Anda di halaman 1dari 19

Tugas Fisiologi

Respon Fisiologis Tubuh Jangka Pendek dan Panjang Olahraga


Terhadap Latihan Fisik

FEBLIN VERSILIANTINA
NIM 04112681620030

PEMBIMBING :
drg. Nursiah Nasution, M.Kes

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU BIOMEDIK


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2017

1
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ..... 2


BAB I LATAR BELAKANG .. 3
BAB II ISI . 4
1. Sistem Respirasi ...... 4
2. Sistem Kardiovaskular .... 7
3. Sistem Muskuloskeletal ...... 14
4. Sistem Metabolik ............. 15
BAB III KESIMPULAN ... 18
DAFTAR PUSTAKA ... 19

2
BAB I
PENDAHULUAN

Tubuh manusia merupakan sesuatu mesin yang luar biasa di mana aktivitas tubuh yang
terkoordinasi sempurna terjadi secara simultan. Peristiwa-peristiwa tubuh ini
memungkinkan fungsi kompleks tubuh seperti mendengar, melihat, bernapas serta
pengolahan informasi tanpa upaya kesadaran. Apabila seseorang melakukan aktivitas
seperti berjalan, dia akan menggeser sistem tubuh dari keadaan istirahat kepada keadaan
aktif. Jika aktivitas itu dilakukan beberapa kali, tubuhnya akan beradaptasi terhadap
aktivitas tersebut. Aktivitas yang dilakukan tadi disebut aktivitas fisik. Aktivitas fisik
ini merupakan proses yang rumit dimana pelatih perlu mengawasi perubahan pada subjek
setiap menit sewaktu aktivitas ( Shetty, 2005).
Perubahan fisiologis yang nyata dapat terjadi dalam tubuh kita apabila aktivitas fisik atau
latihan olahraga yang berterusan dilakukan. Oleh karena itu, tanggapan tehadap latihan
memiliki dua aspek analog dengan respon tubuh terhadap ligkungan stress. Salah satunya
adalah respon jangka pendek yaitu serangan tunggal setelah sesekali olahraga ataupun
dapat disebut latihan akut. Aspek kedua adalah respon jangka panjang iaitu setelah
olahraga teratur yang mempermudahkan latihan berikutnya serta meningkatkan
kinerjanya. Adaptasi terhadap latihan kronik ini disebut training. Adaptasi terhadap
latihan akut adalah respon terhadap latihan di mana efek terhadap pelatihan (Willmore et
al, 2009).
Respon jangka pendek serta jangka panjang ini memenuhi kebutuhan energi. Kenaikan
pesat dalam kebutuhan energi sewaktu latihan memerlukan penyesuaian peredaran darah
yang seimbang untuk memenuhi peningkatan kebutuhan oksigen, nutrisi serta
mengeliminasi produk akhir metabolisme seperti karbon dioksida dan asam laktat dan
membebaskan panas berlebihan. Pergeseran metabolisme tubuh terjadi melalui kegiatan
terkoordinasi dari semua sistem tubuh iaitu neuromuskuler, respiratori, kardiovaskular,
metabolik, dan hormonal. (Shetty, 2005).

3
BAB II
ISI
Respon Jangka Pendek dan Panjang Olahraga Terhadap Latihan Fisik

1. Sistem Respirasi
Latihan fisik akan mempengaruhi konsumsi oksigen dan produksi karbon
dioksida. Kadar oksigen dalam jumlah yang besar akan terdifusi dari alveoli ke
dalam darah vena kembali ke paru-paru. Sebaliknya, kadar karbon dioksida yang
sama banyak masuk dari darah ke dalam alveoli. Oleh itu, ventilasi akan
meningkat untuk mempertahankan konsentrasi gas alveolar yang tepat untuk
memungkinkan peningkatan pertukaran oksigen dan karbon dioksida. (William,
2009).
Permulaan aktivitas fisik ini disertai dengan peningkatan dua tahap ventilasi.
Hampir segera dapat terlihat peningkatan pada inspirasi dan kenaikan bertahap
pada kedalaman dan tingkat pernapasan. Kedua tahap penyesuaian menunjukkan
bahwa kenaikan awal dalam ventilasi diproduksi oleh mekanisme gerakan tubuh
setelah latihan dimulai, namun sebelum rangsangan secara kimia, korteks motor
menjadi lebih aktif dan mengirimkan impuls stimulasi ke pusat inspirasi, yang
akan merespon dengan meningkatkan respirasi juga. Secara umpan balik
proprioseptif dari otot rangka dan sendi aktif memberikan masukan tambahan
tentang gerakan ini dan pusat pernapasan dapat menyesuaikan kegiatan itu
berdasarkan kesesuaiannya. (Guyton, 2006)
Tahap kedua lebih bertahap dengan kenaikan respirasi yang dihasilkan oleh
perubahan status suhu dan kimia dari darah arteri. Sambil latihan berlangsung,
peningkatan proses metabolisme pada otot menghasilkan lebih banyak panas,
karbon dioksida dan ion hidrogen. Semua faktor ini meningkatkan penggunakan
oksigen dalam otot, yang meningkatkan oksigen arteri juga. Akibatnya, lebih
banyak karbon dioksida memasuki darah, meningkatkan kadar karbon dioksida
dan ion hidrogen dalam darah. Hal ini akan dirasakan oleh kemoreseptor, yang

