Anda di halaman 1dari 22

@contoh Laporan fisika *Momentum sudut dan benda tegar*******

LAPORAN
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
PERCOBAAN MOMENTUM SUDUT DAN BENDA TEGAR

DARLAN
( E1A1 13005 )

ASISTEN
* ANGRENY GUNTUR *

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2013
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Landasan Teori
Momentum merupakan hasil kali antara massa dengan
kecepatan. Dalam gerak rotasi, besaran analog dengan momentum linear
adalah momentum sudut. Untuk benda yang berotasi disekitar sumbu yang
tetap, besaran momentum sudut dinyatakan
L=I.
Keterangan : L = momentum sudut (kgm2 / c)
I = momen inersia (kgm2)
= kecepatan sudut (rad/s)
Momentum sudut merupakan besaran vector. Arah momentum
sudut dari suatu benda yang berotasi dapat ditentukan dengan kaidah
putaran sekrup. Atau dengan aturan tangan kanan. Jika keempat jari
menyatakan jarak rotasi, maka ibu jari menyatakan arah momentum sudut.
(stove setford , 1966 , 120)
Perhatikan sebuah benda tegar yang berotasi terhadap sumbu Z
dengan kecepatan sudut . tiap partikel benda pada sumbu, misalnya,
partikel Ai membentuk lingkaran dengan jari-jari Ri = Ai Bi dengan
kecepatan Vi = -ri, dimana ri merupakan vector posisi relatif terhadap
pusat o (ini dipilih sebagai titik tetap dalam suatu kerangka inersial atau
dipusat massa benda tersebut). Besarnya kecepatan adalah :
Vi = ri sin

Keterangan : V = kecepatan (m/s)


= kecepatan sudut (rad/s)
r= jari-jari (m)
sin = sudut yang di bentuk
Perhatikan bahwa telah dituliskan bahwa dan tidak i karena
kecepatan sudut semua partikel dama dalam benda tegar itu. Momentum
sudut partikel Ai relatif terhadap pusat o adalah:
L = r . m .v
Keterangan : L = momentum sudut (kgm/s)
m = massa benda (kg)
r = jari-jari (m)
v = kecepatan (m/s)

Arah tegak lurus terhadap bidang yang dibentuk oleh vector ri


dan vi dan oleh karena itu membuat sudut /2 - Ai dengan sumbu rotasi z.
Besar Li adalah mi ri vi dan komponen sejajarnya dengan sumbu Z. Untuk
sebuah partikel yang bergerak melingkar, komponen momentum sudut total
benda berada dan berotasi sepanjang sumbu rotasi z mempunyai besaran.
1.1.1 Momen Gaya
Torsi menunjukan kemampuan sebuah gaya untuk membuat benda
melakukan gerak rotasi. Besar torsi tergantung pada gaya yang dikeluarkan
serta jarak antara sumbu putaran dan letak gaya.
Torsi juga disebut momen gaya dan merupakan besaran vektor. Torsi
adalah hasil perkalian silang antara vektor posisi (r) dengan gaya (F), dapat
ditulis sebagai berikut :
= r . F sin
keterangan : F = Gaya ( N )
= Momen Gaya ( N . m)
r = Lengan Gaya (m)
= sudut yang dibentuk
Momen gaya merupakan salah satu bentuk usaha dengan salah satu
bentuk usaha dengan salah satu titik sebgai titik acuan, misalnya anak
sedang bermain jungkat jungkit dengan titik acuan adalah poros jungkat
jungkit.
Momen gaya merupakan penyebab gerak rotasi. Momen gaya
merupakan penyebab putaran benda searah jarum jam disebut momen gaya
positif. Adapun momen gaya yang menyebabkan putaran benda
berlawanana dengan putaran jarum jam disebut momen gaya negatif.
Pada sistem keseimbangan resultan momen gaya selalu bernilai nol,
sehinga dirumuskan = 0. Torsi dalam gerakan rotasi sama dengan gaya
pada gerak translasi. Benda tegar adalah benda pada yang tidak berubah
bentuk apabila dikenai gaya luar. Satuan dari momen gaya atau torsi adalah
N.m.
Untuk lebih memahami momen gaya secara detail, perhatikan gambar
dibawah ini
b
d
0
F d a
F
Gambar 1.1 Skema momen gaya pada jungkit - jungkit

