Anda di halaman 1dari 46

MAKALAH

INTERAKSI OBAT
interaksi obat dengan minuman

Disusun oleh :

PROGRAM STUDI Pendidikan APOTEKER


Fakultas farmasi
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
BAB I

PENDAHULUAN

Obat yang diresepkan dokter pada umumnya tidak enak rasanya

saat diminum karena rasanya cenderung pahit. Oleh karena itu, kita

sering mengkonsumsi obat bersama makanan atau minuman yang

mempunyai rasa manis untuk menutupi rasa pahit. Apalagi bila pasiennya

adalah anak-anak yang biasanya meminum obat dalam bentuk puyer.

Orang tua haruslah pandai mensiasati agar anak mau mengkonsumsi

obat yang rasanya tidak enak tersebut biasanya dengan mencampurkan

obat dengan makanan atau minuman kesukaan anak mereka.

Pengaruh makanan atau minuman terhadap obat dapat sangat

signifikan atau hampir tidak berarti, bergantung pada jenis obat dan

makanan/minuman yang kita konsumsi. Selain itu harus juga dipahami

bahwa sangat banyak faktor lain yang mempengaruhi interaksi ini, antara

lain dosis obat yang diberikan, cara pemberian, umur, jenis kelamin, dan

tingkat kesehatan pasien.

Obat dapat berinteraksi dengan makanan atau minuman maupun

sesama obat. Interaksi antara obat, makanan, dan minuman dapat

menimbulkan efek yang menguntungkan dan juga efek merugikan yang

tidak diinginkan. Peristiwa interaksi obat terjadi sebagai akibat

penggunaan bersama-sama dua macam obat atau lebih. Meningkatnya


kejadian interaksi obat dengan efek yang tidak diinginkan adalah akibat

makin banyaknya dan makin seringnya penggunaan apa yang

dinamakan Polypharmacy atau Multiple Drug Therapy. Sudah kita

maklumi bersama bahwa biasanya penderita menerima resep dari dokter

yang memuat lebih dari dua macam obat. Belum lagi kebiasaan penderita

yang pergi berobat ke beberapa dokter untuk penyakit yang sama dan

mendapat resep obat yang baru. Kemungkinan lain terjadinya interaksi

obat adalah akibat kebiasaan beberapa penderita untuk mengobati diri

sendiri dengan obat-obatan yang dibeli di toko-toko obat secara bebas.

BAB II
PEMBAHASAN

Pada umumnya, orang meminum obat berupa tablet atau kapsul

dengan air putih. Namun, karena tidak semua orang mengkonsumsi air

putih setelah makan, obat lalu ditelan dengan air apa saja yang ada di

meja. Baik itu es teh, kopi, atau jus. Muncul kekhawatiran bahwa obat

yang diminum bersama teh, kopi, dan terutama susu akan kehilangan

khasiatnya. Banyak pula yang menyarankan jika minum susu, usahakan

jedanya satu jam sebelum atau sesudah minum obat. Pada dasarnya,

minum obat bersamaan dengan minuman lain bisa menyebabkan adanya

interaksi obat alias perubahan efek obat.

Ada beberapa jenis jus dan minuman yang dapat berinteraksi

dengan obat, yaitu:

1. Susu

Susu merupakan minuman kesehatan yang banyak mengandung

protein dan mineral dan juga logam yang sangat dibutuhkan oleh tubuh.

Penggunaan obat dengan menggunakan susu tentunya akan

menyebabkan interaksi antara obat dengan susu. Interaksi obat dengan

susu dapat merugikan misalnya interaksi antara tetrasiklin dan susu yang

menyebabkan absorbsi tetrasiklin menurun. Interaksi tersebut berupa

terbentuknya kelat tak terabsorbsi. Absorbsi tetrasiklin dan logam tertentu

(Fe2+) berkurang. Jika obat kurang diabsorbsi, berarti daya khasiat atau
kemanjurannya juga akan berkurang, sehingga penyembuhan mungkin

tidak akan tercapai. Hal disebabkan karena kalsium yang dikandung

dalam susu bisa membentuk ikatan dengan zat-zat dalam beberapa obat

dan meghalangi penyerapan oleh lambung. Contohnya adalah tetrasiklin,

zat yang biasa ada dalam antibiotik untuk obat flu.

Susu mempunyai sifat dapat menghambat absorpsi zat-zat aktif

tertentu terutama antibiotika. Jika obat kurang diabsorbsi, berarti daya

khasiat atau kemanjurannya juga akan berkurang, sehingga

penyembuhan mungkin tidak akan tercapai. Karena itu, jika sedang

mengkonsumsi antibiotika, misalnya ampisilin, amoksilin, kloramfenikol

dan lain-lain, sebaiknya jangan minum susu, apalagi minum obat

antibiotika tersebut bersama dengan susu. Jika ingin minum susu juga,

sebaiknya tunggu sekitar dua jam setelah atau sebelum minum

antibiotika, agar penyerapan obat antibiotika tersebut di saluran

pencernaan tidak terganggu.

Tidak semua jenis obat tidak baik dikonsumsi bersama-sama

dengan susu. Ada beberapa obat, terutama yang bersifat mengiritasi

lambung, justru dianjurkan untuk diminum bersama susu atau pada

waktu makan. Gunanya agar susu atau makanan tersebut dapat

mengurangi efek iritasi lambung dari obat yang dikonsumsi. Walaupun

susu atau makanan dapat sedikit mengurangi daya kerja obat-obat

tersebut, namun efek perlindungannya terhadap iritasi lambung lebih


bermanfaat dibandingkan dengan efek penurunan daya kerja obat yang

sangat sedikit. Obat-obat seperti ini, contohnya obat-obat Non Steroidal

Anti Inflammatory Drug (NSAID)/antiinflamasi nonsteroid seperti asetosal

dan ibuprofen, yang biasa diberikan untuk meredakan atau mengurangi

rasa sakit, nyeri, atau demam. Obat-obatan yang tergolong dalam NSAID

bersifat lypophylic, mudah larut dalam lemak sehingga biasanya obat-

obat seperti ini dianjurkan untuk diminum dalam waktu 30 menit sesudah

makan.

Alasan lainnya ialah karena NSAID menyebabkan iritasi lambung.

NSAID merupakan obat pembunuh rasa sakit atau painkiller yang bekerja

dengan cara menghambat terbentuknya prostaglandin. Prostaglandin

sendiri adalah zat yang selalu ada dalam sel tubuh dan bekerja sebagai

zat yang menyebabkan peradangan dan rasa sakit, namun juga punya

tugas lain, yaitu membantu terbentuknya selaput mukosa lambung.

