Anda di halaman 1dari 17

METODE PENGUMPULAN DATA

A. SUMBER DATA

Salah satu pertimbangan dalam memilih masalah penelitian adalah


ketersediaan sumber data. Penelitian kuantitatif lebih bersifat
explanation (menerangkan, menjeleskan), karena itu bersifat to
learn about the people (masyarakat objek), sedangkan penelitian
kualitatif lebih bersifat understanding (memahami) terhadap
fonemena atau gejala sosial, karena bersifat to learn about the
people (masyarakat sebagai subyek).

Yang dimaksud sumber data dalam penelitian adalah subyek dari


mana data dapat diperoleh.

Apabila penelitian menggunakan kuisioner atau wawancara dalam


pengumpulan datanya, maka sumber data disebut responden, yaitu
orang yang meresponatau menjawab pertanyaan peneliti, baik
pertanyaan tertulis maupun lisan.

Apabila peneliti menggunakan teknik observasi, maka sumber


datanya bisa berupa benda, gerak atau proses tertentu. Contohnya
penelitian yang mengamati tumbuhnya jagung, simber ddatanya
adalah jagung, sedangkan objek penelitiannya adalah pertumbuhan
jagung.

Jadi yang dimaksud sumber data dari uraian diatas adalah subyek
penelitian dimana data menempel. Sumber data dapat berupa
benda, gerak, manusia, temp at dan sebagainya
Sedangkan sumber data dalam PSBK adalah merupakan data yang
diperoleh yang berkaitan dengan penelitian sosial budaya
keagamaan itu sendiri baik dengan metode kuisioner maupun
observasi.
Ketepatan memilih dan menentukan jenis sumber data akan
menentukan kekayaan data yang diperoleh. jenis sumber data
terutama alam penelitian kualitatif dapat diklasifikassikan sebagai
berikut:

1. Narasumber (informan)
Dalam penelitian kuantitatif sumber data ini disebutResponden,
yaitu orang yang memberikan Respon atau tanggapan terhadap
apa yang diminta atau ditentukan oleh peneliti. Sedangkan pada
penelitian kualitatif posisis nara sumber sangat penting, bukan
skedar memberi respon, melainkan juga sebagai pemilik informasi.
Karena itu, ia disebut informan (orang yang memberikan informasi,
sumber informasi, sumber data) atau disebut juga subyek yang
diteliti. Karena ia juga aktor atau pelaku yang ikut melakukan
berhasil tidaknya penelitian berdasarkan informasi yang diberikan.

2. Peristiwa Atau Aktivitas


Data atau informasi juga dapat diperoleh melalui pengamatan
terhadap peristiwa atau aktivitas yang berkaitan dengan
permasalahan penelitian. Dari peristiwa atau kejadian ini, peneliti
bisa mengetahui proses bagaimana sesuatu terjadi secara lebih
pasti karena menyaksikan sendiri secara langsung.
Dengan mengamati sebuah peristiwa atau aktivitas, peneliti dapat
melakukan cross check terhadap informasi verbal yang diberikan
oleh subyek yang diteliti.

3. Tempat Atau Lokasi


Tempat atau lokasi yang berkaitan dengan sasaran atau
permasalahan penelitian juga merupakan salah satu jenis sumber
data. Informasi tentang kondisi dari lokasi peristiwa atau aktivitas
dilakukan bisa digali lewat sumber lokasi peristiwa atau
aktivitasyang dilakukan bisadigali lewat sumber lokasinya, baik
yang merupakan tempat maupun tempat maupun lingkungnnya.

4. Dokumen atau Arsip


Dokumen merupakan bahan tertulis atau benda yang berkaitan
dengan suatu peristiwa atau aktivitas tertentu. Ia bisa merupakan
rekaman atau dokumen tertulis seperti arsip data base surat-surat
rekaman gambar benda-benda peninggalan yang berkaitan dengan
suatu peristiwa.

B. JENIS-JENIS DATA

Salah satu pertimbangan dalam memilih masalah penelitian adalah


ketersediaan sumber data. Penelitian kuantitatif lebih bersifat
explanation (menerangkan, menjeleskan), karena itu bersifat to
learn about the people (masyarakat objek), sedangkan penelitian
kualitatif lebih bersifat understanding (memahami) terhadap
fonemena atau gejala sosial, karena bersifat to learn about the
people (masyarakat sebagai subyek).