Ketika AB diberi gaya pada ujung-ujungnya yaitu F1 dan F2 maka


batang akan berotasi, besar momen gaya yang bekerja pada batang,
bergantung pada besar gaya yang diberikan dan panjang lengan momen
gaya. Semakin besar gaya yang diberikan, semakin besar pula momen
gayanya.
Demikian juga momen semakin besar, maka semakin besar pula
momen gayanya. Lengan gayanya adalah jarak tegak lurus sumbu rotasi
kearah gayanya
Pada gerak rotasi, sebuah benda hanya dapat merubahnya dari
diam menjadi berputar jika pada benda itu diterapkan sebuah gaya.
Perubahan gerak pada gerak rotasi terjadi karena adanya gaya pemutar.yang
dikenal dengan momen gaya. Perhatikan gambar pada benda dengan poros
P.Q adalah terjadi gaya (f) bekerja pada benda yang teman kerja gaya F
yaitu, titik tempat gaya bekerja dan menumpuk. T adalah vector posisi Q
terhadap poros P dan sudut antara t dan f adalah Q (r dan f adalah vector
atau besaran vector) momen gaya yang disebabkab oleh gaya F1 dan F2
sebagai berikut :
T1 = + F1 . d1
T2 = - F2 . d2
Keterangan : T1=Momen gaya yang disebabkan oleh F1 (Nm)
T2=Momen gaya yang disebabkan oleh F2 (Nm)
F1=Gaya 1 (N)
F2=Gaya 2 (N)
D1=panjang lengan mome pertama (m)
D2=panjang lengan momen kedua (m)
Pada mekanika dan dinamika untuk tranlasi rotasi banyak
kesamaan-kesamaan besaran yang dapat dibandingkan dengan symbol-
simbol besarannya. Termasuk hukum 2 newton ditunjukan dalam tabel
berikut :
Perbandingan dinamika translasi dan rotasi

Translasi Rotasi

Momentu
p = mv Momentum sudut* L = Iw
m linier

Gaya F = dp/dt Torsi t = dL/dt

Benda
Benda momen
massa F = m(dv/dt) t = I (dw/dt)
inersia konstan*
Konstan

Gaya
tegak lurus
Torsi tegak lurus
terhadap F=wxp t=WL
momentum sudut
momentu
m

Energi
Ek = mv2 Energi kinetik Ek = Iw2
kinetik
Daya P=F.v Daya P=t.w

Konsep Translasi Rotasi Catatan

Perubahan
s q s = r.q
sudut

Kecepatan v = ds/dt w = dq/dt v = r.w

Percepatan a = dv/dt a = dw/dt a = r.a

Gaya
resultan, F t t = F.r
momen

Keseimbanga
F=0 t=0
n

v = v0 + at w = w0 + at
Percepatan
s = v0t = at2 q = w0t + at2
konstan
v2 = + 2as w2 = + 2qa

Massa,
momen m I I = miri2
kelembaman

Hukum
kedua F = ma t = Ia
Newton

Usaha W = F ds W = t dq

Daya P = F.v P=Iw

Energi
Ep = mgy
potensial

Energi
Ek = mv2 Ek = Iw2
kinetik

Impuls F dt t dt

Momentum P = mv L = Iw
Analogi antara besaran translasi dan besaran rotasi

1.1.2 Gerak Melingkar


Gerak melingkar adalah gerak suatu benda yang membentuk
lintasan berupa lingkaran mengelilingi suatu titik tetap. Agar suatu benda
dapat bergerak melingkar membutuhkan gaya yang selalu membelokkannya
menuju pusat lingkaran lintasan. Gaya ini di namakan gaya sentripetal.
Suatu gerak melingkar beraturan dapat dikatakan sebagai suatu gerak
dipercepat beraturan, mengingat perlu adanya suatu percepatan yang
bergerak tetap dengan arah yang berubah,yang selalu merubah arah
gerakan benda agar menempuh lintasan berbentuk lingkaran.
Besaran-besaran yang mendeskripsikan suatu gerak melingkar
adalah Q,w,d atau berturut-turut berarti sudut. Kecepatan sudut, dan
percepatan sudut. Besaran-besaran ini bila dianalogikan dengan gerak linear
setara dengan posisi, kecepatan, dan percepatan atau dilambangkan
berturut-turut dengan r.v dan .
Besaran gerak lurus dan melingkar
Gerak lurus Gerak melingkar
Besaran Satuan (SI) Besaran Satuan (SI)
poisisi m sudut rad
kecepatan m/s kecepatan sudut rad/s
percepatan m/s2 percepatan sudut rad/s2
- - perioda s
- - radius m

