Anda di halaman 1dari 50

MAKALAH MEKANIKA TANAH II

UJI TANAH DI LABORATORIUM

Disusun oleh :
KELOMPOK I

1. SALMA 16100061P
2. SITI RAHAYU
15100017
3. DWI UTAMI M.
4. ADITYA BASKARA 15100030
5. RIO NANDA
15100015
6. GUSTIAN R.
7. RIKO BIMA P. 15100010
8. PUTRA BINTORO
15100026
9. M. FAHREZA
10. RIDHO NOVIANSYAH 15100036
15100002
15100070
15100004

FAKULTAS TEKNIK

JURUSAN TEKNIK SIPIL

UNIVERSITAS PROF. DR. HAZAIRIN, SH

BENGKULU

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur yang kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat
dan karuniaNya yang masih memberikan kami kesehatan serta kekuatan sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah mekanika tanah II Uji Tanah di Laboratorium.

Makalah ini disusun memenuhi tugas mata kuliah Mekanika Tanah II (MEKTAN II).
Dalam tugas makalah ini, kami membahas atau menjelaskan bagaimana proses awal hingga
akhir menentukan beberapa pengujian tanah di laboratorium.

Kami berharap dari hasil penelitian serta deskripsi makalah yang berjudul Uji Tanah di
Laboratorium ini dapat membantu para pembaca mengetahui teori tentang bagaimana cara
pengujian tanah di laboratorium.

Kami ucapkan terima kasih dan mohon maaf jika dalam tugas yang kami susun ini
terjadi kesalahan dalam hal berkata kata maupun menjelaskan materi yang di bahas dalam
makalah ini. kami menyadari bahwa dalam tugas kami ini masih belum sempurna dan masih
perlu di tingkatkan lagi. Oleh karena itu, kami sangat memerlukan saran dan kritik Anda.

2
DAFTAR ISI

Judul................................................................................................................................ 1

Kata Pengantar................................................................................................................ 2

Daftar Isi......................................................................................................................... 3

BAB I : PENDAHULUAN............................................................................................. 4

1.1....................................................................................................................................Latar
Belakang................................................................................................................... 4
1.2....................................................................................................................................Rumusa
n Masalah.................................................................................................................. 4
1.3....................................................................................................................................Tujuan
................................................................................................................................... 5

BAB II : PEMBAHASAN.............................................................................................. 6

2.1. Kadar Air.................................................................................................................. 6


2.2. Analisis Butiran........................................................................................................ 9
2.3. Batas Plastis dan Batas Cair..................................................................................... 14
2.4. Triaksial.................................................................................................................... 17
2.5. Tekan Bebas............................................................................................................. 21
2.6. Geser Langsung....................................................................................................... 23
2.7. Geser Baling Baling.............................................................................................. 27
2.8. Konsolidasi.............................................................................................................. 30
2.9. Permeabilitas............................................................................................................ 36
2.10. Analisis Bahan Kimia............................................................................................ 41

BAB III : PENUTUP...................................................................................................... 49

3.1. Kesimpulan.............................................................................................................. 49
3.2. Saran........................................................................................................................ 49

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................... 50

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1....................................................................................................................................Latar
Belakang
Tanah didefinisikan sebagai material yang terdiri dari agregat (butiran) mineral-
mineral padat yang tidak tersementasi (terikat secara kimia) satu sama lain dan dari bahan-
bahan organik yang telah melapuk (yang berpartikel padat) disertai dengan zat cair dan
gas yang mengisi ruang-ruang kosong diantara partikel-partikel padat tersebut. Tanah
memiliki peranan yang sangat penting dalam perencanan suatu struktur bangunan, untuk
mendapatkan sebuah struktur yang kokoh maka dibutuhkan daya dukung tanah (bearing
capacity) yang cukup untuk menahan beban struktur tersebut. Namun tidak semua tanah
mampu mendukung konstruksi. Hanya tanah yang mempunyai stabilitas baik yang mampu
mendukung konstruksi yang besar.
Pengujian tanah di laboratorium dilakukan terhadap semua contoh tanah yang
diperoleh dari lapangan berupa contoh tanah terganggu dan contoh tanah tidak terganggu.
Pengujian-pengujian yang dilakukan bertujuan untuk memperoleh data dan informasi
parameter sifat fisik maupun sifat mekanika tanah, selanjutnya parameter-parameter
tersebut akan digunakan sebagai bahan analisis dan pertimbangan dalam perencanaan dan
desain tipe penanganan longsoran. Adapun jenis jenis pengujian yang harus dilakukan
pada pengujian tanah di laboratorium, yaitu kadar air, analisis butiran, batas plastis dan
batas cair, triaksial, tekan bebas, geser langsung, geser baling baling, konsolidasi,
permeabilitas, dan analisis bahan kimia.

1.2....................................................................................................................................Rumus
an Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas adapun rumusan masalah,
yaitu :
a. Apa pengertian dari kadar air, analisis butiran, batas plastis dan batas cair, triaksial,
tekan bebas, geser langsung, geser baling baling, konsolidasi, permeabilitas, dan
analisis bahan kimia ?
b. Apa saja alat alat yang digunakan dalam pengujian kadar air, analisis butiran, batas
plastis dan batas cair, triaksial, tekan bebas, geser langsung, geser baling baling,
konsolidasi, permeabilitas, dan analisis bahan kimia ?
c. Bagaimana metode pelaksanaan pengujian kadar air, analisis butiran, batas plastis dan
batas cair, triaksial, tekan bebas, geser langsung, geser baling baling, konsolidasi,
permeabilitas, dan analisis bahan kimia ?

1.3....................................................................................................................................Tujuan
4
Berdasarkan rumusan masalah yang telah disusun diatas, adapun tujuan penulis yaitu :
a. Mengetahui apa pengertian dari pengujian kadar air, analisis butiran, batas plastis dan
batas cair, triaksial, tekan bebas, geser langsung, geser baling baling, konsolidasi,
permeabilitas, dan analisis bahan kimia.
b. Mengetahui alat alat apa yang digunakan dalam pengujian pengujian kadar air,
analisis butiran, batas plastis dan batas cair, triaksial, tekan bebas, geser langsung,
geser baling baling, konsolidasi, permeabilitas, dan analisis bahan kimia.
c. Mengetahui bagaimana metode pelaksanaan dari pengujian pengujian kadar air,
analisis butiran, batas plastis dan batas cair, triaksial, tekan bebas, geser langsung,
geser baling baling, konsolidasi, permeabilitas, dan analisis bahan kimia.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Kadar Air

a. Pengertian
Kadar air adalah sejumlah air yang terkandung dalam suatu bahan atau benda.
Jadi, kadar air tanah adalah jumlah air tanah yang terkandung dalam pori-pori tanah
dalam suatu tanah tertentu. Kandungan air dalam tanah sangat berpengaruh pada
konsistensi tanah, dan kesesuaian tanah untuk diolah. Pemeriksaan kadar air di
lapangan dilakukan pada contoh tanah tak terganggu yang dikirim ke laboratorium.
Dengan membandingkan hasil hasilnya dengan hasil yang diperoleh dari uji batas
plastis dan batas cair, dapat disusun program uji kuat geser tanah. Selain itu, karena
umumnya tanah lunak berkadar air tinggi pemeriksaan kadar air berguna untuk
meyakinkan kondisi tanah lunak tersebut. Pemeriksaan kadar air, biasanya merupakan
bagian dari uji kuat geser tanah.
Menurut Hanafiah (2007) bahwa koefisien air tanah yang merupakan koefisien
yang menunjukkan potensi etersediaan air tanah untuk mensuplai kebutuhan tanaman,
terdiri dari:
1. Jenuh atau retensi maksimum, yaitu kondisi dimana seluruh ruang pori tanah terisi
oleh air.
2. Kapasitas lapang adalah kondisi dimana tebal lapisan air dalam pori pori
tanah mulai menipis, sehingga tegangan antar air dan udara meningkat lebih
besar dari gaya grafitasi.
3. Koefisien layu (titik layu permanen) adalah kondisi air tanah yang
ketersediaannya suda lebih rendah ketimbang kebutuhan tanaman untuk aktifitas,
dan mempertahankan torgornya.
4. Koefisien higroskopis adalah kondisi dimana air tanah terikat sangat kuat oleh
gaya matrik tanah.

Kadar air dalam tanah dapat dinyatakan dalam persen volume yaitu persen volume
air terhadap volume tanah. Cara ini mempunyai keuntungan karena dapat memberikan
gambaran tentang ketersediaan air pada pertunbuhan pada volume tanah tertentu. Cara
penetapan kadar air tanah dapat digolongkan dengan beberapa cara penetapan kadar
air tanah dengan gravimerik, kapasitas lapang. Daya pengikat butir butir tanah
terhadap air adalah besar dan dapat menandingi kekuatan tanaman yang tingkat tinggi
dengan baik begitu pun pada tanah inceptisol dan vertisol karena itu tidak semua air
tanah dapat diamati dan ditanami oleh tumbuhan (Hardjowigeno, 1993)
6
b. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Kadar Air pada Tanah
Menurut indranada 1994, faktor - faktor yang mempengaruhi kadar air tanah terdiri
dari:
1. Kadar bahan organik
Kadar bahan organic tanah mempunyai pori pori yang jauh lebih banyak dari pada
partikel mineral tanah yang berarti luas permukaan penyerapan juga lebih banyak
sehingga makin tinggi kadar bahan organic tanah makin tinggi kadar dan
ketersediaan air tanah.
2. Kedalaman solum
Kedalaman solum atau lapisan tanah menentukan volume simpan air tanah,
semakin dalam maka ketersediaan kadar air juga akan semakin banyak.
3. Iklim dan tumbuhan
Iklim dan tumbuhan pempunyai pengaruh yang penting bagi ketersediaan air yang
dapat yang dapat diabsorbsi dengan efisiensi tumbuhan dalam tanah. Temperature
dan perubahan udara merupakan perubahan iklim dan berpengaruh pada
efisiensi penggunaan air tanah dan penentuan air yang dapat hilang melalui
saluran evaporasi permukaan tanah. Kelakuan akan ketahanan pada kekeringan
keadaan dan tingkat pertumbuhan adalah factor pertumbuhan yang berarti.
4. Senyawa kimiawi
Senyawa kimiawi garam garam dan senyawa pupuk baik alamiah maupun non
alamiah mempunyai gaya asmotic yang dapat menarik dan menghidrolisis air
sehingga koefisien laju meningkat.
5. Tekstur tanah
Tekstur tanah berpengaruh bahwa dengan adanya perbedaan jenis tekstur tanah
dapat menggambarkan tingkat kemampuan tanah untuk mengikat air.
6. Struktur tanah, permeabilitas, serta pori tanah
Strukrur Tanah, permeabilitas tanah serta pori tanah merupakan hal yang penting
bagi faktor faktor yang mempengaruhi kadar air didalam tanah. Tanah yang
mempunyai ruang pori yang lebih banyak akan mampu menyimpan air lebih
banyak. Tanah yang lebih baik untuk proses pertumbuhan tanaman adalah jenis
tanah jenis inseptisol, karena jenis tanah inseptisol cukup subur karena mempunyai
bahan organik yang cukup tinggi.

c. Alat yang Digunakan


1. Oven yang dilengkapi dengan pengukur suhu untuk memanasi benda uji sampai
(1105 )C
2. Cawan dengan penutup dan tak berkarat (terbuat dari gelas/alumunium).
3. Timbangan dengan ketelitian 0,01;0,1;1 gram (lihat Tabel 2.1)
4. Desikator, berisi selica gel
5. Penjepit (Crubicle tongs)

d. Benda Uji

7
Jumlah benda uji yang dibutuhkan untuk pengujiankadar air tergantung padaukuran
butir maksimum dari sampeltanah yang diperiksa dengan ketelitian seperti
dibawah ini.

