Anda di halaman 1dari 31

PEMERIKSAAN ASET TETAP

Makalah
Tugas Mata Kuliah Auditing II

Dosen Pengampu:
Ahmad Iskandar. SE

Oleh :

Husnul Khotimah 14.642.0025


Amina 14.642.0030
Yanti Nurima 14.642.0033
Nurul Qomariyah 14.642.0045
Mohammad Rizal 14.642.0081
Zalifah Musyayyadah 14.642.0094
Rekyan Lukmanto 14.642.0133

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PANCA MARGA
PROBOLINGGO
2017
1
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang maha pengasih lagi
maha penyayang. Karena berkat rahmat dan hidayah-Nya. Kami bisa
menyusun dan menyajikan Makalah Auditing II ini yang berisi
tentang Pemeriksaan Aset Tetap sebagai tugas kuliah. Tak lupa
penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang
telah membantu hingga makalah ini selesai dibuat.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Makalah ini
masih terdapat banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan.
Oleh karna itu, penulis mengharapkan keritik serta saran yang
membangun guna menyempurnakan makalah ini dan dapat menjadi
acuan dalam menyusun makalah-makalah atau tugas-tugas
selanjutnya.
Penulis juga memohon maaf apabila dalam penulisan makalah
Auditing II ini terdapat kesalahan pengetikan dan kekeliruan
sehingga membingungkan pembaca dalam memahami maksud
penulis.

Probolinggo, 12 April 2017

Penyusun

2
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI Halaman


COVER...................................................................................... 1
KATA PENGANTAR ................................................................... 2
DAFTAR ISI .............................................................................. 3
BAB I: PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang............................................................. 4
1.2. Rumusan Masalah....................................................... 5
1.3. Tujuan......................................................................... 5
1.4 Manfaat........................................................................ 5
BAB II: PEMBAHASAN
2.1........................................................................................Sifat dan
Contoh Aset Tetap........................................................... 6
2.2........................................................................................Tujuan
Pemeriksaan Aset Tetap.................................................. 8
2.3........................................................................................Prosedur
Pemeriksaan Aset Tetap.................................................. 9
2.4........................................................................................Internal
Control Questionnaires Aset Tetap.................................. 19
BAB III: PENUTUP
3.1 Kesimpulan ................................................................... 24
3.2 Saran.............................................................................. 25
DAFTAR PUSTAKA .................................................................... 26

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam suatu perusahaan kekayaan merupakan salah satu unsur


yang sangat penting dalam kelangsungan hidup perusahaan. Hal ini
dikarenakan berjalannya kegiatan perusahaan sangat berhubungan
erat dengan kepemilikan kekayaan perusahaan. Disisi lain kepemilikan
kekayaan perusahaan harus di kelola dan ungkapkan dengan benar
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum agar informasi
yang diberikan nantinya tidak menyesatkan bagi pemakai Laporan
keuangan .

Audit merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk


menilai kewajaran atas akun yang terdapat pada laporan keuangan dari
kesalahan mencatat maupun kesalahan dalam mengalokasikan biaya,
baik yang disengaja maupun tidak disengaja . Audit dapat dilakukan
oleh pihak intern maupun oleh pihak ekstern.

Dalam Pemeriksaan akuntansi baik yang dilakukan oleh auditor


intern ataupun oleh auditor ekstern , harus diketahui terlebih dahulu
tentang tujuan perusahaan dalam melaksanakan Pemeriksaan.
Pemeriksaan yang dilakukan karena diketahui sebelumnya adanya
ketidakberesan atau biasa disebut dengan tujuan khusus , maka
Pemeriksaan harus dilakukan dengan sedetail mungkin dan sample
yang digunakan adalah 100 % atau semua kegiatan yang berkaitan
dengan masalah tersebut harus di periksa. Agar diketahui
ketidakberesan yang terjadi karena apa dan berapa nilai kesalahannya,
serta siapa pihak yang terkait yang melakukan kesalahan (disengaja
atau tidak). Berbeda dengan Pemeriksaan yang tujuannya adalah
umum dimana perusahaan hanya menginginkan penilaian terhadap
pihak auditor, untuk menyatakan wajar atau tidak terhadap
pelaksanaan kegiatan akuntansi yang sudah dilaksanakan oleh
perusahaan. Dengan demikian untuk Pemeriksaan umum ini auditor

4
tidak harus melakukan Pemeriksaan dengan 100 % Bukti transaksi ,
tetapi dapat dengan menggunakan sample Bukti yang sebelumnya
dilakukan penilaian system pengendalian intern, materialitas
perusahaan dan risiko perusahaan.