a. Gerak melingkar beraturan


Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemui benda-benda yang
melingkar beraturan.salah satu contoh benda yang bergerak melingkar
beraturan adalah jarum, detik jarum menit, dan jarum jam pada jam analog.
Gerak melingkar beraturan memiliki dua pengertian. Pertama, suatu
benda bergerak melingkar beraturan jika selama benda tersebut bergerak
melingkar, kelajuan benda selalu konstan atau kelajuan setiap bagian benda
selalu konstan. Kedua, suatu benda bergerak melingkar beraturan jika
kecepatan sudut benda selalu konstan, kecepatan sudut merupakan besaran
vector, karenanya kecepatan sudut terdiri dari besar kecepatan sudut dan
arah kecepatan sudut.
1. Periode Dan Frekuensi
Periode ( T ) putaran sebuah benda didefinisikan sebagai waktu yang
diperlkan untuk salah satu kali putaran. Jika untuk menempuh n putaran
diperlukan waktu selama t seko, maka periode benda dapat dinyatakan
dalam persamaan sebagai berikut :
T=
Keterangan : T = periode (s)
t = waktu tempuh (s)
n = banyaknya putaran
Frekuensi (f) adalah banyaknya putaran per satuan waktu. Jika untuk
melakukan n putaran memerlukan waktu t sekon maka frekuensi dapat
dinyatakan dalam persamaan:
f=
keterangan : f = frekuensi ( Hz )
n = banyaknya putaran
t = waktu temph ( s )

2. Kecepatan Sudut dan Kecepatan Linier


Kecepatan sudut didefinisikan sebagai besar sudut yang ditempuh tiap
satu satuan waktu dalam gerak melingkar beraturan, kecepatan sudut atau
kecepatan anguler untuk slang waktu yang sama selal konstan. Untuk
partikel yang melakukan gerak satu kali putaran, berarti sudut yang
ditempuh adalah 360derajat atau 2 dan waktu yang diperlukan satu kali
putaran disebut satu Periode ( T ). Maka kecepatan sudut dapat dinyatan
dalam persamaan berikut :
= atau = 2f
keterangan : = kecepatan sdut ( )
T = Periode (s)
f = frekuensi (Hz)
b. Gerak melingkar berubah beraturan
Gerak melingkar berubah beraturan ( GMBB ) adalah gerak suatu
benda dengan bentuk lintasan melingkar dan besar percepatan sudut
/anguler konstan. Jika percepatan anguler benda searah dengan perubahan
kecepatan anguler, maka perputaran benda semakin cepat, dan dikatakan
GMBB dipercepat sebaliknya jika percepatan anguler berlawanan arah
dengan perubahan kecepatan anguler benda akan semakin lambat, dan
dikatakan GMBB diperlambat.
Dalam GMBB dikenal juga percepatan tangensial cat ). Pada semua
benda bergerak melingkar selalu memiliki percepatan sentripetal, tetapi
belum tentu memiliki percepatan tangensial.
Percepatan tangensial hanya dimiliki bila mana benda bergerak
melingkar dan mengalami perubahan kelajuan linier. Benda yang bergerak
melingkar dengan kelajuan linear tetapi hanya memiliki percepatan sentry
pental, tetapi tidak mempunyai percepatan tangensial cat=0). Sama halnya
dengan gerak lurus berubah beraturan ( GLBB ). Pada GMBB juga berlaku
mencari kecepatan sudut akhir (wt) dan mencari posisi sudut/besar sudut
yang ditempuh.
1.1.3 Momen Inersia
Momen inersia ( satuan SI : kg m2 ) adalah ukuran kelembaban suatu
benda untuk berotasi terhadap porosnya. Besaran ini adalah analog rotasi
dari pada massa . Momen inersia berperan dalam dinamika rotasi seperti
massa dalam dinamika rotasi dasar. Dan menentukan hubungan antara
momentum sudut dan kecepatan sudut, momen inersia dan percepatan
sudut, dan beberapa besaran lain. Meskipun pembahasan scalar terhadap
momen inersia, pembahasan menggunakan pendekatan tensor
memungkinkan analisis sistem yang lebih rumit seperti gerakan giroskopik
yang sering kita lihat.
Lambang I dan kadang-kadang J biasanya digunakan untuk
merujuk kepada momen inersia.
Konsep ini diperkenalkan oleh Euler dalam bukunya a Theoria
motus corporum solidorum seurigidiroum pada tahun 1730. Dalam buku
tersebut, dia mengupas momen inersia dan banyak konsep terkait. Momen
inersia menyatakan bagaimana massa benda yang berarti di distribusikan
disekitar sumbu rotasinya. Apabila sistem yang tidak berotasi adalah sebuah
partikel yang bermassa m dan berjarak r dari sumbu rotasi, maka momen
inersia tersebut merupakan hasil kali antara massa partikel dengan
kuadratnya dari sumbu rotasi. Momen inersia di rumuskan sebagai berikut :
I=m.r
Keterangan : I = momen inersia (kg.m)
m =massa benda ( kg )
r = jarak partikel dari sumbu putar (m)
Apabila benda yang berotasi terdiri dari susunan partikel kontinu,
seperti benda tegar, maka momen inersianya dapat dihitung dengan metode
integral yang dirumuskan sebagai berikut :
I=
Keterangan : I = momen inersia (kg.m)
m =massa benda ( kg )
dm = turunan massa (kg)
Besaran momen inersia tergantung pada bentuk benda, jarak,
sumbu putar kepusat massa, dan posisi benda relatif terhadap sumbu putar.