Tabel 2.1 Saran penggunaan timbangan berdasarkan ukuran butiran

Ukuran butir maksimum Berat benda uji yang Ketelitian


lolos ayakan (95-100%) disarankan timbangan
Lolos # 40 (0,420 mm) 10 s/d 50 gram 0,01 Gra
m
Lolos # 4 (4,75 mm) 100 gram 0,01 Gra
m
12,5mm 300 gram 0,1 Gra
m
50,0mm 1000 gram 1 Gra
m

e. Metode Pelaksanaan
1. Masukkan pasir kedalam beker gelas dari tinggi gelas.
2. Letakkan pipet diatas pasir, tepat ditengah-tengahnya, baru kemudian tuangkan
contoh tanah kering udara yang akan diperiksa setinggi 2/3 beker gelas. Pipet ini
berfungsi untuk mengalirkan udara di pasir, sedangkan pasir berfungsi sebagai
media peredap air gravitasi.
3. Siramkan air dengan hati-hati ke permukaan tanah, jangan sampai membasahi
pasir.
4. Tutup dengan plastik untuk mencegah penguapan air dan letakkan di tempat sejuk
selama 24 jam.
5. Setelah itu pindahkan sejumlah tanah dari beker gelas ke cawan timbang. Tanah
yang diambil sebaiknya yang berada di bagian tengah gelas.
6. Timbang contoh tanah tersebut (berat tanah kapasitas lapang).
7. Masukkan kedalam oven dengan suhu 120C selama 3 menit.
8. Kemudian masukkan ke eskikator pendingin 10 menit, lalu timbang beratnya.
Sehingga diperoleh tanah kering oven.
9. Perhitungan :
Misalkan berat tanah kapasitas lapang = w
Berat tanah kering oven = x gram
Maka :
Kadar air kapasitas lapang = w x X 100%
x
Atau :
Kadar air kapasitas lapang = BTKL BTKO X 100%
BTKO

8
2.2. Analisis Butiran

a. Pengertian
Analisis butiran adalah penentuan persentase berat butiran pada satu unit
saringan, dengan ukuran diameter lubang tertentu. Uji analisis ukuran butir tanah
dilakukan untuk keperluan klasifikasi. Pengelompokkan Tanah : - Tanah berbutir
Kasar : Kerikil dan Pasir, - Tanah berbutir Halus : Lanau dan Lempung. Pada dasarnya
partikel-partikel pembentuk struktur tanah mempunyai ukuran dan bentuk yang
beraneka ragam, baik pada tanah kohesif maupun tanah nonkohesif. Sifat suatu tanah
banyak ditentukan oleh ukuran butir dan distribusinya.Sehingga didalam mekanika
tanah, analisis ukuran butir banyak dilakukan/dipakai sebagai acuan untuk
mengklasifikasikan tanah. Pengujian Analisis Butiran ini dilakukan dengan dua cara:
1. Analisis Ayakan (sieve analysis), dilakukan untuk kandungan tanah yang berbutir
kasar (pasir, kerikil).
2. Analisis hidrometer (hydrometer analysis), dilakukan untuk kandungan tanah berbutir
halus (lolos ayakan No.200).

9
b. Alat yang Digunakan
1. Analisa Ukuran Butir Tanah Metode Ayakan

Pengujian ini bertujuan untuk menentukan pembagian ukuran butir (gradasi) dari
tanah yang lewat saringan no. 4. Benda uji yang digunakan berupa contoh tanah
terganggu maupun contoh tanah tak terganggu. Sedangkan peralatan yang
digunakan terdiri dari:
Mesin ayakan (sieve sheker).
Saringan No.4,9,10,20,40,60,80,100,200.
Neraca analitik dengan tingkat ketelitian 0,01 gram.
Pan untuk penambangan.
Alat pembagi seperti cone quartering dan splinter.
Oven dilengkapi dengan thermostat pengatur suhu untuk mengatur pemanas
110oC.

10
2. Analisa Ukuran Butir Tanah Metode Hidrometer

Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan pembagian ukuran butir (gradasi)


dari tanah yang lewat saringan No. 10. Peralatan yang digunakan dalam analisa
ukuran butir metode hidrometer terdiri dari:
Hydrometer dengan skala konsentrasi (5 60 gram/lt) atau untuk pembacaan
berat jenis campuran (0,995 1,038).
Tabung jelas ukur dengan kapasitas 1000 ml.
Termometer 0 50 oC dengan ketelitian 0,01 oC.
Pengaduk mekanis dan mangkok dispresi (mechanical stirrer).
Saringan-saringan no. 10, 20, 40, 60, 80, 100 dan 200.
Neraca dengan ketelitian 0,01 gram.
Oven yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk melunasi sampai 110ot.
Tabung-tabung gelas ukuran 50 ml dan 100 ml.
Batang pengaduk dari gelas dan stop watch.

c. Syarat Analisis Butiran

Benda uji yang akan digunakan dipreparasi dengan beberapa kategori berikut:

1. Jenis-jenis tanah yang tidak mengandung batu dan hampir semua butirannaya lebih
halus dari saringan no.10. Dalam hal ini benda uji tidak perlu dikeringkan dahulu
dan tidak perlu disaring dengan saringan no.10 (2,00 mm).
2. Jenis-jenis tanah yang mengandung batu atau banyak mengandung butiran yang
lebih kasar dari saringan no.10 (2,00 mm).
3. Tentukan kadar airnya untuk menentukan berat benda uji.

11
d. Metode Pelaksanaan
1. Analisa Ukuran Butir Tanah Metode Ayakan
Prosedur kerja analisa ukuran butir tanah metode ayakan sebagai berikut:
Catat berat masing-masing saringan serta panci bawah akan digunakan dalam
analisis.
Catat berat sampel tanah yang diberikan kering.
Pastikan bahwa semua Ayakan bersih, dan mengumpulkan mereka diurutan
nomor saringan (# 4 ayakan di atas dan # 200 saringan di bawah). Tempatkan
panci di bawah # 200 saringan. Hati-hati tuangkan tanah sampel ke dalam
saringan atas dan tempat tutup di atasnya.
Tempat ayakan tumpukan di shaker mekanik dan kocok selama 10 menit.
Keluarkan tumpukan dari shaker dan hati-hati menimbang dan mencatat bobot
masing-masing saringan dengan tanah yang ditahan. Selain itu, ingatlah untuk
menimbang dan mencatat berat panci bawah dengan halus ditahan tanah.
2. Analisa Ukuran Butir Tanah Metode Hidrometer
Langkah kerja pemeriksaan ukuran butir tanah metode hidrometer sebagai berikut:
Ambil tanah halus dari panci bawah set saringan, tempat itu menjadi gelas, dan
tambahkan 125 mL agen pendispersi (natrium hexametaphosphate (40 g/ L))
larutan. Aduk campuran sampai tanah tersebut benar-benar basah. Biarkan
tanah rendam selama sedikitnya sepuluh menit.
Sedangkan tanah adalah perendaman, tambahkan 125mL dispersing agent ke
kontrol silinder dan isi dengan air suling untuk menandai. Ambil bacaan bagian
atas meniskus dibentuk oleh hidrometer batang dan solusi kontrol. membaca
kurang dari nol dicatat sebagai negative (-) koreksi dan membaca antara nol
dan enam puluh dicatat sebagaipositif (+) koreksi. Membaca ini disebut koreksi
nol. Thekoreksi meniskus adalah perbedaan antara bagian atas meniskusdan
tingkat solusi dalam tabung kontrol (Biasanya sekitar +1).Shake silinder
kontrol sedemikian rupa sehingga isinya campuran secara menyeluruh.
Masukkan hidrometer dan termometer ke kontrol silinder dan perhatikan
koreksi nol dan suhu masing-masing.
Transfer bubur tanah ke dalam mixer dengan menambahkan lebih banyak air
suling, jika perlu, sampai cangkir pencampuran setidaknya setengah penuh.
Kemudian campuran larutan untuk jangka waktu dua menit.
Segera transfer bubur tanah ke dalam sedimentasi kosong silinder. Tambahkan
air suling sampai tanda.
Cover ujung terbuka dari silinder dengan stopper dan aman dengan telapak
tangan Anda. Kemudian putar terbalik silinder bawah dan ke belakang tegak
untuk jangka waktu satu menit (silinder harus terbalik sekitar 30 kali selama
menit).
12
Set silinder ke bawah dan mencatat waktu. Lepaskan sumbat dari silinder.
Setelah berlalu waktu satu menit dan detik empat puluh, sangat lambat dan
hati-hati memasukkan hidrometer untuk bacaan pertama.
(Catatan: Ini akan memakan waktu sekitar sepuluh detik untuk memasukkan
atau menghapus hidrometer untuk meminimalkan gangguan, dan pembebasan
hidrometer harus dibuat sedekat mungkin dengan kedalaman membaca
mungkin untuk menghindari terayun-ayun berlebihan).
Membaca ini diambil dengan melihat bagian atas meniskus dibentuk oleh
suspensi dan hydrometer batang. Hidrometer akan dihapus perlahan dan
ditempatkan kembali ke dalam silinder kontrol. Sangat lembut spin di kontrol
silinder untuk menghilangkan partikel yang mungkin telah mematuhi.
Ambil pembacaan hidrometer setelah waktu berlalu dari 2, dan 5 8, 15, 30, 60
menit dan 24 jam.

13
2.3..................................................................................................................................Batas
Plastis dan Batas Cair
a. Pengertian
Batas cair adalah nilai kadar air tanah dalam kondisitanah antara cair dan
plastis.Batas plastis adalah nilai kadar air tanah dalam kondisi antara plastis dan semi
padat.Batas susut/kerut adalah nilai kadar air tanah dalam kondisi antara semi padat
dan padat.
Tanah berbutir halus yang mengandung mineral lempung sangat peka
terhadap perubahan kandungan air. Atterberg telah menentukan titik-titik tertentu
berupa batas cair (Liquid Limit, LL), batas plastis (Plastic Limit, PL) dan batas
kerut/susut (Shrinkage Limit, SL).
Dengan mengetahui nilai konsistensi tanah maka sifat-sifat plastisitas dari
tanah juga dapat diketahui. Sifat-sifat plastisitas dinyatakan dengan harga indek
plastisitas (Plasticity Index, IP) yang merupakan selisih nilai kadar air batas cair
dengan nilai kadar air batas plastis (IP=LL PL).
Nilai IP yang tinggi menunjukkan bahwa tanah tersebut peka terhadap
perubahan kadar air dan mempunyai sifat kembang susut yang besar, serta
besar pengaruhnya terhadap daya dukung atau kekuatan tanah.

b. Peralatan yang Digunakan


1. Alat batas cair standar (casagrande).
2. Oven yang dilengkapi dengan alat pengatur suhu.
3. Alat pembuat alur (grooving tool).
4. Spatula.
5. Cawan untuk penentuan kadar air.
6. Air suling.
7. Timbangan dengan ketelitian 0,01gram.
8. Lempeng kaca ukuran 60 x 60 x 1cm.

c. Benda Uji
1. Bila sampel tanah diperkirakan mempunyai butiran yang lebih kecil dari saringan
No.40 (0,425mm), maka sampel tanah dapat digunakan langsung dalam
pengujian.
2. Bila sampel tanah mempunyai butiran lebih besar dari saringan No.40
(0,425mm), maka sampel tanah dikeringkanterlebih dahulu setelah itudisaringan
dan diambil benda uji yang lolos saringan N0.40 (0,425mm) sebanyak 200gram.

d. Metode Pelaksanaan
1. Penentuan Batas Cair
Mengambil benda uji sebanyak 100gram yang sudah disiapkan dan
meletakkannya pada lempeng kaca.
Memberi air suling pada benda uji tersebut sedikit demi sedikit, serta
mengaduknya sampai merata/homogen.
14
Setelah campuran homogen, mengambilbenda uji tesebut secukupnyadan
meletakkan pada mangkok alat uji, kemudian meratakan
permukaannyasedemikian rupa sehingga sejajar dengan dasar alat uji, dengan
ketebalan maksimum 1cm.
Membuat alur dengan membagi dua benda uji dalam mangkok dengan
menggunakan alat pembuat alur (grooving tool) melalui garis tengah
mangkok secara simetris.
Pada waktu membuat alur posisi alat pembuat alur harus tegak lurus
permukaan mangkok.
Memutar engkol alat uji sehingga mangkok naik/jatuh setinggi 1cm
dengankecepatan 2 putaran perdetik. Permutaran ini dilakukan terus dengan
kecepatan tetap sampai dasar alur benda uji berimpit sepanjang 1,27cm
dan mencatat jumlah pukulan pada waktu berimpit tersebut.
Mengulangi pekerjaan (3) sampai (6) paling kurang 2 kali sampai diperoleh
jumlah pukulan yang sama, dimaksudkanagar campuran tersebut sudah betul-
betul merata kadar airnya. Bila telah diperoleh jumlah pukulan yang sama,
maka mengambil sedikit tanah pada bagian yang berimpit untuk dicari kadar
airnya.
Mengembalikan sisa benda uji kelempeng kaca dan menambahkan air suling,
mengulangi langkah (2) sampai (7) berturut turut dengan variasi kadar air
yang berbeda sehingga diperoleh perbedaan jumlah pukulan sebesar 810
pukulan.
Melakukan pengujian tersebut diatas dengan kadar air yang bervariasi
sehingga didapat pukulan antara 1050.

