Anda di halaman 1dari 13

Makalah

Kajian Penggunaan Sistem Informasi Geografis (SIG)


Untuk Pertanian Presisi

Oleh :
Yagus Wijayanto
NIP. 19660614011001

Fakultas Pertanian
Universitas Jember
2013

0
I. PENDAHULUAN

Sistem produksi pertanian merupakan hasil dari interaksi kompleks berbagai faktor.
Interaksi berbagai faktor tersebut telah memungkinkan terjadinya kinerja hasil tanaman yang
berbeda-beda, dan telah memungkinkan terjadinya inovasi teknologi dalam produksi
pertanian. Teknologi pertanian pada era Revolusi Hijau (Green Revolution) telah
memberikan dampak negatif pada lingkungan. Dampak negatif dati teknologi pertanian telah
banyak dibahas, sebagai contoh Rodriguez (2004) telah menunjukkan pengaruh negatif dari
sektor pertanian yang meliputi: meningkatnya jumlah CO2 dan sumber patogen yang dapat
menyebabkan penyakit dan infeksi. Kondisi ini telah mendorong pada penemuan teknologi
pertanian baru yang memberikan penekanan pada peningkatan efisiensi, memberikan hasil
yang tinggi dan ramah lingkungan.

Teknologi Pertanian Indonesia berkembang dengan sangat pesat. Perkembangan ini


sejalan dengan tuntutan global yang memang memaksa Indonesia harus membuat banyak
perubahan dalam bidang teknologi pertanian. Perkembangan ini meliputi proses produksi di
hulu hingga pengolahan di hilir. Banyak aplikasi teknologi yang digunakan dalam industri
pertanian modern di Indonesia yang bertujuan untuk mencapai hasil yang tinggi dengan biaya
produksi yang rendah serta dapat mengurangi dampak pada lingkungan. Itulah yang sekarang
pesat dikembangkan, pertanian presisi atau lebih kerennya disebut precision farming.
Mengapa precision farming? karena sumber daya produksi pertanian kita sudah terbatas.
Sumber daya air, tanah, pupuk, manusia dan faktor produksi lainnya sudah berkurang baik
dari segi kualitas dan kuantitas sehingga optimalisasi untuk mendapatkan hasil produk
pertanian yang optimal dan berkualitas tinggi perlu dilakukan. Berbagai faktor yang dianggap
bertanggung jawab terhadap penurunan kualitas dan kuantitas antara lain : jumah penduduk
yang semakin bertambah, penggunaan lahan pertanian untuk penggunaan bukan pertanian,
erosi dan degradadi lahan, dan berbagai sebab lain yang menjadikan lahan mengalami
penurunan kulaitas dan kuantitas.

Pertanian Presisi (Precision Farming) menurut Kaleita dan Tian (2002) dalam
Omaran (2012) dapat didefinisikan sebagai berikut :

an integrated information- and production-based farming system that is designed to increase long term,
site-specific and whole farm production efficiency, productivity and profitability while minimizing negative
environmental impacts

1
Definisi tersebut menunjukkan keunggulan dari pertanian presisi yakni disamping
meningkatkan produksi pertanian, efisiensi, dan keuntungan, sekaligus menurunkan dampak
negatif pada lingkungan.

Pertanian presisi (precision farming) dapat disamakan dengan berbagai istilah lain.
Istilah-istilah lain yang berhubungan dengan pertanian presisi antara lain precision
agriculture, prescription farming, site specific management (Pierce dan Nowak, 1999). Pada
artikel ini, istilah-istilah tersebut dianggap sama dan dapat digunakan secara bergantion serta
memiliki arti yang sama.

