Anda di halaman 1dari 10

RSU KASIH IBU - EXTENSION STRUKTUR :BAB - 05

DENPASAR - BALI PEKERJAAN BETON

DAFTAR ISI

01. LINGKUP PEKERJAAN .. 117

02. BAHAN - BAHAN .. 117

03. SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN. ..... 119

04. TEST KUBUS BETON ( PENGUJIAN MUTU BETON ) .. 120

05. PENGECORAN BETON 121

06. PEMADATAN BETON 122

07. CURING DAN PERLINDUNGAN ATAS BETON 122

08. PEMBENGKOKAN DAN PENYETELAN BESI BETON . 123

09. CETAKAN BETON/ BEKISTING. 124

10. PEMBONGKARAN CETAKAN BETON. 124

11. PEMASANGAN ALAT-ALAT DI DALAM BETON. 125

PT. Jasa Ferrie Pratama 116


RSU KASIH IBU - EXTENSION STRUKTUR :BAB - 05
DENPASAR - BALI PEKERJAAN BETON

01. Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-
alat bantu lainnya serta pengangkutan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
semua pekerjaan beton berikut pembersihannya sesuai dengan yang tercantum
dalam gambar Struktur.

02. Bahan - bahan

a. Semen

Semua semen yang digunakan adalah semen portland lokal dengan


syarat-syarat :
- Peraturan Semen Portland Indonesia (NI.8-1972).
- Peraturan Beton Indonesia (NI.2-1971).
- Mempunyai sertifikat uji (test sertificate).
- Mendapat persetujuan Pemberi Tugas.

Semua semen yang akan dipakai harus dari satu merk yang sama (tidak
diperkenankan menggunakan bermacam-macam jenis/merk semen untuk
suatu konstruksi/struktur yang sama), dalam keadaan baru dan asli, dikirim
dalam kantong-kantong semen yang masih disegel dan tidak pecah .

Dalam pengangkutan semen harus terlindung dari hujan.

Harus diterimakan dalam sak ( kantong ) asli dari pabriknya dalam


keadaan tertutup rapat, dan harus disimpan di gudang yang cukup
ventilasinya dan diletakkan pada tempat yang ditinggikan paling sedikit
30 cm dari lantai. Sak-sak semen tersebut tidak boleh ditumpuk sampai
tingginya melampaui 2 m atau maximum 10 sak, setiap pengiriman baru
harus ditandai dan dipisahkan, dengan maksud agar pemakaian semen
dilakukan menurut urutan pengirimannya.

Untuk semen yang diragukan mutunya dan kerusakan-kerusakan akibat


salah penyimpanan, dianggap sudah rusak, membatu, dapat ditolak
penggunaannya tanpa melalui test lagi. Bahan yang telah ditolak harus
segera dikeluarkan dari lapangan paling lambat dalam waktu 2 x 24 jam.

b. Agregat (Aggregates)

Semua pemakaian batu pecah ( agregat kasar ) dan pasir beton, harus
memenuhi syarat-syarat :
- Peraturan Umum Pemeriksaan Bahan Bangunan (NI.3-1956)
- Peraturan Beton Indonesia (NI.2-1971).

PT. Jasa Ferrie Pratama 117


RSU KASIH IBU - EXTENSION STRUKTUR :BAB - 05
DENPASAR - BALI PEKERJAAN BETON

Tidak mudah hancur ( tetap keras ), tidak porous


Bebas dari tanah/ tanah liat ( tidak bercampur dengan tanah/tanah liat
atau kotoran-kotoran lainnya.

Kerikil dan batu pecah (agregat kasar) yang mempunyai ukuran lebih besar
dari 25 mm untuk penggunaannya harus mendapat persetujuan Pemberi
Tugas.

Gradasi dari agregat-agregat tersebut secara keseluruhan harus dapat


menghasilkan mutu beton yang baik, padat dan mempunyai daya kerja yang
baik dengan semen dan air, dalam proporsi campuran yang akan dipakai.