15
2. Penentuan Batas Plastis
Benda uji sama dengan yang dipakai batas cair dan meletakkannya diatas pelat
kaca kemudian menambahkan air suling serta mengaduknya hingga merata.
Setelah kadar air merata buatlah bola-bola tanah dengan diameter 1cm
seberat 8gram, kemudian memilin bola-bola tanah diatas plat kaca dengan
telapak tangan berkecepatan 80 90 pilinan/menit.
Melakukan pemilinan sampai benda uji berbentuk batang dengan diameter
3mm. Bila ternyata benda uji belum mencapai diameter 3mm sudah retak-retak
maka satukan lagi benda uji tersebut dan menambahkan lagi sedikit air suling
serta mengaduknya lagi hingga homogen. Jika ternyata hasil memilin
mempunyai diameter lebih kecil dari 3 mm maka benda uji biarkan beberapa
saat agar kadar airnya sedikit berkurang.
Mengadukan dan memilin diulangi terus sampai retakan-retakan itu terjadi
tepat pada saat hasil pemilinan mempunyai diameter 3mm serta panjang
minimum 2,5 mm.
Buatlah batang-batang pengujian sebanyak 5gram, kemudian memeriksa
kadar airnya.

e. Perhitungan dan Pelaporan


1. Penentuan Batas Cair
Hasil yang diperoleh berupa jumlah pukulan dan kadar air yang selanjutnya
digambar dalam grafik.Jumlah pukulan digambarkan pada sumbu mendatar
dengan skala logaritmis dan kadar air sebagai sumbu tegak dengan skala
normal.
Membuat garis lurus melalui titik-titik itu, jika ternyata titik-titik yang
diperoleh tidak terletak satu garis, maka buatlah garis lurus melalui titik berat
dari titik-titik tersebut.
Menarik garis vertikal pada jumlah pukulan 25 x sampai memotong garis
grafik, kemudian menarik garis mendatar dari titik potong tersebut hingga
memotong sumbu vertikal (sumbu kadar air). Nilai yang diperoleh tersebut
merupakan nilai batas cair (Liquid Limit, LL) dari jenis tanah yang diuji.

2. Penentuan Batas Plastis


Menentukan kadar air rata-ratanya pada kadar air tersebut (pada prosedur
penentuan batas plastis) merupakan harga batas plastis (Plastic Limit, PL).
2.4. Triaksial
a. Pengertian
Pengujian geser triaksial adalah pengujian yang paling bisa dihandalkan untuk
memastikan parameter tegangan geser. pengujian ini sudah dipakai sacara luas untuk

16
kepentingan pengujian umum maupun kepentingan penelitian. Percobaan triaksial
merupakan metode paling umum untuk mencari kekuatan geser tanah. Percobaan ini
dilakukan dengan cara benda uji dimasukkan dalam selubung set tipis dan diletakkan
dalam tabung kaca, kemudian ruang di dalam tabung diisi dengan air. Benda uji
mendapat tegangan sel dengan jalan pemberian tekanan sel atau tekanan sampling
serupa dengan tekanan akibat tanah sekelilingnya, kemudian digeser secara vertikal
dengan kecepatan pergeseran (1% x Lo) per menit. Tekanan vertikal yang diberikan
pada proses keruntuhan ini adalah tegangan deviator dan dapat diukur dengan cincin
uji.
Dengan (c) dan () pada titik keruntuhan yang telah diketahui, maka dapat
digambar suatu lingkaran Mohr. Apabila suatu seri percobaan ini dilakukan dengan
tekanan sel yang berbeda, dapat digambar lingkaran Mohr lainnya. Lingkaran-
lingkaran ini harus mempunyai suatu garis singgung yang dikenal dengan sampul
Mohr dan merupakan suatu garis yang sama dengan persamaan garis yang diberikan
oleh percobaan Coulomb, sehingga diketahui nilai c dan .
Pada percobaan ini dilakukan secara UnconsolidatedUndrained (tanpa
konsolidasi-tanpa drainase). Pada percobaan ini benda uji diberi tegangan sel/ruang
dimana air tidak boleh mengalir dari benda uji. Setelah diberikan tegangan ruang,
dilakukan geseran vertikal dengan kecepatan (1% x Lo)/menit. Percobaan
Unconsolidated-Undrained ini merupakan analisis tegangan total. Pengujian geser
langsung dibedakan menjadi 3 macam, yaitu:
1. Undrained Test (percobaan tertutup)
Pada percobaan ini air tidak diperbolehkan mengalir dari benda uji, baik pada
tingkat pertama maupun kedua. Tegangan air pori biasanya tidak diukur pada
percobaan ini. Dengan demikian hanya kekuatan geser undrained yang dapat
ditentukan dengan percobaan ini.
2. Consolidated Undrained Test
Pada percobaan ini air diperbolehkan mengalir dari benda uji. Benda uji diberi
tegangan normal pada percobaan ini. Tegangan normal ini bekerja sampai
konsolidasi selesai, yaitu sampai tidak terjadi lagi perubahan pada isi benda uji.
Kemudian jalan air dari benda uji ditutup dan diberi tegangan geser secara
undrained yaitu secara tertutup. Biasanya tegangan air pori diukur selama
tegangan geser ini diberikan.
3. Drained Test (percobaan terbuka)

17
Pada percobaan ini benda uji diberi tegangan normal dan air diperbolehkan
mengalir sampai konsolidasi selesai. Kemudian tegangan geser diberikan dengan
jalan air tetap dibuka, yaitu penggeseran dilakukan secara drained (secara
terbuka). Untuk menjaga supaya tegangan air pori tetap nol, maka kecepatan
percobaan harus perlahan-lahan.
Tegangan air pori akan timbul di dalam tanah baik karena pemberian tegangan sel
maupun karena pemberiaan tegangan geser. Pemberian tegangan sel akan
mengakibatkan tegangan air pori yang positif, sedangkan pemberian tegangan geser
dapat mengakibatkan tegangan air pori yang positif atau negatif. Hal ini tergantung
pada kepadatan butir-butir benda uji. Apabila butirnya sangat padat maka akan
mengakibatkan tegangan air pori yang negatif, sedangkan bila butirnya tidak padat
maka akan mengakibatkan tagangan air pori yang positif.
Untuk pasir, percobaan triaksial biasanya dilaksanakan secara drained (terbuka).
Pada angka pori tertentu, benda uji ini tidak mengalami perubahan isi sama sekali pada
waktu digeser. Angka pori ini disebut angka pori kritis (critical void ratio). Hal ini
disebabkan pasir tidak mempunyai kohesi, maka nilai c selalu nol dan sudut geser
dalam dipengaruhi oleh kepadatan dan gradasi pasir.
Untuk lempung, percobaan triaksial biasanya dilaksanakan secara consolidated
undrained. Bila plastisitas rendah sehingga mudah dirembesi air, maka percobaan
drained juga dapat dipakai.

18
b. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan untuk pengujian triaksial adalah
Alat cetakan tanah.
Pisau/gergaji kawat.
Oli dan kuas.
Mistar.
Membran.
Benda uji.
Alat uji triaksial.
Alat uji triaksial terdiri dari cincin karet, batu berpori, silinder perspex, pipa untuk
pemberian tegangan sel, pipa unit pengaliran atau pengukur tegangan pori, kran
udara.

Gambar 7.4. Alat percobaan triaksial


c. Metode Pelaksanaan
1. Menyiapkan benda uji, mengukur panjangnya (Lo), isi gas dan menancapkan stop
kontak dan kemudian mencari luas penampangnya (A) dari tiap percobaan L =
Lo x (%).
2. Menghitung vertikal dial reading = L x 100.
3. Memasang membran dan meratakan permukaan dengan pipet sedot.
4. Memasang benda uji dalam sel, siapkan ring pecah dan karet.
5. Memasang bagian penutup sel triaksial, mengepaskan bagian atas dan memutar
sampai kencang.
6. Mengisi sel triaksial dengan air.
7. Memasang proving ring dan manometer samping
8. Menghidupkan angka pori digital.
9. Alat siap dijalankan.
10. Menghidupkan triaksial test.
11. Mematikan mesin setelah waktu habis.
12. Mengeluarkan air dari sel konsolidasi.
13. Melepas bagian luar dan ambil benda uji serta gambar keruntuhannya setelah air
habis.
14. Langkah pengosongan air dan udara.

d. Cara Perhitungan
19
1. Mengukur panjang benda uji (Lo) dan diameter, kemudian mencari luas
penampang (Ao).
2. Mencari h masing-masing (L= ho x %) dari tiap percobaan.
3. Menghitung vertikal dial reading = L x 100.
4. Mendapatkan harga = load dial/angka pori (ho), dan 3 dari bacaan alat triaksial.
5. Menghitung load = LRC x LDR.
6. Menghitung A' = Ao/(1 - ).
7. Menghitung tegangan deviator (1 - 3 ) = load/A.
8. Dari beberapa harga (1 - 3) dipilih harga terbesar, kemudian dihitung 3 = 3
- .
9. Menghitung 1 = (1- 3) + 3.
10. Menghitung 1 = 1 + .
11. Mencari jari-jari lingkaran Mohr R = (1 - 3 )/2 = (1- 3)/2 setelah mendapatkan
1, 1, 3, dan 3.
12. Gambar lingkaran Mohr, sehingga dapat diukur besarnya c dan .
13. Hasil perhitungan dapat dilihat dalam tabel.

