Anda di halaman 1dari 50

BAB I

PENDAHULUAN
PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN RAYA

Jalan raya adalah suatu lintasan yang bertujuan melewatkan lalu lintas dari
suatu tempat ke tempat lain. Arti lintasan menyangkut tanah yang diperkuat
(diperkeras) dan jalur tanah tanpa perkerasan. Sedangkan lalu lintas menyangkut
semua benda dan mahluk yang melewati jalan tersebut, baik kendaraan bermotor
maupun kendaraan tidak bermotor seperti : Sepeda, manusia dan hewan.
Dalam perencanaan jalan raya, bentuk geometriknya harus ditetapkan
sedemikian rupa sehingga jalan yang bersangkutan dapat memberikan pelayanan
yang optimal kepada lalu lintas sesuai dengan fungsinya.
Sesuai dengan peraturan perencanaan Geometrik Jalan Raya No. 13/1970
dari direktorat eksplorasi, survey dan perencanaan, Direktorat Jendral Bina
Marga, Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, maka jalan dibagi
berdasarkan :
1. Fungsi jalan, mencakup tiga golongan penting, yaitu :
a. Jalan Utama
Jalan utama adalah jalan raya yang melayani lalu lintas yang cukup
tinggi antara kota-kota penting, sehingga harus direncanakan dapat
melayani lalu lintas yang cepat dan berat.
b. Jalan Sekunder
Jalan sekunder adalah jalan raya yang melayani lalu lintas yang
cukup tinggi antara kota-kota penting dan kota-kota yang lebih kecil
serta sekitarnya.
c. Jalan Penghubung
Jalan penghubung adalah jalan untuk keperluan aktivitas daerah yang
juga dipakai sebagai penghubung antara jalan-jalan dari golongan
yang sama atau berlainan.

1
2. Volume dan sifat lalu lintas
Jalan raya pada umumnya dibagi dalam kelas-kelas dimana
penetapan berdasarkan fungsi besar volume lalu lintas yang lewat serta
kekuatannya dalam menampung atau mendukung arus lalu-lintas
diatasnya.
Dalam menghitung besarnya volume lalu-lintas untuk keperluan
penetapan kelas jalan, kecuali untuk jalan-jalan yang tergolong dalam
kelas IC dan II, kendraan yang tidak bermotor tidak diperhitungkan untuk
kelas jalan IIA dan I, kendraan lambat tidak diperhitungkan.
a. Jalan Kelas I
Kelas jalan ini mencakup semua jalan utama dan dimaksudkan untuk
melayani lalu lintas cepat dan berat. Dalam komposisi lalu-lintasnya
tidak terdapat kendraan lambat dan kendraan tidak bermotor.
b. Jalan Kelas II
Jalan raya dalam kelas ini merupakan jalan raya yang berjalur
banyak dengan konstruksi perkerasan dari jenis yang terbaik dalam
arti tingkatan pelayanan terhadap lalu-lintas.
c. Jalan Kelas IIA
Jalan kelas IIA adalah jalan-jalan raya skunder dua jalur atau lebih
dengan konstruksi permukaan jalan dari jenis aspal beton (hotmix)
atau yang setaraf, dimana dalam komposisi lalu lintasnya terdapat
kendraan lambat tapi tampa kendraan tidak bermotor. Untuk lalu
lintas lambat, harus disediakan jalur tersendiri.
d. Jalan Kelas IIB
Jalan kelas IIB adalah jalan raya skunder 2 jalur dengan konstruksi
permukaan jalan dari jenis panetrasi berganda tunggal dimana
komposisi lalu lintasnya terdapat kendraan lambat tapi tampa
kendraan tidak bermotor.
e. Jalan Kelas IIC
Jalan kelas IIC adalah jalan-jalan raya skunder 2 jalur dengan
konstruksi permukaan jalan dari jenis panetrasi tunggal dimana
komposisi lalu lintasnya terdapat kendraan lambat tapi tanpa
kendraan tidak bermotor.
f. Jalan Kelas III
Jalan kelas III adalah jalan yang mencakup semua jalan-jalan
penghubung dan merupakan konstruksi jalan berjalur tunggal atau
ganda.

3. Jalan diklasifikasikan berdasarkan peranan (UU No.13 tahun 1980)


Menurut peraturan No. 13/1980 tentang jalan, sistem jaringan jalan
primer didefinisikan sebagai berikut : Jaringan jalan primer merupakan
tanggung jawab pemerintah pusat dan merupakan sistem jalan untuk
membantu pembangunan semua daerah dengan menghubungkan pusat-
pusat untuk pelayanan masyarakat yang merupakan atau akan menjadi
kota-kota.
Kemudian peraturan itu mengelompokan jalan raya menjadi 3
kategori berdasarkan segi kecepatan, jarak dan jumlah jalan masuknya,
yang dibagi dalam tiga kelompok, yaitu :
a.Jalan Arteri
Jalan Arteri ini melayani angkutan primer yang memerlukan rute
jarak jauh, kecepatan rata-rata yang tinggi dan jumlah jalan masuk
yang terbatas yang dipilih secara efisien.
b. Jalan Kolektor
Jalan kolektor melayani penampungan dan pendistribusian
transportasi yang memerlukan jarak sedang, Kecepatan rata-rata
yang sedang dan mempunyai jalan masuk yang jumlahnya terbatas.
c.Jalan Lokal
Jalan lokal melayani transportasi lokal yang memerlukan rute jarak
pendek, kecepatan rata-rata yang rendah dan mempunyai jalan
masuk dalan jumlah yang tak terbatas.

PERHITUNGAN LHR DAN


KLASIFIKASI JALAN

1. Perhitungan LHR
Perhitungan Lalu Lintas Harian Rata-Rata (LHR) berdasarkan data lalu
lintas pada tahun 2005 adalah sebagai berikut :
Jenis Kendaraan Berat Jumlah Tingkat Pertumbuhan
Kendaraan ringan 2 Ton 1700 0,25 %
Bus 8 Ton 1000 0,25 %
Truk 2 As 13 Ton 2700 0,25 %
Truk 3 As 20 Ton 200 0,25 %

Data lain yang diketahui :


Masa Pelaksanaan Konstruksi : 2 Tahun (2015-2017)
Jalan direncanakan dibuka tahun : 2017
Perkembangan selama masa Konstruksi :3%