Aktiva Tetap sebagai salah satu akun yang mempunyai nilai material
, maka adanya kesalahan pencatatan, perhitungan, penyajian dapat
menimbulkan penafsiran yang berbeda oleh pemakai Laporan
keuangan. Hal ini sangat merugikan baik oleh perusahaan sendiri
maupun oleh pihak ekstern yaitu seperti kreditur, investor, pemegang
saham , publik . Untuk itu diperlukan audit untuk menghindari
kesalahan dalam pelaporan keuangan. Agar audit dapat memberikan
laporan yang memberikan risiko kecil maka perlu dibuat teknik audit
yang baik sesuai dengan kondisi perusahaan . Demikian pula
diperlukan orang yang kompeten dan independen dalam melaksanakan
audit tersebut. Dari masalah tersebut maka muncul pertanyaan tentang
bagaimana teknik audit aktiva tetap dilakukan agar terhindar dari
kesalahan dalam pelaporan keuangan .

1.2 Rumusan Masalah

a. Bagaimana Sifat dan Contoh Aset Tetap ?

b. Apa tujuan audit aset tetap ?

c. Bagaimana prosedur pemeriksaan aset tetap ?

d. Bagaimana internal control questioneres audit aset tetap ?

1.3 Tujuan

a. Untuk mengetahui bagaimana sifat dan contoh aset tetap.

b. Untuk mengetahui apa tujuan audit aset tetap.

c. Untuk mengetahui bagaimana prosedur pemeriksaan aset tetap.

5
d. Untuk mengetahui bagaimana internal control questioneres audit
aset tetap.

1.4 Manfaat

Untuk dapat mengetahui materi tentang Pemeriksaan Aset Tetap


sesuai dengan tugas matakuliah Auditing II.

6
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sifat dan Contoh Aset Tetap

Aset tetap ( fixed assets ) disebut juga Property, Plant and Equipment.

Menurut Standar Akuntansi Keuangan ( PSAK No. 14, hal 16.2 & 16.3 IAI, 2002 ) :

Aset tetap adalah aset berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan
dibangun lebih dahulu, yaitu digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan
untuk dijual dalam kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari
satu tahun.

Menurut SAK ETAP ( IAI, 2009 : 68 ) :

Aset tetap adalah aset berwujud yang :

a. Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang dan jasa, untuk
disewakan ke pihak lain, atau untuk tujuan administratif.

b. Diharapkan akan digunakan lebih dari satu periode.

Suatu benda berwujud harus diakui sebagai suatu aset dan dikelompokkan sebagai aset
tetap bila :

a. Besar kemungkinan (probable) bahwa manfaat keekonomian dimasa akan datang yang
berkaitan dengan aset tersebut akan mengalir kedalam perusahaan.

b. Biaya perolehan aset dapat diukur sebagai andal.

Beberapa sifat atau cici-ciri aset tetap adalah :

1. Tujuan dari pembeliannya bukan untuk dijual kembali atau diperjualbelikan sebagai
barang dagangan, tetapi untuk dipergunakan dalam kegiatan operasi perusahaan.

2. Mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.

3. Jumlahnya cukup material.

Sifat pertama dari aset tetap tersebut yang membedakan aset tetap dari persedian
barang dagangan. Misalnya mobil yang dimiliki PT. Astra sebagai produsen mobil, hasil
produksi/rakitan yang berupa mobil untuk dijual harus digolongkan sebagai persediaan
7
barang dagangan (inventory), sedangkan mobil yang dipakai untuk antar jemput pegawai,
digunakan oleh direksi dan para manajer perusahaan harus digolongkan sebagai aset tetap.

Sifat kedua dari aset tetap, merupakan salah satu alasan mengapa aset tetap harus
disusutkan.

Biaya penyusutan merupakan alokasi dari penggunaan aset tetap selama masa
manfaatnya, secara sistematis dan teratur (menggunakan metode tertentu yang diterapkan
secara konsisten ).

Sifat ketiga merupakan salah satu alasan mengapa setiap perusahaan harus mempunyai
kebijakan kapitalisasi, yang membedakan antara capital expenditure dan revenue
expenditure.

Capital expenditure adalah suatu pengeluaran modal yang jumlahnya material dan
mempunyai manfaat lebih dari satu tahun. Revenue expenditure adalah suatu pengeluaran
modal yang jumlahnya tidak material walaupun manfaatnya mungkin lebih dari satu
tahun. Selain itu revenue expenditure merupakan pengeluaran yang dilakukan perusahaan
dalam rangka menghasilkan pendapatan dan dibebankan ke dalam laba rugi pada saat
terjadinya beban tersebut.