4
sebaliknya merangsang pusat inspirasi, dimana terjadi peningkatan dan
kedalaman pernapasan. Beberapa peneliti telah menyarankan bahwa
kemoreseptor dalam otot juga mungkin terlibat iaitu dengan meningkatkan
ventilasi dengan meningkatkan volume tidal. (Willmore, 2009)
Walaupun sistem kardiovaskular adalah begitu efisien dengan menyuplai jumlah
darah yang cukup ke jaringan, daya tahan akan masih terhalang jika sistem
pernapasan tidak membawa oksigen yang cukup untuk memenuhi permintaan.
Fungsi sistem pernapasan biasanya tidak terbatas karena ventilasi dapat
ditingkatkan ke tingkat yang lebih besar daripada fungsi kardiovaskular.
Melainkan sistem kardiovaskuler dan sistem lain, sistem respirasi juga mengalami
adaptasi khusus untuk ketahanan pelatihan untuk memaksimalkan efisiensi.
Adaptasi ini meliputi, peningkatan ventilasi dengan peningkatan dalam
pengambilan oksigen maksimal dengan minimum empat minggu pelatihan
(William, 1991) dan diikuti dengan pengurangan yang signifikan pada ventilasi
yang setara yang diamati. Akibatnya, sedikit udara akan dihirup pada konsumsi
oksigen pada tingkat tertentu. Hal ini akan mengurangi persentase oksigen total
yang digunakan dibandingkan pernapasan. Oleh karena itu, keadaan ini
membantu dalam melakukan olahraga berat yang berkepanjangan tanpa kelelahan
otot ventilasi. Mekanisme yang tepat tidak diketahui untuk adaptasi pelatihan
dalam sistem ventilasi. Secara umum, ada peningkatan dalam 'volume dan
kapasitas' saat istirahat karena fungsi pernapasan ditingkatkan. (Bijalani, 2008)
Paru-paru dan dinding dada adalah struktur yang elastis. Dalam keadaan normal
terdapat lapisan cairan tipis antara paru-paru dan dinding dada sehingga paruparu
dengan mudah bergeser pada dinding dada. Tekanan pada ruangan antara
paruparu dan dinding dada berada di bawah tekanan atmosfer. Paru-paru teregang
dan berkembang pada waktu bayi baru lahir. Pada akhir ekspirasi tenang,
cenderung terjadi recoil dinding dada yang diimbangi oleh kecenderungan
dinding dada berkerut kearah yang berlawanan. (Guyton, 2006)

5
Otot diafragma yang terletak di bagian dalam dan luar interkostalis kontraksinya
bertambah dalam. Rongga toraks menutup dan mengeras ketika udara masuk ke
dalam paru-paru, diluar muskulus interkostalis menekan tulang iga dan
mengendalikan luas rongga torak yang menyokong pada saat ekspirasi sehingga
bagian luar interkostalis dari ekspirasi menekan bagian perut. Kekuatan
diafragma kearah atas membantu mengembalikan volume rongga pleura.
(Guyton, 2006)
Pada waktu menarik napas dalam, maka otot berkontraksi, tetapi pengeluaran
pernapasan dalam proses yang pasif. Ketika diafragma menutup dalam, penarikan
napas melalui isi rongga dada kembali memperbesar paru-paru dan dinding badan
bergerak hingga diafragma dan tulang dada menutup ke posisi semula. Aktivitas
bernapas merupakan dasar yang meliputi gerak tulang rusuk sewaktu bernapas
dalam dan volume udara bertambah. (Syaifuddin, 2011)
Paru-paru merupakan struktur elastik yang mengempis seperti balon yang
mengeluarkan semua udaranya melalui trakea bila tidak ada kekuatan untuk
mempertahankan pengembangannya, tidak terdapat perlengketan antara paru-paru
dan dinding rongga dada. Paru-paru mengapung dalam rongga dada dan
dikelilingi lapisan tipis berisi cairan pleura yang menjadi pelumas bagi gerakan
paru-paru dalam rongga dada. Ketika melakukan pengembangan dan berkontraksi
maka paru-paru dapat bergeser secara bebas karena terlumas dengan rata.
(Ganong, 2005)
Inspirasi merupakan proses aktif kontraksi otot-otot. Inspirasi menaikkan volume
intratoraks. Selama bernapas tenang, tekanan intrapleura kira-kira 2,5mmHg
relatif terhadap atmosfer. Pada permulaan, inspirasi menurun sampai -6mmHg
dan paru-paru ditarik ke posisi yang lebih mengembang dan tertanam dalam jalan
udara sehingga menjadi sedikit negatif dan udara mengalir ke dalam paru-paru.
Pada akhir inspirasi, recoil menarik dada kembali ke posisi ekspirasi dimana
tekanan recoil paruparu dan dinding dada seimbang. Tekanan dalam jalan
pernapasan seimbang menjadi sedikit positif sehingga udara mengalir ke luar dari