Dengan terhambatnya prostaglandin oleh aspirin, rasa sakit dan infeksi

pun hilang, namun pada saat yang bersamaan, lambung menjadi rentan

terhadap iritasi karena selaput mukosanya berkurang. Oleh karena itu,

obat-obat NSAID biasa diresepkan untuk diminum sesudah makan,

supaya makanan yang masuk terlebih dahulu bisa melindungi dinding

lambung. Bila kita tidak sempat makan, susu boleh diminum sebagai

penggantinya. Begitu juga obat-obat kortikosteroid yang biasanya


digunakan untuk meredakan inflamasi (misalnya bengkak atau gatal-

gatal) seperti prednison, prednisolon, metilprednisolon, dan lain-lain.

Griseofulvin merupakan salah satu contoh obat yang diminum

bersama dengan susu karena mempunyai interaksi yang

menguntungkan. Griseofulvin adalah antibiotika fungistatik yang

dihasilkan oleh Penicillium griseofulvum atau species lain dari Penisillium

termasuk Penicillium chrysogenum. Secara in-vitro griseofulvin dapat

menghambat pertumbuhan berbagai spesies dari Microsporum,

Epidermophyton dan Trichophyton. Griseofulvin ditimbun di sel-sel

terbawah dari epidermis, sehingga keratin yang baru terbentuk akan

tetap dilindungi terhadap infeksi jamur . Sifat fisika kimia.

Interaksi obat griseofulvin dengan etanol dapat meningkatkan efek

toksisitas dan menyebabkan terjadinya takikardi dan flushing

(kemerahan) Dari berbagai informasi di atas dapat disimpulkan bahwa

penggunaan obat dengan menggunakan susu tidak selalu merugikan.

Penggunaan susu untuk meminum griseofulvin akan menimbulkan efek

yang menguntungkan karena dapat meningkatkan absorbsi griseofulvin

sehingga konsentrasi griseofulvin juga meningkat. Dalam penggunaan

obat, perlu diperhatikan apakah obat harus diminum dengan susu, teh

ataupun air putih yang sangat tergantung dari golongan serta sifat fisik

kimia dari obat. Hal ini perlu diperhatikan demi menjamin keberhasilan

terapi obat.
2. Kopi
Kopi sebagaimana diketahui mengandung kafein. Kafein bekerja

merangsang susunan saraf pusat. Jadi agar efek stimulan terhadap

susunan saraf pusat tidak berlebihan, disarankan untuk menghindari

mengkonsumsi bahan-bahan yang mengandung kafein seperti kopi, teh,

coklat, minuman cola dan beberapa merek minuman berenergi (energy

drink) ketika kita sedang dalam pengobatan menggunakan obat-obat

yang juga dapat merangsang susunan saraf pusat seperti obat-obat

asma yang mengandung teofilin atau epinefrin.


- Dengan sediaan yang mengandung besi. Selain itu kopi tidak dapat

dikonsumsi dengan sedian yang mengandung besi karena kopi dapat

menghambat absorbsi besi.


- Dengan nikotin. Dengan meminum kopi biasanya dua gelas kopi dan

nikotin dapat meningkatkan tekanan darah dan detakan jantung.


- Simpatomimetik amin. Dapat meningkatkatkan tekanan darah

dengan fenilpropanolamin.
- Dengan dipiridamol. Kopi dapat memblokade reseptor adenosine,

sehingga efek dipiridamol dapat berkurang.


- Dengan antifungi, imidazol dan triazol. Antifungi ini dapat

menghambat metabolisme kafein dalam kopi sehingga bisa jadi

terjadi akumulasi kafein dalam tubuh terutama oleh flukanazol.

3. Teh

Teh merupakan minuman dengan rasa yang khas sekaligus

bermanfaat untuk kesehatan. Biasanya teh digunakan oleh masyarakat

untuk menjaga kesehatan dan mengkonsumsi obat. Harapannya, selain


mendapatkan efek sehat dari obat, juga memperoleh efek sehat dari teh.

Masyarakat umumnya tidak mengetahui bahwa teh mengandung

senyawa tanin. Tanin dalam teh dapat mengikat berbagai senyawa aktif

obat sehingga sukar diabsorbsi atau diserap dari saluran pencernaan.

Hal inil mengakibatkan khasiat dari obat berkurang, karena obat bebas

yang dapat diabsorpsi oleh tubuh terbatas jumlahnya. Maka seringkali

obat sudah habis diminum, namun gejala sakit tidak segera hilang,

karena ternyata efek obat tidak maksimal.

Strukur Kimia Tannin

Selain mengganggu absorpsi obat, tanin dapat mengganggu

distribusi obat ke jaringan (site of action). Tanin memiliki gugus fenol yang

dapat berikatan dengan protein, sehingga jumlah protein bebas dalam

tubuh berkurang. Hal ini akan mengakibatkan obat bebas yang berada di

sistem sirkulasi tubuh tidak dapat berikatan dengan protein. Akibatnya,

jumlah obat dalam bentuk bebas akan meningkat. Peningkatan ini dapat
berefek toksik karena obat dapat langsung menuju membran sel dan

menimbulkan efek berlebihan dalam tubuh.

Teh juga mengandung kafein (walaupun konsentrasinya lebih

sedikit bila dibandingkan dengan kopi) namun teh juga mempunyai efek

stimulan terhadap susunan saraf pusat. Maka disarankan untuk

menghindari mengkonsumsi bahan-bahan yang mengandung kafein

(teh), jika dalam pengobatan menggunakan obat-obat yang juga dapat

merangsang susunan saraf pusat seperti obat-obat asma yang

mengandung teofilin atau epinefrin.

Strukur Kimia Kafein

Teh memang memberikan efek kesehatan karena di dalam tubuh

berfungsi sebagai antioksidan, untuk menangkap radikal bebas sehingga

dapat menghambat penuaan. Namun ternyata setelah dilakukan

penelitian, terdapat efek yang ditimbulkan makanan dan minuman yang

diminum bersamaan dengan obat, yaitu interaksi obat dan makanan

dapat mengurangi khasiat obat dan dapat membahayakan jiwa pasien


(bila menimbulkan reaksi yang berlebihan pada susunan saraf pusat oleh

kafein).

Teh Hijau (Green Tea)

Beberapa interaksi yang ditimbulkan jika dilakukan penggunaan

bersama antara obat tertentu dengan teh hijau (Green Tea) adalah:

Teh hijau menghambat aksi dari edenosin.


Teh hijau meningkatkan aktivitas dari antibiotik beta-laktam dengan

mereduksi resistensi bakteri pada treatment.