C. METODE PENGUMPULAN DATA

Berikut ini kami kemukakan metode-metode pengumpulan data


yang sesuai dan banyak digunakan dalam penelitian sosial
keagamaan. Metode-metode tersebut meliputi: observasi,
wawancara, quesioner dan penggalian data dari sumber-sumber
sekunder.

1. Observasi

Observasi merupakan metode pengumpulan data yang palin


galamiah dan paling banyak digunakan tidak hanya dalam dunia
keilmuan, tetapi juga dalam berbagai aktivitas kehidupan. Secara
umum, observasi berarti pengamatan, penglihatan. Sedangkan
secara khusus, dalam dunia penelitian, observasi adalah mengamati
dan mendengar dalam rangka memahami, mencari jawaban,
mencari bukti terhadap fenomena sosial keagamaan (perilaku,
kejadian-kejadian, keadaan, benda, dan simbol-simbol tertentu)
selama beberapa waktu tanpa mempengaruhifenomena yang
diobservasi, dengan mencatat, merekam, memotret fenomena
tersebut guna penemuan data analisis.

2. Wawancara

Pengertian dan macam-macam wawancara

Wawancara adalah percakapan langsung dan tatap muka (face to


face)dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua
pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan
pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan
jawaban atas pertanyaan itu. Maksud mengadakan wawancara
secara umum adalah untuk menggali struktur kognitif dan dunia
makna dari perilaku subjek yang diteliti.
Pembagian macam-macam wawancara yang dikemukakan oleh
Patton (1980:197), yaitu:

1. Wawancara pembicaraan informal


Pada jenis wawancara ini pertanyaan yang diajukan sangat
bergantung pewawancara itu sendiri, bergantung spontanitasnya
dalam mengajukan pertanyaan kepada yang diwawancarai.

2. Pendekatan menggunakan petunjuk umum wawancara


Jenis wawancara ini mengharuskan pewawancara membuat
kerangka dan garis besar pokok-pokok yang akan ditanyakan dalam
proses wawancara. Petunjuk wawancara hanyalah berisi petunjuk
secara garis besar tentang proses dan isi wawancara untuk
menjaga agar pokok-pokok yang dibicarakan dapat tercakup
seluruhnya. Petunjuk itu didasarkan atasanggapan bahwa ada
jawaban yang secara umum akan sama diberikan oleh para
responden. Pelaksanaan wawancara dan pengurutan pertanyaan
disesuaikan dengan keadaan responden dan konteks wawancara
yang sebenarnya.

3. Wawancara baku terbuka


Jenis wawancara ini adalah wawancara yang menggunakan
seperangkat pertanyaan baku. Dalam mengadakan pendalaman
(probing) terbatas, dan hal itu bergantung situasi wawancara dan
kecakapan wawancara.

SUMBER 2

SUMBER DATA

Sumber data terbagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder.
Data primer adalah data yang diperoleh peneliti secara langsung (dari
tangan pertama), sementara data sekunder adalah data yang diperoleh
peneliti dari sumber yang sudah ada.
Contoh data primer adalah data yang diperoleh dari responden melalui
kuesioner, kelompok fokus, dan panel, atau juga data hasil wawancara
peneliti dengan nara sumber.
Contoh data sekunder misalnya catatan atau dokumentasi perusahaan
berupa absensi, gaji, laporan keuangan publikasi perusahaan, laporan
pemerintah, data yang diperoleh dari majalah, dan lain sebagainya.

JENIS DATA

Sumber data penelitian yaitu sumber subjek dari tempat mana data bisa
didapatkan. Jika peneliti memakai kuisioner atau wawancara didalam
pengumpulan datanya, maka sumber data itu dari responden, yakni orang
yang menjawab pertanyaan peneliti, yaitu tertulis ataupun lisan. Sumber
data berbentuk responden ini digunakan didalam penelitian.
BERDASARKAN TIPE PENELITIAN

Data Kuantitatif

Data kuantitatif adalah data yang dapat diinput ke dalam skala pengukuran
statistik. Fakta dan fenomena dalam data ini tidak dinyatakan dalam bahasa
alami, melainkan dalam numerik.

Data Kualitatif

Data kualitatif adalah data yang dapat mencakup hampir semua data non-
numerik. Data ini dapat menggunakan kata-kata untuk menggambarkan
fakta dan fenomena yang diamati.