Pemberi Tugas dapat meminta kepada Kontraktor untuk mengadakan


test kwalitas dari agregat-agregat tersebut dari tempat penimbunan yang
ditunjuk oleh Pemberi Tugas, setiap saat dalam Laboratorium yang diakui.

Dalam hal adanya perubahan sumber dari mana aggregat tersebut disupply,
maka Kontraktor diwajibkan untuk memberitahukan kepada Pengawas.

Penyimpanan.

Agregat harus disimpan ditempat yang bersih, yang keras permukaannya


dan dicegah supaya tidak terjadi pencampuran satu sama lain dan terkotori.

c. Air

Air yang akan dipergunakan untuk semua pekerjaan-pekerjaan dilapangan


adalah air bersih, tidak berwarna, tidak mengandung bahan-bahan kimia
(asam alkali), tidak mengandung organisme yang dapat memberikan efek
merusak beton, tidak mengandung minyak atau lemak dan memenuhi
syarat-syarat Peraturan Beton Indonesia (NI.2-1971) serta diuji oleh
Laboratorium yang diakui sah oleh yang berwajib.

Air yang mengandung garam (air laut) tidak diperkenankan untuk dipakai.

d. Besi Beton ( Steel Reinforcement )

Semua besi beton yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat :


- Peraturan Beton Indonesia (NI.2-1971).
- Standard Industri Indonesia (SII).

Bebas dari kotoran-kotoran, lapisan minyak/karat dan tidak cacat (retak-


retak, mengelupas, luka dsb.)

Semua dari jenis baja dengan mutu BJTP-24 (polos) dan BJTD-40 (ulir), bahan
tersebut dalam segala hal harus memenuhi ketentuan-ketentuan PBI 1971.
Mutu Baja BJTP-24 (polos) untuk dia <= 8 mm
Mutu Baja BJTD-40 (ulir) untuk dia >= 10 mm

PT. Jasa Ferrie Pratama 118


RSU KASIH IBU - EXTENSION STRUKTUR :BAB - 05
DENPASAR - BALI PEKERJAAN BETON

Mempunyai penampang yang sama rata.


Ukuran disesuaikan dengan gambar-gambar.

Pemakaian besi beton dari jenis yang berlainan dari ketentuan-ketentuan


diatas, harus mendapat persetujuan Pemberi Tugas.

Besi beton harus disupply dari satu sumber (manufacture ) dan tidak
dibenarkan untuk mencampur adukan bermacam-macam sumber besi
beton tersebut untuk pekerjaan konstruksi.

Kontraktor harus mengadakan pengujian mutu besi beton yang akan


dipakai, sesuai dengan petunjuk-petunjuk dari Pemberi Tugas. Barang
percobaan diambil dibawah kesaksian Pemberi Tugas, berjumlah
minimum 3 ( tiga ) batang untuk tiap-tiap jenis percobaan, yang diameternya
sama dan panjangnya +/- 100 cm. Pengambilan sample dilakukan untuk tiap
diameter setiap kelipatan 50 ton berat besi tersebut.

Pemasangan besi beton dilakukan sesuai dengan gambar gambar, atau


mendapat persetujuan Pemberi Tugas.
Untuk hal itu sebelumnya Kontraktor harus membuat gambar
pembengkokan baja tulangan (bending schedule ), diajukan kepada
Pemberi Tugas untuk mendapat persetujuannya.
Hubungan antara besi beton satu dengan yang lainnya harus
menggunakan kawat beton, diikat dengan teguh, tidak bergeser
selama pengecoran beton dan bebas dari lantai kerja, atau papan acuan.

Sebelum beton dicor, besi beton harus bebas dari minyak, kotoran, cat,
karat lepas, kulit giling atau bahan-bahan lain yang merusak. Semua besi
beton harus dipasang pada posisi yang tepat.

Penggunaan besi beton yang sudah jadi seperti steel wiremesh atau yang
semacam itu, harus mendapat persetujuan Perencana/ Pemberi Tugas.

