Anda di halaman 1dari 11

Penyebab dan Penanganan Penyakit Skabies

Kelompok F3

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Alamat Korespondensi Jl.Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510

Abstract
Leather carrying out various tasks in maintaining good health among others as physical
protection , immunologic protection , excretion , sensing , regulating body temperature and
so on. Scabies is a disease that affects the skin . The disease is caused by a mite Sarcoptes
scabei . This disorder occurs due to problems of sanitation and poor hygiene . Having regard
to the selection and use of drugs the right way , and eliminate factors presdisposisi then the
disease can be eradicated and addressed properly .
Keywords : Skin disorders , scabies, Sarcoptes scabei

Abstrak
Kulit menjalankan berbagai tugas dalam memelihara kesehatan antara lain sebagai
perlindungan fisik, perlindungan imunologik, ekskresi, pengindera, pengatur suhu tubuh dan
sebagainya. Skabies merupakan salah satu penyakit yang menyerang kulit. Penyakit ini
disebabkan oleh kutu Sarcoptes scabei. Kelainan ini terjadi karena masalah sanitasi dan
higiene yang buruk. Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat yang tepat,
serta menghilangkan faktor presdisposisi maka penyakit ini dapat diberantas dan diatasi
dengan baik.
Kata kunci: Kelainan kulit, skabies, Sarcoptes scabei

Pendahuluan

Kulit merupakan organ istimewa pada manusia. Kulit menjalankan berbagai tugas
dalam memelihara kesehatan antara lain sebagai perlindungan fisik, perlindungan
imunologik, ekskresi, pengindera, pengatur suhu tubuh dan sebagainya. Kelainan pada kulit
dapat dengan mudah terjadi mengingat kulit terletak pada sisi terluar tubuh manusia yang
memudahkannya untuk terinfeksi suatu penyakit. Skabies merupakan salah satu penyakit
yang menyerang kulit. Penyakit ini disebabkan oleh kutu Sarcoptes scabei. Predileksi utama
terjadi pada sela-sela jari tangan dan kaki. Kelainan ini dapat terjadi karena masalah sanitasi
yang buruk, kondisi tempat tinggal yang padat penduduk dan negara dengan keadaan
perekonomian yang kurang. Skabies dapat ditularkan melalui kontak fisik secara langsung
(skin-to-skin) maupun tak langsung (pakaian, tempat tidur, yang dipakai bersama).

Rumusan Masalah

1
Seorang anak berusia 9 tahun mengeluh sangat gatal pada sela jari tangan sejak
seminggu yang lalu terutama saat malam hari.

Hipotesis

Seorang anak berusia 9 tahun mengeluh sangat gatal pada sela jari tangan sejak
seminggu yang lalu terutama saat malam hari diduga menderita skabies.

Anamnesis

Anamnesis adalah cara pemeriksaan yang dilakukan dengan wawancara, baik


langsung kepada pasien (autonamnesis) maupun kepada orang tua atau sumber lain
(aloanamnesis) yang memiliki tiga tujuan utama yaitu mengumpulkan informasi, membagi
informasi, dan membina hubungan saling percaya untuk mendukung kesejahteraan pasien.1

Dalam kasus ini, dokter melakukan anamnesis secara langsung karena kondisi pasien
dalam keadaan sadar. Riwayat kesehatan yang perlu dikumpulkan meliputi (1) Identifikasi
data meliputi nama, usia, jenis kelamin, alamat, agama, suku bangsa, pekerjaan, dan status
perkawinan; (2) Keluhan utama yang berasal dari kata-kata pasien sendiri yang menyebabkan
pasien mencari perawatan; (3) Penyakit saat ini meliputi perincian tentang tujuh karakteristik
gejala dari keluhan utama yaitu lokasi, kualitas, kuantitas, waktu terjadinya gejala, kondisi
saat gejala terjadi, faktor yang meredakan atau memperburuk penyakit, dan manifestasi
terkait (hal-hal lain yang menyertai gejala); (4) Riwayat kesehatan masa lalu seperti
pemeliharaan kesehatan (5) Riwayat keluarga yaitu diagram usia dan kesehatan, atau usia dan
penyebab kematian dari setiap hubungan keluarga yang paling dekat mencakup kakek-nenek,
orang tua, saudara kandung, anak, cucu dan (6) Riwayat Pribadi dan Sosial seperti aktivitas
dan gaya hidup sehari-hari, situasi rumah dan orang terdekat, sumber stress jangka pendek
dan panjang dan pendidikan.1

Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan yang dapat ditanyakan berkaitan dengan kasus


yang diderita pasien:

- Kapan pertama kalinya pasien merasakan gatal dan dimana lokasinya?