20
2.5. Tekan Bebas
a. Pengertian
Tes kuat tekan bebas (Unconfined Test) adalah tes yang dilakukan untuk
menghitung kekuatan geser tanah dan dilakukan di laboratorium. Tes ini mengukur
seberapa kuat tanah untuk menerima kuat tekan yang diberikan sampai tanah tersebut
runtuh (terisan dari butiran-butirannya). Selain itu tes ini juga ditujukan untuk
mencari derajat sensitivitas.
Dalam pengujian tekan bebas ada syarat yang harus diperhatikan yaitu;
penekanan dimana kecepatan peregangan berkisar antara 0.5-2% permenit dan
bersifat konstan sampai mencapai keruntuhan. Tekanan vertikal diukur setiap kali
peningkatan regangan, Tanah dikatakan tanah sudah runtuh jika bacan proving
ring turun atau proving ringtiga kali bertutur-turut hasilnya sama.
Percobaan kuat tekan bebas dimaksudkan terutama untuk tanah lempung atau
lanau. Bila lempung yang diuji memiliki derajat kejenuhan 100% maka kekuatan
geser dapat ditentukan dri nilai kekuatan tekan bebas.
Kuat tekan bebas (qu) adalah harga tegangan aksial maksimum yang dapat
ditahan oleh benda uji silindris sebelum mengalami keruntuhan geser. Derajat
kepekaan/sensiitivitas (St) adalah rasio antara kuat tekan bebas dalam kondisi asli dan
dalam kondisi teremas (remolded).
Untuk menghitung beberapa parameter dari pengujian kuat tekan bebas
digunakan rumus berikut :
Regangan aksial (%)
= L/ L0
Keterangan :
= Rengangan aksial ( % )
L = Perubahan benda uji
L0 = Panjang benda uji semula

Luas penampang benda uji rata rata


A = A0 /1-
Keterangan :
A = Luas penampang (cm2)
A0 = Luas penampang benda uji mula-mula

Tegangan normal
n = P/A

21
Keterangan :
P = beban (gaya tekan) = n x
n = pembacaan arloji tegangan
= angka kalibrasi proving ring

b. Alat dan Bahan


Peralatan
1. Mesin tekan bebas.
2. Tabung penuh dan tabung belah.
3. Alat pengeluar contoh.
4. Pisau pemotong.
5. Proving ring.
6. Dial deformasi.
7. Trimer.
Bahan
Sampel diambil (dikeluarkan dari cetakan dengan cara jack out) dari cetakan
berbentuk selinder, sampel berukuran 3,8 cm dan tinggi 7,5 cm.

c. Metode Pelaksanaan
1. Sisipkan benda uji
Keluarkan contoh tanah dari tabung sampel sepanjang 2 cm dengan
menggunakan extruder lalu dipotong dan diratakan, hitung isi tabung penuh.
Pasang cetakan benda uji didepan tabung contoh lalu keluarkan contoh tanah
dengan menggunakan extruder sehingga tabung benda uji terisi penuh dengan
tanah.
Ratakan tanah yang menonjol dikedua ujung cetakan benda uji dengan pisau
pemotong.
Keluarkan benda uji dari dalam cetakan dengan alat pengeluar contoh.
2. Timbang benda uji.
3. Letakkan pada plat penekan secara sentries.
4. Atur ketinggian plat penekan atas agar tepat menyentuh permukaan atas tanah.
5. Atur dial beban maupun deformasi pada posisi nol.
6. Lakukan penekanan dengan memutar engkol (mesin manual) atau menghidupkan
motor (mesin electric). Kecepatan penekanan diambil % sampai 2 % permenit
dari tinggi contoh semula.
7. Baca dial beban pada regangan 0,5 %, 1%, 1,5%,2% dan seterusnya.
8. Setalah dicapai beban batas atau regangan telah mencapai 20%, gambar pola
kerutuhan tanah.

2.6. Geser Langsung (Direct Shear Strength)


a. Pengertian
Kekuatan geser tanah (soil shear strength) dapat di definisikan sebagai
kemampuan maksimum tanah untuk bertahan terhadap usaha perubahan bentuk pada
22
kondisi tekanan (pressure) dan kelembapan tertentu (Head, 1982). Kekuatan geser
dapat diukur dilapangan maupun dilaboratorium. Pengukuran dilapangan antara lain
dapat dilakukan menggunakan vane shear, plate load dan test penetrasi. Pengukuran
dilaboratorium meliputi penggunaan miniatur vane shear, direct shear, triaxial
compression dan unconfined compression (sallberg, 1965) dan fall-cone soil shear
strength.
Percobaan kekuatan geser biasanya dibagi menjadi dua tingkat yaitu tingkat
pertama pemberian tegangan normal dan tingkat kedua pemberian tegangan geser
sampai terjadi tingkat keruntuhan (failure), yaitu sampai terjadi tegangan geser
maksimum.
Faktor faktor yang mempengaruhi kuat geser antara lain :
1. Tekanan efektif atau tekanan antar butir.
2. Penguncian atau hubungan antar partikel, partikel yang bersudut akan
memberikan peguncian yang lebih besar dan kuat geser yang lebih tinggi
daripada yang bundar.
3. Kekuatan partikel atau kerapatannya.
4. Sedimentasi partikel, terjadi secara alami atau secara buatan.
5. Daya tarik partikel atau kohesi.
6. Kadar air untuk tanah kohesif, ini diperlihatkan dari bongkahan lempung kering
atau basah.
7. Kualitas benda uji (berhubungan dengan gangguan-gangguan, retakan, dan
celah).
8. Pengaruh lain seperti kelembaban, temperatur, kemampuan operator, peralatan.
Untuk tanah kohesif, kuat geser juga sangat dipengaruhi oleh :
1. Tingkat regangan.
2. Anisotropi dari massa tanah, kekuatan vertikal tidak sama dengan kekuatan
lateral.
3. Pengaruh-pengaruh keruntuhan progresif.
Pada alat geser langsung parameter kuat geser tanah dapat diukur secara
langsung. Benda uji dipasang dalam alat dan diberikan tegangan vertikal yaitu
tegangan normal yang konstan. Kemudian benda uji diberikan tegangan geser
sampai tercapai nilai maksimum. Tegangan ini diberikan dengan memakai kecepatan
bergerak (strain rate) yang konstan, cukup perlahan-lahan sehingga tegangan air
pori selalu nol. Maka percobaan ini dilakukan dalan kondisi drained.
Untuk mendapatkan nilai c dan maka perlu dilakukan beberapa percobaan
dengan memakai nilai Pv (tegangan normal) yang berbeda. Dengan demikian
23
hasilnya dapat digambar dalam grafik. Grafik ini menyatakan hubungan nilai
tegangan geser maksimum terhadap tegangan normal dari masing-masing
percobaan. Nilai c dan diambil dari garis yang paling sesuai dengan titik-titik yang
dimasukkan pada grafik tersebut.

Ph

Tegangan Normal Tegangan Geser

Pv Ph

A A

Gambar 6.1. Tegangan normal dan tegangan geser


Dari hasil percobaan ini akan didapat kohesi dan sudut geser dalam tanah, sehingga
besarnya kekuatan geser dalam tanah dapat dicari dengan rumus

c n tan

24
dimana :
= kekuatan geser dalam tanah (kg/cm2)
c = kohesi tanah (kg/cm2)
n = tegangan normal bidang geser (kg/cm2)
= sudut geser dalam tanah

b. Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam pengujian geser langsung adalah
a. Direct Shear Test Apparatus merk MARUI
b. Beban pemberat 4 buah (0,8 kg; 1,6 kg; 2,4 kg; dan 3,2 kg)
c. Pisau pemotong
d. Benda uji undisturbed (D = 5,9 cm, t = 2 cm)
e. Neraca
f. Stopwatch
g. Pipet dan kuas
h. Tanah hasil boring
i. Air dan oli
j. Oven listrik

Gambar 6.2. Alat percobaan direct shear test

25
c. Metode Pelaksanaan
1. Persiapan Benda Uji
Mengeluarkan tanah hasil boring dari tabung silinder.
Mengolesi alat cetakan dengan oli dan mencetak benda uji dengan cara
menekan cetakan/ring pada tanah asli.
Meratakan bagian ujung atas dan bawah cetakan dengan pisau.
Mengeluarkan benda uji dari cetakan.
2. Pelaksanaan Percobaan
Mengeluarkan kotak geser dari alat direct shear apparatus dari tempatnya
dan membersihkan dasar perletakan tabung serta diberi oli agar diperoleh
dasar yang licin.
Memasukkan benda uji ke tempatnya pada alat direct shear apparatus setelah
dilapisi dengan lempeng batu porus dan kertas pori.
Mempersiapkan perlengkapan dan alat uji direct shear, yaitu:
- Menyiapkan stopwatch.
- Memberi air pada benda uji.
- Mengatur horizontal dial dan load dial supaya menunjukkan angka nol.
Melakukan percobaan dengan meletakkan beban 0,8 kg.
Menghidupkan mesin dan memberi kotak geser pergeseran dengan kecepatan
pergeseran 1 % x diameter benda uji per menit (1% x 5,9 cm/menit).
Melakukan pembacaan horizontal dial, load dial (sesuai dengan tabel) pada
waktu-waktu tertentu.
Mematikan mesin uji setelah horizontal dial menunjukkan angka 600 atau
mencapai harga shear stress failure, kemudian mengeluarkan kotak geser dan
air.
Mengulang percobaan dengan beban 1,6 kg; 2,4 kg serta 3,2 kg.

26
2.7. Geser Baling Baling
a. Pengertian
Uji baling-baling merupakan uji untuk mendapatkan kekuatan geser tanah liat
secara langsung. Kekuatan geser yang didapatkan berhubungan dengan kondisi tidak
alir (Undrained). Alat uji Vane terdiri atas sebuah batang yang pada bagian ujung
bawahnya terdapat 4 (empat) buah sayap/blades dengan tinggi (12,7 cm) dan lebar
(6,35 cm).
Alat uji ini berupa baling-baling ditekan kedalam tanah sesuai dengan
kedalaman yang diinginkan, dalam penelitian ini digunakan setiap kedalaman (25 cm,
50 cm dan 75 cm) pada tiga titik. Baling baling tersebut kemudian diputar sehingga
terjadi gesekan antara tanah disela-sela baling dengan tanah disekitarnya. Momen
puntir akan terbaca pada alat vane shear. Setelah itu tekan alat sampai pada
kedalaman selanjutnya, kemudian baca momen putar.

b. Alat dan Bahan


Penyiapan Jangkar
Model jangkar tanah yang diusulkan dan akan didesain pada penelitian ini berbentuk
bintang yang merupakan pengembangan dari model jangkar tipe plat berbentuk
lingkaran. Permodelan tipe bintang ini diharapkan dapat memberikan kapasitas yang
lebih besar untuk menahan gaya angkat (uplift) pada kedalaman tanah tertentu
terutama pada media tanah lempung dengan konsistensi lunak sampai sedang.
Untuk mengkaji kapasitas jangkar (jangkar bintang) ini, maka pada penelitian ini
akan didesain model jangkar plat lingkaran sebagai pembanding untuk masing-
masing jangkar bintang dengan jumlah elemen 3, 4 dan 5 elemen.
Jangkar bintang akan terdiri dari pelat baja yang dibaut pada besi rod dengan
panjang sesuai dengan kedalaman penanaman ditambah dengan 10 cm diatas
permukaan tanah, kemudian akan disambung dengan tali sling baja sebagai penarik
jangkar.
Elemen jangkar terbuat dari plat baja dengan ketebalan tertentu yang akan ditanam
pada kedalaman yang ditentukan. Pada penelitian ini model jangkar yang akan
digunakan akan terdiri dari empat tipe masing:
Jangkar plat lingkaran dengan tebal plat 5 mm yang memiliki luas yang sama
78.5 cm sebagai acuan dengan diameter 10 cm.
Jangkar yang digunakan tipe bintang masing-masing memiliki 3 daun, 4 daun,
dan 5 daun. Elemen jangkar terbuat dari plat baja dengan pengembangan luasan
yang sama dari plat lingkaran tetapi dengan diameter equivalent yang berbeda.
Untuk lebih jelasnya geometrik model jangkar (jangkar) dapat dilihat pada
Gambar 2.

27
Gambar 2. Model Jangkar

Tahap persiapan contoh tanah.

Pemeriksaan karakteristik material tanah yang digunakan meliputi pemeriksaan


kadar air, berat jenis spesifik, distribusi ukuran tanah, kuat geser tanah, kompaksi
dan batas-batas Atterberg (batas cair, batas plastis dan batas susut) didasarkan
pada standar tes ASTM D2216-71, D85488-72, D422-63, D2166-66, D1560-77,
D427-61.