Besi beton yang tidak memenuhi syarat-syarat karena kwalitasnya tidak


sesuai dengan spesifikasi (RKS) dan apa yang tercantum dalam pasal 4.B.4
diatas harus segera dikeluarkan dari site setelah menerima instruksi
tertulis dari Pemberi Tugas, dalam waktu 2 x 24 jam.

03. Syarat syarat Pelaksanaan

a. Adukan Beton non-Struktural

Adukan Beton Yang Dibuat Setempat (Site Mixing) untuk beton non-struktural.
Adukan beton harus memenuhi syarat-syarat :

Semen diukur menurut volume.


Aggregat diukur menurut volume.
Pasir diukur menurut volume.

PT. Jasa Ferrie Pratama 119


RSU KASIH IBU - EXTENSION STRUKTUR :BAB - 05
DENPASAR - BALI PEKERJAAN BETON

Adukan beton dibuat dengan menggunakan alat pengaduk mesin ( batch


mixer ).

Jumlah adukan beton tidak boleh melebihi kapasitas mesin pengaduk.


Lama pengadukan tidak kurang dari 2 menit sesudah semua bahan berada
dalam mesin pengaduk.

Mesin pengaduk yang tidak dipakai lebih dari 30 menit harus dibersihkan
lebih dulu, sebelum adukan beton yang baru dimulai.

b. Adukan Beton Struktural

Untuk Struktur harus menggunakan Beton Ready-mix.

04. Test Kubus Beton ( Pengujian Mutu Beton )

a. Pemberi Tugas berhak meminta setiap saat kepada Kontraktor untuk


membuat kubus coba dari adukan beton yang dibuat. Mutu beton yang
disyaratkan adalah K-300 / fc = 25 MPa. Dimana tegangan tekan
karakteristik beton pada umur 28 hari harus mencapai 300 Kg/cm2 / 25
MPa.

b. Cetakan kubus coba harus berbentuk bujur sangkar dalam segala arah
dengan ukuran 15 x 15 x15 cm3.
Pengambilan adukan beton, percetakan kubus coba dan curingnya harus
dibawah pengawasan. Sample diambil tiap 5 M3, Prosedurnya harus
memenuhi syarat - syarat dalam Peraturan Beton Indonesia (NI.2-1971)
bab 4.7.

c. Semua biaya untuk pembuatan dan percobaan kubus coba menjadi tanggung
jawab Kontraktor.

d. Kubus coba harus ditandai dengan suatu kode yang menunjukkan tanggal
pengecoran, pembuatan adukan struktur yang bersangkutan dan lain-lain
yang perlu dicatat. ( Kode pada kubus harus digores dengan paku,
tidak diperbolehkan menggunakan kapur atau cat).

e. Semua kubus harus di test di laboratorium beton yang berwenang, dan


disetujui Pemberi Tugas.

f. Laporan hasil Percobaan harus diserahkan kepada Pemberi Tugas segera


sesudah selesai percobaan, paling lambat 7 hari sesudah pengecoran,
dengan mencantumkan besarnya kekuatan karakteristik, deviasi standard,
campuran adukan dan berat kubus benda uji tersebut.

PT. Jasa Ferrie Pratama 120


RSU KASIH IBU - EXTENSION STRUKTUR :BAB - 05
DENPASAR - BALI PEKERJAAN BETON

g. Apabila dalam pelaksanaan nanti kedapatan bahwa mutu beton yang dibuat
seperti yang ditunjukkan oleh kubus cobanya gagal memenuhi syarat
spesifikasi, maka Pemberi Tugas berhak meminta Kontraktor supaya
mengadakan percobaan-percobaan non destruktif atau kalau
memungkinkan mengadakan percobaan coring.

Percobaan-percobaan ini harus memenuhi syarat-syarat dalam Peraturan Beton


Indonesia ( NI.2 - 1971 ).

Apabila gagal, maka bagian pekerjaan tersebut harus dibongkar dan dibangun
baru sesuai dengan petunjuk Pemberi Tugas. Semua biaya-biaya untuk
percobaan dan akibat-akibat gagalnya pekerjaan tersebut menjadi tanggung
jawab Kontraktor.