Misalnya pembelian mesin tik, meja tulis yang harga perunitnya kurang dari Rp
500.000, bagi perusahaan yang besar (misalnya pertamina) akan merupakan revenue
expenditure, tetapi bagi perusahaan yang kecil ( misal kantor akuntan kecil ) akan
merupakan revenue expenditure.

Fixed assets atau aset tetap bisa dibedakan menjadi :

1. Fixed tangible assets ( aset tetap yang yang mempunyai bentuk/wujud, bisa dilihat,
bisa diraba).

2. Fixed intangible assets ( aset tetap yang tidak mempunyai wujud/bentuk, sehingga
tidak bisa dilihat, tidak bisa diraba)

Yang termasuk Fixed Tangible Assets Misalnya :


a. Tanah ( land ) yang diatasnya dibangun gedung kantor, pabrik atau rumah. Tanah ini
biasanya tidak disusutkan (menurut SAK maupun peraturan pajak).

8
Tanah bisa dimiliki dalam bentuk hak milik, hak guna bangunan (biasanya jika
kita membeli rumah dari real estate) yang mempuntai jangka waktu 20-30 taun, hak
guna usaha dan hak pakai.
Perlu diperhatikan bahwa perusahaan asing dan warga negara asing tidak
diperbolekan membeli tanah dengan hak milik.
b. Gedung (building) termasuk pagar, lapangan parkir, taman, mesin-mesin, peralatan
(equipment), furniture & fixtures (meja, kursi), delivery equipment/vehicles (motor,
mobil, kapal laut, pesawat terbang).

c. Natural Resources (sumber alam), seperti pertambangan minyak, batu bara, emas,
marmer dan hak pengusahaan hutan (HPH). Natural resources ini harus dideplesi,
bukan disusutkan, pada saat sumber alam tersebut mulai menghasilkan.

Yang termasuk Fixed Intangible Assets misalnya :


Hak paten, hak cipta (copy right), franchise, goodwill, preoperating expenses
(biaya-biaya yang dikeluarkan sebelum perusahaan berproduksi secara komersial,
termasuk biaya pendirian).
Contoh dari frinchise misalnya Kentucky Fried Chicken, Hamburger, Mc. Donald,
Es teller `77. Dalam hal ini pengusaha yang ingin menjual makanan/minuman tersebut
harus menandatangani kontrak dengan pemilik frinchise, agar bisa menjual makanan
/minuman dengan rasa, bentuk, gaya, dekorasi yang khusus untuk jenis makanan tersebut,
tentu saja dengan membayar royalty.

2.2 Tujuan Audit Aset Tetap

Dalam suatu general audit (pemeriksaan umum), pemeriksaan atas


aset tetap mempunyai beberapa tujuan sebagai berikut :

1 Untuk memeriksa apakah terdapat internal control yang cukup baik di atas aset tetap.

2 Untuk memeriksa apakah aset tetap yang tercantum dilaporan posisi keuangan
(neraca) betul-betul ada, masih digunakan dan dimiliki oleh perusahaan.

3 Memeriksa apakah penambahan aset tetap dalam tahun berjalan (periode yang di
periksa) betul-betul merupakan suatu capital expenditure, di otorisasi oleh pejabat
perusahaan yang berwenang di dukung oleh bukti-bukti yang lengkap dan dicatat
dengan benar.

9
4 Untuk memeriksa apakah disposal (penarikan) asset tetap sudah dicatat dengan benar
di buku perusahaan dan telah di otorisasi oleh pejabat perusahaan yang berwenang.
Disposal dari aset tetap bisa terjadi dalam bentuk penjualan yang akan menimbulkan
rugi laba penjualan aset tetap, tukar tambah (trade-in) atau penghapusan aset tetap
yang bisa menimbulkan kerugian ,dari penghapusan aset tetap, jika aset tetap tersebut
masih mempunyai nilai buku.

5 Untuk memeriksa apakah pembebanan penyusutan dalam tahun (periode) yang


diperiksa dilakukan dengan cara yang sesuai dengan SAK, konsisten, dan apakah
perhitungannya telah dilakukan dengan benar (secara akurat).

6 Utuk memeriksa apakah ada aset tetap yang dijadikan sebagai jaminan.

7 Untuk memeriksa apakah penyajian aset tetap dalam laporan keuangan, sesuai dengan
standart akuntansi di Indonesia (SAK/ ETAP/IFRS)

2.3 Prosedur Pemeriksaan Aset Tetap

Di banyak perusahaan, terutama perusahaan industri, aset tetap merupakan jumlah


yang sangat besar dari total aset perusahaan. Namun demikian waktu yang digunakan oleh
akuntan public untuk memeriksa aset tetap biasanya lebih sedikit dibandingkan waktu
yang digunakan untuk memeriksa perkiraan lainnya seperti piutang, persediaan, dan lain-
lain.

