Anda di halaman 1dari 10

Sindroma Stevens Johnson Akibat Alergi Obat

Abstrak
Erupsi obat dapat terjadi akibat pemakaian obat dan berkisar antara erupsi ringan
sampai erupsi berat yang mengancam jiwa manusia. Obat makin lama makin banyak
digunakan oleh masyarakat, sehingga reaksi terhadap obat juga meningkat yaitu reaksi
simpang obat (adverse drug reaction) atau R.S.O. Sindrom Stevens Johnson (SSJ) termasuk
dalam reaksi alergi obat dengan gambaran lesi pada mukosa dan orifsum. Hal tersebut dapat
ditegakan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang tetapi gambaran
seperti itu juga di temukan pada Nerkrosis Epidermal Toksik (NET) dan Staphylococcus
Scaled Skin Syndrome (SSSS). SSJ juga dapat mengakibatkan berbagai komplikasi tetapi
apabila hal tersebut dapat ditangai dengan cepat dan tepat maka prognosisnya menjadi baik.
Kata kunci: Stevens Johnson Syndrom, Obat

Abstract
Drug eruptions may occur due to the use of drugs and ranged from mild eruption to
eruption of severe life-threatening human. Drugs are increasingly widely used by the public,
so that the reaction to the drug also increases ie adverse drug reactions (adverse drug
reactions) or RSO Stevens Johnson Syndrome (SSJ) is included in the drug allergic reaction
to the image of the mucosal lesions and orifsum. This can be enforced by history, physical
examination and investigations but that description is also found on Toxic Epidermal
Nerkrosis (NET) and Staphylococcus Scaled Skin Syndrome (SSSS). SSJ also can lead to
various complications, but if it could ditangai quickly and precisely into a good prognosis.
Keywords: Stevens Johnson Syndrome, Drug

Pendahuluan
Erupsi obat dapat terjadi akibat pemakaian obat, yaitu obat yang diberikan oleh dokter
dalam resep, atau obat yang dijual bebas, termasuk dalam campuran jamu-jamuan. Yang
dimaksud dengan obat ialah zat yang dipakai untuk menegakan diagnosis, profilaksis, dan
pengobatan. Pemberian secara topikal dapat pula menyebabkan alergi sistemik, akibat
penyerapan obat lewat kulit.1

Erupsi obat berkisar antara erupsi ringan sampai erupsi berat yang mengancam jiwa
manusia. Obat makin lama makin banyak digunakan oleh masyarakat, sehingga reaksi
terhadap obat juga meningkat yaitu reaksi simpang obat (adverse drug reaction) atau R.S.O. 1

Salah satu bentuk R.S.O adalah reaksi obat alergik (R.O.A). manifestasi reaksi obat
oleh kulit disebut erupsi obat alergik (E.O.A). satu macam obat dapat menyebabkan lebih dari
satu jenis erupsi, sedangkan satu jenis erupsi dapat disebabkan oleh bermacam-macam obat.
Obat masuk kedalam tubuh secara sistemik, berarti melalui mulut, hidung, telinga, vagina,
suntikan atau infus. Juga dapat sebagai obat kumur, obat mata, tapal gigi, dan obat topikal. 1

Sindrom Stevens Johnson termasuk dalam reaksi alergi obat. Sehingga dalam
makalah ini, akan terfokuskan terhadap kasus sindrom stevens johnson.

Dalam kasus kali ini, Anak laki-laki, 13 tahun, dirawat di RS dengan keluhan
melepuh pada kedua lengan, badan atas, bokong, dan kedua paha setelah minum obat sejak 2
hari yang lalu.

