Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perdagangan bebas seiring dengan perkembangan globalisasi dewasa ini
banyak bermunculan di kawasan regional diseluruh kawasan dunia. Kawasan
perdagangan bebas ini dimaksudkan membrikan kesempatan kepada negara peserta
perjanjian untuk dapat bersaing di kancah Internasional. Sebagai contoh di Benua
Amerika terbentuk seperti North America Free Trade Agreement. Di kawasan Asia,
khususnya kawasan Asia tenggara terbentuk ASEAN Free Trade Agreement.
Perdagangan bebas itu seiiring dengan perkembangan waktu berubah menjadi sebuah
kawasan perdagangan terintegrasi salah satu contoh nya adalah apa yang bisa dikenal
dengan kawasan Masyarakat Ekonomi Asean/ Asean Ekonomic Community.

Pertemuan di Bali pada tahun 2003 yang dihadiri oleh negara-negara anggota
ASEAN gagasan untuk mewujudkan cita-cita kawasan yang memiliki integritas
ekonomi kuat mulai dirancang langkah awal dan diprediksikan akan dimulai pada
tahun 2020. Namun pada pertemuan di Filipina yang diselenggarakan pada 13 Januari
2007, para negara - negara anggota ASEAN sepakat untuk mempercepat
pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Pembentukan ini
dilatarbelakangi oleh persiapan menghadapi globalisasi ekonomi dan perdagangan
melalui ASEAN Free Trade Area (AFTA) serta menghadapi persaingan global
terutama dari China dan India. Percepatan keputusan negara ASEAN untuk
membentuk MEA yang pada awalnya akan dimulai pada tahun 2020 menjadi 2015
menggambarkan tekad ASEAN untuk segera meningkatkan pertumbuhan ekonomi
dan daya saing antar sesama negara anggota ASEAN untuk menghadapi persaingan
global.

Salah satu hal yang menarik perhatian adalah tentang ASEAN Trade on Goods
Agreement dan dampaknya terhadap Indonesia. Lebih Lanjut penulis akan membahas
tentang dampak ASEAN Trade on Goods Agreement terhadap perkonomian Indonesia
dan penyesuaian hukumnya

B. Identifikasi Masalah
Dari pemaparan latar belakang, didapat identifikasi masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah dampak ASEAN Trade In Good Agreement terhadap
perekonomian Indonesia?
2. Bagaimana penyesuaian peraturan perundang-undangan Indonesia terhadap
ASEAN Trade on Goods Agreement
3.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Perdagangan Bebas
Perdagangan bebas adalah perdagangan antar negara yang dilakukan tanpa
tarif protektif, kuota impor atau ekspor, atau jenis lain dari keterbatasan. Sebuah
perjanjian perdagangan bebas adalah pengaturan antara negara-negara dimana
perdagangan produk dan jasa yang setuju untuk lulus tanpa pembatasan antara
mereka. Sebuah kawasan perdagangan bebas adalah wilayah di mana negara telah
membuat kesepakatan untuk tidak membatasi perdagangan dan / atau untuk
membatasi pengenaan tarif dan kuota1.

B. Ketentuan MEA yang Melanjutkan AFTA


Sebelum membahas terkait dengan peraturan MEA yang melanjutkan AFTA,
perlu dikaji terlebih dahulu AFTA secara umum. ASEAN Free Trade Area atau
disingkat sebagai AFTA merupakan sebuah kesepakatan negara ASEAN membentuk
suatu kawasan perdagangan bebas di ASEAN. Pembentukan ini disepakati tahun 1992
dan dibentuk untuk menjadikan kawasan ASEAN sebagai tempat produksi ASEAN
yang kompetitif sehingga memiliki daya saing kuat di pasar global. Selain itu,
diharapkan akan mampu menarik lebih banyak Foreign Direct Investment (FDI) dan
meningkatkan perdagangan anggota ASEAN. CEPT agreement merupakan main
mechanism dari AFTA, ditandatangani pada tanggal 28 Januari 1992 dan dilakukan
secara bertahap.2 Tujuan strategis dari AFTA adalah meningkatkan keunggulan
komparatif regional ASEAN sebagai suatu kesatuan unit produksi dan untuk itu,
penghapusan rintangan tariff dan non-tarif diantara negara ASEAN diharapkan untuk
meningkatkan efisiensi ekonomi, produktivitas dan daya saing negara ASEAN.
Tujuan ini diimplementasikan dengan CEPT agreement yang mengatur tentang
pemberian waktu 5-8 tahun untuk mengurangi tariff terhadap produk-produk yang
ditentukan hingga kurang dari 20%. Meskipun begitu, mereka bebas untuk membuat

