Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

MENGURANGI RESIKO INFEKSI AKIBAT PERAWATAN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Profesional Anestesi


Keperawatan Anestesi D-IV Keperawatan Semester VII
Dosen Pembimbing:

Disusun Oleh :
Arsinda Prastiwi (P07120213007)
Farida Sosiawati (P07120213018)
Nia Handayani (P07120213027)
Nurjanah Ayuk Saputri (P07120213029)
Pitra Danan Prabandani (P07120213030)
Wisnu Eko Wihantoro (P07120213039)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
JURUSAN KEPERAWATAN
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Infeksi nosokomial terjadi di seluruh dunia dan dampaknya
mempengaruhi terutama pada negara berkembang dan negara yang miskin
sumber daya. Infeksi yang diperoleh dalam perawatan pelayanan kesehatan
sebagai penyebab utama kematian dan peningkatan morbiditas antara pasien
rawat inap (WHO, 2002).
Infeksi Nosokomial adalah infeksi yang didapat di rumah sakit
(hospital aquired infection) atau infeksi yang timbul atau terjadi sesudah 72
jam perawatan pada pasien rawat inap. Pada suatu rumah sakit yang
mempunyai ICU, angka infeksi nosokomialnya lebih tinggi dibanding yang
tidak mempunyai ICU. Kejadian infeksi nosokomial juga lebih tinggi di
rumah sakit pendidikan oleh karena lebih banyak dilakukan tindakan
pemeriksaan (diagnostik) dan pengobatan yang bersifat invasif (Zulkarnain,
2009).
Perawatan pasien adalah fasilitas yang disediakan dalam pelayanan
kesehatan mulai dari rumah sakit yang sangat lengkap dan berteknologi maju
hingga rumah sakit yang hanya memiliki fasilitas dasar. Meskipun kemajuan
dalam kesehatan masyarakat dan perawatan rumah sakit, infeksi terus
berkembang di pasien rawat inap, dan juga dapat mempengaruhi staf rumah
sakit. Banyak faktor yang mendorong terjadinya infeksi di antara pasien
rumah sakit: penurunan imunitas pasien, berbagai peningkatan prosedur
medis dan teknik invasif yang menciptakan potensi infeksi, dan transmisi
terhadap bakteri resistan obat di antara populasi pasien rumah sakit yang
penuh, di mana praktek pengendalian infeksi yang buruk dapat memudahkan
penularan (WHO, 2002).
Penularan dapat terjadi melalui cara silang (cross infection) dari satu
pasien kepada pasien yang lainnya atau infeksi diri sendiri di mana kuman
sudah ada pada pasien kemudian melalui suatu migrasi (gesekan) pindah
tempat dan di tempat yang baru menyebabkan infeksi (self infection atau auto
infection). Tidak hanya pasien rawat yang dapat tertular, tapi juga seluruh
personil rumah sakit yang berhubungan dengan pasien, juga penunggu dan
pengunjung pasien. Infeksi ini dapat terbawa ke tengah keluarganya masing-
masing (Zulkarnain, 2009).
Pengetahuan tentang pencegahan infeksi sangat penting untuk
mahasiswa kesehatan yang nantinya akan menjadi petugas di Rumah Sakit
dan sarana kesehatan lainnya merupakan sarana umum yang rawan untuk
terjadi infeksi. Cara penanggulangan dalam penularan infeksi di Rumah Sakit,
dan upaya pencegahan infeksi adalah hal yang harus diperhatikan dalam
mengatasi infeksi nosokomial. Namun selain itu, alat medis yang menjadi
salah satu faktor penting yang sangat berpengaruh dalam penularan infeksi
tersebut. Untuk itu dalam makalah ini akan dibahas pengaruh alat medis
terhadap penyebaran infeksi nosokomial. Untuk seorang petugas kesehatan,
kemampuan dalam penggunaan alat medis memiliki keterkaitan yang tinggi
dengan pekerjaan, karena mencakup setiap aspek penanganan pasien,
sehingga petugas harus sangat berhati-hati dalam penggunaannya.