Pembahasan
Anamnesis
Anamnesis dapat dilakukan kepada pasien secara langsung apabila kondisinya
memungkinkan (auto-anamnesis), namun dapat ditanyakan pula pada orang terdekat atau
orang yang mengantar pasien ke dokter (allo-anamnesis). Sesuai dengan kasus, pertanyaan
yang diajukan dapat meliputi identitas diri, keluhan utama, sejak kapan keluahan utama
muncul, keluhan lain yang mungkin dirasakan, riwayat penyakit yang diderita saat ini,
riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, riwayat pengobatan yang sudah
dilakukan dan kondisi sosial ekonomi pasien.2
Identitas meliputi nama pasien, umur, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, alamat,
pekerjaan, suku bangsa dan agama.2
Keluhan utama adalah keluhan yang dirasakan pasien yang membawa pasien ke
dokter atau mencari pertolongan. Dalam menulis keluhan utama harus disertai dengan waktu ,
berapa lama pasien mengalami keluhan tersebut.2
Riwayat penyakit sekarang merupakan cerita kronologis, terinci dan jelas mengenai
keadaaan kesehatan pasien sejak sebelum mengalami keluhan utama tersebut samapi datang
berobat. Dalam melakukan anamnesis sebaiknya didapatkan data-data ssebagai berikut: 1)
sebelum timbul lepuh pada kedua lengan , badan atas, bokong dan kedua paha, apakah pasien
tersebut mengkonsumsi obat atau sesuatu yang dicurai sebgai pencetus lepuh tersebut. Hal
tersebut perlu ditanyakan karena sindrom Stevens Johnson biasanya disebakan alergi obat; 2)
apakah keluhan baru pertama kali atau sudah berulang kali; 3) keluhan-keluhan lain yang
menyertai keluhan utama tersebut seperti demam, lemas, mual, muntah, dan adakah
gambaran alergi.2
Riwayat penyakit keluarga penting untuk mencari kemungkinan penyakit herediter
seperti alergi.2
Riwayat kebiasaan dan ekonomi perlu ditanyakan apakah pasien mengalami kesulitan
dalam memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari dan apakah pasien memiliki kebiasaan
merokok, minum minuman berakohol dan penyalahgunaan obat-obat terlarang.2
Didapatkan hasil anamnesis dari anak tersebut adalah sebagai berikut:

Usia : 13 thn
Keluhan Utama : Melepuh pada kedua lengan, badan atas,
bokong, dan kedua paha setelah minum obat
sejak 2 hari yang lalu.

Pemeriksaan Fisik
Pada sindrom ini dapat dijumpai keadaan umumnya bervariasi dari ringan sampai
berat. Pada yang berat kesadarannya menurun, pasien dapat sampai koma. Mulainya keadaan
ini disertai gejala penyerta berupa demam tinggi, malese, nyeri kepala, batuk pilek dan nyeri
tenggorokan.1
Pada SSJ ini dapat dilakukan pemeriksaan inspeksi. Pasien akan menunjukkan trias
kelainan berupa kelainan kulit, kelainan selaput lendir di orifisum dan kelainan mata, yaitu:1
Kelainan kulit
Kelainan kulit terdiri atas eritema, vesikel dan bula. Eriema adalah kemerahan
pada kulit yang disebabkan pelebaran pembuluh darah yang revesibel sedangkan
vesikel adalah gelembung berisi cairan serum beratam dan berukuran kurang dari 0,5
cm dan bula adalah vesikel yang berukuran lebih besar. Vesikel dan bula kemudian
memecah sehingga terjadi erosi yang luas. Disamping itu juga dapat ditemukan
purpura. Pada kasus berat, lesi dapat ditemukan secara generalisata.
Kelainan selaput lendir di orifisum
Kelainan selaput lendir yang tersering adalah kelinan mukosa mulut dari pada
di orifisum genital eksterna, lubang hidung dn anus. Kelinannya berupa vesikel dan
bula yang cepat memecah sehingga terjadi erosi, ekskoriasi dan krusta kehitaman
dimukosa mulut juga dapat terbentuk pseudomembran. Di bibir kelianan yang sering
tampak ialah krusta berwarna hitam dan tebal.
Lesi di mukosa mulut dapat juga terdapat di faring, traktus respiratorius bagian
atas dan esofagus. Stomatitis dapat menyebabkan pasien sukar menelan dan kelainan
di faring membuat keluha sukar bernafas.
Kelainan mata
Kelianan mata yang tersering adalah konjungtivitis katarhalis. Selain itu juga
dapat terjadi konjungtivitus purulen, pendarahan, dan ulkus kornea. Selain itu juga
kelainan lain juga bisa ditemukan seperti nefritis dan onikolisis.
Untuk memastika kelainan yang diderita pasien perlu juga dilihat adanya
epidermolisis. Pada kasus Nekrotik Epidermolisis Toksik dapat ditemukan hal tersebut yaitu
epidermis terkelupas dari dasarnya dan kemudian menyeluruh.1
Dari hasil pemeriksaan didapatkan:
Kedua lengan, badan atas, bokong, dan kedua paha melepuh.