1 Free Trade Area, diakses di


http://www.investopedia.com/terms/f/free_trade_area.asp pada 03 April 2017
pukul 12.16 WIB

2 http://www.kemendag.go.id/files/regulasi/2002/01/AFTA.htm
rencana individual untuk mengurangi bea masuk. 3 Selain itu terdapat pengaturan
mengenai penghapusan rintangan non-tarif lainnya. Untuk barang yang tidak
termasuk ke dalam regime CEPT-AFTA yaitu selain manufaktur dan pertanian, setiap
margin preferensi yang diakui sebelumnya dalam PTA (Preferential Trade
Association) tetap berlaku.4
Kemudian di dalam CEPT-AFTA, terdapat rules of origin yaitu ketentuan asal
barang yang merupakan ketentuan yang memuat bahwa untuk menikmati tariff CEPT,
sebiah produk harus memenuhi kriteria sebagai produk ASEAN, yaitu paling sedikit
40% dari kandungannya berasal dari ASEA. Hasil dari AFTA ini ialah enam negara
ASEAN yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei dan Filipina telah
menurunkan tariff bea masuk impor menjadi 0%. Sementara, negara ASEAN lainnya
akan menurunkan tarifnya secara bertahap hingga mencapai 0% di tahun 2015 silam.
Jadi, AFTA merupakan upaya negara ASEAN untuk menciptakan liberalisasi
perdagangan barang di ASEAN dan hanya mengatur tentang hal tersebut.
Selanjutnya, sebelum masuk ke pokok permasalahan, perlu dikaji pula
mengenai MEA itu sendiri. Masyarakat ASEAN merupakan upaya negara ASEAN
untuk mengintegrasikan kawasan ASEAN untuk menjadi aman, stabil dan memiliki
daya saing. Masyarakat ASEAN diperkuat dengan Tiga Pilar yaitu political-security
community, economic community atau MEA dan socio-cultural community.
Tujuan pembentukan MEA ada empat, yaitu:
a. Untuk mewujudkan kawasan single market dan production base, yaitu
kawasan yang memiliki tingkat konsumsi domestik yang tinggi sekaligus
menjadi bagian dari mata rantai produksi dunia. Hal tersebut diwujudkan
melalui dipermudahnya arus perdagangan untuk sektor barang, jasa, investasi,
pekerja terampil dan modal.
b. Untuk menjadi kawasan yang mampu berdaya saing tinggi di dunia. Hal
tersebut diwujudkan melalui kerja sama pembentukan regional competition
policy, IPRs action plan, pengembangan infratruktur, kerja sama energy,
perpajakan, serta pengembangan usaha kecil dan menengah.
c. Untuk mewujudkan suatu kawasan dengan mewujudkan suatu kawasan
pembangunan ekonomi yang merata agar mencapai kestabilan ekonomi jangka
panjang. Upaya yang harus dilakukan adalah melalui kerja sama

3 Huala Adolf, 2011, Hukum Ekonomi Internasional, Bandung: CV Keni Media, hlm. 108.

4 Beverly M. Carl, 2001, Trade and Developing World in the 21st Century, New York: Transnational
Publishers, hlm. 243.
pengembangan UKM serta realisasi dari program-program pemerataan
ekonomi di negara CLMV melaui ASEAN Initiative for ASEAN Integration.
d. Untuk dapat berperan aktif dan berintegrasi penuh dalam ekonomi global.
Seiring dengan meningkatnya investasi dan perdagangan, maka ASEAn harus
mengambil inisiatif agar dapat berperan aktif dalam menentukan arah
kebijakan perdagangan global.
Untuk mewujudkan MEA pada tahun 2015, seluruh negara ASEAN harus
melakukan liberalisasi perdagangan barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil
secara bebas dan arus modal yang lebih bebas yang semuanya diamanatkan dalam
AEC Blueprint. Oleh karena itu MEA merupakan langkah lebih maju dan
komprehensif dari kesepakatan perdagangan bebas AFTA.5
Komponen arus perdagangan bebas barang tersebut meliputi penurunan dan
penghapusan tariff secara signifikan maupun penghapusan hambatan non-tarif sesuai
dengan ketentuan AFTA. AFTA hanya mengatur liberalisasi perdagangan barang
dengan penurunan tariff bea masuk sedangkan MEA lebih komprehensif dan
berdimensi kerja sama. Jadi, ketentuan perdagangan bebas dalam MEA yang tertuang
dalam AEC blueprint merupakan kelanjutan dari CEPT-AFTA dan memuat ketentuan
yang lebih mencakup banyak dibanding CEPT-AFTA.
Arus perdagangan bebas barang yang dilanjutkan dari AFTA melalui MEA
tertuang dalam MEA Blueprint6, khususnya pada poin A1 Free Flow of Goods MEA
blueprint. Di dalamnya mengatur bahwa arus perdagangan bebas barang ini tidak
hanya menghilangkan tariff bea masuk namun juga menghapuskan halangan non-
tariff. Selain itu, komponen utama lain adalah langkah-langkah untuk memfasilitasi
perdagangan barang seperti mengintegrasilan prosedur kepabeanan, mendirikan
ASEAN Single Window dan terus meningkatkan CEPT Rules of Origin termasuk
Operational Certification Procedures dan harmonisasi standard dan kesesuaian
prosedur.
Kemudian di poin A1 nomor 13, terdapat elimination of tariff atau
mengeliminasi tariff kepada semua barang-barang negara ASEAN dihapuskan tariff
bea masuk yang disesuaikan dengan jadwal dan komitmen dalam CEPT-AFTA.
Selanjutnya juga emilination of non-tariff barriers, seperti yang dijelaskan
sebelumnya bahwa halangan-halangan terhadap pengenaan non-tariff juga

