Anda di halaman 1dari 10

TUGAS

MIKOLOGI PERTANIAN

ASCOMYCOTA

Oleh:

Yazid Syaiful Alam 145040201111218

Agustina Nurul Wijayanti 145040201111220

Cukup Hariadi 145040201111221

Margaretha Galuh Sartiko 145040201111226

Gallyndra Fatkhu Dinata 145040201111228

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

MINAT HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2017
I. KARAKTERISTIK ASCOMYCOTA

1.1 Morfologi Ascomyceta


Kingdom : Fungi
Divisi : Ascomycota
Subdivisi : Ascomycotina
Class : Ascomycetes
Divisi Ascomycota bercirikan talus yang terdiri dari miselium bersepta.
Reproduksi seksual membentuk askospora di dalam askus. Ada yang hidup
sebagai parasit, yang menimbulkan penyakit pada tumbuhan. Jamur Ascomycota
jamur kantung ada yang uniseluler dan multiseluler. Jamur ini ada yang bersifat
parasit dan ada juga yang bersifat saprofit. Kebanyakan Ascomycetes membentuk
askus dalam jasad buah yang kompleks. Ascomycota dapat ditemukan pada
makanan yang busuk. Warnanya dapat merah, cokelat, atau hijau. Ascomycota
dapat mengakibatkan penyakit tanaman, misalnya pada kacang, stroberi, dan apel.

1.2 Ciri-Ciri Ascomycota


Ciri-ciri Ascomycota antara lain bersifat uniseluler/multiseluler, hifa
bersekat, membenituk tubuh buah askokarp/tidak, hidup saproba/parasit/simbiosis
mutualisme, reproduksi secara vegetatif. Kelompok jamur Ascomycota memiliki
ciri utama, yaitu menghasilkan askospora sebagai hasil reproduksi generatif.
Askospora dihasilkan oleh alat reproduksi generatif, yaitu askus. Askus memiliki
bentuk struktur seperti kantong. Ascomycota ada yang bersel satu dan ada yang
bersel banyak. Ascomycota multiseluler memiliki hifa yang bersekat. Pada
beberapa jenis Ascomycota, hifa bercabang-cabang membentuk miselium dan
tersusun kompak menjadi tubuh buah makroskopis yang disebut askokarp atau
askokarpus. Bentuk askokarp bervariasi, antara lain berbentuk botol, bola, dan
mangkok. Pada askokarp terdapat banyak askus yang di dalamnya terdapat
askospora.

1.3 Cara Hidup Ascomycota

Ascomycota hidup sebagai pengurai bahan organik atau sisa-sisa


organisme di dalam tanah maupun di laut. Ascomycota bersel satu atau ragi hidup
pada bahan yang mengandung gula atau karbohidrat, misalnya singkong yang
menghasilkan tapai atau sari anggur untuk membuat minuman anggur merah
(wine). Beberapa jenis ada yang hidup sebagai parasit pada organisme lain. Jamur
morel (Morchella esculenta) hidup bersimbiosis mutualisme dengan tumbuhan
membentuk mikorhiza. Ascomycota yang hidup pada permukaan sel mesofil daun
dapat melindungi tumbuhan dari serangan hama serangga dengan cara
mengeluarkan racun. Sekitar 30.000 spesies atau separuh dan jumlah spesies
Ascomycota yang ada ditemukan hidup bersimbiosis dengan ganggang
membentuk lichen (lumut kerak).

1.4 Siklus Hidup Ascomycota

Dalam daur hidupnya, Ascomycota uniseluler maupun multiseluler dapat


bereproduksi secara vegetatif dan generative.

a. Reproduksi vegetatif Ascomycota


1. Ascomycota uniseluler, bereproduksi secara vegetatif dengan pembelahan sel
atau pelepasan tunas dari sel induk. Tunas yang terlepas akan menjadi sel
jamur baru. Namun, bila tidak terlepas maka sel tunas akan membentuk rantai
pseudohifa (hifa semu).

