Anda di halaman 1dari 26

A.

Judul Percobaan : Isolasi Minyak Jahe dari Rimpang Jahe


B. Hari, Tanggal Percobaan : Rabu, 16 Maret 2016 ; 09.00 WIB
Hari, Tanggal Selesai Percobaan : Rabu 16 Maret 2016 ; 12.00 WIB
C. Tujuan Percobaan :
Setelah melakukan kegiatan praktikum diharapkan mahasiswa dapat :
1. Memilih peralatan yang dibutuhkan sesuai dengan percobaan yang dikerjakan
2. Memilih bahan-bahan yang dibutuhkan sesuai dengan percobaan yang dikerjakan
3. Mengisolasi minyak jahe dari rimpang jahe dengan cara tepat
D. Tinjauan Pustaka
Jahe merupakan salah satu hasil rempah-rempah yang cukup potensial di negara
Indonesia. Salah satu rempah-rempah banyak digunakan untuk konsumsi dan juga untuk
kesehatan. Salah satu pemanfaatan jahe yang memiliki nilai ekonomis tinggi yaitu minyak
jahe. Akan tetapi minyak jahe di Indonesia sampai saat ini belum dapat memenuhi standar
internasional. Minyak jahe internasional memiliki kadar zingiberene tinggi sedangkan di
Indonesia memiliki kadar zingiberene rendah. Minyak jahe di negara maju digunakan
sebagai campuran pembuatan kosmetik, bahan penyedap masakan tertentu dan sebagai
obat.
Tanaman jahe (Zingiber officinale Rosc.) termasuk dalam keluarga tumbuhan
berbunga (temu-temuan). Diantara jenis rimpang jahe, ada 2 jenis jahe yang telah dikenal
secara umum, yaitu jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) dan jahe putih (Zingiber
officinale var. amarum) (Gholib, 2008). Rimpang jahe termasuk kelas Monocotyledonae,
bangsa Zingiberales, suku Zingiberaceae, marga Zingiber. Tanaman ini sudah lama
dikenal baik sebagai bumbu masak maupun untuk pengobatan. Rimpang dan batang
tanaman jahe sejak tahun 1500 telah digunakan di dalam dunia pengobatan di beberapa
Negara di Asia (Gholib, 2008).
Jahe merupakan tanaman berbatang semu, tinggi 30 cm sampai dengan 1 m, tegak,
tidak bercabang, tersusun atas lembaran pelepah daun, berbentuk bulat, berwarna hijau
pucat dan warna pangkal batang kemerahan. Akar jahe berbentuk bulat, ramping,
berserat, berwarna putih sampai coklat terang. Tanaman ini berbunga majemuk berupa
malai muncul di permukaan tanah berbentuk tongkat atau bulat telur yang sempit, dan
sangat tajam (Wardana, 2002). Tanaman jahe membentuk rimpang yang ukurannya
tergantung pada jenisnya. Bentuk rimpang pada umumnya gemuk agak pipih dan tampak
berbuku-buku. Rimpang jahe berkuli tagak tebal yang membungkus daging rimpang,
yang kulitnya mudah dikelupas (Rismunandar, 1988).
Jahe dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan ukuran, bentuk dan warna rimpangnya.
Ketiga jenis itu adalah jahe putih atau kuning besar (jahe gajah atau jahe badak), jahe
puth atau kuning kecil (jahe emprit) dan jahe merah atau jahe sunti. Jahe emprit dan jahe
sunti mengandung minyak atsiri 1,5 3,8% dari berat kering. Kandungan minyak atsiri
pada jahe emprit lebih besar dari pada jahe gajah, sehingga rasanya lebih pedas,
disamping seratnya tinggi. Jahe ini cocok untuk ramuan obat-obatan, atau untuk diekstrak
oleoresin dan minyak atsirinya.

Gambar 1. Rimpang Jahe dan Serbuk Jahe (www.gemaperta.com)

Senyawa penyusun minyak jahe terdiri dari -pinema, kamfena, 1,8-sineol,

borneol, neral, geranial, - kurkumina, - zingeberena, dan -

saskuipellandrena. Fraksi utama dalam jahe dibedakan menjadi fraksi volatil dan fraksi
non volatil yang ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Komponen volatil dan non volatil.
Fraksi Komponen
Non volatil Gingerol, shogaol, gingediols, gingediacetates, gingerdiones,
gingerenones.
Volatil (-) zingiberene, (+) ar-curcumene, -sesquipelandrene, -
bisabolene, -pinene, bomyl acetate, borneol, champhene,

-cymene, cineol, citral, cumene, -elemene, farnesene.

