Anda di halaman 1dari 10

Pontik

Definisi :

Pontik/ Dummy, adalah bagian dari unit GTC yang mengganti gigi
yang hilang serta merestorasi fungsi gigi tersebut (Padila, dan Rosenstiel,
dkk. 1995).
Keberhasilan atau kegagalan dari suatu GTC sebagian besar
tergantung dari desain pontik. Desain ini harus dapat mencakup; fungsi,
estetis, kuat, mudah dibersihkan, kepuasan pasien dan memelihara
kesehatan jaringan di bawahnya (Padila, dan Rosenstiel, dkk. 1995).

Persyaratan Pontik

1. Dapat menahan daya kunyah atau daya gigit.


Ini berarti suatu pontik harus kaku (rigid) dan tidak boleh
membengkok atau patah akibat tekanan daya kunyah. Suatu pontik
harus mempunyai kekerasan permukaan yang cukup untuk menahan
kikisan (atrisi) gigi lawan (Padila, dan Rosenstiel, dkk. 1995).

2. Mempunyai estetika yang baik.


Pontik anterior, terutama bagian bukal dan labial, harus mempunyai
bentuk dan ukuran anatomis dari gigi ash yang digantinya. Warna dari
bagian luar pontik (facing) harus sama dengan warna gigi asli lainnya
(Padila, dan Rosenstiel, dkk. 1995).

3. Tidak menyebabkan iritasi pada gusi.


Syarat ini berhubungan erat dengan bahan yang dipakai untuk
membuat pontik, bentuk pontik dan posisi pontik terhadap gusi (Padila, dan
Rosenstiel, dkk. 1995).
4. Mudah dibersihkan.
Oral hygiene yang tidak diperhatikan merupakan sebab utama
dari peradangan gusi dan gangguan-gangguan periodontal. Oleh karena itu
pontik harus dibuat sedemikian rupa sehingga sisa-sisa makanan tidak
mudah berkumpul membusuk. Desain pontik harus mudah dibersihkan
dengan sikat gigi/dental floss (Padila, dan Rosenstiel, dkk. 1995).

5. Beban tidak berlebihan.


Desain pontik tidak boleh menyebabkan beban yang berlebihan
pada gigi abutment. Hal di atas dapat terjadi, kalau permukaan oklusalnya
terlampau lebar. Untuk mengurangi beban tersebut, lebar buko-lingualnya
dikurangi (Padila, dan Rosenstiel, dkk. 1995).

Pontik dapat dibuat seluruhnya dari logam atau merupakan


kombinasi antara logam sebagai backing dan porselen / resin sebagai
facing. Jenis kombinasi facing-backing lebih disukai karena porselen jarang
menimbulkan alergi/ iritasi pada jaringan di bawahnya (Padila, dan
Rosenstiel, dkk. 1995).

Selain itu porselen telah terbukti mudah dibersihkan dan lebih


higienis dibanding material-material lainnya. Resin akrilik sebaiknya tidak
dipergurtakan terutama pada bagian yang berdekatan dengan jaringan
mukosa mulut, dikarenakan bahan tersebut mempunyai sifat porous dan
sukar untuk dilakukan pemolesan yang sempurna (Padila, dan Rosenstiel,
dkk. 1995).

Bentuk dan kontak secara alami antara pontik dengan jaringan di


bawahnya merupakan hal yang sangat penting, karena kontak yang
berlebihan akan menyebabkan kegagalan suatu GTC. Daerah kontak
antara pontik dengan jaringan di bawahnya dibuat kecil / sesedikit
mungkin, dan bagian yang kontak tersebut dibuat cembung. Peradiran pada
daerah kontak untuk tujuan estetis yang dilakukan pada model kerja
merupakan kontra indikasi karena hal ini akan menyebabkan inflamasi.
Bagian embrasure mesial, distal dan lingual/palatinal dibuat terbuka lebar
sehingga memungkinkan pasien menggunakan dental floss untuk
membersihkannya (Padila, dan Rosenstiel, dkk. 1995).
Pontik yang dirancang untuk daerah yang mudah terlihat
appearance zone harus dapat memberi gambaran seperti gigi asli tanpa
mengabaikan prinsipprinsip kebersihan. Sementara itu pontik yang
dirancang untuk daetah yang tidak mudah terlihat nonappearance zone
(biasanya pada gigi-gigi posterior rahang bawah) diutamakan hanya untuk
merestorasi fungsi daft mencegah gigi tetangganya bergeser. Pontik
sebaiknya segaris dengan retainer, hal ini untuk mencegah gerakan torsi
pada retainer / gigi pegangannya. Pontik juga dibuat lebih sempit
dibandiiig dengan gigi pegangannya, sehingga tekanan pengunyahan yang
berasal dari gigi antagonisnya dapat diperkecil sehingga beban pada gigi
pegangan akan menjadi berkurang (Padila, dan Rosenstiel, dkk. 1995).