Beberapa penyebabnya antara lain :


a Harga perolehan perunit dari aset tetap biasanya relatif besar dan jumlah transaksinya
dalam setahun biasanya sedikit.

b Mutasi aset tetap (penambahan dan pengurangan) biasanya jauh lebih sedikit
dibandingkan mutasi piutang dan persediaan.

c Dalam memeriksa aset tetap, prosedur cut off merupakan hal yang penting seperti
pemeriksaan atas cut off transaction dalam pemeriksaan pembelian dan penjualan
persediaan.

10
Prosedur audit yang akan disebutkan berikut ini berlaku untuk repeat
engagement (penugasan berulang) sehingga dititik beratkan pada pemeriksaan
transaksi tahun berjalan ( periode yang diperiksa).
Untuk audit pertama kali bisa dibedakan sebagai berikut :
1 Jika tahun sebelumnya perusahaan sudah diaudit oleh kantor akuntan lain, saldo awal
aset tetap bisa dicocokkan dengan laporan akuntan terdahulu dan kertas kerja
pemeriksaan akuntan tersebut.

2 Jika tahun sebelumnya perusahaan belum pernah di audit, akuntan public harus
memeriksa mutasi penambahan dan pengurangan aset tetap sejak awal berdirinya
perusahaan, untuk mengetahui apakah pencatatan yang dilakukan perusahaan untuk
penambahan dan pengurangan aset tetap, serta metode dan perhitungan penyusutan
aset tetap dilakukan sesuai dengan standart akuntansi keuangan di Indonesia
(SAK/ETAP/IFRS) tentu saja pemeriksaan mutasi tahun-tahun sebelumnya dengan
cara test basis dengan mengutamakan jumlah yang material.

Prosedur audit atas aset tetap adalah sebagai berikut:


1 Pelajari dan evaluasi internal control atas aset tetap.

2 Minta kepada klien top schedule serta supporting schedule aset tetap.

3 Periksa footing dan cross footingnya dan cocokkan total nya dengan General Ledger
atau sub-ledger saldo awal dengan working paper tahun lalu.

4 Vouch penambahan serta pengurangan dari asst tetap tersebut. Untuk penambahan kita
lihat approvalnya dan kelengkapan supporting documentnya.

5 Periksa fisik dari aset tetap tersebut dengan cara teks baris dan periksa kondisi dan
nomer kode dari aset tetap

6 Periksa bukti pemilikan aset tetap. Untuk tanah , gedung periksa sertifikat tanah , IMB
serta SIPB ( Surat ijin penempatan bangunan) untuk mobil dan motor periksa
BPKB ,STNK nya

7 Pelajari dan periksa apakah capitalization policy , depreciation policy yang dijalankan
konsisten dengan tahun sebelumnya.

11
8 Buat analisis tentang perkiraan repair dan maintenance, sehingga kita dapat
mengetahui apakah ada pengeluaran yang seharusnya masuk dalam kelompok capital
expenditures tetapi di catat sebagai revenue expenditures.

9 Periksa apakah aset tetap tersebut sudah di asuransikan dan apakah Insurance
Coveragennya cukup atau tidak.

10 Tes perhitungan penyusutan, cross reverence angka penyusutan dengan biaya


penyusutan perkiraan laba rugi diperiksa alokasi/ distribusi biaya penyusutan.

11 Periksa notulen rapat, perjanjian kredit jawaban konfirmasi dari bank, untuk
memeriksa apakah ada aset tetap yang dijadikan sebagai jaminan atau tidak. Bila ada,
maka hal ini perlu di ungkapkan pada catatan laporan keuangan.

12 Periksa apakah ada Commitment yang dibuat oleh perusahaan untuk membeli atau
menjual aset tetap.

13 Untuk Construction In Progress, kita periksa penambahannya dan


apakah ada Construction In Progress yang harus ditransfer ke aset
tetap.

14 Jika ada aset tetap yang diperoleh melalui leasing, periksa lease
agreement dan periksa apakah accounting treatmentnya sudah
sesuai dengan standat akuntansi leasing.

15 Periksa atau tanyakan apakah ada aset tetap yang dijadikan agunan
kredit di bank.

16 Periksa penyajiannya dalam laporan keuangan, apakah sesuai


dengan standar akuntansi keuangan di Indonesia (SAK/ETAP/IFRS).

Penjelasan Prosedur Audit


1 Pelajari dan evaluasi internal control atas aset tetap.
Dalam hal ini biasanya auditor menggunakan INTERNAL
CONTROL QUESTIONNAIRES, yang contohnya bisa dilihat di
Exhibit 14-4.
Beberapa ciri internal Control yang baik atas aset tetap adalah:
a Digunakan anggaran untuk penambahan aset tetap.

