untuk 5 hari. Bronkitis kronis (bakteri
dan metabolit : miperkalemia (pada penggunaan dosis besar), eksaserbasi akut): 500 mg setiap 24 jam untuk 7 hari.
hipoglikemik. Gastrointestinal : Mual, muntah, anorexia, Pneumonia: Community acquired: 500 mg setiap 24 jam untuk
stomatitis, diare, pseudomembranous collitis, pankreatitis. 7-14 hari atau 750 mg setiap 24 jam untuk 5 hari (efikasi obat
pada pemberian 5 hari untuk MDRSP tidak dapat dipastikan).
Infeksi kulit: infeksi tanpa komplikasi: 500 mg setiap 24 jam
untuk 7-10 hari. Dengan komplikasi: 750 mg setiap 24 jam
Levofloksasin
selama 7-14 hari.
Golongan/Kelas Terapi Anti Infeksi
Nama Dagang
Cravox, Difloxin, Inacid, Levocin, Levovid, Lexa, Mosardal, Nislev, Siprofloksasin
Nufalev, Prolecin, Prolevox, Volequin, Voxin, Cravat dll. Golongan/Kelas Terapi Anti Infeksi
Indikasi Nama Dagang
Sistemik: Pengobatan infeksi ringan, sedang dan berat yang Baquinor, Bernoflox, Bidiprox, Bimaflox, Cetafloxo, Ciflos,
disebabkan oleh organisme yang sensitive, meliputi CAP Ciproxin, Ciproxin XR, Corcasin, Coroflox, Cylowam, Cyrox,
(community-acquired penumoniae), termasuk juga MDRSP Disfabac, Duflomex, Fimoflox, Floxid, Floxifar, Floxigra, Girabloc,
(multidrug resistant strains of S.pneumoniae); pneumoniae Gurolone dll.
nosokomial; bronchitis kronis; sinusitis bakteri akut; infeksi Indikasi
saluran urin dengan atau tanpa komplikasi, termasuk juga Untuk pengobatan infeksi yag disebabkan bakteri: infeksi saluran
pyelonepritis akut yang disebabkan oleh E.coli; prostatitis (cronic urin; cistitis akut tanpa komplikasi pada wanita;
bacterimia); infeksi kulit (dengan atau tanpa komplikasi); untuk
profilaksis serangan anthrak (setelah terpapar) prostatitis bakteri kronik; infeksi saluran nafas bawah (termasuk
eksaserbasi akut dan bronchitis kronik); sinusistis akut; infeksi
Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian kulit; tulang dan persendian; infeksi intraabdominal komplek;
diare karena infeksi; demam tyfoid karena Salmonella typhi;
Oral, IV: dewasa pneumonia nosokomial, terapi empiris febrile neutrophenic
Sinusitis bakteri (akut): 500 mg setiap 24 jam untuk 10-14 hari (kombinasi dengan piperacillin).
Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian Efek Samping
Saluran cerna : Diare (16%)
Infeksi 500-750 mg dua kali sehari 4-6 minggu, tergantung Abdominal pain, mual, dispepsia,
kegawatan dan kepekaan dari bakteri penginfeksinya.
perut kembung(flatulense),
Sefiksim Gagal ginjal akut, reaksi anafilaktik, angioderma, peningkatan
Golongan/Kelas Terapi Anti Infeksi BUN, kandidiasis, peningkatan kreatinin, pusing, demam, sakit
Nama Dagang kepala, hepatitis, hiperbilirubinemia, erythema multiforme, facial
Cefspan, Ceptik, Comsporin, Fixacef, Fixep, Fixiphar, Lanfix, edema, demam, jaundice, leucopenia,pruritus, colitis
Maxpro, Sarcef, Simcef, Sofix, Spancef, Spaxim, Tocef, Cefixime pseudomembran, rash, seizure, menyerupai serum sickness,
OGB Dexa dll. sindrome Stevens-Johnson,trombositopenia,urtikaria, vaginitis,
muntah.
Indikasi
Pengobatan infeksi pada kulit, saluran urin, otitis media, infeksi
saluran nafas termasuk suspek dari S. pneumonia dan S.
Sefotaksim
Pyogenes, H. Influenza dan beberapa Enterobacteriaceae; tidak
Golongan/Kelas Terapi Anti Infeksi
termasuk N. Gonorrhoeae gonorrhea pada serviks dan ureter
Nama Dagang
Biocef, Cefor, Cefotaxim Hexpharm, Cefovell, Cefoxal, Clacef,
Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
Claforan, Clatax, Combicef, Efotax, Goforan, Kalfoxim, Lancef,
Oral :
Lapixime, Procefa, Rycef dll.
Anak 6 bulan : 8 mg/kgBB/hari dibagi setiap 12-24 jam.
Anak> 50 kg atau > 12 tahun dan dewasa 400 mg/hari dibagi
Indikasi
setiap 12-24 jam;
Infeksi saluran napas, kulit dan struktur kulit, tulang dan sendi,
Untuk infeksi S. Pyogenes : pengobatan selama 10 hari
saluran urin, ginekologi seperti, septisemiam dugaan meningitis,
aktif terhadap basil Gram negative (kecuali Pseudomonas), Gram
positif cocci (kecuali enterococcus). Aktif terhadap beberapa
penicillin yang resisten pneumococcus.
Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian Ancefa, Bidicef, Biodroxil, Cefadroxil Hexpharm, Dexacef, Doxef,
Infant dan anak : Duricef, Erphadrox, Ethicef, Kelfex, Lapicef, Librocef, Longcef,
1-12 bulan : I.M., I.V. : <50 k : 50-180 mg/kg BB/hari dibagi Opicef, Osadrox, Pyricef, Qcef, Qidrox, Renasistin, Sedrofen,
dalam dosis setiap 4-6 jam. Tisacef, Widrox, Alxil dll.
Anak > 12 tahun dan dewasa :
Infeksi tanpa komplikasi : I.M., I.V. : 1g setiap 12 jam. Indikasi
Infeksi sedang-parah : I.M., I.V. : 1-2 g setiap 8 jam. Pengobatan suspek infeksi bakteri, termasuk yang disebabkan
Preop : I.M., I.V. : 1 g , 30-90 menit sebelum pembedahan. oleh Group A beta-hemolitic Streptococcus. Profilaksis bakteri
endokarditis pada pasien yang alergi terhadap penisilin dan
Kontraindikasi pasien yang operasi dan tindakan pada gigi.
Hipersensitif terhadap sefotaksim, komponen lain dalam sediaan Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
dan sefalosporin lainnya. Oral :Anak : 30 mg/kg BB/hari dibagi dalam 2 dosis
maksimal 2g/hari.
Efek Samping Dewasa : 1-2 g/hari dibagi dalam 2 dosis.
Kulit : rash, pruritus Profilaksis endokarditis :
Saluran cerna : Saluran cerna : kolitis, diare, mual dan muntah Anak : 50 mg/kg BB 1 jam sebelum tindakan.
Lokal : sakit pada tempat suntikan Dewasa : 2 gram 1 jam sebelum tindakan
Anafilaksis dan aritmia (setelah pemberian injeksi I.V kateter Interval pada pasien gangguan ginjal
pusat), peningkatan BUN, kanidiasis,kreatinin meningkat, ClCr 10-25 mL/menit : diberikan setiap 24 jam.
eusinophilila, erythema multiforme, demam, sakit kepala, ClCr <10 mL/menit : diberikan setiap 36 jam.
interstitial nephritis, neutropenia, phlebitis, pseudomembranous
colitis, sindrom Stevens-Johnson, trombositopenia, transaminases Gentamisin
meningkat, toxic epidermal necrolysis, urtikaria, vaginitis. Golongan/Kelas Terapi Anti Infeksi
Nama Dagang
Sefadroksil Diprogenta, Gentak, Gentamerc, Gentamisin, Gentana, Genoptik
Golongan/Kelas Terapi Anti Infeksi
Nama Dagang
Indikasi Efek Samping
Infeksi gram negatif (Pseudomonas, Proteus, Serratia) dan Gram - Susunan syaraf pusat : Neurotosisitas (vertigo,
positif (Staphylococcus), infeksi tulang, infeksi saluran nafas, ataxia)
infeksi kulit dan jaringan lunak, infeksi saluran urin, abdomen, - Neuromuskuler dan skeletal : Gait instability
endokarditis dan septikemia , penggunaan topical, dan profilaksis - Otic : Ototoksisitas (auditory), Ototoksisitas
untuk bakteri endokarditis dan tindakan bedah.
(vestibular)
Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian - Ginjal : Nefrotoksik ( meningkatkan klirens
Dosis diberikan secara individu karena indek terapinya relatif kreatinin) 1% 10%
sempit
Dosis umum :
Bayi dan anak < 5 tahun : 2,5 mg/kg BB setiap 8 jam secara i.v.
Asam Mefenamat
atau i.m.
Golongan/Kelas Terapi Anti Inflamasi Non Steroid
Anak > 5 tahun : 2 - 2,5 mg/kg BB setiap 8 jam secara i.v. atau
Nama Dagang
i.m.
Analspec, Mefinal, Asimat, Ponstan, Benostan, Cetalmic,
Anak dan dewasa : Intratekal : 4 8 mg/hari
Corstanal, Dolfenal, Dolodon, Dolos, Dystan, Fargetix, Gitaramin,
Topikal :
Lapistan, Licostan, Mectan, Mefast dll.
Salep : Salep dioleskan pada kulit yang sakit 3 4 kali sehari
Dewasa : Diberikan secara i. v. atau i. m.
Indikasi
Nyeri. Dismenore (gangguan nyeri saat haid). Anti-piretik
Kontraindikasi
(demam pada anak karena infeksi)
Hipersensitif terhadap Gentamisin dan Aminoglikosida lain

