Anda di halaman 1dari 18

A.

PERKEMBANGAN POLITIK PADA AWAL KEMERDEKAAN


1.1. Keragaman Ideologi Partai Politik di Indonesia
Maklumat Politik 3 November 1945, yang dikeluarkan oleh Moh. Hatta, hadir sebagai
sebuah peraturan dari pemerintah Indonesia yang bertujuan mengakomodasi suara rakyat yang
majemuk. Akibatnya, munculah partai-partai politik dengan berbagai ideologi. Partai-partai
politik tersebut mempunyai arah dan metode pergerakan yang berbeda-beda.
Di antaranya adalah partai politik berhaluan nasionalis, yaitu PNI penggabungan dari Partai
Rakyat Indonesia, Serikat Rakyat Indonesia, dan Gabungan Republik Indonesia yang berdiri
pada 29 Januari 1946, dipimpin oleh Sidik Djojosukaro.
Kemunculan partai-partai berhaluan sosialis-komunis pada awalnya merupakan bentuk
pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Namun, seiring perkembangannya, partai ini menerapkan
cara revolusioner yang tidak dapat diterima oleh masyarakat Indonesia.
1.2. Hubungan antara KNIP dan Lembaga Pemerintahan
Dilatarbelakangi oleh berbagai situasi negara yang genting, seperti keadaan Jakarta di awal
1946, yang sangat rawan oleh teror dan intimidasi pihak asing , mengharuskan para petinggi
bangsa untuk memindahkan ibu kota negara ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946 untuk sementara
waktu.
Pada dasarnya, posisi wewenang KNIP dikukuhkan melalui Maklumat X, 16 Oktober 1945,
yang memberikan kuasa legislatif terhadap badan tersebut. Dengan maklumat itu, KNIP yang
dibentuk pada 22 Agustus 1945, berposisi seperti layaknya Dewan Perwakilan Rakyat untuk
sementara waktu sebelum dilaksanakannya pemilihan umum untuk memilih anggota Dewan
Perwakilan Rakyat yang sebenarnya. Tugas Komisi Nasional Indonesia Pusat (KNIP) adalah
membantu dan menjadi pengawas kinerja presiden dalam melaksanakan tugas pemerintahan.
KNIP mempunyai kuasa untuk memberikan usulan kebijakan kepada presiden dalam
melaksanakan tugas-tugas pemerintahan.
Sementara itu, Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) bertugas untuk membantu dan
mengawasi jalannya kinerja pemerintahan di tataran lebih rendah daripada presiden, seperti
gubernur dan bupati.
1.3. Hubungan antara Keragaman Ideologi dan Pembentukan Lembaga Kepresidenan
Terdapatnya keragaman ideologi yang terbagi ke dalam golongan nasionalis, agama, dan
sosialis-komunis pada era awal kemerdekaan ternyata mengandung implikasi yang signifikan
terhadap struktur kepemimpinan negara. Perubahan otoritas KNIP dan munculnya berbagai
partai politik di Indonesia menjadi dua katalisator utama terhadap perubahan struktur kekuasaan
pemerintahan. Naiknya Sutan Syahrir sebagai Perdana Menteri Indonesia juga memiliki andil
dalam perubahan itu.
Lembaga kepresidenan sendiri telah dibentuk pada 2 September 1945, pada kesempatan itu,
Presiden Soekarno membentuk susunan kabinet sebagai pelaksana eksekutif dari lembaga
kepresidenan Indonesia. Hal itu merupakan manifestasi dari penguatan lembaga kepresidenan
untuk dapat melaksanakan tugas negara dengan optimal.
Susunan kabinet yang dibentuk pada 2 September 1945, pada dasarnya, mencerminkan
komposisi yang mewakili keragaman ideologi di Indonesia. Meskipun partai-partai politik baru
bermunculan, setelah dikeluarkannya Maklumat 3 November 1945, kondisi keragaman ideologi
ini telah berperan besar dalam susunan lembaga kepresidenan negara.
1.4. Konfigurasi Politik Era Orde Lama
Presiden Soekarno pada tanggal 5 Juli 1959 mengeluarkan Dekrit Presiden yang isinya
pembubaran konstituante, diundangkan dengan resmi dalam Lembaran Negara tahun 1959 No.
75, Berita Negara 1959 No. 69 berintikan penetapan berlakunya kembali UUD 1945 dan tidak
berlakunya lagi UUDS 1950, dan pembentukan MPRS dan DPAS. Salah satu dasar
pertimbangan dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 adalah gagalnya konstituante
melaksanakan tugasnya.
Pada masa ini Soekarno memakai sistem demokrasi terpimpin. Tindakan Soekarno
mengeluarkan Dekrit pada tanggal 5 Juli 1959 dipersoalkan keabsahannya dari sudut yuridis
konstitusional, sebab menurut UUDS 1950 Presiden tidak berwenang memberlakukan atau
tidak memberlakukan sebuah UUD, seperti yang dilakukan melalui dekrit. Sistem ini yang
mengungkapkan struktur, fungsi dan mekanisme, yang dilaksanakan ini berdasarkan pada sistem
Trial and Error yang perwujudannya senantiasa dipengaruhi bahkan diwarnai oleh berbagai
paham politik yang ada serta disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang cepat berkembang.
Maka problema dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang berkembang
pada waktu itu bukan masalah-masalah yang bersifat ideologis politik yang penuh dengan
norma-norma ideal yang benar, tetapi masalah-masalah praktis politik yang mengandung
realitas-realitas objektif serta mengandung pula kemungkinan-kemungkinan untuk dipecahkan
secara baik, walaupun secara normatif ideal kurang atau tidak benar. Bahkan kemudian muncul
penamaan sebagai suatu bentuk kualifikasi seperti Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi
Pancasila.
Berbagai Experiment tersebut ternyata menimbulkan keadaan excessive (berlebihan)
baik dalam bentuk Ultra Demokrasi (berdemokrasi secara berlebihan) seperti yang dialami
antara tahun 1950-1959, maupun suatu kediktatoran terselubung (verkapte diktatuur) dengan
menggunakan nama demokrasi yang dikualifikasi (gekwalificeerde democratie).
Sistem Trial and Error telah membuahkan sistem multi ideologi dan multi partai politik
yang pada akhirnya melahirkan multi mayoritas, keadaan ini terus berlangsung hingga pecahnya
pemberontakan DI/TII yang berhaluan theokratisme Islam fundamental (1952-1962) dan
kemudian Pemilu 1955 melahirkan empat partai besar yaitu PNI, NU, Masyumi dan PKI yang
secara perlahan terjadi pergeseran politik ke sistem catur mayoritas. Kenyataan ini berlangsung
selama 10 tahun dan terpaksa harus kita bayar tingggi berupa :
1) Gerakan separatis pada tahun 1957
2) Konflik ideologi yang tajam yaitu antara Pancasila dan ideologi Islam, sehingga
terjadi
kemacetan total di bidang Dewan Konstituante pada tahun 1959.
Oleh karena konflik antara Pancasila dengan theokratis Islam fundamentalis itu telah
mengancam kelangsungan hidup Negara Pancasila 17 Agustus 1945, maka terjadilah Dekrit
Presiden pada tanggal 5 Juli 1959 dengan tujuan kembali ke UUD 1945 yang kemudian menjadi
