Anda di halaman 1dari 27

1.

1 PENGERTIAN AGGREGAT
Agregat terdiri dari pasir, gravel, batu pecah, slag atau material lain dari
bahan mineral alami atau buatan. Agregat merupakan bagian terbesar dari
campuran aspal. Material agregat yang digunakan untuk konstruksi
perkerasan jalan tugas utamanya untuk menahan beban lalu lintas. Agregat
dari bahan batuan pada umumnya masih diolah lagi dengan mesin pemecah
batu (stone crusher) sehingga didapatkan ukuran sebagaimana
dikehendaki dalam campuran. Agar dapat digunakan sebagai campuran
aspal, agregat harus lolos dari berbagai uji yang telah ditetapkan.
Agregat adalah suatu bahan yang keras dan kaku yang digunakan sebagai
bahan campuran dan berupa berbagai jenis butiran atau pecahan, termasuk
didalamnya antara lain: pasir, kerikil, agregat pecah, terak dapur tinggi dan
debu agregat. Banyaknya agregat dalam campuran aspal pada umumnya
berkisar antara 90% sampai dengan 95% terhadap total berat campuran atau
70% sampai dengan 85% terhadap volume campuran aspal.
Sifat Agregat
Sifat agregat merupakan salah satu faktor penentu kemampuan perkerasan
jalan memikul beban lalu lintas dan daya tahan terhadap cuaca. Yang
menentukan kualitas agregat sebagai material perkerasan jalan adalah:

gradasi

kebersihan

kekerasan

ketahanan agregat

bentuk butir

tekstur permukaan

porositas

kemampuan untuk menyerap air

berat jenis, da

daya kelekatan terhadap aspal.


Sifat agregat tersebut sangat dipengaruhi oleh jenis batuannya.

Karakteristik bagian luar agregat, terutama bentuk partikel dan tekstur


permukaan memegang peranan penting terhadap sifat beton segar dan yang
sudah mengeras. Menurut BS 812 : Part 1: 1975, bentuk partikel agregat dapat
dibedakan atas:

Rounded

Irregular

Flaky

Angular

Elonggated

Flakyy & Elonggated


Klasifikasi Agregat

Agregat Ringan adalah agregat yang dalam keadaan kering dan gembur
mempunyai berat 1100 kg/m3 atau kurang.

Agregat Halus adalah pasir alam sebagai hasil desintegrasi _alami_


bantuan atau pasir yang dihasilkan oleh inustri pemecah batu dan
mempunyai ukuran butir terbesar 5,0 mm.

Agregat Kasar adalah kerikil sebagai hasil desintegrasi alami dari bantuan
atau berupabatu pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu dan
mempunyai ukuran butir ntara 5-40 mm. Agregat Kasar, adalah agregat
dengan ukuran butiran butiran lebih lebih besar besar dari dari saringan
saringan No.88 (2,36 mm)

Bahan Pengisi (filler), adalah bagian dari agregat halus yang minimum
75% lolos saringan no. 30 (0,06 mm)

Jenis Agregat berdasarkan proses pengolahannya

Agregat Alam. Agregat yang dapat dipergunakan sebagaimana


bentuknya di alam atau dengan sedikit proses pengolahan. Agregat ini
terbentuk melalui proses erosi dan degradasi. Bentuk partikel dari agregat
alam ditentukan proses pembentukannya.

Agregat melalui proses pengolahan. Digununggunung atau dibukit


bukit, dan sungaisungai sering ditemui agregat yang masih berbentuk
batu gunung, dan ukuran yang besarbesar sehingga diperlukan proses
pengolahan terlebih dahulu sebelum dapat digunakan sebagai agregat
konstruksi jalan.

Agregat Buatan. Agregat yang yang merupakan merupakan mineral


filler/pengisi (partikel dengan ukuran < 0,075 mm), diperoleh dari hasil
sampingan pabrikpabrik semen atau mesin pemecah batu.

Pengujian Agregat
Pengujian Agregat Kasar
Agregat kasar yang digunakan adalah dari batu alam yang didapat dari mesin
pemecah batu di Kalikuto, Kendal. Spesifikasi yang digunakan adalah
menggunakan spesifikasi BINA MARGA. Pengujian laboratorium untuk agregat
kasar yang digunakan dalam campuran adalah:
Gradasi (ASTM C-136-46)

Specific Gravity (ASTM C 127-77)

Absorbsi Air (ASTM C 127-77)

Pengujian Agregat Halus


Agregat halus yang digunakan adalah pasir dan batu pecah alam yang
diperoleh dari mesin pemecah batu. Untuk pasir maka yang digunakan
adalah pasir Muntilan, sedangkan batu pecah berasal dari Kalikuto,
Kendal. Pengujian agregat halus yang digunakan dalam campuran adalah:
Specific Gravity (ASTM C 128-79)

Absorbsi Air (ASTM C 128-79)

Pengujian Bahan Pengisi (Filler)


Bahan pengisi yang digunakan dalam penelitian ini dari jenis kapur
padam. Bahan pengisi ini berbentuk bubuk (powder), yang dibeli dari toko
bahan bangunan dalam kantong 1 kg. Bahan pengisi harus lolos saringan
No. 200 (0,075 mm), dan besarnya pemakaian berdasarkan spesifikasi
gradasi berkisar 4%-6%. Pengujian terhadap bahan pengisi adalah:
Specific Gravity (ASTM C 188-44)

1.2 ASPAL
Aspal ialah bahan hidro karbon yang bersifat melekat (adhesive),
berwarna hitam kecoklatan, tahan terhadap air, dan visoelastis. Aspal
sering juga disebut bitumen merupakan bahan pengikat pada campuran
beraspal yang dimanfaatkan sebagai lapis permukaan lapis perkerasan
lentur. Aspal berasal dari aspal alam (aspal buton} atau aspal minyak
(aspal yang berasal dari minyak bumi). Berdasarkan konsistensinya, aspal
dapat diklasifikasikan menjadi aspal padat, dan aspal cair.
Aspal atau bitumen adalah suatu cairan kental yang merupakan senyawa
hidrokarbon dengan sedikit mengandung sulfur, oksigen, dan klor. Aspal
sebagai bahan pengikat dalam perkerasan lentur mempunyai sifat
viskoelastis. Aspal akan bersifat padat pada suhu ruang, dan bersifat cair
bila dipanaskan. Aspal merupakan bahan yang sangat kompleks, dan
secara kimia belum dikarakterisasi dengan baik. Kandungan utama aspal
adalah senyawa karbon jenuh, dan tak jenuh, alifatik, dan aromatic yang
mempunyai atom karbon sampai 150 per molekul. Atom-atom selain
hidrogen, dan karbon yang juga menyusun aspal adalah nitrogen, oksigen,
belerang, dan beberapa atom lain. Secara kuantitatif, biasanya 80%
massa aspal adalah karbon, 10% hydrogen, 6% belerang, dan sisanya
oksigen, dan nitrogen, serta sejumlah renik besi, nikel, dan vanadium.
Senyawa-senyawa ini sering dikelaskan atas aspalten (yang massa
molekulnya kecil), dan malten (yang massa molekulnya besar). Biasanya
aspal mengandung 5 sampai 25% aspalten. Sebagian besar senyawa di
aspal adalah senyawa polar.