Dosis, Cara dan Lama Pemberian


Untuk nyeri : Dosis awal 500mg, dilanjutkan dengan dosis 250mg
setiap 6 jam jika diperlukan. Penggunaan sebaiknya tidak lebih
dari 1 minggu.
Kontraindikasi Ibuprofen
Adanya riwayat hipersensitif berupa gatal-gatal, angioedem, Golongan/Kelas Terapi Analgesik Non Narkotik
bronchospasm, rhinitis berat, atau syok oleh Aspirin atau Nama Dagang
golongan AINS lain. Pasien dengan riwayat gangguan saluran Dofen, Dolofen Forte, Farsifen, Febryn, Fenris, Helafen, Iprox,
cerna. Pasien hamil trimester ke-3. Pasien menyusui (atau Nofena, Ostarin, Profen, Proris, Ribunalm Shelrofen, Anafen dll.
hentikan menyusui).
Indikasi
Efek Samping Nyeri & radang pada penyakit artritis (rheumatoid arthritis,
Gangguan lambung : tidak nafsu makan, sakit abdomen, juvenile arthritis, osteoarthritis) & gangguan non sendi (otot
sembelit, diare, dispepsi, kembung, rasa terbakar, mual, tukak kerangka), nyeri ringan sampai berat termasuk dismenorea,
lambung, muntah, mulut kering hingga pendarahan lambung. paska bedah, nyeri & demam pada anak-anak
Efek pada darah : penurunan hematokrit (pemakaian jangka
lama), anemia, memperpanjang waktu pendarahan, eusinopili, Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
epstaxis, leucopenia, thrombo, cytopenia, trombositopenia, Dewasa :
menghambat agregasi platelet. Artritis : 400-800 mg 3-4 kali sehari (maksimun 3.2 g/hari)
Juvenile artritis : 30-40 mg/kg berat badan per hari dalam 3-4
Bentuk Sediaan dosis terbagi (maksimum 50 mg/kg berat badan)
Kapsul 250 mg, Kaplet 500 mg Nyeri ringan s/d sedang : 200-400 mg tiap 4-6 jam, bila perlu
(max 1,2 g/hari)
Peringatan
Hati-hati Pasien Lansia. Pasien dengan kondisi terjadinya retensi Kontraindikasi
cairan Pasien sedang menggunakan obat-obat yang berinteraksi Pasien dengan hipersensitivitas, asma, urtikaria, rinitis parah,
dengan Asam Mefenamat Pasien anak di bawah usia 14 tahun. angioudema
Sebaiknya tidak digunakan secara rutin sebagai obat antipiretik.
Efek Samping
Gangguan saluran cerna : dispepsia, heartburn, mual, muntah,
diare, konstipasi, anoreksia dll.
Pasien dewasa : 25mg atau 50mg setiap 6-8 jam jika diperlukan
Pasien dengan gangguan fungsi ginjal & hati :
Ketopropen
Golongan/Kelas Terapi Anti Inflamasi Non Steroid
Nama Dagang
Kaltrofen, Profenid , Pronalges dll. Untuk Pasien dengan kerusakan ginjal/hati sedang, dosis tertinggi
Indikasi sehari adalah 150mg.
Penyakit inflamasi :
Farmakologi
Rheumatoid arthritis, Juvenile Arthritis, Osteo, Arthritis,
Menghambat sintesa prostaglandin dengan cara menghambat
Ankylosing Spondilitis.
kerja enzym cyclooxygenase (COX), COX-1 & COX-2 pada jalur
Kondisi inflamasi lain : arachidonat tidak melalui jalur opiat
Penanganan nyeri ringan sampai sedang setelah operasi,
Efek Samping
melahirkan,ortopedi & nyeri karena kanker. Dismenore (rasa krg
Saluran cerna : (terjadi pada 10-30% Pasien) Keluhan saluran
nyaman/nyeri saat haid). Demam untuk Pasien usia 16thn atau
cerna, tukak peptik, mual, diare, sakit pada bagian abdomen,
lebih. Pemakaian lain : menurut studi cohort pemakaian dosis
sembelit, kembung, tidak ada nafsu makan, mulut kering,
rendah Ketoprofen selama 2 tahun atau lebih pada Pasien
gastritis, pankreatitis, sampai pendarahan pada saluran cerna.
Geriatri dapat menurunkan prevalensi penyakit alzheimer
Sistim Syaraf Pusat : (lebih dari 3% Pasien) Sakit kepala, eksitasi
Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian (insomnia, bermimpi, cemas, takut), pusing, depresi, sulit
Dosis disesuaikan dengan keadaan Pasien (sangat individual) berkonsentrasi, lelah, bingung, migrain, rasa berputar, halusinasi.
Penyakit inflamasi : Ginjal & Saluran kemih : (3-8% Pasien) Meningkatkan serum
Dosis awal untuk penanganan gejala rheumatoid arthritis & osteo kreatinin, BUN, pendarahan saluran kemih, edema. Mata &
arthritis akut maupun kronis adalah 75mg, 3X sehari atau 50 mg telinga : (1-3% Pasien) Gangguan penglihatan & tinitus.