Untuk menghitung besar lalu lintas harian rata-rata (LHR) dengan rumus :
LHR = ( 1 + i )n x Jumlah Kendaraan
LHRsmp = ( LHR ) x Faktor ekivalen
dimana :
LHR : Lalu Lintas Harian rata-rata ( kend/hari/2jurusan)
LHRsmp : Pengekivalenan LHR dalam satuan mobil penumpang
i : Perkembangan lalu lintas
n : Jumlah tahun rencana
Faktor ekuivalen mobil penumpang menurut Manual Kapasitas Jalan
Indonesia (MKJI):
No Jenis Kendaraan Datar / Perbukitan Pegunungan
1 Sedan, Jeep, Stasion Wagon 1,0 1,0
2 Pick-Up, Bus Kecil, Truk 1,2 2,4 1,9 3,5
kecil
3 Bus dan Truk Besar 1,2 5,0 2,2 6,0

Disesuaikan dengan kontur daerah yang akan direncanakan (daerah yang datar),
maka faktor ekuivalen yang diambil adalah:
Kendaraan ringan : 1
Bus : 1,2
Truck 2 As : 1,8
Truck 3 As : 2,4

A n=3 B n = 10 C

2015 2017 2027

Keterangan : A : Data LHR tahun 2015 dan mulai pelaksanaan kontruksi


B : Jalan dibuka tahun 2017
C : Akhir umur rencana jalan tahun 2027

a. LHR saat pelaksanaan konstrkuksi (2015-2017)


(Selang waktu 3 tahun)
Kendaraan ringan : ( 1 + 0,025 )3 x 1700 = 1831 kend/hari
Bus : ( 1 + 0,025 )3 x 1000 = 1077 kend/hari
Truk 2 As : ( 1 + 0,025 )3 x 270 = 290 kend/hari
Truk 3 As : ( 1 + 0,025 )3 x 200 = 215 kend/hari
LHR 15-17 = 3413 kend/hari

b. LHR selama umur rencana 10 tahun (2017 2027)


Kendaraan ringan : (1 + 0,025)10 x 1831 = 2343 kend/hari
Bus : (1 + 0,025)10 x 1076 = 1378 kend/hari
Truk 2 As : (1 + 0,025)10 x 290 = 372 kend/hari
Truk 3 As : (1 + 0,025)10 x 215 = 275 kend/hari
LHR 17-27 = 4369 kend/hari

Jadi jumlah LHR dalam satuan mobil penumpang (smp) adalah :


Kendaraan ringan : 2343 1 = 2343 smp/hari
Bus : 1378 1,2 = 1654 smp/hari
Truck 2 As : 372 1,8 = 669 smp/hari
Truck 3 As : 275 2,4 = 661 smp/hari +
LHRtotal = 5329 smp/hari

Klasifikasi jalan sebagai berikut:


Klasifikasi Fungsi Kelas LHR (dalam SMP / hari)
Utama I > 20000
II A 6000 20000
Sekunder II B 1500 8000
II C < 2000
Penghubung III -

Berdasarkan daftar standar perencanaan geometrik jalan, maka jalan dengan LHR
2858 smp/hari termasuk dalam klasifikasi Jalan Raya Sekunder II B

2. Penentuan Klasifikasi Medan


Klasifikasi medan dapat dibedakan berdasarkan lereng melintang. Untuk
menghitung lereng melintang dapat menggunakan rumus sebagai berikut :
y
100
Lereng melintang = x %
dimana :
y = Kontur tertinggi kontur terendah
x = Panjang Horizontal (cm)

Golongan Medan Lereng Melintang


Datar (D) 0 s/d 9,9 %
Bukit (B) 10 s/d 24,9%
Gunung (G) > 25 %

Perhitungan :
Dari peta situasi didapat
Potongan 1 2 :
y = kontur tertinggi kontur terendah
= 106,6 0 m
= 106,6 m
x = 9,5 cm
= (9,5 cm x 200.000) : 100
= 19000 m
106,6
100
Lereng melintang (Ln) = 19000 % = 0,561 %
Potongan 2 3
y = kontur tertinggi kontur terendah
= 150 m 106,6 m
= 43,4 m
x = 11,5 cm
= (11,5 cm x 200.000) : 100
= 23000 m
43,4
100
Lereng melintang (Ln) = 23000 % = 0,1886 %
Potongan 3 4
y = kontur tertinggi kontur terendah
= 150 m 105 m
= 45 m
x = 9 cm
= (9 cm x 200.000) : 100
= 18000 m
45
100
Lereng melintang (Ln) = 18000 % = 0,25 %
0.561% 0,1886% 0,25
Jadi Lnrata-rata = 3
= 0,3332 %
Karena besarnya lereng melintang antara 0% s/d 9,9%, maka klasifikasi medan
termasuk golongan Datar.
Dari daftar standar perencanaan geometrik, LHRtotal = 6901 smp/hari,
termasuk dalam klasifikasi jalan II A dengan klasifikasi medan Datar akan
didapat data sebagai berikut :
- Kecepatan rencana : 80 Km/jam
- Lebar daerah penguasaan minimum : 30 meter
- Lebar perkerasan : (2 x 3,50)
- Lebar bahu : 3,00
- Lereng melintang bahu : 6%
- Lereng melintang perkerasan : 2%
- Miring tikungan maksimum : 10 %
- Jari-jari (R) lengkung minimum : 210 m
- Landai maksimum :5%
BAB II
PERENCANAAN ALINYEMEN HORIZONTAL

A. Bentuk Lengkung Horizontal

1. Lengkung Busur Lingkaran Sederhana (Circle)


Digunakan untuk sudut tangen () kecil dari jari-jari yang besar yang
mana batasannya adalah sebagai berikut :
Kecepatan rencana (Vr) Km/jam R minimum (R)
120 2000
100 1500
80 1100
60 700
40 300
30 180

Tahap penyelesaian :
a. Ukur sudut tangen () dari trase
b. Tentukan kecepatan rencana (Vr) berdasarkan pada standard perencanaan
geometric jalan raya.
c. Ambil nilai jari-jari (R) dengan ketentuan diatas
d. Tentukan Tc, Lc dan Ec
Tc = R tan

o
2R
Lc = 360
Ec = T tan
2. Lengkung Busur Lingkaran Dengan Lengkung Peralihan (Spiral-Circle-
Spiral)
Lengkung spiral adalah peralihan dari bagian lurus ke bagian circle, yang
panjangnya diperhitungkan dengan mempertimbangkan bahwa perubahan gaya
sentrifugal dari 0 (pada bagian lurus) sampai dimana mencapai harga berikut :
m.x.V
Fcontrol = R.x.L
V V .x.K
Harga Ls minimal = 0,002 R.x.C - 2,727 . C
dimana :
Ls = Panjang lengkung Spiral (m)
V = Kecepatan Rencana
R = Jari-jari
C = Perubahan Kecepatan (m/det), dianjurkan c = 0,4 m/det
K = Superelevasi

Adapun jari-jari yang diambil pada tikungan ini haruslah sesuai dengan
kemiringan tikungan dan tidak mengakibatkan adanya kemiringan tikungan yang
melebihi harga maksimum yang telah ditentukan, yaitu :
Kemiringan maksimum jalan antar kota = 0,10
Kemiringan maksimum jalan dalam kota = 0,08

Jari-jari lengkung minimum untuk setiap kecepatan untuk setiap rencana


ditentukan berdasarkan :
Kemiringan tikungan maksimum
Koefisien gesekan melintang maksimum
V2
R = 127.(e fm)
dimana :
e = Kelandaian tikungan (%)
fm = Koefisien gesekan melintang maksimum
Untuk jari-jari lengkung yang cukup besar sehingga tidak perlu adanya
kemiringan tikungan dapat dilihat dalam daftar II Standar Perencanaan
Alinyemen.