6
paru-paru. Pada saat inspirasi, pengaliran udara ke rongga pleura dn paru-paru
berhenti sebentar ketika tekanan dalam paru-paru bersamaan bergerak
mengelilingi atmosfer. Pada waktu penguapan, pernapasan volume sebuah paru-
paru berkurang karena naiknya tekanan udara untuk memperoleh dorongan keluar
pada sistem pernapasan. Selama pernapasan tenang, ekspirasi adalah pasif, dalam
arti bahwa tidak ada otot-otot yang menurunkan volume unuk toraks
berkontraksi. Pada permulaan ekspirasi, kontraksi ini menimbulkan kerja yang
menahan kekuatan recoil dan melambatkan ekspirasi. Insiprasi yang kuat
berusaha mengurangi tekanan intrapleura sampai 30mmHg sehingga
menimbulkan pengembangan paru-paru dengan derajat yang lebih besar. Bila
ventilasi meningkat seluas deflasi maka paru-paru meningkat dengan kontraksi
otot-otot pernapasan yang menurunkan volume intratoraks. (Syaifuddin, 2011)
Tekanan intrapleura adalah tekanan ukuran dalam antara lapisan pleura luar dan
lapisan pleura dalam. Pleura parietal dan pleura viseral dipisahkan oleh selaput
tipis pleura yang berisi zat cair dan gas. Tekanan pleura adalah tekanan cairan
ruang sempit antara pleura paru-paru dengan pleura dinding dada. Secara normal
terdapat sedikit isapan suatu tekanan negatif yang ringan. Selama inspirasi
pengembangan rangka dada akan mendorong permukaan paru-paru dengan
kekuatan sedikit lebih besar dan selama ekspirasi peristiwa yang terjadi adalah
sebaliknya. (Guyton, 2006)
Selama inspirasi, tekanan dalam alveoli turun sampai dibawah tekanan atmosfer
atau tekanan negatif yang cukup untuk mengalirkan sekitar 0,5 liter udara ke
dalam paru-paru dalam waktu 2 detik. Selama ekspirasi terjadi perubahan yang
berlawanan, tekanan alveolus meningkat sampai sekitar 1cm air. Tekanan ini
mendorong 0,5 liter udara ke luar paru selama 2-3 detik. (Syaifuddin, 2001)

2. Sistem Kardiovaskular
Selama latihan, permintaan oksigen di otot aktif meningkat, lebih banyak nutrisi
digunakan dan proses metabolisme dipercepatkan serta menghasilkan sisa

7
metabolisme. Jadi, untuk memberikan lebih banyak nutrisi dan untuk
menghilangkan sisa metabolisme, sistem kardiovaskuler harus beradaptasi untuk
memenuhi tuntutan sistem muskuloskeletal selama latihan. (Willmore, 2009)
Respon akut atau langsung yang terlihat sewaktu latihan adalah peningkatan
kontraktilitas miokard, peningkatan curah jantung, peningkatan denyut jantung,
tekanan darah dan respon perifer termasuk vasokonstriksi umum pada otot-otot
dalam keadaan istirahat, ginjal, hati, limpa dan daerah splanknikus ke otot-otot
kerja dan juga ada peningkatan tekanan darah sistolik akibat curah jantung yang
meningkat. Dengan pelatihan yang ada akan ditandai penurunan denyut nadi dan
pengurangan tekanan darah saat istirahat dengan peningkatan volume darah dan
hemoglobin. (Guyton, 2006) Selama tenaga digunakan, akan terjadi penurunan
denyut nadi, peningkatan stroke volume, peningkatan curah jantung (Carolin
Kisner, 1996) dan peningkatan ekstraksi oksigen oleh otot bekerja karena
perubahan enzimatik dan biokimia pada otot serta peningkatan konsumsi oksigen
maksimal untuk setiap intensitas latihan yang diberikan. ( Ganong, 2005)
Perubahan Akut Kardiovaskuler terhadap Latihan Fisik
a) Perubahan Frekuensi Denyut Jantung
Jantung merupakan organ vital yang memasok kebutuhan darah di seluruh
tubuh. Semakin meningkatnya aktivitas fisik, maka kebutuhan darah yang
mengandung oksigen akan semakin besar. Kebutuhan ini akan dipenuhi oleh
jantung dengan meningkatkan aliran darah, hal ini juga direspons pembuluh
darah dengan melebarkan diameter pembuluh darah (vasodilatasi) sehingga
akan berdampak pada tekanan darah individu (Widiyanto, 2011:3).
Pada saat berlatih, frekuensi denyut jantung akan meningkat. Semakin tinggi
intensitas latihan, maka denyut jantung akan semakin cepat, sesuai dengan
teori ambang batas anaerobik (anaerobic threshold), yang menyatakan bahwa
jika intensitas latihan dinaikan, maka frekuensi denyut jantung juga akan
naik, tetapi jika intensitas terus dinaikan pada suatu saat hubungannya tidak

