Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

GERIATRIC SYNDROME

Untuk Memenuhi Tugas Clinical Studies 2

Disusun Oleh:
MIRA WAHYU KUSUMAWATI
135070218113014
Kelas Kediri

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017

1
1. Definisi Sindrom Geriatri

Geriatri adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari masalah


kesehatan pada lansia yang menyangkut aspek promotof, preventif, kuratif
dan rehabilitative serta psikososial yang menyertai kehidupan lansia
(Kartinah & Sudaryanto, 2008). Sedangkan menurut Setiati (2013) geriatri
adalah cabang ilmu kedokteran dengan fokus pada penuaan dan
tatalaksana penyakit terkait usia lanjut. Proses menua mengakibatkan
penurunan fungsi sistem organ seperti sistem sensorik, saraf pusat,
pencernaan, kardiovaskular, dan sistem respirasi. Selain itu terjadi pula
perubahan komposisi tubuh, yaitu penurunan masa otot, peningkatan masa
dan sentralisasi lemak, serta peningkatan lemak intramuskular. Masalah
yang sering dijumpai pada pasien geriatri adalah sindrom geriatri yang
meliputi: imobilisasi, instabilitas, inkontinensia, insomnia, depresi, infeksi,
defisiensi imun, gangguan pendengaran dan penglihatan, gangguan
intelektual, dan impotensi.

Sindrom geriatri adalah kumpulan gejala dan atau tanda klinis, dari
satu atau lebih penyakit, yang sering dijumpai pada pasien geriatric (Martini,
2010). Sindrom geriatri memiliki beberapa karakteristik, yaitu: usia >60
tahun, multipatologi, gejala klinis tidak khas, polifarmasi, fungsi organ
menurun, gangguan status fungsional, dan gangguan nutrisi (Kane, 2008).
Sedangkan menurut Panita, dkk (2011) sindrom geriatri meliputi gangguan
kognitif, depresi, inkontinensia, ketergantungan fungsional, dan jatuh.
Sindrom ini dapat menyebabkan angka morbiditas yang signifikan dan
keadaan yang buruk pada usia tua yang lemah. Sindrom ini biasanya
melibatkan beberapa sistem organ. Sindrom geriatrik mungkin memiliki
kesamaan patofisiologi meskipun presentasi yang berbeda,dan memerlukan
intervensi dan strategi yang fokus terhadap faktor penyebabnya.

2. Teori Proses Menua


Menua (aging) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-
lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti diri dan
mempertahankan struktur dan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat
bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang
diderita. Beberapa teori yang mendukung proses penuaan menurut Santoso
(2009) antara lain:

2
a. Teori biologi
1. Teori genetik dan mutasi (somatic mutatie theory)

Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk


spesies - spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari
perubahan biokimia yang diprogram oleh molekul - molekul
atau DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami
mutasi. Sebagai contoh yang khas adalah mutasi dari sel - sel
kelamin (terjadi penurunan kemampuan fungsional sel)

2. Pemakaian dan rusak

Kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel - sel tubuh lelah


(rusak)

3. Reaksi dari kekebalan sendiri (auto immune theory)

Dalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suatu


zat khusus. Terdapat jaringan tubuh tertentu yang tidak tahan
terhadap zat tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi lemah
dan sakit.

4. Teori immunology slow virus (immunology slow virus theory)

Sistem imune menjadi tidak efektif dengan bertambahnya usia


dan masuknya virus kedalam tubuh dapat menyebabkab
kerusakan organ tubuh.

5. Teori stress

Hilangnya sel-sel yang biasa digunakan oleh tubuh.


Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan
lingkungan internal, kelebihan usaha dan stres menyebabkan
sel-sel tubuh lelah terpakai.

6. Teori radikal bebas

Radikal bebas dapat terbentuk dialam bebas, tidak stabilnya


radikal bebas (kelompok atom) mengakibatkan osksidasi
oksigen bahan-bahan organik seperti karbohidrat dan protein.

3
Radikal bebas ini dapat menyebabkan sel-sel tidak dapat
melakukan regenerasi.

7. Teori rantai silang

Sel-sel yang tua mengalami reaksi kimia dan reaksi kimianya


menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen.
Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastis, kekacauan dan
hilangnya fungsi.