Ada tiga cara umum untuk mengambil komponen atsiri dari tumbuhan yaitu distilasi,
ekstraksi, dengan pelarut dan pengaliran udara atau aerasi (Robinson, 1995). Distilasi uap
pada suhu kamar dapat menimbulkan penguraian. Distilasi pada tekanan rendah dan suhu
rendah memungkinkan terjadinya penruraian oleh enzim, sehingga menimbulkan
perubahan kandungan jaringan. Jadi reaksi oksidasi menimbulkan masalah, distilasi dapat
dilakukan dalam lingkungan nitrogen. Cara ekstraksi dengan pelarut dapat dilakukan pada
keadaan khusus terutama untuk senyawa yang tidak begitu polar. Beberapa minyak atsiri
yang berbobot molekul rendah terlalu mudah larut dalam air untuk diekstraksi dengan
pelarut organik secara efisien.
Minyak atsiri adalah minyak yang mudah menguap yang terdiri atas campuran zat
yang mudah menguap dalam komposisi dan titik didih yang berbeda. Minyak atsiri jahe
hanya terdapat dalam rhizome jahe, sedangkan dalam daunnya tidak ada. Minyak jahe
diperoleh atau diisolasi dengan destilasi uap dari bubuk jahe kering. Sebagian besar
minyak atsiri diperoleh dengan cara penyulingan atau hidrodestilasi. Minyak atsiri banyak
digunakan dalam berbagai industri seperti industri parfum, kosmetik, essence, farmasi
dan flavouring agent. Biasanya minyak atsiri yang berasal dari rempah digunakan sebagai
flavouring agent makanan. Beberapa parameter yang biasanya dijadikan standar untuk
mengenali kualitas minyak atsiri adalah sebagai berikut :
1. Berat Jenis
2. Indeks Bias
3. Putaran Optik
4. Bilangan Asam
5. Kelarutan dalam Alkohol
Adapun randemen rata-rata minyak jahe yang bisa dihasilkan mampu mencapai 3% berat
kering, tergantung jenis jahe serta penanganan dan efektivitas proses penyulingan.
Minyaknya mengandung senyawa gingerol, zingeberol, gingeron, dan lain-lain. Oleoresin
jahe mengandung komponen gingerol, shogaol, zingerone, resin dan minyak atsiri.
Berikut adalah kandungan jahe:
Tabel 1. Kandungan Jahe (%)
Kandungan Jahe Persentase (%)
Tepung 40-60
Protein 10
Lemak 10
Oleoresin 4-7,5
Volatile Oil 1-3
Bahan Lain 9,5
Sumber : Sazalina, 2005
Minyaknya berwarna kuning, berbau khas. Minyak atsiri yang disuling dari jahe
berwarna bening sampai kuning tua bila bahan yang digunakan cukup kering. Lama
penyulingan dapat berlangsung sekitar 10-15 jam agar minyak dapat tersuling semua.
Kadar minyak dari jahe sekitar 1,5-3% berat kering. Jahe kering mempunyai kadar air 7-
12%. Aroma jahe sangat berpangaruh pada kandungan minyak atsirinya 1-3%.
Standar mutu minyak atsiri jahe menurut ketentuan EOA (Essential Oil Association)
adalah sebagai berikut.
Tabel 2. Standar Mutu Minyak Atsiri Jahe
No. Spesifikasi Persyaratan
1 Warna Kuning muda-kuning
2 Bobot jenis 25/25oC 0.877-0.882
3 Indeks bias 1.486-1.492
4 Putaran optik (-28oC)-(-45o)
5 Bilangan penyabunan Maksimum 20
Sumber : Agromedia, 2008
Sifat khas jahe disebabkan adanya minyak atsiri dan oleoresin jahe. Aroma harum
jahe disebabkan oleh minyak atsiri, sedangkan oleoresinnya menyebabkan rasa pedas.
Minyak atsiri dapat diperoleh atau diisolasi dengan destilasi uap dari rhizoma jahe kering.
Ekstrak minyak jahe berbentuk cairan kental berwarna kehijauan sampai kuning, berbau
harum tetapi tidak memiliki komponen pembentuk rasa pedas. Kandungan minyak atsiri
dalam jahe kering sekitar 1-3%. Komponen utama minyak atsiri jahe yang menyebabkan
bau harum adalah zingeberen (C15H24) dan zingiberol (C15H26O).
Tabel 3. Komposisi Kimia Minyak Jahe Emprit Hasil Analisa GC
Komposisi Jumlah (%)
- dan - zingiberen non polar 35,6
- humulene -
Kamfena 1,1
Zerumbone -
Ar-curcumene 17,7
Sesquiterpen alkohol 16,7
Unidentified 5,6
Farnensense 9,8
Humulene epoksida -
Kamphor -
-pinene 0,4
Borneol 2,2
Borneol dan -terpinol -
Eukaliptol 1,3
-kariofilena -
Limonene 1,2
Sitral a 1,4
Selinena 1,4
Linalool 1,3
Fellandren 1,3
Karene -
Elemena 1,0
Sitral b 0,8
- bisabolena 0,2
desil aldehid 0,2
2-nonanol 0,2
Alkohol 0,1
Bornil asetat 0,1
p-sinema 0,1
Geraniol 0,1
Metil heptanon 0,1
Mirsena 0,1
Nonil aldehid 0,1
Kumene 0,1
2-heptanol 0,1