Definisi Aspal

Material berwarna hitam atau coklat tua. Pada temperatur ruang berbentuk
padat sampai agak padat, jika dianaskan sampai temperatur tentu dapat
menjadi lunak / cair sehingga dapat membungkus partikel agregat pada waktu
pembuatan campuran aspal beton atau sapat masuk kedalam pori-pori yang ada
pada penyemprotan/ penyiraman pada perkerasan macadam atau pelaburan.
Jika temperatur mulai turun. Aspal akan mengeras dan mengikat agregat pada
tempatnya (sifat Termoplastis)

Hidrocarbon adalah bahan dasar utama dari aspal yang umumnya disebut
bitumen. Sehingga aspal sering juga disebut bitumen,

Aspal merupakan salah satu material konstruksi perkerasan lentur . Aspal


merupakan komponen kecil . Umumnya 4 10 % dari berat campuran.
Tetapi merupakan komponen yang relatif mahal

Aspal umumnya berasal dari salah satu hasil destilasi minyak bumi (Aspal
Minyak) dan bahan alami (aspal Alam),

Aspal minyak (Aspal cemen) bersifat mengikat agregat pada campuran


aspal beton dan memberikan lapisan kedap air. Serta tahan terhadap
pengaruh asam, Basa dan garam,

Sifat aspal akan berubah akibat panas dan umur, aspal akan menjadi kaku
dan rapuh dan akhirnya daya adhesinya terhadap partikal agregat akan
berkurang.
Jenis Aspal Berdasarkan cara mendapatkannya

Aspal Alam :-
Aspal Gunung (Rock Asphalt)
ex : Aspal P. Buton
- Aspal Danau (Lake Asphalt)
ex : Aspal Bermudez, Trinidad

Aspal alam
ada yang diperoleh di gunung-gunung seperti aspal di pulau buton, dan ada pula
yang diperoleh di pulau Trinidad berupa aspal danau. Aspal alam terbesar di
dunia terdapat di Trinidad, berupa aspal danau. Indonesia memiliki aspal alam
yaitu di Pulau Buton, yang terkenal dengan nama Asbuton (Aspal Pulau Buton).
Penggunaan asbuton sebagai salah satu material perkerasan jalan telah dimulai
sejak tahun 1920, walaupun masih bersifat konvensional. Asbuton merupakan
batu yang mengandung aspal. Asbuton merupakan material yang ditemukan
begitu saja di alam, maka kadar bitumen yang dikandungnya sangat bervariasi
dari rendah sampai tinggi. Produk asbuton dapat dibagi menjadi dua kelompok
yaitu :1) Produk asbuton yang masih mengandung material filler, seperti asbuton
kasar,asbuton halus,asbuton mikro, dan butonite mastik asphalt.2) Produk
asbuton yang telah dimurnikan menjadi aspal murni melalui proses ekstrasi atau
proses kimiawi
Aspal Buatan :Aspal Minyak
Merupakan hasil destilasio minyak bumi

Berdasarkan jenis bahan dasarnya

Asphaltic base crude oil

Bahan dasar dominan aspaltic

Parafin base crude oil

Bahan dasar dominan parafin

Mixed base crude oil

Bahan dasar campuran asphaltic dan parafin

Berdasarkan bentuknya

Aspal keras/panas (Asphalt cemen)

aspal yang digunakan dalam keadaan panas dan cair, pada suhu ruang
berbentuk padat
*) Aspal keras pada suhu ruang (250 300 C) berbentuk padat
*) Aspal keras dibedakan berdasarkan nilai penetrasi (tingkat kekerasannya)
*) Aspal keras yang biasa digunakan :
- AC Pen 40/50, yaitu aspal keras dgn penetrasi antara 40 50
- AC pen 60/70, yaitu aspal keras dgn penetrasi antara 60 79
- AC pen 80/100, yaitu aspal keras dengan penetrasi antara 80 100
- AC pen 200/300, yaitu aspal keras dengan penetrasi antara 200-300
*) Aspal dengan penetrasi rendah digunakan di daerah bercuaca panas, volume
lalu lintas tinggi.
*) Aspal dengan penetrasi tinggi digunakan untuk daerah bercuaca dingin, lalu
lintas rendah.
*) Di Indonesia umumnya digunakan aspal penetrasi 60/70 dan 80/100.

Aspal dingin / Cair (Cut Back Asphalt)

aspal yang digunakan dalam keadaan dingin dan cair, pada suhu ruang
berbentuk cair
*) Aspal cair merupakan campuran aspal keras dengan bahan pencair dari hasil
penyulingan minyak bumi
*) Pada suhu ruang berbentuk cair
*) Berdasarkan bahan pencairnya dan kemudahan penguapan bahan pelarutnya,
aspal cair dibedakan atas :
1. RC (Rapid curing cut back )
Merupakan aspal keras yang dilarutkan dengan bensin (premium), RC
merupakan curback asphal yang paling cepat menguap.
RC cut back asphalt dugunakan sebagai:
- Tack coat (Lapis perekat)
- Prime Coat (Lapis resap pengikat)
2. MC (Medium Curing cut back)
Merupakan aspal keras yang dilarutkan dengan minyak tanah (Kerosine). MC
merupakan cutback aspal yang kecepatan menguapnya sedang.
3. SC (Slow Curing cut back)
Merupakan aspal keras yang dilarutkan dengan solar, SC merupakan cut back
asphal yang paling lama menguap.
SC Cut back asphalt digunakan sebagai:
- Prime coat
- Dust laying (lapis pengikat debu)
Cut back aspal dibedakan berdasarkan nilai viscositas pada suhu 600 (makin
kental)
ex :
RC 30 60 MC 30 60 SC 30 60
RC 70 140 MC 70 140 SC 70 - 140

Aspal emulsi (emulsion asphalt)

aspal yang disediakan dalam bentuk emulsi dandigunakan dalam kondisi dingin
dan cair
*) Aspal emulsi adlah suatu campuran aspal dengan air dan bahan pengemulsi
*) Emulsifer agent merupakan ion bermuatan listrik (Elektrolit), (+) Cation ; (-)
Annion
*) Emulsifer agent berfungsi sebagai stabilisator
*) Partikel aspal melayang-layang dalam air karena partikel aspal diberi muatan
listrik.

*) Berdasarkan muatan listriknya, aspal emulsi dapat dibedakan atas ;


1. Kationik,
disebut juga aspal emulsi asam, merupakan aspal emulsi yang bermuatan
arus listrik posirif
2. Anionik,
disebut juga aspal emulsi alkali, merupakan aspal emulsi yang bermuatan
negatif
3. Nonionik,
merupakan aspal emulsi yang tidak mengalami ionisasi, berarti tidak
mengantarkan listrik.
*) Yang umum digunakan sebagai bahan perkerasan jalan adalah aspal emulsi
anionik dan kationik.
*) Berdasarkan kecepatan pengerasannya aspal emulsi dibedakan atas
- Rapid Setting (RS), aspal yang mengandung sedikit bahan pengemulsi
sehingga pengikatan cepat terjadi. Digunakan untuk
Tack Coat
- Medium Setting (MS), Digunakan untuk Seal Coat
- Slow Seeting (SS), jenis aspal emulsi yang paling lambat menguap,
Digunakan Sebagai Prime coat

Aspal Buton

Aspal buton merupakan aspal alam yang berasal dari pulau buton, Indonesia.
Aspal ini merupakan campuran antara bitumen dengan bahan mineral lainnya
dalam bentuk bantuan.
Karena aspal buton merupakan bahan alam maka kadar bitumennya bervariasi
dari rendah sampai tinggi.
Berdasarkan kadar bitumennya aspal buton dibedakan atas B10, B13, B20, B25,
dan B30 (Aspal Buotn B10 adalah aspal buton dengan kadar bitumen rata-rata
10%)

Pengujian Aspal

A. JENIS PENGUJIAN
Pengujian Penetrasi Aspal Pengujian penetrasi aspal adalah suatu
pengujian yang di gunakan untuk menentukan nilai penetrasi pada aspal
sehingga dapat diketahui mutunya. Pengujian penetrasi aspal ini menggunakan
alat yang bernama penetration test, alat inilah yang akan membantu kita untuk
menentukan seberapa besar penetrasi aspal yang di uji. Pengujian ini dilakukan
di Laboratorium Bahan Bangunan Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan
Universitas Negeri Yogyakarta.