4 kali sehari atau kapsul lepas lambat 200mg sekali sehari. Dosis Gangguan jantung : (2% Pasien) peripheral edema. Kulit : (1-3%
ini dapat digunakan untuk penanganan ankylosing spondilitis Pasien) Gatal, eksim dll
Nyeri & Dismenore :
Pengaruh dewasa dengan BB<50 kg: I5-30mg, dapat dilanjutkan dengan
Terhadap Kehamilan : Tidak direkomendasikan untuk oral. Anak-anak usia 2-16thn : 0,5-1mg/Kg BB, max. 15-30mg.
digunakan oleh wanita hamil. Terutama pada akhir masa Oral : Ketorolac oral hanya digunakan sebagai terapi lanjutan dari
kehamilan atau saat melahirkan karena efeknya pada sistem ketorolac parenteral.
kardiovaskular fetus (penutupan prematur duktus arteriosus) & Dewasa, Dosis pertama 20mg dilanjutkan, 10mg sehari, dapat
kontraksi uterus. sampai 4X (setiap 4-6jam), meskipun demikian dosis lebih tinggi
Terhadap Ibu Menyusui : Didistribusikan melalui air susu ibu, masih dimungkinkan. Total lama pemakaian terapi kombinasi
sehingga tidak direkomendasikan untuk digunakan oleh ibu yg parenteral dan oral tidak boleh lebih dari 5 hari
sedang menyusui.
Peringatan Farmakologi
Keamanan & efikasi belum jelas untuk penggunaan pada anak di Menghambat sintesa prostaglandin dengan cara menghambat
bawah usia 12 tahun. Penyesuaian dosis untuk Pasien Lansia kerja enzym cyclooxygenase (COX), COX-1 & COX-2 pada jalur
karena eliminasi obat lambat. Pasien dengan kondisi terjadinya arachidonat tidak melalui jalur opiat. Efek pada darah :
retensi cairan. Pasien menggunakan obat-obat yang berinteraksi Menghambat proses agregasi platelet & dapat memperpanjang
dengan Ketoprofen. waktu pendarahan. Konsentrasi tromboxan B2 serum ?
Ketorolac
Kontraindikasi
Golongan/Kelas Terapi Anti Inflamasi Non Steroid
Tidak diindikasikan untuk :
Nama Dagang
Pasien dengan hipersensitivitas urtikaria, angioudema,
Carpuject In, Remopain Inj, Rolac Inj, Scelto Inj, Toradol Inj,
bronkospasme, rinitis yang parah, pasien yg alergi terhadap
Torasic Inj, Torpain Inj, Trolac Inj, Toradol dll.
golongan salisilat, penderita polip, asma, hipotensi, penanganan
Indikasi kondisi nyeri yang minor atau
Nyeri : Nyeri akut, penanganan nyeri setelah operasi. Indikasi
kronik, pasien dengan penyakit tukak lambung aktif, pasien yg
untuk sediaan mata : Inflamasi konjungtivitis alergi musiman
sedang menggunakan obat gol. AINS, anak di bawah usia 2
Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian tahun,pasien hamil trimester ke-3, pasien menyusui (atau
Parenteral : (IV/IM)dosis tunggal dewasa : 30-60mg,lansia dan hentikan menyusui)
Efek Samping ginjal/hati. Tidak disarankan untuk Pasien dengan kerusakan
Sistem Syaraf (23% dari pemberian IV) : Sakit kepala, pusing, ginjal/hati.
cemas, depresi, sulit berkonsentrasi, nervous, kejang , tremor
bermimpi, halusinasi, insomnia vertigo, psikosis.Gastro Intestin : Farmakologi
(12-13% ) Mual, diare, konstipasi, sakit lambung, perasaan Lebih banyak menghambat kerja enzim COX-2 & sedikit
kenyang, muntah, kembung, luka lambung, tidak ada nafsu menghambat COX-1 pada sintesa prostaglandin
makan, sampai pendarahan lambung & saluran pembuangan.
Kontraindikasi
Kulit : (2-4% dari pemberian IV) Sakit di daerah tmp. Penyuntikan
Hipersensitif terhadap Meloxicam, atau komponen lain dalam
(IM), kemerahan, hematoma gatal, berkeringat,
formulasi sediaan meloxicam Adanya riwayat gatal-gatal,
angioedem, bronchospasm, rhinitis berat, atau syok oleh Aspirin
Meloksikam atau golongan AINS lain. Pasien hamil trimester ke-3 Pasien
Golongan/Kelas Terapi Anti Inflamasi Non Steroid menyusui (atau hentikan menyusui)
Nama Dagang Efek Samping
Dispepsi, sakit kepala, mual, diare, infeksi saluran cerna atas,
Artrilox, Loxil, Loxinic, Meloxicam, Meloxin, Mevilox, Mexpharm, sakit abdomen, pusing, bengkak, kembung, kemerahan. Efek
Mobiflex, Movicox, Moxam, Moxic, Nulox, Ostelox, X-cam, pada saluran pencernaan : Pendarahan, tukak, perforasi yang
Artricom dll. serius Efek pada hati : SGOT, SGPT meningkat Adanya anemia
pada penggunaan jangka panjang.
Indikasi
Osteoarthritis, ankylosing spondilitis & Artritis Reumatoid

Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian Piroksikam


Osteoartritis : Golongan/Kelas Terapi Anti Inflamasi Non Steroid
Dosis awal & pemeliharaan Pasien dewasa adalah dosis tunggal
7,5mg/hari. Dosis tertinggi adalah 15mg sekali sehari. Tidak ada Nama Dagang
penyesuaian dosis untuk Pasien dengan gangguan fungsi Faxiden, Felcam, Felcam Gel, Felden Gel, Felden Inj, Felden Supp,
Infeld, Kifaden, Piroxicam, Rexicam, Felden, Roxidene, Scandene, mual, tukak lambung, muntah, mulut kering hingga pendarahan
Scandene Gel, Sofden, Tropidene dll. lambung.
Efek pada darah (1-10% Pasien) : anemia, memperpanjang waktu
Indikasi pendarahan, eusinopili,epstaxis, leucopenia, thrombo, cytopenia,
Rheumatoid arthritis & Osteo arthritis sebagai anti-inflamasi & trombositopenia, menghambat agregasi platelet.
analgetik

Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian


Tramadol
Rheumatoid arthritis & Osteo arthritis :
Golongan/Kelas Terapi Analgesik Narkotik
Dewasa :
Nama Dagang
Dosis awal : 20mg/hari, dosis pemeliharaan : 20-40mg/hari
Centrasic, Contram, Dolana, Dolgesik, Dolocap, Dolsic, Forgesic,
Intradol, Tradonal, Tradosik, Tradyl, Tramal, Trasidan, Traumasik,
Trazodon HCl, Trazone dll.
Farmakologi
Menghambat sintesa prostaglandin dengan cara menghambat
Indikasi
kerja enzym cyclooxygenase (COX), COX-1 & COX-2 pada jalur
Nyeri sedang sampai berat
arachidonat tidak melalui jalur opiat
Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
Kontraindikasi
Nyeri kronis sedang sampai berat yg tdk memerlukan efek
Hipersensitif terhadap golongan AINS. Adanya riwayat gatal-
analgesik yg cepat : awal 25 mg/hari kemudian dinaikkan 25 mg
gatal, angioedem, bronchospasm, rhinitis berat, atau syok oleh
per 3 hari hingga 25 mg 4x sehari. Maksimum 400mg. Sesudah
Aspirin atau golongan AINS lain. Pasien hamil trimester ke-3.
itu dapat dinaikkan sesuai toleransi dan kebutuhan: 50mg setiap
Pasien menyusui (atau hentikan menyusui)
3 hari hingga 50mg 4 x sehari. Untuk efek yg cepat : 50 100 mg
setiap 4 6 jam, jika perlu ( maksimum 400 mg/hari). Pasien
Efek Samping
dengan gangguan ginjal dan hati dosis disesuaikan dengan
Gangguan lambung (1-10% Pasien) : krg nafsu mkn, skt
mengurangi frekuensi pemberian.
abdomen, sembelit, diare, dispepsi, kembung, rasa terbakar,
Farmakologi Indikasi
Aktivitas analgetik yg bekerja di pusat Nyeri ringan sampai sedang dan demam

Kontraindikasi Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian


Pasien dengan hipersensitivitas,depresi napas akut,peningkatan Dewasa & anak >12 thn; oral 650 mg atau 1 g tiap 4-6 jam bila
tekanan kranial atau cedera kepala. perlu, maksimum 4 g per hari.
Oral :
Efek Samping Anak untuk tiap 4-6 jam (maksimum 5 dosis per 24 jam) :
Sistem saraf : pusing, vertigo (paling sering terjadi, > 26% < 4 bln (2.7 - 5 kg) 40 mg,
pasien), stimulasi SSP: anxietas, agitasi, tremor, gangguan, 4-11 bln (5-8 kg) 80 mg,
koordinasi, gangguan tidur, eforia dll (>7% pasien), 12-23 bln (8-11 kg)120 mg,
Pencernaan : konstipasi, mual (>24% pasien), muntah (>9% 2-3 thn (11-16 kg)160
pasien), nyeri perut, anore Farmakologi
Memiliki aktifitas sebagai analgetik dan antipiretik