Pelarut
Pada praktikum isolasi minyak jahe dari rimpang jahe menggunakan metode ekstraksi
dengan pelarut n-heksana. Heksana adalah sebuah senyawa hidrokarbon alkana dengan
rumus kimia C6H14. Heksana merupakan pelarut non polar yang bersifat stabil dan mudah
menguap sehingga memudahkan untuk refluks, selektif dalam menguapkan zat, dan
pelarut yang ringan dalam mengangkat minyak yang terkandung dalam biji-bijian. Pelarut
ini memiliki titik didih 65-70% sehingga bisa digunakan sebagai pelarut dalam pemisahan
minyak atsiri.
Menurut Guenther, 1987, pelarut sangat mempengaruhi proses ekstraksi. Pemilihan
pelarut pada umumnya dipengruhi oleh faktor-faktor antara lain:
1. Selektivitas
Pelarut dapat melarutkan semua zat yang akan diekstrak dengan cepat dan sempurna
2. Titik didh pelarut
Pelarut harus mempunyai titik didih yang cukup rendah sehingga pelarut mudah
diuapkan tanpa menggunakan suhu tinggi pada proses pemurnian dan jika diuapkan
tidak tertinggal dalam minyak
3. Pelarut tidak larut dalam air
4. Pelarut bersifat inert sehingga tidak bereaksi dengan komponen lain
5. Harga pelarut semurah mungkin
6. Pelarut mudah terbakar
Pengukuran Indeks Bias
Pengukuran indeks bias dilakukan dengan menggunakan refraktometer. Berdasarkan
Standar Nasional Indonesia untuk mutu minyak atsiri yang baik, rentang harga indeks
bias yaitu berkisar 1,486 1,492. Pengukuran indeks bias ini penting untuk pengukuran
sifat dan kemurnian cairan, konsentrasi larutan dan perbandingan komponen dua zat cair
yang diekstraksikan dalam pelarut. Indeks refraksi suatu medium ke medium lain
biasanya bergantung kepada panjang gelombang.
Tidak seperti halnya refraksi, berdasarkan kenyataan ini, refraksi dapat digunakan
untuk menguraikan cahaya atas komponen-komponen panjang gelombangnya.
Pengukuran oleh refraktometer ABBE ini didasari oleh prinsip sudut kritis, yaitu apabila
sinar cahaya monokromatis berpindah dari medium optik yang kurang rapat, ke medium
optik yang lebih rapat, maka akan terjadi pembiasan kearah normal.
Indeks bias dipengaruhi oleh panjang rantai karbon dan jumlah ikatan rangkap.
Kenaikan nilai indeks bias menunjukkan peningkatan panjang rantai karbon, dan jumlah
ikatan rangkap. Dengan demikian peningkatan nilai indeks bias mengindikasikan
peningkatan komponen-komponen senyawa kimia yang memiliki susunan rantai karbon
panjang atau ikatan rangkap yang banyak (Nuryoto et al, 2011).

Gambar 2. Refraktometer
(http://www.novatech-usa.com)

Metode Ekstraksi Dengan Ekstraktor Soxhlet

Gambar 3. Ekstraktor Soxhlet (http://www.edubio.info)


Ekstraktor soxhlet adalah alat yang digunakan untuk mengekstraksi suatu senyawa
dari material padatnya. Alat ini ditemukan oleh Franz von Soxhlet pada tahun 1879 dan
pada awalnya hanya digunakan untuk mengekstraksi lemak dari material padatnya. Suatu
senyawa yang memiliki kelarutan yang sangat spesifik dengan larutan tertentu dapat
dipisahkan dengan mudah dengan proses filtrasi sederhana. Namun apabila senyawa
tersebut memiliki kelarutan yang terbatas, dapat digunakan ekstraktor soxhlet untuk
memisahkan senyawa tersebut dari material asalnya.
Dalam soxhlet akan digunakan pelarut yang berfungsi melarutkan senyawa yang akan
diekstraksi. Pelarut ini biasanya adalah larutan yang bersifat non polar seperti heksana.
Pelarut tersebut akan diuapkan kemudian di embunkan. Embun hangat yang mengenai
material padat akan menyebabkan senyawa yang dikandungnya larut bersama larutan
tersebut.
Untuk mekanisme kerjanya hal pertama yang harus dilakukan yaitu dengan
menghaluskan sampel (untuk mempercepat proses ekstraksi, karena luas permukaannya
lebih besar, jadi laju reaksi lebih cepat berjalan) kemudian sampelnya dibungkus dengan
kertas saring (agar sampelnya tidak ikut kedalam labu alas bulat ketika diekstraksi),
setelah itu dimasukkan batu didih (untuk meratakan pemanasan agar tidak terjadi
peledakan) ke dalam labu alas bulat. Kemudian kertas saring dan sampel dimasukkan
kedalam timbal, dan timbalnya dimasukkan kedalam lubang ekstraktor. Setelah itu pelarut
dituangkan kedalam timbal dan disana akan langsung menuju ke labu alas bulat.
Kemudian dilakukan pemanasan pada pelarut dengan acuan pada titik didihnya (agar
pelarut bisa menguap), uapnya akan menguap melalui pipa F dan akan menabrak dinding-
dinding kondensor hingga akan terjadi proses kondensasi (pengembunan), dengan kata
lain terjadi perubahan fasa dari fasa gas ke fasa cair. Kemudian pelarut akan bercampur
dengan sampel dan mengekstrak (memisahkan/mengambil) senyawa yang kita inginkan
dari suatu sampel. Setelah itu maka pelarutnya akan memenuhi sifon, dan ketika pada
sifon penuh kemudian akan dislurkan kembali kepada labu alas bulat. Proses ini
dinamakan 1 siklus, semakin banyak jumlah siklus maka bisa di asumsikan bahwa
senyawa yang larut dalam pelarut juga akan semakin maksimal.
Gambar 4. Ekstraktor Soxhlet (khouirulazam89.blogspot.com)

