Anda di halaman 1dari 7

Landasan Teori hydraulic ram

2.1 Hydraulic Excavator Secara Umum

2.1.1. Definisi Hydraulic Excavator


Excavator adalah alat berat yang dipergunakan untuk menggali dan
mengangkut (loading and unloading) suatu material (tanah, batubara, pasir
dan
lain-lainnya). Berdasarkan sistem penggeraknya, excavator dibedakan
menjadi
dua yaitu:
1) Sistem Tali, pada saat sekarang jarang digunakan karena kurang
efisien dalam
operasionalnya.
2) Sistem Hidraulik dengan media utama fluida, banyak digunakan dan
terus
mengalami perkembangan yang disebabkan efisiensi yang lebih baik,
operasional yang lebih mudah dan perawatan yang sederhana. Untuk
selanjutnya excavator yang dimaksud oleh penulis adalah excavator
dengan
sistem penggerak hidraulik (hydraulic excavator).

2.1.2. Fungsi Hydraulic Excavator


Fungsi dari Hydraulic Excavator secara umum adalah:
1) Mengerjakan kegiatan pertambangan.
2) Pembukaan lahan hutan untuk lahan pertanian.
3) Pembuatan jalan perintis.
4) Pembuatan parit dan saluran irigasi.
5) Mengerjakan kegiatan kehutanan

2.1.3. Tenaga Penggerak


Pada dasarnya tenaga penggerak Hydraulic Excavator ada dua yaitu
Engine Type (Diesel) dan Battery Type (Motor Listrik). Secara umum tenaga
penggerak utama Hydraulic Excavator adalah mesin diesel yang merubah
energi
mekanik menjadi energi hidraulik melalui tekanan pompa yang kemudian
didistribusikan ke silinder hidraulik untuk menghasilkan gerakan. Sedangkan
motor listrik untuk menstarter dan menyuplai energi komponen-komponen
elektrik seperti dynamo, lampu, alat-alat ukur operator dan sebagainya.

2.1.4. Konstruksi
Secara umum konstruksi Hydraulic Excavator terdiri dari attachment dan
Base Machine yang masing-masing meliputi:
1. Attachment terdiri dari:
Boom adalah attachment yang menghubungkan base frame ke arm
dengan
panjang tertentu untuk menjangkau jarak loading/unloading
Arm adalah attachment yang menghubungkan boom ke Bucket
Bucket adalah attachment yang berhubungan langsung dengan
material
pada saat loading.
Grapple adalah attachment yang berhubungan langsung dengan
material
pada saat loading kayu / log (optional).

2. Base Machine terdiri dari:


Base Frame adalah bagian yang terdiri dari cabin (untuk pusat
operasional
operator), mesin, counter weight dan komponen lainnya diatas revo
frame.
Track Frame adalah komponen yang terdiri dari center frame dan
crawler
frame yang menjadi tumpuan operasional Hydraulic Excavator.
Track Shoe adalah komponen yang berfungsi seperti roda pada
kendaraan,
untuk menggerakan Hydraulic Excavator.

2.1.5. Mekanisme Kerja

Mekanisme kerja pada Hydraulic Excavator yang digerakkan secara


hidraulik adalah:
Mesin Diesel memutar pompa yang kemudian mengalirkan fluida
hidraulik
dari tangki ke dalam sistem dan kembali lagi ke tangki.
Komponen-komponen yang mendapat distribusi fluida hidraulik dan
pompa
adalah Bucket Cylinder, Arm Cylinder, Boom Cylinder, Swing Motor dan
Travel Motor untuk menghasilkan suatu kondisi kerja tertentu.
Kondisi kerja Hydraulic Excavator di bagi menjadi enam (6), yaitu:

1. Swing
Pergerakan pada saat Body dan Attachment Hydraulic Excavator berputar
sampai 360o. Sistem gerakan ini adalah dengan menggerakan lever yang
membuka katup pada Control Valves yang berisi fluida hydraulic agar
mengalir ke Swing Motor sehingga Hydraulic Excavator akan berputar
dengan putaran tertentu.
2. Traveling Left Shoe
Pergerakan ini dibagi menjadi dua gerakan yaitu gerakan maju dan gerakan
mundur yang digerakan oleh katup yang ada di Control Valves.
Energi, Arm cylinder, Boom, Cabin, Bucket, cylinder, Boom cylinder, Bucket,
Track Shoe,Track Frame, Arm
hidraulik dari pompa akan diubah lagi menjadi energi mekanis melalui
Travel Motor. Travel Motor memutar Sprocket selanjutnya menggerakkan
Track Shoe sehingga menghasilkan gerakan pada Hydraulic Excavator.
Traveling Left Shoe merupakan gerakan track shoe yang sebelah kiri.
3. Traveling Right Shoe
Pergerakan ini dibagi menjadi dua gerakan yaitu gerakan maju
dan gerakan mundur yang digerakkan oleh katup yang ada di Control
Valves. Energi hidraulik dari pompa akan diubah lagi menjadi energi
mekanis melalui Travel Motor. Travel Motor memutar Sprocket selanjutnya
menggerakan Track Shoe sehingga menghasilkan gerakan pada Hydraulic
Excavator. Traveling Right Shoe merupakan gerakan track shoe yang
sebelah kanan.
4. Boom (Raise-Down)
Pergerakan Boom dilakukan oleh Boom Cylinder. Sistem gerakan ini
dilakukan dengan menggerakkan lever di ruang operator sehingga katup
Boom Raise dan katup Boom Dowm pada Control Valve yang berhubungan
dengan Boom Cylinder akan membuka. Boom akan melakukan gerakan
mengangkat jika katup Boom Raise terbuka sedangkan katup Boom Down
tertutup. Fluida akan mengalir dari katup Boom Raise dan menekan piston
dari Cylinder Boom sedangkan untuk gerakan arm.
5. Arm (In-Out)
Pergerakan Arm dilakukan oleh Arm Cylinder. Sistem gerakan ini diatur
oleh katup Arm In dan katup Arm Out. Arm akan melakukan gerakan
rnengangkat jika katup Arm out terbuka sedangkan katup Arm In tertutup.
Fluida akan mengalir dari katup Arm Out dan menekan piston Arm
Cylinder. Sedangkan untuk gerakan Arm turun, kondisi katup arm in dan
arm out berlaku sebaliknya.
6. Bucket (Crawl-Dump)
Pergerakan Bucket dilakukan oleh Bucket Cylinder. Sistem gerakan ini
diatur oleh pergerakan katup Bucket Crawl dan katup Bucket Dump. Bucket
akan melakukan gerakan mengangkat (dump) jika katup Bucket dump
terbuka sedangkan katup Bucket Crawl tertutup. Pada saat itu, fluida akan
mengalir dari katup Bucket dump dan menekan piston Bucket Cylinder.
Sedangkan gerakan Bucket menekuk (crawl) kondisi katup bucket crawl dan
katup bucket dump adalah sebaliknya. Mekanisme dan kondisi kerja
Excavator secara Hidraulik