Tahap penyelesaian :
a. Ukur sudut tangen () dari trase
b. Tetapkan nilai R dan Vr
c. Maka dari tabel emaks akan didapat :
e = %
Lsmin = .m
d. Hitung nilai :
Ls min
2s = 2. .R x 360
e. Hitung nilai c = 2s
f. Hitung nilai :
c
. 2R
Lc = 360
Bila Lc < 20, maka bentuk tikungannya Spiral-Circle-Spiral
g. Hitung nilai L = Lc + 2 Ls
h. Tentukan nilai p dan k dengan menggunakan tabel Lsmin
i. Cari Ts = ( Rc + p) tan + k
j. Cari Es = ( Rc + p ) sec Rc

3. Lengkung Peralihan Saja (Spiral-Spiral)


Bentuk tikungan ini digunakan pada tikungan-tikungan tajam. Adapun
rumusnya sama dengan rumus-rumus untuk tikungan spiral-sircle-spiral, hanya
yang perlu diperhatikan adalah tahap-tahap penyelesaiannya, yaitu :
a. Ukur sudut tangen () dari trase dan tentukan V
b. Tentukan harga R, dari tabel akan didapat Lsmin & emax
c. Cari s =
s. .Rc
Ls min
d. Cari Ls = 90
Bila tidak memenuhi syarat ambil harga L yang lain
e. Bila tidak memenuhi syarat, ambillah harga R yang lain (dengan
metode trial and error)
f. Ambil harga p dan k dengan rumus
Ls 2
1 cos s
p = 6 xR
Ls 2
Ls Rx sin s
k= 40 xR 2
g. Cari Ts = ( Rc + p ) tan + k
h. Cari Es = ( Rc + P ) sec Rc

B. Diagram Superelevasi

1. Untuk circle, walaupun tikungan ini tidak mempunyai lengkung


peralihan akan tetapi diperlukan adanya lengkung peralihan fiktif
(Ls)
Ls = B . em . e
dimana :
em = Kemiringan melintang maksimum relatif
(superelevasi tikungan yang bersangkutan)
B = Lebar perkerasan
m = 1 ; landai relatif maksimum antara tepi perkerasan
(lihat daftar II, tergantung pada Vr)
2. Hitung nilai :
V2
em = 127.R dan harga Vr didapat dari tabel
3. Cari Ls dan Ls
4. Gambar
Untuk bentuk lain langsung digambar karena sudah ada Ls

Cara menentukan superelevasi adalah :


Buat garis en dan em relatif (em relatif untuk sp dalam bentuk
titik) sehingga didapat titik A dan B.
Hubungkan tittk A dan B sehingga didapat titik C.
Hubungkan C dan D, sebagian putus-putus.

C. Pelebaran Perkerasan pada Tikungan

B=n ( b ' + c ) + ( n1 ) Td+ Z


dimana :
B = Lebar perkerasan pada tikungan (m)
n = Jumlah jalur
b = Lebar lintasan kendaraan truck pada tikungan (m)
c = Kebebasan samping (0,80 meter)
Td = Lebar melintang akibat tonjolan depan (m)
Z = Lebar tambahan akibat kelainan dalam mengemudi (m)

Jika :
1000
6 , nilai-nilai dalam mencari pelebaran perkerasan terdapat
R
dalam grafik I PPGJR (terlampir)
1000
>6 , nilai-nilai dapat dicari dengan rumus :
R

b' =2,4 + R R2 P 2 dengan p = 6,1 m

Td= R2+ A (2 P+ A )R dengan A= 1,2 m (tonjolan ke depan)


V
Z =0,105
R
Untuk B = lebar jalan
Jika * B < B , tidak perlu ada pelebaran perkerasan
* B > B , perlu ada pelebaran perkerasan

D. Kebebasan Samping dalam Tikungan

Sesuai dengan panjang jarak pandangan yang diperlukan, baik jarak


pandangan henti maupun menyiap, maka diperlukanlah kebebasan samping. Pada
tikungan tidak selalu harus diberi kebebasan samping, hal ini tergantung:
Jari-jari tikungan (R)
Kecepatan rencana (Vr) yang langsung berhubungan dengan pandangan
(s)
Keadaan medan jalan.

Seandainya menurut perhitungan diperlukan adanya kebebasan samping


akan tetapi keadaan medan tidak memungkinkan, maka diatasi dengan meberikan
atau memasang rambu peringatan sehubungan dengan kecepatan yang diizinkan.
Dalam meninjau kebebasan samping tikungan suatu tikungan ada 2
kemungkinan teori sebagai pendekatan
1. Bila jarak pandang lebih kecil dari panjang tikungan (S < L).
Bila S < L, maka rumus yang digunakan :
90 o.S
m = R ( 1 Cos .R )
Dimana :
m = ordinat tengah sumbu jalur dalam ke penghalang
2. Bila jarak pandang lebih besar dari pada panjang tikungan (S > L)
Bila S > L, maka rumus yang digunakan :

90 o .S 90 o.L

m = R ( 1 Cos .R ) + (S L) Sin .R

Kedua rumus diatas merupakan formula yang digunakan oleh Bina Marga.
Adapun cara lainnya dengan menggunakan grafik II Peraturan Perencanaan
Geometrik Jalan Raya dengan ketentuan sebagai berikut :
Bila S > L
R = R lebar jalan = R lebar jalan
Hitung : L/R =
L/S =
(dari grafik didapat mg, maka didapat harga m)
Bila S < L
Maka L/R diganti dengan :
S/R = .
L/S = .

1. Bentuk Tikungan Circle


Bentuk tikungan diatas digunakan pada tikungan yang mempunyai jari-jari


besar dan sudut tangen yang relatif kecil.