B. KAJIAN TEORI
Aspal merupakan bahan pengikat agregat yang mutu dan jumlahnya
sangat menentukan keberhasilan suatu campuran beraspal yang merupakan
bahan jalan. Salah satu jenis pengujian dalam menentukan persyaratan mutu
aspal adalah penetrasi aspal yang merupakan sifat rheologi aspal yaitu
kekerasan aspal (RSNI 06-2456-1991).
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan penetrasi bitumen keras
atau lembek (solid atau semi solid) dengan memasukkan jarum penetrasi ukuran
tertentu,beban dan waktu tertentu kedalam bitumen pada suhu tertentu ( Buku
panduan praktikum bahan lapis keras, Laboratorium Teknik Transportasi
Universitas Gajah Mada).

Hasil pengujian ini selanjutnya dapat digunakan dalam hal pengendalian


mutu aspal atau tar untuk keperluan pembangunan, peningkatan atau
pemeliharaan jalan. Pengujian penetrasi ini sangat dipengaruhi oleh faktor berat
beban total, ukuran sudut dan kehalusan permukaan jarum, temperatur dan
waktu. Oleh karena itu perlu disusun dengan rinci ukuran, persyaratan dan
batasan peralatan, waktu dan beban yang digunakan dalam penentuan penetrasi
aspal (RSNI 06-2456-1991).
Aspal keras/panas ( Aspalt cement, AC ), adalah aspal yang digunakan
dalam keadaan cair dan panas. Aspal ini berbentuk padat pada keadaan
penyimpanan ( termperatur ruang). Di Indonesia, aspal semen biasanya
dibedakan berdasarkan nilai penetrasinya yaitu:
1. AC pen 40/50, yaitu AC dengan penetrasi antara 40-50.
2. AC pen 60/70, yaitu Ac dengan penetrasi antara 60-70.
3. AC pen 85/100, yaitu aspal dengan penertrasi antara 85-100.
4. AC pen 120/150, yaitu AC dengan penetrasi antara 120-150.
5. AC pen 200/300, yaitu AC dengan penetrasi antara 200-300.
Aspal semen dengan penetrasi rendah digunakan di daerah bercuaca
panas atau lalu lintas dengan volume tinggi, sedangkan aspal semen dengan
penetrasi tinggi digunakan untuk daerah bercuaca dingin atau lalu lintas volume
rendah. Di Indonesia umumnya dipergunakan aspal semen dengan penetrasi
60/70 dan 85-100
C. ALAT DAN BAHAN
Alat dan bahan yang digunakan dalam Pratikum Pengujian Penetrasi
Aspal adalah sebagai berikut:
1. Alat
Alat yang digunakan meliputi:
a. Cawan
Cawan merupakan alat yang digunakan sebagai tempat bahan pengujian.
Cawan terbuat dari logam atau gelas yang berbentuk silinder dengan dasar yang
rata dan berukuran sebagai berikut :

1) Untuk pengujian penetrasi di bawah 200:


a) Diameter, 55 mm
b) Tinggi bagian dalam, 35 mm
2) Untuk pengujian penetrasi antara 200 dan 350:
a) Diameter, 55 75 mm
b) Tinggi bagian dalam, 45 -70 mm
3) Untuk pengujian penetrasi antara 350 dan 500:
a) Diameter, 55 mm
b) Tinggi bagian dalam, 70 mm

b. Termometer

Termometer digunakan sebagai alat pengukur suhu. Termometer harus


memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1) Termometer harus dikalibrasi dengan maksimum kesalahan skala tidak melebihi
0,1C atau dapat juga digunakan pembagian skala termometer lain yang sama
ketelitiannya dan kepekaannya.
2) Termometer harus sesuai dengan SNI 19-6421-2000 Spesifikasi Standar
Termometer.
c. Penetrometer
Penetrometer berfungsi sebagai pengukur penetrasi aspal.
Penetrometer harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
1) Alat penetrometer yang dapat melepas pemegang jarum untuk bergerak secara
vertikal tanpa gesekan dan dapat menunjukkan kedalaman masuknya jarum ke
dalam benda uji sampai 0,1 mm terdekat.
2) Berat pemegang jarum 47,5 gram 0,05 gram. Berat total pemegang jarum
beserta jarum 50 gram 0,05 gram. Pemegang jarum harus mudah dilepas dari
penetrometer untuk keperluan pengecekan berat.
3) Penetrometer harus dilengkapi dengan waterpass untuk memastikan posisi
jarum dan pemegang jarum tegak (90) ke permukaan.
4) Berat beban 50 gram 0,05 gram dan 100 gram 0,05 gram sehingga dapat
digunakan untuk mengukur penetrasi dengan berat total 100 gram atau 200
gram sesuai dengan kondisi pengujian yang diinginkan.

d. Jarum penetrasi
Jarum penetrasi merupakan bagian dari penetrometer yang berfungsi
sebagi alat untuk menentukan nilai penetrasi pada aspal. Jarum penetrasi harus
memenuhi kriteria sebagai berikut:
1) Harus terbuat dari stainless steel dan dari bahan yang kuat, Grade 440-C
atau yang setara, HRC 54 sampai 60.
2) Jarum standar memiliki panjang sekitar 50 mm sedangkan jarum panjang
memiliki panjangsekitar 60 mm (2,4 in).
3) Diameter jarum antara 1,00 mm sampai dengan 1,02 mm.
4) Ujung jarum berupa kerucut terpancung dengan sudut antara 8,7 dan 9,7.
5) Ujung jarum harus terletak satu garis dengan sumbu badan jarum.
6) Perbedaan total antara ujung jarum dengan permukaan yang lurus tidak
boleh melebihi0,2 mm.
7) Diameter ujung kerucut terpancung 0,14 mm sampai 0,16 mm dan terpusat
terhadap sumbu jarum.
8) Ujung jarum harus runcing, tajam dan halus.
9) Panjang bagian jarum standar yang tampak harus antara 40 sampai 45 mm
sedangkan untuk jarum panjang antara 50 mm - 55 mm (1,97 2,17 in).
10) Berat jarum harus 2,50 gram 0,05 gram.
11) Jarum penetrasi yang akan digunakan untuk pengujian mutu aspal harus
memenuhi kriteria tersebut di atas disertai dengan hasil pengujian dari pihak
yang berwenang.

g. Baskom
Baskom merupakan alat yang berfungsi sebagai tempat
merendam aspal agar suhu aspal turun.
h. Stop Watch.
Stop watch digunakan sebagai alat untuk mengatur waktu.
2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam Pengujian Penetrasi Aspal adalah sebagai
berikut:
a. Aspal
Aspal adalah bahan hidro karbon yang bersifat melekat (adhesive),
berwarna hitam kecoklatan, tahan terhadap air, dan visoelastis. Aspal sering juga
disebut bitumen merupakan bahan pengikat pada campuran beraspal yang
dimanfaatkan sebagai lapis permukaan lapis perkerasan lentur. Fungsi aspal
dibedakan menjadi dua yaitu:
1) Fungsi umum :
a) Bahan pengikat, memberikan ikatan yang kuat antara aspal dan agregat dan
antara aspal itu sendiri.
b) Bahan pengisi, mengisi rongga antara butir-butir agregat dan pori-pori yang
ada dari agregat itu sendiri.
2) Fungsi Khusus : Aspal berfungsi sebagai bahan yang akan diuji.

b. Es Batu
Es batu hendaknya dipersiapkan terlebih dahulu sebelum pengujian
dimulai. Di dalam pengujian ini es batu berfungsi sebagai bahan untuk
mendinginkan aspal.
D. LANGKAH KERJA
Langkah kerja yang dilakukan dalam Praktikum Pengujian Aspal
adalah sebagai berikut:

1. Alat dan bahan dipersiapkan.

2. Es batu dihancurkan dan dimasukan kedalam baskom kemudian

ditambah air secukupnya.

