Anda di halaman 1dari 2

Regulasi Ekspresi Gen Posttranscriptional oleh RNA interference

RNAs noncoding dapat meregulasi ekspresi pada gen eukariotik melalui interaksi dengan
messenger RNAs yang dihasilkan oleh gen tersebut.

Meskipun banyak regulasi gen pada eukariotik terjadi pada tingkat transkripsi, penelitian terbaru
telah menunjukkan bahwa mekasinme posttranscriptional juga memerankan peran penting dalam
mengatur ekspresi gen pada eukariotik. Beberapa mekanisme ini melibatkan RNAs noncoding.
Atas dasar pasangan dengan sequences target pada molekul messenger RNA, small RNAs ini
yang mengganggu ekspresi gen. oleh karena itu, tipe regulasi gen posttranscriptional disebut
RNA interference, sering disingkat RNAi. Sebagian besar jenis organisme eukariotik memiliki
RNAi. Diantara model organisme genetic, fenomena ini telah diteliti pada nematoda
Caenorhabditis elegans, pada Drosophila, dan pada Arabidopsis. Hal ini juga terdapat pada
mamalia, termasuk manusia. Kapasitas yang besar pada organisme eukariotik untuk meregulasi
ekspresi gen oleh RNAi memungkinkan para ahli genetika untuk menganalisis fungsi gen pada
organisme yang tidak setuju dengan pendekatan genetika standar.

JALUR RNAi

Fenomena RNA interference (gambar 19.8) melibatkan molekul RNA kecil yang disebut
short interfering RNAs (siRNAs) atau microRNAs (miRNAs). Molekul tersebut memiliki
panjang 21 sampai 28 pasangan basa, yang dihasilkan dari molekul RNA untai ganda oleh reaksi
enzimatik dari untai ganda RNA-specific endonuclease. Karena endonuclease ini dice/dadu
RNA besar menjadi potongan-potongan kecil, sehingga disebut Dicer enzim. Pada nematoda
Caenorhabditis elegans menghasilkan satu jenis Dicer enzim; pada Drosophila menghasilkan
dua Dicer enzim yang berbeda; dan pada Arabidopsis menghasilkan setidaknya tiga Dicer enzim.
Dalam C. elegans dan Drosophila, enzim ini bertindak dalam sitoplasma; di Arabidopsis,
mungkin bertindak dalam nukleus. siRNAs dan miRNAs dihasilkan oleh aktivitas seluruh
panjang pasangan basa Dicer enzim kecuali 3 bagian terakhir, dimana terdapat da nukleotida
yang tidak berpasangan.

Pada sitoplasma, siRNAs dan miRNAs menjadi bergabung ke dalam partikel


ribonukleoprotein. Untai ganda siRNA atau miRNA pada partikel ini dilepaskan, dan salah satu
untai istimewanyanya dieliminasi. Untai tunggal RNA yang tetap bertahan kemudian mampu
berinteraksi dengan molekul RNA messenger tertentu. Interaksi ini dimediasi oleh pasangan basa
antara RNA untai tunggal pada kompleks RNA-protein dan urutan komplementer pada molekul
RNA messenger. Kerena interaksi ini mencegah ekspresi gen yang menghasilkan mRNA.
Partikel RNA-protein ini disebut RNA-Induced Peredam Complex (RISC).
RISCs dari organisme yang berbeda variasinya dalam hal ukuran dan komposisi. Namun,
semuanya mengandung setidaknya satu molekul dari whimsically yang bernama protein
Argonaute family. Fungsi dari protein-protein tidak sepenuhnya dipahami. Setiap kali pasangan
basa antara RNA dalam RISC dan sequence target pada mRNA sempurna atau hampir jadi, RISC
yang membelah target mRNA di tengah-tengah area pasangan basa. mRNA yang dibelah
kemudian terdegradasi. Setelah pembelahan, RISC bersatu dengan molekul lain dari mRNA dan
menginduksi pembelahannya sendiri. Karena RISC dapat digunakan berulang kali tanpa
kehilangan kemampuannya untuk menargetkan dan membelah mRNA. Berperan sebagai katalis.
RISC bergabung dengan RNAs menghasilkan pembelahan mRNA yang biasanya disebut short
interfering RNAs. Setiap RNA menghasilkan pasangan RISC yang tidak sempurna dengan
sequence target, mRNA biasanya tidak dibelah, sebaliknya, translasi mRNA menjadi terhambat.
RISC bergabung dengan RNAs yang dapat memberikan dampak disebut microRNAs. Pada
hewan, sequence target oleh RISCs ditemukan pada 3 area yang tidak ditranslasi dari molekul
mRNA, dan sering terdapat (hadir) pada beberapa kali dalam 3 area yang tidak ditranslasi
(UTR). Pada tumbuhan, sequence target oleh RISCs biasanya terletak dalam area pengkode
mRNA, atau dalam mRNAs 5 UTR.