Anda di halaman 1dari 7

Nomor Tugas : Tugas 06

Mata Kuliah : Perencanaan Properti


Tanggal Penyerahan : 16 April 2017
Dosen : Ir. Supratignyo Aji, MT.
.

URGENSI PERENCANAAN PROPERTI KOTA BOGOR


Tugas ini disusun guna memenuhi nilai mata kuliah Perencanaan property

B-01

Disusun Oleh :
MF HAKIM GINANJAR (153060017)
WINDA AYU CANDRA (153060025)
ANNISA FIRDAUS (153060047)

JURUSAN TEKNIK PLANOLOGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
2016
Urgency Perencanaan Properti Kota Bogor
1. Funsi Kota
a. Primer
Fungsi primer Kota Bogor secara umum adalah menyediakan pelayanan Pendidikan
dan penelitian, tempat pariwisataserta perdagangan, pemerintahan
b. Sekunder
Fungsi Sekunder kota bogor adalah pelayanan perdagangan dan jasa serta
pemerintahan.
2. Besaran Kota
a. Jumlah Penduduk
Penduduk Kota Bogor pada tahun 2014 terdapat sebanyak 1.030.720 orang yang
terdiri atas 523.479 orang laki-laki dan sebanyak 507.241 perempuan.
Dibandingkan dengan tahun 2013 jumlah penduduk Kota Bogor pada tahun 2014
bertambah sebanyak 17.701 orang atau meningkat sebanyak 1,75%. Dengan luas
wilayah 118.50 Km2, kepadatan penduduk di Kota Bogor pada tahun 2013 mencapai
8.698 orang per Km2. Berdasarkan hasil Survey angkatan kerja nasional, jumlah
penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) pada tahun 2014 terdapat sebanyak 764.972
orang. Dari seluruh penduduk usia kerja sebanyak 458.665 orang termasuk kedalam
kelompok angkatan kerja. Sebanyak 415.162 orang diantaranya adalah penduduk
yang bekerja dan sisanya sebanyak 43.503 orang adalah pengangguran yang sedang
mencari pekerjaan.
b. Ekonomi
Kota Bogor yang merupakan salah satu kota yang terus mengalami kemajuan
memposisikan Sektor perdagangan menjadi salah sektor ekonomi andalan di
daerahnya. Jumlah perusahaan perdagangan formal pada tahun 2014 sebanyak 746
perusahaan. Dari seluruh perusahaan yang ada terdapat 15 perusahaan besar (dengan
investasi di atas 5 milyar rupiah), 131 unit perusahaan menengah (investasi 500 juta
hingga 5 milyar rupiah) dan 369 unit perusahaan kecil dengan invetasi 50 juta hingga
500 juta rupiah. Sedangkan perusahaan mikro terdapat sebanyak 231 unit usaha.
Pada tahun 2014 perdagangan melalui ekspor barang dan jasa mengalami
penurunan dibandingkan dengan tahun 2013. Realisasi ekspor non migas pada tahun
2013 tercatat sebesar 158,24 juta US$ dan pada tahun 2014 menurun menjadi sekitar
121,10 juta US$ atau mengalami penurunan sekitar43,47 % dibandingkan nilai ekspor
pada tahun 2013