12
Jika ada aset tetap yang ingin dibeli tetapi belum
tercantum dianggaran maka aset tetap tersebut tidak boleh
dibeli dahulu.
b Setiap penambahan dan penarikan aset tetap terlebih dahulu
harus diotorisasi oleh pejabat perusahaan yang berwenang.
c Adanya kebijakan tertulis dari manajemen mengenai
capitalization dan depreciation policy.
d Diadakannya kartu aset tetap atau sub buku besar aset tetap
yang mencantumkan tanggal pembelian, nama supplier, harga
perolehan , metode dan persentase penyusutan, jumlah
penyusutan, akumulasi penyusutan dan nilai buku aset tetap.
e Setiap aset tetap diberi nomor kode.
f Minimal setahun sekali dilakukan inventarisasi (pemeriksaan
fisik aset tetap), untuk mengetahui keberadaannya dan kondisi
dari aset tetap.
g Bukti bukti pemilikan aset tetap disimpan ditempat yang
aman.
h Aset tetap diasuransikan dengan jumlah Insurance Coverage
( nilai pertanggungan) yang cukup.
2 Minta kepada klien, Top Schedule serta supporting schedule aset
tetap.

Contoh Top Schedule serta supporting schedule aset tetap bisa


dilihat di Exhibit 14-1 dan 14-2.

3 Prosedur audit nomor 3 cukup jelas.

4 Vouched penambahan serta pengurangan aset tetap.

Untuk penambahan aset tetap, selain diperhatikan


otorisasi dan kelengkapan supporting document, harus dilihat
apakah penambahan tersebut sudah tercantum dalam
anggaran. Untuk pengurangan aset tetap harus diperiksa
kebenaran journal entrynya.

Misalkan: mesin dengan harga perolehan Rp. 100.000.000


dan akumulasi penyusutan (s/sampai engan tanggal
penarikan) Rp.80.000.000 dijual dengan harga Rp. 30.000.000
secara tunai.
13
Journal entry yang seharusnya adalah:
DR. Kas Rp. 30.000.000
DR. Akumulasi Penyusutan Mesin Rp. 80.000.000
CR. Mesin Rp.
100.000.000
CR. Laba Penjualan Aset Tetap Rp.
10.000.000

Seringkali perusahaan mencatat transaksi tersebut dengan


mendebit kas Rp.30.000.000. auditor juga harus memeriksa apakah
uang kas sebesar Rp.30.000.000. sudah diterima perusahaan dan
dicatat dalam buku penerimaan kas.
5 Periksa fisik dari aset tetap dan perhatikan kondisinya apakah masih
dalam kadaaan baik atau sudah rusak.

Tentang pemeriksaan fisik aset tetap secara test basis ada 2


pendapat:

a Yang dites hanya penambahan dalam tahun berjalan yang


jumlahnya besar.

b Diutamakan penambahan yang baru serta beberapa aset tetap


yang lama.

Pada pendapat pertama memang akan lebih cepat


pelaksanaannya, tetapi ada kelemahannya yaitu bila ada aset tetap
yang sudah lama dibeli atau tidak dapat dipakai lagi, tetapi masih
tercantum didalam daftar aset tetap, maka dengan cara pertama
tidak dapat diketahui.

6 Pemeriksaan bukti pemilika aset tetap.

Dalam hal ini harus dicocokkan nomor mesin, chasis, dan


nomor polisi kendaraan yang tercantum di BPKB dan STNK dengan
yang terdapat dikendaraan. Perhatikan juga apakah surat- surat
tanah, gedung, kendaraan atas nama perusahaan.

14
7 Pelajari dan periksa apakah Capitalization serta Depreciation policy-
nya konsisten dengan tahun sebelumnya. Tentang policy dari
Capitalization tersebut ada beberapa kemungkinan:

a Berdasarkan jumlahnya, misalnay diatas Rp.500.000 harus


dikapitalisir.

b Berdasarkan masa manfaatnya.

c Campuran antara jumlah dan masa manfaatnya.

Tentang policy dari ada penyusutan ada beberapa kemungkinan,


apakah penyusutan tersebut dimulai:

a. Pada tanggal kembalian.

b. Pada tanggal pemakaian.

c. Juga perlu diketahui masa penyusutan, misalnya pembelian


tanggal 1 s/d 15 dihitung satu bulan penuh sedang tanggal 16
s/d 31 dihitung setengah bulan.

8 Analisis perkiraan repair dan maintenance.

Harus diperhatikan kemungkinan klien untuk memperkecil laba


dengan mencatat capital expenditure sebagai revenue expenditure.
Contoh kertas kerjanya bisa dilihat di nExhibit 14-3.