Berbagai isu strategis telah menghadang pembangunan pertanian di Indonesia. Era


abad 21 ini akan diwarnai isu yang akan terus berkembang. Isu perubahan iklim, keterbatasan
sumber daya, ketahanan pangan, dan perdagangan bebas mau tidak mau akan mendorong
pertanian Indonesia menuju arah industrialisasi pertanian. Tuntutan industrialisasi akan
segera datang dalam waktu dekat untuk menjamin ketahanan pangan nasional, daya saing
komoditas di kancah internasional, isu sustainability, dan lingkungan. Untuk itulah pertanian
presisi ada, untuk menyongsong era baru pertanian Indonesia yang tidak lagi dengan cara-
cara konvensional, tetapi harus dimodernisasi ke arah industrialisasi pertanian.Walaupun
perubahan ini nampaknya tidak selalu mulus, upaya yang terus menerus perlu dilakukan
untuk dalam waktu yang akan datang menerapkan sistem pretanian presisi mealui proses
perencanaan yang matang baik dari berbagai sumberdaya, termasuk sumberdaya manusia.
Berdasarkan gambaran permasalahan diatas menunjukkan bahwa pertanian presisi merupakan
alternatif yang menjanjikan untuk pertanian abad 21.

Namun demikian, permasalahan yang berhubungan dengan pertanian presisi adalah


munculnya permasalahan yang berhubungan dengan peralatan dan teknik analisis yang
digunakan dalam pertanian presisi. Hal ini sangat beralasan mengingat pertanian presisi
berhubungan dengan bagaimana memberikan input sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan
oleh tanaman, baik menyangkut aspek lokasi, waktu, dan jumlah masukan. Berbagai alatpun
sudah diusulkan. Pierce dan Nowak (1988) dengan jelas telah menjelaskan peranan berbagai
alat dan teknik yang dapat digunakan dalam pertanian presisi: Sistem Informasi Geografis
(SIG), permodelan (modelling), GPS.

Pertanian presisi berhubungan dengan presisi lokasi, dan Sistem Informasi Geografis
(SIG) merupakan alat yang paling banyak dibahas. Sistem Informasi Geografis (SIG)
merupakan sebuah sistem komputer yang bertujuan untuk memasukkan, menganalisis dan

2
menyajikan informasi-informasi yang teracu secara keruangan (ESRI, 1999). Meskipun
terdapat berbagai studi yang telah menggunakan SIG sebagai salah satu alat untuk pertanian
presisi, namun sampai sejauh yang diketahui penulis masih terbatas pada penggunaan SIG
untuk menilai variabiitas (the assessment of variability). Oleh karena itu, atikel ini hanya
akan memberikan penekanan pada Sistem Informasi Geografis (SIG), dan terutama bertujuan
untuk menunjukkan gagasan mengenai bagimana seharusnya SIG itu dapat digunakan
sebagai alat untuk pertanian presisi.

II. Metode kajian

Attikel ini terutama menggunakan kajian pustaka sebagai sumber utama. Jurnal-jurnal
yang terkait dengan penggunaan SIG untuk pertanian presisi telah dikaji. Namun demikian
patut diakui bahwa sebagaian sumber yang diperoleh merupakan sumber pustaka berbahasa
Inggris, yang berarti bahwa penerapan SIG untuk pertanian presisi memang lebih banyak
dilakukan oleh peneliti-peneiti dari manca negara.

III. Hasil Kajian

Hubungan antara Sistem Informasi Geografis dengan pertanian presisi secara ringkas
dapat dilihat pada Gambar 1 berikut. Dari Gambar 1 tersebut nampak jelas bahwa SIG secara
potential berperan dalam berbagai kegiatan dalam pertanian presisi.