c. Luas wilayah
Luas Wilayah Kota bogor sebesar 11.850 Ha terdiri dari 6 kecamatan dan 68
kelurahan.
3. Posisi Kota dalam konteks regional
a. Fungsi
Kota bogor merupakan kota yang terletak di tengah-tengah kabupaten bogor, hal ini
dapat mempengaruhi posisi kota bogor di dalam konteks wilayah. Oleh Karena itu
kota bogor menjadi pusat pelayanan primer dan sekunder bagi wilayah sekitarnya,
seperti pemerintahan, Pendidikan, Kesehatan, dan lain-lain.
Kota Bogor pula merupakan hinterland dari Ibu Kota Jakarta sebagai penunjang
kegiatan perekonomian dan investasi yang sangat berpotensi. maka posisi kota bogor
disini dapat dikatakan sangat penting, mengingat masih perlunya ruang untuk
berinvestasi.
b. Kota Bogor sebagai Subsistem Regional Jabotabek
Setelah Indonesia merdeka, seiring peresmian nama Bogor sebagai nama resmi wilayah yang
dulu disebut Buitenzorg, kota ini pun lambat laun kehilangan kedudukan sentralnya seperti
pada masa kolonial. Sejak tahun 1950 Kota Bogor, bersama Tangerang dan Bekasi, menjadi
kota yang direkomendasikan oleh Tim Jabotabek untuk dimasukkan ke dalam wilayah kota
metropolitan Jakarta. Kota Bogor diproyeksikan menjadi kota satelit bagi Jakarta. Namun
realisasi dari program itu baru terlaksana pada tahun 1970-an melalui pelaksanaan proyek
jalan tol pertama di Indonesia yang dikenal dengan nama Jagorawi. Proyek ini dimulai dari
tahun 1973 dan baru rampung serta diresmikan penggunaannya pada tahun 1978. Pada tahun
1976 dikeluarkan Instruksi Presiden no. 13 tahun 1976 tentang Jabotabek (Jakarta-
BogorTangerang-Bekasi) di mana wilayah Kota Bogor ditetapkan sebagai salah satu kota
penyangga ibukota dan sebagai kota permukiman (dormitory town).
Beberapa pokok Kebijaksanaan Pengembangan Wilayah Jabotabek adalah sebagai berikut:
1) Meringankan tekanan penduduk di wilayah DKI Jakarta, sehingga kehidupan sosial
ekonomi dan budaya dapat berlangsung serasi.
2) Mengusahakan agar kegiatan industri dan perdagangan yang terdapat di wilayah
DKI. Jakarta dapat lebih mendorong kegiatan-kegiatan yang berkaitan di daerah lain,
terutama di daerah yang berbatasan dengan wilayah DKI Jakarta.
3) Menyerasikan perkembangan pada daerah-daerah perbatasan antara wilayah DKI.
Jakarta dengan wilayah Botabek (Bogor-Tangerang-Bekasi).
4) Mengembangkan pusat-pusat permukiman di wilayah Botabek dengan bentuk-bentuk
permukiman baru. Struktur wilayah metropolitan Jabodetabek, dapat dilihat dengan
adanya jumlah migrasi yang keluar dan masuk DKI Jakarta dan kota sekitarnya.
Jumlah ini menunjukkan suatu keterkaitan karena adanya pergerakan yang dapat
disebabkan oleh kegiatan ekonomi (tempat bekerja), perumahan (tempat tinggal), dan
lainnya.
Keterkaitan ini juga didukung oleh adanya infrastruktur terutama transportasi dan
komunikasi yang mendorong aliran informasi antar daerah. Antara kota induk dengan
kota-kota satelitnya dilengkapi dengan sarana transportasi massal yang mampu
memenuhi kebutuhan para komuter. Pola permukiman di kota-kota pinggiran
kemudian berkembang mengikuti letak prasarana transportasi metropolitan yang
menghubungkan kota induk. Para pengembang berlomba-lomba membangun
permukiman yang berlokasi dekat akses ke jalan tol atau stasiun KRL. Fenomena
commuter (penglaju) di Kota Bogor terlihat dari tingginya jumlah perjalanan menuju
Jakarta tiap harinya. Banyak penduduk Bogor yang menghabiskan waktunya lebih
banyak di Jakarta. Mereka berangkat ke Jakarta untuk berkerja dari jam 6 pagi dan
baru pulang ke rumahnya di Bogor jam 8 malam. Menurut Bappeda Kota Bogor
(RPJPD 2005-2025), pada tahun 2004 jumlah perjalanan dari Kota Bogor menuju
Jakarta menggunakan kendaraan pribadi adalah 53.188 perjalanan/hari dan yang
menggunakan kendaraan umum sebanyak 25.972 perjalanan/hari. Pergerakan ke
Jakarta menggunakan moda Kereta Api tahun 2004 menurut catatan Stasiun Bogor
rata-rata sebanyak 28.572 perjalanan orang/hari
4. Kebutuhan Ruang kegiatan
1) Pariwisata
Kota Bogor memiliki banyak tempat yang bisa dijadikan tempat wisata yang
dapat menarik wisatawan untuk datang mengunjungi Kota Bogor.
Pariwisata merupakan salah satu sektor unggulan yang perlu diberdayakan,
karena selain sebagai sumber penerimaan daerah, serta pengembangan dan
pelestarian seni budaya Kota Bogor, juga membangkitkan sektor perekonomian
masyarakat Kota. Oleh karena itu sasaran pengembangan kepariwisataan Kota
Bogor diarahkan kepada peningkatan seluruh potensi pariwisata, peningkatan
jumlah kunjungan wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara, peningkatan
lama tinggal wisatawan, penyerap angkatan kerja secara maksimal, peningkatan
kontribusi pada PAD dan kesejahteraan masyarakat, mewujudkan citra Kota
Bogor yang bersaing dengan kota-kota lain, meningkatkan peran serta masyarakat
dalam kepariwisataan (Sapta Pesona Pariwisata).
Salah satu upaya dalam mencapai sasaran tersebut adalah menyediakan fasilitas
dan mengembangkan objek daya tarik wisata (ODTW) yang dilakukan dengan
mengoptimalkan peran serta kalangan pengusaha kepariwisataan Kota Bogor.
Pembinaan kepariwisataan dilakukan oleh Kantor Pariwisata Seni dan Budaya
bekerjasama dengan PHRI, ASITA, HPI. Pengelola ODTW Istana Bogor, Kebun
Raya Bogor, Sanggar Kesenian, BKKNI.
Museum dan instansi terkait dengan tujuan untuk meningkatkan sarana,
pengembangan daya tarik wisata, dan promosi obyek daya tarik wisata.
Obyek daya tarik wisata unggulan Kota Bogor pada tahun 2001 meliputi Kebun
Raya, Museum Zoologi dan Istana Bogor.
Gambar 1.
Contoh Tempat Pariwisata di Kota Bogor
2) Tempat pemerintahan
Di Kota Bogor terdapat kawasan Pemerintahan yang merupakan salah satu
pemenuhan kebutuhan dalam kegiatan yang ada di Kota Bogor
Gambar 2. Tempat Pemerintahan di Kota Bogor

