Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Dewasa ini perkembangan teknologi bahan maju sangat pesat sekali, baik bahan
logam maupun non logam. Bahan non logam yang banyak dilirik orang saat ini
adalah komposit. Perkembangan komposit dengan memanfaatkan serat alam dan
limbah rumah tangga dapat digunakan sebagai bahan alternatif pembuatan papan
meja, kursi dan alat furniture lain dan lebih luas lagi dimanfaatkan sebagai
assesoris mobil seperti dashboard, bamfer mobil dan lain-lainnya
Pada dasarnya material komposit adalah gabungan dari dua atau lebih material
yang berbeda membentuk suatu mikroskopik. Gabungan antara material pengikat
(matrik) dan bahan pengisi lainnya sebagai penguat (sebagai filter),yaitu dengan
berbagai macam kombinasi pengisi dan matrik yang berbeda. (Fandhi
Rusmiyatno:2007). Banyak penelitian yang telah dilakukan dan mendapatkan
hasil yang sangat memuaskan dengan memanfaatkan limbah alam, terutama
memanfaatkan serat alam yang merupakan hasil limbah dari alam, contohnya kulit
jagung dan lain-lainnya. Hal ini banyak dilakukan karena bersifat ringan, mudah
dibentuk, tahan korosi, harga yang murah dan memiliki kekuatan yang hampir
sama dengan logam.
Penelitian yang dilakukan Feris Firdaus dan Fajriyanto, 2005-2006
menyatakan bahwa sampah plastik (thermoplastik) dan limbah kosong kelapa
sawit (TKKS) memiliki potensi sangat besar sebagai bahan baku produksi Papan
partikel. Selanjutnya penelitian yang dilakukan Basuki Widodo, (2008) bahwa

Universitas Sumatera Utara


komposit dengan bahan pengisi ijuk didapatkan kekuatan tarik komposit tertinggi
sebesar 5,538 kgf/mm2 pada fraksi berat ijuk 40%. Rata-rata kekuatan tarik
tertinggi sebesar 5,128 kgf/mm2 pada fraksi berat ijuk 40%. Kekuatan im-pak
komposit tertinggi sebesar 33,395 Joule/mm2 dengan kekuatan impak rata-rata
11,132 Joule/mm2 pada fraksi berat ijuk 40%.
Produksi jagung tiap tahun fluktuatif. Menurut press releases dari Badan
Pusat Statistik (BPS) produksi jagung sampai tahun 2006 adalah sebagai berikut :
Produksi jagung tahun 2003 (Angka Tetap) naik 12,76 persen dibandingkan
dengan produksi tahun 2002 disebabkan naiknya luas panen dan produktivitas.
Produksi jagung tahun 2004 (Angka Tetap) sebesar 11,23 juta ton pipilan kering
atau naik sebesar 3,11 persen dibandingkan dengan produksi jagung tahun 2003.
Kenaikan produksi jagung terutama disebabkan oleh kenaikan produktivitas
dengan adanya perubahan varitas yang ditanam petani dari varietas lokal ke
varitas komposit atau hibrida..Produksi jagung tahun 2005 (Angka Tetap)
sebesar 12,52 juta ton pipilan kering, naik sebesar 1,30 juta ton (11,57 persen)
dibandingkan dengan produksi jagung tahun 2004. Peningkatan produksi jagung
disebabkan oleh kenaikan luas panen dan produktivitas baik di Jawa maupun di
Luar Jawa. Angka Tetap (ATAP) produksi jagung tahun 2006 sebesar 11,61 juta
ton pipilan kering. Dibandingkan produksi tahun 2005, terdapat penurunan
sebesar 914,43 ribu ton (7,30 persen). Penurunan produksi karena luas panen
mengalami penurunan seluas 280,18 ribu hektar (7,73 persen), meskipun
produktivitas meningkat sebesar 0,16 kuintal/hektar (0,46 persen).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nandini Paramita,(2010) Indonesia
dikenal memiliki kekayaan alam yang melimpah untuk dieksploitasi dan dijadikan
sebagai bahan studi bagi pengembangan potensi sumber alam. Salah satunya
dalam menggarap serat yang berasal alam yaitu serat kulit atau klobot jagung (Zea
mays).