BERDASARKAN SUMBER

Data Primer

Data primer adalah data yang dikumpulkan oleh peneliti sendiri atau dirinya
sendiri. Ini adalah data yang belum pernah dikumpulkan sebelumnya, baik
dengan cara tertentu atau pada periode waktu tertentu.

Data Sekunder

Data seunder adalah data yang dikumpulkan oleh orang lain, bukan peneliti
itu sendiri. Data ini biasanya berasal dari penelitian lain yang dilakukan oleh
lembaga-lembaga atau organisasi seperti BPS dan lain-lain.

BERDASARKAN CARA MEMPEROLEH

Data Observasional

Data observasi adalah data yang ditangkap in situ. Data ini sekali jadi atau
tidak bisa diulang, diciptakan atau diganti.

Data Wawancara

Data wawancara adalah data yang diperoleh melalui tanya-jawab antara


peneliti dan informan. Data ini bisa divalidasi menggunakan triangulasi.
Data Eksperimental

Data eksperimental adalah data yang dikumpulkan dalam kondisi


terkendali, in situ atau berbasis laboratorium dan harus bisa direproduksi.

Data Simulasi

Data simulasi adalah data hasil dari penggunaan model dan metadata di
mana input lebih penting daripada output. Contoh: model iklim, model
ekonomi, model kosmologi dan lain-lain.

Data Referensi atau Kanonik

Data Referensi atau kanonik adalah data statis atau koleksi organik (peer-
reviewed) Contoh: menggunakan data urutan gen yang sudah tersedia,
struktur kimia, data sensus dan lain-lain.

Data Derivasi atau Kompilasi

Data derivasi atau kompilasi adalah data reproduksi. Contoh: kompilasi


database yang sudah ada untuk membangun struktur 3D.

BERDASARKAN FORMAT BERKAS

Data Kuantitatif
Contoh: SPSS, SAS, Microsoft Ecel, XML dan lain-lain.

Data Kualitatif
Contoh: Microsoft Word, Rich Text Format, HTML dan lain-lain.

Data Geospatial
Contoh: ESRI Shapefile, Geo-referenced TIFF, CAD data, Tabular GIS attribute
data, MapInfo Interchange Format, dan lain-lain.

Data Digital Image


Contoh: TIFF, JPEG, Adobe Portable Document Format (PDF) dan lain-lain.

Data Digital Audio


Contoh: Free Lossless Audio Codec, Waveform Audio Format, MPEG-1 Audio
Layer, Audio Interchange File Format dan lain-lain.
Data Digital Video
Contoh: MPEG-4 High Profile, Motion JPEG 2000, GIF dan lain-lain.

BERDASARKAN SUBJEK KEDOKTERAN

Data Diagnosis
Contoh: subklasifikasi penyakit atau histologi, sitogenetika, penanda
molekuler dan lain-lain.

Data Demografi
Contoh: sosial ekonomi informasi, jenis kelamin, usia, ras/etnis dan lain-lain.

TEKHNIK PENGUMPULAN DATA

Dalam penelitian, teknik pengumpulan data merupakan faktor penting


demi keberhasilan penelitian. Hal ini berkaitan dengan bagaimana cara
mengumpulkan data, siapa sumbernya, dan apa alat yang digunakan.
Jenis sumber data adalah mengenai dari mana data diperoleh. Apakah
data diperoleh dari sumber langsung (data primer) atau data diperoleh dari
sumber tidak langsung (data sekunder).
Metode Pengumpulan Data merupakan teknik atau cara yang dilakukan
untuk mengumpulkan data. Metode menunjuk suatu cara sehingga dapat
diperlihatkan penggunaannya melalui angket, wawancara, pengamatan, tes,
dkoumentasi dan sebagainya.
Sedangkan Instrumen Pengumpul Data merupakan alat yang
digunakan untuk mengumpulkan data. Karena berupa alat, maka instrumen
dapat berupa lembar cek list, kuesioner (angket terbuka / tertutup),
pedoman wawancara, camera photo dan lainnya.
Adapun tiga teknik pengumpulan data yang biasa digunakan adalah
angket, observasi dan wawancara.