5 http://www.kemlu.go.id/Majalah/ASEAN%207%202015.pdf

6 MEA blueprint http://asean.org/wp-content/uploads/archive/5187-10.pdf


dihapuskan. Ketentuan lainnya ialah rules of origin yang sebelumnya juga diatur
dalam CEPT-AFTA. Kesemua pengaturan diatas tersebut merupakan ketentuan dari
MEA yang melanjutkan AFTA. Selain daripadanya, juga terdapat pengaturan lain
yang lebih komprehensif dari AFTA.
Kemudian pada tanggal 14 Februari 2009 disepakati ATIGA atau ASEAN
Trade in Goods Agreement yang memuat kodifikasi atas seluruh kesepakatan ASEAN
dalam liberalisasi perdagangan barang yang menggantikan CEPT Agreement serta
ATIGA memuat ketentuan yang lebih komprehensif mengenai perdagangan barang
dan merupakan penyempurnaan dari perjanjian ASEAN dalam perdagangan barang
yang disesuaikan dengan AEC blueprint terkait dengan pergerakan arus barang
sebagai salah satu elemen pembentuk pasar tunggal dan basis produksi regional.7
Berdasarkan pembahasan di atas, maka kegiatan arus perdagangan bebas
barang atau free flow of goods yang merupakan salah satu upaya AEC Blueprint
dalam mewujudkan MEA dengan kekuatan pasar tunggal dan basis produksi
merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari ketentuan perjanjian CEPT-AFTA
sebelumnya.

C. ASEAN Trade on Goods Agreement (ATIGA)


Salah satu tujuan utama dibentuknya ASEAN adalah untuk membentuk
kerjasama ekonomi antarnegara ASEAN. Untuk mewujudkan hal tersebut, negara-
negara anggota ASEAN telah menyepakati ASEAN Trade in Goods Agreement
(ATIGA) pada pertemuan KTT ASEAN ke-14 tanggal 27 Februari 2009 di Chaam,
Thailand.8 ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA) merupakan kodifikasi atas
keseluruhan kesepakatan ASEAN dalam liberalisasi dan fasilitasi perdagangan barang
(trade in goods). Dengan demikian, ATIGA merupakan pengganti CEPT Agreement
serta penyempurnaan perjanjian ASEAN dalam perdagangan barang secara
komprehensif dan integratif yang disesuaikan dengan kesepakatan ASEAN Economic
Community (AEC) Blueprint terkait dengan pergerakan arus barang (free flow of

7 http://download.portalgaruda.org/article.php?article=188314&val=6466&title=KESESUAIAN
%20ATURAN%20MULTILATERAL%20AGREEMENT%20ON%20TRADE%20IN%20GOODS
%20WTO%20DENGAN%20ATIGA%20(ASEAN%20TRADE%20IN%20GOODS
%20AGREEMENT