dialog Nasional yang seru antara yang Pro dan yang Kontra. Yang Pro memandang dari kacamata
politik, sedangkan yang Kontra dari kacamata Yuridis Konstitusional.
Akhirnya memang masalah Dekrit Presiden tersebut dapat diselesaikan oleh pemerintah Orde
Baru, sehingga Dekrit Presiden 5 Juli 1959 kelak dijadikan salah satu sumber hukum dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Selanjutnya pada perang revolusi yang
berlangsung tahun 1960-1965, yang sebenarnya juga merupakan prolog dari pemberontakan
Gestapu/PKI pada tahun 1965, telah memberikan pelajaran-pelajaran politik yang sangat
berharga walau harus kita bayar dengan biaya tinggi.
1.5. Konfigurasi Politik Era Orde Baru
Peristiwa yang lazim disebut Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI)
menandai pergantian orde dari Orde Lama ke Orde Baru. Pada tanggal 1 Maret 1966 Presiden
Soekarno dituntut untuk menandatangani sebuah surat yang memerintahkan pada Jenderal
Soeharto untuk mengambil segala tindakan yang perlu untuk keselamatan negara dan melindungi
Soekarno sebagai Presiden. Surat yang kemudian dikenal dengan sebutan Surat Perintah Sebelas
Maret (Supersemar) itu diartikan sebagai media pemberian wewenang kepada Soeharto secara
penuh.
Orde Baru dikukuhkan dalam sebuah sidang MPRS yang berlangsung pada Juni-Juli 1966.
diantara ketetapan yang dihasilkan sidang tersebut adalah mengukuhkan Supersemar dan
melarang PKI berikut ideologinya tubuh dan berkembang di Indonesia. Menyusul PKI sebagai
partai terlarang, setiap orang yang pernah terlibat dalam aktivitas PKI ditahan. Sebagian diadili
dan dieksekusi, sebagian besar lainnya diasingkan ke pulau Buru.
Pada masa Orde Baru pula pemerintahan menekankan stabilitas nasional dalam program
politiknya dan untuk mencapai stabilitas nasional terlebih dahulu diawali dengan apa yang
disebut dengan konsensus nasional. Ada dua macam konsensus nasional, yaitu :
1) Pertama berwujud kebulatan tekad pemerintah dan masyarakat untuk melaksanakan
Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Konsensus pertama ini disebut juga
dengan konsensus utama.
2) Sedangkan konsensus kedua adalah konsensus mengenai cara-cara melaksanakan
konsensus utama. Artinya, konsensus kedua lahir sebagai lanjutan dari konsensus utama dan
merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Konsensus kedua lahir antara pemerintah dan partai-
partai politik dan masyarakat.
Secara umum, elemen-elemen penting yang terlibat dalam perumusan konsensus nasional
antara lain pemerintah, TNI dan beberapa organisasi massa. Konsensus ini kemudian dituangkan
kedalam TAP MPRS No. XX/1966, sejak itu konsensus nasional memiliki kekuatan hukum yang
mengikat bagi seluruh rakyat Indonesia.
Beberapa hasil konsensus tersebut antara lain penyederhanaan partai politik dan
keikutsertaan TNI/Polri dalam keanggotaan MPR/DPR. Berdasarkan semangat konsensus
nasional itu pemerintah Orde Baru dapat melakukan tekanan-tekanan politik terhadap partai
politik yang memiliki basis massa luas. Terlebih kepada PNI yang nota bene partai besar dan
dinilai memiliki kedekatan dengan rezim terdahulu. Pemerintah orde baru juga melakukan
tekanan terhadap partai-partai dengan basis massa Islam. Satu contoh ketika para tokoh Masyumi
ingin menghidupkan kembali partainya yang telah dibekukan pemerintah Orde Lama,
pemerintah memberi izin dengan dua syarat. Pertama, tokoh-tokoh lama tidak boleh duduk
dalam kepengurusan partai. Kedua, masyumi harus mengganti nama sehingga terkesan sebagai
partai baru.
Pada Pemilu 1971 partai-partai politik disaring melalui verifikasi hingga tinggal sepuluh
partai politik yang dinilai memenuhi syarat untuk menjadi peserta pemilu. Dalam pemilu kali ini
didapati Golongan Karya (Golkar) menjadi peserta pemilu. Pada mulanya Golkar merupakan
gabungan dari berbagai macam organisasi fungsional dan kekaryaan, yang kemudian pula pada
20 Oktober 1984 mendirikan Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar). Tujuannya
antara lain memberikan perlindungan kepada kelompok-kelompok fungsional dan mengkoordinir
mereka dalam front nasional. Sekber Golkar ini merupakan organisasi besar yang
dikonsolidasikan dalam kelompok-kelompok induk organisasi seperti SOKSI, KOSGORO,
MKGR dan lainnya sebagai Political Battle Unit rezim orde baru.
Pasca pemilu 1971 muncul kembali ide-ide penyederhanaan partai yang dilandasi
penilaian hal tersebut harus dilakukan karena partai politik selalu menjadi sumber yang
mengganggu stabilitas, gagasan ini menimbulkan sikap Pro dan Kontra karena dianggap
membatasi atau mengekang aspirasi politik dan membentuk partai-partai hanya kedalam
golongan nasional, spiritual dan karya.
Pada tahun 1973 konsep penyederhanaan partai (Konsep Fusi) sudah dapat diterima oleh
partai-partai yang ada dan dikukuhkan melalui Undang-Undang No. 3/1975 tentang Partai Politik
dan Golongan, sistem fusi ini berlangsung hingga lima kali Pemilu selama pemerintahan orde
baru (1977, 1982, 1987, 1992 dan 1997).
1.6. Partai Politik
Melihat sejarah sepanjang Orde Lama sampai Orde Baru partai politik mempunyai peran
dan posisi yang sangat penting sebagai kendaraan politik sekelompok elite yang berkuasa,
sebagai ekspresi ide, pikiran, pandangan dan keyakinan kebebasan. Pada umumnya para
ilmuwan politik menggambarkan adanya empat fungsi partai politik, menurut Miriam
Budiardjo meliputi:
1) Sarana komunikasi politik;
2) Sosialisasi politik;
3) Sarana rekruitmen politik;
4) Pengatur konflik.
Keempat fungsi tersebut sama-sama terkait dimana partai politik berperan dalam upaya
mengartikulasikan kepentingan (Interests Articulation) dimana berbagai ide-ide diserap dan
diadvokasikan sehingga dapat mempengaruhi materi kebijakan kenegaraan. Terkait sebagai
sarana komunikasi politik, partai politik juga berperan mensosialisasikan ide, visi dan kebijakan
strategis yang menjadi pilihan partai politik serta sebagai sarana rekruitmen kaderisasi pemimpin
Negara. Sedangkan peran sebagai pengatur konflik, partai politik berperan menyalurkan berbagai
kepentingan yang berbeda-beda.
Disamping itu, partai politik juga memiliki fungsi sebagai pembuat kebijaksanaan, dalam
arti bahwa suatu partai politik akan berusaha untuk merebut kekuasaan secara konstitusional,
sehingga setelah mendapatkan kekuasaannya yang legitimate maka partai politik ini akan