8
liner lagi (berbentuk garis lurus) melainkan akan melengkung (Grazzi et al.,
2005:473)
b) Perubahan Volume Darah Sekuncup dan Curah Jantung
Pada saat latihan, terjadi dua kejadian yaitu peningkatan curah jantung
(cardiac output) dan redistribusi darah dari otot-otot yang aktif ke otot-otot
yang aktif. Curah jantung tergantung dari stroke volume dan heart rate.Kedua
faktor ini meningkat pada waktu latihan menyangkut vasokontriksi pembuluh
darah yang memelihara daerah yang tidak aktif vasodilatasi dari otot yang
aktif, yang diakibatkan oleh kenaikan suhu setempat, CO2, dan asam laktat,
serta kekurangan oksigen (Akmawarita Kadir: 2012:4).
Pada saat istirahat, volume darah sekuncup yang keluar dari jantung (stroke
volume=SV) sekitar 70 cc, pada saat berlatih dapat meningkat sampai 90 cc
per denyut. Bagi orang terlatih volume sekuncup saat istirahat sekitar 90
sampai 120 cc, pada saat berlatih dapat mencapai 150 170 cc (Sebastianus,
2011:4).
Peningkatan curah jantung (CO) yang meningkat hampir secara linier dengan
laju konsumsi O2 otot (tingkat kerja) terutama akibat peningkatan laju denyut
jantung dan juga pengaruh akibat isi sekuncup walaupun tidak terlalu besar.
Laju denyut jantung diakselerasi oleh penurunan tonus vagal, dan oleh
peningkatan letupan saraf simpatis serta kotekolamin dalam sirkulasi.
Stimulasi adrenoreseptor- jantung yang dihasilkan akan meningkatkan isi
sekuncup dengan meningkatkan kontraktilitas miokardium dan
memungkinkan pengosongan sistolik ventrikel yang lebih komplet
(Aaronson, 2010:65).
Peningkatan frekuensi denyut jantung yang terus-menerus pada suatu saat
tidak akan meningkatkan curah jantung. Setelah 160 kali per-menit bagi yang
tidak terlatih atau 180 kali per-menit bagi yang terlatih, maka denyut jantung
akan mengalami floater, sehingga volume sekuncup akan berkurang.
Frekuensi denyut jantung maksimal (intensitas maksimal/ 100%)

9
secarasederhana sering ditentukan dengan rumus 220 dikurangi umur. Curah
jantung pada intensitas 100% tidak berbeda banyak dengan curah jantung
pada intensitas 90% (Sebastianus, 2011:4).
c) Perubahan Tekanan Darah
Meningkatnya hormon epinefrin saat latihan menyebabkan semakin kuatnya
kontraksi otot jantung. Meskipun demikian, tekanan sistolik tidak langsung
membumbung tinggi karena pengaruh epinefrin pada pembuluh darah yang
dapat menyebabkan pelebaran (dilatasi). Pelebaran pembuluh darah akan
sangat tergantung kondisi pembuluh darah (Sebastianus, 2011:5).
Peningkatan signifikan tekanan sistolik dan nadi, disebabkan oleh ejeksi
darah oleh ventrikel kiri secara lebih cepat dan kuat, yang menyebabkan
suatu peningkatan rata-rata tekanan darah arterial (Aaronson, 2010:65).
d) Perubahan pada Darah
Pada saat terjadi dilatasi arteriola, otot skelet meningkatkan hidrostatik
kapiler. Sementara itu, rekruitmen kapiler meningkatkan area permukaan
mikro-sirkulasi yang tersedia untuk pertukaran cairan. Efek ini, bersama
dengan peningkatan osmolaritas interstisial yang disebabkan oleh
peningkatan produksi metabolit dalam serabut otot melalui mekanisme
starling, menyebabkan ekstravasasi cairan ke dalam otot. Selain itu,
kehilangan cairan melalui keringat menyebabkan volume plasma menurun
sebesar 15% selama menjalani latihan berat. Kehilangan cairan ini sebagian
dikompensasi oleh peningkatan reabsorpsi cairan pada vascular bed yang
mengalami vasokontriksi, sehingga tekanan kapiler menurun (Aaronson,
2010:65).
e) Perubahan Pendistribusian Darah Selama Berlatih
Pada saat berlatih, darah akan banyak mengalir ke otot-otot yang terlibat
dalam gerak. Darah akan mencukupi kebutuhan latihan seperti lemak dan
gula untuk penyediaan energi dan membawa sisa-sisa metabolisme seperti air
dan CO2. Darah yang menuju ke pencernaan, ginjal, hati, kulit, akan

10
dikurangi. Semakin tinggi intensitas, darah yang ke otot akan semakin
banyak.