Nama nama instrumen dan fungsinya :


1. Kondensor berfungsi sebagai pendingin dan juga untuk mempercepat proses
pengembunan.
2. Timbal berfungsi sebagai wadah untuk sampel yang ingin diambil zatnya.
3. Pipa F berfungsi sebagai jalannya uap bagi pelarut yang menguap dari proses
penguapan.
4. Sifon berfungsi sebagai perhitungan siklus bila pada sifon larutannya penuh kemudian
jatuh ke labu alas bulat maka hal ini dinamakan 1 siklus
5. Labu alas bulat berfungsi sebagai wadah bagi sampel dan pelarutnya
6. Hot plate berfungsi sebagai pemanas larutan

E. Alat dan Bahan


Alat alat :
1. Pipet tetes 1 buah
2. Spatula 1 buah
3. Corong pisah 1 buah
4. Gelas kimia 5 mL 1 buah
5. Gelas Kimia 250 1 buah
6. Heating mantle 1 buah
7. Alat ekstraksi soxhlet 1 buah 1 set
8. Kaca arloji 1 buah
9. Gelas ukur 100 mL 1 buah
Bahan bahan :
1. Natrium sulfat anhidrat
2. Jahe kering 10 gram dan 1 gram
3. Heksana 160 mL
F. Alur Kerja
1. Persiapan Jahe dan Isolasi Minyak Jahe

Jahe
Dibersihkan
Dikeringkan
Jahe kering
Digiling

Serbuk Jahe
Serbuk jahe 30-5- gram dimasukkan dalam alat ekstraksi soxhlet
Disiapkan sedikit untuk penentuan kadar air
Dimasukkan 100 mL pelarut petroleum eter / n-heksana kedalam labu ekstraktor
Dilakukan ekstraksi
Dihasilkan

Ekstrak tidak berwarna


Setelah cairan dalam alat soxhlet terlihat jernih ditunggu sampai cairan jatuh ke labu ekstraktor
Dibuka dengan hati-hati satu set alat soxhlet
Dikeluarkan sampelnya
Diuapkan pelarutnya dalam labu ekstraktor (dijaga volumenya agar pelarut tidak jatuh kebawah)

Pelarut Ekstrak
Ditampung (+) Na2SO4 anhidrous
Disaring
Hasil Pelarut
2. Penentuan Kadar Air Residu Filtrat

1 gram serbuk jahe kering


Dihitung Ditimbang
Dioven pada suhu 110C
Indeks bias Massa
Ditimbang
Dicatat beratnya Dihitung
Diulangi pemanasan sampai di peroleh berat konstan
Ditentukan Randemen

Kadar Air
G. Hasil Pengamatan
No.
Percobaa Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan/Reaksi Kesimpulan
n
1.
Jahe tua Menggunakan pelarut n- Minyak atsiri dapat
Sebelum :
heksana karena bersifat diperoleh dengan cara
Dibersihkan Serbuk jahe = berwarna
Dikeringkan non polar dan mudah isolasi ekstrak
coklat muda
Jahe kering Larutan heksana = larutan dipisahkan karena rimpang jahe dengan
Digiling tidak berwarna memiliki titik didih cara ekstraksi
Serbuk Jahe Masa serbuk jahe = 10 rendah dari pada tradisional
gramsoxhlet
Serbuk jahe 30-5- gram dimasukkan dalam alat ekstraksi minyak atsiri. menggunakan pelarut
Disiapkan sedikit untuk penentuan kadar air Na 2 SO 4 anhidrous = serbuk
n-heksana yang
Dimasukkan 100 mL pelarut petroleum eter / n-heksana kedalam labu ekstraktor
putih
Volume heksana = 160 mL Kadar minyak atsiri
Dilakukan ekstraksi bersifat non polar dan
Dibuka dengan hati-hati satu set alat soxhlet
Dihasilkan Berat gelas kimia 5 mL = memiliki titik didih
Dikeluarkan sampelnya secara teori 1,5 3 %.
Diuapkan pelarutnya dalam labu ekstraktor (dijaga volumenya agar pelarut tidak jatuh kebawah) lebih rendah dari
22,856 gram
Indeks bias minyak atsiri minyak atsiri.