2. Bentuk Tikungan Spiral-Circle-Spiral (S-C-S)


3. Bentuk Tikungan Spiral-spiral (S-S)



PERHITUNGAN ALINYEMEN HORIZONTAL

Pemilihan Tipe Tikungan


Prosedur pemilihan tipe tikungan berdasarkan perbandingan antara lingkaran
penuh, spiral-spiral, dan spiral-circle-spiral.

S-C-S

Lc < 20 m
ya
S-S

tidak

P < 0,25 m
ya
Full Circle

tidak

e<4%
e < 1,5 en ya
Full Circle

tidak

S-C-S
Tikungan 1
1. Full Circle
= 76o emax = 0,10
Vr = 80 km/jam Rr = 239 m

2
Vr 80 2
0,211
fmax = 127 R r 127 239 m
2
Vr 80 2
R = 127(emax f max ) = 127(0,10 0.239) = 162,115 m

Jadi karena Rhitungan = 162,560 m < Rr = 210 m, atau R < Rmin yang
disyaratkan 1100 m sehingga bentuk Full Circle tidak bisa digunakan.

2. Spiral Circle Spiral


= 76o emax = 0,10
Vr = 80 km/jam Rr = 239 m
Melalui cara interpolasi dari tabel panjang lengkung peralihan minimum
dan superelevasi metode Bina Marga diperoleh :
e = 0,098
Ls = 70 m

Ls 70
360 o
2s = 2. .R r 360o = 2 3,14 239 = 16,789o
s = 8,395o
c = - 2s = 76o 2 (16,789o) = 59,210o

c 59,210 o
o
2. .Rr o
2 3,14 76
Lc = 360 = 360 = 246,861m
Karena Lc > 20 m, maka bentuk S-C-S dapat digunakan.

L = Lc + 2Ls = 246,861+ (2 x 70) = 386,861 m


Ls 2 70 2
y = 6.Rr = 6 239 = 3,417 m
Ls 3 70 3
Ls 2 70
x = 40.R r = 40 239 2 = 69,850 m

p = y Rr (1 cos s)
= 3,417 239 (1 cos 8,395o) = 0,856 m
k = x Rr sin s
= 69,850 (239 sin 8,395o) = 34,957 m
Ts = ( Rr + p ) tan (1/2 ) + k
= ( 239 + 0,856) tan (1/2 76) + 34,957 = 222,354 m
Es = ( Rr + p ) sec (1/2 ) Rr
= (239 + 0,856) sec (1/2 76) 239 = 65,382 m

3. Spiral Spiral
= 76o e = 0,10
Vr = 80 km/jam Rr = 239 m
Lsmin = 70 m
s 1 / 2 1 / 2 76 38 o

s R r 38 3,14 239
Ls 316,861 m
90 90
Karena nilai Ls > Lsmin, maka untuk lengkung berbentuk spiral-spiral dapat

s
digunakan Rs = 210 meter. Dengan diketahuinya nilai = 38o, maka dari
tabel besaran p* dan k* diperoleh nilai :
s
Dengan diketahui nilai =38o , maka dari tabel persamaan p dan k
diperoleh nilai:
p* = 0,0615673
k * = 0,4918639
Jadi, p = p* x Ls = 0,0615673 x 316,861 = 19,508 m
k = k* x Ls = 0,4918639 x 316,861 = 155,852 m

L = 2Ls = 2 316,861 = 633,722 m


Ts = (Rr + p) tan + k
= (239 +19,508) tan 38o + 155,852 = 357,821 m
Es = (Rr + p) sec - Rr
= (239 +19,508) sec 38o 239 = 89,052 m

Dari perbandingan antara bentuk tikungan Spiral-Circle-Spiral dan bentuk


Spiral-Spiral, maka dapat diambil kesimpulan bahwa bentuk tikungan 1
yang terbaik adalah bentuk tikungan Spiral-Circle-Spiral karena memiliki
nilai Es yang lebih kecil. Dengan data yang diperoleh dari hasil
perhitungan adalah sebagai berikut :
= 76o p = 0,856 m
s = 38o Es = 65,382 m
Lc = 246,861 m Ls = 70 m
L = 386,861 m c = 59,210o
Ts = 222,354 m e = 0,098 = 9,8%
Rr = 239 m x = 69,850 m
k = 34,957 m y = 3,417 m
Tikungan 2
1. Full Circle
= 74o emax = 0,10
Vr = 80 km/jam Rr = 239 m

2
Vr 80 2
0,211
fmax = 127 R r 127 239 m
2 2
Vr 80
R = 127(emax f max ) = 127(0,10 0.211) = 162,115 m
Jadi karena Rhitungan = 162,115 m < Rr = 239 m, atau R < Rmin yang
disyaratkan 1100 m sehingga bentuk Full Circle tidak bisa digunakan.

2. Spiral Circle Spiral


= 74o emax = 0,10
Vr = 80 km/jam Rr = 239 m
Melalui cara interpolasi dari tabel panjang lengkung peralihan minimum
dan superelevasi metode Bina Marga diperoleh :
e = 0,98
Ls = 70 m

Ls 70
360 o
2s = 2. .R o
r 360 = 2 3 ,14 239 = 16,790o
s = 8,395o
c = - 2s = 74o 2 (8,395o) = 57,210o
c 57,210 o
2. .Rr o
2 3,14 239
Lc = 360 o
= 360 = 238,522 m
Karena Lc > 20 m, maka bentuk S-C-S dapat digunakan.

L = Lc + 2Ls = 238,522 + (2 x 70) = 378,522 m


Ls 2 70 2
y = 6.Rr = 6 239 = 3,417 m
Ls 3 70 3
Ls 70
40 239 2 = 69,850 m
2
x = 40.R r =
p = y Rr (1 cos s)
= 3,417 239 (1 cos 8,395o) = 0,856 m
k = x Rr sin s
= 69,850 (35 sin 8,395o) = 34,957 m
Ts = ( Rr + p ) tan (1/2 ) + k
= ( 239 + 0,856) tan (1/2 74)+ 34,957 = 215,702 m
Es = ( Rr + p ) sec (1/2 ) Rr
= (239 + 0,856) sec (1/2 74) 239 = 61,333 m

3. Spiral Spiral
= 74o e = 0,10
Vr = 80 km/jam Rr = 239 m
Lsmin = 70 m
s 1 / 2 1 / 2 74 37 o
s R r 54 3,14 239
Ls 306,522 m
90 90
Karena nilai Ls > Lsmin, maka untuk lengkung berbentuk spiral-spiral dapat

s
digunakan Rs =239 meter. Dengan diketahuinya nilai = 74o, maka dari
tabel besaran p* dan k* diperoleh nilai :
diperoleh nilai:
p* = 0,0615673
k * = 0,4918639