Kontraindikasi
Parasetamol
Hipersensitivitas
Golongan/Kelas Terapi Analgesik Non Narkotik
Efek Samping
Nama Dagang
Efek samping dalam dosis terapi jarang; kecuali ruam kulit,
Erphamol, Farmadol,Fasidol, Hufagesic, Mirasik, Nalgesik,
kelainan darah, pankreatitis akut pernah dilaporkan setelah
Nasamol, Novagesic, Omegrip, Ottopan, Pacetik, Panadol,
penggunaan jangka panjang
Paracetol, Paradyn, Procet, Progesic, Propyretic, Pyrexin, Pyrexin,
Peringatan
Pyridol, Samconal, Sanmol, Sumagesic, Tempra, Termagon,
Hati-hati pada pasien yang sudah berkurang fungsi hati &
Tropigesic, Turpan, Uni Cetamol, Alphamol, Xepamol, Xepamol,
ginjal, dan ketergantungan pada alkohol. Toksisitas parasetamol
Zetamol dll
dapat disebabkan dari penggunaan dosis tunggal yang toksik,
dari penggunaan berulang dosis yang besar, atau penggunan
obat yang kronis
Prednison Indikasi
Golongan/Kelas Terapi Hormon Penyakit Rheumatoid Sebagai terapi tambahan untuk
Nama Dagang penggunaan jangka pendek pada terapi penyakit-penyakit
Erlanison, Kokosone, Pehacort, Predsil, Sohoson, Trifacort, penyakit-penyakit kolagen. Pada keadaan penyakit makin
Dellacorta memburuk atau sebagai terapi perawatan pada kasus-
Indikasi kasustertentu.
Gangguan endokrin, penyakit Rheumatoid, sebagai terapi Mengendalikan kondisi alergi yang parah yang tidak memberikan
tambahan untuk penggunaan jangka pendek pada terapi hasil yang memadai pada terapi konvensional:
penyakit-penyakit, tenosynovitis nonspesifik akut, gouty arthritis Pemakaian intrasinovial atau pemakaian pada jaringan halus,
akut, osteoarthritis pasca-traumatik diindikasikan sebagai terapi tambahan pada penggunaan jangka
pendek (untuk membantu pasien melewati episode akut atau
episode dimana penyakit makin parah) dalam pengobatan:
Synogitis pada osteoarthritis, Rheumatoid arthritis, Bursitis akut
dan subakut, Gouty arthritis akut, Epicondylitis, tenosynovitis
Kontraindikasi
nonspesifik akut, Osteoarthritis pasca trauma
Infeksi jamur sistemik dan hipersensitivitas terhadap prednison
Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
atau komponen-komponen obat lainnya.
Oral: 2-40 mg/hari. Injeksi im, iv lambat, infus iv: 10-100 mg/hari
Efek Samping
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, gangguan
Muskuloskeletal, gangguan pencernaan.
Deksametason
Metil Prednisolon Golongan/Kelas Terapi Antialergi
Golongan/Kelas Terapi Hormon, obat Endokrin Lain dan Indikasi
Kontraseptik Nama Dagang Antialergi dan obat untuk anafilaksis
Depo Medrol, Intidrol, Lameson, Lexcomet, Medixon, Medrol
Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
Untuk pengobatan alergi :
Pemberian oral :Dewasa : Awal, 0,75-9 mg/hr PO, terbagi dalam berisiko osteoporosis. Hati-hati pada pasien dengan gangguan
2-4 dosis. Penyesuaian dapat dilakukan tergantung respon pencernaan (divertikulitis, ulkus peptik, kolitis ulseratif) karena
pasien. potensial terjadi perforasi. Hati-hati digunakan pada infark
Anak-anak : 0,024-0,34 mg/kg/hari PO atau 0,66-10 mg/m2/hari miokard akut (kortikosteroid dikaitkan dengan ruptur miokard).
PO, terbagi dalam 2-4 dosis. Gunakan hati-hati pada penurunan fungsi ginjal dan hati. Karena
Pemberian parenteral : risiko efek samping pada usila, gunakan kortikosteroid dengan
Dewasa : Awal, 0,5-9 mg/hr IV atau IM, terbagi dalam 2-4 dosis. dosis sekecil mungkin dan periode sesingkat mungkin.
Penyesuaian dapat dilakukan tergantung respon pasien.
Anak-anak : 0,06-0,3 mg/kg/hr atau 1,2-10 mg/m2/hr IM atau IV
dalam dosis terbagi tiap 6-12 jam.
Betametason
Untuk pengobatan anafilaksis akut atau reaksi anafilaksis :
Golongan/Kelas Terapi Obat Topikal untuk Kulit
Dosis oral dan IM :
Nama Dagang
Dewasa : 4-8 mg IM dosis tunggal pada hari pertama.
Benczema, Betnovate, Betodermin, Betopic, Celestoderm V,
Kemudian diberikan dosis oral, 1.5 mg PO 2X sehari pada hari ke
Cleniderm, Corsaderm, Diproson OV, Mesonta, Metonate,
2 dan ke 3; kemudian 0,75 mg PO 2X sehari pada hari ke 4;
Molason, Orsaderm, Oviskin, Skizon, Vason, Alphacort
kemudian 0,75 mg PO sekali sehari pada hari ke 5 dan 6,
kemudian hentikan.
Indikasi
Untuk pengobatan syok anafilaksis : IV.
Terapi topikal pruritus eritema dan pembengkakan dikaitkan
Dewasa : dosis bervariasi 1-6 mg/kg IV atau 40 mg IV tiap 4-6
dengan dermatosis, dan sebagian lesi psoriasis.
jam. Alternatif lain, 20 mg IV dilanjutkan dengan infus IV 3 mg/kg
dalam waktu 24 jam.
Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
Pemberian Topikal :
Peringatan
Anak - anak :< 12 tahun : penggunaannya tidak
Gunakan hati-hati pada pasien hipotiroid, sirosis, hipertensi,
direkomendasikan.
gagal jantung atau gangguan tromboemboli, pasien diabetes,
> 13 tahun : gunakan seminimal mungkin untuk periode yang
glaukoma, katarak, TBC atau pasien
singkat untuk menghindari supresi aksis HPA.
Krim : gunakan sekali atau dua kali sehari,pemakaian jangan Compraz, Lansoprazole Hexpharm, Lapraz, Laproton, Lasgan,
melebihi 2 minggu atau 45 mg/minggu. Laz, Loprezol, Nufaprazol,Prazotec, Prolanz, Prosogan FD, Protica,
Lotion : gunakan sekali atau dua kali sehari, pemakaian jangan Pysolan, Solans, Sopralan, Ulceran, Betalans
melebihi 50 mL/minggu.
Dewasa : Krim : gunakan sekali atau dua kali sehari,pemakaian Indikasi
jangan melebihi 2 minggu atau 45 mg/minggu.Lotion : gunakan Benign gastric ulcer, tukak duodenal, tukak lambung akibat
sekali atau dua NSAID, Zollinger-Ellison Syndrome, refluks gastroesofageal,
dispepsia.

Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian


kali sehari, pemakaian jangan melebihi 50 mL/minggu. Dosis Dewasa (3) : Benign gastric ulcer : 30 mg sehari pada pagi
hari selama 8 minggu. Tukak duodenal : 30 mg sehari pada pagi
Kontraindikasi hari selama 4 minggu; dosis penjagaan 15 mg per hari. Tukak
Infeksi virus, spt varisela dan vasinia, sirkulasi tak sempurna lambung atau duodenal akibat NSAID : 30 mg sekali sehari
dengan nyata. Tidak dianjurkan untuk pruritus dan jerawat. selama 4 minggu, dilanjutkan 4 minggu lagi jika belum sembuh
total,
Efek Samping
profilaksis : 15-30 mg sekali sehari.
Absorpsi melalui kulit dapat mensupresi adrenal dan sindrom
cushing tergantung luas permukaan kulit dan lama pengobatan. Kontraindikasi
Pada kulit dapat terjadi peningkatan lebar dan buruknya infeksi Hipersensitif terhadap Lansoprazol.
yang tidak diobati, penipisan kulit dan perubahan struktur kulit,
dermatitis kontak, dermatitis perioral. Timbul jerawat atau Efek Samping
memperparah jerawat, depigmentasi sedang dan hipertrikosis. Efek samping yang umum / paling sering muncul yaitu nyeri
abdomen, diare, mual, sakit kepala, kemerahan pada kulit. Efek
Lansoprazol samping yang lain meliputi gatal, pusing, konstipasi, mual,
Golongan/Kelas Terapi Obat Untuk Saluran Cerna muntah, kembung, nyeri pada perut / abdomen, mulut kering.
Nama Dagang
Efek samping yang serius yaitu retak pada tulang panggul (hip Efek Samping
fracture) Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit : Retensi cairan,
retensi natrium. Gangguan jantung kongestif : Kehilangan kalium,
Alkalosis hipokalemia, Hipertensi. Gangguan Muskuloskeletal : da
ujung tulang paha dan tungkai,fraktur patologis dari tulang
Hidrokortison
panjang. Lemah otot : miopati steroid, hilangnya masa otot,
Golongan/Kelas Terapi Hormon, obat Endokrin Lain dan
osteoporosis, putus tendon, terutama tendon Achilles, fraktur
Kontraseptik
vertebral. Gangguan pencernaan : Iritasi dan rasa tidak enak di
Nama Dagang
lambung, kembung, borok lambung
Solu Cortef, ilacort
Indikasi Salbutamol
Insufisiensi adrenokortikoid, Reaksi hipersensitifitas, seperti syok Golongan/Kelas Terapi Obat Untuk Saluran Napas
anafilaktik dan angioudema, Radang usus, Hemoroid, Reumatik, Nama Dagang
Penyakit mata, Penyakit kulit. Azmacon Buventol Easyhaler, Combivent, Cybutol, Fartolin,
Fartolin Expectorant, Glisend, Hivent, Lasal, Lasal Expectorant,
Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
Librentin, Proventol Expectorant, Ventide, Ventolin
Oral, untuk terapi pengganti (replacement therapy) 20-30
mg/hari dalam dosis terbagi untuk orang dewasa, anak-anak 10- Indikasi
30 mg/hari dalam dosis terbagi, Injeksi im atau iv lambat atau Pengobatan dan pencegahan asma serta pencegahan timbulnya
infus: 100-500 mg, 3-4 kali sehari. asma akibat olah tubuh. (2)
Anak sampai usia 1 tahun, 25 mg.
Anak 1-5 tahun, 50 mg. Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
Anak 6-12 tahun, 100 mg, Oral (Lebih dipilih dengan inhalasi) :
Hidrokortison topikal (salep atau krim) digunakan sebagai anti Dewasa : dosis 4mg (orang lanjut usia dan penderita yang peka
radang dan antipruritis. awali dengan dosis awal 2 mg) 3-4 kali sehari; dosis maksimal
8mg dalam dosis tunggal ( tetapi jarang memberikan
keuntungan ekstra atau dapat ditoleransi dengan baik).
Anak-anak dibawah 2 tahun : 100 mcg/kg 4 kali sehari Indikasi
(unlicensed); 2-6 tahun 1-2 mg 3-4 kali sehari; 6-12 tahun 2 mg Asam traneksamat adalah obat antifibrinolitik yang menghambat
3-4 kali sehari. pemutusan benang fibrin. Asam traneksamat digunakan untuk
Injeksi s.c / i.m 500mcg ulangi tiap 4 jam bila perlu. profilaksis dan pengobatan pendarahan yang disebabkan
Injeksi IV bolus pelan 250 mcg diulangi bila perlu. fibrinolisis yang berlebihan dan angiodema hereditas.
IV infus, dosis awal 5mcg/menit, disesuaikan dengan respon dan
nadi, biasanya dalam interval 3-20 mcg/menit, atau lebih bila Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
perlu. Anak-anak 1-12 bulan 0,1-1 mcg/kg/menit (unlicensed). Dosis oral : 1-1.5 gram (atau 15-25 mg/kg) 2 sampai 4 kali sehari.
Dosis injeksi intravena perlahan : 0.5 -1 g (atau 10 mg/kg) 3 kali
Kontraindikasi sehari.
Reaksi hipersensitivitas terhadap salbutamol/albuterol, Dosis infus kontinyu : 25-50 mg/kg setiap hari.
adrenergic amines. (2)
Dosis anak : 25 kg/mg melalui oral atau 10 mg/kg melalui intra
Efek Samping vena setiap 2 atau 3 kali sehari.
Efek samping yang sering terjadi antara lain :
Kardiovaskular : Palpitasi, Takiaritmia Farmakologi
Endocrine metabolic : Hipokalemia Asam traneksamat diabsorbsi dari saluran cerna dengan
Neurologic : Tremor konsentrasi plasma puncak tercapai setelah 3 jam.
Psychiatric : Nervousness Bioavailabilitasnya sekitar 30-50%, didistribusikan hampir ke
Sedangkan efek samping yang cukup parah meliputi : seluruh permukaan tubuh dan mempunyai ikatan protein yang
Dermatologic : Erythema multiforme, Stevens-Johnson syndrome. lemah. Berdifusi ke plasenta dan air susu. Waktu paruh eliminasi
adalah 3 jam, diekskresikan dalam urin sebagai obat tidak
Traneksamat berubah.
Golongan/Kelas Terapi Obat Yang mempengaruhi darah
Nama Dagang Kontraindikasi
Clonex, Ditrane, Intermic, Klanex, Lunex, Pytramic, Ronex, Pasien tromboembolik.
Theranex, Tranexid, Transamin, Tranxa, Asamnex dll.
Efek Samping Kontraindikasi
Mual, muntah, diare, pusing dan rash. Hipersensitif terhadap klorfeniramin maleat atau komponen lain
dalam formulasi; glukoma sudut sempit; gejala hipertrofi prostat;
sewaktu terjadi serangan asma akut; ulkus peptikum; obstruksi
pyloroduodenal. Hindari penggunaan pada bayi prematur atau
Klorpheniramin
baru lahir karena kemungkinan mengalami SIDS.
Golongan/Kelas Terapi Antialergi
Nama Dagang Efek Samping
Cohistan, CTM, Orphen, Pehachlor, Chlorphenon Susunan saraf pusat : mengantuk.
Saluran pernapasan : mengentalkan sekresi bronkial
Indikasi
Susunan saraf pusat : Sakit kepala, eksitabilitas, rasa lelah,
Rinitis alergi dan gejala alergi lain termasuk urtikaria
pusing.

Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian


Dewasa dan remaja : Dosis oral : Dosis yang disarankan adalah 4
mg tiap 4-6 jam, hingga 24 mg/hari. Usia lajut : Mulai dengan Loratadin
dosis serendah mungkin. Pasien usila lebih sensitif terhadap efek Golongan/Kelas Terapi Antialergi
antikolinergik. Anak-anak 6-12 tahun: Dosis yang disarankan Nama Dagang
adalah 2 mg setiap 4-6 jam, hingga 12 mg/hr. Anak-anak umur 2- Allohex, Alloris, Anhissen, Anlos, Clarihis, Claritin, Cronitin,
5 tahun: Dosis yang disarankan adalah 1 mg setiap 4-6 jam Hislorex
maksimal 4 mg/hari. Indikasi
Alergi rinitis dan urtikaria
Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
Dosis oral (tablet, dan sirup) :
Dewasa dan remaja : 10 mg sekali sehari.
Anak-anak 6-12 tahun : 10 mgsekali sehari.
Anak-anak 2-5 tahun : 5 mg (5 ml sirup) sekali sehari.
Anak-anak < 2 tahun : Keamanan dan efektivitas belum Diazepam
diketahui. Golongan/Kelas Terapi Antiepilepsi, Antikonvulsi
Nama Dagang
Kontraindikasi Cetalgin, Danalgin, Hedix, Mentalium, Neurodial,
Keamanan dan efektivitas penggunaan loratadin pada anak Neuroval,Paralium, Proneuron,Stesolid, Trankinon, Validex,
kurang dari 2 tahun belum diketahui. Umumnya antihistamin Valisanb, Valium, Lovium
tidak digunakan pada bayi baru lahir karena kemungkinan Indikasi
menstimulasi SSP paradoksikal atau kejang. Pemakaian jangka pendek pada ansietas atau insomnia,
tambahan pada putus alkohol akut, status epileptikus, kejang
Efek Samping
demam, spasme otot.
Dewasa :
SSP : Sakit kepala (12%), somnolen (8%), rasa lelah Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
(4%). Oral :
Gastrointestinal : Xerostomia (3%). Ansietas, 2 mg 3 kali sehari jika perlu dapat dinaikkan menjadi
Anak-anak : 15-30 mg sehari dalam dosis terbagi;Lansia (atau yang sudah
tidak mampu melakukan aktivitas) setengah dosis
dewasaInsomnia yang disertai ansietas, 5-15 mg sebelum
tidur.Anak-anak, night teror dan somnambulisme, 1-5 mg
sebelum tidur.
Injeksi i.m atau injeksi i.v lambat (kedalam vena besar dengan
kecepatan tidak lebih dari 5 mg/menit)untuk ansietas akut berat,
pengendalian serangan panik akut, penghentian alkohol akut, 10
mg, jika perlu ulangi setelah 4 jam.
Catatan rute i.m hanya digunakan jika rute oral dan i.v tidak
mungkin diberikan.
Kontraindikasi Indikasi
Depresi pernafasan, gangguan hati berat, Pirai primer & sekunder : Hyperuricemia karena penggunaan
miastenia gravis, insufisiensi pulmoner akut, glaukoma sudut chemoterapi "Recurrent Renal Calculi". Lain-lain : Menurunkan
sempit akut, serangan asma akut, trimester pertama kehamilan, hiperuricemia sekunder akibat ke-kurangan glucose-6-
bayi prematur; tidak boleh digunakan sebagai terapi tunggal phosphatedehydrogenase, "Lesch-Nyhan syndrome",
pada depresi atau ansietas yang disertai dengan depresi. (IONI) "Polycythemia vera", "Sarcoidosis", pemakaian thiazid &
ethambutol.
Efek Samping
Efek samping pada susunan saraf pusat : rasa lelah, ataksia, rasa
malas, vertigo, sakit kepala, mimpi buruk dan efek amnesia. Efek
lain : gangguan pada saluran pencernaan, konstipasi, nafsu Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
makan berubah, anoreksia, penurunan atau kenaikan berat Oral : Dosis tunggal, sebaiknya setelah makan & harus minum air
badan, mulut kering, salivasi, sekresi bronkial atau rasa pahit yg banyak paling tidak 2L dalam sehari (kecuali Pasien
pada mulut. (AHFS p.2389-2392) CHF/penyakit lain yang tidak boleh minum banyak). Jika dosis
melebihi 300mg, sebaiknya dalam dosis terbagi Gout : dosis awal
Bentuk Sediaan 100mg/hr dapat ditingkatkan 100mg setiap minggu sampai kadar
Tablet, Cairan Injeksi, Sirup. (IONI h.131) asam urat 6mg/dL atau sampai dosis mencapai 800mg/hr.
Hyperuricemia karena penggunaan chemoterapi : Dewasa : 600-
800mg/hr untuk 2-3 hr. Mulai 1-2 hr sebelum mulai
khemoterapi.
Allopurinol
Golongan/Kelas Terapi Antipirai Kontraindikasi
Nama Dagang Alergi terhadap allopurinol.
Algut, Alofar, Benoxuric, Hanoric, Hycemia, Isoric, Kemorinol,
Licoric, Llanol, Nilapur, Omeric, Omeric, Puricemia, Puricemia, Efek Samping
Reucid, Rinolic, Sinolic, Tylonic, Urica, Uricnol, Uroquad, Uroquad, Efek terhadap kulit & efek lokal : Gatal, kemerahan, eksim,
Xanturic, Zyloric bentol, demam, selulit, bengkak, berkeringat.. Efek terhadap
hati : Meningkatkan SGOT & SGPT, nekrosis, kerusakan hati, menggigit. Dosis yang tepat sulit untuk ditentukan karena
hepatitis, hiperbilirubinemia, sakit kuning. Efek terhadap Saluran tergantung dari jumlah bisa ular yang masuk peredaran darah
cerna : Mual, muntah, diare, sakit abdomen, sembelit, kembung, korban dan keadaan korban sewaktu menerima anti serum. Dosis
gastritis, dispepsi, pendarahan lambung & pankreas, bengkak pertama sebanyak 2 vial @ 5 ml sebagai larutan 2% dalam
kantung saliva, lidah bengkak. Efek terhadap Sistem syaraf : garam faali dapat diberikan sebagai infus dengan kecepatan 40 -
nyeri pada ujung syaraf, sakit kepala, epilepsi, agitasi, perubahan 80 tetes per menit, kemudian diulang setiap 6 jam. Apabila
mental, koma, paralisi, pusing, limbung, depresi, diperlukan (misalnya gejala-gejala tidak berkurang atau
bingung,amnesia, sulit tidur bertambah) anti serum dapat terus diberikan setiap 24 jam
sampai maksimum (80 - 100 ml). Anti serum yang tidak
Bentuk Sediaan diencerkan dapat diberikan langsung sebagai suntikan intravena
Tablet, Kapsul, Kaplet, Tablet Salut Film 100mg, 300mg. dengan sangat perlahan-lahan. Dosis anti serum untuk anak-
Peringatan anak sama atau lebih besar daripada dosis untuk dewasa.
Pasien anak, wanita hamil & menyusui, penggunaan allopurinol
hanya jika betul-betul diperlukan. Untuk Pasien lansia, perhatikan Stabilitas Penyimpanan
penyesuaian dosis akibat penurunan fugsi hati, ginjal & jantung. Disimpan pada suhu 2 - 8C dalam lemari es, jangan dalam
Pasien dengan asimtomatik hiperurisemia dengan kadar asam freezer. Daluarsa = 2 tahun.
urat < 9mg/dL.
Serum Anti Bisa Ular (Polivalen) Kuda Kontraindikasi
Golongan/Kelas Terapi Obat Yang mempengaruhi Sistem Imun Tidak ada kontraindikasi absolut pada terapi anti bisa ular untuk
envenoming sistemik yang nyata; terapi diperlukan dan
biasanya digunakan untuk menyelamatkan jiwa.