Sesudah : dari literatur adalah Minyak atsiri yang


Ekstrak tidak berwarna Jumlah tetesan ekstraksi 1,486 1,492. dihasilkan berwarna
Pelarut Ekstrak
yang cairan
Setelah cairan dalam alat soxhlet terlihat jernih ditunggu sampai jatuh kejatuh
labu dasar
ke labu ekstraktor coklat kekuningan.
Ditampung (+) Na2SO4 anhidrous Indeks bias n-heksana
bulat sebanyak 35 kali
Hasil Pelarut Disaring Cairan jatuh ke labu dasar secara teori adalah Randemen yang
bulat berwarna kuning 1,351235. diperoleh sebesar
Sisa pelarut n-heksana
Residu Filtrat 1,48%.
sebanyak 110 mL
Indeks bias minyak
Massa minyak sebesar
Ditimbang 0,148 gram atsiri yang diperoleh
Dihitung

Indeks bias Massa

Dihitung
Randemen
Filtrat (minyak atsiri) sebesar 1,42352
berwarna coklat
kekuningan Indeks bias n-heksana
Randemen yang diperoleh sebesar
1,435554
0,148 gram
x 100 =1,48
10 gram

Indeks bias heksana =


1,435554
Indeks bias minyak atsiri =
1,42352

No.
Percobaa Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan/Reaksi Kesimpulan
n
2. Sesudah : Jahe kering Dari hasil percobaan
Berat setelah dioven mempunyai kadar air 7 diperoleh kadar air
1 gram serbuk jahe kering
Berat (I) = 0,906 gram
12 %. sebesar 10,75 %.
Dioven pada suhu 110C Berat (II) = 0,900 gram
Ditimbang Berat (III) = 0,881 gram
Berat (IV) = 0,883 gram
Dicatat beratnya Dioven bertujuan
Berat konstan = 0,8925
Diulangi pemanasan sampai di peroleh berat konstan
untuk menghilangkan
Ditentukan gram
Kadar Air = 1 - 0,8925 air yang terkandung
gram = 0,1075 gram dalam serbuk jahe.
Persen Kadar Air =
Kadar Air

0,1075 gram
x 100 =10,75
1 gram
H. Analisis dan Pembahasan
Pada percobaan yang berjudul isolasi minyak jahe dari rimpang jahe memiliki
beberapa tujuan antara lain yaitu memilih peralatan yang dibutuhkan sesuai dengan
percobaan yang dikerjakan, memilih bahan-bahan yang dibutuhkan sesuai dengan
percobaan yang dikerjakan, dan mengisolasi minyak jahe dari rimpang jahe dengan cara
tepat. Pada percobaan ini, jahe yang kami gunakan adalah varietas jahe putih atau kuning
kecil yang disebut dengan jahe emprit. Pada jahe emprit memiliki kandungan minyak
atsiri 1,5 -3% yang lebih besar dari pada jahe gajah. Selain itu, pada percobaan ini metode
yang digunakan adalah metode ekstraksi, yaitu ekstraksi soxhlet karena sampel yang
digunakan berupa padatan. Pada percobaan ini kami menggunakan cara tradisional untuk
memisahkan minyak atsiri dengan pelarut heksana.
Langkah pertama yang kami lakukan yaitu mempersiapkan sampel yang akan
digunakan, yaitu jahe segar dibersihkan dari kotoran kotoran yang menempel pada
bagian kulit, akar, dan tunasnya kemudian diiris tipis tipis. Setelah itu, jahe dikeringkan

