Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PEMBAHASAN KASUS HIPEREMESIS GRAVIDARUM

KELOMPOK Q

Ayu Apriliani 260110140078


Putri Raraswati 260110140079
Ummi Habibah 260110140080
Ayyu Widyazamara 260110140081
Anggia Diani Amaliah 260110140082
Siti Nurrohmah 260110140083
Ai Siti Rika Fauziah 260110140084
Nisa Maulani N. 260110140085
Tiffany Sabilla R. 260110140086
Nurmalia Saraswati 260110140087
Mila Tri Cahyani 260110140088
Siti Rositah 260110140089
Adam Renaldi 260110140090
DEPARTEMEN BIOLOGI FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS PADJADJARAN

JATINANGOR

2016

KASUS

Ibu cantik adalah primigravida 30 tahum, sedang hamil 14 minggu dhitung


dari periode menstruasi terakhirnya meskipun tinngi fundus uteri menyerupai
kehamilan 12 minggu. Dia mengeluh bahwa selama kehamilan sering muntah ,
pertama-tama isi muntahan adalah makanan, kemudian lendir berserta sedikit
caian empedu , berat badan menurun dan nyeri epigastrium juga tidak nafsu
makan . frekuensi nadi meningkat sampai 100 kali permenit dan tekanan darah
sistolik menurun. Pada pemeriksaan fisis ditemukan mata cekung, lidah kering,
penurunan turgor kulit dan penurunan jumlah ulin . doker mendiagnosa sebagai
hiperemesis gravidarum.

PENGERTIAN

Hiperemesis Gravidarum adalah kondisi mual dan muntah yang berat


selama kehamilan, yang terjadi pada 1 %-2 % dari semua kehamilan atau 1-20
pasien per 1000 kehamilan.

ETIOLOGI

Etiologi dan pathogenesis emesis Etiologi dan patogenesis emesis dan


hyperemesis gravidarum berkaitan erat dengan etiologi dan pathogenesis mual dan
muntah pada kehamilan. Penyebab pasti mual dan muntah yang dirasakan ibu
hamil belum diketahui, tetapi terdapat beberapa teori yang mengajukan
keterlibatan faktorfaktor biologis, sosial dan psikologis. Faktor biologis yang
paling berperan adalah perubahan kadar hormon selama kehamilan. Menurut teori
terbaru, peningkatan kadar human chorionic gonadotropin (hCG) akan
menginduksi ovarium untuk memproduksi estrogen, yang dapat merangsang mual
dan muntah. Perempuan dengan kehamilan ganda atau mola hidatidosa yang
diketahui memiliki kadar hCG lebih tinggi daripada perempuan hamil lain
mengalami keluhan mual dan muntah yang lebih berat (Gunawan, et. al., 2011).

Progesteron juga diduga menyebabkan mual dan muntah dengan cara


menghambat motilitas lambung dan irama kontraksi otot-otot polos lambung.
Penurunan kadar thyrotropin-stimulating hormone (TSH) pada awal kehamilan
juga berhubungan dengan hiperemesis gravidarum meskipun mekanismenya
belum jelas. Hiperemesis gravidarum merefleksikan perubahan hormonal yang
lebih drastis dibandingkan kehamilan biasa (Gunawan, et. al., 2011).

PATOFISIOLOGI

Hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan


lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tidak
sempurna terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton asetik, asam
hidroksi butirik dan aseton dalam darah. Kekurangan volume cairan yang
diminum dan kehilangan karena muntah menyebankan dehidrasi sehingga cairan
ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan khlorida air kemih turun. Selain
itu jug adapt menyebabkan hemokonsentrasi sehingga aliran darah berkurang.

Patofisiologi hiperemesis gravidarum dapat disebabkan karena


peningkatan Hormone Chorionic Gonodhotropin (HCG) dapat menjadi faktor
mual dan muntah. Peningkatan kadar hormon progesteron menyebabkan otot
polos pada sistem gastrointestinal mengalami relaksasi sehingga motilitas
menurun dan lambung menjadi kosong. Hiperemesis gravidarum yang merupakan
komplikasi ibu hamil muda bila terjadi terus menerus dapat mengakibatkan
dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, serta dapat mengakibatkan cadangan
karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi(Winkjosastro, 2007).