Gambar 1. Hubungan antara Sistem Informasi Geografis dengan berbagai kegiatan


dalam pertanian presisi (sumber : Limpisathian)

3
Gambar 1 tersebut juga menunjukkan bahwa data-data yang diperoleh dari hasil analisis
dalam SIG dapat digunakan dalam berbagai kegiatan dalam berbagai aktivitas pertanian presisi.
Hal ini menunjukkan bahwa kontribusi SIG dalam pertanian presisi tidak diragukan lagi. Namun
demikian dari Gambar 2 tersebut terdapat aspek yang belum nampak yang terutama menyangkut
bagaimana SIG digunakan dalam tahap persiapan praktek pertanian presisi, misalnya bagaimana
menentukan variabilitas sifat-sifat tanah, bagaimana membuat zone homogen untuk pengelolaan
pertanian presisi, bagiama data yang sedemikian banyak diolah dalam sistem informasi, dan
bagaimana data-data yang menyangkut perubahan dari satu waktu ke waktu lain dianalisis dalam
SIG.
Sehubungan dengan uraian diatas, maka hasil kajian pustaka dalam hubungannya
dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok utama kajian :
(a) Penggunaan SIG untuk penilaian variabilitas;
(b) Penggunaan SIG sebagai basisdata (database) dalam pertanian presisi;
(c) Penggunaan SIG untuk membuat rekomendasi (prescription)

Untuk setiap kelompok kajian ternyata menunjukkan jumlah aplikasi yang berbeda
yang menunjukkan bahwa nampaknya lebih banyak kajian yang mengarah pada peniliaian
variabilitas bila dibandingkan dengan kelopmpok kajian lainnya. Uraian selenhgkapnya
mengenai setaip kajian tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.

3.1 Penggunaan SIG untuk penilaian variabilitas

Pertanian presisi bertujuan untuk memberikan input pada lahan berdasarkan pada
lokasi yang tepat, sesuai dengan kondisi tanah dan kebutuhan tanaman. Oleh karena itu,
penilaian variabilitas merupakan aspek penting dan merupakan tahap awal yang sangat
mendasar dalam pertanian presisi (Pierce dan Nowak, 1998), karena tahap ini akan
menentukan tahap-tahap selanjutnya.
Sistem Informasi Geogrfais (SIG) telah banyak diterapkan untuk penilaian variabilitas
(Kavianpoor, et al, 2012: Patil, et al, 2011; Sivarajan, et al, 2013, Zandi, et al, 2012).Berbagai
studi tersebut memeliki tujuan terutama untuk mengetahui hubungan antara sifat-sifat tanah
dengan pertumbuhan dan produktifitas tanaman. Beberapa sifat tanah yang dianalisis
misalnya : pH. C Organik, kapasitas lapang, kapasitas layu (wilting point), daya hantar listrik,
fospor, nitrogen, dan sifat-sifat tanah yang diperkirakan memiliki keterkaitan dengan
pertumbuhan dan produktifitas tanaman.

4
Berbagai teknik analisis dalam Sistem Informasi Geografis sudah, sedang dan
nampaknya akan terus digunakan, anatara lain teknik interpolasi kriging, spline, dan inverse
distance weighting (Robinson dan Metternicht, 2006; Mueller, et al, 2001, Mueller, et al,
2004). Teknik interpolasi kriging dianggap sebagai teknik utama untuk analisis variabilitas
keruangan (spatial variability analysis). Berbagai teknik interpolasi tersebut menunjukkan
hasil yang bervariasi dari keakuratan data yang dihasilkan dari proses interpolasi dan teknik
interpolasi. Dari berbagai stdui tersebut juga memberikan kesimpulan bahwa tidak ada satu
teknikpun yang dapat berlaku menyeluruh, dan pemilihan teknik interpolasi yang digunakan
akan sangat tergantung pada kondisi variabilitas sifat-sifat tanah di lapang. Hasil analisis
dengan teknik interpolasi ini umumnya disajikan dalam bentuk permukaan (surface) atau
kontur yang dapat dilihat pada Gambar 2 berikut.

Gambar 2. Contoh hasil interpolasi dalam bentuk kontur (Sumber : Robinson dan
Metternicht, 2006).