dibawah sinar matahari selama 3 hari dengan panas yang relatif konstan secara

berkontinyu untuk mengurangi kadar air yang terdapat pada jahe. Jahe terdiri dari
komponen senyawa volatile dan nonvolatile. Pada jahe terdapat senyawa organik yang
bersifat volatile sehingga dalam penjemuran tidak dianjurkan sampai berhari-hari agar
senyawa tersebut tidak terdekomposisi. Selanjutnya jahe kering dihaluskan dengan cara
digiling atau diblender untuk memperoleh serbuk jahe. Penghalusan bertujuan untuk
mendapatkan serbuk jahe yang memiliki luas permukaan yang besar sehingga pelarut
lebih mudah untuk melarutkan komponen jahe. Dengan semakin besarnya luas
permukaan pada jahe maka semakin besar terjadinya tumbukan sehingga mempercepat
proses ekstraksi.
Selanjutnya dilakukan isolasi minyak jahe. Pertama, alat ekstraksi soxhlet disiapkan
terlebih dahulu kemudian dirangkai dan tidak lupa menyambung kondensor dengan kran
air, seperti pada gambar.
Setelah merangkai alat ekstraksi soxhlet dilanjutkan dengan menyiapkan sampel
serbuk jahe. Pertama, kami menimbang serbuk jahe 10 gram dan dibungkus dengan kertas
saring dan ujungnya diikat dengan tali agar serbuk jahe tidak ikut larut bersama pelarut.
Selanjutnya, serbuk jahe yang dibungkus kertas saring dimasukkan kedalam timbal dan
timbalnya dimasukkan kedalam lubang ekstraktor. Penempatan serbuk jahe yang
dibungkus kertas saring sebaiknya memenuhi bagian dari soxhlet akan tetapi tidak boleh
rendah dari pipa kapiler dan tidak boleh lebih tinggi dari pipa kapiler. Bila terlalu tinggi
dari kapiler maka sampel tidak terendam seluruhnya. Dengan penempatan yang benar
maka jahe akan terekstrak dengan sempurna oleh pelarutnya.
Pada percoaan ini pemanasan menggunakan alat heating mantle. Pemanasan bertujuan
agar pelarut mencapai titik didihnya, pelarut akan menguap dan naik keatas. Dimana
uapnya akan menguap melalui pipa F dan akan menabrak dinding dinding kondensor
hingga terjadi proses kondensasi. Pelarut yang menguap akan mencair kembali
dikarenakan uap panas pelarut didinginkan oleh kondensor yang dialiri air sehingga uap
akan mengembun menjadi cairan. Pelarut akan membasahi sampel dan tertahan di dalam
selongsong sampai tinggi pelarut dalam pipa sifon sama dengan tinggi pelarut di
selongsong. Kemudian pelarut seluruhnya akan menggejorok masuk kembali ke dalam
labu dasar bulat dan begitu seterusnya. Peristiwa ini disebut dengan 1 siklus.
Setelah itu, menyiapkan labu dasar bulat yang diisi dengan pelarut heksana dan 1 butir
batu didih. Batu didih berfungsi untuk meratakan panas sehingga panas menjadi homogen
pada seluruh bagian larutan dan untuk menghindari titik lewat didih. Tanpa batu didih,
maka larutan yang dipanaskan akan menjadi superheated pada bagian tertentu, dan akan
mengeluarkan uap panas yang bisa menimbulkan letupan atau ledakan (bumping). Batu
didih dimasukkan ke dalam larutan sebelum larutan dipanaskan. Karena jika batu didih
dimasukkan pada saat larutan hampir mendidih, maka akan terbentuk uap panas dalam
jumlah besar dan dapat menyebabkan ledakan. Dan selanjutnya memasukkan pelarut
heksana 2/3 mL dari volume labu dasar bulat yang berkisar 160 mL. Pelarut yang
digunakan adalah pelarut heksana dikarenakan memiliki sifat yang mudah menguap
sehingga mudah dipisahkan dengan minyak atsiri dengan perbedaan suhu, heksana
memiliki titik didih lebih rendah dibandingkan minyak atsiri. Selain itu, heksana
termasuk pelarut non polar yang bersifat stabil sehingga memudahkan proses pelarutan
senyawa oleoresin yang bersifat non polar.
Selanjutnya proses ekstraksi dilakukan untuk memisahkan antara pelarut heksana dari
minyak atsiri yang terbentuk pada proses ekstraksi. Pada percobaan kami, cairan yang
jatuh kedalam labu dasar bulat sebanyak 35 kali. Sebelum proses ekstraksi ke-35
diperoleh ekstrak berwarna kuning yang menandakan masih ada kandungan minyak atsiri
yang belum larut. Pada proses ekstraksi ke-35 didapatkan ekstrak tidak berwarna yang
menandakan pelarut terpisah dengan minyak atsiri.
Setelah proses ekstraksi, tahap selanjutnya yaitu proses pemurnian pelarut dari
minyak atsiri yang terlarut didalamnya. Pada proses ini kami menggunakan cara
tradisional untuk memisahkan pelarut dari minyak atsiri. Mula-mula kami melepas alat
soxhlet untuk mengambil serbuk jahe dibungus kertas saring, lalu alat dipasang kembali
untuk menghentikan proses ekstraksi. Apabila serbuk jahe yang dibungkus kertas saring
tidak diambil maka akan terjadi proses ekstraksi terus-menerus. Metode yang digunakan
pada proses ini adalah metode penguapan yang bertujuan untuk memekatkan ekstrak yang
diperoleh dan memurnikan kembali pelarut heksana. Pelarut yang tertampung dalam
soxhlet merupakan larutan tidak berwarna yang yang selanjutnya diambil dan dituang
dalam gelas kimia 250 mL. Sisa pelarut heksana ditampung kembali kemudian dilakukan
pengukuran volumenya. Volume sisa pelarut yang kami gunakan ialah sebesar 110 mL
dari volume awal pelarut sebesar 160 mL. Ekstrak minyak atsiri yang terdapat dalam labu
dasar bulat berwarna coklat kekuningan.
Selanjutnya ekstrak minyak atsiri yang diperoleh ditambahkan dengan Na2SO4
anhidrat yang berfungsi untuk mengikat air dari proses penguapan maupun ekstraksi dari
minyak atsiri, sehingga dihasilkan minyak atsiri dengan kemurnian cukup tinggi. Namun,
pada kelompok kami pada proses ini tidak dilakukan karena minyak atsiri yang kami
peroleh jumlahnya sedikit. Sehingga ekstrak minyak atsiri yang kami peroleh langsung
ditimbang dan dihitung indeks biasnya. Dengan mengetahui massa minyak atsiri, maka
kami dapat menghitung hasil randemennya. Massa minyak atsiri yang diperoleh sebesar
0,148 gram dengan randemen sebesar 1,48%. Randemen minyak atsiri secara teori adalah
1,5 3% sehingga minyak atsiri hasil percobaan kami sudah sesuai dengan teori. Untuk