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
Hasil pemeriksaan laboratorium tidak khas. Jika terdapat leukositisis, penyebabnya
kemungkinan karena infeksi bakterial. Kalau terdapat eusinofilia kemungkinan karena alergi.
Jika disangka penyebabnya karena infeksi dpat dilakukan kultur darah.3

2. Pemeriksaan Histopatologi
Gambaran histopatologiknya sesuai dengan eritema multiforme, bervariasi dari
perubahan dermal yang ringan sampai nekrolisis epidermal yang menyeluruh. Kelainan
berupa:3

1. Infiltrat sel mononuklear di sekitar pembuluh darah dermis superfisial.

2. Epiderma dan ekstravasasi sel darah merah di dermis papilar.


3. Degenerasi hidropik lapisan basalis sampai terbentuk vesikel subepidermal.

4. Nekrosis sel epidermal dan kadang-kadang di adneksa.

5. Spongiosis dan ederma intra sel dan epidermis.

Diagnosis Kerja
Sindrom Stevens Johnson merupakan kelainan yang termaksuk eritema multiforme
mayor yang mengenai kulit, selaput lendir atau mukosa di orifisum dan mata serta organ-
organ tubuh lain. Penyakit ini disertai dengan keadaan umum yang bervariasi dari ringan
sampai berat. Sindrom Stevens Johnson tersebut mengancam kondisi kulit yang
mengakibatkan kematian sel-sel kulit sehingga epidermis mengelupas. Sindrom ini dianggap
sebagai hipersensitivitas kompleks yang mempengaruhi kulit dan selaput lendir.4

Diagnosis Banding
Nekrosis Epidermal Toksik (NET) merupakan bentuk keparahan dari SSJ, maka
sebaiknya dicari apakah terdapat epidermolisis. Umumnya pasien pasien berbaring, jadi
diperiksa punggungnya. Apabila terdapat epidermolisis dan keadaan umum pasien lebih
buruk daripada SSJ. Pada stadium dini NET tampak vakuolisasi dan nekrosis sesl-sel basal
sepenjang perbatasan dermal-epidermal. Sel radang di dermis hanya sedikit terdiri atas
limfohistiosit. Pada lesi yang telah lanjut terdapat nekrosis eosinofilik sel epidermis dengan
pembentukan lepuh seb-epidermal. Epidermolisis yaitu epidermis terlepas dari dasarnya yang
kemudian menyeluruh. Adanya epidermolisis tersebut menyebabkan tanda Nikolsky positif
pada kulit yang eritematosa, yaitu jika kulit ditekan dan digeser, maka kulit kan terkelupas.
Epidermolisis mudah dilihat pada tempat yang sering terkena tekanan. Pada sebagian pasien,
kelainan kulit hanya berupa epidemolisis dan purpura, tanpa disertai erosi, vesikel, dan bula.4

Diagnosis banding lainnya adalah Staphyloccocal Scalded Skin Syndrome (SSSS).


Kelainan ini umumya menyerang usia yang lebih muda. Anak-anak merupakan faktor resiko
pada SSSS karena kekurangan imunitas dan kemampuan renal imatur dalam pembersihan
toksin. Antibodi maternal dapat ditransfer kepada infant melalui ASI tetapi SSSS masih dapat
terjadi karena indadekuat imunitas dan imatur ginjal. SSSS merupakan keadaan kulit yang
melepuh yang siebabkan oleh toksin dari Staphyloccocus yang menyebar keseluruh tubuh.4

Etiologi
Penyebab SJS belum diketahui dengan pasti. Penyakit ini merupakan eritema
multiforme berat. Salah satu penyebabnya alergi obat secara sistemik, infeksi, neoplasma,
pasca vaksinasi, radiasi dan makanan. Obat-obatan yang dapat menimbulkan SJS adalah
penilisin, streptomisin, sulfonamide, tetrasiklin, jamu, antipiretik/ analgetik (derivat salisil).
Adapun infeksi umumnya ditimbulkan oleh bakteri, virus, jamur, parasit, pasca vaksinasi,
radiasi, dan makanan.1