8. Teori program

Merupakan kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah


sel yang membelah setelah sel-sel tersebut mati.

b. Teori kejiwaan sosial


1. Aktivitas atau kegiatan (activity theory)

Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah


kegiatan secara langsung yang dilakukan oleh lansia. Teori ini
menyatakan bahwa usia lanjut yang sukses adalah mereka
yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial.
Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu
agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia.

2. Kepribadian berlanjut (continuity theory)

Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut


usia. Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi
pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe
personality yang dimiliki.

3. Teori pembebasan (disengagement theory)

Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia,


seseorang secara berangsur-angsur mulai melepaskan diri
dari kehidupan sosialnya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi
sosial lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun
kuantitas sehingga sering terjaadi kehilangan ganda (triple

4
loss), yaitu: kehilangan peran, hambatan kontak sosial, dan
berkurangnya kontak komitmen.

3. Definisi Lanjut Usia


Menurut pengertian gerontologi, lansia adalah suatu tahap dalam
hidup manusia mulai dari bayi, anak-anak, remaja, tua dan usia lanjut dan
bukan penyakit melainkan suatu proses alami yang tidak bisa dihindarkan.
Jadi lansia merupakan proses ilmiah terus menerus dan berkesinambungan
yang dalam keadaan lanjut menyebabkan perubahan anatomi, fisiologi dan
biokimia pada jaringan atau organ yang pada akhirnya mempengaruhi
keadaan, fungsi dan kemampuan badan secara keseluruhan (Depkes. RI,
2005).

Menurut Wahyudi (2008), lansia (lanjut usia) adalah kelompok umur


pada manusia yang telah memasuki tahapan akhir fase kehidupannya.
Sedangkan Depkes RI (2003), mendefinisikan lansia adalah seseorang yang
berumur 60 tahun atau lebih. Kalsifikasi lanjut usia menurut WHO dalam
Anggraeni (2008) yaitu:
a. Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45-59
tahun.
b. Lanjut usia (elderly) antara 60-74 tahun.
c. Lanjut usia tua (old) antara 75-90 tahun.
d. Lanjut usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun.

4. Karakteristik Pasien Geriatri


Karakteristik pasien geriatric menurut Setiati (2013) yang
membedakan dari pasien usia lanjut pada umumnya yaitu:
a. Karakteristik pasien geriatri yang pertama adalah multipatologi, yaitu
adanya lebih dari satu penyakit kronis degeneratif.
b. Karakteristik kedua adalah daya cadangan faali menurun karena
menurunnya fungsi organ akibat proses menua.
c. Karakteristik yang ketiga adalah gejala dan tanda penyakit yang tidak
khas. Tampilan gejala yang tidak khas seringkali mengaburkan
penyakit yang diderita pasien.
d. Karakteristik keempat adalah penurunan status fungsional yang
merupakan kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas
seharihari. Penurunan status fungsional menyebabkan pasien geriatri
berada pada kondisi imobilisasi yang berakibat ketergantungan pada
orang lain.

5
e. Karakteristik kelima merupakan karakteristik khusus pasien geriatri
yang sering dijumpai di Indonesia adalah malnutrisi.

5. Klasifikasi Sindrom Geriatri

Masalah yang sering dijumpai pada pasien geriatric adalah sindrom


geriatri yang meliputi: imobilisasi, instabilitas, inkontinensia, insomnia,
depresi, infeksi, gangguan pendengaran dan penglihatan, gangguan
intelektual (demensia) dan kelemahan nutrisi

a. Imobilisasi

Imobilisasi adalah keadaan tidak bergerak/ tirah baring selama 3 hari atau
lebih, diiringi gerak anatomis tubuh yang menghilang akibat perubahan
fungsi fisiologis. Imobilisasi menyebabkan komplikasi lain yang lebih
besar pada pasien usia lanjut bila tidak ditangani dengan baik (Setiati,
2013).

b. Instabilitas

Gangguan keseimbangan (instabilitas) akan memudahkan pasien geriatri


terjatuh dan dapat mengalami patah tulang. Terdapat banyak faktor yang
berperan untuk terjadinya instabilitas dan jatuh pada orang usia lanjut.
Berbagai faktor tersebut dapat diklasifikasikan sebagai faktor intrinsik
(faktor risiko yang ada pada pasien) dan faktor risiko ekstrinsik (faktor
yang terdapat di lingkungan) (Kane dkk, 2008).