05. Pengecoran Beton

a. Sebelum melaksanakan pekerjaan pengecoran beton, Kontraktor harus


memberitahukan Pemberi Tugas dan mendapat persetujuan. Jika tidak ada
persetujuan Pemberi Tugas, maka Kontraktor dapat diperintahkan untuk
menyingkirkan/membongkar beton yang sudah dicor tanpa persetujuan,
atas biaya Kontraktor sendiri.

b. Adukan beton harus secepatnya dibawa ketempat pengecoran dengan


menggunakan cara (metode) yang sepraktis mungkin, sehingga tidak
memungkinkan adanya pengendapan agregat dan tercampurnya kotoran-
kotoran atau bahan lain dari luar. Penggunaan alat-alat pengangkut
mesin haruslah mendapat persetujuan Pemberi Tugas, sebelum alat-alat
tersebut didatangkan ketempat pekerjaan. Semua alat-alat pengangkut
yang digunakan, pada setiap waktu harus dibersihkan dari sisa-sisa adukan
yang mengeras.

c. Pengecoran beton tidak dibenarkan untuk dimulai sebelum pemasangan


besi beton selesai diperiksa oleh dan mendapat persetujuan Pemberi Tugas

d. Sebelum pengecoran dimulai, maka tempat-tempat yang akan dicor terlebih


dahulu harus dibersihkan dari segala kotoran-kotoran ( potongan kayu, batu,
tanah dan lain-lain ) dan dibasahi dengan air semen.

e. Pengecoran dilakukan selapis demi selapis dan tidak dibenarkan


menuangkan adukan dengan menjatuhkan dari suatu ketinggian melebihi 2.0
meter, yang akan menyebabkan pengendapan agregat.

f. Pengecoran dilakukan secara terus menerus (kontiniu / tanpa berhenti).


Adukan yang tidak dicor (ditinggalkan) dalam waktu lebih dari 15
menit setelah keluar dari mesin adukan beton, dan juga adukan yang
tumpah selama pengangkutan, tidak diperkenan untuk dipakai lagi.

PT. Jasa Ferrie Pratama 121


RSU KASIH IBU - EXTENSION STRUKTUR :BAB - 05
DENPASAR - BALI PEKERJAAN BETON

g. Penggunaan bahan campuran tambahan (additive) harus disetujui Pemberi


Tugas. Sebelum Penggunaan bahan campuran tambahan (additive),
Kontraktor harus membuat beberapa Trial Mix yang akan ditest di laboratorium
yang ditunjuk oleh Pemberi Tugas. Semua Resiko akibat penggunaan bahan
campuran tambahan (additive) ditanggung oleh Kontraktor.

06. Pemadatan Beton

a. Beton dipadatkan dengan menggunakan vibrator selama pengecoran


berlangsung dan dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak merusak acuan
maupun posisi tulangan.

b. Pekerjaan beton yang telah selesai harus merupakan suatu massa yang
bebas lubang agregasi dan honey combing, memperlihatkan permukaan
yang halus bila cetakan dibuka.

c. Kontraktor harus menyiapkan vibrator-vibrator untuk menjamin effisiensinya


tanpa adanya penundaan.
Vibrator yang dipakai harus dari type Rotary Out of Balance dengan
frekwensi tidak kurang dari 6000 cycles permenit dan kemampuan
memberikan percepatan dari 6 g. pada beton setelah kontak dengan beton.

d. Pemadatan beton secara berlebihan sehingga menyebabkan


pengendapan aggregat, kebocoran-kebocoran melalui acuan dan lain-lain,
harus dihindarkan.

e. Kontraktor harus menyediakan paling sedikit 1 (satu) vibrator tambahan untuk


digunakan pada saat yang lain rusak.