Untuk penyiapan tanah, tanah yang yang telah di ambil di lapangan lalu kemudian
butiran-butirannya dihancurkan sampai lolos saringan no.4. Selanjutnya tanah
dimasukkan ke dalam kotak sampel sesuai dengan volume yang dibutuhkan lalu
diratakan dan kemudian dipadatkan dengan alat pemadat modified dengan ukuran
panjang 16 cm, lebar 16 cm dan tinggi 1 cm, dengan tinggi jatuh dan jumlah
tumbukan tertentu hingga mencapai ketebalan 5 cm contoh tanah.

Tahap persiapan jangkar tanah.

Persiapan dimulai dengan permodelan plat yang akan digunakan . Setelah itu
barulah plat jangkar yang telah dimodel atau didesain dengan dimensi yang telah
ditentukan dibuat di tukang bubut besi dengan menggunakan plat baja sebagai
bahan pembuatan jangkar.

c. Metode Pelaksanaan
1. Menyiapkan Bak/wadah dengan ukuran 280 x 210 x 100 cm3 .
28
2. Merakit plat jangkar dengan menyambungkan dengan baja rod diameter 8 di
tengan dari jangkar kemudian dilas.

3. Pasang jangkar yang telah dirakit yang ujung atasnya akan disambung dengan tali
sling baja.
4. Kemudian isi bak dengan sampel tanah, secara bertahap setiap 10 cm kemudian
dipadatkan.
5. Setiap lapisan akan diberi cat untuk memudahkan dalam mengamati pola
keruntuhan.
6. Pasang alat hidraulik yang dihubungkan dengan sling untuk menarik jangkar.
7. Pasang dial untuk membaca deformasi yang terjadi.
8. Mulai melakukan pengujian sambil membaca kenaikan (deformasi) yang terjadi
dan membaca besarnya beban yang di berikan.
9. Lakukanlah percobaan a sampai h dengan variasi jangkar yang berbeda dengan
kedalaman yang telah ditentukan.

29
2.8. Konsolidasi
a. Pengertian
Konsolidasi adalah suatu proses pengecilan volume secara perlahan lahan
pada tanah jenuhsenpurna dengan permeabilitas rendah akibat pengaliran sebagian air
pori; proses tersebut berlangsung secara terus sampai kelebihan tekanan air pori yang
disebabkan oleh kenaikan tegangan total benar benar hilang. Bila suatu lapisan tanah
mengalami tambahan beban di atasnya maka air pori akan mengalir dari lapisan
tersebut dan volumenya akan menjadi lebih kecil. Peristiwa inilah yang disebut
dengan konsolidasi. Pada umumnya konsolidasi ini akan berlangsung dalam satu
jurusan vertikal saja karena lapisan yang mendapat beban tambahan tersebut tidak
dapat bergerak dalam jurusan horizontal (ditahan oleh tanah sekelilingnya). Dalam
keadaan seperti ini pengaliran air juga akan berjalan terutama dalam jurusan vertikal
saja. Ini disebut dengan konsolidasi satu jurusan (one dimensional consolidation) dan
perhitungan konsolidasi hampir selalu didasarkan pada teori ini.
Tanah merupakan suatu material yang berpori besar sehingga mempunyai kesempatan
yang besar untuk terjadi pemampatan dan deformasi elastis maupun plastis.
Deformasi elastis adalah pemampatan tanah yang terjadi dimana tanah akan kembali
ke bentuk semula apabila beban yang bekerja kepadanya ditiadakan.
Untuk mencapai deformasi yang tetap (untuk tanah dengan deformasi yang kecil,
lempung misalnya) diperlukan waktu yang cukup lama. Gejala yang demikian disebut
dengan konsolidasi. Konsolidasi mengakibatkan antara lain :
Isi serta keluarnya air pori (angka pori mengecil).
Perubahan susunan butir tanah/susunannya menjadi teratur.

Hubungan antara waktu dengan penurunan


Menurut Terzaghi, derajat konsolidasi berbanding lurus dengan waktu, yaitu :

Cv.t
Tv
h2
U = F(Tv)

Dimana :

U = Derajat konsolidasi

Tv = Faktor waktu

H = Jalan air terpanjang tanah yang berkonsolidasi

30
Cv = koefisien konsolidasi

T = waktu yang diperlukan

Derajat konsolidasi adalah perbandingan antara perununan dalam waktu (t) dengan
penurunan setelah selesai konsolidasi (t = ~ )

Penurunan dalam waktu t = U


Penurunan setelah selesai t = ~

Untuk menghitung factor waktu (Tv) gunakan rumus:

4 Cv.t
U2 x
h2
Jika U < 60 %

8eL / 4 Cv.t
U2 I x 2
2 h
Jika U > 60 %

Misalnya U = 40 % U2 = 4/6 . Tv

0,4 = 4/ 6. Tv

Tv = 0,126

Jadi kalau U = 40 % maka Yv = 0,126

Analog pada perhitungan di atas didapat :

U% 20 40 60 80 90

Tv 0,131 0,126 0,287 0,567 0,484

Jika ingin menghitung waktu yang diperlukan hingga turun mencapai 90 % dari
penurunan seluruhnya, maka U = 90 %

Cv.t Cv.t 90
Tv 0,848
h2 h2

31
0,848.h 2
t 90
cv

Secara keseluruhan konsolidasi terdiri dari dua bagian, yaitu :

1. Primary Consolidation
Penurunan yang terjadi karena air yang keluar dari dalam pori
2. Secondary Consolidation
Penurunan yang terjadi karena adanya penyesuaian diri antar butiran tanah, dan
berlangsung dalam waktu yang lama serta nilainya kecil. Penurunan ini berjalan
terus setelah Primary Consolidation selesai.

Besarnya penurunan yang terjadi dapat dihitung dengan rumus :

Cc.h Po P
S log
1 eo Po

Dimana :

S = besarnya penurunan

Cc = koefisien kompressi

eo = angka pori

Po = beban awal

P = tambahan beban

32
Hubungan antara tekanan dan angka pori

Pre (Over) Consolidation

Pre (Over) Consolidation adalah suatu kondisi dimana lapisan tanah dulunya pernah
mengalami beban/ tekanan lebih besar dari sekarang.

Normally Consolidation

Normally Consolidation adalah suatu kondisi lapisan tanah yang belum pernah
menerima beban.

Menurut Terzaghi besarnya perubahan angka pori akibat adanya tekanan dapat
ditentukan sebagai berikut :

eo e1 = Cc (log P log Po)

e = Cc. Log P/ Po

Dimana :

e = perubahan angka pori

Cc = koefisien kompresi

P = beban akhir

Po = beban awal

Besarnya nilai koefisien kompresi (Cc) pada rumus di atas dapat ditentukan dari rumus
:

Cc = 0,009 (LL 10)

Dimana :

LL = batas cair (%)

b. Tujuan Percobaan
Tujuan percobaan ini adalah untuk mengetahui:
Besarnya penurunan
33
Kecepatan penurunan

Dari percobaan ini akan didapat:

Cc = Compression index, ialah angka yang menentukan kemampuan contoh tanah


untuk mengalami pemampatan yang dipakai untuk menghitung penurunan.

Cv = Koefisien konsolidation, ialah angka yang menentukan kemampuan contoh


tanah untuk mengalami penekanan. Dipakai untuk untuk menghitung waktu
yang diperlukan untuk mengalami penurunan.

c. Alat-Alat Yang Digunakan

1. Satu unit konsolidometer, yang meliputi:

Tempat contoh tanah

Batu pori atas dan bawah

Arloji pengukur perubahan tebal contoh

2. Perlengkapan beban

3. Spatula

4. Stopwatch

5. Jangka sorong

6. Peralatan pengukur kadar air

34
d. Persiapan Benda Uji

1. Contoh tanah dikeluarkan dari tabung contoh, masukkan contoh tanah ini
kedalam cincin dengan cara menekan ke dalam contoh tanah tersebut, kemudian
dipotong rata bagian atas dan bawah cincin.

2. Permukan tanah ini harus rata/halus, bila perlu tambal lubang-lubang yang
terjadi.

3. Melalui bagian bawah cincin, tanah didorong keatas dengan besi silinder yang
tersedia.

4. Contoh tanah dimasukkan kedalam silinder konsolidometer. Masukkan berturut-


turut:

Batu pori tanah

Kertas saring

Cincin + benda uji

Pelat perata beban

e. Persiapan Alat
1. Alat konsolidometer harus diperiksa bahwa alat tersebut dapat bekerja dengan
baik. Yakinkan bahwa lengan telah ditimbang.

2. Arloji pengukur penurunan diperiksa, siapkan beban dan stopwatch.

f. Pelaksanaan Percobaan
1. Sel konsolidasi ditempatkan yang sudah berisi contoh pada rangka pembebanan.

2. Penekan beban diatas benda uji diatur, kemudian arloji diatur pada pembacaan
nol.

3. Stopwatch disiapkan dan beban awal dipasang hingga tekanan pada contoh tanah
sebesar 0,25 kg/cm2.

4. Arloji pengukur diatur pada waktu 5,4 , 15, 29, dan 40, kemudian 1,2.25,
4,6.25,9,12.25,16,25,36,49,64,81,100,121,144,225, dan 1440.
35
5. Pada konsolidasi disiapkan air segera setelah beban bekerja.

6. Setelah pembacaan 1440, beban ditambahkan hinga tekanan pada contoh tanah
menjadi 0,50 kg/cm2, selanjutnya lakukan langkah 4.

7. Lanjutkan setiap kali penambahan hingga tekanan kembali pada 0,25 kg/cm 2.
masing-masing tahap beban dibiarkan selama 24 jam (1440 menit) lalu lakukan
langkah 4 kecuali beban terakhir yaitu 0,25 kg/cm 2. lakukan pembacaan setelah
4 jam.

8. Setelah semua pemabacaan selesai, contoh tanah dikeluarkan dari


konsolidometer, kemudian periksa kadar air dan derajat kekenyalannya.

2.9. Permeabilitas
a. Pengertian
Jamulya dan Suratman Woro Suprodjo (1983), mengemukakan bahwa permeabilitas
adalah cepat lambatnya air merembes ke dalam tanah baik melalui pori makro
maupun pori mikro baik ke arah horizontal maupun vertikal. Tanah adalah kumpulan
partikel padat dengan rongga yang saling berhubungan. Rongga ini memungkinkan
air dapat mengalir di dalam partikel melalui rongga dari satu titik yang lebih tinggi ke
titik yang lebih rendah. Sifat tanah yang memungkinkan air melewatinya pada
berbagai laju alir tertentu disebut permeabilitas tanah. Sifat ini berasal dari sifat
alami granular tanah, meskipun dapat dipengaruhi oleh faktor lain (seperti air terikat
di tanah liat). Jadi, tanah yang berbeda akan memiliki permeabilitas yang berbeda.
Koefisien permeabilitas terutama tergantung pada ukuran rata-rata pori yang
dipengaruhi oleh distribusi ukuran partikel, bentuk partikel dan struktur tanah. Secara
garis besar, makin kecil ukuran partikel, makin kecil pula ukuran pori dan makin
rendah koefisien permeabilitasnya. Berarti suatu lapisan tanah berbutir kasar yang
mengandung butiran-butiran halus memiliki harga k yang lebih rendah dan pada tanah
ini koefisien permeabilitas merupakan fungsi angka pori. Kalau tanahnya berlapis-
lapis permeabilitas untuk aliran sejajar lebih besar dari pada permeabilitas untuk
aliran tegak lurus. Lapisan permeabilitas lempung yang bercelah lebih besar dari pada
lempung yang tidak bercelah (unfissured).
Hukum Darcy menjelaskan tentang kemampuan air mengalir pada rongga-rongga
(pori) dalam tanah dan sifat-sifat yang memengaruhinya. Ada dua asumsi utama yang
digunakan dalam penetapan hukum Darcy ini. Asumsi pertama menyatakan bahwa