GEJALA
Gambaran gejala hiperemesis gravidarum secara klinis dapat dibagi
menjadi tiga tingkat yaitu:

(1) hiperemesis gravidarum tingkat pertama, dengan gejala muntah berlangsung


terus, makan berkurang, berat badan menurun, kulit dehidrasi, tonus kulit lemah,
nyeri daerah epigastrium, tekanan darah menurun dan nadi meningkat, lidah
kering, mata nampak cekung;

(2) hiperemesis gravidarum tingkat dua, gejalanya penderita tampak lebih lemah,
gejala dehidrasi makin nampak, mata cekung, turgor kulit makin kurang, lidah
kering dan kotor, tekanan darah turun dan nadi meningkat, berat badan makin
menurun, mata ikterik, gejala hemokonsentrasi makin nampak, urine berkurang,
badan aseton dalam urine meningkat, terjadinya gangguan buang air besar, mulai
tampak gejala gangguan kesadaran (menjadi apatis), nafas berbau aseton;

(3) hiperemesis gravidarum tingkat tiga, ditandai dengan gejala muntah


berkurang, keadaan umum semakin menurun, tekanan darah turun, nadi
meningkat, suhu naik, keadaan dehidrasi semakin jelas, gangguan faal hati terjadi
dengan manifestasi ikterus, gangguan kesadaran umum dalam bentuk, samnolen
sampai koma, komplikasi susunan saraf pusat (enselofati Wernicke), nistagmus-
perubahan ke arah bola mata, diplopia-gambar tampak ganda dan perubahan
mental (Manuaba, 1998). Penurunan nafsu badan yang dirasakan oleh wanita yang
mengalami hiperemesis gravidarum berkaitan dengan peningkatan kadar hormon
pada arena posterma, suatu organ circumventricular pada bagian dasar ventricle
keempat yang terlatak di luar penghalang otak darah (blood-brain barrier)
(Whitehead, et al., 1992 dalam Wesson, 2002). Area ini biasa dikenal sebagai zona
pemicu chemoreceptor (chemoreceptor trigger zone), yang tidak hanya mencakup
muntah, tetapi juga perubahan selera makan,efek hilangnya selera makan
(anorexic), keseimbangan energi dan fungsi-fungsi lainnya (Borison, 1989 dalam
Wesson, 2002).

Pada minggu-minggu kehamilan pertama pada sebagian wanita hamil


merasakan seperti memakan logam yang sudah lama, rasa ini akan merusak rasa
makanan dan mengganggu bagi wanita yang mengalami gejala mual muntah
sedang sampai berat (OBrien & Naber, 1995 dalam Wesson, 2002). Salah satu
partisipan dari penelitian yang dilakukan oleh OBrien & Zhou (1992, dalam
Wesson, 2002) menyatakan bahwa ia merasa seperti mendapatkan rasa logam
yang benar-benar ada dalam mulutnya dan tidak bisa hilang sehingga bahkan
membuat minum air menjadi sangat tidak menyenangkan.