3. Aspal dimasukan kedalam baskom hingga suhunya turun dan sesuai


dengan suhu yang telah ditetapkan.

4. Suhu aspal diukur dengan menggunakan termometer sebelum dilakukan


pengujian penetrasi.

5. Jarum penetrasi diperiksa dan dibersihkan agar tidak ada kotoran yang
menempel.

6. Pemberat 50 gram diletakkan diatas jarum sehingga diperoleh beban


seberat (100 0,1) gram.

7. Jarum diturunkan secara perlahan-lahan sehingga jarum menyentuh


permukaan benda uji. Kemudian Angka pada arloji diatur pada posisi 0,
sehingga jarum petuunjuk akan berhimpit.
8. Jarum dilepaskan dan dengaserentak stopwatch di jalankan selama jangka
waktu ( 5 0,1 ) detik.

9. Arloji penetrometer diputar dan angka penetrasi dibaca dengan melihat


jarum petunjuk. Bacaan dibulatkan hingga angka 0,1 mm terdekat.

10.Jarum di lepaskan dari pemengang jarum dan alat penetrasi disiapkan


untuk pekerjaan berikutnya.

11.Suhu pada aspal diukur kembali sebelum dilakukan pengujian berikutnya.

12.Pekerjaan 5 sampai dengan 11 diatas diulangi lagi hingga 4 kali dan


dengan benda uji yang sama pemeriksaan setiap titik ditentukan dengan
jarak tiap titik dari tepi diding lebih dari 1 cm.

1.3 PENGERTIAN CAMPURAN ASPAL DAN AGREGAT

1) Jenis Campuran
Konstruksi perkerasan jalan lentur merupakan campuran antara aspal
dengan agregat. Campuran aspal dan agregat ini lebih dikenal dengan campuran
beraspal dan juga campuran beton aspal. Aspal dalam campuran bersifat
sebagai perekat dan pengisi, sedangkan agregat berfungsi sebagai tulangan
struktur perkerasan. Agak sulit untuk melakukan klasifikasi yangcukup tegas
terhadap jenis jenis aspal / campuran yang ada. Tidak sedikit campuran terkait
perkerasannya sdan juga jenis campuran yang tergantung pada fungsinya.
Beberapa jenis campuran dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a Berdasarkan fungsi campuran pada struktur perkerasan
Lapisan pondasi
Lapisan permukaan
Lapisan aus
Lapiosan tertutup
b Berdaskan kemampuan mendistribusikan beban
Campuran yang memiliki nilai struktural
Campuran yang tidak memiliki nilai struktural
c Berdasarkan metode konstruksinya
Metode segregasi
Metode pracampur, yang terbagi atas campuran panas ( Hot Mix ), campuran
hangat ( Warm Mix ) dan campuran dingin ( Cold Mix ).

Berikut beberapa jenis campuran yang cukup dikenal di Indonesia:


a. Lapen ( Lapis Penetrasi Makadam )
Campuran antara agregat dan aspal yang terdiri dari agregat pokok dan agregat
pengunci dengan gradasi terbuka dan seragam yang diikat dengan aspal dengan
cara disemprotkan diatas dan dipadatkan lapis demi lapis.

Biasa digunakan sebagai lapis pondasi dan lapis permukaan. Jika digunakan
sebagai lapis permukaan, maka perlu diberi lapisan penutup, yang merupakan
leburanb aspal dengan agregat penutup.
Campuran ini mempunyai sifat kurang kedapair, kekuatan utama terletak pada
sifat saling interlocking antara batuan pokok dengan batuan pengunci, memiliki
nilai struktural, cukup kenyal dan memiliki permukaan yang kasar. Dapat
digunakan untuk perkerasan lama dan baru serta lalu lintas ringan dan sedang.
Campuran ini termasuk jenis segresi, yaitu proses pencampuran dilakukan pada
saat pengahamparan.

b. Latastirn ( Lapis Tipis Aspal Pasir )


Campuran yamng memiliki / terdiri dari aspal dan pasir bergradasi menerus yang
dicampurkan pada suhu minimum 120 C dan dipadatkan pada suhu minimum
120 C dan dipadatkan pada suhu 90 C - 110 C. Berfungsi sebagai lapis
penutup, lapisan aus memberikan permukaan jalan yang rata dan licin.
Campuran ini merupakan bentuk campuran pra campur dengan campuran
panas.

c. Buras ( Leburan Aspal )


Campuran yang terdiri dari aspal leburan pasir dengan ukuran maksimum 3/8,
berfungsi sebagai lapisan penutup menjaga permukaan agar tidak berdebu,
kedap air, tidak licin dan mencegah lepasnya butir halus, termasuk konstruksi
segresi.

d. Burtu (Leburan Aspal Satu Lapis )


Campuran ini sama dengan buras,tetapi leburan ini satu lapis agregat bergradasi
seragam dengan tebal maksimum 20 mm. Berfungsi menjaga permukaan agar
tidak berdebu, mencegah air masuk dan memperbaiki tekstur permukaan,
digunakan pada jalan yang belum atau sudah beraspal yang sudah stabil, mulai
retak atau mengalami degradasi dan dapat digunakan sampai lalu lintas berat.

e. Burda ( Leburan Aspal Dua Lapis )


Burda ini merupakan p[engembangan dari Burtu, dimana lapisan aspal ditaburi
dan dikerjakan 2 kali secara berurutan dengan tebal maksimal 35 mm. Berfungsi
memebuat permukaan tidak berdebu, mencegh masuknya air dan memperbaiki
tekstur permukaan perkerasan. Digunakan pada jalan ytang telah atau belum
beraspal dan jalan tersebut telah stabil dan rata mulai retak atau degradasi dan
dapat digunakan sampai lalu lintas berat.

f. Lasbutag ( Campuran Asbuton Dingin )


Campuran yang terdiri atas campuran agregat asbuton dan bahan peremaja
yang tercampur, diaduk, diperam, dihamparkan dan dipadatkan dalam keadaan
dingin ( tanpa pemanasan ). Campuran ini merupakan jenis yang memanfaatkan
langsung aspal, yaitu aspal dari pulau buton ( yang disebut Asbuton ).

g. Latasbum ( Lapis Tipis Asbuton Murni )


Ini merupakan pengembangan dan memanfaatkan aspal alam asbuton
melakukan ekstraksi untuk mendapatkan aspal murni dari alam atau batuan
asbuton. Digunakan pada jalan raya telah n\beraspal yang telah stabil dan rata
serta mulai retak dan mengalami.

h. Laston ( Lapis Aspal beton )


Campuran aspal dengan agregat bergradasi menerus dengan campuran / yang
dicampurkan pada suhu minimum 115 C, dihamparkan pada suhu minimum
110 C. Berfungsi sebagai pelindung / pendukung lalu lintas, pelindung lapisan
dibawahnya dari cuaca dan air, lapisan aus dan menyediakan permukaan jalan
rata dan tidak licin.

i. Laston atas ( Lapisan Aspal Pondasi Atas )


Campuran ini adalah penggunaan Laston sebagai lapisan pondasi dan campuran
ini terdiri dari campuran agregat dan aspal dengan perbandingan tertentu dan di

Campur pada suhu 90 C - 120 C dan dipadatkan dalam keadaan panas.