c. Inkontinensia Urin

Inkontinensia urin didefinisikan sebagai keluarnya urin yang tidak


terkendali pada waktu yang tidak dikehendaki tanpa memperhatikan
frekuensi dan jumlahnya, sehingga mengakibatkan masalah sosial dan
higienis. Inkontinensia urin seringkali tidak dilaporkan oleh pasien atau
keluarganya karena malu atau tabu untuk diceritakan, ketidaktahuan dan
menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar pada orang usia lanjut serta
tidak perlu diobati. Masalah inkontinensia urin umumnya dapat diatasi
dengan baik jika dipahami dengan pendekatan klinis dan pengelolaannya
(Setiati dkk, 2013).

6
d. Insomnia merupakan gangguan tidur yang sering dijumpai pada pasien
geriatri. Umumnya mereka mengeluh bahwa tidurnya tidak memuaskan
dan sulit memertahankan kondisi tidur. Terjadi karena masalah-masalah
dalam hidup yang menyebabkan seorang lansia menjadi depresi atau
karena bebrapa penyakit yang dialami lansia (Setiati dkk, 2013).

e. Gangguan depresi pada usia lanjut kurang dipahami sehingga banyak


kasus tidak dikenali. Gejala depresi pada usia lanjut seringkali dianggap
sebagai bagian dari proses menua. Prevalensi depresi pada pasien
geriatri yang dirawat mencapai 17,5%.12 Deteksi dini depresi dan
penanganan segera sangat penting untuk mencegah disabilitas yang
dapat menyebabkan komplikasi lain yang lebih berat (Setiati dkk, 2013).

f. Infeksi sangat erat kaitannya dengan penurunan fungsi sistem imun pada
usia lanjut. Infeksi yang sering dijumpai adalah infeksi saluran kemih,
pneumonia, sepsis, dan meningitis. Kondisi lain seperti kurang gizi,
multipatologi, dan faktor lingkungan memudahkan usia lanjut terkena
infeksi (Setiati dkk, 2013).

g. Gangguan penglihatan dan pendengaran juga sering dianggap sebagai


hal yang biasa akibat proses menua. Gangguan penglihatan
berhubungan dengan penurunan kegiatan waktu senggang, status
fungsional, fungsi sosial, dan mobilitas. Gangguan penglihatan dan
pendengaran berhubungan dengan kualitas hidup, meningkatkan
disabilitas fisik, ketidakseimbangan, jatuh, fraktur panggul, dan mortalitas
(Setiati dkk, 2013).

f. Demensia adalah gangguan fungsi intelektual dan memori didapat yang


disebabkan oleh penyakit otak, yang tidak berhubungan dengan
gangguan tingkat kesadaran. Demensia tidak hanya masalah pada
memori. Demensia mencakup berkurangnya kemampuan untuk
mengenal, berpikir, menyimpan atau mengingat pengalaman yang lalu
dan juga kehilangan pola sentuh, pasien menjadi perasa, dan
terganggunya aktivitas (Blazer dkk, 2009).

g. Inkontinensia urin didefinisikan sebagai keluarnya urin yang tidak


dikehendaki dalam jumlah dan frekuensi tertentu sehingga menimbulkan
masalah sosial dan atau kesehatan. Inkontinensia urin merupakan salah

7
satu sindroma geriatrik yang sering dijumpai pada usia lanjut.
Diperkirakan satu dari tiga wanita dan 15-20% pria di atas 65 tahun
mengalami inkontinensia urin. Inkontinensia urin merupakan fenomena
yang tersembunyi, disebabkan oleh keengganan pasien
menyampaikannya kepada dokter dan di lain pihak dokter jarang
mendiskusikan hal ini kepada pasien (Kane dkk, 2008)

h. Kelemahan nutrisi berkaitan pada hendaya yang terjadi pada usia lanjut
karena kehilangan berat badan fisiologis dan patologis yang tidak
disengaja. Anoreksia pada usia lanjut merupakan penurunan fisiologis
nafsu makan dan asupan makan yang menyebabkan kehilangan berat
badan yang tidak diinginkan. Pada pasien, kekurangan nutrisi disebabkan
oleh keadaan pasien dengan gangguan menelan, sehingga menurunkan
nafsu makan pasien (Kane dkk, 2008).