Sesaat setelah latihan, akan terjadi penurunan aktivitas kardiovaskular.


Baroreseptor akan merespons untuk memberikan penurunan denyut jantung dan
kontraktilitas jantung, begitu juga akan terjadi penurunan tekanan darah. Hal ini
sebagai tugas baroreseptor untuk mengembalikan keadaan tubuh untuk menjadi
seimbang atau disebut homeostatis. Denyut jantung biasanya dikembalikan dalam
waktu kurang dari 5 sampai 10 detik setelah latihan (Hautala, 2004:22). Efek
penurunan tekanan darah akibat latihan fisik, khususnya tekanan sistolik mulai
terlihat pada 1-3 jam setelah melakukan aktivitas fisik selama 30-45 menit. Efek
penurunan darah ini akan terjadi lebih dari 9 jam setelah latihan fisik. Penurunan
tekanan darah yang menetap akan lebih terlihat setelah 4 sampai 6 minggu latihan
(Liu et al, 2012:1650). Tidak seperti pada penurunan tekanan darah sistolik,
penurunan tekanan darah diastolik akibat latihan fisik berhubungan dengan
lamanya latihan yang dilakukan (Zanabria and Welch, 2003.,Prijo Sudibjo:
2011:31).
Recovery setelah latihan disebabkan reaktivasi vagal (parasimpatis) yang menjadi
hal yang sangat penting selama menit pertama setelah latihan (Watanabeet al.,
2001:1915). Regulasi oleh saraf parasimpatis pada denyut jantung terjadi dalam
beberapa menit setelah latihan jangka pendek (10-20 menit) dengan intensitas
sedang hingga sub-maksimal (Hautala, 2004:23). Peningkatan vagal
tone (parasimpatis) dikaitkan dengan pengurangan risiko kematian pada
seseorang dengan maupun tanpa penyakit kardiovaskuler. Aktivasi peningkatan
saraf parasimpatis juga menunjukkan menunjukkan pada baiknya kapasitas
fungsional kardiovaskular seseorang (Watanabe et al., 2001:2915).

Perubahan Kronik Kardiovaskuler terhadap Latihan Fisik

11
Latihan yang terprogram dan berkelanjutan dapat memperbaiki fungsi
kardiovaskular melalui pembesaran ruang pada atrium maupun ventrikel pada
jantung dan peningkatan elastisitas pembuluh darah (Sebastianus, 2011:13),
Perbaikan kontrol metabolik (level glokosa dalam darah dan resistensi insulin)
(Colberg, 2010:151), Penurunan tekanan darah, dan perbaikan fungsi ginjal (Prijo
Sudibjo, 2011:28).
Pembesaran Ruang Jantung
Program latihan yang bersifat aerobik akan akan menyebabkan semakin
besarnya ruang pada atrium maupun ventrikel pada jantung. Dengan
demikian, volume darah sedenyut (stroke volume=SV) akan meningkat.
Dengan meningkatnya volume darah sekuncup, maka untuk memenuhi
kebutuhan oksigen maupun membuang karbon dioksida jantung tidak perlu
memompa dengan frekuensi yang tinggi. Hal ini juga akan menurunkan
denyut jantung saat istirahat. Penurunan denyut jantung saat istirahat
diakibatkan penurunan level serum katekolamin (Gielen, 2010:1226). Latihan
aerobik selama 8 minggu dapat menurunkan 16% norepinefrin, hormon yang
berhubungan dengan peningkaan denyut jantung (Coats et al, 1992, Gielen,
2010:1226).
Peningkatan volume sekuncup maupun cardiac output akan diikuti
bertambahnya pembuluh-pembuluh pada otot jantung, sehingga akan dapat
mengurangi terganggunya aliran darah pada otot. Banyaknya pembuluh
darah, akan saling menggantikan apabila ada satu atau beberapa pembuluh
yang tersumbat (Sebastianus, 2011:7).
Peningkatan Elastisitas Pembuluh Darah
Pada orang yang terlatih, pembuluh darah saat latihan akan dipacu
vasodilatasi, untuk memperlancar pengiriman nutrisi dan oksigen, sehingga
proses metabolisme dan pertukaran gas berjalan lancar. Hal ini akan
diadaptasi oleh pembuluh darah, setelah latihan kronis, elastisitas pembuluh
darah akan semakin meningkat. Latihan secara signifikan dapat