Berfungsi sebagai lapisan perkerasan dan meneruskan beban kekonstruksi
dibawahnya.

j. Laston Bawah ( Lapisan Aspal Beton Pondasi Bawah )


Campuran ini terdiri dari campuran agregat dan aspal yang dicampur pada suhu
minimum 80 C - 120 C dan dipadatkan pada suhu minimum 80 C. Berfungsi
sebagai perkerasan yang menruskan beban padsa konstruksi dibawahnya.
Dipasang pada tanah dasar yang telah stabil dan untuk mempercepat
peningkatan jalan secara keseluruhan, terutama pada konstruksi bertahap.

k. Lataston ( Lapis Tipis Aspal Beton )


Campuran ini menggunakan agregat bergradasi timpang, aspal dan filler yang
dicampur pada suhu tertentu, tergantung pada nilai penetrasi aspal yang
digunakan dan dipadatkan pada suhu minimal 148 C. Tebal padatnya antara 2,5
cm 3 cm.

l. Hot Rolled Aspalt HRA


Campuran ini adalah tipe campuran yang menggunakan agregat bergradasi
senjang. Campuran ini menggunakan sedikit agregat berukuran sedang ( 2,36 m
10 mm ) dan matriks material halus dan aspal serta sedikit agregat kasar
( biasanya ukuran normal 14 mm ).

m. Stone Mastis Aspalt ( SMA )


Campuran SMA bergradasi kasar, seperti aspal Porous tetapi rongganya terisi
mortar agregat halus/filler/aspal. Hasilnya adalah suatu campuran bergradasi
senjang dengan ketahanan terhadap air dan memiliki durabilitas tinggi.

Dari sekian banyak tipe-tipe campuran aspal dan agregat yang paling
umum campuran aspal beton ( Asphatic Concrete) yang dikenal dg AC atau
laston dan campuran hot Rolled Asphalt (HRA)
AC merupakan susunan gradasi yang continue dari mutu material mutu tinggi
yang dicampur panas. Agregat yang lebih kecil mengisi ruang antar agregat
yang lebih besar, membenttuk struktur granular yang padat dengan void yang
sangat kecil
HRA adalah sand base mixture yang padat, kedap dan bergradasi timpang,
karena ada ukuran ada ukuran butir yang tidak terdapat dalam campuran.
Sedangkan ukuran agregat halus cukup banyak, maka agregat kasar seolah-olah
mengambang.

Perbandingan sifat-sidat yang penting antara AC dan HRA


No Campuran AC Campuran HRA
1. Kedap air Kedap air
2 Fleksibilitas rendah Fleksibilitas Tinggi
3 Keawetan kurang Keawetan tinggi
4 Fatique resistance baik Fatique resistance baik
5 Sensitif thd Variasi campuran Kurang sensitif
6 Pola Pemadatan sangat sukar Mudah Pemadatan
7 Kontrol terhadap VIM tinggi. VIM tidak begitu kritis
8 Nilai struktur tinggi (kekuatan Nilai kekuatan struktur rendah
9 struktur ) Nilai kekerasan rendah
10 Nilai kekerasan tinggi Gradasi timbang
11 Gradasi menerus Dapat dihampar dalam Lapisan tipis.
Lapisan harus tebal

2) Kinerja campuran aspal dan agregat


Campuran aspal dan agregat untuk perkerasan jalan yang biasanya disebut
sebagai aspal beton merupakan suatu bahan lapis perkerasan jalan yang terdiri
dari campuran agregat kasar, agregat sedang dan agregat halus serta bahan
mineral lainnya sebagai pengisi / filler dengan aspal sebagai bahan pengukat
dalam perbandingan yang proporsional dan teliti serta diatur dalam perencanaan
campuran.

Tahapan yang perlu diketahui dalam perencanaan campuran beraspal adalah :


Melakukan pemeriksaan terhadap aspal yang akan dipakai. Pemeriksaan
viskositas dan berat jenis aspal. Viskositas diperlukan untuk menentukuan suhu
campuran maupun suhu pemadatan.
Melakukan spesifikasi gradasi agregat yang akan dipakai yaitu suatu
besan persentase agregat yang lewat suatu saringan dengan ukuran tertentu.
Melakukan pemeriksaan mutu agregat yang akan dipakai.
Menentukan kombinasi beberapa fraksi agregat sehingga mendapatkan
gradasi campuran yang memenuhi spesifikasi yang ditentukan karena pada
umumnya agregat yang akan dipakai terdiri dari beberapa fraksi.
Jika mutu bahan sudah terpenuhi dan harga viskositas dari aspal serta kombinasi
fraksi sudah diketahui, kemudian dibuat campuran agregat dengan berbagai
kadar aspal selanjutnya dilakukan percobaan marshall guna menentukan flow
dan stabilitas campuran beraspal.

Syarat syarat utama aspal beton yang bermutu baik adalah :


1. Campuran harus mempunyai nilai stabilitas yang cukup yaitu harus sanggup
menahan beban lalulintas tanpa terjadinya deformasi dalam bentuk jejak roda
( Rutting ) atau rusak bergelombang akibat dorongan beban roda kendaraan
( Pushing )
2. Campuran tidak boleh retak retak artinya harus mampu menahan lendutan (
Derection ) yang mungkin timbul terhadap lapisan hamparan atau permukaan
tanpa mengalami kerusakan.
3. Campuran harus dapat bertahan lama ( Durable) artinya tidak rusak atau aus
dibawah beban lalulintas dan kondisi cuaca.

4. Campuran harus cukup kekerasannya ( Skid Resistance ) dan harus tetap


seperti sedemikian selama masa pelayanannya.
5. Harus cukup ekonomis dalam artian murah namun kuat.

Sifat-sifat penting yang harus dimiliki oleh suatu campuran agregat adalah
1. Stabilitas
Stabilitas yaitu kemapuan campuran aspal sebagai bahan perkerasan untuk
menahan deformasi akibat beban lalu lintas tanpa terjkadi perubahan seperti
gelombang, alur ataupun Bleeding. Kebutuhan akan stabilitas sejalan denagn
jumlah lalu lintas dan beban kendaraan yang lewat. Kekuatan atau stabilitas ini
diharapkan dari sifat paling kuno ( Interkocking ) antar agregat penyusunnya,
kelekatan yang disumbangakan oeh aspal dan adanya mortar.

Dengan demikian stabilitas yang tinggi dapat diperoleh denang cara


mengusahakan :
- Agregat dengan gradasi yang rapat ( Dense Graded )
- Agregat dengan permukaan kasar
- Agregat berbentuk kubus
- Aspal dengan penetrasi rendah
- Aspal dengan jumlah yang mencukupi untuk ikatan antar butir

2. Durabilitas
Durabilitas adalah ketahanan suatu campuran terhadap disintegrasi karena
beban lalu lintas dan berbagai faktor lingkungan ( cuaca, air dan perubahan suhu
). Makin besar besar potensi terhadap berbagai agregat, makin besar
durabilitasnya. Aspal menyelimuti agregat dalam bentuk film aspal untuk
melindungi dari air, sehingga air tidak dapat masuk kedalam agregat.