mempunyai dan memberikan pengaruhnya dalam membuat kebijaksanaan yang akan digunakan
dalam suatu pemerintahan.
Dengan demikian, fungsi partai politik secara garis besar adalah sebagai kendaraan untuk
memenuhi aspirasi warga negara dalam mewujudkan hak memilih dan hak dipilihnya dalam
kehidupan bernegara.
Selanjutnya, sejarah kepartaian di Indonesia merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari
sejarah perjuangan bangsa dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Dari sejarah tersebut dapai
dilihat bahwa keberadaan kepartaian di Indonesia bertujuan untuk :
a) untuk menghapuskan penindasan dan pemerasan di Indonesia khususnya dan didunia
pada umumnya (kolonialisme dan imperialisme),
b) untuk mencerdaskan bangsa Indonesia,
c) untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Untuk melaksanakan tujuan utama diatas perlu ditentukan sasaran antara, yaitu;
Kemerdekaan di bidang politik, ekonomi dan budaya nusa dan bangsa,
Pemerintahan Negara yang demokratis,
Menentukan Undang-Undang Dasar Negara yang memuat ketentuan-ketentuan
dan norma-norma yang sesuai dengan nilai-nilai sosialistis paternalistic yang agamais dan
manusiawi.
Dari perjalanan sejarah kehidupan politik Indonesia tersebut, secara umum terdapat dua ciri
utama yang mewarnai pendirian dan pergeseran masing-masing organisasi politik dan golongan
fungsional yang ada, yaitu:
1) Kesamaan Cara untuk melaksanakan gerak kehidupan politik, organisasi politik dan
golongan fungsional, yaitu didasarkan pada persatuan dan kesatuan yang bersumber pada
kepentingan nasional dan bermuara pada kepentingan internasional. Untuk mewujudkan hal-hal
tersebut ditempuh melalui prinsip adanya kedaulatan rakyat Indonesia.
2) Sedangkan landasan (faham, aliran atau ideologi) yang digunakan untuk mewujudkan
persatuan dan kesatuan serta kedaulatan rakyat tersebut berbeda satu sama lain.
Kemudian, keberadaan partai politik-partai politik ini sesungguhnya untuk meramaikan pesta
demokrasi sebagai tanda adanya atau berlangsungnya proses pemilihan umum. Dalam proses
pemilihan umum ini, setidaknya terdapat 3 (tiga) tujuan pemilihan umum di Indonesia, antara
lain:
v pertama, memungkinkan terjadinya pergantian pemerintah secara damai dan tertib;
v kedua, kemungkinan lembaga negara berfungsi sesuai dengan maksud UUD 1945;
v dan ketiga, untuk melaksanakan hak-hak asasi warga negara.
Dengan demikian, antara partai politik dengan pemilihan umum bagaikan dua sisi dalam
mata uang yang sama. Mereka tidak dapat dipisahkan satu sama lain dikarenakan keduanya
saling bergantungan dan mengisi.
2.1. Partai Politik dalam Era Orde Lama
Pada masa sesudah kemerdekaan, Indonesia menganut sistem multi partai yang ditandai
dengan hadirnya 25 partai politik. Hal ini ditandai dengan Maklumat Wakil Presiden No. X
tanggal 16 Oktober 1945 dan Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945. Menjelang
Pemilihan Umum 1955 yang berdasarkan demokrasi liberal bahwa jumlah parpol meningkat
hingga 29 parpol dan juga terdapat peserta perorangan.
Pada masa diberlakukannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, sistem kepartaian Indonesia
dilakukan penyederhanaan dengan Penpres No. 7 Tahun 1959 dan Perpres No. 13 Tahun 1960
yang mengatur tentang pengakuan, pengawasan dan pembubaran partai-partai. Kemudian pada
tanggal 14 April 1961 diumumkan hanya 10 partai yang mendapat pengakuan dari pemerintah,
antara lain adalah sebagai berikut : PNI, NU, PKI, PSII, PARKINDO, Partai Katholik, PERTI
MURBA dan PARTINDO. Namun, setahun sebelumnya pada tanggal 17 Agustus 1960, PSI dan
Masyumi dibubarkan. Dengan berkurangnya jumlah parpol dari 29 parpol menjadi 10 parpol
tersebut, hal ini tidak berarti bahwa konflik ideologi dalam masyarakat umum dan dalam
kehidupan politik dapat terkurangi. Untuk mengatasi hal ini maka diselenggarakan pertemuan
parpol di Bogor pada tanggal 12 Desember 1964 yang menghasilkan Deklarasi Bogor.
2.2. Partai Politik dalam Era Orde Baru
Dalam masa Orde Baru yang ditandai dengan dibubarkannya PKI pada tanggal 12 Maret
1966 maka dimulai suatu usaha pembinaan terhadap partai-partai politik. Pada tanggal 20
Pebruari 1968 sebagai langkah peleburan dan penggabungan ormas-ormas Islam yang sudah ada
tetapi belum tersalurkan aspirasinya maka didirikannyalah Partai Muslimin Indonesia
(PARMUSI) dengan massa pendukung dari Muhammadiyah, HMI, PII, Al Wasliyah, HSBI,
Gasbindo, PUI dan IPM.
Selanjutnya pada tanggal 9 Maret 1970, terjadi pengelompokan partai dengan terbentuknya
Kelompok Demokrasi Pembangunan yang terdiri dari PNI, Partai Katholik, Parkindo, IPKI dan
Murba. Kemudian tanggal 13 Maret 1970 terbentuk kelompok Persatuan Pembangunan yang
terdiri atas NU, PARMUSI, PSII, dan Perti. Serta ada suatu kelompok fungsional yang
dimasukkan dalam salah satu kelompok tersendiri yang kemudian disebut Golongan Karya.
Dengan adanya pembinaan terhadap parpol-parpol dalam masa Orde Baru maka terjadilah
perampingan parpol sebagai wadah aspirasi warga masyarakat kala itu, sehingga pada akhirnya
dalam Pemilihan Umum 1977 terdapat 3 kontestan, yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) serta satu Golongan Karya.
Hingga Pemilihan Umum 1977, pada masa ini peserta pemilu hanya terdiri sebagaimana
disebutkan diatas, yakni 2 parpol dan 1 Golkar. Dan selama masa pemerintahan Orde Baru,
Golkar selalu memenangkan Pemilu. Hal ini mengingat Golkar dijadikan mesin politik oleh
penguasa saat itu.
B. Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Melalui Perundingan
3.1. Sebab-sebab Diadakannya Perjanjian
Perjanjian adalah persetujuan antar negara yang menimbulkan hak dan kewajiban diantara
pihak-pihak yang mengadakannya. Sebab-sebab diadakannya perjanjian tersebut berawal dari
kemarahan NICA yang menemukan kenyataan bahawa pemerintahan republic Indonesia telah
berjalan dengan efektif. Pihak NICA marah karena mereka merasa sebagai pihak yang berhak
menguasai Indonesia . Tentara NICA yang berhasil menyusup masuk di antara pasukan Inggris
kemudian berhasil membuat pemerintahan di Jakarta dan memprovokasi bekas interniran untuk
melakukan terror di wilayah republic Indonesia. Selain itu, NICA juga berhasil mendaratkan 800
marinir Belanda di Jakarta pada tanggal 30 Desember 1945 yang mendapat protes keras dari
pihgak Republik. Tindakan NICA dan tentara sekutu menimbulkan konflik bersenjata di setiap
wilayah.