B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
2. Tujuan Khusus

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
B. Cara Penularan Infeksi Nosokomial
1. Penularan secara kontak
Penularan ini dapat terjadi secara kontak langsung, kontak tidak
langsung dan droplet. Kontak langsung terjadi bila sumber infeksi
berhubungan langsung dengan penjamu, misalnya person to person pada
penularan infeksi virus hepatitis A secara fecal oral. Kontak tidak langsung
terjadi apabila penularan membutuhkan objek perantara (biasanya benda
mati). Hal ini terjadi karena benda mati tersebut telah terkontaminasi oleh
infeksi, misalnya kontaminasi peralatan medis oleh mikroorganisme.
2. Penularan melalui Common Vehicle
Penularan ini melalui benda mati yang telah terkontaminasi oleh
kuman dan dapat menyebabkan penyakit pada lebih dari satu penjamu.
Adapun jenis-jenis common vehicle adalah darah/produk darah, cairan intra
vena, obat-obatan dan sebagainya.
3. Penularan melalui udara dan inhalasi
Penularan ini terjadi bila mikroorganisme mempunyai ukuran yang
sangat kecil sehingga dapat mengenai penjamu dalam jarak yang cukup
jauh dan melalui saluran pernafasan. Misalnya mikroorganisme yang
terdapat dalam sel-sel kulit yang terlepas (staphylococcus) dan
tuberculosis.
4. Penularan dengan perantara vektor
Penularan ini dapat terjadi secara eksternal maupun internal.
Disebut penularan secara eksternal bila hanya terjadi pemindahan secara
mekanis dari mikroorganisme yang menempel pada tubuh vektor, misalnya
shigella dan salmonella oleh lalat.