Kafein dalam teh hijau telah ditunjukkan dapat mengurangi efek sedatif

dari benzodiazepine.
Kafein dalam teh hijau dapat meningkatkan tekanan darah pasien

yang mengkonsumsi metoprolol dan propranolol.


Pasien yang mengkonsumsi warfarin tidak boleh mengkonsumsi

greentea secara bersamaan karena akan membuat warfarin menjadi

tidak efektif. Sehingga dapat meningkatkan resiko perdarahan.


Kombinasi teh hijau dengan obat obat kemoterapi, khususnya

doxorubisin dan tamoksifen, meningkatkan efektifitas obat-obat ini

pada tes laboratorium. Green tea dan black tea menstimulasi sebuah

gen pada sel kanker prostat yang menyebabkannya menjadi kurang

sensitif sebagai obat kemoterapi.


Efek antipsikosis dari klozapin dikurangi jika meminum klozapin kurang

dari 40 menit setelah meminum teh hijau.


Jika efedrin dan teh hijau diminum secara bersama dapat

menyebabkan insomnia, tremor, agitasi dan kehilangan berat badan.


Jika teh hijau dan penghambat MAO diminum secara bersamaan

dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah (hipertensi krisis).


Interaksi antara teh hijau dengan fenilpropanolamin yaitu kafein dalam

teh hijau dapat menyebabkan maniak apabila diminum bersamaan

dengan fenilpropanolamin, selain itu juga dapat meningkatkan tekanan

darah.

Teh Ginseng

Sebagai suplemen herbal, teh ginseng berinteraksi dengan

sejumlah obat. Beberapa contoh interaksi yang ditimbulkan akibat

penggunaan bersama teh ginseng dengan obat-obat tertentu yaitu:

Teh ginseng meningkatkan efek hipoglikemik dari insulin dan ADO

(Antidiabetik Oral), yang membantu menurunkan kadar glukosa darah.


Teh ginseng meningkatkan level maniak pasien yang mengkonsumsi

penghambat MAO.
Teh ginseng juga menurunkan efektifitas antikoagulan

4. Alkohol

Walaupun sebagian besar rakyat Indonesia bukan peminum

alkohol, patut juga disampaikan disini bahwa ketika minum obat

sebaiknya sama sekali berhenti minum alkohol. Alkohol mempunyai

pengaruh yang sangat kuat terhadap fisiologis tubuh sehingga dapat

mengganggu atau bahkan mengubah respons tubuh terhadap obat yang


diberikan. Contohnya, obat-obat antihistamin atau antialergi (biasanya

diberikan untuk meringankan gejala alergi, flu atau batuk) umumnya

menyebabkan mengantuk. Konsumsi antihistamin bersama dengan

alkohol akan menambah rasa kantuk dan memperlambat performa

mental dan motorik.

Alkohol juga akan meningkatkan resiko pendarahan lambung dan

kerusakan hati jika dikonsumsi bersama obat-obat penghilang rasa sakit

seperti parasetamol atau asetaminofen. Karena alkohol dapat

meningkatkan formasi metabolit asetaminofen hepatotoksik, yaitu

CYP2E1. Alkohol juga dilarang diminum bersama dengan obat-obat

penurun tekanan darah tinggi golongan beta-blocker seperti propanolol.

Kombinasi alkohol-propanolol dapat menurunkan tekanan darah secara

drastis dan membahayakan.

Tape, walaupun sedikit, sudah kita ketahui mengandung alkohol,

terutama tape ketan atau tape beras. Oleh sebab itu sebaiknya kurangi

atau hindari makan tape ketika kita mengkonsumsi obat-obat yang dapat

berinteraksi dengan alkohol seperti yang diuraikan di atas.

Untuk mengerahkan efek yang diinginkan, obat umumnya harus

melakukan perjalanan melalui aliran darah ke tempat aksinya, yang

menghasilkan beberapa perubahan dalam suatu organ atau

jaringan. Efek obat kemudian berkurang karena kemudian diproses

(dimetabolisme) oleh enzim dan dieliminasi dari tubuh. Sama halnya


dengan alkohol, perjalanan melalui aliran darah, yang bekerja pada otak

menyebabkan keracunan, dan akhirnya dimetabolisme dan dihilangkan,

terutama oleh hati. Sejauh mana dosis diberikan obat mencapai tempat

kerjanya dapat disebut ketersediaan obat/availaibilitas. Alkohol dapat

mempengaruhi efektivitas obat dengan mengubah ketersediaannya.

Alkohol berinteraksi dengan obat adalah sebagai berikut :

Pertama, dosis akut alkohol (minuman tunggal atau beberapa

minuman selama beberapa jam) dapat menghambat metabolisme obat

dengan bersaing dengan obat untuk enzim pemetabolisme yang

sama.Interaksi ini memperpanjang dan meningkatkan ketersediaan

obat, berpotensi meningkatkan risiko pasien mengalami efek samping

yang berbahaya dari obat.


Kedua, sebaliknya, konsumsi alkohol kronis (jangka panjang) dapat

mengaktifkan enzim pemetabolisme obat, sehingga mengurangi

ketersediaan obat dan mengurangi efek tersebut. Peminum kronis

baru-baru berpuasa mungkin memerlukan dosis yang lebih tinggi dari

obat-obat dari yang dibutuhkan oleh alkohol untuk mencapai tingkat

terapeutik obat-obatan tertentu.


Ketiga, enzim diaktifkan oleh konsumsi alkohol kronis yang mengubah

beberapa obat menjadi bahan kimia beracun yang dapat merusak hati

atau organ lain.


Keempat, alkohol dapat memperbesar efek penghambatan obat

penenang dan narkotika ditempat aksinya di otak. Untuk menambah


kompleksitas interaksi ini, beberapa obat mempengaruhi metabolisme

alkohol, sehingga mengubah potensinya untuk mabuk dan dampak

buruk yang terkait dengan konsumsi alkohol.

Di bawah ini diberikan beberapa contoh interaksi yang diakibatkan

oleh penggunaan secara bersamaan antara alkohol dengan jenis-jenis

obat tertentu:

Anesthetics. Konsumsi alkohol kronis meningkatkan dosis propofol

yang dapat menginduksi terjadinya kehilangan kesadaran. Konsumsi

alkohol kronis meningkatkan resiko kerusakan hati yagn disebabkan

oleh anastesi gas enfluran dan halotan

Antibiotics. Kombinasi dengan konsumsi alkohol akut, beberapa

antibiotik dpat menyebabkan nausea, mual, sakit kepala, dan

kemungkinan terjadinya konvulsi. Konsumsi alkohol akut mengurangi

availabilitas isoniazid dalam aliran darah, juga dapat mengurangi

availabilitas rifampisin. Dlam kasus ini efektifitas dari pengobatan

dikurangi.