berat minyak atsiri


x 100
menghitung randemen diperoleh dengan rumus randemen = berat awal

Selanjutnya minyak atsiri diuji indeks biasnya. Didapatkan indeks bias minyak atsiri
sebesar 1,42352 sedangkan indeks bias secara teori adalah 1,486 1,492. Hasil indeks
bias minyak atsiri dari hasil percobaan kami tidak sesuai dengan teori. Hal ini
membuktikan bahwa miyak atsiri yang kami peroleh dari ekstraksi belum murni minyak
atsiri. Indeks bias heksana dari hasil percobaan kami sebesar 1,435554 sedangkan indeks
bias secara teori 1,351235 sehingga tidak sesuai dengan teori. Hal ini membuktikan
bahwa perbedaan indeks bias antara hasil ekstraksi dengan pelarut membuktikan bahwa
minyak jahe hasil ekstraksi masih mengandung pelarut.
Pada percobaan selanjutnya penentuan kadar air, pertama kami menimbang serbuk
jahe sebesar 1 gram dan dimasukkan kedalam oven pada suhu 110 oC. kemudian
ditimbang diperoleh berat 0,906 gram. Lalu serbuk jahe dimasukkan ke dalam oven
kembali untuk memperoleh berat yang konstan. Pengovenan bertujuan untuk
menghilangkan kadar air yang terkandung dalam serbuk jahe. Pengovenan dilanjutkan
kembali untuk memperoleh berat ke (II) (IV) yaitu 0,900 gram, 0,881 gram, dan 0,883
gram. Kemudian dirata rata didapatkan berat konstan sebesar 0,8925 gram. Sehingga
diperoleh kadar air pada serbuk jahe sebesar 10,75%. Pada teori jahe kering mempunyai
kadar air 7-12%. Maka pada percobaan kami kadar air yang diperoleh sudah sesuai
dengan teori. Rumus penentuan kadar air adalah
berat awalberat konstan
x 100
kadar air = berat awal

I. Diskusi
Dari hasil percobaan kami, didapatkan indeks bias minyak atsiri sebesar 1,42352
sedangkan indeks bias secara teori adalah 1,486 1,492. Hasil indeks bias minyak atsiri
dari hasil percobaan kami tidak sesuai dengan teori. Dikarenakan kami melewatkan satu
tahap pada proses penambahan Na2SO4 anhidrat. Dimana Na2SO4 anhidrat berfungsi
untuk mengikat air dari proses penguapan maupun ekstraksi dari minyak atsiri. Maka
kemungkinan minyak atsiri yang kami peroleh masih mengandung air sehingga
mempengaruhi hasil indeks biasnya. Salah satu faktor yang mempengaruhi nilai indeks
bias yaitu kandungan air dalam minyak tersebut. Semakin banyak kandungan air dalam
minyak, semakin encer pula minyak atsiri, maka semakin kecil nilai indeks biasnya.
Keenceran minyak menyebabkan mudahnya cahaya menembus minyak tersebut. Hal ini
disebabkan karena sifat dari air yang mudah untuk membiaskan cahaya yang datang. Hal
ini membuktikan bahwa minyak atsiri yang kami peroleh masih belum murni.

J. Kesimpulan
1. Minyak atsiri dapat diperoleh dengan isolasi ekstrak rimpang jahe dengan metode
ekstraksi tradisional dengan menggunakan pelarut heksana yang bersifat non polar
dan memiliki titik didih rendah dari minyak atsiri.
2. Minyak atsiri yang dihasilkan berwarna coklat kekuningan.
3. Randemen yang diperoleh sebesar 1,48%.
4. Indeks bias minyak atsiri diperoleh sebesar 1,42352.
5. Indeks bias heksana yang diperoleh sebesar 1,435554.
6. Kadar air yang diperoleh sebesar 10,75%.

K. Daftar Pustaka
Agromedia. 2008. Buku Pintar Tanaman Obat. Jakarta: Tanggal akses 18 Maret 2016.
Dikutip dari www.google.book.co.id.
Gholib. 2008. Uji Daya Hambat Ekstrak Etanol Jahe Merah (Zingiber officinale var.
rubrum) dan Jahe Putih (Zingiber officinale var. amarum) Terhadap
Trichophyton mentagrophytes dan Cryptococcus neoformans. Bogor:
Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner.
Guenther, E. 1987. Minyak Atsiri Jilid 1. Jakarta: UI Press.
Nuryoto, Jayanudin & Hartono, R. 2011. Karakterisasi Minyak Atsiri dari Limbah Daun
Cengkeh. In Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia Kejuangan. pp.
C071.
Rismunandar. 1988. Hormon Tumbuhan dan Ternak. Jakarta: Penerbit Swadaya.
Robinson, T. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Penerjemah Kosasih P.
Bandung: ITB.
Sazalina. 2005. Optimization Of Operating Parameters For The Removal Of Ethanol
From Zingiber Officinale Roscoe (Ginger) Oleoresin Using Short-Path
Distillation, Master Thesis, Faculty of Chemical and Natural Resources
Engineering, University Teknologi Malaysia.
Wardana. 2002. Budidaya secara Organik Tanaman Obat Rimpang. Jakarta: Penebar
Swadaya.
http://www.novatech-usa.com/Products/Abbe-Refractometers(Images search)
http://www.gemaperta.com/2015/12/penanganan-dan-pengolahan-jahe-
pascapanen.html(Images search)
http://khoirulazam89.blogspot.co.id/2012/01/prinsip-kerja-ekstraktor-soxhlet.html(Images
search)
http://www.edubio.info/2015/01/metode-ekstraksi-dengan-ekstraktor.html(Images search)