6. Etiologi dan Faktor Resiko Sindrom Geriatri


Menua (menjadi tua = aging) adalah suatu proses menghilangnya
secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki dan
mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat
bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang
terjadi. Dengan begitu secara progresif akan kehilangan daya tahan
terhadap infeksi dan akan makin banyak terjadi distorsi metabolik dan
struktural yang disebut sebagai penyakit degeneratif (seperti hipertensi,
aterosklerosis, diabetes melitus dan kanker) (Pranarka, 2011).
Sifat penyakit pada geriatri tidaklah sama dengan penyakit dan
kesehatan pada golongan populasi usia lainnya. Penyakit pada geriatri
cenderung bersifat multipel, merupakan gabungan antara penurunan
fisiologik/alamiah dan berbagai proses patologik/penyakit. Penyakit biasanya
berjalan kronis, menimbulkan kecacatan dan secara lambat laun akan
menyebabkan kematian. Geriatri juga sangat rentan terhadap berbagai
penyakit akut, yang diperberat dengan kondisi daya tahan yang menurun.
Kesehatan geriatri juga sangat dipengaruhi oleh faktor psikis, sosial dan
ekonomi. Pada geriatri seringkali terjadi penyakit iatrogenik, akibat banyak
obat-obatan yang dikonsumsi (polifarmasi). Sehingga kumpulan dari semua
masalah ini menciptakan suatu kondisi yang disebut sindrom geriatri
(Pranarka, 2011).

8
Berdasarkan beberapa teori sindrom geriatric dapat disebabkan oleh
karena akumulasi radikal bebas yang merusak DNA, protein dan komponen
komponen dalam DNA. Hal tersebut dapat menyebabkan kerusakan di sel,
jaringan dan kemudian organ yang berakibat pada perubahan fungsi organ
dalam tubuhnya (Miller, 2009). Teori lain menjelaskan bahwa komponen dari
DNA yang mencegah replikasi DNA yaitu telomere. Telomer akan memendek
ketika sel berhenti membelah dan menyebabkan replicative senescence. Hal
tersebut menyebabkan masalah penurunan fungsi kognitif yang bersifat
progresif dan kerentanan pada lansia yang mengarah pada kondisi sakit.
Setiap individu mrngalami proses yang berbeda beda sesuai dengan faktor
genetic dan lingkungan.

Penyebab dari sindrom geriatric menurut Dini A A (2013) sebagai berikut:

a. Imobilitas disebabkan karena berbagai faktor fisik, psikologis, dan


lingkungan dapat menyebabkan imobilisasi pada usia lanjut. Penyebab
utama imobilisasi adalah adanya rasa nyeri, lemah, kekakuan otot,
ketidakseimbangan, dan masalah psikologis.

b. Instabilitas disebabkan faktor instrinsik dan ekstrinsik. instrinsik yaitu


faktor dari dalam diri pasien seperti lemah, nyeri, gangguan penglihatan,
ataupun tekanan darah yang tinggi yang menyebabkan timbulnya nyeri
kepala. Faktor ekstrinsik yaitu terdapat di lingkungan pasien seperti
kecelakaan (terpeleset, tersandung). Hal lain yaitu gabungan antara
lingkungan yang jelek dengan kelainan-kelainan akibat proses menua,
misalnya karena mata kurang jelas, benda-benda yang ada di rumah
tertabrak, lalu jatuh.

c. Inkontinensia pada lansia terjadi karena proses penua yang berdampak


pada organ perkemihan yang menyebabkan lansia mengalami
inkontinensia urin. Perubahan yang terjadi adalah melemahnya otot
dasar panggul yang menjaga kandung kemih dan pintu saluran kemih,
timbulnya kontraksi abnormal pada kandung kemih yang menimbulkan
rangsangan berkeih sebelum waktunya dan meninggalkan sisa.
Pengosongan kandung kemih yang tidak sempurna menyebabkan urine
di dalam kanddung kemih yang cukup banyak sehingga dengan pengisian
sedikit saja sudah merangsang untuk berkeih. Hipertrofi prostat juga

9
dapat mengakibatkan banyaknya sisa air kemih di kandung keih sebagai
akibat pengosongan yang tidak sempurna.

d. Infeksi pada usia lanjut disebabkan akibat beberapa hal antara lain:
adanya penyakit komorbid kronik yang cukup banyak, menurunnya daya
tahan atau imunitas terhadap infeksi, menurunnya daya komunikasi
sehingga sulit atau jarang mengeluh, sulitnya mengenal tanda infeksi
secara dini.