- Kapan rasa gatal itu muncul? Apakah terus menerus atau pada saat tertentu?
- Adakah pemicu (misalnya pengobatan, makanan, sinar matahari, dan alergen
potensial) yang memperberat/memperingan rasa gatal?
- Adakah orang lain di keluarga yang mengalami kelainan serupa?

2
- Bagaimana riwayat sosial dan pribadi pasien khususnya mengenai kebiasaan
mandi dan mengganti pakaian dalam serta kondisi lingkungan tempat tinggal?

Dalam hasil anamnesis diketahui bahwa pasien mengalami keluhan gatal pada sela
jari tangan sejak seminggu yang lalu. Gatal terutama dirasakan saat malam hari dan diketahui
bahwa pasien selama ini tinggal di asrama.

Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik kulit yang perlu dilakukan adalah inspeksi dan palpasi.
Beberapa hal yang kita perhatikan dalam pemeriksaan fisik kulit diantaranya warna kulit,
suhu, kelembaban, tekstur, dan lesi yang meliputi efloresensi primer ataupun sekunder. Pada
pemeriksaan fisik didapati keadaan umum dan kesadaran pasien tampak sakit sedang. Suhu
tubuh, denyut nadi, frekuensi pernafasan dan tekanan darah dalam batas normal. Dari status
lokalis ditemukan adanya vesikel-vesikel kecil dan berwarna merah.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang merupakan pemeriksaan lanjutan yang dilakukan untuk


membantu dalam penegasan diagnosis berdasarkan gejala-gejala klinis yang telah didapatkan
sebelumnya melalui pemeriksaan fisik maupun untuk menyingkirkan diagnosis banding.
Pemeriksaan yang dilakukan dapat berupa:2

1. Kerokan kulit

Papul atau kanalikuli yang utuh ditetesi dengan minyak mineral atau KOH lalu
dilakukan kerokan dengan menggunakan scalpel steril yang bertujuan untuk mengangkat
atap papula atau kanalikuli. Bahan pemeriksaan diletakkan di gelas objek dan ditutup
dengan kaca penutup lalu diperiksa dibawah mikroskop.

2. Mengambil tungau dengan jarum

Bila menemukan terowongan, jarum suntik yang runcing ditusukkan ke dalam


terowongan yang utuh dan digerakkan secara tangensial ke ujung lainnya kemudian
dikeluarkan. Bila positif, tungau terlihat pada ujung jarum sebagai parasit yang sangat
kecil dan transparan. Cara ini mudah dilakukan tetapi memerlukan keterampilan tinggi.

3. Tes tinta pada terowongan (Burrow ink test)

3
Identifikasi terowongan bisa dibantu dengan cara mewarnai daerah lesi dengan
tinta hitam. Papul skabies dilapisi dengan tinta cina, dibiarkan selama 20-30 menit.
Setelah tinta dibersihkan dengan kapas alkohol, terowongan tersebut akan kelihatan lebih
gelap dibandingkan kulit disekitarya karena akumulasi tinta didalam terowongan. Tes
dnyatakan positif bila terbentuk gambaran kanalikuli yang khas berupa garis menyerupai
bentuk zigzag.

4. Biopsi irisan (Epidermal Shave Biopsy)

Membuat biopsi irisan dengan cara menjepit lesi menggunakan 2 jari


kemudian dibuat irisan tipis dengan pisau setelah itu diperiksa dengan mikroskop
cahaya.

Gambar1. Mikroskopik Sarcoptes scaibei

Differential Diagnosis

1. Dermatitis Kontak Iritan

Merupakan reaksi peradangan kulit non-imunologik yaitu kerusakan kulit yang terjadi
langsung tanpa didahului proses pengenalan/sensitisasi. Penyebabnya ialah pajanan dengan
bahan yang bersifat iritan misalnya bahan pelarut, deterjen, minyak pelumas, asam dan
sebagainya. Penyakit ini memberi gambaran klinis berupa kulit terasa pedih, panas, terbakar
dan disertai rasa gatal.2

2. Tinea Manus

Suatu dermatofitosis yang disebabkan oleh jamur khususnya pada daerah sela-sela jari
tangan dan telapak tangan dengan gejala klinis berupa fisura yang dilingkari sisik halus dan
tipis. 2

4
3. Creeping Eruption

Erupsi pada kulit sebagai reaksi hipersensitivitas kulit terhadap invasi larva cacing
tambang atau nematoda. Umumnya larva ini mampu menginvasi kulit di kaki, tangan,
bokong atau abdomen. Penyakit ini memberi gambaran klinis berupa ditemukannya lesi pada
kulit yang terbuka disertai rasa gatal atau rasa terbakar.2

Working Diagnosis

Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik yang telah dilakukan dapat
disimpulkan bahwa pasien menderita skabies.