36
aliran fluida/cairan dalam tanah bersifat laminar. Sedangkan asumsi kedua
menyatakan bahwa tanah berada dalam keadaan jenuh.
Pengujian permeabilitas tanah dilakukan di laboratorium menggunakan metode
Constant Head Permeameter dan Variable/Falling Head Permeameter.
1) Constant Head Permeameter
Uji ini digunakan untuk tanah yang memiliki butiran kasar dan memiliki koefisien
permeabilitas yang tinggi.
Rumus :
Q = k.A.i.t
k = (Q.L) / (h.A.t)
Dengan :
Q = Debit (cm3)
k = Koefisien Permeabilitas (cm/detik)
A = Luas Penampang (cm2)
i = Koefisien Hidrolik = h/L
t = Waktu (detik)
2) Variable/Falling Head Permeameter
Uji ini digunakan untuk tanah yang memiliki butiran halus dan memiliki koefisien
permeabilitas yang rendah.
Rumus :
k = 2,303.(a.L / A.L).log (h1/h2)
Dengan :
k = Koefisien Permeabilitas (cm/detik)
a = Luas Penampang Pipa (cm2)
L = Panjang/Tinggi Sampel (cm)
A = Luas Penampang Sampel Tanah (cm2)
t = Waktu Pengamatan (detik)
h1 = Tinggi Head Mula-mula (cm)
h2 = Tinggi Head Akhir (cm)
Hukum Darcy menunjukkan bahwa permeabilitas tanah ditentukan oleh koefisien
permeabilitasnya. Koefisein permeabilitas tanah bergantung pada berbagai faktor.
Setidaknya, ada enam faktor utama yang memengaruhi permeabilitas tanah, yaitu:
Viskositas Cairan, yaitu semakin tinggi viskositasnya, koefisien
permeabilitas tanahnya akan semakin kecil.
Distribusi Ukuran Pori, yaitu semakin merata distribusi ukuran porinya,
koefesien permeabilitasnya cenderung semakin kecil.
Distibusi Ukuran Butiran, yaitu semakin merata distribusi ukuran
butirannya, koefesien permeabilitasnya cenderung semakin kecil.
37
Rasio Kekosongan (Void Ratio) , yaitu semakin besar rasio kekosongannya,
koefisien permeabilitas tanahnya akan semakin besar.
Kekasaran Partikel Mineral, yaitu semakin kasar partikel mineralnya,
koefisien permeabilitas tanahnya akan semakin tinggi.
Derajat Kejenuhan Tanah, yaitu semakin jenuh tanahnya, koefisien
permeabilitas tanahnya akan semakin tinggi.
Permeabilitas adalah kecepatan masuknya air pada tanah dalam keadaan
jenuh. Penetapan permeabilitas dalam tanah baik vertial makupun horizontal
sangat penting peranannya dalam pengelolaan tanah dan air. Tanah-tanah yang
mempunyai kecepatan permeabilitas lambat, diinginkan untuk persawahan yang
membutuhkan banyak air. Perkiraan kebutuhan air bagi tanaman memerlukan
pertimbangan-pertimbangan kehilangana air dari tanah melalui rembesan ke
bawah dan ke samping. Selain itu bagi daerah berdrainase buruk atau tergenang
memerlukan data kecepatan permeabilitas tanah agar perencanaan fasilitas
drainase dapat dibuat untuk dapat menyediakan jumlah air dan udara yang baik
bagi pertumbuhan tanaman. ( Santun dkk, 1980 )
Permeabilitas berhubungan erat dengan drainase. Mudah tidaknya air hilang
dari tanah menentukan kelas drainase tanah tersebut. Air dapat hilang dari
permukaan tanah maupun melalui presepan tanah. Berdasarkan atas kelas
drainasenya, tanah dibedakan menjadi kelas drainase terhambat sampai sangat
cepat. Keadaan drainase tanah menentukan jenis tanaman yang dapat tumbuh.
Sebagai contoh, padi dapat hidup
1. Permeabilitas (KHJ) adalah suatu sifat khas media sarang dan sifat geometri
tanah itu sendiri yang menunjukkan kemampuan tanah didalam
menghantarkan zat tertentu melalui pori - porinya.
2. Permeabilitas tanah, merupakan pengaruh pada lapisan yang kedap, serta
mempengaruhi ketebalan dan nisbah bentotit, itu semua yang sangat
menentukan permeabilitas tanah.

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi permeabilitas


1. Tekstur tanah
Tekstur tanah adalah perbandingan antara pasir, liat, dan debu yang menyusun
suatu tanah. Tekstur sangat berppengaruh pada permeabilitas. Apabila teksturnya
pasir maka permeabilitas tinggi, karena pasir mempunyai pori-pori makro.
Sehingga pergerakan air dan zat-zat tertentu bergerak dengan cepat.
2. Struktur tanah
Struktur tanah adalah agregasi butiran primer menjadi butiran sekunder yang
dipisahkan oleh bidang belah alami. Tanah yang mempunyai struktur mantap
38
maka permeabilitasnya rendah, karena mempunyai pori-pori yang kecil.
Sedangkan tanah yang berstruktur lemah, mempunyai pori besar sehingga
permeabilitanya tinggi.(Semakin kekanan semakin rendah)
3. Porositas
Permeabilitas tergantung pada ukuran pori-pori yang dipengaruhi oleh ukuran
partikel, bentuk partikel, dan struktur tanah. Semakin kecil ukuran partikel, maka
semakin rendah permeabilitas.
4. Viskositas cairan
Viskositas merupakan kekentalandari suatu cairan. Semakin tinggi viskositas,
maka koefisien permeabilitas tanahnya akan semakin kecil.
5. Gravitas
Gaya gravitasi berpengaruh pada kemampuan tanah untuk mengikat air. Semakin
kuat gaya gravitasinya, maka semakin tinggi permeabilitanya.
6. BI dan BJ
Jika BI tinggi, maka kepadatan tanah juga tinggi, sehingga permeabilitasnya
lambat atau rendah.
c. Faktor-faktor yang di pengaruhi permeabilitas
1. Infiltrasi
Infiltrasi kemampuan tanah menghantar partikel. Jika permeabilitas tinggi maka
infiltrasi tinggi.
2. Erosi
Erosi perpindahan massa tanah,jika permeabilitas tinggi maka erosi rendah
3. Drainase
Drainase adalah proses menghilangnya air yang berkelebihan secepat mungkin
dari profil tanah. Mudah atau tidaknya r hilang dari tanah menentukan kelas
drainase tersebut. Air dapat menghilang dari permukaan tanah melalui peresapan
ke dalam tanah. Pada tanah yang berpori makro proses kehilangann airnya cepat,
karena air dapat bergerak dengan lancer. Dengan demikian, apabila drainase
tinggi, maka permeabilitas juga tinggi.
4. Konduktifitas
Konduktifitas ias didapat saat kita menghitung kejenuhan tanah dalam air (satuan
nilai), untuk membuktikan permeabilitas itu cepata atau tidak. Konduktifitas
tinggi maka permeabilitas tinggi.
5. Run off
Run off merupakan air yang mengalir di atas permukaan tanah. Sehingga, apabila
run off tinggi maka permeabilitas rendah.
6. Perkolasi
Perkolasi merupakan pergerakan air di dalam tanah. Pada tanah yang kandungan
litany tinggi, maka perkolasi rendah. Sehingga, apabila perkolasi rendah maka
permeabilitasnya pun rendah.

39
Permeabilitas tanah memiliki lapisan atas dan bawah. Lapisan atas berkisar
antara lambat sampai agak cepat (0,20 9,46 cm jam-1), sedangkan di lapisan
bawah tergolong agak lambat sampai sedang (1,10 -3,62 cm jam-1).
( N.Suharta dan B. H Prasetyo.2008)

d. Alat Alat yang Digunakan


Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan praktikum antara lain
permeabelmeter, sampel tanah lapisan 1, 2 dan 3,air, buku panduan, gelas ukur 100
ml, mistar atau penggaris, stopwacth, ember dan alat tulis.

e. Metode Pelaksanaan
Pelaksanaan atau cara kerja dalam pengamatan permeabilitas tanah antara lain:
1. Siapkan contoh tanah yang telah dihaluskan dengan dipisahkan sesuai
lapisan tanah mulai dari lapisan I, II dan III.
2. Ambil alat pengukur permeabelmeter dan buka tutup tabung (tempat penampung
tanah), kemudian masukan sampel tanah yang diamati kedalam tabung dan tutup
kembali penutup tabung seperti semula.
3. Masukan air kedalam pemeabelmeter melalui corong sebanyak 100 ml secara
perlahan lahan kemudian diamati selama 10 menit.
4. Setelah itu tampung air yang telah diloloskan air melalui saluran pembuangan
menggunakan gelas ukur 100 ml untuk mengetahui kemampuan tanah dalam
meloloskan air.
5. Kemudian gunakan mistar atau penggaris untuk mengukur tinggi air yang
diloloskan oleh tanah pada gelas ukur.
6. Dan data hasil pengamatan dimasukan ke dalam tabel untuk mengetahui
permeabilitas tanah.
7. Pelaksanaan ini dilakukan secara berulang sampai semua sampel tanah yang diuji
permeabilitas terpakai dan data di rekap dan selanjutnya di analisis.

2.10. Analisis Bahan Kimia


a. Pengertian
Analisis bahan kimia dilakukan untuk mengetahui kemungkinan kandungan
bahan kimia dari air tanah yang dapat merusak fondasi beton, turap baja, atau tiang
pancang baja. Bila fondasi berupa bahan baja, biasanya cukup dengan menentukan
nilai pH dan kandungan klorida pada tanah dan air tanahnya. Untuk fondasi beton,
umumnya perlu ditentukan kandungan sulfatnya dan bila tanah mengandung banyak
bahan organik, disarankan untuk menambahkan uji pH dan penentuan presentase
kandungan bahan organiknya.
1. Kemasaman Tanah (pH)

40
Larutan tanah adalah air tanah yang mengandung ion-ion terlarut yang
merupakan hara bagi tanaman . konsentrasi ini sangat beragam dan tergantung
pada jumlah ion terlarut serta jumlah bahan pelarut atau air. Diwaktu musim
kering dimana air banyak menguap maka konsentrasi garam akan bertambah , hal
ini ditemukan di daerah yang beriklim kering. Sebaliknya didaerah yang basah
konsentrasi garam sering berubah-ubah secara drastis. Kadar garam yang tinggi
berbahaya bagi pertummbuhan tanaman . kadar garam sebanyak 0,5 % saja sudah
bebahaya bagi tanaman karena kadar tersebut sama dengan 10 ton garam di
lapisan 20 cm teratas (lapisan olahan). (Rismunandar, 2001)
Reaksi tanah yang penting adalah masam , netral atau alkalin. Pernyataan
ini didasarkan pada jumlah ion H dan OH dalam larutan tanah . bila didalam tanah
ditemukan ion H lebih banyak dari ion OH , maka disebut masam. Bila ion H
sama dengan OH , maka disebut netral , dan bila ion OH lebih banyak dari ion H
maka disebut alakalin.
Untuk meragamkan pengertian , sifat reaksi tersebut dinilai berdasarkan
konsentrasi ion H dan dinyatakan dengan pH . dengan kata lain , pH tanah = -log
(H) tanah. Suatu tanah disebut masamdengan 7, dan basa bila lebih dari 7 . bila
konsentrasi ion H bertambah maka ion pH turun dan se3baliknya bila konsentrasi
ion OH bertambah pH naik. Distribusi ion H dalam tanah tidak homogen . ion H
lebih banyak diserap dari pada ion OH , maka ion H lebih pekat didekat
permukaan koloid ., sedangkan ion OH sebaliknyab dengan demikian pH lebih
rendah didekat koloid daripada tempat yang jauh dari koloid. (Agus et.al,2008)
Kisaran pH tanah dapat dibatasi pada dua ekstrim. Kisaran pH tanah
mineral biasanya terdapat antar pH 3,5 sampai 10 atau lebih, untuk tanah gambut
kisaran pH nya adalah sekitar kurang dari 3,0 , sebaliknya tanah alkalin biasanya
bisa menunjukan pH lebih dari 11,0 . secara sederhana kisaran pH tanah itu
ditunjukan pada gambar 7-3 . kisara pH tanah mineral di daerah basah berbeda
dengan daerah kering . diwilayah basah kisaran pH itu berada antara sedikit
dibawah 5 hingga sedikit diatas 7 . sedangkan diwilayah kering berada sedikit
antara di bawah 7 dan diatas 9. (Hardjowigeno, 2003)
Pertumbuhan tanaman dipengaruhi pH tanah melalui dua cara yaitu :
pengaruh langsung ion hidrogen dan pengaruh tidak langsung yaitu tidak
tersedianya unsur hara tertentu dan adanya unsur hara yang beracun.
Dari berbagai hasil penelitian di amerika latin dan puerto rico diketahui
batas maksimum pH tanah kapur ( adam dan pearson , 1967 ) .batas pH yang
dimaksud menunjukan bahwa diatas pH ini tanamanyang bersangkutan tidak lagi