3.2. Perjanjian Linggarjati

Perundingan Linggarjati berlangsung tanggal 10 November 1946 di Linggarjati. Perundingan


Linggarjati merupakan perundingan antara RI dengan Komisi Umum Belanda. Delegasi
Republik Indonesia dipimpin oleh PM. Syahrir. Delegasi Belanda dipimpin oleh Schermerhorn.
Perundingan Linggarjati dipimpin oleh Lord Killearn di Inggris (sebagai perantara). Tanggal 15
November 1946 naskah persetujuan Linggarjati diumumkan di Jakarta.

Hasil perundingan Linggarjati adalah sebagai berikut :

a. Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang
meliputi Sumatera, Jawa, dan Madura.

b. Belanda harus meninggalkan daerah de facto paling lambat tanggal 1 Januari 1949
c. Republik Indonesia dan Belanda akan bekerja sama dalam membentuk Negara federal, dengan
nama Republik Indonesia Serikat, yang salah satu Negara bagiannya adalah Republik Indonesia.
d. RepubliK Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia-Belanda dengan
Ratu Belanda selaku ketuanya.

e. Pengakuan secara de facto Belanda terhadap RI, meliputi wilayah Jawa, Madura, dan
Sumatera. Secara de Jure (hukum) status hubungan Internasional Indonesia tidak jelas, tidak ada
penegasan dalam perjanjian apakah Indonesia dapat melakukan hubungan internasional atau
tidak. Terjalinnya hubungan diplomasi dengan negara lain inilah yang memicu pertentangan
lebih lanjut antara Indonesia-Belanda.

Terjadi pro dan kontra mengenai perjanjian Linggarjati tetapi akhirnya Indonesia
menandatangani perjanjian ini pada 25 Maret 1947 dengan alasan :
1. Adanya keyakinan bahwa bagaimanapun juga jalan damai merupakan jalan yang paling baik
dan aman untuk mencapai tujuan Bangsa Indonesia.
2. Cara damai akan mendatangkan simpati dan dukungan internasional yang harus
diperhitungkan oleh lawan.
3. Keadaan militer Indonesia yang masih lemah jika menyetujui perundingan memungkinkan
Indonesia memperoleh kesempatan untuk memperkuat militer.
4. Jalan diplomasi dipandang sebagai jalan untuk memperjuangkan pengakuan kedaulatan dan
penegakan Negara RI yang berdaulat.