Ptyalisme, atau air liur yang berlebih sering menyertai hiperemesis


gravidarum dan beberapa wanita membutuhkan tempat untuk menampung air liur
mereka tersebut (Gardner, 1997). Ptyialisme (kelebihan ludah) pada ibu hamil
terjadi sejak usia gestasi 8 minggu dan biasanya disebabkan oleh hormon
kehamilan (Bennet & Brown, 1999). Prawihardjo (1997) menyatakan bahwa
ptyalisme terjadi karena ketidaksanggupan wanita tersebut menelan air ludahnya
sebagai akibat dari mual. Pada awal kehamilan, tubuh akan memproduksi
sejumlah progesteron dan estrogen yang cenderung melemaskan semua jaringan
otot halus di seluruh tubuh, termasuk saluran pencernaan. Akibatnya kadang-
kadang makanan berjalan lambat di dalam sistem pencernaan, sehingga perut
terasa kembung dan panas. Rasa panas di perut akibat melemasnya cincin otot
yang memisahkan kerongkongan dengan lambung. Akibatnya, makanan dan
cairan yang keras serta asam dapat masuk ke kerongkongan dari lambung. Asam
lambung ini merangsang dinding kerongkongan yang peka sehingga
menyebabkan rasa panas. Untuk menghindarinya usahakan makan sedikit-sedikit
tapi sering. Hindari posisi membungkuk dengan melekukkan pinggang (OBrien
& Naber 1992, dalam Tiran 2008). Kaltenbach (1891, dalam Wesson, 2002)
menyatakan bahwa para wanita yang mengalami penyakit kehamilan tingkat
berat, yaitu hiperemeses gravidarum, secara tidak wajar dan secara simbolik
mengalami atau mengungkapkan perasaan benci mereka terhadap kehamilan dan
kebencian terhadap suami dan bayi yang mereka kandung dan menganggapnya
sebagai suatu emosi yang kuat. Hal ini terjadi karena pergolakan hormon, hampir
semua wanita hamil secara emosional labil dan cenderung goyah (Stoppard,
2007).
Williams (2006) menyatakan bahwa pada awal kehamilan, sebagian besar
wanita mengeluh kelelahan dan ingin tidur terus menerus. Keadaan ini biasanya
mereda dengan sendirinya pada bulan keempat kehamilan dan tidak memiliki
makna tertentu. Hal ini mungkin disebabkan oleh efek mengantuk yang
ditimbulkan oleh progesterone. Wesson (2002) menyatakan bahwa wanita yang
megalami tingkat lelah yang paling tinggi adalah wanita yang mengalami
hiperemesis gravidarum.

FAKTOR RESIKO

Beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan hiperemesis gravidarum


antara lain hiperemesis gravidarum pada kehamilan sebelumnya, berat badan
berlebih, kehamilan multipel, penyakit trofoblastik, nuliparitas dan merokok

BIOKIMIA KLINIK

Biokimia Klinik Hiperemesis Gravidarum

1. Urinalisis
Urinalisis dilakukan untuk melihat keberadaan keton dan gravitasi spesifik yang
keduanya merupakan tanda starvasi, keton daapt berbahaya bagi perkembangan
fetus. Gravitas I spesifik yang tinggi menandakan deplesi volum.
2. Elektrolit serum dan keton
Pemeriksaan in bertujuan untuk menilai status elektrolit untuk mengevaluasi
kadar rendah kalium dan natrium, mengidentifikasi hyperchloremic asidosis atau
alkalosis dn mengevaluasi fungsi ginjal.
3. Enzim hati dan bilirubin
Peningkatan kadar dapat terjadi sekitar 50% pasien dengan hyperemesis
gravidarum. Trasaminitis ringan dapat teratasi jika gejala mual teratasi.
Peningkatan kadar enzim secara signifikan dapat menandakan kondisi penyakit
tertentu.
4. Amilase/Lipase
Kadar amylase mengalami peningkatan kira-kira pada 10% pasien dengan
hiperemesisi gravidarum. Lipase ketik dikombinasi dengann amylase dapat
meningkatan spesifisitas diagnosis pankreatitis sebagai etiologinya.
5. TSH, thyroxine bebas; Hieremesis gravidarum sering kali berhubungan dengan
hipertirodisme dan penekanan kadar TSH pada ampor 50 60% kasus.
6. Urine culture
Dilakukan untuk mengetahui adanya infeksi saluran kemih pada kehamilan.
7. Tingkat kalsium
8. Hematokrit (Oguyemi ,2015)