L. Jawaban Pertanyaan
1. Jelaskan secara singkat prinsip kerja ekstraksi soxhlet yang digunakan dalam
percobaan ini!
Prinsip kerja dari ekstraksi soxhlet pada percobaan isolasi minyak jahe dari rimpang
jahe adalah proses pemisahan dan pemurnian suatu komponen (ekstrak) dari suatu
bahan alam berdasarkan perbedaan titik didih menggunakan pelarut yang mudah
menguap yaitu n-heksana (memiliki perbedaan titik didih yang besar dengan ekstrak
yang diinginkan) .
2. Bilamana pemisahan pelarut menggunakan alat evaporator? Berikan alasan!
Pada percobaan isolasi minyak jahe dari rimpang jahe di atas menggunakan alat
soxhlet, namun bilamana pemisahan pelarut menggunakan alat evaporator maka
pelarut yang digunakan adalah bersifat mudah menguap, karena prinsip kerja dari
evaporator yakni sama dengan ekstraksi soxhlet adalah dengan cara menguapkan
pelarut. Namun kelemahan dari penggunaan evaporator adalah sebagaian besar
kandungan munyak atsiri akan menguap karena bersifat volatile.
3. Berdasarkan hasil rendemen minyak atsiri yang diperoleh, apakah cara pengeringan
dan penghalusan serbuk jahe berpengaruh pada hasil? Jelaskan!
Cara pengeringan dan penghalusan serbuk jahe juga berpengaruh pada hasil rendemen
minyak atsiri. Pada proses pengeringan, apabila dilakukan dengan menggunakan suhu
tinggi akan merusak minyak jahe, karena sifat minyak yang dapat menguap, maka
untuk mencegah hal tersebut serbuk jahe dijemur di bawah sinar matahari selama 3
hari dengan panas yang realtif konstan secara berkontinyu. Selain itu pada saat proses
ekstraksi digunakan satu set alat (dengan suhu yang dapat dikontrol) untuk
memanaskan pelarut n-heksana dengan tujuan yang sama yakni untuk mencegah
minyak jahe menguap. Pada proses penghalusan, serbuk jahe yang halus memiliki
luas permukaan yang besar, sehingga memudahkan suatu pelarut untuk melarutkan
komponen minyak jahe lebih cepat.
4. Apa fungsi Na2SO4 dalam percobaan ini!
Fungsi Na2SO4 sebagai zat yang digunakan untuk menyerap sisa kandungan air yang
masih ada di dalam minyak.
5. Sebutkan minimal lima senyawa yang terdapat dalam minyak atsiri jahe dan tuliskan
rumus strukturnya !

Senyawa (Prosentase) Struktur


Geraniol (25.9%)

a-zingiberen (9,5%)

(E,E)-a-farnesen (7,6%)

Neral (7,6%)

ar-curcumen (6,6%)

-sesquiphellandren (27,16%)

Caryophyllen (15,29%)

-bisabolen (11,4%)
M. Perhitungan
Didapatkan hasil :
Indeks bias minyak atsiri = 1,42352
Massa jahe = 10 gram
Penentuan Kadar air =
m1 = 0,906 gram
m2 = 0,900 gram
m3 = 0,881 gram
m4= 0,883 gram
Massa konstan = 0,8925 gram
berat awalberat konstan
Kadar air = berat awal x 100%

1 gram0,8925 gram
= 1 gram x 100%

= 10,75 %
Berat minyak atsiri = 0,148 gram
be rat minyak
Rendemen = berat awal x 100%

0,148 gram
= 10 gram x 100%

= 1,48 %
Sisa pelarut n-heksana sebesar 110 mL
Indeks bias n-heksana 1,435554
N. Dokumentasi
LAMPIRAN
1. Percobaan Pertama

N GAMBAR KETERANGAN
O
1 Serbuk jahe

2 Ditimbang 10 gram serbuk jahe

3 Dimasukkan kedalam labu soxhlet

4 Dimasukkan pelarut n-heksana


160mL pada labu dasar ekstraktor

5 Dilakukan ekstraksi sampai hasil


ekstraksi tidak berwarna
6 Hasil ekstraksi berwarna kuning
kecoklatan

7 Diuapkan hasil ekstraksi untuk


memisahkan minyak jahe dari
pelarutnya

8 Berat minyak atsiri = 0,148 gram


Randemen = 1,48%
Sisa pelaru n-heksana sebesar
110mL

9 Indeks bias minyak atsiri =


1,42352
Indeks bias minyak n-heksana =
1,435554

2. Menentukan Kadar Air

N GAMBAR KETERANGAN
O
1 Ditimbang 1 gram serbuk jahe

2 Dioven pada suhu 110 C

3 Ditimbang dan dicatat beratnya


Didapatkan berat (1) = 0,906 gram

4 Dioven dan ditimbang beratnya lagi


Didapatkan berat (2) = 0,900 gram
5 Diulangi pemanasan dan
penimbangan
Didapatkan berat (3) = 0,881 gram
Didapatkan berat (4) = 0,883 gram
Berat konstan = 0,8925
Kadar air = 10,75%