Anticoagulants. Konsumsi alkohol akut meningkatkan availabilitas

warfarin, meningkatkan resiko hemoragi. Konsumsi alkohol kronis


mengurangi availabilitas warfarin, berkurangnya proteksi pasien dari

konsekuensi gangguan pembekuan darah.

Antidepressants. Alkohol meningkatkan efek sedatif antidepresan

trisiklik seperti amitriptilin, merusak mental. Konsumsi alkohol akut

meningkatkan availabilitas beberpa trisiklik, secara potensial

emningkatkan efek sedatifnya. Konsumsi alkohol kronis

menununjukkan peningkatan availabilitas dari beberpa trisiklik, dan

juga menunrunkan availabilitas lainnya. Signifikansi dari interaksi ini

tidak jelas.

Antidiabetic medications. Hipoglikemik oral diresepkan utnuk

membantu menurunkan kadar glukosa darah pada psien DM,

konsumsi alkohol akut yang diperpanjang, dan kronis alkohol

menunrunkan availabilitas dari tolbutamid, alkohol juga berinteraksi

dengan beberpa obat dari clas ini dengan gejala nausea, dan sakit

kepala.

Antihistamines. Alkohol mungkin mengintensifkan efek sedasi yang

disebabkan oleh beberpa antihistamin. Obat ini dapat menyebabkan

efek pusing yang berlebihan dan sedasi pada org tua. Efek kombinasi

alkohol dan antihistamin secara signifikan pada populasi ini.


Antipsychotic medications. Konsumsi alkohol akut meningkatkan

efek sedatif dari obat-obat ini. Menghasilkan koordinasi yang rusak

dan pernafasan yang fatal atau sulit bernafas. Kombinasi alkohol

kronis dengan antipsikotik dapat merusak hati.

Antiseizure medications. Konsumsi alkohol akut meningkatkan

availabilitas dari fenitoin dan resiko efek samping. Peminum kronis

menurunkan availabilitas fenitoin, secara signifikan menurunkan

proteksi pasien terhadap serangan seizure, bahkan sepanajang

periode abstinens.

Cardiovascular medications. Konsumsi alkohol akut berinteraksi

dengan beberpa obat menyebabkan pusing, atau pingsan sewaktu

berdiri. Obat-obat ini termasuk nitrogliserin yang digunakan untuk

angina dan reserpin, metildopa, hidralazin, dan guanetidin, yagn

digunakan untuk perawatan tekanan darah tinggi. Konsumsi alkohol

kronis menurunkan availabilitas propranolol. Secara potensial

menurunkan efek terapetiknya.

Narcotic pain relievers. Obat ini diresepkan untuk beberpa nyeri yang

moderat. Termasuk morfin, kodein, propoksifen, dan meperidin.

Kombinasi opiat morfin dan alkohol meningkatkan efek sedatif dari

keduanya. Meningkatkan resiko kematian karena overdosis. Dosis


tunggal alkohol dapat meningkatkan availabilitas propoksifen. Secara

potensial meningkatkan efek samping sedatifnya.

Nonnarcotic pain relievers. Aspirin dan penghilang nyeri yang

serupa secar umum digunakan oleh orang tua. Beberapa obat ini

menyebabkan perdarahan perut dan menghambat pembekuan darah.

Alkohol dapat memperburuk efek samping ini. Orang tua yang

mencampur alkohol dengan dosis besar aspirin untuk pengobatan

sendri dapat memperpanjang episode perdarahan lambung. Aspirin

juga dapt meningkatkan availabilitas alkohol, mempertinggi efek dari

dosis alkohol yang diberikan.

Sedatives and hypnotics ("sleeping pills"). Benzodiazepin seperti

diazepam secara umum direspekan untuk ansietas dan insomnia.

Konsumsi alkohol meningkatkan availabilitas barbiturat,

memperpanjang efek sedatif. Konsumsi alkohol kronis menurunkan

availabilitas barbiturat . akut dan kronis alkohol meningkatkan efek

sedatif barbiturat pada sisi aksinya diotak. Kadan-kadang

menyebabkan koma atau depresi respirasi yang fatal .

5. Jus

a) Jus Grapefruit
Pada akhir 1980-an, para peneliti menemukan bahwa jus

grapefruit (semacam jeruk besar serupa dengan jeruk Bali) mengganggu

sebuah enzim yang disebut sebagai CYP3A4. Enzim ini ditemukan pada

usus dan hati orang. Banyak obat yang dipakai oleh manusia diuraikan

oleh enzim ini. Bila kegiatan enzim CYP3A4 ini bertambah cepat, obat

tersebut semakin cepat diuraikan dan dibuang dari tubuh. Bila kegiatan

enzim ini menjadi lebih pelan,tingkat obat dapat meningkat.

Peneliti di Jepang sudah melangkah awal dalam arah ini. Mereka

melakukan penelitian laboratorium dengan sel hati manusia dan obat

tidur midazolam. Obat ini dipilih karena diuraikan oleh CYP3A4.

Minuman berupa jus yang menurut banyak penelitian bisa

menyebabkan interaksi obat adalah jus grapefruit. Kadar beberapa jenis

obat bisa meningkat jika diminum dengan jus ini sehingga bisa terjadi

efek samping. Contohnya adalah obat hipertensi golongan kalsium

antagonis, amiodaron, antivirus, antibiotika klaritromisin, benzodiazepine,

dan beberapa obat sistem saraf pusat lainnya, penurun kolesterol jenis

statin dan siklosporin.

Penelitian lain sudah menemukan bahwa jus grape fruit dapat

mempengaruhi tingkat beberapa obat, termasuk ARV, dalam darah, jadi

adalah masuk akal untuk menghindari jus grapefruit waktu memakai obat.

Menurut para peneliti, jus grapefruit mengandung bahan utama

naringin, yang memberi rasa kecut serta aroma khas. Naringin inilah
yang diduga memblok transporter" obat yang dinamakan OATP1A2 yang

mengangkut bahan aktif obat dari usus kecil ke pembuluh darah.

Pemblokiran transporter ini mengurangi absorpsi obat dan

menetralisasi potensi manfaatnya. Di lain pihak, obat-obat yang kadarnya

meningkat dengan kehadiran jus grapefruit tampaknya memblok sejenis

enzim penting dalam metabolisme obat bernama CYP3A4, yang secara

normal berfungsi memecah obat, kata peneliti.

Selain grapefruit, peneliti menemukan bahwa jus orange dan jus

apel yang justru lebih banyak diminum ketimbang jus grapefruit juga

menunjukkan efek yang sama. Kedua jenis jus ini, kata peneliti, memang

mengandung naringin.