41
memerlukan kapur. Sebaliknya bila pH tanah dibawah nilai ini pertumbuhannya
akan terganggu jika tidak diberi kapur.
Kebanyakan tanaman toleran pada pH yang ekstrim, tinggi dan rendah ,
asalkan dalam tanah tersebu tersedia hara yang cukup . sayangnya tersedianya
unsur hara yang cukup itu dipengaruhi oleh pH . beberapa unsur hara tidak
tersedia pada pH ekstrim, dan beberapa unsur lainnya berada pada tingkat
meracun. Perharaan yang sangat dipengaruhi oleh pH antara lain adalah :
Kalsium dan magnesium dapat ditukar.
Alumunium dan unsur mikro.
Ketersediaan fosfor.
Perharaan yang bersifat atau berkaitan dengan kegiatan jasad mikro.
2. Kapasitas Tukar Kation (KTK)
Bagian yang paling aktif didalam tanah adalah partikel-partikel tanah
berukuran koloid. Koloid organik dan anorganik tanah ini bermuatan negative dan
dapat menjerap kation, yang dalam keadaan tertentu dapat terlepas kembali.
Koloid tanah dapat menjerap kation. Jumlah kation yang terjerap tergantung pada
susunan kimia dan mineral koloid tanah.
Muatan negatif koloid mineral berasal dari valensi-valensi yang pada
patahan-patahan mineral, ionisasi hydrogen dari gugus Al OH dan subsitusi
isomorfik. Sedangkan muatan negative koloid organic berasal dari ionisasi gugus
karboksil dan fenolik.
Kapasitas Tukar Kation (KTK) adalah jumlah me kation yang dapat
dijerap 100 gram tanah kering mutlak (berat kering oven 105 C ).
Kapasitas Tukar Kation adalah kemampuan koloid tanah menjerap dan
mempertukarkan kayion . Penetapan Kapasitas Tukar Kation (KTK) dapat dibagi
menjadi dua tahap. Pada tahap pertama , kompleks koloid tanah dijenuhi dengan
suatu kation, misalnya NH4 hingga seluruh kation yang dapat dipertukarkan dapat
dikelurkan dari kompleks jerapan tersebut (NH4) ditukar secara kuantitatif dengan
kation lainya , misalnya Na sehingga jumlah NH4 secara kuantitatif dengan
metode Amonium dalam praktikum KTK ini ditentukan dengan metode Amonium
Asetat 1N pH7 dengan cara kerja yang ringkas.
Melalui penetapan KTK, kita juga dapat menentukan persen
kejenuhan basa (KB) adalah perbandingan jumlah me kation basa (K, Ca, Mg,
Na ) dengan me kapasitas tukar kation ( KTK) .
Kapasitas tukar kation tanah tergantung pada tipe dan jumlah kandungan
liat, kandungan bahan organik, dan pH tanah. Kapasitas tukar kation tanah yang
memiliki banyak muatan tergantung pH dapat berubah-ubah dengan perubahan
pH. Keadaan tanah yang masam menyebabkan tanah kehilangan kapasitas tukar

42
kation dan kemampuan menyimpan hara kation dalam bentuk dapat tukar, karena
perkembangan muatan positif. Kapasitas tukar kation kaolinit menjadi sangat
berkurang karena perubahan pH dari 8 menjadi 5,5. KTK tanah adalah jumlah
kation yang dapat dijerap 100 gram tanah pada pH 7 (Pairunan, dkk., 1999).
Kation adalah ion bermuatan positif seperti Ca++, Mg+, K+, Na+, NH4+,
H+, Al3+, dan sebagainya. Di dalam tanah kation-kation tersebut terlarut di dalam
air tanah atau dijerap oleh koloid-koloid tanah. Banyaknya kation (dalam
miliekivalen) yang dapat dijerap oleh tanah per satuan berat tanah (biasanya per
100 g) dinamakan kapasitas tukar kation (KTK). Kation-kation yang telah dijerap
oleh koloid-koloid tersebut sukar tercuci oleh air gravitasi, tetapi dapat diganti
oleh kation lain yang terdapat dalam larutan tanah. Hal tersebut dinamakan
pertukaran kation. Jenis-jenis kation yang telah disebutkan di atas merupakan
kation-kation yang umum ditemukan dalam kompleks jerapan tanah.(Rosmarkam
dan Yuwono, 2002)
Kenyataan menunjukkan bahwa KTK dari berbagai tanah sangat beragam,
bahkan tanah sejenisnyapun berbeda KTKnya. Besarnya KTK tanah dipengaruhi
oleh sifat dan ciri tanah itu sendiri yang antara lain adalah: 1.) Reaksi tanah atau
pH; 2.) Tekstur Tanah atau Jumlah Liat; 3.) Jenis Mineral Liat; 4.) Bahan Organik;
dan 5.) Pangapuran dan Pemupukan (Hakim, dkk., 1986).
Pada kebanyakan tanah ditemukan bahwa pertukaran kation berubah
dengan berubahnya pH tanah. Pada pH rendah, hanya muatan permanen liat, dan
sebagian muatan koloid organik memegang ion yang dapat digantikan melalui
pertukaran kation. Dengan demikian KTK relatif rendah.(Harjowigeno, 2002)
KTK tanah berbanding lurus dengan jumlah butir liat. Semakin tinggi jumlah liat
suatu jenis tanah yang sama, KTK juga bertambah besar. Makin halus tekstur
tanah makin besar pula jumlah koloid liat dan koloid organiknya, sehingga KTK
juga makin besar. Sebaliknya tekstur kasar seperti pasir atau debu, jumlah koloid
liat relatif kecil demikian pula koloid organiknya, sehingga KTK juga relatif lebih
kecil daripada tanah bertekstur halus.(Hakim, 1986)
Pengaruh bahan organik tidak dapat disangkal terhadap kesuburan tanah.
Telah dikemukakan bahwa organik mempunyai daya jerap kation yang lebih besar
daripada koloid liat. Berarti semakin tinggi kandungan bahan organik suatu tanah
makin tinggi pula lah KTKnya.(Rosmarkam dan Yuwono, 2002) Masukan kapur
akan menaikkan pH tanah. Pada tanah-tanah yang bermuatan tergantung pH,
seperti tanah kaya montmorillonit atau koloid organik, maka KTK akan
meningkat dengan pengapuran. Di lain pihak pemberian pupuk-pupuk tertentu

43
dapat menurunkan pH tanah, sejalan dengan hal itu KTK pun akan turun. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa pengaruh pengapuran dan pemupukan ini
berkaitan erat dengan perubahan pH, yang selanjutnya memperngaruhi KTK tanah
(Hakim, dkk., 1986).
Berdasarkan pada jenis permukaan koloid yang bermuatan negatif, KTK
dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
1. KTK koloid anorganik atau dikenal sebagai KTK liat tanah,
KTK liat adalah jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan
koloid anorganik (koloid liat) yang bermuatan negatif. Nilai KTK liat
tergantung dari jenis liat, sebagai contoh:
a. Liat Kaolinit memiliki nilai KTK = 3 s/d 5 me/100 g.
b. Liat Illit dan Liat Klorit, memiliki nilai KTK = 10 s/d 40 me/100 g.
c. Liat Montmorillonit, memiliki nilai KTK = 80 s/d 150 me/100 g.
d. Liat Vermikullit, memiliki nilai KTK = 100 s/d 150 me/100 g.
2. KTK koloid organik atau dikenal sebagai KTK bahan organik tanah.
KTK koloid organik sering disebut juga KTK bahan organik tanah adalah
jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan koloid organik
yang bermuatan negatif. Nilai KTK koloid organik lebih tinggi
dibandingkan dengan nilai KTK koloid anorganik. Nilai KTK koloid
organik berkisar antara 200 me/100 g sampai dengan 300 me/100 g.
3. KTK total atau KTK tanah.
KTK total merupakan nilai KTK dari suatu tanah adalah jumlah total kation
yang dapat dipertukarkan dari suatu tanah, baik kation-kation pada
permukaan koloid organik (humus) maupun kation-kation pada permukaan
koloid anorganik(liat).
3. Kejenuhan Basa (KB)
Tanah adalah produk transformasi mineral dan bahan organik yang terletak
dipermukaan sampai kedalaman tertentu yang dipengaruhi oleh faktor-faktor
genetis dan lingkungan, yakni bahan induk, iklim, organisme hidup (mikro dan
makro), topografi, dan waktu yang berjalan selama kurun waktu yang sangat
panjang, yang dapat dibedakan dari cirri-ciri bahan induk asalnya baik secara fisik
kimia, biologi, maupun morfologinya (Winarso, 2005).
Sebelumnya telah dijelaskan bahwa kejenuhan basa adalah perbandinagn
antara kation basa dengan jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada koloid
tanah . kejenuhan basa juga mencerminkan perbandunagan antara kation basa
dengan kation hidrogen dan alumunium .berarti semakin kecil kejenuhan basa
semakin masam pula reaksi tanah tersebut atau pH nya makin rendah . kejenuhan
basa 100% mencerminkan pH tanah yang netral, kurang dari itu mengarah ke pH
tanah masam, sedangkan lebih dari itu mengarah ke basa. (Hardjowigeno, 2002).

44
Terdapat korelasi yang positif antara % kejenuhan basa dan pH tanah.
Umumnya terlihat bahwa kejenuhan basa tinggi jika pH tinggi. Oleh karena itu,
tanah-tanah daerah iklim kering biasanya mempunyai kejenuhan basa yang tinggi
daripada tanah-tanah didaerah iklim basah. Kejenuhan basa yang rendah berarti
terdapat banyak ion H+.Kejenuhan basa sering dianggap sebagai petunjuk tingkat
kesuburan tanah. Kemudahan pelepasan kation terjerap untuk tanaman tergantung
pada tingkat kejenuhan basa. Suatu tanah dianggap sangat subur jika kejenuhan
basanya >80%, berkeseburan sedang jika kejenuhan basanya antara 80% dan 50%
dan tidak subur jika kejenuhan basanya <50%. Suatu tanah dengan kejenuhan
basa sebesar 80% akan melepaskan basa-basa yang dapat dipertukarkan lebih
mudah daripada tanah yang sama dengan kejenuhan basa 50%. Pengapuran adalah
cara umum untuk meningkatkan persen kejenuhan basa tanah. (Hardjowigeno,
2003).