7. Manifestasi Klinis Sindrom Geriatri


a. Imobilisasi
1. Kerusakan imobilisasi
Tidak mampu bergerak atau beraktifitas sesuai kebutuhan
Keterbatasan menggerakkan sendi
Adanya kerusakan aktivitas\
Penurunan ADL dibantu orang lain
Malas untuk bergerak atau latihan mobilitas
2. Kemungkinan dibuktikan oleh:
Ketidakmampuan bergerak dengan tujuan dalam lingkungan fisik
Kerusakan koordinasi
Keterbatasan rentang gerak

Penurunan kekuatan atau kontrol otot

b. Inkontinensia
1. Inkontinensia stress: keluarnya urin selama batuk, mengejan, dan
sebagainya.
2. Inkontinensia urgensi: ketidakmampuan menahan keluarnya urin
dengan gambaran seringnya terburu-buru untuk berkemih.

3. Enuresis nokturnal: keluarnya urin saat tidur malam hari.

c. Demensia
1. Rusaknya seluruh jajaran fungsi kognitif
2. Awalnya gangguan daya ingat jangka pendek
3. Gangguan kpribadian dan perilaku (mood swings)
4. Defisit neurologi dan fokal
5. Mudah tersinggung, bermusuhan, agitasi, dan kejang
6. Gangguan psikotik: halusinasi, ilusi, waha, dan paranoid
7. Keterbatasan dalam ADL
8. Kesulitan mengatur dalam penggunaan keuangan
9. Tidak bisa pulang ke rumah bila bepergian
10. Lupa meletakkan barang penting
11. Sulit mandi, makan, berpakaian, dan toileting

10
12. Mudah terjatuh dan keseimbangan buruk
13. Tidak dapat makan dan menelan
14. Inkontinensia urin
15. Menurunnya daya ingat yang terus terjadi
16. Gangguan orientasi waktu dan tempat
17. Penurunan dan ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat
yang benar
18. Ekspresi yang berlebihan

19. Adanya perubahan perilaku, seperti acuh, menarik diri, dan gelisah

d. Konstipasi
1. Kesulitan memulai dan menyelesaikan BAB
2. Mengejan keras saat BAB
3. Massa feses yang keras dan sulit keluar
4. Perasaan tidak tuntas saat BAB
5. Sakit pada daerah rectum saat BAB
6. Adanya perembesan feses cair pada pakaian dalam
7. Menggunakan bantuan jari-jari untuk mengeluarkan feses

8. Menggunakan obat-obat pencahar untuk bisa BAB

e. Depresi
1. Gangguan tidur
2. Keluhan somatik berupa nyeri kepala, dizzi (puyeng), rasa nyeri,
pandangan kabur, gangguan saluran cerna,gangguan nafsu makan
(meningkat atau menurun), konstipasi, perubahan berat badan
(menurun atau bertambah).
3. Gangguan psikomotor berupa aktivitas tubuh meningkat (agitasi atau
hiperaktivitas) atau menurun, aktivitas mental meningkat atau
menurun, tidak mengacuhkan kejadian di sekitarnya, fungsi seksual
berubah (mencakup libido menurun), variasi diurnal dari suasana hati
dan gejala biasanya lebih buruk di pagi hari.

4. Gangguan psikologis berupa suasana hati (disforik, rasa tidak


bahagia, letupan menangis), kognisi yang negatif, gampang
tersinggung, marah, frustasi, toleransi rendah, emosi meledak,
menarik diri dari kegiatan sosial, kehilangan kenikmatan & perhatian
terhadap kegiatan yang biasa dilakukan, banyak memikirkan
kematian & bunuh diri, perasaan negatif terhadap diri sendiri,
persahabatan serta hubungan sosial.