TERAPI FARMAKOLOGI

Pada emesis gravidarum, obat-obatan diberikan apabila perubahan pola makan


tidak mengurangi gejala, sedangkan pada hiperemesis gravidarum, obat-obatan diberikan
setelah rehidrasi dan kondisi hemodinamik stabil (Niebyl, 2010). Pemberian obat secara
intravena dipertimbangkan jika toleransi oral pasien buruk (Ogunyemi, 2010). Obat-
obatan yang digunakan antara lain adalah vitamin B6 (piridoksin), antihistamin dan agen-
agen prokinetik. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG)
merekomendasikan 10 mg piridoksin ditambah 12,5 mg doxylamine per oral setiap 8 jam
sebagai farmakoterapi lini pertama yang aman dan efektif (ACOG, 2004). Dalam sebuah
randomized trial, kombinasi piridoksin dan doxylamine terbukti menurunkan 70% mual
dan muntah dalam kehamilan. Suplementasi dengan tiamin dapat dilakukan untuk
mencegah terjadinya komplikasi berat hiperemesis, yaitu Wernickes encephalopathy.
Komplikasi ini jarang terjadi, tetapi perlu diwaspadai jika terdapat muntah berat yang
disertai dengan gejala okular, seperti perdarahan retina atau hambatan gerakan
ekstraokular (Koren, 2004).

Antiemetik konvensional, seperti fenotiazin dan benzamin, telah terbukti efektif


dan aman bagi ibu. Antiemetik seperti proklorperazin, prometazin, klorpromazin
menyembuhkan mual dan muntah dengan cara menghambat postsynaptic mesolimbic
dopamine receptors melalui efek antikolinergik dan penekanan reticular activating
system. Obat- obatan tersebut dikontraindikasikan terhadap pasien dengan
hipersensitivitas terhadap golongan fenotiazin, penyakit kardiovaskuler berat, penurunan
kesadaran berat, depresi sistem saraf pusat, kejang yang tidak terkendali, dan glaukoma
sudut tertutup. Namun, hanya didapatkan sedikit informasi mengenai efek terapi
antiemetik terhadap janin (ACOG, 2004).

Fenotiazin atau metoklopramid diberikan jika pengobatan dengan antihistamin


gagal. Prochlorperazine juga tersedia dalam sediaan tablet bukal dengan efek samping
sedasi yang lebih kecil. Dalam sebuah randomized trial, metoklopramid dan prometazin
intravena memiliki efektivitas yang sama untuk mengatasi hiperemesis, tetapi
metoklopramid memiliki efek samping mengantuk dan pusing yang lebih ringan (Bsat,
2003).

Obat-obat yang dapat digunakan untuk tatalaksana pemeriksaan


elektrokardiografi sebelum, selama dan tiga jam hiperemesis gravidarum dapat dilihat
pada Tabel 2

Tabel 2. Obat-obatan untuk Tata Laksana Mual dan Muntah dalam Kehamilan
(Niebyl, 2010)

FDA kepanjangan dari Food and Drug Administration. Kategori obat menurut FDA
adalah sebagai berikut: A, berdasarkan studi kontrol tidak didapatkan risiko; B, tidak
terbukti berisiko untuk manusia; C, risiko tidak dapat disingkirkan; D, terbuki berisiko;
dan X, kontraindikasi pada kehamilan

Agen Dosis Oral Efek Sedang Keteranga


Kategor n
i
Obat
(FDA)
Vitamin B6 10-25 mg setiap 8 jam A Vitamin B6 atau
(piridoksin) kombinasi vitamin
B6-antihistamin
direkomendasikan
sebagai terapi lini
pertama.
Kombinasi Piridoksin, 10-25 mg Sedasi A
vitamin setiap 8 jam; doxy-
B6-doxylamine lamine, 25 mg
sebelum tidur, 12,5
mg pada pagi hari jika
dibutuhkan ditambah
12,5 mg pada siang
hari jika dibutuhkan

Antihistamin Sedasi
Doxylamine 12,5-25 mg setiap 8 A
jam
Diphenhydrami 25-50 mg setiap 8 jam B
ne
Meclizine 25 mg setiap jam B
Hydroxyzine 50 mg setiap 4-6 jam C
Dimenhydrinate 50-100 mg setiap 4-6 B
jam
Phenothiazine Gejala
ekstrapiramidal,
sedasi
Promethazine 25 mg setiap 4-6 jam C Kerusakan jaringan
berat dengan
pemberian intravena;
lebih disarankan
pemberian oral,
rectal, atau
intramuskular
Prochlorperazin 5-10 mg setiap 6 jam C
e
Antagonis Pemberian obat lebih
dopamine Tardive dari 12 minggu
10 mg setiap 6 jam B
Metoclopramide dyskinesia meningkatkan risiko
Tardive dyskinesia
Antagonis Konstipasi, diare,
reseptor
serotonin sakit kepala,
fatigue
Ondansetron 4-8 mg setiap jam B
Glukokortikoid 16 mg setiap 8 jam Sedikit C Jangan digunakan
Metilprednison selama 3 hari, kemu- meningkat- sebelum usia gestasi
10 ming-
dian dosis diturunkan kan risiko bibir gu; durasi maksimum
selama 2 minggu sum- terapi 6 minggu
untuk
bing jika membatasi efek
digunakan samping serius
sebelum 10
minggu usia
gestasi
Ekstrak jahe 125-250 mg setiap jam Refluks, C
heartburn
Algoritma Terapi Farmakologi