Etiologi

Sarcoptes scaibei termasuk filum Arthropoda, kelas Arachnida, ordo Ackarima, super
famili Sarcoptes, penemunya adalah seorang ahli biologi Diacinto Cestoni (1637-1718). Pada
manusia disebut Sarcoptes scaibei var. Hominis. Selain itu terdaoat S. Scaibei yang lain,
misalnya pada kambing dan babi.3

Gambar2. Morfologi Sarcoptes scabiei Jantan dan Betina

Secara morfologik merupakan tungau kecil bebrbentuk oval, punggung cembung,


bagian perut rata dan mempunyai 8 kaki. Tungau ini translusen, berwarna putih kotor dan
tidak bermata. Ukuran yang betina berkisar antara 330-450 mikron x 250-350 mikron
sedangkan yang jantan lebih kecil yakni 200-240 mikron x 150-200 mikron. Bentuk dewasa
mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang kaki didepan sebagai alat untuk melekat dan 2 pasang

5
kaki kedua pada betina berakhir dengan rambut, sedangkan pada yang jantan pasangan kaki
ketiga berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat.3

Epidemiologi

Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun terjadi epidemi skabies. Banyak faktor yang
menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain sosial ekonomi yang rendah, higiene yang
buruk, hubungan seksual bersifat promiskuitas, kesalah diagnosis dan perkembangan
demografik serta ekologik.4

Cara penularan:

1. Kontak langsung (kontak kulit dengan kulit), misalnya berjabat tangan, tidur bersama
dan hubungan seksual.
2. Kontak tak langsung (melalui benda) misalnya pakaian, handuk, sprei, bantal dan
lain-lain.

Penularannya biasanya oleh Sarcoptes scabei betina yang sudah dibuahi atau
terkadang oleh bentuk larva. Dikenal juga Sarcoptes scabiei car. Animalis yang terkadang
dapat menulari manusia, terutama pada mereka yang banyak memelihara binatang peliharaan
misalnya anjing.4

Patofisiologi

Penyakit scabies merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh kutu Sarcoptes
scabiei. Faktor yang berperan dalam penularan penyakit ini adalah sosial ekonomi yang
rendah, higiene perorangan yang jelek, lingkungan yang tidak saniter, perilaku yang tidak
mendukung kesehatan, serta kepadatan penduduk. Penyakit scabies dapat ditularkan melalui
kontak langsung maupun kontak tak langsung. Yang paling sering adalah kontak langsung
dan erat atau dapat pula melalui alat-alat seperti tempat tidur, handuk, dan pakaian.2

Sarcoptes scabiei betina dapat hidup diluar pada suhu kamar selama kurang lebih 7-
14 hari. Yang diserang diantaranya adalah ketiak depan, siku luar, ventral tangan, dan yang
paling sering adalah sela-sela jari. Siklus hidup tungau ini sebagai berikut; setelah kopulasi
(perkawinan) yang terjadi diatas kulit, tungau jantan akan mati, terkadang masih dapat hidup
beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh tungau betina. Tungau betina yang telah
dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum dengan kecepatan 2-3 milimeter sehari
sambil meletakkan telurnya 2 hingga 50. Bentuk betina yang dibuahi ini dapat hidup sebulan

6
lamanya. Telur akan menetas biasanya dalam waktu 3 sampai 5 hari dan menjadi larva yang
mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan, tetapi dapat juga
keluar. Setelah 3-4 hari larva akan menjadi nimfa, lalu nimfa akan menjadi dewasa dalam 3-5
hari yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus
hidup mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8-12 hari.2