8 Desy Dinasari, et. al., Kesesuaian Aturan Multilateral Agreement on Trade in


Goods WTO dengan ATIGA (ASEAN Trade in Goods Agreement), Fakultas Hukum
Universitas Brawijaya Malang, hlm. 2
goods) sebagai salah satu elemen pembentuk pasar tunggal dan basis produksi
regional.9
ATIGA mengkonsolidasikan semua ketentuan dalam CEPT-AFTA dan memformalkan
sejumlah kebijakan pemerintahan, sehingga ATIGA berperan sebagai instrumen
hukum tunggal untuk pelaksana pemerintahan yang mengimplementasikan perjanjian
ini dan juga bagi sektor privat yang bertindak sebagai beneficiary.10
Pada subbab ini, akan dibahas sejumlah ketentuan-ketentuan penting dari ATIGA:
1. Tariff Liberalization
Pembebasan tariff merupakan salah satu ciri dari sistem ekonomi internasional
yang modern.11 Ketentuan mengenai pembebasan tariff terdapat pada Bab 2 ATIGA.
Pasal 19 ayat (1) mewajibkan bagi negara anggota untuk menghilangkan bea impor
(import duties) bagi semua produk yang diperdagangkan di antara negara anggota
kecuali ditentukan lain dalam perjanjian ini, pada tahun 2010 bagi ASEAN 6, yakni
Indonesia, Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina, dan
keringanan hingga 2018 bagi negara-negara CLMV, yakni Kamboja, Lao PDR,
Myanmar, dan Vietnam.12 Kemudian, ayat (2) di Pasal yang sama memberikan
kewajiban bagi negara anggota untuk mengurangi atau menghilangkan bea impor
pada originating goods.13

9 Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Menuju ASEAN Economic


Community 2015,. Jakarta, Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan
Internasional, 2013, hal 19.

10 ASEAN Economic Cooperation Division Ministry of International Trade and


Industry, ASEAN Trade in Goods Agreement,
http://www.miti.gov.my/miti/resources/fileupload/Write-up%20on%20ASEAN
%20Trade%20in%20Goods%20Agreement%20%28ATIGA%29.pdf., hlm. 1

11 Matthias Herdegen, Principles of International Economic Law, Oxford: Oxford


University Press, 2013, hlm. 54

12 Pasal 19 (1) ASEAN Trade on Goods Agreement

13 Pasal 19 (2) ASEAN Trade on Goods Agreement


Ketentuan-ketentuan lain pada bab ini antara lain adalah penghilangan tariff rate
quotas (TQR),14 kewajiban untuk mengundangkan peraturan perundang-undangan
nasional sesuai dengan Pasal 19 ATIGA,15 dan perlakuan khusus untuk nasi dan gula.16
2. Non-tariff measures (NTM)
Apabila didefinisikan secara luas, NTM termasuk semua kebijakan yang
berkaitan dengan biaya perdagangan yang timbul dari produksi hingga barang sampai
ke tangan konsumen yang tidak termasuk bea. (NTMs include all policy-related trade
costs incurred from production to final consumer, with the exclusion of tariffs).17
ATIGA pada Pasal 40 melarang negara anggota untuk mengimplementasikan NTM
untuk impor barang dari negara anggota lainnya, atau ekspor barang yang ditujukan
untuk negara anggota, kecuali apabila memang sudah ada hak dan kewajiban yang
timbul dari perjanjian WTO.18 Bab 4 ATIGA juga melarang pembatasan kuantitatif
barang impor dan ekspor,19 dan jugauntuk menggunakan non-tariff barriers (NTB)
lain selain pembatasan kuantitatif.20
3. Rules of Origin (RoO)
RoO adalah kriteria yang digunakan untuk menentukan negara yang menjadi
sumber dari suatu barang.21 Apabila suatu barang memenuhi kriteria tersebut, maka
barang tersebut akan disebut sebagai originating goods.22 Penentuan apakah suatu
barang bisa disebut originating goods atau tidak penting untuk aplikasi sejumlah
Pasal dalam ATIGA, misalnya dalam Pasal 19 ayat (2).

14 Pasal 20 ASEAN Trade on Goods Agreement

15 Pasal 21 ASEAN Trade on Goods Agreement

16 Pasal 24 ASEAN Trade on Goods Agreement

17 United Nations Conference on Trade and Development, Non-Tariff Measures to


Trade: Economic and Policy Issues for Developing Countries, United Nations
Publications, 2013, hlm. 1