C. Upaya Pencegahan Infeksi Nosokomial


Pencegahan dari infeksi nosokomial oleh tenaga kesehatan termasuk
perawat diperlukan suatu rencana yang terintegrasi, monitoring dan program
yang termasuk:
1. Membatasi transmisi organisme dari atau antar pasien dengan cara
mencuci tangan dan penggunaan sarung tangan, tindakan septik dan
aseptik, sterilisasi dan disinfektan.
2. Mengontrol resiko penularan dari lingkungan.
3. Melindungi pasien dengan penggunaan antibiotika yang adekuat, nutrisi
yang cukup, dan vaksinasi.
4. Membatasi resiko infeksi endogen dengan meminimalkan prosedur
invasif.
5. Pengawasan infeksi, identifikasi penyakit dan mengontrol penyebarannya
(Utama, 2006)
Adapun cara pencegahan infeksi nosokomial meliputi:
1. Dekontaminasi tangan
Transmisi penyakit melalui tangan dapat diminimalisasi dengan
menjaga hiegene dari tangan. Tetapi pada kenyataannya, hal ini sulit
dilakukan dengan benar karena banyaknya alasan seperti kurangnya
peralatan, alergi produk pencuci tangan, sedikitnya pengetahuan mengenai
pentingnya hal ini dan waktu mencuci tangan yang lama. Selain itu,
penggunaan sarung tangan sangat dianjurkan bila akan melakukan
tindakan atau pemeriksaan pada pasien dengan penyakit-penyakit infeksi.
Hal yang perlu diingat adalah memakai sarung tangan ketika akan
mengambil atau menyentuh darah, cairan tubuh, atau keringat, tinja, urin,
membran mukosa dan bahan yang kita anggap telah terkontaminasi dan
segera mencuci tangan setelah melepas sarung tangan.
2. Instrumen yang sering digunakan Rumah Sakit
Simonsen et al (1999) menyimpulkan bahwa lebih dari 50%
suntikan yang dilakukan di negara berkembang tidaklah aman (contohnya
jarum, tabung atau keduanya yang dipakai berulang-ulang) dan banyaknya
suntikan yang tidak penting (misalnya penyuntikan antibiotika). Untuk
mencegah penyebaran penyakit melalui jarum suntik maka diperlukan:
a. Pengurangan penyuntikan yang kurang diperlukan, pergunakan jarum
steril, penggunaan alat suntik yang sekali pakai.
b. Masker; sebagai pelindung terhadap penyakit yang ditularkan melalui
udara. Begitupun dengan pasien yang menderita infeksi saluran nafas,
mereka harus menggunakan masker saat keluar dari kamar penderita.
c. Sarung tangan; sebaiknya digunakan terutama ketika menyentuh darah,
cairan tubuh, feses maupun urine. Sarung tangan harus selalu diganti
untuk tiap pasiennya. Setelah membalut luka atau terkena benda yang
kotor, sarung tangan harus segera diganti.
d. Baju khusus juga harus dipakai untuk melindungi kulit dan pakaian
selama kita melakukan suatu tindakan untuk mencegah percikan darah,
cairan tubuh, urin dan feses.
3. Mencegah penularan dari lingkungan rumah sakit
Pembersihan yang rutin sangat penting untuk meyakinkan bahwa
rumah sakit sangat bersih dan benar-benar bersih dari debu, minyak dan
kotoran. Perlu diingat bahwa sekitar 90 persen dari kotoran yang terlihat
pasti mengandung kuman. Harus ada waktu yang teratur untuk
membersihkan dinding, lantai, tempat tidur, pintu, jendela, tirai, kamar
mandi, dan alat-alat medis yang telah dipakai berkali-kali.
Pengaturan udara yang baik sukar dilakukan di banyak fasilitas
kesehatan. Usahakan adanya pemakaian penyaring udara, terutama bagi
penderita dengan status imun yang rendah atau bagi penderita yang dapat
menyebarkan penyakit melalui udara. Kamar dengan pengaturan udara
yang baik akan lebih banyak menurunkan resiko terjadinya penularan
tuberkulosis. Selain itu, rumah sakit harus membangun suatu fasilitas
penyaring air dan menjaga kebersihan pemrosesan serta filternya untuk
mencegahan terjadinya pertumbuhan bakteri. Sterilisasi air pada rumah
sakit dengan prasarana yang terbatas dapat menggunakan panas matahari.
Toilet rumah sakit juga harus dijaga, terutama pada unit perawatan pasien
diare untuk mencegah terjadinya infeksi antar pasien. Permukaan toilet
harus selalu bersih dan diberi disinfektan.
4. Perbaiki ketahanan tubuh
Di dalam tubuh manusia, selain ada bakteri yang patogen
oportunis, ada pula bakteri yang secara mutualistik yang ikut membantu
dalam proses fisiologis tubuh dan membantu ketahanan tubuh melawan
invasi jasad renik patogen serta menjaga keseimbangan di antara populasi
jasad renik komensal pada umumnya, misalnya seperti apa yang terjadi di
dalam saluran cerna manusia. Pengetahuan tentang mekanisme ketahanan
tubuh orang sehat yang dapat mengendalikan jasad renik oportunis perlu
diidentifikasi secara tuntas, sehingga dapat dipakai dalam
mempertahankan ketahanan tubuh tersebut pada penderita penyakit berat.
Dengan demikian bahaya infeksi dengan bakteri oportunis pada penderita
penyakit berat dapat diatasi tanpa harus menggunakan antibiotika.
5. Ruangan Isolasi
Penyebaran dari infeksi nosokomial juga dapat dicegah dengan
membuat suatu pemisahan pasien. Ruang isolasi sangat diperlukan
terutama untuk penyakit yang penularannya melalui udara, contohnya
tuberkulosis dan SARS yang mengakibatkan kontaminasi berat. Penularan
yang melibatkan virus, contohnya DHF dan HIV. Biasanya, pasien yang
mempunyai resistensi rendah seperti leukimia dan pengguna obat
immunosupresan juga perlu diisolasi agar terhindar dari infeksi. Tetapi
menjaga kebersihan tangan dan makanan, peralatan kesehatan di dalam
ruang isolasi juga sangat penting. Ruang isolasi ini harus selalu tertutup
dengan ventilasi udara selalu menuju keluar. Sebaiknya satu pasien berada
dalam satu ruang isolasi, tetapi bila sedang terjadi kejadian luar biasa dan
penderita melebihi kapasitas, beberapa pasien dalam satu ruangan tidaklah
apa-apa selama mereka menderita penyakit yang sama.

