Anda di halaman 1dari 3

MUDZAKARAH MAUT

(Cipt. Irmawati Hasan)

Telah tiba suatu imaji tentang masa

Kala pedang ghaibku menghampiri

Menempel di batang leher

Siap memutus habis tali duniaku

Entah; Sediakah aku?

Kelak

Saat tubuh jadi kaku, Otak jadi batu,

Nafas jadi layu, Lisan jadi kelu,

Saat buram pandanganku,

Padam pendengaranku

Seluruh inderaku seolah mati,

Dipenuhi sakit yang tiada duanya

Sanubariku menghilang

dalam derai tangis merayap merangkaki

dimensi yang terpantul di awang-awang

Sanggupkah?

Mampukah lisanku melirihkan asma-Mu?

Sementara ianya senantiasa terbawa sesumber nista palsu

Sanggupkah?

Mampukah nyawaku terburai dalam untaian cinta-Mu?

Padahal ianya jarang hampiri rumah-Mu.


Tak geming dalam hening

Maut bukan suatu yang bisa kuelak, kutahu

Aku kian lebur dalam palung kontemplasiku

Menyelami ruang dan waktu

Menyaksikan detik dimana detak jantungku

Di ujung belati waktu

Menyaksikan ketika dua sisi beradu;

Siapa yang jadi penentu nasibku

Menyaksikan pertarunganku melawan


Uji di sisa nafasku

Sanggupkah aku?

Memenangkan duel

Akhirku melawan nafsu yang didatangkan?

Memenanagkan waktuku,

Di saat memohon ampun sudah tak lagi berlaku?

Mampukah?

Kurebah di pembarinagn

Dengan taburan sinar Kasih Mu

Pulang kepada Mu,

Dalam keadaan yang ridhoi?

Bayang-bayangku mengabur

Dan mataku kini dipenuhi bulir-bulir penyesalan

Kusadar, waktu tak akan menanti

Sebab kematian semakin akrab denganku,

Tak peduli apapun kondisiku..


Nafasku hampir hilang separuh,

Mendekati bayang yang tak lagi utuh

Menjauhi harapan-harapan yang tak lagi utuh

Kupijakkan kuat kakiku pada tanah yang kurasa mulai merapuh

Ya Allah

Sebelum sesalku kian melarut..

Kutalikkan kata permohon ampunan dalam tiap helaan nafasku


Kusatirkan taubatan nasuha di tiap tapakku

Kupintakan keridhoanMu,

Agar senantiasa sertaiku

Istiqamahkanku agar tetap setia padaMu

Hingga maut tak lagi jadi pemutus senangku

Tapi berganti, jadi portalku untuk pulang ke kampong halamanku

Di Jannah-Mu