12
memperbaiki endothelium-dependent, penghubung laju dilatasi pada
peleberan arteri pada otot yang dilatih (Gielen, 2010:1227).
Perubahan struktural vaskular karena latihan fisik
merupakan remodelingvaskular berupa perpanjangan dan pelebaran
pembuluh darah ateri dan vena atau pembentukan vaskular baru
(neovaskularisasi) (Prijo Sudibjo, 2011:30). Latihan fisik juga menunjukkan
dapat meningkatkan diameter pembuluh darah, penurunan rasio tebal tunika
intima-media serta pembesaran pembuluh darah secara tetap (Pescatello et
al., 2004, Prijo Sudibjo, 2011:30).
Perbaikan Kontrol Metabolisme
Perbaikan kontrol metabolisme dikaitkan dengan resistensi diameter
pembuluh darah akan keberadaan oksigen atau metabolik sensor yang
tergabung pada sel otot vaskular lunak untuk mengontrol vascular tone
(Deusen et al, 2006, Gielen et al., 2010:1230). Perbaikan metabolisme juga
berhubungan dengan perbaikan insulin dan glukosa dalam darah. Latihan
aerobik selama satu minggu dapat memperbaiki sensivitas insulin pada
penderita diabetes (Winnick et al., 2008, Colberg et al., 2010:151). Latihan
teratur dapat meningkatkan responsivitas otot rangka pada insulin dengan
meningkatkan fungsi dan atau aktivitas protein termasuk metabolisme
glukosa dan insulin signaling (Colberg et al.,2010:152).
Penurunan Tekanan Darah
Latihan dapat secara signifikan menurunkan tekanan darah saat istirahat pada
kelompok usia 45-60 tahun dengan lama latihan bervariasi, hasilnya sudah
terlihat pada minggu pertama, namun lebih terlihat setelah 4 sampai 6
minggu latihan (Liu et al, 2012:1650). Tekanan darah pada hipertensi akan
menurun diakibatkan adanya perbaikan faktor-faktor yang memengaruhi
tekanan darah antara lain: peningkatan elastisitas pembuluh darah, semakin
optimalnya kerja jantung (cardiac output), menurunnya tahanan perifer
akibat peningkatnya diameter pembuluh darah dan menurunnya viskositas

13
darah, dan terkontrolnya volume darah. Penurunan pembuluh darah perifer
setelah melakukan latihan fisik menyebabkan diameter pembuluh darah
bertambah, diakibatkan karena menurunnya pengaruh saraf simpatis atau
bertambahnya pengaruh vasodilator lokal seperti nitric oxide. Vasodilator ini
produksinya dapat ditingkatkan (Pescatello et al., 2004, Prijo Sudibjo,
2011:30). Hal lain yang dapat menurunkan tekanan darah akibat latihan fisik
adalah: penurunan norepinefrin plasma darah yang berhubungan dengan
vasodilatasi pembuluh darah dan perbaikan fungsi ginjal (Pescatello et al.,
2004, Prijo Sudibjo, 2011:30).

3. Sistem Muskuloskeletal
Peningkatan aliran darah ke otot-otot yang bekerja memberikan oksigen
tambahan. Maka, ekstraksi oksigen lebih banyak dari sirkulasi darah dan
penurunan PO2 jaringan lokal dan peningkatan PCO2. Setelah pelatihan daya
tahan, ada peningkatan aktivitas enzim mitokondria pada kedua serat lambat dan
cepat tanpa mengubah kecepatan kontraksi serat. Oleh itu, pelatihan
meningkatkan kemampuan kedua jenis serat untuk menyediakan energi selama
latihan berkepanjangan. Setelah mengikuti latihan kekuatan, kegiatan intensitas
tinggi membutuhkan perbaikan besar dalam kekuatan otot dan kapasitas aerobik
tinggi. Selain itu, akan terjadi peningkatan ukuran otot-otot yang terlibat iaitu
hipertrofi. (Carolin Kisner, 2006)
Ukuran otot dapat diperbesar dengan latihan anaerob, durasi pendek, serta latihan
kekuatan dengan intensitas yang tinggi, seperti angkat beban. Nantinya akan
dihasilkan peningkatan diameter (hipertrofi) serat glikolitik cepat yang memang
digunakan pada kontraksi yang powerfull. Penebalan serat ini dihasilkan oleh
peningkatan sintesis filamen aktin dan miosin, sehingga kesempatan interaksi
jembatan silang meningkat. Akibatnya, kekuatan kontraksi otot juga meningkat.
Stress mekanik akan merangsang gen yang secara langsung mensintesis protein
kontraktil menjadi lebih banyak. Latihan beban yang vigorous bisa meningkatkan

14
ukuran otot menjadi dua sampai tiga kali lipat. Nantinya bisa dihasilkan
peningkatan kekuatan yang besar untuk penggunaan jangka pendek, tapi
ketahanan tidak begitu meningkat.