Aspal juga mengisi rongga udara, sehingga rongga udara berkurang dan
menghindari terjadinya proses oksidasi yang dapat menyebkan aspal menjadi
rapuh dan getas. Namun ada batasan minimum rongga udara terisi aspal untuk
menghindari terjadinya Bleeding.
Durabilatas dapat menurun disebabkan oleh :
a faktor eksternal : Udara, panas, air/uap air ( oksidasi )
b faktor internal : Aspal, agregat ( kehancuran secara mekanis )

Faktor yang mempengaruhi durabilitas aspal beton adalah :


a. VIM (Void in Mineral Mixture ) atau rongga dalam campuran kecil sehingga
lapis kedap air dan udara tidak masuk kedalam campuran yang menyebabkan
terjadinya oksidasi dan aspal menjadi rapuh / getas
b. VFA (void in mineral agregat ) atau rongga dalam agregat, dalam suatu
campuran aspal yang telah dipadatkan termasuk didlam nya rongga yang
terdidri aspal efektif. Jika VMA besar maka film aspal dapat dibuat tebal.

Untuk memaksimalkan durabilitas dilakukan dengan cara :


Campuran aspal beton mempunyai kandungan aspal yang cukup untuk
menyelimuti semua agregat.
Aspal yang cukup untuk mengisi ruang udara diantara agregat ( Kedap air )
Flow ( kelelehan ) perubahan bentuk platis suatu campuran yang terjadi akibat
beban sampai batas runtuh yang dinyatakan dalam mm atau 0,01
VFB ( Void filled with bitumen ) rongga terisi aspal, bagian dari rongga
volume didalam agregat (VMA ) yang terisi aspal efektif dinyatakan dl dalam %
VMA

Ketahanan diharapkan meningkat dengan adanya proteksi aspal terhadap


agregat yang makin besar.untuk memaksimumkan durabilitas dilakukan dengan
cara :
a campuran aspal beton mempunyai kandungan aspal yang cukup
menyelimuti semua partikel agregat.
b Aspal yang cukup untuk mengisi ruang udar diantara agregat.

3. Fleksibilitas
Fleksibilitas adalah campuran beraspal sebagai bahan perkerasan menahan
lendutan tanpa terjadi retak dan perubahan volume.
Fleksibilitas suatu campuran dapat diperoleh dengan :
a Penggunaan agergat bergradasi senjang sehingga memperoleh VMA ynag
besar
b Penggunaan aspal lunak (penetrasi yang tinggi)
c Penggunaan aspal yang cukup banyak ,sehingga diperoleh VIM ynag kecil

Untuk memaksimalkan fleksibilitas, harus digunakan dengan gradasi


terbuka ( Open Groded ), karena itu harus kompromi dengan stabilitas
campuran, dimana campuran yang menggunakan agregat bergradasi terbuka
yang stabil dibandingkan dengan campuran yang menggunakan bergradasi
rapat.
Fleksibilitas suatu campuran beraspal dapat dinilai dengan
menggunakan rasioantara stabilitas Marshall dengan kelelehan ( Flow ), yang
dikenal dengan nama Marshall Questient. Semakin besar MQ semakin kaku
campuran dan sebaliknya

4. Kedap air
Kemampuan permukaan perkerasan untuk menahan rembesan air
kedalam perkerasan, permukaan perkerasan dapat kedap air, dilakukan dengan
cara :
a Menggunakan gradasi tepat
b Manambah kadar aspal

c 6. Kekerasan (skid Resistence )


Adalah kemampuan permukaan lapis keras untuk menghindari kendaraan
yang melalui diatasnya agar tidak terjadi bleding / sleping ( tergenlincir ) keluar
saat permukaan basah, nilai kerekatan yang tinggi dapat diperoleh dengan cara :
a Menggunakan agregat yang miknoteklstur tinggi dan nilai abrasi rendah.
b Membuat kondisi permukaan mempunyai mikroteksture tinggi misalnya
dengan menambah hipping

7. Kelemahan ( Fatique resistence )


Adalah kemampuan pekerasan untuk mendukung beban (load
resistance )
Dari beban lalu lintas tanpa mengalami retak. Nilai Fatique resistence dapat
dinaikan dengan cara :
a Memperingat kadar aspal
b Mempertebal lapis permukaan
c Memperkecil rongga terhadap campuran

Beberapa cara menentukan kadar aspal dalam campuran :


1. Metode Luas permukaan
a. Cara California
P = 0,015 a + 0,036 b + 0,17 c + C
Dimana :
P = Persentase aspal dalam campuran dalam perbandingan berat
s = Persentase agregat tertahan # 10 mm
b = Persentase agregat lolos # 10 mm tertahan # 200 mm
c = Persentase agregat yang lolos # 200 mm

b. Cara Myoming
P = 1,3 ( 0,015 a + 0,036 b + 0,17 c )

c. Cara lain menurut persamaa


P = SKT
Dimana :
P = Persentase aspal yang diperlukan
S = Faktor koreksi, karena butiran berbeda
S = 2,65 / U
K = Faktor koreksi karena diperlukan untuk menyelubungi seluruh
Luas permukaan butiran

2. Percobaan Laboratorium
Percobaan Marshall
Percobaan Hven

Parameter SNI BS AI
Campuran
Density
Stabilitas
Flow
VIM
VMA
MQ
VFA
CAD
IP

SNI = Standar Nasional Indonesia


BS = British Standar
AI = Aspalt Institute

3. Kadar aspal optimum dengan metode marshall


Beberapa persyaratan teknis dan ekonomis sebagai berikut :
a Cukup jumlah aspal untuk menjamin keawetan pekerasan .
b Cukup stabilitas sehingga dapat menerima beban lalu lintas tanpa
mengalami dan terjadinya perubahan bentuk ( deformation )
c Cukup rongga dalam total campuran untuk memungkinkan tambahan
pemadatan dilapangna akibat beban lalu lintas.
d Cukup fleksibel sehingga memungkinkan perubahan bentuk tanpa terjadi
retakan.

Fungsi aspal dalam campuran adalah sebagai perekat ( hinder ) dan


pengisi (filler ). Dengan fungsi ini maka jumlah aspal dalam campurannya terlalu
sedikit akan mengakibatkan kurang berfungsinya sifat perekat dan pengisi yang
akan mengakibatkan berkurangnya ikatan antara agregat ( Interlocking ) dan
massa dan masuknya air dalam rongga. Sedangkan jumlah air yang berlebihan
akan menyebabkan Bleeding yang dengan gesekan ban roda kendaraan
memprcepat pengelupasan dari agregat dan aspal dari agregat sehingga terjadi
lubang dan berkurangnya ikatan antar agregat.

Pada umunya, prosedur perencanaan dan pengawasan campuran aspal dan


agregat dengan metode Marshall. Proses perencanaan dimulai memilih
spesifikasi ( Spek ) campuran, yaitu gradasi yang harus dignakan serta jenis
aspal.

Proses selanjutnya adalah pembuatan benda uji yang diikuti oleh pemadatan.
Disarankan paling sedikit 5 variasi kadar aspal, dan aspal setiap kadar aspal
tersebut dibuat 3 benda uji pemadatan benda uji dalam hal ini menggunakan
metode Marshall, dinyatakan dalam jumlah tumbukan yang diketahui kenaikan
pada uji tersebut. Jumlah tumbukan didasarkan pada dalam jumlah tumbukan.
Sebelum pengujian Marshall Test, terlebih dahulu dilakukan pengujian berat isi
dan berat jenis untuk dapat menghitung kandungan rongga dalam aspal.
Tabel : Kriteria perencanaan campuran aspal beton ( Bina Marga )
Lalu lintas berat Lalu lintas Lalu lintas ringan
( 2 x 75 tumbukan sedang ( 2 x 35
Sifat Campuran ) (2x50 tumbukan )
tumbukan )
Min Maks Min Maks Min Maks
Stabilitas ( kg ) 550 - 450 - 350 -

Keleleahan (mm) 2 4 2 4,5 2 5

Stabilitas ( kg/mm ) 200 350 200 350 200 300

Rongga udara 3 5 3 5 3 5
campuran (%)
Indeks 75 - 75 - 75 -
perenadaman (%)

Sebelum melakukan pengujian marshall terlebih dahulu dilakukan


pengujian berat isi dan berat isi dan berat jenis untuk menghitung kandungan
rongga didalam campuran untuk penggambaran, kurva marshall sebaiknya kalau
manual menggunakan mistar yang lentur ( fleksible ), jangan pakai yang kaku.