07. Curing Dan Perlindungan Atas Beton.

a. Selama berlangsungnya proses pengerasan, beton harus dilindungi terhadap


matahari, pengeringan oleh angin, hujan atau aliran air dan pengrusakkan
secara mekanis atau pengeringan sebelum waktunya.

b. Semua permukaan beton yang terbuka dijaga tetap basah selama 14 hari.

c. Terutama pada pengecoran beton pada waktu cuaca panas, curing dan
perlindungan atas beton harus diperhatikan. Kontraktor bertanggung
jawab atas retaknya beton karena kelalaian ini.

d. Bila digunakan bahan kimia untuk curing harus atas persetujuan dari Pemberi
Tugas dan Kontraktor harus mengadakan percobaan-percobaan yang
membuktikan bahwa bahan kimia tersebut effektif untuk digunakan.

PT. Jasa Ferrie Pratama 122


RSU KASIH IBU - EXTENSION STRUKTUR :BAB - 05
DENPASAR - BALI PEKERJAAN BETON

08. Pembengkokan dan Penyetelan Besi Beton.

a. Pembengkokan besi beton harus dilakukan dengan hati-hati dan teliti/tepat


pada posisi pembengkokan sesuai gambar dan tidak menyimpang dari PBI
(NI.2-1971). Pembengkokan tersebut dilakukan oleh tenaga ahli, untuk ini
dengan menggunakan alat-alat sedemikian rupa sehingga tidak
menimbulkan cacat patah, retak-retak dan sebagainya.

b. Sebelum penyetelan dan pemasangan dimulai, Kontraktor harus membuat


rencana kerja pemotongan dan pembengkokan baja tulangan (bending
schedule), yang diserahkan kepada Pemberi Tugas untuk mendapat
persetujuannya.

c. Pemasangan dan penyetelan berdasarkan peil-peil, sesuai dengan


gambar dan ini sudah diperhitungkan mengenai toleransi penurunannya.

d. Pemasangan dengan menggunakan selimut beton (beton decking) harus


sesuai sebagai berikut :

Selimut beton untuk pelat & dinding 2.0 cm


Selimut beton untuk Kolom 3.0 cm
Selimut beton untuk Balok 3.0 cm
Selimut beton untuk Pelat Pondasi 5.0 cm
Selimut beton untuk Sloof 5.0 cm
Selimut beton untuk Pile Cap 7.5 cm
Selimut beton pelat & dinding Basement 4.0 cm

e. Sebelum baja tulangan dipasang, baja harus bebas dari kulit besi karat,
lemak, kotoran serta bahan-bahan lain yang dapat mengurangi daya lekat.

f. Penyetelan besi beton harus dilakukan dengan teliti, terpasang pada


kedudukan yang teguh untuk menghindari pemindahan tempat, dengan
menggunakan kawat yang berukuran tidak kurang dari 16 mm yang sesuai
pada setiap tiga pertemuan. Pembersihan harus ditunjang dengan beton atau
penunjang besi, spacers atau besi penggantung seperti yang ditunjuk pada
gambar atau dicantumkan pada spesifikasi ini, penunjang-penunjang metal
tidak boleh diletakkan berhubungan dengan bekisting.

g. Beugel-beugel/tulangan melintang harus diikat pada tulangan utama dan


jaraknya harus sesuai dengan gambar. Tulangan tidak boleh keluar dari
permukaan beton.

h. Precast Mortar Spacing Block hendaknya digunakan untuk menahan


jarak yang tepat pada tulangan dan minimum mempunyai kekuatan beton
yang kurang lebih sama dengan beton yang akan dicor.