Jadi, p = p* x Ls = 0,0615673 x 308,522 = 18,995 m


k = k* x Ls = 0,4918639 x 308,522 = 151,751 m

L = 2Ls = 2 308,522 = 617,045 m


Ts = (Rr + p) tan + k
= (239 + 18,995) tan 74o + 151,751 = 346,164 m

Es = (Rr + p) sec - Rr
= (239 + 18,995) sec 74o 239 = 84,045 m

Dari perbandingan antara bentuk tikungan Spiral-Circle-Spiral dan bentuk


Spiral-Spiral, maka dapat diambil kesimpulan bahwa bentuk tikungan 2
yang terbaik adalah bentuk tikungan Spiral-Circle-Spiral karena memiliki
nilai Es yang lebih kecil. Dengan data yang diperoleh dari hasil
perhitungan adalah sebagai berikut :
= 74o p = 0,856 m
s = 8,395o Es = 61,333 m
Lc = 238,522 m Ls = 70 m
L = 378,522 m c = 57,210o
Ts = 215,702 m e = 0,098 = 9,8%
Rr = 239 m x = 69,850 m
k = 34,957 m y = 3,417 m

BAB III
PERENCANAAN ALINYEMEN VERTIKAL

Alinyemen vertikal adalah perpotongan bidang vertikal dengan bidang


permukaan perkerasan jalan melalui sumbu 2 jalur 2 arah atau melalui tepi jalan
masing-masing perkerasan untuk jalan dengan median. Sering juga disebut
penampang memanjang jalan. Penarikan alinyemen vertikal sangat dipengaruhi
oleh berbagai pertimbangan seperti :
a. Kondisi tanah dasar
b. Keadaan medan
c. Fungsi Jalan
d. Muka air banjir
e. Muka air tanah
f. Kelandaian yang masih memungkinkan
Perlu juga diperhatikan bahwa alinyemen vertikal yang direncanakan itu
akan berlaku untuk masa yang panjang, sehingga sebaiknya alinyemen vertikal
tersebut dapat dengan mudah mengikuti perkembangan lingkungan. Alinyemen
vertikal dapat disebut juga penampang memanjang jalan yang terdiri dari garis-
garis lurus dan garis-garis lengkung. Garis lurus tersebut dapat datar, mendaki,
atau menurun, biasanya juga disebut landai. Landai jalan dinyatakan dalam persen
(%). Faktor-faktor yang mempengaruhi alinyemen vertikal antara lain adalah :
a) Landai maksimum
Untuk mengatasi pengaruh perlambatan kendaraan truk terhadap arus lalu
lintas maka diterapkan landai maksimum untuk kecepatan tertentu.
b) Panjang kritis suatu kelandaian
Panjang batas kritis umumnya diamabil jika kecepatan truk berkurang
mencapai 30 70 % kecepatan rencana hingga 1 menit perjalanan, dan
truk bergerak dengan beban penuh
c) Lajur pendekatan
Yaitu lajur yang disediakan untuk truk yang bermuatan berat atau
kendaraan lain yang berjalan dengan kecepatan lebih rendah, sehingga
kendaraan lain dapat mendahului kendaraan yang lambat tanpa melalui
jalur lawan.

Pengertian suatu kelandaian ke kelandaian yang lain dilakukan dengan


menggunakan lengkung vertikal. Lengkung vertikal tersebut direncanakan
sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi keamanan, kenyamanan dan drainase.
Jenis lengkung vertikal dilihat dari letak titik perpotongan kedua bagian
lurus (tangen), adalah :
1. Lengkung vertikal cekung
Merupakan lengkung dimana titk perpotongan kedua tangen berada di
bawah permukaan jalan. Penentuan lengkung vertikal cekung harus
memperhatikan :
a. Jarak penyinaran lampu kendaraan
Di dalam perencanan umumnya tinggi lampu depan diambil 60 cm,
dengan sudut penyebaran sebesar 1o. Letak penyinaran lampu depan
terbagi dua, yaitu sebagai berikut:
Jarak pandang akibat penyinaran lampu depan (< L)
Jarak pandang akibat penyinaran lampu depan (> L)
b. Jarak pandangan bebas di bawah bangunan
Ruang bebas vertikal minimum 5 m, disarankan mengambil lebih
besar perencanan yaitu 5,5 m, untuk memberi kemungkinan
adanya lapisan tambahan dikemudian hari.
c. Persyaratan drainase
d. Kenyamanan mengemudi
e. Keluwesan bentuk
2. Lengkung vertikal cembung
Merupakan lengkung dimana titik perpotongan antara kedua tangen berada
di atas permukaan jalan yang bersangkutan. Pada lengkung vertikal
cembung, pembatasan berdasarkan jarak pandang dapat dibedakan atas :
a. Jarak pandang berada seluruhnya dalam daerah lengkung (S < L)
b. Jarak pandang yang berada di luar dan didalam daerah lengkung (S >
L)
Lengkung vertikal cembung yang panjang dan relatif datar dapat
menyebabkan kesulitan pada drainase, jika sepanjang jalan sipasang Kreb.
Untuk menghindari hal tersebut panjang lengkung vertikal biasanya
dibatasi tidak melebihi 50 A sehubungan dengan keperluan drainase,
dimana A adalah perbedaan aljabar landai. Panjang lengkung yang diambil
untuk perencanaan sehubungan dengan kenyamanan pemakaian kendaraan
diisyaratkan tidak kurang dari 3 detik perjalan.

Alinyemen vertikal merupakan profil yang menggambarkan tinggi


rendahnya jalan terhadap muka tanah asli, sehingga memberikan gambaran
terhadap kemampuan kendaraan dalam keadaan naik dan bermuatan penuh (truk
digunakan sebagai kendaraan standar)
Alinyemen vertikal sangan erat hubungannya dengan besarnya biaya
pembangunan, biaya penggunaan kendaraan, dan jumlah lalu lintas. Jika pada
alinyemen horizontal yang merupakan bagian kritis adalah tikungan, pada
alinyemen vertikal yang merupakan bagian kritis justru pada bagian yang lurus.
Kemampuan pendakian dari kendaraan truk dipengaruhi oleh panjang pendakian
PPV
Lengkungkritis
(panjang Vertikal
landai) dan besar landai.
Parabola Biasa