18 Pasal 40 ayat (1) ASEAN Trade on Goods Agreement

19 Pasal 41 ASEAN Trade on Goods Agreement

20 Pasal 42 ayat (1) ASEAN Trade on Goods Agreement

21 World Trade Organization, Technical Information on Rules of Origin,


https://www.wto.org/english/tratop_e/roi_e/roi_info_e.htm, diakses 2 April 2017

22 Pasal 2 ayat (1) (l) ASEAN Trade on Goods Agreement


RoO yang ditentukan oleh ATIGA adalah:23
a. Barang yang sepenuhnya diperoleh atau diproduksi di negara anggota
pengekspor, yaitu barang-barang yang dispesifikasikan dalam Pasal 27
ATIGA.
b. Barang yang tidak sepenuhnya diperoleh atau diproduksi di negara
pengekspor, dengan syarat yang ditentukan dalam Pasal 28 ATIGA.
4. Trade facilitation
Salah satu kendala terbesar dari perdagangan antarnegara adalah banyaknya
penundaan-penundaan birokratis atau biaya dan waktu yang berlebihan dalam
perizinan. Maka, salah satu ketentuan dari ATIGA yang bertujuan untuk menciptakan
kerjasama ekonomi yang kondusif di ASEAN adalah trade facilitation.
WTO mendefinisikan trade facilitation sebagai: the simplification, modernization and
harmonization of export and import processes.24 Simplifikasi ini mesti mencakup
prosedur bea cukai, regulasi dan prosedur, standard dan kesesuaian, sanitasi dan
fitosanitasi, ASEAN Single Window, dan lainnya yang diidentifikasi Dewan AFTA.25
Pasal 47 dari ATIGA kemudian menyampaikan prinsip-prinsip trade facilitation,
yaitu: transparansi, komunikasi dan konsultasi, simplifikasi, kepraktisan, dan
efisiensi, non-diskriminasi, konsistensi dan kemungkinan prediksi, harmonisasi,
standardisasi dan rekognisi, modernisasi, proses hukum, dan kerjasama.26
Trade facilitation penting lainnya adalah penggunaan National Single Window
(NSW). NSW adalah pemberian fasilitas bagi para pihak yang terlibat dalam suatu
perdagangan untuk mengajukan informasi terstandardisasi dan dokumen-dokumen
yang diperlukan untuk keperluan ekspor dan impor lewat satu jendela saja.27 ATIGA
mewajibkan negara anggota untuk mengaplikasikan ASEAN Single Window sesuai
dengan Agreement to Establish and Implement the ASEAN Single Window dan
Protocol to Establish and Implement the ASEAN Single Window.28
5. Customs

23 Pasal 26 ASEAN Trade on Goods Agreement

24 World Trade Organization, Trade facilitation,


https://www.wto.org/english/tratop_e/tradfa_e/tradfa_e.htm, diakses 3 April 2017

25 Pasal 46 ASEAN Trade on Goods Agreement

26 Pasal 47 ASEAN Trade on Goods Agreement

27 Kah-Wei Chong, Legal and Regulatory Aspects of International Single Window


Implementation: The ASEAN Experience, Global Trade & Customs Journal, Vol 4,
Issue 6
Mengenai customs diatur dalam Bab 6 ATIGA. Tujuan dari pengaturan
customs dalam ATIGA adalah:29
a. Memastikan prediktabilitas, konsistensi, dan transparansi dalam aplikasi
hukum bea cukai dari negara anggota;
b. Mempromosikan efisiensi dan administrasi ekonomi dari prosedur bea cukai
dan izin yang cepat dalam masuknya barang-barang;
c. Simplifikasi dan harmonisasi prosedur bea cukai;
d. Mempromosikan kerjasama antar pegawai bea cukai.
Bab 6 ini pada dasarnya ada untuk memastikan agar peraturan perundang-
undangan mengenai bea cukai di tiap negara anggota di ASEAN dibuat agar
mengikuti dan menyesuaikan dengan dasar-dasar dan asas yang dimaksud dalam
ATIGA, yaitu prediktabilitas, konsistensi, transparansi, dan fasilitasi perdagangan
(trade facilitation), agar terciptanya proses perizinan yang cepat.

6. Standards and conformance


Bab 7 ATIGA mengatur tentang standard, regulasi teknis, dan prosedur
penilaian kesesuaian (standards, technical regulations, and conformity assessment
procedures). Tujuan pengaturan ini adalah untuk menetapkan ketentuan mengenai
standard, regulasi teknis, dan prosedur penilaian kesesuaian untuk memastikan tidak
adanya halangan yang tidak semestinya ada dalam perdagangan di ASEAN, sehingga
mendukung tujuan ATIGA yaitu membuat pasar tunggal di ASEAN.30
Kewajiban utama dari bab ini adalah untuk menegaskan kembali bahwa negara
anggota ATIGA berkomitmen untuk patuh pada ketentuan dalam Agreement on
Technical Barriers to Trade yang tercantum dalam Annex 1A dari Perjanjian WTO. 31
Negara anggota juga mesti menghilangkan sepenuhnya, atau setidak-tidaknya
mengurangi, hambatan-hambatan yang tidak diperlukan dalam perdagangan dengan
cara:32
a. Harmonisasi standard nasional dengan praktik dan standard internasional yang
relevan;