Gambar3. Patogenesis dan Predileksi Skabies

Aktivitas S. Scaibei didalam kulit menyebabkan rasa gatal dan menimbulkan respons
imunitas selular dan humoral serta mampu meningkatkan igE baik di serum maupun di kulit
masa inkubasi berlangsung lama 4-6 minggu. Skabies sangat menular, transmisi melalui
kontak langsung dari kulit ke kulit dan tidak langsung melaui berbagai benda yang
terkontaminasi. Tungau skabies dapat hidup diluar tubuh manusia selama 24-36 jam. Tungau
dapat ditransmisi melalui kontak seksual, walaupun menggunakan kondom karena kontak
melalui kulit di luar kondom.2

Gambar4. Lesi Kulit Skabies

7
Lesi primer skabies berupa terowongan yang berisi tungau, telur, dan hasil
metabolisme. Pada saat tungau menggali terowongan, tungau mengeluarkan sekret yang
melisiskan stratum korneum. Sekret dan eksret menyebabkan pruritus dan lesi sekunder.
Kelainan kulit dapat tidak hanya disebabkan oleh tungau skabies, tetapi juga oleh penderita
sendiri akibat garukan. Gatal yang terjadi disebabkan sensitisasi terhadap sekreta dan eksreta
tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah investasi. Pada saat itu, kelainan
kulit lesi sekunder menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, pustul dan
bula. Dengan garukan dapat timbul lesi tersier berupa erosi, ekskoriasi, krusta.2

Manifestasi Klinis

1. Pruritis nokturna, artinya gatal pada malam hari yang disebabkan oleh aktivitas
tungau lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas.
2. Penyakit ini menyerang sekelompok manusia misalnya dalam sebuah keluarga,
sehingga seluruh keluarga terkena infeksi, di asrama atau pondokan. Begitu pula
dalam sebuah perkampungan yang padat penduduknya. Walaupun seluruh
anggota keluarga mengalami investasi tungau namun tidak memberikan gejala.
Hal ini dikenal sebagai hiposensitisasi. Penderita bersifat pembawa.
3. Ada terowongan pada tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan,
berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1 cm, pada ujung
terowongan ditemukan papul atau vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam kulit
menjadi polimorf. Namun kunikulus biasanya sukar terlihat, karena sangat gatal
pasien selalu menggaruk, kunikulus dapat rusak karenanya. Tempat predileksinya
biasanya merupakan tempat dengan stratum korneum yang tipis yaitu sela-sela jari
tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian
depan, areola mame, umbilikus, bokong, genitalia eksterna dan perut bagian
belakang. Pada bayi dapat menyerang telapak tangan, telapak kaki, wajah dan
kepala.
4. Menemukan tungau merupakan hal yang paling menunjang diagnosis. Dapat
ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau. Selain tungau dapat ditemukan
telur dan kotoran (skibala).2

Komplikasi

Infeksi sekunder pada pasien skabies merupakan akibat dari infeksi bakteri atau
karena garukan. Keduanya mendominasi gambaran klinik yang ada. Erosi merupakan tanda

8
yang paling sering muncul pada lesi sekunder. Infeksi sekunder dapat ditandai dengan
munculnya pustul, supurasi, dan ulkus. Selain itu dapat muncul eritema, skuama, dan
semua tanda inflamasi lain pada ekzem sebagai respon imun tubuh yang kuat terhadap iritasi.
Nodul-nodul muncul pada daerah yang tertutup seperti bokong, skrotum, inguinal, penis, dan
axilla. Infeksi sekunder lokal sebagian besar disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan
biasanya mempunyai respon yang bagus terhadap topikal atau antibiotic oral, tergantung
tingkat pyodermanya. Selain itu, limfangitis dan septiksemia dapat juga terjadi terutama
pada skabies Norwegian, post-streptococcal glomerulonephritis bisa terjadi karena skabies-
induced pyodermas yang disebabkan oleh Streptococcus pyogens.5

Penatalaksanaan

Terdapat beberapa terapi untuk skabies yang memiliki tingkat efektivitas yang
bervariasi. Pada pasien dewasa, skabisid topikal harus dioleskan diseluruh permukaan tubuh
kecuali area wajah dan kulit kepala, dan lebih difokuskan di daerah sela-sela jari, inguinal,
genital, area lipatan kulit sekitar kuku dan area belakang telinga. Pada pasien anak scabies
berkrusta, area wajah dan kulit kepala juga harus dioleskan skabisisd topikal. Pasien harus
diinformasikan bahwa telah diberikan terapi yang adekuat, ruam dan rasa gatal dikulit dapat
tetap menetap hingga 4 minggu. Jika tidak diberikan penjelasan, pasien akan beranggapan
bahwa pengobatan yang diberikan tidak berhasil dan kemudia akan menggunakan obat anti
scabies secara berlebihan. Cara pengobatan ialah seluruh anggota keluarga harus diobati.2,6

1. Permetrin

Dengan kadar 5% dalam krim, efektivitas sama, aplikasi hanya sekali dan dibersihkan
dengan mandi setelah 8-10 jam setelah pemakaian. Pengobatan diulang setelah seminggu.
Tidak dianjurkan pada bayi dibawah umur 2 bulan.