Landai Maksimum dan Panjang Maksimum Landai

Landai Maksimum (%) 3 4 5 6 7 8 10 12


Panjang Kritis (m) 480 330 250 200 170 150 125 120

q1 Besar Landai
Landai maksimum hanya digunakan bila pertimbangan biaya sangat
memaksa dan untuk jarak yang pendek. Panjang kritis landai yang dimaksud
adalah panjang yang masih dapat diterima tanpa mengakibatkan gangguan
jalannya arus lalu lintas (Panjang ini mengakibatkan gangguan jalannya pengeras
kecepatan maksimal 25 km/jam). Bila pertimbangan biaya membuka memaksa,
maka panjang kritis dapat dilampaui dengan syarat ada jalur khusus untuk
kendaraan berat :
Lengkung Vertikal
Pada setiap penggantian landai harus dibuat lengkung vertikal yang
memenuhi keamanan, kenyamanan dan drainase yang baik. Adapun
lengkung vertikal yang digunakan adalah lengkung parabola sederhana
seperti gambar.
a.Lengkung vertikal cembung
+ g1 - g2
+ g1
- g2

+ g1 - g2

Bentuk persamaan umumnya :


g 2 g1 x 2
Y '
2L
Rumus vertikal cembung :
A. L
Y ' EV A g 2 g1
8
Dimana :
EV = Penyimpangan dari titik potong kedua tangen ke lengkung
vertikal (disini Y = EV, untuk x = L)
A = Perbedaan aljabar kedua tangen = g2 g1
L = Panjang lengkung vertikal cembung, adapun panjang
minimalnya
ditentukan berdasarkan :
Syarat pandangan henti & drainase (Grafik III PPGJR)
Syarat pandangan menyiap (Grafik IV PPGJR)

b. Lengkung vertikal cekung

- g2 - g2
+ g1 + g1

- g2

+ g1

Analogi dengan penjelasan (a) hanya panjang lengkung vertikal cekung


ditentukan berdasarkan jarak pandang waktu, macam dan syarat drainase
sebagaimana tercantum dalam grafik V PPGJR

Catatan :
Pada alinemen vertikal tidak terlalu dibuat lengkung dengan jarak
pandang menyiap, tergantung :
Medan Klasifikasi jalan Pembiayaan
Dalam menentukan harga A = g1 g2 , ada 2 cara :
- Bila % ikut serta dihitung, maka rumus seperti diatas dapat
digunakan
- Bila % sudah dimasukkan dalam rumus
g1 g 2
Y ' EV .L
800

ALINYEMEN VERTIKAL

A. Profil Memanjang

Dalam pembuatan profil memanjang harus memperhatikan :


1. Nomor stasiun yang telah kita tetapkan, yang dibuat dalam arah horizontal
dengan jarak yang telah ditetapkan.
2. Jarak titik diambil dari gambar trase jalan yang kita inginkan,
pengaturannya diusahakan untuk volume galian dan timbunan sama.
3. Jarak langsung, diukur pada stasiun awal hingga ke stasiun akhir
4. Tinggi muka tanah digambarkan dengan garis hitam, didapat dari data
muka tanah perstasiun (berdasarkan peta situasi)
5. Tinggi muka jalan dihitung dari ketinggian trase jalan yang direncanakan
6. Selanjutnya akan kita dapatkan beberapa volume galian dan timbunan
(diusahakan sama), jika tidak memungkinkan usahakan volume galian 1,5 dari
volume timbunan.
7. Dalam perhitungan kelandaian, harus sesuai dengan perencanaan sehingga
dalam perencanaan jalan jangan sampai melewati batas kelandaian maksimum
serta panjang kritisnya.

Panjang Landai maksimum dari tahap perencanaan jalan adalah sebagai berikut :
Landai Max (%) 3 4 5 6 7 8 10 12
Panjang Kritis (m) 480 330 250 200 170 150 125 120

1. Lengkung Vertikal I
Pada Stasiun 0 + 800 diketahui data sebagai berikut :
g1 = +1,375 %
g2 = -0,746 %
A = g 1 - g2
= +1,375 (-0,746)
= +2,121% (cembung)

Untuk kecepatan 80 km/jam, direncanakan panjang landai (Lv) = 100 m.


Titik PLV (Peralihan Lengkung Vertikal) :

Lv 100
0 800 - 800 - 0 750
2 2

Titik PPV (Pusat Perpotongan Vertikal ) : 0 800

Titik PTV (Peralihan Tangen Vertikal ) :

Lv 100
0 800 800 0 850
2 2

Untuk menentukan lekuk tiap stasiun, menggunakan rumus sebagai


berikut :
A 2,121 2,121x 2
Y' x2 x2
200 Lv 2 00 100 20000

Elevasi
No. Stasiun X Y' Elevasi
Tanah Asli
1 0 + 750 87.31 0 0.00 87.31
2 0 + 760 87.45 10 -0.01 87.44
3 0 + 770 87.59 20 -0.04 87.55
4 0 + 780 87.73 30 -0.10 87.63
5 0 + 790 87.86 40 -0.17 87.69
6 0 + 800 88.00 50 -0.27 87.73
7 0 + 810 87.93 40 -0.17 87.76
8 0 + 820 87.85 30 -0.10 87.76
9 0 + 830 87.78 20 -0.04 87.73
10 0 + 840 87.70 10 -0.01 87.69
11 0 + 850 87.63 0 0.00 87.63

Lengkung Vertikal Tikungan 1


88.10

88.00

87.90

87.80

87.70

87.60

87.50

87.40

87.30

87.20
740 750 760 770 780 790 800 810 820 830 840 850 860

Elevasi Lengkung Vertikal Elevasi Tanah Asli

2. Lengkung Vertikal II
Pada Stasiun 1 + 470 diketahui data sebagai berikut :
g2 = - 0,746 %
g3 = + 2,604 %

A = g2 g3

= - 0,746% - 2,604 %
= - 3,350 % (cekung)

Untuk kecepatan 80 km/jam direncanakan panjang landai (Lv) = 100 m.


Titik PLV (Peralihan Lengkung Vertikal) :

Lv 100
1 470 - 470 - 1 420
2 2

Titik PPV (Pusat Perpotongan Vertikal ) : 1 + 470

Titik PTV (Peralihan Tangen Vertikal ) :

Lv 100
1 470 - 470 1 520
2 2

Untuk menentukan lekuk tiap stasiun, menggunakan rumus sebagai


berikut :
A 3,350 2 3,350 x 2
Y ' x2 x
2 Lv 2 00 100 20000
Elevasi
No. Stasiun X Y' Elevasi
Tanah Asli
1 1 + 420 83.37 0 0.00 83.37
2 1 + 430 83.30 10 0.02 83.32
3 1 + 440 83.22 20 0.07 83.29
4 1 + 450 83.15 30 0.15 83.30
5 1 + 460 83.07 40 0.27 83.34
6 1 + 470 83.00 50 0.42 83.42
7 1 + 480 83.26 40 0.27 83.53
8 1 + 490 83.52 30 0.15 83.67
9 1 + 500 83.78 20 0.07 83.85
10 1 + 510 84.04 10 0.02 84.06
11 1 + 520 84.30 0 0.00 84.30

Lengkung Vertikal Tikungan 2

410 420 430 440 450 460 470 480 490 500 510 520 530

Elevasi Lengkung Vertikal Elevasi Tanah Asli


3. Lengkung Vertikal III
Pada Stasiun 2 + 430 diketahui data sebagai berikut :
g3 = +2,604 %
g4 = - 0,469 %

A = g3 g4

= +2,604% - (- 0,469%)
= +3,073 % (cembung)

Untuk kecepatan 80 km/jam, direncanakan panjang landai (Lv) = 100 m.