1. Angket

Angket / kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan


dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan kepada
orang lain yang dijadikan responden untuk dijawabnya.
Meskipun terlihat mudah, teknik pengumpulan data melalui angket
cukup sulit dilakukan jika respondennya cukup besar dan tersebar di
berbagai wilayah.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan angket
menurut Uma Sekaran (dalam Sugiyono, 2007:163) terkait dengan prinsip
penulisan angket, prinsip pengukuran dan penampilan fisik.
Prinsip Penulisan angket menyangkut beberapa faktor antara lain :
Isi dan tujuan pertanyaan artinya jika isi pertanyaan ditujukan untuk
mengukur maka harus ada skala yang jelas dalam pilihan jawaban.
Bahasa yang digunakan harus disesuaikan dengan kemampuan
responden. Tidak mungkin menggunakan bahasa yang penuh istilah-istilah
bahasa Inggris pada responden yang tidak mengerti bahasa Inggris, dsb.
Tipe dan bentuk pertanyaan apakah terbuka atau terturup. Jika terbuka
artinya jawaban yang diberikan adalah bebas, sedangkan jika pernyataan
tertutup maka responden hanya diminta untuk memilih jawaban yang
disediakan.

2. Observasi

Obrservasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang tidak


hanya mengukur sikap dari responden (wawancara dan angket) namun juga
dapat digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi (situasi,
kondisi). Teknik ini digunakan bila penelitian ditujukan untuk mempelajari
perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan dilakukan pada
responden yang tidak terlalu besar.
Participant Observation
Dalam observasi ini, peneliti secara langsung terlibat dalam kegiatam
sehari-hari orang atau situasi yang diamati sebagai sumber data.
Misalnya seorang guru dapat melakukan observasi mengenai
bagaimana perilaku siswa, semangat siswa, kemampuan manajerial kepala
sekolah, hubungan antar guru, dsb.
Non participant Observation
Berlawanan dengan participant Observation, Non Participant
merupakan observasi yang penelitinya tidak ikut secara langsung dalam
kegiatan atau proses yang sedang diamati.
Misalnya penelitian tentang pola pembinaan olahraga, seorang peneliti
yang menempatkan dirinya sebagai pengamat dan mencatat berbagai
peristiwa yang dianggap perlu sebagai data penelitian.
Kelemahan dari metode ini adalah peneliti tidak akan memperoleh
data yang mendalam karena hanya bertindak sebagai pengamat dari luar
tanpa mengetahui makna yang terkandung di dalam peristiwa.
Alat yang digunakan dalam teknik observasi ini antara lain : lembar
cek list, buku catatan, kamera photo, dll.
3. Wawancara

Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan


melalui tatap muka dan tanya jawab langsung antara pengumpul data
maupun peneliti terhadap nara sumber atau sumber data.
Wawancara pada penelitian sampel besar biasanya hanya dilakukan
sebagai studi pendahuluan karena tidak mungkin menggunakan wawancara
pada 1000 responden, sedangkan pada sampel kecil teknik wawancara
dapat diterapkan sebagai teknik pengumpul data (umumnya penelitian
kualitatif)
Wawancara terbagi atas wawancara terstruktur dan tidak terstruktur.
Wawancara terstruktur artinya peneliti telah mengetahui dengan pasti
apa informasi yang ingin digali dari responden sehingga daftar
pertanyaannya sudah dibuat secara sistematis. Peneliti juga dapat
menggunakan alat bantu tape recorder, kamera photo, dan material lain
yang dapat membantu kelancaran wawancara.
Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara bebas, yaitu peneliti
tidak menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan yang akan
diajukan secara spesifik, dan hanya memuat poin-poin penting masalah yang
ingin digali dari responden.

SUMBER 3

DEFINISI PENGUMPULAN DATA

Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan


dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Sebelum melakukan penelitian,
seorang peneliti biasanya telah memiliki dugaan berdasarkan teori yang ia
gunakan, dugaan tersebut disebut dengan hipotesis (Baca juga: Pengertian
Hipotesis dan Langkah Perumusan Hipotesis). Untuk membuktikan hipotesis
secara empiris, seorang peneliti membutuhkan pengumpulan data untuk
diteliti secara lebih mendalam.

Proses pengumpulan data ditentukan oleh variabel-variabel yang ada dalam


hipotesis. Pengumpulan data dilakukan terhadap sampel yang telah
ditentukan sebelumnya. Data adalah sesuatu yang belum memiliki arti bagi
penerimanya dan masih membutuhkan adanya suatu pengolahan. Data bisa
memiliki berbagai wujud, mulai dari gambar, suara, huruf, angka, bahasa,
simbol, bahkan keadaan. Semua hal tersebut dapat disebut sebagai data
asalkan dapat kita gunakan sebagai bahan untuk melihat lingkungan, obyek,
kejadian, ataupun suatu konsep.

