Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU PENYAKIT TANAMAN


MIKOLOGI

Oleh :
Nama : Dhany Rizki Nuraini
NIM : 145040207111049
Kelompok : C2
Asisten : Ruli Rohmatul Hidayah

JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN


PROGAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
I. PENDAHULUAN
1.1 Pengertian Penyakit
Penyakit merupakan suatu organisme infeksius bukan binatang yang
menyebabkan penyakit pada tanaman, sehingga dapat ditularkan dari satu tanaman ke
tanaman lainnya (Purnomo, 2006).
Penyakit sebenarnya adalah suatu proses dimana bagian-bagian tertentu dari
organism tidak dapat menjalankan fungsinya secara normal dengan sebaik-baiknya
karena adanya suatu gangguan (Adinugroho, 2008).
Disease is abnormal and harmful physiological condition brought about by
living (biotic) agents, such as fungi, bacteria, nematodes and viruses, or by nonliving
(abiotic) factors, such as nutrient deficiencies and water stress (Pscheid, 2016).
A plant disease is an abnormality in the structure and or function of the host
plant cells and or tissue as a result of a continuous irritation caused by a pathogenic
agent or an environmental factor (Cooper, 2007).

1.2 Mekanisme Terjadinya Penyakit


Mekanisme terjadinya penyakit dalam siklus penyakit meliputi : inokulasi
(penularan), penetrasi (masuk tubuh), infeksi (pemanfaatan nutrien inang), invasi
(perluasan serangan ke jaringan lain), disperse atau penyebaran ke tempat lain.
a. Inokulasi atau penularan
Bagian dari patogen atau patogen yang terbawa agen tertentu yang
mengadakan kontak dengan tanaman disebut inokulum atau penular. Dengan
demikian inokulum merupakan bagian dari patogen atau patogen itu sendiri yang
dapat menyebabkan penyakit pada tanaman. Pada jamur atau cendawan, inokulum
dapat berupa miselium, spora, atau sklerotium. Pada bakteri, mikoplasma, dan virus,
inokulumnya berupa individu bakteri, individu mikoplasma, dan patikel virus itu
sendiri. Pada tumbuhan parasitik, inokulum dapat berupa fragmen tumbuhan atau biji
dari tumbuhan parasitik tersebut. Pada nematoda, inokulum dapat berupa telur, larva,
atau nematoda dewasa.
Langkah-langkah yang terjadi pada proses inokulasi, dimulai dari : inokulum
patogen sampai ke permukaan tubuh tanaman inang melalui perantaraan angin, air,
serangga dan sebagainya. Meskipun inokulum yang dihasilkan patogen banyak sekali
tetapi yang dapat mencapai tanaman inang yang sesuai hanya sedikit sekali. Beberapa
tipe inokulum yang terbawa tanah, seperti zoospora dan nematoda dapat mencapai
tanaman inang yang sesuai melalui substansi yang dikeluarkan oleh akar tanaman.
Semua patogen memulai melakukan serangan pada tingkat pertumbuhan
vegetatif. Dengan demikian, spora jamur dan biji tumbuhan parasitik harus
berkecambah terlebih dahulu. Untuk melakukan perkecambahan diperlukan suhu
yang sesuai dan kelembaban dalam bentuk lapisan air pada permukaan tanaman.
Keadaan basah atau bentuk lapisan air ini harus berlangsung cukup lama sampai
patogen mampu masuk atau melakukan penetrasi ke dalam sel atau jaringan. Jika
hanya berlangsung sebentar maka patogen akan kekeringan dan mati, sehingga gagal
melakukan serangan (Camada, 2014).
b. Penetrasi
Penetrasi merupakan proses masuknya patogen atau bagian dari patogen ke
dalam sel, jaringan atau tubuh tanaman inang. Patogen melakukan penetrasi dari
permukaan tanaman ke dalam sel, jaringan atau tubuh tanaman inang melalui empat
macam cara, yaitu secara langsung menembus permukaan tubuh tanaman, melalui
lubang-lubang alami, melalui luka, dan melalui perantara (pembawa, vektor). Ada
patogen yang dapat melakukan penetrasi melalui beberapa macam cara dan ada pula
yang hanya dapat melakukan penetrasi melalui satu macam cara saja. Sering patogen