Pihak Belanda melanggar perjanjian Linggarjati dengan melakukan serangan pada tanggal 21
Juli 1947 yang dikenal sebagai Agresi Militer Belanda I

Agersi Militer Belanda I (21 Juli- 5 Agustus 1947)

Agresi Militer Belanda I atau Operasi Produk adalah operasi


militer Belanda di Jawa danSumatera terhadap Republik Indonesia yang dilaksanakan dari 21
Juli 1947 sampai 5 Agustus 1947. Agresi yang merupakan pelanggaran dari Persetujuan
Linggajati ini menggunakan kode "Operatie Product.

Agresi Militer Belanda I dilatarbelakangi oleh perbedaan pendapat dan penafsiran yang
semakin memuncak mengenai ketentuan-ketentuan persetujuan Linggarjati. Pihak Belanda
beranggapan bahwa Republik Indonesia berkedudukan sebagai Negara persemakmurannya.
Sementara itu pihak Republik Indonesia beranggapan bahwa dirinya adalah sebuah Negara
merdeka yang berdaulat penuh. Belanda berpendapat bahwa kedaulatan RI berada di bawah
Belanda sehingga RI tidak boleh melakukan hubungan diplomasi dengan negara lain. Belanda
secara terang-terangan melanggar gencatan senjata.

Tanggal 27 Mei 1947 Belanda menyampaikan nota/ ultimatum kepada Pemerintah RI yang
harus dijawab dalam waktu 14 hari (2 minggu). July 21 1947, Jam 06.00 komandan pos Ankatan
Laut Republik Indonesia (ALRI) di Pasir Putih yang berpangkat Letnan memberi laporan lewat
telepon ke markasnya di Panaroekan tentang munculnya Kapal kapal perang Belanda, ia
berpendapat kapal kapal itu melakukan Manuver.

Jam 10.04 pagi kapal pemburu torpedo Piet Hein menghujani markas ALRI tersebut dengan
tembakan meriam.Dalam waktu 10 menit kapal itu memuntahkan kurang lebih 200 peluru
Britan. Itulah awal Pendaratan Pasukan Belanda di Pasir Poetih,yang bertugas memutuskan
hubungan ujung timur pulau Jawa dari bagian Jawa yang lainya dalam Agresi Militer Belanda I.
Sore harinya Kolone Biru (Colone Blauw/ E inco) Belanda di bawah komando Lt.Kol. H.A.G.
van der Hardt Aberson 15-11-1946 / 18-01-1948 bertolak dari Pasir Poetih menuju Jember lewat
Panaroekan-Sitoebondo-Bondowoso.Pasukan itu di awali dengan tank Sherman. Di kota
Panaroekan-Sitoebondo meraka mendapat perlawanan dari para pejuang Republik yang hanya
bersaenjatakan tombak dan granat tangan,mengingatkan meraka pada perang sucidi masa
lampau,korban di pihak para pejuang Republik sangat besar. Di selatan Sitoebondo Para pejuang
Republik berusaha menahan serangan dari dalam parit dan bunker buatan.tapi karena kalah
unggul dalam persenjataan, terpaksa mereka menarik mundur.Pertempuran terakhir terjadi di
Pabrik Gula Prajekan, dimana tersimpan 30.000 ton gula. Malamitu Kolone mariner tersebut
menginap di dalam Bangunan Pabrik.

Tujuan dilakukan Agresi Militer Belanda I adalah sebagai berikut :


1) Mengepung ibu kota dan menghancurkan kedaulatan Republik Indonesia (tujuan politik)
2) Merebut pusat penghasilan makanan dan bahan eksport (tujuan ekonomi)
3) Menghancurkan TNI (tujuan militer)
Reaksi dunia dengan adanya Agresi Militer Belanda I yaitu, Pemerintah India dan Australia
mengajukan resolusi ke Dewan Keamanan PBB. Amerka Serikat mengeluarkan himbauan agar
pihak Belanda dan Republik Indonesia menghentikan tembak menebak. Polandia dan Uni Soviet
mendesak agar pasukan Belanda ditarik dari wilayah Republik Indonesia. Akibat tekanan dari
berbagai negara tersebut maka pada tanggal 4 Agustus 1947 Belanda bersedia menghentikan
agresinya.
3.3. Perjanjian Renville
Perjanjian Renville adalah perjanjian antara Indonesia dan Belanda yang ditandatangani
pada tanggal 17 Januari 1948 di atas geladak kapal perang Amerika Serikat sebagai tempat
netral, USS Renville, yang berlabuh di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Perundingan dimulai
pada tanggal 8 Desember 1947 dan ditengahi oleh Komisi Tiga Negara(KTN), Committee of
Good Offices for Indonesia, yang terdiri dari Amerika Serikat,Australia, dan Belgia.
Keinginan Belanda untuk terus memperluas wilayah kekuasaannya, yang kemudian dikenal
dengan garis demarkasi Van Mook, yaitu garis terdepan dari pasukan Belanda setelah Agresi
Militer sampai perintah genctan senjata Dewan Keamanan PBB tanggal 4 Agustus 1947. Untuk
mengatasi konflik Indonesia-Belanda maka dibentuklah komisi jasa baik yaitu Komisi Tiga
Negara (KTN). Tujuannya untuk membantu Indonesia-Belanda menyelesaikan konflik.
Dalam hal ini Belanda memilih Belgia yang diwakili oleh Paul van Zeeland. Indonesia
memilih Australia yang diwakili oleh Richard Kirby. RI dan Belanda memilih Amerika Serikat
yang diwakili oleh Frank Graham.
Akhirnya KTN dapat mempertemukan wakil-wakil Belanda dan RI di meja perundingan
yaitu di kapal Renville milik USA yang berlabuh di Tanjung Priok pada 8 Desember 1947
sampai 17 Januari 1948. Delegasi Indonesia dipimpin oleh PM. Amir Syarifuddin. Delegasi
Belanda dipimpin oleh R. Abdulkadir Widjojoatmodjo. Penengah perundingan adalah KTN.
Isi persetujuan Renville adalah sebagai berikut:
1. Belanda tetap berkuasa sampai terbentuknya Republik Indonesia Serikat
2. RI sejajar kedudukannya dengan Belanda dalam Uni Indonesia Belanda.
3. Sebelum RIS terbentuk, Belanda dapat menyerahkan kekuasaannya kepada pemerintah federal
sementara.
4. RI merupakan Negara bagian dalam RIS.