Sejauh ini, di antara obat-obat yang terpengaruh konsumsi

grapefruit, jeruk dan jus apel adalah : etoposide, sejenis obat antikanker;

jenis beta blocker (atenolol, celiprolol, talinolol) yang digunakan untuk

mengobati tekanan darah tinggi dan mencegah serangan jantung dan

beberapa jenis antibiotik (ciprofloxacin, levofloxacin, itraconazole).

Penurunan interaksi obat juga dialami cyclosporine - obat yang

digunakan mencegah penolakan dalam transplantasi organ. Daftar obat-

obatan ini dipekirakan bakal terus bertambah panjang seiring dengan

berlanjutnya penelitian. Eritromisin sebaiknya tidak dikonsumsi bersama

dengan jus buah-buahan atau grape fruit yang dapat menurunkan

efektifitas obat.
Berdasarkan hasil penelitian yang diselenggerakan pada Health

Canada International Symposium on Drug, Food and Natural Health

Product interactions February 9, 2006 Gatineau, Quebec. Menunjukkan

adanya interaksi penggunaan obat bersama jus grapefruit terutama

peningkatan nilai AUC.

Dari kasus yang dilaporkan, penggunaan lovastatin dan grapefruit

pada seorang pria 60 tahun dengan riwayat hipertensi, insufisiensi ginjal,

kelainan vena, diabetes noninsulin dan riwayat keluarga hiperlipidemia

penggunaan lovastatin bersama dengan gemfibrosil, amilodipin,

metoprolol, glyburide, trovaloxacin, vitamin E, metformin, aspirin,

ciprofloksasin mengganti kebiasaannya meminum jus jeruk dengan jus


grapefruit, dapat menimbulkan gejala nyeri pada otot dan nilai CPK yang

tinggi hingga > 40.000 U/L. Dan setelah penggunaan jus grapefruit

dihentikan, serta perubahan jenis obat yang diberikan, diperoleh nilai

CPK 1017 dan didapatkan kelemahan otot yang berangsur sembuh .

Sehingga penting untuk memberitahukan kepada pasien untuk

menghentikan penggunaan obat bersama jus grapefruit.

Pada kasus lain, seorang wanita 92 tahun dengan riwayat

hipertensi mengkonsumsi nifedipin 40 mg perhari selama 4 tahun. Ketika

melakukan perjalan ke Florida, ia mengkonsumsi nifedipin bersama jus

grapefruit. Dan dia mengalami mual, sakit kepala, vertigo, penurunan

nafsu makan dan disorientasi. Setelah dibawa di Rumah Sakit, konsumsi

jus grapefruit dihentikan dan pasien berangsur sembuh.

Juga dilaporkan bahwa jus grapefruit dapat mempengaruhi

metabolisme dari cyclosporine (Neoral) berupa penghambatan

metabolisme menyebabkan peningkatan konsentrasi plasma

cyclosporine sehingga efeknya juga meningkat dan dapat menimbulkan

toksisitas.

Berikut grafik hubungan antara waktu dengan konsentrasi feksofenadine

interaksi obat bersama beberapa jenis jus


Peningkatan marginal atas pemaparan sunitinib oleh grape juice.

(Meng Li, Antimicrobial Agents and Chemotherapy, July 2009, p.

27252732).

Sunitinib malate adalah multitarget tyrosine kinase inhibitor yang

terbukti untuk pengobatan pertama pada metastatic renal cell carcinoma

(mRCC) dan imatinibresistant metastatic gastrointestinal stromal tumors

(GIST). Grape juice mampu menginhibisi cytochrome P450 (CYP) 3A4

intestinal.
Senyawa yang terdapat pada grape juice yaitu furanocoumarins

dapat menginhibisi metabolisme sitokrom P450 3A4. Rumus strukturnya

terdiri atas cincin furan yang berfusi dengan coumarin.

Mekanisme Prediksi

Efek Farmakokinetik
Efek dari grape juice pada farmakokinetik sunitinib :
a. Deplesi oleh aktivitas CYP3A4 dengan konsumsi grapefruit juice.
b. Peningkatan relatif bioavailibilitas dari sunitinib dengan konsumsi

grape juice.
c.Prediksi individual dan pengukuran (nilai tetap) konsentrasi sunitinib.

Diprediksikan dan diturunkan parameter farmakokinetik pada final mode

sunitinib.

Kesimpulan
Konsumsi grape juice dapat menghasilkan peningkatan marginal pada

pemaparan sunitinib yang dapat diartikan tidak relevan secara klinis.

Tidak ada bukti klinis yang menggarisbawahi peringatan pada labeling

obat sunitinib mengenai penggunaan bersama grape juice.


Pengaruh minuman jeruk bersoda dibandingkan grapefruit juice

pada siklosporin. (Ute I. Schwarz, dkk. Br J Clin Pharmacol. 62 : 4

485491)
Siklosporin, yaitu immunosuppressant calcineurin, digunakan

secara luas pada keadaam transplantasi organ. Bioavailibilitas

siklosporin oral bervariasi dan bergantung pada beberapa faktor seperti


formalasi obat, mebolisme oleh cytochrome P450 3A4 (CYP3A4) dan

transpor aktif oleh pompa efflux P-glycoprotein pada usus dan hati.
Rumus struktur :

Efek Farmakokinetik

Profile Farmakokinetik
Hasil
Walaupun hasil interaksi klinis antara siklosporin dan minuman jeruk

bersoda tidak mensupport relevansi klinis seperti grape fruit juice, namun

efek pada penggunaan siklosporin kronik tidak dapat dikesampingkan.


Pengaruh konsumsi tetap grape fruit juice pada farmakokinetik

simvastatin (Jari J. Lilja, Mikko Neuvonen & Pertti J. Neuvonen)

Simvastatin digunakan untuk pengobatan hiperkolesteremia.

Mempunyai 2 jalur metabolisme yang berbeda. Biotransformasi

oksidative simvastatin termediasi primer oleh CYP3A4. Simvastatin

adalah substrat untuk CYP3A4, yang termetabolisme pada lintas

pertama.

Rumus struktur :
Hasil

Peningkatan Cmax dan AUC simvastatin dan asam selama fase

penggunaan grape juice dapat dijelaskan karena inhibisi pada

metabolisme CYP3A4 lintas pertama, simvastatin rentan pada interaksi

metabolisem farmakokinetik. Contohnya, kemampuan CYP3A4

itraconazole meningkatkan AUC simvastatin 19 kali lipat dan grape juice

kental (berkekuatan ganda) yang dikonsumsi selama 3 hari sekali dapat

meningkatkan AUC simvastatin sebanyak 16 kali lipat. Studi ini

membuktikan bahwa walaupun grape juice dalam jumlah yang kecil

mengandung bahan aktif yang penting dalam menginhibisi metabolisme

pada lintas pertama simvastatin di dinding usus.