Di dalam terminologi yang digunakan untuk menggambarkan


pontik terdapat dua istilah; design pontic dan type pontic (Padila, dan
Rosenstiel, dkk. 1995).

Design Pontic

1. Saddle Pontic

Saddle pontic menutup seluruh permukaan rongga gigi dan


embrasur, permukaan yang menghadap gingiva cekung sehingga sulit
dibersihkan , biasanya digunakan untuk regio anterior karena mempunyai
estetika yang cukup baik . Pontik ini paling menyerupai gigi asli, karena
dapat menggantikan seluruh gigi yang hilang tanpa merubah bentuk
anatominya. Bagian embrasure mesial dan distal tertutup, permukaan
bukal overlaps pada daerah edentulous ridge dengan bagian yang kontak
berbentuk cekung. Keadaan ini menyebabkan kebersihan kurang terjamin
sehingga akan menghasilkan peradangan pada jaringan di bawahnya.
Sebaiknya pontik jenis ini tidak dipakai/ dipergunakan (Shillingburg.
dkk.,1997).
2. Ridge Lap Pontic,

Pontik ini mempunyai gambaran seperti gigi asli, tetapi mempunyai


permukaan yang cembung pada daerah yang kontak dengan jaringan di
bawahnya sehingga memudahkan proses pembersihan. Pontik tipe ridge lap,
mirip dengan tipe saddle tetapi bagian lingual yang kontak dengan ridge tidak
seluas tipe saddle. Permukaan lingual pontic ini berbentuk
membelok/melengkung sedikit untuk mencegah terjadinya akumulasi sisa
makanan, bagian bukal sedikit cembung, daerah cervikalnya menempel pada
gingiva sehingga memungkinkan jenis ini untuk daerah yang mudah terlihat (
appearance zone ). Pontik ini bisa digunakan untuk RA maupun RB
(Shillingburg. dkk.,1997).

3. Hygienic Pontic

Pontik higienis tidak mempunyai bagian yang menempel sama sekali


dengan jaringan di bawahnya/ridge. Bentuk ini sering disebut juga sebagai
"sanitary pontic" tetapi hal ini sebetulnya keliru, karena sanitary pontic
merupakan nama dagang yang tergolong di dalam type pontic bukan pada
kelompok design pontic. Jenis ini dirancang untuk daerah yang tidak mudah
terlihat (nonappearance zone) dengan demikian daerah yang paling tepat
adalah posterior RB. Ketebalan oklusogingival pontic ini tidak boleh kurang
dari 3 mm, dan jarak antara ridge dengan pontik cukup lebar untuk
memberikan fasilitas pembersihan (Shillingburg. dkk.,1997).
4. Conical Pontic

Pontik tipe bulat atau konikal, bentuknya membulat dengan ujung


menebal pada ridge, biasanya dugunakan pada rahang bawah, tidak bisa
digunakan pada bentuk ridge yang lebar karena memudahkan penumpukan
debris.. Pontik ini mempunyai bentuk konus pada daerah yang menempel
dengan jaringan di bawahnya, sehingga mempunyai kecenderungan untuk
terjadi akumulasi sisa makanan sering disebut sebagai bullet /spheroid
pontic (Shillingburg. dkk.,1997).

5. Modifikasi Ridge Lap


Pontik tipe modifikasi ridge lap, permukaan yang menghadap gingiva bagian
bukal menempel hingga pada puncak ridge, sedangkan bagian lingualnya
menjauh da ri ridge berbentuk agak cembung, mudah untuk dibersihkan dan estetika
masih cukup bagus terutama untuk daerah posterior tetapi pontik ini mengakibatkan
gangguan bicara pada saat udara dan ludah menekan permukaan lingualnya.
Desain ini merupakan perbaikan dari desain ridge lap. Indikasinya untuk gigi
anterior dan posterior. Permukaan pontik yang berkontak dengan jaringan
berbentuk konveks. Kelebihan desain ini adalah terdapatnya celah di
palatal/lingual sehingga lebih mudah untuk dibersihkan, selain itu estetik lebih
baik sehingga tampak seperti gigi asli karena permukaan fasial berkontak baik
dengan residual ridge (Shillingburg. dkk.,1997).