5. Dalam waktu 6 bulan sampai 1 tahun akan diadakan pemilihan umum untuk membentuk
konstituante RIS.

6. Tentara Indonesia di daerah pendudukan Belanda harus dipindahkan ke daerah RI.


Sebenarnya banyak pemimpin Negara RI menolak persetujuan Renville tersebut tetapi akhirnya
mereka bersedia menyetujui. Hal tersebut dikarenakan adanya pertimbangan sebagai berikut:
a. Persediaan amunisi yang menipis

b. Adanya kepastian bahwa penolakan berarti serangan baru dari pihak Belanda secara lebih
hebat.
c. Adanya keterangan dari KTN bahwa itulah maksimum yang dapat mereka lakukan.
d. Tidak adanya jaminan bahwa Dewan Keamanan PBB dapat menolong.
e. Bagi RI menandatangani persetujuan Renville merupakan kesempatan yang baik untuk
membina kekuatan militer.

f. Timbul simpati dunia yang semakin besar karena RI selalu bersedia menerima petunjuk KTN,
Akibat dari perjanjian Renville :

Wilayah Indonesia menjadi semakin sempit. Bagi kalangan politik, hasil perundingan ini
memperlihatkan kekalahan perjuangan diplomasi. Bagi TNI, hasil perundingan ini menyebabkan
sejumlah wilayah pertahanan yang telah susah payah dibangun harus ditinggalkan. Muncul
berbagai ketidak puasan akibat perundingan ini. Sementara itu Belanda membentuk Negara-
negara bonekanya yang terhimpun dalam organisasi BFO (Bijeenkomst voor Federal Overlg)
yang disiapkan untuk pertemuan musyawarah federal.
Suasana perundingan melalui penengah KTN pada awal Desember 1948 memulai
menemui jalan buntu. Pada tanggal 11 Desember 1948, Belanda mengatakan bahwa tidak
mungkin lagi dicapai persetujuan antara kedua belah pihak. Empat hari kemudian Wakil Presiden
Mohammad Hatta meminta KTN untuk mengatur perundingan dengan Belanda. tetapi Belanda
menjawab pada tanggal 18 Desember 1948, pukul 23:00 malam, bahwa Belanda tidak terikat lagi
dengan Persetujuan Renville. Lewat tengah malam atau tanggal 19 Desember 1948 pagi, tentara
Belanda diterjunkan di lapangan terbang Maguwo, yang dikenal dengan istilah Aksi Militer
Belanda II (2nd Dutch Military Action).
Reaksi internasional atas serangan Belanda terhadap Republik pada tanggal 19 Desember
1948 sangat keras. Negara-negara Asia, Timur Tengah dan Australia mengutuk serangan itu dan
memboikot Belanda dengan cara menutup lapangan terbang mereka bagi pesawat Belanda.
Dalam sidangnya pada tanggal 22 Desember 1948 Dewan Keamanan PBB memerintahkan
penghentian tembak menembak kepada tentara Belanda dan Republik Inodnesia. Atas usul India
dan Birma, Konferensi Asia mengenai Indonesia diadakan di New Delhi pada tanggal 20
Desember 1949. Amerika Serikat, Kuba, dan Norwegia mendesak Dewan Keamanan untuk
membuat resolusi yang mengharuskan dilanjutkannya
perundingan.
Pada tanggal 24 Januari 1948, Konferensi Asia di New Delhi mengirimkan resolusi kepada
Dewan Keamanan PBB, yang antara lain menuntut dipulihkannya Pemerintah Republik ke
Yogyakarta; dibentuknya Pemerintahan Interim; ditariknya tentara Belanda dari seluruh
Indonesia; dan diserahkannya kedaulatan kepada Pemerintah Indonesia Serikat, pada tanggal 1
Januari 1950.
Atas usul Amerika Serikat, Tiongkok, Kuba, dan Norwegia, pada tanggal 28 Januari
1949, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang mengharuskan kedua belah pihak
menghentikan permusuhan, dipulihkannya pemerintah pusat Republik Indonesia ke Yogyakarta;
dilanjutkannya perundingan; dan diserahkannya kedaulatan kepada Indonesia pada waktu yang
disepakati.
Agresi Militer Belanda II

Agresi Militer Belanda II atau Operasi Gagak terjadi pada 19 Desember 1948 yang diawali
dengan serangan terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta
penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya. Jatuhnya ibu
kota negara ini menyebabkan dibentuknya Pemerintah Darurat Republik
Indonesia diSumatra yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara.
Agresi Militer Belanda II dilatar belakangi oleh Belanda masih ingin menguasai Indonesia
dan berusaha untuk mengingkari perjanjian Renville. 18 Desember 1948 Belanda mengeluarkan
surat pernyataan bahwa Belanda tidak terikat lagi dengan persetujuan gencatan perang Renville.
Tetapi surat pernyataan tersebut tidak dapat disampaikan ke pemerintahan pusat di Yogyakarta
sebab dilarang oleh Belanda.

Pelaksanaan Agresi Militer Belanda II yaitu:

1. Pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda melakukan serangan terhadap kota Yogyakarta.
2. Tepatnya pada pukul 05.30 Belanda melakukan aksi membom pangkalan udara Maguwoharjo
(Lapangan Udara Adisucipto) yang dilanjutkan dengan menghancurkan bangunan-bangunan
penting dan akhirnya merambat ke pusat kota Yogyakarta dan berhasil menguasainya.
3. Belanda berhasil menawan presiden Soekarno, wakil presiden Moh Hatta, Syahrir (penasehat
presiden),H. Agus Salim (Menlu).

4. Sebelum ditawan presiden berhasil mengirimkan surat pemberian kekuasaan kepada Menetri
Kemakmuran Syafruddin (Syarifuddin) Prawironegoro untuk membentuk Pemerintahan Darurat
RI (PDRI) di Sumatera. Jika Syarifuddin tidak dapat menjalankan tugasnya maka presiden
memerintahkan kepada Sudarsono, L.N. Palar, dan A.A Maramis yang ada di New Delhi untuk
membentuk pemerintahan RI di India.