Walaupun hanya segelas grape juice per hari, telah dapat

meningkatkan konsentrasi plasma simvastatin. Grapefruit juice dapat

meningkatan efek penurunan kolesterol serta efek samping simvastatin.

Oleh karena interaksi ini, tidak disarankan penggunaan bersama

grapefruit juice dan simvastatin.


Efek Grapefruit juice pada absorpsi Levothyroxine (Jari J. Lilja,

Kalevi Laitinen & Pertti J. Neuvonen)

Levothyroxine yang adalah sintetik T4 digunakan secara luas

sebagai pengganti hormon endogenus pada hipotoroid dan terpi suppresi

pada tiroid neoplasia. Setelah penggunaan oral, sekitar 70-80%

levothyroxine terabsorbsi.

Rumus struktur :

Hasil

Parameter farmakokinetik levothyroxine dihitung dari konsentrasi serum

hingga 6 jam. Pencernaan levothyroxine menurunkan sistesis T4

endogen, yang mempunyai t lebih lama yaitu 6-7 hari. Levothyroxine

dosis tinggi digunakan untuk meningkatkan konsentrasi serum yang

memberikan estimasi AUC tirosin. Selanjutnya, diberikan grapefruit juice

untuk mengamati interaksi yang terjadi. Levothyroxine tidak melewati

metabolisme lintas pertama oleh enxim CYP, karena bioavailibilitas oral

pada subyek puasa adalah 70-80%. Levothyroxine cenderung


membentuk kompleks dengan obat lain di saluran pencernaan, dan

grapefruit juice bersifat asam. Grapefruit juice hanya memiliki potensi

kecil untuk mempengaruhi absorbsi levothyroxine pada lumen usus,

dengan pengikatan pada obat maupun peningkatan asam pada saluran

pencernaan. Thyroxine sangat tidak larut air, dan pada beberapa organ,

misalnya otak ; bergantung pada transporter. Yang terlibat dalam

disposisi levothyroxine, OATP-A dan OATP-E telah dilaporkan berada

pada dinding usus. Hasil penelitian ini menunjukkan grapefruit juice tidak

mempengaruhi aksi dari transporter ini. Akan tetapi tidak dapat

dihilangkan bahwa peengunaan lama grapefruit juice dapat mengganggu

recycling enterohepatik levothyroxine.

Penggunaan berulang grapefruit juice hanya memberikan efek kecil

pada absorbsi levothyroxine. Tidak ada interaksi klinis antara grapefruit

juice dan levothyroxine yang signifikan.

Pengaruh Grapefruit Juice pada Farmakokinetik Asebutolol (Jari

J. Lilja, Kari Raaska & Pertti J. Neuvonen)

Asebutolol digunakan pada keadaan angina pectoris, hipertensi

dan beberapa aritmia jantung. Asebutolol melewati metabolisme lintas

pertama dan bioavailibility oral sekitar 50%.

Rumus struktur :
Hasil

Grapefruit juice dalam jumlah yang besar diberikan bersama asebutolol

menyebabkan penurunan bioavailibiltas relatif asebutolol. Meskipun

grapefruit juice menurunkan konsentrasi plasma diacetolol, yaitu

metabolit utama asebutolol, tidak berubah secara signifikan pada

asebutolol. Grapefruit juice tidak merubah efek haemodinamik asebutolol.

Tidak ada interaksi farmakokinetik antara asebutolol dan obat lain

disebabkan karena perubahan aktivitas oleh enzim CYP telah dilaporkan.

Hal ini telah terduga, karena biotransformasi asebutolol oleh hidrolisis

grup butiramide sebelum asetilasi N hingga mendapatkan diacetolol tidak

melibatkan enzim CYP. Ada bukti bahwa asebutolol adalah substrat untuk

transporter efflux, P-glycoprotein yang dapat menjelaskan sekresi aktif

obat kedalam usus setelah pemberian intravena. Beberapa studi

menunjukkan adanya inhibisi pada transporter efflux oleh grapefruit juice.

Efek pada studi ini menunjukkan penurunan 20% pada AUC asebutolol.

Inhibisi transporter pada usus dapat menurunkan tingkat absorbsi dan

memperpanjang t asebutolol. Grapefruit juice dalam jumlah yang

banyak dapat menyebabkan penurunan konsentrasi obat pada usus,


sedikit adsorpsi asebutolol oleh grapefruit juice, perubahan pH pada

ionisasi obat atau perubahan waktu transit obat di lambung juga

bertanggungjawab pada interaksi ini.

Grapefruit juice hanya sedikit mempengaruhi pada konsentrasi

plasma asebutolol dan metabolit utamanya, diacetolol, kemungkinan

karena gangguan absorbsi di usus. Interaksi grapefruit juice dan

asebutolol tidak relevan secara klinis.

b) Jus Anggur
Penggunaan obat MAO Inhibitor
Bila dikonsumsi bersama bir dan anggur dapat menyebabkan

krisis hipertensi.
Albendazole + Jus buah anggur
Jus buah anggur meningkatkan kadar plasma Albendazole. Jus

buah anggur meningkatkan kadar Albendazole sulfoxide sekitar

tiga kali lipat dan dipersingkat waktu paruhnyasampai 46% . 1

Ketika Albendazole diberikan dengan jus buah anggur dan

simetidin kadar plasma puncak berkurang dari 760-410 /L.

Namun, kadar dicapai dengan simetidin dan jus buah anggur

masih lebih besar daripada yang dicapai bila Albendazole

diberikan dengan air. Disarankan bahwa jus buah anggur

menghambat metabolisme Albendazole oleh sitokrom P450

isoenzim CYP3A4 di mukosa usus, dan sehingga kadar

Albendazole meningkat. Penambahan simetidin mungkin


menurunkan efek ini dengan mengurangi penyerapan Albendazole

dengan mempengaruhi pH lambung. 1 (Lihat juga 'Albendazole

atau Mebendazol + Cimetidine', hal 209.) Relevansi klinis diganti

dengan jus buah anggur tidak pasti. Untuk infeksi sistemik,

penyerapan meningkat mungkin akan bermanfaat, tetapi

penurunan waktu paruh bisa merugikan.