Semua serat otot di dalam unit motor tunggal merupakan jenis serat bertipe sama.
Pola ini biasanya terbentuk di awal kehidupan, tapi dua jenis serat kedut cepat
bisa saling diubah, tergantung latihan yang dilakukan. Oleh karena itu, serat
glikolitik-cepat bisa dikonversi ke serat oksidatif-cepat dan sebaliknya,
tergantung kebutuhan berulang yang terjadi pada mereka. Perubahan adaptif pada
otot skeletal bisa kembali secara bertahap ke posisi awal setelah beberapa bulan
jika program olahraga teratur yang menginduksi perubahan tersebut tidak
dilanjutkan.

Serat lambat dan cepat tidak bisa saling diubah. Walaupun latihan dapat
menginduksi perubahan pada sistem pendukung metabolik serat otot, apakah itu
serat kedut lambat atau cepat, tergantung pada suplai serat saraf. Serat kedut
lambat disuplai oleh motor neuron yang menampakan pola frekuensi rendah dari
aktivitas elektrik sedangkan serat kedut cepat diinervasi oleh motor neuron yang
menampakan aktivitas elektrikal berupa ledakan cepat dan sebentar-sebentar.

4. Sistem Metabolik
Sumber langsung untuk kontraksi otot diisi kembali oleh proses fosforilasi
oksidatif yang membutuhkan O2. Ketika kebutuhan energi melebihi batas
metabolisme, metabolisme anaerobik akan suplemen sistem pasokan energi
selama latihan. Selama ledakan pendek kegiatan intens seperti 100 menit atau
Power Lifting, hampir semua energi berasal dari ATP dan kreatinin fosfat.
Sewaktu latihan berlangsung, peningkatan penyimpanan untuk kreatinin fosfat
serta glikogen berlangsung. Aktivitas kreatin kinase meningkat karena adanya
peningkatan jumlah serta ukuran mitokondria. Dengan demikian, ada akumulasi

15
asam laktat yang rendah dan penurunan pH sehingga menurunkan kelelahan.
(Bijalani, 2008)
Metabolisme adalah jumlah seluruh reaksi kimia dan fisik serta pengubahan
energi dalam tubuh yang menopang dan mempertahankan kehidupan (Sloane,
2004). Metabolisme dalam tubuh memungkinkan sel melangsungkan
kehidupannya (Guyton, 2007). Metabolisme dapat dibagi menjadi 2 katagori,
yaitu anabolisme dan katabolisme. Anabolisme adalah merupakan proses sistesis
molekul komplek dari molekul sederhana, dan katabolisme adalah pemecahan
atau penguraian molekul komplek besar menjadi molekul sederhana yang lebih
kecil (Pocock, 2004).
Anabolisme meliputi reaksi kimia untuk membentuk kompleks molekul yang
diperlukan untuk pertumbuhan dan mempertahankan kehidupan yang disentesis
dari zat yang lebih mudah disertai dengan penggunaan energi. Katabolisme
meliputi reaksi kimia molekul menjadi molekul yang berukuran kecil disertai
dengan pelepasan energi. Reaksi Anabolisme dan katabolisme berlangsung dalam
sel tubuh secara bersamaan dan berkelanjutan. (Sloane, 2004).
Reaksi anabolik memerlukan masukan energi dalam bentuk ATP. Reakasi-reaksi
tersebut menghasilkan (1) Pembentukan bahan yang diperlukan sel , misalnya
protein struktural sel atau produk sekretorik, atau (2) Simpanan, misalnya
glikogen atau lemak dari kelebihan zat gizi yang tidak segera dipergunakan untuk
energi atau bahan pembangun sel. Kataboliisme di pihak lain, mencakup 2 tingkat
penguraian : (1) hidrolisis makro molekul organik sel menjadi subunit yang lebih
kecil, seperti penguraian glikogen menjadi glukosa, (2) oksidasi subunit kecil,
untuk menghasilkan energi dalam bentuk ATP (Sherwood, 2001)
Energi diperlukan untuk proses fisiologis yang berlangsung dalam sel tubuh.
Proses ini meliputi kontraksi otot, pembentukan dan penghantaran impuls syaraf,
sekresi kelenjar, produksi panas untuk mempertahankan suhu, mekanisme
transport aktif dan berbagai reaksi sintesis dan degradasi (Sloane, 2004). Sumber
energi tubuh berasal dari karbohidrat, lemak dan protein. Sumber energi ini