Keuntungan dari metode Marshall :


Dapat digunakan untuk campuran perencanaan pada kondisi yang berbeda
beda dengan cara sederhana.
Bahan bahan yang digunakan akan dapat dipertimbangkan sekalipun
dibawah mutu standar.
Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan untuk mengontrol sesuatu yang
direncanakan

Kerugian Metode Marshall :


Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk satu jenis campuran.
Tidak dapat digunakan setiap umum pada setiap campuran.
Alat alat labor yang digunakan harus dengan ketelitian dan ditangani
tenaga ahli.
Tempertaur percobaan reletif tinggi.

Adapun langkah langkah metode Marshall :


1. a = % aspal
2. b = % aspal terhadap campuran
3. c = berat setelah dicetak
4. d = berat benda uji dalam keadaan jenuh
5. e = berat benda uji dalam air
6. f = berat jenis ( d-c)
7. g = Berat jenis benda uji ( f c )
8. Kepadatan agregat yang dipadatkan ( Sn )

1.4 PENGERTIAN BETON

Beton adalah suatu material yang terdiri dari campuran semen, air, agregat
(kasar dan halus) dan bahan tambahan bila diperlukan. Beton yang banyak
dipakai pada saat ini yaitu beton normal. Beton normal ialah beton yang
mempunyai berat isi 22002500 kg/m dengan menggunakan agregat alam yang
dipecah atau tanpa dipecah.
Beton normal dengan kualitas yang baik yaitu beton yang mampu menahan
kuat desak/hancur yang diberi beban berupa tekanan dengan dipengaruhi oleh
bahan-bahan pembentuk, kemudahan pengerjaan (workability), faktor air semen
(F.a.s) dan zat tambahan (admixture) bila diperlukan (Alam, dkk).
Beton merupakan bahan dari campuran antara Portland cement, agregat
halus (pasir), agregat kasar (kerikil), air dengan tambahan adanya rongga-
rongga udara. Campuran bahan-bahan pembentuk beton harus ditetapkan
sedimikian rupa, sehingga menghasilkan beton basah yang mudah dikerjakan,
memenuhi kekuatan tekan rencana setelah mengeras dan cukup ekonomis
(Sutikno, 2003:1). Secara proporsi komposisi unsur pembentuk beton adalah:
Tabel 1 Unsur Beton
Agregat Kasar + Agregat Halus
( 60 % - 80 % )

Portland Cement : 7 % - 15 % Air


( 14 % - 21 % )

Udara :1%-8%

Mutu beton ditentukan oleh banyak faktor antara lain (Sutikno, 2003:2):
a. Faktor Air Semen (FAS).
b. Perbandingan bahan-bahannya.
c. Mutu bahan-bahannya.
d. Susunan butiran agregat yang dipakai.
e. Ukuran maksimum agregat yang dipakai.w
f. Bentuk butiran agregat.
g. Kondisi pada saat mengerjakan.
h. Kondisi pada saat pengerasan.

2. Keuntungan dan Kerugian Beton


Beton semakin tahun semakin banyak digunakan baik di negara maju
maupun di negara yang sedang berkembang, sebagai contoh pada tahun 1976 di
Amerika Serikat di produksi beton 100 juta/tahun, di Canada 11 juta ton per
tahun, sedang di Indonesia pada tahun 1985 diproduksi 14 juta ton. Sampai saat
ini produksi semen (portland cement) terus ditingkatkan seperti kita ketahui
produksi semen pada tahun 1998 mencapai 17.250.000 ton per tahun (Sutikno,
2003:2).
Keuntungan dari beton antara lain (Sutikno, 2003:2):
1. Mudah dicetak artinya beton segar dapat mudah diangkut maupun dicetak
dalam bentuk apapun dan ukuran berapapun tergantung dari keinginan.
2. Ekonomis artinya bahan-bahan dasar dari bahan lokal kecuali Portland
cement, hanya daerah-daerah tertentu sulit mendapatkan pasir maupun kerikil.
Dan cetakan dapat digunakan berulang-ulang sehimgga secara ekonomis
menjadi murah.
3. Awet dan tahan lama artinya beton termasuk berkekuatan tinggi, serta
mempunyai sifat tahan terhadap perkaratan dan pembusukan oleh kondisi
lingkungan. Bila dibuat secara baik kuat tekannya sama dengan batu alam.
4. Tahan api artinya tahan terhadap kebakaran, sehingga biaya perawatan
termasuk rendah.
5. Energi effisien artinya beton kuat tekannya tinggi mengakibatkan jika
dikombinasikan dengan baja tulangan dapat dikatakan mampu dibuat strukutur
berat. Beton dan baja boleh dikatakan mempunyai koefisien muai hampir sama.
6. Dapat dicor ditempat artinya beton segar dapat dipompakan sehingga
memungkinkan untuk dituang pada tempat-tempat yang posisinya sangat sulit.
Juga dapat disemprotkan pada permukaan beton yang lama untuk
menyambungkan dengan beton baru (di grouting).
7. Bentuknya indah artinya dapat dibuat model sesuka hati menurut selera
yang menghendakinya.
Kerugian dari beton antara lain (Sutikno, 2003:2):
1. Beton mempunyai kuat tarik yang rendah, sehingga mudah retak. Oleh
karena itu perlu diberi baja tulangan.
2. Beton segar mengerut pada saat pengeringan dan beton keras
mengembang jika basah, sehingga perlu diadakan dilatasi pada beton yang
panjang untuk memberi tempat untuk kembang susut beton.
3. Beton sulit untuk kedap air secara sempurna, sehingga selalu dapat
dimasuki air dan air membawa kandungan garam dapat merusak beton.
4. Beton bersifat getas sehingga harus dihitung dengan teliti agar setelah
digabungkan dengan baja tulangan dapat bersifat kokoh terutama pada
perhitungan bangunantahan gempa.

A. Bahan Penyusun Beton

1 Portland Cement
Portland Cement (PC) atau semen adalah bahan yang bertindak sebagai
bahan pengikat agregat, jika dicampur dengan air semen menjadi pasta. Dengan
proses waktu dan panas, reaksi kimia akibat campuran air dan semen
menghasilkan sifat perkerasan pasta semen. Penemu semen (Portland Cement)
adalah Joseph Aspdin di tahun 1824, seorang tukang batu kebangsaan Inggris.
Dinamakan semen Portland, karena awalnya semen dihasilkan mempunyai
warna serupa dengan tanah liat alam di Pulau Portland.
Semen portland dibuat melalui beberapa langkah, sehingga sangat halus
dan memiliki sifat adhesif maupun kohesif. Semen diperoleh dengan membakar
karbonat atau batu gamping dan argillaceous (yang mengandung aluminia)
dengan perbandingan tertentu. Bahan tersebut dicampur dan dibakar dengan
suhu 1400 C-1500 C dan menjadi klinker. Setelah itu didinginkan dan
dihaluskan sampai seperti bubuk. Lalu ditambahkan gips atau kalsium sulfat
(CaSO4) kirakira 24 % persen sebagai bahan pengontrol waktu pengikatan.
Bahan tambah lain kadang ditambahkan pula untuk membentuk semen khusus
misalnya kalsium klorida untuk menjadikan semmen yang cepat mengeras.
Semen biasanya dikemas dalam kantong 40 kg/ 50 kg (Sutikno, 2003:2).
Menurut SII 0031-81 semen portland dibagi menjadi lima jenis, sebagai
berikut:
Jenis I : Semen untuk penggunaan umum, tidak memerlukan
persyaratan khusus.
Jenis II : Semen untuk beton tahan sulfat dan mempunyai panas hidrasi
sedang.
Jenis III : Semen untuk beton dengan kekuatan awal tinggi (cepat
mengeras).
Jenis IV : Semen untuk beton yang memerlukan panas hidrasi rendah.
Jenis V : Semen untuk beton yang sangat tahan terhadap sulfat.