melakukan penetrasi terhadap sel-sel tanaman yang tidak rentan sehingga patogen
tidak mampu melakukan proses selanjutnya atau bahkan patogen mati tanpa
menyebabkan tanaman menjadi sakit.
Tumbuhan parasitik dan nematoda melakukan penetrasi dengan cara langsung.
Kebanyakan jamur parasit melakukan penetrasi pada jaringan tanaman dengan secara
langsung. Spora jamur yang berkecambah akan membentuk buluh kecambah yang
dapat digunakan untuk melakukan penetrasi, baik langsung menembus permukaan
maupun melalui lubang alami dan luka. Bakteri biasanya melakukan penetrasi
melalui luka atau dimasukan oleh perantara tertentu dan sedikit sekali yang masuk
melalui lubang-lubang alami permukaan tanaman. Virus dan mikoplasma dapat
melakukan penetrasi dengan melalui luka atau dimasukan oleh perantara atau vektor.
Bakteri, virus, dan mikoplasma tidak pernah melakukan penetrasi secara langsung
(Camada, 2014).
c. Infeksi
Infeksi merupakan suatu proses dimulainya patogen memanfaatkan nutrien
(sari makanan) dari inang. Proses ini terjadi setelah patogen melakukan kontak
dengan sel-sel atau jaringan rentan dan mendapatkan nutrien dari sel-sel atau jaringan
tersebut. Selama proses infeksi, patogen akan tumbuh dan berkembang di dalam
jaringan tanaman.
Infeksi yang terjadi pada tanaman inang, akan menghasilkan gejala penyakit
yang tampak dari luar seperti : menguning, berubah bentuk (malformasi), atau bercak
(nekrotik). Beberapa proses infeksi dapat bersifat laten atau tidak menimbulkan gejala
yang tampak mata, akan tetapi pada saat keadaan lingkungan lebih sesuai untuk
pertumbuhan patogen atau pada tingkat pertumbuhan tanaman selanjutnya, patogen
akan melanjutkan pertumbuhannya, sehingga tanaman menampakan gejala sakit
(Camada, 2014).
d. Invasi
Invasi merupakan tahap pertumbuhan dan perkembangan patogen setelah
terjadi infeksi. Individu jamur dan tumbuhan parasitik umumnya melakukan invasi
pada tanaman dimulai sejak proses infeksi dengan cara tumbuh dalam jaringan
tanaman inang, sehingga tanaman inang selain kehilangan nutrien, sel-selnya atau
jaringan juga rusak karenanya.
Bakteri, mikoplasma, virus, dan nematoda melakukan invasi dan menginfeksi
jaringan baru di dalam tubuh tanaman dengan jalan menghasilkan keturunan
(individu-individu patogen) dalam jaringan yang terinfeksi. Keturunan patogen ini
kemudian akan terpindah secara pasif ke dalam sel-sel jaringan lain melalui
plasmodesmata (untuk virus), floem (untuk virus, mikoplasma), xilem (untuk
beberapa jenis bakteri) atau dapat pula berpindah secara aktif dengan jalan berenang
dalam lapisan air, seperti nematoda dan beberapa jenis bakteri motil (mempunyai alat
gerak).
Patogen tanaman melakukan perkembangbiakan menggunakan beberapa cara.
Jamur dengan membentuk spora, baik spora seksual maupun spora aseksual.
Tumbuhan parasit melakukan perkembangbiakan menggunakan biji. Bakteri, dan
mikoplasma berkembangbiak dengan membelah (fisi) sel. Virus melakukan replikasi
pada sel-sel tanaman inang, dan nematoda berkembangbiak dengan bertelur (Camada,
2014).
e. Dispersi atau penyebaran
Penyebaran patogen berarti proses berpindahnya patogen atau inokulum dari
sumbernya ke tempat lain. Penyebaran patogen dapat terjadi secara aktif maupun
pasif. Penyebaran pasif yang berperan besar dalam menimbulkan penyakit, yaitu
dengan perantaraan angin, air, hewan (terutama serangga), dan manusia. Beberapa
patogen dapat melakukan penyebaran secara aktif, misalnya nematoda, zoospora dan
bakteri motil. Ketiga macam inokulum ini mampu berpindah dalam jarak yang relatif
pendek (mungkin hanya beberapa milimeter atau sentimeter) dengan menggunakan
kekuatan sendiri sehingga kurang efektif dari segi perkembangan penyakit (Camada,
2014).