1.1.4 Energi kinetik rotasi


Energi kinetic adalah energi yang dimiliki oleh benda karena
gerakannya (atau kecepatannya). Benda bermassa m yang bergerak tranlasi
(linear) dengan kecepatan memiliki energi kinetic yang ditentukan oleh :
Ektranslasi = mv
Keterangan : Ekt = Energi kinetic translasi (j)
m = massa (kg)
v = kecepatan linear (m/s)
Jika suatu benda berotasi terhadap poros, maka benda itu
memiliki energi kinetic rotasi. Energi kinetic rotasi dapat diturunkan dari
energi translasi. Telah diketahui bahwa V = rw , maka :
Ekrotasi = m (rw) = mr w
Keterangan : Ekr = Energi kinetic rotasi (J)
m = MASSA (kg)
r = jari-jari (m)
= kecepatan sudut (rad/s)
Telah diketahui bahwa mr2 = I (yaitu momen inersia), sehingga :
Ekrotasi = . I
Keterangan : EKr = energi kinetic rotasi (J)
I = Momen inersia (kg m)
= kecepatan sudut (rad/s)
Persamaan diatas menyatakan energi kinetic dari suatu benda tegar dengan
momen inersia I dan kecepatan sudut w. satuan energi kinetic adalah joule.
(siswanto , 2009 , 122)

1.1.5 Energi Kinetik Gabungan


Jika benda tegar bergerak translasi sambil berotasi, maka total
energi kinetiknya sama dengan jumlah energi translasi dan energi kinetinya
sama dengan jumlah energi kinetik translasi dan energi kinetik rotasinya.
Keterangan : = Energi kinetik total ( J )
= Energi kinetik translasi ( J )

= Energi kinetik rotasi ( J )

1.1.6 Dinamika Rotasi


Dinamika rotasi didasarkan pada hukum Newton II, yaitu :
F = m . a atau a
Keterangan : F = gaya (N)
m = massa benda ( kg )
a = percepatan (m/s)
Dengan F adalah resultan gaya yang bekerja pada benda, m adalah
massa benda dan a adalah percpatan benda. Untuk menghitung resultan
gaya (F). Kita harus menggambaran setiap gaya yang bekerja pada benda
tersebt dinamika rotai didasarkan pada hukum II Newton untuk gerak rotasi
yaitu:
= I . a atau a=
Keterangan : = Resultan momen gaya luar ( N.m )
I = momen inersia (kg.m)
a = Percepatan sudut (rad/s)
untuk menentukan atau menghitung resultan gaya luar ( ) kita
harus menggambarkan setiap gaya yang bekerja pada benda tersebut.
Sebuah benda yang berjari-jari r dan bermassa m, berada dipuncak
suatu bidang miring yang licin. Karena bidang icin, maka benda hanya
mengalami gerak translasi. Gerak benda pada kasus ini dinamakan gerak
melunur. Dengan demikian, kita hanya meminjau resultan gaya untuk gerak
translasi.
1.1.7 Hukum Kekentalan Mometum

Hokum kekentalan momentum yang menjelaskan tumbukan-tumbukan


Pada satu dimensi dirumuskan pertama kali oleh Jhon willis, Christopher
Warrren, dan Christian Huggens pada tahun 1668.