3) Perdagangan dan jasa


Banyaknya penduduk dengan gaya hidup perkotaan yang pindah dari Jakarta ke
Bogor menyebabkan kebutuhan akan fasilitas perkotaan modern seperti shopping
mall, fast food restaurant, dan lain-lain. Kecepatan modernisasi kota menjadi
lebih cepat dan pengendalian pembangunan kawasan perdagangan menjadi sulit
dilaksanakan. Efek globalisasi yang terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta ikut
menyebar ke kota-kota pinggirannya. Terjadi proses universalisasi akibat
persebaran informasi, produk, dan lain-lain. Selain itu globalisasi juga dapat
dilihat sebagai de-teritorialisasi akibat adanya intesifikasi hubungan secara
menyeluruh antar kota-kota di dunia sehingga apa yang terjadi di suatu tempat
dapat mempengaruhi atau dipengaruhi tempat lain. Kawasan sepanjang jalan
Pajajaran merupakan pusat pertokoan dan perdagangan yang paling tinggi
intensitasnya. Pola pembangunan linear (ribbon Development) ini memanjang
sampai ke Tajur melewati Kebun Raya, tugu Kujang, dan terminal Baranangsiang.

Di kawasan ini juga berdiri beberapa bangunan pusat perbelanjaan modern yang
melayani masyarakat Bogor dan sekitarnya.
Gambar. 3
Contoh Pusat Perbelanjaan di Kota Bogor
4) Pusat Penelitian dan Pengembangan Botani
Di Kota Bogor dikembangkan sebagai pusat penelitian dan pengembangan
dibidang Botani
Gambar 4. Penelitian dibidang Botani

Daftar Pustaka
http://old.bappeda.kotabogor.go.id/index.php/rpjpd