5
Berbagai studi di atas juga telah menunjukkan bahwa teknik pengambilan sampel
(sampling) sangat berpengaruh terhadap hasil analisis interpolasi spasial. Disamping teknik
pengambilan sampel, faktor-faktor lain yang dianggap berpengaruh terhadap hasil interpolasi
adalah: jumlah sampel, jarak sampel dan parameter yang dipiih untuk analisis (Webster dan
Oliver, 1990). Oleh karena itu aplikasi berbagai teknik interpolasi seperti disebutkan diatas
harus dilakukan dengan sangat hati-hati, karena menyangkut akurasi dari hasil interpolasi.
Salah satu implikasi dari peniliain variabilitas adalah penentuan zone pengelolaan
(management zone). yang menurut Doerge (2001) dapat didefinisikan sebagai berikut :
a precision farming management zone is defined as a sub-region of a field that expresses a
functionally homogeneous combination of yield-limiting factors for which a single rate of a
specific crop input is appropriate.. Definisi tersebut menunjukkan bahwa membuat zone
pengelolaan pada prinsipnya hanyalah mengelompokkan lapang berdasar pada kesamaan
fenomena. Deliniasi (membuat batas) zone pengeolaan dapat dianggap sebagai tahap kritis
dan sangat menentukan dalam pertanian presisi. Definisi tersebut juga menunjukkan bahwa
zone pengelolaan dapat dibuat berdasarkan satu atau kombinasi faktor penentu produksi
tanaman. Namaun demikian, seperti yang diungkapkan oleh Hornung, et al (2006) bahwa
semakin banyaknya penambahan faktor yang diwujudkan dalam bentuk layer belum tetntu
memberikan hasil akurat dari deliniasi zone pengelolaan. Karena pertanian presisi
menggunakan lapang (field) sebagai konsep dasar maka jelaslah bahwa SIG sangat
berperanan penting dalam membantu dalam penentuan zone pengelolaan. Disamping itu,
kemampuan SIG di dalam mengelola data spasial yang dalam hal ini adalah field tersebut dan
kombinasi dari berbagai field yang diwujudkan dalam peta satu tema (layer/coverage) dalam
Sistem Informasi Geografis, memungkinkan pembuatan zone pengelolaan dapat dilakukan
dengan lebih efektif dan efisien dengan menggunakan SIG. Layer atau tema yang dapat
digunakan untuk menentukan zone pengeollaan menurut Hornung, et al (2006) adalah : (a)
tekstur tanah, (b) rona/warna citra penginderaan jauh (remote sensing); (c) topografi; (d)
pengalaman petani; dan (e) sifat-sifat tanah : kadar bahan organik, tekstur, kapasitas tukar
kation dan (e) peta hasil tanaman.
Studi yang telah dilakukan oleh Chiericati (2007) telah menunjukkan bagaimana zone
pengelolaan dapat dibuat berdasarkan kombinasi dari berbagai faktor. Teknik clustering
digunakan dalam penelitian yang digunalan oleh Chiericati (2007) ini, dengan melakukan
kombinasi dari faktor-faktor : bahan organik tanah, daya hantar listrik and indeks vegetasi
(vegetation index). Hasil analisis dapat disajikan pada Gambar 3 berikut.

6
Gambar 3. Zone pengelollan yang dibuat dengan cara clustering (Sumber : Chiericati, 2007)

3.2 Penggunaan SIG sebagai Basis Data Pertanian Presisi

Tidak diragukan lagi bahwa pertanian presisi membutuhkan data banyak dan
bervariasi. Pierce dan Nowak (1999) dengan jelas menyebutkan bahwa pertanian presisi
membutuhkan perolehan, pengelolaan, analisis dan penyajian sejumlah besar data yang
bersifat keruangan dan temporal. Banyaknya data dalam pertanian presisi terkait dengan
kenyataan bahwa data yang dibutuhkan dalam pertanian presisi adalah data keruangan
(spatial) dan data temporal. Peranan SIG sebagai Sistem Pengelolaan Basis Data (Database
Management Systems) berperanan sangat sentral dalam Pertanian preseisi. Kemampuan SIG
dalam melakukan berbagai analisis data keruangan serta kemampuan dalam menyimpan
data dalam jumlah yang besar telah membuat SIG alat yang handal dalam pertanian presisi,