5. Belanda akhirnya menguasai Yogyakarta dan TNI berhasil dipukul mundur hingga ke desa-
desa.
6. Belanda menganggap TNI telah kalah tetapi ternyata TNI dapat tetap mengumpulkan kekuatan
untuk melawan Belanda.

7. Sementara Belanda menyiarkan kabar ke seluruh dunia bahwa TNI sudah lemah dan RI sudah
tidak ada lagi.

8. Belanda melakukan sensor pers agar berita tersebut tidak tersiar keluar. Tetapi ternyata dari
radio gerilya Indonesia dapat disiarkan berita perlawanan rakyat hingga ke luar negeri.
9. Akhirnya setelah 1 bulan dari agresi tersebut TNI mulai melakukan gerakan menyerang kota-
kota. Serangan yang terkenal adalah Serangan Umum 1 Maret 1949 terhadap kota Yogyakarta
yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto, dan berhasil menduduki kota Yogyakarta. Hal
tersebut membuktikan kepada dunia bahwa TNI tidak hancur mereka masih mempunyai
kemampuan bahkan mampu menyerang Belanda. Sehingga Belanda akhirnya mau
membicarakan dalam meja perundingan.

Tujuan Belanda menyelenggarakan Agresi Militer II yaitu Belanda ingin menujukkan


kepada dunia bahwa pemerintah Republik Indonesia dan TNI secara de facto tidak ada lagi.
Tindakan perjuangan secara diplomatik yang dilakukan untuk menggagalkan tujuan Belanda,
yaitu :
a. Menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Agresi Militer Belanda II merupakan
tindakan melanggar perjanjian damai (hasil Perundingan Renville)
b. Meyakinkan dunia bahwa Indonesia cinta damai, terbukti dengan sikap menaati hasil
Perundingan Renville dan penghargaan terhadap KTN.

c. Membuktikan bahwa Republik Indonesia masih ada. Hal ini ditunjukkan dengan eksistensi
PDRI dan keberhasilan TNI menguasai Yogyakarta selama enam jam pada Serangan Umum 1
Maret 1949.
Upaya Indonesia menarik simpati Amerika serikat hingga akhirnya mendesak Belanda untuk
menarik mundur pasukannya dari wilayah Indonesia. Dewan Keamanan PBB juga mendesak
Belanda untuk menghentikan operasi militer dan membebaskan para pemimpin Indonesia.
Desakan tersebut membuat Belanda mengakhiri agresi militer II.