Co-artemether dan Jus Anggur
Jus anggur menggandakan AUC artemether. Meskipun relevansi

klinis ini tidak pasti, produsen co-artemether menyarankan

penggunaan bersama. Dalam studi crossover, subyek sehat diberi

dosis tunggal artemeter 100 mg setelah sarapan dengan air,

kemudian setelah periode washout 7 hari penelitian diulangi

dengan 350 ml jus anggur kekuatan ganda. Jus anggur

meningkatkan AUC artemether hampir dua kali lipat, dan kadar

maksimum lebih dari dua kali lipat. Farmakokinetik dari metabolit

dihydroartemisinin tidak berefek.1 Dalam penelitian dosis ganda,

artemeter 100 mg diberikan dengan air atau 350 mL

doublestrength jus anggur sekali sehari selama 5 hari. Jus anggur

meningkatkan AUC dan kadar maksimum artemether di hari

pertama dan hari ke lima, tapi AUC artemether itu jelas lebih

rendah pada hari ke-5, karena autoinduksi dari metabolismenya. 2

Hal ini menunjukkan bahwa jus anggur mungkin meningkatkan


kadar artemether melalui penghambatan CYP3A4 usus, tetapi

autoinduksi tidak mempengaruhi proses ini. Relevansi klinis

peningkatan dua kali lipat kadar artemeter sangat jelas. Para

penulis berpendapat bahwa penggunaan jus jeruk secara klinis

memberi efek pada malaria, dan secara teoritis bisa mengurangi

recrudescence (Munculnya kembali penyakit setelah beberapa

waktu tidak aktif) berdasarkan artemether monotherapy.2 Namun,

artemeter digunakan dengan lumefantrine untuk recrudescence

baru. Studi lebih lanjut diperlukan.


Praziquantel + Jus Anggur
Jus anggur meningkatkan AUC praziquantel. Dalam sebuah

penelitian pada subyek sehat tingkat plasma maksimum dosis

tunggal 1,8 g praziquantel meningkat sekitar 63% dan AUC

sebesar 90% bila diberikan dengan 250 mL jus anggur daripada

dengan air. Penulis menerangkan bahwa jus anggur dapat

meningkatkan penyerapan dari praziquantel. Efek interaksi klinis

ini belum dinilai, tetapi dapat memberikan kemanjuran. Bila

dibandingkan dengan penelitian lainnya, para penulis

mengemukakan bahwa pengaruh jus anggur sebanding dengan

'cimetidine', (hal.236) dan kurang daripada 'makanan'.


Kina + Jus Anggur
Jus anggur tidak memiliki efek terhadap farmakokinetika kina.

Dalam sebuah penelitian pada 10 subjek sehat 200 mL penuh jus


anggur, setengah volume jus anggur, atau jus anggur diberikan

dua kali sehari untuk 11 dosis dengan dosis tunggal 600 mg kina

sulfat, diberikan pada hari ke 6 dengan dosis terakhir jus anggur.

Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam farmakokinetik kina

antara ketiga perlakuan, meskipun kadar maksimum

hydroxymetabolite 3-sedikit dikurangi (sampai 19%) dengan jus

anggur dibandingkan dengan jus jeruk atau setengah volume jus

anggur. Jus anggur diketahui sebagai inhibitor isoenzim CYP3A4

sitokrom P450 usus, dan memiliki pengaruh yang kecil terhadap

farmakokinetika kina, yang memiliki bioavailabilitas oral tinggi dan

dicerna dalam hati. Jus anggur tidak mengubah farmakokinetik

kina, menunjukkan bahwa pasien yang memerlukan kina aman,

dapat minum jus anggur jika mereka inginkan.

c) Jus Jeruk
Ivermectin dan Jus Jeruk
Jus jeruk mengurangi bioavailabilitas ivermectin. Pada penelitian

16 subjek sehat ditemukan bahwa AUC dan kadar puncak plasma

dosis tunggal dari ivermectin 150 mikrogram/kg masing-masing

berkurang 36% dan 39%, ketika ivermectin diberikan bersama

dengan jus jeruk (750 mL lebih dari 4 jam) dibandingkan dengan

air. Mekanisme yang mengurangi bioavailabilitas tidak diketahui,


tetapi tampaknya tidak terkait dengan aktivitas P-glikoprotein.

Relevansi klinis pada perubahan ini tidak pasti.

Berikut diagram hubungan konsumsi jus jeruk dengan beberapa obat:

d) Jus Apel

Parasetamol dimetabolisme oleh enzim sitokrom P-450 3A4

sedangkan kandungan buah apel yang berupa senyawa flavonoid yaitu

quercetin mampu menghambat aktivitas enzim sitikrom P-450 3A4

(CYP3A4) sehingga kemungkinan dapat terjadi interaksi antara

parasetamol dengan perasan buah apel .

e) Jus Cranberry
September 2003, "Current Problems in Pharmacovigilance by

British Committee on Safety of Medicines . Dikatakan bahwa penggunaan

warfarin besama jus cranberry sebaiknya dibatasi bahkan dihindari

karena dilaporkan 5 kasus yang fatal.

Pengaruh Cranberry juice pada farmakokinetik antibiotik -

laktam oral (Meng Li, Antimicrobial Agents and Chemotherapy, July

2009, p. 27252732)

Konsumsi Cranberry juice sering disarankan bersama antibiotik

oral dosis rendah untuk profilaksis recurrent Infeksi Saluran Kemih (ISK).

Beberapa membran transporter terlibat dalam absorbsi pada usus dan

ekskresi ginjal antibiotik beta-laktam. Cranberry juice kaya akan has

flavonoids and phenolic acids. Quercetin and benzoic acid adalah

flavonoid and phenolic acids utama yang ditemukan pada cranberry juice.
Hippuric acid, metabolit urinary utama dari benzoic acid, ditemukan

berpotensi menghambat hOAT3 dan mungkin mempunyai kemampuan

dalam inhibisi sekresi amoksisilin hOAT3-mediated secara in vivo.


Rumus struktur :
Amoksisilin
Sefalosporin

Efek Farmakokinetik

Simulasi waktu konsentrasi yang dilakukan menggunakan nilai

khusus dari parameter populasi model farmakokinetik amoksisilin untuk

tiap perlakuan. Perubahan nilai parameter karena penggunaan bersama

juice menghasilkan penurunan Cmax dan peningkatan Tmax. Perubahan

nilai parameter karena penambahan dosis menghasilkan peningkatan

Cmax dan sedikit peningktana Tmax.

Profile Farmakokinetik
Kesimpulan
Penundaan absorpsi amoksisilin dan sefaklorin telah diamati. Hasil ini

membuktikan bahwa penggunaan bersama cranberry juice dalam jumlah

biasa sebagai profilaksis ISK tidak mempengaruhi farmakokinetik kedua

antibiotik oral ini.