Data dapat dibedakan dalam beberapa kategori. Jenis-jenis data dapat


dikategorikan sebagai berikut:

A. Menurut cara memperolehnya:

1. Data primer, yaitu data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh
peneliti langsung dari subjek atau objek penelitian.

2. Data sekunder, yaitu data yang didapatkan tidak secara langsung dari
objek atau subjek penelitian.

B. Menurut sumbernya

1. Data internal, yaitu data yang menggambarkan keadaan atau kegiatan


dalam sebuah organisasi

2. Data eksternal, yaitu data yang menggambarkan duatu keadaan atau


kegiatan di luar sebuah organisasi

C. Menurut sifatnya

1. Data kuantitatif, yaitu data yang berbentuk angka pasti

2. Data kualitatif, yaitu data yang bukan berbentuk angka

D. Menurut waktu pengumpulannya


1. Cross section/insidentil, yaitu data yang dikumpulkan hanya pada
suatu waktu tertentu

2. Data berkala/ time series, yaitu data yang dikumpulkan dari waktu ke
waktu untuk menggambarkan suatu perkembangan atau kecenderungan
keadaan/ peristiwa/ kegiatan.

METODE KUISIONER

Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket atau


kuesioner (Questionnaires). Suharsimi Arikunto (2006: 151) menjelaskan
angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk
memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya,
atau hal-hal yang ia ketahui.

Kelebihan metode angket adalah dalam waktu yang relatif singkat dapat
memperoleh data yang banyak, tenaga yang diperlukan sedikit dan
responden dapat menjawab dengan bebas tanpa pengaruh orang lain.
Sedangkan kelemahan angket adalah angket bersifat kaku karena
pertanyaan yang telah ditentukan dan responden tidak member jawaban
yang sesuai dengan keadaan dirinya hanya sekedar membaca kemudian
menulis jawabannya.

Angket atau kuesioner menurut Suharsimi Arikunto (2006: 152) dapat


dibeda-bedakan atas beberapa jenis tergantung apada sudut pandangnya:

1. Dipandang dari cara menjawab, maka ada:

1. Koesioner terbuka, yang memberikan kesempatan kepada


responden untuk menjawab dengan kalimatnya sendiri

2. Koesioner tertutup, yang sudah disediakan jawabannya sehingga


responden tinggal memilih.

2. Dipandang dari jawaban yang diberikan ada:

1. Koesioner langsung, yaitu responden menjawab tentang dirinya

2. Koesioner tidak langsung, jika responden menjawab tentang


orang lain.
3. Dipandang dari bentuknya maka ada:

1. Koesioner pilihan ganda, yang dimaksud adalah sama dengan


koesioner tertutup

2. Koesioner isian, yang dimaksud adalah koesioner terbuka

3. Check list, sebuah daftar, dimana responden tinggal


membubuhkan tanda check pada kolom yang sesuai

4. Rating-scale (skala bertingkah), yaitu sebuah pertanyaan diikuti


oleh kolom-kolom yang menunjukkan tingkat-tingkatan misalnya mulai dari
sangat setuju sampai ke sangat tidak setuju

SUMBER 2 METODE KUISIONER

Beberapa waktu yang lalu, saya telah bahas tentang teknik


pengumpulan data, lebih tepatnya teknik pengumpulan data tes. Kali ini
saya akan membahas sedikit tentang teknik pengumpulan data angket atau
kuesioner. Berikut ini pembahassannya.

