Anda di halaman 1dari 2

FAJAR TERBENAM

Guntur:

Ia lahir dalam pekatnya rasa kehilangan sosok sang raga,

laksana kematian adalah takdir yang membuka matanya didunia.

Tajam tatapan menghujam, haru melebur sedalam duka

menyambut suara tangisan,untuk nafas dan nyawa

Ayu:

Kemana harus dicari sosok yang telah mengandungnya?

Sedangkan ia dibesarkan oleh cibiran penuh dosa

Goresan luka seakan mengajaknya berputus asa

pergi, meratapi diri yang tak lagi bermakna

Oncy:

Sesekali, ia tersenyum berharap kabut kelabu menghilang

pergi selamanya, tenggelam seiring senja

namun ia tak berdaya, terbelenggu di dalam Bayang

Seakan tak lagi terbit fajar harapan, entah esok atau lusa

Ayu:

Harapan? Untuk apa lagi aku berharap? Pantaskah aku?

Setahu ku, harapan ku sudah kuenyahkan

Menghilang bersama kabut kerinduan

Diki Gumay (Petikan Gitar)

Aku rindu..

Aku rindu..

Aku rindu..

Pada peluk yang seharusnya kudapat saat aku dihadirkan


Pada tangisan haru yang seharusnya mengiringi dinginya dunia pertama

Pada satu tetesan kasih sayang yang ditukar oleh-Nya dengan nyawaku

Guntur:

Yaaaa Muhaimin, Yang Maha Mengatur

Yaaaa Hakim, Yang Maha Menetapkan

Terpaku aku pada sudut candu kehilangan

Kulihat, bidadari ku mengepakkan sayapnya dengan tersenyum

Tepat saat malaikat kecil ini ku timang

Oncy:

Sssttt.. Sssttt

Tersenyumlah. Kini telingaku tak lagi meragu

Pada jarak antara adzan yang kau bisikkan dengan isak tangis yang kau desirkan

Guntur:

Menataplah. Kini mataku tak lagi sendu melihat matamu.

Mata yang memantulkan cantiknya surga yang ia titipkan.

Ayu:

Juga Menantilah. Kini bibirku akan terus membaca setiap bait senyumnya

Yang terpatri pada fajar yang terbenam.

Bei Sae & Ayu Jannat, 2017.