7
seperti dikemukakan oleh Pierce dan Nowak (1999) yang menyatakan bahwa karena
kenyataan bahwa pertanian presisi berhubungan dengan variabel-variabel keruangan dan
temporal dan karena pertanian presisi merupakan sistem pertanian berbasis data maka
kemampuan analisis keruangan SIG lah yang memungkinkan pertanian presisi. Dengan kata
lain kemampuan SIG lah yang telah memungkinkan perubahan sejumlah besar data dalam
pertanian presisi menjadi informasi yang dibutuhkan untuk pengambian keputusan. Dengan
kemampuan tersebut maka analisis kecenderungan (trend analysis), analisis pola (pattern
analysis) dan analisis hubungan dapat dilakukan dengan menggunakan data-data yang
sudah tersimpan dalam Sistem Informasi Geografis. Oleh karena itu SIG dapat berfungsi
sebagai alat pengambilan keputusan (decision support systems) untuk pertanian presisi.

Pemanfaatan SIG sebagai basisdata untuk pertanian presisi terutama sangat berguna
pada saat membuat prescription map. Seperti disebutkan dalam Pierce dan Nowak (1999)
prescription map merupakan sebuah atau beberapa peta yang dibuat dari peta-peta kondisi
(contional maps), yang diperoleh dari penilaian variabilitas yang sudah dijelaskan pada 3.1,
yang sudah disimpan dalam Sistem Informasi Geografis. Dengan kenyataan ini maka
jeaslah bahwa dengan kemampuan menyimpan data-data dalam jumlah besar maka
sangatlah mungkin untuk membuat prescription map berdasarkan sejumlah data yang telah
tersimpan dalam SIG. Disamping itu, kemampuan Sig untuk dapat menyimpan data dari
berbagai sumber telah memungkinkan pembuatan prescription map lebih efektif dan efisien.
Berbagai sumber data yang dapat dimasukkan sebagai sumber data untuk SIG dapat dilihat
pada Gambar 4 berikut.
Gambar tersebut menjelaskan bahwa berbagai data dapat dimasukkan yang
selanjutnya dianalisis dan disajikan dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). Data-data
yang diperoleh dari pengamatan lokasi dengan alat Global Positioning System (GPS), data-
data pengamatan lapang, data lokasi sampel tanah dapat dimasukkan dalam SIG. Data-data
sekunder dan primer dapat juga dimasukkan dalam SIG, seperti misalnya data praktek
pertanian petani (pemupukan, pengolahan lahan) juga dapat dimasukkan dalam SIG. Selaian
data vektor, data raster (raster data) juga dapat dimasukkan dan disimpan serta dianaisis
melalui alat SIG ini. Dari penjelasan di atas jelasah bahwa SIG berfungsi sebagai basisdata
(database) untuk pertanian presisi.

8
Gambar 5. Sumberdata untuk Sistem Informasi Geografis (Sumber
:http://www.google.com/imgres?imgurl=http://www.croswellschulte.com/GIS_da
ta_types.jpg&imgrefurl=http://www.croswellschulte.com/ServicesGIS%2520Des
ign%2520and%2520Implementation.htm&h=289&w=397&sz=27&tbnid=ZT6vS
HKKQLX5SM:&tbnh=90&tbnw=124&zoom=1&usg=__NdzhGCAkZvwKYSd2
Kmz0mBMJwWk=&docid=xTVt_NEVqBLQzM&sa=X&ei=2EOlUsvHM4TtrA
f3-YHgAw&ved=0CDMQ9QEwAg)