9 Periksa kecukupan insurance coverage, dalam arti jangan sampai


terlalu kecil atau terlalu besar. Jika terlalu kecil ada bahaya bahwa
jika terjadi kebakaran, ganti rugi dari perusahaan asuransi tidak
mencukupi untuk membeli aset tetap (misalkan gedung atau mesin)
yang baru sehingga mengganggu kegiatan operasi perusahaan.
Tentang penilaina cukup tidaknya insurance coverage trsebut adalah
atas dassar jumlah yang bmendekati harga pasar.

10 Tes perhitungan penyusutan dan alokasi biaya penyusutan aset


tetap.

Penyusutan ini biasanya dari aset tetap yang dapat


disusutkan, seperti gedung kantor dan sebagainya,sebab ada juga
15
Fixed Assets yang tidak dapat disusutkan seperti tanah hak
milik.Tetapi bila tanah tersebut digunakan untuk bahan baku
pembuatan batu bata atau genteng, maka dapat disusutkan yaitu
dengan istilah deplesi.

Apabila tanah tersebut merupakan tanah dengan hak guna


bangunan, maka tanah tersebut juga tidak dapat disusutkan. Auditor
harus memeriksa akurasi dari perhitungan penyusutan yang dibuat
klien, dan ketepatan alokasi biaya penyusutan sebagai bagian dari
biaya produksi tidak langsung, biaya umum dan administrasi, serta
biaya penjualan. Prosedur audit nomor 11 s/d 14 sudah cukup jelas.
15. Periksa apakah ada aset tetap yang dijaminkan.

Jika aset tetap dijaminkan berarti bukti pemilikan diserahkan


(disimpan) di bank, sehingga auditor harus memeriksa tanda terima
penyerahan bukti-bukti pemilikan.

Selain itu jika ada aset tetap yang dijaminkan harus


diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.

16. Periksa penyajian aset tetap dalam laporan keuangan apakah


sudah sesuai dengan (SAK/ETAP/IFRS), baik di neraca (cost and
accumulated depreciation), di laba rugi (biaya penyusutan), di
catatan atas laporan keuangan (kebijakan kapitalisasi dan
penyusutan,rincian garis besar aset tetap) maupun di lampiran
(rincian aset tetap).

Contoh penyajiannya:

di Neraca

16
Catatan No. 31/12/2002
31/12/2001
ASET TETAP:
Harga Perolehan 9 Rp.2.230.000.000
Rp.2.000.000.000
Akumulasi Penyusutan Rp. 525.000.000
Rp. 240.000.000
Rp.1.705.000.000
Rp.1.760.000.000

Di Kebijakan Akuntansi
d. Aset Tetap
Aset Tetap dinilai berdasarkan harga perolehan.
Perusahaan menyusutkan aset tetapnya dengan
menggunakan metode garis lurus dengan persentase
penyusutan sebagai berikut (berdasarkan taksiran masa
manfaat aset tetap):
Gedung : 4% per tahun
Kendaraan : 25% per tahun
Mesin : 20% per tahun
Peralatan Kantor : 10% per tahun
Penyusutan dihitung setahun penuh tanpa memperhatikan
tanggal pembeliannya.
Biaya pemeliharaan dan perbaikan rutin dibebankan pada
perhitungan laba rugi pada saat terjadinya, sedangkan biaya
pemugaran dan penambahan dalam jumlah besar dikapitalisasi.

Di catatan atas Laporan Keuangan No.9


9. Aset Tetap

Saldo Aset tetap per 31 Desember 2010 dan 2009 terdiri atas:

17
Beban penyusutan untuk tahun 2010 dan tahun 2009 masing-
masing sebesar Rp. 525.000.000 dan Rp. 240.000.000.
Gedung dan mesin dijadikan jaminan kredit di Bank Mandiri.
Menurut SAK ETAP (IAI, 2009:75):
Entitas harus mengungkapkan untuk setiap kelompok aset tetap:
a) Dasar pengukuran yang digunakan untuk menentukan jumlah
tercatat bruto;

b) Metode penyusutan yang digunakan;

c) Umur manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan;

d) Jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan (agregat


dengan akumulasi kerugian penurunan nilai) pada awal dan
akhir periode; dan

e) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang


menunjukkan:

1) Penambahan;

2) Pelepasan

3) Kerugian penurunan nilai yang diakui atau dipulihkan


dalam laporan laba rugi sesuai dengan penurunan nilai
aset;

4) Penyusutan

5) Perubahan lainnya

Entitas juga harus mengungkapkan:

18
a) Keberadaan dan jumlah pembatasan atas hak milik, dan aset
tetap yang dijaminkan untuk utang;

b) Jumlah komitmen kontrak untuk memperoleh aset tetap.