Suatu tumbukan selalu melibatkan setidaknya dua benda. Misalnya,


benda itu adalan bola A dan bola B. sesaat sebelum tumbukan, bola A
bergerak mendatar kekanan dengan momentum mAvA dan bola B bergerak
mendatar ke kiri dengan momentum mBvB . momentum sistem partikel
sebelum tumbukan tertentu saja sama dengan jumlah momentum bola A
dan bola B sebelum tumbukan

P = mAvA +mBvB

Keterangan:
P = momentum (kg.m/s)
mA = massa bola A (kg)
mB = massa bola B (kg)
vA = kecepatan bola A (m/s)
vB = kecepatan bola B (m/s)
Momentum sistem partikel sesudah tumbukan tentu sama dengan jumlah
momentum bola A dan bola B sesudah tumbukan.

P = mAvA + mBvB

Keterangan:
P = momentum sesudah tumbukan (kg.m/s)
mA = massa bola A (kg)
mB = massa bola B (kg)
vA= kecepatan bola A setelah tumbukan (m/s)
vB= kecepatan bola A setelah tumbukan (m/s)

selama bola A dan bola B saling bersentuhan, bola B mengerjakan gaya


pada bola A, diberi lambang FA.B . sebagai reaksi, bola A mengerjakan gaya
pada bola Bdiberi lambing FB.A .

kedua gaya ini sama besar, tetapi berlawanan arah. Untuk sistem dimana
gaya yang terlibat saat interaksi hanyalah gaya dalam. Maka, menurut
hukum III Newton, resultan semua gaya ini sama dengan nol, sehingga untuk
sistem interaksi dua bola berlangsung tumbukan ,resultan gaya pada sistem
oleh gaya-gaya dalam tumbukan di dalam sebagai berikut

F = FA.B + FB.A = -F + F = 0

Keterangan :
F = resultan gaya(N)
F = gaya (N)
FA.B = gaya bola A yang dikerjakan bola B (N)
FB.A = gaya bola B yang dikerjakan bola A (N)

Sesuai dengan hukum II Newton bentuk momentum F = , momentum


sistem adalah

P = F . t = 0

Keterangan :
F = resultan gaya (N)
P = resultan momentum (kg.m/s)
t = perubahan waktu(s)

Karena P = P P = 0 maka P = P dan ini dikenal sebagai hokum


kekekalan momentum linear. Pada hukum kekekalan momentum
menjelaskan interaksi benda karena gerakannya. Interaksi ini menjelaskan
bahwa momentum yang dialami suatu benda dapat berpindah ke benda
lain . hukum kekekalan momentum linear menyatakn bahwa dalm peristiwa
tumbubukan , momentum total dalam peristiwa tumbukan, momentum total
sebelum tumbukan sama dengan momentum total sistem sesudah
tumbukan, asalkan tidak ada gaya luar yang bekerja pada sistem . secara
sistemamatis hokum kekekalan momentum linear sebagai berikut.

Psebelum = Psesudah
PA +PB =PA +PB
MAVA MBVB +MAVA +MBVB

Keterangan
P = momentum (kg.m/s)
PA = momentum benda A (kg.m/s)
PB= momentum benda B (kg.m/s)
PA = momentum benda A setelah tumbukan(kg.m/s)
PB= momentum benda B setelah tumbukan(kg.m/s)
MA = massa benda A(kg)
MB = massa benda B(kg)
vA= kecepatan benda A (m/s)
vB = kecepatan benda B (m/s)
vA= kecepatan benda A sesudah tumbukan (m/s)
vB = kecepatan benda B sesudah tumbukan (m/s)

1.2 Tujuan dan Manfaat


Adapun tujuan dan manfaat yang diharapkan pada percobaan ini
adalah sebagai berikut:
a. Dapat menerapkan prinsip prinsip dan hukum Newton tentang gerak
b. Memahami analogi antara gerak translasi dan gerak rotasi benda putar
c. Menentukan kecepatan benda yang mengelinding
d. Menyelidiki hubungan antara kecepatan benda, momen inersia yang terjadi
pada gerakan rotasi

BAB II
METODE PRAKTIKUM

2.1 Waktu dan Tempat


Percobaan praktikum Momentu Sudut dan Rotasi Benda Tegar di
laksanakan pada hari Minggu, 6 Oktober 2013 Pukul 14.30 sMPi 16.00 WITA
bertempat di laboratorium Fisika Dasar dan Akustik Bangunan Fakultas
Teknik, Universitas Halu Oleo.