EC D
Tipe pontik : A. saddle, B. ridge lap, C. modifikasi ridge lap, D. Higienis,
E. Konikal (Shillingburg, dkk. 1997)

6. Pontik Tipe Ovat ( Ovate Pontic)


Ovate pontic dipertimbangkan sebagai pengganti pontik tipe saddle
untuk mendapatkan estetika yang baik dan kemudahan untuk dibersihkan .
Pontik tipe ovat, ujung pontik membulat masuk ke dalam cekungan bekas
pencabutan gigi , memberi kesan gigi tumbuh dari dalam ridge ( Dylina, 1999).
Pontik ini diindikasikan untuk pasien setelah pencabutan gigi , yang
tidak ingin dirawat dengan implan , dan yang menginginkan estetika yang
bagus khususnya gigi anterior. Sedangkan kontra indikasinya adalah pada
gigi yang coronal-apical ridge tidak cukup tinggi atau bukal -lingualnya
tidak cukup untuk membentuk tulang dan kontur jaringan yang penting
untuk menampilkan gusi secara keseluruhan ( Dento Gingival Complex
/DGC) (Dylina, 1999)
Kontur ovate pontic ditentukan oleh ketinggian pontik, luas,
kedalaman, bentuk dan ukuran embrasur, kontur api kal, kontur lingual,
bentuk anatomi yang sesua i serta kontur oklusal untuk ar tikulasi gigi.
Ketinggian pontik ditentukan oleh insisal yang dapat mempengaruhi fungsi
bicara dan estetika. Untuk mendapatkan oklusi yang b aik dilakukan gerakan
protrusive dan laterotrusive.. Lebar ovate pontic ditentukan oleh bagian
proksimal, kontur gigi terakhir dan ketinggian papila setelah penyembuhan
pasca pencabutan gigi. Ketinggian api kal pontik ditentukan oleh kecekungan
ridge dan gigi tetangga ( Dylina, 1999).

Gambar 2. Pontik tipe Ovate pada gigi premolar RA. Servikal pontik masuk
ke dalam cekungan bekas pencabutan (Shillingbur, dkk. 1997)

Segmen atau bagian ovate pontic yang kontak dengan j aringan


dibentuk tumpul membulat dan dibentuk ke dalam cekungan dari ridge.
Pada bagian mesio -distal dan buko-lingual dibentuk sedemikian rupa
sehingga nampak ramping dan ujung api kal masuk ke dalam cekungan
ridge bekas pencabutan gigi. Hal ini memudahkan pontik dibersihkan
dengan benang gigi ( dental floss). Kecekungan ridge dapat dibuat dengan
penempatan gigi tiruan tetap sementara dengan perluasan seperempat bagian
pontik ke dalam soket segera setelah pencabutan gigi. Pada kasus pasca
pencabutan yang tela h lama sehingga ridge bekas pencabutan itu telah
menutup, maka untuk pembuatan ovate pontic ini memerlukan pengerokan
ridge dengan cara pembedahan dan dibentuk seperti bekas pencabutan. Hal
ini dapat menampilkan estetika yang bagus karena gigi seolah - olah muncul
atau tumbuh dari dalam ridge atau gusi. Kontur ovate pontic dapat
menampilkan jaringan pendukung gigi, estetika, kenyamanan dan kemudahan
untuk membersihkannya. Selain itu fungsi dan estetik dari restorasi ini dapat
dicapai bila bahan dan prosedur pembuatannya tepat ( Dylina, 1999).
Type Pontic

1. Truepontic
2. Interchangable Facing
3. Sanitary Pontic
4. Pin Facing
5. Modified Pin Facing
6. Reverse Pin Facing
7. Harmony Facing (Shillingburg. dkk.,1997).

REF:
1. Padila, M.T. 1995. Conytemporary Fixed Prosthetics. 2nd.ed., Mosby, St.Louis,
pp 49.

2. Shillingburg, HT., Hobo, S., Whitsett, LD., Jacobi, R., Brackett,


rd
SE. 1997. Fundamentals of Fixed Prosthodontics. 3 .ed., Quintessence
Pub Co, Inc., Chicago, pp. 485 -490.

3. Rosenstiel, SF., Land, MF., Fujimoto, J. 1995. Contemporary Fixed


nd
Prosthodontics .2 .ed.St.Louis, pp. 423 -443.

4. Dylina, T.J. 1999. Contour Determination for Ovate Pontic. J Prosthet Dent, 82
(2) : pp 136 -142.