19
20
21
22
23
2.4 Internal Control Questioneres Audit Aset Tetap

Exhibit 14-4 Contoh Internal Control Questioneres Audit Aset Tetap

Y = Ya
T=Tidak
Klien : TR= Tidak
Relevan
Y T TR
PENAMBAHAN DA PENGURANGAN ASET TETAP
1 Apakah semua penambahan atau pengurangan:
a. Diotorisasi sebagaimana mestinya secara tertulis?
b. Diusulkan dengan surat yang menunjukan :
1) Pertimbangan ?
2) Harga taksiran (estimated cost)?
3) Suplier?
4) Spesifikasi?
5) Perkiraan yang di debet/di kredit?
6) Taksiran umur (estimated useful life) dan persentase
penyusutan atas tambahan baru?
c. Apakah bukti atas dilepaskanya sesuatu aset tetap yang
akan diganti baru (replace) telah diotorisasikan ?
d. Apakah setiap mutasi atau pemindahan secararutin
dilaporkan kepada bagian akuntansi ?

2 Apakah disusun anggaran untuk pengeluaran modal /investasi


(capital expenditure) dan persetujuan tertulis atas setiap proyek
yang besar di tandatangani oleh staf yang di tunjuk oileh dewan
komisaris/rapat umum pemegang saham dan diberikan kepada:
a Bagian pembelian?

b Bagian teknik?
c Bagian akuntansi?

3 Apakah semua pengeluaran investasi (capital expenditure)
dalam bentu upah, bahan dan persediaan harus melalui
prosedur administrasi yang sama dengan revanture expenditure

(pengeluaran yang langsung di bebankan sebagai biaya)?
ASET TETAP DALAM PEMBANGUNAN

24
4 Apakah proyek tersebut
a. Terpisah dalam perkiraan control tersendiri dalam buku
besar(misalnya construction in progres)?

b. Terkontrol atas tiap jenis perkiraan?
c. Diotorisasi dan dirumuskan secara jelas?
d. Penyimpanagn dari anggaran yang telah ditetapkan harus

mendapatkan persetujuan tambahan?


REGISTRASI
5. Apakah registrasi/dokumen aset tetap:
a. Disimpan dengan baik oleh perusahaan ?
b. Up to date ?
c. Secara berkala dicocokkan dengan perkiraan
kontrol buku besar ?
d. Menunjukkan perincian sebagai berikut :
1) Nomor identifikasi ?
2) Lokasi ?
3) Taksiran umur ?
4) Persentase penyusutan ?
6. Apakah semua aset tetap :
a. Diamankan dengan baik ?
b. Dirawat dengan baik ?
c. Diasuransikan dengan cukup ?
7. Apakah peralatan dan perkakas kecil terkontrol
dengan cukup :
a. Atas perolehannya ?
b. Atas penyusutannya ?
c. Diamankah dan dirawat dengan baik ?
8. Apakah terdapat pengawasan yang baik terhadap
bukti-bukti pemilikan (Title deeds) aset tetap :
a. Perincian secara jelas pemilikan dibuat dalam
suatu daftar ?
b. Disimpan oleh bagian yang terpisah dari
bagian akuntansi ?
CURRENT VALUE
9. Apakah nilai buku aset tetap jauh menyimpang
bila dibandingkan dengan taksiran harga pasar