2.2.1 Pengertian Boom Top


Boom top adalah bagian dari attachment boom yang menghubungkan arm
ke boom yang terletak pada bagian atas boom. Boom top casting berfungsi
untuk
manyatukan arm dengan boom dimana untuk menjaga arm tersebut
digunakan
shaft. Gambar boom top casting dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Gambar 3. Boom Top
2.2.2 Jenis-jenis Boom Top
Berdasarkan proses pembuatannya boom top dibagi menjadi dua jenis,
yaitu boom top casting dan boom top welding. Boom top casting dibuat
menggunakan metode penuangan besi cair ke dalam cetakan yang terlebih
dahulu
dibuatkan pattern (pola) berbentuk boom top pada cetakan (pasir cetak).
Setelah
besi cair tersebut mengeras (membeku) kemudian part tersebut dilakukan
proses
heat treatment untuk mendapatkan kekerasan dan ketangguhan yang
diinginkan.
Berbeda dengan boom top welding, dimana proses pembuatan boom top
mengunakan proses pengelasan (weld) yaitu dengan menggabungkan plate-
plate
Boom top
yang disesuaikan dengan bentuk boom top yang akan dibuat. Pada proses ini
tidak
dilakuakn proses heat treatment karena kekuatan part tergantung dari plate
yang
digunakan untuk membuat boom top tersebut. Selain itu, kekuatan boom top
juga
dipengaruhi oleh proses pengelasan. Oleh karena itu, sebelum dilakukan
pengelasan plate yang akan digabungkan dilakukan proses pre-treatment
guna
memudahkan dalam mencairkan plate sehingga tidak terjadi retak ketika
dilakukan pengelasan.
2.3 Quality
2.3.1 Pengertian Quality
Menurut Armand V. Feigenbaum (2000:7), quality adalah total gabungan
barang dan jasa yang memiliki karakteristik berupa marketing, engineering,
manufacture, dan maintenance yang mana produk dan jasa yang digunakan
akan
memenuhi harapan pelanggan. Berdasarkan pengertian di atas, quality
berkonsep
kepada pengalaman aktual konsumen dalam menggunakan produk atau jasa
yang
diproduksi sehingga harapan konsumen terhadap produk tersebut terpenuhi.
Jadi,
produk yang dihasilkan produsen digunakan terlebih dahulu oleh konsumen
dimana setelah menggunakan produk tersebut konsumen memberikan
feedback
bahwa produk tersebut berkualitas sesuai dengan harapannya.
Sedangkan menurut Taguchi, Kualitas adalah untuk menghasilkan
produk dan jasa yang dapat memenuhi kebutuhan dan harapan konsumen
berkaitan dengan umur produk atau jasa (Soejanto, Irwan 2009:3). Dari
konsep
kualitas menurut taguchi dapat diambil kesimpulan bahwa kualitas adalah
kemampuan produk yang dihasilkan dalam memenuhi kebutuhan konsumen
dilihat dari daya tahan produk (dalam hal ini lama pemakaian ).
Untuk memenuhi harapan tersebut, quality memiliki 5 aspek dalam
konteks bisnis antara lain adalah:
1. Memproduksi : memberikan sesuatu.
2. Memeriksa - mengkonfirmasikan bahwa sesuatu telah dilakukan
dengan benar.
3. Quality Control - pengendalian proses untuk memastikan bahwa hasil
yang
diprediksi.
4. Manajemen Mutu - mengarahkan organisasi sehingga mengoptimalkan
kinerja
melalui analisis dan perbaikan.
5. Jaminan Kualitas - memperoleh keyakinan bahwa suatu produk atau
jasa akan
memuaskan. (Biasanya dilakukan oleh seorang pembeli).
2.3.2 Total Quality Management
Besterfield, Dale H. (2006:25) memberikan definisi bahwa total quality
management adalah penerapan metode kuantitatif dan sumber daya
manusia untuk
meningkatkan semua proses dalam suatu organisasi guna melampaui
kebutuhan
pelanggan sekarang dan di masa depan. Dari penjelasan ini didapatkan
kesimpulan bahwa TQM adalah metode yang digunakan sebuah organisasi
untuk
memenuhi kebutuhan pelanggan dengan menggunakan metode-motede
kuantitatif
serta sumber daya manusia guna mengambil keputusan managerial guna
menentukan kearah mana produk yang dihasilkan akan dikembangkan.
Sehingga menurut Besterfield, Dale H. (2006:30), TQM membutuhkan
enam konsep dasar, yaitu :
Manajemen berkomitmen dan terlibat untuk menyediakan dukungan
kepada
organisasi secara jangka panjang baik ke atasatau ke bawah.
Fokus kepada pelanggan, baik internal maupun eksternal.
Keterlibatan dan pemanfaatan seluruh tenaga kerja secara efektif.
Perbaikan terus-menerus dari proses bisnis dan produksi.
Memperlakukan pemasok sebagai mitra kerja.
Menetapkan ukuran kinerja untuk proses.