Patofisologi

Patogenesis kelainan ini belum diketahui dengan jelas. Diduga terjadinya kelainan ini
diperankan oleh reaksi alergi tipe III dan tipe IV. Reaksi tipe III terjadi akibat terbentuknya
kompleks antigen-antibodi yang nantinya akan mengaktivkan sistem komplemen akibat
adanya akumulasi sel neutrofil yang melepaskan lisozim yang menyebabkan kerusakan
jaringan. Reaksi tipe IV terjadi akibat sel limfosit T yang telah tersesititasi dan menimbulkan
kontak ulang dengan antigen yang sama, lalu sel T tersebut melepaskan limfokin dan
menimbulkan reaksi peradangan. Oleh karena proses hipersensitivitas, maka terjadi
kerusakan kulit sehingga terjadi: 1) kegagalan fungsi kulit yang mengakibatkan terjadinya
kehilangan cairan; 2) kegagalan termoregulasi; 3) kegagalan fungsi imun; 4) infeksi.4

Epidemoligi
Insidens SSJ diperkirakan 2-3% per juta populasi setiap tahun di Eropa dan Amerika
Serikat. Umumnya terdapat pada dewasa. Hal tersebut berhubungan dengan alergi obat.1]

Gejala Klinis
Gejala prodomal berkisar antara 1-14 hari berupa demam, lemas, batuk, pilek, nyeri
menelan, nyeri dada, muntah, dan pegal otot yang bervariasi dalam derajat berat. Selain itu
akan timbul lesi di:1
Kulit: berupa eritema, papel, vesikel, atau bula secara simetris pada hampir seluruh
tubuh. Bila bula kurang dari 10% disebut Sindroma Stevens Johnson, 10%-30%
disebut Sindroma Stevens Johnson-Nekrosis Epidermal Toksik (SSJ-NET), lebih dari
30% disebut Nekrosis Epiderma Toksik (NET).
Mukosa (Mulut, tenggorokan dan genital): berupa vesikel, bula, erosi, ekskoriasi,
pendarahan dan krusta berwarna merah.
Mata: berupa konjungtivitis kataralis, iritis, kelopak mata udema dan sulit dibuka,
pada kasus berat terjadi erosi dan perforasi kornea.
Gambar 1. Lesi pada Sindroma Stevens Johnson.
Komplikasi
Komplikasi yang tersering ialah bronkopneunomia yang didapati sejumlah 16 %
diantara seluruh kasus yang ada. Komplikasi yang lain ialah kehilangan cairan atau darah,
gangguan keseimbangan elektrolit dan syok. Pada mata dapat terjadi kebutaan karena
gangguan lakrimasi.1