28 Pasal 49 ASEAN Trade on Goods Agreement

29 Pasal 51 ASEAN Trade on Goods Agreement

30 Pasal 71 ASEAN Trade on Goods Agreement

31 Pasal 73 ayat (1) ASEAN Trade on Goods Agreement

32 Pasal 73 ayat (2) ASEAN Trade on Goods Agreement


b. Mempromosikan pengakuan hasil penilaian kesesuaian di antara negara
anggota;
c. Mengembangkan dan mengimplementasikan ASEAN Sectoral Mutual
Recognition Arrangements dan mengembangkan ASEAN Harmonised
Regulatory Regimes dalam area-area teregulasi apabila memungkinkan;
d. Mendorong kerjasama di antara Badan Akreditasi Nasional (National
Accreditation Bodies) dan Institusi Metrologi Nasional (National Metrology
Institutes).
Kemudian, terkait standard yang hendak digunakan, negara anggota mesti
mengikuti Code of Good Practice for the Preparation, Adoption, and Application of
Standards seperti yang telah tercantum Annex 3 dari Agreement on Technical
Barriers.33
7. Sanitary and phytosanitary measures
Sanitary and phytosanitary measures diatur di antaranya untuk memberikan
fasilitasi perdagangan sembari melindungi manusia, hewan, ataupun tumbuhan di tiap
negara anggota.34 Sebagai bentuk implementasinya, ATIGA membuat ASEAN
Committee on Sanitary and Phytosanitary Measures (AC-SPS) yang berfungsi untuk
memfasilitasi pertukaran informasi insiden atau perubahan regulasi mengenai sanitasi
dan fitosanitasi yang mungkin berdampak pada perdagangan, memfasilitasi kerjasama
di bidang sanitasi dan fitosanitasi, menyelesaikan isu-isu sanitasi dan fitosanitasi, dan
membuat laporan periodic mengenai pengembangan dan rekomendasi dalam
implementasi fungsi-fungsi tersebut.35

33 Pasal 74 ayat (1) ASEAN Trade on Goods Agreement

34 Pasal 79 poin a ASEAN Trade on Goods Agreement

35 Pasal 82 ayat (2) ASEAN Trade on Goods Agreement


BAB III
PEMBAHASAN

A. Dampak ASEAN Trade In Good Agreement terhadap perekonomian Indonesia

ATIGA merupakan kodifikasi atas keseluruhan kesepakatan ASEAN dalam


perdagangan barang, baik dalam Common Effective Preferential Tariff (CEPT)
Agreement maupun keputusan penting lainnya yang sebelumnya tertuang didalam
berbagai bentuk dokumen hukum yang terpisah, seperti dalam protokol atau
persetujuan lainnya. ATIGA merupakan penyempurnaan perjanjian ASEAN dalam
bidang perdagangan dan menjadi pengganti CEPT Agreement karena lebih
komprehensif dan integratif. ATIGA juga sesuai dengan kesepakatan Cetak Biru
Komunitas Ekonomi ASEAN, khususnya yang terkait dengan pergerakan arus barang
yang menjadi salah satu elemen pembentukan pasar tunggal dan basis produksi
regional.

Tujuan ATIGA adalah untuk mencapai arus barang yang bebas, meniminalisir
hambatan dan memperkuat kerjasama antar negara anggota ASEAN, menurunkan
biaya usaha, meningkatkan perdagangan, investasi, dan efisiensi ekonomi,
menciptakan pasar yang lebih besar dengan kesempatan dan skala ekonomi yang lebih
besar untuk para pelaku usaha dan menciptakan lingkungan investasi yang kompetitif.

Keuntungan ATIGA bagi Indonesia:

1 Indonesia mendapatkan akses pasar yang lebih besar di ASEAN


2 Mengatasi kesenjangan prinsip utama seperti MFN, Non Tariff, dan modifikasi
konsesi yang selama ini tidak tercakup dalam CEPT Agreement
3 ATIGA dapat dijadikan referinsi hukum yang lengkap bagi pemerintah ataupun
pelaku usaha, khususnya dalam bidang perdagangan
4 Menjamin ketentuan-ketentuan untuk meningatkan arus barang bebas
5 Menguntungkan ekspor dan investasi jangka panjang36

Namun dengan adanya ATIGA maka pasar perdagangan ASEAN semakin


terintegrasi, yang mana hal ini membuat Indonesia harus meningkatkan daya saingnya
yang dapat dilakukan dengan cara:

1 Meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan kualitas produksi

36 http://www.kemlu.go.id/Majalah/BULETIN%20KOMUNITAS%20ASEAN%203.pdf
diakses pada hari Senin tanggal 2 April 2017 pukul 14.55 WIB
2 Menciptakan iklim usaha yang kondusif dalam rangka meningkatkan daya
saing
3 Memperluas jaringan pemasaran
4 Meningkatkan kemampuan dan penguasaan teknologi informasi dan
komunikasi sehingga dapat meningkatkan promosi37

Dampak yang dirasakan langsung bagi Indonesia sejak menandatangani ASEAN


Trade on Goods Agreement Ekspor ke ASEAN di Indonesia meningkat menjadi
3226,32 USD Juta pada Desember dari 3020,68 USD Juta pada bulan November
2016. Ekspor ke ASEAN di Indonesia rata-rata 1949,64 USD Juta dari tahun 1998
sampai 2016, mencapai semua waktu tinggi dari 4002 USD Juta pada bulan Desember
2013 dan rekor rendah 495,70 USD Juta pada bulan Januari 1999 38. Berkaitan dengan
perdagangan barang ini, ASEAN juga berhasil menyelesaikan pembahasan substantif
mengenai ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA), yang diharapkan akan
ditandatangani pada bulan Desember 2008. ATIGA mengintegrasikan semua inisiatif
ASEAN yang berkaitan dengan perdagangan barang kedalam suatu comprehensive
framework, menjamin sinergi dan konsistensi di antara berbagai inisiatif. ATIGA
akan meningkatkan transparansi, kepastian dan meningkatkan AFTA-rules-based
system yang merupakan hal yang sangat penting bagi komunitas bisnis ASEAN.

ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA) merupakan capaian penting yang


mengkodifikasi dan penyempurnaan kesepakatan ASEAN di bidang perdagangan
barang, yakni Agreement on Common Effective Preferential Tariff Scheme for the
ASEAN Free Trade Area (CEPT-AFTA,1992), Mutual Recognition Arrangement
(MRA, 1998), e-ASEAN (2000), Sektor Prioritas Integrasi (2004), dan perjanjian
ASEAN Single Window (ASW, 2005). Khusus untuk pengurangan / penghapusan tarif
dan hambatan non-tarif internal ASEAN, ATIGA menegaskan kembali kesepakatan
yang telah dicapai sebelumnya, yakni penghapusan seluruh tarif atas produk dalam
kategori Inclusion List (IL) pada 1 Januari 2010 bagi ASEAN-6, dan 2015-2018 bagi
ASEAN-4 (Cambodia, Laos, Myanmar dan Vietnam CLMV), serta penghapusan

37 http://dspace.library.uph.edu:8080/bitstream/123456789/2257/1/lw-13-02-
2013-kerjasama_ASEAN_manfaat_dan.pdf diakses pada tanggal 2 April 2017
pukul 17.15 WIB

38 http://www.tradingeconomics.com/indonesia/exports-to-asean diakses pada


hari Senin tanggal 3 April 2017 pukul 16.30 WIB
hambatan non tarif pada 1 Januari 2010 bagi ASEAN-5, 1 Januari 2012 bagi
Philippines, dan 2015 bagi CLMV39.

B. Penyesuaian Peraturan Perundang-Undangan Indonesia terhadap ASEAN


Trade on Goods Agreement

Terkait dengan ASEAN Trade on Goods Agreement, Indonesia pun


menyesuaikan peraturan perundangan-undangan, dilihat dari terbentuknya Peraturan
Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 178/PMK.04/2013 tentang Pengenaan
Tarif Bea Masuk Dalam Skema ASEAN Trade in Goods Agreement dengan
Menggunakan Sistem Sertifikasi Mandiri (Self-Certification). Dalam pertimbangan
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 178/PMK.04/2013, secara
garis besar menyebutkan bahwa dasar dari pembentukannya adalah untuk
penyerdahanaan prosedur sertifikasi operasional dan prosedur ketentuan asal barang,
serta memfasilitasi perdagangan barang yang berasal dari ASEAN, termasuk
pengenalan terhadap suatu skema sertifikasi mandiri, kawasan agar sejalan dengan
tujuan cetak biru Masyarakat Ekonomi ASEAN. Dengan diundangkannya Peraturan
Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 178/PMK.04/2013 maka sudah sesuai
dengan amanat dalam pelaksanaan Rule of Origin.40

39 www.kemlu.go.id/Documents/Kerjasama%20Ekonomi%20ASEAN.doc dikases
pada hari Senin tanggal 3 April 2017 pukul 17.15 WIB