III. PURIFIKASI
3.1 Pengertian Purifikasi
Purifikasi atau disebut juaga pemurnian adalah pemisahan satu jenis
mikroorganisme patogen dari media inokulasi yang terdiri mungkin saja, dari
beberapa macam mikroorganismedalam satu media,purifikasi ini dilakukan
untuk memudahkan dalam pengidentifikasian patogen tersebut (Semangun,
1996 dalam Fatimah, 2012).
The purification of sewage by filtration through material such as gravel is due
largely, if not solely, to the activity of organisms in the film present on the material of
the filter. The film consists of algae, fungi and bacteria, together with amorphous
matter derived from sewage (Painter, 1954).
3.2 Tujuan Purifikasi
Purifikasi atau pemurnian bertujuan untuk mendapatkan isolat murni dan
meremajakan kultur murni ke dalam media baru dari pengembangbiakan patogen
tanaman pada saat isolasi.
3.3 Cara Kerja
Alat :
Jarum Ose : digunakan untuk memisahkan koloni jamur
Bunsen : digunakan untuk sterilisasi cawan petri, jarum ose dan menciptakan
daerah steril
Cawan petri : digunakan sebagai wadah jamur yang dipurifikasi
Plastik wrap : digunakan untuk menutup atau membungkus cawan petri agar
tidak terjadi kontaminasi
Botol UC : digunakan sebagai wadah alkohol
Tisu steril : digunakan untuk mensterilkan tempat pada saat purifikasi
Bahan :
Alkohol 70% : digunakan untuk sterilisasi bahan
Alkohol 96% :digunakan untuk sterilisasi alat dan tangan
Potato Dextrose Agar (PDA) : sebagai media pengembangbiakan jamur
Spirtus : sebagai bahan bakar pada Bunsen
Jamur patogen : sebagai spesimen atau objek pengamatan
Analisa Perlakuan :
Pada saat praktikum purifikasi yang pertama dilakukan yaitu siapkan alat
dan bahan. Mensterilkan cawan petri dengan api bunsen dan setelah itu mensterilkan
jarum ose yang digunakan untuk mengambil atau memisahkan koloni jamur dengan
alkohol dan api bunsen. Pemisahan koloni jamur hanya diambil dalam jumlah sedikit
dengan cara membentuk persegi empat pada media isolasi menggunakan jarum ose.
Kemudian dilakukan pemindahan ke media PDA yang baru pada cawan petri. Setelah
itu menutup atau melapisi bagian luar cawan petri menggunakan plastic wrap
tujuannya agar tidak terjadi kontaminasi. Dan terakhir melakukan pengamatan
pertumbuhan jamur selama 7 hari. Pengamatan meliputi ukuran, bentuk, warna dan
tekstur jamur.
3.4 Pembahasan Hasil Purifikasi Alternaria porri, Helminthosporium sp.,
Fusarium oxysporum, Gloeosporium sp.
IV.IDENTIFIKASI JAMUR
4.1 Pengertian Identifikasi
4.2 Cara Kerja
Alat :
Bunsen : digunakan untuk sterilisasi cawan petri, dan menciptakan daerah steril
Jarum ose : digunakan untuk mengambil jamur patogen pada media PDA
Cawan petri : digunakan sebagai wadah identifikasi jamur dan media PDA
Kaca preparat : sebagai tempat jamur untuk di identifkasi
Cover glass : digunakan sebagai penutup kaca preparat
Bahan :
Alkohol : digunakan untuk sterilisasi alat
Potato Dextrose Agar (PDA) : sebagai media pengembangbiakan jamur
Spirtus : sebagai bahan bakar Bunsen
Jamur patogen : sebagai objek identifikasi
Aquades : sebagai media untuk meletakkan jamur di preparat
DAFTAR PUSTAKA
Purnomo. B. 2006. Penggolongan Penyakit Tumbuhan dan Patogennya. Diunduh dari
http://bambangpurnomo.byethost7.com/MATERI_files/perlindungan_2.pdf?i=1
pada tanggal 22 April 2017.
Adinugroho. WC. 2008. Konsep Timbulnya Penyakit Tanaman. Diunduh dari
https://wahyukdephut.files.wordpress.com/2009/09/konsep-timbulnya-
penyakit1.pdf pada tanggal 22 April 2017.
Pscheidt. JW. 2016. Plant Diseases. Extension Plant Pathologist, Oregon State
University. Hlm. 332.

Cooper. J. 2007. Basic Terminologi and Definitions in Plant Pathology. Master


Gardener WSU Extension. Hlm. 1.

Darma. K. 2011. Bagaimana Patogen Menyerang Tanaman. Diunduh dari


http://kusumadarma17.blogspot.co.id/2011/07/bagaimana-patogen-menyerang-
tanaman.html pada tanggal 22 April 2017.

Camada. 2014. Mekanisme Penyakit tanaman dan factor yang Mempengaruhi.


Diunduh dari http://camada18.blogspot.co.id/2014/03/mekanisme-penyakit
tanaman-dan-faktor.html pada tanggal 22 April 2017.