Pentingnya SIG sebagai basisdata akan sangat memberikan manfaat besar bagi
pertanian presisi dengan alasan seperti dikemukakan oleh Pierce dan Nowak (1999) yang
dengan jelas menyebutkan bahwa proses-proses dan sifat-sifat yang menentukan kinerja
dan hasil tanaman sangat bervariasi menurut tempat dan waktu. Pencatatan (recording)
faktor-faktor yang menentukan kinerja dan hasil tanaman dari waktu ke waktu dan dari satu
tempat ke tempat ain akan sangat menentukan keputusan yang diambil. Dengan adanya
SIG, maka keputusan yang diambil dalam kaitannnya dengan pertanian presisi akan menjadi
lebih berbasis pada data (data driven decision) dan hasil keputusan akan menjadi lebih
akurat. Lebih penting lagi seperti diungkapkan pleh Pierce dan Nowak (1999) bahwa untuk
pertanian presisi agar dapat berguna maka variasi harus diketahui dengan ukuran yang
diketahui, secara keruangan terstruktur (spatialy structured) dan dapat dikelola
(manageable). Pernyataan ini secara tegas menunjukkan bahwa analisis keruangan

9
sangatlah penting dalam pertanian presisi. Teknik analisis untuk menentukan struktur
keruangan (random atau cluster) sangatlah mudah dilakukan dengan SIG. Berbagai data
dapat dimasukkan dan dianalisis dalam SIG untuk menentukan derajad variasi dari faktor-
faktor yang menentukan kinerja dan hasil tanaman. Selanjutnya SIG dapat digunakan untuk
menentukan apakah satuan-satuan yang telah ditentukan melalui zone pengeolaan seperti
disebutkan dalam 3.1 dapat dikelola atau dapat diperlakukan secara random/rata-rata.
Berbagai teknik analisis keruangan yang terdapat dalam SIG sangat potensial digunakan
dalam pertanian presisi.
Salah satu contoh baik dari penerapan konsep basisdata dalam pertanian presisi telah
dilakukan oleh Prabawa, et al (2009) yang mengungkapkan bahwa SIG sebagai salah satu
komponen dari sistem yang telah dibuat terbukti mampu untuk dapat mengetahui lokasi-
lokasi dengan kelebihan dan kekurang pupuk yang selanjutnya dapat dijadikan sebagai alat
untuk rekomendasi yang bersifat spesifik lokasi (site specific).

3.3. Penggunaan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk Membuat Rekomendasi


Pertanian Presisi

Penggunaan SIG untuk rekomendasi pertanian presisi beragam tergantung pada jenis
tanaman dan teknik analisis dalam SIG yang digunakan. Satyanarayana (2011) menggunakan
Sistem Informasi Geografis sebagai alat untuk membuat pemetaan kesuburan berbasis SIG
untuk membuat rekomendasi pemupukan. Penggunaan SIG pada studi ini memberikan
penekanan pada pembuatan / deliniasi zone-zone pengelolaan kesuburan tanah tang berbasis
pada peta varriabilitas kesuburan tanah, dan berdasarkan pada zone-zone tersebut kemudian
dibuatlah rekomendasi.

IV. KESIMPULAN

Hasil kajian penggunaan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk pertanian presisi
yang dilakukan pada artikel ini menunjukkan bahwa SIG merupakan alat yang sangat
potensial untuk pertanian presisi. Hasil kajian juga telah menunjukkan bahwa SIG dengan
bentuk utama penyajian adalah peta (data keruangan /spatial data) sangat membantu dalam
pembuatan peta kondisi (condition maps) dan peta preskripsi (prescription maps) dalam
pertanian presisi. Kemampuan analisis keruangan SIG telah memungkinkan pertanian presisi

10
dapat dilakukan dengan lebih berdasar pada data dan keputusan-keputusan yang diambil juga
berbasis pada data (data driven decision), sehingga keputusan lebih akurat. Oleh karena itu
berdasarkan kajian ini jelaslah bahwa SIG sangat berperanan dalam pertanian presisi.