Titik PLV (Peralihan Lengkung Vertikal) :

Lv 100
2 430 - 430 - 2 380
2 2

Titik PPV (Pusat Perpotongan Vertikal ) : 2 + 430

Titik PTV (Peralihan Tangen Vertikal ) :

Lv 150
2 430 430 2 480
2 2

Untuk menentukan lekuk tiap stasiun, menggunakan rumus sebagai


berikut :
A 3,073 3,073 x 2
Y ' x2 x2
2 Lv 2 00 100 20000
Elevasi
No. Stasiun X Y' Elevasi
Tanah Asli
1 2 + 380 106.698 0 0 106.698
2 2 + 390 106.9584 10 -0.0154 106.943
3 2 + 400 107.2188 20 -0.0615 107.1573
4 2 + 410 107.4792 30 -0.1383 107.3409
5 2 + 420 107.7396 40 -0.2458 107.4938
6 2 + 430 108 50 -0.3841 107.6159
7 2 + 440 107.9531 40 -0.2458 107.7073
8 2 + 450 107.9062 30 -0.1383 107.7679
9 2 + 460 107.8593 20 -0.0615 107.7978
10 2 + 470 107.8124 10 -0.0154 107.797
11 2 + 480 107.7655 0 0 107.7655

Lengkung Vertikal Tikungan 3

370 380 390 400 410 420 430 440 450 460 470 480 490

Elevasi Lengkung Vertikal Elevasi Tanah Asli


4. Lengkung Vertikal IV
Pada Stasiun 3 + 070 diketahui data sebagai berikut :
g4 = - 0,469 %
g5 = +0,000 %

A = g4 g5

= - 0,469% - 0,000 %
= -0,469 % (cekung)

Untuk kecepatan 80 km/jam, direncanakan panjang landai (Lv) = 100 m.


Titik PLV (Peralihan Lengkung Vertikal) :

Lv 100
3 070 - 070 - 3 020
2 2

Titik PPV (Pusat Perpotongan Vertikal ) : 3 + 070

Titik PTV (Peralihan Tangen Vertikal ) :

Lv 100
3 070 - 070 3 120
2 2

Untuk menentukan lekuk tiap stasiun, menggunakan rumus sebagai


berikut :
A 0,469% 2 0,469 x 2
Y' x
2
x
2 Lv 200 100 20000
Elevasi
No. Stasiun X Y' Elevasi
Tanah Asli
1 3 + 20 105.23 0 0.00 105.23
2 3 + 30 105.19 10 0.00 105.19
3 3 + 40 105.14 20 0.01 105.15
4 3 + 50 105.09 30 0.02 105.11
5 3 + 60 105.05 40 0.04 105.08
6 3 + 70 105.00 50 0.06 105.06
7 3 + 80 105.00 40 0.04 105.04
8 3 + 90 105.00 30 0.02 105.02
9 3 + 100 105.00 20 0.01 105.01
10 3 + 110 105.00 10 0.00 105.00
11 3 + 120 105.00 0 0.00 105.00
Lengkung Vertikal Tikungan 4
105.26
105.24
105.22
105.20
105.18
105.16
105.14
105.12
105.10
105.08
105.06
105.04
105.02
105.00
104.98
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130

Elevasi Lengkung Vertikal Elevasi Tanah Asli

B. Profil Melintang
Profil melintang untuk jalan raya kelas II A dengan klasifikasi medan datar
mempunyai data sebagai berikut :
Lebar perkerasan : 2 x 3,50 m
Lebar bahu Jalan :3m
Lebar saluran :1m
Lereng melintang perkerasan :2%
Lereng melintang bahu jalan :4%
PROFIL MELINTANG

RENCANA
TINGGI PROFIL TANAH ASLI TRASE
STASIUN JALAN (AS)

KIRI MUKA TANAH KANAN

0 + 0 78.00 77.00 76.50 77.00


0 + 100 78.40 77.80 77.00 77.80
0 + 200 78.50 78.00 77.30 78.00
0 + 300 78.00 78.40 78.80 78.40
0 + 400 79.60 79.30 79.00 79.30
0 + 500 80.60 80.50 80.40 80.50
0 + 600 82.20 82.00 81.80 82.00
0 + 700 84.20 84.00 83.80 84.00
0 + 800 88.20 88.00 86.00 87.00
0 + 900 90.50 89.50 88.40 89.50
1 + 0 89.80 88.80 88.00 88.80
1 + 100 88.00 87.50 87.00 87.50
1 + 200 87.00 86.50 86.00 86.50
1 + 300 85.50 85.00 84.50 85.00
1 + 400 84.60 84.00 83.50 84.30
1 + 500 84.80 84.00 83.90 84.20
1 + 600 86.20 86.00 85.90 86.00
1 + 700 88.50 88.30 88.00 88.30
1 + 800 90.80 90.50 90.00 90.50
1 + 900 94.00 93.00 91.90 93.00
2 + 0 96.00 95.30 94.00 95.50
2 + 100 98.50 97.00 96.00 97.00
2 + 200 101.00 99.80 99.00 99.80
2 + 300 109.00 107.00 106.00 107.00
2 + 400 109.00 110.00 110.80 110.20
2 + 500 108.00 108.80 107.00 108.80
2 + 600 103.00 102.00 100.00 102.00
2 + 700 94.50 93.00 92.80 93.00
2 + 800 92.40 92.50 92.60 92.50
2 + 900 93.50 94.00 94.50 94.00
3 + 0 100.00 100.00 100.00 100.00
3 + 100 106.00 106.00 104.80 105.00
3 + 200 112.00 111.00 109.80 111.00
3 + 300 114.00 112.80 113.00 112.80
3 + 400 115.50 114.00 112.80 114.00
3 + 500 113.00 112.00 111.50 112.00
3 + 600 109.30 109.00 108.00 109.00
3 + 700 106.00 105.00 104.40 105.00
3 + 800 104.80 105.50 103.80 105.50
3 + 900 104.00 104.50 104.00 104.50
4 + 0 102.90 104.50 104.00 104.50
4 + 100 102.90 103.00 104.00 103.00
4 + 200 104.00 105.00 104.80 105.00
C. Galian dan Timbunan
Setelah diperoleh profil melintang, dihitung volume galian dan volume
timbunan. Untuk mencari luas dari penampang melintang, dapat dianggap
luasan berupa siku-siku, trapesium atau diperkirakan sedemikian rupa
supaya luasannya benar-benar mendekati kebenaran. Untuk
menyelesaikannya, gunakan tabel dengan keterangan sebagai berikut :
G = Luas penampang melintang galian satu stasiun (m2)
T = Luas penampang melintang timbunan satu stasiun (m2)
G = Luas penampang rata-rata galian antar 2 stasiun (m2)
T = Luas penampang rata-rata timbunan antar 2 stasiun (m2)
d = Jarak antar 2 stasiun