40 http://download.portalgaruda.org/article.php?
article=188314&val=6466&title=KESESUAIAN ATURAN MULTILATERAL
AGREEMENT ON TRADE diakses pada hari Senin tanggal 3 April 2017 pukul 17.45
WIB
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dipaparkan sebelumnya didapat kesimpulan
sebagai berikut:
1. Terdapat keuntungan terhadap perkenomian Indonesia dengan adanya
ASEAN Trades on Goods Agreement yang diselaraskan pula dengan
peningkata daya saing ekonomi di dalam negeri dari kualitas produksi
hingga penggunaan teknologi; dan
2. Terkait dengan ASEAN Trade on Goods Agreement, Indonesia pun
menyesuaikan peraturan perundangan-undangan, dilihat dari terbentuknya
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 178/PMK.04/2013
tentang Pengenaan Tarif Bea Masuk Dalam Skema ASEAN Trade in Goods
Agreement dengan Menggunakan Sistem Sertifikasi Mandiri (Self-
Certification).
B. Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya kami
akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan
sumber - sumber yang lebih banyak yang tentunga dapat di pertanggung jawabkan.
DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku dan Jurnal:

Chong, Kah-Wei, Legal and Regulatory Aspects of International Single Window


Implementation: The ASEAN Experience, Global Trade & Customs Journal, Vol 4,
Issue 6

Desy Dinasari, et. al., Kesesuaian Aturan Multilateral Agreement on Trade in Goods WTO
dengan ATIGA (ASEAN Trade in Goods Agreement), Fakultas Hukum Universitas
Brawijaya, Malang

Herdegen, Matthias, Principles of International Economic Law, Oxford University Press,


Oxford, 2013.

Huala Adolf, Hukum Ekonomi Internasional, CV Keni Media, Bandung, 2011.

Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Menuju ASEAN Economic Community 2015,


Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional, Jakarta, 2013.

M. Carl, Beverly, Trade and Developing World in the 21st Century, Transnational Publishers,
New York, 2001.

United Nations Conference on Trade and Development, Non-Tariff Measures to Trade:


Economic and Policy Issues for Developing Countries, United Nations Publications,
2013

Sumber Peraturan Perundang-Undangan:

ASEAN Trade on Goods Agreement

Sumber Internet:

Free Trade Area, diakses di http://www.investopedia.com/terms/f/free_trade_area.asp


http://www.kemendag.go.id/files/regulasi/2002/01/AFTA.html

http://www.kemlu.go.id/Majalah/ASEAN%207%202015.pdf

MEA blueprint, http://asean.org/wp-content/uploads/archive/5187-10.pdf


http://download.portalgaruda.org/article.php?
article=188314&val=6466&title=KESESUAIAN%20ATURAN%20MULTILATERAL
%20AGREEMENT%20ON%20TRADE%20IN%20GOODS%20WTO%20DENGAN
%20ATIGA%20(ASEAN%20TRADE%20IN%20GOODS%20AGREEMENT)

ASEAN Economic Cooperation Division Ministry of International Trade and Industry,


ASEAN Trade in Goods Agreement,
http://www.miti.gov.my/miti/resources/fileupload/Write-up%20on%20ASEAN
%20Trade%20in%20Goods%20Agreement%20%28ATIGA%29.pdf.

World Trade Organization, Technical Information on Rules of Origin,


https://www.wto.org/english/tratop_e/roi_e/roi_info_e.htm

World Trade Organization, Trade facilitation,


https://www.wto.org/english/tratop_e/tradfa_e/tradfa_e.htm

http://www.kemlu.go.id/Majalah/BULETIN%20KOMUNITAS%20ASEAN%203.pdf

http://dspace.library.uph.edu:8080/bitstream/123456789/2257/1/lw-13-02-2013-
kerjasama_ASEAN_manfaat_dan.pdf

http://www.tradingeconomics.com/indonesia/exports-to-asean

www.kemlu.go.id/Documents/Kerjasama%20Ekonomi%20ASEAN.doc

http://download.portalgaruda.org/article.php?
article=188314&val=6466&title=KESESUAIAN ATURAN MULTILATERAL
AGREEMENT ON TRADE
MAKALAH

Dampak ASEAN Trade In Good Agreement terhadap Indonesia

Disusun untuk memenuhi Mata Kuliah


Hukum Ekonomi Internasional

Dosen:
Dr. Hj. Itje K. Andries, S.H., M.H.
Dr. Hj, Sinta Dewi, S.H., LL.M.

Penyusun:
Fauzi Maulana Hakim110110140183
Naradipatya Pratanjana 110110140275
Fajar Utama 110110140278
Agumsyah Maulana R. 110110140309
Asep Safaat 110110140310
Palestiniaty 110110140315

Fakultas Hukum
Universitas Padjadjaran
2017
Bandung