Anda di halaman 1dari 2

Asas Cabotage

Cabotage adalah sebuah prinsip yang memberikan hak khusus (privilege) untuk kapal-
kapal penunjang operasional niaga berbendera negara yang bersangkutan untuk melakukan
angkutan ke wilayahnya (pelabuhan). Secara regulatif, asas cabotage ini telah diatur dalam
Pasal 7 dan 8 Undang-UndangNo.17 Tahun 2008 tentang Pelayaran (UU Pelayaran). Dengan
kata lain, Penerapan asas ini berarti memberi hak perusahaan angkutan dari Negara Indonesia
beroperasi komersial secara ekslusif.
Asas Cabotage tidak hanya berlaku di Indonesia. Negara-negara seperti Amerika
Serikat melaksanakan asas ini dengan nama Jones Act/1920, di Uni Eropa dikenal dengan
EU Regulation (EEC) No. 3118/93, dan di Australia disebut Cabotage Laws).
Asas Cabotage di Indonesia mewajibkan kapal yang beroperasi di Indonesia
menggunakan bendera Merah Putih dilaksanakan dalam rangka mewujudkan kedaulatan
negara dan wawasan nusantara. Asas Cabotage adalah kegiatan angkutan laut dalam negeri
dilakukan perusahaan angkutan laut nasional dengan menggunakan kapal berbendera
Indonesia serta diawaki awak kapal berkewarganegaraan Indonesia. (Pasal 8 ayat 1 UU 17
Tahun 2008). Isi asas cabotage sendiri yakni kegiatan angkutan laut dalam negeri harus
dilakukan oleh perusahaan angkutan laut nasional.
Dalam Industri Migas Nasional, penerapan Asas Cabotage mendorong pertumbuhan
industri perkapalan nasional dan pemenuhan kuota TKDN (Tingkat Komponen Dalam
Negeri/local content) kegiatan produksi dan operasional penunjang migas sebagaimana yang
diamanatkan dalam Peraturan Menteri ESDM (Permen ESDM)No.15 Tahun 2013 tentang
Penggunaan Produk Dalam Negeri Pada Kegiatan Usaha Hulu Migas. Pemerintah
mengeluarkan PP No 22 Tahun 2011 PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH
NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG ANGKUTAN DI PERAIRAN, ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 4 April 2011 yang mengecualikan asas cabotage untuk industri migas.
Tak lama sesudahnya, Menteri Perhubungan memberikan jangka waktu kepada
industri migas untuk segera melengkapi kapalnya dengan bendera Indonesia sampai dengan
tahun 2015 yang termaktub dalam Peraturan Menteri Perhubungan(Permenhub) No. 48
Tahun 2011 tentang Perhubungan Tata Cara Pemberian Izin Penggunaan Kapal Asing untuk
Kegiatan Lain yang Tidak Termasuk Kegiatan Mengangkut Penumpang dan/atau Barang
dalam Kegiatan Angkutan Laut dalam Negeri.
Kapal asing dapat melakukan kegiatan lain yang tidak termasuk kegiatan mengangkut
penumpang dan/atau barang dalam kegiatan angkutan laut dalam negeri di wilayah perairan
Indonesia sepanjang kapal berbendera Indonesia belum tersedia atau belum cukup tersedia.
Kegiatan lain yang tidak termasuk kegiatan mengangkut penumpang dan/atau barang dalam
kegiatan angkutan laut dalam negeri sebagaimana dimaksud meliputi kegiatan:
1. Survey minyak dan gas bumi (survei seismik, survei geofisika, dan survei geoteknik);

2. Pengeboran (jack up rig; semi submersible rig; deep water drill ship;tender assist rig;

dan swamp barge rig);

3. Konstruksi lepas pantai (derrick/crane, pipe/ cable/ Subsea Umbilical Riser Flexible

((SURF) laying barge/ vessel; dan Diving Support Vessel (DSV));


4. penunjang operasi lepas pantai(anchor handling tug supply vessel Iebih besar dari

5000 BHP denganDynamic Position (DP2/DP3), platform supply vessels dan Diving

Support Vessel (DSV));

5. pengerukan (drag-head suction hopper dredger; trailing suction hopper dredger); dan

6. salvage dan pekerjaan bawah air (heavy floating crane, heavy crane barge dan survey

salvage).