11
f. Malnutrisi
1. Kelelahan dan kekurangan energy
2. Pusing
3. Sistem kekebalan tubuh yang rendah (yang mengakibatkan tubuh
kesulitan untuk melawan infeksi)
4. Kulit yang kering dan bersisik
5. Gusi bengkak dan berdarah
6. Gigi yang membusuk
7. Sulit untuk berkonsentrasi dan mempunyai reaksi yang lambat
8. Berat badan kurang
9. Pertumbuhan yang lambat

10. Kelemahan pada otot

g. Insomnia
1. Perasaan sulit tidur, bangun terlalu awal
2. Wajah kelihatan kusam
3. Mata merah, hingga timbul bayangan gelap di bawah mata
4. Lemas, mudah mengantuk
5. Resah dan mudah cemas

6. Sulit berkonsentrasi, depresi, ganggua memori, dan mudah


tersinggung

h. Immune Deficeincy
1. Sering terjadi infeksi virus atau jamur dibandingkan bakteri
2. Diare kronik umum terjadi (sering disebut gastroenteritis)

3. Infeksi respiratorius dan oral thrushumum terjadi

7. Penatalaksanaan Sindrom Geriatri


Menurut Setiati dkk (2013) dalam merawat dan menatalaksana
pasien geriatric melalui Comperhensive Geriatric Managemen (CGM)
dengan dua cara yaitu dengan tim dan pendekatan paripurna pada pasien
geriatric. Pendekatan paripurna pasien geriatri merupakan prosedur
pengkajian multidimensi. Dalam melakukan pengkajian diperlukan instrumen
diagnostik yang bersifat multidisiplin untuk mengumpulkan data medik,
psikososial, kemampuan fungsional, dan keterbatasan pasien usia lanjut.
Pendekatan multidimensi bertujuan untuk menguraikan berbagai masalah
pada pasien geriatri, mengidentifikasi semua kemampuan yang masih
dimiliki pasien, mengidentifikasi jenis pelayanan yang dibutuhkan, dan
mengembangkan rencana asuhan yang berorientasi pada kepentingan
pasien. Pendekatan paripurna pasien geriatri berbeda dengan pengkajian
medik standar dalam tiga hal, yaitu fokus pada pasien usia lanjut yang

12
memiliki masalah kompleks; mencakup status fungsional dan kualitas hidup;
dan memerlukan tim yang bersifat interdisiplin. Berikut beberapa
penatalaksanaan secara umum sindrom geriatrik, diantaranya:

a. Pencegahan infeksi dengan vaksin. Lansia rentan mengalami


masalah infeksi akubat penurunan sistem imunitas karena proses
penuaan. Untuk melakukan pencegahan agar tidak terjadi infeksi
dapat dilakukan dengan memberikan vaksin pada lansia.
Sehingga lansia tidak mudah mengalami infeksi.

b. Pemberian asupan diet protein, vitamin C, D, E, & mineral yang


cukup. Orang usia lanjut umumnya mengonsumsi protein kurang
dari angka kecukupan gizi (AKG). Proporsi protein yang adekuat
merupakan faktor penting; bukan dalam jumlah besar pada sekali
makan. Hal penting lainnya adalah kualitas protein yang baik, yaitu
protein sebaiknya mengandung asam amino esensial. Leusin
adalah asam amino esensial dengan kemampuan anabolisme
protein tertinggi sehingga dapat mencegah lansia kehilangan
massa otot. Leusin dikonversi menjadi hydroxy-methyl-butyrate
(HMB). Suplementasi HMB mampu meningkatkan sintesis protein
dan mencegah proteolisis.

c. Pengaturan olah raga secara teratur. Perlu pemantauan rutin


kemampuan dasar seperti berjalan, keseimbangan, fungsi kognitif.
Aktivitas fisik dapat menghambat penurunan massa dan fungsi
otot dengan memicu peningkatan massa dan kapasitas metabolik
otot sehingga memengaruhi energy expenditure, metabolise
glukosa, dan cadangan protein tubuh. Resistance training
merupakan bentuk latihan yang paling efektif untuk mencegah
lansia kehilangan massa otot dan dapat ditoleransi dengan baik
pada orang tua. Program resistance training dilakukan selama 30
menit setiap sesi, 2 kali seminggu. Aktivitas fisik juga harus
diimbangi dengan asupan nutrisi yang baik karena tanpa asupan
nutrisi yang adekuat menyebabkan keseimbangan protein negatif
dan menyebabkan degradasi otot. Kombinasi resistance training
dengan intervensi nutrisi berupa asupan protein yang cukup
dengan kandungan leusin, khususnya HMB yang adekuat,

13
merupakan intervensi terbaik untuk memelihara kesehatan otot
orang usia lanjut.