2.2 Alat dan Bahan


2.2.1 Alat
Tabel 2.1 Alat Praktikum
Nama Alat NST Kegunaan
Papan - Meluncurkan Objek
Mistar 1mm Mengukur tinggi/panjang
Jangka 0,02m objek
Sorong m Mengukur diameter objek
Stopwatch 0,01 s Menghitung waktu tempuh
Neraca 1 gr objek
Untuk mengukur massa
objek

2.2.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan adalah :
1. Pipa besi 1
2. Pipa besi 2
3. Pipa besi 3
4. Bola

2.3 Prosedur Percobaan


Adapun prosedur dari percobaan ini adalah :
a. Menyiapkan bidang miring/ papan yang telah ditetapkan pada lantai
b. Mengukur panjang bidang miring (s)
c. Mengukur tinggi dari bidang miring (H dan h)
d. Mengukur waktu tempuh (pipa dan bola) yang dilepaskan dari ketinggian H untuk sampai
ketinggian h
e. Meggulangi langkah tersebut diatas sapai beberapa kali
f. Mengubah tinggi dari bidang miring sebanyak 2 kali kemudia mengulangi prosedur d dan e
sebanyak 2 kali
g. Mengukur diameter luar dan diameter dalam pipa, serta diameter bola.
BAB IV
PEMBAHASAN

Dalam praktikum ini dengan percobaan praktikum


momentum sudut dan Benda tegar menggunakan 4
beban yaitu pipa 1,pipa 2,pipa 3 dan juga bola.Pipa 1
bermassa 0,129 kg dengan diameter luarnya
0,047,diameter dalamnya 0,0348, diameter luarnya
0,0418.

Dari percobaan yang dilakukan pada ketinggian


H=0,5550 dan 0,2750 m,untuk pipa satu waktu tempuh
rata rata 1,3775 s,pipa 2 dengan rata rata waktu 1,2850
s,pipa 3 dengan rata rata 1,1375 s.pada ketinggian
H=0,4050,h=0,2750 untuk pipa satu dengan rata rata
1,8850 s,pipa2 dengan rata rata waktu tempuh
1,890s.pipa 3 dengan rata rata waktu tempuh 1,9275.dan
bola dengan rata rata waktu tempuh 1,5300,pipa 2
dengan rata rata1,8900 fan pipa 3 1,5300 sedangkan
bola wktu tempuh rata rata 1,3852.

Dari hasil percobaan dalam analisa tanpa ralat pada


ketinggian H=0,5550 dan h =0,2750 m dengan jarak 1,2
m sin = 0.2333 pada ketinggian kedua H = 0,4050 dan h
0,2750 m sin =1083 pada ketinggian ke 3 dengan H =
0.4050 dan h = 0,0255 dan sin 0,1662.
Pada ketinggian H=0.5550 dan h =0,2760 momen
inersia (i) yaitu 6,6518.10-5 kg.m^3percepatan teori
(ateori) yaitu 0,6254 m/s percepatan eksperimen (aeks)
0,6754 (ateori) untuk pipa 2.momen inersia yaitu 7,8234
kg/m untuk pipa 3 momen inersia yaitu 7,1405.10-4
untuk bola ,momen inersia 1,0471 kg.m2.percepatan teori
0,7584 dan percepatan eksperimen 0,7532 m/s2

Pada ketnggian H=0,4050 dan h =0,2750 untuk pipa


1 percepatan teori 0,6354.percepatan eksperimen 0,6754
m/s.pipa 2 percepatan teori 0,6354 m/s.percepatan
eksperimen 0,6754 m/s.pipa 3 percepatan teori
0,0998m/s percepatan eksperimen 0,6459 m/s dan untuk
bola percepatan teori 0,0484 m/s.percepatan eksperimen
0.7532 m/s.