D. Faktor Resiko Healthcare-Associated Infections (HAIs).


1. Umur : neonatus dan lansia lebih rentan.
2. Status imun yang rendah/tergantung (imuno-kompromais) : penderita
dengan penyakit kronik, penderita keganasan, obat-obat imunosupresan.
3. Interupsi barier anatomis :
a. Kateter urin : meningkat kejadian infeksi saluran kemih (ISK)
b. Prosedur operasi : dapat menyebabkan infeksi luka operasi (ILO) atau
Surgical Site Infection (SSI).
c. Intubasi penafasan : meningkatkan kejadian : Hosptal Acquired
Pneumonia (HAP/VAP).
d. Kanula vena dan arteri : menimbulkan infeksi luka infus (ILI), Blood
Stream Infection (BSI).
e. Luka dan trauma
4. Implantasi benda asing :
a. indwelling catheter
b. surgical suture material
c. cerebrospinal fluid shunts
d. valvular/vascular prostheses
5. Perubahan mikroflora normal : pemakaian antibiotika yang tidak bijaksana
menyebabkan timbulnya kuman yang resisten terhadap berbagai
antimikroba (Depertemen Keseatan, 2009)
E. Peran Perawat Dalam Pencegahan Infeksi Nosokomial
Tenaga kesehatan wajib menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya
dan orang lain serta bertanggung jawab sebagai pelaksanaan kebijakan yang
telah ditetapkan. Tenaga kesehatan juga bertanggung jawab dalam
mengunakan saran yang telah disediakan dengan baik dan benar serta
memelihara sarana agar selalu siap pakai dan dapat dipakai selama mungkin.
Secara rinci kewajiban dan tanggung jawab tersebut meliputi :
1. Bertanggung jawab melaksanakan dan menjaga kesalamatan kerja
dilingkungan. wajib mematuhi intruksi yang dibeikan dalam rangka
kesehatan dan keselamatan kerja, dan membantu mempertahankan
lingkungan bersih dan aman.
2. Mengetahui kebijakan dan menerapkan prosedur kerja, pencegahan
infeksi, dan mematuhinya dalam pekerjaan sehari-hari.
3. Tenaga kesehatan yang menderita penyakit yang dapat meningkatkan
resiko penularan infeksi, baik dari dirinya kepada pasien atau sebaliknya,
sebaiknya tidak merawat pasien secara langsung.
4. Sebagai contoh misalnya, pasien penyakit kulit yang basah seperti eksim,
bernanah, harus menutupi kelainan kulit tersebut dengan plester kedap air,
bila tidak memungkinkan maka tenaga kesehatan tersebut sebaiknya tidak
merawat pasien.
5. Bagi tenaga kesehatan yang megidap HIV mempunyai kewajiban moral
untuk memberi tahu atasannya tentang status serologi bila dalam
pelaksanaan pekerjaan status serologi tersebut dapat menjadi resiko pada
pasien, misalnya tenaga kesehatan dengan status HIV positif dan
menderita eksim basah. (Depertemen Kesehatan, 2003).
BAB III

PENUTUP

Infeksi yang muncul selama seseorang tersebut dirawat di rumah sakit dan
mulai menunjukkan suatu gejala selama seseorang itu dirawat atau setelah selesai
dirawat disebut infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial banyak terjadi di seluruh
dunia dengan kejadian terbanyak di negara miskin dan negara yang sedang
berkembang karena penyakit-penyakit infeksi masih menjadi penyebab utama.
Faktor Penyebab perkembangan infeksi nosokomial yaitu Agen infeksi, Respon
dan toleransi tubuh pasien, Infeksi melalui kontak langsung dan tidak langsung,
resistensi antibiotika dan faktor alat. Pencegahan dari infeksi nosokomial oleh
tenaga kesehatan termasuk perawat diperlukan suatu rencana yang terintegrasi,
monitoring dan program dengan cara membatasi transmisi organisme dari atau
antar pasien dengan cara mencuci tangan dan penggunaan sarung tangan, tindakan
septik dan aseptik, sterilisasi dan disinfektan.

B. Saran
Diharapkan kepada penentu kebijakan dalam hal ini rumah sakit agar
memfasilitasi alat yang dibutuhkan dalam mencegah infeksi nosokomial di rumah
sakit dan mengurangi beban kerja perawat agar dapat melakukan upaya
pencegahan infeksi nosokomial dengan baik.
Diharapkan kepada perawat pelaksana agar berupaya dengan baik dalam
mencegah infeksi nosokomial di rumah sakit misalnya dengan cara mencuci
tangan 6 langkah pada 5 momen, agar penularan penyakit dapat dicegah.