d. Mengantisipasi kejadian yang dapat menimbulkan stress pada


lansia misalnya pembedahan elektif dan reconditioning cepat
setelah mengalami stres dengan renutrisi dan fisioterapi individual.

e. Pemberian obat-obatan kepada lansia. Terapi pengobatan pada


pasien usia lanjut secara signifikan berbeda dari pasien pada usia
muda, karena adanya perubahan kondisi tubuh yang disebabkan
oleh usia, dan dampak yang timbul dari penggunaan obat-obatan
yang digunakan sebelumnya. Polifarmasi merupakan masalah
pada pasien geriatri yang sulit dihindari dikarenakan oleh berbagai
hal yaitu penyakit yang diderita banyak dan biasanya kronis, obat
diresepkan oleh beberapa dokter, kurang koordinasi dalam
pengelolaan, gejala yang dirasakan pasien tidak jelas, pasien
meminta resep, dan untuk menghilangkan efek samping obat
justru ditambah obat baru. Karena itu diusulkan prinsip pemberian
obat yang benar pada pasien geriatri dengan cara mengetahui
riwayat pengobatan lengkap, jangan memberikan obat sebelum
waktunya, jangan menggunakan obat terlalu lama, kenali obat
yang digunakan, mulai dengan dosis rendah, naikkan perlahan-
lahan, obati sesuai patokan, beri dorongan supaya patuh berobat
dan hati-hati mengguakan obat baru.

f. Penatalaksanaan resiko jatuh pada lansia dapat dilakukan


dengan: memperhatikan penggunaan alat bantu melihat
(kacamata) dan alat bantu dengar (earphone), mengevaluasi dan
menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman, mengevaluasi
kemampuan kognitif, memberi lansia alat bantu berjalan seperti
hand rails, walkers.

g. Penatalaksanaan gangguan tidur pada lansia: meningkatkan


aktifitas rutin setiap hari, menciptakan lingkungan yang nyaman,
mengurangi konsumsi kopi, memberikan benzodiazepine seperti
Temazepam (7,5 - 15 mg), anti depresan seperti Trazadone untuk
lansia yang mengalami insomnia kronik.

14
8. Pencegahan Sindrom Geriatri
Jenis pelayanan kesehatan terhadap lansia meliputi beberapa upaya
kesehatan yaitu: peningkatan (promotif), pencegahan (preventif), diagnosis
dini dan pengobatan, pembatasan kecacatan dan pemulihan.
a. Promosi (Promotif)
Upaya promotif merupakan tindakan secara langsung dan
tidak langsung untuk meningkatkan derajat kesehatan dan
mencegah penyakit. Upaya promotif juga merupakan proses
advokasi kesehatan untuk meningkatkan dukungan klien, tenaga
provesional dan masyarakat terhadap praktik kesehatan yang
positif menjadi norma-norma sosial. Upaya promotif di lakukan
untuk membantu organ-organ mengubah gaya hidup mereka dan
bergerak ke arah keadaan kesehatan yang optimal serta
mendukung pemberdayaan seseorang untuk membuat pilihan
yang sehat tentang perilaku hidup mereka.
Upaya perlindungan kesehatan bagi lansia adalah sebagai
berikut:
1. Mengurangi cedera, di lakukan dengan tujuan mengurangi
kejadian jatuh, mengurangi bahaya kebakaran dalam
rumah, meningkatkan penggunaan alat pengaman dan
mengurangi kejadian keracunan makanan atau zat kimia.
2. Meningkatkan keamanan di tempat kerja yang bertujuan
untuk mengurangi terpapar dengan bahan-bahan kimia dan
meningkatkan pengunaan sistem keamanan kerja.
3. Meningkatkan perlindungan dari kualitas udara yang buruk,
bertujuan untuk mengurangi pengunaan semprotan bahan-
bahan kimia, mengurangi radiasi di rumah, meningkatkan
pengolahan rumah tangga terhadap bahan berbahaya,
serta mengurangi kontaminasi makanan dan obat-obatan.