Inisiasi tata laksana dengan vitamin


B6

Tambahkan doxylamine

Substitusi doxylamine dengan


promethazineatau dimenhydrinate

Tanpa dehidrasi Dehidrasi

Penggantian cairan intravena

Tambahkan metoclopramide Tambahkan metoclopramide


atau atau
trimethobenzamide ondansetron intravena
atau atau
ondansetron promethazine intramuscular

Tambahkan metilprednisolon
setelah 10 minggu usia gestasi

Gambar 1. Algoritme Terapi Farmakologi untuk Mual dan Muntah dalam Kehamilan
(Niebyl, 2010)

TERAPI NON FARMAKOLOGI

1. Minum Air Hangat Cukup

Frekuensi muntah yang sering bisa menyebabkan ibu hamil


kekurangan cairan. Oleh sebab itu ibu hamil harus bisa mengganti
cairan yang hilang dengan cara mengkonsumsi air putih yang
cukup. Air putih hangat bisa dipilih bagi ibu hamil yang merasakan
mual dan muntah. Air hangat bisa dijadikan sebagai penetralisir
dikarenakan rasa hangatnya bisa lebih diterima oleh usus
dibandingkan dengan air putih dingin atau es (Gunawan dkk, 2011).

2. Terapi akupunktur
Terapi akupuntur untuk meredakan gejala mual dan muntah masih
dilakukan penelitian lebih lanjut. Penggunaan acupressure pada titik
akupuntur Neiguan P6 di pergelangan lengan menunjukkan hasil
yang tidak konsisten dan penelitiannya masih terbatas karena
kurangnya uji yang tersamar. Dalam sebuah studi yang besar
didapatkan tidak terdapat efek yang menguntungkan dari
penggunaan acupressure, namun The Systematic Cochrane Review
mendukung penggunaan stimulasi akupunktur P6 pada pasien
tanpa profilaksis antiemetik. Stimulasi ini dapat mengurangi risiko
mual. Terapi stimulasi saraf tingkat rendah pada aspek volar
pergelangan tangan juga dapat menurunkan mual dan muntah
serta merangsang kenaikan berat badan (Gunawan dkk, 2011).

3. Menghirup Udara Pagi

Udara pagi bisa bermanfaat untuk menghilangkan rasa mual. Saat mencium
udara segar di pagi hari, tubuh ibu hamil akan rileks. Saat rileks itulah, syaraf
otak akan bekerja untuk menghilangkan rasa mual. Otak adalah sistem syaraf
pusat yang membawahi sistem syaraf yang ada di bawahnya termasuk usus
dan organ-organ lainnya (Gunawan dkk, 2011).

4. Olahraga
Ibu hamil muda juga harus olahraga. Olahraga untuk ibu hamil yang bisa
dilakukan adalah olahraga dengan gerakan ringan. Jalan-jalan di pagi hari bisa
menghilangkan rasa mual pada ibu hamil (Gunawan dkk, 2011).

5. Hindari Stress

Stress bisa membuat ibu hamil cepat mual dan muntah. Penyebabnya adalah :

Saat stress, mental dan psikis ibu hamil terganggu.

Psikis yang terganggu bisa membuat ibu hamil mudah mengalami lelah.

Lelah bisa membuat ibu hamil cepat merasakan mual.

Psikis yang kacau dan terganggu akan berpengaruh pada syarat otak.

Syaraf otak akan tegang dan berpengaruh pada sistem syaraf yang
dibawahinya termasuk syaraf perut dan usus.