4. Unsur Hara Posfor (P)


Tanah adalah produk transformasi mineral dan bahan organik yang terletak
dipermukaan sampai kedalaman tertentu yang dipengaruhi oleh faktor-faktor
genetis dan lingkungan, yakni bahan induk, iklim, organisme hidup (mikro dan
makro), topografi, dan waktu yang berjalan selama kurun waktu yang sangat
panjang, yang dapat dibedakan dari cirri-ciri bahan induk asalnya baik secara fisik
kimia, biologi, maupun morfologinya (Winarso, 2005).
Unsur P dalam tanah dapat berasal dari : bahan organik (pupuk kandang,
sisa-sisa tanaman), pupuk buatan dan mineral-mineral dalam tanah
(apatit). Ketersedian P dipengaruhi sangat nyata oleh pH . bentuk ion P dalam
tanah juga tergantung pada pH larutan . pada pH agak tinggi ( basa ) ion
HPO4 2- adalah dominan. Bila pH tanah turun ion H2PO4 dan HPO4 akan
dijumpai bersamaan. makin masam reaksi tanah ion H2PO4 lah yang
dominan. (Lutz, Genter dab Hawskins, 1972)
Pada pH rendah ion P mudah bersenyawa dengan Al, Fe dan Mn ,
membentuk senyawa yang tidak larut akan diikat oleh Ca membentuk senyawa
tidak larut. Dulu dipertahankan orang sekitar kisaran pH 6 hingga 7 untuk
membentuk P agar lebih tersedia. Belakangan ditemukan bahwa pada pH lebih
dari 6.0 P sudah kurang tersedia (Ferina,Sumner,Plank, dan Litsch, 1980;
NurhayatiHakim, 1982). Tampaknya kelarutan maksimum dari P berada pada pH
5,5 . mempertahankan pH 5.5 hingga 6 sangat berarti bagi penyediaan P pada
tanaman.
45
Karena P mudah difiksasi maka pemberian pupuk P sebaiknya jangan
disebarkan tetapi diberikan dalam larikan agar kontak dengan tanah sedikit
mungik sehingga fiksasi dapat dikurangi.
Unsur P berfungsi dalam pembelahan sel, pembentukan albumin,
pembentukan bunga, buah dan biji, mempercepat pematangan, memperkuat
batang agar tidak mudah roboh, perkembangan akar, memperbaiki kualitas
tanaman terutama sayur-mayur dan makanan ternak, tahan terhadap penyakit,
membentuk nucleoprotein, metabolism karbohidrat, menyimpan dan
memindahkan energi.
Gejala-gejala yang akan ditampakkan tanaman budidaya jika kekurangan
unsure hara P antara lain pertumbuhan terhambat, karena pembelahan sel
terganggu, daun-daun menjadi ungu atau coklat mulai dari ujung daun, terlihat
jelas pada tanaman yang masih muda dan pada jagung, tongkol jagung menjadi
tidak sempurna dan kecil-kecil.

b. Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui perbedaan kadar pH (derajat kemasaman tanah), kapasitas
tukar kation (KTK), kejenuhan basa (KB) dan kadar posfor (P) pada tanah mineral
dan tanah gambut.

c. Bahan dan Alat


Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini antara lain sampel tanah
mineral, sampel tanah gambut, larutan H20, larutan KCl, larutan amonium asetat
(NH4OAC), aquades, kertas saring, NaOH 50%, paravin, asam asetat (H 2SO4),
indikator metil merah, dan alkohol. Sedangkan alat-alat yang digunakan antara lain
tabung reaksi, beaker glass, timbangan analitik, alat sentrifuge, Adsorban Atomic
Spectrofotometre (AAS), labu kajedal, alat destilasi dan labu erlenmeyer.

d. Cara Kerja
Pengukuran Kadar pH
1. Menyiapkan sampel tanah mineral dan tanah gambut masing-masing dua
sempel.
2. Menimbang masing-masing sampel seberat 1 gram sebanyak 8 kali, 4 untuk
tanah mineral dan 4 untuk tanah gambut lalu memasukkan kedalam tabung
reaksi.
3. 4 sampel khusus untuk pengukuran pH larutan tanah atau kemasaman aktif
tanah dengan memasukkan larutan H 2O pada tabung reaksi sebanyak 2,5ml
dan 4 sampel lainnya digunakan untuk mengukur kemasaman potensial tanah
dengan memasukkan larutan KCl sebanyak 5 ml pada tabung reaksi.
46
4. Menggojog tabung reaksi selama 30 menit lalu ukur kadar pH nya dengan
menggunakan alat pH meter.
Pengukuran kapasitas tukar kation
1. Menambakan larutan aquades 100 ml pada tanah yang telah disaring pada
pengukuran kejenuhan basa terdahulu.
2. Memasukkan kedalam labu kajedal (atas) kemudian menambahkan NaOH
50% sebanyak 5 ml lalu mentetesi paravin sebanyak 5 tetes.
3. Pada labu Erlenmeyer (bawah) memasukkan larutan asam H2SO4 sebanyak 20
ml kemudian mentetesi dengan indikator asam metil merah sebanyak 5 tetes.
4. Menunggu hasil destilasi sampai larutan pada labu erlenmeyer mencapai 50
ml.
5. Kemudian mentitrasi dengan larutan NaOH 0,1 N sampai larutan yang semula
berwarna merah muda menjadi warna kuning bening.
Pengukuran kejenuhan basa
1. Menimbang masing-masing sampel tanah seberat 5 gram sebanyak 4 kali, dua
untuk tanah mineral dan dua untuk tanah gambut lalu memasukkan kedalam
tabung reaksi.
2. Jika sampel tanah pada pengukuran pH terdahulu menunjukkan <4,8 maka
lakukan perendaman sampel dengan memasukkan larutan asam amonium
asetat pH4 sebanyak 20 ml dan jika sampel tanah menunjukkan pH >4,8
maka memasukkan larutan asam amonium asetat pH7 sebanyak 20 ml.
3. Mendiamkan tabung reaksi kurang lebih 12 jam (semalaman).
4. Setelah melakukan perendaman, tabung reaksi disentrifuge lalu ditambahkan
lagi larutan asam amonim asetat sebanyak 3 kali penambahan.
5. Melakukan penyaringan dengan menggunakan kertas saring untuk
memisahkan tanah dengan larutan.
6. Menambahkan H2O pada larutan yang telah dilakukan penyaringan.
7. Melakukan analisis kejenuhan basa dengan menggunakan alat AAS (Adsorban
Atomic Spectrofotometre)
Pengukuran kadar posfor (P)
1. Menimbang tanah 1,5 gram dan memasukkan kedalam tabung reaksi.
2. Menambahkan 15 ml larutan PA (NH4F + 4,16 ml HCl 6 N).
3. Mengocok selama 15 menit.
4. Menyaring lalu memipet 5 ml kedalam tabung reaksi.
5. Menambakan 5 ml larutan PB (NH4-Heptamolybdat+H3BO3+HCl).
6. Menambahkan 5 tetes larutan PC (L-aminoz-napthol-4 Sulfuric
acid+Na2S2O5).
7. Menunggu selama 15 menit.
8. Mengukur menggunakan alat spektrofotometer dengan panjang gelombang
660 nm.

47
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Ilmu Mekanika Tanah ini digunakan untuk: perencanaan pondasi, perencanaan
perkerasan lapisan dasar jalan (pavement design), perencanaan struktur di bawah tanah
(terowongan, basement dan dinding penahan tanah), perencanaan galian, perencanaan
bendungan. Tanah berbutir kasar adalah tanah yang sebagian besar butir-butir tanahnya
berupa pasir (sand) dan kerikil (gravel). Tanah berbutir halus adalah tanah yang sebagian
besar butir-butir tanahnya berupa lempung dan lanau. Adapun percobaan di laboratorium,
yaitu : kadar air, analisis butiran, batas plastis dan batas cair, triaksial, tekan bebas, geser
langsung, geser baling baling, konsolidasi, permeabilitas, dan analisis bahan kimia.

3.2. Saran
Dari makalah yang kami susun ini, kami dapat meyarankan agar setiap anggota
kelompok lebih aktif lagi dalam membuat tugas.

48
DAFTAR PUSTAKA
Adi, G. 2014. Penetapan Kapasitas Tukar
Kation. http://myelodi27.blogspot.com/2014/06/penetapan-kapasitas-tukar-kation-
ktk.html. Diakses pada tanggal 3 November 2014.
Arizya, R. 2012. Bulk Density. http://ratnarizya.blogspot.com/2012/05/laporan-ddit-
bulk-density.html . Diakses pada tanggal 4 November 2014.
Arizya, R. 2012. Porositas Tanah . http://ratnarizya.blogspot.com/2012/05/laporan-ddit-
porositas-tanah.html . Diakses pada tanggal 4 November 2014.
Buckman, H. D. dan N. C. Brady. 1982. The Nature and Properties Of Soil. Maxwell
Matmilin: New York.
Doeswono,1983 . Ilmu-Ilmu Terjemahan . Bhtara Karya Aksara: Jakarta.
Fitter, H., 1991. Fisiologi Lingkungan Tanaman . Gadjah Madya Universitas Press:
Yokyakarta.
Foth. H. D, 1988. Dasar-dasar Ilmu Tanah . Gajah Mada University Press: Yogyakarta.
Gaur. 1981. Soil Clasification in Indonesia. Balai Penjelasan Pertanian: Bogor.
Hakim, N., M. Yusuf Nyakpa, A. M. Lubis, Sutopo Ghani Nugroho, M. Amin Diha, Go
Ban Hong, H. H. Bailey, 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah . Universitas Lampung:
Lampung
Hanafiah, Ali Kemas. 2010. DasarDasar Ilmu Tanah . Raja Grafindo
Persada: Jakarta.
Hardjowigeno, H. S. 2003. Klasifikasi Tanah dan
Pedogenesis. Akademika Pressindo: Jakarta.
Islami, T., 1995. Hubungan Tanah, Air, dan Tanaman. IKIP Semarang
Press:Semarang.
Karlina, N. 2013. Penetapan Kadar Air
Tanah. http://nkarlina.wordpress.com/2013/04/17/penetapan-kadar-air-tanah/ . Diakses
pada tanggal 2 November 2014.
Kustam, 2012. Kimia dan Kesuburan Tanah . http://harmonyoflife-
kustamiim.blogspot.com/2012/05/laporan-kimia-dan-kesuburan-tanah.html . Diakses pada
tanggal 2 November 2014.
Lugito. 2012. Teknik Pengambilan Contoh Tanah Terganggu dan Agregat Utuh .
http://lugito-center.blogspot.com/2012/12/teknik-pengambilan-contoh-tanah.html .
Diakses pada tanggal 2 November 2014.
49
Maryenti, T. 2012. Teknik Pengambilan Contoh Tanah Terganggu dan Agregat
Utuh.http://naneuntetylicious.blogspot.com/2012/12/teknik-pengambilan contoh
tanah.html . Diakses pada tanggal 2 November 2014.
Nabilussalam. 2011. Permeabilitas
Tanah.https://nabilussalam.wordpress.com/2011/04/07/permeabilitas-tanah/ . Diakses
pada tanggal 2 November 2014.
Nikymena, I. 2013. Kadar Air
Tanah. http://isranikymena.blogspot.com/2013/09/i.html . Diakses pada tanggal 2
November 2014.
Pairunan, Anna K., J. L. Nanere, Arifin, Solo S. R. Samosir, Romualdus Tangkaisari, J. R.
Lalopua, Bachrul Ibrahim, Hariadji Asmadi, 1999. Dasar-Dasar Ilmu Tanah . Badan
Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Timur: Makassar.
Poerwowidodo.1991. Ganesa Tanah . Rajawali Press: Jakarta.
Purnamasari, F. 2011. Bulk
Density . http://fithrypurnamasari.blogspot.com/2011/09/laporan-bulk-density.html .
Diakses pada tanggal 4 November 2014.
Rohmat, 2009. Dasar Dasar Ilmu Tanah. Erlangga: Jakarta.

50