2. Ascomycota multiseluler, bereproduksi vegetatif dengan dua cara, yaitu


fragmentasi hifa dan pembentukan spora vegetatif konidiospora. Hifa dewasa
yang terputus akan tumbuh menjadi hifa jamur baru. Hifa haploid (n) yang
sudah dewasa akan menghasilkan konidiofor (tangkai konidia). Pada ujung
konidiofor akan terbentuk spora yang diterbangkan angin yang disebut konidia.
Konidia memiliki jumlah kromosom yang haploid (n). Konidia pada jamur
Ascomycota berwarna warni, antara lain berwarna oranye, hitam, biru, atau
kecokelatan. Bila kondisi lingkungan menguntungkan, maka konidia akan
berkecambah menjadi hifa yang haploid. Hifa akan bercabang cabang
membentuk miselium yang haploid (n).

b. Reproduksi generatif Ascomycota


1. Ascomycota uniseluler.
Reproduksi Ascomycota uniseluler diawali dengan konjugasi atau
penyatuan dua sel haploid (n) yang berbeda jenis. Hasil penyatuan tersebut
menghasilkan zigot yang diploid (2n). Zigot tumbuh membesar menjadi
askus yang diploid. Inti (nukleus) diploid di dalam askus membelah secara
meiosis menghasilkan 4 inti yang haploid. Di sekitar empat inti tersebut
terbentuk dinding sel sehingga terbentuk 4 askospora yang haploid di
dalam askus. Bila askus sudah masak, maka askus akan pecah
mengeluarkan askospora. Askospora tumbuh menjadi sel jamur baru yang
haploid.
2. Ascomycota multiseluler.
Reproduksi generatif jamur Ascomycota multiseluler adalah
sebagai berikut:
1) Hifa (+) dan hifa (-) yang masing-masing berkromosom haploid
berdekatan. Hifa (+) membentuk askogonium (alat reproduksi betina),
sedangkan hifa (-) membentuk anteridium (alat reproduksi jantan).
2) Askogonium membentuk saluran menuju anteridium; disebut trikogin.
Melalui trikogin terjadi proses plasmogami (peleburan sitoplasma).
Askogonium akan menerima nukleus haploid dan anteridium sehingga
askogonium memiliki kumpulan inti dan keduanya (dikariotik).
3) Askogonium tumbuh menjadi hifa dikariotik yang bercabang-cabang
dan tergabung dalam askokarp (tubuh buah).
4) Ujung-ujung hifa pada askokarp membentuk askus dikariotik.
5) Di dalam askus terjadi kariogami (peleburan inti) sehingga terbentuk
inti yang diploid (2n).
6) Inti diploid di dalam askus membelah secara meiosis menghasilkan 4
nukleus yang haplold (n).
7) Masing-masing nukleus haploid membelah secara mitosis sehingga di
dalam askus terdapat 8 nukleus. Selanjutnya, di sekitar nukleus
terbentuk dinding sel dan terbentuk askospora yang haploid (n).
8) Bila askus telah masak, maka askospora akan tersebar secara serentak.
Hal ini terjadi karena jika satu askus pecah berakibat pada pecahnya
askus lain.
9) Askospora yang jatuh di tempat yang cocok akan berkecambah menjadi
hifa baru yang haploid (n). Hifa haploid akan tumbuh bercabang-
cabang membentuk miselium yang haploid (n).
II. KLASIFIKASI ASCOMYCOTA

Klasifikasi Ascomycota menurut Agrios (1996) adalah sebagai berikut:


A. Kelas Hemiascomycetes
Ordo Endomycetales
Genus :
1. Saccharomyces (ragi roti)
2. Tapghrina (penyebab menggulung nya daun persik)

B. Kelas Pyrenomycetes
1. Ordo Erysiphales
Genus :
a. Erysiphe (penyebab penyakit tepung pada rumput)
b. Microsphaera (penyebab penyakit tepung pada lilac)
c. Podosphaera (penyebab penyakit tepung apel)
d. Spaerotheca (penyebab penyakit tepung ros dan persik)
e. Uncinula (penyebab penyakit tepung anggur)
2. Ordo Sphaeriales
Genus :
a. Botryosphaeria (penyebab busuk hitam dan bercak daun mata
katak apel)
b. Ceratocystis (penyebab layu vaskular)
c. Diaporthe (penyebab hawar polong buncis)
d. Endothia (penyebab blight chestnut)
e. Glomerella (penyebab antraknosa dan bitter rot pada apel)
f. Gnomonia (penyebab penyakit antraknosa dan bercak daun)
g. Hypoxylon (penyebab kanker ganas pada poplar)
h. Rosellinia ( penyebab akar hitam)
i. Valsa ( penyebab kanker pohon persik)
j. Xylaria (penyebab kanker batang dan pelapukan kayu)
3. Ordo Hypocreales
Genus :
a. Claviceps (penyebab ergot rye)
b. Giberella (penyebab busuk tongkol jagung)
c. Nectria (penyebab kanker batang dan ranting)