4. Meningkatkan perhatian terhadap kebutuhan gigi dan mutu


yang bertujuan untuk mengurangi karies gigi serta
memelihara kebersihan gigi dan mulut.

b. Pencegahan (Preventif)
1. Melakukan pencegahan primer, meliputi pencegahan pada
lansia sehat, terdapat faktor risiko, tidak ada penyakit, dan
promosi kesehatan. Jenis pelayanan pencegahan primer
adalah: program imunisasi, konseling, berhenti merokok dan

15
minum beralkohol, dukungan nutrisi, keamanan di dalam dan
sekitar rumah, manajemen stres, dan penggunaan medikasi
yang tepat.
2. Melakukan pencegahan sekunder, meliputi pemeriksaan
terhadap penderita tanpa gejala dari awal penyakit hingga
terjadi gejala penyakit belum tampak secara klinis dan
mengindap faktor risiko. Jenis pelayan pencegahan sekunder
antara lain adalah sebagai berikut: kontrol hipertensi, deteksi
dan pengobatan kangker, screening: pemeriksaan rektal,
papsmear, gigi mulut dan lain-lain.

3. Melakukan pencegahan tersier, dilakukan sebelum terdapat


gejala penyakit dan cacat, mecegah cacat bertambah dan
ketergantungan, serta perawatan dengan perawatan di rumah
sakit, rehabilisasi pasien rawat jalan dan perawatan jangka
panjang.

c. Diagnosis dini dan Pengobatan


1. Diagnosis dini dapat dilakukan oleh lansia sendiri atau
petugas profesional dan petugas institusi. Oleh lansia sendiri
dengan melakukan tes dini, skrining kesehatan,
memanfaatkan Kartu Menuju Sehat (KMS) Lansia,
memanfaatkan Buku Kesehatan Pribadi (BKP), serta
penandatangan kontrak kesehatan.
2. Pengobatan: Pengobatan terhadap gangguan sistem dan
gejala yang terjadi meliputi sistem muskuloskeletal,
kardiovaskular, pernapasan, pencernaan, urogenital,
hormonal, saraf dan integumen.
Daftar Pustaka

Blazer, DG and Steffens, DC. 2009. The american psychiatric publishing


textbook of geriatric psychiatry. America : Psychiatric Pub.
Chodzko-Zajko, Ringel, Miller R. 2009. Biology of aging and longevity. In: Halter
BJ, Ouslander JG Tiinneti ME, Studenski S, Higj KP, Asthana K, editors.
Hazzards geriatric medicines and gerontology. 6th ed. New York:
McGraw-Hill Health Professions Divisons; 2009.

16
Dini AA. 2013. Sindrom Geriatri (Imobilitas, Instabilitas, Gangguan Intelektual,
Inkontinensia, Infeksi, Malnutrisi, Gangguan Pendengaran). Lampung:
Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.
Kartinah & Sudaryanto, A. (2008). Masalah Psikososial pada Lanjut Usia. Berita
Ilmu Keperawatan Vol. 1 No.1.
Kane RL, Ouslander JG, Abrass IB, Resnick B. 2008. Essentials of clinical
geriatris. 6th ed. New York, NY:McGraw-Hill.
Martini, W , Adiyanti, M.G. & Indati, A. (2010). Ciri Kepribadian Lanjut Usia. Jurnal
Psikologi Universitas Gajah Mada.
Santoso, Budi. 2009. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006.
Jakarta: Prima Medika
Setiati S, Harimurti K, Dewiasty E, Istanti R, Sari W, Verdinawati T. 2013.
Prevalensi geriatric giant dan kualitas hidup pada pasien usia lanjut yang
dirawat di Indonesia: penelitian multisenter. In Rizka A (editor).
Comprehensive prevention & management for the elderly:
interprofessional geriatric care. Jakarta: Perhimpunan Gerontologi Medik
Indonesia:183.
Setiati S. 2013. Geriatric Medicine, Sarkopenia, Frailty dan Kualitas Hidup
Pasien Usia Lanjut: Tantangan Masa Depan Pendidikan, Penelitian dan
Pelayanan Kedokteran di Indonesia. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit
Dalam.
Panita L , Kittisak S, Suvanee S, Wilawan H. 2011. Prevalence and recognition of
geriatri syndromes in an outpatient clinic at a tertiary care hospital of
Thailand. Medicine Department; Medicine Outpatient Department, Faculty
of Medicine, Srinagarind Hospital, Khon Kaen University, Khon Kaen
40002, Thailand. Asian Biomedicine.
Pranarka, Kris. 2011. Simposium geriatric syndromes:revisited. Semarang:Badan
Penerbit Universitas Diponegoro.

17