25
yang berlaku ( estimated current market value ) ?
10. Apakah metode dan persentase penyusutan :
a. Sesuai dengan SAK?ETAP?IFRS ?
b. Sesuai dengan UU PPh ?
c. Metode penyusutan yang digunakan adalah :
...................Straight
Line.......................................................
...........................................................................
....................
...........................................................................
....................
PENYEWAAN ASET TETAP (LEASING FIXED
ASSETS)
11. Apabila aset tetap disewa dan bukan dibeli,
apakah:
a. Kontrak sewa menyewa diotorisasikan
sebagaimana mestinya ?
b. Pembukuannya cocok dengan jenis sewa yag
bersangkutan dan sesuai dengan
SAK/ETAP/IFRS ?
c. Uang sewa dan perjanjiannya secara jelas
dinyatakan untuk dapat menunjukkan keadaan
dengan layak ?
UMUM
12. Apakah sistem informasi meliputi dimana
perlu :
a. Anggaran untuk pengeluaran investasi (capital
expenditure)?
b. Alasan untuk pengeluaran investasi ?
c. Persentase keuntugan yang diharapkan atas
investasi tersebut ?
d. Perbandingan anggaran dengan pengeluaran
sesungguhnya ?
e. Penjelasan atas penyimpangan yang besar
antara anggaran dengan pengeluaran yang
sesungguhnya ?
26
13. Apakah perusahaan telah menetapkan
perumusan kebijaksanaan yang jelas untuk
membedakan pengeluaran investasi (capital
expenditure) dengan mengeluarkan biaya
(revenue expenditure)? Jelaskan :
Pengeluaran di atas Rp. 30.000.000 dikapitalisir
14. Apakah dibuat buku/daftar aset tetap ?
15. Apakah total jumlah perincian dicocokkan
secara berkala dengan perkiraan kontrolnya ?
16. Apakah masing masing aset tetap diberi
tanda/kode pengenal ?
17. Apakah aset tetap yang telah disusutkan
penuh, tapi masih tetap tercatat pada perkiraan
aset ?
18. Apakah buku/daftar aset tetap di-review
minimal setahun sekali, untuk mengetahui barang
yang rusak atau yang menganggur ?
Jelaskan :
Dilakukan bersamaan dengan investasi aset tetap.
19. Apakah prosedur rutin menjamin bahwa selalu
segera dilaporkan kepada bagian Akuntansi dan
dibukukan atas :
a. Proyek yang sudah selesai ?
b. Aset tetap yang disingkirkan karena tidak
berguna lagi (retirement) ?
c. Penjualan aset tetap ?
20. Bila dibuat laporan interim, apakah biaya
penyusutan diperhitungkan ?
A. Kelemahan-kelemahan lain yang tidak tercantum
pada pernyataan di atas :
................................................................................
......................
................................................................................
......................
................................................................................
......................
................................................................................
27
......................
B. Catatan lain :
................................................................................
......................
................................................................................
......................
................................................................................
......................
................................................................................
......................
C. Kesimpulan penilaian (baik,sedang,buruk?)
D. Revisi kesimpulan penilaian (lampiran alasannya)
Diisi oleh :

Direview oleh :

28
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Aktiva Tetap merupakan aset suatu perusahaan yang berwujud,


yang digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan dalam jangka
waktu lebih dari satu periode.

Dari sudut substansi, aktiva tetap dapat dibagi menjadi:

a Tangible Assets atau aktiva berwujud seperti lahan, mesin, gedung,


dan peralatan.

b Intangible Assets atau aktiva yang tidak berwujud sepertiGoodwill,


hak paten, hak cipta, dan lain-lain.

Dari sudut disusutkan atau Tidak dapat dibagi menjadi :

a Depreciated Plant Assets yaitu aktiva tetap yang dapat disusutkan


seperti bangunan, peralatan, mesin, inventaris, dan lain-lain.

b Undepreciated Plant Assets yaitu aktiva tetap yang tidak


disusutkan seperti tanah.

Berdasarkan jenis dapat dibagi menjadi:

a Tanah yang diatasnya didirikan bangunan atau digunakan operasi,


misalnya sebagai lapangan, halaman, tempat parkir dan lain
sebagainya.

b Bangunan, baik bangunan kantor, toko maupun bangunan untuk


pabrik;

c Mesin;

d Inventaris;

e Kendaraan dan perlengkapan atau alat-alat lainnya.

Tujuan pengujian substantif terhadap saldo aktiva tetap:

29
Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi
yang berkaitan dengan aktiva tetap
a Membuktikan kebenaran aktiva tetap dan keterjadian transaksi
yang berkaitan dengan aktiva tetap yang dicantumkan dineraca.
b Membuktikan hak kepemilikan klien atas aktiva tetap yang
dicantumkan di neraca.
c Membuktikan kewajaran penilaian aktiva tetap yang dicantumkan
dineraca.
d Membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan aktiva tetap
dineraca.

Prosedur audit atas aktiva tetap


a Prosedur audit awal
b Pengujian analitik
c Pengujian terhadap transaksi rinci
d Pengujian terhadap saldo akun rinci
e Verifikasi penyajian dan pengungkap.

3.2 Saran

1 Mahasiswa dan masyarakat luas harus lebih memahami bagaimana ketentuan-


ketentuan mengenai aktiva tetap agar tidak terjadi kesalahan pada pemahaman
terhadap aktiva tetap.

2 Auditor harus mengaudit sesuai dengan prosedur audit agar tidak terjadi kesalahan
dalam pengauditan.

3 Akuntan harus memahami dengan baik bagaimana pencatatan aktiva tetap yang baik
dan benar agar tidak terjadi salah pencatatan dalam transaksi keuangan.

30
DAFTAR PUSTAKA

Sukrisno Agoes. 2012.Auditing, edisi 4 buku 1, Penerbit Selemba


Empat.

31