3.4. Perjanjian Roem-Royen


Perjanjian Roem Royen adalah sebuah perjanjian antara Indonesia dengan Belanda yang
ditandatangani pada tanggal 7 Mei 1949, kemudian dibacakan kesanggupan kedua belah pihak
untuk melaksanakan resolusi dewan keamanan PBB tertanggal 28 januari 1949 dan
persetujuannya tanggal 23 Maret 1949.
Guna menjamin terlaksananya penghentian Agresi Militer Belanda II maka PBB menganti
KTN dengan membentuk UNCI (United Nations Comission for Indonesia) yaitu komisi PBB
untuk Indonesia.
Komisi ini selanjutnya mempertemukan Indonesia dan Belanda ke meja perundingan pada
tanggal 14 April 1949. Dimana Delegasi RI dipimpin oleh Mr. Moh. Roem (ketua), Mr. Ali sastro
Amijoyo (wakil) sedangkan delegasi Belanda dipimpin oleh Dr. J. H Van Royen. Perundingan
diadakan di Hotel Des Indes Jakarta dipimpin oleh Merle Cochran, anggota komisi dari Amerika
Serikat.
Perundingan ini mengalami hambatan sehingga baru pada awal Mei 1949 terjadi
kesepakatan. Isi Perjanjian Roem-Royen (Roem-Royen Statement) sebagai berikut:
a. Delegasi Indonesia menyatakan kesediaan pemerintah RI untuk:
1) Pemerintah Republik Indonesia akan mengeluarkan perintah penghentian perang gerilya.
2) Bekerjasama dalam mengembalikan perdamaian dan menjaga ketertiban dan keamanan.
3) Turut serta dalam KMB di Den Haag dengan maksud untuk mempercepat penyerahan
kedaulatan yang sungguh dan lengkap kepada Negara Indonesia Serikat dengan tidak bersyarat.
b. Pernyataan Delegasi Belanda yang dibacakan oleh Dr. H.J. Van Royen yaitu:
1) Pemerintah Belanda setuju bahwa pemerintah RI harus bebas dan leluasa melakukan jabatan
sepatutnya dalam satu daerah meliputi karisidenan Yogyakarta.
2) Pemerintah Belanda membebaskan tak bersyarat pemimpin-pemimpin dan tahanan politik
yang tertangkap sejak 19 Desember 1948.
3) Pemerintah Belanda menyetujui RI sebagai bagian dari Negara Indonesia Serikat
4) KMB di Den Haag akan diadakan selekasnya sesudah pemerintah RI kembali ke Yogyakarta.
Sejak bulan Juni 1949, berlangsung persiapan pemulihan pemerintahan Indonesia di
Yogyakarta. Persiapan itu berlangsung di bawah pengawasan UNCI. Sejak tanggal 24-29 Juni
1949, tentara Belanda ditarik dari Yogyakarta. TNI akhirnya memasuki kota Yogyakarta. Pada 6
Juni 1949, presiden, wakil presiden, serta para pemimpin lainnya kembali ke Yogyakarta.
Sebagai tindak lanjut perjanjian Roem-Royen, pada tanggal 22 Juni 1949 diadakan
perundingan antara RI, BFO, dan Belanda yang hasilnya sebagai berikut.
a. Tanggal 24 Juni 1949, keresidenan Yogyakarta dikosongkan oleh tentara Belanda. Pada
tanggal 1 Juli 1949, pemerintah RI kembali ke Yogyakarta setelah tentara Republik menguasai
sepenuhnya.
b. Mengenai penghentian permusuhan akan dibahas setelah kembalinya pemerintahan RI ke
Yogayakarta
c. Konferensi Meja Bundar (KMB) akan diadakan di Den Haag
3.5. Konferensi Meja Bundar
Konferensi Meja Bundar dilatarbelakangi oleh usaha untuk meredam
kemerdekaanIndonesia dengan jalan kekerasan berakhir dengan kegagalan. Belanda mendapat
kecaman keras dari dunia internasional. Belanda dan Indonesia kemudian mengadakan beberapa
pertemuan untuk menyelesaikan masalah ini secara diplomasi, lewat perundingan
Linggarjati,perjanjian Renville, perjanjian Roem-van Roijen, dan Konferensi Meja Bundar.
Realisasi dari perjanjian Roem-Royen adalah diselenggarakannya Konferensi Meja Bundar
(KMB) di Den Haag, Belanda. Konferensi tersebut berlangsung selama 23 Agustus sampai 2
November 1949. Konferensi ini diikuti oleh delegasi Indonesia, BFO, Belanda, dan UNCI.
Delegasi Indonesia dipimpin oleh Drs. Moh. Hatta. Delegasi BFO dipimpin oleh Sultan
Hamid dari Pontianak. Delegasi Belanda diketuai oleh J. H Van Maarseveen. Sebagai penengah
adalah wakil dari UNCI oleh Critley R. Heremas dan Marle Cochran.
Hasil dari Konferensi Meja Bundar (KMB) adalah:
Serahterima kedaulatan dari pemerintah kolonial Belanda kepada Republik Indonesia
Serikat, kecuali Papua bagian barat. Indonesia ingin agar semua bekas daerah Hindia Belanda
menjadi daerah Indonesia, sedangkan Belanda ingin menjadikan Papua bagia
barat negara terpisah karena perbedaan etnis. Konferensi ditutup tanpa keputusan mengenai hal
ini. Karena itu pasal 2 menyebutkan bahwa Papua bagian barat bukan bagian dari serahterima,
dan bahwa masalah ini akan diselesaikan dalam waktu satu tahun.
Dibentuknya sebuah persekutuan Belanda-Indonesia, dengan monarch Belanda sebagai
kepala Negara Pengambil alihan hutang Hindia Belanda oleh Republik Indonesia Serikat.
Pelaksanaan KMB terus dipantau oleh Badan Pekerja KNIP. Pada tanggal 23 Oktober 1949
Badan Pekerja KNIP telah menerima keterangan pemerintah mengenai pembicaraan dalam
sidang-sidang KMB yang disampaikan oleh Wakil Perdana Menteri Sri Sultan Hamengkubuono
IX. Hal lengkap KMB disampaikan Perdana Menteri Mohammad Hatta pada Sidang Pleno KNIP
tanggal 6 hingga 15 Desember 1949. KNIP menerima hasil KMB dengan 226 setuju, 62 tidak
setuju, dan 31 suara blangko. PErsetujuan KNIP itu diberikan dalam dua bentuk, yakni sebuah
maklumat dan dua buah undang-undang. Maklumat KNIP diumumkan Presiden RI pada tanggal
14 Desember 1949, berisi tentang negara Repbulik Indonesia Serikat memegang kedaulatan atas
seluruh wilayah; dan bahwa alat perlengkapan RI disumbangkan kepada RIS untuk menegakkan
kedaulatannya.
Dua undang-undang yang disetujui KNIP adalah Undang-Undang No. 10 yang berisi
mengenai Induk Persetujuan KMB dan masalah kedaulatan dari Belanda kepada RIS. SEdangkan
Undang-Undang No. 11 berisi mengenai draf final Konstitusi Republik Indonesia Serikat.
Persetujuan KNIP atas hasil KMB melancarkan jalan bagi terbentuknya Republik Indonesia
Serikat, sebagaimana diharuskan oleh KMB. Pada tanggal 14 Desember 1949 delegasi RI dan
delegasi negara-negara bagian, yang tergabung dalam BFO menandatangani Piagam Konstitusi
Republik Indonesia Serikat. Dengan piagam ini resmilah pula negara-negara tersebut menjadi
bagian dari Republik Indonesia Serikat.
Pada tanggal 15 Desember 1949, Dewan Pemilih Presiden RIS dibentuk. Dewan ini
diketuai oleh Mr. Mohammad Roem. Pada tanggal 16 Desember dewan ini memilih calon
tunggal Ir. Soekarno sebagai Presiden RIS. Pelantikan dilaksanakan di Siti Hinggil, Kraton
Kesultanan Yogyakarta para tanggal 17 Desember 1949. Selanjutnya Presiden Soekarno secara
resmi menunjuk Drs. Mohammad Hatta sebagai formatur kabinet. Pada tanggal 20 Desember
Kabinet RIS yang dipimpin oleh Perdana Menteri Mohammad Hatta dilantik. Karena Presiden
RI, Soekarno dan WAkil PResiden, Mohammad Hatta menduduki jabatan barunya dalam RIS,
maka untuk melaksanakan fungsinya di Negara Republik Indonesia, ditunjuk Mr. Assaat sebagai
pejabat (Acting) Presiden RI yang tetap berkedudukan di Yogyakarta. Republik Indonesia dalam
status sebagai negara bagian RIS dikenal juga sebagai RI Yogyakarta dengan dr. Abdul Halim
sebagai Perdana Menteri.
Dengan telah selesainya pembentukan RIS dan kabinetnya, maka "penyerahan kedaulatan"
dari tangan Belanda kepada RIS sebagaimana diatur dalam KMB dapat dilaksanakan.
Pemerintah RIS menunjuk Perdana Menteri Mohammad Hatta untuk memimpin delegasi RI ke
negeri Belanda untuk menerima naskah penyerahan kedaulatan langsung dari Ratu Yuliana.
Sedangkan di Jakarta wakil RIS, Sei Sultan Hamengkubuwono IX menerimanya dari Wakil
Mahkota Belanda A.H.J Lovink. Upacara dilaksanakan di dua tempat secara bersamaaan pada
tanggal 27 Desember 1949.