Angket adalah seperangkat pertanyaan tertulis yang diberikan kepada


subjek penelitian untuk dijawab sesuai dengan keadaan subjek yang
sebenarnya. Yang dapat dijaring dengan menggunakan kuesioner adalah
hala-hala mengenai diri responden, dengan asumsi bahwa respondenlah
yang paling mengetahui tentang dirinya dan pengalamannya sendiri, bahwa
apa yang dinyatakan oleh responden kepada peneliti adalah benar, bahwa
penafsiran subjek terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
kepadanya adalah sama dengan yang dimaksudkan oleh peneliti. Justru
anggapan-anggapan inilah yang menjadi kelemahan dari metode angket.
Karena dalam kenyataan responden dapat memberikan keterangan-
keterangan yang tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.
Secara garis besar ada dua cara pengguanaan kuesioner sebagai teknik
pengumpulan data,yaitu (1) disebarkan yang kemudian diisi oleh responden
dan (2) digunakan sebagai pedoman wawancara denga responden.
Penyebaran kuesioner dapat dilakukan dengan cara dikirim lewat pos atau
diantar sendiri oleh peneliti. Sedangkan wawancara yang pelaksanaannya
berpedoman pada kuesioner dapat berupa wawancara tatap muka dengan
responden atau wawancara melalui telepon (Singarimbun &
Handayani, 1985).
Kuesioner yang dikirim lewat pos memang memudahkan pekerjaan
peneliti. Namun, cara ini umunya belum bisa efektif untuk diterapkan
disebagian lapisan masyarakat Indonesia. Masih banyak orang yang enggan
membaca kuesioner dan menulis jawabanya, apalagi pertanyaannya tidak
dilengkapi dengan pilihan jawaban. Selanjutnya, sebagian dari masyarakat
kita lebih enggan lagi pergi ke kantor pos atau bis surat untuk mengirimkan
kuesioner yang telah diiisi, lebih-lebih kalau masih harus membeli prangko
dengan uang sendiri. Berhubung dengan itu, cara penyebaran kuesioner
melalui pos dalam suatu penelitian akan mendapat lebih efektif jika
pertanyan-pertanyannya sederhana dan cara jawabannya tidak sulit. Jumlah
pertanyaannya juga perlu dibatasi. Kemudian, peneliti perlu melampiri
amplop yang sudah dibubuhi perangko agar responden terdorong untuk
mengirimkan kuesioner yang telah diisi.
Kuesioner yang dikirimkan melalui pos sudah tentu ditujukan kepada
responden yang bisa membaca dan menulis dengan lancar. Karena itu ada
inforamasi tambahan, kecuali yang sudah tertuang dalam kuesioner,
disamping adanya petunjuk kuesioner yang jelas, kuesioner dikirim lewat pos
atau diantar sendiri oleh peneliti perlu dilengkapi dengan surat pengantar
dibagian depannya. Surat hendaknya memuat tujuan penelitian, keterangan
tentang perlindungan kerahsiaan jawaban responden, persetujuan dari pihak
yang berwenag, legitimasi peneliti, kesempatan responden untuk meminta
keterangan tambahan, ajakan untuk berpartisipasi, dan petunjuk-petunjuk
khusus (Tuckman,1978:233).
Cara penggunaan kuesioner yang lebih efektif adalah apabila pengisian
jawabannya dapat dilakukan secara berkelompok pada suatu tempat
tertentu. Dalam keadaan seperti ini peneliti dapat memberi petunjuk secara
langsung bagaimana cara memberi jawaban tanpa mempengaruhi isi
jawaban yang harus diberikan. Disamping itu peniliti juga mempunyai
peluang untuk memberi keterangan atas pertanyaan yang belum jelas
maksudnya. Dengan demikian pengisian juesioner secara klasikal
memungkinkan peneliti memperoleh kembali kuesioner secara lengkapdalam
waktu yang singkat, Sedangkan kesalahan-kesalahan teknis dalam
menjawab dapat ditekan hingga sekecil mungkin.
Cara ketiga penggunaan kuesioner sebagai teknik pengumpulan dat
adalah dengan memberlakukan sebagai pedoman waancara baik dalam
tatap muka maupun melaui telepon. Kuesioner tidak diserahkan
pada responden, melainkan tetap dipegang peneliti, yang membacakan
pertanyaan kepada responden, jawaban respinden dicatat oleh peneliti.
Dengan cara ini dapat dijamin bahwa sumua jawaban dapat dikoleksi pad
waktu tanya jawab langsung. Seorang peneliti berpengalaman dapat
mengubah kata-kata dalam pertanyaan tanpa mengubah maksudnya agar
setiap pertanyaan mudah difahami dan dapat dijwab oleh responden. Dalam
wawancara tatap muka, pemeliti berkesempatan untuk mencatat kejadian-
kejadian khusus pad waktu dilakukannya wawancara. Hal ini bermanfaat
pada waktu dilaksanakannya analisis dan interpretasi data yang lebih
terkumpul.
Jenis jenis angket (kuesioner)
a. Angket terbuka dan tertutup
Angket terbuka atau open ended questionnaire memberi kesempatan
kepada responden untuk memberi jawaban secara bebas dengan
menggunakan kalimatnya sendiri. Misalnya :
Bagaimana pendapat anda kalau :
1). Pelajaran bahasa Inggris di SLTP dihapus?