DAFTAR PUSTAKA

Chiericati, M., F. Morari, L. Sartori, B. Ortiz, C. Perry, and G. Vellidis. 2007. Delineating
management zones to apply site-specific irrigation in the Venice lagoon watershed.
dalam: Stafford, J.V. (Ed.), Precision Agriculture 07 Proceedings of the Sixth
European Conference on Precision Agriculture (6ECPA), Skiathos, Greece, pp. 599-
605.

Doerge, T.A. Management Zone Concept dalam


http://www.ipni.net/publication/ssmg.nsf/0/C0D052F04A53E0BF852579E500761AE
3/$FILE/SSMG-02.pdf. Diakses Tanggal 12 Nopember 2013
Hornung, A., Khosla, A. Reich, R, Inman, D and Westfall, D.G. 2005. Comparison of Site-
Specific Management Zones dalam Agronomy Journal, Vol. 98 No. 2, p. 407-415.
Kavianpoor1, H, Ouri1, A.E, Jeloudar, Z.J, Kavian, A. 2012. Spatial Variability of Some
Chemical and Physical Soil Properties in Nesho Mountainous Rangelands dalam
American Journal of Environmental Engineering 2012, 2(1): 34-44

Mueller, T.G., Pusuluri, N.B., Mathias, K.K., Cornelius, P.L., Barnhisel, R.I dan Shearer,
S.A. 2004. Map Quality for Ordinary Kriging and Inverse Distance Weighted
Interpolation dalam Soil Science Soc. Am. Journal, 68:2042-2047.

Muelller, T.G., Pierce, F.J., Schabenberger, O dan Warncke, D.D. 2001. Map Quaity for Site
Specific Fertility Management dalam Soil Science Soc, Am. J., 65:1547-1558
Omran, E.A. 2012. On-the-Go DigitalSoil Mapping for Precision Agriculture dalam
International Journal of Remote Sensing Applications. Sept. 2012, Vol. 2 Iss. 3, PP.
20-38
Patil, S.S., V.C. Patil and K.A. Al-Gaadi 2011.Spatial Variability in Fertility Status of
Surface Soils dalam World Applied Sciences Journal 14 (7): 1020-1024, 2011
Pierce, F.J dan Nowak, P. 1999. Aspects of Precision Agriculture. dalam Advances in
Agronomy, Vol. 67: 1-83.
Rodriguez E., Sultan, R and Hilliker, A. 2004. Negative Effects of Agriculture on Our
Environment. dalam The Traprock, Vol. 3, May 2004, pp 28 - 32

Sigit Prabawaa, Bambang Pramudyab, I Wayan Astikac, Radite Praeko Agus Setiawand, dan
Ernan Rustiadie. 2009. Sistem Informasi Geografis dalam Pertanian Presisi Aplikasi
pada Kegiatan Pemupukan di Perkebunan Tebu dalamPROSIDING SEMINAR
NASIONAL HIMPUNAN INFORMATIKA PERTANIAN INDONESIA 2009 ISBN :
978 979 95366 0 - 7
Robinson, T.P, Metternicht, G 2006. Testing the performance of spatial interpolation
techniques for mapping soil properties dalam Computers and Electronics in
Agriculture 50 (2006) 97108

11
SATYANARAYANA, T, MAJUMDAR, K dan BIRADAR, D. 2011. New approaches and tools for
site-specific nutrient management with reference to potassium dalam Karnataka J. Agric.
Sci.,24 (1) : (86-90)
Webster, R dan M.A. Oliver. 1990. Statistical Methods in Soil and Land Resource Survey.
Oxford University Press. New York, NY.
Zandi, S , Ghobakhlou, S and Sallis, P. 2011. Evaluation of Spatial Interpolation Techniques
for Mapping Soil pH dalam19th International Congress on Modelling and Simulation,
Perth, Australia, 1216 December 2011

12