Pada ketinggian H = 0,4050 dan h =0,2055 pipa 1,2,3


dan bola .Momen inersianya sama pada setiap
ketinggian,untuk pipa 1 percepatan teori 0,9759
m/s.percepaatan eksperimen 1,0252m/s.untuk pipa 2
percepatan teori 0,7828m/s percepatan eksperimen
0,8422 m/s untuk pipa 3 percepatan teori 0,5533m/s dan
percepatan eksperimen 0,9089 m/s dan bola ,percepatan
1,1656 dan percepatan dan percepatan eksperimen
1,2557 m/s.

Untuk analisa dengan ralat pada ketinggian H 0,5550


dan h 0,2750.untuk pipa satu perubahan percepatan
9,1970.10 m/s kesalha relatif (ksr)0,7272 % dan
percepatan sebenarnya 1,2739 sampai dengan 1,2556
m/s.untuk pipa 2 perubahan percepatan 0,0113
m/s.kesalahan relatif 0,7774 %.dan percepatan
sebenarnya (a seb )1,4648 sampai dengan 1,2556
m/s.untuk pipa 2 ,perubahan percepatan 0.113 m/s
kesalahan relative 0,774 % percepatan sebenarnya
1,4648 sampai dengan 1,4422 m/s.untuk pipa 3 0,0107
m/s kesalahan relative 0,7656 % dan percepatan
sebenarnya 1,4092 m/s sampai dengan 1,3878 m/s.untuk
bola perubahan percepatan 1,6306.10-2 kesalahan relatif
0,8791 % dan percepatan sebenarnya 3,4854 sampai
dengan 0,2242.

Pada ketinggian H=0,4050 dan h = 0,2750.untuk pipa


1 perubahan percepatan 3,5946.10kesalahan relative
0,5029 dan percepatan 3,3622.10,ksr 0,5205 % di
percepatan sebenarnya 0,6492 sampai dengan0,6425
untuk bola perubahan percepatan 4,2311.10 ksr 0,5617%
dan percepatan sebenarnya 0,7574 m/s sampai dengan
0,7489 m/s.

Pada ketinggian H=0,4050 untuk pipa 1 perubahan


percepatan 5,0068.10 m/s.kesalahan relative 0,5907
%.percepatan 3,6158.10sampai 3,5733.10 .untuk pipa 2
perubahan percepatan 2,1233.10,kesalahan relative
0,5940 %.percepatan sebenarnya 0,8478 sampai dengan
0,8377 m/s.pipa 3 perubahan percepatan 5,6058.10
m/s.kesalahan relative (ksr) 0,7245 % percepatan
sebenarnya 1,2648 m/s 1,2466 m/s.

Untuk analisa grafik pada pipa 1 menggunakan


persamaan y=0,2500x +13,8399.pada pipa 2
menggunakan rumus y=0,1443x + 8,4533.pada pipa 3
menggunakan persamaan rumus
y=0,1443x+8,5796.pada bola menggunakan y=0,1361x
+ 18,2236.

BAB V
PENUTUP
1.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat saya simpulkan dari
percobaan kali ini adalah :
1. Jika momen gaya yang bekerja pada suatu benda yang mempunyai
momen inersia terdapat sumbu putar, akibatnya benda tersebut
akan berputar atau bergerak memutar dengan kecepatan sudut
dan kecepatan atau laju benda dipengarhi kemiringan dan diameter
dari benda tersebut.
2. Momentum sudut benda yang berotasi akan memiliki nilai yang
sebanding dengan momen inersia dan kecepatan angkernya.
3. Jika massa benda semakin berat maka percepatannya semakin
cepat. Jika massa benda semakin ringan maka percepatannya
semakin lambat.
4. Jika semakin tinggi bidang miring, maka semakin cepat
percepatnnya. Jika semakin rendah bidang miring, maka semakin
lambat percepatannya
1.2 saran
saran saya yang pertama yaitu tambahan waktu aisitensi
diperpanjang yang kedua agar percobaan ini lebih efektif ada
kalanya mempunyai ruangan tersendiri dan tidak menggunakan
triplek karena berhubung beban yang di gunakan cukup berat

DAFTAR PUSTAKA
Bambang.Haryadi.2009.Rangkuman Fisika. Bandung: Pusat Pembuatab
Bandung
Jaladam.Paksi.2010.Kumpulan Fisika Dasar Jakarta Pusat
Pembukuan
(Http://id.wikipedia.org.wiki/d_m_g)
Kuncoro.Tri.2005.Belajar Fisika Dasar Yogyakarta :Erlangga
Sukaryadi 2009.Senang belajar Fisika SMA/MA.jakarta tiga
serangkai