PT. Jasa Ferrie Pratama 123


RSU KASIH IBU - EXTENSION STRUKTUR :BAB - 05
DENPASAR - BALI PEKERJAAN BETON

09. Cetakan Beton/Bekisting.

a. Kontraktor harus memberikan sample bahan yang akan dipakai untuk


cetakan beton, untuk disetujui oleh Pemberi Tugas. Tiap-tiap bagian dari
bekisting, bagian-bagian yang strukturil harus mendapat persetujuan dari
Pemberi Tugas, sebelum beton dicor pada bagian itu.

b. Cetakan beton harus dibersihkan dari segala kotoran-kotoran yang melekat


seperti potongan-potongan kayu, paku, tahi gergaji, tanah dan sebagainya.

c. Cetakan beton harus dipasang sedemikian rupa sehingga tidak akan terjadi
kebocoran atau hilangnya air selama pengecoran, tetap lurus (tidak berubah
bentuk) dan tidak bergoyang.

d. Cetakan beton harus dibuat kuat sehingga tidak memungkinkan terjadinya


perubahan bentuk atau melengkung, garis ketinggian dan dimensi beton
sebagaimana diperlihatkan pada gambar.

e. Penunjang bekisting menggunakan steger besi (scafolding ).


Penggunaan dolken atau balok kayu untuk selama masih memenuhi syarat.

f. Baut-baut dan tie rod yang diperlukan untuk ikatan-ikatan dalam beton harus
diatur sedemikian, sehingga bila bekisting dibongkar kembali, maka semua
besi tulangan harus berada dalam permukaan beton.

g. Pada bagian terendah (dari setiap phase pengecoran) dari bekisting harus
ada bagian yang mudah dibuka untuk inspeksi dan pembersihan.

10. Pembongkaran Cetakan Beton

a. Pembongkaran dilakukan sesuai dengan PBI (NI.2-1971), dimana bagian


konstruksi yang dibongkar cetakannya harus dapat memikul berat sendiri
dan beban-beban pelaksanaannya.

b. Cetakan - cetakan dapat dilepas dalam waktu minimum 3 hari untuk bagian
samping balok, kolom dan dinding.
Untuk bagian bawah pelat, balok dan lisplank baru dapat dilepas setelah 21
hari. Walaupun sudah dibuka cetakannya, Konstruksi tersebut belum dapat
dibebani sebelum pengerasan beton sempurna (minimum 28 hari ).

c. Pekerjaan pembongkaran cetakan harus dilaporkan dan disetujui sebelumnya


oleh Pemberi Tugas.

PT. Jasa Ferrie Pratama 124


RSU KASIH IBU - EXTENSION STRUKTUR :BAB - 05
DENPASAR - BALI PEKERJAAN BETON

d. Apabila setelah cetakan dibongkar ternyata terdapat bagian-bagian beton


yang kropos atau cacat lainnya, yang akan mempengaruhi kekuatan
konstruksi tersebut, maka Kontraktor harus segera memberitahukan
kepada Pemberi Tugas, untuk meminta persetujuan mengenai cara
pengisian atau menutupnya.

Semua resiko yang terjadi sebagai akibat pekerjaan tersebut dan


biaya-biaya pengisian atau penutupan bagian tersebut, menjadi
tanggung jawab Kontraktor.

e. Meskipun hasil pengujian kubus-kubus beton memuaskan, Pemberi Tugas


mempunyai wewenang untuk menolak konstruksi beton yang cacat seperti
berikut:

- Konstruksi beton yang sangat kropos.


- Konstruksi beton yang tidak sesuai dengan bentuk yang direncanakan
atau posisi-posisinya tidak seperti yang ditunjuk oleh gambar.
- Konstruksi beton yang tidak tegak lurus atau rata seperti yang
direncanakan.
- Konstruksi beton yang berisikan kayu atau benda lainnya.

11. Pemasangan Alat-Alat Di dalam Beton.

a. Kontraktor tidak dibenarkan untuk membobok, membuat lubang atau


memotong konstruksi beton yang sudah jadi tanpa sepengetahuan dan seijin
Pemberi Tugas.

b. Ukuran dan pembuatan lubang, pemasangan alat-alat didalam beton,


pemasangan sparing, pemasangan dudukan pondasi mesin dan
sebagainya, harus menurut petunjuk-petunjuk Pemberi Tugas yang sesuai
dengan data teknis mesin yang akan dipasang.

AKHIR BAB

PT. Jasa Ferrie Pratama 125