(Gunawan dkk, 2011).

6. Hindari Bau Menyengat

Bau menyengat bisa menimbulkan rasa mual, oleh sebab itu menghindari bau
menyengat bisa menjadi salah satu cara untuk penghilang rasa mual bagi ibu
hamil. Ibu hamil akan mudah mual saat mencium bau-bauan berikut ini :

- Bau masakan. Bau masakan yang menusuk hidung seperti bau nasi baru
mau matang, bau masakan terasi, bau bumbu yang ditumis dan masih
banyak lagi lainnya.
- Bau bensin, Bau solar

- Bau keringat manusia di tempat keramaian.

- Bau chemical bahan kimia misalnya pembersih lantai, pembersih kaca dan
detergent.

- Asap knalpot, Asap pabrik, Limbah pabrik

(Gunawan dkk, 2011).

7. Jauhi Makanan Penambah Rasa Mual

Ibu hamil sebaiknya menjauhi dan tidak mengkonsumsi makanan yang bisa
menyebabkan rasa mualnya datang dan semakin menjadi. Makanan itu selain
membuat mual bertambah, ada efek lain yang bisa ditimbulkan bagi ibu
hamil. Makanan yang tidak boleh dimakan bagi ibu hamil agar tidak mual
adalah sebagai berikut ini :

Makanan lemak tinggi. Makanan ini tidak bisa dikonsumsi karena


kandungan lemak jahatnya bisa menimbulkan rasa mual pada ibu hamil.

Makanan berminyak. Makanan dengan minyak tinggi seperti gorengan


akan meninggalkan sisa minyak di lidah dan di usus. Minyak tidak dapat
diuraikan oleh usus akaibatnya adalah rasa mual akan timbul setelah
mengkonsumsi makanan tersebut.

Makanan pedas. Pedas akan membuat rasa mual pada ibu hamil, terutama
ibu hamil yang memiliki asam lambung. Makanan pedas bisa memicu
meningkatnya kadar asam lambung di dalam lambung. Saat asam lambung
naik, ibu hamil akan merasakan mual. Oleh karena itu, makanan pedas
merupakan salah satu pantangan makanan ibu hamil yang perlu anda
waspadai.

(Gunawan dkk, 2011)

TERAPI HERBAL

1. Jahe
Penelitian Prof. Caroline Smith pada journal of Obsetri and Ginaekology.
menyatakan bahwa gingerol (senyawa aktif dalam jahe) dapat
memblok serotin yakni senyawa kimia yang menyebabkan perut
berkontraksi sehingga menimbulkan perasaan mual muntah yang
dialami ibu hamil muda. Selain itu gingerol dari jahe berkhasiat
mengendurkan dan melemahkan otot-otot pada saluran
pencernaan sehingga mual muntah banyak berkurang dan minyak
terbang (minyak atsiri) yang terkandung dari jahe dapat
menyegarkan dan memblokir reflek muntah (Smith, 2005).

2. Daun peppermint
Peppermint memiliki khasiat untuk mengatasi mual dan muntah
pada ibu hamil. Hal ini dikarenakan kandungan menthol (50%) dan
methone (10-30%) yang
tinggi (Smith, 2005).

KONSELING

1. Info obat
A. Obat yang digunakan adalah obat kombinasi yaitu Vitamin B6 (Pyridoxini
HCl)- Doxylamine, dengan dosis Vitamin B6 10 mg dan dosis Doxylamine
yang digunakan adalah 12,5 mg.

Untuk aturan pakai : digunakan peroral setiap 8 jam yaitu tiga kali sehari pada
pagi hari, siang hari dan sebelum tidur.

Efek Samping : Sedasi dan rasa mengantuk.