2. Krotamiton

Kadar 10% dalam krim atau losio juga merupakan obat pilihan karena mempunyai
dua efektivitas sebagai antiskabies dan antigatal. Pemakaian harus dijauhkan dari mata, mulut
dan uretra.

3. Belerang endapan (Sulfur presipitatum)

Dengan kadar 4-20% dalam bentuk salep atau krim. Preparat ini tidak efektif terhadap
stadium telur sehingga penggunaan dilakukan selama 3 hari berturut-turut. Kekurangan yang

9
lain ialah berbau dan mengotori pakaian serta terkadang menimbulkan iritasi. Dapat dipakai
pada bayi berumur kurang dari 2 tahun.

4. Benzil benzoat (20-25%)

Efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama 3 hari. Obat ini sulit
diperoleh, sering memberi iritasi dan terkadang semakin gatal dan panas setelah dipakai.

Pencegahan

Dalam upaya preventif, perlu dilakukan edukasi pada pasien tentang penyakit skabies,
perjalanan penyakit, penularan, cara eradikasi tungau skabies, menjaga higiene pribadi dan
tata cara pengolesan obat. Rasa gatal terkadang tetap berlangsung walaupun kulit sudah
bersih. Pengobatan dilakukan pada orang serumah dan orang disekitar pasien yang
berhubungan erat.

Terapi pencegahan ini harus diberikan untuk mencegah penyebaran scabies karena
seseorang mungkin saja telah mengandung tungau scabies yang masih dalam periode
inkubasi asimptomatik. Selain itu untuk mencegah terjadinya reinfeksi melalui seprei, bantal,
handuk dan pakaian yang digunakan dalam 5 hari terakhir, harus dicuci bersih dan
dikeringkan dengan udara panas karena tungau scabies dapat hidup hingga 3 hari
diluar kulit, karpet dan kain pelapis lainnya sehingga harus dibersihkan.2,6

Prognosis

Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat, serta menghilangkan


faktor presdisposisi maka penyakit ini dapat diberantas dan memberi prognosis baik. Tidak
lupa semua orang yang berkontak erat dengan pasien harus diobati juga untuk menghindari
terjadinya reinfeksi.

Kesimpulan

Pada kasus ini dapat disimpulkan bahwa pasien menderita skabies pada sela jari
tangannya dikarenakan kondisi lingkungan dan higene yang kurang baik. Adapun
penanganan yang dapat dilakukan yaitu memberikan obat yang efektif terhadap semua
stadium tungau, tidak menimbulkan iritasi dan tidak bersifat toksik selain itu perlu
dilakukannya edukasi pada pasien untuk menjaga kebersihan lingkungan dan hiegene pribadi
untuk mencegah terjadinya reinfeksi.

10
Daftar Pustaka

1. Gleadle J. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Erlangga; 2006.


h. 42-3.
2. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, penyunting. Ilmu penyakit kulit dan kelamin.
Edisi ke-7. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2016. H.109,137-41,157-65.
3. Sutanto I, Ismid IS, Sjarifuddin PK, Sungkar S, penyunting. Buku ajar
parasitologi kedokteran. Edisi ke-4. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2011.
4. Wolff K, Johnson RA, Saavedra AP. Fitzpatricks color atlas and synoptis of
clinical dermatology. 7th Ed. United States of America: McGraw-Hill
Education/Medical; 2013: P. 266-75.
5. James WD, Berger TG, Elston DM, Neuhaus IM. Andrews disease of skin:
clinical dermatology. 12th Ed. China: Elsevier; 2016.
6. Murtiastutik D, Ervianti E, Agusni I, Suyoso S. Atlas penyakit kulit dan kelamin.
Edisi ke-2. Jakarta : Pusat Penerbitan dan Percetakan Unair; 2007. H. 61-3

11