2.3.4 Countinuous Improvement Process


2.3.4.1 Pengertian Countinuous Improvement
Countinuous improvement adalah suatu kegiatan perbaikan secara
terusmenerus
yang saling berkesinambungan untuk meningkatkan kualitas produk, jasa
atau proses. Countinouos improvent sering juga disebut kaizen oleh
perusahaanperusahaan
jepang, dimana kaizen itu sendiri memiliki arti Perubahan untuk
lebih baik, berkelanjutan dan dalam seluruh aspek kehidupan (Likker,
Jeffrey K,
Phd., 2000: 43). Makna Kaizen lebih tepat diartikan sebagai usaha perbaikan
untuk menjadi lebih baik dengan menghilangkan Muda, Mura, Muri yang
tidak
pernah berhenti atau berakhir (Countinous Improvement).
Aspek-aspek kehidupan yang terkait dalam kaizen diantaranya: (1) Mental
dan Spiritual, (2) Sosial, (3) Finansial, dan (4) Tempat Kerja atau Usaha.
Empat
aspek yang terkait Kaizen tersebut dibagi menjadi dua cara dalam
pelaksanaannya, yaitu perbaikan cara kerja atau sistem (Sagyo Kaizen) dan
perbaikan yang menciptakan atau menggunakan alat (Shitsubi Kaizen).
a) Perbaikan cara kerja / sistem (Sagyo Kaizen)
Sagyo Kaizen adalah kegiatan perbaikan yang dilaksanakan perusahaan
guna
memperbaiki cara kerja atau sistem yang buruk menjadi lebih baik tanpa
mengeluarkan banyak biaya. Sagyo Kaizen memiliki kelemahan, yaitu
diperlukannya konsistensi semua karyawan dalam pelaksanaan perbaikan
agar
hasil yang dicapai sesuai yang diinginkan.
b) Perbaikan yang menciptakan/menggunakan alat ( Shitsubi Kaizen )
Shitsubi Kaizen adalah suatu cara perbaikan yang dilaksanakan perusahaan
dengan ditunjang oleh pengadaan alat yang dapat mempermudah atau
menghilangkan akar-akar penyebab permasalahan. Cara ini lebih mudah
dilakukan dan dikontrol, tetapi memerlukan biaya yang lebih untuk
merealisasikannya daripada Sagyo Kaizen.
Dalam penilitian ini, penulis melakukan perbaikan menggunakan cara
perbaikan yang menggunakan alat ( Shitsubi Kaizen ). Perbaikan tersebut
menggunakan siklus yang sering disebut siklus PDCA. Dimana siklus ini
memiliki langkah-langkah dlama melakukan suatu improvement.
2.3.4.2 Siklus PDCA
PDCA, singkatan bahasa Inggris dari "Plan, Do, Check, Act" dalam bahasa
Indonesia yaitu Rencanakan, Kerjakan, Cek, Tindak lanjuti adalah suatu
proses
pemecahan masalah empat langkah iteratif yang umum digunakan dalam
pengendalian kualitas. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa
siklus
PDCA adalah suatu metode yang digunakan untuk menyelesaikan suatu
masalah
kualitas yang di mulai dari merencanakan perbaikan dari suatu masalah
hingga
menindak lanjuti dari hasil perbaikan hingga tidak terjasi masalah serupa di
lain
waktu.
Gambar 4. Siklus PDCA
2.3.4.3 Fish Bone Diagram
Menurut Dr. Kaoru Ishikawa Fishbone Diagram adalah alat yang
digunakan untuk mengatur dan menampilkan secara grafis semua
pengetahuan
kelompok terhadap masalah tertentu (Thomas Pyzdek, 2003:261-262).
Penampilan secara grafis yang dimaksud berupa gambar tulang ikan yang
terdiri
dari 4 problem besar yang kemudian dipecah menjadi masalah-masalah kecil
yang
akan menjadi sumber masalah yang akan ditanggulangi. Sumber masalah
tersebut
didapat dari proses bertanya sebanyak 5 kali dengan metode 5. Berikut
langkahlangkah
menggunakan fishbone diagram :
1. Mengembangkan bagan alir area yang akan diperbaiki.
2. Mendefinisikan masalah yang harus dipecahkan.
3. Brainstorm untuk mengakhiri semua kemungkinan penyebab masalah.
4. Mengatur hasil brainstorming mengikuti kategori rasional.
5. Buatlah sebuah diagram sebab dan akibat secara akurat yang
menampilkan
hubungan dari semua data dalam setiap kategori.
Fishbone diagram digambarkan sebagai berikut :
Gambar 5. Fishbone Diagram