Penatalaksanaan
1. Kortikosteroid
Bila keadaan umum baik dan lesi tidak menyeluruh cukup diobati dengan prednisone
30-40 mg sehari. Namun bila keadaan umumnya buruk dan lesi menyeluruh harus diobati
secara tepat dan cepat. Kortikosteroid merupakan tindakan file-saving dan digunakan
deksametason intravena dengan dosis permulaan 4-6 x 5 mg sehari. Umumnya masa kritis
diatasi dalam beberapa hari. Pasien steven-Johnson berat harus segera dirawat dan
diberikan deksametason 65 mg intravena. Setelah masa krisis teratasi, keadaan umum
membaik, tidak timbul lesi baru, lesi lama mengalami involusi, dosis diturunkan secara
cepat, setiap hari diturunkan 5 mg. Setelah dosis mencapai 5 mg sehari, deksametason
intravena diganti dengan tablet kortikosteroid, misalnya prednisone yang diberikan
keesokan harinya dengan dosis 20 mg sehari, sehari kemudian diturunkan lagi menjadi 10
mg kemudian obat tersebut dihentikan. Lama pengobatan kira-kira 10 hari. Seminggu
setelah pemberian kortikosteroid dilakukan pemeriksaan elektrolit (K, Na dan Cl). Bila
ada gangguan harus diatasi, misalnya bila terjadi hipokalemia diberikan KCL 3 x 500
mg/hari dan diet rendah garam bila terjadi hipermatremia. Untuk mengatasi efek katabolik
dari kortikosteroid diberikan diet tinggi protein/anabolik seperti nandrolok dekanoat dan
nanadrolon. Fenilpropionat dosis 25-50 mg untuk dewasa (dosis untuk anak tergantung
berat badan).5
2. Antibiotik
Untuk mencegah terjadinya infeksi misalnya bronkopneumonia yang dapat
menyebabkan kematian, dapat diberi antibiotic yang jarang menyebabkan alergi,
berspektrum luas dan bersifat bakteriosidal misalnya gentamisin dengan dosis 2 x 80 mg.5
3. Infus dan tranfusi darah
Pengaturan keseimbangan cairan/elektrolit dan nutrisi penting karena pasien sukar
atau tidak dapat menelan akibat lesi dimulut dan tenggorokan serta kesadaran dapat
menurun. Untuk itu dapat diberikan infus misalnya glukosa 5 % dan larutan Darrow. Bila
terapi tidak memberi perbaikan dalam 2-3 hari, maka dapat diberikan transfusi darah
sebanyak 300 cc selama 2 hari berturut-turut, terutama pada kasus yang disertai purpura
yang luas. Pada kasus dengan purpura yang luas dapat pula ditambahkan vitamin C 500
mg atau 1000 mg intravena sehari dan hemostatik.5
4. Topikal
Terapi topical untuk lesi di mulut dapat berupa kenalog in orabase. Untuk lesi di kulit
yang erosif dapat diberikan sufratulle atau krim sulfadiazine perak, kompres NaCl 0,9%
atau krim urea 10% pada daerah yang terdapat krusta, dan gentamysin krim diberi 2kali
sehari untuk daerah yang erosi.5
5. Konsultasi kebagian THT5
6. Intravena imunoglobulin
Intravena imuniglobulin lebih aman dalam pengelolaan SJS dengan menifestasi
kelainan kulit yang minimal yang disebabkan oleh agen infeksi. Dosis yang diberikan
adalah 0,5g/Kg/hari/IV selama 4 hari berturut-turut dengan reaksi yang cepat.6

Prognosis
Kalau kita bertindak tepat dan cepat maka prognosis cukup memuaskan. Bila terdapat
purpura yang luas dan leukopenia prognosis lebih buruk. Pada keadaan umum yang buruk
dan terdapat bronkopneumonia penyakit ini dapat mendatangkan kematian berkisar 510%.1,3

Preventif
Obat yang disangka sebagai penyebabnya segera dihentikan.1

Kesimpulan
Dari skenario dikatakan bahwa pasien mengeluh adanya lepuh pada kedua lengan,
badan atas, bokong dan kedua paha setelah makan obat sejak 2 hari lalu. Setelah dibahas
beberapa diagnosis banding yang sesuai untuk kasus ini, dapat dikatakan bahwa penderita
menderita Steven-Johnson Syndrome. Kelainan ini apabila di tangani dengan cepat dan tepat
maka prognosisnya menjadi baik.

Daftar Pustaka
1. Hamzah M. Djuanda A. Srindrom stevens-johnson. Dalam: Djuanda A. Hamzah M, Aisah
S. Ilmu penyakit kulit dan kelamin edisi 6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;2005.h.163-5.
2. Sudoyo AW, et al. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid I. Ed 5. Jakarta: Interna
Publishing; 2009. h. 285-90.
3. Hidajat T, Purwaka R.H. profil penderita sindrom stevens Johnson. Malang: Medika
XXXI;2004.h.
4. Burns BT, Graham R. Lecture notes on dermatology.8th ed. Jakarta: Erlangga Medical
Series;2005.h.152-4.
5. Mariana Y, Setiabudy R. Farmakologi dan terapi.5th Ed. Jakarta:FKUI;2012.h.599-604
6. Zipitis CS, Thalange N. Intervenous immunoglobulins forr the management of Stevens-
Johnson syndrome with minimal skin manifestations.DOI 2006; 166: 585-88.