2). Pelajaran bahasa Inggris di SLTP dijadikan mata pelajaran pilihan?

Untuk menjawab pertanyaan ini responden bebas menggunakan
kalimatnya sendiri.
Angket tertutup atau closed questionare,
Angket tertutup adalah angket yang jawabanya telah disediakan,
responden tinggal memilih jawaban yang sesuai. Misalnya:
Bagaimana pendapat anda kalau :
1). Pelajaran bahasa Inggris diberikan di SD?
A. sangat setuju B. setuju C. kurang setuju D. tidak
setuju
2). Pelajaran bahasa Inggris di SLTP dihapus?
A. sangat setuju B. setuju C. kurang setuju D. tidak
setuju
3). Pelajaran bahasa Inggris di SLTP dijadikan mata pelajaran
pilihan?
A. sangat setuju B. setuju C. kurang setuju D. tidak
setuju
Untuk menjawab pertanyaan ini responden tinggal memilih jawaban
mana yang dianggap sesuai atau benar.
Angket semi terbuka
Merupakan angket yang pertanyaan atau pernyataanya memberikan
kebebasan pada respondenya untuk memberikan jawaban dan
pendapat menurut pilihan-pilihan jawaban yang telah disediakan.
b.Angket langsung dan tidak langsung
Angket langsung kalu responden ditanya mengenai dirinya,
pengalamanya, keyakinanya atau diminta untuk menceritakan
tentang dirinya sendiri. Misalnya :
1). Apakah Anda suka belajar Matematika?
2). Apakah Anda pernah mengikuti PKG?
3). Metode apa yang Anda gunakan untuk mengajar membaca?
v Sebaliknya angket tak langsung jika responden diminta untuk
memberikan jawaban tentang orang lain. Misalnya angket yang
diberikan kepada kepala sekolah yang menanyakan tentang keadaan
guru disekolah yang dipimpimnya.
Menurut pendapat Anda apakah
1). Guru matematika di sekolah ini disukai siswanya?
2). Guru matematika di sekolah ini dapat mengajar dengan baik?
Bentuk Angket:
Dilihat dari bentuknya, maka ada angket pilihan ganda, bentuk isian,
bentuk check list, dan bentuk skala. Bentuk-bentuk aangket tersebut pada
dasarnya sama dengan bentuk tes. Mungkin yang perlu diberi contoh adalah
bentuk skala.
Sebagian besar penelitian umumnya menggunakan kuesioner sebagai
metode yang dipilih untuk mengumpulkan data. Kuesioner atau angket
memang mempunyai banyak kebaikan sebagai instrumen pengumpul data.
Memang kuesioner baik, asal cara dan pengadaannya mengikuti persyaratan
yang telah digariskan dalam penelitian. Sebelum kuesioner disusun, maka
harus melalui prosedur:
1. Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan kuesioner.
2. Mengidentifikasikan variabel yang akan dijadikan sasaran kuesioner.
3. Menjabarkan setiap variabel menjadi sub-variabel yang lebih spesifik
dan tunggal.
4. Menentukan jenis data yang akan dikumpulkan, sekaligus untuk
menentukan teknik analisisnya.
v Kelebihan dan kelemahan teknik kuesioner:
Kelebihan teknik kuesioner:
1. Kuesioner baik untuk sumber data yang banyak dan tersebar.
2. Responden tidak merasa terganggu, karena dapat mengisi
kuesioner dengan memilih waktunya sendiri yang paling luang.
3. Kuesioner secara relatip lebih efisien untuk sumber data yang
banyak.
4. Karena kuesioner biasanya tidak mencantumkan identitas
responden, maka hasilnya dapat lebih objektif.
Kekurangan teknik kuesioner:
1. Kuesioner tidak menggaransi responden untuk menjawab
pertanyaan dengan sepenuh hati.
2. Kuesioner cenderung tidak fleksibel, artinya pertanyaan yang
harus dijawab terbatas yang dicantumkan di kuesioner saja, tidak
dapat dikembangkan lagi sesuai dengan situasinya.
3. Pengumpulan sampel tidak dapat dilakukan secara bersama-
sama dengan daftar pertanyaan, lain halnya dengan obeservasi
yang dapat sekaligus mengumpulkan sampel
4. Kuesioner yang lengkap sulit untuk dibuat.