Efek Samping

Indikasi:Untuk pengobatan terhadap gigitan ular berbisa 1. Reaksi anafilaktik; jarang terjadi, tetapi bila ada timbulnya
dapat segera atau dalam waktu beberapa jam sesudah suntikan.
Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
Pemilihan anti bisa ular tergantung dari spesies ular yang
2. Serum sickness; dapat timbul 7-10 hari setelah suntikan 1. Luka dicuci dengan air bersih atau dengan larutan kalium
berupa demam, gatal-gatal, eksantema, sesak napas dan gejala permanganat untuk menghilangkan atau menetralisir bisa ular
alergi lainnya yang belum terabsorpsi.
3. Demam disertai menggigil yang biasanya timbul setelah 2. Insisi atau eksisi luka tidak dianjurkan, kecuali apabila
pemberian serum secara intravena gigitan ular baru terjadi beberapa menit sebelumnya. Insisi luka
4. Rasa nyeri pada tempat suntikan; yang biasanya timbul yang dilakukan dalam keadaan tergesa-gesa atau dilakukan oleh
pada penyuntikan serum dalam jumlah besar. Reaksi ini biasanya orang yang tidak berpengalaman justru seing merusak jaringan
terjadi dalam 24 jam. dibawah kulit dan akan meninggalkan luka parut yang cukup
besar.
Bentuk Sediaan 3. Anggota badan yang digigit secepatnya diikat untuk
Vial 5 ml, Tiap ml Sediaan Dapat Menetralisasi : menghambat penyebaran racun.
10-15 LD50 Bisa Ular Tanah (Ankystrodon Rhodostoma) 4. Lakukan kemudian imobilisasi anggota badan yang digigit
25-50 LD50 Bisa Ular Belang (Bungarus Fasciatus) dengan cara memasang bidai karena gerakan otot dapat
25-50 LD50 Bisa ular kobra (Naja Sputatrix), dan mengandung mempercepat penyebaran racun.
fenol 0.25% v/v 5. Bila mungkin anggota badan yang digigit didinginkan
dengan es batu.
Peringatan
6. Penderita dilarang untuk bergerak dan apabila perlu dapat
Karena tidak ada netralisasi-silang (cross-neutralization) serum
diberikan analgetika atau sedativa.
antibisa ular ini tidak berkhasiat terhadap gigitan ular yang
7. Penderita secepatnya harus dibawa ke dokter atau rumah
terdapat di Indonesia bagian Timur (misalnya jenis-jenis
sakit yang terdekat untuk menerima perawatan selanjutnya.
Acanthopis antarticus, Xyuranus scuttelatus, Pseudechis
papuanus dll) dan terhadap gigitan ular laut (Enhydrina cysta).

Informasi Pasien Serum Anti Rabies


Informasikan pada pasien mengenai kemungkinan efek samping Golongan/Kelas Terapi Obat Yang mempengaruhi Sistem Imun
yang tertunda, terutama serum sickness (demam, rash,
arthralgias).Tindakan pertama pada gigitan ular: Nama Dagang Verorab
Serum Anti Tetanus
Golongan/Kelas Terapi Obat Yang mempengaruhi Sistem Imun
Nama Dagang
Indikasi Untuk pengobatan terhadap rabies

Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian


0.5 ml (50 IU) per kg berat badan, sebagian kecil diinfiltrasikan di
sekitar luka gigitan dan selebihnya di intramuskuler Indikasi
Pencegahan dan pengobatan tetanus.
Stabilitas Penyimpanan
Disimpan pada suhu 2 - 8C dalam lemari es. Jangan dalam Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
freezer. Daluarsa = 2 tahun. Pencegahan tetanus : 1 dosis profilaktik (1.500 IU) atau lebih,
diberikan secara intramuskuler secepat mungkin kepada
Efek Samping seseorang yang luka dan terkontaminasi dengan tanah, debu
jalan atau bahan lainnya yang dapat menyebabkan infeksi
1. Reaksi anafilaktik; jarang terjadi, tetapi bila ada timbulnya
Clostridium tetani. Dua minggu kemudian diberikan kekebalan
dapat segera atau dalam waktu beberapa jam sesudah suntikan.
aktif dengan vaksin jerap tetanus, supaya jika mendapat luka lagi
2. Serum sickness; dapat timbul 7-10 hari setelah suntikan
tidak perlu diberi serum anti tetanus profilaktik, tetapi cukup
berupa demam, gatal-gatal, eksantema, sesak napas dan gejala
diberi booster vaksin jerap tetanus. Untuk pencegahan tiap ml
alergi lainnya.
mengandung : antioksin tetanus 1.500 IU, Fenol 0,25% v/v. Untuk
3. Demam disertai menggigil yang biasanya timbul setelah
pengobatan tiap ml mengandung : antioksin tetanus 5.000 IU,
pemberian serum secara intravena.
fenol 0,25% (2) Untuk pengobatan : 10.000 IU atau lebih, secara
4. Rasa nyeri pada tempat suntikan; yang biasanya timbul
intramuskuler atau intravena, tergantung keparahan keadaan
pada penyuntikan serum dalam jumlah besar. Reaksi ini biasanya
penderita.
terjadi dalam 24 jam
Farmakologi
Menetralkan toksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani dan
digunakan untuk memberikan kekebalan pasif sementara Bentuk Sediaan
terhadap tetanus, tetapi imunoglobulin tetanus lebih disukai. (1) Ampul 1 ml (1.500 IU), 2 ml (10.000 IU)
Vial 5 ml (20.000 IU)
Stabilitas Penyimpanan Peringatan
Disimpan pada suhu 2 - 8C. Daluarsa 2 tahun Suatu dosis uji antitoksin tetanus seharusnya selalu diberikan
untuk mengenali pasien yang mungkin mengalami reaksi
hipersensitivitas.

Efek Samping
Mekanisme Aksi

1. Reaksi anafilaktik: jarang terjadi, tetapi bila ada timbulnya


Menetralkan toksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani dan
dapat segera atau dalam waktu beberapa jam sesudah suntikan.
digunakan untuk memberikan kekebalan pasif sementara
2. Serum sickness: dapat timbul 5 hari setelah suntikan
terhadap tetanus, tetapi imunoglobulin tetanus lebih disukai
berupa demam,gatal-gatal, eksantema, sesak napas dan gejala
alergi lainnya - See more at:
http://bedahminor.com/index.php/main/page/medikamentosa#st
Sebelum memberi suntikan serum antitetanus dengan dosis
hash.yNusx7dD.dpuf
penuh, sebaiknya dilakukan tes hipersensitifitas subkutan
terutama bagi mereka yang mempunyai penyakit alergi (asma,
dll).