B. Terapi alternatif yang biasa digunakan adalah penggunaan jahe, peppermint,


dan daun raspberry. Jahe memiliki keuntungan sebagai sebuah terapi alternatif
untuk penatalaksanaan variasi mual dan muntah dalam kehamilan. Dosis yang
biasa digunakan untuk jahe adalah 1-2 gr/hari peroral 3-4 dibagi perdosis
selama 3 minggu

2. Nutrisi yang dianjurkan


a. Rekomendasi umum yang dapat dipilih adalah makan makanan lunak dan
manis, tinggi karbohidrat, rendah lemak, menghindari makanan berbau
menyengat, dan tidak mengkonsumsi tablet besi
b. makan dalam porsi kecil tapi sering setiap 2 sampai 3 jam, minum minuman
mengandung gas diantara makanan lebih baik daripada dengan makanan
untuk menghindari distensi lambung: makan rendah lemak, tinggi protein,
menghindari makanan berminyak dan makanan asin untuk rasa.
c. Menganjurkan mengubah makan sehari-hari dan
makanan dalam jumlah kecil, tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau
biskuit dengan teh hangat. Makanan yang berminyak dan berbau lemak
sebaiknya dihindarkan.
d. .Minum air hangat cukup , frekuensi muntah yang sering bisa menyebabkan
ibu hamil kekurangan cairan. Oleh sebab itu, ibu hamil harus bisa mengganti
cairan yang hilang dengan cara mengonsumsi air putih yang cukup. Air putih
hangat bisa dipilih bagi ibu hamil yang merasakan mual dan muntah.

3. Hal- Hal yang perlu diperhatikan


a. Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan
jalan memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu
proses yang fisiologik,
b. memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang
muntah merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan
hilang setelah kehamilan 4 bulan,
c. Defekasi yang teratur hendaknya dapat dijamin
d. Meningkatkan waktu istirahat, jalan-jalan mencari udara segar, menghindari
gerak yang tiba-tiba, dan berdiri sesaat setelah makan akan mengurangi
muntah.
e. Ibu hamil muda juga harus olahraga. Olahraga untuk ibu hamil yang bisa
dilakukan adalah olahraga dengan gerakan ringan.
f. Hindari stress, stress bisa membuat ibu hamil cepat mual dan muntah,
penyebab nya adalah : saat stress, mental dan psikis ibu hamil terganggu,
psikis yang terganggu bisa membuat ibu hamil mudah mengalami lelah, lelah
bisa membuat ibu hamil cepat merasakan mual, psikis yang kacau dan
terganggu akan berpengaruh pada syaraf otak. Syaraf otak akan tegang dan
berpengaruh pada sistem syaraf yang dibawahnya termasuk syaraf perut dan
usus.
g. Hindari bau menyengat yang bisa menimbulkan rasa mual, seperti : bau
masakan, bau bensin, bau solar, bau keringat manusia di tempat keramaian,
asap knalpot, asap pabrik dan limbah pabrik.

DAFTAR PUSTAKA

ACOG Practice Bulletin: Nausea and Vomiting of Pregnancy. Obstet Gynecol.


2004;103(2):803-14.
Bennet, V. R., Brown, L. K. (1999). Miles Textbook of Midwives.
Toronto: Churchill
Livingstone.
Bsat FA, Hoffman DE, Seubert DE. Comparison of three out patient regimens in the
management of nausea and vomiting in pregnancy. J Perinatol. 2003;23:531-5.
Colquitt, J.A., Conlon, D.E., Wesson, M.J., Porter, C. & Ng, K.Y. 2002. Justice
at the
millennium: a meta-analytic review of 25 years of organizational
justice research. Journal of Applied Psychology, 86(3); 425-445.
Koren G, Maltepe C. Pre-emptive therapy for severe nausea and vomiting of pregnancy and
hyperemesis gravidarum. J Obstet Gynaecol. 2004;24:530-3.

Gunawan, K., Manengkei, P.S.K., Ocviyanti, D. 2011. Diagnosis dan Tata Laksana
Hiperemesis Gravidarum. Jurnal Indonesi Medication Association Volume:
61, Nomor : 11. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Niebyl JR. Nausea and vomiting in pregnancy. N Engl J Med. 2010;363:1544-50.
Oguyemi, D. A. 2015. Hyperemesis Gravidarum Work Up. Online available at
http://www.emedicine.medscape.com/article/254751-workup. [Accessed December
11th].
Smith, C. 2005. journal of Obsetri and Ginaekology. Australia : The National
Institute of
Complementary Medicine
Winkjosastro, Hanifah. 2007. ilmu kebidanan. jakarta : yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.