Vg = Volume galian antar 2 stasiun (m3) = G . d

Vt = Volume timbunan antar 2 stasiun (m3) = T . d


Catatan :
Luas Trapesium = x tinggi x (Jumlah sisi sejajar)
Luas Segitiga = x alas x. Tinggi

Luas Penampang Melintang D Volume (M3)


Antar
Stasiu G T G T Vg Vt
n Jumlah
1 2 3 4 5 3X5 4X5
33.7
0 0.00 0.00
3
29.15 4.41 100 2914.59 -440.61
24.5
1 8.81
6
2914.59
24.5 24.98 8.37 100 2498.30 -837.20
1 8.81
6
2 25.4 7.93 6250.09
0
2 25.4 7.93 29.43 3.97 100 2943.08 -396.59
0
33.4
3 0.00
6
9589.75
33.4
3 0.00
6
33.46 0.000 100 3345.87 0.00
33.4
4 0.00
6
12935.61
33.4
4 0.00
6
33.46 0.00 100 3345.73 0.00
33.4
5 0.00
6
16281.34
33.4
5 0.00
6
33.46 0.00 100 3345.63 0.00
33.4
6 0.00
6
19626.97
33.4
6 0.00
6
33.46 0.00 100 3345.69 0.00
33.4
7 0.00
6
22972.66
33.4
7 0.00
6
35.04 0.00 100 3503.97 0.00
36.6
8 0.00
2
26476.62
36.6
8 0.00
2
26.93 6.51 100 2693.42 -651.37
17.2 13.0
9
5 3
29821.41
17.2 13.0
9
5 3
21.01 10.92 100 2100.72 -1092.26
24.7
10 8.82
7
33014.38
24.7
10 8.82
7
29.12 4.41 100 2911.68 -440.89
33.4
11 0.00
7
36366.95
33.4
11 0.00
7
33.47 0.00 100 3346.53 0.00
33.4
12 0.00
7
39713.48
33.4
12 0.00
7
33.47 0.00 100 3346.53 0.00
33.4 43060.01
13 0.00
7
13 33.4 0.00 21.42 10.52 100 2141.61 -1051.87
7
21.0
14 9.37
4
46253.49
21.0
14 9.37
4
10.96 18.14 100 1095.81 -1813.76
12.5 15.2
15
5 4
49163.06
12.5 15.2
15
5 4
23.03 7.62 100 2302.74 -761.89
33.5
16 0.00
1
52227.68
33.5
16 0.00
1
33.46 0.00 100 3345.67 0.00
33.4
17 0.00
1
55573.35
33.4
17 0.00
1
33.39 0.00 100 3338.51 0.00
33.3
18 0.00
6
58911.86
33.3
18 0.00
6
25.39 6.51 100 2539.41 -651.24
17.4 13.0
19
3 2
62102.51
17.4 13.0
19
3 2
14.79 15.79 100 1478.77 -1578.70
12.1 18.5
20
5 5
65159.98
12.1 18.5
20
5 5
14.83 14.94 100 1483.37 -1494.05
17.5
21 11.33
2
68137.40
17.5
21 11.33
2
21.20 10.08 100 2119.67 -1007.51
24.8
22 8.82
8
71264.58
24.8
22 8.82
8
25.34 8.65 100 2533.54 -865.43
25.8
23 8.49
0
74663.54
25.8
23 8.49
0
19.16 13.27 100 1915.93 -1326.74
12.5 18.0 77906.20
24
2 4
24 12.5 18.0 9.98 20.20 100 998.17 -2019.75
2 4
22.3
25 7.44
5
80924.11
22.3
25 7.44
5
12.34 17.97 100 1234.30 -1796.73
17.2 13.5
26
5 8
83955.14
17.2 13.5
26
5 8
25.70 6.79 100 2569.62 -679.22
34.1
27 0.00
5
87203.97
34.1
27 0.00
5
33.80 0.00 100 3380.05 0.00
33.4
28 0.00
5
90584.02
33.4
28 0.00
5
33.46 0.00 100 3345.75 0.00
33.4
29 0.00
6
93929.77
33.4
29 0.00
6
33.46 0.00 100 3345.76 0.00
33.4
30 0.00
5
97275.52
33.4
30 0.00
5
35.17 0.00 100 3516.81 0.00
36.8
31 0.00
8
100792.33
36.8
31 0.00
8
27.06 6.54 100 2706.26 -654.23
17.2 13.0
32
4 8
104152.81
17.2 13.0
32
4 8
25.71 6.54 100 2571.24 -654.23
34.1
33 0.00
8
107378.27
34.1
33 0.00
8
25.84 6.55 100 2584.02 -654.57
17.5 13.0
34
0 9
110616.86
17.5 13.0
34
0 9
25.61 6.55 100 2561.40 -654.57
33.7 113832.83
35 0.00
3
35 33.7 0.00 25.30 5.67 100 2530.41 -566.59
3
16.8
36 11.33
8
116929.83
16.8
36 11.33
8
21.67 9.27 100 2167.22 -927.39
26.4
37 7.22
7
120024.44
26.4
37 7.22
7
17.43 14.30 100 1742.97 -1430.04
21.3
38 8.39
8
123197.45
21.3
38 8.39
8
20.68 10.69 100 2067.77 -1069.25
32.9
39 0.00
6
126334.46
32.9
39 0.00
6
24.72 6.67 100 2472.14 -666.88
16.4 13.3
40
8 4
129473.48
16.4 13.3
40
8 4
25.20 6.67 100 2520.01 -666.88
33.9
41 0.00
2
132660.37
33.9
41 0.00
2
25.27 5.74 100 2527.34 -574.27
16.6
42 11.49
3
135761.97
16.6
42 11.49
3 8.31 5.74 100 831.43 -574.27
43 0.00 0.00 134356.28
LAMPIRAN