16
dipakai oleh sel untuk membentuk sejumlah besar ATP dan ATP dipakai sebagai
sumber energi untuk berbagai fungsi sel (Gayton dan Hall, 2004).
ATP merupakan sumber energi untuk proses biologis berlangsung secara mendaur
ulang. ATP terbentuk dari ADP dan Pi melalui proses fosforilasi dan oksidasi
moleku penghasil energi. Selanjutnya ATP yang terbentuk dihidrolisis menjadi
ADP dan Pi sekaligus melepaskan energi yang diperlukan oleh proses biologis
tersebut. Demikian seterusnya terjadi daur ulang ATP-ADP secara terus menerus.
ATP juga dapat dibentuk 2 molekul ADP, yang menghasilkan ATP dan AMP
(Patellongi, dkk, 2000).
Bila satu senyawa fosfat dari ATP dilepaskan, maka akan keluar energi sebesar 7-
12 Kcal. Energi dari pemecahan ATP inilah yang digunakan untuk energi untuk
kontraksi otot, sistesa protein, tarnsport aktif ion, dan untuk berbagai
metabolisme
Metabolisme aerobik adalah metabolisme energi yang dapat dihasilkan dari
makanan dengan metabolisme oksidatif, yaitu dengan menggunakan oksigen.
Metabolisme anaerobik bila energi dihasilkan tanpa disertai dengan pemakaian
oksigen. Karbohidrat merupakan sumber makanan bermakna yang dapat dipakai
sebagai sumber energi tampa menggunakan oksigen. Pelepasan energi terjadi
selama proses glikolitik dimana glikogen dipecah menjadi asam piruvat (Gayton
dan Hall, 2004). Jika energi ATP yang diperlukan untuk aktivitas seluler lebih
besar daripada yang dihasilkan oleh metabolisme oksidatif, cadangan fosfokreatin
yang pertama digunakan dan kemudian diikuti dengan cepat oleh pemecahan
glikogen anaerobik dan menghasilkan asam laktat. Metabolisme oksidatif tidak
dapat menghasilkan energi yang sangat besar ke sel secepat proses anaerobik,
tetapi sebaliknya pada penggunaan dengan kecepatan yang lebih lamban, secara
kwantitatif proses oksidatif hampir tidak pernah ada habisnya (Gayton dan Hall,
2004).

17
BAB III
KESIMPULAN

Respon jangka pendek serta jangka panjang ini memenuhi kebutuhan energi. Kenaikan
pesat dalam kebutuhan energi sewaktu latihan memerlukan penyesuaian peredaran darah
yang seimbang untuk memenuhi peningkatan kebutuhan oksigen, nutrisi serta
mengeliminasi produk akhir metabolisme seperti karbon dioksida dan asam laktat dan
membebaskan panas berlebihan. Pergeseran metabolisme tubuh terjadi melalui kegiatan
terkoordinasi dari semua sistem tubuh iaitu neuromuskuler, respiratori, kardiovaskular,
metabolik, dan hormonal.
Respon akut atau langsung yang terlihat sewaktu latihan adalah peningkatan
kontraktilitas miokard, peningkatan curah jantung, peningkatan denyut jantung, tekanan
darah dan respon perifer termasuk vasokonstriksi umum pada otot-otot dalam keadaan
istirahat, ginjal, hati, limpa dan daerah splanknikus ke otot-otot kerja dan juga ada
peningkatan tekanan darah sistolik akibat curah jantung yang meningkat. Dengan
pelatihan yang ada akan ditandai penurunan denyut nadi dan pengurangan tekanan darah
saat istirahat dengan peningkatan volume darah dan hemoglobin.
Umumnya latihan tidak murni menggunakan energi aerobik saja atau anaerobik saja
tetapi biasanya terjadi campuran. Namun, terdapat sistem energi predominan yang
digunakan aerobik atau anaerobik. Tidak semua pengaruh latihan dapat diharapkan dari

18
satu program latihan. Pengaruh latihan merupakan kekhususan untuk tipe dari latihan
yang digunakan, seperti pada program latihan aerobik atau anaerobik.

DAFTAR PUSTAKA
1. Aaronson, Philip I.,Jeremy, P.T.Ward. (2010). At Glance: Sistem Kardiovaskuler
(Terjemahan). Jakarta: Penerbit Erlangga.
2. Akmawarita Kadir. (2012). Adaptasi Kardiovaskular terhadap Latihan Fisik.
Surabaya: Fakultas Kedokteran Universitas Wijayakusuma Surabaya.
3. Brown, Stanley.,Miller, Wayne C., Eason, Jane M. (2006). Exercise Physiology:
Basic of Human Movement in Health and Disease. Baltimore: Lippcott Williams
& Wilkins.
4. Kenney, W. Larry.,Wilmore, Jack H., Costill, David L. (2011). Physiology of
Sport and Exercise 5th Ed. USA: Human Kinetics.
5. Liu, sam., Goodman, J., Nolan, R., Lacombe, S., Thomas, Scott G. (2012). Blood
Pressure Responses to Acute and Chronic Exercise Are Related in
Prehypertension. American College of Sports Medicine Article.
6. Sebastianus Pranatahadi. (2011). Fisiologi Latihan. Yogyakarta: FIK UNY.
7.

19