Namun pada dasarnya limbah jagung berupa kulit jagung atau klobot jagung
sampai saat ini pemanfaatannya kurang maksimal, padahal jumlahnya sangat
melimpah ruah. Masyarakat pada umumnya menggunakan limbah jagung ini

Universitas Sumatera Utara


sebagai makanan ternak, pembungkus rokok, pembungkus makanan tradisional,
dan kerajinan tangan berupa bunga-bungaan hias.
Potensi serat kulit/klobot jagung jika dijadikan suatu produk akan menjadi sesuatu
benda fungsi yang menarik dan unik. Seperti kap lampu yang terbuat dari serat
kulit atau klobot jagung yang mengalami proses non tenun (salah satunya yaitu:
temps, pilin looping, kempa, bubur (pulp) kertas, dan jahit,. Potensi-pontesi
lainnya yang ada mungkin dapat dibuat menjadi suatu aksesoris rambut, korsase
(bros), tas, dompet, pembungkus kado, bentuk-bentuk suvenir untuk pernikahan,
tali tambang, pot bunga, keset, sepatu, dan lain-lain.
Penulis melihat limbah dari kulit jagung yang selama ini hanyak dimanfaatkan
untuk kerajinan seperti yang tertuang diatas, penulis tertantang untuk
memanfaatkan limbah kulit jagung sebagai bahan pengisi dan penggabungan
dengan matrik polyester untuk sebagai bahan pembuatan papan partikel.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti sangat antusias untuk melakukan penelitian
pembuatan bahan komposit ini dengan memadukan kulit jagung sebagai
pengisinya dan matriknya Polyester (resin) sebagai fiberboards yang kuat dan
tahan dengan pengujian mekanik produk yang dihasilkan. Perlakuan yang
diberikan dengan memvariasikan persentase jumlah pengisi dengan matriknya.
Kemudian dilakukan pengujian terhadap sampel tiap variasinya terhadap
kerapatan, kadar air, pengembangan tebal, uji Kuat lentur, uji modulus elastisitas,
uji kuat rekat Internal dan uji kuat Impak dari papan partikel serat kulit jagung
dengan resin poliester
Berdasarkan uraian diatas, maka perlu dilakukan penelitian tentang
pembuatan papan partikel dari resin poliester dan serat kulit jagung untuk
mendapatkan data tentang kemampuan fisis dan mekanis berupa uji kerapatan, uji
kadar air, ujipengembangan tebal, uji Kuat lentur, uji modulus elastisitas, uji kuat
rekat internal dan uji impak dari papan lembaran berbahan serat kulit jagung
dengan pengikat resin poliester.

Universitas Sumatera Utara


1.2 PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, maka permasalahan hanya dibatasi pada:
1. Bagaimana mengolah serat kulit jagung dengan penambahan resin Poliester
menjadi papan pertikel?
2. Bagaimana pengaruh perbandingan komposisi kulit jagung dengan resin
poliester terhadap karakteristik papan pertikel melalui uji kerapatan, uji kadar
air, uji pengembangan tebal, uji kuat lentur, uji modulus elastisitas, uji kuat
rekat internal dan uji impak.
3. Bagaimana peranan serat kulit jagung terhadap papan partikel yang
dihasilkan dengan bahan Poliester ?

1.3 BATASAN MASALAH


1. Bentuk spesimen
Bentuk spesimen dan peran campuran papan lembaran dengan fraksi volume
Polyester - serat kulit jagung yaitu 30:70, 40:60, 50:50, 60:40 dan 70:30
dengan kulit jagung serat pendek 1 cm
2. Bahan benda uji.
Terbuat dari serat kulit jagung dengan matrik Polyester.
3. Pengujian komposit.
Pengujian yang dilakukan adalah uji fisik yaitu kadar air, kerapatan,
pengembangan tebal dan uji mekanik yaitu kuat patah , uji modulus elatisitas,
kuat rekat internal dan uji kuat impak.

1.4 TUJUAN PENELITIAN


1. Mengolah serat kulit jagung dengan penambahan resin poliester menjadi
papan partikel

Universitas Sumatera Utara


2. Mengamati pengaruh perbandingan komposisi serat kulit jagung dengan
resin poliester menjadi papan partikel.

3. Mengetahui peranan kulit jagung terhadap karakteristik papan partikel


dengan penambahan resin poliester.

1.5 MANFAAT PENELITIAN


Adapun manfaat dari penelitian ini dilakukan adalah :
1. Termanfaatkannya kulit jagung sebagai bahan pembuatan papan partikel.
2. Mengetahui pengaruh perbandingan komposisi serat kulit jagung dengan resin
poliester terhadap melalui uji kerapatan, uji kadar air, uji pengembangan
tebal, uji kuat lentur, uji modulus elastisitas, uji kuat rekat internal dan uji
impak.
3. Mendapatkan bahan papan partikel yang kuat dan ramah lingkungan

Universitas Sumatera Utara