C. Kelas Loculoascomycetes
1. Ordo Myriangiales
Genus : Elsinoe (penyebab antraknosa anggur)
2. Ordo Dothideales
Genus :
a. Capnodium (penyebab jamur jelaga)
b. Didymella (penyebab bercak daun)
c. Guignardia (penyebab busuk hitam anggur)
d. Microcyclus (penyebab bercak coklat pohon karet)
e. Plowrightia (penyebab bengkak hitam cherry)
3. Ordo Pleosporales
Genus :
a. Cochiobolus (penyebab bercak coklat dan busuk akar)
b. Gaeumannomyces (penyebab penyakit take-all gandum)
c. Pyrenophora (penyebab bercak daun serealia)

D. Kelas Discomycetes
1. Ordo Phacidiales
Genus :
Rhytisma (penyebab becak ter daun maple)
2. Ordo Helotiales
Genus :
a. Diplocarpon (penyebab bercak coklat pada ros)
b. Higginsia (penyebab bercak daun cherry)
c. Lophodermium (penyebab hawar jarum cemara)
d. Monilinia (penyebab busuk coklat pada stone fruits)
e. Pseudopezzia (penyebab busuk lunan berair pada sayuran)
III. PERAN ASCOMYCOTA

Menurut Campbell et.al (2006) peranan jamur Ascomycota di kehidupan


sehari-hari adalah sebagai berikut:

3.1 Peranan yang menguntungkan


1. Saccharomyces cerevisiae berguna dalam pembuatan tape dan roti.
2. Saccharomyces tuac memfermentasi air nira (legen) menjadi tuak.
3. Saccharomyces ellipsoideus memfermentasi buah anggur menjadi wine.
4. Penicillium notatum, Penicillium chrysogenum, dan Penicillium
vermiculatum menghasilkan antibiotik.
5. Penicillium cammemberti dan Penicillium requefortii dimanfaatkan untuk
meningkatkan kualitas keju.
6. Neurospora crassa dimanfaatkan dalam pembuatan oncom merah dari
ampas tahu.
7. Trichoderma resei dapat menghasilkan enzim selulase, yaitu enzim
pengurai selulosa. Enzim ini dapat digunakan untuk memproduksi PST
(Protein Sel Tunggal).
8. Morchela esculenta dan Sarcoscypha coccinea, badan buahnya dapat
dimakan.
9. Ascobolus scatigenus, saprofit pada kotoran sapi. Askokarpnya berbentuk
seperti mangkuk disebut apotesium.
10. Erysiphe merupakan parasit pada permukaan daun tanaman. Askokarpnya
berwarna putih seperti tepung dan terdapat pada permukaan daun.
11. Fusarium, merupakan parasit pada batang tebu, padi, pisang, tomat, dan
kentang.
12. Aspergillus oryzae merombak zat pati dalam pembuatan minuman
beralkohol.
13. Aspergillus wentii dan Aspergillus soyae berguna dalam pembuatan kecap.
14. Aspergillus flavus menghasilkan aflatoksin yang mengakibatkan kanker
hati. Jamur ini banyak terdapat pada kacang tanah dan makanan yang
dibuat dari bahan kacang tanah.
15. Aspergillus nigel menghasilkan asam sitrat.
3.2 Peranan yang merugikan
1. Penicillium islandicu merusak beras sehingga berwarna kuning.
2. Penicillium expansium mengakibatkan buah apel busuk.
3. Penicillium italicum mengakibatkan buah jeruk busuk.
4. Claviceps purpurea merupakan penyebab penyakit ergot pada tanaman
gandum. Apabila hewan atau manusia mengonsumsi gandum yang terkena
penyakit ini akan mengalami ergotisma. Gejala ergotisma yaitu terjadi
kejang otot dan kelumpuhan.
5. Aspergillus fumigatus mengakibatkan penyakit pada saluran pernapasan
unggas.
6. Aspergillus nidula hidup parasit pada telinga dan mengakibatkan
automikosis.
7. Venturia inaequalis penyebab penyakit rusaknya buah apel

Claviceps purpurea Morchella esculenta

Venturia inaequalis
DAFTAR PUSTAKA

Agrios. G.N. 1996. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Edisi Ketiga. Terjemahan Munir
Busnia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Campbell, N.A., et al. 2006. Biology Concepts & Connections. California: The
Benjamin/Cummings Publishing Company
Sridianti. Ciri-ciri Ascomycota. 2016. http://www.sridianti.com/ciri-ciri-
Ascomycota. html. Diakses pada 6 Maret 2016