Cranberry juice menekan metabolisme diklofenak pada

mikrosom hati manusia; bukan padi subyek sehat. (Kentarou

Ushijima, Shu, Br J Clin Pharmacol / 68:2 / 194200)

Cranberry juice mempunyai efek inhibisi pada aktivitas CYP2C9 in

vitro, dimana terlihat efek minimal pada farmakodinamik dan

farmakokinetik warfarin, sebuah substrat CYP2C9 in vivo.

Pada studi sebelumnya, Cranberry juice menginhibisi hidrolasi dari

flurbiprofen, sebuah substrat CYP2C9, hingga sekitar 50% oleh

mikrosom hati manusia.

Rumus struktur :
Efek Farmakokinetik

Konsentrasi plasma diklofenak setelah pemberian oral dosis tunggal 25

mg diklofenak. diklofenak sendiri (); diklofenak dengan jus cranberry

(CRJ) (), meanSE. n = 8

Profile Farmakokinetik

After CrJ Mean difference


No treatment
comsumtion (95% Cl)

T max (h) 1.63 0.31 1.75 0.18 -0.13

C max 825.53 788.55 36.98


(ng/mL) 256.33 227.34

1157.95 1482.03
AUC -324.125
198.75 314.51

Kesimpulan

Cranberry juice menginhibisi metabolisme diklofenak oleh mikrosom hati

manusia, tapi tidak pada subyek sehat. Berdasarkan penemuan ini dan

sebelumnya, walaupun cranberry juice menginhibisi CYP2C9 in vitro,

namun tidak merubah farmakokinetik obat yang dimetabolisme oleh

CYP2C9 pada situasi klinis.

Interaksi Cranberry juice-Warfarin : Evaluasi sistemik in vitro-in

vivo

Warfarin dieliminasi terutama melalui metabolisme pada hati 7-

hidroxiwarfarin oleh cytochrome P450 (CYP) 2C9. Proses yang

mengganggu aktivitas hepatik CYP2C9 dapat meningkatkan konsentrasi

warfarin sistemik dan berpotensi memberi respon antikoagulan.

Digunakan bersama, inhibisi hepatik CYP2C9 oleh komponen dalam

cranberry juice telah menjadi patokan sebagai mekanisme utama pada

interaksi ini.
Efek Farmakokinetik

Geometric mean konsentrasi-waktu profil (0-96 jam) S-warfarin (A) dan

R-warfarin (B) untuk 16 relawan yang sehat diberi tiga 240 ml gelas air

atau jus cranberry manis doublestrength (CBJ) E dan satu dosis oral

warfarin (10 mg). Insets menggambarkan 0-12 jam profil waktu. Simbol

dan error bar menunjukkan batas geometris sarana dan atas dari interval

masing-masing 90%.

Profile Farmakokinetik
Hasil

Cranberry juice menunjukkan kemampuan menghambat metabolisme

enterik CYP3A in vitro; penurunan efek sistemik t membuktikan bahwa

cranberry juice menginhibisi di intestinal, bukan hepatik (aktivitas

CYP3A). Ketidakcocokan in vitro-in vivo terhadap S-warfarin dapat

tercermin pada daerah metabolisme warfarin (hati) jau dari daerah yang

terpapar komponen inhibitor pada cranberry juice (usus). Bioavailibilitas

warfarin oral (>90%) mengindikasikan bahwa obat mengalami

metabolisme lintas pertama yang tak berarti pada usus dan hati.

Komponen penghambat CYP2C9 pada cranberry juice juga mengalami

biotransformasi menjadi bentuk tidak aktif dan/atau dapat berdilusi ke

arteri darah portal dan hepatik untuk memasuki hati.

Kesimpulan

Ketidakcocokkan in vitro-in vivo disebabkan karena perbedaan daerah

distribusi cranberry juice (usus) dan daerah eliminasi substrat warfarin

(hati).

f) Jus Belimbing

Dari beberapa macam buah yang diuji (papaya, buah naga, kiwi,

mangga, markisa, delima, rambutan, belimbing, grapefruit putih, jeruk

Valensia), jus belimbing adalah penghalang terbesar CYP3A4. Para

peneliti menguji belimbing dari berbagai tempat dan menyiapkan jus pada
waktu yang berbeda, namun hasilnya sama. Pengaruh jus belimbing

pada enzim ini serupa dengan jus grapefruit.

Berdasarkan hasilnya, para ilmuwan Jepang ini menganggap

bahwa jus belimbing dapat berinteraksi dengan obat lain yang duraikan

oleh CYP3A4. Untuk menyakinkan, penelitian antara jus belimbing dan

obat harus dilakukan pada manusia untuk menilai apakah ada interaksi.

Jadi, tampaknya juga masuk akal untuk menghindari jus atau buah

belimbing.

BAB III

PENUTUP

III. 1 Kesimpulan

Penggunaan obat bersama dengan minuman dapat menimbulkan

berbagai efek baik efek yang menguntungkan maupun efek yang

merugikan.
Teh, susu, kopi, alkohol dan juga berbagai jus dapat mempengaruhi

sebagian kerja obat dalam tubuh.

III. 2 Saran
Untuk menghindari kejadian- kejadian yang tidak diinginkan,

sebaiknya menghindari penggunaan obat bersama dengan minuman

tertentu.
Sebaiknya digunakan air putih pada saat ingin minum obat karena air

putih cenderung bersifat inert terhadap berbagai bahan obat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Samanoe, Yana. Interaksi Obat (Drug interaction). Makalah disajikan


dalam Situs Pharmacy Rs Puri Indah Interaksi Obat (Drug
Interaction).mht. Posted 16 Juni 2011.

2. Farmakoterapi Info. Info lengkap obat-obatan untuk masyarakat.


Posted 16 Juni 2011.

3. Shiew mey huang . Risk Of Drug Interaction Involving Herbal And


Citrus Products.Health Canada International Symposium on Drug,
Food and Natural Health Product Interactions. Gatineau, Quebec.
2006.
4. Nurita, marlia. Pengaruh sediaan madu bunga kelengkeng
(nephelium longata l) terhadap farmakokinetika Parasetamol yang
diberikan bersama secara Oral pada kelinci jantan. Skripsi. Fakultas
Farmasi Universitas Muhammadiyah. Surakarta. 2006. Hal 3-6.

5. Wulansari, Noviana. Pengaruh perasan buah apel (maulus domestica


borkh) Fuji rrc terhadap farmakokinetika parasetamol yang diberikan
bersama secara oral pada kelinci jantan. Skripsi. Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah. Surakarta. 2006. Hal 32.