2. Agregat Kasar dan Agregat Halus

Agregat kasar yang digunakan dalam SCC dibatasi kurang lebih hanya 50% dari
total volume beton. Hal ini dilakukan agar blok-blok yang terjadi ketika aliran
beton melewati tulangan baja dapat ditekan seminimal mungkin. Blok-blok ini
terjadi karena sifat viskositas yang tinggi dari aliran beton segar sehingga
agregat-agregat kasar saling bersinggungan. Akibat terjadinya saling kontak
antara agregat kasar maka aliran beton sangat lambat maka beton akan
terkumpul di satu tempat sehingga mengurangi tingkat workability dari beton.
Pembatasan jumlah agregat kasar dilakukan agar kemampuan aliran beton
melewati tulangan lebih maksimal. Demikian pula yang terjadi dengan agregat
halus sehingga jumlah agregat halus dalam mortar dibatasi kurang lebih 40%
dari total volume mortar (Vanda dan Fenny, 2004).
Selain dari segi jumlah, ukuran dari agregat kasar juga harus dibatasi.
Batasan untuk ukuran agregat kasar adalah maksimum 20 mm. Hal ini dilakukan
untuk menghindari segregasi pada saat aliran beton melewati struktur dengan
tulangan yang rapat.

3. Air

Air merupakan bahan yang diperlukan untuk proses reaksi kimia, dengan
semen untuk pembentukan pasta semen. Air juga digunakan untuk pelumas
antara butiran dalam agregat agar mudah dikerjakan dan dipadatkan. Air dalam
campuran beton menyebabkan terjadinya proses hidrasi dengan semen. Jumlah
air yang berlebihan akan menurunkan kekuatan beton. Namun air yang terlalu
sedikit akan menyebabkan proses pencampuran yang tidak merata.
Air yang dipergunakan harus memenuhi syarat sebagai berikut:
1 Tidak mengandung lumpur dan benda melayang lainnya yang lebih
dari 2 gram perliter.

2 Tidak mengandung garam atau asam yang dapat merusak beton,


zat organik dan sebaginya lebih dari 15 gram per liter.

3 Tidak mengandung klorida (Cl) lebih dari 1 gram per liter.

4. Tidak mengandung senyawa sulfat lebih dari 1 gram per liter.

4. Bahan Tambah
Definisi Bahan Tambah

Dimaksud bahan tambah adalah selain bahan-bahan pembentuk beton


(semen, air dan agregat) yang digunakan untuk memperbaiki dan menambah
sifat beton sesuai dengan sifat beton.
Bahan tambah yang digunakan dalam beton menjadi 2 yaitu (Mulyono,
2005:120):
1. Bahan Tambah Kimia (Chemical Admixture)
Chemical Admixture adalah bahan tambahan cairan kimia yang ditambahkan
untuk mengendalikan waktu pengerasan, mempercepat atau memperlambat,
mereduksi kebutuhan air dan menambah kemudahan pengerjaan beton.
Menurut standar ASTM. C.494 (1995: .254) jenis dan definisi bahan tambah kimia
sebagai berikut:
a. Tipe A Water-Reducing Admixture - Mengurangi air.
b. Tipe B Retarding Admixture Menghambat pengikatan beton.
c. Tipe C Accelerating Admixture Mempercepat pengikatan.
d. Tipe D Water Reducing and Retarding Admixture Mengurangi air dan
menghambat pengikatan.
e. Tipe E Water Reducing and Accelerating Admixture Mengurangi air dan
mempercepat pengikatan.
f. Tipe F Water reducing, High Range Admixture superplaticizer
g. Tipe G Water Reducing, High Range Retarding Admixture superplaticizer
dan menghambat pengikatan.

2. Bahan Tambah Mineral (additive) yaitu bahan tambahan merupakan padat


yang dihaluskan yang ditambahkan untuk memperbaiki sifat beton agar beton
mudah dikerjakan dan kekuatannya serta keawetannya meningkat. Bahan
tambahan mineral ini misalnya puzzolan, slag, fly as dari batu bara, abu sekam,
silica fume bahan produksi sampingan silica, ferro silicon. Beberapa keuntungan
penggunaan bahan tambah mineral antara lain (Cain, 1994: 500-508):
a. Memperbaiki kinerja workability.
b. Mengurangi panas hidrasi.
c. Mengurangi biaya pengerjaan beton.
d. Mempertinggi daya tahan terhadap serangan reaksi alkali-silika.
e. Mempertinggi usia beton.
f. Mempertinggi kekuatan tekan beton.
g. Mempertinggi keawetan beton.
h. Mengurangi penyusutan.
i. Mengurangi porositas dan daya serap air dalam beton.

UJI KUAT TEKAN BETON

MAKSUD DAN TUJUAN


Menerangkan prosedur pemeriksaan kuat tekan beton.
Membuat beton sesuai dengan rancangan beton yang diingikan.
PERALATAN DAN BAHAN
Peralatan

1. Mesin tekan

2. Tongkat pemada

3. Cetakan beton

4. Mistar

5. Timbangan kapasitas 20 kg

Bahan
Adukan beton untuk benda uji harus diambil langsung dari mesin
pengaduk dengan menggunakan peralatan yang tidak menyerap air,
adukan beton harus diaduk lagi sebelum dimasukan dalam cetakan.

PROSEDUR PERCOBAAN
Pembuatan benda uji :
1. Isi cetakan dengan adukan beton dalam 3 lapis, setiap lapis berisi
kira-kira 1/3 isi cetakan. Setiap lapis dipadatkan dengan tongkat
pemadat sebanyak 25 kali secara merata.

2. Ratakan permukaan beton.

3. Biarkan beton dalam cetakan selama 24 jam dan letakkan pada


tempat yang bebas getaranserta ditutup dengan bahan yang kedap
air.

4. Setelah 24 jam, bukalah cetakan dan keluarkan benda uji.

5. Rendam benda uji dalam bak yang berisi air agar proses perawatan
(curring) beton berlangsung dengan baik, maka peredam dilakukan
sampai batas waktu pengujian kuat tekan beton.

Penekanan benda uji :

1. Ambil benda uji dari bak perendam dan lap dengan menggunakan
lap lembab.

2. Tentukan berat dan ukuran benda uji.Perhatikan :Jika benda ujinya


berbentuk silinder, sebelum benda uji tersebut ditekan harus diberi
lapisan mortal / semen dipermukaan atas dan bawah setebal 4 mm
untuk meratakan permukaan bidang tekan.

3. Letakkan benda uji pada mesin penekan secara sentris.

4. Jalankan mesin penekan dengan penambahan beban terutama


berkisar antara 2 - 4 kg/cm2.